
Lombok Barat (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, menyampaikan materi secara daring dalam kegiatan Lailatul Ijtima kader Hidayatullah se-Nusa Tenggara Barat yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah NTB. Sabtu (20/06/2026)
Dalam arahannya, Kyai Naspi menegaskan bahwa misi dakwah yang diemban Rasulullah ﷺ harus menjadi karakter utama yang melekat pada setiap dai Hidayatullah. Mengutip penggunaan kata ba’atsa dalam Al-Qur’an terkait pengutusan Nabi Muhammad ﷺ, beliau menjelaskan bahwa kata tersebut juga mengandung makna menggerakkan, menyatukan, membahagiakan, dan menggembirakan.
“Karena itu, dai Hidayatullah harus menjadi sosok yang mampu menggerakkan masyarakat menuju kebaikan, menyatukan umat, membahagiakan, dan menggembirakan mereka dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kyai Naspi menjelaskan bahwa QS. Al-Jumu’ah ayat 2 memberikan gambaran utuh mengenai fungsi dan peran seorang dai dalam membangun peradaban Islam. Dari ayat tersebut, setidaknya terdapat lima fungsi utama yang harus dijalankan oleh setiap dai.
Pertama Dai sebagai Mujahidul Islam
Yaitu sosok yang memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Seorang dai harus memiliki semangat pengorbanan dan kesiapan untuk berjuang demi kemajuan dakwah serta kemaslahatan umat.
Menurut Kyai Naspi, seorang dai tidak boleh menjadi beban bagi perjuangan. Sebaliknya, ia harus tampil sebagai seorang mujahid yang senantiasa memberi dan berkorban. “Mujahid itu artinya memberi, berkorban, dan berkontribusi. Bukan justru mengambil tanpa memberikan sumbangsih bagi dakwah dan umat,” tegasnya.
Kedua Dai sebagai Muwahhidul Ummah
Selain pejuang, dai juga sebagai pemersatu umat. Dai dituntut menjadi perekat persaudaraan, membangun ukhuwah Islamiyah, serta menghadirkan solusi yang memperkuat kebersamaan di tengah berbagai perbedaan yang ada di masyarakat.
Dai Hidayatullah tidak hadir untuk mempertajam perbedaan mazhab, organisasi, maupun latar belakang sosial, melainkan membangun titik temu dan semangat kebersamaan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah. Dengan pendekatan dakwah yang bijak, inklusif, dan solutif, dai Hidayatullah diharapkan mampu menjadi penghubung antar elemen umat, memperkuat kolaborasi dalam kebaikan, serta menghadirkan suasana yang menenteramkan dan mempersatukan masyarakat. Tegas Kyai Naspi
Ketiga Dai sebagai Muallim ad-Diin
Yakni pembimbing umat. Seorang dai memiliki tugas untuk menyampaikan ilmu, membimbing pemahaman keislaman yang benar, serta menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan umat.
Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi setiap dai untuk terus belajar sebagai upaya dalam meningkatkan kapasitas diri agar mampu memberikan pencerahan serta solusi dalam setiap problematika umat dan bangsa. Ujar Kyai Naspi.
Keempat Dai sebagai Muaddibul Khuluq
Dakwah tidak cukup hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga harus melahirkan perubahan perilaku. Karena itu, dai harus menjadi teladan dalam akhlak dan adab, sekaligus membimbing masyarakat menuju karakter yang mulia. Pesan yang dikirimkan oleh para dai akan semakin kuat dan mudah diamalkan dalam kehidupan umat ketika para dai mampu memperagakan secara langsung.
Kelima Dai sebagai Mujaddidul Iman,
Yaitu penjaga dan pembaru keimanan umat. Melalui pembinaan ruhiyah, nasihat, dan keteladanan, seorang dai berperan menjaga semangat keimanan agar tetap hidup dan terus bertumbuh dalam diri umat Islam.
Kyai Naspi menegaskan bahwa kelima fungsi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Seorang dai bukan hanya penyampai ceramah, tetapi juga pejuang, pemersatu, pendidik, pembina akhlak, dan penguat keimanan umat.
Melalui kegiatan Lailatul Ijtima ini, beliau berharap seluruh kader Hidayatullah semakin mengokohkan perannya sebagai pelayan umat yang menghadirkan manfaat nyata bagi umat dan bangsa. Dakwah, menurutnya, harus mampu menghadirkan optimisme, memperkuat persatuan, dan menjadi sarana transformasi menuju kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan Islam.






