PEKALONGAN (Hidayatullah.or.id) — Kota Pekalongan, yang terkenal dengan batiknya, kini bersiap menyambut sentuhan baru: semangat santri yang berpadu dengan visi kota yang Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapih, dan Indah (SANTRI).
Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Jawa Tengah, Gerai Pekalongan, mengambil langkah berani dengan menjalin kolaborasi unik bersama Bunda PAUD Kota Pekalongan, Hj. Inggit Soraya.
Pertemuan yang berlangsung hangat ini bukan sekadar silaturahmi biasa. BMH dan Bunda PAUD bertekad untuk meretas berbagai program bersama demi kemaslahatan umat, khususnya masyarakat Kota Pekalongan.
“Kami sangat butuh banyak pihak yang bisa berkolaborasi,” ungkap Ibu Inggit dengan antusias.
“Terlalu banyak amanah umat yang bisa kita sinergikan,” lanjutnya, seperti dalam keterangan yang diterima media ini, Selasa, 6 Rabi’ul Awal 1446 (10/9/2024).
Kabid PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Ibu Sherly Imanda Hidayah, yang turut hadir, langsung tertarik dengan program pemberdayaan ekonomi BMH.
“Saya tertarik dengan program vokasi untuk janda tangguh dan penguatan bagi ibu-ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
“Kita bisa kolaborasi untuk membekali mereka dengan keterampilan yang dibutuhkan.”
BMH, melalui Koordinator Gerai Pekalongan, Abdul Aziz, menyambut baik antusiasme ini.
“Semoga ke depan banyak program yang bisa disinergikan untuk kemanfaatan umat,” harapnya.
Kolaborasi ini bukan sekadar wacana. BMH dan Bunda PAUD siap bergandengan tangan, mewujudkan program-program nyata yang berdampak langsung pada masyarakat. Batik dan santri, dua identitas Kota Pekalongan, akan berpadu dalam semangat membangun kota yang lebih baik.
“Kami ingin bersama-sama mewujudkan Kota Pekalongan yang SANTRI,” pungkas Aziz.
Ini adalah bukti bahwa sinergi antara lembaga zakat dan pemerintah daerah dapat menghasilkan inovasi sosial yang luar biasa. BMH dan Bunda PAUD telah menunjukkan bahwa dengan niat tulus dan kolaborasi yang kuat, perubahan positif bisa dimulai dari langkah kecil.*/Herim
TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Fahrul, Ibad, Baim, dan Yana, empat anak mualaf dari Suku Baduy, kini bukan hanya sekadar bermimpi. Mereka tengah menapaki jalan menuju cita-cita, berbekal seragam sekolah baru yang diberikan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).
Jauh dari kampung halaman di pedalaman Baduy, mereka memilih hijrah ke kota untuk mengejar pendidikan, sesuatu yang “pamali” atau dilarang dalam adat mereka. Kini, mereka tinggal di Rumah Qur’an Jannatul Firdaus Putra, binaan BMH, bersama santri yatim dan dhuafa lainnya.
“Senang sekarang sekolahnya sudah pakai seragam,” ungkap Yana dengan mata berbinar. Ustadz Gunawan, pimpinan rumah Qur’an, menambahkan, “Karena keterbatasan, kadang mereka sekolah hanya pakai sandal.”
Roni Hayani, dari BMH Perwakilan Banten, menjelaskan bahwa seragam ini adalah bagian dari Program Beasiswa Anak Asuh.
“Kami ingin mereka merasa setara dengan anak-anak lain, punya semangat belajar yang tinggi,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 6 Rabi’ul Awal 1446 (10/9/2024).
Ustadz Gunawan pun tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para donatur BMH. “Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala yang berlimpah,” doanya.
Seragam baru ini mungkin terlihat sederhana, tapi bagi Fahrul, Ibad, Baim, dan Yana, ini adalah simbol harapan. Mereka kini bisa berjalan tegap menuju sekolah, bukan lagi dengan sandal jepit, tapi dengan seragam yang melambangkan semangat belajar mereka.
Ini bukan sekadar berita tentang bantuan seragam, tapi tentang mimpi besar yang mulai tumbuh di hati anak-anak mualaf Baduy. Berkat dukungan BMH dan para donatur, mereka kini punya kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih cerah.*/Herim
MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau tampak lebih hidup dari biasanya. Dari pagi hingga sore, riuh rendah suara ibu-ibu yang tergabung dalam Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Malinau terdengar memenuhi aula utama, Ahad, 4 Rabi’ul Awal 1446 (8/9/2024).
Tidak ada tanda kelelahan atau keluhan yang terlihat di wajah mereka, meskipun acara berlangsung selama berjam-jam. Mereka hadir dengan penuh antusias untuk mengikuti Training Bina Aqidah, sebuah program yang dirancang khusus untuk memperkuat fondasi keimanan.
Training Bina Aqidah ini bukan sekadar acara rutin, melainkan bagian penting dari upaya pembinaan umat yang secara aktif dilakukan oleh Mushida Malinau. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua PD Mushida, Ustadzah Haritsah, S.Pd., acara ini bertujuan untuk menajamkan aqidah para jamaah, terutama mereka yang merupakan muallaf.
“Kita berharap para peserta semakin semangat belajar ilmu agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Haritsah dengan penuh keyakinan.
Training Bina Aqidah ini bukan hanya soal pembinaan keimanan, tapi juga tentang bagaimana membangun sebuah komunitas yang saling mendukung. Di tengah lingkungan yang beragam, kata dia, baik dari segi budaya maupun latar belakang, Islam menjadi jembatan yang menghubungkan mereka.
“Pengalaman para peserta menunjukkan bahwa ajaran Islam dapat diterima dengan logika yang masuk akal dan nurani yang bersih, tanpa paksaan dan dogma yang kaku,” imbuhnya.
Kegiatan ini, meski sederhana, diharapkan memberi dampak yang mendalam. Tidak hanya bagi para peserta, tetapi juga bagi komunitas Muslim di Malinau secara umum.
Dengan adanya pembinaan yang terus-menerus, diharapkan akan terbentuk generasi Muslim yang kuat dalam aqidah dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Sebagai sebuah organisasi, menurut Haritsah, Hidayatullah terus menguatkan relevansi dakwah dengan zaman bahwa pendekatan yang penuh kasih dan bersahabat dalam menyebarkan ajaran Islam dapat menghasilkan dampak yang positif.
Misi Keberlanjutan
Pembinaan muallaf bukan tugas ringan. Banyak di antara mereka datang dari latar belakang yang berbeda, dengan pengalaman spiritual yang unik. Di sinilah pentingnya program seperti Training Bina Aqidah.
Sebagai organisasi yang berfokus pada dakwah dan pembinaan, Hidayatullah secara konsisten menciptakan ruang bagi muallaf untuk belajar dan mendalami ajaran Islam dengan cara yang sistematis, terstruktur, namun tetap bersahabat.
Tidak hanya sekadar menerima materi baru, para peserta dibimbing untuk memahami Islam melalui logika dan hati nurani. Salah satu peserta, Ibu Kristina Deborah, seorang muallaf yang aktif di pengajian Hidayatullah, menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan ini.
“Saya bersyukur di Hidayatullah bisa menerima pembelajaran Islam yang sesuai dengan hati nurani dan logika saya,” ungkap Kristina dengan nada haru.
Pernyataan Kristina menggambarkan perasaan banyak peserta lain yang merasakan manfaat nyata dari pembinaan ini. Mereka tidak hanya mempelajari aspek-aspek teoretis agama, tetapi juga bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah pembelajaran yang jauh melampaui teks kitab, masuk ke ranah pengalaman pribadi dan penghayatan spiritual.
Materi Komprehensif
Dalam training ini, dua pemateri utama, Ustadz Jumardi Sukma dan Mazlis B. Mustafa, memberikan materi-materi yang esensial dalam memahami aqidah Islam. Ustadz Jumardi, yang menjabat sebagai Ketua Departemen Perkaderan, bersama Mazlis, Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara, membawakan materi dengan gaya yang interaktif, memancing diskusi dan tanya jawab dari para peserta.
Beberapa materi yang disampaikan antara lain dasar-dasar aqidah, tiga landasan utama yang mengenalkan konsep rububiyah dan uluhiyah Allah, serta pokok-pokok ajaran Islam. Di sini, peserta diajak untuk mendalami makna iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari.
Materi ini diakhiri dengan pembahasan mengenai proses berislam, yang menekankan pentingnya menjadikan Islam sebagai landasan hidup yang komprehensif, bukan sekadar ritual keagamaan.
Materi-materi ini disampaikan dengan metode yang sederhana, namun penuh makna. Para peserta yang sebagian besar baru memeluk Islam, merasakan bahwa penjelasan yang diberikan sangat membantu mereka dalam memperdalam pemahaman tentang keimanan dan praktik beragama.
Antusiasme yang Menyala
Kehadiran para peserta yang sebagian besar adalah muallaf menunjukkan bahwa mereka haus akan ilmu agama. Mereka datang bukan sekadar untuk mengikuti acara, tetapi untuk menyerap setiap ilmu yang disampaikan. Antusiasme ini terlihat dari cara mereka aktif bertanya, mencatat, dan berdiskusi sepanjang sesi.
Keaktifan para ibu-ibu ini juga mencerminkan sebuah perubahan sosial yang lebih besar. Di tengah arus modernitas yang sering kali menggoyahkan nilai-nilai spiritual, kegiatan seperti Training Bina Aqidah menjadi benteng bagi para muallaf untuk memperkuat keimanan dan keyakinan mereka. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan lingkungan mereka.
Pada akhir acara, semua peserta menyatakan kesiapan mereka untuk melanjutkan pembinaan ini melalui program halaqah, sebuah sistem pengajian yang lebih kecil dan intensif.
Besar harapan agar halaqah ini dapat menjadi sarana bagi mereka untuk terus belajar dan berbagi pengalaman tentang bagaimana ajaran Islam bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.*/Adam Sukiman
MUKOMUKO (Hidayatullah.or.id) — Di bawah langit cerah di Kecamatan Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, secercah harapan baru terpancar dari senyum para santri di LKSA Hidayatullah. Pada hari yang penuh berkah, Senin, 5 Rabi’ul Awal 1446 (9/9/2024), Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menyalurkan 550 mushaf Al-Qur’an kepada lembaga tersebut, membawa semangat baru untuk anak-anak yatim dan dhuafa di sana.
Kepala Kantor Perwakilan BMH Bengkulu, Mohammad Irwan, mengatakan penyaluran mushaf Al-Qur’an ini merupakan bagian dari program nasional BMH yang bertujuan untuk menyebarkan kemuliaan Al-Qur’an ke seluruh pelosok Indonesia. Dalam kegiatan kali ini, LKSA Hidayatullah di Mukomuko menjadi salah satu penerima manfaat dari inisiatif mulia ini.
Kehadiran mushaf Al-Qur’an baru di LKSA Hidayatullah diharapkan membawa dampak yang sangat positif, terutama bagi para santri yang setiap harinya tekun menghafal dan mempelajari kitab suci. Bagi mereka, memiliki Al-Qur’an yang layak adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, sekaligus penyemangat untuk terus belajar dan mendalami agama.
Di antara para santri yang menerima mushaf Al-Qur’an baru, ada seorang remaja bernama Ikhsan, 15 tahun. Matanya berbinar ketika ia menerima kitab suci tersebut. Dengan penuh keikhlasan, Ikhsan mengucapkan terima kasih yang tulus kepada BMH dan para donatur yang telah mendukung program ini.
“Ribuan terima kasih kepada BMH yang telah mensupport Al-Qur’an baru kepada kami. Ini akan menambah semangat kami untuk menghafal Al-Qur’an,” ujar Ikhsan dengan senyum mengembang di wajahnya.
Kata-kata Ikhsan tidak hanya menyiratkan rasa syukur, tetapi juga menggambarkan betapa pentingnya Al-Qur’an bagi para santri. Sebagai anak-anak yang sedang meniti jalan menjadi penghafal Al-Qur’an, memiliki mushaf yang baik menjadi motivasi tambahan bagi mereka untuk terus berjuang dalam menuntut ilmu agama.
Selain mengucapkan terima kasih, Ikhsan dan para santri lainnya juga tak lupa menyampaikan doa untuk para donatur yang telah berkontribusi dalam program ini. Mereka mendoakan agar para donatur selalu diberi kesehatan dan kemudahan rezeki oleh Allah SWT.
“Semoga para donatur selalu sehat dan diberikan kemudahan rezeki oleh Allah SWT. Aamiin ya Rabbal Alamin,” lanjut Ikhsan dengan penuh harap.
Doa tersebut menunjukkan betapa besar rasa terima kasih para santri kepada orang-orang yang telah mendukung mereka. Dalam setiap mushaf yang diterima, ada doa-doa yang tulus mengalir dari hati anak-anak ini, berharap agar kebaikan yang mereka terima dibalas oleh Allah SWT dengan berkah yang melimpah.
Kabupaten Mukomuko, yang terletak di ujung barat Bengkulu, mungkin tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas. Namun, di daerah yang jauh dari keramaian ini, semangat belajar para santri tetap berkobar. Mereka tidak pernah menyerah meski berada di pelosok negeri, jauh dari akses mudah terhadap fasilitas pendidikan.
BMH memahami bahwa membangun generasi yang berkarakter dan berlandaskan pada nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya bisa dilakukan di kota-kota besar. Justru di pelosok negeri inilah, Al-Qur’an menjadi lebih bermakna. Ketika akses terhadap mushaf Al-Qur’an baru menjadi lebih sulit, bantuan seperti ini terasa lebih berharga.
Para santri di LKSA Hidayatullah di Mukomuko mungkin tidak memiliki kemewahan fasilitas seperti di kota-kota besar, namun semangat mereka untuk menghafal dan memahami Al-Qur’an sama kuatnya, bahkan mungkin lebih.*/Adam Sukiman
KEPAHIANG (Hidayatullah.or.id) — Sebuah kabar baik datang dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang menyerahkan bantuan modal usaha kepada Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Al Kahfi di Desa Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Senin, 5 Rabi’ul Awal 1446 (9/9/2024).
Bantuan ini menjadi angin segar bagi LKSA yang dipimpin oleh Umi Sri, seorang wanita yang telah lama berjuang memberikan pendidikan dan keterampilan kepada anak-anak di sana.
Dengan senyum penuh haru, Umi Sri menyampaikan rasa syukur yang mendalam. “Ribuan terima kasih kepada BMH yang telah membantu modal usaha bagi LKSA kami. Semoga ini menjadi kebaikan bagi perekonomian LKSA, sehingga santri bisa lebih terampil dalam mengelola keuangan,” ujar Umi Sri.
Berbicara tentang modal usaha, banyak yang berpikir ini hanyalah soal uang. Namun di tangan LKSA dan Umi Sri, modal usaha ini diibaratkan sebagai bibit pohon. Ia akan tumbuh, memberikan buah, dan terus bermanfaat selama dikelola dengan baik.
Kepala Kantor Perwakilan BMH Bengkulu, Mohammad Irwan, menyampaikan bahwa pemberdayaan ekonomi adalah kunci bagi masyarakat untuk mandiri, dan dengan bantuan ini, mereka berharap LKSA mampu meningkatkan taraf hidup para santri, sekaligus memberikan pelatihan yang berguna bagi masa depan mereka.
“Dengan begitu, LKSA dan para santri memiliki kesempatan untuk belajar, berlatih, dan tumbuh menjadi lebih mandiri,” katanya.
Dia mengatakan, peran santri dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah generasi penerus yang diharapkan mampu membawa perubahan, baik dalam bidang agama, ekonomi, maupun sosial.
Di LKSA ini para santri tidak hanya diajarkan untuk menjadi pribadi yang taat agama, tetapi juga diajak untuk berperan aktif dalam kehidupan masyarakat, termasuk melalui kegiatan wirausaha.
BMH dan LKSA sepakat bahwa meskipun fokus pada pemberdayaan ekonomi, pendidikan agama dan akhlak tetap harus menjadi prioritas. Ini adalah kombinasi yang sangat penting, terutama di tengah tantangan zaman modern yang semakin kompleks.*/Adam Sukiman
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pelatihan Kepemimpinan Pendidikan Hidayatullah Batch #4 gelaran Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (BPO) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dan Hidayatullah Institute (HI) yang didiikuti oleh Kepala kepala Seklolah Hidayatullah perwakilan dari berbagai daerah se-Indonesia ditutup pukul 20:00 WIB di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, pada Jum’at malam, 2 Rabi’ul Awal 1446 (6/9/2024).
Acara ini terasa istimewa dengan kehadiran langsung Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, yang memberikan taujih manhaji sekaligus menutup secara resmi kegiatan yang berlangsung intens selama lima hari tersebut.
Dalam taujihnya menutup kegiatan ini, Nashirul menggarisbawahi pentingnya memiliki visi yang jelas dan metodologi yang konsisten, atau yang ia sebut sebagai “manhaji.” Tanpa visi yang jelas dan cara kerja yang sistematis, terangnya, sulit bagi seorang kepala sekolah untuk membawa perubahan yang signifikan.
“Visi itu harus menerobos zaman,” katanya.
Ia mengutip contoh dari Nabi Muhammad SAW, yang membangun visi jangka panjang hingga 800 tahun ke depan. Ia juga menyebut Visi 2030 yang dicanangkan oleh Raja Saudi saat ini, yang meskipun ambisius, mulai menunjukkan hasil nyata hanya dalam lima tahun.
Visi, menurutnya, bukan sekadar angan-angan. Visi harus mendorong seseorang untuk menjadi progresif, selalu meningkatkan kualitas, menciptakan inovasi, dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi.
“Seorang kepala sekolah yang visioner tidak akan terjebak pada rutinitas sehari-hari, tetapi akan selalu mencari cara untuk bertransformasi dan membawa sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi,” katanya.
Sebelum menutup pidatonya, Ust. Dr. Nashirul memberikan pesan dengan mengingatkan para peserta untuk membangkitkan ambisi positif dalam diri mereka. Dia menegaskan, transformasi, kolaborasi, dan inovasi adalah tiga kunci utama yang harus dipegang teguh.
“Madrasah atau sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi harus menjadi wahana untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan bangsa,” katanya.
Ambisi positif yang dimaksud di sini bukanlah ambisi yang egois, tetapi ambisi yang lahir dari keinginan untuk membawa perubahan bagi orang lain.
Dalam konteks pendidikan, Nashirul menjelaskan, ambisi ini berarti menciptakan sekolah-sekolah yang mampu melahirkan generasi cerdas dan berakhlak mulia, yang kelak akan memimpin bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.
Tertib, Disiplin, Unggul
Sementara itu Direktur Hidayatullah Institute, Muzakkir Usman Asyari, menyampaikan laporan kegiatan yang telah berlangsung selama lima hari penuh ini. Tak hanya sekadar laporan, ada rasa kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya.
“Tertib, disiplin, unggul.” Itulah tagline yang diusung oleh Angkatan Kepala Sekolah Batch 4 ini. Tiga kata yang menjadi prinsip utama yang mereka pegang erat selama pelatihan. Tertib dalam menjalankan aturan, disiplin dalam mengatur waktu, dan unggul dalam mengejar prestasi—semuanya menjadi landasan untuk menjadi kepala sekolah yang bukan sembarangan.
Muzakkir menyebutkan peserta pelatihan ini datang dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Timur, Kalimantan Timur, DIY Jateng, hingga Papua Selatan. Sebuah representasi yang menunjukkan betapa luasnya jaringan Hidayatullah dan bagaimana mereka berkomitmen untuk memajukan pendidikan di pelosok negeri.
Usia para peserta pun bervariasi, mulai dari yang paling muda berusia 25 tahun hingga yang paling senior mencapai 56 tahun. Kata Muzakkir, ini menunjukkan bahwa menjadi kepala sekolah bukan hanya tentang usia, melainkan juga tentang semangat untuk terus belajar dan berkembang.
Sebagai tambahan yang menarik, dari 37 peserta tersebut, sebanyak 75% sudah mengantongi gelar sarjana, sementara sisanya telah meraih gelar master. Ini menandakan bahwa pendidikan formal yang tinggi menjadi salah satu syarat penting dalam dunia pendidikan masa kini. Namun, Muzakkir menegaskan bahwa lebih dari sekadar gelar, pengalaman mengajar yang dimiliki oleh peserta juga sangat mengesankan.
Rata-rata mereka telah mengabdi di dunia pendidikan selama 10 tahun, dengan yang paling lama mencapai 24 tahun. Sehingga, kata dia, tak bisa dipungkiri, para peserta adalah orang-orang yang benar-benar telah berkontribusi banyak bagi pendidikan di daerahnya masing-masing.
Salah satu hal yang sangat dibanggakan oleh Muzakkir adalah tingkat kedisiplinan para peserta selama pelatihan. Bayangkan saja, lima hari pelatihan dengan total 40 jam penuh, dan tidak ada satu pun dari mereka yang absen atau terlambat. Menurutnya, ini adalah sebuah pencapaian luar biasa yang bahkan memecahkan rekor angkatan-angkatan sebelumnya.
“Momen ini mungkin terkesan sederhana, tetapi jika kita melihat lebih dalam, ada filosofi besar di baliknya. Menjadi kepala sekolah bukanlah pekerjaan mudah. Seorang kepala sekolah adalah pemimpin yang tidak hanya mengatur operasional sekolah, tetapi juga menjadi teladan bagi guru, siswa, dan seluruh komunitas pendidikan. Tanpa disiplin yang kuat, sulit rasanya untuk mencapai visi dan misi yang besar,” katanya.
Selama pelatihan berlangsung, para peserta tidak hanya duduk diam mendengarkan ceramah. Mereka terlibat aktif dalam berbagai diskusi kelompok, presentasi, serta benchmarking di dua sekolah unggulan: Sekolah Karakter dan SMA Dwiwarna (boarding school). Dari sini, lahirlah dua produk pelatihan yang diharapkan dapat membawa perubahan signifikan di sekolah masing-masing: budaya organisasi sekolah dan pemetaan sekolah.
Budaya organisasi mungkin terdengar sebagai istilah yang sering diabaikan, tetapi pada kenyataannya, inilah fondasi dari keberhasilan sebuah sekolah. Bagaimana nilai-nilai dijalankan, bagaimana interaksi antarwarga sekolah berlangsung, dan bagaimana visi serta misi diterjemahkan ke dalam aksi nyata—semua itu adalah bagian dari budaya organisasi. Tanpa budaya yang kuat, sekolah hanya akan menjadi tempat belajar biasa, bukan institusi yang menginspirasi.
Pemetaan sekolah, di sisi lain, adalah tentang memahami di mana posisi sekolah saat ini dan ke mana arah yang ingin dituju. Seperti sebuah peta, pemetaan ini menjadi panduan bagi para kepala sekolah untuk merumuskan strategi dan langkah-langkah konkret dalam mengembangkan sekolah mereka. Apakah fokusnya pada peningkatan kualitas pengajaran, fasilitas, atau pengembangan sumber daya manusia—semua itu bisa diukur dan direncanakan dengan baik melalui pemetaan ini.
Ia menegaskan bahwa kepala sekolah bukanlah jabatan sembarangan dalam struktur Hidayatullah. Mereka adalah figur yang sangat penting, yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai Hidayatullah ke dalam diri para siswa. Visi besar Hidayatullah adalah mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berlandaskan pada nilai-nilai keislaman.*/Darwiwing
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan menggelar acara penugasan daiyah sarjana tahun 2024 di Kampus STIS Hidayatullah Balikpapan, Jum’at, 2 Rabi’ul Awal 1446 (6/9/2024).
Acara yang berlangsung di Aula Kampus Putri STIS Hidayatullah ini menjadi momentum penting bagi para daiyah untuk melangkah ke medan dakwah, membawa ilmu dan semangat membangun generasi cerdas untuk Indonesia Emas 2045.
Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Balikpapan, Ust. Masykur Suyuti, dalam sambutannya, mengingatkan para dai’yah tentang pentingnya ketaatan dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas dakwah.
“Penugasan adalah pengkaderan terbaik. Kokohkan kader dengan penugasan ini, bahwa mereka yang berangkat tugas ini adalah orang-orang pilihan, kader-kader yang telah teruji,” ujarnya.
Para dai’yah yang ditugaskan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, siap mengabdikan diri di berbagai pelosok negeri. Ayu Diah, misalnya, akan bertugas di DPD Majene, Sulawesi Barat.
“Saya merasakan deg-degan sebelum pembacaan SK karena tidak tahu akan bertugas di mana. Tapi harapannya bisa dekat keluarga,” ungkapnya.
Sementara itu, WA Yusri merasa sangat senang karena mendapatkan tugas di YPPH Liang, Ambon, yang dekat dengan rumahnya. “Alhamdulillah, saya bisa berbakti pada orang tua,” ujarnya penuh syukur.
Firda Isni, yang berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur, juga mendapatkan tugas di YPPH Bojonegoro.
“Doa ibu adalah saya bisa di dekat beliau. Alhamdulillah, hal yang ibu inginkan bisa terwujud,” ucapnya haru.
Namun, tidak semua daiyah merasa lega dengan penempatan mereka. Masni Harianti, yang berasal dari Lombok, mendapatkan tugas di YPPH Jeneponto, Sulawesi Selatan.
“Saya sebenarnya senang, namun orang tua saya belum bisa memahami saya jauh dari mereka,” ungkapnya sedih.
Kendati demikian, Harianti bertekad untuk kembali membicarakan hal ini dengan orang tuanya hingga orang tuanya memahami dan ikhlas dirinya menjalankan tugas dakwah.
Meskipun ada tantangan dan perasaan campur aduk, semangat para daiyah sarjana ini tak pernah padam. Mereka siap mengemban amanah dakwah, mencerdaskan anak bangsa, dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Dengan bekal ilmu dan semangat yang mereka miliki selama 4 tahun menjalani proses kuliah di STIS Hidayatullah Balikpapan yang didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), para daiyah ini akan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat dan bangsa.*/Herim
DITENGAH hiruk-pikuk kota Jakarta, kajian ba’da Dzuhur di Masjid Al Barokah Gedung WIKA Tower, Jl. DI. Panjaitan Kav 9, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis, 1 Rabi’ul Awal 1446 (5/9/2024) menjadi panggung bagi perbincangan yang menyentuh hati banyak generasi masa kini.
“Bagaimana caraku bisa berkontribusi untuk umat, jika hidupku terasa hanya tentang diri sendiri?”
Pertanyaan itu, yang diajukan oleh seorang jamaah, mengungkap kegelisahan yang mendalam. Di era individualisme yang semakin menguat, banyak anak muda merasa terjebak dalam pusaran “aku”, terasa jauh dari cita-cita luhur untuk berjuang bersama umat.
Imam Nawawi, dai muda yang juga Kepala Humas Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang terjadwal pada hari itu, memberikan jawaban yang menyegarkan.
Dengan merujuk pada kisah para sahabat Nabi, ia mengingatkan bahwa perjuangan untuk agama Allah tidak hanya terbatas pada terjun langsung di medan yang sulit atau melalui mimbar dakwah.
“Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, mereka bukan ulama atau panglima perang. Tapi dengan kekayaan mereka, mereka menjadi benteng bagi umat Islam,” ujar Imam. Ia mengisahkan bagaimana Utsman membeli sumur Raumah dengan hartanya, memastikan umat terhindar dari dahaga.
Mas Imam mengajak jamaah untuk melihat kekuatan diri sendiri. “Lihat potensi terbaik kita, lalu berikan itu untuk menolong agama Allah,” pesannya. “Mungkin kita bisa memberi beasiswa, membantu lansia, atau mendukung dai dalam berdakwah.”
Kajian siang ini menjadi refleksi bahwa setiap individu, dengan segala keunikan dan potensinya, memiliki peran dalam membangun peradaban Islam. Masjid, sebagai simbol kebersamaan umat, tidak hanya membutuhkan ceramah, tetapi juga kontribusi nyata dari setiap kita.
Dengan gaya bahasa yang sederhana namun mengena, Mas Imam Nawawi menjembatani jurang antara kegelisahan generasi “aku” dengan cita-cita luhur perjuangan umat.
Ia menunjukkan bahwa setiap langkah kecil, setiap kontribusi sekecil apapun, memiliki makna besar dalam mewujudkan peradaban Islam yang gemilang, sejuk, dan menggembirakan.
“Tolonglah agama Allah dengan kekuatan terbaik dari diri sendiri,” pesan Mas Imam, menjadi seruan yang menggema di hati setiap jamaah, mengajak mereka untuk menemukan peran masing-masing dalam perjuangan bersama.*/Adam Sukiman
Kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam selalu menjadi perhatian kaum muslimin di setiap tahunnya. Kaum muslimin menyikapi kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dengan beragam aktivitas. Ada yang mengadakan maulid nabi dengan tausyiah sebagai bentuk memuliakan sang Nabi.
Ada bermacam lomba diadakan seperti MTQ, lomba Kultum, lomba adzan, lomba Kaligrafi. Begitupun kegiatan bakti sosial dan makan bersama menjadi salah satu bentuk kesyukuran akan kelahiran Nabi.
Namun demikian sebagai pengikut Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam hendaknya kita perlu mengambil pelajaran dari momentum kelahiran Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaiamana kepribadian beliau, misi dakwah, serta pesan-pesan kemanusiaan yang diembannya.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Pada kesempatan ini beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.
Pertama,Persiapan Tuhan untuk Menyebarkan Cahaya Islam
Kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah persiapan Ilahi untuk menyiapkan seorang pemimpin spiritual yang akan membawa ajaran Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjaga garis keturunan dan lingkungan beliau dari hal-hal yang tidak baik, sebagai tanda kehormatan dan kemuliaan misi beliau.
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Surat Al-Fath: 28)
Kehadiran Muhammad bukan hanya menambah jumlah penduduk Arab dan ummat manusia secara umum, namun ada tugas kenabian yang akan diemban. Ada tugas mulia untuk mengantar manusia dari kegelapan pada cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu pelajaran bagi kita adalah bagaimana kehadiran kita bukan sekedar menambah jumlah anggota keluarga dan masyarakat dimana kita berada, namun bagaimana kita memberikan pengaruh kebaikan.
Kedua, Kelahiran Nabi adalah Rahmat bagi Seluruh Alam
Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dilahirkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al-Anbiya’: 107)
Dan Kami tidaklah mengutusmu (wahai Rasul) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Maka barangsiapa beriman kepadamu, niscaya dia akan berbahagia dan selamat, dan barangsiapa tidak beriman, maka dia akan gagal dan merugi.
Pelajaran dari ayat ini adalah bahwa kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam membawa kasih sayang, kedamaian, dan petunjuk bagi seluruh umat manusia, bahkan bagi alam semesta. Bahwa Nabi muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bukan hanya diperuntukkan bagi umat Islam semata, namun bagi seluruh ummat manusia. Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “(Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah diminta, “Wahai Rasûlullâh, do’akanlah kecelakaan/kebinasaan untuk kaum musyrikin !”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah di utus sebagai pelaknat, sesungguhnya aku di utus hanya sebagai rahmat.” [HR. Muslim, no. 2599]
Maka sebagai pengikutnya kehadiran islam yang kita bawa hendaknya menjadi rahmat bagi siapa saja baik ia seorang muslim ataupun tidak.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Pelajaran yang Ketiga,Nabi Muhammad Dilahirkan sebagai Teladan yang Baik
Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah uswah hasanah (teladan yang baik) dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam akhlak, kepemimpinan, dan ketaatan kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Al Ahzab: 21)
Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;
عن أبي عبد الله الجَدَلِي قال: سألتُ عائشة -رضي الله عنها-، عن خُلُق رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقالت: «لم يكن فاحِشًا ولا مُتَفَحِّشًا ولا صَخَّابًا في الأسواق، ولا يَجْزي بالسيئةِ السيئةَ، ولكن يَعْفو ويَصْفَح»
“Dari Abu Abdilah al-Jadali RA dia berkata, “Saya berkata kepada Aisyah, ‘Bagaimana sikap Nabi terhadap keluarganya?’ Aisyah menjawab, “Dia adalah orang yang paling terpuji. Rasulullah tidak pernah bersikap dengan buruk, kasar atau berteriak di tengah pasar. Dia tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Tapi dia memaafkan dan memaafkan hal-hal buruk yang ditujukan kepadanya secara pribadi.” (HR Imam Ahmad)
Kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa beliau adalah figur yang patut diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat,Kehidupan Sederhana Sejak Lahir
Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dilahirkan dalam kesederhanaan. Kehidupan beliau yang jauh dari kemewahan sejak lahir mengajarkan kepada kita tentang pentingnya kesederhanaan dan ketawadhuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)” (Ad-Dhuha: 6)
Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kefakiran itu bukanlah aib, melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati” (HR Muslim). Beliau harus belajar untuk mandiri sejak kecil mengingat paman tempat dia tinggal juga bukan orang yang mampu. Sehingga Nabi Muhammad harus mengembala dan belajar berdagang.
Pelajaran berharga dari kisah kelahiran Nabi dalam keadaan yatim dan menjadi yatim piatu beberapa waktu kemudian juga menunjukkan bahwa kesuksesan dan kehormatan tidak tergantung pada status sosial atau kekayaan materi seseorang. Namun sejauh mana dia berusaha dan bersungguh-sungguh.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
SEPERTI biasa, setiap malam mencoba istiqamah melanjutkan kebiasan baik yang telah diajarkan ketika masih sebagai santri, membaca Surat Al-Mulk setiap malam sebagai ibadah dzikir harian.
Sebagai seorang pendidik, suatu malam, ketika membaca ayat ke-23 dari surat ini, ada yang tak biasa padahal ayat ini etah sudah berapa kali membacanya, malam itu merasa terdorong untuk merenungkan secara lebih mendalam tentang apa yang Allah sampaikan:
“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk: 23)
Ayat ini memberikan inspirasi mendalam tentang bagaimana Allah telah menganugerahkan perangkat-perangkat vital—pendengaran (As-Sam’a), penglihatan (Al-Abshar), dan hati (Al-Af’idah)—yang seharusnya menjadi instrumen utama dalam proses pembelajaran dan pencarian ilmu.
Perenungan itu menggerakan tangan saya membuat gambar segitiga dengan keterangannya menjadi representasi dari integrasi ketiga perangkat ilmu ini dalam konteks pendidikan, bukan hanya sebagai sebuah tadabbur, tetapi juga sebagai landasan untuk refleksi mendalam mengenai esensi dan praktik pendidikan.
Dalam sistem pendidikan modern yang sering kali didominasi oleh perangkat formal dan material, seperti kurikulum, buku teks, dan teknologi, kita kerap melupakan perangkat pembelajaran alami yang telah Allah berikan. Standar yang ditetapkan oleh dinas pendidikan lebih banyak menekankan pada pencapaian kognitif yang dapat diukur, sementara dimensi spiritual, emosional, dan moral sering kali terabaikan.
Gambar segitiga yang melibatkan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai instrumen ilmu pengetahuan sebenarnya menegaskan kembali pentingnya ketiga perangkat ini dalam proses belajar-mengajar.
Pendengaran bukan sekadar mendengar kata-kata, tetapi mengembangkan kepekaan untuk menyaring informasi dan hikmah. Penglihatan bukan sekadar melihat, tetapi memahami dan menganalisis dunia di sekitar. Hati bukan sekadar perasaan, tetapi sebagai pusat refleksi, intuisi, dan pemahaman mendalam.
Dalam konteks pendidikan, ketiga perangkat ini harus diaktifkan secara sadar. Misalnya, John Dewey, seorang pemikir pendidikan progresif, pernah menyatakan bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.
Sejalan dengan konsep dalam Islam di mana pembelajaran tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari dan harus melibatkan seluruh aspek diri manusia—baik fisik, intelektual, maupun spiritual.
Refleksi bagi Para Pendidik
Sebagai seorang guru, menyadari pentingnya mengaktifkan ketiga perangkat ini dapat merubah pendekatan mengajar. Guru harus lebih dari sekadar penyampai materi; mereka harus menjadi pembimbing spiritual dan moral yang membantu siswa untuk mengembangkan pendengaran, penglihatan, dan hati mereka secara utuh.
Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin menekankan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang menuntun seseorang untuk mendekat kepada Allah, dan ini hanya bisa dicapai ketika hati turut berperan dalam proses pembelajaran.
Orang tua juga memiliki peran krusial dalam mengaktifkan perangkat ini di rumah. Dengan memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari dan menciptakan suasana yang mendukung refleksi, diskusi, dan eksplorasi, orang tua dapat membantu anak-anak mereka melihat dunia sebagai tempat belajar yang luas dan penuh makna.
Para penggiat pendidikan dan pemangku kebijakan juga harus memahami bahwa pendidikan sejati melibatkan seluruh dimensi manusia, bukan hanya otak tetapi juga hati dan jiwa. Pendidikan yang sukses tidak hanya menghasilkan individu yang pintar secara akademis, tetapi juga bijak, empatik, dan bermoral.
Mahatma Gandhi pernah berkata, “Education which does not mold character is absolutely worthless.” Artinya, pendidikan yang tidak membentuk karakter sama sekali tidak berharga. Oleh karena itu, peran hati dalam pendidikan harus diakui dan diintegrasikan.
Aktivasi Menuju Ilmu Pengetahuan yang Sejati
Dalam refleksi saya malam itu, saya teringat akan sebuah ayat lain yang juga sangat relevan dalam konteks ini, yaitu Surat Al-Hajj ayat 46.
Surat Al-Hajj ayat 46 mengingatkan kita akan pentingnya mengaktifkan perangkat pembelajaran yang telah Allah anugerahkan kepada setiap manusia. Ayat tersebut berbunyi:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
Ayat ini menggarisbawahi bahwa meskipun seseorang memiliki penglihatan fisik yang baik, mereka dapat tetap “buta” jika hati mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. “Buta” di sini bukanlah buta secara fisik, melainkan buta hati, yang berarti kehilangan kemampuan untuk memahami dan menyerap kebenaran yang ada di sekitar mereka.
Meskipun sebuah lembaga pendidikan melengkapinya dengan perangkat pengajaran yang luar biasa, ketika diperhadapkan dengan siswa yang belum aktif secara perangkat yang ada pada dirinya menjadi tantangan tersendiri.
Ini berkaitan erat dengan konsep mengaktifkan perangkat pembelajaran yang telah Allah berikan: pendengaran, penglihatan, dan hati. Ketika perangkat-perangkat ini diaktifkan, seseorang tidak hanya akan melihat dunia dengan mata fisiknya tetapi juga akan memahami makna yang lebih dalam dari apa yang dilihatnya. Inilah yang membedakan antara melihat dan memahami, antara mendengar dan benar-benar mendengarkan.
Sejarah telah mencatat bahwa banyak ilmuwan besar, baik Muslim maupun non-Muslim, berhasil mengakses pengetahuan yang luar biasa dengan mengaktifkan perangkat-perangkat ini. Isaac Newton dengan keinginannya untuk memahami hukum-hukum alam, Albert Einstein dengan imajinasinya yang melampaui batas-batas pengetahuan konvensional, dan Nikola Tesla dengan kemampuannya untuk melihat detail-detail yang tak terlihat oleh kebanyakan orang, semuanya menunjukkan bagaimana hati yang terbuka dan “rasa syukur” terhadap kemampuan yang diberikan oleh Allah dapat membawa mereka kepada penemuan-penemuan besar.
Surat Al-Hajj ayat 46 juga mengajarkan kita bahwa untuk menjadi pembelajar sejati, seseorang harus melampaui batas-batas pengetahuan yang terlihat oleh mata fisik dan menyentuh pengetahuan yang hanya bisa diakses melalui hati yang bersyukur dan pikiran yang aktif.
Henry David Thoreau pernah berkata, “It is not what you look at that matters, it’s what you see.” Ini sejalan dengan pesan ayat ini—melihat dengan mata hati adalah kunci untuk memahami dunia dengan lebih mendalam.
Lebih lanjut, Paulo Freire, seorang pendidik dan filsuf dari Brasil, dalam bukunya “Pendidikan Kaum Tertindas” menekankan bahwa pendidikan adalah proses pembebasan. Ketika seseorang benar-benar mengaktifkan hati, mereka tidak hanya akan menjadi lebih peka terhadap dunia di sekitar mereka tetapi juga akan terbebas dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan.
Pendidikan Manifestasi Iman
Refleksi ini menunjukkan betapa pentingnya bagi para guru, orang tua, dan siapa pun yang peduli pada pendidikan untuk membantu siswa mengaktifkan perangkat-perangkat pembelajaran yang telah Allah berikan. Dan sebagai manifestasi iman dengan sikap penuh rasa syukur buka semata menggunakan instrumen dalam pendidikan.
Ketika hal ini dilakukan dengan kesadaran dan rasa syukur, para pembelajar akan menemukan bahwa mereka dikelilingi oleh keberlimpahan bahan ajar (Allah tambah kesyukuran hamba), sama seperti para ilmuwan besar yang menemukan penemuan mereka.
Seperti yang diingatkan dalam Surat Al-Hajj ayat 46, “bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” Marilah kita semua mengaktifkan hati kita, sehingga kita bisa memahami dan mensyukuri segala ilmu yang Allah telah sediakan di alam ini.
Hanya dengan demikian, kita bisa menjadi pembelajar sejati yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga teguh dalam iman, bijaksana dan penuh rasa syukur.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Wallahu’alam
*) Rusman Abdillah, S.E,penulis adalah Kepala Sekolah SD Integral Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Jawa Barat