Beranda blog Halaman 158

Direktur KMH Uraikan Salah Satu Nikmat Terbesar di Hadapan Peserta Kursus Muballigh Angkatan IV

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pagi yang cerah di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, berlangsung kegiatan untuk pekan pertama dari dua rangkaian acara Kursus Muballigh Profesional Angkatan IV yang digelar Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Sabtu, 24 Rabi’ul Awal 1446 (28/9/2024).

Direktur Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) Ustaz Iwan Abdullah, M.Si, dalam sambutannya, membuka dengan ungkapan kontemplatif mengenai syukur yang mendalam di hadapan peserta yang berasal dari berbagi kalangan mulai dari pensiunan, ASN, pegawai BUMN, dosen, mahasiswa dan aktivis masjid.

Menurutnya, salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kemudahan untuk memahami agama ini. Dalam setiap langkah kehidupan, pemahaman akan agama menjadi pedoman yang mulia.

“Salah satu nikmat yang sangat mahal adalah ketika Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memahami ajaran agama ini. Sekedar paham saja itu sudah sangat mulia, apalagi kalau kemudian kita dipilih oleh Allah, sebagaimana diabadikan alam Al Quran,” ucapnya dengan nada penuh syukur, sembari mengutip firman Allah dalam Surat Fussilat Ayat 33:

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'”

Ayat ini seolah menjadi penegasan bahwa berdakwah, menyeru manusia kepada Allah, adalah salah satu amalan terbaik yang dapat dilakukan oleh seorang mukmin.

Ustaz Iwan menekankan bahwa setiap peserta kursus ini adalah orang-orang pilihan, yang diberi tanggung jawab oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya.

Dakwah Sebagai Amanah

Lebih jauh, Ustaz Iwan menyampaikan bahwa ilmu yang akan didapatkan dalam kursus ini adalah bekal berharga dalam menjalankan dakwah di tengah masyarakat. Dakwah, lanjutnya, bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh kesabaran, keteguhan hati, serta niat yang lurus hanya karena Allah.

Ia menegaskan, “Dengan kesyukuran kita seperti ini, maka saya sangat yakin, kita mendapatkan ilmu dan menjalankan dakwah karena Allah telah memilih kita menjadi penyambung lidah untuk menyampaikan risalah Rasulullah SAW.”

Tugas seorang muballigh bukan hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga menjadi contoh bagi umat. Para muballigh harus mampu meneladani akhlak Rasulullah SAW, yang dengan kelembutannya mampu menarik hati orang-orang di sekitarnya.

Iwan mengingatkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang hikmah, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Dalam perjalanan dakwah, akan ada banyak tantangan dan rintangan, namun dengan keikhlasan dan tawakkal kepada Allah, semua itu dapat dihadapi.

Persaudaraan yang Erat

Salah satu poin penting yang disampaikan Ustaz Iwan dalam sambutannya adalah tentang persaudaraan yang terjalin di antara para peserta kursus. Ia dengan penuh kehangatan menyebutkan bahwa hari ini, ia dan panitia mendapatkan saudara-saudara baru.

“Yang paling penting hari ini adalah saya, panitia, mendapatkan saudara baru, di mana bapak-bapak peserta semua sudah kami anggap sebagai saudara. Begitupun sebaliknya, bapak-bapak juga mendapatkan saudara baru dari sesama peserta,” ungkapnya.

Persaudaraan dalam Islam, tambahnya, bukan sekadar hubungan biasa. Ini adalah ikatan yang kuat, yang terjalin karena iman dan kecintaan kepada Allah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.

Ustaz Iwan berharap, hubungan persaudaraan yang terjalin selama kursus ini tidak hanya berlangsung selama program berlangsung, tetapi juga akan terus terjaga bahkan hingga di akhirat kelak.

Dengan mengutip hadits Rasulullah SAW, Ustaz Iwan menyampaikan harapannya yang tulus, “Kita berkumpul di sini karena iman dan persaudaraan Islam, semoga juga di akhirat kelak kita juga dikumpulkan di surga-Nya Allah.”

Ia menambahkan sebuah hadits yang menggambarkan betapa besarnya syafaat seorang muslim dengan sahabatnya pada hari kiamat, yang dapat menolongnya dari api neraka. Hadits tersebut menjadi penutup yang kuat, mengajak para peserta untuk menjalin hubungan yang erat dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Al Qur’an sebagai Mukjizat Abadi, Penuntun Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

0

AL QUR’AN, kitab suci umat Islam, adalah mukjizat terbesar dan abadi yang pernah diberikan kepada umat manusia. Sebagai wahyu ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lebih dari 1400 tahun yang lalu, Al-Qur’an tetap relevan dan terus memberikan petunjuk hingga akhir zaman.

Sebagai mukjizat, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bukti kenabian Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang sempurna bagi seluruh umat manusia, terlepas dari waktu dan tempat.

Sayangnya, tidak sedikit umat Islam yang belum sepenuhnya menyadari keistimewaan Al-Qur’an ini, sehingga mereka mengabaikan anugerah besar tersebut.

Mukjizat Al-Qur’an yang Abadi

Mukjizat adalah sesuatu yang luar biasa dan tak terjangkau oleh logika manusia, yang terjadi sebagai bukti kenabian seorang rasul. Dalam sejarah para nabi, pelbagai mukjizat telah diberikan Allah untuk menguatkan dakwah mereka.

Namun, di antara mukjizat tersebut, Al-Qur’an memiliki karakteristik yang unik, yaitu keberlangsungannya yang abadi. Mukjizat Al-Qur’an tidak terbatas pada waktu tertentu atau peristiwa sesaat, tetapi berlaku sepanjang masa.

Mukjizat-mukjizat dari nabi sebelumnya, seperti tongkat Nabi Musa AS yang berubah menjadi ular, atau kemampuan Nabi Isa AS menyembuhkan penyakit, hanya terjadi pada waktu dan tempat tertentu. Tetapi, Al-Qur’an sebagai mukjizat bersifat universal dan abadi, berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa batas waktu. Ini ditegaskan dalam firman Allah:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya” (QS. Al-Hijr: 9)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya sekedar mukjizat pada zamannya saja, melainkan akan terus terjaga kemurniannya hingga akhir zaman. Inilah yang membuat Al-Qur’an berbeda dari kitab-kitab suci lainnya, yang mengalami perubahan atau hilang ditelan waktu.

Keistimewaan ini juga menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an adalah pegangan yang tidak pernah usang dan terus memberikan petunjuk, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” (HR. Malik)

Sumber Kebahagiaan Hakiki

Salah satu aspek penting dari mukjizat Al-Qur’an adalah keberadaannya untuk menjadi sumber kebahagiaan yang hakiki bagi mereka yang menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an memberikan pedoman yang lengkap dalam segala aspek kehidupan, mulai dari ibadah hingga muamalah, menuntun manusia dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Siapa pun yang mengamalkan ajaran Al-Qur’an akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki, sebagaimana firman Allah:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang baik, yang penuh dengan kebahagiaan dan ketenangan, hanya bisa dicapai melalui iman dan amal saleh yang berpijak pada ajaran Al-Qur’an.

Al-Qur’an menjadi sumber pencerahan spiritual dan kebahagiaan dunia-akhirat. Umat Islam yang menghidupkan Al-Qur’an dalam hidup mereka, baik melalui membaca, memahami, maupun mengamalkan ajarannya, akan selalu mendapatkan petunjuk dari Allah dan hidup dalam ketenangan.

Mengingat keistimewaan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar dan sumber kebahagiaan, tidaklah mengherankan jika pekerjaan terbaik yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim adalah mempelajari dan mengajarkannya. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya mempelajari Al-Qur’an, baik dari segi membaca (tilawah), memahami makna (ta’limah), maupun mengamalkannya (tazkiyah) sebagai proses perbaikan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Proses belajar dan mengajarkan Al-Qur’an tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain, sehingga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun orang tersebut telah meninggal dunia.

Menghidupkan Al-Qur’an

Menghidupkan Al-Qur’an berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam ibadah, muamalah, maupun akhlak. Bagi seorang Muslim, menghidupkan Al-Qur’an bukan hanya melalui tilawah atau hafalan, tetapi juga dengan menjadikan ajaran Al-Qur’an sebagai dasar dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Sebagai contoh, Al-Qur’an memberikan pedoman yang jelas dalam hal hubungan sosial, etika bisnis, keadilan, dan hak asasi manusia. Dalam setiap interaksi sosial, seorang Muslim diharapkan untuk selalu berpedoman pada ajaran Al-Qur’an, seperti bersikap adil, jujur, dan menjaga amanah. Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90)

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, seorang Muslim akan selalu berada di jalan yang benar, terhindar dari perbuatan zalim, dan mendapatkan ridha Allah.

Meskipun Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar dan sumber kebahagiaan, sayangnya, banyak umat Islam yang belum sepenuhnya menyadari keistimewaan ini. Di zaman modern ini, ketika kehidupan semakin sibuk dengan urusan dunia, banyak orang yang mengabaikan Al-Qur’an.

Seringkali masyarakat modern saat ini lebih fokus pada urusan material dan hiburan, sementara Al-Qur’an seringkali hanya menjadi hiasan di rak buku atau dibaca hanya pada momen-momen tertentu.

Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi umat Islam. Mengabaikan Al-Qur’an berarti kehilangan panduan hidup yang paling penting, yang justru bisa membawa kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup.

Dalam hal ini, penting bagi umat Islam untuk menyadari bahwa Al-Qur’an bukanlah sekedar kitab suci yang perlu dihormati secara fisik, tetapi juga harus dihidupkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana firman Allah:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Atau apakah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk selalu introspeksi diri, apakah mereka sudah benar-benar menghargai Al-Qur’an dengan memperhatikan dan mengamalkan ajarannya, ataukah mereka justru mengabaikannya.

Pedoman Kita

Ditegaskan sekali lagi bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang terus hidup hingga hari ini dan seterusnya. Inilah pedoman utama dalam hidup kita. Keistimewaannya sebagai mukjizat abadi menjadikannya sebagai pedoman hidup yang relevan bagi seluruh umat manusia tanpa batasan waktu.

Sayangnya, sekali lagi, tidak sedikit dari umat Islam yang belum sepenuhnya menyadari anugerah besar ini, sehingga mereka mengabaikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kebahagiaan sejati hanya bisa dicapai dengan menghidupkan Al-Qur’an dalam diri, melalui belajar dan mengajarkannya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, pekerjaan terbaik di dunia ini adalah mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah kunci kebahagiaan dunia-akhirat.

Dengan demikian, menjadi kewajiban setiap Muslim untuk terus mendakwahkan Al Qur’an, mempelajari, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran agung yang terkandung di dalamnya, agar hidup kita penuh dengan kebahagiaan, keberkahan, dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.[]

*) Ust. Abdul Muin, penulis adalah Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Pusat

Bersama Bupati dan Wakil Bupati Demak Berbagi Kebahagiaan di Festival Hari Tani Nasional

0

DEMAK (Hidayatullah.or.id) — Bertepatan dengan Festival Hari Tani Nasional 2024 di Demak, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai Demak memberikan santunan kepada 10 siswa yatim.

Santunan langsung itu merupakan amanah kebaikan dari Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, S.E dan Wakil Bupati KH. Ali Makhsun, M.S.I.

“Ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap generasi penerus bangsa, khususnya anak-anak yatim di kalangan petani,” ujar Koordinator BMH Gerai Demak, Susmanto.

Festival yang digelar pada Selasa, 20 Rabi’ul Awal 1446 (24/9/24) ini tak hanya diramaikan dengan senam sehat dan bazar, tapi juga menjadi ajang BMH untuk menunjukkan kepedulian terhadap petani.

Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban mereka, sekaligus memotivasi para petani muda untuk terus berkarya.

Bagi Suyadi, salah satu peserta bazar, yang juga petani jambu biji berharap acara ini bisa meningkatkan pengetahuan petani dan memperluas jangkauan pasar produk pertanian mereka.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus diadakan, agar semangat para petani semakin berkobar,” ungkap Suyadi, salah satu petani yang aktif berpartisipasi dalam bazar.

BMH Demak berkomitmen untuk terus mendukung petani dan masyarakat yang membutuhkan, terutama di momen-momen spesial seperti Hari Tani Nasional.

“Semoga semangat berbagi ini terus menginspirasi kita semua,” tutup Susmanto.*/Herim

Kecil kecil Anak TK ini Tunjukkan Kepedulian Besar pada Derita Dialami Rakyat Palestina

0

GRESIK (Hidayatullah.or.id) — Anak-anak TK Aisyiyah 24 Gresik menunjukkan kepedulian besar terhadap penderitaan yang dialami rakyat Palestina akibat kelakuan brutal penjajah Israel. Mereka menyisihkan uang saku untuk membantu saudara-saudara mereka yang membutuhkan, melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Rabu, 21 Rabi’ul Awal 1446 (25/9/2024).

Acara ini dikemas dalam bentuk “Dongeng Ceria Maulid Nabi dan Galang Dana Palestina”.

Kehadiran Kak Komang, pendongeng senior dari Gresik, membuat acara semakin meriah. Dongengnya tak hanya menghibur, tapi juga berhasil menumbuhkan rasa empati anak-anak terhadap penderitaan saudara-saudara mereka di Palestina.

Shofi, Kepala Sekolah TK Aisyiyah 24 Gresik, mengungkapkan kebanggaannya terhadap anak-anak yang antusias menyisihkan uang saku untuk donasi.

“Kegiatan ini mengajarkan anak-anak tentang pentingnya berbagi dan peduli pada sesama, terutama untuk saudara-saudara kita di Palestina,” ujarnya.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, mengapresiasi inisiatif ini.

“Kepedulian yang ditanamkan sejak dini seperti ini sangat luar biasa, mengukir kebaikan di dalam sanubari mereka. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus mendukung saudara-saudara kita yang membutuhkan di Palestina,” tuturnya.

Aksi solidaritas dari anak-anak TK ini menjadi bukti bahwa setiap kontribusi, sekecil apapun, memiliki makna besar dalam membantu sesama yang sedang berjuang. Kita patut bersyukur ada anak-anak yang punya kejernihan hati, memupuk kepedulian sejak kini.*/Herim

Simpul Sinergi Bersama Menguatkan Muallaf Kobi

0

“Saat kami susah, orang Islam tidak ada yang peduli, bahkan Tuhannya orang Islam gak nolong saya. Namun disaat saya sedih dan membutuhkan bantuan, mereka (non-muslim) lah yang menolong saya, jadi saya ikut dia saja.”

Kalimat pilu ini terlontar dari seorang muallaf yang kembali memeluk Islam, kepada Ustadz Ahmadi, pembina muallaf di pedalaman Kobi, Maluku Tengah.

Kisah getir ini bermula dari jeratan utang rentenir yang memaksa seorang ayah menggadaikan anaknya, bahkan sampai berpindah agama.

Sudah empat tahun Ustadz Ahmadi berjuang mendampingi sekitar 50 muallaf di sana.

Ia rutin mengadakan pembinaan di Pondok Pesantren Hidayatullah Kobi, serta mengunjungi mereka satu per satu.

“Banyak yang antusias, mereka datang dengan motor butut atau sepeda ontel,” ungkapnya.

“Tapi, ada juga yang tak bisa ikut karena kesulitan ekonomi. Jika ada rezeki lebih, kami bantu mereka dengan sembako.”

Ustadz Ahmadi menyadari iman para mualaf ini masih rapuh, mudah goyah oleh terpaan hidup. Maka, ia bersama masyarakat sekitar bahu-membahu, berusaha memenuhi kebutuhan mereka, baik jasmani maupun rohani.

Kisah ini membuka mata kita akan tantangan berat yang dihadapi para mualaf, terutama di daerah terpencil. Mereka butuh lebih dari sekadar pengakuan, mereka butuh dukungan nyata agar bisa teguh dalam iman.

Mari kita bersama-sama mengulurkan tangan, membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.

“Sedikit bantuan dari kita, bisa jadi penyelamat bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan keyakinannya,” ungkap Ustadz Ahmadi yang merupakan dai tangguh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, (27/9/2024).

“Jangan biarkan mereka merasa sendirian. Buktikan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan kepedulian,” tegasnya.

Mereka yang jauh di pedalaman memang tak banyak yang tahu, karena memang tak ada sorot kamera memotret mereka layaknya kegiatan masyrakat di ibu kota. Namun, dengan dukungan umat BMH terus berupaya untuk memberikan kebaikan zakat, infak dan sedekah.

Zulkarnain, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Maluku, mengatakan Laznas Baitul Maal Hidayatullah berkomitmen untuk terus hadir, merangkul saudara-saudara mualaf di pedalaman.

“Kali ini bersama YBM BRILiaN, kebaikan telah sukses kita hadirkan. Tentu bantuan ini bukan hanya soal materi, tapi juga tentang memberikan harapan dan menguatkan iman mereka,” ujar Zulkarnain dengan penuh semangat.*/Herim

Maulud Nabi Seraya Hadirkan Senyum Bagi 31 Mualaf Lereng Gunug Merapi

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) perwakilan Yogyakarta bersama YBM BRILiaN melaksanakan kegiatan sosial dengan menyalurkan bantuan kepada 31 keluarga mualaf yang berada di lereng gunung Merapi, pada Kamis, 22 Rabi’ul Awal 1446 (26/9/2024).

Kegiatan diawali dengan pengajian Maulud Nabi yang disampaikan oleh Ustadz H. Amir Fauzi, dan dilanjutkan pembagian paket sembako dan perlengkapan ibadah.

Acara dilaksanakan di masjid Al-Madinah, kompleks kantor Kecamatan Cangkringan dihadiri oleh Camat kecamatan Cangkringan, Kapolsek, Danramil, Ketua DMI dan beberapa tamu undangan.

Hujan yang mengguyur wilayah Yogyakarta bagian utara tidak menyurutkan para peserta untuk menghadiri pengajian Maulud Nabi, pembinaan dan pembagian sembako tersebut. Senyum bahagia terpancar dari mereka ketika pulang ke rumah masing-masing walau dengan menerabas hujan.

Dalam sambutannya, Djaka Sumarsono, Camat Kecamatan Cangkringan mengungkapkan, pihaknya mengapresiasi program yang dijalankan oleh BMH Yogyakarta.

“Saya sampaikan terima kasih kepada BMH Yogyakarta yang telah mengadakan kegiatan mulia, hadir di sini untuk memberikan perhatian dan dukungan kepada para mualaf yang ada di kecamatan Cangkringan. Harapan kami, semoga kegiatan seperti ini tidak berhenti pada saat ini saja, tapi bisa berlanjut dikesempatan berikutnya,” harapnya.

Di tempat yang sama, Widodo Saputro, sebagai penyuluh dari Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) yang melakukan pendampingan rutin kepada para mualaf yang berada di lereng Gunung Merapi merasa bersyukur dan bahagia atas terselenggaranya kegitan tersebut.

“Saya merasa bersyukur atas berjalannya kegiatan pada hari ini. Ini bisa menjadi daya dukung kami dalam melakukan amanah pembinaan yang diberikan oleh negara kepada para mualaf yang berada di lereng Merapi, khususnya diwilayah Cangkringan ini,” ungkap Widodo.

Sementara itu, Syai’in Kodir, selaku kepala divisi program BMH Yogyakarta mengatakan, dalam melakukan kegiatan pihaknya tidak berjalan sendiri, melainkan bekerja sama dengan berbagai pihak sehingga program bisa berjalan dengan lancar.

“Kegiatan ini menjadi rangkaian dari program yang dijalankan oleh BMH secara nasional. Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung kegiatan ini, seperti Kementrian Agama RI dan juga kepada YBM BRILiaN,” katanya.*/Herim

Inilah 10 Bahaya Sifat Dengki dalam Kehidupan dan Kiat Mencegahnya

0

SIFAT dengki (hasad) merupakan penyakit hati yang sering kali tidak terlihat namun berbahaya bagi kehidupan seseorang. Dalam Islam, sifat ini dianggap sebagai akhlaq mazmumah (sifat tercela) yang merusak keimanan dan menghalangi kebahagiaan.

Al-Qur’an dan Hadis memberikan peringatan yang jelas mengenai bahaya sifat iri dan dengki, serta menawarkan solusi untuk mengatasinya. Momentum hari Jum’at seperti hari ini, bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk membersihkan hati dan meningkatkan ketakwaan, sehingga hidup selalu bahagia dan diberkahi.

Hikmah Jum’at kali ini, kita akan menyajikan pointer 10 bahaya dari sifat iri dan dengki, serta kiat untuk melawan penyakit hati tersebut berdasarkan ajaran Islam yang dirangkum didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Menghalangi Kesuksesan

Sifat iri dapat menghalangi seseorang mencapai kesuksesan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ketika seseorang merasa iri terhadap keberhasilan orang lain, ia sering kali tidak fokus pada pengembangan dirinya sendiri. Dalam surah An-Nisa ayat 32, Allah berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْاۗ

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain“(QS. An-Nisa: 32)

Firman Allah SWT ini mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah pemberian-Nya. Iri hanya akan merugikan diri sendiri karena energi negatif yang dikeluarkan tidak membawa manfaat apa pun. Akibatnya, potensi diri terabaikan dan kesuksesan menjadi sulit tercapai.

2. Membuka Pintu Maksiat

Ketika iri hati menyelimuti seseorang, ia akan cenderung melakukan perbuatan maksiat untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah bersabda:

اِياَّ كُم وَالحَسَدَ فَاِنَّ الْحَسَدَ يَاْ كُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَاْ كُلُ النَّارُ الحَطَبَ

“Hindarilah dengki karena dengki memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”

Wejangan Nabi ini menegaskan bahwa dengki tidak hanya merusak hubungan antar sesama manusia, tetapi juga menghancurkan amal kebaikan yang sudah dilakukan. Maksiat yang dilakukan karena iri hati, seperti menfitnah atau mencelakai orang lain, akan membuat seseorang terjerumus dalam dosa.

3. Menghilangkan Ketenangan Hati

Sifat iri dan dengki membuat hati seseorang tidak pernah merasa puas dan selalu gelisah. Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Iri hati membuat seseorang sulit mengingat Allah karena fokusnya hanya pada kekurangan dirinya dan kelebihan orang lain. Ketika hati tidak tenteram, kebahagiaan pun sirna, dan hidup terasa penuh beban.

4. Menghancurkan Hubungan Sosial

Sifat iri dan dengki sering kali menjadi pemicu keretakan hubungan antar sesama. Ketika seseorang iri terhadap orang lain, ia akan cenderung menjauh, atau bahkan memutuskan tali silaturahmi. Padahal, menjaga hubungan baik dengan sesama manusia merupakan salah satu ajaran utama dalam Islam. Rasulullah bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” (HR. Bukhari)

Iri hati menimbulkan perasaan tidak suka tanpa sebab yang jelas, dan pada akhirnya, hubungan yang seharusnya harmonis menjadi renggang.

5. Menumbuhkan Rasa Benci dan Dendam

Iri hati sering berkembang menjadi rasa benci dan dendam yang sulit dikendalikan. Ini sangat berbahaya karena benci yang tidak terkontrol bisa mendorong seseorang melakukan tindakan yang melampaui batas, seperti mencelakai orang lain. Dalam surah Al-Falaq ayat 5, Allah memerintahkan kita untuk berlindung dari kejahatan orang yang dengki:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS. Al-Falaq: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa dengki adalah sumber kejahatan yang perlu dijauhi, baik dari diri sendiri maupun orang lain.

6. Menghancurkan Ketaatan

Iri hati menghancurkan ketaatan seorang hamba kepada Allah. Seseorang yang tenggelam dalam iri akan sulit untuk bersyukur, sedangkan syukur merupakan bagian dari ketaatan. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah bersabda:

“Tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba keimanan dan iri hati”

Hadis ini memperingatkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak bisa berdampingan dengan sifat iri hati. Keduanya saling bertentangan, dan sifat iri akan menggerus ketaatan tersebut hingga hilang.

7. Mengurangi Keberkahan Rezeki

Orang yang iri hati sering kali merasa bahwa rezekinya selalu kurang dibandingkan dengan orang lain. Padahal, dalam Islam, rezeki setiap individu sudah ditentukan oleh Allah. Iri hati terhadap rezeki orang lain hanya akan membuat seseorang lupa bersyukur atas nikmat yang telah ia terima. Allah berfirman:

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7)

Dengan sifat iri, keberkahan rezeki yang sudah diberikan Allah pun berkurang karena kurangnya rasa syukur.

8. Menyebabkan Depresi dan Stres

Secara psikologis, iri hati adalah sumber utama depresi dan stres. Ketika seseorang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa dirinya lebih buruk, ia akan terperosok dalam perasaan rendah diri yang berlebihan. Ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mentalnya dan membuatnya merasa hidupnya tidak berarti. Dalam Islam, Allah telah mengingatkan:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139)

Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga diri dari perasaan negatif yang bisa merusak kesejahteraan mental.

9. Menghilangkan Amal Kebaikan

Dalam Hadis yang telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah menyatakan bahwa dengki memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar. Ini menunjukkan bahwa sifat iri tidak hanya berbahaya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Amal kebaikan yang telah dilakukan dengan susah payah bisa hilang sia-sia hanya karena iri hati.

10. Menggoyahkan Iman

Bahaya terbesar dari sifat iri adalah menggoyahkan keimanan. Orang yang iri cenderung meragukan takdir Allah dan mempertanyakan mengapa orang lain mendapatkan lebih dari dirinya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 216, Allah Ta’ala berfirman:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

Iri hati muncul ketika seseorang tidak memahami atau menerima ketetapan Allah, dan ini bisa menjadi pintu bagi lemahnya keimanan.

Kiat Melawan Penyakit Hati

Setelah mengetahui betapa berbahayanya sifat iri dan dengki, penting untuk mengetahui bagaimana cara melawannya. Berikut ini empat kiat yang bisa dilakukan.

Pertama, selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Kedua, selalu tingkatkan keimanan dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan mengingat Allah. Ketiga, memperbaiki niat bahwa setiap tindakan dilakukan dipastikan karena Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau keuntungan duniawi. Keempat, menjaga silaturahmi karena dengan dengan mempererat hubungan silaturahmi akan menghindarkan kita dari perasaan iri, sebagaimana dianjurkan dalam Hadis Nabi SAW.

Jum’at Penuh Berkah

Hari Jum’at seperti hari ini adalah momentum terbaik untuk refleksi diri. Pada hari ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Iri dan dengki adalah penyakit hati yang sangat berbahaya jika dibiarkan. Dalam Islam, keduanya bukan hanya merusak kehidupan dunia tetapi juga menghancurkan ketaatan kepada Allah dan menutup pintu kebahagiaan.

Melawan sifat-sifat ini membutuhkan kesadaran diri, keimanan yang kuat, dan kedisiplinan dalam menjaga hati.

Hari Jum’at, sebagai sayyid al-ayyam (penghulu segala hari), adalah waktu yang tepat untuk memulai perubahan ini. Melalui introspeksi dan ibadah yang lebih khusyuk, kita bisa membersihkan hati dari sifat-sifat negatif dan hidup pun senantiasa bahagia. (cha/hidayatullah.or.id)

[KHUTBAH JUM’AT] Islam Agama Ilmu

0

الحمدُ لله الذي علَّمَ بالقلم، علَّمَ الإنسانَ ما لم يعلم، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهدُ أنَّ مُحمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه واتبع سنته إلى يوم الدين أما بعدُ

فيا عباد الله

أوصيكم ونفسي بتقوى الله تعالى والاجتهادِ في طلَب العلمِ ؛ ففي ذلك شرفٌ عظيمٌ، وأجرٌ كبيرٌ عند الله عز وجل قال تعالى ﴿ أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
[الزمر: 9]

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pertanyaan di atas tentu tidak memerlukan jawaban, sebab orang yang berpikir paling dangkal sekalipun bisa segera mengetahui jawabannya. Allah Subhanahu wa ta’ala juga tidak menuntut manusia memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Pertanyaan di atas Allah Subhanahu wa ta’ala gunakan untuk menggugah emosi sebagai orang beriman, bahwa tidak selayaknya mereka bodoh atau tidak berilmu. Orang Mukmin hendaknya selalu berada di deretan terdepan dari orang-orang yang berperadaban, karena peradaban Islam itu dibangun di atas ilmu.

Sebagai agama peradaban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membangun umatnya dengan ilmu. Bukan kebetulan jika wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah adalah “iqra”, yaitu bacalah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

اقرأ باسم ربك الذي خلق

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan” (Al-Alaq [96]: 1)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat di atas lebih dari sekadar perintah membaca. Sebab substansi utama dari ayat tersebut adalah perintah untuk menuntut ilmu, terutama ilmu mengenal Allah.

Kata ilmu sendiri, di dalam al-Quran disebut sebanyak 854 kali dalam berbagai bentuk dan variasinya. Pengulangan ini sekaligus mempertegas keutamaan dan pentingnya ilmu dalam Islam. Menuntut ilmu dalam Islam hukumnya fardhu ‘ain. Nabi bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu itu adalah kewajiban atas setiap muslim” (Riwayat Ibnu Majah).

Dalam sebuah atsar disebutkan: Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah.

Sesungguhnya ilmu pengetahuan akan menempatkan mereka dalam posisi terhormat dan mulia. Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.

Dengan ilmu yang menyertai, manusia menjadi unggul dan mulia dibanding makhluk lainnya. Sebagaimana atas dasar ilmu pula, manusia lalu ditunjuk sebagai seorang khalifah di muka bumi. Al-Quran menjelaskan:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ, قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Mereka menjawab: Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]: 31-32).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Di samping menggunakan telinga, mata, dan akal sebagai sarana memperoleh ilmu, kesucian hati juga memegang peranan vital. Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan, Dia hanya memberi petunjuk kepada orang-orang yang membersihkan hatinya serta menjauhkannya dari orang-orang yang mengotori hatinya.

Tak sedikit al-Quran juga menggunakan kata “innallaha laa yahdi“ (sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk) kepada “azh-zhalimin” (orang-orang yang zhalim), “al-kafirin” (orang-orang yang kafir), “al-fasiqin” (orang-orang yang fasiq), “kadzibun kaffar” (pembohong lagi inkar), dan “musrifun kadzdzab” (pemboros lagi pembohong).

Terakhir, sejatinya orang-orang yang membatasi ilmunya hanya pada alam materi adalah orang-orang yang tak mengetahui dan tidak berilmu. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يعلمون ظاهرا من الحياة الدنيا وهم عن الآخرة هم غافلون

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan tentang akhirat mereka lalai” (Ruum [30]: 7)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Refleksi Penamaan ‘Integral’ pada Institusi Pendidikan Hidayatullah

0

DALAM perjalanan sejarah pendidikan Islam di Indonesia, banyak institusi yang menggunakan nama ‘Islam’ untuk mempertegas identitas dan misinya. Namun, menariknya, Hidayatullah sebagai organisasi masyarakat (ormas) yang didirikan pada 1973 memilih pendekatan berbeda dengan menekankan istilah ‘integral’ pada konsep pendidikannya.

Karena itu, di lingkungan pendidikan Hidayatullah, mulai tingkat PAUD, Dasar dan Menengah, penamaan sekolahnya hanya seperti ini: “SD Integral Hidayatullah Depok”, atau “SMA/MA Integral Hidayatullah Palu”, tanpa ada kata kata “Islam”.

Pilihan ini bukanlah tanpa alasan, selain karena efisiensi penggunaan kata, hal ini juga sebagai cerminan visi besar yang ingin dibawa oleh Hidayatullah bahwa Islam adalah sempurna yang mencakup semua urusan (syumuliyyah) yang dalam konteks pendidikan ia menyeluruh yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu kesatuan yang harmonis.

Pendidikan Integral Berbasis Tauhid yang menjadi motto Hidayatullah adalah filosofi dasar yang ingin menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan semata, tetapi mencakup semua aspek kehidupan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Di sini, istilah ‘integral’ hadir untuk menegaskan bahwa Islam hadir secara menyeluruh dan tidak terpisah-pisah dalam aspek kehidupan umat manusia.

Integral itu Islam

Pada pandangan pertama, penggunaan istilah ‘Islam’ mungkin tampak lebih relevan bagi sebuah institusi yang berorientasi pada pendidikan berbasis keagamaan. Namun, menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga alasan penting mengapa Hidayatullah memilih menggunakan kata ‘integral’ sebagai ciri khas pendidikannya.

Pertama, menghindari dikotomi ilmu ilmu Islam dan ilmu umum. Salah satu masalah mendasar dalam dunia pendidikan, khususnya di kalangan umat Islam, adalah dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Tak jarang yang memisahkan keduanya seolah-olah keduanya tidak berkaitan. Seolah pendidikan agama hanya dipelajari di ruang-ruang tertentu seperti pesantren, sementara ilmu umum dikhususkan di sekolah-sekolah formal.

Hidayatullah melalui konsep pendidikan integralnya berupaya untuk meruntuhkan dikotomi ini, dan menegaskan bahwa ilmu, baik agama maupun umum, adalah satu kesatuan yang saling mendukung dan memperkuat. Dalam pandangan ini, tidak ada ilmu yang netral dari nilai-nilai tauhid. Segala ilmu yang dipelajari pada dasarnya adalah sarana untuk mengenal Allah dan menjalankan amanah-Nya di bumi.

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Ayat ini menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan tentang alam semesta (ilmu umum) sebenarnya adalah sarana untuk mengenal Allah, sehingga tidak ada batasan tegas antara ilmu umum dan ilmu agama.

Kedua, Islam yang holistik dan tidak terpisah. Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat saling berkaitan. Konsep tauhid yang menjadi landasan Hidayatullah menegaskan bahwa keesaan Allah tidak hanya berlaku dalam konteks ibadah ritual, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan.

Oleh karena itu, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengajarkan manusia untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan prinsip-prinsip tauhid, baik dalam konteks sosial, politik, ekonomi, hingga spiritual. Penggunaan istilah ‘integral’ mencerminkan bahwa Islam hadir sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, yang membimbing setiap aspek kehidupan manusia dari lahir hingga mati, dari urusan dunia hingga akhirat.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa seorang Muslim harus berkontribusi positif di segala bidang kehidupan, tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam ilmu, teknologi, sosial, dan lainnya. Konsep pendidikan integral yang diusung Hidayatullah berupaya menghasilkan individu yang mampu mengamalkan ajaran Islam di semua aspek kehidupan, menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Ketiga, mewujudkan pendidikan tauhid yang penyeluruh. Pendidikan Integral Berbasis Tauhid yang menjadi inti dari filosofi pendidikan Hidayatullah berfokus pada pemahaman tauhid yang tidak hanya diajarkan dalam bentuk teori, tetapi diimplementasikan dalam semua tindakan dan aktivitas sehari-hari.

Pendidikan tauhid ini melibatkan bukan hanya pengajaran ilmu agama seperti tafsir, fiqh, atau akhlak, tetapi juga ilmu-ilmu duniawi seperti sains, matematika, dan teknologi, yang semua dipahami dalam kerangka keesaan Allah.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh aspek kehidupan seorang Muslim, termasuk pendidikan dan pencarian ilmu, harus diorientasikan kepada Allah. Tidak ada pemisahan antara ilmu yang bersifat ‘agama’ dan ‘umum’, karena keduanya pada dasarnya adalah bagian dari pengabdian kepada Allah. Inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah epistemologi Islam.

Islam sebagai Sistem

Salah satu alasan utama mengapa Hidayatullah memilih istilah ‘integral’ adalah untuk menegaskan bahwa Islam tidak hanya hadir sebagai agama ritual, tetapi juga sebagai panduan untuk menjalani kehidupan yang sukses di dunia dan di akhirat. Dalam pandangan Islam, dunia bukanlah tempat yang harus ditinggalkan demi meraih akhirat, tetapi keduanya harus berjalan seiring.

Seorang Muslim tidak boleh hanya menjadi ahli ibadah yang mengabaikan urusan dunia, atau sebaliknya, menjadi ahli dunia yang melupakan akhirat. Pendidikan integral yang diusung Hidayatullah berupaya menghasilkan individu yang seimbang, yang mampu sukses di dunia tanpa melupakan tanggung jawabnya kepada Allah di akhirat.

Ini selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” (HR. Ibnu Asakir).

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus serius dalam mengurus urusan duniawi, tetapi pada saat yang sama harus mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Pendidikan integral yang ditekankan oleh Hidayatullah adalah upaya untuk mewujudkan keseimbangan ini dalam sistem pendidikan.

Konsep pendidikan integral ini berupaya tidak hanya memperkuat keimanan siswa, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan zaman modern yang kompleks. Pendidikan integral yang diterapkan oleh Hidayatullah melibatkan pendekatan multidimensi, yang mencakup pendidikan intelektual, emosional, fisik, dan spiritual. Semua aspek ini dirangkum dalam satu kesatuan utuh yang berlandaskan tauhid.

Menyeluruh

Pendidikan yang diusung oleh Hidayatullah dengan nama ‘integral’ adalah cerminan dari pemahaman bahwa Islam bukanlah agama yang hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga kehidupan sehari-hari dalam segala bidang.

Dalam pada itu, penggunaan istilah ‘integral’ memiliki makna filosofis yang mendalam untuk menunjukkan bahwa Islam hadir sebagai panduan menyeluruh, yang tidak hanya membimbing manusia dalam urusan duniawi tetapi juga mempersiapkan mereka untuk kehidupan di akhirat.

Pendidikan Integral Berbasis Tauhid, dengan demikian, adalah upaya Hidayatullah untuk melahirkan generasi yang mampu memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Pandangan ini didasarkan pada ajaran tauhid yang menjadi fondasi agama Islam, di mana seluruh kehidupan manusia, termasuk pendidikan, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.[]

*) Adam Sukiman, penulis adalah intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, kini guru ngaji di Rumah Qur’an Jayakarta, Poltangan, Jakarta.

Baitul Wakaf Integrasikan Kolaborasi Perguruan Tinggi, Bisnis dan Lembaga Keuangan Syariah

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pentingnya kolaborasi nazhir wakaf, Perguruan Tinggi, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS PWU) dan sektor bisnis untuk meningkatkan petumbuhan literasi dan pengelolaan wakaf di Indonesia adalah alasan yang melatar belakangi Kuliah Tamu yang di gelar Baitul Wakaf dan STIE Hidayatullah di Kampus STIE Hidayatullah Depok, Sabtu, 17 Rabi’ul Awal 1446 (21/9/2024).

Acara ini berlangsung di aula Sekolah Pemimpin, komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat dengan menghadirkan narasumber Rama Wijaya, selaku Direktur Baitul Wakaf, Teguh Suryadi dari Grup Head Bisnis Pendanaan KB Bank Syariah, Eko Pujianto selaku Direktur Utama SKB Food TBK dan dipandu oleh Rasfiudin Sabarudin, MIRK selaku Waka III STIE Hidayatullah.

“Kita ingin wakaf menjadi bagian dari gaya hidup. Maka, kita mulai dengan apa yang bisa kita lakukan, saat ini dimulai dari perguruan tinggi. Tujuannya agar wakaf menjadi contoh yang mudah untuk dilakukan, dikembangkan dengan kolaborasi dengan banyak sektor usaha sehingga ekosistem wakaf semakin terdorong lebih kuat,” tutur Rama.

Rama menambahkan, apa yang dilakukan anak muda dan mahasiswa saat ini dengan keterlibatannya pada gerakan wakaf, maka memberi kontribusi dan mewarnai perjalanan gerakan wakaf dimasa yang akan datang.

Dalam even ini, bentuk bentuk kolaborasi wakaf dihadirkan dalam berbagai implementasi, seperti sektor keuangan maupun sektor riil dengan pelaku usaha.

Dia mengatakan, moment kuliah tamu ini juga menjadi sarana literasi dan edukasi wakaf dengan memperkenalkan inovasi produk wakaf yang memberikan terobosan kemudahan untuk berwakaf.

“Artinya, tidak harus menunggu mapan tapi sudah bisa menunaikan wakaf. Semoga ini bisa mendorong banyak pihak semakin banyak yang menunaikan wakaf,” tutur Rama.

Di sesi akhir kuliah umum ini ditandai dengan launching dan kerjasama penghimpunan wakaf uang melalui program Cash Wakaf Link Deposito (CWLD) yang dilaunching Baitul Wakaf dengan KB Bank Syariah.

Kerjasama penguatan investasi sektor riil untuk penguatan ekonomi pesantren berbasis wakaf produktif dan pengembangan wirausaha santri antara Baitul Wakaf, PT SKB Food TBK dan STIE Hidayatullah.

Acara kuliah tamu ini dihadiri secara langsung oleh 200 lebih mahasiswa dan civitas akademika dan juga disaksikan oleh mahasiswa virtual dari berbagai daerah secara live. (ybh/hidayatullah.or.id)