Beranda blog Halaman 159

Umat Islam sebagai Stabilator dalam Dinamika Politik Kontemporer

0

ALMARHUM Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, merupakan salah satu tokoh yang dalam banyak kesempatan terus menerus menekankan pentingnya umat Islam menjadi stabilator di tengah-tengah masyarakat. “Kita harus menjadi umat stabilator manakala ada bagian yang pincang,” demikian salah satu pesan yang beliau sampaikan.

Beliau selalu mengingatkan bahwa umat Islam adalah “ummatan wasathan,” yaitu umat yang menstabilkan, penengah, dan berfungsi sebagai stabilisator dalam berbagai dinamika kehidupan, termasuk dalam kontestasi politik.

Dalam menghadapi Pilkada Serentak 2024 yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 November 2024, pesan almarhum Ustadz Abdullah Said ini menjadi relevan untuk mencegah perselisihan yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

Umat Stabilator dan Spirit Ummatan Wasathan

Dalam Islam, konsep “ummatan wasathan” sangat penting. Hal ini merujuk pada posisi umat Islam yang berada di tengah-tengah, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun politik. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 143:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan keadilan dalam masyarakat. Sebagai “ummatan wasathan,” umat Islam harus menjadi penjaga harmoni dan peredam konflik, terutama dalam konteks politik yang sering memanas.

Ustadz Abdullah Said menekankan bahwa konsep umat stabilator bukan hanya pernyataan belaka, melainkan harus merealita diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks politik, terutama ketika bangsa ini akan menghadapi Pilkada Serentak 2024, peran sebagai stabilator harus semakin dimaksimalkan untuk menghindari polarisasi dan perselisihan yang dapat memicu konflik antar anak bangsa.

Kehadiran umat Islam sebagai stabilator dalam kontestasi politik berfungsi untuk menjaga agar perbedaan pilihan politik tidak berubah menjadi permusuhan. Ustadz Abdullah Said berpandangan bahwa politik, meskipun penting, bukanlah segala-galanya. Politik hanyalah salah satu instrumen untuk mencapai tujuan bersama, yaitu kesejahteraan masyarakat dan ridha Allah SWT.

Dalam praktiknya, umat Islam harus mampu menjadi jembatan di tengah perbedaan, meredam ketegangan, dan mengedepankan dialog daripada konflik. Prinsip ini sesuai dengan nilai-nilai Islam yang mendorong musyawarah (syura) dan penyelesaian masalah melalui cara-cara yang baik. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini mengajarkan bahwa pemimpin dan umat harus mengedepankan kelembutan, pengampunan, dan musyawarah dalam menyelesaikan masalah. Dalam konteks politik, pendekatan ini penting untuk menjaga suasana kondusif dan menghindari perpecahan.

Pilkada Serentak 2024 akan menjadi ajang kontestasi politik yang melibatkan banyak pihak dengan berbagai latar belakang dan kepentingan. Dalam situasi semacam ini, gesekan dan perbedaan pandangan politik tak dapat dihindari. Namun, Ustadz Abdullah Said dalam banyak ceramahnya mengingatkan bahwa perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Konflik politik yang berlarut-larut dapat mengancam persatuan bangsa. Sejarah telah mengajarkan bahwa perpecahan internal seringkali lebih berbahaya daripada ancaman dari luar. Ketika umat Islam tidak mampu memainkan peran sebagai stabilator, maka yang terjadi adalah polarisasi masyarakat yang dapat memecah belah bangsa.

Dalam konteks ini, umat Islam dituntut untuk selalu mengingat ajaran Rasulullah SAW yang mengutamakan persatuan dan kesatuan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ

“Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi landasan bagi umat Islam untuk tidak saling menyakiti dan memelihara hubungan baik, meskipun berbeda pandangan. Dalam kontestasi politik, semangat ini harus dipegang teguh agar perbedaan tidak berujung pada permusuhan.

Langkah Stabilitas

Menjelang Pilkada Serentak 2024, bangsa kita dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga stabilitas sosial dan politik. Umat Islam, sebagai mayoritas, memiliki peran strategis dalam menciptakan suasana yang damai dan kondusif.

Karenanya, kita perlu terlibat dalam menjaga suasana agar tetap teduh. Setidaknya ada empat langkah konkret yang dapat kita ambil untuk menerapkan pesan Ustadz Abdullah Said agar kita menjadi umat stabilator.

Pertama, mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan pendapat politik. Ini adalah kunci untuk mencegah konflik. Umat Islam harus menjadi teladan dalam mengedepankan musyawarah, baik di tingkat keluarga, komunitas, maupun dalam lingkungan yang lebih luas.

Kedua, menjaga bahasa dan etika dalam kampanye di ruang publik termasuk di media sosial agar tidak tersiar ujaran kebencian atau fitnah. Sebagai stabilator, umat Islam harus berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berpolitik secara santun dan beradab.

Ketiga, menghindari polarisasi dan kebencian. Langkah ini penting karena kita menyadari bahwa polarisasi yang terjadi di masyarakat seringkali diperparah oleh informasi palsu dan propaganda. Umat Islam harus cerdas dan cermat dalam memberi jalan keluar, memverifikasi informasi, dan mencegah tersebarnya hoaks yang dapat memperkeruh suasana.

Keempat, mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Dalam kontestasi politik, kepentingan bangsa dan negara harus selalu menjadi prioritas utama. Umat Islam diharapkan tidak terjebak dalam kepentingan sempit golongan, tetapi fokus pada persatuan dan kesatuan bangsa dan ukhuwah Islamiyah, disamping kita harus berupaya berperan aktif dalam mediasi konflik sebagai mediator yang menenangkan situasi.

Spirit Al Qur’an

Pesan Ustadz Abdullah Said tentang peran umat Islam sebagai stabilator sejalan dengan semangat Al-Qur’an dan hadis yang mendorong umat untuk selalu menjadi penengah yang adil. Dalam konteks Pilkada Serentak 2024, pesan almarhum tersebut semakin penting diaktualisasi untuk menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika politik yang sering kali memanas.

Umat Islam harus mampu menjadi contoh bagi seluruh elemen masyarakat dalam bersikap bijak dan pertengahan. Spirit ummatan wasathan yang dikedepankan oleh Ustadz Abdullah Said mengajarkan bahwa umat Islam harus selalu berada di tengah, tidak ekstrim ke kiri tidak pula ekstrim ke kanan yang dapat memecah belah persatuan.

Stabilitas bangsa adalah tanggung jawab kita bersama. Umat Islam sebagai mayoritas memiliki peran krusial dalam menjaga harmoni di tengah kontestasi politik yang dinamikanya semakin semarak hari hari ini.

Melalui sikap wasathiyah sebagai salah satu dari enam jatidiri Hidayatullah, sikap adil, dan bijak, umat Islam dapat menjadi stabilator yang mencegah perpecahan dan menjaga keutuhan bangsa. Semoga pesan ini dapat menjadi pedoman bagi kita semua dalam menghadapi tantangan politik ke depan.[]

*) Adam Sukiman Langgu, penulis adalah intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta.

Ustadz Nashirul Pesan Energi Iman dalam Dakwah dan Ingatkan ‘Syahadat yang Impoten’

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustadz H. Dr. Nashirul Haq, MA, menggugah kesadaran umat akan pentingnya iman sebagai sumber kekuatan utama untuk menjalankan ajaran Islam termasuk dalam melakukan gerakan dakwah islamiyah.

Pesan itu ditegaskan beliau dalam acara Tabligh Akbar bertema “Energi Iman untuk Gerakan Dakwah” di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Sabtu, 17 Rabi’ul Awal 1446 (21/9/2024).

Ustadz Nashirul Haq menekankan bahwa sejatinya iman adalah energi yang menggerakkan setiap Muslim untuk beramal shaleh, berhijrah, berjihad, dan berdakwah.

“Iman adalah energi. Kekuatan inilah yang memotivasi dan menggerakkan untuk beramal shaleh, berhijrah, berjihad, dan berdakwah. Segala bentuk ajaran Islam hanya bisa dijalankan kalau ada energi iman,” ujarnya.

Ia menegaskan betapa pentingnya iman dalam kehidupan seorang Muslim. Tanpa iman, seseorang tidak memiliki motivasi untuk beribadah dan berjuang di jalan Allah.

Dijelaskan Ustadz Nashirul, rukun iman yang pertama adalah Beriman kepada Allah, dan rukun Islam yang pertama adalah Syahadat. Hal ini menunjukkan betapa fundamentalnya iman dalam ajaran Islam.

Lebih lanjut, Ustadz Nashirul Haq menjelaskan kedudukan mulia surah Al Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

“Inilah hikmahnya kenapa Al Qur’an surah Al Alaq ayat satu sampai ayat lima diturunkan pertama kali oleh Allah untuk menambahkan kesadaran beriman,” jelasnya.

Wahyu Ilahi ini, terangnya, bukan hanya menjadi awal dari perjalanan dakwah Rasulullah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa penanaman iman adalah langkah awal yang krusial bagi setiap Muslim.

Syahadat yang Impoten

Ustadz Nashirul juga mengutip pendiri Hidayatullah, almarhum Ustadz Abdullah Said, yang pernah menyatakan bahwa banyak umat Islam yang mengaku beriman namun mengalami “syahadat yang impoten.” Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana banyak umat yang mengaku Islam tapi kehilangan energi keimanan mereka.

“Kenapa ini terjadi, karena ia tidak ditarbiyah dan didakwahi sebagaimana manhaj nabawi yang diteladankan oleh Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam,” jelasnya.

Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selama 13 tahun di Makkah fokus menanamkan iman. Ini terlihat dari penekanan beliau terhadap tiga surah Al Qur’an yang pertama turun, yaitu surah Al Alaq yang menanamkan kesadaran iman, surah Al Qalam yang membentuk akhlak dan fikrah, serta surah Al Muzzammil yang mendorong ibadah ritual. Proses penanaman iman ini kemudian melahirkan generasi yang siap mengemban risalah dakwah dengan penuh energi.

Salah satu contoh terbaik dari kekuatan iman adalah kisah sahabat bernama Mus’ab bin Umair, pemuda tampan dari keluarga kaya yang memilih jalan dakwah. Ustadz Nashirul mengisahkan, Mus’ab bin Umair adalah anak muda yang ditakdirkan lahir dari keluarga crazy rich.

Sampai sampai Rasulullah dalam sebuah riwayat Al Hakim menyebutkan dirinya tidak pernah melihat penduduk Madinah yang lebih tampan, rapi, lebih bagus pakaiannya, lebih harum, dan diberi kenikmatan dan anugerah fasilitas melimpah melainkan Mus’ab bin Umair.

Beliau menguraikan, Mus’ab bin Umair adalah sosok cerdas yang dimanja dan disanjung karena ketampanan dan status sosialnya yang tinggi. Namun, keputusannya masuk Islam dan meninggalkan segala kemewahan hidup menjadi bukti nyata bahwa energi iman mampu mengubah seseorang dari kehidupan serba nyaman menjadi pejuang dakwah yang berani dan tegas.

Mus’ab kemudian menjadi dai pertama yang diutus Rasulullah untuk berdakwah ke Yastrib (Madinah). Salah satu momen heroik dalam dakwahnya terjadi saat ia menghadapi Usaid bin Hudhair, seorang pemimpin Suku Aus yang berang betul padanya sambil menghunus pedangnya.

Namun, dengan ketenangan dan ketulusan hati, Mus’ab tetap teguh tanpa rasa khawatir sampaikan risalah Islam, yang membuat hati Usaid tersentuh hingga akhirnya menerima Islam.

“Yang menggerakkan Mush’ab bin Umair rela meninggalkan fasilitas dan kemewahan hidup yang sangat mewah lalu memilih mendakwahkan Islam adalah karena ada energi iman,” tambah Ustadz Nashirul.

Ustadz Nashirul menegaskan bahwa energi iman seperti yang ditunjukkan oleh Mus’ab bin Umair adalah warisan yang harus terus dihidupkan oleh kader Hidayatullah.

“Energi iman inilah yang diwarisi oleh kader-kader Hidayatullah,” terangnya, seraya mengisyaratkan bahwa dakwah bukan hanya sebuah kewajiban, tetapi juga panggilan jiwa yang selaras dengan fitrah manusia.

Mengapa Dakwah Diperlukan?

Masih dalam taushiahnya, Ustadz Nashirul menjelaskan setidaknya ada dua alasan mengapa dakwah sangat diperlukan di tengah masyarakat dimana pun berada. Pertama, karena dakwah sejalan dengan fitrah manusia.

Jika manusia tidak mendapatkan dakwah, maka mereka akan menjauh bahkan hilang dari fitrahnya. Kedua, karena manusia memiliki akal dan nafsu yang berpotensi menimbulkan syubhat (keraguan) dan syahwat (nafsu).

“Akal berpotensi untuk menimbulkan syubhat sedangkan nasfu manusia berpotensi untuk melahirkan syahwat. Dan, hanya ada dua penyebab kesesatan manusia di muka bumi ini yaitu syubhat dan syahwat,” ungkapnya.

Dakwah dengan energi iman sebagai penggeraknya, imbuhnya, berperan sebagai tameng yang melindungi manusia dari dua potensi kesesatan ini. (ybh/hidayatullah.or.id)

Nurturing Fitrah Menjaga Cahaya Keimanan Ditengah Gelombang Dunia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Founder Komunitas Keluarga Cerdas (KKC) yang juga pegiat komunitas pemuda Ust. Naspi Arsyad berbagi renungan mendalam dalam Majelis Reboan Dewan Murabbi Wilayah Jabar via Zoom, Rabu, 21 Rabi’ul Awal 1446 (25/9/2024).

Naspi dalam materinya memaknai nurturing sebagai proses mendidik, merawat, dan membimbing seseorang menuju kebaikan. Sebagai “cahaya positif,” nurturing membantu manusia berkembang sesuai dengan nilai-nilai fitrah yang diberikan oleh Allah SWT, seperti kasih sayang, kepedulian, dan rasa tanggung jawab.

Menurut pandangan Islam, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu keadaan suci, bersih, dan memiliki potensi untuk berbuat baik. Nurturing merupakan bagian dari upaya memelihara dan mengembangkan fitrah ini agar manusia tetap berada di jalan yang lurus sesuai dengan tuntunan Allah SWT.

Islam juga mengajarkan pentingnya penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs) sebagai bagian dari nurturing, yang bertujuan untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya yang suci.

Dengan nurturing, manusia dapat membersihkan diri dari pengaruh negatif, sehingga cahaya positif fitrah yang ada dalam dirinya dapat bersinar lebih terang.

Naspi mengingatkan kita akan potensi ketuhanan yang sudah tertanam dalam setiap diri manusia sejak lahir, sebuah fitrah yang suci.

Namun, seperti benih yang membutuhkan tanah subur, fitrah ini perlu dijaga dan dipupuk agar tumbuh kuat.

Naspi mengambil contoh Nabi Ibrahim AS, yang tumbuh di lingkungan yang berusaha menjauhkannya dari fitrah.

Namun, beliau tetap teguh mencari kebenaran, hingga akhirnya menemukan cahaya tauhid.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesadaran dan perjuangan adalah kunci untuk mempertahankan fitrah di tengah gempuran dunia yang penuh godaan.

Lalu, bagaimana kita sebagai kader Hidayatullah bisa menjaga fitrah ini?

Ust. Naspi mengajak kita untuk sungguh-sungguh menjalankan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) dan aktif dalam halaqah.

“Ini bukan sekadar rutinitas, tapi upaya kita untuk terus ‘menyirami’ benih iman dalam diri,” ucapnya menegaskan.

“Lebih dari itu, mari kita pupuk fitrah ini dengan sikap syukur, kasih sayang, dan menjauhi prasangka buruk. Seperti tanaman yang membutuhkan sinar matahari, fitrah kita juga perlu ‘cahaya’ positif untuk tumbuh subur,” sambungnya.

Pesan Ust. Naspi begitu sederhana, namun mengena. Kita semua punya potensi kebaikan dalam diri. Tugas kita adalah menjaganya, memupuknya, agar bisa menjadi cahaya yang menerangi dunia.

Mari kita renungkan, sudahkah kita merawat fitrah kita hari ini?*/Herim

Dalam Simpul Sinergi Membawa Kebahagiaan bagi Muallaf di Pelosok Maluku Tengah

0

SERAM (Hidayatullah.or.id) — Kolaborasi simpul sinergi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Maluku dan Yayasan Baitul Maal BRILiaN berhasil menjangkau 50 muallaf di Seram Utara Timur Kobi, Maluku Tengah.

Pada Rabu, 21 Rabi’ul Awal 144 (25/9/2024), mereka menyalurkan 50 paket bantuan berupa peralatan ibadah, Al-Qur’an, dan sembako.

Perjalanan panjang selama 20 jam melintasi darat dan laut tidak menyurutkan semangat mereka untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara baru di pedalaman.

Zulkarnain, Kepala Devisi Program dan Pendayagunaan BMH Maluku, menegaskan pentingnya mendukung muallaf yang seringkali menghadapi kesulitan ekonomi setelah memeluk Islam.

“BMH dan YBM BRILiaN hadir sebagai bentuk tanggung jawab kepada umat,” ujarnya.

Agus Basuki, salah satu penerima manfaat yang merupakan seorang mualaf, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” katanya dengan haru.

“Semoga para donatur selalu diberikan kesehatan dan keberkahan,” sambungnya.

Aksi nyata BMH dan YBM BRILiaN ini menjadi bukti bahwa kepedulian dan solidaritas mampu menembus batas geografis. Mereka tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menguatkan iman dan memberikan harapan bagi para muallaf di pelosok negeri.*/Herim

Air Mengalir Asa Berkobar, Sumur Bor Ceriakan Kehidupan Santri Darul Abror

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Jalan terjal dan sungai yang jauh kini tinggal kenangan bagi 35 santri Pondok Pesantren Darul Abror di Kampung Pondok Panjang, Cihara, Lebak. Belum lama ini, mereka menyambut dengan suka cita peresmian sumur bor yang dibangun berkat uluran tangan para donatur Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

“Alhamdulillah, akhirnya santri-santri kami tak perlu lagi bersusah payah mencari air bersih,” ungkap Ustadz Jumedi, pimpinan pesantren, dengan mata berkaca-kaca.

“Selama ini, mereka harus berjalan jauh ke sungai, melewati medan yang sulit. Saya selalu khawatir akan keselamatan mereka,” lanjutnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 20 Rabi’ul Awal 1446 (24/9//2024).

Kini, dengan adanya sumur bor ini, para santri bisa lebih fokus pada kegiatan belajar dan ibadah. David, salah seorang santri, mengungkapkan kegembiraannya,

“Kami sangat senang, sekarang sudah tidak perlu lagi jalan jauh ke sungai untuk mandi dan berwudhu. Terima kasih BMH!”

Pondok Pesantren Darul Abror, yang berbasis salafiyah tradisional, memiliki misi mulia untuk memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Meski dengan segala keterbatasan, mereka terus berjuang mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Bantuan sumur bor ini bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan air bersih, tetapi juga memberikan harapan dan semangat baru bagi para santri dan masyarakat sekitar.

“Semoga dengan akses air yang lebih mudah, proses belajar mengajar di pesantren ini semakin lancar, dan para santri dapat meraih cita-cita mereka dengan gemilang,” ungkap Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani (23/9/24).

“Terima kasih kepada seluruh donatur BMH yang telah berkontribusi dalam mewujudkan mimpi para santri Darul Abror. Semoga setiap tetes air yang mengalir dari sumur bor ini menjadi berkah yang tiada henti,” sambungnya.*/Herim

Kajian Maulud Nabi Muhammad Inspirasi Generasi Muda untuk Berdaya Saing

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — DKM Masjid Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menggelar kajian dalam rangka peringatan Maulud Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, Ahad malam, 18 Rabi’ul Awal 1446 (22/9/2024).

Ust. Abu A’la Abdullah, M.H.I., Ketua Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, hadir sebagai narasumber yang pada kesempatan tersebut menyajikan perkehidupan figur Rasulullah yang menginspirasi generasi masa kini untuk berdaya saing.

Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dengan tema “Uswah dan Qudwah Nabi Muhammad SAW Menjadi Generasi Berdaya Saing” ini berlangsung dari pukul 18:10 hingga 19:10 WIB, dihadiri oleh para santri, warga, dan ustadz, yang bertujuan untuk meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah.

Kegiatan ini dibuka dengan pembacaan Kalam Ilahi yang dilantunkan oleh Ananda Rajaie, santri kelas XII MA, membawa suasana khidmat yang penuh semangat.

Selanjutnya, acara inti pemaparan Ust. Abu A’la Abdullah, M.H.I. Dalam kesempatan ini, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam materi yang disampaikan, Ustadz Abu menekankan bahwa ciri-ciri generasi yang rusak adalah mereka yang meninggalkan shalat.

“Meskipun orangtua sudah baik, jika anak-anak tidak dididik dengan tauhid, ibadah, dan syariat yang baik, mereka akan tertelan oleh godaan setan,” ujarnya, menekankan pentingnya pendidikan spiritual dalam keluarga.

Beliau juga menegaskan bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala cinta lainnya adalah kunci untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

“Orang-orang yang memiliki cinta ini adalah yang akan menggapai kebahagiaan sejati,” tambahnya, mengajak untuk membangun fondasi spiritual yang kuat bagi generasi muda.

Generasi Berdaya Saing

Lebih jauh, Ustadz Abu mengungkapkan bahwa umat Islam memiliki potensi untuk memimpin dunia atas izin Allah, dengan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

“Jaminan untuk menjadi generasi unggul hanya bisa diperoleh jika kita berpegang pada nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Beliau mengajak para santri untuk berfokus pada pengembangan diri dan peningkatan kompetensi agar dapat bersaing di era global.

Ia pun mengajak menjadikan peringatan kelahiran Nabi untuk semakin mengenali dan mencintai beliau serta menjadikan momentum ini untuk merenungkan dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dengan memahami dan menerapkan uswah dan qudwah beliau, tegasnya, diharapkan santri dan kaum muslimin dapat menjadi generasi yang berdaya saing, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

(Laporan dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024)

Akhirnya Air Mengalir di Dukuh Cantel, Siap Alirkan Air Bersih ke Setiap Rumah

0

KEBUMEN (Hidayatullah.or.id) — Setelah bertahun-tahun menghadapi kekeringan yang menyiksa, warga Dukuh Cantel di Kebumen, Jawa Tengah akhirnya bisa bernapas lega.

Selasa lalu, 20 Rabi’ul Awal 1446 (24/9/2024), menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka. Sebuah sumur bor baru, hasil bantuan Laznas Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), diresmikan dan siap mengalirkan air bersih ke setiap rumah.

“Kami sangat berterima kasih kepada BMH,” ujar Mutholib, salah seorang tokoh masyarakat, dengan mata berbinar.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami semua,” imbuhnya.

Bukan hanya Mutholib, seluruh warga Dukuh Cantel menyambut sumur bor ini dengan suka cita. Bayangkan, tak perlu lagi berjalan jauh mencari air, tak perlu lagi khawatir akan kekeringan di musim kemarau.

Bapak Muhyidin, Sekretaris Camat Alian, turut hadir dalam peresmian dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BMH. Beliau memahami betul perjuangan warga di daerah perbukitan yang setiap tahunnya dilanda kekeringan.

Uqrom, dari BMH Kebumen, menjelaskan bahwa sumur bor ini adalah yang ke-17 yang mereka bangun di wilayah tersebut. Sebuah bukti nyata komitmen BMH untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Sumur bor ini, yang ditempatkan di RA Fikrul Insani dan dialirkan ke Masjid Nurul Huda, diharapkan akan menjadi sumber kehidupan bagi warga Dukuh Cantel.

Semoga air yang mengalir deras dari sumur ini bukan hanya menghilangkan dahaga, tapi juga membawa berkah dan harapan baru bagi mereka.

BMH telah membuktikan bahwa kepedulian dan aksi nyata bisa membawa perubahan besar. Semoga semangat berbagi ini terus mengalir, menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan, dan menghadirkan lebih banyak senyuman di pelosok negeri.*/Herim

Simpul Sinergi Perjalanan 12 Jam Membawa Bantuan untuk Mualaf Mentawai

0

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Melintasi laut dan daratan selama 12 jam, tim simpul sinergi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan YBM BRILiaN akhirnya tiba di Desa Goisooinan, Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Kamis, 15 Rabi’ul Awal 1446 (19/9/24). Bukan perjalanan biasa, tapi sebuah misi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan kepada 49 keluarga mualaf di sana.

Senyum bahagia terpancar dari wajah Bapak Jelbi, salah seorang mualaf, saat menerima bantuan sembako dan perlengkapan sholat.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan ini. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu semua,” ucapnya lirih.

Bapak Jelbi kemudian berbagi kisah inspiratifnya.

“Saya memutuskan menjadi mualaf di usia 25 tahun. Suara azan selalu menyentuh hati saya, mendorong saya untuk belajar lebih dalam tentang Islam,” katanya.

“Selama 6 bulan, saya belajar sholat bahkan sebelum resmi masuk Islam. Setelah itu, saya mulai mengajarkan teman-teman, dan Alhamdulillah, sekarang ada lebih dari 49 mualaf di desa kami,” lanjutnya.

Bapak Razi Wardhana, Kepala YBM BRILiaN Sumatera Barat, yang turut hadir dalam penyerahan bantuan, menyampaikan harapannya.

“Kami ingin bantuan ini bukan hanya meringankan beban ekonomi mereka, tapi juga menguatkan iman mereka. Kami berharap bisa menyalurkan bantuan lebih sering, minimal 2-4 kali setahun.”

Di tengah harga hasil pertanian yang tidak stabil, bantuan ini menjadi secercah harapan bagi para mualaf Mentawai. Bukan hanya tentang materi, tapi juga tentang semangat berbagi dan kepedulian yang menguatkan mereka dalam perjalanan iman.

Semoga kisah inspiratif ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus berbagi kebaikan, terutama kepada mereka yang sedang berjuang dalam menemukan jalan mereka menuju cahaya iman.*/Herim

Bahagia di Pelosok Lumajang Bersama Hadirkan Senyum Muallaf Suku Tengger

0

LUMAJANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah keindahan alam pegunungan Tengger, Desa Argosari, Senduro, Lumajang, terpancar kebahagiaan dari wajah-wajah para mualaf. Jumat hari itu menjadi hari yang istimewa bagi mereka, karena Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersinergi bersama dengan YBM BRILiaN hadir membawa bantuan berupa paket sembako dan perlengkapan ibadah, 16 Rabi’ul Awal 1446 (20/9/2024).

Puluhan paket bantuan tersebut diterima dengan penuh syukur oleh warga.

“Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ungkap Ibu Jumami, salah seorang penerima manfaat, dengan mata berkaca-kaca.

“Ini membantu kami memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga memperkuat ibadah kami.”

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar bantuan materi, tetapi juga bentuk dukungan spiritual.

“Kami ingin para mualaf di sini merasa didampingi dan didukung, baik secara materi maupun spiritual,” ujarnya.

Kolaborasi BMH dan YBM BRILiaN ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dapat menjangkau hingga pelosok negeri. Bantuan ini tidak hanya meringankan beban hidup, tetapi juga memberikan semangat baru bagi para mualaf dalam menjalani kehidupan dan memperdalam iman mereka.

“Semoga langkah inspiratif ini dapat menjadi contoh bagi kita semua untuk terus berbagi dan memberikan manfaat bagi sesama, terutama mereka yang berada di daerah terpencil dan membutuhkan uluran tangan,” tutup Muslim.*/Herim

Bersama Tebar Hijab Mekarkan Senyum Kebaikan di Singapore van Riouwarchipel

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Mentari pagi Ahad, 18-19 Rabi’ul Awal 1446 (22-23/9/2024) menyaksikan pemandangan indah di Pesantren Hidayatullah Batam. Bukan sekadar pengajian rutin, namun ada semangat berbagi yang meluap dari Muslimat Hidayatullah (Mushida) kota Batam yang didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Ratusan hijab, kaos kaki, dan baju gamis telah dibagikan, menebar senyum pada warga Sentosa Perdana.

“Hijab bukan hanya kain, tapi simbol ketaatan,” tutur Ibu Nurun, Ketua Mushida Batam, dengan mata berbinar.

“Semoga ini jadi langkah awal bagi mereka yang belum berhijab, penguat bagi yang masih maju-mundur, dan penyemangat untuk lebih istiqomah,” sambungnya.

Siti Fatimah, salah satu penerima manfaat program, tak kuasa menahan haru. Di kota berjuluk Singapore van Riouwarchipel itu, Fatimah sehari hari mengais rejeki membantu suami.

“Saya terharu, ternyata ada yang peduli. Semoga makin banyak yang merasakan kebaikan ini.”

Fatahillah, Kepala BMH Kepri, mengamini.

“Alhamdulillah, ini bukti nyata dukungan BMH untuk syiar Islam. Semoga hijab makin semarak di tengah masyarakat.”

Kegiatan ini bukan hanya soal pakaian, tapi juga tentang merangkul, memberi semangat, dan menunjukkan bahwa syariat Islam itu indah. Di balik setiap hijab yang dibagikan, ada doa, harapan, dan keyakinan akan kebaikan yang terus mengalir.*/Herim