AdvertisementAdvertisement

Pembinaan Keluarga Menentukan Keberlanjutan Dakwah dan Peradaban

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si, menyampaikan bahwa keluarga memiliki posisi mendasar dalam keberlangsungan kehidupan masyarakat sekaligus menjadi ruang utama pewarisan nilai dan pembentukan karakter manusia.

Keluarga, terang dia, selain sebagai institusi sosial juga menjadi fondasi awal bagi lahirnya generasi dan kesinambungan peradaban.

Menurut Hamim Thohari, seluruh proses pembentukan nilai kehidupan pada dasarnya bermula dari keluarga. Dari lembaga inilah manusia pertama kali mengenal norma, budaya, akhlak, dan orientasi hidup yang kemudian membentuk wajah masyarakat secara luas.

“Keluarga adalah organisasi terkecil yang bertugas meneruskan pewarisan nilai-nilai, norma, budaya yang ada di masyarakat,” ujarnya dalam forum Workshop Pekaderan Nasional di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta belum lama ini yang dinukil media ini pada Kamis, 20 Dzulqaidah 1447 (7/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa keluarga menjadi titik awal berlangsungnya regenerasi kehidupan. Karena itu, kualitas sebuah masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas keluarga yang menopangnya. Dalam konteks gerakan dakwah dan pembinaan umat, keluarga memiliki fungsi strategis yang jauh melampaui hubungan biologis semata.

Hamim Thohari menegaskan bahwa dalam perspektif Hidayatullah, keluarga kader memiliki posisi fundamental dalam menjaga kesinambungan perjuangan Islam. Keluarga tidak hanya menjadi tempat tumbuh kembangnya generasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan visi perjuangan dan pewarisan nilai dakwah.

“Bagi Hidayatullah, keluarga kader memiliki nilai dan peranan yang sangat strategis dan fundamental untuk melanjutkan perjuangan membangun peradaban Islam,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kekuatan dakwah tidak mungkin berdiri kokoh tanpa adanya dukungan keluarga yang kuat. Menurutnya, rumah tangga yang hidup dengan semangat pembinaan akan melahirkan kesinambungan gerakan yang stabil dan berjangka panjang.

“Tugas mulia ini akan semakin kokoh dalam perjalanannya ketika keluarga menjadi penopang utama dalam gerakan dakwah,” ujarnya.

Hamim Thohari juga mengaitkan pembinaan keluarga dengan dasar-dasar normatif dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa perhatian terhadap keluarga merupakan bagian penting dari risalah dakwah para nabi. Salah satu ayat yang ia sebut adalah firman Allah dalam Surah Asy-Syura yang memerintahkan agar dakwah dimulai dari lingkungan keluarga terdekat.

Ia menjelaskan bahwa perintah Tuhan dalam surah Asy-Syu’ara ayat 214 “wa andzir ‘asyirataka al-aqrabin” atau “berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” menunjukkan bahwa pembinaan keluarga merupakan pondasi awal sebelum dakwah berkembang ke ruang sosial yang lebih luas.

Selain itu, Hamim Thohari juga mengingatkan bahwa sejarah para nabi memperlihatkan kesungguhan dalam membina keluarga sebagai bagian dari perjuangan tauhid. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Adam, Nabi Nuh, dan Nabi Luth menghadapi dinamika keluarga dalam menjalankan misi dakwah. Menurutnya, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa keluarga merupakan medan perjuangan yang menentukan arah keberlangsungan nilai-nilai keimanan.

Untuk menggambarkan pentingnya kaderisasi dalam keluarga, Hamim Thohari ketengahkan ilustrasi sederhana. Ia mengibaratkan kader dakwah seperti pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah, bahkan tetap tumbuh kembali meski telah ditebang.

“Begitulah sejati seorang kader yang militan tak akan mati sebelum melahirkan kader. Dan, kader akan terus tumbuh seiring dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Perumpamaan tersebut, menurutnya, menggambarkan pentingnya kesinambungan perjuangan melalui regenerasi yang terus berlangsung. Dakwah, dalam pandangannya, bukan hanya tentang aktivitas hari ini, tetapi tentang memastikan nilai dan perjuangan tetap hidup pada generasi berikutnya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa organisasi tidak akan memiliki daya hidup tanpa keterlibatan manusia di dalamnya. Karena itu, dakwah harus dibangun dengan pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif agar mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

Hamim memberikan ilustrasi bahwa organisasi tanpa anggota ibarat pertandingan tanpa pendukung yang kehilangan semangat dan energi sosialnya.

“Karenanya, hendaknya ke depan dakwah kita semakin inklusif sehingga semakin banyak anggota,” katanya.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Stunting Ideologi dan Revitalisasi Halaqah

SEPEKAN lalu, tepatnya pada Rabu (29/4/2026) penulis berkesempatan menjadi pemateri dalam Workshop Nasional Perkaderan yang digagas oleh Bidang Perkaderan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img