
DALAM tradisi keilmuan Islam, keberlanjutan sebuah gerakan tidak pernah dilepaskan dari kekuatan sanad. Sanad bukan sekadar rantai periwayatan, melainkan sebuah mekanisme penjagaan makna, kesinambungan orientasi, dan pemeliharaan ruh perjuangan.
Oleh karenanya, para ulama sejak generasi awal telah menempatkan sanad sebagai bagian inheren dari agama itu sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam tradisi ulama salaf, di antaranya Muhammad ibn Sirin dan Abdullah ibn al-Mubarak, bahwa sanad merupakan bagian inheren dari agama; tanpanya, setiap orang akan dengan mudah menyampaikan apa saja tanpa pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kerangka inilah, sanad tidak hanya berfungsi menjaga kebenaran informasi, tetapi juga menjaga cara memahami, merasakan, dan mengamalkan kebenaran tersebut.
Dengan perspektif ini, dinamika sebuah gerakan tidak cukup dibaca melalui kacamata struktur organisasi atau kecanggihan programnya semata. Ia harus dipahami sebagai proses epistemologis yang hidup, di mana nilai, kesadaran, dan praksis saling bertaut dalam satu sistem yang berkesinambungan.
Penting untuk meletakkan sistematika wahyu selain sebagai sumber normatif, juga sebagai sistem pembentukan manusia yang memiliki urutan dan metodologi yang jelas. Sistematika wahyu membentuk kesadaran, kesadaran melahirkan tindakan, dan tindakan yang terjaga melahirkan peradaban. Dalam alur inilah sanad bekerja sebagai penghubung yang memastikan kesinambungan proses tersebut tertransmisikan antar generasi.
Jika kerangka ini digunakan untuk membaca ijtihad Allahuyarhan Ustaz Abdullah Said, maka apa yang tampak sebagai ijtihad-ijtihad praksis dalam mendirikan lembaga perjuangan Hidayatullah sesungguhnya merupakan manifestasi dari perjalanan panjang hidayah dan pergulatan spiritual yang berakar pada sanad keilmuan dan perjuangan yang kuat dan mengakar.
Beliau mungkin tidak mewariskannya dalam sebuah grand design dan tertuang dalam dokumen yang sistematis, tetapi telah terbukti mewariskan sesuatu yang lebih fundamental: manhaj yang hidup. Metode ini tidak bekerja dalam teks semata, tetapi dalam kesadaran yang kemudian menjelma menjadi pola pikir, pola sikap, dan pola gerak.
Demikianlah hingga kini, Hidayatullah memperlihatkan karakter sistemiknya. Sebuah sistem sosial yang bekerja secara internal dan berkesinambungan. Sistem ini memiliki daya hidup yang memungkinkan gerakan tetap berjalan.
Dalam istilah yang sering digunakan, sistem ini bekerja seperti “auto pilot” dengan mekanisme enam jati dirinya dan tujuh prinsip tertib organisasinya: Hidayatullah memiliki arah yang jelas, mekanisme internal yang terjaga, serta kemampuan untuk terus bergerak dalam berbagai kondisi tanpa kehilangan orientasi dasarnya.
Lebih dari itu, sistem ini menunjukkan tingkat kompatibilitas yang tinggi terhadap dinamika sosial yang terus berubah. Ia mampu hadir dalam berbagai konteks tanpa kehilangan identitasnya. Hal ini dimungkinkan karena sejak awal telah ada kejelasan yang tegas dalam membedakan antara aspek yang bersifat tetap dan yang bersifat berubah.
Penegasan ini sering dibingkai oleh Ust Dr Ir Abdul Aziz Qahhar melalui pembedaan antara tsawabit dan mutaghayyirat. Sebuah penegasan yang jelas mana yang menjadi substansi nilai yang tidak berubah, dan mana yang merupakan metode yang dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman. Dengan kata lain, terdapat diferensiasi yang matang antara fondasi nilai sebagai “software” dan perangkat operasional sebagai “hardware”.
Kejelasan antara tsawabit dan mutaghayyirat inilah yang menjadikan gerakan ini idealnya tidak kaku, tetapi juga tidak kehilangan arah. Ia mampu bergerak dinamis tanpa tercerabut dari akar, dan mampu beradaptasi tanpa larut dalam perubahan.
Namun, keunggulan sistemik ini tidak akan memiliki makna jika tidak diikuti dengan proses transformasi dan transmisi yang berkelanjutan. Sebab, sistem yang paling kokoh sekalipun dapat mengalami pelemahan jika tidak diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya.
Di sinilah urgensinya untuk mentransformasikan dan mentransmisikan sanad gerakan manhaji ini. Transformasi mengandung makna internalisasi, yaitu bagaimana nilai dan manhaj itu dihidupkan dalam kesadaran individu. Sementara transmisi mengandung makna pewarisan, yaitu bagaimana kesadaran tersebut dipindahkan dan ditumbuhkan dalam diri generasi pelanjut.
Kedua proses ini tidak dapat dipisahkan, karena tanpa transformasi, transmisi hanya akan melahirkan reproduksi yang dangkal; dan tanpa transmisi, transformasi akan berhenti pada pengalaman individual yang tidak berkelanjutan.
Apa yang berlangsung dalam kegiatan Ngaji Manhaj Sistematika Wahyu, kajian spesial i’tikaf di Masjid Umar Al Faruq di bawah bimbingan langsung Ust Abdul Aziz Qahhar dapat dibaca sebagai ikhtiar konkret dalam menjembatani dua proses tersebut. I’tikaf menjadi ruang pedagogis dan epistemologis, dimana sanad tidak hanya dibicarakan, tetapi dihadirkan dalam pengalaman.
Dalam suasana yang memungkinkan perjumpaan antara wahyu, refleksi diri, dan pengalaman kolektif itu, nilai-nilai tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi diinternalisasi secara eksistensial.
Atmosfir ruang seperti ini, proses transmisi berlangsung secara lebih utuh. Generasi pelanjut tidak sekadar menerima pengetahuan, tetapi mengalami pembentukan cara pandang dan orientasi tindakan. Di sinilah proses penyemaian apa yang dapat disebut sebagai chemistry antar generasi.
Chemistry ini bukan sekadar keterhubungan emosional, tetapi keselarasan antara konsepsi dan aplikasi, antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dijalankan. Ia menjadi indikator bahwa sanad tidak hanya berpindah, tetapi benar-benar hidup dalam diri generasi baru.
Tanpa chemistry ini, sanad berisiko berhenti sebagai narasi historis yang telah banyak kita jumpai. Generasi pelanjut mungkin mengetahui nama-nama besar dan cerita-cerita perjuangan, tetapi tidak mampu menghidupkan kembali ruh yang melahirkannya.
Sebaliknya, dengan chemistry yang terbangun, perbedaan konteks antar generasi tidak menjadi penghalang, tetapi justru menjadi ruang bagi aktualisasi manhaj yang lebih relevan. Generasi baru tidak sekadar mengulang, tetapi melanjutkan dengan kesadaran yang lebih kontekstual, tanpa kehilangan akar epistemologisnya.
Demikianlah adanya, mentransformasikan dan mentransmisikan sanad gerakan manhaji adalah upaya menjaga kehidupan gerakan itu sendiri. Ia memastikan bahwa setiap generasi tidak memulai dari titik nol, tetapi melanjutkan estafet perjuangan dengan fondasi yang kokoh dan arah yang jelas.
Sanad gerakan manhaji sebagai energi masa depan. Dan, di situlah sebuah gerakan menemukan daya tahannya: bukan hanya pada kekuatan strukturnya, tetapi pada kemampuannya menyemai chemistry antar generasi yang menjaga kesinambungan antara nilai, kesadaran, dan tindakan dalam lintasan sejarah yang terus bergerak. Wallahualam.
*) Dr Irfan Yahya, penulis Sosiolog dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayarullah Makassar






