
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi sebuah perjalanan panjang untuk meninggalkan kemaksiatan, memperbaiki diri, dan mengarahkan seluruh hidup menuju ridha Allah SWT.
Ketika mendengar kata hijrah, apa yang pertama kali terlintas di benak kita?
Sebagian besar mungkin akan membayangkan sebuah perjalanan fisik: meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain. Dalam sejarah Islam, hijrah identik dengan kisah heroik kaum Muhajirin yang meninggalkan rumah, harta, dan kampung halaman mereka di Makkah demi mempertahankan iman.
Kala itu, tekanan dan penindasan kaum Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya semakin hari semakin berat. Ruang gerak kaum muslimin dipersempit, hak-hak mereka dirampas, bahkan keselamatan jiwa mereka terancam. Namun, keadaan yang sulit itu tidak membuat mereka menyerah. Sebaliknya, mereka justru semakin teguh mencari jalan keluar demi menjaga keimanan.
Dalam suasana itulah Allah SWT memberikan petunjuk melalui firman-Nya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Ayat ini menjadi isyarat penting bahwa seorang mukmin tidak boleh menyerah pada keadaan yang mengancam agamanya. Melalui petunjuk Allah, Rasulullah ﷺ akhirnya memutuskan untuk mencari tempat yang lebih aman bagi dakwah Islam. Maka terjadilah hijrah kaum muslimin ke Habasyah, Thaif, dan puncaknya hijrah Nabi ﷺ ke Madinah.
Inilah hijrah fisik terbesar yang tercatat dalam sejarah Islam. Akan tetapi, apakah makna hijrah berhenti pada perpindahan tempat semata?
Hijrah Lebih dari Sekadar Perpindahan
Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata hijrah berasal dari akar kata ha-ja-ra yang berarti meninggalkan atau memutus hubungan dengan sesuatu untuk berpindah kepada sesuatu yang lain.
Namun, apabila hijrah dipahami hanya sebagai perpindahan geografis, maka kita akan kehilangan esensi terpentingnya. Sebab, pada masa kini tidak ada lagi kewajiban untuk berhijrah secara fisik ke Madinah sebagaimana generasi awal Islam.
Lalu, apakah semangat hijrah ikut berakhir?
Tentu tidak.
Hijrah justru memiliki makna yang lebih luas dan terus hidup sepanjang zaman.
Dua Makna Hijrah
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hakikat hijrah dalam syariat adalah:
“Meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.”
Penjelasan ini didasarkan pada sabda Rasulullah ﷺ:
«المهاجر من هجر ما نهى الله عنه
“Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Dari sini, hijrah dapat dipahami dalam dua bentuk besar:
Pertama, hijrah lahiriah (fisik).
Yaitu perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain demi menjaga agama dan keselamatan iman.
Kedua, hijrah batiniah (spiritual).
Yaitu meninggalkan dosa, kemaksiatan, hawa nafsu, serta segala sesuatu yang menjauhkan diri dari Allah SWT.
Menariknya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa hijrah batin merupakan fondasi bagi hijrah lahir. Sebab, seseorang tidak akan mampu mengubah lingkungan luarnya jika ia belum mampu memenangkan pertarungan di dalam dirinya sendiri.
Hijrah batin adalah perjuangan untuk meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, keluar dari belenggu hawa nafsu menuju keridhaan Allah SWT.
Destinasi Hijrah yang Sesungguhnya
Dalam kitab Thariq al-Hijratain, Imam Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa seorang mukmin sejatinya harus terus berhijrah sepanjang hidupnya melalui dua perjalanan besar.
Pertama, hijrah menuju Allah SWT.
Inilah hijrahnya hati. Sebuah perjalanan spiritual ketika seseorang mengarahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah, bertawakal kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, dan menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada-Nya.
Kedua, hijrah menuju Rasulullah ﷺ.
Yakni berusaha menyelaraskan seluruh aspek kehidupan dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, baik dalam ibadah, akhlak, maupun muamalah.
Sebab tanpa mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, amal yang tampak baik sekalipun bisa kehilangan ruhnya dan berubah menjadi sekadar rutinitas tanpa makna.
Karena itu, Imam Junaid Al-Baghdadi pernah berkata:
“Semua jalan menuju Allah tertutup, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.”
Bagaimana dengan Hijrah Fisik Hari Ini?
Dalam perkembangan zaman, hijrah fisik tetap memiliki relevansi sesuai dengan kondisi masing-masing.
1. hijrah untuk menyelamatkan iman, yakni berpindah dari lingkungan yang menghalangi kebebasan beragama menuju tempat yang lebih aman untuk beribadah.
2. hijrah sosial, yaitu menjauh dari lingkungan yang buruk, pergaulan yang merusak, dan segala bentuk pengaruh yang dapat melemahkan iman.
3., hijrah akhir zaman, yaitu mengalihkan orientasi hidup dari kecintaan yang berlebihan kepada dunia menuju kehidupan yang berlandaskan wahyu dan nilai-nilai Islam.
Makna hijrah hari ini bukan semata berpindah negeri, tetapi berpindah orientasi hidup: dari materialisme menuju ketakwaan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari cinta dunia menuju cinta Allah SWT.
Oase Pahala yang Menghapus Masa Lalu
Mengapa hijrah begitu dimuliakan dalam Islam?
Karena hijrah membutuhkan keberanian. Ia menuntut seseorang keluar dari zona nyaman dan meninggalkan sesuatu yang dicintainya demi Allah.
Namun, bagi mereka yang berani berhijrah, Allah menjanjikan pahala yang besar dan kehidupan yang lebih baik.
Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan hijrah pun menghapus dosa-dosa yang telah lalu?”
(HR. Muslim)
Hijrah adalah kesempatan untuk memulai kembali. Ia ibarat tombol reset yang membersihkan lembaran masa lalu dan membuka babak kehidupan yang baru.
Karena itu, kita tidak harus menunggu momen besar untuk berhijrah.
Mulailah dari tempat kita berada hari ini.
Hijrahilah kebiasaan buruk yang selama ini mengikat diri kita. Tinggalkan tontonan yang tidak bermanfaat. Perbaiki kualitas shalat kita. Perbanyak ilmu agama. Dan luruskan kembali arah hidup yang mungkin sempat menyimpang dari jalan Allah.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menguatkan hati kita untuk istiqamah, dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berhijrah menuju Allah SWT dan Rasul-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Khoirul Anam, S.Sos.I / penulis adalah Dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Qur’an & Tafsir Hidayatullah Medan Al-Qur’an Learning Centre






