
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq, mendorong para guru dan dosen untuk menempatkan profesi pendidikan sebagai bagian dari pengabdian dalam membentuk generasi.
Pesan tersebut disampaikan Nashirul Haq dalam Pembinaan Guru dan Dosen bertema “Meneguhkan Jati Diri Guru dan Dosen Pejuang, Demi Lahirnya Kader Rabbani” yang berlangsung di Aula LPPH, Balikpapan, Sabtu (11/7/2026), bertepatan dengan 26 Muharram 1448 H.
Dalam pembinaan tersebut, Nashirul Haq menekankan bahwa nilai seorang pendidik tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya upah yang diterima. Menurutnya, kemuliaan guru terletak pada pengaruh yang diberikan kepada peserta didik dan generasi yang dibinanya.
“Jangan biarkan nilai seorang pendidik ditentukan oleh besarnya upah yang diterima. Kemuliaan guru terletak pada pengaruh yang ia tinggalkan dalam kehidupan murid-muridnya,” ujarnya.
Guru sebagai Pejuang Generasi
Nashirul Haq mengatakan, menjadi guru dan dosen bukan hanya menjalankan profesi, tetapi juga amanah untuk membentuk manusia, menanamkan nilai, dan mempersiapkan generasi penerus.
Karena itu, menurutnya, seorang pendidik perlu memiliki niat yang lurus, ketulusan, serta kesungguhan dalam menjalankan amanah pendidikan.
Ia kemudian menceritakan kisah seorang guru di daerah terpencil yang setiap hari menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan berjalan kaki untuk mengajar. Meski hanya menerima honor sekitar Rp150 ribu per bulan, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap mendidik.
“Bukan karena besar kecilnya upah, tetapi karena ia memahami bahwa mendidik adalah panggilan jiwa dan bentuk pengabdian yang nilainya jauh melampaui materi,” tuturnya.

Menurut Nashirul Haq, pengabdian para pendidik menjadi bagian dari proses panjang dalam menyiapkan generasi. Guru mungkin tidak selalu melihat langsung hasil dari pendidikan yang diberikan, tetapi nilai yang ditanamkan dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat di masa depan.
“Ketika seorang pendidik bekerja dengan totalitas, ia sedang menanam benih yang mungkin tidak ia panen sendiri. Namun, dari benih itulah akan tumbuh pemimpin, ulama, dan orang-orang yang memberi manfaat bagi masyarakat. Itulah warisan terbesar seorang guru,” katanya.
Pembinaan tersebut diikuti puluhan guru dan dosen. Kegiatan menjadi bagian dari upaya memperkuat jati diri pendidik agar tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik.
Melalui kegiatan ini, para guru dan dosen diharapkan semakin kuat menjalankan amanah pendidikan serta berkontribusi dalam melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.






