
CILEGON (Hidayatullah.or.id) — Dewan Mudzakarah Hidayatullah melaksanakan kunjungan silaturahmi dan roadshow monev sekaligus serap aspirasi ke Provinsi Banten pada Kamis, 25 Jumadilawal 1448 (5/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Warasfarm, Cilegon, tersebut merupakan forum sarasehan untuk menyerap aspirasi sekaligus memberikan penguatan kelembagaan kepada seluruh unsur Hidayatullah di wilayah Banten.
Tiga utusan Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah yang hadir ialah KH Aqib Junaid Kahar, KH Miftahuddin, dan Ust. H. Marwan Mujahidin.
Forum tersebut melibatkan unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan Pemuda Hidayatullah (Pemhida). Pengurus Wilayah Mushida Provinsi Banten juga diundang untuk mengikuti sarasehan yang digelar intensif sehari dalam rangka untuk memperkuat koordinasi, menyerap berbagai masukan, dan membangun kesamaan pemahaman dalam menjalankan peran kelembagaan.
Dalam sambutannya, Aqib Junaid menyampaikan penguatan mengenai tanggung jawab setiap individu yang memilih bergabung dan berkontribusi dalam lembaga perjuangan Hidayatullah. Ia mengingatkan bahwa setiap persoalan kehidupan pada dasarnya memiliki petunjuk penyelesaian dalam Al-Qur’an.
Karena itu, terang Aqib kader tidak semestinya menjadikan kendala sebagai alasan untuk berhenti berjuang, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan penguatan pengabdian.
Mengutip Surah Al-Ankabut ayat 69, Aqib menjelaskan bahwa kesungguhan dalam perjuangan merupakan bagian dari sunnatullah yang selalu disertai ujian.
Menurutnya, orang yang mengambil bagian dalam perjuangan memiliki tanggung jawab sekaligus peluang memperoleh nilai pengabdian yang lebih besar di sisi Allah.
Ia menegaskan bahwa tugas manusia adalah memaksimalkan ibadah dan ikhtiar, sedangkan datangnya pertolongan serta jalan keluar merupakan ketentuan Allah yang dapat hadir melalui berbagai cara dan pada waktu yang tepat.
Untuk memperjelas pesannya, Aqib mengangkat sejumlah kisah tokoh dalam sejarah Islam sebagai gambaran tentang amanah, keteguhan, dan konsekuensi menjalankan tugas. Kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail, misalnya, menggambarkan perpaduan antara tawaf sebagai simbol ibadah dan sai sebagai bentuk ikhtiar manusia.
Dalam kondisi tandus di sekitar Makkah, keduanya tetap menjalankan usaha dan penghambaan kepada Allah hingga pertolongan-Nya hadir melalui mata air Zamzam yang terus mengalir hingga kini.
Ia juga mengangkat kisah Nabi Nuh AS yang berdakwah selama 950 tahun meskipun menghadapi ujian berat, termasuk ketika istri dan anaknya tidak mengikuti perjuangannya. Kisah Nabi Yunus AS menjadi pengingat tentang risiko meninggalkan amanah ketika seseorang tidak mampu bertahan menghadapi tekanan tugas.
Sementara itu, kisah Ubaidullah bin Jahsy disampaikan sebagai gambaran seseorang yang keluar dari jalan keimanan setelah sebelumnya berada dalam lingkungan perjuangan.
Berbeda dari kisah-kisah tersebut, Nabi Yusuf AS digambarkan sebagai sosok yang meminta amanah strategis sebagai bendahara negara. Namun, Aqib menekankan bahwa tugas besar membutuhkan dua bekal utama sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, yakni hafizhun ‘alim: kemampuan menjaga amanah dan kapasitas keilmuan. Dalam istilah kontemporer, karakter tersebut dapat dipahami sebagai perpaduan antara kompetensi profetik dan profesional.
Menutup arahannya, Aqib mengajak seluruh kader Hidayatullah untuk tetap mengambil bagian dalam perjuangan sesuai profesi dan kapasitas masing-masing, sekecil apa pun kontribusinya. Ia menekankan pentingnya menghidupkan dua prinsip utama, yakni tawaf sebagai penguatan ibadah dan sa’i sebagai ikhtiar terbaik.
“Keberlanjutan perjuangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya amanah, tetapi juga oleh konsistensi pengabdian, kesungguhan bekerja, dan keteguhan menjaga hubungan dengan Allah,” tutup dai asal Sinjai ini.






