Beranda blog Halaman 195

Meneruskan Estafeta Perjuangan: Transformasi Organisasi Hidayatullah Pasca Wafatnya Para Pendiri

0

SELASA, 21 Mei 2024, pukul 11.58 Waktu Indonesia Tengah, salah seorang pendiri Hidayatullah, al-Ustadz KH. Hasyim Harjo Suprapto, dipanggil kembali mengahdap Allah SWT, di kediaman beliau di bilangan Gunung Tembak, Balikpapan-Kaltim.

Wafatnya beliau menyulul 4 (empat) orang pendiri yang telah mendahuli sebelumnya yaitu : Al Ustadz. H Abdullah Said (1998), Al Ustadz H. . HUsman Palese (2015), Al Ustadz. H. Hasan Ibrahim (2022) dan Al Ustadz H. Nasir Hasan (2022).

Dengan memikian lima sekawan pendiri Hidayatullah kesemuanya sudah tidak dapat membersamai dinamika perjalanan Hidayatullah kedepan.

Dalam banyak contoh, kematian seorang pendiri sebuah organisasi ataupun gerakan, seringkali  dikaitkan dengan kematian organisasi atau gerakan itu sendiri.  Hal ini sempat terjadi pada tahun 1998, dimana diteriakan oleh beberapa kalangan saat itu, bahwa Hidayatullah akan mati bersamaan dengan wafatnya Allahuyarham Al Ustadz Abdullah Said.

Padahal realitasnya kerapkali tidak ada korelasinya, sebab kematian pendiri tidak pernah menjadi akhir dari segalanya; sebaliknya, bahkan hal itu menjadi titik awal bagi keberlanjutan perjalanan organisasi. Hal ini juga berlaku bagi Hidayatullah, sebuah organisasi dan Gerakan Islam yang lahir dari semangat dan visi para pendirinya.

Meskipun kepergian para pendiri merupakan kehilangan yang besar, namun itu bukanlah akhir dari perjuangan yang telah dimulai. Sebaliknya, hal itu menjadi bagian dari proses transisi dan transformasi organisasi.

Proses transformasi organisasi, terutama dalam hal nilai-nilai (value), berupa manhaj dan jati diri, telah dimulai sejak awal berdirinya Hidayatullah.

Para pendiri tidak hanya menciptakan organisasi, tetapi juga menerapkan nilai-nilai Islam yang dikerangkakan dalam sistematika wahyu, sebagai manhaj tarbiyah dan dimanifestasikan dalam segala aspek kegiatan.

Dan, seringkali pula, para pendiri dan perintis, tidak hanya membahasakan secara lisan dan tulisan, melainkan melalui laku (suluk) dan seluruh aktifitasnya, berupa keteladanan. Sehingga ketika mereka sudah tidak lagi hadir secara fisik, maka jejak itu tetap tertanam dan terpatri pada diri kader. Selanjutnya tugas generasi penerus adalah melanjutkan perjuangan dengan meneruskan warisan nilai-nilai tersebut dan kemudian mengkonteksualisasikan dalam tantangan jaman.

Kendatipun demikian, sesungguhnya tantangan yang dihadapi bagi generasi penerus Hidayatullah tidaklah ringan.

Organisasi Hidayatullah saat ini telah berkembang pesat. Dengan struktur yang menjangkau diseluruh propinsi (38) dan 423 Kabupaten/kota,dan juga jaringan di manca negara. Pada saat bersamaan juga disertai tumbuh dan berkembangnya amal usaha di berbagai bidang termasuk pendidikan, dakwah, kesehatan, filantropi dan lain sebagainya serta diikuti berbagai  badan usaha di sektor bisnis yang juga terus tumbuh dan berkembang.

Para pendiri dan para perintis, dengan seluruh potensi yang dimilikinya, dan dengan perjuangan yang telah dilakukan, telah meletakkan dasar berIslam dan berorganisasi yang besar, sehingga jejak dan torehan sejarah yang ditinggalkan, menghasilkan karya-karya yang luar bisa. Realitas ini melahirkan peluang dan tantangan baru, serta membutuhkan treatment baru, untuk melanjutkan seluruh amal sholeh para pendiri dan perintius itu.

Sehingga, hal ini memerlukan adaptasi dan transformasi yang lebih lanjut, terutama dalam hal desain organisasi. Oleh karenanya, perubahan itu terlihat jelas dari awal organisasi yang lebih berbasis pada figur dan tokoh sentral, maka organisasi mengalami perubahan menjadi lebih berorientasi pada sistem yang kuat, tetapi tetap berpegang teguh pada manhaj dan jatidiri yang telah menjadi kultur dan budaya organisasi yang kuat.

Sebagaimana kita mafhum, bahwa tahun 2023 kemarin merupakan awal dari Hidayatullah memasuki 50 tahun kedua. Dimana pada saat yang bersamaan juga diluncurkan Grand Design HIdayatullah (GDH) menuju 100 tahun, yang secara garis berisi master plan dan roadmap Hidayatullah untuk menjawab tantangan masa depan. Aspek-aspek penting mencakup implementasi jatidiri, kelembagaan dan jaringan, pendidikan dan SDM, dakwah dan perkaderan, ekonomi dan keuangan, iptek dan lingkungan hidup, yang dielaborasi diberbagai sudut pandang menaji konten dari GDH itu.

Dengan demikian, GDH tersebut, maka eksistensi Hidayatullah diharapkan akan selalu relevan dan sesuai dengan dimanika perubahan zaman serta tantangan yang semakin kompleks. Sehingga Hidayatullah akan dapat terus mewujudkan visi dan misinya untuk membangun peradaban Islam yang kokoh.

Tentu saja, hal ini membutuhkan komitmen yang kuat dari semua elemen organisasi, yang dimuali dan dicontohkan oleh para pemimpin dan struktur yang ada, hingga kepada anggota biasa, untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan dan tantangan yang terjadi.

Oleh karenya, sekali lagi, dengan tetap meneladai semua amal sholih dari para pendiri dan perintis yang luar biasa itu, maka tak lepas dari lisan dan hati kita untuk mendo’akan agar mendapatkan imbalan berupa jannatun na’im. Jangan kemudian kita larut dalam kesedihan, segera ambil peran untuk menjadi bagian sebagaimana yang beliau-beliau tunjukkan jejak langkahnya.

Akhirnya, tugas bagi generasi pelanjut yang masih ada adalah agar senantiasa meluruskan nawaitu, mengambil ibrah dan pelalajaran dari para pendiri dan perintis, untuk terus berbuat dan berkarya lebih baik lagi sesuai dengan kompetensinya.

Dan, sekali lagi, kematian para pendiri dan perintis, bukanlah akhir dari perjalanan Hidayatullah, melainkan awal dari babak baru dalam mewujudkan cita-cita mulia yang telah ditransformasikan kepada seluruh anggota dan kader. Wallahu a’lam

*) ASIH SUBAGYO, Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Meraih Gelar Sarjana dan Hafidz/ah dengan Program Markazul Qur’an Wal Lughah STAIL

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Luqman al Hakim (STAIL) Surabaya terus melakukan inovasi dalam memajukan perguruan tinggi yang memiliki slogan “The Leader University”.

Kini STAIL mempersembahkan program baru yang inovatif, Markazul Qur’an Wal Lughah (MQL), sebuah program tahfidz dan bahasa Arab yang dirancang khusus untuk putra dan putri berprestasi.

Direktur Program MQL Ust. H. Herman Sutaman, Lc, mengatakan program ini memberikan kesempatan emas bagi para mahasiswa putra putri terbaik bangsa untuk mendalami Al-Qur’an dan bahasa Arab secara intensif, sekaligus meraih gelar sarjana.

Herman mengimbuhkan, Markazul Qur’an Wal Lughah STAIL Surabaya didesain secara eksklusif untuk memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan berkualitas tinggi.

Disamping itu, program MQL ini dibina oleh Syaikh/ah bersanad asal Yaman dan didampingi oleh asatidz/ah lulusan Timur Tengah yang berpengalaman.

“Para pengajar ahli ini siap membimbing para mahasiswa mahasiswi untuk mencapai hafalan Al-Qur’an yang berkualitas (bersanad) dan kemampuan bahasa Arab yang unggul, baik secara teori maupun praktik,” kata Herman dalam keterangannya diterima media ini, Rabu, 14 Dzulqaidah 1445 (22/5/2024).

Berkompeten dan Bermanfaat

Lebih jauh diterangkan Herman, program MQL tidak hanya fokus pada hafalan Al-Qur’an dan bahasa Arab, tetapi juga membekali para mahasiswa putra dan putri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi sarjana yang kompeten dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Para peserta didik akan dididik untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan mampu berkontribusi positif dalam berbagai bidang,” imbuhnya.

Dalam menunjang target output tersebut, program MQL dipandu oleh Syaikh Muhammad Mahdi al Yamani untuk putra dan Syaikhah Asma Muhammad al Yamani untuk putri. Keduanya merupakan ahli Al-Qur’an dan bahasa Arab yang telah memiliki sanad bacaan sampai 10 atau Qira’ah asyarah.

Selain itu, program MQL ini juga didukung oleh pengajar lain yang memiliki kapasitas mumpuni, yaitu alumni dalam dan luar negeri yang juga sudah bersanad.

Bergabung ke MQL Sekarang!

Jika Anda ingin menjadi sarjana sekaligus hafidz/ah yang berprestasi, Markazul Qur’an Wal Lughah STAIL Surabaya adalah pilihan tepat bagi Anda. Program ini menawarkan kesempatan unik untuk mendalami ilmu agama dan bahasa Arab secara intensif, sekaligus meraih gelar sarjana.

Segera daftarkan diri Anda dan rasakan pengalaman belajar yang luar biasa di Kota Pahlawan ini. Peserta akan dibekali pemahaman mendalam seputar Al-Qur’an dan bahasa Arab dengan bimbingan ahli bersanad yang kelak siap menjadi sarjana sekaligus hafidz/ah yang berkompeten dan bermanfaat.

Dengan mengikuti program MQL, mahasiswa juga mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan di era global dengan wawasan luas serta menjadi bagian dari komunitas Muslim yang inspiratif dan suportif.

Gimana? Tertarik? Langsung saja hubungi Bagian Pendaftaran Program MQL STAIL Surabaya, klik Whatsapp di sini. Dapatkan informasi program MQL di www.mql.stail.ac.id dan tonton video profilnya di sini. (ybh/hidayatullah.or.id)

Komunikasi Kunci Merawat Budaya Berfikir dan Mengelola Dinamika Politik

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Komunikasi politik menjadi topik menarik dalam perkuliahan daring yang disampaikan oleh Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospet), Imam Nawawi, kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Hakim (STAIL) Surabaya. Sesi yang dimoderatori oleh dosen komunikasi STAIL Surabaya, Rudi Trianto, M.Si, ini digelar pada Selasa malam, 13 Dzulqaidah 1445 (21/5/2024).

Dalam paparannya, Imam Nawawi menekankan pentingnya komunikasi politik dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam politik itu sendiri.

“Komunikasi politik diperlukan agar orang-orang menjadi setuju dengan fikiran kita,” kata Imam.

Menurut Imam, komunikasi politik tidak hanya dilakukan oleh elite politik dan politisi. “Komunikasi politik bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk ormas seperti Hidayatullah,” jelanya.

Imam juga menyampaikan bahwa komunikasi politik erat kaitannya dengan kemampuan menulis. “Menulis dilakukan untuk merawat budaya berfikir,” ungkap Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah 2020-2023 ini.

Lebih lanjut, Imam membahas tentang dinamika politik di Indonesia yang penuh kejutan, letupan, dan pelajaran. “Komunikasi yang baik dapat membantu kita mengelola kehidupan politik,” tegasnya.

Imam yang intens menyelami pemikiran perkembangan masyarakat dari teori sosial Ibnu Khaldun ini mengingatkan bahaya dari provokasi dan emosi dalam politik.

“Jika kita belum terbiasa mencerna dan membangun satu metodologi berkomunikasi dengan banyak pihak, kemudian mendengar dinamika politik yang ada, maka yang akan terjadi adalah sifat emosional,” ujarnya.

“Setelah emosional, kita akan kehilangan kemampuan bernalar secara kritis dan normal, dan pada akhirnya kita akan terbawa terbakar seperti kayu bakar yang terbakar oleh provokasi-provokasi yang merugikan,” imbuhnya.

Imam menekankan pentingnya komunikasi politik dalam organisasi pergerakan. “Kemampuan komunikasi politik bukan hanya dalam kontes politik diperlukan, dalam organisasi pergerakan juga diperlukan,” jelasnya.

Salah satu contoh nyata peran komunikasi politik adalah dalam isu RUU Penyiaran. “Komunikasi politik mandek, maka akan berpengaruh terhadap sistem politik,” kata Imam.

Ia menjelaskan bahwa RUU Penyiaran yang melarang investigasi eksklusif sangat berbahaya bagi masa depan pers. “Hal ini mendorong para pegiat dan ahli pers untuk bersuara,” ujarnya.

Imam juga menyoroti pengaruh media massa terhadap pola pikir masyarakat. “Keseringan menonton film maka referensinya sudah terwarnai oleh komunikasi-komunikasi film,” jelasnya.

“Jika seseorang tidak membaca, tidak pernah berdiskusi, kemudian otaknya sudah diasupi oleh komunikasi-komunikasi film, maka dia akan menganggap realita ini seperti film,” imbuhnya.

Terakhir, Imam membahas fenomena politik dewasa ini, termasuk mendiskusikan ihwal pertanyaan tentang apakah seorang pemimpin akan menjadi sosok otoriter atau tidak. “Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan mudah,” ujarnya.

Ia mengajak para mahasiswa untuk terus belajar dan memahami komunikasi politik agar dapat menjadi agen perubahan yang positif di masyarakat.

Perkuliahan daring ini disambut antusias oleh para mahasiswa STAIL Surabaya. Sesi tanya jawab yang berlangsung menandai antusiasme para mahasiswa yang ingin mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang komunikasi politik dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.*/Puji Asmoro

Ustadz Hasyim HS Sang Penasehat

0

SETIAP bertemu Ustadz Hasyim HS, di mana saja selalu ada nasehat yang disampaikan. Baik secara langsung maupun tidak langsung, tidak diminta apalagi diminta.

Tapi tidak semua santri dan kader Hidayatullah bisa mendapatkan langsung nasehat dari beliau. Faktor sungkan, segan, malu ataupun takut karena sosok Ustadz Hasyim HS sebagai seorang Alim yang tidak banyak bicara.

Padahal ketika sudah dekat dan akrab maka beliau banyak cerita dan nasehat yang disampaikan. Bahkan terkadang sulit untuk berhenti bercerita.

Penulis bertemu dan mengenal pertama kali saat beliau menguji calon alumni STAIL Hidayatullah Surabaya angkatan pertama. Beliau menguji manhaj Sistematika Wahyu. Kesan teman-teman dan penulis saat itu, beliau adalah sosok kyai dengan aura yang sangat berwibawa.

Pertanyaannya sederhana dengan nada datar dan menatap teruji, tapi tidak mudah untuk menjawabnya. Keringat dingin membasahi baju sebelum diuji beliau.

Qadarullah, penulis mendapatkan SK tugas di Hidayatullah Gunung Tembak dan bertemu beliau kembali. Alhamdulillah pengalaman diuji di Surabaya menjadi pintu untuk bisa mendekat ke beliau sambil nostalgia.

19 tahun bertugas di Gunung Tembak, membersamai beliau dalam tugas mendidik para kader muda. Bukan hanya sebagai ustadz tapi seperti orang tua.

Banyak nasehat yang beliau berikan ketika silaturahim ke rumahnya ataupun bertemu di masjid. Bahkan biasa bercerita sambil canda dan tertawa.

Pernah penulis curhat atau mengadu tentang banyaknya permintaan dari daerah untuk alumni STIS PUZ, sementara jumlah alumni terbatas.

Beliau diam sejenak lalu menjawab, “Seandainya semua guru dan santri-santri Gunung Tembak ini ditugaskan semua ke daerah maka tetap kurang. Karena kader itu mahal dan sulit didapatkan, sejak dulu hingga nanti ke depan. Maka tugas kita istiqomah mencetak kader, berapapun dan bagaimanapun kondisinya”.

Tenang rasanya mendengar nasehat beliau.

Ada nasehat sederhana tapi membekas bagi penulis yang belau sampaikan, “Latihan tanggungjawab dari merawat motor sendiri agar tidak kotor, berdebu dan merapihkan sandal sendiri saat di masjid atau di rumah. Itu tidak mudah dan tak memerlukan sekolah tinggi-tinggi tapi berat, buktinya banyak motor kader tak terawat kebersihannya dan sandal di masjid masih banyak yang berserakan”

Ustadz Hasyim HS sebagai banyak mutiara nasehat yang diberikan sesuai dengan kondisi. Saat tugas, nasehatnya, “Jangan minta dipahami orang lain tapi pahami dulu orang lain”

Saat menikah, “Pahami istri sebagai sahabat, sehingga kekurangan dan kelebihannya menjadi indah”

Saat kerja bakti, “Ini bukan sekedar kerja fisik tapi amal sholeh, ketaatan kepemimpinan dan tarbiyah” beliau saat sehatnya tak pernah absen kerja bakti, bahkan datang lebih awal, padahal senior dan dimaklumi untuk istirahat di rumah

Saat motivasi santri-santri. “Jika masih muda dan tidak mau menyesal, maksimal kan waktu untuk belajar, jangan santai apalagi malas”

Semua warga dan santri, menjadikan ustadz Hasyim HS sebagai guru, teladan, inspirator dan motivator. Diamnya saja menjadi nasehat, tentu nasehatnya ditunggu-tunggu.

Cerita-cerita yang bernuansa nasehat juga mengalir dari ustadz Hasyim HS. Sang penasehat telah meninggalkan kita secara fisik, namun nasehatnya menjadi warisan amal jariyah yang terus mengalir pahala kebaikannya kepada beliau.

Beliau meninggalkan istri tercinta Ustadzah Rosmala Dewi, delapan putra putri dan 25 cucu. Alhamdulillah semua masih istiqomah berkiprah di Hidayatullah.

Semoga semua mendapatkan hikmah dan kesabaran yang luar biasa dari wafat orang tua tercintanya.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Wasekjend I DPP Hidayatullah

Kunjungan Silaturrahim DPP Wahdah Islamiyah ke Pusat Dakwah Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) melakukan kunjungan audiensi silaturrahim ke Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta, Selasa, 13 Dzulqaidah 1445 (21/5/2024).

Kedatangan DPP Wahdah Islamiyah dipimpin oleh Wakil Sekretaris Jenderal IV Ust. Fakhrizal Idris, Lc., MA, dibersamai pengurus lainnya yaitu Ketua Departemen Urusan Luar Negeri Ust. Jayadi Hasan, Lc., M. Pd.I, dan Kepala Biro Humas Jumli Alam Mapgun, S.Pd., M.Pd., M. Hum.

Hadir pula membersamai kunjungan ini Ketua DPD Wahdah Islamiyah Jakarta Timur Abdullah Rajab Mar’am, Manager WIZ DPW Jakarta Asriayanto Lamaddu Keleng, dan tim media DPP Wahdah Islamiyah Ruslianto, SH.

Rombongan diterima oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yaitu Syaefullah Hamid selaku Ketua Departemen Hubungan Antarlembaga, Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Iwan Abdullah, dan Ketua Biro Humas Mahladi Murni. Turut pula hadir Redaktur Pelaksana Hidayatullah.or.id Ainuddin Chalik dan Adam Sukiman redaktur Hidayatullah.or.id.

Usai jamuan santap siang, berlangsung obrolan santai seraya menikmati kudapan rebus di salah satu ruangan di lantai 4 Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, ini.

Selain saling berkenalan lebih jauh, forum silaturrahim yang berlangsung hangat ini mendiskusikan sejumlah isu keumatan khususnya topik yang berkenaan dengan media dan tantangan dakwah masa kini.

“Tantangan berat yang dihadapi umat Islam saat ini perlu kita retas bersama sama, karena tidak mungkin kita bekerja sendiri,” kata Mahladi, yang menyoroti masalah masih lemahnya peran media Islam dalam mengawal dan memperjuangkan aspirasi umat.

Oleh karena itu, wartawan senior ini mendorong entitas muslim khususnya organisasi Islam menghidupkan media masing masing sebagai upaya mempromosikan Islam sebagai jalan hidup.

“Bahkan, kalau perlu, bikin lebih dari satu media publikasi. Ada yang official untuk kebutuhan internal organisasi dan media eksternal dengan penyajian yang lebih umum. Ini penting karena sekarang zamannya,” katanya mengimbuhkan.

Senada dengan itu, Ketua Departemen Urusan Luar Negeri DPP Wahdah Islamiyah, Ust. Jayadi Hasan, melihat bahwa salah satu penguasaan opini media yang perlu dilakukan adalah menyuarakan pembebasan dan terus menggemakan hak kemerdekaan Palestina.

“Kita tidak boleh berhenti bersuara untuk Palestina. Karena kita tidak bisa membantu secara langsung ke sana, maka kita bantu dengan terus menyuarakan isu Palestina di setiap kesempatan,” kata Jayadi.

Sebagai informasi, Wahdah Islamiyah menggelar campaign secara nasional bertajuk Bela Palestina yang mengangkat slogan “Save Gaza Hentikan Genosida”. Aksi damai serentak ini digelar bersama Pemimpin Umum dan asatidzah Wahdah Islamiyah secara nasional pada Jum’at, 17 Mei 2024 lalu.

Di kesempatan yang sama Syaefullah Hamid selaku Ketua Departemen Hubungan Antarlembaga DPP Hidayatullah menyambut baik inisiasi untuk dikuatkannya sinergi dan kolaborasi pada sektor sektor terkait yang melibatkan kedua lembaga.

“Nanti kita bisa atur jadwal ngopi ngopi di mana lah,” seloroh Syaefullah yang disambut gelak tawa.

Pertemuan yang berakhir bertepatan ketika azan Asar berkumandang ini ditutup dengan bertukar cinderamata dan berfoto bersama. (ybh/hidayatullah.or.id)

Ustadz Hasyim HS, Sosok Pecinta Dzikir ‘Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Matlubi’ itu Berpulang

0

DALAM setiap ceramahnya, inilah kalimat yang selalu dinukilnya: “Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Matlubi”.

Wahai Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan hanya Ridhamu yang kucari!

Kini pelafas dzikir itu telah kembali kepada Dzat Maha Agung yang dirindukannya. Dialah Ustadz Muhammad Hasyim Harjo Suprapto atau karib disapa Ustadz Hasyim HS.

Sosok orangtua, guru, dan dai kelahiran Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, ini kembali ke kharibaan Ilahi di usia 76 tahun pada hari Selasa, 13 Dzulqaidah 1445 H (21/5/2024).

Beliau mengembuskan nafas terakhir di kediamannya yang sederhana di kawasan Villa Mubarak, Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, RT 27, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur sekitar pukul 11.58 WITA.

Kepergian Ustadz Hasyim untuk selamanya ini meninggalkan duka mendalam. Namun, segenap memori akan kiprah, karya, dan warisan pikirannya segera menjadi pelipur lara yang menyirami jiwa jiwa yang berduka atas wafatnya satu dari lima tokoh pendiri Hidayatullah ini.

Dzikirnya yang tenang dan dalam memancarkan kerinduannya pada Tuhan, dari sana terpantul pula pesan pesan almarhum yang selalu membujuk pendengarnya agar hanya membesarkan Allah Ta’ala sebagai satu satunya tujuan.

“Jangan ragu untuk menjalankan “program” Allah. Pasti Allah kasih anggarannya. Selagi niat benar, ibadah terpelihara, ukhuwah terjamin, maka tidak mungkin Allah menyia-nyiakan kita”

Demikianlah diantara pesan spiritualnya yang menghunjam, saat memberikan pengarahan dalam salah satu acara DPP Hidayatullah di Pondok Qur’an Hidayaturrahman, Ciawi Bogor, Rabu 11 Oktober 2017.

Ustadz Hasyim bukan orator ulang. Bila ia ceramah atau berpidato suaranya biasa saja. Datar, dari awal sampai akhir. Tapi justru disinilah istimewanya. Pesan pesannya selalu dalam dan mengena.

“Coba tunjukkan kalau kamu itu rindu kepada Tuhan,” cetusnya dalam satu kesempatan meminjam ungkapan sahabatnya, Ustadz Abdullah Said, saat mengisi pengajian rutin kelembagaan di Masjid ar-Riyadh, Balikpapan, Sabtu (20/12/2014.

Ustadz Hasyim yang pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darussalam Gontor acapkali menekankan keluhuran niat dalam menjalankan tugas tugas kekhalifan di muka bumi.

Tentang masalah shalat misalnya, ia mewanti wanti betul agar janganlah ia dianggap remeh.

“Jika azan telah berkumandang, maka semua urusan harus ditinggalkan. Seluruh santri dan warga wajib menegakkan shalat berjamaah di masjid. Jangan coba-coba melemahkan urusan ibadah ini. Sebab dengannya Allah berkenan memberikan pertolongan-Nya kelak,” ungkapnya, masih dalam pengajian rutin kelembagaan di Masjid ar-Riyadh itu.

Demikian pula dalam etos kerja. Almarhum getol betul mengingatkan hendaknya sebagai seorang muslim, terutama bagi kader Hidayatullah, harus selalu bersungguh sungguh dan amanah dalam setiap perkerjaannya.

“Apapun profesi dan amanah yang diberikan, semuanya harus dilakoni dengan etos kerja yang tinggi. Harus sungguh-sungguh dan mujahadah semaksimal mungkin, gak boleh bekerja asal-asalan,” tegasnya, seperti dalam rekaman catatan Masykur Suyuthi, kerani di Kampus Hidayatullah Balikpapan.

Kini Ustadz Hasyim telah tiada. Beliau telah dipanggil oleh Dzat sang Maha Pemilik setiap raga, Penguasa alam semesta, Pelipur lara, Penyejuk jiwa, dan hendaknya Dia-lah satu satunya yang selalu bertahta di hati kita.

Seperti selalu almarhum gaungkan dalam setiap taushiahnya:

اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ

“Wahai Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan hanya Ridhamu yang kucari!”

Mengenang Ustadz Hasyim, Pendiri Hidayatullah yang Meninggalkan Jejak Abadi

0

HARI ini, duka menyelimuti hati para santri, warga, kader, jamaah Hidayatullah dan dunia dakwah Islam. Sosok inspiratif, Ustadz H. Muhammad Hasyim HS, satu dari lima tokoh pendiri organisasi Islam Hidayatullah, telah menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 13 Dzulqaidah 1445 H (21/5/2024).

Kepergian beliau meninggalkan luka mendalam dan kenangan indah yang tak terlupakan.

Ustadz Asih Subagyo, Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Organisasi (Kabid PPO) DPP Hidayatullah, memiliki kenangan tak ternilai dengan Ustadz Hasyim HS. Ia menceritakan kisah haru saat Ustadz Hasyim HS menjenguknya saat sakit dan memberikan nasihat penuh makna.

“Ustadz Hasyim HS pernah memberi nasihat, ‘Pak Bagyo, jaga kesehatan, karena perjuangan masih panjang,’ saat beliau menjenguk saya yang sedang sakit,” kenang Ustadz Asih Subagyo dengan suara bergetar.

Kata-kata bijak itu menjadi pengingat baginya untuk terus berjuang di jalan dakwah, mengikuti jejak Ustadz Hasyim HS.

Kenangan terakhir mereka tak kalah menyentuh. Saat Ustadz Hasyim HS sudah tidak bisa berbicara, mereka berkomunikasi melalui Zoom. Ustadz Asih Subagyo menyampaikan doa untuk kesembuhan Ustadz Hasyim HS, yang dibalas dengan anggukan lemah sang guru.

“Kami berkomunikasi melalui Zoom. Saya sampaikan doa saat saya juga sedang sakit. ‘Ustadz, kita saling mendoakan,’ ujar saya, dan beliau mengangkat tangan karena kondisinya yang lemah,” kenang Ustadz Asih Subagyo.

Teladan Seorang Murabbi

Asih Subagyo mengenang Ustadz Hasyim HS sebagai sosok murabbi yang tidak banyak bicara, namun penuh dengan teladan. Beliau selalu menunjukkan contoh yang baik dalam setiap aspek kehidupan, menginspirasi orang orang yang mengenalnya untuk mengikuti jalan yang benar.

Asih mengingat interaksi intensifnya dengan Ustadz Hasyim HS saat di Musyawarah Majelis Syuro (MMS).

“Beliau tipe murabbi yang tidak banyak bicara, tidak banyak menyampaikan kata-kata, tapi langsung menunjukkan keteladanan,” ungkapAsih Subagyo.

Asih menyampaikan, Ustadz Hasyim HS telah meninggalkan warisan abadi bagi Hidayatullah dan dunia dakwah Islam. Dedikasi dan keteladanannya telah menginspirasi banyak orang untuk menjadi muslim yang lebih baik. Kepergiannya merupakan kehilangan besar, namun semangat dan ajarannya akan terus hidup di hati.

Ustadz Hasyim HS adalah sosok inspiratif yang telah memberikan kontribusi besar bagi dakwah Islam. Kepergiannya merupakan kehilangan besar, namun semangat dan ajarannya akan terus menginspirasi generasi penerus untuk meneruskan perjuangannya.

Almarhum telah meninggalkan banyak kenangan dan teladan bagi kita. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi ormas Hidayatullah dan dunia dakwah Islam. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk beliau.*/Herim

Innalillahi… Pendiri Hidayatullah Ustadz Hasyim HS Berpulang ke Rahmatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Innalilahi wainnailaihi raji’un! Kabar duka kembali menyelimuti warga Hidayatullah. Salah seorang dari lima Pendiri Hidayatullah, yaitu Ustadz H. Muhammad Hasyim HS, berpulang ke Rahmatullah.

Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah ini meninggal dunia di kediamannya di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 13 Dzulqaidah 1445 H (21/5/2024).

“(Beliau wafat) di sini (di kamar),” ujar Muhammad Irfan, salah seorang putra Ustadz Hasyim kepada hidayatullah.com ditemui di rumah duka, dalam keadaan berkabung

“Telah berpulang ke Rahmatullah Bapak Pendiri Hidayatullah, Ustadz Hasyim, meninggal dunia di rumah duka pukul 11.58 WITA,” demikian pengumuman yang disampaikan petugas Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Fathun Qorib, melalui pengeras suara, siang tadi.

Pantauan hidayatullah.com, tampak suasana berkabung di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, terutama di rumah duka.

Para kiai, pembimbing, pengurus yayasan, jamaah, warga, dan santri Hidayatullah bertakziah ke rumah almarhum.

Berdasarkan informasi diterima, Insya Allah almarhum akan dikebumikan di Gunung Tembak, Selasa bakda isya malam ini.

Sebelumnya, Ustadz Hasyim sudah lebih setahun ini jatuh sakit, tepatnya pada Ramadhan 1444 H (2023). Kala itu, pria ramah ini jatuh sakit saat sedang beribadah Ramadhan di Masjid Ar-Riyadh.

Almarhum lahir di Magelang, Jawa Tengah (31/12/1948). Mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat di Meduro, Kec. Mungkid selama 6 tahun. Kemudian, pendidikan Sekolah Menengah Islam (SMI) ditempuhnya di Kec. Muntilan Magelang. Ia juga merupakan alumnus Kuliatul Muallimin Gontor Ponorogo dan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PTUM).

Lima Pendiri Hidayatullah Telah Tiada

Untuk diketahui, Ustadz Hasyim HS merupakan satu dari lima orang Pendiri Hidayatullah.

Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo, telah menjelaskan perihal kelima Pendiri Hidayatullah tersebut.

“Pertama, Ustadz Abdullah Said; Kedua, Ustadz Usman Palese; Ketiga, Ustadz Hasyim HS; Keempat, Ustadz Hasan Ibrahim, Kelima, Ustadz Nasir Hasan,” sebutnya kepada hidayatullah.com, Senin (14/02/2022) silam.

Dua tahun lalu, Pendiri Hidayatullah, Ustadz Nazir Hasan, wafat di Kota Bandara Lampung, Provinsi Lampung, pada Jumat, 14 Muharram 1444H (12/08/2022) pukul 08.00 WIB.

Sebelumnya, Pendiri Hidayatullah lainnya, Ustadz Hasan Ibrahim, wafat di Jakarta, pada Ahad (13/02/2022).

Dengan demikian, kini kelima Pendiri Hidayatullah tersebut telah tiada.* (SKR/MCU)

SAR Hidayatullah Peserta Uji Kompetensi Water Rescue sebagai Potensi Basarnas Gorontalo

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Relawan Kemanusiaan Search and Rescue (SAR) Hidayatullah sebagai bagian dari potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menjadi peserta dalam kegiatan uji kompetensi potensi pencarian dan pertolongan di permukaan air (water rescue) dan mengutus salah satu anggotanya, Muttaqin, sebagai peserta dalam uji kompetensi ini.

Kegiatan uji komptensi ini digelar berdasarkan Program Kerja Kantor Pusat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Tahun Anggaran 2024 dalam penguatan dan pemantapan kemampuan serta kecakapan potensi Basarnas dalam operasi pencarian dan pertolongan pada bencana yang terjadi.

Uji kompetensi potensi pencarian dan pertolongan di permukaan air yang digelar Basarnas Gorontalo ini akan dilaksanakan secara intensif selama 2 hari, Selasa – Rabu, (21-22//5/2024) di Balai Guru Penggerak Provinsi Gorontalo, Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo Utara.

Untuk dapat mengikuti uji kompetensi ini, personel yang diutus disyaratkan beberapa hal yaitu harus sehat jasmani dan rohani, pernah mengikuti pelatihan potensi pencarian dan pertolongan di permukaan air, dan membawa pakaian renang.

Dalam acara pembukaan kegiatan uji kompetensi di Gorontalo Utara, hadir memberikan pengarahan Deputi Bidang Bina Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas Barokna Haula. Deputi hadir didampingi Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo Hi Heriyanto, S.Adm, yang hadir membekali 50 peserta uji kompetensi ini.

Potensi Basarnas

Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Haroen menyampaikan apresiasi dan terima Kasih yang tinggi kepada Basarnas atas kesempatan yang diberikan kepada SAR Hidayatullah menjadi bagian peserta pelatihan uji kompetesi ini.

“Bagi Kami ini adalah kehormatan dan peluang mengembangkan kemampuan diri sebagai potensi pencarian dan pertolongan Basarnas,” kata Irwan yang didampingi Kepala Divisi Pendidkan dan Latihan (Kadiv Diklat) SAR Hidayatullah Alfarobi Nurkarim dan Ketua PW SAR Hidayatullah Gorontalo Khusnul Aqibah.

Harun menyampaikan bahwa SAR Hiidayatullah sebagai potensi Basarnas selalu siap mendukung Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan (BNPP)/Basarnas dalam menjalankan tugas tugas kemanusiaan.

“Bagi SAR Hidayatullah ini adalah bagian dari upaya kami mengamalkan sebagian ajaran Islam, bertolong menolong dalam kebaikan tanpa memandang suku, agama, ras, dan sebagainya,” katanya.

Kedepannya Irwan berharap BNPP/ Basarnas lebih banyak lagi memberikan pembinaan kepada potensi baik dari segi keorganisasian, pelatihan peningkatan kapasitas, dan skill anggota serta dukungan peralatan.

“SAR Hidayatullah merupakan bagian integral organisasi pendidikan, sehingga sangat mungkin untuk menerima segala masukan untuk perbaikan dan pengembangan kedepannya, termasuk peningkatan sistem komunikasi dan operasi di lapangan demi mendukung tugas BNPP dalam melaksanakan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara,” tandasnya (ybh/hidayatullah.or.id)

Program Kolaborasi IMS dan Prudential Syariah Bantu Tingkatkan Gizi Anak Balita di Desa Pingku

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Ormas Hidayatullah melalui lembaga kesehatan Islamic Medical Service (IMS) dan Prudential Syariah kembali menyelenggarakan program kesehatan sosial bertajuk penyuluhan edukasi gizi dan nutrisi anak dan pemberian paket gizi tahap keempat.

Kegiatan yang berlangsung di Desa Pingku, RW 07, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu,10 Dzulqaidah 1445 (18/5/2024), ini diikuti oleh 50 anak balita dan orang tua sebagai penerima manfaat.

Program ini merupakan tahap keempat dan sekaligus menjadi akhir dari program pemberian paket gizi anak yang diprakarsai oleh IMS.

Pada tahap ini, fokus utama diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya para ibu dari anak-anak penerima paket gizi, melalui penyuluhan edukasi gizi dan nutrisi anak.

Kepala Program IMS, Ridho Muhammad Fatihuddin, S.K.M., menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi dan nutrisi bagi tumbuh kembang anak.

“Melalui edukasi ini, kami berharap para ibu dapat menerapkan pola makan seimbang dan bergizi bagi anak-anaknya, sehingga terhindar dari kekurangan gizi dan stunting,” ujar Ridho.

Lebih lanjut, Ridho mengungkapkan harapannya agar program ini dapat membantu anak-anak penerima manfaat untuk mencapai target kenaikan berat badan secara progresif.

“Kami juga ingin memastikan bahwa proses tumbuh kembang anak terjaga dengan baik, yang selama ini menjadi fokus utama dalam program pemberian paket gizi,” jelas Ridho.

Ketua RW 07 Desa Pingku, Damuji, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Prudential Syariah selaku sponsor kegiatan atas terselenggaranya program ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada Prudential Syariah atas dukungannya, sehingga program edukasi gizi dan pemberian paket gizi tahap keempat ini dapat terlaksana dengan baik,” kata Damuji.

Damuji juga menyampaikan harapannya agar program serupa dapat kembali diadakan di masa depan.

“Semoga program mulia ini dapat terus berlanjut di waktu yang akan datang, sehingga manfaat yang diharapkan oleh IMS dan Prudential Syariah dapat tercapai secara optimal,” harap Damuji.

Salah satu penerima manfaat, Masriah, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas program ini. Masriah, yang merupakan orang tua dari Muhammad Azran, mengatakan bahwa program penyuluhan dan bantuan paket gizi sangat bermanfaat bagi keluarganya.

Sementara itu, Ketua Posyandu Kasih Ananda, Tatih Hatati, menyampaikan informasi gembira terkait perkembangan berat badan anak-anak penerima manfaat.

“Alhamdulillah, kami ucapkan banyak terima kasih kepada IMS dan Prudential Syariah atas terlaksananya program ini,” kata Tatih.

Tatih menyebutkan, sejak dilaksanakannya program pemberian gizi tahap satu hingga tahap keempat, anak binaannya yang berjumlah 50 anak mengalami kenaikan berat badan secara progresif, dari sebelumnya di bawah -2 Standar Deviasi (BB Kurang) menjadi -1 (BB Kurang) Standar Deviasi (BB Normal) berdasarkan ketetapan WHO.

Senada dengan itu, penyuluh gizi, Arini, Amd. Gz., dalam materinya menjelaskan manfaat paket gizi yang disalurkan kepada anak-anak penerima manfaat.

“Paket gizi ini membantu para ibu dalam menerapkan pola makan seimbang bagi anak-anaknya, sehingga kekurangan gizi dan stunting dapat teratasi dengan baik,” kata Arini.

Kegiatan ini ditutup dengan pembagian paket gizi untuk anak-anak kepada seluruh peserta. Paket gizi yang dibagikan terdiri dari berbagai macam sayur-sayuran, lauk pauk, dan buah-buahan.

Ridho menambahkan, program edukasi gizi dan nutrisi anak serta pemberian paket gizi yang diselenggarakan oleh IMS, Hidayatullah, dan Prudential Syariah di Desa Pingku Bogor merupakan langkah kolaborasi dalam membantu meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak di wilayah tersebut.

“Diharapkan program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)