AdvertisementAdvertisement

KHUTBAH JUM’AT Membangun Keluarga dan Melahirkan Generasi Shalih

Content Partner

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن
يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du…

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Aku berwasiat kepada diriku dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab hanya dengan takwa, kehidupan akan terarah, dan akhir perjalanan akan berujung bahagia.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan rumah tangga, betapapun harmonisnya hubungan suami istri, betapapun mapannya kondisi ekonomi—rumah yang megah, kendaraan yang mewah, serta harta yang melimpah—semuanya belum tentu menghadirkan kebahagiaan yang sempurna.

Seringkali, ada satu hal yang dirasakan sangat kurang: kehadiran anak keturunan. Karena itu tidak sedikit pasangan yang rela berkorban apa saja demi mendapatkan buah hati.

Namun jamaah sekalian,

Perlu kita sadari, bahwa memiliki anak bukan jaminan kebahagiaan. Banyak orang tua justru diuji dengan perilaku anak-anaknya. Bahkan ada yang sampai merasa malu, kecewa, dan tersakiti oleh darah dagingnya sendiri.

Allah ﷻ telah mengingatkan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka.”
(QS. At-Taghabun: 14)

Ayat ini bukan untuk menumbuhkan kebencian, tetapi sebagai peringatan: bahwa keluarga bisa menjadi jalan menuju surga, atau justru sebaliknya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur’an memberikan pelajaran yang sangat dalam melalui dua kisah yang kontras.

Kisah pertama, adalah tentang ketaatan luar biasa seorang anak, yaitu Nabi Ismail ‘alaihis salam. Allah berfirman:

قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Lalu Ismail menjawab dengan penuh keimanan:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Jamaah sekalian,

Ini bukan sekadar ketaatan biasa. Ini adalah puncak kepatuhan seorang anak kepada Allah dan kepada orang tuanya. Ia memahami risikonya: nyawa. Namun imannya lebih besar daripada rasa takutnya.

Bandingkan dengan kondisi hari ini, ketika seorang anak diminta berhenti sejenak dari gawai saja, seringkali sulit untuk taat.

Pertanyaannya: apa rahasia lahirnya anak seperti Ismail?

Salah satu jawabannya adalah kualitas orang tuanya, khususnya ibunya. Ismail dibesarkan oleh seorang wanita agung, penuh keimanan, yaitu Siti Hajar.

Allah ﷻ juga berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ

“Dan orang-orang yang berkata: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun)…” (QS. Al-Furqan: 74)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kisah kedua, adalah kebalikan dari yang pertama. Yaitu kisah anak Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika banjir besar melanda, Nabi Nuh memanggil anaknya:

يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ

“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42)

Namun dengan penuh kesombongan ia menjawab:

سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِۗ

“Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.”

Lalu Nabi Nuh berkata:

لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَۚ

“Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari azab Allah selain orang yang dirahmati-Nya.”

Dan akhirnya anak itu pun tenggelam.

Jamaah sekalian,

Padahal ayahnya seorang Nabi. Namun itu tidak menjamin keselamatan anaknya. Mengapa? Allah memberikan petunjuk dalam firman-Nya:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh…” (QS. At-Tahrim: 10)

Ini menunjukkan bahwa lingkungan keluarga, terutama peran ibu, sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan anak.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari dua kisah ini kita belajar bahwa: Anak shalih tidak lahir secara kebetulan. Ia adalah hasil dari iman, pendidikan, dan lingkungan yang benar. Dan, dimulai dari pemilihan pasangan yang tepat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, berhati-hatilah dalam memilih pasangan hidup. Jangan sampai kecantikan dan harta mengalahkan pertimbangan agama.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ketahuilah bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya. Seorang ayah bertanggung jawab atas anak-anaknya. Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Ini adalah perintah yang tegas: didik keluarga kita dengan agama. Bagi yang belum menikah, pilihlah pasangan yang kuat agamanya. Bagi yang sudah menikah, bimbinglah keluarga dengan ilmu dan ketakwaan.

Sebab kelak di akhirat, tidak ada seorang pun yang rela menanggung dosa sendiri. Bahkan keluarga bisa saling menuntut. Allah ﷻ berfirman:

رَبَّنَا هٰٓؤُلَاۤءِ اَضَلُّوْنَا فَاٰتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ

“Dan mereka berkata: Ya Rabb kami, siapa saja yang menyesatkan kami, maka timpakanlah kepadanya azab dua kali lipat.” (QS. Al-A’raf: 38)

Na’udzubillah…

Jangan sampai keluarga yang kita cintai menjadi sebab kesengsaraan kita di akhirat. Sebaliknya, jadikanlah mereka sebagai jalan menuju surga.

اللهم أصلح لنا أزواجنا وذرياتنا، واجعلهم قرة أعين لنا، واجعلنا للمتقين إمامًا
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى

أقم الصلاة

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Pembinaan Keluarga Menentukan Keberlanjutan Dakwah dan Peradaban

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si, menyampaikan bahwa keluarga memiliki posisi mendasar dalam...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img