Beranda blog Halaman 160

Ustadz Fadlan Garamatan Tekankan Pentingnya Keberlanjutan Dakwah Islam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam acara Tabligh Akbar bertajuk “Energi Iman untuk Gerakan Dakwah” yang berlangsung di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, guru masyarakat yang juga tokoh pendakwah nusantara KH. Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan menekankan pentingnya keberlanjutan dalam dakwah.

“Dakwah tidak boleh berhenti, dakwah harus seperti air mengalir. Kapan di bumi ini tidak ada dakwah, manusia akan kering mengenal Allah dan tidak mengikuti Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” ujar Fadlan di hadapan ratusan jamaah yang memadati komplek gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Sabtu, 17 Rabi’ul Awal 1446 (21/9/2024).

Dalam kesempatan tersebut, Fadlan berbagi inspirasi dakwah dengan menceritakan pengalaman yang pernah dengan penuh tantangan berdakwah selama lebih dari tiga bulan kepada seorang pendeta dan keluarganya.

Fadlan mengisahkan usahanya yang tak kenal lelah untuk bertemu pendeta bernama Pdt Alfon tersebut meskipun selalu terhalang. “Setiap kali saya ingin bertemu, beliau selalu sibuk,” katanya.

Tidak menyerah, di suatu pagi Fadlan berinisiatif mendatangi rumah sang pendeta tanpa perantara. “Subhanallah, saya lihat beliau sedang lari pagi di halaman rumahnya. Saya yakin pagi ini saya bisa bertemu,” ungkapnya.

Namun, pendeta tersebut segera lari masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya, tetapi lupa menutup pagar. Fadlan yang bertekad melanjutkan usahanya mengetuk pintu rumah itu, hanya untuk dihadapkan dengan istrinya yang marah-marah, menyatakan suaminya tidak di rumah. Begitu seterusnya, selama 30 hari berturut-turut.

Pada bulan kedua, Fadlan tetap datang setiap pagi. Bahkan pada hari ke-15, sang istri sudah menunggunya di depan rumah dan dengan marah menyebutnya “tidak bosan” mendatangi rumah mereka. Fadlan, dengan tenang, melanjutkan misinya. Meski ditolak berkali-kali, ia tetap mengetuk pintu rumah itu hingga dua bulan berlalu tanpa pertemuan.

Barulah pada bulan ketiga, Fadlan bisa bertemu ketika sang pendeta jatuh sakit, dan Fadlan berkesempatan untuk membesuknya di rumah sakit.

Setelah beberapa waktu dirawat, pendeta tersebut akhirnya bisa pulang. Dari interaksi rutin inilah, tidak hanya pendeta itu sendiri, tetapi keluarganya dan jemaahnya menyatakan keinginan mereka untuk memeluk Islam.

Tantangan Dakwah

Dalam menjalankan misi dakwahnya, Fadlan kerap mengalami tantangan yang tidak ringan. Berkali kali dia harus mendekam di penjara dengan tuduhan yang dibuat buat oleh pihak pihak yang tak suka dengan dakwahnya.

Demikian pula keluar masuk penjara adalah hal biasa baginya. Bahkan dia pernah nyaris kehilangan nyawa karena mendapat serangan tombak beracun yang menyasar salah satu anggota tubuhnya, beruntung dia masih sempat diselamatkan dan menjalani perawatan sekian bulan di rumah sakit.

Meski mengalami perlakuan sedemikian sistematis dan masif itu, bagi Fadlan, dalam berdakwah tidak boleh membawa kebencian, tapi harus dengan kasih dan cinta. Beberapa rekan yang membersamai kiprahnya sempat kehilangan kesabaran terhadap berbagai berbagai tindakan fisik yang dialaminya. Namun, Fadlan mengingatkan untuk tetap sabar.

“Jangan kau bangun kebencian dengan manusia, tugas kita adalah berdakwah. Kalau mau ikut atau tidak ikut, saya tetap jalan,” kata Fadlan dalam satu kesempatam ketika beberapa rekan perjuangannya melemah dan enggan mengikuti jalan perjuangan Fadlan yang berada di bawah ancaman kematian. Akhirnya semagat dakwah mereka kembali menyala.

Fadlan lantas mengingatkan bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih bergengsi di dunia ini selain dakwah. “Pekerjaan bergengsi ini tidak mengharapkan tepuk tangan dan pujian manusia, tetapi ridha Allah. Ketika kita mendakwahkan Islam, Allah akan menghadirkan hidayah lebih cepat daripada angin,” katanya.

Pada kesemapan tersebut, Fadlan berbagi inspirasi dakwah dimana ia pernah mengislamkan sebanyak 3.712 suku pedalaman di Papua dengan bekal keyakinan akan pertolongan Allah.

Ribuan orang suku ini mengikrarkan syadahat setelah selama berhari hari mereka diperkenalkan tentang agama Islam mulai dari mandi sampai pemahaman shalat oleh Fadlan bersama rombongannya yang harus menembus perkampungan itu selama berbulan bulan lamanya.

“Kami 20 dai langsung sujud menangis karena malu cuma bawa sabun, sampo, odol, sikat gigi, tidak bawa apa apa. Dan yang kedua yang kami bawa adalah nama Allah dan Rasul-Nya. Saat itu 3.712 orang akhirnya menyatakan syahadat dalam kondisi tidak pakai baju”

Acara Tabligh Akbar ini juga dihadiri oleh narasumber lainnya yaitu Ketua Umum DPP Hidayatullah KH. Dr. Nashirul Haq, MA, pegiat parenting KH. Zainuddin Musaddad, MA, serta turut dihadiri Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Ust Drs Nursyamsa Hadis yang didampingi Direktur Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) Ust. Ir. Iwan Abdullah, M.Si.

Acara ini terselenggara atas dukungan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), dan sejumlah pihak lainnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Meneropong Kepemimpinan Organisasi Islam Masa Depan

0

KEPEMIMPINAN dalam organisasi Islam masa depan memerlukan tokoh-tokoh yang bukan hanya mampu menjalankan peran administratif, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan besar yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Di era yang penuh tantangan global, sosial, politik dan teknologi, memaksa pemimpin organisasi Islam harus memiliki sifat-sifat yang unik dan mulia: mereka harus berperan sebagai mujahid (pejuang), mujtahid (pemikir kreatif), dan mujaddid (pembaharu).

Karakter tersebut hanya dapat terbentuk apabila mereka juga menjadi pribadi yang alim (berilmu) dan abid (ahli beribadah), sehingga dari sinilah lahir pemimpin yang visioner, progresif dan revolusioner, sehingga mampu membawa organisasi Islam menjadi kekuatan yang signifikan  dan diperhitungkan dunia.

Mujahid: Jiwa Perjuangan dan Pengorbanan

Seorang mujahid adalah pemimpin yang memiliki semangat perjuangan. Mereka adalah sosok yang tidak hanya berjuang dengan pedang, tetapi juga dengan pikiran, tindakan, dan pengorbanan dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Dalam konteks organisasi Islam masa depan, mujahid adalah pemimpin yang siap menggerakkan seluruh elemen organisasinya dalam rangka menghadapi tantangan zaman dengan penuh keteguhan hati dan keberanian moral.

Pemimpin masa depan haruslah mampu berjuang melawan ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi yang mengancam umat. Mereka harus memperjuangkan kepentingan umat dengan penuh komitmen, tidak mudah menyerah, dan siap menghadapi segala macam tekanan baik dari luar maupun dari dalam. Mereka juga perlu memastikan bahwa perjuangan mereka tidak sekadar retorika, melainkan diimplementasikan dalam kebijakan-kebijakan yang nyata.

Implementasi Futuristik: Pemimpin yang mujahid di era digital harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam. Mereka perlu menguasai media sosial, kecerdasan buatan, dan big data untuk membela kebenaran serta menyebarkan pesan-pesan dakwah. Melalui platform ini, perjuangan mereka tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga lebih efektif dalam menghadapi tantangan global.

Mujtahid: Pemikiran Kritis dan Ijtihad

Seorang mujtahid adalah pemimpin yang mampu melakukan ijtihad, yaitu usaha intelektual untuk menemukan solusi atas masalah-masalah baru yang belum terjawab oleh hukum-hukum yang ada. Pemimpin organisasi Islam masa depan harus memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kreatif, dan inovatif. Mereka tidak boleh terjebak dan terbelenggu dalam rutinitas dan pola pikir lama yang tidak lagi relevan dengan tantangan zaman.

Dalam dunia yang semakin kompleks, seorang mujtahid perlu merumuskan solusi-solusi yang relevan dan sesuai dengan perkembangan sosial, ekonomi, dan teknologi, tanpa meninggalkan landasan syariah dan akhlak Islam. Kemampuan untuk melakukan ijtihad ini harus dilandasi dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang luas, baik dalam ilmu agama maupun ilmu kontemporer.

Implementasi Futuristik: Pemimpin mujtahid di masa depan perlu mengadopsi pendekatan berbasis data dalam pengambilan keputusan. Dengan memanfaatkan analisis data besar (big data), mereka dapat membuat kebijakan yang lebih tepat dan efektif dalam memecahkan masalah umat. Teknologi seperti kecerdasan buatan dapat digunakan untuk melakukan prediksi dan analisis masalah sosial, sehingga ijtihad mereka didukung oleh data yang valid dan relevan.

Mujaddid: Pembaharu yang Progresif

Seorang mujaddid adalah pemimpin yang mampu melakukan tajdid atau pembaharuan, yaitu menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam yang telah dilupakan atau disalahartikan, serta memperbaiki keadaan umat sesuai dengan tuntunan zaman. Pemimpin organisasi Islam masa depan harus memiliki visi yang jauh ke depan dan berani melakukan perubahan yang diperlukan untuk kemajuan umat.

Mereka tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga siap melakukan inovasi yang sesuai dengan syariat Islam. Pembaharuan yang dilakukan oleh seorang mujaddid harus tetap berpijak pada akar ajaran Islam, namun juga terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Implementasi Futuristik: Pemimpin mujaddid masa depan perlu menciptakan struktur organisasi yang fleksibel dan adaptif, siap berubah sesuai dengan kebutuhan zaman. Mereka perlu mengadopsi model kepemimpinan yang lebih horizontal dan partisipatif, dengan melibatkan anggota organisasi dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, organisasi Islam dapat terus relevan dan responsif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan identitas Islamnya.

Alim dan Abid: Fondasi Spiritualitas dan Ilmu

Untuk memenuhi peran sebagai mujahid, mujtahid, dan mujaddid, seorang pemimpin organisasi Islam masa depan harus terlebih dahulu menjadi alim (berilmu) dan abid (ahli beribadah). Keilmuan yang dimiliki tidak hanya mencakup pengetahuan agama, tetapi juga ilmu pengetahuan kontemporer yang relevan dengan tantangan zaman. Sementara itu, abid berarti pemimpin tersebut memiliki kedekatan spiritual yang mendalam dengan Allah SWT, yang menjadi landasan moral dalam setiap tindakannya.

Kombinasi antara ilmu yang luas dan ibadah yang khusyuk akan melahirkan pemimpin yang bijaksana, adil, dan berakhlak mulia. Pemimpin yang alim dan abid tidak mudah terjebak dalam pragmatisme yang melupakan prinsip, tetapi selalu mengedepankan keadilan dan kebenaran dalam setiap kebijakan yang diambil.

Implementasi Futuristik: Pemimpin yang alim dan abid akan mendorong budaya organisasi yang berbasis pada pengembangan ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Mereka akan mendorong setiap anggota organisasi untuk terus belajar, baik ilmu agama maupun ilmu duniawi, sambil menjaga kualitas ibadah dan moralitas. Teknologi seperti platform e-learning dan aplikasi pengingat ibadah dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan spiritual dan intelektual dalam organisasi.

Kepemimpinan Visioner dan Revolusioner

Kombinasi karakter mujahid, mujtahid, dan mujaddid yang dilandasi dengan jiwa alim dan abid akan melahirkan pemimpin yang visioner dan revolusioner. Pemimpin seperti ini memiliki visi jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada kebutuhan saat ini, tetapi juga mempersiapkan umat untuk menghadapi masa depan. Mereka juga revolusioner dalam arti mampu melakukan perubahan mendasar yang membawa kemajuan bagi organisasi dan umat secara keseluruhan.

Pemimpin visioner dan revolusioner tidak takut mengambil risiko, selama risiko tersebut didasarkan pada prinsip kebenaran dan keadilan. Mereka memahami bahwa untuk mencapai kebangkitan peradaban Islam, diperlukan perubahan yang mendalam dan berani, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip Islam.

Implementasi Futuristik: Pemimpin yang visioner dan revolusioner akan memperkenalkan inovasi dalam struktur dan budaya organisasi. Mereka akan memperkenalkan model kepemimpinan yang berfokus pada pemberdayaan anggota, transparansi, dan akuntabilitas. Mereka juga akan mendorong kolaborasi lintas organisasi lokal dan internasional untuk memperluas pengaruh dan kontribusi organisasi Islam di tingkat global.

Kesimpulan: Masa Depan Kepemimpinan Organisasi Islam

Dengan pemimpin yang memiliki kualitas mujahid, mujtahid, mujaddid, serta fondasi alim dan abid, organisasi Islam di masa depan tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan peradaban yang memimpin dunia. Mereka akan mampu menawarkan solusi-solusi yang Islami untuk masalah-masalah global seperti ketidakadilan sosial, perubahan iklim, konflik antarnegara, dan krisis kemanusiaan.

Visi ini bukanlah utopia. Dengan kepemimpinan yang kuat dan berkarakter, organisasi Islam bisa menjadi penggerak perubahan yang mendunia, menjadikan nilai-nilai Islam sebagai panduan dalam menciptakan dunia yang lebih adil, damai, dan makmur. Pemimpin masa depan yang visioner dan revolusioner akan membawa peradaban Islam menjadi kekuatan dominan dalam peradaban global, tidak hanya sebagai pengikut, tetapi sebagai pemimpin perubahan. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

SD Integral Ummul Quro Hidayatullah Karawang Kuatkan Empat Aspek sebagai Fullday School Masa Kini

0

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Seiring dengan bertambah usia kiprahnya, Sekolah Dasar (SD) Integral Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Jawa Barat, terus berbenah untuk mantapkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan dasar yang selalu relevan dan terdepan yang menerapkan proses belajar mengajar dari pagi hingga sore hari (fullday school).

Kepala Sekolah SD Integral Hidayatullah Karawang Rusman Abdillah mengatakan memilih sekolah dasar yang tepat untuk anak di masa kini adalah salah satu keputusan penting yang harus dipikirkan matang-matang oleh para orang tua.

Karenanya, jelas dia, sebuah sekolah dituntut tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai mendasar dalam kehidupan anak.

Dia menyebutkan, ada 4 hal utama yang terus dikuatkan dalam memajukan lembaga pendidikan yang dipimpinnya itu yaitu penajaman visi, penguatan sumber daya manusia (SDM), kurikulum, dan sarana prasarana (Sarpras).

“Kami berupaya untuk selalu menguatkan keempat aspek ini, karena disadari ini tidak hanya menentukan kualitas pendidikan yang diberikan, tetapi juga bagaimana sekolah mampu membimbing anak untuk mencapai potensi terbaiknya,” kata Rusman dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 19 Rabi’ul Awal 1446 (23/9/2024).

Dia menjelaskan, visi yang kuat mengarahkan arah pendidikan jangka panjang dan SDM penyelenggara yang kompeten memastikan pelaksanaan pendidikan berkualitas.

Demikian pula, kurikulum yang relevan dan integral menjamin siswa memperoleh keseimbangan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai, serta sarana prasarana yang memadai mendukung proses pembelajaran secara optimal.

Rusman menyebutkan SD Integral Ummul Quro Hidayatullah, yang terletak di Desa Tegalsawah, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, memberikan perhatian penuh pada keempat aspek ini.

Dengan mengusung visi “Bertauhid, Berkarakter, dan Unggul”, imbuh dia, sekolah ini berupaya hadir di Karawang sebagai pilihan tepat bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan holistik berbasis nilai-nilai tauhid.

Rusman menjelaskan, visi pendidikan berbasis Tauhid didasarkan pada paradigma membangun peradaban Islam yang kokoh. Dalam pada itu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang unggul dalam peradaban selalu berangkat dari keyakinan mendalam mengenai eksistensinya di dunia.

“Tauhid, sebagai inti ajaran Islam dan nafas dakwah para nabi, merupakan fondasi utama bagi individu dan bangsa untuk mencapai kemajuan,” katanya, seraya menukil Al-Qur’an surah Fushilat ayat 30.

Anak muda yang sedang menempuh studi Pascasarjana di Universitas Widyatama Bandung ini menjelaskan, keunggulan pendidikan tidak hanya diukur dari kemenangan dalam perlombaan atau medali yang diraih, tetapi dari proses pembelajaran yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan usaha yang optimal.

Lebih jauh Rusman menyampaikan mereka di SD Integral Ummul Quro Hidayatullah Karawang mengemas dan mengelaborasi kompetensi secara khas memastikan setiap guru memiliki dalam tiga kompetensi utama yaitu Tilawah, Ta’limah, dan Tazkiyah.

Tilawah mencakup pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an dan kemampuan mengajarkannya, Ta’limah adalah kemampuan untuk menyampaikan ilmu secara efektif, selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya ilmu, dan, Tazkiyah yang berhubungan dengan kemampuan untuk mendidik diri sendiri dan siswa agar senantiasa membersihkan jiwa.

Dengan tiga kompetensi tersebut, jelasnya, pihaknya ingin bahwa setiap guru selaras dengan visi lembaga untuk membentuk generasi yang bertauhid, berkarakter, dan unggul.

“Dan yang paling utama perhatian kepada SDM ini terus mendorong agar senantiasa terlibat dalam pelatihan dan pengembangan berkelanjutan dihadapan tantangan pendidikan yang semakin kompleks,” terangnya.

Lebih jauh ia membeberkan pengembangan kurikulum yang memadukan standar kurikulum nasional dengan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) yang dirancang khusus untuk mewujudkan cita-cita pendidikan. Kurikulum ini kata dia berakar pada landasan filosofis ajaran Islam dan disusun berdasarkan kajian mendalam, menjadikan paradigma pandangan alam (weltanschauung) dalam menumbuhkan kesadaran empiris dan non-empiris secara ilmiah, alamiah, dan ilahiah.

“Tujuannya adalah untuk menstimulasi perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa secara seimbang, sebagaimana Al-Ghazali mengungkapkan, pendidikan harus memperhatikan keseimbangan antara aspek spiritual, emosional, dan intelektual manusia,” katanya.

Sarpas Dalam Diri Murid

Pihaknya pun memahami pentingnya sarana dan prasarana (sarpras) dalam pendidikan, terutama yang berbasis lingkungan, di mana siswa berinteraksi dengan alam sekitar. Namun, terangnya, sarana dan prasarana fisik di luar diri siswa bukan satu-satunya yang penting.

Dia menjelaskan, sarpras di luar diri siswa itu relatif keberadaanya seiring dengan sitimulus yang diberikan kepada siswa dalam merangsang sarana dan prasarana yang sudah melekat baik secara aktual dan potensialnya.

“Karena itu kami berikhtiar yang lebih utama dan sedikit yang mengetahui adalah bagaimana guru mampu mengoptimalkan ‘sarpras’ yang sudah ada pada diri siswa, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,” tegasnya yang mengutip Al Quran surah An-Nahl ayat 78.

Dikala ketiga instrumen tersebut aktif, siswa akan mampu melihat kekayaan sarpras dari lingkungan alam sekitar, bahkan lebih luas seperti matahari, bulan, bintang, langit biru, dan segala fenomena alam yang dapat sejauh siswa fokus aktif mengalami dalam mendengar, melihat, memahami.

“Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun, ‘alam adalah sumber belajar yang terbesar. Dari alam kita dapat mempelajari hukum-hukum kehidupan’,” katanya.

Rusman menambahkan, pendidikan sejati adalah yang menstimulus dan dengan memadukan kemampuan siswa untuk belajar dari apa yang ada di luar dan dalam dirinya.*/Abdul Malik Almandari

Kisah Sopir Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan Saksikan Situasi Memilukan di Gaza

0

DUA orang relawan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Dhiyauddin Sugiono dan Arif Rahman, yang saat ini berada di Amman, Yordania, berbagi cerita menarik mengenai pengiriman bantuan ke Gaza.

Mereka bertemu dengan Abdullah, seorang sopir truk yang membawa bantuan kemanusiaan menuju wilayah konflik tersebut.

Abdullah menceritakan bahwa perjalanan menuju Gaza, jika tidak ada kendala, memakan waktu sekitar tiga hari. Selama perjalanan dari perbatasan Yordania hingga Gaza, setiap truk yang membawa bantuan selalu dikawal oleh seorang tentara Israel.

Ketika ditanya tentang kondisi di dalam Gaza, Abdullah menggambarkan situasi yang sangat memilukan di sana.

“Semua bangunan hancur, anak-anak berteriak meminta pertolongan, dan para wanita tak kalah memelas,” ujarnya.

Abdullah, yang memiliki lima orang anak, tak dapat menahan kesedihannya ketika menceritakan keadaan di sana.

Thoriq, seorang pria yang dikenal teguh menjaga sholat lima waktunya di mana pun berada, juga memberikan pandangannya.

Ia mengungkapkan bahwa meski perjalanan menuju Gaza relatif singkat, proses perizinan yang rumit untuk membawa bantuan membuat waktu tempuh menjadi jauh lebih lama.

“Verifikasi bantuan yang masuk membutuhkan waktu lebih lama dari yang seharusnya,” jelasnya.

Menariknya, meski kedua negara tersebut menjalin hubungan diplomatik secara resmi sejak 1994 dengan menandatangani perjanjian perdamaian Israel–Yordania, umumnya penduduk Yordania tidak mengakui keberadaan negara Israel. Mereka lebih memilih menyebut wilayah tersebut sebagai bagian dari Palestina.*/Herim

12 Kontainer Solidaritas Indonesia untuk Palestina Mengalir Melalui Yordania

AMMAN (Hidayatullah.or.id) — Jumat, 20 September 2024, menjadi momen mengharukan di tengah perjuangan panjang rakyat Palestina. Duta Besar Indonesia untuk Yordania, Ade Padmo Sarwono, dengan penuh semangat melepas konvoi kemanusiaan berisi 12 kontainer bantuan dari POROZ, sebuah asosiasi lembaga zakat ormas Islam Indonesia.

Tepung gandum, sembako, dan perlengkapan kebersihan memenuhi kontainer-kontainer tersebut, siap menembus blokade dan menghadirkan secercah harapan bagi warga Gaza yang telah hampir 350 hari menghadapi penderitaan akibat konflik berkepanjangan.

“Bantuan ini adalah bukti nyata solidaritas kemanusiaan warga Indonesia untuk saudara-saudara kita di Gaza,” ujar relawan BMH, Dhiyauddin Sugiono didampingi Arief Rachman di lokasi.

“Semoga bantuan ini bisa terus berlanjut, dan bukan yang terakhir kalinya,” harapnya.

Perjalanan bantuan ini tak mudah. Dari Amman, konvoi akan melintasi King Hussein Bridge Border Crossing menuju Jerusalem, lalu Hebron, sebelum akhirnya mencapai Gaza melalui Erez crossing/check point.

Namun, semangat kemanusiaan tak kenal lelah. Pimpinan-pimpinan lembaga zakat seperti BMH, Lazismu, Lazisnu, Laz DDI, Laz Persis, Laz Al Irsyad, dan Laz WIZ hadir dalam pelepasan, menunjukkan komitmen bersama untuk Palestina.

Supendi, Direktur Utama BMH, menambahkan bahwa bantuan ini adalah amanah dari para donatur yang ingin meringankan beban saudara-saudara di Palestina. “Sejak awal konflik, BMH telah menyalurkan bantuan lebih dari 10 miliar rupiah, dalam berbagai bentuk,” ungkapnya.

Di balik angka-angka statistik, ada kisah-kisah perjuangan dan harapan. Ada doa-doa tulus dari rakyat Indonesia yang terkirim bersama setiap paket bantuan. Ada semangat persaudaraan yang tak lekang oleh waktu dan jarak.

Konvoi kemanusiaan ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia tak pernah berhenti mencintai Palestina.

“Semoga bantuan ini menjadi titik terang di tengah kegelapan, memberikan kekuatan dan semangat bagi warga Gaza untuk terus berjuang meraih kemerdekaan dan kehidupan yang lebih baik,” tutup Supendi.*/Herim

Menjaga Ketahanan Keluarga dengan Berdayakan Diri Lewat Training Parenting

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Derasnya arus perubahan zaman yang penuh goncangan negatif dan destruktif, menjadikan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Kalimantan Utara tak tinggal diam.

Mereka berkumpul, berbagi ilmu, dan saling menguatkan dalam sebuah Training Parenting yang digelar oleh Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (PW Mushida) Kaltara, dengan dukungan penuh dari Laznas BMH di Kota Nunukan, 16-18 Rabi’ul Awal 1446 (20-23/9/24).

Bukan sekadar pelatihan biasa, acara ini adalah wujud nyata dari semangat para muslimah untuk menjadi ibu dan istri yang tangguh, serta menyiapkan generasi penerus yang berkualitas.

Ustz. Ainun Jariah, S.Pd, Ketua PW Mushida Kaltara, mengungkapkan harapannya agar training ini dapat membekali para peserta dengan pemahaman yang mendalam tentang berumah tangga.

“Agar para muslimah dan ibu bisa kuat dan cerdas dalam menyiapkan generasi pelanjut demi ketahanan keluarga,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sebanyak 21 muslimah utusan dari berbagai daerah di Kaltara hadir dalam pelatihan ini. Mereka datang dengan tekad yang sama: belajar dan bertumbuh bersama demi menciptakan keluarga yang harmonis dan berdaya.

Darniaty, Ketua PD Mushida Nunukan sekaligus panitia acara, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini.

“Terima kasih kepada para instruktur yang luar biasa dan para donatur, terkhusus Laznas BMH Kaltara,” ucapnya.

Training Parenting ini bukan hanya tentang teori, tetapi juga tentang berbagi pengalaman dan saling menguatkan. Para peserta diajak untuk menggali potensi diri, memahami peran mereka sebagai ibu dan istri, serta belajar bagaimana mendidik anak dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.

Diharapkan, setelah mengikuti pelatihan ini, para muslimah Kaltara dapat menjadi agen perubahan dalam keluarga dan masyarakat.

“Mereka akan menjadi ibu yang inspiratif, istri yang suportif, dan teladan bagi generasi mendatang,” tutup Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Nor Komara.*/Herim

Daurah Marhalah Wustho NTT Membentuk Kader Dakwah Tangguh Ditengah Perubahan Zaman

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Berlokasi di Pesantren Hidayatullah Batakte, Kupang, Nusa Tenggara Timur, semangat pembangunan manusia dalam dakwah terasa begitu kuat dan terus diperkuat.

Selama empat hari, dari tanggal 20 hingga 23 September 2024, 33 kader Hidayatullah dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur berkumpul dalam Daurah Marhalah Wustho (DMW).

Ust. Muhammad Shaleh Usman, M.IKom, Master of Daurah, menegaskan pentingnya DMW ini untuk mempersiapkan kader-kader Hidayatullah menghadapi tantangan zaman.

“Kita harus melek dan tanggap terhadap perubahan, namun tetap kokoh pada jati diri kelembagaan,” ujarnya, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Sabtu, 17 Rabi’ul Awal 1446 (21/9/2024).

M. Anwar, Ketua Panitia DMW NTT, melihat antusiasme peserta sebagai bukti semangat mereka untuk terus berkembang.

“Alhamdulillah, peserta dari berbagai daerah hadir, menunjukkan komitmen mereka dalam memperkuat kapasitas diri,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, sebanyak 33 peserta, terdiri dari 17 putra dan 16 putri dari berbagai daerah seperti Flores Timur, Ngada, Kabupaten Kupang, Mabar, dan Kota Kupang, telah mengikuti kegiatan ini,” sambungnya.

DMW ini menjadi wadah bagi para kader untuk memperdalam pemahaman tentang khittah, visi, misi, dan jati diri Hidayatullah.

Mereka juga mendapatkan pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi, serta berbagai keterampilan dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Dengan semangat yang membara, para kader Hidayatullah siap terjun ke masyarakat, membawa perubahan positif dan berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik.*/Herim

Al-Alaq sebagai Tantangan Intelektual Menemukan Tuhan

0

TULISAN ini bukanlah sebuah tafsir, melainkan hasil ikhtiar refleksi diri mentadaburi surah Al-‘Alaq yang penulis merasa perlu renungkan kembali dari sebuah materi kajian majelis pekanan.

Refleksi ini menarik ingatan penulis pada sebuah makalah diskusi yang pernah dibuat dan menjadi bahan diskusi menarik sekira 15 tahun silam dengan judul “Menemukan Tuhan dengan Akal”.

Dalam perjalanan pemikiran yang penulis tuangkan pada makalah tersebut, menjelajahi pencarian tentang Tuhan melalui kemampuan akal manusia, yang dalam pandangan ini sangat erat dengan perintah “iqra” dalam ayat-ayat pertama Al-Quran diturunkan.

Dengan penyegaran dari kajian yang penulis dapatkan mencoba mengelaborasi, menatadaburi sebagai upaya untuk mengaitkan dan menguatkan pembacaan antara filsafat (aktivitas intelektual) dan wahyu, serta bagaimana keduanya saling melengkapi dalam mengarahkan manusia menuju pemahaman tentang Tuhan.

Iqra’ sebagai Tantangan Filsafat

Perintah pertama dalam wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad adalah “Iqra”—bacalah, berfilsafatlah. Ayat ini sering dipahami sebagai ajakan kepada manusia untuk memulai dengan membaca teks atau ayat-ayat yang tertulis.

Namun, dalam konteks tadabur ini, perintah “bacalah” juga bisa dipahami sebagai dorongan untuk mengaktifkan seluruh instrumen pemahaman manusia, termasuk penglihatan, pendengaran, dan hati.

Dalam arti yang lebih dalam, jika filsafat adalah aktivitas berfikir secara sistematik dan radikal menemukan kebenaran, perintah “bacalah” ini merupakan tantangan bagi manusia untuk “berfilsafatlah”, yaitu menggali makna hidup dan kehidupan menjangkau eksistensi dengan kemampuan terbaik akalnya–secara sistemik, radikal dan bebas.

Ketika manusia benar-benar berfilsafat, sampailah pada penemuan sebuah eksistensi yaitu harus adanya Sebab Pertama, atau apa yang disebut oleh Aristoteles sebagai Prime Mover—Sesuatu yang menjadi sebab bagi segala sesuatu, tetapi tidak disebabkan oleh apapun.

Namun, disinilah kebingungan dimulai. Dalam sejarah filsafat, meskipun banyak yang sepakat akan adanya Tuhan sebagai sebab pertama, para filsuf berbeda pendapat tentang siapa Tuhan itu sebenarnya.

Ada sikap skeptis, berjalan dalam kebingungan, sementara yang lain menciptakan konsep-konsep mistis tentang Tuhan sesuai dengan keterbatasan akal dan persepsi mereka. Hingga pun mereka sampai pada “bismirabbik” (dengan nama Tuhanmu), namun tidak tahu pasti siapa Tuhan itu sebenarnya.

Menariknya, menurut hemat penulis, “bismirabbik” adalah konsekuansi dari membaca. Siapapun yang membaca akan mengikatkan diri pada bacaanya. Sambungannya ujung ayat pertama “alladzi khalaq” semacam pernyataan tantangan yang datang dari sebuah pengatahun “jika kalian membaca dan menemukan Tuhan atau sesuatu yang mengikatkan diri pada bacaan kalian, siapakah itu (ikatan/Tuhan) yang dimaksud?”

Manusia yang berfilsafat mungkin bisa sampai pada konsep yanga mengikat diri atas bacaan katakalanlah konsep Tuhan sebagai sebab pertama, tetapi mereka tetap berada dalam keraguan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya. Maka, ayat pertama ini perintah sekaligus menjadi tantangan: jika kalian telah membaca dan menemukan Tuhan, mampukah Tuhan kalian menciptakan?

Di sini, muncul perdebatan yang panjang dalam filsafat. Jean-Paul Sartre dan Nietzsche, misalnya, berpendapat bahwa konsep Tuhan adalah ilusi yang diciptakan oleh manusia. Sartre melihat eksistensi manusia sebagai absurditas tanpa tujuan, sedangkan Nietzsche menyatakan bahwa Tuhan telah mati—sebuah pernyataan bahwa konsep Tuhan tidak lagi relevan bagi moralitas dan makna hidup manusia modern.

Bahkan, Descartes yang mengandalkan akal dalam menemukan Tuhan lewat argumen “Cogito ergo sum” (Aku berpikir maka aku ada), juga tidak mampu memberikan gambaran definitif tentang Tuhan atau sesuatu yang ada itu selain sebagai gagasan abstrak.

Menjawab Kebingungan Filsafat

Dalam kebingungan dan ketidakmampuan akal menjawab tantangan pada ayat pertama secara lengakapnya. Ayat kedua dari Surah Al-‘Alaq, yakni dengan mengulang kata “alladzi khalaq” (yang menciptakan), muncul sebagai jawaban atas kebingungan filsafat tentang Tuhan.

Tuhan yang diperkenalkan di sini adalah Tuhan yang menciptakan. Ini adalah Tuhan yang bukan hanya konseptual, bukan pula Tuhan yang dipersepsikan atau direkayasa oleh imajinasi manusia, melainkan Tuhan yang nyata, yang menciptakan segala sesuatu.

Ayat ini adalah pemutus perdebatan filsafat yang sering menemui kebuntuan ketika harus menjelaskan siapa Tuhan itu. Friedrich Nietzsche mungkin telah menyatakan bahwa Tuhan telah mati, tetapi ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang menciptakan.

Menegaskan bahwa Tuhan yang diperkenalkan oleh Al-Quran bukan sekadar Tuhan yang dipahami secara filosofis, tetapi Tuhan yang memiliki kuasa penuh, Tuhan yang telah menciptakan manusia dari alaq (segumpal darah).

“Alaq” di sini melambangkan bahwa manusia berasal dari sesuatu yang sangat sederhana dan tidak berdaya. Dari situ, Tuhan membentuk manusia menjadi makhluk yang kompleks, berakal, dan mampu berpikir. Hal ini memberikan penjelasan yang kuat bahwa Tuhan lebih dari sekadar Sebab Pertama; Dia adalah Tuhan yang menciptakan dari ketiadaan dan dengan jelas memulai eksistensi manusia.

Dengan penjelasan ini, belum ada jawaban konsep Tuhan secara intelektual dan fenomenal yang sebelumnya mengawali dan mampu menjelaskan sejak kemunculan ayat ini baik sebagai subtitute dan bahkan second opinion sekalipun.

Mengenal Tuhan yang Maha Mulia

Ayat ketiga, “Iqra’ wa rabbukal akram” (Bacalah, dan Tuhanmu adalah Yang Maha Mulia), membawa perintah “bacalah” ke tingkat yang lebih dalam. Setelah mengenali Tuhan sebagai Pencipta, manusia diajak untuk memahami bahwa Tuhan juga adalah Yang Maha Mulia (al-Akram).

Filsafat mungkin membawa manusia untuk menemukan Tuhan sebagai pencipta, tetapi manusia tetap akan meraba-raba dalam memahami kemuliaan Tuhan dan hubungannya dengan makhluk ciptaan-Nya.

Kemuliaan Tuhan tidak hanya terletak pada penciptaan, tetapi juga pada bagaimana Dia mengurus dan mengajarkan makhluk-Nya. Tuhan tidak menciptakan manusia lalu meninggalkannya begitu saja, tetapi dengan penuh kasih dan kebijaksanaan, Dia mengajarkan manusia melalui wahyu dan akal.

Ini adalah pengingat bahwa manusia, seberapapun kuatnya dalam berpikir dan berfilsafat, tetap memerlukan bimbingan dari Tuhan yang Maha Mulia.

Dalam filsafat, konsep Tuhan sering dipahami sebagai penggerak utama yang tidak terlibat dalam kehidupan makhluknya. Namun, ayat ini menantang konsep tersebut, menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya mencipta, tetapi juga terus terlibat dalam mengajarkan manusia, bahkan mengurusi, menjaga semua ciptaaNya.

Kemuliaan Tuhan ini mengingatkan kita pada bahwa setiap makhluk, terutama manusia, membutuhkan Tuhan bukan hanya sebagai pencipta, tetapi sebagai pendidik dan pengajar.

Pengajaran Ilahi

Ayat keempat, “alladzi ‘allama bil qalam” (yang mengajarkan dengan pena), menjelaskan lebih lanjut tentang peran Tuhan sebagai pengajar. Tuhan, dengan segala kemuliaan-Nya, mengajarkan manusia melalui alat komunikasi yang paling mendasar: pena. Pena di sini adalah simbol dari ilmu pengetahuan, tradisi intelektual, dan kemampuan manusia untuk belajar dan mencatat.

Dalam konteks ini, wahyu menegaskan bahwa manusia pada dasarnya tidak tahu apa-apa. Bahkan dengan semua kemampuan berfilsafatnya, manusia tetap tidak akan bisa mencapai pemahaman yang sempurna tentang Tuhan tanpa pengajaran langsung dari Tuhan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh para filsuf seperti Heidegger, manusia modern mengalami krisis makna dalam kehidupan. Mereka mungkin memahami realitas fisik, tetapi mereka tetap kebingungan dalam menghadapi realitas metafisik. Inilah peran pengajaran Ilahi yang menjembatani kebingungan manusia dalam pencarian makna.

Ayat kelima sebagai pamungkas mempertegas bahwa kebingungan, perdebatan yang panjang tak berujung adalah keadaan yang melekat bahwa pengetahuan manusia terbatas. Maka “allama al-insana ma lam ya’lam” (mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya), menutup tadabur ini dengan pernyataan yang sangat jelas bahwa hanya dengan pengajaran Tuhanlah manusia dalam keterbatasannya bisa mengetahui hakikat hidup, alam semesta, dan dirinya sendiri.

Tuhan mengajarkan manusia apa yang tidak ia ketahui, termasuk tentang dirinya sendiri dan tentang Tuhan. Tanpa pengajaran Ilahi, manusia akan tetap berada dalam kebingungan meskipun mereka berusaha keras mencari Tuhan melalui akal dan filsafat.

Refleksi ini adalah upaya untuk menggabungkan antara pencarian filsafat (aktivitas intelektual) dan tadabur wahyu dalam memahami Tuhan. Ketika manusia berfilsafat, ia akan sampai pada batas akalnya, dan pada titik itulah wahyu datang sebagai penjelasan yang paling pasti, lengkap dan siap.

Perintah “iqra’” membawa manusia untuk merenungkan alam semesta, dirinya sendiri, dan sampai pada pengakuan bahwa Tuhan yang menciptakan ini adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah.

Lima ayat pertama surah Al-‘Alaq semacam pondasi bagi para pencari kebenaran hakiki. Menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pengajar yang Maha Mulia, yang dengan penuh kasih sayang mengajarkan dan mengurusi makhluk-Nya apa yang tidak mereka ketahui. Filsafat mungkin membantu kita menemukan Tuhan, tetapi hanya wahyu yang dapat mengenalkan Tuhan dengan sepenuhnya. Wallahu ‘alam.

*) Rusman Abdillah, S.E, penulis adalah intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Kepala Sekolah SD Integral Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Jawa Barat

Dai di Pelosok Tinombala Kini Melaju Kencang di Jalan Dakwah Berkat Armada Baru

0

PARIGI MOUTONG (Hidayatullah.or.id) — Jumat penuh berkah, 16 Rabi’ul Awal 1446 (20/9/2024), menjadi hari yang istimewa bagi Ustadz Jayman, seorang dai tangguh yang berdedikasi di wilayah perbatasan Tinombala, Sulawesi Tengah-Gorontalo.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sulteng, melalui program Armada Dakwah, memberikan sebuah motor baru yang akan menjadi ‘kuda besi’ sang dai dalam menebar kebaikan di pelosok daerah.

“Alhamdulillah, ini adalah berkah yang luar biasa,” ucap Ustadz Jayman dengan senyum sumringah.

“Dengan motor ini, saya bisa menjangkau lebih banyak masyarakat, mengunjungi desa-desa terpencil, dan menyampaikan pesan-pesan Islam dengan lebih mudah,” imbuhnya.

Selama ini, Ustadz Jayman harus berjuang keras menghadapi medan yang sulit dan jarak yang jauh dalam menjalankan tugas dakwahnya.

Dengan adanya motor baru ini, ia dapat menghemat waktu dan tenaga, sehingga dapat lebih fokus pada kegiatan dakwah dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Ahmad Lasamuri, Kepala BMH Perwakilan Sulteng, mengungkapkan rasa syukurnya dapat mendukung kiprah dakwah Ustadz Jayman. “Kami berharap, dengan adanya armada dakwah ini, Ustadz Jayman dapat semakin semangat dan produktif dalam menyebarkan kebaikan,” ujarnya.

Motor baru ini bukan hanya sekadar kendaraan, tetapi juga simbol dukungan dan apresiasi bagi para dai yang berjuang di garis depan dakwah. BMH Sulteng berkomitmen untuk terus memberikan bantuan dan fasilitas yang dibutuhkan para dai, agar mereka dapat menjalankan tugas mulia mereka dengan lebih optimal.

Di Tinombala, semangat dakwah kini semakin berkobar. Ustadz Jayman, dengan motor barunya, siap menjelajahi setiap sudut wilayah, menyapa umat, dan menyebarkan cahaya Islam. Semoga langkahnya selalu diberkahi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.*/Herim

Hadir Merajut Harapan Korban Ditengah Reruntuhan Gempa Bandung dan Garut

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Bandung dan Garut pada Rabu, 14 Rabi’ul Awal 1446 (18/9/2024) meninggalkan luka mendalam, baik fisik maupun batin. Ratusan bangunan hancur, termasuk fasilitas umum yang vital.

Ditengah keputusasaan, SAR Hidayatullah bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Jabar hadir sebagai secercah harapan, bergerak cepat untuk meringankan beban para penyintas.

Tim simpul sinergi Hidayatullah Jabar, tanpa kenal lelah, menyusuri jalanan berdebu menuju Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Di tenda-tenda pengungsian yang berjejer, mereka menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok, dari makanan hingga perlengkapan ibadah. Namun, lebih dari sekadar bantuan materi, mereka juga membawa semangat dan doa untuk menguatkan para korban.

“Bantuan dari Laznas BMH ini sangat berarti bagi kami yang saat ini sedang diuji dengan situasi sulit,” ujar Ibu Euis, salah satu penerima manfaat, dengan mata berkaca-kaca. Ucapannya mewakili perasaan ratusan korban lainnya, yang merasakan langsung dampak dari kebaikan dan solidaritas yang ditunjukkan oleh BMH.

Yosep Suhendar, Kadiv Prodaya BMH Jabar sekaligus koordinator lapangan, menegaskan bahwa aksi ini adalah wujud nyata dari komitmen BMH dalam melayani masyarakat.

“Kami berada di sini untuk memastikan bahwa setiap bantuan yang diberikan dapat benar-benar membantu mereka yang terdampak,” tuturnya.

Di balik setiap paket bantuan yang disalurkan, tersimpan harapan akan pemulihan dan kehidupan yang lebih baik. BMH Jabar, melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah, telah membuktikan bahwa kepedulian dan solidaritas dapat menjadi kekuatan besar dalam membantu sesama.

Gempa bumi mungkin telah meruntuhkan bangunan, tetapi tidak dengan semangat dan harapan. BMH Jabar, bersama masyarakat, bahu-membahu membangun kembali kehidupan, menanamkan keyakinan bahwa bersama-sama, kita bisa melewati masa sulit ini.

Di tengah reruntuhan, semangat kemanusiaan tetap tegak berdiri. BMH Jabar, dengan langkah nyata, telah menunjukkan bahwa zakat, infak, dan sedekah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga sarana untuk membangun kembali kehidupan dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.*/Herim