AdvertisementAdvertisement

DPP Hidayatullah Belajar Merawat Tradisi dan Merengkuh Modernisasi di Darul Ulum Jombang

Content Partner

JOMBANG (Hidayatullah.or.id) — Rombongan Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah melakukan kunjungan benchmarking ke Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Sabtu pagi. Kunjungan ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat silaturahmi keumatan sekaligus mempelajari pengelolaan pendidikan pesantren yang mampu mempertahankan tradisi di tengah tuntutan modernisasi.

Rombongan disambut tiga pengurus inti sekaligus representasi kepemimpinan pesantren yang mewakili delapan majelis masyaikh, yakni Drs. KH. HM. Za’imuddin Wijaya As’ad, MS (Gus Zu’em), KH. Hamid Bisri (Gus Mamik), dan Dr. KH. M. Afifudin Dimyathi (Gus Awis), bersama jajaran kepala sekolah dari berbagai unit pendidikan Darul Ulum.

Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan, Muzakkir, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat pengelola Darul Ulum. Menurutnya, kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang belajar bagi Hidayatullah dalam mengembangkan ekosistem pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi kepesantrenan.

Darul Ulum yang telah berdiri sejak 1885 menunjukkan bahwa tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan modernisasi pendidikan. Di dalam kompleks pesantren terdapat berbagai jenjang pendidikan, mulai dari madrasah ibtidaiyah hingga perguruan tinggi, termasuk program pendidikan unggulan di bidang sains dan kesehatan.

Pesantren ini juga pernah mengembangkan sekolah unggulan melalui kerja sama dengan BPPT pada 1994 yang kala itu dikenal sebagai magnet school yang diinisiasi almarhum Prof. BJ Habibie. Selain itu, Darul Ulum memiliki fasilitas Cambridge Test Center yang memberikan peluang bagi santri memperoleh sertifikasi berstandar internasional.

Modernisasi tersebut tetap berjalan berdampingan dengan penguatan tradisi keilmuan Islam melalui pembelajaran kitab kuning (turats) dan pengembangan Ma’had Aly.

Gus Zu’em menjelaskan, pengembangan tersebut telah menjadi bagian dari cita-cita para muassis sejak awal. Darul Ulum tidak hanya diarahkan untuk mencetak ahli agama, tetapi juga melahirkan cendekiawan dan teknokrat Muslim yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Saat ini, pengelolaan pesantren berada di tangan generasi keempat dzurriyyah muassis dengan kepemimpinan kolektif delapan masyaikh. Sistem tersebut menaungi ekosistem pendidikan yang menampung lebih dari 11.000 santri dalam 12 unit pendidikan formal, dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga perguruan tinggi.

Untuk menjaga tata nilai, tradisi, dan adab kepesantrenan, Darul Ulum mengelola 44 unit asrama yang berada dalam pengawasan langsung para dzurriyyah. Sistem pembinaan tersebut berjalan beriringan dengan capaian akademik santri yang tidak hanya terlihat dari penguasaan kitab, tetapi juga prestasi dalam berbagai olimpiade sains dan kompetisi robotik.

Terintegrasi dengan Masyarakat

Kehidupan pesantren Darul Ulum juga terintegrasi dengan masyarakat sekitar. Asrama dan berbagai fasilitas pendidikan menyatu dengan permukiman warga sehingga membentuk ekosistem sosial dan ekonomi yang saling mendukung.

Pesantren turut memfasilitasi ratusan UMKM lokal untuk memenuhi kebutuhan harian para santri. Di sisi lain, aktivitas ekonomi tersebut tetap berada dalam koridor tata nilai pesantren.

Salah satunya melalui larangan penjualan rokok di lingkungan sekitar pesantren. Kebijakan tersebut sejalan dengan aturan Darul Ulum yang melarang santri merokok.

Dalam diskusi mengenai kaderisasi ulama, Gus Awis menjelaskan pengelolaan Ma’had Aly Darul Ulum yang mengambil program takhassus Al-Qur’an wa Ulumuhu. Mahasiswa yang diterima diwajibkan telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an secara utuh.

Pembelajaran diarahkan pada kajian bahasa, sastra Al-Qur’an, dan literatur turats. Program tersebut ditujukan untuk mencetak sarjana yang memiliki kepakaran di bidang Al-Qur’an sekaligus melanjutkan tradisi keilmuan para masyaikh Darul Ulum dalam menjawab tantangan kelangkaan ulama dan kebutuhan tafaqquh fiddin.

Sementara itu, Gus Mamik memaparkan strategi pengelolaan sumber daya manusia, khususnya dalam memilih pimpinan unit pendidikan. Darul Ulum mengutamakan profesionalitas dan kompetensi manajerial dalam memilih kepala sekolah, termasuk membuka ruang bagi tenaga profesional dari luar lingkungan pesantren.

Setelah bergabung, para profesional tersebut kemudian di-sibghah dengan nilai, budaya, dan ruh pesantren agar pengelolaan pendidikan tetap berjalan selaras dengan visi para masyaikh.

Kunjungan diakhiri dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol pengikat ukhuwah institusional. Rombongan DPP Hidayatullah juga menyampaikan harapan agar para pengelola unit pendidikan Hidayatullah di berbagai daerah dapat melakukan kunjungan lanjutan ke Darul Ulum.

Permohonan tersebut disambut terbuka oleh para kiai Darul Ulum.

Kunjungan tersebut memberikan perspektif bahwa penguatan tradisi dan modernisasi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Tradisi keilmuan dan nilai-nilai kepesantrenan yang dijaga dengan baik justru dapat menjadi fondasi dalam membangun pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Hal ini sejalan dengan prinsip al-muhafazhah ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah: mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Hidayatullah Sumut Jajaki Sinergi dengan Kadin Medan, Kembangkan Ekonomi Berbasis Potensi Kader Muda

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara menjajaki kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin)...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img