
Di kampung-kampung dan pemukiman, denyut peringatan HUT RI ke-81 sudah terasa. Panitia mulai rapat. Lomba antar-RT sebentar lagi diumumkan.
Lalu, bagaimana?
Iya, sebagaimana biasanya, setiap tokoh agama akan menyerukan perbaikan bangsa. Begitu juga tokoh masyarakat dan akademisi melakukan hal yang sama. Beliau-beliau dengan gelar guru bangsa pun demikian.
Adakah perubahan setiap tahun setelah semua seruan itu?
Mungkin ada, hanya kurang terasa. Riuh kehidupan berbangsa dan bernegara, mungkin lebih tepatnya kehidupan berpolitik, seakan melahap habis semua seruan tersebut. Kembalilah kehidupan anak bangsa ini ke pola semula. Hampir tidak ada yang berubah.
Masih adakah optimisme?
Dalam perspektif kebangsaan dan keumatan, optimisme perlu terus dipupuk. Salah satu langkah praktisnya adalah membangun kemandirian individual sebagai basis kekuatan komunal. Ada sinergi di sana.
Harapan untuk sinergi terbangun merupakan sesuatu yang sulit. Berkali-kali jiwa anak bangsa tergores luka. Konflik horizontal yang dirancang pihak-pihak tertentu hampir menghabiskan seluruh modal sosial, sehingga anak bangsa satu sama lain sulit untuk saling percaya apatah lagi bersinergi.
Oleh karena itu salah satu gerakan yang harus terus hidup adalah gerakan amanah, memegang teguh janji. Perihal ini sangat sulit. Apalagi di zaman edan ini, sebagaimana suara yang sering diperdengarkan, “Ora edan, ora keduman (tidak ikut gila, tidak kebagian).”
Gila di konteks ini bermakna tidak peduli halal-haram, abai terhadap amanah, dan ingkar terhadap janji. Mungkin seperti itulah gila di atas gila. Sebutan lainnya gila yang sebenar-benar gila.
Apa yang dituju hanya senang bagi diri dan kelompoknya. Tidak ada kepedulian tentang nasib pihak lain. Empati hanya sebuah kata tanpa esensi, ibarat debu yang diterbangkan angin ke sana dan ke sini.
Sekali lagi, semoga sebuah gerakan menjaga amanah senantiasa hadir di tubuh bangsa ini. Sifatnya istiqomah. Sehingga bisa menjadi oase di tengah kegalauan yang sudah terasa di ubun-ubun.
Dalam panduan kenabian, sebuah hadits riwayat Ahmad dan Baihaqi menyampaikan, “Tidak ada iman bagi ia yang tidak memiliki amanah.”
Jelas dipahami bahwa amanah lahir dari iman. Tanpa iman, sulit sekali amanah hadir. Jika pun hadir, amanah tidak tembus hingga esensi ruhiyah, hanya menggapai penjagaan nama baik. Maka kesuburan iman mesti terus dilakukan.
Secara individual, kesuburan iman dijaga dengan lafazh tahlil, laa ilaaha illallaah. Secara komunal amar ma’ruf nahi munkar itu penting untuk selalu dihidupkan. Hendaklah keduanya dipadukan terus-menerus.
Pada akhirnya, setiap momen HUT RI semoga jadi momen doa yang khusyu’, berharap Allah ta’ala masih mencintai bangsa dan negara ini. Paling tidak kecintaan-Nya didasarkan pada persembahan darah para ulama, santri, dan kaum muslimin untuk melahirkan entitas bernama Indonesia. Mereka telah berjihad, statusnya mujahid. Mereka mulia di sisi-Nya.
Spontan, sebuah pertanyaan muncul, mungkinkah perayaan-perayaan HUT RI selama ini selaras dengan apresiasi kepada para mujahid?
FU’AD FAHRUDIN






