Beranda blog Halaman 111

Jejak Dakwah Hidayatullah dan Surga Tersembunyi Teluk Bintuni

KABUPATEN Teluk Bintuni, sebuah permata di pesisir barat Pulau Papua, menyimpan keindahan alam yang memukau. Dengan luas wilayah sekitar 20.000 kilometer persegi dan populasi sekitar 100.000 jiwa, daerah ini menjadi tempat yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.

Tak berlebihan jika Teluk Bintuni dijuluki sebagai ‘surga tersembunyi’. Gugusan pulau-pulau kecil, pantai berpasir putih, serta perairan biru jernih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan keindahan alam yang masih asri.

Namun, di balik keelokan alamnya, Teluk Bintuni juga menjadi landscape perjalanan dakwah yang penuh tantangan. Sejak tahun 2001, Hidayatullah telah menjejakkan kakinya di sini, berkat perjuangan Ustadz Syamsul Arif yang memulai langkah dakwah dengan mendatangi rumah-rumah tokoh setempat.

Dalam perjalanannya, perjuangan ini membuahkan hasil dengan adanya tanah wakaf seluas satu hektar, yang kemudian menjadi pusat kegiatan dakwah dan pendidikan Islam di Teluk Bintuni.

Perjalanan Estafeta Dakwah

Perjuangan dakwah di tanah Papua bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak rintangan yang menghadang, mulai dari keterbatasan tenaga dakwah, aksesibilitas yang sulit, hingga penerimaan masyarakat yang membutuhkan waktu.

Setelah Ustadz Syamsul Arif, tongkat estafet dakwah Hidayatullah di Teluk Bintuni beralih kepada Ustadz Syarifuddin yang mengemban tugas hingga tahun 2019.

Kemudian, Ustadz Miftahuddin mengambil alih selama setahun, sebelum akhirnya diteruskan oleh Ustadz H. Said Tafalas pada 2019 hingga 2021. Kini, sejak tahun 2021, dakwah di Teluk Bintuni berada di bawah kepemimpinan Ustadz Muh. Fahrurozi, S.Kom.I.

Ustadz Fahrurozi, alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Hakim (STAIL) Surabaya, bersama istrinya, Ustadzah Tri Marita, yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, terus melanjutkan perjuangan dengan penuh keteguhan hati.

Didampingi oleh Nashiruddin Albani sebagai bendahara dan La Hamzah sebagai sekretaris DPD, mereka berusaha mengembangkan amal usaha dan memperluas jangkauan dakwah di daerah ini.

Salah satu fokus utama dakwah Hidayatullah di Teluk Bintuni adalah pendidikan. Baru-baru ini, lembaga pendidikan mereka telah mendapatkan izin legal untuk mendirikan SD dan TK.

Meski secara fasilitas sudah cukup memadai, namun tenaga pengajar atau Sumber Daya Insani (SDI) masih menjadi kendala besar. Berbagai upaya dilakukan untuk merekrut tenaga pengajar serta mendatangkan santri baru agar pendidikan Islam semakin berkembang di wilayah ini.

Upaya sosialisasi dilakukan secara intensif melalui silaturahim dari masjid ke masjid serta kunjungan langsung ke rumah-rumah tokoh masyarakat. Dakwah di Papua memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Namun, pelan tapi pasti, usaha ini mulai menunjukkan hasil. Penerimaan masyarakat terhadap dakwah Islam semakin meningkat, bahkan pemerintah daerah pun mulai memberikan dukungan yang lebih konkret.

Salah satu pencapaian besar adalah ketika para dai Hidayatullah diangkat menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) tingkat Kabupaten Fakfak. Ustadz Fahrurozi sendiri dipercaya sebagai Bendahara Umum MUI, sebuah amanah besar yang menandakan semakin diterimanya dakwah Islam di wilayah ini.

Membangun Masa Depan

Pada masa kepemimpinan Ustadz Syarifuddin, berbagai fasilitas telah berhasil dibangun, termasuk perumahan bagi para asatidzah, satu asrama santri, kantor yayasan, serta gedung PAUD dan TK.

Sementara itu, di bawah kepemimpinan Ustadz Fahrurozi, fokus utama adalah pembangunan gedung SD Luqman Al Hakim serta proses pengurusan legalitas aset.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah status tanah yang berada di kawasan konservasi atau hutan lindung. Namun, dengan komunikasi yang terus dilakukan bersama pihak terkait, termasuk Balai Konservasi dan Badan Pertanahan Nasional, upaya untuk mendapatkan kepastian hukum terus diupayakan.

Tak hanya dalam hal pendidikan dan infrastruktur, kiprah dakwah para dai di Teluk Bintuni juga semakin luas. Kini, mereka diminta mengisi khutbah di berbagai masjid, memberikan tausiyah, serta memimpin doa dalam berbagai kegiatan keagamaan. Kepercayaan masyarakat terhadap dakwah Hidayatullah semakin menguat, membuka jalan bagi kemajuan Islam di wilayah ini.

Dakwah di Teluk Bintuni adalah cerminan keteguhan hati, perjuangan tanpa lelah, dan keyakinan yang kokoh. Dalam setiap langkah yang diambil oleh para dai, terselip harapan besar akan masa depan Islam yang lebih cerah di Papua.

Dengan tekad yang kuat dan dukungan yang terus mengalir, bukan tidak mungkin Teluk Bintuni akan menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam yang berkembang pesat di tahun-tahun mendatang.

Sebagaimana setiap orang yang pertama kali menapakkan kaki di tanah ini akan terpesona oleh keindahan alamnya, semoga masyarakatnya pun semakin terpukau oleh cahaya Islam yang terus bersinar di ufuk timur Nusantara.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.

Fakfak, Kota Pala yang Menyimpan Warisan Islam dan Harmoni Keberagaman

DI ANTARA Laut Seram, Laut Arafura, Teluk Berau, dan Kabupaten Kaimana, Fakfak berdiri kokoh sebagai kota tertinggi dan terdingin di Papua Barat.

Kabupaten yang memiliki akses mudah dari Kota Ambon ini bukan hanya sekadar destinasi wisata yang menakjubkan, tetapi juga pusat sejarah yang sarat makna, terutama dalam perjalanannya sebagai titik awal penyebaran Islam di Tanah Papua.

Sejarah mencatat bahwa Islam pertama kali menginjakkan kaki di Fakfak pada 8 Agustus 1360 Masehi. Seorang ulama dari Kerajaan Samudra Pasai bernama Abdul Gaffar menjadi tokoh utama dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah ini.

Sejak saat itu, Fakfak tumbuh menjadi simbol percampuran budaya yang harmonis antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal yang mengedepankan kebersamaan.

Pada Sabtu, 11 Januari 2025, sejarah itu semakin mendapat legitimasi akademik melalui seminar nasional yang diselenggarakan di Gedung Wintder Tuare. Hasil seminar tersebut menetapkan Fakfak secara resmi sebagai titik awal penyebaran Islam di Papua.

Lebih dari itu, seminar ini juga menegaskan Fakfak sebagai pusat toleransi dan harmoni yang telah terbentuk selama berabad-abad. Dengan masyarakat yang beragam, Fakfak tetap menjadi tempat yang damai bagi semua, memperkokoh identitasnya sebagai rumah bagi kebersamaan.

Hidayatullah di Fakfak

Tahun 1989 menjadi tonggak penting bagi perkembangan Islam di Fakfak dengan hadirnya Hidayatullah. Dimulai oleh Ustadz Suwardani Sukarno, kehadiran lembaga ini semakin mengakar dengan kedatangan tiga pendakwah muda pada tahun 1990: Ustadz Iskandar, Ustadz Noor Mawardi (Alm.), dan Ustadz Ichra Diyono Sukeni. Mereka memulai perjuangan dakwah di tanah Fakfak dengan merangkul masyarakat setempat.

Salah satu tokoh lokal yang berperan penting adalah Pace Ibrahim, putra daerah yang membantu komunikasi dengan para tetua adat. Kehadiran Bapak Sarkamasa, seorang PNS asli Fakfak, turut memberi dukungan besar dengan menghibahkan tanah seluas satu hektar di Jl. Yos Sudarso, Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, sebagai lokasi pendirian pesantren. Seiring waktu, lahan ini diperluas menjadi 1,5 hektar guna memenuhi kebutuhan asrama, masjid, dan sekolah.

Awalnya, Hidayatullah Fakfak lebih dikenal karena panti asuhannya, yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Sebagai satu-satunya pesantren berbasis panti asuhan yang bertahan, Hidayatullah sering menjadi mitra strategis dalam berbagai program sosial dan pendidikan.

Kini, lembaga ini mengelola Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan 25 santri dan tenaga pengajar yang sebagian berasal dari luar pesantren. Program unggulannya adalah Takhasus Tahfidz Al-Qur’an, yang membina 15 santri khusus untuk menjadi imam muda dan calon ulama.

Dalam upaya memperluas jangkauan pendidikan Islam, Hidayatullah berencana membuka Sekolah Dasar pada tahun depan. Saat ini, proses perizinan sedang berlangsung, dengan harapan semakin banyak anak-anak Fakfak yang dapat memperoleh pendidikan berbasis Islam secara komprehensif.

Hidayatullah Fakfak tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga aktif dalam kegiatan dakwah di masyarakat. Setiap Jumat, minimal empat khatib ditugaskan untuk memberikan khutbah di berbagai lokasi seperti Kampung Berai, Kokas, dan Pulau Panjang.

Selain itu, rumah Qur’an telah didirikan untuk membimbing anak-anak dalam membaca dan menulis Al-Qur’an di Kota Pala ini, mengingat masih banyak anak di Fakfak yang belum memiliki kemampuan tersebut.

Kegiatan dakwah lainnya meliputi pengajian rutin, pembinaan masyarakat, serta partisipasi dalam peringatan Hari Besar Islam (PHBI).

Hidayatullah juga aktif dalam organisasi keislaman seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Fakfak dan Korps Dai/Mubaligh setempat. Saat ini, kepemimpinan DPD Hidayatullah Fakfak berada di bawah Ustadz Jajang Suryaman bersama tiga kader lainnya.

Namun, berdakwah di Fakfak bukanlah tanpa tantangan. Berbeda dengan daerah lain, budaya di Fakfak memiliki dinamika tersendiri yang menuntut metode dakwah yang fleksibel dan tidak kaku.

Mayoritas penduduk adalah para pendatang yang sibuk mencari nafkah dari kekayaan alam, seperti hasil laut dan pala. Banyak nelayan yang bekerja hingga larut malam, sehingga perlu strategi dakwah yang menyesuaikan dengan keseharian mereka.

Meski demikian, masyarakat Fakfak memiliki nilai luhur dalam menghormati para tokoh agama. Fakfak dikenal dengan filosofi “Satu Tungku Tiga Batu,” yang melambangkan harmoni dalam keberagaman agama.

Di sini, Islam, Kristen, dan Katolik hidup berdampingan dalam satu keluarga besar tanpa konflik. Semangat ini menjadikan Fakfak sebagai model toleransi yang patut dicontoh oleh daerah lain di Indonesia.

Hubungan Hidayatullah dengan pemerintah daerah pun terjalin erat. Bahkan, pada periode sebelumnya, Bupati Fakfak menjadi donatur tetap bagi lembaga ini. Keakraban dengan aparat seperti Kapolres dan Dandim menunjukkan bahwa Hidayatullah diterima sebagai mitra dalam membangun Fakfak yang lebih baik.

Dengan semangat keberagaman dan keteguhan dalam dakwah, Fakfak terus menjadi mercusuar Islam di Papua. Sejarah panjangnya sebagai titik awal penyebaran Islam, ditambah dengan peran aktif lembaga-lembaga pendidikan Islam, menegaskan bahwa Fakfak bukan hanya cantik dengan eksotisme alamnya, tetapi juga Kota Harmoni dan Cahaya Islam di timur Nusantara.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.

Menyemai Cahaya Islam di Tanah Kaimana Kota 1001 Senja

INDONESIA selalu memukau dunia dengan pesona alamnya yang luar biasa. Dari ujung barat hingga timur, setiap sudut negeri ini memiliki daya tarik tersendiri. Salah satu surga tersembunyi yang belum banyak terjamah adalah Kaimana, sebuah kabupaten di Provinsi Papua Barat yang terkenal dengan julukan “Kota 1001 Senja”.

Julukan tersebut disematkan bukan tanpa alasan—senja di Kaimana menghadirkan panorama yang begitu memesona, seolah-olah langit menari dalam semburat jingga yang magis.

Kaimana terletak di pesisir Laut Arafuru, sebuah bentangan laut yang luas dan kaya akan biota laut. Tak hanya terkenal dengan keindahan senjanya, Kaimana juga disebut sebagai “Kingdom of Fish” atau Kerajaan Ikan.

Di perairan Kaimana, hampir semua jenis ikan dapat ditemukan dengan mudah, dari yang berukuran kecil hingga yang besar. Hal ini menjadikan wilayah ini sebagai surga bagi para pencinta olahraga memancing.

Pulau Triton dan Pasir Pink di Kaimana menjadi beberapa destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan bahari serta jejak sejarah yang masih terawat, seperti situs peninggalan Burung Garuda.

Namun, Kaimana bukan hanya sekadar destinasi wisata. Di tengah keindahan alamnya yang menawan, ada secercah cahaya yang terus menyinari daerah ini—sebuah cahaya dakwah yang penuh perjuangan.

Kader dai muda Syarif Bastian Amin adalah petugas pertama yang menginjakkan kaki untuk merintis berdirinya Hidayatullah Kecamatan Kaimana. Saat itu, tahun 1992, Kaimana secara administratif masih menjadi bagian kecamatan dari Fakfak.

Di periode awal ini, Syarif rutin silaturrahim menemui masyarakat setempat termasuk tokoh pemangku adat setempat yang biasa disebut sebagai Bapa Raja Kaimana. Dari tokoh ini, Hidayatullah dipercayakan sebidang tanah sekitar satu hektar di Desa Coa, yang berjarak sekitar 20 kilo meter dari ibu kota kecamatan..

Tidak cukup setahun bolak balik Fakfak – Kaimana, Syarif mendadak harus ditarik karena ayahanda, Ustadz Amin Bahrun (kader senior perintis Hidayatullah) mengalami sakit keras di Cilodong (sekarang Depok).

Ketika Syarif baru mau menuju Jakarta menjenguk sang ayah dan sudah beli tiket kapal laut, tiba tiba ada telegram yang mengabarkan bahwa ayahanda sudah meninggal dunia.

“Akhirnya, kami batal ke Jakarta. Lanjut ke Gunung Tembak menemui ibu kemudian balik lagi ke Irian Jaya ditugaskan merintis cabang Hidayatullah Wamena bersama Ustadz Mahdi Colleng,” kata Syarif, menceritakan masa masa penuh perjuangan tersebut.

IST: Tampak Syarif Bastian di Wamena pada tahun 1993 di rumah Kepala Suku Besar Haji Aipon Aso yang mempunyai istri 6 orang dengan tinggal dalam hunian bernama honai atau rumah adat terbuat dari kayu bundar dan beratap rumput ilalang (Foto: istimewa/hidayatullah.or.id)
IST: Dai di Papua, Ust. Yusuf Qardhawi, bersama cucu cucu dari Aipon Asso di Walesi dalam sebuah kegiatan pagi belum lama ini (Foto: istimewa/hidayatullah.or.id)

Kemudian pada tahun 1995, dikirim petugas baru bernama Mahlan Yani datang ke daerah ini sebagai seorang pengantin baru.

Tanpa memiliki tempat tinggal sendiri, ia awalnya menumpang di rumah seorang tokoh masyarakat hingga akhirnya mendapatkan pinjaman rumah dinas guru di sebuah sekolah.

Perjuangan dakwah di Kaimana tidaklah mudah. Medan yang terdiri dari gugusan pulau-pulau menjadi tantangan tersendiri dalam menyebarkan ajaran Islam.

Namun, dengan semangat yang tak pernah surut, Mahlan mulai menjalin hubungan dengan masyarakat dan tokoh setempat untuk mengenalkan dakwah Hidayatullah.

Dengan kegigihan dan doa, akhirnya diperoleh sebidang tanah wakaf seluas 1 hektar, sekitar 20 kilometer dari pusat kota Kaimana.

Seiring berjalannya waktu, estafet kepemimpinan dakwah terus berjalan. Setelah Ustadz Mahlan, perjuangan dilanjutkan oleh dai-dai berikutnya seperti Ustadz Asdar Hambal, Ustadz Amir Muda, dan Ustadz Yoyon.

Saat ini, amanah Ketua DPD Hidayatullah Kaimana diemban oleh Ustadz Rijal Setiawan, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Bersamanya, terdapat tujuh kader lainnya yang tinggal dan berjuang di kompleks Pesantren Hidayatullah Kaimana.

Kini, perjuangan itu telah berbuah manis. Pesantren Hidayatullah yang awalnya hanya berdiri di atas tanah wakaf 1 hektar, kini telah diperluas dengan pembebasan 1 hektar lagi di belakangnya.

Di bidang pendidikan, langkah awal dimulai dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK), yang kini telah berkembang menjadi dua sekolah TK di kota dan daerah. Salah satu TK tersebut bahkan menjadi TK favorit di Kaimana, dengan hampir 100 anak didik yang menikmati metode pembelajaran yang menarik dan berkualitas.

Selain itu, pendidikan dasar dan menengah Kaimana juga mengalami pertumbuhan pesat. Sekolah Dasar (SD) Integral Hidayatullah telah menerima 120 murid, sementara Tingkat Menengah Pertama (SMP) telah memiliki 65 murid.

Kepercayaan masyarakat semakin meningkat karena sekolah ini mengedepankan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikannya. Tak hanya membina murid, pihak pesantren juga aktif melakukan pembinaan rutin bagi orang tua santri, menyadari bahwa pendidikan anak harus melibatkan keluarga sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Para guru di Hidayatullah Kaimana juga mendapat perhatian khusus. Mereka rutin mendapatkan pembinaan yang bekerja sama dengan Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kaimana melalui halaqah dan kajian keislaman. Dengan demikian, pemahaman keislaman mereka terus meningkat, sejalan dengan perkembangan dakwah dan pendidikan di Kaimana.

Dalam bidang dakwah, dai-dai Hidayatullah juga aktif mengisi khutbah Jumat di berbagai masjid di Kaimana. Minimal, ada empat khatib yang bertugas secara bergiliran, termasuk di masjid-masjid pemerintah, Polres, Kodim, hingga masjid sekitar pesantren.

Selain itu, Rumah Qur’an juga telah didirikan, meskipun masih dalam tahap pengembangan. Namun, tekad untuk menjadikan Rumah Qur’an sebagai pusat pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak tetap menjadi prioritas utama.

Hubungan Pesantren Hidayatullah dengan masyarakat dan pemerintah juga terjalin erat. Dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan pemerintahan, pesantren selalu berperan aktif, mencerminkan semangat kolaborasi untuk membangun Kaimana yang lebih baik.

Perjalanan dakwah di Kaimana adalah kisah tentang ketekunan, keikhlasan, dan harapan. Di tengah eksotisme senja yang menawan dan kekayaan laut yang melimpah, para dai Hidayatullah tetap berjuang menyebarkan cahaya Islam. Kaimana bukan sekadar Kota 1001 Senja, tetapi juga kota yang terus menyalakan lentera dakwah, menerangi setiap sudutnya dengan ilmu dan iman.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.

Peran Murabbi dalam Perjuangan Islam tidak Mengenal Kata Pensiun

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Peran murabbi dalam perjuangan Islam tidak mengenal kata pensiun. Hal itu kembali ditegaskan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, KH Hamil Thohari MSi, dalam pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Murabbi Wilayah Zona Indonesia Timur (Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua), yang diselenggarakan di Aula Al Bayan Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Tamalanrea, pada Sabtu, 25 Rajab 1446 (25/1/2025).

Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Hamim menegaskan urgensi peran murabbi dalam perjalanan dakwah Hidayatullah. “Murabbi itu tidak ada pensiunnya dalam perjuangan ini, kecuali nanti menghembuskan nafas terakhir baru boleh istirahat, karena peran utamanya bagi lembaga ini,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi titik tekan dalam forum koordinasi yang dihadiri oleh 25 pengurus Dewan Murabbi Wilayah (DMW) dari seluruh Indonesia Timur. Hamim juga menegaskan bahwa tidak boleh ada upaya mengecilkan peran murabbi, apalagi demotivasi yang dapat mengurangi efektivitas mereka dalam membina umat.

Dalam memasuki 50 tahun kedua perjalanan Hidayatullah, Hamim mengingatkan bahwa gerakan ini harus semakin terbuka dan keluar untuk berkontribusi lebih besar dalam perjuangan Islam secara global. Oleh karena itu, optimalisasi peran murabbi menjadi kunci utama agar Hidayatullah dapat terus mengukuhkan posisinya sebagai khairul ummah.

“Pesan Bapak Pemimpin Umum kepada kami, Hidayatullah jangan sampai tertinggal menjadi bagian dari masalah dan perjuangan haraqah global. Maka diperlukan pembenahan ke dalam dengan program-program kemurabbian,” lanjut Hamim.

Dalam forum ini, Ketua Dewan Murabbi Pusat, Ust. Dr. Tasmin Amin, MPd, menegaskan pentingnya pelaksanaan Rakor secara zonasi agar pembahasan dapat lebih intensif. Hal ini bertujuan untuk memastikan pelaksanaan program-program yang telah dirancang dapat berjalan lebih efektif dan berkualitas.

“Rakor kali ini dilaksanakan secara zona karena dibutuhkan forum kecil agar intensif pembahasan terkait koordinasi pelaksanaan program di tahun terakhir kepengurusan. Sehingga program yang belum terimplementasikan bisa ditingkatkan kualitas pelaksanaannya,” jelasnya.

Zonasi Rakor ini tidak hanya berlangsung di Makassar, tetapi juga di Surabaya untuk zona Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta di Batam untuk zona Sumatera. Fokus utama dari Rakor kali ini adalah memperkuat tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dewan murabbi serta peran individu para murabbi.

“Kami akan menguatkan program yang dapat meningkatkan wibawa murabbi, di antaranya melalui peningkatan kualifikasi seperti qiraah Quran melalui halaqah kitab dan optimalisasi Gerakan Nahdhatul Huffazh (GNH),” tambah Tasmin.

Dalam konteks ini, murabbi tidak sekadar menjadi pendidik, tetapi juga pemimpin gerakan kultural yang menginspirasi dengan keteladanan dan semangat perjuangan.

Sebagai tuan rumah pelaksanaan Rakor, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust. Ir. H. Abdul Majid, MA, menyatakan bahwa forum ini bukan hanya tempat koordinasi, tetapi juga momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah.

“Dengan berkumpulnya kita ini saja, kegiatan Rakor sudah selesai dan tercapai tujuan dari kegiatan. Apalagi dengan antusiasnya pengurus Yayasan Al Bayan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan semakin membuat kita bersyukur,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Yayasan Al Bayan, Ust. Suwito Fatah, MM, menyampaikan harapannya agar keberadaan para murabbi senior ini membawa keberkahan bagi kampus Al Bayan.

“Dua hari ini Al Bayan dilimpahkan keberkahan. InsyaAllah ini menjadi modal dan spirit bagi keluarga besar Al Bayan,” ujarnya.

Keberkahan tersebut sejalan dengan pesan Ketua Badan Pembina Yayasan Al Bayan, Ust. Dr. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, MSi, yang menekankan pentingnya mengutamakan program dengan pelayanan maksimal. Menurutnya, dengan menyenangkan orang lain, Allah akan memudahkan perjuangan dakwah dan tarbiyah di lembaga ini.

Sebagai bagian dari agenda Rakor, para peserta dijadwalkan menghadiri peresmian Masjid Merah Putih di Hidayatullah Parengki, Pinrang, pada Ahad (26/1/2025).*/Firmansyah Lafiri

IMS, BMH, dan MTT Gelar Pengobatan Gratis di Kampung Mualaf Baduy

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2025, Islamic Medical Service (IMS) bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) menggelar program bertajuk “Raih Kesehatan, Penuhi Gizi” di Kampung Mualaf Baduy, Desa Cibungur, Kabupaten Lebak, Banten, beberapa waktu lalu dan ditulis Jum’at, 1 Syaban 1446 (31/1/2025).

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk memahami dan memperhatikan pentingnya konsumsi makanan bergizi serta mendapatkan layanan kesehatan melalui pemeriksaan dan pengobatan gratis.

Acara yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 16.00 WIB di Masjid Baitul Hidayah tersebut diikuti oleh 100 pasien penerima layanan pengobatan gratis dan 50 ibu serta anak mualaf Baduy yang mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Program ini menjadi solusi bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman dengan akses kesehatan terbatas, sekaligus mengedukasi mereka tentang pentingnya pemenuhan gizi untuk kehidupan yang lebih sehat.

Kepala Program IMS, Ridho Muhammad Fatihuddin, menekankan bahwa kesadaran akan asupan gizi yang cukup merupakan faktor kunci dalam membangun masyarakat yang sehat.

“Alhamdulillah, pada Hari Gizi Nasional 2025 ini IMS kembali dapat menggelar sinergi program yang berfokus pada kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat. Ini adalah langkah nyata dalam memastikan bahwa setiap individu, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses kesehatan, bisa mendapatkan haknya atas layanan kesehatan dan pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang,” ujar Ridho.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terlaksananya kegiatan ini, khususnya BMH dan MTT yang turut serta dalam kolaborasi.

“Semoga sinergi ini bisa terus berjalan setiap tahunnya agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat, baik dalam bentuk layanan kesehatan maupun edukasi gizi,” tambahnya.

Menurut Ridho, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat yang selama ini mengalami keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, jelas Ridho, IMS bersama para mitra mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya bagi mereka yang berada di daerah terpencil.

“Dengan edukasi dan akses kesehatan yang lebih luas, diharapkan masyarakat dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas,” katanya.

Program ini diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat luas bahwa pemahaman tentang asupan gizi dan akses kesehatan yang baik adalah hak setiap individu, terlepas dari lokasi tempat tinggal mereka.

Masyarakat Kampung Mualaf Baduy menyambut program ini dengan penuh antusias. Sejak pagi, mereka berbondong-bondong datang ke lokasi untuk mendapatkan layanan kesehatan yang jarang mereka akses. Salah satu penerima manfaat, Durohim, menyampaikan rasa syukurnya atas diadakannya program ini.

“Biasanya kalau kami mau berobat harus berjalan jauh ke penyedia layanan kesehatan, dan itu pun berbayar minimal 50 ribu hanya untuk konsultasi. Makanya kami bersyukur sekali IMS, BMH, dan MTT bisa mengadakan program ini di wilayah kami, apalagi semuanya gratis,” ungkapnya dengan raut wajah haru.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Ustadz Supriyanto, juga turut menyampaikan apresiasi kepada para penyelenggara.

“Alhamdulillah, IMS bersama BMH dan MTT telah menghadirkan program kesehatan ini di tempat kami. Melihat masyarakat mualaf yang begitu antusias dan bahagia, saya merasa sangat bersyukur. Semoga IMS terus memberikan dampak positif bagi masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Tim medis yang dipimpin oleh dr. Sarah mencatat bahwa sebagian besar pasien yang diperiksa mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal dan hipertensi. Menurutnya, kondisi ini banyak berkaitan dengan pola hidup bersih dan sehat, termasuk kurangnya asupan gizi yang tepat.

“Penyakit yang dominan dialami masyarakat mualaf Baduy berhubungan dengan kebersihan dan pola makan mereka,” kata dr. Sarah.

Namun, lanjutnya, dengan adanya Pemberian Makanan Tambahan seperti susu sereal, biskuit, vitamin, serta madu, diharapkan kesehatan mereka bisa lebih baik. “Ditambah dengan pemeriksaan dan pengobatan gratis, masyarakat ini dapat tertangani dengan lebih optimal,” jelas dr. Sarah.*/Alamsyah Jilpy

[KHUTBAH JUM’AT] Dua Dimensi Shalat dan Karunia yang Harus Disyukuri

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang tidak hanya terucap di lisan, tetapi juga tertanam dalam hati dan terwujud dalam amal perbuatan.

Kita bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat yang tak terhitung banyaknya, nikmat yang terus mengalir siang dan malam, baik yang kita sadari maupun yang tersembunyi dari pengetahuan kita.

Di antara nikmat terbesar adalah hidayah Islam yang menjadikan kita hidup dalam cahaya petunjuk, serta ibadah yang menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya.

Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, manusia pilihan yang membawa risalah kebenaran, memberi tuntunan menuju keselamatan, dan mengajarkan hakikat syukur atas segala nikmat, termasuk nikmat ibadah yang agung, yaitu shalat.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Kita semua tahu bahwa shalat adalah ajaran Islam yang sangat penting. Shalat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadat.

Shalat adalah tiang agama, yang barang siapa menegakkannya sungguh ia telah menagakkan agama. Dan, barang siapa meninggalkannya sungguh ia telah merobohkan agama.

Begitu istimewanya shalat, sehingga tidak sebagaimana perintah ibadah yang lain yang disampaikan melalui Malaikat JIbril, perintah shalat diterima oleh Rasulullah secara langsung melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.

Sudah semestinya shalat kita pandang dan kita kita lakukan sebagai karunia yang harus kita syukuri, bukan sebagai beban. Karena bagi orang beriman, agama ini diturunkan sebagai karunia dan rahmat Allah.

Dengan agama inilah kita bisa mendapatkan anugerah abadi di negeri akhirat. Bahwa dunia ini sudah barang tentu janganlah kita lupakan, karena meraih dan memanen akhirat itu melalui ladang amal kehidupan di dunia ini.

Namun, seringkali kita melihat dan merasakan shalat masih sebagai beban. Seolah shalat hanya merepotkan kesibukan dan keseharian kita.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Qashash ayat 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”

Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak melupakan karunia-Nya yang telah diberikan kepada kita. Shalat adalah salah satu karunia tersebut, karena melalui shalat kita dapat berkomunikasi dengan Allah SWT, memohon ampun dan rahmat-Nya, serta memperkuat iman dan takwa kita.

Dengan karunia dan rahmat Allh inilah kehidupan kita bisa lebih bernilai dan bermakna, melebihi kenikmatan yang hanya sibuk tujuan mengumpulkan duniawi saja yang fana ini.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an dalam surah Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”

Oleh karena itu, marilah kita mengubah pandangan kita tentang shalat. Janganlah kita melihat shalat sebagai beban yang harus kita lakukan, tetapi sebagai karunia yang harus kita syukuri.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Disamping sebagai tiang agama, shalat juga media dan cara mendapatkan solusi bagi kehidupan kita. Dalam waktu yang singkat ini, kami sampaikan dua dimensi shalat sebagai karunia yang harus kita syukuri.

Pertama, dengan shalat jiwa kita akan istirahat dan tenang menghadapi berbagai kecamuk kehidupan ini. Pada sebuah hadits hasan di dalam Shahihu al Jami’ nomor 7892, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Bilal:

يَا بِلَالُ, أَقِمِ الصَّلَاةَ ! أَرِحْنـــَا بِهَا

“Wahai, Bilal. Kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya”

Bahwa menjalani kehidupan dunia ini terkadang kita menghadapi persoalan yang melelahkan dan mengeruhkan jiwa.

Saat adzan berkumandang, dan kita letih menghadapi problema kehidupan, tujulah shalat dengan penuh khusyu dan rasa hina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, shalat sebagai media minta pertolongan kepada Allah. Karena kita semua pasti pernah mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan orang lain. Namun, seringkali kita lupa bahwa ada satu cara yang paling efektif untuk meminta tolong, yaitu dengan cara shalat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ

“Dan mintalah tolonglah kepada Allah dengan sabar dan shalat”

Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengingatkan kita untuk meminta tolong kepada-Nya dengan cara shalat. Shalat bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai cara untuk meminta tolong dan memohon bantuan Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita mengingatkan diri kita sendiri untuk menjadikan shalat sebagai karunia, bukan sebagai beban. Dengan shalat hati kita akan tenang. Dan dengan shalat kita bisa meminta pertolongan Allah.

Hadapkan wajah dan jiwa ini kepada- Nya dengan shalat, karena Dia adalah Dzat yang Maha Pencipta, Maha Kuasa dan Maha Penyayang.

Akhirnya, marilah kita mengambil kesempatan ini untuk memperbaiki kualitas shalat kita. Semoga Allah SWT memberkahi kita semua, dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang taat dan beriman. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Fathun Qarib Abdullah Said: “Musyawarah adalah Bagian dari Keindahan Berjamaah”

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah adalah napas keindahan berjamaah di lingkungan Hidayatullah. Pesan ini disampaikan dengan penuh hikmah oleh Ketua Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al Ihsan Hidayatullah Berau, Ust. H. Fathun Qarib Abdullah Said, dalam penutupan musyawarah lembaga yang berlangsung pada Kamis, 23 Rajab 1446 (23/1/2025).

Setelah serangkaian diskusi yang intens sejak pagi hingga malam, agenda yang direncanakan dua hari berhasil dirampungkan dalam satu hari penuh. Sebuah pencapaian yang mencerminkan dedikasi dan komitmen semua peserta.

Dalam sambutannya, Ust. Fathun Qarib menegaskan pentingnya sikap dewasa dalam berjamaah, terutama ketika menerima hasil musyawarah.

“Musyawarah adalah bagian dari keindahan berjamaah di Hidayatullah. Dalam forum ini, kita hadir dengan tanggung jawab yang dilandasi niat tulus demi kemaslahatan bersama,” ungkapnya.

Dia menekankan bahwa keputusan yang dihasilkan melalui musyawarah harus diterima dengan lapang dada, tanpa terbawa perasaan.

Menurutnya, musyawarah di Hidayatullah merupakan fondasi yang menopang prinsip kerja lembaga. Fathun pun menyebut tiga pilar utama menjadi panduan, yaitu Musyawarah, Mujahadah, dan Munajat.

Musyawarah dilakukan untuk menggali keputusan terbaik melalui diskusi kolektif, Mujahadah adalah bentuk kesungguhan dalam melaksanakan keputusan yang telah diambil, dan Munajat merupakan doa untuk memohon keberkahan kepada Allah dalam setiap langkah yang diambil.

Menurut Fathun, setiap tugas yang diemban di lembaga ini harus dipandang sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia memberikan contoh sederhana, yaitu peran sekretaris yang terlihat teknis namun esensial dalam menjaga ritme organisasi.

Sekretaris memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan ketua tentang agenda rutin, seperti rapat triwulanan dan kegiatan lainnya. Hal ini kata dia menunjukkan bahwa setiap peran, sekecil apa pun, memiliki kontribusi yang signifikan dalam keberlangsungan organisasi.

Lebih jauh,ia juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan Sumber Daya Insani (SDI) sejak dini untuk memastikan kesinambungan amanah di masa depan.

“Kita harus mulai memetakan siapa yang akan diberi tanggung jawab berikutnya. Ini adalah langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan amanah di lembaga ini,” tutur anak kelima pendiri Hidayatullah Ustadz Abdullah Said ini.

Meski waktu kepengurusan yang ada tinggal beberapa bulan, ia mengajak seluruh pengurus untuk memaksimalkan masa jabatan dengan bekerja secara optimal.

“Apa yang kita tanam hari ini adalah fondasi bagi pengurus baru di masa depan. Tanamkan prinsip dasar yang kokoh agar bisa diteruskan dengan baik oleh penerus kita,” pesannya.

Acara musyawarah ditutup dengan doa bersama, sebuah momen sakral yang mempertegas pentingnya munajat sebagai bagian dari proses berjamaah.*/Muhammad Anzar

Ketahanan Keluarga sebagai Fondasi Peradaban Islam dan Bangsa

0

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya membangun peradaban Islam, keluarga memiliki posisi strategis sebagai pondasi utama. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Si, dalam pengajian bertema “Dari Keluarga Bahagia Menuju Surga” di Pesantren Hidayatullah Sorong, Papua Barat Daya, beberapa waktu lalu dan ditulis pada Rabu, 24 Rajab 1446 (24/1/2025).

Bertempat di Masjid Ahlus Suffah komplek Pesantren Hidayatullah Sorong, acara ini dihadiri oleh ayah, ibu, pengasuh, dan dewan guru yang antusias mengikuti dari awal hingga akhir.

Menurut Abdul Ghofar, ketahanan keluarga adalah pilar utama ketahanan bangsa. “Negara menempatkan keluarga sebagai pondasi, sebab ketahanan sebuah bangsa sangat tergantung pada ketahanan keluarganya,” ungkapnya sambil menegaskan pentingnya memperkokoh institusi keluarga sebagai bagian integral dari pembangunan peradaban.

Abdul Ghofar menyoroti realitas sosial Indonesia yang diwarnai oleh meningkatnya angka perceraian setiap tahun. “Banyak orang melalaikan pembinaan keluarga. Tiba-tiba bermasalah, dan akhirnya pisah. Dampaknya luar biasa, terutama pada generasi anak-anak mereka,” jelasnya. Fenomena ini, lanjut dia, seolah membuat kawin cerai menjadi hal biasa, meski dampaknya mengancam masa depan bangsa.

Sebagai kepala rumah tangga, suami memegang peran vital dalam menciptakan ketahanan keluarga. Seorang suami tidak bisa menjalankan tugasnya dengan sukses tanpa dukungan penuh dari istri. “Apalagi seorang guru, yang harus tuntas urusan keluarganya sebelum mendidik murid-muridnya,” tambahnya.

Indikator Rumahku Surgaku

Lebih jauh Abdul Ghofar, peraih gelar doktor konsentrasi bidang Hukum Keluarga (Al Ahwal Al Syakhshiyyah) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini, memaparkan empat indikator dalam menggapai cita bayti jannati atau rumahku surgaku.

Indikator pertama, terang dia, adalah dari sisi fisik dimana rumah yang bersih, rapi, dan teratur mencerminkan nilai-nilai surga. Kebersihan rumah, meski hanya rumah dinas atau kontrakan, harus dijaga agar menciptakan kenyamanan. “Surga itu indah, bersih, dan rapi. Rumah yang berantakan dapat memengaruhi pikiran dan perasaan penghuninya,” ujarnya.

Kedua, indikator psikologis, yang ditandai dengan rumah yang nyaman dan aman dimana anggota keluarga merasa betah. Tidak adanya kekerasan verbal maupun fisik menjadi indikator utama.

“Sering kali anak-anak nakal karena mereka jarang di rumah. Mereka tidak betah karena rumah tidak nyaman atau penuh dengan bentakan,” kata Abdul Ghofar.

Ketiga, indikaor spiritual, yang menjadikan rumah sebagai wahana bersama dalam menikmati ibadah. Seorang ayah perlu mencontohkan nilai-nilai spiritual dengan membaca Al-Qur’an atau melaksanakan shalat sunnah di rumah.

“Keteladanan ayah dalam beribadah adalah tarbiyah yang berharga bagi anak-anak,” tambahnya. Halaqah keluarga, tempat berbagi nasihat dan doa bersama, juga menjadi penanda rumah yang diberkahi.

Dan, Keempat, indikator materi, dimana pemenuhan kebutuhan dasar keluarga harus tercukupi melalui jalan yang halal. Suami tidak perlu menyediakan nafkah melimpah, cukup memastikan kebutuhan primer terpenuhi.

“Nafkah yang cukup, walau tidak melimpah, akan menghadirkan ketenangan dalam keluarga,” jelasnya.

Abdul Ghofar menutup materinya dengan menyebutkan janji Allah dalam Al-Qur’an Surat Ath Thuur ayat 21:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Ia mengingatkan bahwa suasana surga yang diciptakan di dunia akan menjadi jalan untuk berkumpul kembali di surga akhirat. Dia menambahkan, penting bagi setiap keluarga muslim menjadikan keluarga sebagai pusat peradaban.

“Dengan keluarga yang kokoh, bangsa akan menjadi kuat. Dan dengan nilai-nilai Islam yang terinternalisasi dalam rumah, surga dunia dan akhirat bukan lagi impian semata,” katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah ini pun mengapresiasi keberadaan Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong sebagai miniatur peragaan peradaban Islam dalam semangat kebersamaan yang penuh harmoni.

Kampus yang berlokasi di Jalan Suriyadi SP 3 Makbusun, Kecamatan Mayamuk, Kabupateng Sorong, Provinsi Papua Barat Daya ini telah memiliki lembaga pendidikan unggulan yang telah mencatat banyak prestasi, termasuk mewakili kompetisi Bahasa Arab tingkat nasional di Jakarta.

Pesantren ini juga dilengkapi fasilitas modern seperti asrama, sekolah, koperasi, dan masjid yang menjadi pusat kegiatan santri dan masyarakat. Menurut Ustadz Syarif, Ketua Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Sorong, keberhasilan pendidikan di pesantren ini tidak terlepas dari soliditas para pengurus, guru, warga, dan masyarakat.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Empat Pesan untuk Bersiap Songsong Bulan Suci Ramadhan

0

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita tanpa batas, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dialah yang telah memberikan kehidupan, rezeki, serta hidayah kepada kita untuk senantiasa berjalan di atas jalan ketaatan.

Kita memuji-Nya dengan pujian yang tak henti-hentinya, seraya memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Hanya kepada-Nya kita bertawakal, dan hanya kepada-Nya kita berserah diri.

Shalawat serta salam marilah kita senantiasa haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembawa risalah suci, yang dengan perjuangan dan pengorbanannya kita dapat merasakan cahaya Islam.

Beliaulah suri teladan terbaik bagi umat manusia, penyelamat umat dari kegelapan menuju cahaya, yang telah menyampaikan seluruh ajaran Allah tanpa tersisa.

Marilah kita terus menerus memperbaiki perilaku ketakwaan kita dengan berikhtiar menjalankan segala perintah Allah SWT dengan kesadaran yang kita miliki. Dan, meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan kesabaran yang kita miliki. Jalan ketakwaan adalah wasilah untuk dibersamai oleh Allah SWT dalam menjalani fluktuasi kehidupan infiradi dan jama’i.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Tidak terasa, perguliran hari, pekan, bulan dan tahun demikian cepat. Dan kurang sebulan plus sepekan, kita akan kedatangan tamu agung bulan suci Ramadhan. Perputaran waktu adalah bentuk tasliyah (hiburan) dari Allah SWT agar kita menatap masa depan dengan kaca mata positif.

وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 140)

Lanyas, sudahkah kita melakukan persiapan untuk menyambut tamu agung ini? Barangsiapa yang tidak melakukan persiapan sama dengan menyiapkan kegagalan. Jangan sampai terjadi setiap datang Ramadhan untuk kesekian kalinya hanya sebatas rutinitas tanpa makna. Wal ‘iyadzu billah.

Setiap tamu datang biasanya membawa rezeki untuk tuan rumah dan ketika pulang membawa dosa-dosa penghuninya untuk dibuang ke laut, meminjam istilah Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

الّلهُمَّ بَارِك لنا في رَجب وَشَعْبان وبَلِّغنا رَمَضانَ وحَصِّل مَقاصِدَنا وَاغْفِر لَنا ذُنُوبَنا

“Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah (usia) kami pada bulan Ramadhan dan wujudkanlah harapan-harapan kami serta ampunilah dosa-dosa kami”

Ramadhan adalah momen penting untuk menetapkan resolusi dan harapan baru. Kehadiran Ramadhan sepatutnya sebagai momentum untuk memulai hal baru dengan menjadikan Ramadhan 1445 H yang berlalu sebagai hikmah, pelajaran dan bekal untuk meniti Ramadhan 1446 H yang akan datang.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Berkenaan dengan tekad itu, maka tepat rasanya, kita mengingat empat pesan yang disampaikan Rasulullah kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul ‘Ibad yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantani (Imam Nawawi).

Rasullulah berpesan kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari yaitu,

يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ، وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العَقَبَةُ كَئُوْدٌ، وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقَدَ بَصِيْرٌ

“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam. Ambillah bekal yang sempurna karena perjalanannya jauh. Ringankan beban bawaan karena lereng bukit sulit dilalui, dan ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti.”

Empat pesan ini sangat cocok direnungkan untuk mengawali Ramadhan sebagai bekal untuk melanjutkan nilai-nilai Ramadhan pada satu tahun kedepan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pesan Pertama Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari adalah perbaharuilah kapalmu karena laut Itu dalam (جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ). Tentu pesan Rasulullah ini merupakan kiasan (kalam ‘ibarah). Memperbaharui kapal bisa diartikan memperbaharui niat, maksud dan tujuan.

Sedangkan laut yang dalam itu bisa diartikan bahwa perjalanan di dunia atau perjalanan satu tahun ke depan disamping menjanjikan peluang sekaligus pula tantangan yang mengiringinya.

Sebagai mukmin, memperbaharui niat adalah hal yang amat penting, bahkan setiap kita didorong untuk memperbaharui niat setiap saat. Karena dengan memperbaharui motivasi internal, kita bisa meluruskan kembali arah hidup yang terseok ombak ke kiri dan ke kanan. Dan agar tidak pula terjadi mabuk laut.

Dengan memperbaharui niat di awal Ramadhan tahun ini, apa-apa yang diniatkan dan diharapkan akan terwujud sebagaimana sabda Rasulullah tersebut.

Pesan Kedua yang bisa direnungkan dari pesan Rasulullah kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari adalah, ambillah bekal yang sempurna karena perjalanannya jauh (وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ). Mulusnya perjalanan berbanding lurus dengan perbekalan yang disiapkan.

Jarak tempuh bepergian seharusnya sebanding dengan bekal yang disiapkan. Jika bepergian sepekan, membawa bekal untuk sepekan. Jika bepergian sebulan memerlukan bekal untuk sebulan. Jika bepergian setahun membutuhkan bekal setahun. Demikianlah pula perjalanan kita di dunia ini.

Di sini Rasulullah mengingatkan kita untuk mempersiapkan bekal yang cukup. Bekal di sini meliputi ilmu, iman, amal, dan kesabaran. Jarak tempuh yang jauh dalam pesan ini menggambarkan perjalanan hidup hingga akhirat.

Bekal yang cukup memastikan perjalanan hidup berjalan mulus. Sebagaimana orang yang bepergian membutuhkan bekal yang sesuai dengan panjang perjalanan, kita juga membutuhkan bekal amal dan ketakwaan untuk menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Tanpa bekal, perjalanan hidup akan penuh kesulitan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pesan Ketiga Rasullulah adalah perintah untuk meringankan beban bawaan karena terjal dan berlikunya lereng gunung yang dilintasi (وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العَقَبَةُ كَئُوْدٌ)

Beban di sini meliputi dosa, kesombongan, dan ketergantungan pada dunia. Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak terlalu terpukau oleh harta, tahta, dan kekuasaan, karena hal itu hanya akan memperberat perjalanan kita menuju Allah SWT.

Merenungi hal ini, kita perlu bermuhasabah. Apakah harta, jabatan, atau kekuasaan yang kita miliki menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau malah menjadi penghalang? Jika hal-hal duniawi tersebut menjauhkan kita dari nikmat ibadah, maka itulah tanda kenikmatan dunia telah dicabut dari hidup kita.

Pesan Keempat, atau yang terakhir, adalah وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقَدَ بَصِيْرٌ, ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti. Amal yang dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah akan mendatangkan keberkahan. Sebaliknya, amal yang disertai riya atau keinginan dipuji manusia akan sia-sia di sisi-Nya.

Ikhlas adalah kunci utama dalam setiap aktivitas. Dengan ikhlas, hati kita akan tenang dan segala amal ibadah menjadi lebih bermakna. Allah berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.”

Empat pesan Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari adalah panduan hidup yang relevan untuk kita renungkan selalu, terutama menjelang Ramadhan.

Dengan memperbaharui niat, mempersiapkan bekal, meringankan beban, dan beramal dengan ikhlas, kita dapat menjalani bulan suci ini dengan penuh keberkahan.

Semoga Allah SWT memudahkan kita menjalani Ramadhan tahun ini dengan amal ibadah yang lebih baik dari sebelumnya. Amin ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Pesona Dakwah di Manokwari Selatan dan Perjalanan Membangun Harapan

0

SETIAP kali melangkah di jalan setapak menuju pesantren yang kala itu hanya berupa hutan belantara, Ustadz Maghfuri selalu berhenti sejenak di atas jembatan kayu sederhana.

Dengan pandangan yang menembus lebatnya hutan, ia menggumamkan doa di dalam hati, “Suatu saat nanti, insya Allah, saya akan memperbaiki jalan ini agar masyarakat lebih mudah melaluinya.”

Harapan itu sederhana, namun penuh harapan. Jalan kecil itu tidak hanya menjadi akses menuju tanah pesantren, tetapi juga simbol harapan Ustadz Maghfuri untuk mempermudah masyarakat setempat.

Saat itu, jarang ada yang melewati jalan tersebut. Sunyi, terpencil, dan hanya beberapa rumah yang berdiri di sekitar. Namun, bagi Maghfuri, jalan itu adalah jalur penghubung mimpi besar yang ingin ia wujudkan.

Setiap kali melintasi jembatan kayu itu, doa serupa terucap tanpa henti. Meski tidak ada modal atau dukungan besar, Ustadz Maghfuri percaya bahwa Allah Maha Mendengar. “Doa itu proposal terbaik kepada Allah,” ucapnya dengan keyakinan penuh.

Namun, doa tidak berdiri sendiri. Ustadz Maghfuri mulai berikhtiar. Ia menyusun proposal pembangunan jalan dan mengajukannya kepada seorang pejabat setempat. Sayangnya, sebelum rencana itu terwujud, pejabat tersebut dipindah tugaskan ke daerah lain. Harapan sempat meredup, tetapi doa-doa Ustadz Maghfuri terus dipanjatkan.

Lalu, tanpa diduga, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terbayangkan. Pemerintah mengumumkan program semenisasi dan pengaspalan jalan hingga ke depan lokasi pesantren. Bahkan, sisa material dari proyek tersebut digunakan untuk memperbaiki gang-gang kecil di sekitar.

“Seperti mimpi di siang bolong,” kata Maghfuri mengenang. Sebelumnya, ia hanya membayangkan jalan aspal mungkin baru akan hadir sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.

Hari ini, jalan itu menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat. Anak-anak bermain, remaja berkumpul, dan orang tua bersantai di sore hari. Jalan yang dulunya sunyi kini penuh kehidupan.

Awal Perjalanan di Manokwari Selatan

Pada awal tahun 2021, Ustadz Maghfuri mendapatkan tugas dari Hidayatullah untuk merintis pesantren di Manokwari Selatan. Tugas itu tidak mudah. Sudah beberapa kali dai dikirim ke sana, tetapi tantangan yang berat membuat upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Selama tiga bulan pertama, Ustadz Maghfuri, bersama istri dan anak-anaknya, tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Tanah wakaf yang menjadi lokasi pesantren masih berupa hutan belantara tanpa bangunan satu pun.

Setiap hari, Maghfuri bolak-balik membabat hutan, mendirikan bangunan semi permanen dari kayu, dan berusaha menciptakan tanda-tanda kehidupan di tanah tersebut.

“Kami hanya punya keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang berusaha,” ujarnya. Keyakinan itu menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus maju.

Selain bekerja keras secara fisik, Ustadz Maghfuri juga rajin bersilaturahmi. Ia menemui pejabat, tokoh masyarakat, dan warga sekitar untuk memperkenalkan dirinya dan menyampaikan tujuan mulia dari keberadaan pesantren tersebut.

Dalam salah satu pertemuan di masjid setempat, ia bertemu dengan seseorang yang kemudian membantu memperluas tanah wakaf dengan membeli tanah yang bersebelahan.

“Kami ini hanya perantara,” ucapnya dengan rendah hati. “Allah yang menggerakkan hati manusia untuk saling membantu.”

Dari Hutan Menjadi Pesantren

Perlahan, lokasi pesantren mulai berubah. Tanah yang dulunya lebat dengan pepohonan kini menjadi tempat tinggal dan kegiatan belajar. Masyarakat pun mulai bersimpati.

Mereka membantu membangun fasilitas seperti dua rumah dinas, musala, dan kamar mandi untuk santri. Suasana pesantren semakin hidup dengan suara anak-anak yang belajar mengaji setiap sore.

“Mendengar suara mereka mengaji itu seperti alunan musik terindah,” kata Ustadz Maghfuri. “Dulu, tempat ini hanya sunyi. Kini, setiap hari ada tawa dan semangat belajar.”

Pada pertengahan tahun ini, pesantren berencana membuka program pendidikan Taman Kanak-Kanak. Bangunan untuk sekolah tersebut sudah berdiri, siap untuk digunakan. Namun, masih banyak pekerjaan besar yang menanti, termasuk pembangunan masjid yang representatif untuk menunjang kegiatan ibadah dan dakwah.

“Masjid adalah pusat kehidupan di pesantren,” ungkapnya. “Kami berharap masjid ini nanti menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, tempat belajar, dan pusat dakwah di Manokwari Selatan.”

Perjalanan ini belum berakhir. Masih banyak harapan yang menunggu untuk diwujudkan, dan Ustadz Maghfuri percaya bahwa pertolongan Allah akan selalu datang di waktu yang tepat.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.