
LUWU (Hidayatullah.or.id) — Penguatan ekonomi umat, optimalisasi dakwah digital, dan keyakinan dalam menjalani jalan hijrah menjadi tiga isu utama yang disampaikan Ketua Dewan Murobbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Abdul Majid, M.A., dalam Halaqah Lailatul Ijtimak di Bosso, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu.
Menurut Abdul Majid, keberlanjutan dakwah tidak cukup ditopang oleh semangat perjuangan semata. Dakwah membutuhkan fondasi akidah yang kokoh sekaligus kemandirian ekonomi agar mampu berkembang secara lebih luas dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa penguatan ekonomi harus menjadi perhatian serius seluruh kader. Sebab, kemandirian ekonomi akan memperkuat kapasitas dakwah dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain.
“Penguatan ekonomi yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi salah satu kunci agar aktivitas dakwah dapat berjalan lebih mandiri dan berkembang,” ujarnya.
Selain itu, Abdul Majid menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, dakwah perlu hadir dan mengambil peran dalam ruang digital yang kini menjadi salah satu arena utama interaksi masyarakat.
Karena itu, ia mendorong kader yang memiliki kemampuan di bidang teknologi dan media digital untuk mengoptimalkan potensinya bagi kepentingan perjuangan dakwah.
“Harusnya kader yang punya kemampuan secara teknis dalam bidang digital mengerahkan potensinya untuk perjuangan,” tegasnya.
Dalam pandangannya, dakwah tidak lagi cukup dilakukan melalui pendekatan konvensional semata. Pemanfaatan teknologi menjadi kebutuhan agar pesan-pesan Islam dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.
Abdul Majid juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara pondok dan masyarakat sekitar. Ia mengingatkan agar keberadaan lembaga dakwah tidak terpisah dari lingkungan sosialnya, melainkan hadir sebagai bagian dari solusi dan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kader perlu lebih aktif membangun silaturahmi, memperkenalkan program-program pembinaan, serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh warga sekitar.
Pada bagian akhir tausiyahnya, Abdul Majid memberikan penekanan khusus tentang makna hijrah. Ia mengingatkan bahwa proses hijrah sering kali diiringi berbagai kekhawatiran, terutama terkait urusan ekonomi, keluarga, dan masa depan.
Namun, menurutnya, keraguan semacam itu tidak boleh menghalangi seseorang untuk mengambil langkah-langkah kebaikan dan perjuangan di jalan Allah.
“Hilangkan keraguan ketika berhijrah. Jangan khawatir akan rezeki kita, bagaimana masa depan anak-anak maupun biaya hidup kita. Allah telah mengatur dan menjamin rezeki hamba-Nya,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa keyakinan kepada pertolongan Allah merupakan modal penting dalam setiap proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Karena itu, semangat hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga keberanian untuk bertumbuh, berjuang, dan mengambil peran yang lebih besar dalam dakwah dan pelayanan kepada umat.
Melalui pesan tersebut, Abdul Majid mengajak kader Hidayatullah untuk terus memperkuat fondasi keimanan, membangun kemandirian ekonomi, serta beradaptasi dengan perkembangan zaman agar dakwah mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih luas dan relevan.






