Beranda blog Halaman 119

Ikhtiar Sinergis Hidayatullah Jakarta Kuatkan Khidmat Majukan Dakwah dan Pendidikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Muhammad Isnaeni, menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya selalu menguatkan sinergi dengan berbagai elemen umat dalam memajukan dakwah dan pendidikan di kawasan.

Di bidang pendidikan, dia menyebutkan, Pondok Pesantren Tahfidz Global (PPTG) Jayakarta yang berlokasi di Ciracas, Cipayung, Jakarta Timur, kini dalam proses pembangunan dan sudah menerima santri baru untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun ini.

“Santri yang akan diterima berasal dari kalangan yatim dan dhuafa, sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Baitulmaal Hidayatullah (BMH),” ujar Isnaeni dalam keterangan tertulisnya diterima media ini, Jum’at, 11 Jumadil Akhir 1446 (13/12/2024).

Sementara khidmat di bidang dakwah, terang Isnaeni, Hidayatullah Jakarta memiliki berbagai program strategis seperti Rumah Qur’an (RQ) dan Majelis Al-Qur’an Hidayatullah (MQH) di ratusan titik di Jakarta.

Program ini jelas dia bertujuan memberikan layanan belajar Al-Qur’an kepada masyarakat, terutama mereka yang belum bisa membaca atau memahami kitab suci tersebut.

“Angka buta huruf Al-Qur’an masih sangat tinggi, sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak sangat penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelas Isnaeni.

Dalam rangka memperkuat program ini, DPW Hidayatullah DKJ menjalin sinergi dengan institusi internal seperti Laznas BMH dan pihak eksternal seperti pemerintah serta swasta.

Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan visi besar organisasi untuk menciptakan umat yang lebih paham agama sekaligus memajukan pendidikan berbasis keummatan di Indonesia.

Lebih jauh ia memaparkan pendidikan agama memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda. Dengan demikian, program seperti PPTG Jayakarta dapat memberikan solusi konkret bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang membutuhkan bimbingan baik secara akademik maupun spiritual.

Karena itu, ia berharap dapat menjalin sinergi dengan berbagai pihak dalam menguatkan khidmat untuk umat tersebut baik dengan institusi internal seperti Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) maupun dengan eksternal seperti swasta dan pemerintah.

DPW Hidayatullah DKJ telah menggelar pertemuan dengan Direktur Utama Laznas BMH, Supendi, di Kalibata, Jakarta Selatan, sehari sebelum helatan Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) BMH. Dalam diskusi tersebut, Supendi menekankan pentingnya sinergi antar-lembaga untuk memaksimalkan manfaat dana umat.

“Diskusi ini akan menjadi bahan dalam Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) BMH, sehingga dana umat yang dititipkan dapat lebih banyak memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Supendi.

Sinergi ini tidak hanya terbatas pada institusi keagamaan, tetapi juga melibatkan berbagai lembaga pemerintah dan swasta. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan PPTG Jayakarta sekaligus memperluas jangkauan program pembinaan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Kerja sama seperti ini sangat penting agar pendidikan agama mampu menjangkau semua lapisan masyarakat,” tambah Isnaeni.

Dengan kolaborasi lintas lembaga, Isnaeni menambahkan, diharapkan program ini dapat memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat, terutama anak-anak dari kalangan yatim dan dhuafa.

Selain Ketua DPW Hidayatullah DKJ dan Direktur Utama BMH, hadir juga dalam silaturahim ini Sekretaris dan Bendahara DPW Hidayatullah Jakarta, Suhardi dan Ade Syariful Allam, juga beserta anggota DPW Hidayatullah DKJ lainnya.*/Afieq Abdul Jalil

SAR Hidayatullah Hadiri Rakor Basarnas Perkuat Kolaborasi dan Efektivitas Operasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum SAR Hidayatullah, Irwan Harun, didampingi Sekretaris Jenderal, Tafdhilul Umam, menghadiri undangan sebagai peserta Rapat Koordinasi (Rakor) Nasional yang digelar Direktorat Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Rakor bertajuk “Penguatan Kolaborasi dan Efektivitas Operasi SAR untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” ini digelar selama 2 hari di Hotel Novotel Mangga Dua, Gunung Sahari, Ancol, Pademangan, Jakarta, yang dibuka pada Rabu, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Selain dihadiri SAR Hidayatullah sebagai potensi Basarnas, rakor ini juga dihadiri seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan juga stakeholder terkait lainnya.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya (Marsdya) Kusworo hadir langsung dalam acara sekaligus membuka rakor secara resmi.

Dalam sambutannya, Kabasarnas menyampaikan Basarnas memiliki tanggung jawab strategis dalam mendukung keberlanjutan pembangunan melalui penyelenggaraan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang cepat, terukur, efektif, efisien, dan adaptif terhadap dinamika yang ada di masyarakat.

“Kinerja Basarnas tidak hanya diukur dari keberhasilan menyelamatkan nyawa, tetapi juga dari kecepatan dan respon, kesiapan sumber daya, dan kemampuan beradaptasi terhadap situasi darurat yang kompleks, termasuk bencana alam, kecelakaan trasnportasi, dan kondisi membahayakan manusia lainnya,” ujar Kabasarnas.

“Untuk itu, Basarnas mengundang Bapak/Ibu semua untuk saling berkontribusi dalam memperkuat integrasi lintas sektor untuk memastikan operasi SAR dapat berjalan cepat, tepat, terukur, dan dapat menyelamatkan banyak jiwa,” jelasnya, sepert dilansir laman IG @sar_nasional.

Turut hadir dalam pembukaan Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama serta pejabat instansi terkait lainnya.

Adapun materi hari pertama berlangsung diskusi dan rapat pleno yang menghadirkan narasumber dari Sekretariat Dukungan Kabinet, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), praktisi drone, dan praktisi Remotely Operate Vehicle (ROV). Sementara hari kedua dilakukan Forum Diskusi Group (FGD). (ybh/hidayatullah.or.id)

Menyibukkan Diri dengan Al-Qur’an, Kunci Bahagia di Tengah Hiruk Pikuk Modern

0

ERA modern hari ini, kebanyakan manusia sibuk dengan segala aktifitasnya. Sebagian bekerja dari pagi hingga petang bahkan malam hari. Terkadang ada yang harus lembur hingga pagi lagi.

Pemandangan kesibukan manusia bisa dilihat saat dari jam berangkat kerja pagi hari dan jam kepulangan sore yang padat merayap di jalan raya.

Terminal yang hilur mudik bus dengan penuh penumpang, stasiun dengan gerbong kereta penuh dan bandara juga terlihat penuh saat weekend dan hari Senin.

Kesibukan menjadi gaya hidup masyarakat modern, sepertinya semakin sibuk maka semakin keren dan status sosialnya naik. Ada pula yang berusaha membuat kesibukan diri.

Padahal kesibukan yang tidak mencerminkan realitas aktivitas sering kali berdampak kepada kesehatan dan kehidupan keluarganya. Ketika kesibukan tersebut tidak diatur waktunya secara disiplin dan adil. Banyak orang yang stres, mengidap penyakit dalam yang berat karena kurang istirahat, kurang tidur dengan beban pekerjaan yang banyak.

Kehidupan keluarga orang-orang yang sibuk juga sebagian berantakan karena anak dan istri kurang mendapatkan perhatian. Angka perceraian meningkat kadang beriringan dengan meningkatnya kesibukan suami dan istri.

Demikian juga tumbunya anak-anak nakal karena kesibukan orang tua yang kurang memberikan waktu perhatian kepada putra-putrinya.

Kesibukan yang Membahagiakan

Rasulullah menyampaikan informasi penting tentang kesibukan yang memberikan banyak keutamaan dan kebahagiaan. Kesibukan yang menghindarkan dari segala yang mencelakakan dan menjauhkan dari kebinasaan. Yaitu kesibukan berinteraksi dengan al-Qur’an.

Artinya bagi orang-orang yang memprioritaskan waktunya untuk membaca, mentadabburi, menghafal dan mengkaji al-Qur’an maka hidupnya akan senantiasa diberikan keberkahan berupa sesuatu terbaik yang dimintanya.

Memulai di pagi hari dengan membaca Al-Qur’an, di setiap waktu shalat shalat antara sebelum atau sesudahnya juga menyempatkan untuk membaca a-Qur’an. Sore dan malam hari, ada bacaan al-Qur’an yang konsisten dikerjakan.

Minimal orang yang sibuk dengan al-Qur’an adalah memiliki jadwal khusus untuk berinteraksi dengan kitab suci tersebut. Jadwal yang secara konsisten dilaksanakan untuk senantiasa bersama dengan al-Qur’an.

Kesibukan membaca al-Qur’an tidak bisa dilakukan bagi orang-orang yang tidak percaya dengan hari akherat, tidak yakin dengan janji Allah dan Rasulullah. Tidak tertarik dengan namanya pahala dan surga.

Membaca al-Qur’an itu berat banget bagi pemilik mata yang lebih senang dengan kesenangan dunia. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي، أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ“

“Dari Abu Sa’īd raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Rabb ‘azza wa jalla berfirman, ‘Barangsiapa disibukkan oleh Al-Qur’an dan berzikir kepada-Ku dari memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon, dan kelebihan kalāmullāh (Al-Qur’an) dari seluruh kalam adalah seperti kelebihan Allah dari seluruh makhluk-Nya’.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi)

Hadis ini mengajarkan bahwa perhatian penuh kepada Al-Qur’an—baik dalam membaca, memahami, maupun mengamalkannya—merupakan bentuk ibadah yang sangat tinggi.

Hadis ini juga mengandung penegasan tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah) yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan seluruh perkataan manusia. Setidaknya, terdapat 7 pelajaran penting yang bisa diambil dari hadis tersebut:

Pertama, menyibukkan diri dengan Al-Qur’an merupakan sebaik-baik dan seagung-agung amalan. Aktivitasnya dengan membaca, mempelajari maknanya, mentadaburi, menghafal, murojaah dan memahami tafsirnya.

Kedua, barang siapa yang ingin dipenuhi dan ditunaikan hajat-hajatnya maka hendaknya dia memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Ini janji Rasulullah yang sifatnya aksiomatik, sebab semua hal yang Rasulullah sampaikan pasti sebuah kebenaran dan kepastian.

Ketiga, ketika pembaca Al-Qur’an menghadirkan hatinya dalam merasakan keagungan ayat-ayat Allah, menikmati berdialog dengan Allah dengan memahami kisah dan nasehat yang tertuang dalam kalam Allah maka hal tersebut akan melahirkan kelezatan penghambaan dan kefakirannya kepada Allah.

Keempat, sibukkan waktu dengan Al-Qur’an karena dia adalah sebaik-baik perkataan. Kisah yang terbaik adalah kisah-kisah dalam al-Qur’an, janji yang paling pasti adalah janji Allah dalam al-Qur’an, nasehat yang terbaik juga terdapat dalam al-Qur’an.

Kelima, memprioritaskan al-Qur’an dengan memberikan porsi waktu yang memadai untuk membaca al-Qur’an. Jika ada prioritas maka dengan sendirinya akan ada waktu yang diluangkan, sesibuk apapun.

Keenam, jika kondisi betul-betul malas, maka berusahalah untuk tetap menengok dengan membuka al-Qur’an sebagai bukti cinta. Istilah tidak ada hari tanpa bertemu dengan huruf-huruf suci al-Qur’an.

Ketujuh, mengikuti komunitas pecinta al-Qur’an. Ada grup one day one juz, halaqah-halaqah al-Qur’an. Sebab komunitas menjaga, mengingatkan dan memberikan spirit tersendiri untuk senantiasa interaksi dengan al-Qur’an.

Menyibukkan diri dengan Al-Qur’an adalah wujud nyata dari keyakinan akan janji-janji Allah. Allah menjanjikan ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan bagi mereka yang mendekat kepada-Nya melalui kitab suci-Nya.

Ketika kita memilih Al-Qur’an sebagai pusat kesibukan, Allah akan memenuhi kebutuhan kita, bahkan lebih baik daripada apa yang kita pinta.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Thalaq: 3).

Semoga kita dimampukan menjadikan Al-Qur’an sahabat sejati di tengah kesibukan dunia. Ia adalah petunjuk yang sempurna, penenang hati, dan penolong dalam kesulitan. Dengan Al-Qur’an, hidup menjadi lebih terarah, damai, dan penuh berkah.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

[KHUTBAH JUM’AT] Tiga Fungsi Al Qur’an dalam Membentuk Pribadi Muslim Kaffah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah SWT, Pemilik segala hikmah, yang dengan Kalam-Nya menghadirkan cahaya di kegelapan, ibarat mentari yang menerangi hamparan alam. Dialah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai peta jalan menuju kebahagiaan sejati.

Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan kita bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan-Nya, pembawa lentera yang tak pernah redup hingga akhir zaman.

Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan perjuangannya menjadikan Al-Qur’an sebagai penjaga akidah, pembimbing akhlak, dan pengatur seluruh sendi kehidupan.

Mari kita teguhkan hati dan langkah, menjadikan Al-Qur’an sebagai tali penghubung dengan Allah, pedoman yang tak pernah salah, demi terbentuknya pribadi Muslim yang kaffah, utuh dalam iman, ilmu, dan amal.

Dalam Surat Al Jumuah ayat 2, Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Allah dalam ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW diutus kepada bangsa Arab untuk menyampaikan risalah Allah SWT berupa wahyu Al Qur’an. Dengan wahyu Al Quran ini, manusia akan bertransformasi dari وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ menjadi manusia yang tercerahkan jiwanya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Terdapat tiga proses yang harus dilalui oleh seorang hamba untuk mendapatkan pencerahan melalui Al Quran.

Proses yang Pertama adalah tilawah (يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ), yaitu membaca ayat – ayat Allah yang terdapat di dalam Al Quran. Inilah proses pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada bangsa Arab, yaitu membacakan ayat ayat yang turun kepada beliau.

Rasulullah membaca ayat ayat pertama dari surah Al ‘Alaq kepada Khadijah, Sahabat Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan para assabiqunal awwalun kaum muslimin. Begitu seterusnya, hingga ayat yang terakhir pada surat Al Maidah, ayat yang ke 3.

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Tahapan tilawah ini, dilakukan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidupnya, baik setiap kali sebuah ayat atau surah turun, atau mengulang ngulang bacaan ayat ayat yang telah diturunkan kepada beliau.

Inilah tugas pertama yang diemban oleh Rasulullah terhadap Al Quran, yaitu membacakan ayat ayat tersebut kepada kaumnya, agar kaumnya mendengarkan bacaan tersebut.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Lalu, tahapan yang Kedua, dan ini adalah tujuan daripada dibacakannya ayat ayat Al Quran, yaitu tazkiyah. Pada tahapan ini, ayat ayat yang dibacakan oleh Rasulullah SAW menjadi instrumen untuk membersihkan dan mensucikan jiwa seorang hamba, agar jiwa tersebut tercerahkan dengan ayat ayat yang dibacakan.

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka……”

Inilah siklus penting dari turunnya Al Quran sebagai sebuah mukjizat yang masih bisa dirasakan kehebatannya oleh seorang hamba.

Dari ayat ayat yang dibaca, ia menjadi instrumen penting untuk membersihkan jiwa seorang hamba, lalu mentransformasikan jiwa tersebut dari yang belum tercerahkan menjadi jiwa yang tercerahkan.

Ketika Al Quran ini sering dibaca, dengan يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ (mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya), maka ia akan menjadi sebuah kekuatan untuk mentransformasi seorang hamba baik secara intelektual, spiritual, emosional, sosial bahkan finansial. Akan terjadi proses pemberdayaan sosok manusia (human empowerment), dari inferior menjadi manusia superior.

Bukankah seorang hamba ketika ia membaca ayat ayat tentang kekuasaan Allah, maka ia akan menjadi manusia cerdas, yang tadinya tidak mengetahui bahwa alam semesta dan isinya ini adalah ciptaan Allah, bertransformasi menjadi sosok yang mengerti bahwa Sesungguhnya hanya Dialah Allah yang mempergilirkan siang dan malam ini dengan kekuasaan-Nya.

قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكُمُ ٱلَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ ٱللَّهِ يَأْتِيكُم بِضِيَآءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Ketika ayat ini sampai kepada seorang hamba, maka akal pikirannya akan melakukan pengembaraan intelektual untuk merenungkan pergiliran siang dan malam, dan mengungkap sebuah fakta yang disampaikan melalui Al Quran bahwa peristiwa pergiliran siang dan malam hanya bisa terjadi karena kekuasaan Allah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pada aspek spiritual, Ayat ayat Al Quran memberdayakan spiritual manusia, dari sosok seorang hamba yang tidak mengenal Tuhan (jahil), bahkan anti Tuhan (dhalalah), menjadi manusia yang tunduk dan taat beribadah hanya kepada Allah.

وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّهٗ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَࣖ

“Milik Allahlah (pengetahuan tentang) yang gaib (di) langit dan (di) bumi. Kepada-Nyalah segala urusan dikembalikan. Maka, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan”

Aspek spiritual seorang hamba akan tercerahkan, ketika membaca ayat ayat ini dengan “haqqo tilaawatih”, bahwa Allah yang mengetahui segala yang gaib baik di langit maupun di bumi, dan hanya kepadalah segala urusan dikembalikan.

Karena alasan kekuasaan Allah inilah, maka tidak ada penolakan pada diri hamba kecuali untuk فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ. Akan lahir kesadaran, bahwa kalau Allah saja yang Maha Mengetahui hal hal yang gaib baik di langit dan di bumi, maka kepada siapa lagi seorang hamba harus menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan kepada siapa lagi seorang hamba menggantungkan segala urusan selain hanya kepada Allah Ta’ala.

Seperti itu jugalah ayat ayat al Quran mentazkiyah seorang manusia secara emosional, sosial, dan finansial. Tadinya ia orang yang gampang marah, suka menyakiti hati orang lain, bahkan bakhil.

Dengan membaca ayat ayat Al Quran, terjadi proses tazkiyah, yang mentransformasi jiwa yang pemarah, suka menganiaya, dan kikir, menjadi jiwa yang penyayang, lembut, dan dermawan.

Lihatlah sosok sahabat amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anh yang terkenal dengan amarah yang meledak ledak dan emosi yang tidak stabil. Kemana mana ia acungkan pedangnya, seakan akan hidupnya hanyalah untuk menebas leher setiap wajah yang bertemu dengannya.

Begitu Umar mendengarkan ayat ayat Al Quran, hatinya tercerahkan. Sosok Amirul mukminin pun berubah dari pribadi yang suka mencari lawan, menjadi sosok yang memanggul beras untuk keluarga miskin.

Pun juga lihatlah umat Islam yang berbondong bondong mendonasikan hartanya ketika ayat ayat infak turun dan dibacakan kepada mereka. Satu diantaranya adalah sahabat Abu Thalhah radhiyallahu ‘anh. Ketika turun surah Ali ‘Imran ayat 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui”

Maka, Abu Thalhah bergegas mendatangi Rasulullah SAW dan menginfakkan kebun kurma yang paling dicintainya yang berada dekat dengan Masjid Nabawi.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Lalu, siklus yang Ketiga adalah وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ, yaitu mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah).

Proses tazkiyah terhadap jiwa manusia, bukan merupakan proses yang bersifat short term (jangka pendek), melainkan long term (jangka panjang). Ibarat seorang marbot, ia membersihkan masjid bukan hanya sekali, tetapi berulang ulang, agar kebersihan masjid sebagai tempat ibadah selalu terjaga.

Pun juga dengan jiwa manusia, ia harus selalu dibersihkan agar senantiasa tercerahkan. Maka proses tilawah, harus senantiasa dilakukan ditambah dengan mempelajari kandungan Al Quran tersebut, juga mempelajari sunnah Rasulullah SAW baik perkataan maupun perbuatan, agar tazkiyatun nafs terus berlangsung.

Maka, seorang hamba harus terus mengisi hari harinya dengan membaca Al Qur’an, mempelajari kandungannya, dan memperkaya maknanya melalui sunnah sunnah Rasulullah SAW, untuk mentazkiyah jiwanya menjadi seorang pribadi muslim yang kaffah.

Sungguh tidak bisa dibayangkan, ketika Al Quran dijauhkan dari kehidupan seorang hamba. Ia tidak pernah dibaca, apalagi dipelajari. Maka lahirlah manusia manusia yang terbelakang secara intelektual.

Kepintarannya ibarat kacang hanya sampai kulitnya, tidak pernah menyentuh hal hal yang substantif. Betapa banyak ilmuwan barat hari ini, yang berhasil mengungkap keajaiban sains sampai menemukan partikel yang mereka namakan partikel Tuhan, tapi tidak pernah menemukan Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah Ta’ala.

Kita tidak bisa membayangkan, kalau Al Quran tidak pernah dibaca dan dipelajari, maka akan muncul manusia manusia serakah, bakhil, kikir, tamak, dan rakus yang secara sistemik menggerogoti kekayaan suatu negeri karena ayat ayat tentang zakat, infak, dan sedekah tidak pernah mereka dengar.

Maka, kalau ingin menjadi sosok pribadi muslim yang kaffah, cerdas intelektual, sehat spiritual, sehat sosial dan emosional, serta melek literasi finansial yang sebenarnya, baca dan pelajarilah Al Quran, agar Quran mentransformasi jiwa yang gersang menjadi jiwa yang tenang.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Kuatkan Kolabarsi ‘Menebang’ Tantangan dan Luaskan Kebaikan untuk Umat

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Rapat ibarat menebang pohon besar di tengah hutan. “Selama proses, hasil belum tampak. Namun, waktu berlalu, pohon akhirnya tumbang,” ujar Supendi, Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), membuka Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) 2025 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, 10 Jumadil Akhir 1446 (12/12/2024).

Seperti kapak yang harus terus diasah agar tajam, ide dan strategi yang dibahas dalam rapat ini menjadi alat utama untuk menumbangkan tantangan dan membuka jalan bagi keberhasilan. “Rapat sering terasa stagnan, tetapi setelahnya, kita bergerak serempak, menjalankan strategi yang telah terukur,” tambah Supendi.

Menurutnya, Rakerpus 2025 momen penting di mana setiap individu memberikan sumbangsih terbaiknya untuk kemajuan tim. Dengan visi tajam dan langkah pasti, BMH menargetkan untuk terus hadir secara konsisten dan signifikan dalam melayani umat.

“Bukan masanya lagi untuk bekerja tanpa pijakan, mengawang-awang,” tegas Supendi. Acara yang berlangsung pada 12–14 Desember 2024 ini tegas dia menjadi tonggak kolaborasi strategis untuk memastikan langkah BMH semakin berdampak.

Sebagai Laznas yang diandalkan umat, BMH berkomitmen untuk menciptakan perubahan nyata melalui kerja sama tim yang solid. Setiap ide, setiap rencana, adalah batu loncatan menuju misi yang lebih besar yakni menyemai kebaikan dan mewujudkan harapan umat.

Dengan semangat ini, terang Supendi, BMH berharap dapat terus menjadi motor penggerak kebaikan yang tak pernah padam. Dia kembali menekankan, layaknya pohon yang akhirnya tumbang, perjalanan menuju kesuksesan membutuhkan waktu, usaha, dan tekad bersama.*/Herim

Membangun Tradisi Menulis dan Meneliti sebagai Pilar Peradaban

0

KEMAJUAN peradaban manusia tidak terlepas dari keberanian untuk menggali hal-hal baru yang sebelumnya tersembunyi atau menjadi misteri.

Dalam ilmu pengetahuan, mencari tahu rahasia alam semesta tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan tetapi juga mempertegas kehadiran Sang Pencipta melalui keajaiban penciptaan-Nya.

Perjalanan ilmu pengetahuan modern semacam ini memberikan apresiasi besar terhadap inovasi melalui penghargaan prestisius seperti Nobel Prize.

Nobel Prize, yang diinisiasi oleh Alfred Nobel, seorang ilmuwan dan pengusaha asal Swedia, pertama kali diberikan pada tahun 1901.

Alfred Nobel, yang dikenal sebagai penemu dinamit, menyatakan dalam surat wasiatnya bahwa kekayaannya akan digunakan untuk mendirikan penghargaan bagi mereka yang memberikan kontribusi luar biasa di bidang Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Hingga 2023, penghargaan ini telah diberikan kepada 993 individu dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang budaya.

Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar penerima Nobel berasal dari agama Kristen (68%), disusul Yahudi (20,8%), dan Islam (1,3%).

Meskipun umat Islam merupakan populasi kedua terbesar di dunia dengan sekitar 1,8 miliar jiwa, pemenang Nobel dari kategori sains hanya tiga orang: Abdus Salam (Fisika, 1979), Ahmed Zewail (Kimia, 1999), dan Aziz Sancar (Kimia, 2015). Bandingkan dengan orang Yahudi yang hanya berjumlah 20 juta tetapi mencatatkan lebih dari 23% pemenang Nobel.

Kontribusi Ilmuwan Muslim

Kesuksesan ilmuwan Muslim dalam sejarah membuktikan bahwa Islam memiliki tradisi kuat dalam bidang keilmuan. Pada masa keemasan Islam (750–1258 M) di bawah kekuasaan Abbasiyah, berbagai disiplin ilmu berkembang pesat. Tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Al-Khawarizmi memberikan kontribusi signifikan pada dunia.

Ibnu Sina (Avicenna) dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Modern” melalui karyanya, Qanun Fi At-Tib, yang menjadi referensi utama di dunia Islam dan Eropa hingga abad ke-19.

Kemudian ada Al-Biruni, yang melakukan penghitungan keliling bumi dengan presisi tinggi (6.340 km), hanya meleset 1% dari penghitungan modern (6.371 km). Lalu, Al-Khawarizmi, yang memperkenalkan algoritma, fondasi penting dalam matematika dan teknologi.

Keberhasilan para ilmuwan Muslim ini tidak terlepas dari tradisi menulis, meneliti, dan mendokumentasikan penemuan mereka.

Karya-karya mereka menjadi jembatan penting bagi kebangkitan ilmu pengetahuan di Eropa pada era Renaisans, seperti diakui oleh Thomas Carlyle, seorang sejarawan Barat, yang mengatakan bahwa dunia Eropa memiliki utang besar terhadap ilmuwan Muslim yang tidak dapat dibayar sampai kapan pun.

Pilar Peradaban

Menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan ilmu pengetahuan. Menurut data UNESCO, tingkat literasi global mencapai 86,3% pada 2020, namun Indonesia menghadapi tantangan dalam budaya menulis dan literasi.

Sementara itu, survei Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca.

Namun, potensi untuk meningkatkan budaya literasi tetap besar. Program literasi nasional dan inisiatif digital seperti perpustakaan daring dapat mendorong minat membaca dan menulis, terutama di kalangan generasi muda.

Dengan meningkatkan budaya literasi, masyarakat dapat lebih aktif dalam menggali pengetahuan baru dan berkontribusi pada dunia ilmu pengetahuan.

Singkat kata, kemajuan sains di masa depan membutuhkan komitmen meneliti untuk terus menggali rasa ingin tahu dan semangat menulis. Seperti yang ditunjukkan oleh ilmuwan Muslim masa lalu, menulis adalah senjata peradaban.

Dengan meneladani semangat para pendahulu dalam membaca dan meneliti yang berlandaskan pada semangat iqra’ bismirabbik, umat Islam dapat memperkuat kontribusinya dalam ilmu pengetahuan global untuk menghadirkan maslahat bagi alam semesta.[]

*) Maulana Lukman, penulis mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya

Jangan Berputus Asa Menjemput Rahmat Allah Meski Bergelimang Dosa

0
Ilustrasi berdoa memohon ampun kepada Allah Ta’ala (Foto: Ai Dream Lab/ Hidayatullah.or.id)

DITENGAH tengah hiruk-pikuk kehidupan, sering kali kita lupa bahwa setiap helaan napas, setiap nikmat kecil hingga besar yang kita rasakan, adalah manifestasi janji Allah yang begitu manis.

Allah Ta’ala telah menetapkan dalam firman-Nya, bahwa bagi mereka yang bersyukur, nikmat-Nya akan terus bertambah. Sebuah janji yang indah dan pastilah tertunaikan:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sungguh, jika kamu sekalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kamu sekalian. Namun jika kamu kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Seperti seorang petani yang merawat ladangnya, syukur adalah air yang menyuburkan ladang hati kita. Ia adalah kunci yang membuka pintu-pintu keberkahan dan karunia.

Bukankah kita telah menyaksikan dalam hidup ini, betapa rasa syukur mampu mengubah segalanya? Bukan hanya menambah nikmat secara lahiriah, tetapi juga melimpahkan ketenangan batin yang tak ternilai.

Allah memastikan janji-Nya dalam ayat-ayat lain dengan kehangatan yang sama. Dia berkata:

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan ingat kepada kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Seruan Ilahi ini begitu menyentuh. Bayangkan seorang sahabat sejati yang selalu mengingat kita di setiap keadaan. Allah, dengan kasih-Nya yang tiada tandingan, menjadikan ingatan kita kepada-Nya sebagai jalan agar Dia senantiasa mencurahkan perhatian-Nya kepada kita. Adakah kasih yang lebih besar dari ini?

Namun, syukur bukanlah satu-satunya jalan. Doa dan istighfar adalah langkah-langkah lain menuju keajaiban. Dalam Al Qur’an suah Al-Baqarah ayat 185, Allah dengan lembut berjanji:

أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Aku pasti mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku.”

Dan, dalam Al Qur’an suci surah Al-Mukmin ayat 60, Allah Ta’ala menegaskan,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa-doa kalian.”

Janji ini memberikan rasa aman kepada hamba-Nya. Di setiap kesempitan, di setiap liku hidup yang penuh ujian, kita tak pernah sendiri. Allah, Rabb yang Maha Mendengar, selalu menunggu doa-doa kita.

Bahkan, Allah Ta’ala tidak pernah menetapkan syarat yang sulit. Yang perlu kita lakukan hanyalah beribadah, memanggil-Nya, menyeru dengan hati yang penuh keyakinan.

Lalu, bagaimana dengan dosa-dosa yang sering membuat kita merasa tak layak mendekat kepada-Nya? Allah menjawab dengan rahmat-Nya yang tak bertepi:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah tidaklah menghukum (mengazab) mereka sedangkan mereka memohon ampun (kepada-Nya).” (QS. Al-Anfal: 33)

Seakan-akan Allah berkata kepada kita yang bergelimang dosa, “Datanglah kepada-Ku, bawa segala kekuranganmu, dan Aku akan menyambutmu dengan ampunan.”

Ayat ini adalah pelipur lara bagi setiap jiwa yang merasa kotor. Betapa besar kasih sayang Allah, yang membuka pintu ampunan-Nya lebar-lebar bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh bertaubat dan memohon ampun.

Manisnya janji Allah ini dapat dirasakan oleh siapa pun yang ingin mendekat kepada-Nya. Kita hanya perlu memulainya dengan selalu bersyukur, berdoa, dan istighfar. Inilah taubat yang hakiki, taubat esensial, bukan “taubat taubat sambal”.

Dengan bersyukur, kita membuka pintu keberkahan. Dengan berdoa, kita menguatkan ikatan dengan-Nya. Dan dengan istighfar, kita membersihkan noda yang mungkin menghalangi rahmat-Nya.

Bahkan, kisah-kisah para nabi menunjukkan betapa Allah selalu setia pada janji-Nya. Nabi Yunus ‘alaihis-salam, ketika berada dalam perut ikan, tidak berhenti mengingat Allah. Dengan doa penuh keikhlasan, ia akhirnya diselamatkan.

Nabi Ayub ‘alaihis-salam, dalam kesabaran yang luar biasa menghadapi penyakit, mendapatkan kesembuhan dan nikmat berlipat ganda. Semua itu karena mereka meyakini janji Allah.

Bagi kita, janji ini adalah peta hidup. Syukur menjadi penunjuk arah di jalan nikmat, doa menjadi kompas di tengah badai ujian, dan istighfar menjadi mercusuar yang membimbing kita kembali kepada-Nya. Hidup tidak pernah benar-benar gelap selama kita percaya pada janji-janji ini.

Sebagai penutup, mari kita renungkan, bahwa dalam setiap nikmat yang kita syukuri, dalam setiap doa yang kita lantunkan, dan dalam setiap istighfar yang kita ucapkan, ada cinta Allah yang sedang kita jemput.

Bukankah itu cukup untuk membuat kita optimis? Karena pada akhirnya, Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Maka pada dini hari ini saya berdo’a untuk kita semua:

اللهم اجعلنا ممن شكرك فزدت لنا وذكرك فذكرتنا ودعاك فاستجبت لنا واستغفرك فغفرت لنا. امين

“Allahummaj’alnaa mimman syakaroka fa syakarta lanaa, wa dzakaroka fa dzakartanaa, wa da’aaka fastajabta lanaa, wastaghfaroka faghofarta lanaa. Aamiin.. “

“Ya Allah, jadikanlah kami semua ini termasuk golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Mu, sehingga Engkau berkenan menambah nikmat-Mu untuk kami.

Jadikanlah kami semua orang-orang yang senantiasa mengingat-Mu ( senantiasa berdzikir kepada-Mu ), sehingga Engkau pun berkenan untuk mengingat kami.

Jadikanlah kami orang -orang yang senantiasa berdo’a kepada-Mu, dan Engkau pun berkenan mengabulkan do’a-do’a kami.

Jadikan kami orang – orang yang senantiasa beristighfar kepada-Mu atas dosa – dosa kami , sehingga Engkau pun berkenan mengampuni segala dosa kami. Aamiiin.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Semarak Petualangan Literasi Santri Qur’an Hidayatullah Pekanbaru

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Dengan dukungan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Madani sebagai Rumah Qur’an Hidayatullah rujukan se-Provinsi Riau menyelenggarakan acara penuh semangat bertajuk “Petualangan Literasi Santri Qur’an”, pada hari Ahad, 6 Jumadil Akhir 1446 (8/12/2024).

Kegiatan ini mengundang antusiasme besar dari seluruh peserta Rumah Qur’an Hidayatullah se-Kota Pekanbaru, berlangsung meriah di Perpustakaan Wilayah Soeman HS Provinsi Riau.

Acara dimulai dengan pembukaan resmi yang diiringi penampilan dai cilik. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai lomba edukatif seperti Story Telling, resume buku Islami, dan Rangking 1, yang semuanya bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca di kalangan santri Qur’an.

Dengan suasana edukasi yang penuh semangat, acara ini memperkenalkan dunia literasi kepada para santri. Kegiatan ini juga memadukan nilai-nilai Islam dalam setiap kegiatan.

Para santri tidak hanya belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif melalui literasi.

Acara ini semakin istimewa dengan kehadiran Dra. Mimi Yuliani Nazir, Apt, MM, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau.

Dalam pidatonya, beliau menyampaikan pesan agar santri selalu semangat dan optimis dalam menjemput masa depan. Dengan bekal Qur’an dalam hati dan gemar belajar dan berlatih, santri akan menjadi orang hebat di masa depan.

“Para Santri Qur’an harus menumbuhkan rasa cinta dalam membaca, ditambah lagi fasilitas di Perpustakaan Soeman HS sudah sangat memadai. Kami siap menjadi wadah para santri Qur’an untuk pengembangan bakat dan minat dalam hal literasi,” kata Bunda Mimi Yuliani.

Bunda Mimi juga mengapresiasi acara Petualangan Literasi Santri Qur’an sebagai salah satu tonggak penting dalam membentuk generasi muda Qur’ani yang tidak hanya fasih dalam agama, tetapi juga siap bersaing di era modern dengan keterampilan literasi yang mumpuni.

Sementara itu, sebagai kepala Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Madani, Ustadz Rizki Hidayat, S.Sos., memberikan arahan tentang pentingnya keseimbangan antara pendidikan Qur’ani dan pengembangan minat bakat.

“Selain keseharian santri belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an, kita juga membuat program yang profesional untuk mengembangkan bakat dan minat anak sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. Sehingga para santri Qur’an Hidayatullah bisa menjadi pemimpin yang sholeh di masa depan nanti,” kata Rizki.

Peserta kegiatan ini meliputi Rumah Qur’an Hidayatullah Jannah Fiuser, Rumah Qur’an Hidayatullah Dasrun Foil Jannah, dan Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Lila. Para wali santri turut hadir memberikan dukungan penuh, menciptakan suasana kekeluargaan yang kental di tengah acara.

Rizki menambahkan, Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Madani dan seluruh pihak yang terlibat patut berbangga atas keberhasilan acara ini, yang mencerminkan komitmen kuat terhadap pendidikan Islam yang holistik.

“Semoga semangat literasi ini terus tumbuh dan melahirkan generasi Qur’ani yang cinta ilmu dan berakhlak mulia,” harap Rizki menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakor Bersama Kanwil Kemenag Canangkan Sinergi Tingkatkan Kesejahteraan Santri

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah Sulawesi Selatan (Laznas BMH Sulsel) menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia Kanwil Sulawesi Selatan, Rabu, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Bertempat di Jalan Nuri No. 53, Mariso, Kota Makassar, acara ini menjadi momentum strategis untuk membahas tata kelola zakat berbasis kolaborasi program keumatan.

Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Penaiszawa) Kanwil Kemenag Sulsel, Dr. H. Mulyadi Iskandar, menegaskan pentingnya prinsip tata kelola zakat yang meliputi Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI.

Menurut Mulyadi, lembaga zakat perlu memperkuat sinergi dalam menjalankan program prioritas, salah satunya penyediaan makanan bergizi untuk santri. “Agenda ini bagian dari Hari Amal Bhakti. Kami berharap manfaatnya dirasakan lebih banyak umat,” ujar Mulyadi.

Dalam kerangka itu, Kadir, Kepala Laznas BMH Sulsel, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang dijalin dengan Kemenag Sulsel.

“Kolaborasi ini bermanfaat langsung bagi umat. Dana masyarakat kembali membantu mereka yang membutuhkan,” ungkapnya.

Sebagai bentuk konkret dari sinergi tersebut, Laznas BMH dan Kemenag Sulsel berencana melaksanakan program gizi santri pada 18 Desember 2024. Program ini bertujuan mendukung kesehatan dan pendidikan santri melalui penyediaan makanan bergizi gratis.

Penyediaan makanan bergizi bagi santri bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Berdasarkan laporan UNICEF 2023, sekitar 25% anak-anak Indonesia masih menghadapi tantangan gizi buruk atau stunting.

Dalam konteks pesantren, menurut Kadir, kebutuhan akan makanan bergizi semakin penting mengingat peran santri sebagai calon pemimpin bangsa. Program seperti ini menjadi langkah signifikan untuk mengatasi masalah tersebut.

Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memiliki potensi besar untuk memberdayakan umat. Melalui pengelolaan yang transparan dan akuntabel, dana yang dihimpun dari masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program-program keumatan.

“Program gizi santri adalah wujud nyata dari kembalinya dana masyarakat untuk masyarakat,” kata Kadir.

Hari Amal Bhakti yang diperingati setiap tahun menjadi momen refleksi untuk memperkuat program-program berbasis pemberdayaan.

Melalui pendekatan yang holistik, penyediaan makanan bergizi gratis bagi santri tidak hanya meningkatkan kesehatan, tetapi juga menunjang kemampuan mereka dalam belajar dan mengembangkan diri. Langkah ini sejalan dengan tujuan zakat untuk menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat.

Dengan keterlibatan berbagai pihak, lanjut Kadir, diharapkan upaya ini dapat menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain.

“Pada akhirnya, investasi dalam gizi santri adalah investasi dalam masa depan bangsa, memastikan generasi penerus memiliki kesehatan fisik dan mental yang optimal untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang,” tandas Kadir.*/Herim

Gerakan Tanam Sejuta Pohon Hidayatullah Pamekasan untuk Perbanyak Tutupan Hijau

0

PAMEKASAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, Alumni Universitas Brawijaya (UB) 1987 bekerja sama dengan Hidayatullah Pamekasan serta didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), meluncurkan Gerakan Menanam Sejuta Pohon.

Kegiatan penanaman pohon ini dilaksanakan di lahan Pondok Pesantren Hidayatullah 2 Pamekasan, Jawa Timur, dengan melibatkan 30 peserta, termasuk santri Darul Hijrah 6 Pamekasan, beberapa waktu lalu.

Totok, salah satu Alumni UB 1987, mengungkapkan rasa bangganya dapat terlibat dalam gerakan ini. “Ini adalah langkah kecil untuk perubahan besar,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Rabu, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Menurutnya, kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama, dan ia merasa sangat senang bisa berpartisipasi dalam program ini.

Suasana kegiatan berlangsung meriah, dengan antusiasme tinggi dari para peserta, khususnya para santri, dalam menanam pohon.

Imam Muslim, perwakilan dari BMH Jawa Timur, memberikan apresiasi dan dukungan terhadap gerakan pelestarian alam ini. Ia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya penghijauan.

“Gerakan ini adalah ikhtiar bersama untuk mewujudkan lingkungan yang lebih hijau dan sehat. Kami berharap kegiatan ini bisa menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” kata Muslim.

Ia menambahkan, program ini perlu dukung bersama. “Bayangkan wajah ceria anak cucu kita kelak, menghirup udara segar di bawah naungan pepohonan rindang, menikmati keindahan alam yang lestari,” imbuhnya.

Saat ini, menurutnya, perubahan iklim menjadi tantangan global yang mendesak. Dia menyebutkan, mengutip laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), bahwa suhu bumi telah meningkat rata-rata 1,1°C sejak era pra-industri.

Laju deforestasi dan emisi karbon yang tinggi terus memberikan tekanan pada ekosistem global. Karena itu, tegas dia, tanpa tindakan nyata, risiko bencana lingkungan seperti banjir, kekeringan, dan penurunan keanekaragaman hayati semakin besar.

“Gerakan seperti ini menjadi salah satu solusi konkret untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Menanam pohon ini akan menambah tutupan hijau dan juga membantu menyerap karbon dioksida, meningkatkan kualitas udara, dan menjaga keseimbangan ekosistem,” katanya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga bentuk edukasi bagi generasi muda akan pentingnya menjaga bumi.

Dia berharap gerakan menanam sejuta pohon di Pondok Pesantren Hidayatullah Pamekasan ini menjadi inspirasi demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Bumi yang hijau, lanjutnya, adalah warisan terbaik yang bisa diberikan bagi kehidupan yang sehat di bumi untuk generasi berikutnya.

“Mari kita jaga dan rawat bumi ini, agar generasi mendatang dapat merasakan nikmatnya hidup berdampingan dengan alam yang sehat dan seimbang,” tutup Muslim dengan penuh harap.*/Herim