Beranda blog Halaman 185

Merangkul Keahlian Bersama untuk Kesatuan Umat yang Melampaui Batas Ormas

0

DIANTARA masalah serius yang masih selalu menjangkiti umat Islam adalah fanatik buta (ta’ashshub) dan menempatkan diri atau kelompoknya sebagai satu satunya yang paling benar (ashabiyah).

Pada level etika tertentu, mereka yang mengidap kedua penyakit tersebut akan mengklaim diri dan golongannya sebagai paling “sunnah”, sementara yang berbeda dengannya dilabeli sebagai pelaku bid’ah.

Tentu saja, fanatik buta dan selalu merasa paling benar sendiri semacam ini amat berbahaya karena dapat membuat seseorang tidak bisa berpikir jernih dan objektif.

Akibatnya, mereka cenderung hanya melihat kebaikan pada kelompoknya sendiri dan menutup diri terhadap perspektif lain. Dalam konteks agama, fanatik buta bisa membuat seseorang salah dalam memahami ajaran agamanya.

Hal inilah yang disoroti oleh Ust. M. Alimin Mukhtar dalam salah satu kesempatan obrolan grup di sebuah layanan perpesanan instan (IM) dan voice-over-IP (VoIP) yang penulis ikuti beberapa waktu lalu.

Ustadz yang juga pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, ini mengemukakan perlunya mengedepankan kelapangan hati dan keterbukaan pada kepakaran tokoh dari ormas Islam lainnya.

Ustadz Alimin Mukhtar menanggapi diksi “kita” pada sebuah respon terhadap materi video yang dikirim salah satu anggota grup dimana narasumber dalam materi visual tersebut merupakan pakar dari ormas lainnya. “Kita butuh SDI seperti ini,” demikian caption yang menyertai content itu.

Ustadz Alimin lantas menelaah kata “kita” ini pada konteks internal dan menarik telaah frasa itu ke ruang perspektif yang lebih universal dan terbuka.

“Kenapa kata “kita” menjadi terasa sangat kental ashabiyah? Seolah olah pakar berlatar ormas lain bukan “kita” dan tidak bisa dirujuk keahliannya, sehingga tiap ormas harus punya sendiri sendiri dan tidak cukup dengan adanya sesama muslim yang ahli di bidang itu. Konsep fardhu kifayah-nya menyempit, bahwa tidak cukup adanya ahli di kalangan muslim secara umum, tapi harus ada ahli dalam skup ormas baru fardhu kifayah-nya dianggap telah terpenuhi,” tulis Alimin Mukhtar.

Mewaspadai Silo-mentality

Di tengah keragaman ormas Islam di Indonesia, muncul pertanyaan mendasar: Mengapa kata “kita” sering kali terasa kental dengan ashabiyah, seolah-olah pakar berlatar belakang ormas lain bukan “kita” dan keahliannya tidak dapat dirujuk?

Hal ini memicu pertanyaan lebih lanjut: Apakah setiap ormas harus memiliki pakar di bidangnya masing-masing, atau cukupkah dengan mengandalkan sesama Muslim yang ahli di bidang tersebut?

Konsep fardhu kifayah dalam Islam, yang menyatakan bahwa kewajiban kolektif umat Islam dapat dipenuhi oleh sebagian orang selama ada yang mengerjakannya, seperti ditelisik Kyai Alimin di atas, tampaknya menyempit dalam konteks ini.

Muncul anggapan bahwa tidak cukup dengan adanya ahli di kalangan Muslim secara umum, tetapi harus ada ahli dalam lingkup ormas tertentu agar fardhu kifayah dianggap terpenuhi.

Ashabiyah, atau semangat kelompok yang kuat, memang memiliki nilai positif dalam memperkuat persatuan dan identitas komunitas. Namun, ashabiyah yang berlebihan dapat menjebak umat Islam dijangkiti penyakit dengan apa yang disebut sebagai silo-mentality.

Dalam perpektif organisasi, silo-mentality dapat diartikulasi sebagai sikap enggan untuk saling terbuka, tak mau saling berbagi, ogah saling menolong, dan berat hati saling berbagi informasi untuk kemajuan bersama dalam mengangkat pekerjaan besar sebagai penjaga keseimbangan kehidupan (khalifah fil ardh).

Akibatnya, jika masalah silo-mentality ini diabaikan sehingga terus merebak pada umat Islam dalam tubuh organisasi, maka ia akan semakin membatasi akses terhadap pengetahuan dan keahlian yang tersedia di luar lingkup organisasi mereka.

Ketika umat Islam hanya terpaku pada keahlian dalam ormas mereka, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dari beragam perspektif dan pemikiran yang ada di luar komunitas mereka. Tentu saja ini dapat menghambat proses pengembangan ilmu dan pemikiran Islam yang komprehensif dan dinamis.

Ashabiyah yang berlebihan dapat memicu sikap eksklusivisme, di mana umat Islam dari ormas tertentu merasa lebih superior dan enggan berkolaborasi dengan ormas lain. Hal ini dapat memperparah perpecahan dan menghambat persatuan umat Islam.

Setiap ormas yang terjebak dalam silo-mentality memaksa diri untuk memiliki pakar di bidangnya masing-masing, meskipun mungkin sudah ada pakar yang kompeten di luar ormas mereka. Hal ini dapat menyebabkan pemborosan sumber daya dan menghambat optimalisasi potensi umat Islam secara keseluruhan.

Merangkul Keahlian Bersama

Karenannya, dalam hemat penulis, umat Islam perlu melampaui batas ormas dan merangkul keahlian bersama untuk membangun kesatuan yang kuat.

Tentu saja, untuk mencapai itu hal itu bukanlah pekerjaan gampang, terutama, yang paling mendasar, adalah mendudukkan pola pikir. Yakni, pola pikir anggota dan juga komunitas secara kolektif yang tercermin dalam kebijakan organisasi.

Meluruskan pola pikir ini amat penting untuk mendudukkan pola pikir yang membatasi keahlian hanya pada lingkup ormas tertentu. Dalam tataran ini, keahlian seorang Muslim harus dihargai dan dimanfaatkan, terlepas dari apapun ormasnya selama ia berdiri di atas landasan Al Qur’an, Sunnah, dan pemahaman Ahlussunnah Waljama’ah.

Gejala lainnya yang perlu diretas adalah “kebisingan” yang acapkali dibuat pihak tertentu yang di satu sisi mengaku tidak berorganisasi karena dianggap sebagai perbuatan bid’ah, namun pada sisi lainnya secara sistematis dan terorganisir mendekonstruksi upaya positif kelompok lain untuk mengembangkan tajdid di bidang pemikiran Islam agar dakwah selalu relevan.

Pada kalangan yang disebut terakhir ini memang unik karena selain tidak berorganisasi mereka juga enggan berkompromi pada apapun yang dianggap berbeda dengan perspektif yang diyakininya, bahkan terhadap masalah khilafiyah. Oleh sebab itu, diperlukan pola pendekatan tersendiri untuk meretas dinamika dan keragaman masalah persatuan umat ini.

Pada akhirnya, tak ada yang lebih penting dalam membangun kesatuan umat ini selain memperkuat silaturrahim seraya kedepankan sikap terbuka antar sesama untuk saling menghargai, menghormati, saling belajar, dan berbagi pengetahuan.

Dengan kemajuan teknologi informasi, hal ini juga dapat dimanfaatkan untuk membangun platform kolaborasi antar ormas. Platform ini dapat digunakan untuk berbagi informasi, sumber daya, dan keahlian antar anggota ormas yang berbeda.

Umat Islam perlu melampaui batas ormas dan merangkul keahlian bersama untuk membangun kesatuan yang kuat.

Dengan saling belajar dan berbagi pengetahuan, Insya Allah, umat Islam dapat mencapai kemajuan yang lebih besar dan berkontribusi positif bagi Islam dan umat Muslim di Indonesia dan dunia.[]

*) Adam Sukiman, penulis edukator Masyarakat Muda Jakarta dan peneliti Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Mengantarkan Ibadah Qurban hingga ke Pulau Terluar di Berau

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltim Gerai Berau menyalurkan daging qurban secara merata kepada santri, masyarakat prasejahtera, dan dhuafa di 12 titik distribusi, mulai dari perkotaan hingga pulau terluar.

Total 22 sapi dan 3 kambing didistribusikan pada 17-18 Juni 2024, melibatkan para dai Tangguh Binaan BMH, dan menjangkau 2.095 penerima manfaat.

Koordinator BMH Gerai Berau, Sabliansyah, menekankan tingginya antusiasme para donatur dalam berqurban tahun ini.

“Alhamdulillah, kami telah menyampaikan amanah dari para donatur kepada saudara-saudara muslim kita di perkotaan, mualaf pedalaman, pondok pesantren, rumah Quran, serta pulau-pulau terluar di wilayah Berau,” ujar Sabliansyah, dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 17 Dzulhijah 1445 (24/6/2024).

Ia berharap distribusi ke daerah minim qurban dapat terus bertambah di tahun mendatang. BMH juga akan menyiapkan program syiar qurban yang memudahkan donatur, seperti tabungan qurban.

Di Kampung Batumbuk, Pulau Derawan, Ibu Jusnawati tak henti-hentinya mengucap syukur. “Terima kasih kepada BMH. Akhirnya masyarakat di kampung kami bisa merasakan daging qurban kembali,” katanya.

“Semoga Allah memberikan kemudahan dan istiqomah dalam menunaikan ibadah qurban selanjutnya, Aamiin,” lanjut Jusnawati.

Titik Distribusi BMH Berau meliputi:

  1. Ponpes Al Ihsan: 5 sapi & 3 kambing.
  2. Kampung Makasang Kec. Gunung Tabur: 1 sapi.
  3. Kampung Mualaf Birang Kec. Gunung Tabur: 1 sapi.
  4. Kampung Mualaf Inaran Kec. Sambaliung: 1 sapi.
  5. Kampung Bukit Makmur Jaya Kec. Biatan: 1 sapi.
  6. Kampung Bumi Jaya Kec. Talisayan: 1 sapi.
  7. Ponpes Tahfidz Al Hakim Kec. Talisayan: 1 sapi.
  8. Kampung Pulau Besing Kec. Gunung Tabur: 2 sapi.
  9. Kampung Bohesilian Kec. Pulau Maratua: 2 sapi.
  10. Rumah Quran Qolbun Salim Kec. Pulau Derawan: 2 sapi.
  11. Kampung Batumbuk Kec. Pulau Derawan: 3 sapi.
  12. Ponpes Daarul Hufadz Tanjung Batu Kec. Pulau Derawan: 2 sapi.

Total 22 sapi dan 3 kambing untuk 2.095 penerima manfaat. “Semoga menjadi berkah bagi kita semua,” tutup Sabliansyah.*/Herim

‘Mabit dan Sowan Kyai’ STAIL Tegaskan Kultur Hidayatullah dan Tingkatkan Literasi

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya menyelenggarakan acara “Mabit dan Sowan Kyai” di kompleks kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Kejawan Putih Tambak VI No.1, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu malam, 15 Dzulhijah 1445 (22/06/2024).

Acara dihadiri oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi STAIL, serta para dosen dan staf pengajar. Mabit dan Sowan Kyai merupakan acara rutin semesteran yang diadakan oleh STAIL untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan para mahasiswanya.

Acara ini diisi dengan ceramah agama, tahajjud berjamaah, dialog dengan pengelola STAIL, olah raga bersama, dan diakhiri dengan sarapan berjamaah.

Pada kesempatan ini, hadir dua pembicara, yaitu Us. H. Syamsuddin, M.M, Ketua Yayasan PP Hidayatullah Surabaya, dan Ust. H. Abdul Rahman, S.E, Ketua Pembina Yayasan PP Hidayatullah Surabaya.

Dipandu pembawa acara Ketua STAIL Surabaya, Muhammad Idris, M.Pd.l, dalam penyampaian materinya, kedua ustadz ini menekankan pentingnya menjaga kultur Hidayatullah di manapun berada.

Menjaga Kultur Hidayatullah

Ust. Syamsuddin menegaskan bahwa kampus STAIL dibangun untuk mempraktikkan nilai-nilai keislaman dan menjadi miniatur peradaban Islam.

Oleh karena itu, kata Syamsuddin, penting bagi para mahasiswa untuk menjaga kultur keislaman, seperti menutup aurat secara sempurna bagi mahasiswi, menjaga jarak hubungan antar lawan jenis, dan menjalankan amalan sunnah seperti sholat llail, baca al-Qur’an, dan wirid.

“Kampus kita ini dibangun untuk mempraktikkan nilai-nilai keislaman. Menjadi miniatur peradaban Islam. Maka, menjaga kultur keislaman itu menjadi keniscayaan,” jelas ustadz asal Madura itu.

Meningkatkan Gerakan Literasi

Ust. Abdul Rahman, di sisi lain, mengingatkan pentingnya meningkatkan gerakan literasi di kampus. Rahman mendorong para dosen dan mahasiswa untuk lebih giat membaca dan belajar.

“Meski sebutannya sudah ‘maha,’ para mahasiswa tetaplah bersikap tawadhu. Bukti akan hal itu, tingginya daya belajar dan baca masing-masing mahasiswa. Waktu yang ada dioptimalkan untuk membaca dan belajar. Bukan tidur,” tegas Rahman, berpesan.

Ustadz Rahman juga mengurai tentang ciri alumni Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH), khususnya STAIL. Rahman menyebutkan bahwa alumni STAIL haruslah memiliki setidaknya tiga ciri utama, yaitu cerdas, bersih, dan beradab.

Dia menjelaskan, cerdas berarti alumni STAIL haruslah memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual. Mesti ‘bersih’, maka hendaknya keluaran STAIL haruslah bersih dalam hati, pikiran, jasad, lingkungan, dan segala aspek kehidupannya.

“Dan, memiliki ciri beradab, yaitu alumni STAIL haruslah memiliki akhlak mulia dan sopan santun,” terangnya.

Acara Mabit dan Sowan Kyai ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Para mahasiswa dan mahasiswi tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Ketua STAIL Surabaya, Muhammad Idris, mengatakan acara ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan semangat baru bagi para mahasiswa untuk terus belajar dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka.

Disamping itu, acara ini juga menjadi wadah untuk meningkatkan literasi dan akhlak mulia para mahasiswa yang diadakan secara rutin dan bermanfaat bagi seluruh civitas akademika STAIL Surabaya.*/Khairul Hibri

BSI dan DPW Jawa Tengah Jalin Kerjasama Layanan Keuangan Syariah

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Bank Syariah Indonesia (BSI) melalui Region 7 Semarang melakukan Memorandum of Understanding (MoU) atau penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah untuk kerjasama Layanan Keuangan Syariah.

MoU ini ditandatangani di Gedung Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah, Jl. Wonodri Baru No.41 Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis, 13 Dzulhijah 1445 (20/6/2024).

MoU ini dihadiri langsung oleh Regional CEO BSI Region 7 Semarang Ficko Hardowiseto, ditemani Regional Manager Islamic Ekosistem Roni Irawan dan Area Manager BSI Semarang Kota Abdul Azis SW, beserta tim dari BSI.

Ficko Hardowiseto menyampaikan rasa senang bisa bekerja sama dengan Hidayatullah. Tidak hanya di Jawa Tengah, Ficko menyebutkan, bahkan di beberapa daerah sudah terjalin hubungan yang intensif antara BSI dan Pesantren-pesantren Hidayatullah.

Kerja sama yang dilakukan oleh BSI di antaranya adalah Solusi Ekosistem Sekolah, dengan ruang lingkup Pengelolaan pembayaran SPP, dan pengelolaan operasional dan pembayaran pihak ketiga.

Berikutnya, ada kerjasama program kerja sama produk dan layanan perbankan syariah, mengingat jaringan sekolah Hidayatullah yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah Akhmad Ali Subur menyambut baik kerja sama ini.

Ali Subur menyampaikan bahwa dengan adanya kerja sama ini diharapkan jaringan sekolah-sekolah maupun pesantren-pesantren Hidayatullah di seluruh Jawa Tengah bisa memanfaatkan fasilitas ini.

“Pintu layanan fasilitas sudah terbuka lebar ditandai dengan adanya penandatanganan MoU ini,” kata Ali Subur.

Ali Subur juga menegaskan tentang benefit kerja sama dengan BSI khususnya kebutuhan manajemen pengelolaan keuangan di sekolah maupun pesantren.

“Alhamdulillah, saat ini BSI memiliki fasilitas BSI Cash Management dan Smart Card yang dapat memudahkan sekolah dan pesantren dalam mengelola keuangan dan uang saku siswa,” kata Ali Subur, menandaskan.*/Eviq Erwiandy

Halaqah Usman bin Affan Menyibak Cahaya Ahlussunnah Wal Jama’ah di Qalbu Umat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Halaqah Usman bin Affan yang dipimpin oleh murabbi Ust. Muhammad Shaleh Usman, M.I.Kom, kembali berlangsung dengan semangat yang menggebu. Kali ini, pertemuan diadakan di kediaman Alfarobi Nurkarim yang terletak di bilangan Kavling IIP Depok, Kalimulya, Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu malam, 15 Dzulhijah 1445 ((22/6/ 2024).

Dalam suasana yang penuh kehangatan dan kekeluargaan, Shaleh Usman mengupas tuntas tentang Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Ia menjelaskan bahwa Ahlussunnah Wal Jama’ah lahir dari kondisi umat yang mulai pudar semangat bersatu setelah kepemimpinan Nabi SAW dan para sahabat.

“Agar kembali terjadi persatuan itu, lahirlah Ahlussunnah Wal Jama’ah, sebagai upaya bersama untuk teguh di atas sunnah (ittiba’ rasul) yang memang mengedepankan urgensi persatuan (jama’ah),” ujarnya dengan penuh semangat.

Dia menegaskan, konsep Ahlussunnah Wal Jama’ah, singkatnya, adalah bagaimana kita mengamalkan nilai-nilai Islam sesuai dengan sunnah Nabi SAW.

Shaleh menekankan pentingnya upaya untuk membina persaudaraan dan persatuan serta menghindari perdebatan dan perpecahan sebagai sikap utama yang harus dikedepankan oleh kader Hidayatullah dan nilai utama ini diharapkan bertahta di qalbu umat.

Setelah sesi halaqah yang penuh khidmat, para peserta menikmati sajian istimewa yang telah disiapkan oleh sahibul hajat. Hidangan khas seperti konro, coto makassar, dan bakso disuguhkan dengan penuh cinta. “Ini berkah Idul Adha,” kata Alfarobi, menyambut peserta dengan senyuman hangat.

Sebagaimana lazimnya, tradisi halaqah Hidayatullah selain sebagai pertemuan rutin, juga menjadi momen mempererat silaturahmi dan memperdalam pemahaman tentang Islam, diiringi dengan kelezatan hidangan atau sekadar kudapan ringan yang menambah keakraban di antara para peserta. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Jawa Tengah dan Universitas Pandanaran Bersinergi Mencerdaskan Bangsa

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka mewujudkan kepedulian terhadap masa depan generasi muda, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah menjalin kerjasama dengan Universitas Pandanaran Semarang melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Kamis, 13 Dzulhijah 1445 (20/6/2024).

Kerjasama ini diharapkan dapat memfasilitasi kelanjutan pendidikan bagi para siswa Hidayatullah yang ingin melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.

Acara penandatanganan MoU berlangsung di Gedung Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah, Jl. Wonodri Baru No.41 Semarang. MoU ditandatangani oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subu, dan Rektor Universitas Pandanaran, Agustien Zulaidah S.T., M.T.

Kerjasama antara Hidayatullah Jawa Tengah dan Universitas Pandanaran ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Bagi Hidayatullah, kerjasama ini membuka peluang bagi para siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Pandanaran dengan berbagai kemudahan dan keringanan.

Universitas Pandanaran pun akan mendapatkan keuntungan dari kerjasama ini dengan mendapatkan akses kepada potensi mahasiswa baru yang berkualitas dari sekolah-sekolah Hidayatullah yang tersebar di seluruh Jawa Tengah.

Rektor Universitas Pandanaran, Agustien Zulaidah S.T., M.T., mengungkapkan harapannya agar kerjasama ini tidak hanya sebatas penerimaan mahasiswa baru, tetapi dapat dikembangkan ke berbagai layanan lain yang menunjang pendidikan siswa di tingkat perguruan tinggi.

“Kami berharap bahwa kerjasama ini tidak sebatas moment penerimaan mahasiswa baru saja, tapi lebih dari itu, kerja sama ini bisa dikembangkan ke layanan-layanan lainnya sebagai penunjang pendidikan siswa di tingkat perguruan tinggi,” ujar Agustien.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Akhmad Ali Subur menjelaskan bahwa kerjasama ini merupakan wujud komitmen Hidayatullah dalam membangun generasi muda yang berkarakter.

“Hidayatullah memiliki komitmen yang tinggi untuk membangun generasi muda yang berkarakter. Kerjasama ini merupakan salah satu upaya kami dalam mewujudkan komitmen tersebut,” jelas Ustadz Ali Subur.

Ali Subur menambahkan bahwa Hidayatullah juga memiliki program khusus untuk mahasiswa, yaitu Pesmadai, yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan spiritualitas mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dia menjelaskan, Pesmadai Jateng merupakan sebuah lembaga kepesantrenan untuk para mMahasiswa, yang bisa menjadi solusi untuk menjaga dan meningkatkan spiritualitas mahasiswa selama mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

“Karena tinggal di lingkungan yang kondusif, siang hari kuliah, malam hari mengikuti kegiatan kepesantrenan, sehingga waktunya menjadi optimal, seimbang antara intelektualitas dan spiritualitas,” imbuh Ustadz Ali Subur menandaskan, seraya berharap kerjasama ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak serta bagi masyarakat luas.*/Eviq Erwiandy

Bimtek Nasional Perkuat Pilar Perkaderan Hidayatullah Menuju Sistem Pendataan yang Lebih Baik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah sukses selenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Input Data Halaqah Nasional yang digelar intensif secara daring dari Jakarta, Sabtu, 15 Dzulhijah 1445 ((22/6/ 2024).

Acara bimtek pendataan digital yang digelar melalui platform Zoom App berlangsung dari pukul 08:00 hingga 10:00 WIB ini penuh dengan semangat dan antusiasme dari para peserta.

Acara dimulai dengan pembukaan yang khidmat, diawali dengan tilawah oleh Ust. Anwar Hadi Tory selaku Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah NTT. Selanjutnya, sambutan pembuka disampaikan oleh Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. Muhammad Sholeh Usman.

Sholeh menyampaikan pentingnya memiliki formula dan sistem pendataan yang lebih baik. “Selama ini data masih belum matang, sehingga belum maksimal dalam pembacaan dan penetapan keputusan yang juga maksimal,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk menguatkan sistem perkaderan, sebuah langkah penting menuju mainstream kelembagaan.

Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah, Ust. Ir. Abu A’la Abdullah, memberikan arahan strategis yang sangat dinantikan. Ia menegaskan bahwa kader adalah aset termahal yang dimiliki oleh Hidayatullah.

“Kalau terbina dengan baik, dengan kuat, terkelola dengan baik, maka anggota dan kader ini akan jadi kekuatan utama bagi Hidayatullah,” kata Abu.

Pria asal Klaten, Jawa Tengah, ini juga menekankan pentingnya peran kader dalam merekrut dan membina anggota, serta bagaimana forum ini menjadi wasilah untuk semakin kuat dalam takwa kepada Allah.

Acara yang dipandu oleh Sekretaris Perkaderan DPP Hidayatullah, Imam Nawawi, ini berjalan lancar dengan pemaparan Bimtek oleh programmer Alif Rediansyah yang disusul dengan sesi diskusi interaktif.

Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan, menandakan ketertarikan dan kebutuhan besar akan sistem pendataan yang lebih baik.

Pada kesempatan ini, Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah, Dr. Nanang Noepatria, juga memberikan sambutan singkat yang membakar semangat para peserta.

“Ini perdana dari Bidang Tarbiyah. Kita akan mulai punya data terpusat melalui pusattarbiyah.com yang bisa diakses oleh semua stakeholder perkaderan,” ujar Nanang.

Nantinya, lanjut Nanang, semua murabbi dan mutarabbi baik dalam maupun luar negeri akan terdata dengan baik dan bisa diakses secara bersama-sama.

Acara ditutup dengan doa yang khusyuk, menandai berakhirnya Bimtek yang diharapkan dapat membawa perubahan signifikan dalam sistem pendataan perkaderan Hidayatullah, untuk estafeta perjuangan yang lebih baik ke depannya.*/Herim

Ketua MUI Papua KH Syaiful Islam Alpayage Pesan Pentingnya Bekal Iman

0
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua, KH. Syaiful Islam Alpayage, saat menjadi khatib Idul Adha di Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura, Papua (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua, KH. Syaiful Islam Alpayage, menjadi Khatib Idul Adha di Pondok Pesantren Hidayatullah Japapura, Jalan Kelapa Dua, Entrop, Holtekamp, Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Senin, 10 Dzulhijah 1445 (17/6/2024).

Dalam khutbahnya yang menggugah dan tanpa teks tersebut, ulama kelahiran Desa Silimo, Yahukimo, Papua Pegunungan, ini menekankan tiga pesan yaitu pentingnya iman dan takwa sebagai bekal dalam mengarungi perjalanan yang panjang.

Ia juga menyampaikan pentingnya menjaga karunia umur dan rizki untuk mengabdi kepada Allah dan keutamaan kita berbakti kepada kedua orangtua baik yang masih hidup atau sudah meninggal.

Ustadz Syaiful Islam lantas menukilkan sabda Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang menitipkan pesan kepada umat Islam untuk menjaga empat perkara.

Pesan empat perkara dari Nabi itu sebagaimana dalam hadist dari Abu Dzar Al Ghifari yang termaktub dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantani, bahwa:

يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ، وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العَقَبَةُ كَئُوْدٌ، وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقَدَ بَصِيْرٌ

“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam; ambilah bekal yang cukup karena perjalanannya jauh; ringankan beban bawaan karena lereng bukit sulit dilalui, dan ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti”

“Begitu hebatnya Rasulullah memberikan bahasa bahasa majasi kepada Abu Dzar. Jasad kita ini adalah titipan yang sangat mulia dari Allah Ta’ala, jasad kita bagaikan perahu dan di dalam perahu ini ada amanah yang besar yaitu iman yang dititipkan oleh Allah,” katanya, seperti dilansir laman hidayatullahpapua.or.id.

Ustadz Syaiful Islam menjelaskan, orang orang beriman akan selalu diuji dengan berbagai problematika dalam kehidupan ini agar mereka berlomba lomba melakukan kebaikan dalam rangka ibadah kepada Allah.

“Dan dunia ini memang diciptakan oleh Allah Ta’ala penuh dengan ujian dan tantangan,” katanya seraya mengutip lafaz Al Qur’an surah Al Mulk ayat 2:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”

“Hidup ujian dari Allah. Matipun ujian dari Allah. Kaya ujian dari Allah. Miskin ujian dari Allah. Sehat ujian dari Allah. Sakit ujian dari Allah. Orang ‘alim ujian dari Allah. Orang bodoh ujian dari Allah. Semuanya ujian dari Allah Subhanahu Wata’ala,” terangnya dengan suara bergetar.

Adapun sikap seorang muslim dalam mengadapi ujian dan tantangan, terang Syaiful Islam, adalah dengan menjadikan Allah Ta’ala sebagai tujuan utama sehingga ia tak goyah sedikitpun.

“Menghadapi kehidupan yang penuh dengan ujian dan tantangan ini, tidak pernah goyang iman dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala karena sebagai insan yang beriman kepada Rabbul ‘Izzah,” katanya, yang kembali menukil Titah Ilahi dalam Al Qur’an ayat 56 dari surah Az-Zariyat:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

“Segala makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala di dunia ini ada funsginya. Fungsi daripada manusia adalah tiada lain kecuali untuk menyembah kepada Allah. Umur amanah dari Allah Subhanahu Wata’ala,” imbuhnnya menerangkan.

Di akhir khutbahnya, Ustadz Syaiful Islam berpesan kepada jamaah shalat Idul Adha di lapangan sepakbola di Pondok Pesantren Hidayatullah Japapura itu untuk selalu menjaga karunia jasad dan usia yang telah Allah Ta’ala berikan dengan melakukan amal kebajikan.

“Sebaik baik manusia adalah manusia yang diberikan umur panjang oleh Allah dan bagus amal perbuatanya. Umur adalah amanah yang sangat penting yang diamanahkan oleh Allah,” katanya.

Usai pelaksanaan ibadah Idul Adha, dilanjutkan kegiatan ramah tamah santap pagi bersama. Hadir mendampingi pada kesempatan tersebut yaitu Ketua DPW Hidayatullah Papua Ust. Musmulyadi dan unsur Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah (DMW) Papua. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Jateng Perkuat Keuangan Daerah Melalui Workshop Fundraising

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Bidang Kebendaharaan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah menggelar Workshop Fundraising bertempat di Gedung Dakwah Hidayatullah Jawa Tengah, Jl. Wonodri Baru No.41 Semarang, Kamis, 13 Dzulhijah 1445 (20/6/2024).

Acara ini dihadiri oleh sedikitnya 30 peserta, termasuk Ketua dan Bendahara Dewan Pengurus Daerah (DPD) serta Yayasan Hidayatullah se-Jawa Tengah.

Workshop ini diadakan dengan tujuan untuk memperkuat kondisi keuangan di daerah, sehingga program-program Hidayatullah Jawa Tengah dapat berjalan dengan lancar.

Seperti yang disampaikan oleh Bendahara DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Widodo, beberapa program di daerah menurutnya tidak dapat berjalan optimal salah satunya karena keterbatasan dana.

Oleh karena itu, kata Widodo, dibutuhkan upaya yang lebih keras, khususnya dari bendahara, untuk menggali sumber-sumber pendanaan, baik internal maupun eksternal.

“Selain itu, bendahara juga harus memiliki keahlian dalam mengelola keuangan yang sudah ada, karena tidak jarang daerah yang memiliki sumber pendanaan tinggi namun cash flow-nya tidak lancar,” kata Widodo.

Widodo menjelaskan, Workshop Fundraising DPW Hidayatullah Jawa Tengah ini merupakan langkah untuk meningkatkan keahlian bendahara khususnya di strukrural DPD dalam menggali sumber pendanaan dan mengelola keuangan organisasi.

“Dengan memiliki bendahara yang cakap dan profesional, DPW Hidayatullah Jawa Tengah dan yayasan-yayasan di bawah naungannya dapat menjalankan program-programnya dengan lebih efektif dan mencapai tujuannya dengan lebih optimal berkhidmat untuk umat,” kata Widodo.

Workshop ini juga diharapkan akan meningkatkan kesadaran para bendahara tentang pentingnya fundraising serta pengelolaan keuangan yang terstandar, efektif, maslahat luas, dan juga menganut asas transparansi.

Disamping itu, workshop yang digelar intensif sehari ini memberikan para bendahara pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan fundraising dan mengelola keuangan organisasi serta bimbingan praktis dalam membangun jaringan antar bendahara dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Widodo menambahkan, workshop fundraising ini sebagai komitmen organisasi tingkat wiilayah dalam meningkatkan kapasitas sumber daya yang ada dan sebagai upaya memperkuat kondisi keuangan di daerah.

“Dengan bendahara yang cakap dan keuangan yang sehat, DPW Hidayatullah Jawa Tengah dan elemen elemen di bawah naungannya dapat terus berkontribusi untuk kemajuan umat Islam di Jawa Tengah,” tandas Widodo.

Hadirkan Ahli

Workshop ini menghadirkan dua narasumber yang ahli di bidangnya, yaitu Akhmad Ali Subur, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah sekaligus praktisi ekonomi di Jawa Tengah dan Rafi’udin, Kadiv Penghimpunan BMH Perwakilan Jawa Tengah.

Dalam materinya, Akhmad Ali Subur menyampaikan berbagai strategi fundraising yang dapat dilakukan oleh DPW Hidayatullah Jawa Tengah dan yayasan-yayasan di bawah naungannya.

Pria murah senyum yang karib disapa Subur ini menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan para donatur dan membangun kepercayaan mereka terhadap organisasi.

Sementara itu, Rafi’udin, selaku Kadiv Penghimpunan BMH Perwakilan Jawa Tengah, berbagi pengalaman dan tips dalam mengelola keuangan organisasi secara efektif.

Praktisi akuntansi keuangan ini juga menjelaskan berbagai sumber pendanaan yang dapat diakses oleh organisasi nirlaba, seperti zakat, infaq, sedekah, dan hibah.

Para peserta workshop terlihat antusias mengikuti materi dan berdiskusi dengan para narasumber.

Mereka berharap dengan mengikuti workshop ini, dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam fundraising dan mengelola keuangan organisasi dengan lebih baik.*/Eviq Erwiandy

[KHUTBAH JUM’AT] Napak Tilas Perjuangan Ibrahim Persiapkan Generasi Qur’ani

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Keberhasilan Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam mendidik anak menjadi sosok yang shaleh terukir indah dalam tinta emas sejarah. Karakter keshalihannya tampak terwariskan pada putranya Nabi Ismail Alaihissalam. Bahkan, 30 generasi pelanjut Ibrahim menjadi pemimpin umat.

Dari 25 Nabi, 19 diantaranya berasal dari keturunan Ibrahim. Kesuksesan itu berkat sejumlah konsep dan metode pendidikan yang diterapkan Ibrahim, bahkan sejak anaknya belum dilahirkan di muka bumi ini.

Model pendidikan Nabi Ibrahim itu sebenarnya bisa ditelusuri di dalam Al-Quran. Bahkan, pola pendidikan yang diterapkan khalilullah (kekasih Allah) tersebut dijelaskan secara terperinci dalam kitab Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Setidaknya terdapat tujuh cara atau metode mendidik anak merujuk Nabi Ibrahim:

Pertama, mengutamakan keshalehan diatas kecantikan dan kekayaan dalam memilih pasangan hidup.

Karena pendamping yang akan mendampingi kita selamanya, maka perlu selektif dalam memilihnya. Jika salah pilih akan fatal akibatnya di kemudian hari.

Sebagaimana diketahui, Ismail lahir dari buah pernikahan Ibrahim dengan Siti Hajar, seorang budak, hadiah dari Raja Hexsos.

Namun, dibalik kelembutannya ia memiliki keteguhan hati dalam komitmen perjuangan bagaikan batu karang (hajar). Tidak hancur ketika dihantam oleh gelombang samudera.

Kendati seorang budak, yang juga tak cantik apalagi kaya, tapi Siti Hajar adalah hamba yang beriman, berhati mulia, dan berakhlak terpuji, serta taat dan loyal kepada suami. 

Memilih istri yang shalehah merupakan prasyarat awal untuk melahirkan keturunan yang shaleh. Sebab, istri akan menjadi madrasah pertama (al-ummu madrasah) bagi anak-anaknya, sebelum anak “sekolah” di luar rumah.

Guru pertama anak-anak adalah bapak dan ibunya sendiri. Bertolak dari rumah inilah bangsa dan negara akan dibangun.

Pujangga Arab Hafez Ibrahim berkata ;

الأمُّ مَدْرَسَة  إِذَا أعْدَدْتَها    أعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأعْرَاق
ألأمّ رَوْضٌ إنْ تعَهّدَهُ الحَيا  بِالرَّيّ أورق  أيّما إيراق
ألْأمّ أسْتَاذَةُ الأَسَاتِذَة الأوْلي  شَغَلتْ ماَثِرُهُم  مَدَى الْأَفاَق

Ibu adalah madrasah. Jika engkau menyiapkan keduanya dengan baik berarti engkau membangun moral masyarakat secara keseluruhan

Ibu adalah taman jika engkau pelihara dengan menyiraminya, maka ia tumbuh rindang sehingga menjadi tempat berlindung yang amat nyaman

Ibu adalah mahaguru pertama. Pengaruhnya dirasakan sepanjang zaman

Kedua, menjadi teladan yang baik (uswah hasanah) bagi anak.

Karena apa yang menjadi karakter anak merupakan copy paste orang tuanya.

مَا فِي الْاَباء فِي الابناءِ

“Apa yang menjadi karakter, kebiasaan bapak akan terwariskan kepada anak”, meminjam ungkapan pujangga Arab. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, meminjam peribahasa Indonesia.

Yang dikonsumsi, pakaian, akhlak, kebiasaan ortu akan membentuk kejiwaan anak. Suasana rumah menjadi kurikulum awal dalam menata ulang struktur kepribadian buah hati. Buah yang jatuh tidak jauh dari induknya.

Jadi, anak disamping menjadi tsamratul qalb, zinatul hayatid dunya, sekaligus amanah dari pemilik-Nya. Jika kita menyia-nyiakan amanah ini anak dan istri bisa menjadi musuh dalam selimut.

Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan kita:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوًّا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡ ۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. At-Taghabun (64) : 14)

Kunci sukses model pendidikan Nabi Ibrahim adalah metode keteladanan. Dalam Alquran terdapat dua ayat yang menjelaskan bahwa Ibrahim adalah uswatun hasanah (QS al-Mumtahanah [60]: 4 dan 6) bagi umatnya, termasuk bagi anak-anaknya.

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَه

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja, (QS. Al-Mumtahanah (60) : 4).

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ ۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ

“Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari Kemudian, dan barang siapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji.”. (QS. Al-Mumtahanah (60) : 6)

Dalam perkembangan dan pertumbuhan psikologi anak, si kecil cenderung meniru (imitatif) orang-orang sekitarnya, terutama orang tua.

Disinilah diperlukan keteladanan yang baik bagi orang tua, baik soal keimanan, ketaatan beribadah, sikap, pengorbanan, maupun perilaku sehari-hari.

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَٰوةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا

“Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti (generasi penerus) yang mengabaikan sholat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat,”. (QS. Maryam (19) : 59)

Ketiga, memilih lingkungan yang baik (biah shalihah) untuk perkembangan mentalitas anak.

Setelah Hajar melahirkan Ismail, Ibrahim mengantarkan mereka ke suatu tempat yang lengang dan tandus bernama Bakkah. Kawasan yang membuat orang menangis jika melihatnya. Karena ahli geologi mengatakan tidak ada tanda-tanda kehidupan di lahan yang gersang itu.

Lalu, Ibrahim pun bermunajat agar tempat itu diberkahi dan baik untuk perkembangan mentalitas anaknya (QS. Ibrahim [14] : 37).

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَٰوةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡئِدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”. (QS. Ibrahim (14) : 37).

Jika lingkungan baik, akan mudah membentuk perilaku anak, demikian pula berlaku sebaliknya. Dalam arti lebih luas, orang tua mesti memonitor pergaulan anak-anaknya.

Perhatian itu mulai dari memilih sekolah yang memperhatikan pembinaan sikap keberagamaan dan akhlak mulia, hingga memilih lingkungan tempat tinggal yang kondusif dan mendukung perkembangan mentalitas anak ke arah positif.

Agar orang tua tidak dijuluki dayyuts, karena membiarkan anak terjerumus dalam platfom media sosial yang destruktif. Dayyuts tidak akan masuk surga.

Keempat, mengedepankan dialog (komunikatif) dengan anak.

Seringkali anak tidak memahami psikologi orang tua. Wajar, karena belum pernah menjadi orang tua. Disinilah diperlukan dialog antara dua generasi. Agar terkoneksikan kearifan orang tua (hamasatus syuyukh) dan semangat generasi muda (hamasatus syabab).

Sikap demokratis dan komunikatif Nabi Ibrahim terlihat dari kisah perintah penyembelihan putranya. Ketika Ibrahim mendapat wahyu untuk menyembelih anaknya, ia panggil Ismail menggunakan narasi yang dialogis: “Ya bunayya” atau “Wahai anakku sayang!”.

Kata itu merupakan panggilan penuh kasih sayang, komunikatif antara seorang ayah dan anak. Sisi demokratisnya tampak ketika Ibrahim meminta pendapat Ismail tentang perintah penyembelihan itu (QS as-Shaffat [37]:102).

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.””. (QS. As-Saffat (37) : 102)

Pelajaran yang bisa diambil dari cara Ibrahim itu adalah bahwa orang tua tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak, kecuali hal prinsipil seperti ketaatan beragama (keimanan).

Orang tua juga jangan menampilkan diri sebagai sosok yang ditakuti anak, tetapi jadilah sosok guru yang disayangi, dihormati, bahkan bisa diacungi jempol (diidolakan).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Kelima, Mencintai anak karena Allah.

Hal ini tampak ketika Ibrahim rela mengorbankan Ismail ketika diminta Allah untuk menyembelihnya. Ketaatan kepada Allah mengalahkan perasaan Ibrahim yang demikian merindukan anak setelah sewindu berpisah.

Kisah ini mengajarkan agar mencintai anak semata-mata karena Allah. Sebab, jika kecintaan kepada anak melebihi cinta kepada Allah, malapetaka akan ditimpakan dalam kehidupan keluarga itu (QS al-Taubah [9]: 24).

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah (9) : 24).

Keenam, melibatkan anak dalam beribadah dan beramal.

Ibnu Katsir dalam kitab Qishash al-Anbiya’ menjelaskan, Ismail turut membantu Ibrahim mengumpulkan batu untuk membangun Ka’bah yang sebelumnya rusak.

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِـۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”. (QS. Al-Baqarah (2) : 127).

رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسۡلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”. (QS. Al-Baqarah (2) : 128).

Ketujuh, memperbanyak doa agar dikaruniai anak yang shalih shalihah.

Kendati seorang nabi Allah dan kekasih-Nya (khalilullah), tapi Ibrahim tetap bermunajat agar dikaruniai anak yang shalih. (QS ash-Shafat [37]: 100).

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.””. (QS. As-Saffat (37) : 100).

Doa itu mengajarkan bahwa mendidik anak tidak bisa dengan usaha lahiriyah belaka, tetapi juga butuh kepasrahan jiwa memohon pertolongan-Nya.

Mendidik anak shalih disamping mengoptimalkan ikhtiar lahir juga ikhtiar batin. Ibrahim mempersiapkan anak-anaknya menjadi pemimpin (imam) yang diiringi dengan doa.

Ibrahim mendidik anaknya menjadi anak yang berlaku adil, bukan bersifat zalim, baik zalim secara akidah, yaitu syirik (QS Luqman [31]: 13).

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”” (QS. Luqman (31) : 13).

Demikian pula Ibrahim mendidik anaknya agar tidak zalim terhadap diri sendiri karena melanggar perintah atau melaksanakan larangan Tuhan (QS al-A’raf [9]: 23).

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”” (QS. Al-A’raf (7) : 23)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

! عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ