Beranda blog Halaman 162

Momen Rabiul Awwal, Pemimpin Umum Ajak Shalawat Bersama dan Agendakan Maulid Akbar

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ditengah kesibukan dan kondisi kesehatannya yang sedikit menurun, Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurahman Muhammad melungkan waktu hadir menyapa peserta Halaqah Kubra kader, dai, anggota, dan masyarakat dari tiga wilayah: Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jawa Barat, dan Banten.

Acara tersebut digelar selama 2 hari di Pondok Pesantren Qur’an Hidayaturrahman (PQH), Kampung Lemah Neundeut, Desa Pancawati, Caringin, Ciawi, Kabupaten Bogor, dan menghadirkan Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurahman Muhammad, yang menyampaikan taushiah di penutupan acara, Ahad pagi yang dingin, 11 Rabi’ul Awal 1446 H (15/9/2024).

Mengawali taushiahnya selepas shalat shubuh dan wirit tawajjuhat berjamaah di lapangan PQH, KH Abdurahman Muhammad mengaitkan acara ini dengan bulan Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi Muhammad, terangnya, menjadi momen untuk memikirkan keagungan sosok yang namanya selalu dipuji dengan shalawat, baik oleh manusia maupun malaikat

“Semangat lahirnya Muhammad inilah yang menyemangati saya juga datang di sini,” ungkapnya.

Ia menyampaikan ini sebagai pengingat penting bagi hadirin mengenai makna kelahiran Rasulullah SAW.

Rabiul Awwal sebagai bulan di mana nabi terakhir umat Islam lahir, menjadi inspirasi mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia untuk merefleksikan perjuangan, pengorbanan, serta teladan kehidupan beliau.

Dalam konteks Halaqah Kubra ini, semangat kelahiran Rasulullah menjadi pemicu spiritual bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan, baik secara personal maupun kolektif.

Lebih lanjut, KH Abdurahman Muhammad dengan mengutip Al-Qur’an surah Al-Fath ayat 28 menyinggung jatidiri Hidayatullah sebagai sebuah gerakan yang dilandasi oleh spirit untuk membawa risalah Islam menuju kemenangan.

Beliau menekankan bahwa Hidayatullah sebagai organisasi bukan hanya sekadar menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi juga memiliki visi besar untuk membawa ajaran Islam kepada seluruh umat manusia.

Menurutnya, kemenangan Islam bukan semata-mata dalam bentuk fisik, tetapi lebih pada penegakan nilai-nilai Islam yang hakiki, serta mengokohkan umat Islam dengan keimanan yang sejati.

Shalat dan Al Qur’an

KH Abdurahman Muhammad juga menyampaikan pentingnya keimanan dalam diri setiap Muslim. Menurutnya, ciri utama orang yang beriman adalah ketika hatinya bergetar saat mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan.

“Ciri orang beriman bergetar hatinya ketika mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan. Ketika shalat mendengar ayat dibaca, itulah saat belajar dan tempat paling baik untuk belajar dan belajarnya sempurna,” katanya.

Beliau menekankan pentingnya interaksi dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Shalat, sebagai ibadah yang paling utama, terangnya, merupakan momen terbaik untuk mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan merenungkannya.

KH Abdurahman Muhammad melihat shalat bukan sekadar ritual, tetapi juga sebagai proses pembelajaran yang mendalam. Setiap Muslim harus memanfaatkan momen shalat untuk benar-benar terhubung dengan Allah dan belajar dari Al-Qur’an yang dibacakan oleh imam.

Beliau pun menjelaskan pentingnya memanfaatkan shalat sebagai momen terbaik untuk belajar. Dia menekankan bahwa saat yang paling efektif untuk belajar adalah ketika kita mendengarkan bacaan imam dalam shalat.

“Waktu, tempat yang paling bagus, pas dan efektif untuk kita belajar adalah saat shalat. Yaitu saat mendengarkan bacaan imam karena Allah langsung yang mengajarkan kepada kita lewat lisannya imam,” ujarnya.

Beliau memaknai shalat sebagai proses merendahkan hati dan membuka diri kepada Allah SWT agar ilmu dapat masuk ke dalam hati. Menurut beliau, turunkan kesombongan dan ego saat kita berada dalam shalat, karena hanya dengan begitu, ilmu dari Allah akan mudah meresap.

Demikianlah pula sosok Rasulullah, KH Abdurahman Muhammad juga mengingatkan bahwa sosok Muhammad, saat diperintah untuk membaca, merendahkan dirinya dengan mengatakan “aku tidak bisa membaca”, bukan mengatakan “apa yang harus saya baca”, yang menunjukkan kerendahan hati sang utusan untuk menyerap energi Ilahi.

“Ketika kita shalat, turunkan diri dalam titik nol. Kalau tidak, nanti ilmunya tidak akan masuk. Karena Qur’an itu ruh maka turunkan kesombongan,” lanjut beliau.

Di akhir taushiahnya, KH Abdurahman Muhammad menegaskan tiga prinsip yang menjadi landasan dalam kehidupannya saat ini, yaitu munajat, ilmu, dan jihad. Ketiga prinsip ini mencerminkan keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan perjuangan yang harus dimiliki oleh setiap Muslim.

KH Abdurahman Muhammad juga menyampaikan agenda yang akan menggelar Maulid Akbar di Parepare serta mengajak lantunkan shalawat bersama sama kepada junjungan Rasululah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang menggema di lapangan yang dipadati 700-an hadirin tersebut. (ybh/hidayatullah.or.id)

Pesan Optimisme Ust Hamim Thohari di Halaqah Kubro Hidayatullah DKJ Jabar Banten

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si, menyampaikan pesan-pesan penuh semangat dan optimisme mengenai masa depan Hidayatullah dalam acara Halaqah Kubra – Silaturrahim Gabungan DPW Hidayatullah dari Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jawa Barat (Jabar), dan Banten, yang digelar di Pondok Pesantren Qur’an Hidayaturrahman (PQH), Kampung Lemah Neundeut, Desa Pancawati, Caringin, Ciawi, Kabupaten Bogor, Sabtu malam selepas shalat isya dan wirid tawajjuhat berjamaah, 10 Rabi’ul Awal 1446 (14/9/2024).

Ditengah suasana dingin nan sejuk penuh kekeluargaan dengan terpaan angin pagi dari kaki Gunung Salak, KH. Hamim dengan tegas menyatakan keyakinannya bahwa generasi muda Hidayatullah saat ini merupakan generasi yang hebat, unggul, dan tahan banting.

“Generasi hebat, unggul, dan generasi yang tahan banting. Itulah kader Hidayatullah yang akarnya menghujam kuat ke bawah dan rantingnya mengepak luas,” ujar KH. Hamim di hadapan 700-an hadirin yang memadati lapangan terbuka Pondok Qur’an Hidayaturrahman.

KH. Hamim Thohari menaruh harapan besar pada generasi muda Hidayatullah untuk menjadi penerus yang tangguh dan berkualitas. Ia meyakini bahwa dengan potensi yang dimiliki, mereka akan mampu membawa gerakan dakwah dan tarbiyah umat menuju masa depan yang lebih cemerlang.

“Saya saat ini penuh kegembiraan. Apa yang dilakukan oleh orang tua perintis Hidayatullah kita dahulu, sekarang masih dijalankan oleh generasi hari ini di daerah-daerah sampai daerah terpencil,” katanya.

Warisan Perjuangan

Dalam taushiahnya, KH. Hamim juga menggarisbawahi bahwa generasi muda Hidayatullah saat ini terus melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh para orang tua pendiri.

Ia mengenang bagaimana para pendiri Hidayatullah berjuang dari nol, merintis dan membangun sebuah gerakan dakwah yang kini telah berkembang pesat di berbagai wilayah Indonesia. Meski tantangan yang dihadapi generasi sekarang jauh lebih berat, KH. Hamim tetap optimis.

“Mereka berjuang dan merintis dari nol. Yang dikerjakan orang-orang tua dahulu, masih dikerjakan adik-adik kita sekarang ini yang kualitasnya tidak kalah dengan pendahulunya,” tuturnya, menegaskan bahwa semangat perjuangan yang diwariskan para pendiri terus hidup dan berkembang dalam diri para kader muda.

KH. Hamim kemudian menekankan bahwa generasi muda Hidayatullah tidak perlu merasa takut menghadapi masa depan, meskipun tantangan yang mereka hadapi saat ini berbeda dan lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.

“Ini motivasi agar angkatan muda tidak diliputi rasa takut, saya termasuk orang yang sangat yakin dan optimis meskipun tantangan generasi hari ini jauh lebih berat dari tantangan yang dihadapi generasi masa lalu,” katanya dengan penuh keyakinan.

50 Tahun Perjalanan Hidayatullah

Momen Halaqah Kubra kali ini juga menjadi refleksi bagi perjalanan panjang Hidayatullah yang telah mencapai usia 50 tahun. KH. Hamim mengingatkan bahwa Hidayatullah kini telah ditinggalkan oleh para pendiri utamanya, termasuk kepergian Ustadz Muhammad Hasyim Harjo Suprapto tahun ini yang menjadi penanda berakhirnya babak pertama dari perjalanan setengah abad Hidayatullah.

“Tahun ini Hidayatullah sudah ditinggalkan oleh para semua pendirinya, terakhir kemarin Ustadz Hasyim yang kepergiannya menandai selesainya perjalanan 50 tahun pertama Hidayatullah,” ungkapnya dengan nada haru.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Hamim juga mengajak para kader Hidayatullah untuk terus mengembangkan potensi mereka dan mengambil peran penting dalam meneruskan estafet perjuangan. “Pertanyaannya sekarang, apakah pelanjutnya mampu melanjutkan dan mengembangkan lebih berkibar lagi,” katanya.

Beliau pun mengingatkan perlunya para kader Hidayatullah untuk senantiasa waspada dan siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Dunia yang semakin dinamis dengan berbagai perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta tantangan global yang semakin mendesak menuntut para kader untuk lebih adaptif tanpa melupakan nilai-nilai dasar yang telah ditanamkan oleh para pendiri.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan, soliditas, dan kerja keras dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut.

Tantangan dan Peluang 10 Tahun ke Depan

Menurut KH. Hamim, sepuluh tahun ke depan akan menjadi masa-masa yang krusial bagi Hidayatullah. “Sepuluh tahun ke depan saya menyebutnya sebagai tahun-tahun kritis karena mungkin kita akan kehilangan semua dengan orang-orang yang pernah bersama dengan Ustadz Abdullah Said,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa ini adalah kesempatan emas bagi para kader muda untuk menggali sebanyak mungkin ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai dari generasi sebelumnya, sebelum mereka semua berpulang. “Maka, manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menggali sebanyak-banyaknya,” pesannya.

KH. Hamim juga meyakinkan bahwa Hidayatullah memiliki landasan etika yang sangat kuat, yang telah membuat organisasi ini mampu bertahan dan berkembang selama ini. “Jangan pernah khawatir, Hidayatullah memiliki etika yang luar biasa, karena itulah yang membuat Hidayatullah tetap bertahan sampai sekarang,” tegasnya.

Optimisme Menuju Masa Depan

Di akhir taushiahnya, KH. Hamim Thohari memberikan suntikan motivasi bagi seluruh kader Hidayatullah yang hadir. Ia menggambarkan masa depan Hidayatullah sebagai sesuatu yang sangat menarik, menantang, dan penuh harapan.

“Masa depan ini sangat menarik, sangat menantang, sangat indah, jangan disia-siakan. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk bekerja keras,” ujarnya penuh semangat.

Pernyataan KH. Hamim ini seolah menjadi sebuah peta jalan bagi generasi muda Hidayatullah untuk terus melangkah maju dengan penuh keyakinan, meskipun tantangan yang akan dihadapi tidaklah mudah.

Dengan semangat kebersamaan dan tekad yang kuat, Hidayatullah diyakininya akan mampu terus berkembang dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat.

Ia berharap agar setiap kader Hidayatullah mampu memaksimalkan potensi diri dan terus berkontribusi untuk kemajuan umat dan bangsa. “Masa depan Hidayatullah luar biasa. Saya sangat optimis sekali,” pungkasnya.

Berkemah

Halaqah Kubro yang berlangsung khidmat selama 2 hari di PQH ini digelar dengan konsep berkemah dan swalayan dimana peserta dari berbagai daerah di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten datang dengan tenda masing masing.

Bagi peserta tanpa peralatan camping, panitia menyediakan tenda utama berukuran jumbo dan beberapa lokal penginapan serta tersedia menu makan besar dan kudapan yang aduhai nikmatnya selama kegiatan.

Peserta yang membawa tenda, mereka menyebar ke berbagai titik di lokasi PQH yang cukup luas dan asri. Disela rehat kegiatan, mereka menyeduh kopi, teh, dan jahe ditemani cemilan seraya berbincang hangat sambil menyapa tetangga tenda kanan kiri. Terpaan udara yang sejuk dari kaki Gunung Salak dan pepohonan rindang di PQH kian menambah semarak perjumpaan ini. (ybh/hidayatullah.or.id)

Momentum Rabiul Awwal Halaqah Kubro DKJ Jabar Banten Gaungkan Spirit Shalawat Nabi

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Halaqah Kubra menjadi ajang silaturrahim akbar bagi kader, dai, anggota, dan masyarakat dari tiga wilayah: Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jawa Barat, dan Banten. Acara tersebut digelar selama 2 hari di Pondok PesantrenQur’an Hidayaturrahman (PQH), Caringin, Ciawi, Bogor, dan menghadirkan Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurahman Muhammad, yang menyampaikan taushiah di penutupan acara, Ahad pagi yang dingin, 11 Rabi’ul Awal 1446 H (15/9/2024).

Mengawali taushiahnya selepas shalat shubuh berjamaah di lapangan PQH, KH Abdurahman Muhammad mengaitkan acara ini dengan bulan Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi Muhammad, teragnya, menjadi momen untuk memikirkan keagungan sosok yang namanya selalu dipuji dengan shalawat, baik oleh manusia maupun malaikat

“Semangat lahirnya Muhammad inilah yang menyemangati saya juga datang di sini,” ungkapnya.

Ia menyampaikan ini sebagai pengingat penting bagi hadirin mengenai makna kelahiran Rasulullah SAW. Rabiul Awwal sebagai bulan di mana nabi terakhir umat Islam lahir, menjadi inspirasi mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia untuk merefleksikan perjuangan, pengorbanan, serta teladan kehidupan beliau.

Dalam konteks Halaqah Kubra ini, semangat kelahiran Rasulullah menjadi pemicu spiritual bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan, baik secara personal maupun kolektif.

Lebih lanjut, KH Abdurahman Muhammad dengan mengutip Al-Qur’an surah Al-Fath ayat 28 menyinggung jatidiri Hidayatullah sebagai sebuah gerakan yang dilandasi oleh spirit untuk membawa risalah Islam menuju kemenangan.

Beliau menekankan bahwa Hidayatullah sebagai organisasi bukan hanya sekadar menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi juga memiliki visi besar untuk membawa ajaran Islam kepada seluruh umat manusia.

Menurutnya, kemenangan Islam bukan semata-mata dalam bentuk fisik, tetapi lebih pada penegakan nilai-nilai Islam yang hakiki, serta mengokohkan umat Islam dengan keimanan yang sejati.

Shalat dan Al Qur’an

KH Abdurahman Muhammad juga menyampaikan pentingnya keimanan dalam diri setiap Muslim. Menurutnya, ciri utama orang yang beriman adalah ketika hatinya bergetar saat mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan.

“Ciri orang beriman bergetar hatinya ketika mendengar ayat Al-Qur’an dibacakan. Ketika shalat mendengar ayat dibaca, itulah saat belajar dan tempat paling baik untuk belajar dan belajarnya sempurna,” katanya.

Beliau menekankan pentingnya interaksi dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Shalat, sebagai ibadah yang paling utama, terangnya, merupakan momen terbaik untuk mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan merenungkannya.

KH Abdurahman Muhammad melihat shalat bukan sekadar ritual, tetapi juga sebagai proses pembelajaran yang mendalam. Setiap Muslim harus memanfaatkan momen shalat untuk benar-benar terhubung dengan Allah dan belajar dari Al-Qur’an yang dibacakan oleh imam.

Beliau pun menjelaskan pentingnya memanfaatkan shalat sebagai momen terbaik untuk belajar. Dia menekankan bahwa saat yang paling efektif untuk belajar adalah ketika kita mendengarkan bacaan imam dalam shalat.

“Waktu, tempat yang paling bagus, pas dan efektif untuk kita belajar adalah saat shalat. Yaitu saat mendengarkan bacaan imam karena Allah langsung yang mengajarkan kepada kita lewat lisannya imam,” ujarnya.

Beliau memaknai shalat sebagai proses merendahkan hati dan membuka diri kepada Allah SWT agar ilmu dapat masuk ke dalam hati. Menurut beliau, turunkan kesombongan dan ego saat kita berada dalam shalat, karena hanya dengan begitu, ilmu dari Allah akan mudah meresap.

Demikianlah pula sosok Rasulullah, KH Abdurahman Muhammad juga mengingatkan bahwa sosok Muhammad, saat diperintah untuk membaca, merendahkan dirinya dengan mengatakan “aku tidak bisa membaca”, bukan mengatakan “apa yang harus saya baca”, yang menunjukkan kerendahan hati sang utusan untuk menyerap energi Ilahi..

“Ketika kita shalat, turunkan diri dalam titik nol. Kalau tidak, nanti ilmunya tidak akan masuk. Karena Qur’an itu ruh maka turunkan kesombongan,” lanjut beliau.

Epistemologi Islam dan Kekuatan Riil

Masih dalam taushiahnya, KH Abdurahman Muhammad juga membahas tentang pentingnya ilmu dalam Islam. Menurut beliau, ilmu berasal dari Allah dan belajar kepada-Nya adalah hal yang paling utama.

“Ilmu itu dari Allah, inilah epistemologi Islam. Saya sedang belajar. Belajar kepada Allah, itulah yang paling utama dengan perintah-Nya iqra’! Belajar yang realitas, belajar yang nomenal dan fenomenal, belajar fisik dan metafisik,” jelasnya.

KH Abdurahman Muhammad menggarisbawahi bahwa Islam memiliki pendekatan yang holistik terhadap ilmu. Belajar tidak hanya mencakup aspek-aspek fisik, tetapi juga metafisik, menggabungkan antara dunia nyata dan spiritual. Ini sesuai dengan ajaran Islam yang menganggap ilmu sebagai salah satu aspek penting dalam membentuk karakter seorang Muslim.

Ia menyebutkan bahwa perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah “Iqra’!” yang berarti membaca, tetapi tidak hanya terbatas pada membaca dalam arti harfiah, melainkan juga membaca tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta.

Selain menekankan pentingnya ilmu dan shalat, KH Abdurahman Muhammad juga menyinggung tentang pentingnya ukhuwah (persaudaraan) di antara umat Islam. “Kekuatan kita yang paling riil adalah ukhuwah,” ungkapnya dengan tegas. Ukhuwah menjadi pondasi yang kokoh bagi umat Islam untuk saling mendukung, bekerja sama, dan mencapai tujuan bersama.

Di akhir taushiahnya, KH Abdurahman Muhammad menegaskan tiga prinsip yang menjadi landasan dalam kehidupannya saat ini, yaitu munajat, ilmu, dan jihad. Ketiga prinsip ini mencerminkan keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan perjuangan yang harus dimiliki oleh setiap Muslim.

KH Abdurahman Muhammad juga menyampaikan agenda yang akan menggelar Maulid Akbar di Parepare serta mengajak lantunkan shalawat kepada junjungan Rasululah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang menggema di lapangan yang dipadati 700-an hadirin tersebut. (ybh/hidayatullah.or.id)

Membangun Kapasitas Organisasi dalam Pendataan

0

DALAM tulisan berjudul Mengapa Organisasi Gagal? Refleksi Futuristik dalam Perspektif Organisasi Islam tanggal 10 September 2024, Asih Subagyo menyebutkan sejumlah solusi sebagai antisipasi kegagalan organisasi. Salah satunya mekanisme syura yang aktif dan berbasis data.

Sementara itu, pada tulisan berjudul Transformasi Digital: Sebuah Keniscayaan Menuju Era Baru Organisasi Islam tanggal 20 Mei 2024, Asih Subagyo mengemukakan model-model digitalisasi yang bisa dipilih organisasi di masa depan. Salah satunya model data-driven.

Perhatian Asih Subagyo terhadap data dan pendataan mesti disambut baik. Paling tidak pernyataan “data is new oil” sudah sedemikian menggema. Indikasinya sejumlah bootcamp tentang data science dapat ditemui dengan mudah. Sejumlah perguruan tinggi juga membuka juruan data science.

Akan tetapi, bagi seorang muslim, pendataan tidak sekedar urusan modernisasi pengelolaan. Lebih jauh, pendataan salah satu implementasi ketakwaan. Hal ini didasarkan pada outline yang dibuat oleh Zulfikar Amir, salah seorang guru besar di Nanyang Technological University.

Dari outline tersebut dipahami bahwa pendataan wujud sikap adil. Sementara itu dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8, adil lebih dekat dengan takwa. “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Jika takwa itu dibedah dalam suatu taksonomi, dua derivasi dapat ditemukan, takwa dalam konteks individu dan komunitas. Dalam konteks individu, seseorang perlu melaksanakan segala perintah Allah dan di saat bersamaan menjauhi larangan-Nya. Sejumlah perilaku menjadi indikatornya semisal berinfak dalam kondisi senang atau susah.

Sementara dalam konteks komunitas, sekelompok orang semisal organisasi perlu mewujudkan keadilan, baik di internal maupun eksternal organisasi. Keadilan sendiri dapat diderivasi menjadi dua klasifikasi besar: Rata dan proporsional.

Keadilan merata berarti setiap orang mendapat hak yang sama, sementara proporsional berarti sesuai kebutuhan. Bijaksana salah satunya diindikasikan dengan ketepatan memilih antara dua opsi keadilan tersebut. Bisa jadi dalam satu aspek keorganisasian, keadilan merata dipilih. Dalam aspek lain, keadilan proporsional dipilih.

Terpenting organisasi menetapkan pilihan berdasarkan pendataan. Tentu saja tidak sekedar pendataan. Akan tetapi ada orientasi sekaligus validitas.

Orientasi akan memberikan muatan-muatan pada pendataan. Kajian syariah, visi organisasi, dan isu-isu mutakhir universal menjadi framework pendataan. Sehingga kerja pendataan tidak serampangan. Ada rute yang harus dilalui.

Sementara validitas memberikan gambaran hasil yang akurat, terang-benderang atas hasil kerja pendataan. Tidak ada yang ditutupi. Validitas memenuhi harapan orientasi. Sehingga orientasi memiliki konteks yang semakin nyata.

Persoalannya tidak semua organisasi memiliki orientasi dan validitas terhadap pendataan. Ketidakbiasaan dan ketidakbisaan dua faktor penyebab utamanya. Terlebih jika kurun waktu yang dilalui sudah sangat lama.

Padahal seiring berkembangnya organisasi yang ditandai bertambahnya jumlah orang dan aset, deduktivitas diperlukan. Sementara deduktivitas dibangun di atas kerangka berpikir sistematis. Pendataan salah satunya.

Deduktivitas mengantarkan personel organisasi memahami alur berpikir organisasi, dari awal titik berangkat hingga tujuan yang akan dicapai. Sehingga ketaatan personel atas ketetapan organisasi bukanlah ketaatan buta. Tapi ketaatan intelek. Model ketaatan ini memungkinkan personel berimprovisasi secara terukur di lapangan.

Tanpa deduktivitas, personel dapat terbelah pada dua sisi ekstrem. Satu sisi personel organisasi taat buta. Sisi lainnya improvisasi liar terjadi. Kedua sisi sama-sama buruk.

Deduktivitas juga memudahkan pewarisan pemikiran organisasi ke generasi setelahnya. Sehingga gerakan organisasi senantiasa on the track. Improvisasi bersifat memperkaya bukan deviatif.

Tentang membangun kapasitas pendataan, organisasi bisa memulai dengan pendataan yang bersifat deskriptif. Data-data kasat mata dikumpulkan. Lalu analisis dilakukan untuk menemukan hubungan antardata.

Misalkan ada data perkembangan kader. Lalu ada data perkembangan amal usaha. Dua data ini dianalisis. Satu hubungan antardata kemungkinan besar ditemukan, bisa jadi positif, bisa juga sebaliknya.

Pada tahap berikutnya analisis sebab akibat dapat dilakukan. Misalkan ada dua data tersebut. Maka diamati dengan seksama, apakah perkembangan kader mendorong perkembangan amal usaha. Ataukah sebaliknya.

Tahap berikutnya tidak kalah penting, visualisasi data. Di tahap ini, organisasi dapat menggunakan tools yang terserak. Level sederhana dapat dipilih sebagai awalan. Terpenting visualisasi data dapat dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Praktik yang terus-menerus dilakukan semoga melahirkan kebiasaan dan kebisaan organisasi dalam pendataan. Sehingga ketakwaan mewujud dalam keadilan, keadilan mewujud dalam pendataan.

Selanjutnya pendataan membentuk deduktivitas yang kokoh. Sehingga perjalanan organisasi semakin lincah ke depan.

Para perintisnya semakin sering didoakan oleh para yunior dengan doa yang telah diajarkan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 10:

“Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”. Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis adalah alumni Hidayatullah Institute DPD Hidayatullah Batch 10. 

Al-Alaq sebagai Basis Epistemologi dan Pengambilan Keputusan

0

Refleksi, Kontemplasi, dan Visi Futuristik

Surah Al-Alaq, khususnya ayat pertama yang berbunyi Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan), membuka babak baru dalam sejarah manusia. Ini bukan sekadar perintah untuk membaca, melainkan seruan untuk memahami dan menggali ilmu baik dari ayat-ayat qauliyah (wahyu tertulis) maupun ayat-ayat kauniyah (alam semesta dan realitas). Dalam konteks epistemologi, wahyu ini menunjukkan bahwa Iqra’ mencakup literasi yang lengkap dan menyeluruh: memahami teks, mengamati alam, serta menjadikan ilmu sebagai landasan pengambilan keputusan. Namun, semua ini harus selalu berpijak pada prinsip dasar, yaitu sesuai dengan kehendak Allah, Sang Pencipta.

Ketika kita memahami Iqra’ dalam pengertian yang luas ini, kita diingatkan pada satu prinsip penting: literasi yang benar adalah literasi yang berbasis data, tetapi tetap terikat pada kerangka nilai-nilai ilahiah. Dalam konteks ini, Iqra’ bukan sekadar membaca teks atau buku, melainkan memahami realitas secara komprehensif dengan metodologi ilmiah, tanpa pernah menyimpang dari ajaran Allah. Tantangan besar bagi organisasi Islam modern adalah apakah mereka masih setia pada prinsip Iqra’ sebagai basis epistemologi dan pengambilan keputusan?

Iqra Sebagai Basis Epistemologi: Membaca dengan Nama Allah

Epistemologi Islam, yang mengakar dalam wahyu ini, menempatkan Iqra sebagai titik awal dari seluruh proses pembelajaran dan pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, Iqra tidak hanya berarti membaca, tetapi juga memahami dan menafsirkan realitas berdasarkan data yang akurat dan metode ilmiah yang sahih. Namun, yang lebih penting dari itu semua, maka seluruh proses membaca dan memahami harus berpijak pada nama Rabb yang menciptakan, artinya setiap pemahaman dan pengambilan keputusan harus sejalan dengan kehendak dan perintah Allah SWT.

Ketika kita berbicara tentang Iqra, maka kita berbicara tentang dua jenis ayat: ayat qauliyah (firman Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an) dan ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta). Membaca ayat kauliyah menuntut pemahaman terhadap teks wahyu, sedangkan membaca ayat kauniyah menuntut pemahaman terhadap alam semesta melalui data, informasi yang diperoleh melalui jalan observasi, riset, dan berbagai jenis algoritma dan ilmu pengetahuan.

Masa keemasan peradaban Islam adalah contoh nyata dari bagaimana umat Islam berhasil mengimplementasikan perintah Iqra ini dalam bentuk literasi yang komprehensif. Para ilmuwan Muslim seperti Ibn Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibnu Sina, AL Jazari, Al Biruni dan lain  sebagainya adalah pelopor dalam menggabungkan literatur Yunani, Persia, juga India kemudian mengoreksi, menyempurnakannya, dan menghasilkan karya-karya yang menjadi fondasi teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Dengan kata lain, mereka tidak hanya membaca teks, dan menerima ilmu asing begitu saja, namun tetapi juga membaca alam semesta, melakukan riset, dan menyusun data untuk menemukan kebenaran yang sejati, dan kemudian di-islamisasi sehingga tidak menjadi mitologi ataupun seklurasisasi ilmu pengentahuan.

Masa Kejayaan: Implementasi Iqra yang Tepat

Pada abad pertengahan, ketika Barat masih berada dalam masa dark ages, peradaban Islam justru berada di puncak kejayaannya. Keberhasilan ini terjadi karena umat Islam mampu menerapkan Iqra sebagai dasar epistemologi dengan benar. Mereka tidak hanya menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani, Persia dan India, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan dengan pendekatan yang berbasis data dan eksperimen, tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Inilah yang menyebabkan munculnya para polymath Muslim yang menjadi pionir dalam berbagai bidang ilmu, dari astronomi, biologi, kimia, robotika, matematika, sosiologi, ekonomi, kedokteran, hingga filsafat.

Keunggulan peradaban Islam pada masa itu disebabkan oleh kemampuan mereka untuk membaca dan memahami ayat kauniyah, yaitu alam semesta, dengan benar. Mereka melakukan riset ilmiah, mengumpulkan data, dan membangun sistem pengetahuan yang berdasar pada observasi dan penelitian. Namun, yang lebih penting, semua proses ini dilakukan dengan tetap berpijak pada nama Allah, sesuai dengan perintah dalam wahyu pertama.

Realitas Kekinian: Ketertinggalan karena Menyelisihi Iqra

Ironisnya, di era modern ini, banyak organisasi Islam justru jauh tertinggal dalam aspek riset dan data. Jika pada masa kejayaan Islam, Iqra diimplementasikan dengan metode ilmiah dan observasi yang ketat, saat ini banyak organisasi Islam yang masih mengabaikan pentingnya riset dan data dalam pengambilan keputusan. Keputusan-keputusan yang diambil sering kali tidak didasarkan pada fakta yang akurat, melainkan lebih banyak pada tradisi, intuisi, atau kepentingan kelompok tertentu.

Ketika organisasi Islam tidak lagi menjadikan data dan riset sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, mereka sebenarnya sedang menyelisihi perintah Iqra itu sendiri. Mereka gagal membaca ayat kauniyah dengan benar, dan pada akhirnya, keputusan-keputusan yang diambil tidak lagi relevan dengan kondisi zaman. Ini menyebabkan organisasi-organisasi Islam kehilangan relevansi dan daya saing, baik di kancah lokal maupun global karena tidak memiliki basis epistemology dalam pengambilan keputusan.

Epistemologi Iqra dan Masa Depan Pengambilan Keputusan

Jika organisasi-organisasi Islam ingin kembali menjadi pilar peradaban yang unggul, maka mereka harus mengembalikan Iqra sebagai dasar epistemologi dalam setiap pengambilan keputusan. Ini berarti setiap keputusan harus berbasis data, riset, dan observasi yang akurat. Namun, data dan riset tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam, agar tidak menyimpang dari kehendak Allah SWT.

Sebagai contoh, ketika organisasi Islam merumuskan kebijakan sosial atau ekonomi, mereka harus melibatkan penelitian yang mendalam tentang kondisi masyarakat, menggunakan data empiris untuk menganalisis masalah, dan mencari solusi yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dalam Islam. Mereka harus membaca realitas sosial (ayat kauniyah) dengan benar, sebagaimana para ilmuwan Muslim masa lalu membaca alam semesta dan menghasilkan penemuan-penemuan luar biasa.

Mencegah Ketertinggalan: Memadukan Iqra dengan Teknologi Modern

Untuk memastikan organisasi Islam tidak tertinggal di era digital ini, mereka harus mengintegrasikan teknologi sebagai alat untuk membaca dan memahami realitas. Data besar (big data), kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan analisis prediktif adalah alat-alat modern yang bisa digunakan untuk menjalankan perintah Iqra dalam konteks zaman ini. Dengan teknologi, organisasi Islam dapat mengumpulkan informasi yang lebih luas dan lebih akurat, sehingga keputusan-keputusan yang diambil lebih relevan dan efektif.

Namun, penggunaan teknologi ini harus tetap diiringi dengan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan adalah salah satu jalan untuk mengenal Allah SWT lebih dekat. Penggunaan data dan riset tidak boleh lepas dari prinsip-prinsip moral dan etika Islam. Dengan demikian, organisasi Islam tidak hanya menjadi organisasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana secara spiritual.

Futuristik: Mengembalikan Iqra’ sebagai Basis Epistemologi dalam Organisasi Islam

Untuk mencegah agar organisasi Islam tidak tersesat jauh dari prinsip Iqra’, ada beberapa langkah futuristik yang dapat diambil agar mereka tetap relevan dan berfungsi dengan baik di tengah perubahan zaman.

Pertama, Membangun Kultur Data-Driven dalam Pengambilan Keputusan : Organisasi Islam harus membangun budaya di mana setiap keputusan diambil berdasarkan data dan analisis yang valid. Ini berarti bahwa sebelum mengambil kebijakan, harus ada penelitian dan pengumpulan data yang memadai. Ini sesuai dengan prinsip Iqra’ yang mengajarkan kita untuk membaca dan memahami dengan cara yang tepat, baik dalam memahami wahyu Allah maupun realitas dunia.

Kedua, Mengintegrasikan Ilmu Pengetahuan Modern dengan Prinsip-Prinsip Islam : Pada masa kejayaan peradaban Islam, para ilmuwan Muslim tidak takut untuk mempelajari ilmu dari peradaban lain selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Organisasi Islam harus mengambil pendekatan yang sama: mereka harus terbuka terhadap ilmu pengetahuan modern, termasuk teknologi dan inovasi, tetapi tetap menjaga agar ilmu tersebut selaras dengan prinsip-prinsip Islam.

Ketiga, Penguatan Literasi Ilmiah dan Spiritual : Salah satu kunci keberhasilan Islam di masa lalu adalah kemampuan mereka untuk menyatukan literasi ilmiah dengan literasi spiritual. Dalam konteks organisasi Islam modern, hal ini berarti para pemimpin dan anggotanya harus memiliki pengetahuan yang kuat baik dalam ilmu pengetahuan modern maupun ajaran Islam. Dengan demikian, mereka dapat membuat keputusan yang didasarkan pada pemahaman yang lengkap, tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan tetapi juga mengenai etika dan moralitas yang sesuai dengan ajaran Islam.

Keempat, Menciptakan Lingkungan Riset yang Mendukung : Salah satu langkah penting yang harus diambil oleh organisasi Islam adalah menciptakan lingkungan yang mendukung riset dan inovasi. Dalam konteks ini, mereka harus mendirikan lembaga penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat, baik dalam bidang sains, teknologi, maupun ilmu sosial. Lembaga ini harus dikelola dengan prinsip-prinsip ilmiah yang ketat, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.

Kelima, Pendidikan Berbasis Pemahaman Iqra’ yang Benar : Pendidikan dalam organisasi Islam harus mengajarkan bahwa Iqra’ adalah sebuah proses intelektual yang kompleks dan menyeluruh. Pendidikan harus menekankan pentingnya literasi yang berbasis data serta penghayatan terhadap nilai-nilai wahyu. Dengan cara ini, generasi baru yang terdidik dalam organisasi Islam akan memiliki pemahaman yang kuat tentang pentingnya menggabungkan ilmu pengetahuan dengan iman.

Penutup: Kembali kepada Esensi Iqra

Al-Alaq mengingatkan kita bahwa literasi yang sejati tidak hanya terkait dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan membaca alam semesta dan memahami realitas yang diciptakan oleh Allah SWT. Ketika organisasi Islam tidak menjadikan riset dan data sebagai basis pengambilan keputusan, mereka telah menyelisihi perintah Iqra yang sejati. Namun, jika mereka mampu mengembalikan Iqra sebagai basis epistemologi, mereka tidak hanya akan menemukan kembali relevansi mereka, tetapi juga berpotensi memimpin peradaban manusia di masa depan.

Jika kita kembali ke prinsip Iqra’ yang benar, yang mencakup pemahaman ilmiah yang berbasis data dan tetap terikat pada prinsip-prinsip ilahiah, maka organisasi Islam akan mampu menemukan kembali kejayaannya. Sebaliknya, jika kita mengabaikan esensi dari Iqra’, kita sebenarnya sedang mengabaikan potensi besar yang bisa menjadikan kita pionir dalam peradaban modern. Literasi ilmiah dan spiritual adalah dua sayap yang harus digunakan bersama-sama untuk terbang menuju masa depan yang lebih cerah bagi organisasi Islam dan umat manusia. Wallahu a’lam

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Halaqah Kubra Gabungan DKJ Jabar Banten Rancang Masa Depan Dakwah yang Adaptif

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Di bawah naungan rindangnya pepohonan Pondok Pesantren Hidayaturrahman, Caringin, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, menjadi saksi berkumpulnya para agen perubahan dari Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jawa Barat (Jabar) dan Banten, dalam hajatan silaturrahim gabungan Halaqah Kubra, Sabtu hingga Ahad, 10-11 Rabi’ul Awal 1446 (14-15/9/2024).

Bukan sekadar ajang silaturahmi, Halaqah Kubra ini adalah momentum strategis untuk melakukan refleksi, perencanaan, dan konsolidasi demi kemajuan dakwah yang adaptif di era modern.

“Halaqah Kubra ini bukan hanya tentang melihat ke belakang, tetapi juga tentang menatap ke depan,” ujar Ust. Munawwir Baddu, Ketua Panitia, dengan semangat. “Kita ingin merancang roadmap dakwah yang relevan dengan tantangan zaman, sekaligus memperkuat ukhuwah dan soliditas jamaah.”

Di tengah suasana yang khidmat, para peserta tidak hanya berdiskusi tentang perjalanan dakwah yang telah dilalui, tetapi juga menggali potensi Sumber Daya Insani (SDI) yang dimiliki. Pemetaan SDI berdasarkan profesi, bakat, minat, dan keahlian menjadi fokus utama, agar Hidayatullah dapat memberikan layanan kemasyarakatan yang lebih terarah dan efektif.

“Kita ingin setiap individu merasa memiliki peran penting dalam dakwah,” tambah Ust. Munawwir.

“Dengan memaksimalkan potensi SDI, kita bisa menciptakan gerakan dakwah yang lebih inklusif dan berdampak luas,” tegasnya.

Halaqah Kubra ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi sebuah langkah progresif untuk membangun masa depan dakwah yang lebih baik. Diharapkan, setiap peserta akan pulang dengan semangat baru, rindu yang mendalam, dan nikmat yang tak tergantikan dalam menekuni halaqah setiap pekannya.

“Kita ingin halaqah menjadi wadah yang hidup, tempat kita saling belajar, bertumbuh, dan menginspirasi,” tutup Ust. Munawwir dengan penuh harap.

Halaqah Kubra di Pesantren Hidayatuttahman ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah bukan sekadar rutinitas, tetapi sebuah perjalanan dinamis yang terus beradaptasi dengan zaman. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, para agen perubahan ini siap menghadapi tantangan masa depan dan membawa dakwah menuju tingkat yang lebih tinggi.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Keutamaan Bulan Rabiul Awal dan 3 Jalan Raih Cinta Nabi ﷺ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral muslimin wazumrotal mu’miniina rahimakumullah,

Hari ini, bertepatan dengan momentum Rabiul Awal yang merupakan bulan kelahiran Rasulullah Muhammadﷺ yang kita rindukan, marilah kita renungkan satu hal yang menjadi inti dari keimanan kita, yang menjadi cahaya dalam kegelapan, dan yang menghubungkan kita dengan surga-Nya.

Adakah di antara kita yang tidak menginginkan kecintaan Rasulullah ﷺ? Adakah hati yang tidak mendambakan untuk berada di bawah naungan kasih sayang Rasul-Nya di hari kiamat nanti? Rasulullah ﷺ bukan sekadar manusia biasa, beliau adalah utusan Allah, rahmat bagi seluruh alam.

Cinta kepada beliau adalah cinta yang melampaui dunia ini, melampaui kehidupan fana kita. Cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah perintah Allah, dan siapa yang tidak mencintai Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah terputus dari kasih sayang-Nya.

Ma’asyiral muslimin wazumrotal mu’miniina rahimakumullah,

Maka sudah sepatutnya, sebagai umat yang telah mendapatkan cahaya dari diutusnya Rasulullah, kita semua kaum muslimin mengangkat syukur setinggi-tingginya kepada Allah. Betapa besar nikmat yang telah Allah limpahkan dengan mengutus sosok mulia yang menuntun kita keluar dari gelapnya kejahilan menuju terang iman.

Kita wajib mencintai beliau dengan sepenuh hati, dengan cinta yang tak hanya diucapkan, tetapi mengalir dalam darah, menyatu dalam jiwa, membara dalam setiap amal dan langkah kita. Cinta yang sesungguhnya, bukan sekadar rasa, tetapi pengorbanan, ketaatan, dan kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan beliau di telaga Al-Kautsar.

Wahai saudara-saudaraku, jadikan cinta kepada Rasulullah sebagai api semangat yang menyala dalam diri kita, menggerakkan setiap detak nadi untuk menjadi umat yang beliau banggakan!

Banyak sekali anjuran dan pelajaran berharga yang tersebar dalam berbagai literatur yang membimbing kita tentang kiat-kiat mencintai Rasulullah. Setiap kata di dalamnya seolah memancarkan cahaya, mengingatkan kita pada kasih sayang beliau yang tak terbatas.

Namun, dalam kesempatan khutbah Jum’at yang singkat ini, izinkan kami menyampaikan setidaknya tiga poin penting yang dapat kita jadikan pegangan.

Semoga dengan memahami dan mengamalkan poin-poin ini, hati kita semakin dekat dan cinta kita kepada Rasulullah semakin mengakar kuat, seperti pohon iman yang kokoh, berbuah amal sholeh yang tak terhitung.

Pertama, memperbanyak membaca shalawat

Jama’ah yang berbahagia, ketahuilah bahwa salah satu cara untuk mencintai dan dicintai Rasulullah ﷺ adalah dengan memperbanyak membaca shalawat. Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk bershalawat atas Nabi-Nya. Dalam surah Al-Ahzab ayat 56, Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Lihatlah, wahai saudara-saudaraku, betapa mulianya Rasulullah ﷺ hingga Allah sendiri dan para malaikat-Nya bershalawat atas beliau! Maka, apakah kita yang lemah ini, yang bergantung kepada syafa’at Rasulullah ﷺ, tidak akan bershalawat?

Shalawat bukan sekadar lafadz, bukan sekadar ucapan di bibir, tapi ia adalah bukti nyata cinta kita kepada Nabi yang mulia. Setiap kali kita mengucapkan shalawat, hati kita terhubung dengan hati Rasulullah ﷺ, seperti tali yang mengikat kita dengan sosok yang penuh kasih sayang.

Ketahuilah, setiap kali shalawat terucap dari lisan kita, Allah SWT akan mengembalikannya sepuluh kali lipat untuk kita. Bayangkan, bagaimana mungkin kita tidak akan dicintai oleh Rasulullah ﷺ jika kita senantiasa mengingat dan mendoakan beliau? Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن صلَّى علَيَّ صَلاةً واحِدةً صلَّى اللهُ عليه عَشْرَ صَلواتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطيئاتٍ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجاتٍ

“Siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Subhanallah! Betapa besar pahala dari shalawat, dan betapa agung cinta yang terjalin melalui amalan sederhana ini. Maka, perbanyaklah shalawat, karena itulah jalan cinta yang pertama. Jangan biarkan hari-hari kita berlalu tanpa shalawat yang keluar dari hati yang tulus.

Kedua, menunjukkan bukti cinta dan membela Rasulullah

Jama’ah yang dirahmati Allah, cinta tidak cukup hanya dengan kata-kata. Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus disertai dengan pembuktian. Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ tetapi diam ketika ajarannya dilecehkan? Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai beliau namun tidak merasa tersakiti ketika kehormatan beliau dinodai?

Kita perlu ingat, para sahabat adalah teladan terbaik dalam hal ini. Mereka mencintai Rasulullah ﷺ dengan sepenuh jiwa dan raga. Mereka siap mengorbankan apa pun untuk membela beliau, baik dalam keadaan aman maupun di medan pertempuran. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan kehormatan Rasulullah ﷺ.

Di zaman ini, kita mungkin tidak perlu mengangkat senjata untuk membela Rasulullah ﷺ, tetapi ada banyak cara kita bisa menunjukkan bukti cinta kita kepada beliau. Salah satunya adalah dengan berdiri tegar membela ajarannya. Saat ini, ajaran Rasulullah ﷺ banyak diserang dengan fitnah dan kebencian.

Sebagai umat yang mencintai Rasulullah ﷺ, kita harus menjadi perisai yang melindungi beliau. Kita harus bersuara ketika agama ini diserang, kita harus bangkit ketika kebenaran dilecehkan, dan kita harus berjuang menegakkan sunnah-sunnah beliau.

Membela Rasulullah ﷺ tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan. Ketika kita hidup sesuai dengan ajarannya, kita telah menunjukkan bukti cinta kita yang sejati.

Ketika kita berakhlak mulia, kita telah membela nama baik beliau. Sebab, Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Jika kita ingin dicintai oleh Rasulullah ﷺ, maka tunjukkanlah cinta kita melalui tindakan nyata.

Ketiga, mentaati ajaran Rasulullah ﷺ dengan mengikuti sunnahnya

Hadirin jama’ah yang mulia, Rasulullah ﷺ adalah suri teladan terbaik dalam setiap aspek kehidupan kita. Dalam setiap langkah hidupnya, ada petunjuk bagi kita.

Tidak ada satu pun sunnah yang beliau tinggalkan kecuali ia adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Mentaati ajaran Rasulullah ﷺ adalah bukti cinta yang paling tinggi. Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 31:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Lihatlah, saudara-saudaraku, cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah syarat untuk mendapatkan cinta Allah. Maka, bagaimana mungkin kita mengabaikan sunnah-sunnah beliau? Cinta tanpa ketaatan hanyalah kebohongan.

Jika kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, maka kita harus menunjukkan cinta itu dengan mentaati setiap ajarannya. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti sunnah-sunnah beliau, baik yang besar maupun yang kecil.

Mengikuti sunnah bukan sekadar ritual, tetapi ia adalah jalan hidup. Dari cara beliau berbicara, berinteraksi dengan orang lain, beribadah, hingga cara beliau makan dan tidur, semuanya adalah contoh sempurna yang harus kita ikuti. Dengan mengikuti sunnah, kita akan merasakan bagaimana hidup ini menjadi lebih terarah, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan Allah.

Namun, jangan salah paham, saudara-saudaraku. Mengikuti sunnah tidak berarti kita harus meninggalkan segala sesuatu yang modern. Sunnah adalah panduan yang abadi, relevan di setiap zaman dan tempat. Yang penting adalah bagaimana kita menanamkan ajaran beliau dalam hati dan tindakan kita sehari-hari.

Ma’asyiral muslimin wazumrotal mu’miniina rahimakumullah,

Jika kita ingin mencintai dan dicintai Rasulullah ﷺ, maka marilah kita berusaha selalu untuk memperbanyak membaca shalawat, menunjukkan bukti cinta dengan membela beliau, dan mentaati ajarannya dengan mengikuti sunnah-sunnahnya.

Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi yang tidak hanya mencintai Rasulullah ﷺ dengan sepenuh hati, tetapi juga layak mendapat cinta beliau yang tulus berupa syafaat yang mulia di akhirat kelak.

Mari kita terus berjuang meneladani setiap langkahnya, menjaga api semangat cinta itu tetap menyala di dada kita, hingga kelak diizinkan Allah untuk berkumpul bersama Rasulullah ﷺ di surga-Nya.

Semoga cinta kita kepada beliau tak hanya sebatas kata, tapi terwujud dalam amal, akhlak, dan ketaatan yang membuat kita dirindukan oleh beliau di hari pertemuan nanti, Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Semangat Sinergi Hadirkan Dakwah Rutin di Kampung Zakat Gatep Selatan

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama terpancar jelas di Kampung Zakat Gatep Selatan, Ampenan, Kota Mataram. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), sebagai bagian dari Forum Zakat Wilayah (FOZWIL) Nusa Tenggara Barat, berkolaborasi dengan Kemenag dan lembaga-lembaga zakat lainnya untuk menghadirkan layanan dakwah rutin bagi warga setempat.

Pada hari Rabu, 7 Rabi’ul Awal 1446 (11/9/2024), warga Kampung Zakat Gatep Selatan berkumpul di masjid untuk mendengarkan pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Muslihudin Mustaqim, M.Pd.I.

Dengan khidmat, mereka menyimak tausiyah tentang keteladanan Rasulullah Muhammad SAW dan pentingnya menjadikan beliau sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari.

“Layanan dakwah ini adalah wujud nyata sinergi dan kolaborasi BMH bersama anggota Fozwil NTB dalam mewujudkan dampak zakat yang lebih nyata untuk masyarakat,” terang Nur Kholis, kepala perwakilan BMH NTB.

Tidak hanya pengajian umum, BMH juga berkomitmen untuk menghadirkan dai-dai mereka untuk mengisi khutbah Jumat di Masjid Khodijah, Kampung Zakat Gatep Selatan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat nilai-nilai keislaman dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti nyata bahwa zakat bukan hanya tentang memberikan bantuan materi, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih baik melalui pembinaan spiritual.

Dengan semangat gotong royong dan kepedulian, BMH dan FOZWIL NTB bersama-sama menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Kampung Zakat Gatep Selatan.

Semoga sinergi ini terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih sejahtera, baik secara materi maupun spiritual.*/Herim

Menulis Menghidupkan Pikiran Mengikat Ilmu

0

KAMIS pagi (12/9/2024) selepas shalat shubuh, saya mendapat amanah sebagai moderator untuk sesi kajian kepemimpinan bersama Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abu A’la Abdullah, M.HI, dalam rangkaian Daurah Marhalah Wustho STIE Hidayatullah Depok.

Sebagai moderator, saya menyadari pentingnya menulis dalam berbagai aspek kehidupan. Yang menantang bagi saya adalah bagaimana mencari sambungan fakta hari ini dengan dimensi historis maupun kontemporer.

Menulis lebih dari sekadar mencatat—ia menjadi media untuk merenungkan, menginternalisasi, dan menyebarkan ide.

Begitu pentingnya menulis, sekalipun kini telah hadir nikmat teknologi modern seperti tablet, saya selalu berusaha untuk menulis manual. Ini adalah cara efektif untuk membuat apa yang didengar tertanam lebih kuat dalam jiwa, sebuah proses yang dikenal dalam psikologi kognitif sebagai encoding—proses memperkuat ingatan melalui keterlibatan aktif.

Bukti

Sejarah telah membuktikan bahwa menulis memainkan peran penting dalam peradaban. Manuskrip kuno dari berbagai kebudayaan tidak hanya menjadi penyimpan pengetahuan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan.

Contoh paling mencolok adalah tulisan di Yunani kuno yang berkontribusi pada kemunculan filsafat, politik, dan ilmu pengetahuan modern. Di era kontemporer, menulis terus menjadi alat yang ampuh untuk introspeksi pribadi dan penyebaran gagasan publik. Penulis seperti Anne Frank dan Pramoedya Ananta Toer menggunakan tulisan mereka untuk mencatat perasaan terdalam dan pengalaman hidup yang memengaruhi generasi berikutnya.

Secara ilmiah, menulis memiliki manfaat yang terbukti. Studi dalam Journal of Experimental Psychology menunjukkan bahwa menulis tangan, terutama dalam format manual, meningkatkan daya ingat lebih baik daripada mengetik.

Hal ini karena proses motorik yang lebih kompleks dalam menulis tangan, yang merangsang bagian otak yang terlibat dalam pembelajaran dan memori. Ini menjelaskan mengapa ketika saya menulis, baik secara manual maupun digital, saya merasa lebih terhubung dengan apa yang saya dengar. Setiap kata yang saya tulis menjadi bagian dari proses reflektif, memperkuat pesan dalam pikiran saya sebelum saya sampaikan kepada masyarakat.

Dengan demikian, menulis bukanlah sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah cara untuk merangkai, memperkuat, dan membagikan pengetahuan.

Setiap orang, tak peduli seberapa sibuknya, selalu memiliki kesempatan untuk menulis—termasuk seorang moderator yang mungkin sibuk berdasarkan pengalaman singkat saya.

Menulis adalah proses hidup yang tak bisa diabaikan, karena melaluinya kita belajar, mengenal diri sendiri, dan menghidupkan ide-ide kita untuk orang lain.

Pendongkrak Semangat

Sebelum menjadi moderator pagi, Rabu malam (11/9/2024) saya bersama Ust. Shaleh Usman berkesempatan silaturrahim, menjenguk seniorku, Ust. Asih Subagyo.

Ust. Asih memang sakit, tapi karena kecintaannya dalam membaca dan menulis sangat tinggi, tak satu diksipun saya dapati keluar dari lisan beliau yang menunjukkan beliau merasa lemah dengan kondisi sakitnya.

Sebaliknya, beliau terus menyampaikan diksi-diksi penting. Mulai soal kesehatan, seperti “Syifa (kesembuhan) dari Allah dan dawa’ (obat) adalah wasilah. Ada kesembuhan tanpa melalui dawa’. Bagi saya ungkapan itu luar biasa.

Dalam kata yang lain, fisik boleh sakit, tapi kalau mental dan jiwa sehat, membaca dan menulis akan menjadi pendongkrak semangat tetap menyala. Jadi, mau apa lagi, nunggu kapan lagi, mulailah menulis sekarang. Bismillah!*

*) Mas Imam Nawawi, penulis adalah Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) | Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Periode 2020-2023

Kebun Ponpes Al Kahfi Putri Upaya Swasembada Kebutuhan Pangan Mandiri

0

KEPAHIANG (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh kebahagiaan menyelimuti Pondok Pesantren Al Kahfi Putri Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang. Para santri yang selama ini fokus pada hafalan Al-Qur’an, kali ini menikmati hasil jerih payah mereka di ladang pepaya yang dikelola sendiri, Selasa, 6 Rabi’ul Awal 1446 (10/9/2024).

Berbekal dukungan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Bengkulu, mereka berhasil menggelar panen raya yang tidak hanya mencukupi kebutuhan pondok, tapi juga menjadi langkah penting dalam swasembada pondok dan pengembangan jiwa kewirausahaan santri.

Dengan suasana ceria dan penuh antusiasme, para santri terlihat gembira menyambut momen yang dinanti-nanti ini. Amira, seorang santri berusia 14 tahun yang sudah menghafal 6 juz Al-Qur’an, menyatakan kegembiraannya. “Terima kasih BMH yang sudah mensupport panen pepaya ini. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu juga tercapai,” katanya dengan senyum lebar.

Kepala Kantor BMH Bengkulu, Muhammad Irwan, mengatakan kebun pepaya ini adalah simbol dalam upaya sinergis membangun kemandirian dan ketahanan pangan berbasis pesantren. Di bawah binaan Laznas BMH, kebun santri ini mencerminkan konsep pendidikan yang komprehensif.

“Pesantren tak hanya mengajarkan ilmu agama dan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan keterampilan hidup dan kewirausahaan yang penting untuk masa depan santri,” katanya.

Dengan hasil panen yang melimpah, pepaya ini bukan hanya digunakan untuk kebutuhan internal pesantren seperti sayuran dan tambahan nutrisi buah untuk santri. Sebagian hasilnya dijual ke pasar lokal. Ini memberikan pengalaman langsung bagi para santri dalam dunia usaha, memperkenalkan mereka pada pentingnya pengelolaan sumber daya dan pemasaran produk.

Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Santri

Lebih jauh Irwan menjelaskan, panen pepaya di Pondok Pesantren Al Kahfi Putri tidak hanya menyangkut aspek ketahanan pangan, tetapi juga menjadi media untuk membangun jiwa kewirausahaan. Dengan terlibat langsung dalam proses penanaman hingga pemanenan, para santri belajar mengenai tanggung jawab, ketekunan, dan perencanaan.

Dalam hal ini, program dari Laznas BMH memainkan peran penting. Dukungan yang diberikan tidak sebatas bantuan material, melainkan juga pelatihan dan pendampingan yang memungkinkan santri memahami nilai penting kemandirian ekonomi. Kebun pepaya yang mereka kelola menjadi laboratorium hidup, tempat mereka mengembangkan keterampilan kewirausahaan sejak dini.

“Mengajarkan kewirausahaan di lingkungan pesantren tentu memberikan nilai lebih. Ini sejalan dengan visi menciptakan generasi yang selain unggul dalam agama, juga siap menghadapi tantangan dunia nyata. Keterampilan ini nantinya akan sangat bermanfaat saat para santri terjun ke masyarakat, baik untuk menjadi pemimpin komunitas atau pengusaha yang berintegritas,” imbuhnya.

Salah satu keunikan dari Pondok Pesantren Al Kahfi Putri adalah bagaimana mereka memadukan pendidikan agama dengan keterampilan praktis. Para santri yang dikenal sebagai penghafal Qur’an, tetap diberi kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari, seperti memahami dan mengenalkan mereka pada dunia botani.

“Aktivitas ini, selain mengisi waktu luang mereka, juga memberikan pelajaran penting tentang siklus hidup, kebersamaan, dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah Ta’ala,” terang Irwan.

Kedepannya, tambahnya, kebun ini juga berpotensi dikembangkan menjadi pusat pelatihan agribisnis bagi santri lainnya, baik dari Pondok Pesantren Al Kahfi Putri maupun pesantren di sekitarnya. Ini sejalan dengan cita-cita besar menciptakan pesantren mandiri yang mampu berkontribusi pada ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat sekitar.*/Adam Sukiman