Beranda blog Halaman 122

[KHUTBAH JUM’AT] Amanah Jabatan Menuju Masyarakat Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Puji sanjung senantiasa tercurah kepada Allah Rabbul a’lamin atas berbagai nikmat dan Taufiq-Nya yang mengantarkan kita menunaikan amanah sebagai Abdillah (hamba Allah) yang ditandai dengan ketaatan kita terhadap titah perintah yang tertuang dalam syariat-Nya.

Salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada Nabiullah Muhammad ﷺ,

Harapan besar kita dengan senantiasa bershalawat kepada
Nabi Muhammad ﷺ, semoga pada yaumil akhir kelak mendapatkan syafa’at Beliau.

Dan dengan syafa’at Beliau menjadi asbab Allah berkenan memberikan perlindungan pada saat tidak ada lagi yang dapat memberikan perlindungan selain perlindungan Allah A’zza wajalla.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Pilpres dan Pileg telah usai, kini kita telah mempunyai presiden yang baru beserta kabinet barunya, baik wajah lama demikian wajah baru dengan berbagai gebrakan program barunya.

Anggota legislatif yang baru, dari tingkat pusat, provinsi, daerah kota/kabupaten ada wajah lama, ada pula wajah baru, berharap semoga kehadirannya benar-benar merepresentasikan dan mewakili harapan rakyat yang diwakilinya.

Penyelenggaraan Pilkada serentak secara nasional ditingkat provinsi dan Kota/Kabupaten pun juga baru saja selesai penyelenggaraannya.

Sudah tergambar profil gubernur dan Walikota/Bupati periode lima tahun mendatang, kendati secara resmi menyusul akan diumumkan oleh institusi terkait.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Kebanyakan orang percaya bahwa seseorang dapat menemukan kebahagiaan ketika mendapatkan penghormatan dari orang lain, salah satunya melalui jabatan.

Berbagai cara dilakukan untuk mengejar dan mendapatkan jabatan itu, namun patut dicamkan bahwa jabatan tidak selalu berarti kehormatan.

Sangat tergantung bagaimana ia menunaikan amanah jabatan, sebagai wujud pengabdiannya dan tanggung jawab yang tentunya akan dipertanggung jawabkan kelak pada pengadilan Allah di yaumil akhir.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Ketika jabatan berada di tangan orang yang tepat.

Suatu hari menjelang kematiannya, Umar bin Abdul Aziz Khalifah Bani Umayya, bertanya kepada pembantunya,

“Bagaimana keadaan masyarakat kita?” Dijawab oleh pembantunya bahwa, “Semua sudah sejahtera wahai Amirul Mu’minin, kecuali engkau saya (sebagai pembantumu) dan kuda kita.”

Pada riwayat ini, menggambarkan profil ideal seorang pemimpin yang sangat memperhatikan dan mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya daripada dirinya, keluarga dan kroninya.

Riwayat ini jika akan dikonversi pada era masa ini, sesuatu yang bersifat “utopis”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bersifat utopis memiliki makna seseorang yang memimpikan sebuah tatanan di dalam politik dan masyarakat sehingga bagus di dalam gambaran.

Mungkin tidak persis sama dalam terapannya, namun setidaknya nilai-nilai keteladanan pada riwayat ini bisa menjadi rujukan dalam memaknai sebuah jabatan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Allah berfirman pada QS. Al-A’raf Ayat 96:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Pada ayat ini Allah ‘Azza wajalla memberikan jaminan, jika sekiranya suatu kaum, kampung, kawasan, daerah, kota, provinsi, bangsa atau negara penduduknya beriman dan bertaqwa, Allah ‘Azza wajalla memberikan jaminan akan melimpahkan kepada mereka berkah yang datangnya dari langit dan berkah dari bumi.

Menurut pendapat Imam Nawawi, asal makna berkah atau ialah kebaikan yang banyak dan abadi.

Sementara para ulama pun menjelaskan bahwa berkah adalah: “segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah secara material dan spiritual, keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, dan sebagainya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dan, untuk mengantarkan penduduk atau masyarakat yang beriman dan bertaqwa diawali dari pemimpin yang beriman dan bertaqwa.

Di dalam Alqur’an, Allah menceritakan orang-orang yang bermartabat tinggi.

Dan, dalam salah satu do’a, mereka meminta agar diangkat menjadi seorang pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa:

وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا

“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: Ayat 74)

Menjadi pemimpin berarti telah memikul sebuah amanah dan beban yang sangat berat dan kelak pasti akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah di akhirat.

Kendatipun demikian, ternyata banyak orang saat ini mempunyai keinginan kuat dan berjuang keras untuk merebut kursi dan menduduki jabatan sebagai seorang pemimpin.

Padahal, memimpin diri sendiri dan keluarga saja bukan hal yang mudah, apalagi jika harus memimpin sekian banyak manusia dari latar belakang yang beragam suku dan golongan yang berbeda strata sosialnya, pendidikan, sikap, dan kebiasaan dan karakternya.

Namun dalam realitasnya, justru yang kerap kita rasakan dan saksikan di tengah masyarakat, praktek kepemimpinan yang jauh dari nilai kebenaran, melanggar norma, hukum dan aturan agama.

Demikian pula masyarakatnya banyak yang mendustakan ayat-ayat Allah.

Akibatnya, Allah kemudian menurunkan adzab atau siksa sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dengan berbagai bentuknya.

Bisa dalam bentuk masyarakat dihadapkan dengan problematika yang tak kunjung ada solusinya.

Problematika ekonomi, pendidikan, sosial, kemiskinan, kebrutalan masyarakat, jauh dari nilai-nilai moral, jauh dari nilai-nilai agama dan lain-lainnya.

Bukankah negara kita ini adalah negara yang mempunyai sumber daya alam yang berlimpah, mulai dari aneka hasil tambang, hasil pertanian, hasil hutan, hasil laut, lantas pertanyaannya, mengapa negara ini dihadapkan dengan problematika kesejahteraan sosial dan kemiskinan?

Bisa jadi ini juga bagian dari adzab Allah, akibat pemimpin demikian pula penduduknya, masyarakatnya, dalam realitasnya masih banyak praktek mendustakan ayat-ayat Allah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Untuk itulah, sesungguhnya Addinul Islam ini hadir menyelamatkan dan mengantarkan umat manusia mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan dan keberkahan dunia akhirat.

Semoga para pemimpin kita yang telah mendapatkan amanah kepemimpinan.

Demikian pula para calon-calon pemimpin yang akan beranjak menuju tampuk kepemimpinan.

Allah A’zza wajalla memberikan Taufiq-Nya agar dalam memangku amanah sebagai pemimpin senantiasa tetap berada pada koridor iman dan taqwa sehingga terwujudlah masyarakat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, “(Negeri yang baik mendapatkan ampunan Rabb yang maha pengampun)”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Inisiatif Strategis Perkuat Akidah dan Pendidikan dalam Keberagaman di Tobelo

0

MALUT (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Ragaiyah Hidayatullah Tobelo Barat, Maluku Utara, terus menguatkan posisinya sebagai pusat pembelajaran Islam di wilayah ini. Melalui program pembangunan asrama santri yang baru diluncurkan, pesantren ini menegaskan komitmennya untuk memperkuat akidah umat Islam.

Program ini mendapat dukungan penuh dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang berperan dalam penggalangan sumber daya dan dukungan masyarakat.

Menurut Ketua Pondok Pesantren Ragaiyah, Ust. Nasrullah, pembangunan asrama ini didesain untuk memberikan fasilitas memadai bagi puluhan santri.

“Asrama ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang pembinaan karakter dan penguatan akidah,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 2 Jumadil Akhir 1446 (3/11/2024).

Dengan kapasitas yang lebih besar dan fasilitas yang lebih baik, pesantren ini mampu menjawab tantangan keterbatasan sebelumnya.

Asrama ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk mendidik generasi muda Muslim di lingkungan yang heterogen.

“Pondok ini menjaga identitas keislaman di lingkungan heterogen. Kami berkomitmen mendukung dakwah dan pendidikan Islam,” kata Nasrullah.

Kepala Laznas BMH Maluku Utara, Nurhadi, menambahkan, komitmen ini semakin penting mengingat posisi pesantren sebagai inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Muslim di Tobelo.

Program ini juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Kesadaran akan peran pesantren sebagai benteng akidah Islam mendorong dukungan luas, baik secara material maupun moral.*/Herim

Harga Mati Rejuvenasi

0

SAAT ini, organisasi Islam dihadapkan pada tantangan besar untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan dunia yang semakin berubah. Di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan dinamika sosial global yang semakin kompleks, organisasi Islam harus bisa jadi lebih dari sekadar tempat berkumpul atau wadah kegiatan rutin.

Organisasi Islam seharusnya jadi pendorong perubahan yang bisa membangun peradaban Islam yang relevan dengan zaman. Untuk bisa mencapai itu, rejuvenasi atau peremajaan organisasi adalah sebuah keharusan. Ini bukan pilihan lagi, tetapi harga mati!

Namun, realitasnya menunjukkan bahwa banyak organisasi Islam yang masih gamang dan terjebak dalam rutinitas lama, terfokus pada aspek-aspek yang sudah usang, dan hanya terhenti pada wacana serta retorika, tanpa implementasi nyata.

Sebagian besar masih menikmati dan berada dalam zona nyaman, bergulat dengan persoalan internal yang tidak segera diselesaikan, dan minim dalam merumuskan visi jangka panjang yang mampu merespons perubahan zaman.

Oleh karena itu, peremajaan organisasi Islam menjadi keharusan yang tidak bisa ditunda lagi. Harga mati bagi organisasi Islam yang ingin tetap relevan dan berperan dalam membangun peradaban umat di abad 21. Sebab, peremajaan ini bukan hanya soal memperbarui wajah atau menyegarkan program, tetapi merupakan langkah fundamental dalam memperkuat eksistensi organisasi untuk masa depan.

Mengapa Rejuvenasi Itu Penting?

Di tengah arus globalisasi dan era disrupsi yang semakin cepat, organisasi Islam tidak bisa terus menerus bergantung pada model-model lama yang pernah sukses di masa lalu.

Rejuvenasi bukan sekadar mengganti generasi tua dengan yang muda. Ini adalah proses merubah mindset, serta perubahan menyeluruh untuk menyegarkan kembali organisasi, baik dari segi leadership, visi dan misi, struktur, kemandirian, relevansi terhadap jaman, hingga program kerja. Sehingga, rejuvenasi organisasi Islam bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Mengingat peran strategis yang mereka emban dalam membangun peradaban Islam, maka peremajaan organisasi, menjadi langkah penting untuk memastikan eksistensi, keberlanjutan dan relevansi organisasi tersebut di tengah perubahan zaman.

Organisasi yang tidak mau melakukan peremajaan, pada akhirnya akan mudah tersingkir oleh waktu dan tantangan yang semakin kompleks. Rejuvenasi diperlukan agar organisasi Islam dapat beradaptasi, tidak hanya dengan perubahan dalam lingkup sosial dan politik, tetapi juga dalam konteks perkembangan teknologi  yang sangat mempengaruhi pola kehidupan dan budaya masyarakat sehari-hari.

Ada beberapa alasan penting mengapa rejuvenasi ini sangat krusial:

Pertama, Kepemimpinan yang Visioner dan Adaptif: Salah satu aspek utama dalam rejuvenasi organisasi Islam adalah regenerasi kepemimpinan yang visioner dan adaptif terhadap perubahan. Kepemimpinan bukan sekadar soal mengarahkan organisasi, tetapi juga tentang kemampuan untuk menginspirasi, membimbing, dan mengelola perubahan.

Dalam hal ini, pemimpin harus mampu mengatasi resistensi terhadap perubahan, membuka ruang bagi generasi muda untuk ikut terlibat, serta menciptakan kesinambungan kepemimpinan yang berbasis pada kompetensi dan spiritualitas. Kepemimpinan yang stagnan atau terjebak dalam pola lama akan menyebabkan organisasi kehilangan arah dan tujuan.

Kedua, Model Gerakan yang Dinamis: Model gerakan organisasi Islam harus dirancang ulang agar lebih responsif dan dinamis terhadap tantangan zaman. Model yang kaku, terbatas pada kegiatan keagamaan saja, atau tidak fleksibel dalam menanggapi isu-isu sosial dan politik, lingkungan, teknologi, budaya, dlsb, akan kehilangan daya tarik bagi generasi muda.

Oleh karena itu, organisasi Islam perlu mengembangkan model gerakan yang lebih inklusif, kreatif, inofatif dan terhubung dengan kebutuhan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang semakin kompleks.

Ketiga, Penyesuaian Visi dan Misi: Visi dan misi organisasi adalah kompas yang mengarahkan segala kegiatan dan program. Oleh karena itu, organisasi Islam perlu melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap visi dan misi mereka, agar tetap relevan dengan realitas yang berkembang.

Penyesuaian ini berup visi antara sebagai tahapan untuk mewujudkan visi utama yang telah ditetapkan. Sehingga visi yang rumuskan harus didasarkan pada pemahaman terhadap tantangan global dan lokal, serta harapan umat Islam di masa depan. Visi yang terlalu umum dan tidak spesifik dan tidak implementatif serta tidak terukuir, hanya akan menambah kebingungan dan menjauhkan organisasi dari pencapaian tujuan yang jelas.

Keempat, Struktur Organisasi yang Efisien dan Dinamis: Organisasi Islam sering kali terjebak dalam struktur yang kaku dan birokratis, yang justru menghambat efisiensi dan kreativitas. Oleh karena itu, penting untuk merancang ulang struktur organisasi agar lebih efisien dan dinamis, mampu merespons kebutuhan umat dengan cepat, dan memberikan ruang bagi anggota untuk berinovasi.

Struktur yang terlalu hierarkis atau rumit seringkali membuat proses pengambilan keputusan menjadi lambat dan tidak responsif terhadap kebutuhan mendesak. Sehingga perlu ada tafsir ulang terhadap konsep syura yang merupakan model struktur Islam yang baku dan sinergikan  dengan konteks kekinian.

Kelima, Diversifikasi Program dan Lingkup Kerja: Salah satu aspek yang harus diperbarui dalam proses rejuvenasi adalah program dan lingkup kerja organisasi. Organisasi Islam tidak bisa lagi hanya fokus pada kegiatan keagamaan atau dakwah semata.

Program-program sosial, ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan umat harus menjadi bagian integral dari agenda organisasi. Dalam konteks ini, diversifikasi program menjadi sangat penting untuk menjawab tantangan dunia modern, di mana masalah sosial, ekonomi, dan politik saling terkait dan memerlukan solusi yang holistik.

Keenam, Kemandirian Organisasi: Kemandirian organisasi dalam berbagai aspek—baik finansial, sumber daya manusia, maupun operasional—merupakan faktor penting dalam keberlanjutan organisasi Islam. Organisasi yang terlalu bergantung pada bantuan luar, baik itu dana maupun sumber daya, akan mengalami ketergantungan yang berpotensi merugikan di masa depan.

Untuk itu, perlu ada upaya serius dalam membangun kemandirian melalui pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, pengembangan ekonomi umat dan ekonomi kelembagaan serta penguatan sistem pendanaan yang berkelanjutan.

Keenam, Pemanfaatan Teknologi dan Inovasi: Di era digital, teknologi menjadi faktor yang sangat menentukan dalam efektivitas organisasi. Organisasi Islam perlu mengintegrasikan teknologi dalam setiap aspek operasionalnya, dari komunikasi hingga pelaksanaan program.

Penggunaan teknologi yang tepat dapat memperluas jangkauan dakwah, meningkatkan kualitas pendidikan, dan mempercepat implementasi program-program sosial. Selain itu, organisasi juga perlu mengembangkan inovasi dalam cara-cara mereka berinteraksi dengan generasi muda, menggunakan platform digital yang sudah akrab dengan kehidupan mereka.

Ketujuh, Keterlibatan Generasi Muda: Tidak ada masa depan bagi organisasi Islam tanpa melibatkan generasi muda dalam proses rejuvenasi ini. Generasi muda memiliki peran strategis dalam membawa organisasi ini ke masa depan.

Namun, keterlibatan mereka harus difasilitasi melalui pendidikan dan pelatihan yang tepat, serta pemberian ruang untuk berinovasi. Proses regenerasi ini harus berjalan secara sistematik, dengan menciptakan jalur yang jelas bagi pemuda untuk mengembangkan kapasitas dan kapabilitas mereka.

Tantangan dalam Proses Rejuvenasi

Meskipun rejuvenasi adalah hal yang sangat penting, namun proses rejuvenasi organisasi Islam tidaklah mudah. Tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan dalam mewujudkannya, Beberapa tantangan yang sering dihadapi antara lain:

Pertama, Resistensi dari Senior: Seperti halnya dalam banyak organisasi lainnya, resistensi terhadap perubahan sering kali datang dari kalangan senior. Mereka yang telah lama berkecimpung dalam organisasi sering merasa nyaman dengan cara-cara lama dan takut jika perubahan akan mengancam posisi mereka. Proses rejuvenasi membutuhkan kebijaksanaan dalam melibatkan mereka tanpa mengabaikan kebutuhan akan pembaruan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kedua, Kapasitas dan Kapabilitas Generasi Muda: Seringkali, generasi muda yang diharapkan menjadi penerus organisasi belum memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk memimpin organisasi yang besar dan kompleks. Oleh karena itu, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan dengan hati-hati, melalui program pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan.

Ketiga, Zona Nyaman: Organisasi yang sudah berjalan lama dan memiliki amal usaha yang mandiri dan berkembang, seringkali terjebak dalam zona nyaman, merasa tidak perlu berinovasi atau melakukan perubahan besar. Bukan beberati amal usaha yang tumbuh dan berkembang tidak openting namun jika “hanya” disibukkan urusan di amal usaha itu saja, akan bias dari visi organisasi itu sendiri. Sebab, sejatinya zona nyaman ini justru bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan organisasi. Untuk itu, harus ada keberanian untuk keluar dari zona tersebut dan menghadapi tantangan baru.

Keempat, Keterbatasan Sumber Daya: Keterbatasan sumber daya, baik finansial maupun manusia, sering menjadi hambatan besar dalam proses rejuvenasi. Namun, hal ini dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih kreatif, seperti membangun kemitraan dengan lembaga lain, mengoptimalkan sumber daya yang ada, dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.

Kelima, Manajemen Perubahan yang Lemah: Perubahan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang dan manajemen perubahan yang kuat sering kali berakhir dengan kebingungan dan konflik. Bahkan bisa menjadikan disorientasi atas rejuvenasi itu sendiri. Oleh karena itu, organisasi Islam harus memiliki strategi perubahan yang jelas dan terencana, yang melibatkan seluruh anggota dan pihak terkait.

Keenam, Ketiadaan Target yang Terukur: Salah satu alasan mengapa proses rejuvenasi sering gagal adalah karena kurangnya target yang jelas dan terukur. Setiap perubahan harus dilandasi dengan tujuan yang konkret dan dapat dipantau perkembangannya. Oleh karena itu, penting bagi organisasi Islam untuk memiliki roadmap atau blueprint yang jelas, yang memuat langkah-langkah strategis dan indikator keberhasilan yang terukur.

Menjadi Pelopor Peradaban Islam yang Relevan

Rejuvenasi bukanlah tugas mudah. Ia menuntut keberanian, kesungguhan, dan pengorbanan. Namun, jika organisasi Islam benar-benar ingin menjadi mercusuar peradaban, tidak ada jalan lain selain berkomitmen pada rejuvenasi sebagai harga mati.

Sebagaimana Rasulullah SAW mempersiapkan generasi sahabat yang tangguh untuk melanjutkan perjuangan Islam, demikian pula organisasi Islam harus mempersiapkan generasi baru yang siap menjadi pelanjut estafet perjuangan.

Dengan demikian maka, organisasi Islam memiliki peran besar dalam membangun peradaban yang lebih baik, lebih inklusif, dan lebih progresif. Untuk itu, proses rejuvenasi ini bukan hanya tentang memperbarui struktur atau program kerja, tetapi lebih kepada bagaimana organisasi Islam dapat menjadi pelopor dalam menciptakan perubahan positif dalam kehidupan umat manusia.

Dengan melakukan rejuvenasi yang sistematis dan terukur, organisasi Islam dapat memainkan peran kunci dalam membentuk masa depan peradaban Islam yang lebih cemerlang.

Maka dari itu, rejuvenasi bukan sekadar pilihan, tetapi harga mati bagi setiap organisasi Islam yang ingin tetap relevan dan berperan sebagai agen perubahan.

Organisasi Islam mampu beradaptasi dan merespons tantangan zaman dengan bijak dan relevan. Jangan biarkan organisasi besar ini menjadi fosil sejarah—bertransformasilah menjadi cahaya peradaban! Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring karena kendala kesehatan

Membangun Harapan dan Perjuangan Membawa Cahaya Islam ke Desa Atue-Malili

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Di desa terpencil di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terdapat lakon inspiratif tentang dedikasi dan semangat pengabdian sepenuh jiwa. Abu Hurairah, seorang ustadz muda, dengan tekad kuat mengabdikan hidupnya untuk membangun pondasi agama di Desa Atue-Malili.

Di sebuah rumah panggung sederhana di desa itu, ia membina 50 santri, mengajarkan Al-Quran, serta memimpin majelis taklim dengan penuh kesungguhan.

Namun, perjuangannya tidak berhenti pada pendidikan semata. Bersama para santri dan masyarakat desa, ia bercita-cita membangun sebuah masjid yang akan menjadi pusat ibadah dan pendidikan bagi komunitas lokal.

Dengan gotong royong, mereka memulai proses pembangunan—mulai dari menimbun tanah hingga membangun pondasi. Meski masih dalam tahap awal, tekad yang kuat mendorong mereka untuk terus melangkah maju.

“Masjid ini juga bisa menjadi tempat beribadah untuk para musafir yang melintas,” ungkap Abu Hurairah.

Masjid ini memiliki arti penting bagi masyarakat sekitar, kata Abu, terutama para petani dan nelayan yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh ke kampung sebelah demi menunaikan salat Jumat.

Selain memudahkan akses ibadah, keberadaan masjid ini juga diharapkan menjadi pusat pembelajaran agama yang lebih terstruktur.

“Dengan inisiatif ini, desa ini akan memiliki tempat ibadah yang representatif dan tempat yang dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah dan mencetak generasi penerus yang berakhlak mulia,” tandasnya.

Basori Sobirin, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Sulsel, mengatakan upaya pembangunan masjid ini menginspirasi untuk melihat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil.

“Mari kita dukung membangun rumah ibadah di desa terpencil ini. Harapannya, semakin meningkat layanan pendidikan untuk masyarakat setempat,” tuturnya.

Dia pun mengapresiasi Abu Hurairah yang mengabdi dengan keikhlasan, kerja keras, dan sinergi mampu menciptakan dampak yang bermakna bagi masyarakat.

“Semoga semangat ini terus menjadi teladan dan menggerakkan hati kita untuk ikut berkontribusi dalam setiap langkah kebaikan,” imbuhnya menandaskan.*/Herim

Halaqah Dai Hidayatullah Pulau Sebatik Teguhkan Dakwah di Tapal Batas

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Dakwah di wilayah perbatasan memiliki tantangan yang kompleks, terutama di daerah seperti Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Menyikapi kondisi ini, Hidayatullah Nunukan menginisiasi kegiatan halaqah dai di Desa Balansiku, bertempat di Masjid Al-Ikhsan. Acara berlangsung selama dua hari, dari 30 November hingga 1 Desember 2024, dengan dihadiri oleh 20 dai dari Nunukan dan Sebatik.

Koordinator dai tangguh Nunukan, Ust. Zakaria Murdodo, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wadah penting dalam penguatan kapasitas dai.

Menurutnya, dakwah di wilayah tapal batas negara memegang peranan penting dalam memperkuat integrasi bangsa dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wilayah perbatasan, seperti di Pulau Sebatik, sering kali menghadapi tantangan khusus, termasuk keragaman budaya, keterbatasan akses pendidikan, dan masih minimnya fasilitas keagamaan.

“Kegiatan seperti ini harus terus dibangun agar peran dai di masyarakat semakin baik,” ujarnya. Zakaria juga menekankan pentingnya pengendalian diri serta pendalaman ilmu sebagai bekal menghadapi tantangan dakwah di daerah perbatasan.

Dakwah di tapal batas terang dia mengejawantah komitmen bersama untuk membangun peradaban yang kokoh berbasis nilai-nilai Islam dan wawasan nusantara.

Melalui khidmat dakwah di kawasan ini, tegas Zakaria, wilayah perbatasan menjadi bagian integral dari NKRI serta menjadi pusat kekuatan keagamaan, budaya, dan ekonomi bangsa.

Semangat gotong royong yang melandasi amanah dakwah ini menjadi kekuatan kolaboratif yang memberikan dampak signifikan, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses seperti Sebatik.

“Melalui halaqah ini, para dai diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi tantangan tahun 2025, menjadikan dakwah sebagai kekuatan transformasi masyarakat perbatasan,” imbuh Zakaria.

Dai di wilayah tapal juga terlibat dalam pemberdayaan sosial dan ekonomi. Hal ini membantu masyarakat perbatasan meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui kerja sama yang harmonis.

Dengan program yang terarah dan kolaborasi yang kuat, lanjut dia, kegiatan halaqah ini menjadi langkah strategis dalam membangun umat di pesisir berbasis nilai-nilai keislaman di daerah tapal batas.

Salah satu peserta, Ust. Amin dari Desa Aji Kuning, mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini.

“Alhamdulillah, spirit dakwah kembali tercahaya. Kami sangat membutuhkan kegiatan seperti ini, terutama di perbatasan negeri yang sulit,” ujarnya.

Amin melihat beragamnya tantangan di daerah perbatasan, termasuk perbedaan budaya masyarakat setempat yang sebagian berasal dari negara tetangga, Malaysia.

Karena itu, Amin mengatakan halaqah ini tidak hanya menjadi media peningkatan spiritualitas dan kapasitas, tetapi juga pembentukan karakter dai yang lebih tangguh. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat dakwah.

“Semoga dukungan ini terus menguatkan dakwah kita,” imbuhnya.

Dukungan aktif dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) menjadi salah satu faktor keberhasilan acara ini.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Noer Komara, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini membawa dampak positif yang berkelanjutan. “Kami berharap para dai lebih siap dengan perbaikan diri dan peningkatan iman,” ujarnya.

Acara halaqah dai menguatkan sinergi antara BMH dan Hidayatullah dalam mendukung peran dai di wilayah terpencil. Komara menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan perubahan positif di Pulau Sebatik melalui pendekatan dakwah yang hikmah. */Herim

Marriage is (not) Scary, Ibadah Terpanjang yang Menyatukan Keberkahan dan Tantangan

0

SEJAK remaja, saya selalu menjadi tempat curhat orang-orang di sekitar, dari teman dekat hingga kenalan singkat. Entah karena saya dianggap aman atau karena kepribadian yang tertutup, curhatan itu datang seperti aliran sungai, mulai dari masalah remaja hingga kini memasuki babak lebih kompleks—pernikahan.

Dari berbagai kisah yang masuk ke telinga saya, tak jarang pernikahan digambarkan dengan nuansa getir: pasangan yang tak acuh, konflik soal nafkah, atau bahkan pengkhianatan.

Ada pula yang ingin cerai karena luka lama yang tak kunjung sembuh, sementara lainnya mendamba poligami dengan alasan yang beragam. Uniknya, ada kisah bahagia di antara cerita getir, seperti pasangan yang dengan ikhlas ingin berbagi kebahagiaan demi keturunan.

Namun, sebuah pernyataan yang kini viral, “Marriage is scary” (pernikahan itu mengerikan), membuat saya termenung. Apakah benar demikian?

Saya bergumam, mengingat perjalanan rumah tangga pribadi dan kisah-kisah orang lain, lalu beristighfar. Pernikahan tidak seharusnya diberi label “mengerikan.” Sebagai sebuah syariat, ia sarat dengan tujuan mulia dan maslahat bagi manusia.

Kesalahan sering kali terletak pada individu, bukan pernikahannya. Media sosial memperkuat citra negatif ini, memperbesar kejahatan atau kegagalan dalam pernikahan, sehingga menakuti generasi muda.

Saya teringat seorang akhwat yang bertanya dengan wajah penuh trauma, “Bolehkah saya tidak menikah seumur hidup?” Trauma ini berasal dari pengalaman orang lain yang tak bahagia dan narasi-narasi menakutkan di media.

Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah terpanjang. Rasulullah SAW memberikan panduan memilih pasangan melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”

Agama, yang mencakup ilmu dan ketaatan, menjadi fondasi kokoh dalam rumah tangga.

Tidak ada perjalanan tanpa tantangan, termasuk pernikahan. Bahkan para nabi menghadapi ujian rumah tangga. Namun, persiapan yang matang dapat meminimalkan konflik dan membantu menyelesaikan masalah.

Seperti halnya safar yang hanya beberapa hari, kita mempersiapkan segala kebutuhan dengan teliti. Lalu, bagaimana dengan pernikahan yang seumur hidup? Bukankah persiapannya seharusnya lebih matang?

Pernikahan, meski singkat sekalipun, selalu membawa kebaikan. Ia menegakkan sunnah Rasulullah SAW, melindungi dari dosa besar, dan mengajarkan ketaatan serta kesabaran.

Jika pernikahan terasa pahit atau menyakitkan, sering kali itu karena salah satu pihak atau bahkan keduanya tidak memenuhi hak dan kewajiban. Maka, jangan salahkan pernikahannya, salahkan perilakunya.

Sungguh, pernikahan adalah anugerah sekaligus amanah. Ia bukanlah sesuatu yang mengerikan jika dijalani dengan kesadaran, keimanan, dan kesiapan. Sebaliknya, ia adalah perjalanan menuju keberkahan yang penuh dengan pelajaran dan hikmah.

*) Nurul Qalbi Tasyrif, penulis adalah ibu muda anak 2 yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Al-Azhar University, Kairo, Mesir dan Pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Kini pengasuh kelas takhassus putri STIE Hidayatullah Depok

Sambutan Hangat di Rakernas ke-V, “Wilujeng Sumping di Jawa Barat, Mugia Dipaparinan Kaberkahan”

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh semangat dan keakraban menyelimuti Hotel Grand Asrilia Bandung, Jawa Barat, pada Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024), saat ratusan peserta dari seluruh penjuru negeri menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah ke-V Tahun 2024.

Dengan tema besar “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan, Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”, acara ini menjadi momen strategis untuk membahas, mengevaluasi, serta meneguhkan agenda dan program Hidayatullah untuk setahun berikutnya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah yang juga Ketua Panitia Rakernas V Tahun 2024, Ust. Hidayatullah Abu Qory, SH.I, M.Ag, menyampaikan rasa syukur dan sambutan hangatnya kepada seluruh peserta.

Wilujeng sumping, hatur nuhun pisan. Ahlan wasahlan bi khuduurikum. Terimakasih kepada seluruh peserta, rasa syukur Alhamdulillah yang tak terhingga dari kami,” ujarnya dengan penuh kehangatan.

Dalam keterangannya, ia juga mendoakan semoga kedatangan dan kepergian peserta usai kegiatan ini diiringi keberkahan dan kebahagiaan. “Wilujeng Sumping di Jawa Barat, mugia sumping sinareng wangsulna dipaparinan kaberkahan tur kabahagiaan”.

Acara ini menjadi kebanggaan bagi Hidayatullah Jawa Barat, mengingat ini adalah kali pertama Rakernas Hidayatullah diadakan di Kota Bandung.

“Kehormatan ini tidak hanya untuk Hidayatullah Jawa Barat, tetapi juga untuk masyarakat dan para pejabat, terutama Forkopimda,” lanjutnya.

Dalam sambutannya, Hidayatullah tak lupa mengapresiasi pihak-pihak yang berkontribusi dalam suksesnya acara ini, termasuk dukungan dari aparat setempat.

“Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini. Juga kepada segenap aparat yang telah memberikan dukungan sehingga acara ini bisa kita laksanakan,” tambahnya.

Meski demikian, ia tetap rendah hati dengan menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama penyelenggaraan. “Jikalau ada hal yang kurang berkenan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” tutupnya dengan tulus.

Tak ketinggalan, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, dalam sambutannya membuka Rakernas ini juga turut menyapa segenap tokoh, undangan unsur pemerintah, para akademisi, para pimpinan ormas, dan peserta Rakernas yang hadir dari seluruh penjuru Tanah Air, termasuk hadirin perwakilan luar negeri yaitu Turki, Malaysia, Filipina, dan Arab Saudi.

Menurutnya, dipilihnya Bandung sebagai lokasi Rakernas tidak terlepas dari nilai historis dan simbolis kota tersebut. Kota berjuluk Bumi Parahyangan yang dikenal dengan keindahan dan kelembutannya ini diharapkan mampu menyemai semangat kehangatan, kelembutan, dan kesantunan kepada peserta Rakernas.

Nashirul pun dengan setengah bercanda, berharap para peserta dapat membawa kelembutan ini ke kehidupan pribadi mereka, khususnya dalam hubungan keluarga.

“Dengan menyerap spirit Parahyangan, para peserta kembali ke tempat tugas pasca Rakernas dengan membawa kehangatan, kelembutan, kesantunan, semakin ramah, semakin penyayang, terutama kepada istri, karena sudah ter-sibghah dengan hawa Bandung,” imbuhnya hangat.

Dia pun meminta doa dan dukungan dari semuanya dalam membersamai gerak langkah Hidayatullah berkhidmat untuk agama, umat, bangsa, dan negara.

Hidayatullah sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap pengembangan umat dan bangsa, jelasnya, senantiasa membuka diri untuk bersinergi dengan berbagai pihak. (ybh/hidayatullah.or.id)

Mitra Implementator Laznas BMH Sulsel Raih Dua Kategori Terbaik bidang Manajemen dan Lingkungan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Hidup harus berarti. Salah satunya dengan mencapai prestasi agar terus mau berkembang secara progresif dan berkelanjutan. Itu tampaknya menjadi spirit hidup dari mitra implementator Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulsel yang sukses raih penghargaan dua kategori sekaligus, yaitu kategori manajemen dan lingkungan.

Dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional Hidayatullah yang berlokasi di Bandung dan dihadiri oleh pelaku dakwah dan pengurus organisasi dari berbagai provinsi seluruh Indonesia, capaian membahagiakan itu diumumkan. Dari delapan kategori, Sulawesi Selatan berhasil meriah dua piala pada Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024).

Pertama, plakat dan sertifikat kategori Lingkungan terbaik  diterima langsung oleh Ketua Yayasan Al Bayan Makassar, Ustadz Suwito.

Adapun judul presentasi yang diajukan ‘Ekowisata Halal Wadi Mubarak sebagai pendorong kemandirian Pesantren Al Bayan Hidayatullah Menuju Ekonomi Keberlanjutan’.

“Ini adalah kerja kerja dari seluruh teman-teman Wadi Barakah dan juga Pesantren Tahfidz Hidayatullah Tompobulu Maros. Ini akan menambah semangat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan di Tompobulu,” kata Ustadz Suwito.

Ia juga secara khusus berterima kasih kepada Laznas BMH yang telah menjadi mitra program selama ini.

Adapun kategori kedua bidang Manajemen terbaik yang diraih oleh Yayasan Pendidikan Da’i Sultanbatara dengan judul ‘Manajemen Vokasi Pendidikan Dai SDH Sultanbatara Parepare’.

Plakad dan sertifikat di terima oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari.

Dihubungi terpisah, Ketua Yayasan Pendidikan Dai Sultanbatara, Ustadz Rezkyaman mengungkapkan rasa haru dan syukurnya, baginya ini cukup beralasan, hari ini lembaga yang dipimpinnya telah mendidik para calon dan menugaskan alumninya ke berbagai wilayah di Indonesia Timur sudah ada enam angkatan.

“Kemenangan ini milik bersama, terlebih program ini juga melibatkan banyak tenaga pendidik dan santri dari tiga provinsi baik Sulsel, Sulbar dan Sultra, dan terimakasih kepada Laznas BMH sebagai sponsor di empat tahun terakhir ini,” ujarnya.

Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir,  yang hadir dalam kegiatan tersebut mengucapkan selamat pada para pemenang dan mengapreasiasi kerja sama dan kolaborasi yang telah terjalin selama ini dengan berbagai pihak.

“Pencapain yang diraih tentu menjadi bukti kebaikan yang terus memberi manfaat, dan di era kolaborasi ini telah banyak program terselesaikan dengan sinergi. Namun kita harus kembali berupaya berprestasi pada masa mendatang,” ucap Kadir.*/Herim

BMH Apresiasi Delapan Mitra Terbaik dalam Rakernas Hidayatullah ke-V 2024

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Suasana hangat menyelimuti Asriilia Hotel Bandung. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar acara spesial. Mereka memberikan penghargaan kepada delapan mitra kolaborator terbaik tahun 2024, pada Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024).

Acara ini adalah bentuk apresiasi BMH atas dedikasi para mitra. Mereka telah mendukung berbagai program unggulan di seluruh Indonesia. Proses seleksi pemenang cukup ketat, termasuk sesi penjurian pada 28 November 2024.

Dari lebih dari 100 mitra kolaborator yang tersebar di 35 provinsi, terpilihlah 28 mitra terbaik. Dari sana, delapan mitra terbaik diumumkan sebagai pemenang dalam berbagai kategori.

Berikut daftar pemenang penghargaan berdasarkan kategori:

  • Program Dakwah Terbaik:
  • Kampung Muallaf Baduy
  • Mitra: Yayasan Bina Muallaf Baduy Banten
  • Program Pendidikan Terbaik:
  • Beasiswa Santri Tahfidz Pesantren Daarul Hijrah
  • Mitra: DPW Hidayatullah Jawa Timur
  • Program Ekonomi Terbaik:
  • Rumah Nelayan Indonesia
  • Mitra: Yayasan Rumah Tahfidz Apung Jakarta Utara
  • Program Sosial Terbaik:
  • Gizi Untuk Balita Terlantar
  • Mitra: Muslimat Hidayatullah Papua Barat
  • Program Lingkungan Terbaik:
  • Ecowisata Halal Wadi Barakah
  • Mitra: Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar
  • Inovasi Program Terbaik:
  • Klinik Sehat Hidayatullah
  • Mitra: DPD Hidayatullah Kota Malang
  • Manajemen Program Terbaik:
  • Vokasi Dai Pedalaman
  • Mitra: Yayasan Dai Sultanbatara
  • Laporan Program Terbaik:
  • Pembangunan Masjid Pondok Pesantren
  • Mitra: Yayasan Dhiyaul Haq – Hidayatullah Cilegon, Banten

Penghargaan diserahkan langsung oleh para manajemen BMH Pusat. Hadir di antaranya Dede Heri Bachtiar (Sekretaris Pengurus BMH Pusat), Wahyu Rahman (Pengawas BMH Pusat), Marwan Mujahidin (Anggota Pembina BMH Pusat), dan juga Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq yang juga Ketua Pembina BMH Pusat.

“Penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi,” ungkap Rohsyiandi Santika, Kepala Departemen Kreator Program BMH Pusat. “Ini juga motivasi bagi mitra lainnya untuk terus meningkatkan kualitas manajemen, inovasi, dan laporan program.”

Indikator penilaian penghargaan meliputi:

  1. Keterlibatan banyak pihak dalam implementasi program.
  2. Dampak program bagi masyarakat.
  3. Keberlanjutan program.
  4. Inovasi yang diterapkan.
  5. Jumlah penerima manfaat.
  6. Kualitas dokumentasi dan laporan program.

Acara ini menjadi bukti nyata keberhasilan sinergi BMH dengan berbagai mitra. Bersama, mereka memperluas manfaat program ke seluruh pelosok negeri.

Para pemenang pun menyampaikan rasa syukur mereka.

Ustaz Maghfur dari DPW Hidayatullah Banten berkata, “Alhamdulillah, kami mendapatkan dua penghargaan dari BMH: Kategori Dakwah Terbaik dan Laporan Terbaik. Terima kasih BMH atas dukungan dan kolaborasinya. Ini memotivasi kami untuk terus melakukan yang terbaik untuk kemaslahatan umat.”

Ustaz Suwito Fatah, Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar, juga mengungkapkan terima kasihnya.

“Program Ecowisata Wadi Barokah adalah mujahadah teman-teman Hidayatullah di Sulawesi Selatan. Terima kasih dan semangat bagi teman-teman semuanya di Wadi Barokah.”

Ustaz Idris dari DPW Hidayatullah Jawa Timur turut bersyukur.

“Alhamdulillah, DPW Hidayatullah Jatim memiliki dua program unggulan yang bisa dijangkau semua kalangan: program pendidikan dan klinik kesehatan. Terima kasih BMH atas dukungannya. Semoga semakin memberikan manfaat untuk umat.”

Semua ini adalah wujud nyata dari semangat kolaborasi dan dedikasi untuk kemaslahatan umat. Dengan penghargaan ini, BMH berharap dapat terus mendorong mitra-mitra lainnya untuk berinovasi dan memberikan yang terbaik.*/Herim

Pendidikan Profetik dan Profesional di Era Digital Membuka Jalan Baru untuk Masa Depan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah ke-V 2024, Seminar Pendidikan Nasional digelar dengan tema “Membangun Pendidikan Profetik dan Profesional Melalui Inovasi dan Digitalisasi” bertempat di Hotel Grand Asrilia, Bandung, Jawa Barat, Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024).

Acara ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A (Rektor Universitas Pendidikan Indonesia), Ust. Dr. H. Nashirul Haq (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah), dan Muhammad Andy Zaky (CEO OrbitEdutech Teknologi Edukasi) serta dipandu oleh Direktur Hidayatullah Institute (HI), Muzakkir Usman, S.S., Ph.D.

Acara yang berlangsung di tengah atmosfer akademik ini menyoroti urgensi pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai profetik dengan tuntutan profesionalisme modern.

Dalam paparannya Nashirul Haq menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai-nilai profetik yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Kita ingin mewarisi konsep pendidikan Rasulullah SAW dalam aspek profetik yang mengombinasikannya dengan profesionalisme sesuai kebutuhan zaman karena Islam itu shalihun li kulli zaman wa makan. Islam selalu sejalan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya inovasi dalam pendidikan agar tidak terjebak dalam stagnasi melainkan harus adaptif terhadap tantangan modern.

“Bahkan, kalau ada orang yang jumud, tidak mau berkembang, tidak mau berinovasi dan mencari solusi, tidak mau berkreasi dengan kebutuhan zaman, maka itu sebetulnya bertentangan dengan ajaran Islam,” katanya.

Sebagai narasumber kedua, Prof. Solehuddin menegaskan pentingnya semangat pembelajaran yang terus-menerus. “Jangan pernah berhenti belajar dan ini diperintahkan oleh Nabi kita. Belajarlah dan menjadilah pembelajar sepanjang hayat,” imbuhnya.

Solehuddin menggarisbawahi bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga proses pengembangan karakter dan kemampuan untuk terus beradaptasi di tengah dinamika zaman.

Pendidikan, terang dia, harus terus menjadi wadah pembentukan manusia yang mampu mengharmoniskan nilai profetik dengan profesionalisme, menuju masa depan yang lebih baik. “Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan,” tekannya.

Dalam paparannya, Solehuddin menyitir al-Qur’an surat Ali Imron [3] ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Berdasarkan ayat ini, jelas rektor UPI ini, umat Islam harus memantaskan diri sebagai umat terbaik. Untuk itulah perlu pendidikan yang profetik.

Pada bagian lain, Muhammad Andy Zaky memberikan pandangan tajam tentang peran teknologi dalam pendidikan.

Zaky menyebutkan, teknologi menyimpan potensi besar. Perubahan era dari Industri 3.0 ke 4.0 hanya memakan waktu puluhan tahun, dan kini bergerak ke era 5.0 yang penuh kompleksitas.

“Maka, nggak bisa nggak, kita harus bisa ngikutin. Ini yang terjadi. Teknologi makin cepat, kalau kita lihat era yang disebut era industry 1.0, industry 2.0, terjadi transisinya ratusan tahun. Tapi dari industry 3.0 dan 4.0 itu cuma puluhan tahun. Mungkin sebentar lagi ke 5.0, dimana teknologi makin advanced dan itu merubah teknologi dan merubah peta industri juga kedepannya,” katanya.

Menurut Zaky, perkembangan zaman sukar untuk dinafikkan termasuk mengesampingkan bahwa artificial intelligence (Ai) terus tumbuh. Demikian pula keterbukaan informasi dimana setiap orang tak bisa menghindar bahwa sekarang apapun informasi tersedia di internet.

“Apakah kita bisa menghindar bahwa, ah, nggak deh, saya nggak mau pakai smartphone supaya gak kalah pinter sama handphone. Nggak bisa,” imbuhnya.

Dengan demikian, menurut Andy, teknologi bukan hanya tantangan, melainkan juga solusi. Dia mengatakan, pihaknya di Orbit Edutech berpegang pada prinsip Pak Habibie bahwa orang yang imtaknya hebat tapi tidak tau iptek, dia tidak akan mampu menolong dirinya sendiri. Sedangkan orang yang ipteknya kuat tetapi tidak memiliki imtak itu berbahaya, dia akan halalkan semua cara.

“Kita perlu membangun generasi yang punya keseimbangan iptek dan imtak. Jadi dua hal ini harus kita jaga,” katanya.

Andy juga menekankan perlunya transformasi pendidikan melalui digitalisasi, dengan fokus pada tiga aspek utama yaitu siswa, lembaga, dan pemimpin pendidikan. “Model kompetensi abad 21 seperti literasi, kompetensi teknikal, dan pembentukan karakter menjadi kunci keberhasilan,” imbuhnya.

Tema yang diangkat dalam seminar ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik dalam pendidikan. Profetik dan profesionalisme bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi yang saling melengkapi.

Dalam pandangan Nashirul Haq, pendidikan yang berbasis nilai profetik berakar pada misi spiritual Islam, sementara aspek profesionalisme memastikan bahwa nilai-nilai tersebut relevan dalam konteks modern.

“Sifat kreatif dan inovatif itu adalah ajaran Islam yang sesungguhnya,” ungkap Nashirul Haq, merujuk pada keharusan umat Islam untuk senantiasa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jatidiri dan identitas dasarnya.

Sementara itu, Andy Zaky menegaskan tentang keseimbangan iman dan ilmu teknologi dengan menekankan perlunya pendidikan berbasis digital yang tetap memperhatikan aspek moral.

Ketiga narasumber sepakat bahwa pendidikan harus mampu menjembatani warisan nilai dengan kebutuhan zaman. Teknologi, inovasi, dan digitalisasi hanyalah alat. Tujuan akhirnya adalah membangun generasi yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki fondasi moral yang kuat. (ybh/hidayatullah.or.id)