Beranda blog Halaman 163

DMW STIE Hidayatullah Tempa Kader Unggul, Bangun Integritas Pemimpin Masa Depan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abu A’la Abdullah, M.HI, memberi wejangan yang menggugah semangat para kader dalam acara Daurah Marhalah Wustho (DMW) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Training Center (TC) 40 Hari Mahasiswa Tingkat Akhir STIE Hidayatullah Depok, di Aula KH Abdullah Said, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kamis, 8 Rabi’ul Awal 1446 (12/9/024).

“Perkaderan adalah tentang melahirkan pemimpin,” tegasnya. “Pemimpin yang siap mengemban amanah, bertanggung jawab pada masyarakat, umat, bangsa, dan negara.”

Ust. Abu A’la menekankan pentingnya membangun integritas kader melalui sikap terbaik dalam menuntut ilmu dan menemukan hikmah. “Kader Hidayatullah harus haus akan pengetahuan, namun juga mampu mengambil pelajaran berharga dari setiap pengalaman,” ujarnya.

Ia mengajak para kader untuk terus mengasah intelektual, spiritual, dan emosional mereka. “Bacalah, simaklah konten-konten yang baik dan progresif, semua itu akan menguatkan spiritualitas kalian,” nasihatnya.

Abu A’la juga mengingatkan bahwa waktu di dunia ini terbatas. “Fokuslah, semangatlah, dan siaplah menjadi kader yang mampu memimpin, mampu mengartikulasikan nilai-nilai Islam secara bermakna, berbobot, dan berdampak,” serunya penuh semangat.

Daurah Marhalah Wustho STIE Hidayatullah Depok ini bukan sekadar acara rutin, tapi sebuah momentum penting untuk menempa kader-kader unggul.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, mereka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang berintegritas, berwawasan luas, dan mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat.

Semangat optimisme terpancar dari wajah-wajah para kader. Mereka siap menerima tantangan, siap belajar, dan siap menjadi pemimpin masa depan yang akan membawa Hidayatullah menuju kejayaan.

Daurah ini menjadi bukti nyata bahwa Hidayatullah terus berkomitmen untuk mencetak generasi penerus yang berkualitas, yang akan meneruskan perjuangan dakwah dan membangun peradaban Islam yang gemilang untuk Indonesia yang mau dan bermartabat.*/Herim

Hidayatullah Hadirkan Lembaga Sembelih Halal Menuju Huluisasi Pangan Hewani

0
Ketua LSH Hidayatullah Pusat, Ust. H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap masalah halal, terutama dalam proses penyembelihan hewan, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah secara resmi meluncurkan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah.

Ketua LSH Hidayatullah Pusat, Ust. H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA, mengatakan dengan motto “Iman, Ihsan, dan Profesional” yang diusungnya menunjukkan bahwa gerakan halal bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah tanggung jawab bersama yang lebih besar.

LSH Hidayatullah hadir sebagai lembaga yang bergerak di bidang dakwah dan pelatihan standarisasi penyembelihan hewan sesuai dengan syariat Islam. Nanang mengatakan, kehadiran LSH Hidayatullah berupaya menguatkan gerakan yang lebih luas dengan visi menyeluruh yang mengedepankan huluisasi pangan hewani halal.

“Dalam dunia yang semakin global, tuntutan untuk memastikan bahwa produk pangan hewani halal sudah tidak bisa diabaikan lagi,” kata Nanang yang ditemui media ini di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Selasa, 7 Rabi’ul Awal 1446 (10/9/2024).

Nanang menjelaskan, lebih dari sekadar mendapatkan sertifikasi halal, proses penyembelihan juga menjadi titik krusial dalam rantai produksi makanan halal.

Karena itu, terang dia, LSH Hidayatullah memberi perhatian pada huluisasi pangan hewani halal —sebuah konsep yang mengintegrasikan proses dari hulu hingga hilir, mulai dari proses peternakan, penyembelihan, pengolahan, hingga distribusi.

Menurut Nanang huluisasi ini penting bukan sekadar memastikan bahwa daging yang sampai ke meja kita halal, tetapi juga menjamin keberkahan dan maslahat yang lebih luas. Dengan menekankan pada kehalalan proses dari awal hingga akhir, LSH Hidayatullah ingin memastikan bahwa apa yang dikonsumsi umat Islam di Indonesia benar-benar memenuhi standar syariat Islam, dan bukan sekadar label.

Nanang menggarisbawahi bahwa penyembelihan halal bukan sekadar mengikuti aturan syariat, tetapi juga memerlukan pendekatan holistik yang mencakup kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral sebab kehalalan ini bukan hanya berdampak di dunia, tetapi juga di akhirat.

LSH juga berupaya mendorong adanya kebijakan nasional yang lebih serius dalam menangani masalah halal. Saat ini, Indonesia memang sudah memiliki undang-undang yang mengatur tentang halal, namun implementasinya masih banyak tantangan. LSH Hidayatullah ingin menjadi mitra strategis bagi pemerintah dalam memastikan bahwa aturan-aturan ini dijalankan dengan baik, terutama dalam sektor pangan hewani.

Nanang menyebutkan, gerakan halal ini juga menjadi bagian dari penguatan ekonomi nasional. Ketika Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, mampu menjadi pelopor dalam penyembelihan halal, maka otomatis akan berdampak pada daya saing global.

“Industri halal bukan lagi sekadar kebutuhan religius, tetapi sudah menjadi tren global yang membuka peluang pasar besar di dunia internasional,” imbuhnya.

Membangun Umat dari Gerakan Sembelih Halal

Lebih jauh Nanang menjelaskan bahwa kehadiran LSH Hidayatullah tidak hanya ditujukan untuk mengedukasi tentang penyembelihan halal, tetapi juga untuk membangun kekuatan umat. Gerakan halal, bagi Nanang, adalah bagian dari perjuangan umat Islam untuk membangun peradaban yang kokoh.

“Dengan memulai dari aspek pangan, yang merupakan kebutuhan dasar, umat Islam bisa memperkuat pondasi keimanan,” tukasnya, seraya menambahkan pangan yang halal dan thayyib (baik) sejatinya bukan hanya memberi nutrisi secara fisik, tetapi juga menguatkan jiwa dan spiritual.

Nanang percaya bahwa jika umat Islam dapat menjaga kehalalan dalam setiap aspek kehidupan mereka, termasuk kehalalan hewan sembelihan, maka kekuatan umat akan semakin kokoh. Ini bukan hanya untuk kepentingan individu umat Islam, tetapi juga bagi kemajuan bangsa dan negara.

Hal lain yang disorot oleh LSH Hidayatullah adalah bagaimana memastikan bahwa kehalalan dijalankan dengan profesionalisme tinggi. Dalam dunia yang semakin modern dan tanpa sekat (borderless), penyembelihan halal harus mengikuti standar yang jelas dan terukur. Ini mencakup perlakuan atau adab pada hewan, penggunaan alat yang tepat, proses yang sesuai, hingga pengawasan ketat terhadap setiap tahap.

Namun, jelas dia, tantangan terbesar adalah bagaimana menyinergikan antara ilmu agama dan standar profesional modern. LSH, melalui berbagai programnya kedepan, akan mencoba memberikan solusi atas dilema ini.

Dengan menggabungkan aspek spiritual dan teknis, Nanang mengimbuhkan LSH Hidayatullah akan berusaha menguatkan model penyembelihan yang tidak hanya sesuai dengan syariat, tetapi juga memenuhi standar profesional yang diakui secara internasional.

Ke depan, tambah dia, LSH Hidayatullah berkomitmen untuk gulirkan program program yang relevan dengan kebutuhan zaman dan akan mengembangkan jaringannya yang kini sudah menjaring sekitar 34 bakal kepengurusan wilayah tingkat provinsi dari Aceh sampai Papua. (ybh/hidayatullah.or.id)

Bukan Sekadar Hafalan Tapi Juga Penerapan, Seruan Ust Tasyrif Amin untuk Santri Masa Depan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana sejuk, sebuah pesan penting menggema dari Majelis Reboan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat diiikuti ratusan peserta yang digelar secara daring, Rabu lepas shubuh, 7 Rabi’ul Awal 1446 (11/9/2024).

Ust. Tasyrif Amin, Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, mengajak para santri untuk tidak hanya menjadi penjaga Al-Quran, tetapi juga penerjemahan dan penerapannya dalam dunia sains dan teknologi.

“Semua ilmu adalah milik Allah,” tegasnya. “Perbedaannya terletak pada cara kita memahami dan menerapkannya. Itulah epistemologi.”

Ust. Tasyrif Amin mengingatkan bahwa para ilmuwan besar dalam peradaban Islam adalah mereka yang tidak hanya hafal Al-Quran, tetapi juga mendalami berbagai disiplin ilmu. Mereka adalah bukti nyata bahwa iman dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan.

Dia menegaskan, dalam era digital yang terus berkembang pesat, santri tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi aktor utama, yang mampu menguasai teknologi dan memanfaatkannya untuk kebaikan umat.

“Hafal Al-Quran adalah langkah awal yang luar biasa,” ujar Ust. Tasyrif Amin.

“Tapi jangan berhenti di situ. Teruslah belajar, gali potensi diri, dan jadilah generasi yang mampu membawa Islam bersinar di panggung dunia.”

Tasyrif Amin memberikan tantangan bagi para santri untuk keluar dari zona nyaman. Mereka diajak untuk menjadi generasi yang tidak hanya beriman, tetapi juga berilmu, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan agama.

Di balik layar komputer dan smartphone, para santri Hidayatullah kini memiliki misi baru. Mereka bukan hanya penghafal Al-Quran, tetapi juga calon ilmuwan, teknokrat, dan pemimpin masa depan yang akan membawa Islam ke era keemasannya kembali.

Semangat belajar dan berkarya kini, terang dia, menyatu dengan semangat menghafal Al-Quran. Sebuah perpaduan yang diharapkan akan melahirkan generasi santri yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan kepala tegak.*/Herim

Bersahabatlah dengan Muslim yang Shalih

0

MANUSIA bergaul dan berteman dilatari aneka motif serta tujuan. Misalnya, ada yang mengejar keuntungan materi, mengharap jabatan dan kedudukan, atau karena kesamaan hobi dan karakter. Ada motif-motif yang benar dan diridhai Allah, ada pula yang menyimpang dan jelas-jelas tergolong maksiat. Tentu saja, sebagai muslim, kita dianjurkan berteman dengan sesama muslim, terlebih-lebih lagi yang shalih dan bertakwa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajari kita bagaimana memilih teman. Beliau bersabda,

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ رضي الله عنه : عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ (رواه أبو داود والترمذى) – قال الشيخ الألباني : حسن

“Janganlah engkau berteman kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali seorang yang bertakwa.” (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudry. Hadits hasan).

Tampaknya sederhana dan tidak perlu dirisaukan. Bahkan, sebagian orang di zaman ini tidak terlalu peduli akan berteman dengan siapa. Mereka tidak mengerti bahwa sebenarnya pertemanan dan persahabatan tidak pernah dianggap sepele dalam Islam.

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : كُنَّا جُلُوْسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : أَيُّ عُرَى الإِسْلاَمِ أَوْسَطُ قَالُوْا الصَّلاَةُ قَالَ حَسَنَةٌ وَمَا هِيَ بِهَا قَالُوْا الزَّكَاةُ قَالَ حَسَنَةٌ وَمَا هِيَ بِهَا قَالُوْا صِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ حَسَنٌ وَمَا هُوَ بِهِ قَالُوْا الْحَجُّ قَالَ حَسَنٌ وَمَا هُوَ بِهِ قَالُوْا الْجِهَادُ قَالَ حَسَنٌ وَمَا هُوَ بِهِ قَالَ إِنَّ أَوْسَطَ عُرَى الإِيْمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ وَتُبْغِضَ فِي اللهِ (رواه أحمد) – وفى رواية : أَيُّ عُرَى الإِسْلاَمِ أَوْثَقُ – تعليق شعيب الأرنؤوط : حديث حسن بشواهده وهذا إسناد ضعيف لضعف ليث

Bara’ bin ‘Azib bercerita: kami pernah duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau kemudian bertanya, “Tahukah kalian apakah ikatan iman yang paling baik itu?” Para Sahabat menjawab, “Shalat.” Beliau menanggapi, “Bagus, tetapi bukan itu.” Mereka berkata lagi, “Zakat.” Beliau menanggapi, “Bagus, tetapi bukan itu.” Mereka berkata lagi, “Puasa Ramadhan.” Beliau menanggapi, “Bagus, tetapi bukan itu.” Mereka berkata, “Haji.” Beliau menanggapi, “Bagus, tetapi bukan itu.” Mereka berkata, “Jihad.” Beliau menanggapi, “Bagus, tetapi bukan itu.” Beliau kemudian bersabda, “Ikatan iman yang paling baik adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.’” (Riwayat Ahmad. Hadits hasan dengan jalur-jalur penguatnya). – Dalam riwayat lain dikatakan: “ikatan iman yang paling kuat.”

Dengan kata lain, simpul paling kokoh yang akan mengikat iman kita agar tidak mudah berantakan adalah persahabatan yang dilandasi nilai-nilai tauhid. Tidak sedikit muslim yang murtad setelah bersahabat dengan penganut agama lain, dan sudah dimaklumi betapa banyak remaja yang rusak karena salah pergaulan.

Dalam hadits tersebut, seolah-olah Rasulullah hendak berpesan bahwa iman hanya akan aman dan kokoh tertambat di dalam hati jika dijaga di tengah-tengah komunitas kaum beriman pula. Maka, seorang muslim yang tidak memperhatikan dengan siapa dia berteman, pada dasarnya telah meletakkan imannya di bawah intaian fitnah dan godaan setan yang tak terduga besarnya.

Sebagian orang menuduh kaum muslimin suka menutup diri, intoleran, dan memusuhi penganut agama lain. Mereka menunjuk ayat-ayat dan hadits-hadits tertentu sebagai bukti, termasuk yang dinukil di atas.

Sebagian orang juga beralasan bahwa persahabatan dengan penganut agama lain atau orang yang banyak bermaksiat itu dimaksudkan untuk berdakwah, atau menunjukkan betapa tolerannya kaum muslimin.

Hanya saja, jelas ada perbedaan besar diantara bergaul dengan tujuan bersahabat dan bergaul yang dimaksudkan untuk berdakwah. Yang pertama mengharuskan permakluman dan pembiaran, sedang yang kedua dimaksudkan untuk membimbing dan mengubah keyakinan.

Bersahabat bisa dilakukan tanpa ilmu, rencana maupun misi; namun berdakwah jelas membutuhkan strategi, bekal dan keteguhan. Bertanyalah kepada diri sendiri, apakah ada cukup strategi, bekal dan keteguhan dalam persahabatan yang diklaim demi dakwah itu? Jangan-jangan ini hanya lamunan kosong yang disuntikkan setan untuk menggelincirkan kita. Na’udzu billah.

Memiliki sahabat muslim yang shalih adalah karunia amat berharga. Kita sangat dianjurkan untuk merawat dan menjaganya.

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه : إِذَا رَزَقَكُمُ اللهُ عز وجل مَوَدَّةَ امْرِىءٍ مُسْلِمٍ فَتَشَبَّثُوْا بِهَا (رواه ابن أبى الدنيا فى الإخوان)
قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه : عَلَيْكَ بِإِخْوَانِ الصِّدْقِ فَعِشْ فِي أَكْنَافِهِمْ فَإِنَّهُمْ زَيْنٌ فِي الرَّخَاءِ وَعُدَّةٌ فِي الْبَلاَءِ (رواه ابن أبى الدنيا فى الإخوان)

Umar bin Khattab berkata, “Jika Allah memberimu rezeki berupa kasih sayang dari seorang muslim, maka pertahankanlah.” Sungguh, pertemanan dengan mereka akan selalu bermanfaat kapan pun dan di mana pun, sebagaimana yang beliau katakan juga, “Hendaklah engkau mempunyai teman yang jujur lagi setia, lalu hiduplah di sisi mereka. Sebab, mereka adalah perhiasan di masa lapang dan bekal di masa sempit.” (Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunia dalam al-Ikhwan).

Keuntungan Bersahabat Shalih

Bila teman adalah perhiasan, maka sungguh aneh jika ada seorang muslim yang berhias dengan memperbanyak orang-orang fasik di sekitar dirinya. Apa yang bisa dibanggakan dari mereka sehingga ia merasa terhiasi oleh kehadirannya? Bukankah Allah justru hendak menghinakan mereka (QS. al-Hasyr: 5)? Bahkan, tidak kurang dari enam kali Allah memvonis dalam Al-Qur’an, bahwa Dia tidak akan memberi petunjuk dan pasti menyesatkan mereka (lihat: QS. al-Baqarah: 26; al-Ma’idah: 108; at-Taubah: 24, 80; ash-Shaff: 5; al-Munafiqun: 6). Allah juga tidak ridha kepada mereka (QS. at-Taubah: 96), dan Nabi Musa pun memohon agar dipisahkan dari mereka (QS. al-Ma’idah: 25). Jika teman-teman di sekitar kita dihalangi oleh Allah dari keridhaan serta hidayah-Nya, dapatkah kita memelihara iman dan mengembangkannya?

Teman yang shalih juga akan menjadi bekal di saat-saat sempit. Bagaimana pun, kehidupan tidak selalu menghadapkan wajahnya yang cerah berseri-seri kepada kita. Terkadang, ia menyeringai dan bahkan mengaum dengan garang. Kehadiran teman yang baik akan meneguhkan hati, bahkan menjadi penopang agar kita tidak jatuh tersungkur.

Sungguh, berteman dengan orang shalih dan bertakwa itu sangat menguntungkan. Tidak ada ruginya di dunia apalagi di akhirat. Bagaimana bisa?

قَالَ رَجُلٌ لِدَاوُدَ الطَّائِي : أَوْصِنِي قَالَ : اِصْحَبْ أَهْلَ التَّقْوَى فَإِنَّهُمْ أَيْسَرُ أَهْلِ الدُّنْيَا عَلَيْكَ مَؤُوْنَةً وَأَكْثَرُهُمْ لَكَ مَعُوْنَةً (رواه ابن أبى الدنيا فى الإخوان)

Diceritakan bahwa ada seseorang yang minta nasihat kepada Dawud ath-Tha’iy (w. 160 H), maka beliau berkata, “Bertemanlah dengan ahli taqwa, sebab mereka adalah penduduk bumi yang paling murah tanggungan ongkosnya bagimu, dan paling besar pertolongannya kepadamu.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia).

Benar kata beliau. Jika teman kita itu bertakwa, ia lebih sibuk mengusahakan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya, termasuk kita; semata-mata mengharap pahala dari Allah.

Sebaliknya, ia sangat enggan membebani orang lain. Tentu saja akan lain masalahnya jika kita bersahabat dengan teman yang jahat. Ia pasti tidak henti-hentinya merongrong kita dan memanfaatkan apa saja demi kepentingannya sendiri.

قَالَ عُبَيْدُ اللهِ بْنُ الْحَسَنِ لِرَجُلٍ : يَا فُلاَنٌ اِسْتَكْثِرْ مِنَ الصَّدِيْقِ فَإِنَّ أَيْسَرَ مَا تُصِيْبُ أَنْ يَبْلُغَهُ مَوْتُكَ فَيَدْعُو لَكَ (رواه ابن أبى الدنيا فى الإخوان)

Ubaidillah bin Hasan (w. 168 H) berkata kepada seseorang, “Hai fulan, perbanyaklah temanmu! Karena, hal paling minimal yang engkau dapatkan darinya ketika sampai berita tentang kematianmu adalah dia akan mendoakanmu.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia).

Begitulah teman yang baik dan bertakwa. Bahkan sampai kita meninggal, kebaikannya tidak terputus pula.

Akan tetapi, yang lebih krusial sebenarnya adalah: bagaimana status kita sendiri? Apakah kita termasuk orang yang layak dijadikan sebagai teman yang shalih, atau menjadi teman dari orang shalih?

Inilah PR yang harus digarap dengan serius. Sebab, setiap orang akan cenderung bergaul dengan sesamanya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud:

اِعْتَبِرُوا النَّاسَ بِأَخْدَانِهِمْ فَإِنَّ الرَّجُلَ يُخَادِنُ مَنْ يُعْجِبُهُ نَحْوَهُ (رواه ابن أبى الدنيا فى الإخوان)

“Nilailah orang-orang dengan (melihat) siapa teman-teman akrabnya, karena seseorang itu akan berkawan akrab dengan orang lain yang dia kagumi, yang serupa dengan dirinya” (Riwayat Ibnu Abi Dunia). Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur

Pengukuhan 118 Sarjana STAI Luqman al Hakim Songsong Tugas di Seluruh Nusantara

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 118 sarjana kader dai wisudawan Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Luqman al Hakim Surabaya mengikuti pengukuhan sekaligus penugasan bertempat di Aula Integral Luqman al Hakim, Ponpes Hidayatullah (PPH) Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu, 3 Rabi’ul Awal 1446 (7/9/2024).

Wisudawan dari 4 program studi di STAIL tersebut terdiri dari 4 program, yaitu program MQL (Markazul Qur’an wal Lughoh) yang berfokus pada al Qur’an dan Bahasa Arab, program karyawan dan program Karya atau kuliah berkarya yang berorientasi pada perpaduan seimbang teori dan praktek di lapangan.

Selaian prosesi wisuda, acara ini juga dirangkaikan dengan penugasan kader dai yang menjadi ciri khas STAIL sejak didirikannya pada 1998. Sebanyak 38 kader da’i alumni STAIL mengikuti pembacaan surat tugas mereka ke berbegai penjuru nusantara.

Alumni program berbeasiswa ini nantinya akan langsung berkiprah di jaringan mitra STAIL, baik di bidang pendidikan, dakwah maupun ekonomi.

Acara dimulai sejak pagi tersebut turut dihadiri para tokoh masyarakat sekitar kampus, Pembina PPH Surabaya K.H Abdurrahman S.E, Ketua Badan Pengurus PPH Surabaya Ust. H. Samsuddin, M.M, dan juga perwakilan dari Kopertais Wil IV, Dr. K.H M. Hasan Ubaidillah, SH. M.Si.

Sebagai kampus Islam, wisuda STAIL tahun ini kental dengan nuansa Palestina sebagai bentuk dukungan atas perjuangan masyarakat Palestina yang saat ini sedang menghadapi situasi berat dibawah penjajahan agresor zionis Israel.

Nuansa Palestina tersebut terlihat pada syal di gunakan wisudawan, lagu yang bergema saat dewan senat masuk dan juga backdrop yang digunakan. Selain itu, Ketua STAIL, Muhammad Idris, M.Pd, dalam sambutannya secara jelas menyampaikan hal tersebut.

“Ada tiga pelajaran penting yang perlu kita ambil dari warga Palestina, yaitu semangat juang dan jihad, optimisme dan tauhid yang kokoh. Ini adalah hal yang perlu dimiliki oleh wisudawan dan wisudawati,” ujar Idris yang juga sekertaris DPW Hidayatullah Jawa Timur tersebut.

Tak lupa, beliau mengajak para wisudawan untuk mengepalkan tangan dan meneriakkan kalimat ‘birruh biddam, nafdika ya aqsha (dengan nyawa, dengan darah, kami membelamu ya al Aqsha). Ruangan seketika bergemuruh dengan kalimat tersebut.

Kuatkan Kolaborasi Alumni

Untuk menguatkan kolaborasi dengan alumninya, pada kesempatan tersebut STAIL juga memasukan sesi penyerahan beasiswa kuliah dari Ikatan Alumni STAIL sebesar Rp.50.000.000. Penyeraran secara simbolis diwakili oleh ketua IKA STAIL, Indra Rauf, S.Pd. kepada Muhammad Idris selaku ketua STAIL.

Tahun ini juga merupakan wisuda pertama bagi program Markazul Qur’an wal Lughoh. Untuk itu, STAIL juga menyisihkan sesi untuk membacakan santri/wati MQL yang telah tuntas dan berhak mendapat sanad qiraah. Pemberian sanad di bacakan langsung oleh Ustadz Muhammad Abdullah, Lc., pengajar MQL alumnus al Azhar, Cairo, Mesir.

Selain itu, Mitra Dai Nusantara (MDN) sebagai lembaga filantropi yang telah bekerjasama dengan STAIL sejak lama juga ditampilkan pada prosesi Penugasan Kader Dai. MDN menyerahkan beasiswa sebesar Rp.820.000.000 secara simbolis untuk mendukung program penyebaran kader dai ke seluruh penjuru nusantara.

Jika sebelumnya hanya ada sesi penugasan kader dai ke seluruh Indonesia, prosesi tahun ini berbeda. STAIL Surabaya juga sekaligus membacakan SK penugasan kader mengabdi bagi 21 mahasiswa Program Karya. Program yang bekerjasama dengan MDN dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini berupa penempatan kader STAIL di masjid-masjid sekitar Surabaya untuk melakukan pembinaan dan pengabdian masyarakat.*/Muhammad Faruq

“Sa Terharu, Sa Dapat Bantuan”, Simpul Sinergi Hangatkan Hati Mualaf Suku Marind

0

MERAUKE (Hidayatullah.or.id) — Di tengah rimba Papua Selatan, suasana haru bercampur bahagia menyelimuti Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.

Bukan karena pesta adat atau perayaan besar, melainkan karena uluran tangan dalam program simpul sinergi kolaborasi Laznas Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan YBM BRILiaN yang datang membawa paket sembako dan ibadah bagi 51 keluarga mualaf Suku Marind, Senin, 5 Rabi’ul Awal 1446 (9/9/2024).

Khadijah Mahuse, salah satu penerima manfaat, tak kuasa menahan rasa harunya. Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya.

“Sa terharu, sa dapat bantuan. Semoga BMH dan YBM BRILiaN semakin sukses dan maju,” katanya.

Ucapan sederhana itu, namun sarat makna, menggambarkan betapa besar arti bantuan ini bagi mereka.

Kepala Kampung Kumbe pun turut hadir, menjadi saksi bagaimana bantuan ini disambut dengan penuh syukur oleh warganya.

“Ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian dan persaudaraan tak mengenal batas geografis,” ujarnya.

Susanto, Kepala BMH Perwakilan Papua Selatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud komitmen BMH dan YBM BRILiaN dalam membantu saudara-saudara mualaf di pelosok negeri.

“Kami berharap bantuan ini dapat memperkuat keimanan mereka dan memberikan semangat baru dalam menjalani kehidupan,” ungkap Susanto.

Paket sembako yang berisi beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya, serta paket ibadah seperti sarung, mukena, dan Al-Qur’an, menjadi bekal berharga bagi para mualaf Suku Marind. Bantuan ini bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan penguatan spiritual bagi mereka yang baru saja memeluk Islam.

Di Kampung Kumbe, semangat berbagi dan kepedulian telah menciptakan ikatan persaudaraan yang erat antara BMH, YBM BRILiaN, dan masyarakat setempat.

“Semoga semangat ini terus menyala, menerangi jalan kebaikan dan membawa perubahan positif bagi mereka yang membutuhkan,” pungkas Susanto.*/Herim

Mengapa Organisasi Gagal? Refleksi Futuristik dalam Perspektif Organisasi Islam

0

KEGAGALAN sebuah organisasi, baik itu organisasi kemasyrakatan, sosial, politik, ekonomi, maupun pendidikan, kerap kali disebabkan oleh sistem dan struktur internal yang menghambat kemajuan dan inovasi. Buku Why Nations Fail karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson yang terbit tahun 2012 itu menggambarkan bagaimana bangsa-bangsa gagal akibat institusi politik dan ekonomi yang eksklusif, yang menguntungkan segelintir elit tetapi menghambat partisipasi dan inklusivitas masyarakat luas.

Organisasi-organisasi Islam tersebut, mengalami tantangan besar dalam mempertahankan relevansi dan daya saing di tengah perubahan zaman. Banyak di antara organisasi-organisasi ini yang gagal bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena terjebak dalam pola pikir yang sama dengan apa yang terjadi pada Kekhalifahan Utsmaniyah, sebagaimana dikutip dalam Why Nations Fail..

Kegagalan yang Terstruktur: Pelajaran dari Sejarah

Salah satu poin kunci dalam Why Nations Fail adalah bahwa bangsa-bangsa yang gagal umumnya memiliki institusi yang tertutup, yang tidak memberi kesempatan kepada inovasi dan partisipasi masyarakat luas. Ketika kekuasaan terpusat pada segelintir elit, mereka sering kali membuat kebijakan yang menjaga status quo, meskipun itu merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam konteks organisasi Islam, kita bisa melihat dinamika yang serupa. Banyak organisasi Islam yang awalnya dibangun dengan visi besar untuk kebangkitan umat, lambat laun mengalami deviasi tujuan dan selanjutnya mereduksi tujuannya dan akibatnya gagal mencapai tujuan mereka karena bergantung pada struktur kekuasaan yang eksklusif.

Jangan Mengulang Kesalahan

Pada awal abad ke-15, Johannes Gutenberg dari Jerman menciptakan mesin cetak yang merevolusi penyebaran pengetahuan di Eropa. Penemuan ini memungkinkan produksi buku dan segala jenis produk cetakan menjadi jauh lebih murah dan lebih cepat, sehingga ilmu pengetahuan dan ide-ide baru dapat tersebar dengan lebih luas. Mesin cetak ini menjadi salah satu faktor kunci dalam penyebaran Renaisans dan Reformasi di Eropa.

Namun, ketika teknologi mesin cetak ini ditawarkan kepada Kekhalifahan Utsmaniyah, mereka menolaknya. Pada tahun 1515, Sultan Bayezid II mengeluarkan dekrit yang melarang penggunaan mesin cetak di wilayah kekuasaan Utsmaniyah. Para ulama dan pemimpin agama pada waktu itu khawatir bahwa teknologi ini akan mengancam otoritas mereka, karena buku-buku dan teks-teks agama yang selama ini dikendalikan secara ketat oleh kalangan elit agama akan menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat luas. Dan bertahan pada tradisi semula, yaitu menyalin dengan menulis dengan tangan.

Alasan di balik penolakan ini adalah kekhawatiran bahwa dengan menyebarnya pengetahuan dan pemikiran baru melalui mesin cetak, kekuatan ulama yang memonopoli penafsiran teks agama akan terancam. Institusi-institusi yang ada pada saat itu tidak ingin mengubah status quo yang memberikan mereka kekuasaan dan kendali atas masyarakat.

Akibatnya, dilaranglah penggunaan mesin cetak di seluruh wilayah Kekhalifahan Utsmaniyah selama beberapa abad. Barulah pada awal abad ke-18, teknologi ini secara terbatas mulai diperbolehkan, itu pun untuk penerbitan non-Arab atau non-Islam. Kebijakan penolakan ini digambarkan dalam Why Nations Fail sebagai salah satu bentuk ketidakmampuan institusi-institusi Utsmaniyah untuk merangkul inovasi yang berpotensi meningkatkan produktivitas dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Penolakan tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap kemunduran Kekhalifahan Utsmaniyah di bandingkan dengan negara-negara Eropa yang semakin maju berkat adopsi teknologi dan ilmu pengetahuan baru.

Hal ini, menurut Acemoglu dan Robinson, adalah salah satu contoh dari bagaimana institusi-institusi ekstraktif bekerja untuk menghalangi inovasi demi mempertahankan kekuasaan segelintir elite.

Institusi yang Eksklusif: Penyebab Kemunduran

Acemoglu dan Robinson berpendapat bahwa negara yang gagal adalah negara yang institusi-institusinya dikuasai oleh segelintir elit yang hanya peduli pada kepentingan mereka sendiri, bukannya kesejahteraan masyarakat luas. Dalam organisasi Islam modern, kita juga sering melihat pola yang sama. Pusat kekuasaan sering kali didominasi oleh figur-figur tertentu, sehingga organisasi tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Hal ini seringkali digambarkan dengan organisasi Islam yang sering kali gagal menciptakan sistem yang memungkinkan regenerasi pemimpin, atau memberikan ruang bagi pemikiran dan inovasi baru. Pemimpin-pemimpin senior yang diberi amanah selama bertahun-tahun, gagal mendidik atau memberdayakan pemimpin muda, dan akibatnya akan membawa organisasi ke arah stagnasi. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi juga berkontribusi pada kemunduran organisasi.

Menghadapi Tantangan Disrupsi: Antara Ancaman dan Peluang

Dalam era disrupsi teknologi, organisasi yang tidak mampu mengintegrasikan teknologi modern ke dalam operasionalnya akan tertinggal. Banyak organisasi Islam gagal memanfaatkan potensi teknologi untuk berdakwah, berorganisasi, atau mengelola sumber daya secara efisien. Seperti yang dikatakan dalam Why Nations Fail, terkait dengan penggunaan mesin cetak itu, padahal inovasi adalah kunci kemajuan, dan menolak teknologi tanpa reserve adalah resep kegagalan.

Di era digital ini, akses informasi terbuka lebar. Namun, banyak organisasi Islam masih terjebak dalam cara lama yang birokratis, menolak transformasi digital yang bisa membuat mereka lebih efektif. Mereka sering kali lambat dalam mengadopsi teknologi modern untuk keperluan dakwah, pendidikan, ekonomi dan termasuk dalam manajemen organisasi. Jika terus dibiarkan, ini akan memperlebar jurang antara organisasi Islam dan perkembangan global.

Solusi: Membangun Institusi Inklusif

Acemoglu dan Robinson menawarkan sebuah konsep solutif untuk mengatasi kegagalan, yaitu membangun institusi yang inklusif. Institusi inklusif adalah institusi yang memberi kesempatan kepada seluruh anggota untuk berpartisipasi secara aktif dalam pengambilan keputusan, inovasi, dan pengembangan. Dalam konteks organisasi Islam, ini berarti menciptakan organisasi yang terbuka terhadap ide-ide baru, mendorong partisipasi anggota, dan memastikan adanya mekanisme regenerasi kepemimpinan yang rapi dan tersistem.

Jika diuraikan lebih ditail, setidaknya dapat digambarkan sebagai berikut :

Pertama, Membengun dan Regenerasi Kepemimpinan Visioner: Salah satu langkah penting untuk menghindari kegagalan organisasi adalah dengan memastikan adanya regenerasi kepemimpinan yang sehat dan visioner. Organisasi Islam harus menyiapkan pemimpin muda yang memiliki visi ke depan, dengan tetap memperkuat basis jatidiri organisasi, serta memberikan ruang bagi mereka untuk berperan aktif dalam pengambilan keputusan. Regenerasi ini tidak boleh hanya menjadi formalitas, tetapi harus menjadi proses yang terstruktur dengan baik.

Kedua, Adopsi Teknologi: Organisasi Islam perlu bergerak cepat dalam mengadopsi teknologi. Platform digital harus menjadi bagian dari strategi organisasi untuk berdakwah, mengelola sumber daya, dan berinteraksi dengan anggota serta masyarakat luas. Transformasi digital ini akan memastikan bahwa organisasi tetap relevan di era disrupsi dan dapat menjangkau lebih banyak umat dengan lebih efisien.

Ketiga, Mekanisme Syura yang Aktif dan Berbasis Data: Prinsip syura (musyawarah) dalam Islam harus dijalankan dengan baik, bukan hanya sebagai formalitas. Syura harus menjadi ruang terbuka di dalam setiap pengambilan keputusan. Di mana ada mekanisme yang berjenjang bagi setiap anggota untuk dapat memberikan masukan. Sehingga keputusan yang diambil harus berbasis data dan pertimbangan yang matang, serta hasil mujahadah dan istikharoh peimpin, bukan sekadar bisikan dari lingkaran elit.

Keempat, Transparansi dan Akuntabilitas: Salah satu penyakit yang sering menggerogoti organisasi adalah ketidaktransparanan dan juga penyalahgunaan wewenang. Organisasi Islam harus membangun sistem yang transparan dan akuntabel, terutama dalam hal keuangan dan pengambilan keputusan. Ini akan membangun kepercayaan anggota terhadap organisasi dan juga bagi semua stakeholder organisasi, serta mencegah terjadinya kebocoran sumber daya.

Kelima, Menyelaraskan Identitas dengan Konteks Zaman: Organisasi Islam harus tetap teguh pada prinsip-prinsip ajaran, yang telah mengkristal dan dirumuskan dalam jatidirinya. Akan tetapi pada saat bersamaan juga mesti mampu beradaptasi dengan realitas zaman. Ini berarti tidak hanya berpegang pada tradisi tanpa mempertanyakan relevansinya dalam konteks saat ini, tetapi juga mencari cara untuk menerjemahkan nilai-nilai Islam dalam format yang relevan dengan tantangan kontemporer, dalam konteks kekinian dan kedisinian.

.

Penutup: Mengendarai Gelombang Inovasi

Dalam era disrupsi, organisasi Islam tidak bisa lagi berpegang pada cara-cara lama yang tertutup dan stagnan. Seperti yang digambarkan dalam Why Nations Fail, hanya organisasi yang inklusif, terbuka terhadap perubahan, dan berani mengadopsi teknologi yang akan bertahan dan berkembang. Jika tidak, organisasi akan tenggelam dalam stagnasi, kehilangan relevansi, dan pada akhirnya gagal ataupun mati.

Untuk tetap tangguh dan relevan, organisasi Islam harus kembali kepada prinsip-prinsip dasar Islam yang mendorong ta’awun (kerjasama), syura, serta akhlak mulia. Dengan mengadopsi model organisasi yang inklusif, transparan, dan berbasis teknologi, organisasi Islam akan mampu mengatasi tantangan zaman, dan lebih dekat pada tujuan besar mereka: menegakkan peradaban Islam di muka bumi.

Seperti halnya bangsa-bangsa yang gagal karena institusi eksklusif, organisasi Islam pun berpotensi gagal jika tidak segera melakukan pembaruan. Namun, dengan langkah-langkah strategis yang futuristik, organisasi Islam bisa mengendarai gelombang perubahan dan tetap berdiri kokoh menghadapi tantangan masa depan. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI) dan Ketua Bidang Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pisat (DPP) Hidayatullah

Pesan Menjaga Jatidiri Hidayatullah dari Kendari dan “Recharge” Semangat Dakwah

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Masjid Umar bin Abdul Aziz di Pondok Tahfidz Darul Hijrah Hidayatullah Kendari, menjadi saksi bisu sebuah pertemuan yang tak biasa, Sabtu, 3 Rabi’ul Awal 1446 (7/9/2024). Bukan hanya sekadar pengajian bulanan, acara “Lailatul Ijtima” ini bagaikan “recharge” spiritual bagi warga Hidayatullah Kendari.

Bayangkan, dari berbagai penjuru kota, mereka datang, bukan hanya untuk mendengarkan ceramah, tapi juga untuk saling menguatkan. Ada Ustadz Ahmad Syahroni yang bersemangat mengajak semua untuk terus menghidupkan tradisi kebaikan, ada Ustadz Ahmad MS yang mengingatkan tentang pentingnya menjaga “jati diri” dai di Hidayatullah.

Suasana hangat terasa, bukan hanya dari senyum dan jabat erat yang terjalin, tapi juga dari semangat yang membara. Mereka bukan hanya sekumpulan individu, tapi sebuah jamaah yang siap bergerak bersama.

Uniknya, acara ini bukan hanya tentang ceramah agama. Ada pesan tersirat tentang keseimbangan.

Ustadz Ahmad Syahroni selaku Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara menekankan pentingnya dua jenis kegiatan: “Kultural” untuk jiwa, dan “Jasadiah” untuk raga. Seperti dua sayap burung, keduanya harus seimbang agar jamaah bisa terbang tinggi.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, Lailatul Ijtima ini seperti oase. Warga Hidayatullah Kendari yang semua aktif dalam dakwah dan tarbiyah tak hanya mendapatkan ilmu, tapi juga semangat baru untuk berdakwah. Mereka pulang dengan hati yang lebih lapang, siap menghadapi tantangan zaman dengan manhaj yang kokoh.

“Ini bukan sekadar pengajian, ini adalah peneguhan komitmen, pengingat jati diri, dan suntikan semangat untuk terus membangun peradaban Islam yang berkelanjutan untuk membangun generasi yang cerdas dan beradab,” tutup Kepala Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sulawesi Tenggara, Armin.*/Herim

Hadirkan Aura Bahagia di Tengah Kekeringan yang Melanda Panggung Barat

0

LOMBOK (Hidayatullah.or.id) — Di bawah terik matahari yang membakar, Dusun Panggung Barat di Lombok Utara telah lama merindukan setetes air. Krisis air bersih telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Namun, pada hari itu, Sabtu, 3 Rabi’ul Awal 1446 (7/9/2024) yang penuh berkah, air mata bahagia mengalir di wajah-wajah lelah.

“Alhamdulillah sekali, Pak! Hari ini kami bisa mendapatkan sumbangan air bersih ini, setelah lama kami tunggu-tunggu,” ucap seorang ibu dengan suara bergetar, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), seperti oase di tengah gurun, hadir membawa harapan. 9 ribu liter air bersih didistribusikan, membawa kelegaan bagi warga yang telah berjuang melawan dahaga.

Ibu Saimah, salah satu penerima manfaat, menceritakan perjuangan berat mereka selama ini. “Saya dan warga yang lain kalau ingin minum atau mandi dan mencuci harus berjalan jauh sekitar satu kilo lebih dengan cuaca panas di musim kering ini untuk bisa mendapatkan air,” ujarnya, menggambarkan betapa berharganya air bagi mereka.

Nur Kholis, Kepala BMH NTB, menegaskan komitmen mereka untuk terus membantu. “Distribusi air bersih ini merupakan upaya pertama. Insha Allah kedepannya kami dari Laznas BMH akan memaksimalkan bantuan air untuk daerah ini,” tegasnya berkomitmen.

Rencana pembangunan sumur bor pun memberikan secercah harapan akan masa depan yang lebih baik.

Di balik setiap tetes air yang mengalir, ada kisah perjuangan, harapan, dan rasa syukur. Bantuan air bersih ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga tentang mengembalikan senyum dan semangat hidup warga Dusun Panggung Barat. Semoga kebaikan para donatur BMH menjadi berkah yang mengalir terus menerus, memberikan harapan di tengah kekeringan.*/Herim

Bangkitkan Semangat Berbagi Ditengah Keramaian di Pasar Krempyeng

0

DEMAK (Hidayatullah.or.id) — Pasar Dadakan Krempyeng Demak tak hanya riuh dengan transaksi jual beli, tetapi juga diwarnai dengan semarak ajakan berzakat yang unik dan inspiratif. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai Demak, dengan penuh semangat, menggelar sosialisasi gerakan sadar zakat di tengah hiruk-pikuk pasar.

Bukan di gedung mewah atau ruang seminar, BMH memilih lokasi yang tak biasa untuk menyampaikan pesan pentingnya berzakat. Di antara tumpukan barang dagangan dan lalu lalang pembeli, mereka membuka konsultasi zakat, memberikan brosur, dan mengingatkan para pedagang serta pengunjung akan kewajiban dan manfaat berbagi melalui zakat.

“Alhamdulillah responnya bagus. Banyak orang yang bertanya,” ujar Susmanto, Koordinator BMH Gerai Demak, dengan wajah berseri, Ahad, 4 Rabi’ul Awal 1446 (8/9/2024).

Ia melihat antusiasme masyarakat sebagai tanda bahwa kesadaran berzakat masih tertanam kuat, hanya perlu diingatkan dan difasilitasi.

BMH tak berhenti di situ. Mereka berencana menggelar layanan kesehatan keliling, menunjukkan bahwa zakat tak hanya berdampak pada kesejahteraan spiritual, tetapi juga pada kesehatan fisik masyarakat.

Zulfikar, seorang pengunjung pasar, menyambut baik inisiatif BMH ini. “Kadang-kadang karena saking sibuk bekerja, kami jadi lupa. Alhamdulillah, BMH datang mengingatkan,” ucapnya penuh syukur.

Gerakan sadar zakat yang digelar BMH di Pasar Dadakan Krempyeng Demak ini memberikan inspirasi bagi kita semua. Bahwa berbagi tak harus menunggu kaya, tak harus di tempat khusus, dan tak harus dengan cara yang rumit.

Di tengah kesibukan sehari-hari, di tempat yang tak terduga, semangat berbagi bisa tetap menyala. BMH telah membuktikannya, dan semoga kita semua bisa terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.*/Herim