
Meski berada dalam satu struktur manusia, baik secara jasad dan makna, akal dan hati belum tentu otomatis berpadu, apalagi bersatu dalam memandang kehidupan. Orang yang dominan akal dan mengabaikan hati akan menjadi manusia rasional yang ekstrem. Sebaliknya orang yang dominan hati dan tidak memerhatikan aspek akal, akan cenderung pasrah secara salah. Sebuah sikap yang ujungnya ternyata melahirkan mental mudah lelah, lemah, goyah dan menyerah.
Belum lama ini saya mendapati satu fakta yang perlu kita jadikan pelajaran.
Seorang mahasiswa lulus dengan nilai sangat memuaskan. Ia bahkan tak perlu melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan multinasional. Dalam waktu sekejap, ia tak hanya bekerja dengan posisi bagus, tapi juga mendapatkan income yang sangat memuaskan.
Namun tak ada yang menduga, dalam beberapa waktu berikutnya, sebuah penyakit menderanya. Ia pun harus merelakan posisi itu, karena perusahaan tempatnya bekerja “memaksanya” harus resign.
Bagaimana kalau posisi itu adalah teman-teman yang mengalaminya? Bagaimana cara memadukan akal dan hati dalam satu arah memahaminya dengan tepat, bijak dan membawa maslahah ke depan. Tentu tidak mudah bukan.
Timbang Secara Filosofis
Dalam buku “Pengantar Filsafat untuk Perguruan Tinggi” karya PEM. Wibiasty dijelaskan bahwa manusia perlu mampu berpikir secara filosofis. Yaitu berpikir yang targetnya kita bisa menemukan makna, menajamkan nalar dan bisa mendapatkan pemahaman yang menembus dinding cara berpikir konvensional.
Misalnya dalam kasus mahasiswa itu, ia adalah sosok cerdas. Tanpa usaha yang melelahkan ia bisa mendapat pekerjaan yang bagus. Namun sakit kemudian mengubah alur hidupnya. Ini kalau kita timbang secara filosofis memberikan makna bahwa hidup adalah tentang meniti jalan. Jalan yang kadang tak manusia inginkan. Tapi jalan itu harus kita tempuh.
Secara rasional, manusia senang menggantungkan segala hal pada sebab dan akibat. Kalau sudah pintar, kerja harus bagus, uang jadi punya bahkan banyak, lalu hidup akan bahagia. Tapi dalam filsafat, kita bisa bertanya ulang, apakah orang yang bahagia selalu yang punya uang dalam jumlah besar.
Dalam kata lain, melalui pendekatan filsafat, seseorang tak perlu merasa telah gagal karena yang jadi ekspektasinya tidak menjadi kenyataan. Justru kita harus ingat bahwa dalam kasus mahasiswa itu ia tetap memiliki kecerdasan, yang merupakan buah dari upaya nyata membangun tradisi belajar.
Ini menandakan bahwa senjata utama sang mahasiswa, berupa kecerdasan dan kapasitas tak pergi kemana-mana. Dan itu nikmat dari Allah yang luar biasa.
Cerahkan dengan Penyucian Jiwa
Langkah penting berikutnya adalah memahami bahwa hidup ini seutuhnya ada dalam genggaman Allah SWT.
Imam Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Nopian Gustari dalam bukunya “Pendidikan Akhlak Perspektif Al-Ghazali” menjelaskan bahwa manusia harus menjadikan akal dan hatinya sampai pada temuan akan hikmah terhadap apapun yang terjadi.
Langkah itu penting agar jiwa tidak terguncang kala menemukan fakta yang tak diinginkan.
Dalam kasus mahasiswa itu, hati yang kita sucikan akan bisa memahami bahwa rezeki sumber asalnya (Musabbibal Asbab) adalah Allah. Kalau satu pintu rezeki tertutup, maka Allah Yang Maha Pemberi Rezeki akan membuka pintu yang lain.
Lagi pula, kalau mahasiswa itu bisa mendapat pekerjaan hebat dengan mudah, apa kesulitan bagi Allah memberi dia urusan atau pekerjaan yang tidak saja hebat, tapi juga barokah.
Dengan upaya memadukan akal dan hati sedemikian rupa, kita tidak akan mudah terjebak pada perasaan negatif, seperti merasa gagal dan lain sebagainya. Justru kita tetap punya nyala optimisme, karena hidup ini ada Allah, Tuhan yang Maha Mengatur segala hal.
Pada akhirnya, akal dan hati perlu kita satukan. Dan salah satu caranya adalah mengasah akal dan mensucikan jiwa (hati). Integrasi keduanya akan melahirkan sikap bijak, cara berpikir yang menjawab persoalan dan tentu saja optimisme bahwa kebuntuan pada satu jalan, tidak berarti semua jalan juga buntu. Selalu ada harapan dan itu kita sandarkan kepada Allah SWT semata.*
Mas Imam Nawawi






