Beranda blog Halaman 186

Perencanaan Strategis Organisasi: Mempersiapkan Peta Jalan Masa Depan

KEBERLANGSUNGAN sebuah organisasi dalam menavigasi masa depan sangat ditentukan oleh sejauh mana perencanaan strategis dilakukan oleh organisasi itu sendiri. Perencanaan strategis adalah proses merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuannya. Proses ini mencakup penetapan visi dan misi, analisis lingkungan internal dan eksternal, penetapan tujuan strategis, serta pengembangan dan implementasi strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Perencanaan strategis membantu organisasi untuk tetap relevan dan kompetitif dalam menghadapi perubahan dan tantangan yang terjadi di lingkungan eksternal dan internal, dengan memastikan bahwa semua tindakan dan keputusan yang diambil selaras dengan tujuan jangka panjang organisasi.

Dalam perspektif organisasi Islam, perencanaan strategis tidak hanya mencakup aspek material dan operasional, tetapi juga harus selaras dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Perencanaan strategis dalam organisasi Islam harus berlandaskan pada konsep tauhid (keesaan Allah), ihsan (kesempurnaan), keadilan, dan amanah (kepercayaan) yang menjadi basis jatidiri dalam setiap organisasi. Visi dan misi organisasi Islam harus mencerminkan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah dan sekaligus memberikan manfaat kepada umat.

Analisis lingkungan dan penetapan tujuan strategis harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek moral dan etis yang dikerangkakan dalam adab, serta dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, perencanaan strategis dalam organisasi Islam tidak hanya berfokus pada keberhasilan materi, tetapi juga pada kontribusi positif terhadap pembangunan peradaban yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Pentingnya Perencanaan Strategis bagi Organisasi

Dalam Islam, perencanaan strategis dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan Rasulullah SAW. Ketika mendirikan Negara Madinah, beliau melakukan perencanaan yang matang, termasuk penyusunan Piagam Madinah sebagai konstitusi yang mengatur hubungan antar kelompok. Ini menunjukkan bahwa perencanaan strategis tidak hanya sejalan dengan nilai-nilai Islam tetapi juga penting diterapkan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Untuk menjawab mengapa perencaan strategis penting dalam organisasi, setidaknya dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, Mengarahkan Visi dan Misi, perencanaan strategis membantu organisasi untuk mengarahkan visi dan misinya. Ini memberikan kerangka kerja yang jelas tentang apa yang ingin dicapai oleh organisasi dan bagaimana cara mencapainya. Dalam organisasi Islam, visi dan misi biasanya didasarkan pada prinsip-prinsip Islam yang mendasari semua aktivitas dan keputusan organisasi.

Kedua, Menjawab Tantangan Zaman, dalam dunia yang terus berubah, organisasi perlu mampu menjawab tantangan zaman. Perencanaan strategis memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi perubahan dan menyesuaikan diri dengan cepat. Ini penting agar organisasi tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang di tengah dinamika global yang kompleks.

Ketiga, Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi, perencanaan strategis meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi dengan memastikan bahwa sumber daya digunakan dengan cara yang paling optimal. Ini juga membantu dalam mengidentifikasi dan mengatasi potensi masalah sebelum mereka menjadi ancaman besar.

Keempat, Menyediakan Solusi Peradaban, Organisasi Islam memiliki tanggung jawab untuk menyediakan solusi yang dapat membangun peradaban yang lebih baik. Dengan perencanaan strategis yang baik, organisasi dapat mengembangkan program dan inisiatif yang berdampak positif pada masyarakat dan dunia secara luas.

Kelima, Meningkatkan Adaptasi dan Fleksibilitas, membantu organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang dinamis dan memanfaatkan peluang baru yang muncul. Perencanaan strategis bagaikan tanaman yang selalu tumbuh dan berkembang, menyesuaikan diri dengan musim dan kondisi tanah.

Kapan Perencanaan Strategis Diperlukan?

Idealnya setiap organiasi yang berdiri, pada saat yang bersamaam juga sudah dirumuskan perencanaan strategisnya. Akan tetapi seiring dengan dinamika dan tantangan baik internal maupun eksternal organisasi, maka perencanaan strategis bukan hanya untuk organisasi yang baru berdiri, tetapi juga penting bagi organisasi yang sudah berkembang. Hal ini memungkinkan bagi organisasi untuk :

Pertama, membangun fondasi yang kuat, bagi organisasi baru, perencanaan strategis membantu membangun fondasi yang kokoh dengan menetapkan visi, misi, dan nilai-nilai organisasi yang akan menjadi landasan bagi semua kegiatan. Ini bagaikan membangun rumah dengan pondasi yang kuat agar kokoh dan tahan lama.

Kedua, mengembangkan strategi jangka panjang, perencanaan strategis membantu organisasi untuk menentukan arah dan tujuan jangka panjang, seperti 5 atau 10 tahun ke depan. Ini bagaikan merancang peta perjalanan yang jelas untuk mencapai tujuan.

Ketiga, membuat rencana aksi: perencanaan strategis membantu organisasi untuk membuat rencana aksi yang konkrit dan terukur untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini bagaikan menyusun langkah-langkah detail untuk mewujudkan mimpi.

Keempat, meninjau kembali visi, misi, dan nilai-nilai organisasi, bagi organisasi yang sudah berkembang, perencanaan strategis membantu untuk meninjau kembali visi, misi, dan nilai-nilai agar tetap relevan dengan zaman yang terus berubah. Ini bagaikan menyegarkan kembali kompas agar selalu mengarah ke utara yang benar.

Kelima, memperbarui strategi jangka panjang, perencanaan strategis membantu organisasi untuk memperbarui strategi jangka panjangnya dengan mempertimbangkan perubahan lingkungan dan peluang baru. Ini bagaikan memodifikasi peta perjalanan agar sesuai dengan kondisi jalan yang terbaru.

Keenam, meningkatkan kinerja, perencanaan strategis membantu organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam mencapai tujuannya. Ini bagaikan meningkatkan performa mesin agar menghasilkan output yang lebih optimal.

Fleksibilitas dalam Perencanaan Strategis

Perencanaan strategis bukanlah kitab suci yang tidak boleh diubah. Organisasi harus siap untuk melakukan penyesuaian ketika dinamika internal dan eksternal berubah. Beberapa prinsip untuk memastikan fleksibilitas dalam perencanaan strategis:

Pertama, Continuous Monitoring, terus memantau lingkungan eksternal dan internal untuk mengidentifikasi perubahan yang memerlukan penyesuaian strategi.

Kedua, Feedback Loops, membuat mekanisme umpan balik yang memungkinkan organisasi belajar dari pengalaman dan menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan

.

Ketiga, Agile Management, menerapkan pendekatan manajemen yang lincah dan responsif terhadap perubahan, dengan kemampuan untuk melakukan pivot (perubahan cepat disegala arah), dengan langkah cepat dan terukur.

Komponen Perencanaan Strategis dalam Organisasi Islam

Dalam perencanaan strategis terdapat sejumlah komponen yang mesti diterapkan agar output dari perencanaan strategi situ related (susuai) dengan kebutuhan organisasi itu sendiri dan tidak mengalami bias/deviasi. Beberapa komponen dimaksud adalah :

Pertama, Visi dan Misi, visi adalah gambaran jangka panjang tentang apa yang ingin dicapai oleh organisasi, sementara misi adalah pernyataan tentang tujuan utama dan alasan keberadaan organisasi. Dalam organisasi Islam, visi dan misi harus mencerminkan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan syariah, seperti menegakkan keadilan, memberikan manfaat bagi umat, dan mencapai ridha Allah SWT. Visi dan misi ini menjadi panduan utama dalam setiap langkah strategis yang diambil.

Kedua, Analisis Lingkungan, analisis lingkungan melibatkan penilaian faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi organisasi. Alat-alat seperti SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dan PESTEL (Political, Economic, Social, Technological, Environmental, Legal) digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal. Dalam konteks organisasi Islam, analisis ini juga harus mempertimbangkan aspek-aspek syariah dan etika Islam dalam mengevaluasi faktor-faktor tersebut.

Ketigas,Tujuan Strategis, tujuan strategis adalah sasaran jangka panjang yang ingin dicapai oleh organisasi. Tujuan ini harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu (SMART). Bagi organisasi Islam, tujuan strategis juga harus mencerminkan komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan kontribusi terhadap kemaslahatan umat. Misalnya, tujuan dapat mencakup peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan berbasis syariah, atau pengembangan program ekonomi yang adil dan berkelanjutan.

Keempat, Strategi Implementasi, strategi implementasi merinci langkah-langkah konkret yang akan diambil untuk mencapai tujuan strategis. Ini mencakup alokasi sumber daya, penjadwalan, dan penugasan tanggung jawab. Strategi implementasi harus dirancang dengan fleksibilitas untuk mengakomodasi perubahan dan penyesuaian yang diperlukan. Dalam organisasi Islam, strategi implementasi juga harus memastikan bahwa setiap tindakan mematuhi prinsip-prinsip syariah dan nilai-nilai etika Islam.

Kelima, Sumber Daya, identifikasi dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan adalah kunci keberhasilan perencanaan strategis. Sumber daya ini mencakup finansial, manusia, teknologi, dan material. Bagi organisasi Islam, pengelolaan sumber daya harus dilakukan dengan amanah (kepercayaan) dan transparansi, memastikan bahwa semua sumber daya digunakan untuk tujuan yang bermanfaat dan sesuai dengan syariah.

Keenam, Monitoring dan Evaluasi, monitoring dan evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai kinerja organisasi terhadap tujuan strategisnya. Ini melibatkan pengumpulan data, analisis kinerja, dan penyesuaian strategi jika diperlukan. Dalam organisasi Islam, monitoring dan evaluasi juga harus mencakup penilaian etika dan kepatuhan terhadap nilai-nilai Islam, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tidak hanya efektif tetapi juga bermoral dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Penutup

Perencanaan strategis adalah peta jalan masa depan yang membantu organisasi Islam menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi sebagai solusi peradaban. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam perencanaan strategis, organisasi dapat memastikan bahwa tujuan yang dicapai tidak hanya berdampak positif secara material tetapi juga membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi umat.

Fleksibilitas dalam perencanaan, penyesuaian yang responsif terhadap perubahan, dan komitmen terhadap prinsip-prinsip Islam adalah kunci keberhasilan dalam merancang dan melaksanakan perencanaan strategis yang efektif dan berkelanjutan.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Perjalanan 8 Jam Tim BMH Susuri Kelokan Tajam Antar Qurban ke Desa Pedalaman

0
Tim BMH berhenti di Pasar Pameungpeuk membeli beberapa kebutuhan untuk agenda penyembelihan qurban sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Tipar (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

GARUT (Hidayatullah.or.id) — Dalam semangat berbagi kebahagiaan pada Hari Raya Idul Adha, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menerjunkan tim “Bahagia dengan Berqurban” ke Desa Tipar, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jum’at, (14/6/2024).

Perjalanan ini tidaklah mudah, namun tim BMH dengan penuh dedikasi menempuh perjalanan selama 8 jam demi menyalurkan amanah kurban para mudhohhi (pequrban).

Perjalanan menuju Desa Tipar merupakan tantangan tersendiri. Tim BMH harus menyusuri jalan berkelok dan tikungan tajam, dengan jumlah kelokan yang tak terhitung.

Medan yang berat ini memerlukan stamina ekstra dan kesabaran yang luar biasa. Namun, semua jerih payah tersebut sebanding dengan tujuan mulia yang hendak dicapai.

Setibanya di Desa Tipar, tim BMH membawa kabar gembira dengan memotong 101 ekor kambing untuk dibagikan kepada 3500 jiwa penerima manfaat di desa tersebut.

“Ini adalah salah satu momen yang paling dinantikan oleh masyarakat setempat, yang jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk menikmati daging kurban,” terang Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang turut dalam rombongan ini.

Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

Tokoh masyarakat setempat, Jajang Hifdi, menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya kepada BMH.

“Kami sangat bersyukur dengan jangkauan BMH ke desa kami. Perjalanan ke sini tidak hanya jauh, tetapi juga membutuhkan stamina yang luar biasa. Namun, BMH berhasil menyalurkan amanah kurban ini dengan sangat baik,” ungkapnya.

Imam Nawawi mengatakan, perjuangan tim BMH dalam menempuh perjalanan panjang dan tidak mudah ini bagian dari komitmen mereka untuk memastikan bahwa setiap amanah qurban sampai ke tangan yang berhak.

“BMH terus berupaya menjangkau daerah-daerah terpencil agar harapannya kebahagiaan Hari Raya Idul Adha dapat dirasakan oleh seluruh umat Muslim, tanpa terkecuali,” katanya.

Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati. Melalui kerja keras dan dedikasi tim BMH, kebahagiaan dan berkah kurban dapat dirasakan oleh mereka yang berada di pelosok desa. Keikhlasan dan tekad yang kuat, tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk berbagi kebahagiaan.

“Semoga semangat ini terus menjadi inspirasi untuk selalu peduli dan berbagi. Bersama BMH, mari kita terus sebarkan kebahagiaan dan berkah kurban ke seluruh pelosok negeri,” tutup Imam Nawawi.*/Herim

Panglima TNI Terima Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa, Termasuk Soal Palestina dan Salam Lintas Agama

0

JAKARTA, (Hidayatullah.or.id) – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menerima Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia dari Majelis Ulama Indonesia saat berkunjung ke Kantor MUI Menteng Jakarta, Jumat, 7 Dzulhijah 1445 (14/6/2024).

Hasil Ijtima tersebut diserahkan langsung oleh Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof Asrorun Niam Sholeh.

Sebelum penyerahan, Guru Besar Bidang Ilmu Fikih Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyampaikan, ijtima ulama komisi fatwa se-Indonesia ini diikuti oleh lembaga fatwa ormas Islam tingkat pusat, pimpinan komisi fatwa MUI Provinsi se-Indonesia, pimpinan pondok pesantren, pimpinan Fakultas Syariah PTKI, dan juga lembaga fatwa dari ASEAN serta Timur Tengah.

Prof Niam menyebutkan, ada 16 masalah keagamaan yang dihasilkan, masalah ibadah, muamalah, serta masalah muamalah yang terkait dengan ibadah.

“Lingkup masalahnya ada yang berskala nasional, regional, hingga global. Salah satu hasilnya adalah soal dukungan terhadap Palestina dan yang viral di publik, soal Salam Lintas Agama,” ujar Prof Niam, seperti dikutip dari laman mui.or.id

Lebih lanjut, dalam forum pertemuan tersebut Prof Niam menegaskan MUI sebagai payung besar ulama dan umat Islam Indonesia, menjadi pelopor perdamaian dan kemerdekaan setiap bangsa yang masih dijajah, terutama Negara Palestina.

Prof Niam mengatakan salah satu rekomendasi Ijtima Ulama Komisi Fatwa adalah perlunya langkah nyata untuk menghentikan pembantaian massal yang sangat biadab dan genosida di Gaza Palestina.

“Salah satunya Pemerintah Indonesia bisa memprakarsai bantuan militer bersama negara-negara lain, terutama negara negara OKI untuk menghentikan kekejaman dan kebiadaban zionis Israel,” ujar Kiai Niam.

Sementara yang terkait dengan salam lintas agama, Kiai Niam menegaskan itu merupakan sub bahasan dari Keputusan Ijtima tentang Panduan Hubungan Antarumat Beragama.

Untuk menjamin toleransi yang hakiki, kata dia, kita harus mengenali karakteristik ajaram agama, mana yang domain ibadah, mana yang muamalah, dan mana muamalah yang ada dimensi ibadahnya. Dari identifikasi tersebut, perlu ada panduan bagaimana membangun hubungan antar umat beragamanya.

Terhadap domain ibadah, yang dikedepankan adalah menghormati dan menjamin kebebasan umat beragama menjalankan ajaran agama tanpa harus mencampuradukkan.

Sementara dalam hal muamalah dan hubungan sosial, yang dikedepankan adalah kerja sama, saling mendukung untuk mewujudkan kebersamaan dan harmoni.

“Nah, salam dalam konteks Islam adalah relasi sosial, ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus, yang memiliki dimensi ibadah karena di dalamnya ada doa khusus. Sementara doa dalam Islam itu jenis ibadah. Redaksinya sudah tertentu, mengucapkannya sunnah, menjawabnya wajib. Sementara kalau salam umum yang tidak terkait dengan ajaran khusus, ya itu sebagai sarana membangun harmoni, dan dianjurkan,“ jelasnya.

Kunjungan Panglima TNI ke MUI mendiskusikan langkah-langkah yang telah dan akan dilaksanakan Pemerintah, khususnya TNI dalam mengambil bagian dalam perjuangan bangsa Palestina.

Ketua MUI Bidang Luar Negeri, Prof Sudarnoto Abdul Hakim menyambut baik prakarasa yang sudah diambil TNI dalam mendukung perjuangan Palestina merdeka, terlebih sekiranya dalam melibatkan pasukan militer untuk menghentikan genosida.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Umum DMI Muhammad Jusuf Kalla dan para pimpinan Ormas Islam Tingkat Pusat, serta segenap Dewan Pimpinan MUI dan pimpinan Komisi/Lembaga di lingkungan MUI.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Umum Dewan Masjid Indoensia (DMI) Muhammad Jusuf Kalla dan para pimpinan Ormas Islam Tingkat Pusat. Pertemuan itu juga dihadiri genap Dewan Pimpinan MUI dan pimpinan Komisi/Lembaga di lingkungan MUI.[]

Kontribusi Alumni Dukung STIE Hidayatullah Capai Visi Kampus Bertaraf Internasional

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Seiring makin bertambahnya usia sebagai salah satu perguruan tinggi Hidayatullah (PTH) yang membidangi lahirnya sumber daya insani unggul dan kompetitif, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah terus bergerak maju melakukan terobosan dengan melahirkan berbagai inovasi pengembangan untuk mencapai visi 2028 sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional.

Diantaranya, selain melakukan penguatan dan pengayaan pada mutu penyelenggaraan akademik, STIE Hidayatullah juga terus memantapkan infrastruktur kampus untuk menunjang aktifitas sebagai perguruan tinggi yang berbasis nilai nilai pesantren.

“STIE Hidayatullah bersiap menuju kampus bertaraf internasional. Dengan dukungan yang lengkap seperti masjid, asrama representatif, library, lapangan olahraga terstandar, lingkungan yang asri, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya,” kata Ketua STIE Hidayatullah, Muhammad Saddam, SE, M.Ak, saat temu alumni secara daring belum lama ini dan ditulis Jum’at, 7 Dzulhijah 1445 (14/6/2024).

Pada aspek penguatan yang berbasis nilai nilai pesantren, STIE Hidayatullah kini telah memiliki program Kelas Takhassus Al Qur’an yang diasuh oleh Ust. Arobith M. Abdurrahman, S.HI, Al Hafizh yang telah memegang Sanad Qira’ah Riwayat Warsy ‘An Naafi’.

Kegiatan rutin halaqah Al Qur’an mahasiswa STIE Hidayatullah (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

Di kancah internasional, terang Saddam, STIE Hidayatullah menjalin kerjasama dengan dengan International Open University (IOU) dalam bidang riset atau penelitian bersama dan program pendidikan gelar ganda yang mencakup bidang studi yang disepakati bersama.

Sebagai upaya mencapai visi 2028 sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional, kampus yang berlokasi Cilodong ini menerima 16 mahasiswa baru dari dari Filipina, sebagai bagian dari kelanjutan kerjasama program beasiswa yang sudah dilakukan antara Hidayatullah dengan Yayasan Alhuffaz Filipina Selatan (The Alhuffaz Charity Foundation Filipina Selatan).

Adalah suatu kesyukuran yang tinggi dimana saat perintisannya dulu mahasiswa tak memiliki asrama tetap dan ruang kuliah yang harus berpindah pindah, kini STIE Hidayatullah telah memiliki itu semua dan ditambah lagi dengan berbagai infrastruktur penunjang lainnya.

“Sekarang mahasiswa tidak kuliah di bawah pohon bambu lagi, tapi sudah di ruangan ber-AC. Alhamdulillah,” kata Saddam tersenyum, yang merasakan langsung suasana perintisan itu saat ia usia SMP dan setiap sore bermain bola bersama mahasiswa.

Seminar atau workshop merupakan salah satu kegiatan untuk menunjang kapasitas mahasiswa STIE Hidayatullah diluar perkuliahan rutin (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

Kekuatan Alumni

Saddam memimpikan STIE Hidayatullah berdiri kokoh sebagai pelopor dalam mencetak generasi muda yang cakap dan berkarakter.

Untuk mencapai impian itu, ia menyebut pentingnya peran alumni yang telah berkontribusi dalam berbagai bidang untuk memajukan kampus serta mengantarkannya menjadi perguruan tinggi yang gemilang di kancah nasional dan internasional.

Bagi Saddam, lebih dari sekadar predikat “mantan mahasiswa”, alumni STIE Hidayatullah sejatinya merupakan duta kampus yang membawa nama baik almamater ke berbagai penjuru.

“Peran alumni bukan hanya sebatas representasi atas mutu dan kualitas pendidikan yang diperoleh, tetapi juga sebagai kontributor aktif dalam memajukan kampus tercinta,” katanya.

Saddam menjabarkan tiga peran penting alumni STIE Hidayatullah yaitu sebagai jembatan pengetahuan dan pengalaman, duta citra positif, dan sebagai sumber daya strategis.

Mahasiswa STIE Hidayatullah di lapangan futsal yang berada di lingkungan kampus Hidayatullah Depok (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

Sebagai jembatan pengetahuan dan pengalaman, jelas Saddam, alumni STIE Hidayatullah menjadi penghubung antara pengetahuan akademis yang diperoleh di kampus dengan realitas dunia kerja.

“Pengalaman dan keahlian alumni bagaikan lentera yang menerangi jalan para junior, membimbing mereka dalam menapaki karir yang cemerlang,” jelasnya.

Sebagai duta citra positif, alumni STIE Hidayatullah memiliki posisi penting yang menjadi cerminan almamater, membawa nama baik STIE Hidayatullah ke berbagai institusi dan komunitas.

Disamping itu, tegas Saddam, alumni merupakan sumber daya strategis yang tak ternilai bagi STIE Hidayatullah. Keahlian, jaringan, dan pengalaman mereka dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program pengembangan kampus, mulai dari kurikulum hingga peluang kerja sama.

Karenanya, Saddam mengajak para alumni untuk aktif berkolaborasi dengan almamater. Berbagai program dan kegiatan telah dirancang untuk memperkuat jalinan silaturahmi dan membuka ruang kontribusi bagi para alumni.

Kegiatan outing mahasiswa pada kegiatan eksrakurikuler untuk menambah bekal cakrawala dengan realitas masyarakat (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)
Kegiatan diskusi lepas perkuliahan untuk mengelaborasi berbagai masalah yang berkaitan dengan materi perkuliahan (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

“Alumni adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga besar STIE Hidayatullah. Kontribusi dan partisipasi teman teman semua sangatlah berarti dalam memajukan kampus tercinta. Mari bersama-sama kita bangun jembatan kolaborasi untuk mengantarkan STIE Hidayatullah menjadi kampus yang bereputasi internasional,” ajaknya.

Mewakiili civitas kampus, Sadam pun mengajak untuk bersama-sama mendukung kemajuan STIE Hidayatullah dengan berkontribusi dan berkolaborasi.

“Semoga selalu terhubung dalam komunitas alumni serta tak sungkan memberikan masukan, bimbingan, dan motivasi kepada para junior melalui berbagai program mentoring dan workshop,” imbuhnya menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hafidz Muda Hidayatullah Sumut Ditugaskan Mengabdi Hingga Daerah Terluar

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) melalui Pondok Tahfidz Baitul Quran Hidayatullah Medan menggelar wisuda angkatan III dan penugasan kader santri tahfidz yang berlangsung di Aula Pesantren Hidayatullah Medan, Ahad, 2 Dzulhijah 1445 (9/6/2024).

Hadir dalam kegiatan yang penuh haru ini unsur pengurus harian DPW Hidayatullah Sumut, Posdai Sumut, unsur pengurus Kampus Utama Hidayatullah Medan, unsur amal dan badan usaha, serta orangtua santri dari berbagai daerah.

Dalam wisuda angkatan ketiga ini meluluskan 5 lulusan yang terdiri dari jenjang SMP 1 santri dan jenjang SMA 4 santri.

Sekretaris DPW Hidayatullah Sumut, Isa Abdul Barry menyampaikan, ini baru permulaan untuk menjalani tahap-tahap berikutnya.

“Saran saya kepada para lulusan, silahkan ambil sanad bacaannya. Kedepan saya yakin dari tahfidz akan lahir ahli Al Quran,” ujarnya dalam sambutan.

Selain itu, disampaikan juga pesan oleh Syukron Nasution selaku ketua yayasan Pondok Tahfidz Baitul Quran Hidayatullah Medan, sembari berharap kepada para lulusan kali ini.

“Semoga adek-adek santri yang telah menyelesaikan hafalannya, menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidupnya, karena Al Quran membawa manfaat untuk kehidupan selanjutnya,”, dengan nada haru saat memberi sambutan.

Tugas Pengabdian

Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sumatera Utara, Fachri Fathullah, mengatakan selanjutnya para lulusan ini akan diberi tanggungjawab dengan mengirim mereka berdakwah mengabdi ke berbagai titik di kawasan itu.

“Kesempatan untuk berperan langsung di masyarakat melalui penugasan ke daerah yang membutuhkan pembinaan. Penugasan kali ini tersebar hingga ke daerah terluar Sumatera Utara,” kata Fachri.

Adapun Surat Keputusan (SK) yang dibacakan oleh Fachri Fathullah pada kesempatan tersebut menetapkan para alumni berangkat mengabdi ke Desa Sipange di Kabupaten Tapanuli Tengah, Desa Siwalubanua di Kabupaten Gunungsitoli Nias, Desa Ujung Bandar di Kabupaten Labuhan Batu dan Kelurahan Karang Sari di Kota Medan.

Diketahui, Pondok Tahfidz Baitul Quran Hidayatullah Medan adalah lembaga untuk menciptakan penghafal Quran yang dikoordinir langsung DPW Hidayatullah Sumatera Utara.

Pondok Tahfidz Baitul Quran Hidayatullah Medan ini adalah mitra binaan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dalam mencetak penghafal Quran melalui pemberian beasiswa.

Kepala Program dan Pendayagunaan BMH Sumatera Utara, Usman Ali, mengatakan bantuan BMH berupa beasiswa tersebut sebagai bentuk kepedulian donatur BMH kepada upaya memproses dan mendukung lahirnya generasi terbaik yang menggeluti keilmuan Al Qur’an dan meluaskan keberkahannya.*/Lukman Thalib

Menembus Awan Apatisme, Menyalakan Api Optimisme Ditengah Badai Kehidupan

TAK ADA surga dalam kehidupan dunia. Artinya tak ada orang hidup tanpa masalah, beban ataupun ujian. Namun itu tak berarti dunia adalah neraka. Semua soal dalam kehidupan justru harus semakin menyalakan api optimisme kita, bukan malah menjadi apatis.

Tetapi betapapun seseorang punya optimisme kalau salah pergaulan, bisa berubah menjadi orang yang apatis.

Secara definisi apatis artinya tidak peduli lagi, baik kepada orang lain ataupun kepada lingkungan sekitar.

Apatis artinya hilang kepedulian, rapuh kepercayaan dan menutup akal dari segala kemungkinan perubahan menjadi lebih baik. Seperti layang-layang putus, tak ada lagi pegangan, tak lagi dapat bergerak, kecuali atas kehendak angin.

Kuatkan Keyakinan

Belum lama ini saya bertemu kolega. Ia menceritakan beberapa fakta tentang orang yang merintis kebaikan.

Sayangnya seiring waktu berjalan, bukan penghargaan yang ia peroleh. Justru perintis kebaikan itu ditendang, keluar dari tempat yang ia peroleh dan perjuangkan sepanjang hidupnya.

“Saya jadi takut, jangan sampai saya sekarang habis-habisan mengelola urusan ini, suatu saat saya akan sama dengan orang itu,” ucapnya sangat cemas.

Pikiran seperti itu jika dibiarkan akan menjadi bola salju menguatnya sikap apatis.

Berbagai ide kerdil dan kekanak-kanakan boleh jadi akan menguasai hati, sehingga amal tak lagi berbasiskan niat tulus, tetapi tendensi instan.

Lambat laun hatinya semakin keruh bahkan gelap, kemudian nyala keyakinan dalam dada menjadi padam.

Orang yang sampai pada kondisi nyala keyakinan yang padam, tidak mungkin dapat melihat dengan jernih apa itu keuntungan sejati. Ia tahunya kerja-kerja kebaikan yang dilakukan harus mendapat kompensasi materi, harus dan harus.

Kita jadi lupa kisah bagaimana kaum Anshar menangis penuh penyesalan ketika Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada mereka, “Apakah kalian tidak ridha kepada penduduk Makkah yang baru mengenal Islam membawa kambing dan unta. Sedangkan kalian akan membawa Rasulullah pulang ke Madinah”.

Keyakinan itu adalah kemantapan hati bahwa dari apa yang kita lakukan hari ini, kelak Allah Ta’ala akan memberikan balasan terbaik untuk kehidupan kita. Bukan kita mengaku berjuang, tapi dalam mental dan hati terbesit kalimat besar, “Saya harus meraup untung besar dalam perjuangan ini”.

Fasilitas

Belum lama ini Wasekjen DPP Hidayatullah, Ust. Abdul Ghofar Hadi memberiku hadiah dokumen indah di masa lalu (Oktober 1995). Judulnya: “Pidato Iftitah Silatnas Pondok Pesantren Hidayatullah”.

Dokumen itu berisi penggalan pidato Ustadz Abdullah Said, potongannya seperti ini: “Fasilitas dan benda yang ada sekadar untuk dan guna mendukung dan memudahkan serta untuk lebih memperoleh lebih banyak lagi kenikmatan, dalam menghambakan diri kepada Tuhan”.

Artinya, fasilitas sejatinya adalah alat ukur apakah diri semakin nikmat dalam perjuangan dan pengorbanan. Bukan malah semakin hanyut dalam kesenangan duniawi, sehingga nilai-nilai dasar perjuangan luntur dan materialisme tumbuh subur.

Seperti Nabi Ibrahim Alaihissalam, semakin ia cinta kepada putranya Ismail, semakin ia tunduk pada kehendak dan perintah Allah Ta’ala. Sampai-sampai saat Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih putranya, Ismail, Khalilullah itu tunduk patuh dengan penuh keyakinan.

Berjuang itu bukan “profesi”
Pasti peroleh gaji dan bisa haha hihi
Berjuang itu merawat keyakinan
Sampai nanti Tuhan berikan keridhaan

Sungguh, orang yang beruntung adalah yang optimis dalam iman. Bukan yang apatis walau sangat pandai mengatasnamakan keyakinan kepada Tuhan.[]

*) IMAM NAWAWI, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Khutbah Idul Adha 1445 H/2024: Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim

0

اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَحْدَهُ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدَهُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كَتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang di Rahmati Allah

Pada hari ini, sebagian saudara kita, ada yang sedang melaksanakan Haji ke Baitullah. Sebuah ibadah yang luar biasa, dirindukan semua jiwa, tidak pernah dilupakan pengalamannya dan kata-kata tidak bisa merangkai kenikmatannya. Semoga mereka yang sedang haji dijadikan haji yang mabrur dan bagi kita yang belum haji bisa dimudahkan untuk segera berangkat haji.

Hari ini seluruh muslimin penjuru dunia mengagungkan Allah SWT pada 4 hari, satu hari nahar dan tiga hari tasyrik. Selama 4 hari kita mengagungkan Allah

اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

Jika kita merasa sedang merasa mendapatkan ujian besar, karena sakit, gagal dalam berbisnis, ditinggal wafat orang tua atau pasangan maka kita katakan Allahu Akbar dan yakini Allah yang Maha Besar dengan semua hikmah taqdir yang diberikan.

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang di Rahmati Allah

Palestina adalah negeri para nabi, salah satunya Nabi Ibrahim. Mereka sekarang sedang menderita kelaparan, banyak anak-anak yang syahid, bantuan makanan diblokade, kondisinya memburuk dan memprihatinkan. Gelombang demonstrasi di hampir belahan dunia terus dilakukan untuk menggugah mata dunia dan menghentikan kekejaman zionis Israel. Jangan lupakan Palestina dalam doa kita dan dukung terus dengan aksi dan donasi.

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang di Rahmati Allah

Hari raya Idul Adha mengingatkan kita kembali peristiwa monumental. Tentang hebatnya ujian, pengorbanan, ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim. Kedudukan beliau sangat istimewa, nama Ibrahim disebut puluhan kali melalui 24 surah dalam Al-Qur’an. Menjadi nama surah dalam al-Qur’an yakni surah Ibrahim.

Banyak gelar Nabi Ibrahim, sebagai Ulul Azmi (pemilik keteguhan luar biasa), Khalilullah (kekasih Allah), Abu Ambiyak (bapaknya para nabi). Beliau juga disebut Abu syariah karena ada beberapa syari’at dalam Islam yang berasal dari syari’at Nabi Ibrahim. Khitan, Ibadah Haji, umroh dan penyembelihan hewan kurban.

Dengan banyak gelar istimewa tersebut menjadikan beliau sosok teladan yang diabadikan kisahnya dalam al Qur’an Surat Mumtahanah ayat 4:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

 Artinya : Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; 

Banyak keteladanan yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, dalam khutbah Idul Adha kali ini, kita fokuskan untuk mengambil pelajaran dari pendidikan keluarga Nabi Ibrahim. Keluarga adalah pilar pertama dan tangga membangun peradaban Islam dan hari ini terjadi krisis keluarga dengan meningkatnya angka perceraian

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang di Rahmati Allah

Bahwa mungkin kota Makkah tidak semakmur dan berkah hingga hari ini, jika Siti Hajar tidak taat dengan perintah suaminya untuk ditinggal bersama bayinya Ismail kecil di tanah tandus, gersang dan tiada penghuni satupun.

Tidak ada syari’at Sai dalam haji, umroh dan tidak ada air zamzam yang mengalir hingga hari ini, jika Siti Hajar tidak bertawakkal mencari air kehidupan dengan berlari-lari kecil dari Shafa dan Marwa.

Tidak ada syari’at menyembelih hewan kurban jika Nabi Ibrahim menolak perintah menyembelih putranya atau Ismail kecil tidak mau disembelih atau ibunya Siti Hajar tidak setuju.

Parade ketaatan, pengorbanan dan kesabaran yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim bersama istri dan anaknya bukanlah tiba-tiba atau instan. Mendidik istri dan anak-anak menjadi taat, memiliki akidah yang kuat, akhlaq yang tinggi tentu memerlukan proses tarbiyah yang baik.

Pertama, menjaga integritas sebagai seorang nabi dan suami. Sebagai seorang nabi, Nabi Ibrahim sejak muda memiliki jejak rekam sebagai pejuang tauhid, konsisten untuk menentang segala bentuk kemusyrikan dan senantiasa berdakwah di jalan Allah. Sebagai seorang suami, Nabi Ibrahim memiliki kredibilitas yang tidak diragukan untuk ditaati oleh istri dan anaknya.

Menjaga integritas atau kejujuran yang kuat di hadapan istri bukan pekerjaan mudah, karena istri membersamai 24 jam dan mengetahui kondisi suami luar dan dalam, sehingga sulit untuk sekedar berpura-pura. Banyak suami yang berwibawa dan disegani di tempat kerjanya, tapi runtuh di hadapan istri. Maka penting membangun dan menjaga integritas sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga dengan mengaktualisasikan sifat nabi yaitu shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Inilah metode keteladanan dalam pendidikan di level apapun.

Kedua, Nabi Ibrahim membangun pondasi keluarga dengan nilai-nilai tauhid yang kuat, bukan berdasarkan materialisme dan hedonisme. Pendidikan keluarga berbasis tauhid yang senantiasa diberikan kepada istri dan anak-anaknya, maka wajar Siti Hajar istrinya bisa yakin dan sabar ketika ditempatkan hanya berdua dengan anaknya yang baru lahir yaitu Ismail di Makkah yang saat itu masih tandus, gersang, tidak ada tanda-tanda kehidupan dan memang tidak ada mahluk hidup selain mereka berdua. Ketika Ibrahim melangkah pergi, Siti Hajar mengejar Ibrahim dan bertanya. “Wahai Ibrahim, apakah engkau tega meninggalkan istri dan anakmu di sini sendirian?”

Nabi Ibrahim speechless (terdiam) dan tetap melangkah pelan-pelan pergi. Bukan tidak tahu tapi kesulitan untuk memberikan penjelasan. Laki-laki seringkali kehilangan kata-kata dan memilih diam dalam berkomunikasi.

Tiga kali Hajar bertanya dan Nabi Ibrahim tetap diam tidak menjawabnya, karena Hajar cerdas dalam berkomunikasi sehingga mengubah pertanyaannya dengan jawaban pilihan ‘ya atau tidak’, “Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Allah?”. Ibrahim berhenti dan menjawab, “Iya, betul”.

Hajar berhenti mengejar, tidak bertanya lagi dan berkata, “Jika ini perintah Allah, pergilah wahai Ibrahim karena pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami di sini.”

Inilah momentum nilai-nilai tauhid mengalahkan akal dan perasaan. Keyakinan melumpuhkan keraguan dan ketakutan. Inilah karakter dari kerja tauhid, senantiasa bersandar kepada keyakinan dan huznudzan dengan pertolongan Allah.

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Kemudian ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya. Ini perintah sangat berat dan luar biasa, betul-betul di luar kebiasaan. Ketika tiga kali mimpi dan yakin bahwa perintah menyembelih anak adalah perintah Allah maka dengan yakin dan tanpa ragu, berkata kepada Ismail kecil

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ

Ketika anak itu sampai pada [umur] ia sanggup bekerja bersamanya, ia [Ibrahim] berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?

Ismail bukanlah sebagaimana anak diusianya. Dia menjawab dengan tenang:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Dia [Ismail] menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan [Allah] kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Tidak mungkin Ismail, anak seusia 7 ataupun ada yang mengatakan 13 tahun bisa menjawab setenang itu, tidak ada rasa panik, sedih dan khawatir, jika sebelumnya tidak ada nilai-nilai tauhid yang ditanamkan secara baik dari ayah dan ibunya. Pasti orang tuanya telah memahamkan tentang nilai-nilai tauhid bahwa Allah sebagai Rabb yang harus ditaati, mimpi yang benar dan kemuliaan sabar.

Di sinilah pentingnya pendidikan kepada anak, memberikan tarbiyah dengan keteladanan dan komunikasi yang baik kepada anak-anaknya. Jiwa anak itu imitatif (meniru) dan sosok yang paling dekat untuk ditiru, yaitu orang tuanya.

Ketiga, gaya komunikasi Nabi Ibrahim kepada Ismail dengan dialog dan memastikan ada pemahaman tauhid yang sama atau satu frekwensi. Nabi Ibrahim juga memiliki kredibilitas yang kuat dengan pilihan diksi dan retorika dalam berkomunikasi sehingga mudah diterima.

Meski Nabi Ibrahim jarang membersamai Ismail karena harus menjalankan perintah Allah untuk berdakwah. Bukan berarti Nabi Ibrahim tidak peduli dengan keluarganya tapi Nabi Ibrahim telah berhasil menanamkan nilai-nilai tauhid kepada istrinya. Cara ayah mendidik anak yang efektif adalah dengan mendidik dan memberikan kenyamanan istri terlebih dahulu karena istri yang lebih banyak membersamai anak.

Fenomena hari ini, banyak father less (kehilangan sosok ayah) atau mengalami yatim psikologis dan kehilangan figur teladan. Penyebabnya ayahnya memang jarang berada di rumah dan jarang komunikasi atau secara fisik ayahnya ada di sekitar anak tapi jarang menyapa. Tidak ada nasehat, nilai-nilai dan teladan dari ayah.

Ada tiga type ayah yang menjadi penyebab kenakalan anak, yaitu pendiam, sibuk dan pemarah. Ketiga type ayah tersebut ada kesamaan yaitu memiliki komunikasi negatif. Ayah pendiam dan sibuk cenderung sangat minim dalam berkomunikasi sehingga tidak ada transformasi nilai yang diberikan kepada anak. Ayah pemarah, komunikasinya mengandung energi negatif sehingga berbuah kedurhakaan.

Keempat, keteladanan dua istri Nabi Ibrahim. Siti Sarah sebagai sosok wanita sangat cantik sehingga sempat digoda oleh Raja Mesir. Jika Siti Sarah bukan istri sholehah, dengan kecantikannya pasti lebih memilih menjadi permaisuri raja daripada hidup sengsara bersama Nabi Ibrahim. Bahkan bisa berbagi cinta dengan Siti Hajar untuk menjadi istri kedua bagi Nabi Ibrahim, ini tidak mudah kecuali wanita yang keimanan mendominasi daripada rasa cemburu.

Tidak mudah menjadi istri yang setia dan sabar di saat suami mengalami kondisi ekonomi sulit atau diuji sebagai istri yang dimadu oleh sang suami.

Keteladanan Siti Hajar yang menjadi sosok istri kedua yang bisa mengisi ruang kosong ketika ditinggalkan suami dalam waktu yang lama. Siti Hajar mampu menampilkan sebagai orang tua yang utuh dalam mentransformasikan nilai-nilai tauhid itu kepada putranya. Terutama untuk yakin, sabar dan husnudzan kepada Allah. Siti Hajar pernah ditanya oleh Ismail anaknya,

“Siapa ayahnya?”

Siti Hajar menjawab dengan senyum dan bangga, “Ayahmu seorang nabi yang sangat jujur dan pemimpin orang-orang yang bertauhid.”

Ketika istri memuji, mengakui dan bangga kebaikan suami di hadapan anaknya maka itu pintu masuk menjadikan ayah sebagai idola, teladan yang dihormati dan ditaati. Siti Hajar tidak suka baper (bawa perasaan) ataupun caper (cari perhatian) meski sebenarnya layak dan berpeluang untuk baper.

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Kelima, Nabi Ibrahim seorang pekerja keras yang senantiasa membingkai keinginannya dengan doa, menghadapi tantangan apapun dengan doa. Dalam al-Qur’an, doa yang paling banyak diabadikan adalah doa Nabi Ibrahim. Ini sebagai gambaran intensiitas dan urgensi doa Nabi Ibrahim yang luar biasa untuk menjadi teladan bagi umat Nabi Muhammad. Doanya bukan hanya untuk pribadi tapi untuk anak keturunan, masyarakat dan negeri yang ditempatinya.

Kekuatan doa itu nyata, doa bukan sekedar permintaan, tapi bukti kedekatan, kepasrahan dan penyerahan diri kepada Allah. Doa adalah wujud keyakinan untuk melibatkan Allah dalam segala keinginan, harapan dan tantangan. Dengan doa, ada optimisme dengan janji Allah yang pasti dan hanya Allah yang memiliki janji pasti.

Doa adalah bentuk perlawanan terhadap sesuatu yang dirasa mustahil, ketidakmungkinan atau tidak masuk akal. Sebagaimana salah satu doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam al-Qur’an surat as-Saffat ayat 100

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”

Doa untuk mendapatkan anak sholeh sebagai penerus menyebarkan risalah dan pelanjut sujud kepada Allah. Anak bukan sekedar kebanggaan atau pelanjut untuk mengabadikan kekuasaan.

Setelah bertahun-tahun berdoa, pagi, siang, sore dan malam tanpa mengenal putus asa, Allah memberikan anak dari istrinya Siti Hajar yaitu Ismail. Kemudian diberikan anak lagi yaitu Ishaq dari Siti Sarah, padahal keduanya sudah lanjut usia.

Bagi pasangan suami istri yang belum punya anak atau sudah punya anak tapi anaknya belum ada tanda kesholehan, belum menutup aurat, belum rajin shalat. Maka jangan berputus asa untuk ikhtiar, berdoa dan terus berdoa semaksimal mungkin sebagaimana Nabi Ibrahim. Tidak ada yang mustahil di hadapan Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah yang berkehendak. Allahu Akbar

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Pada akhirnya, momentum Idul Adha harus mengantar kesadaran kita tentang pentingnya pendidikan tauhid dan akhlaq yang baik dalam keluarga. Bagi seorang suami, bahwa setiap cinta itu ada ujiannya maka jaga integritas dan senantiasa berbuat terbaik bagi keluarganya. Bagi muslimat, jihad yang paling berat adalah taat kepada suami dan senantiasa menyenangkan suaminya dengan senyum manisnya. Muslimat juga harus menjadi guru teladan bagi putra-putrinya. Bagi anak-anak, jadilah generasi qurrata a’yun menyenangkan hati dan muliakan orang tua Insya Allah kita akan mulia dunia akherat.

الْحَمْد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين برحمتك يا أرحم الراحمين .اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.                          

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُن , وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبِّ هَبْ لِى حُكْمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ 

اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَ لْمُسلِمِين  .اللَّهُمَّ انْصُرْإِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين
اللَّهُمَّ ثَبِّتْإِ يمَانَهُمْ وَأَ نْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَىقُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ
اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ اللَّهُمَّ دَمِّرِ لْيَهُودا وَ إِسْرَآئِل

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين

Lebih dari Sekedar Batuk, Begini Gejala Kanker Paru yang Perlu Diwaspadai

HATI HATI, gejala kanker paru-paru bisa lebih dari sekadar batuk!

Pada tahap awal, kanker paru-paru tidak menyebabkan gejala apapun. Gejala hanya akan muncul saat perkembangan kanker telah mencapai suatu tahap tertentu.

Batuk berdahak, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, dan suara serak bisa menjadi tanda awal kanker paru-paru.

Gejala lainnya yang perlu diwaspadai:

  1. Rasa sesak. Waspada ketika mengalami sesak napas dan rasa nyeri di dada
  2. Rasa nyeri. Nyeri dada kerap terjadi bagi penderita kanker paru-paru. Biasanya rasa nyeri menjalar hingga ke punggung sampai bahu dan juga disertai rasa sesak di dada.
  3. Cepat lelah. Mengalami kelelahan dengan rasa lelah yang berkepanjangan dan sulit dihilangkan
  4. Bengkak. Pembengkakan pada muka atau leher. Hal ini terjadi karena kanker di paru-paru menghalangi aliran darah di pembuluh darah yang disebut vena cava superio. Sehingga terjadinya pembengkakan
  5. Demam, hal ini karena tubuh merespon sel kanker dengan meningkatkan suhu tubuh.
  6. Nyeri tulang. Kanker paru-paru dapat menyebar ke tulang dan menyebabkan nyeri.

Jika sahabat sehat mengalami gejala-gejala di atas, segera konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan!

==============

Publikasi layanan edukasi kesehatan masyarakat ini kerjasama Hidayatullah.or.id dengan Islamic Medical Services (IMS).

Jangan lupa follow:
Instagram: @imscenter
Facebook: @imscenter
Tik-tok: @imscenter
Web: www.imscenter.id

Klinik IMS: Jl. Bekasi Timur IV No.130, RT.5/RW.7, Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13410

TOT Daurah Grand MBA Nasional untuk Cetak Lebih Banyak Muallim Al Qur’an

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Komunikasi & Penyiaran Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bersama Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) menggelar kegiatan Training of Trainers (TOT) Daurah Muallim Grand MBA yang dibuka pada Rabu, 5 Dzulhijah 1445 (12/6/2024).

TOT ini digelar dalam dua tahap yaitu sesi materi online yang digelar selama 2 hari pada Rabu-Kamis, 12-13 Juni 2024 dan sesi materi offline yang diagendakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 25-27 Juni 2024 bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegar, Jakarta.

Organizing Committee TOT Daurah Muallim Nasional 2024, Ust. Muhdi Muhammad S.Sos.I, mengatakan kegiatan ini digelar untuk melahirkan lebih banyak sumber daya muallim Al Qur’an dalam rangka membangun peradaban Islam.

Peradaban Islam yang mulia hanya akan terbangun jika masyarakat ini terbimbing dan terpimpin di bawah naungan Al-Quran. Karena itu, kata Muhdi, jika kita memiliki cita-cita menegakkan peradaban Islam maka gerakan dakwah untuk mendekatkan masyarakat kepada Al-Quran harus menjadi prioritas.

“Jika kita masih menahan potensi yang kita miliki untuk dikerahkan dalam gerakan ini maka kita akan kehilangan momentum penting sebagai bagian dari gerakan membangun peradaban Islam,” kata Muhdi, dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 6 Dzulhijah 1445 (13/6/2024).

Kemampuan membaca Al-Quran masyarakat muslim di negeri kita saat ini masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan data yang dihimpun Dewan Masjid Indonesia, 65% dari 230 juta jumlah pemeluk Islam belum bisa membaca Al-Quran.

“Artinya ada 151 juta orang beragama Islam di Indonesia belum bisa membaca kitab sucinya. Sebuah angka yang sangat menantang kita untuk berperan aktif dalam gerakan ini,” tukasnya.

Namun demikian, agar program besar ini dapat berjalan dengan baik maka perlu disusun tahapan-tahapan dan dipersiapkan seperangkat instrument yang tepat.

Langkah yang paling penting dari program ini adalah mempersiapkan para guru atau muallim handal, yaitu yang memiliki kesiapan sepenuhnya untuk hadir di tengah-tengah masyarakat dalam rangka mendekatkan mereka kepada Al-Qur`an.

“Muallim yang handal tidak hanya menguasai materi dan metode yang akan diajarkan, akan tetapi ingin mengikuti Nabi, hadir dengan teladan, peduli dan amat menginginkan masyarakat muslim di negeri ini mendapatkan rahmat, petunjuk dan naungan dari Al-Qur`anul karim,” ujarnya.

Karena itu, ia menjelaskan, TOT Daurah Muallim Grand MBA dirancang untuk standarisasi kompetensi muallim dimana metode dan model gerakan ini dengan sistematis. Daurah Muallim Grand MBA ingin mengantarkan calon muallim menjadi muallim yang memiliki kecakapan dan penguasaan materi secara utuh. (ybh/hidayatullah.or.id)

[KHUTBAH JUM’AT] Hati hati dengan Niat

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan haram yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Banyak keutamaan yang Allah Subhanahu wa ta’ala janjikan bagi mereka yang mengisi dengan amal ibadah dan amal shaleh.

Namun banyak orang memaknai Dzulhijjah hanya untuk orang-orang mampu, baik mampu pergi haji maupun mampu menyembelih hewan qurban.

Banyak orang mengabaikan dan merasa tidak ada kepentingan dengan Dzulhijjah. Padahal luar biasa janji Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bagi orang-orang yang melakukan amal shaleh di dalamnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء. (رواه البخاري)

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah –pen)”. Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid –pen).” (HR. Al Bukhari)

Banyak amalan yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di bulan Dzulhijjah yaitu dzikir, memperbanyak puasa sunnah. Jika tidak bisa 9 hari pertama, maka minimal tanggal 9 Dzulhijah. Bersedekah, Tilawah al-Qur’an, berkurban dan berhaji bagi yang mampu.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Abdullah bin Mubarak adalah salah satu kibaru tabi’in yang rajin bertanya kepada para sahabat karena beliau tidak pernah ketemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Salah satu pertanyaannya tentang surat apa dalam al-Qur’an yang sering membuat para sahabat menangis. Jawabannya adalah ketika para sahabat melewati surat ke-11 yaitu surat Yunus.

Kemudian di antara surat Hud itu, ayat ke berapa yang paling membuat para sahabat sedih dan menangis tersedu-sedu. “Mereka menjawab surat Hud ayat 15 dan 16”.

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”

Dua ayat ini yang membuat para sahabat menangis ketika ditanya dan Abdullah bin Mubarak yang bertanya juga menangis.

Dalam tafsir dua ayat ini, sebenarnya ditujukan untuk orang Yahudi dan Nasrani, tapi tidak menutup kemungkinan orang-orang beriman yang bergeser niatnya karena riya‘ atau sum’ah.

Ketika kita mencoba merenungi dan mentadabburi dua ayat ini, kita juga pantas khawatir, takut, dan menangis dengan ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat tersebut.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Banyak tikungan-tikungan tajam yang bisa membelokkan niat dalam beribadah. Ada sebagian orang beribadah dengan niat mengejar dunia, shalat lail untuk mendapat kedudukan, Allah Subhanahu wa ta’ala kasih.

Beramal shadaqah untuk laris bisnisnya dan memperoleh kekayaan, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan kasih. Puasa tapi obsesinya untuk mendapatkan kedudukan, maka Allah Subhanahu wa ta’ala juga akan kasih.

Membaca al-Qur’an untuk mendapatkan ketenaran, Allah Subhanahu wa ta’ala akan kasih. Allah Subhanahu wa ta’ala akan kasih sebagaimana niatnya, obsesinya, keinginannya dalam beribadah.

Tapi ayat ini belum berhenti, ada ayat ke-16 bahwa kelak di akherat mereka tidak mendapatkan apa-apa dari amal ibadah yang telah mereka lakukan bahkan mendapatkan api neraka. Astaghfirullah, na’udzulillahi min dzalik.

Padahal, tidak ada hubungan ketaatan ibadah dengan keberhasilan kehidupan dunia. Ada dua buktinya:

Pertama, jika keimanan dan ibadah menjadikan kehidupan seseorang makmur, mapan, dan sejahtera. Maka seharusnya kehidupan nabi dan para sahabat juga kaya raya.

Tapi sejarah mencatat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat kehidupannya bukan kaya raya tapi kebanyakan serba kekurangan.

Seperti sebuah kisah ada seorang tamu datang ke Madinah, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak memiliki persediaan makanan maka beliau menawarkan kepada sahabat lain yang bersedia untuk menjamunya.

Ternyata, tidak ada yang siap kecuali satu sahabat, itupun sebenarnya satu keluarga belum ada yang makan, sehingga saat tamu mau makan, lampu dimatikan dan anak-anak ditidurkan hingga pagi pagi.

Kedua, jika keimanan dan ibadah menjadi ukuran kesuksesan dunia seseorang, maka orang-orang kafir yang tidak pernah shalat, puasa, zakat, haji itu seharusnya miskin terlantar. Tapi, kenyataannya, mereka yang menguasai dunia, memiliki bisnis trilyunan, rumah dan kekayaan mewah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia itu di sisi Allah senilai dengan sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak memberikan minum kepada orang kafir, meski hanya seteguk air” (HR: Tirmidzi)

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan itu diiringi dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap insan akan memperoleh menurut apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dibenarkan hijrahnya itu oleh Allah dan Rasul-Nya; Dan barang siapa hijrahnya untuk dunia yang hendak diperoleh atau wanita yang hendak dipersunting, maka ia akan mendapatkan apa yang diingini itu saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdurrahman bin Auf setiap makan kurma agak besar atau enak sedikit beliau menangis. Ketika ditanya ada dua alasan yang beliau sampaikan. “Apa yang membuat engkau menangis wahai Abdurrahman bin Auf?”

Pertama, beliau ingat bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah makan kurma yang sebesar dan seenak itu, padahal beliau orang paling mulia dan berhak untuk itu.

Rasulullah ﷺ biasa makan kurma rodi yang kecil dan mulai makan kurma besar sejak memenangkan perang khaibar karena di sana tanah suburnya dan banyak kurma bagus.

Kedua, beliau ketika makan kurma yang enak dan besar khawatir itu menjadi pahala atau balasan di dunia atas kebaikan amal ibadah yang telah dilakukan. Beliau takut di akherat sudah tidak ada lagi bagiannya karena sudah diberikan di dunia.

Jika amal sudah diniatkan untuk akherat maka Insya Allah dunia ini akan di dapat.

Jangan ibadah tapi cita rasa dunia. Allah Subhanahu wa ta’ala itu pencemburu, paling tidak suka terhadap kesyirikan dan perselingkuhan dalam beribadah. Tidak sebanding Allah Subhanahu wa ta’ala dengan dunia, sebanyak-banyaknya dunia masih ada nilai angkanya.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Mari belajar dari keikhlasan Nabi Ibrahim dan keluarganya, mereka betul-betul menjadi teladan karena salah satunya keikhlasannya dalam beramal dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tanpa keikhlasan, beramal itu capek dan mengecewakan di dunia. Adapun di akherat hanya penyesalan dan kerugian atas amal-amal yang tidak ada gunakan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو