
JIKA beberapa waktu lalu, delapan juta rakyat Amerika Serikat turun ke jalan melakukan demo “No Kings” kepada Presiden Donald Trump, belakangan suara itu semakin kencang. Sejumlah Anggota Kongres AS mulai tampil mengecam Trump.
Suara itu bahkan tidak saja kencang, tapi juga vulgar. “Presiden Amerika Serikat (Trump) adalah orang gila yang tidak waras, dan ancaman keamanan nasional bagi negara kita dan seluruh dunia,” tulis Anggota Kongres Yasamin Ansari di media sosial sebagaimana dilansir oleh Kompas.com.
Suara itu sebenarnya konsekuensi dari rangkaian keputusan Trump yang memang sulit dipahami oleh rakyat Amerika Serikat, utamanya dalam menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Dan, dalam kondisi seperti itu, penerapan “Neo-emergent theory” (teori pencitraan ala media massa dan sosial media) tidak lagi relevan.
Malah kalau dipaksakan, upaya memberikan informasi yang diciptakan untuk memberi pengaruh positif kepada publik, publik sudah punya sudut pandang tersendiri. Sebagaimana pandangan Bacon, fakta jauh lebih kuat untuk dicerna akal manusia daripada narasi atau cerita yang memukau.
Inisiasi Kepemimpinan Poros Baru
Merespons situasi yang seperti itu, ajakan Presiden Prancis, Macron, agar dunia beralih, tidak lagi menggantungkan nasib kepada Amerika Serikat adalah rasional. Ia mengatakan bahwa dunia perlu membentuk satu poros baru dengan nama “Koalisi Kemerdekaan”.
“Kita tidak boleh hanya pasif dalam kekacauan baru ini. Kita harus membangun tatanan baru,” begitu Macron berseru.
Idealnya pemimpin negara-negara lain bisa menyambut ide dari Macron ini, setidaknya Amerika Serikat mulai memahami bahwa suara yang kontra dengan Trump bukan lagi pasif, tapi sudah aktif. Aktif untuk menjelma menjadi tatanan baru dunia ke depan.
Kolaborasi Bukan Kompetisi
Lantas dengan apa para pemimpin dunia bisa duduk bersama, melakukan upaya konkret untuk menghentikan kekacauan yang tengah terjadi, tidak lain adalah kesadaran kolaborasi.
Macron menyadari bahwa dunia menjadi seperti ini karena satu negara dengan negara lain mengedepankan pola pikir bersaing. Ia usul agar sementara waktu itu dihentikan. Tapi sebenarnya, kedepankan pola pikir kolaboratif untuk tercipta tatanan yang lebih aman.
Mengapa tidak dunia berkolaborasi, bukankah saat ini satu negara dengan negara lain saling membutuhkan, saling ada ketergantungan. Dalam situasi global yang seperti itu menerapkan langkah pergaulan dengan mengedepankan kekuatan militer hanya akan mengundang kekacauan yang sangat buruk.
Dalam kata lain, dunia memerlukan wajah baru. Langkah paling mungkin untuk hal itu tercipta adalah lahirnya kesadaran kolaboratif antar pemimpin negara. Indonesia mungkin bisa mengambil peran ini, sekaligus menegaskan diri untuk sign out dari Board of Peace (BOP) untuk ikut membangun dunia yang lebih bersinar di masa depan.
Secara politik ini juga kesempatan Prabowo kalau ingin mengambil kesempatan membangun citra positif Indonesia bagi dunia.[]
Mas Imam Nawawi






