Beranda blog Halaman 14

Mengapa Membaca Al-Qur’an Harus Sering?

0

SELEPAS salat Tarawih, seorang kolega mendatangiku. Ia kemudian berkata, “Subhanallah, bagaimana kalau tidak ada Al-Qur’an, pasti sebagian besar waktu saya akan habis untuk scroll-scroll”. Kolegaku yang senior itu sedang memberi pesan bahwa kita harus lebih sering membaca Al-Qur’an daripada aktivitas lainnya, apalagi kalau sebatas urusan scrolling.

Pertanyaannya mengapa demikian? Tidak lain karena membaca Al-Qur’an itu membuat akal lebih aktif, pikiran lebih jernih dan sikap mental jauh lebih lurus. Bukankah kita tidak pernah menemukan orang yang usai membaca Al-Qur’an menjadi bingung dan patah semangat?

Selain itu, orang yang membaca Al-Qur’an dengan intensitas yang cukup akan memiliki struktur batin yang kokoh. Laksana air yang menetes terus menerus, ia akan mampu melubangi batu. Orang yang sering membaca Al-Qur’an akan mampu membuang kerak atau karat dalam hati. Bukankah orang yang sering berlatih akan sampai pada kecakapan?

Pada saat yang sama, kita bisa mengetahui bahwa orang yang terlalu banyak membaca timeline media sosial, biasanya akan sulit konsentrasi, karena mudah lompat dan pindah tema. Kemudian hasilnya pun depresi. Jadi, secara empiris kita bisa melihat ketimpangan besar antara memilih sering membaca Al-Qur’an dengan sering scrolling sangat tegas.

Permasalahannya adalah kesadaran dan pilihan kita sendiri. Tetapi orang yang mau berpikir rasanya tidak sulit untuk mengambil keputusan, bahwa Al-Qur’an lebih menguntungkan untuk dibaca lebih intens dari media sosial.

Gugatan Tuhan

Beberapa waktu setelah pertemuan dengan kolega itu, saya membaca ayat ke-17 Surah Al-Buruj. “Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang.”

Tafsir Al-Muyassar menerangkan bahwa ini pertanyaan retoris dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad tentang orang-orang yang menentang seperti Fir’aun dan Tsamud, yang akhirnya tumbang karena dosa dan pengingkaran mereka terhadap kebenaran.

Bagi kita, yang membaca ayat itu saat ini, artinya kita harus benar-benar memahami siapa sebenarnya Fir’aun dan Tsamud. Mengapa mereka Allah binasakan dan bagaimana kita menjauhi sikap destruktif dalam diri mereka. Dan, kisah mereka tersebar pada banyak ayat Al-Qur’an. Ini bermakna membaca Al-Qur’an tidak bisa sekali setahun apalagi hanya sekali seumur hidup.

Saya tadi menyebut pertanyaan retoris, itu bermakna bahwa pertanyaan itu bukan meminta jawaban, tetapi pertanyaan yang meminta kita menggugah kesadaran. Sebab kita juga bisa mudah memahami, bahwa Allah tidak butuh jawaban kita. Tetapi inilah cara Allah untuk membangun kesadaran kita.

Ketajaman Berpikir

Salah satu hikmah terbesar dari membaca Al-Qur’an dengan sering adalah akal kita yang terus terasah, sehingga muncul kualitas ketajaman dalam berpikir.

Ketajaman berpikir itu terbentuk ketika orang memiliki kesadaran historis yang utuh, kemampuan reflektif dalam membaca dan menuangkan pikiran, baik secara lisan maupun tulisan.

Secara epistemologis, semua kisah dalam Al-Qur’an tentang umat terdahulu adalah data moral. Semakin cerdas seorang Muslim membaca data itu, maka ia akan memahami pola hidup yang baik dan selamat. Dengan begitu orang akan terhindar dari mengulang pola kesalahan yang sama.

Dalam Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, ada gagasan tentang siklus peradaban. Tanpa kesadaran sejarah, masyarakat jatuh pada pola yang sama. Al-Qur’an berkali-kali mengajukan pertanyaan retoris tentang umat terdahulu. Itu seperti mengaktifkan “memori peradaban.”

Oleh karena itu kalau kita korelasikan dengan Ramadhan, maka membaca Al-Qur’an memang harus kita lakukan sesering mungkin. Membaca yang mengundang kesadaran dan kebijaksanaan, sehingga kita bisa mendapat pahala satu sisi, mendapat energi pada sisi lain.*/Mas Imam Nawawi

Satu Ramadhan Sejuta Kemuliaan

0

ADA sebuah rahasia besar yang Allah sembunyikan di balik lipatan waktu Ramadhan. Sebuah rahasia yang sanggup meruntuhkan logika manusia tentang kasta kemuliaan. Hal ini terungkap terkait  dua lelaki dari kabilah jauh di perbatasan Irak tepatnya Suku Bulai.

Mereka berdua datang ke Madinah membawa hati untuk bertauhid masuk Islam. Mereka bersahabat karib, sehidup semati, layaknya dua anak manusia yang diikat oleh sumpah setia di bawah langit yang sama.

Hingga suatu hari, genderang perang bertalu. Panggilan jihad memanggil, keduanya maju ke medan laga dengan gagah berani, lalu sahabat yang pertama gugur sebagai syuhada. Sebuah kematian yang paling dicemburui oleh penduduk bumi dan langit karena dianggap sebagai puncak kasta tertinggi menujusurga  firdaus. Sementara lelaki kedua, ia tetap hidup setahun lamanya, menjalani sisa umur dalam kesunyian, hingga akhirnya wafat di atas pembaringan karena sakit.

Beberapa saat kemudian, Sahabat Thalhah bermimpi berdiri di depan pintu surga. Ia melihat kedua sahabat dari suku Bulai itu di sana. Lalu, sebuah suara berwibawa terdengar dari balik pintu keabadian. Malaikat memanggil lelaki yang meninggal karena sakit untuk masuk terlebih dahulu. Baru setelahnya, lelaki yang mati syahid dipanggil untuk menyusul.

Thalhah terjaga dengan dada penuh tanda tanya. “Bagaimana mungkin?” batinnya. “Bukankah derajat syahid adalah puncak kemuliaan? Mengapa ia justru yang belakangan?”

Kisah mimpi itu pun menjalar dari satu lisan ke lisan lain, membawa keheranan yang sama di antara para sahabat. Akhirnya, teka-teki itu bermuara pada Rasulullah SAW. Beliau tersenyum tenang, lalu melontarkan pertanyaan yang membedah logika manusia:

“Bagian mana dari mimpi itu yang membuat kalian terheran-heran?”

“Ya Rasulullah,” jawab salah seorang sahabat, “mengapa orang yang meninggal biasa bisa mendahului dia yang mati syahid masuk ke surga?”

Rasulullah SAW menjawab dengan kalimat yang menggetarkan: Bukankah ia hidup satu tahun lebih lama setelah sahabatnya pergi? Bukankah dalam satu tahun itu ia mendapati bulan Ramadhan, ia berpuasa, dan ia telah sujud ribuan kali dalam shalatnya?”

Para sahabat terdiam. Sebuah kebenaran sederhana namun telak baru saja mereka terima.

“Maka ketahuilah,” lanjut Baginda Nabi, “perbedaan derajat antara keduanya karena amal setahun itu, bahkan lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.”

Bayangkan itu! Jarak antara langit dan bumi!

Seorang syuhada yang mengorbankan nyawa, ternyata bisa “disalip” derajatnya oleh seorang hamba yang menggunakan satu tahun tambahannya dengan mendekap Ramadhan. Ini adalah bukti nyata dari firman Allah SWT tentang kemuliaan Ramadhan yang melampaui hitungan matematika manusia:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Ternyata, satu bulan Ramadhan yang dijalani dengan iman dan ihtisaban (mengharap pahala) adalah sebuah “akselerasi ruhani” yang tak tertandingi. Sebagaimana janji Baginda Nabi:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Tuhan ingin menunjukkan bahwa karunia umur yang digunakan untuk bersujud di bulan Ramadhan adalah tiket VIP yang sanggup melampaui kemuliaan mereka yang gugur di medan perang. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, ia adalah ladang di mana satu sujud bisa bernilai lebih berat dari sebilah pedang di medan perang.

Dalam satu tahun tambahan itu, ia tidak hanya sekadar hidup. Ia bukan hanya mengisi hari-harinya dengan sujud yang tulus. Ia menggunakan lisan dan waktunya untuk tilawah Al-Qur’an, bahkan mungkin hingga beberapa kali khatam. Ia menyisihkan sebagian rezekinya yang tidak seberapa untuk infak, sedekah, dan zakat, yang di bulan Ramadhan nilainya menjadi luar biasa dahsyat. Dzikir dan munajatnya di tengah malam menembus langsung ke Arsy

Hari ini masih diizinkan menghirup aroma tanah di bulan suci, bersujudlah sampai keningmu mati rasa. Karena satu Ramadhan yang kita jalani dengan sungguh-sungguh, sanggup melontarkanmu ke derajat yang bahkan para syuhada pun akan menoleh padamu dengan penuh rasa cemburu.

Satu tahun tambahan umur untuk bertemu Ramadhan adalah sebuah amanah. Bagi mereka yang mengerjakannya dengan penuh kesungguhan, jarak kemuliaannya dengan orang lain bisa terpaut sejauh jarak antara langit dan bumi.

Kalau hari ini kita masih bisa bersujud, masih bisa mengaji meski terbata-bata, masih bisa berbagi meski hanya sedikit, ketahuilah: Di hadapan Allah, itu semua bisa membuat posisi kita lebih mulia daripada mereka yang kita anggap hebat, asalkan kita kerjakan dengan penuh keikhlasan, kesungguhan dan istiqomah di bulan suci ini.

Mari kita manfaatkan Ramadhan tahun ini dengan bersungguh-sungguh. Karena setiap sujud, setiap ayat yang dibaca, dzikir yang diwiridkan, doa yang dipanjatkan dan setiap rupiah yang disedekahkan, adalah anak tangga kita menuju kemuliaan yang abadi.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Tazkiyatun Nafs Terpadu di Ramadhan

DALAM buku Tradisi-tradisi Intelektual Islam, Annemarie Schimmel memuji tasawuf Al-Ghazali. Dia menulis, “Bahwa tasawuf Al-Ghazali bukan hanya berkisar pada laku ritual, tapi juga melibatkan akal pikiran. Ini selaras dengan Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 190-194.”

Jika perkataan Schimmel dikonfirmasikan pada kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, maka didapati bahwa memang benar Al-Ghazali memberikan ruang yang besar untuk akal dalam bertasawuf. Bab awal di kitab Ihya Ulumuddin berisi kajian seputar ilmu. Di kajian tersebut dapat ditemukan pentingnya berpikir dalam bingkai keimanan. Sementara, masih menurut kajian tersebut, berpikir dalam bingkai keimanan akan melahirkan keluasan berpikir. Karena orientasinya kepada Allah ta’ala, Maha Besar dan Maha Luas.

Perihal berpikir dalam hubungannya dengan tasawuf kiranya penting untuk disegarkan kembali. Karena masih ada kalangan yang memahami tasawuf sebagai kumpulan laku ritual penyucian jiwa. Aktivitas berpikir dipinggirkan, dianggap bertentangan dengan laku ritual.

Di sisi lain ada kalangan yang begitu kuat mentradisikan berpikir hingga tidak sadar mengabaikan laku ritual penyucian jiwa. Ibadah-ibadah nawafil kurang diperhatikan. Buruknya lagi, semoga tidak sengaja, muncul anggapan bahwa laku ritual penyucian jiwa indikator kejumudan.

Menyegarkan pemikiran Al-Ghazali ini semoga memperkuat inspirasi dalam mengantarkan seorang muslim kepada kualitas diri yang sejati. Sebagaimana disampaikan oleh Buya Ahmad dalam Tafsir Sinar, orang besar sejati berpusat pada akhlaknya. Apa yang disampaikan Buya Ahmad ini bagian dari tafsirnya terhadap Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4, “Sesunggunya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung.”

Menariknya sebelum mendapatkan gelar pemilik akhlak yang agung, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam dituntun terlebih dahulu oleh Allah ta’ala untuk ber-iqra’ bismi rabbik. Dapat ditarik cepat sebuah kesimpulan, fondasi utama akhlak adalah menggunakan akal dalam naungan keimanan. Setelah itu proses iqra’ bismi rabbik dirawat dengan laku ritual penyucian jiwa semisal shalat, dzikir, dan puasa.

Lebih jauh, didapati bahwa laku ritual penyucian jiwa lebih berkualitas jika akal digunakan. Dalam hal shalat, misalkan, kualitasnya semakin bagus apabila isi bacaan dipahami serta dihayati. Berbeda apabila seseorang tidak paham dengan apa yang dibaca, shalat mungkin berakhir sebagai sekedar rutinitas.

Dengan demikian ilmu dan amal bertemu dalam satu muara. Inilah salah satu maksud dari ‘shiratal mustaqim (jalan yang lurus)’. Ada ilmu yang kokoh, di saat bersamaan ada amal yang kuat. Lahirlah muslim yang berkualitas secara utuh dan terpadu.

Peluang Ramadhan

Ramadhan memberikan ruang berpikir dan beramal yang lebar. Momen turunnya Al-Qur’an semoga menjadi penyemangat membaca sekaligus memahami Al-Qur’an. Tentu jadi tantangan tersendiri dalam memahami keseluruhan Al-Qur’an. Maka bolehlah sebagian ilmu dari Al-Qur’an mendapat perhatian untuk dilanjutkan setelah Ramadhan.

Di sisi lain tadarus dikuatkan. Satu juz dalam sehari merupakan target yang cukup baik. Apabila ada target yang lebih tinggi, tentu jauh lebih baik. Hal terpentingnya pada menikmati tadarus Al-Qur’an.

Dengan kedua aktivitas utama tersebut, memahami dan tadarus Al-Qur’an, pikiran dan jiwa mendapatkan makanannya. Keduanya bersambung baik. Keduanya akhirnya benar-benar sinergi dalam kebaikan. Kebaikannya tidak remeh temeh, tapi sangat berkualitas dan dampaknya luas.

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Momentum Ramadhan, Pengurus Hidayatullah Batam dan DPR RI Pererat Kebersamaan

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Badan Pembina KH Drs. Nursyamsa Hadis dan Ketua Badan Pengurus Kampus Utama Hidayatullah Batam Dr. Khairul Amri menghadiri undangan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Anggota DPR RI Komisi III Daerah Pemilihan Kepulauan Riau dari Fraksi Partai Golkar, Rizki Faisal, SE, di Batam pada Ahad, 4 Ramadhan 1447 (22/2/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Sekretariat MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong), di mana Rizki Faisal juga menjabat sebagai Ketua MKGR Kepulauan Riau.

Acara buka puasa bersama ini dihadiri oleh relawan, simpatisan Partai Golkar, anggota MKGR, serta anak-anak panti asuhan. Dalam keterangannya, Rizki Faisal menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memperkuat hubungan kebersamaan antarrelawan, simpatisan, dan anggota MKGR di Kota Batam.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pemberian santunan kepada anak-anak panti. Dalam kesempatan tersebut, Rizki Faisal yang lahir pada 18 Maret 1976 itu menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga silaturahmi sekaligus berbagi pada bulan suci Ramadhan.

Rizki Faisal juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran pimpinan dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Batam dalam kegiatan tersebut. Ia mengucapkan terima kasih secara khusus atas partisipasi para tokoh Hidayatullah yang turut menghadiri acara buka puasa bersama tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, KH Drs. Nursyamsa Hadis menyampaikan pandangannya mengenai makna kegiatan buka puasa bersama pada bulan Ramadhan.

“Momentum buka puasa sangat strategis meraih keberkahan bulan Ramadhan sekaligus berjumpa dengan masyarakat untuk menyerap aspirasi rakyat Kepri khususnya warga Batam,” katanya.

Nursyamsa menilai, apa yang dilakukan oleh Haji Rizki Faisal, SE perlu ditradisikan dengan menjangkau berbagai elemen masyarakat lebih luas. “Kita doakan semoga apa yang beliau lakukan pada hari ini dengan berbuka puasa bersama mendapatkan pahala dan berkah dari Allah, seluruh keluarga besarnya sehat dan sukses selalu, tugas-tugasnya dilancarkan oleh Allah,” katanya.

Kegiatan buka puasa bersama ditutup dengan pelaksanaan shalat Magrib berjamaah yang dipimpin oleh KH Drs. Nursyamsa Hadis, dilanjutkan dengan makan malam bersama seluruh peserta yang hadir. Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana kebersamaan yang diikuti oleh berbagai unsur masyarakat.

Ketua Badan Pengurus Kampus Utama Hidayatullah Batam, Dr. Khairul Amri, M.Pd., dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan komitmen lembaga Hidayatullah dalam membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

Ia menyatakan bahwa Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan, sosial, dan dakwah akan terus menjalin kolaborasi dengan pemerintah dalam berbagai bidang. Ia menyampaikan bahwa lembaganya siap menjadi mitra dalam membangun agama, bangsa, dan negara.

Ramadhan: Menjalani Hidup yang Ditangisi Jutaan Ahli Kubur

0

ALHAMDULILLAH, detik ini Allah masih memilih kita untuk bertemu Ramadhan dalam kondisi sehat wal afiat. Lihatlah ke kanan dan kiri, betapa banyak saudara kita yang merindukan Ramadhan, namun mereka hanya bisa menatapnya dari ranjang rumah sakit. Mereka ingin sujud, tapi raga tak lagi mampu. Mereka mau membaca al-Qur’an tapi lidah tak mampu, mereka ingin shaum, tapi fisik tak lagi mengizinkan.

Bahkan, ingatlah kembali wajah-wajah sahabat, kerabat, atau orang tua yang tahun lalu masih duduk bersujud di samping kita. Tahun lalu kita masih berbuka, tarawih, dan beriktikaf bersama mereka. Namun hari ini, mereka telah dipanggil ke Rahmatullah. Mereka telah berpindah alam, terputus dari kesempatan amal, dan tidak mungkin lagi bisa menikmati istimewanya Ramadhan tahun ini.

Jarak antara kita dan mereka hanyalah waktu. Kita adalah calon penduduk kubur yang sedang menunggu giliran. Maka, saat Allah memberikan kita ‘mukjizat kesempatan Ramadhan, jangan pernah merasa ini adalah hal yang biasa. Ini adalah pemberian eksklusif yang diinginkan oleh setiap jiwa yang telah wafat. Jangan sampai kesehatan kita hari ini menjadi saksi kelalaian kita di hadapan Allah kelak

Mereka yang di alam kubur sebenarnya sangat menginginkan untuk bertemu Ramadhan, sebagaimana digambarkan oleh Syekh Ibnu Jauzi rahimahullah

“تالله لو قيل لأهل القبور تمنوا لتمنوا يوما من رمضان.”

Demi Allah, kalau seandainya dikatakan kepada penghuni kubur berangan-anganlah kalian, niscaya mereka akan berangan-angan agar mendapati Ramadhan (meskipun hanya satu hari saja)

Perhatikan diksi beliau. Mereka tidak minta kembali ke dunia untuk melihat keluarga istri dan anaknya tercinta. Mereka tidak minta kembali untuk mengecek saldo rekening atau menyelesaikan proyek yang tertunda. Mereka minta satu hari di bulan Ramadhan.

Mengapa mereka, para penduduk kubur itu hanya meminta satu hari saja di bulan Ramadhan?

Bukan karena mereka rindu dunia, tapi karena mata mereka telah tersingkap melihat hakikat timbangan akhirat. Mereka kini paham, di sana ada satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Mereka sadar sesadar-sadarnya, bahwa satu kali saja dahi menempel di bumi untuk bersujud di bulan Ramadhan, timbangannya jauh lebih berat daripada emas sebesar Gunung Uhud sekalipun.

Bagi mereka, satu detik di bulan Ramadhan kini terlihat jauh lebih mewah dan lebih berharga daripada seluruh dunia beserta isinya. Mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pahala sedekah, tilawah, dan dzikir dilipatgandakan tanpa batas. Mereka telah menyaksikan betapa lebarnya pintu surga dan ampunan dibuka oleh Allah Azza wa Jalla di bulan Ramadhan.

Maka, sungguh merugi kita yang memegang ‘harta karun’ yang mereka tangiskan, namun kita justru memperlakukannya seperti sampah yang tak berharga.

Maka, ketika kita hari ini masih bisa menghirup udara di bulan suci ini, ketahuilah bahwa kita sedang menjalani “Mimpi Terbesar” jutaan manusia yang sudah wafat di alam kubur. Kita  memiliki apa yang mereka tangiskan yaitu bertemu bulan Ramadhan. Maka sungguh kurang bersyukur dan terlalu bagi seorang hamba, jika ia diberikan kesempatan yang ditangisi jutaan orang, tapi ia justru membunuh waktunya dengan sia-sia.

Lihatlah betapa mahal nikmat umur yang Allah berikan hari ini. Anda masih bernapas, sementara jutaan orang di bawah tanah sedang meratap, memohon kepada Allah hanya untuk diberikan satu hari saja di bulan Ramadhan.

Maka sungguh tidak masuk akal, jika ‘undangan eksklusif’ yang tak ternilai harganya ini, justru Anda tukar dengan kesia-siaan. Sungguh ironis jika waktu Ramadhan yang penuh rahmat, habis menguap hanya untuk scroll layar ponsel tanpa makna.

Gadget Anda tidak akan menolong di alam kubur. Media sosial tidak akan memberatkan timbangan amal jika hanya untuk menonton hiburan dan main game. Berhentilah menukar permata akhirat dengan sampah duniawi. Sadarilah, detik yang Anda buang hari ini adalah mimpi terbesar yang takkan pernah tercapai bagi ahli kubur.

Jika langit saja menyambut Ramadhan dengan membuka seluruh pintu surga, dan Allah memerintahkan setan-setan dibelenggu demi menghormati tamu agung ini, maka di mana posisi iman kita jika kita menyambutnya dengan ‘biasa-biasa saja’? Sungguh naif jika penghuni langit sibuk memuliakan Ramadhan, sementara kita yang di bumi justru abai dan tak acuh.

Ingat, Ramadhan ini hanya 30 hari, sebuah waktu yang amat singkat, sekarang sudah berkurang 3 hari. Tidak ada jaminan tahun depan nama kita masih ada di daftar orang yang bernapas. Bisa jadi, inilah Ramadhan terakhir kita.

Maka, berhentilah membunuh waktu. Fokuslah! Karena di dalam sunyinya dialog Anda dengan Allah, terdapat keselamatan yang takkan kita temukan dalam riuhnya dunia

Ramadhan kali ini, saatnya kita ‘pulang’ kepada Allah. Perbanyaklah dialog dengan-Nya melalui tilawah, tadabbur, infak, shodaqah dan hamparan sajadah di keheningan malam. Begitu banyak pintu amal shalih yang Allah bukakan dan mudahkan bagi kita hari ini—mulai dari sedekah hingga menjamu orang berbuka. Semuanya ada di depan mata.

Namun ingatlah sebuah kaidah: Jika di bulan Ramadhan saja, saat pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu, kita masih tidak memiliki keinginan untuk meningkatkan ibadah, maka jangan harap kita bisa melakukannya di luar Ramadhan.

Jika di saat Allah sudah memberi segala kemudahan dan kita tetap tidak bergerak, lalu kapan lagi? Jangan sampai Anda terbangun dari kelalaian ini saat malaikat maut sudah berada di ujung kerongkongan. Mari jadikan detik-detik ini sebagai sujud terbaik kita, sebelum kesempatan ini hilang selamanya

Jangan-jangan, kita termasuk golongan orang yang memang tidak memiliki keinginan baik, atau yang lebih mengerikan lagi, kita termasuk orang yang memang tidak diinginkan oleh Allah untuk masuk ke dalam surga-Nya.

Sebab, jika di masa ‘diskon’ pahala besar-besaran ini saja kita tidak mau menjemputnya, lantas di waktu mana lagi kita akan bertaubat? Na’udzubillahi min dzalik. Jangan sampai Allah membiarkan hati kita membatu hingga kesempatan terakhir ini pun berlalu tanpa arti.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Kajian Ramadhan Suharsono Bahas Intelektualitas dan Identitas Muslim Remaja di Tengah Budaya Viral

0
Kajian Ramadhan 1447 bersama KH Suharsono Darbi yang berlangsung di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 3 Ramadhan 1447 H (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pemikir muslim KH Suharsono Darbi, memaparkan keterkaitan antara spiritualitas, pengendalian pikiran, dan penguatan intelektual sebagai fondasi pembentukan identitas Muslim di era modern yang ditandai percepatan arus informasi dan dominasi budaya digital dalam Kajian Ramadhan 1447 H yang berlangsung di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 3 Ramadhan 1447 H (21/2/2026).

Dalam forum bertema “Membangun Identitas Muslim Remaja di Tengah Budaya Viral,” itu Suharsono Darbi mengemukakan kerangka konseptual awal. Ia menjelaskan bahwa takwa merupakan manifestasi konkret dari iman dalam seluruh dimensi kehidupan manusia. Ia menegaskan bahwa takwa tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi mencerminkan orientasi eksistensial yang utuh.

“Takwa dalam isitilah (ormas) Hidayatullah itu adalah manifestasi iman dalam semua aspek kehidupan. Jadi, perwujudan dari seluruh dimensi iman dalam kehidupan itulah yang disebut dengan takwa,” ujarnya.

Untuk memperjelas relasi antara iman dan tindakan, ia mengangkat peristiwa Perang Khandaq sebagai ilustrasi historis. Ia menjelaskan bahwa secara rasional dan matematis, kondisi umat Islam saat itu berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

“Di perang Khandaq, saat itu umat Islam dikepung oleh pasukan yang bersekutu. Jika menurut analis yang matematis dan menggunakan rasio yang membutuhkan hitung-hitungan matematis, hasilnya kita akan menyerah,” katanya.

Ia kemudian menegaskan bahwa keputusan Rasulullah dan para sahabat untuk bertahan menunjukkan adanya dimensi kesadaran yang melampaui rasionalitas material.

“Tapi kenapa Rasulullah dan para sahabat tidak menyerah? Apa yang membuat mereka tidak menyerah? Ada dimensi yang jauh lebih tinggi yang membuat senjata, jumlah pasukan, dan sebagainya itu tidak menjadi dasar pertimbangan dia untuk bertindak,” jelasnya.

Menurutnya, tindakan manusia ditentukan oleh tingkat kesadaran eksistensial yang dimilikinya, dan puasa menjadi sarana untuk membentuk kesadaran tersebut.

“Kenapa bisa seperti itu? Jadi jawaban tindakan seseorang itu tergantung pada maqom eksistensialnya. Itu mengapa kita diperintahkan untuk berpuasa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa puasa merupakan seruan ilahiah yang bersifat universal dan memiliki fungsi transformasi spiritual.

“Karena berpuasa itu pada dasarnya seruan ilahiyah, dan karena itulah puasa itu adalah universal,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki peran dalam meningkatkan kualitas eksistensi manusia.

“Jadi orang yang tidak berpuasa jangan harap dia mencapai derajat eksistensial yang tinggi, dan karena itulah puasa menjadi begitu pentingnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa puasa tidak hanya berkaitan dengan pengendalian fisik, tetapi juga pengendalian mental.

“Puasa bagi orang awam hanya sekadar menahan makan dan minum. Lebih tinggi dari itu, menahan jangan sampai pikiran kita itu berpikir terus tentang makan dan minum,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa dominasi pikiran material dapat memengaruhi orientasi eksistensial manusia.

“Orang yang berpikir makan apa nanti waktu berbuka sebetulnya adalah pikiran-pikiran materialisme. Mungkin jika di antara kita ada yang masih berpikir seperti ini, mungkin lapar dan haus sudah terkendali, tetapi pikiran menjadi materialis,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mengangkat manusia menuju tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi.

“Sasaran dari puasa adalah supaya manusia sampai ke maqom eksistensi yang tinggi,” katanya.

Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, ia menjelaskan tahapan perkembangan jiwa manusia, termasuk tahap jiwa yang mencapai ketenangan spiritual.

“Tahap lanjut yaitu adalah muthmainnah, jiwa yang tenang, adalah jiwa yang bisa melihat dunia sebagai dunia sarana mencapai akhirat, dan akhirat menjadi akhirat yang dituju di dalam kehidupan dunia. Kalau sudah berpikir sampai situ, apapun yang diperoleh itu siap dilepas untuk mencapai akhirat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tahap tersebut berkembang menuju kondisi orientasi penuh kepada keridhaan Ilahi.

“Itu kalau dalam diri yang tenang, lanjut kepada diri yang mardhiyyah mencari keridhoan Allah,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa puasa menjadi sarana mencapai kesempurnaan penghambaan.

“Nah puasa itu mencapai derajat itu di depan Allah Taala. Jadi kita sampai kepada kamilatun ubudiyah, ketika sampai itu dia menjadi sarana ilahiyah untuk menyebar asma asma Allah, menjadi khalifah Allah di bumi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam puasa adalah pengendalian pikiran.

“Makna pengendalian atau puasa itu yang paling berat adalah tatanan mengendalikan pikiran,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pikiran menjadi pusat berbagai gangguan rasional dan psikologis.

“Kenapa pengendalian pikiran menjadi sesuatu berat, karena di sini adalah pusat konsentrasi dari setan dan sebagainya, yaitu waswas, dan itu melalui rasional,” ujarnya.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan dominasi rasionalitas materialistik dalam peradaban modern.

“Matematika itu sekuler dan cara berpikirnya materialis, dan kita di sini sangat didominasi oleh matematika,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menawarkan perspektif alternatif melalui analogi yang lebih organik.

“Allah mengilustrasikan hubungan antara suami dan istri sebagai ladang, bukan bilangan variabel matematika. Cara pandang dari Al Quran layaknya sebagai petani,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa puasa membantu menyeimbangkan rasionalitas dan spiritualitas.

“Sudut pandang dari Al Quran itu baru bisa masuk dengan cara pikiran rasionalisme itu diredam dengan puasa, jangan melulu berpikir materialisme,” katanya.

Dalam konteks budaya digital, ia menyoroti fenomena viral sebagai faktor yang memengaruhi persepsi kebenaran.

“Ketika suatu tema menjadi viral, maka itu akan dianggap kebenaran, dan itu kesalahannya,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya komunikasi kebenaran.

“Sesuatu yang benar tetapi tidak disampaikan maka itu akan dianggap kesalahan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya penguatan intelektualitas sebagai respons terhadap arus informasi.

“Satu-satunya cara mengatasi supaya tidak terbawa arus viral adalah dengan meningkatkan intelektual kita,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana penguatan intelektual.

“Dengan adanya internet yang luar biasa masifnya zaman sekarang, kalau punya penalaran yang bagus dan mendalam, itu sangat bagus!” katanya.

Ia menegaskan pentingnya pengembangan intelektual sejak usia remaja.

“Pikiran waktu remaja itu bisa diakselerasi ketika dia rajin meningkatkan dan mengembangkan tema-tema yang besar,” ujarnya.

Ia mendorong remaja menjadi teladan intelektual dan moral.

“Jangan hanya merasa up to date, kalau bisa menjadi contoh teladan yang bisa ditiru oleh remaja-remaja lain, bukan hanya akhlaqnya tetapi juga pikirannya,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya berpikir kritis sebagai bagian dari pembentukan intelektual.

“Berpikir kritis itu perlu dan harus dilatih,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa berpikir kritis membentuk kemampuan argumentasi.

“Jawaban dari berpikir kritis itu memang tidak selalu benar, tetapi selalu mengajari kita berargumen dengan tertib,” katanya.

Ia menambahkan bahwa berpikir kritis berkontribusi pada stabilitas emosional dan spiritual.

“Orang yang berpikir kritis itu cenderung bisa mengendalikan emosi, dan justru orang yang seperti itu bisa menjaga agama dibanding teman-temannya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembentukan kemampuan berpikir merupakan bagian dari proses pendidikan.

“Berpikir itu harus dilatih, dan itu menjadi tugas para guru,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa proses tersebut melibatkan pengamatan dan penalaran sistematis.

“Harus dilatih untuk mengamati suatu fenomena, dikasih reasoning atau pola penalaran,” ujarnya.

Ia mencontohkan metode Rasulullah dalam membangun kesadaran intelektual.

“Rasulullah seringkali berbicara dengan para sahabat dengan gaya bahasa yang ‘menggugat’ agar para sahabat terpancing untuk menjawab walau hanya menjawab ‘Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui’,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kemandirian berpikir merupakan bagian dari pembentukan intelektual.

“Terkadang pikiran independen itu menghasilkan anak itu ‘kurang ajar’, tetapi ‘kurang ajar’ itu dihasilkan oleh kerangka berpikir,” ujarnya.

Ia menutup dengan menegaskan kekuatan argumentasi sebagai instrumen perubahan.

“Kekuatan argumentasi sesekali lebih kuat dan lebih menggugah dibanding kekuatan senjata,” katanya.

Kajian Ramadhan 1447 bersama KH Suharsono Darbi yang berlangsung di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 3 Ramadhan 1447 H (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)
Kesimpulan

Suharsono Darbi menegaskan bahwa pembentukan identitas Muslim remaja di era digital tidak hanya bergantung pada aspek moral dan ritual, tetapi juga memerlukan integrasi antara spiritualitas, pengendalian pikiran, dan penguatan intelektualitas.

Ia menjelaskan bahwa puasa berfungsi sebagai instrumen transformasi eksistensial yang mengarahkan manusia menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi, sekaligus melatih kemampuan mengendalikan pikiran di tengah dominasi rasionalitas materialistik.

Dalam konteks budaya viral dan percepatan arus informasi, ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, argumentatif, dan independen sebagai fondasi untuk menjaga integritas keimanan dan identitas intelektual. Suharsono menjelaskan bahwa penguatan kapasitas berpikir tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga bagian dari proses pendidikan dan pembinaan generasi.

Melalui integrasi antara penguatan spiritual, pengendalian mental, dan pengembangan intelektual, ia menegaskan bahwa remaja Muslim memiliki kapasitas untuk membangun identitas yang kokoh, adaptif, dan relevan dalam menghadapi dinamika zaman, sekaligus menjaga orientasi hidup yang berlandaskan nilai-nilai keimanan.

STIS Hidayatullah dan PUZ Berangkatkan 255 Mahasiswa dalam Gerakan Ramadhaniyah Nasional

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan bersama Program Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) secara resmi memberangkatkan 255 mahasiswa untuk menjalankan Gerakan Ramadhaniyah 1447 Hijriyah yang dilaksanakan di lebih dari 38 titik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Rizky Kurnia Sah, mengatakan program ini sebagai bagian dari penguatan kaderisasi nasional dan pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan aktivitas dakwah, pelayanan umat, serta penguatan literasi Al-Qur’an selama bulan Ramadhan.

Penugasan tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Ketua STIS Nomor 28 Tahun 2026 serta Surat Keputusan Panitia Ramadhan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Nomor SK/001/PAN-RAM/YPPH/II/2026 tertanggal 28 Sya’ban 1447 H atau bertepatan dengan 16 Februari 2026.

Prosesi pelepasan kader dilakukan secara simbolis pada 12 Februari 2026 di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan sebagai penanda dimulainya rangkaian kegiatan Ramadhaniyah secara nasional.

Rizky Kurnia Sah menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan kader yang dirancang secara menyeluruh, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga melalui pengalaman langsung di tengah masyarakat.

“Ramadhan adalah bulan pembuktian. Kader tidak hanya dibina secara akademik, tetapi ditempa langsung dalam pelayanan umat dan penguatan dakwah. Di sinilah integritas, kepemimpinan, dan ketangguhan mereka diuji,” kata Rizky dalam keterangannya kepada media ini, Sabtu, 3 Ramadhan 1447 (21/2/2026).

Rizky menjelaskan Gerakan Ramadhaniyah merupakan bagian dari sistem pembinaan kader yang mengintegrasikan pendidikan formal dengan praktik pengabdian nyata. Program ini dilaksanakan melalui berbagai bentuk penugasan yang mencakup Praktik Kuliah Dakwah (PKD), penempatan imam masjid, penugasan sebagai amil zakat, magang di firma hukum, serta pelaksanaan Daurah Qur’an Ramadhan.

Secara rinci, kegiatan ini mencakup 14 titik Praktik Kuliah Dakwah, 2 titik praktik magang firma hukum, 6 titik penugasan amil zakat, 16 titik penempatan imam masjid, serta satu program Daurah Qur’an Ramadhan.

Selain itu, terdapat 115 mahasiswa yang mengikuti Daurah Qur’an Ramadhan, 81 mahasiswa bertugas sebagai Mujahid Ramadhan, 23 mahasiswa PUZ menjalankan tugas sebagai imam masjid, serta 6 mahasiswa yang terlibat sebagai panitia Ramadhan di Gunung Tembak.

Rizky menyebutkan, sebaran kader mencakup berbagai provinsi dengan dukungan dan kerja sama dari sejumlah mitra kelembagaan. Di antaranya adalah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Gorontalo.

Selain itu, sinergi juga terjalin dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Kalimantan Timur, Kantor Hukum Haji Nasrun Mu’min di Kutai Kartanegara, serta LPPA Bina Aisyah di Samarinda. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pelayanan umat sekaligus memperkuat sistem kaderisasi berbasis pengabdian nasional.

Penguatan Spiritual

Selain penugasan lapangan, Rizky menyebutkan, kegiatan Ramadhaniyah juga menempatkan penguatan spiritual sebagai bagian utama dari pembinaan kader melalui program Daurah Al-Qur’an Ramadhan. Program ini diikuti oleh 115 mahasiswi yang tergabung dalam halaqah yang terdiri dari Halaqah Ziyadah, Halaqah Mukammal, dan Halaqah Tahsin.

“Kegiatan tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas bacaan, hafalan, serta pembinaan karakter Qur’ani sebagai bagian dari pembentukan integritas kader selama menjalankan tugas dakwah,” jelasnya.

Dengan keterlibatan 255 mahasiswa di berbagai wilayah, Rizky menambahkan, program ini dilaksanakan secara terstruktur dan terkoordinasi untuk mendukung pelayanan umat selama bulan Ramadhan.

Melalui Gerakan Ramadhaniyah ini, STIS Hidayatullah Balikpapan dan PUZ menjalankan program kaderisasi yang mengintegrasikan pembelajaran, pelayanan, serta penguatan karakter berbasis nilai-nilai keislaman.

“Program tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari sistem pendidikan dan pembinaan kader yang berorientasi pada pengabdian masyarakat dan penguatan dakwah di berbagai wilayah Indonesia,” pungkas Rizky.

Mahasiswa STIQ Ash-Shiddiq Diterjunkan ke Masyarakat untuk Syiar dan Pengabdian Ramadhan

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq Medan, Muhammad Mahmud, S.Th.I., M.Pd., menegaskan bahwa program Safari Ramadhan 1447 Hijriyah merupakan bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui pendekatan dakwah dan interaksi langsung.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan yang jelas dan terstruktur dalam membangun hubungan sosial serta memperkuat peran mahasiswa di tengah masyarakat.

“Tujuan utama Safari Ramadhan 1447 H bagi mahasiswa ke masyarakat adalah untuk mempererat tali silaturahmi, melaksanakan pengabdian masyarakat, dan menyebarluaskan dakwah keagamaan secara langsung,” kata Mahmud dalam kegiatan pelepasan mahasiswa STIQ Ash-Shiddiq yang dilaksanakan pada Jumat, 2 Ramadhan 1447 (20/2/2026).

Mahmud menjelaskan, program Safari Ramadhan STIQ Ash-Shiddiq Medan menjadi bagian dari implementasi pengabdian akademik berbasis masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Melalui kegiatan ini, dia berharap, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus menjalankan peran sebagai bagian dari upaya penguatan syiar Islam dan pengabdian sosial di berbagai wilayah penugasan.

Pelepasan mahasiswa tersebut dilakukan secara resmi oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Muhammad Isa Abdul Baary, bersama Ketua STIQ Ash-Shiddiq Medan. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa diberangkatkan menuju berbagai wilayah penugasan yang telah ditentukan sebelumnya. Penempatan tersebut merupakan bagian dari perencanaan kegiatan Safari Ramadhan yang disusun secara sistematis untuk menjangkau masyarakat di berbagai daerah.

Mahmud menjelaskam, Program Safari Ramadhan ini sebagai sarana pembelajaran langsung di tengah kehidupan masyarakat. Selain mempererat hubungan sosial, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap kondisi sosial dan keagamaan masyarakat.

“Melalui keterlibatan langsung, mahasiswa diharapkan dapat menjalankan peran dakwah serta memperkuat nilai-nilai keislaman di lingkungan tempat mereka bertugas,” kata Mahmud.

Mahmud menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai penting dalam proses pembentukan kapasitas mahasiswa. “Kegiatan ini menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan sosial, menimba ilmu langsung dari masyarakat, dan menggali wawasan sosial dan keagamaan dari sumber yang tak terbatas di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat,” terangnya.

Sementera itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Muhammad Isa Abdul Baary menambahkan bahwa kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengintegrasikan ilmu yang telah diperoleh selama masa studi dengan pengalaman nyata di lapangan.

“Selain bisa menerapkan ilmunya yang sudah didapat dari kampus, para mahasiswa juga bisa mendapatkan lebih banyak lagi ilmu serta keterampilan dari masyarakat, yang kadang tidak bisa didapatkan di bangku perkuliahan,” jelasnya.

Safari Ramadhan tahun ini mengusung tema “Gen-Q (Generasi Qur’ani): Muda, Berdakwah dan Berdampak.” Tema tersebut dirumuskan oleh Dewan Mahasiswa (Dema) STIQ Ash-Shiddiq sebagai kerangka konseptual untuk membentuk karakter mahasiswa yang memiliki komitmen dakwah serta mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Isa menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan dakwah dan penguatan pemahaman keagamaan.

“Kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat juga diharapkan bisa membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat berkaitan dengan tantangan dakwah dan kurangnya wawasan keagamaan,”katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi (DikDasMenTi) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, Muhammad Fathun Nur, menyampaikan pesan kepada para mahasiswa terkait implementasi tema tersebut. Ia menegaskan pentingnya konsistensi antara nilai yang diusung dengan perilaku yang ditunjukkan selama pelaksanaan Safari Ramadhan.

“Kehadiran mereka di tengah masyarakat harus memberi dampak yang positif bagi masyarakat, memberi warna baru yang positif bagi lingkungan yang mereka bina,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam perilaku mahasiswa selama menjalankan tugas dakwah dan pengabdian.

Ukir Solidaritas di Malam Kedua Ramadhan, BMH-Masjid Al-Mubaarok Bekasi Timur Gaungkan Dukungan untuk Palestina

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Malam kedua Ramadhan (19/2/2025) di Masjid Jami’ Al-Mubaarok, Jalan Dewi Sartika RT 002/008, Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, terasa berbeda. Lantunan ayat suci tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga mengikat kepedulian untuk Palestina.

Kehadiran Syaikh Mohammad Adnan Kayed Abu Jalil dalam rangkaian tarawih, kultum, dan penggalangan dana kemanusiaan menghadirkan suasana haru dan penuh makna. Program ini terselenggara atas kerja sama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Dalam tausiyahnya, Syaikh Abu Jalil menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat Indonesia.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terus mendukung Palestina. Bersama BMH menjadi satu bukti persaudaraan itu semakin kuat,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Ketua DKM, H. Jami’, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran Syaikh dan sinergi dengan Laznas BMH menjadi energi baru bagi jamaah untuk memperluas kepedulian.

“Kami sangat bersyukur. Kerja sama ini mempererat ukhuwah dan membuka ruang kontribusi nyata,” tuturnya.

Jamaah menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang kegiatan. Mereka mengikuti kultum dengan khusyuk dan terlibat aktif dalam penggalangan dana. Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai momentum solidaritas kemanusiaan.

Malam itu, tarawih menjadi lebih dari sekadar rutinitas ibadah. Suasananya berubah menjadi ruang persaudaraan lintas batas.

“Dari Bekasi Timur, doa dan dukungan mengalir untuk Palestina—menguatkan harapan bahwa kepedulian umat tetap hidup dan terus bergerak,” tutup Koordinator BMH Bekasi, Ariyan.[]

Zakat Umat Hadirkan Masjid Layak bagi Penyintas Aceh Tamiang Sambut Ramadhan

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Zakat, infak, dan sedekah umat yang dihimpun LAZNAS BMH menghadirkan kesiapan ibadah bagi penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjelang Ramadhan 1447 H.

Melalui program bersih masjid dan penyaluran perlengkapan ibadah, BMH bersama relawan bergerak di Masjid Babut Taqwa, Pematang Durian, Kecamatan Sekerak, serta Masjid Al Hidayah, Pantai Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, beberapa waktu lalu dan ditulis Jum’at, 2 Ramadhan 1447 (20/2/2026).

Tim membersihkan lantai, dinding, area wudhu, dan fasilitas MCK yang terdampak banjir bandang. Mereka juga menyalurkan karpet sajadah, jam dinding, serta perlengkapan penunjang ibadah untuk mengganti fasilitas yang rusak.

“Kondisi Masjid Babut Taqwa sebelumnya masih jauh dari ideal. Lantai keramik belum terpasang. Dinding dan plafon belum tersedia sehingga burung bebas masuk dan meninggalkan kotoran. Jamaah menggunakan terpal dan karpet seadanya untuk shalat berjamaah. Sound system pun rusak akibat banjir,” ungkap Adnan Korlap BMH di lokasi.

Jamaah Lebih Siap

Imam Masjid Babut Taqwa, Umar, menyampaikan bahwa bantuan karpet dan aksi bersih masjid membuat jamaah lebih siap menyambut Ramadhan.

“Alhamdulillah, luar biasa kepedulian BMH kepada jamaah masjid. Insya Allah mereka lebih siap lagi menyambut dan mengisi Ramadhan,” ujarnya.

Di Masjid Al Hidayah Pantai Cempa, kebutuhan karpet layak pakai juga menjadi perhatian utama. Lebih lanjut Imam setempat menyebut kehadiran kembali tim BMH membawa semangat baru bagi jamaah yang masih dalam proses pemulihan pascabencana.

Selain pemulihan fisik, BMH menyalurkan mushaf melalui program Tebar Sejuta Al-Qur’an. Distribusi ini memperkuat aktivitas tilawah di bulan yang dikenal sebagai Syahrul Qur’an.

Adnan sebagai Korlap BMH menegaskan bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan umat tidak berhenti pada bantuan darurat.

“Dana tersebut diarahkan untuk memastikan penyintas dapat memasuki Ramadhan dengan sarana ibadah yang bersih, layak, dan mendukung kekhusyukan,” ungkapnya.

Program ini menunjukkan bahwa solidaritas umat melalui zakat bukan hanya mengatasi kebutuhan sesaat, tetapi mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan pemulihan sosial masyarakat.[]