AdvertisementAdvertisement

Hidayatullah Perkuat Perspektif Dakwah Internasional melalui International Grand Imams Conference

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa (HAB) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, S.Sy., MIRK., menghadiri International Grand Imams Conference 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu, 14 Rabiul Akhir 1448 (26/9/2026).

Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif Hidayatullah mengenai dinamika dakwah global, terutama terkait posisi masjid dan imam dalam membangun harmoni sosial, diplomasi keagamaan, dan perdamaian dunia.

Konferensi bertema “Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace” itu mempertemukan imam besar, mufti, ulama, akademisi, serta tokoh Islam dari sejumlah negara. Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., membuka rangkaian kegiatan yang diawali dengan tilawah Al-Qur’an, Tari Saman, menyanyikan Indonesia Raya, dan pembacaan doa.

Salah satu gagasan utama yang mengemuka adalah perlunya memperluas kembali fungsi masjid dalam kehidupan masyarakat. Masjid dipandang tidak cukup hanya menjadi ruang pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga dapat menjalankan fungsi pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga, dialog, serta pembinaan umat.

Perspektif tersebut mengemuka dalam panel “Masjid Harmony and Religious Diplomacy” yang menghadirkan Grand Mufti Mesir Prof. Dr. Nazhier Mohammad Ayyad, Dr. Khalifah Ezzat dari Inggris, dan Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag. Prof. Dr. M. Quraish Shihab bertindak sebagai moderator.

Bagi Rasfiuddin, pembahasan tersebut memiliki relevansi langsung dengan pengembangan dakwah. “Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban. Tidak hanya ramai ketika waktu shalat tiba, tetapi dari masjid harus lahir pendidikan, kepedulian sosial, penguatan keluarga, pemberdayaan ekonomi, persaudaraan, hingga solusi atas berbagai persoalan umat,” ujarnya.

Menurutnya, sejarah Islam memperlihatkan bahwa masjid sejak masa Rasulullah ﷺ memiliki fungsi yang lebih luas daripada tempat ibadah. Masjid menjadi ruang pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, sekaligus pembinaan masyarakat. Karena itu, penguatan fungsi sosial masjid dinilai tetap relevan di tengah perubahan kehidupan umat saat ini.

Dimensi lain yang menjadi perhatian adalah kapasitas imam dalam konteks masyarakat global. Melalui sesi “The Role of Imam for Global Peace”, konferensi menghadirkan Syaikh Mohammad A.M. Hussein, Grand Imam Masjid Al-Aqsa; Prof. Dr. Mohammed Bechari dari World Muslims Communities Council Uni Emirat Arab; Mufti Prof. Dr. Aziz Hasanović dari Kroasia; Dirjen Pendidikan Islam Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag.; serta Muhammad Abdullah Al-Maghribi dari Brazil. Perspektif kebijakan luar negeri Indonesia turut diwakili Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta.

Rasfiuddin menilai imam masa kini membutuhkan kompetensi yang lebih luas. “Imam harus mampu membaca keadaan masyarakatnya. Ia perlu memahami persoalan sosial, memiliki kemampuan komunikasi, menjadi perekat umat, sekaligus mampu menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin’,” katanya.

Kebutuhan tersebut semakin kompleks ketika seorang dai menjalankan misi dakwah lintas negara. Menurut Rasfiuddin, penguasaan ilmu agama perlu dilengkapi kemampuan bahasa, pemahaman budaya, kecakapan komunikasi, serta wawasan internasional.

“Ketika seorang dai berada di luar negeri, ia bukan hanya membawa dirinya sendiri. Ia membawa wajah Islam, bahkan dalam banyak keadaan juga membawa wajah Indonesia. Karena itu kesiapan keilmuan, akhlak, bahasa, dan pemahaman budaya menjadi sangat penting,” jelasnya kepada ini disela sela acara.

Bagi Departemen HAB DPP Hidayatullah, forum internasional tersebut sekaligus memberikan masukan bagi pengembangan dakwah lintas negara. Pertemuan dengan para ulama dan imam dari berbagai kawasan membuka ruang untuk memahami tantangan dakwah dalam lingkungan sosial yang berbeda-beda.

Rasfiuddin menekankan bahwa pengiriman dai ke luar negeri membutuhkan persiapan yang terukur. “Semangat dakwah tentu sangat penting, tetapi untuk masuk ke ruang dakwah internasional dibutuhkan lebih dari itu. Dai harus kuat secara keilmuan, matang secara karakter, mampu berbahasa asing, memahami budaya masyarakat setempat, dan mampu membangun komunikasi dengan berbagai kelompok,” ungkapnya.

“Dakwah internasional tidak boleh sekadar hadir. Kita ingin dai-dai yang dikirim mampu memberi manfaat, membangun kepercayaan, menjadi bagian dari solusi masyarakat, dan mampu membangun jejaring kebaikan lintas negara,” katanya menambahkan.

Konferensi juga memperluas pembahasan ke isu lingkungan melalui panel “Mosques and Contemporary Issues in Ecotheology”, yang menghadirkan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin dan perwakilan WALHI. Pemabahasan sesi ini menegaskan peran masjid yang apat menjadi ruang edukasi masyarakat mengenai lingkungan, kemanusiaan, dan persoalan sosial kontemporer.

Bagi Rasfiuddin, keluasan isu tersebut mempertegas bahwa dakwah membutuhkan kemampuan membaca perubahan zaman. Masjid, imam, dan dai dapat mengambil peran dalam menjembatani nilai keagamaan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk persoalan lingkungan dan kemanusiaan.

Ia berharap International Grand Imams Conference 2026 tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berkembang menjadi jejaring kolaborasi antarulama, lembaga Islam, dan komunitas Muslim lintas negara.

“Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan manusia, bukan mempertentangkan mereka. Masjid memiliki kekuatan besar untuk memainkan peran itu. Dari masjid kita membangun iman, dari masjid kita membangun manusia, dan dari masjid pula kita bisa membangun persaudaraan serta perdamaian dunia,” pungkasnya.

Reporter: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Forum POV Jadi Langkah Baru Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan Bangun Wawasan Generasi Muda

MAKASSAR (hidayatullah.or.id) – Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan bersama Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) Sulsel menggelar kegiatan POV (Perspektif Objektif dan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img