Beranda blog Halaman 194

BMH Bantu Pembangunan Tempat Wudhu dan WC Masjid Al Falah Hidayatullah Malinau

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltara kembali menunjukkan komitmennya dalam membantu pembangunan masjid di Kalimantan Utara.

Kali ini, BMH Kaltara memberikan bantuan berupa material untuk pembangunan tempat wudhu dan WC Masjid Al Falah Hidayatullah Malinau, Kamis, 15 Dzulqaidah 1445 (23/5/24).

Bantuan yang diberikan BMH Kaltara berupa 22 lembar playwood, 20 kg cat, 15 sak semen, dan 2 batang paralon. Bantuan ini akan digunakan untuk menyelesaikan pembangunan plafon WC dan pemasangan talang air.

“Bantuan ini dalam rangka kelanjutan penyelesaian pelafon wc dan pemasangan talang air,” ungkap Iryanto Damsy, Koordinator BMH Gerai Malinau.

Ustadz Cepi, selaku pengurus Masjid Al Falah Hidayatullah Malinau, mengucapkan terima kasih banyak kepada BMH Kaltara atas bantuannya.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas bantuan dari BMH Kaltara. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk menyelesaikan pembangunan tempat wudhu dan WC masjid. Semoga Allah SWT membalas kebaikan BMH Kaltara dengan berlimpah,” ujar Ustadz Cepi.

BMH Kaltara berharap bantuan ini dapat membantu meningkatkan kenyamanan jamaah masjid dalam beribadah. BMH Kaltara juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu pembangunan masjid di Kalimantan Utara.*/Herim

“Kalau Niatmu Baik, Maju Saja! Nanti Allah yang Akan Bantu”

UNTUK mengenang guru kita KH. Muhammad Hasyim Harjo Suprapto atau Hasyim HS yang belum lama ini dipanggil oleh Allah Ta’ala, izinkan kami mengutip kembali Pengantar Penulis buku ‘Anak-anak Muda Pengukir Sejarah’ yang diterbitkan oleh Posdai Hidayatullah bekerja sama dengan Majalah Suara Hidayatullah:

Kini, para dai senior Hidayatullah sudah tidak muda lagi. Sebagian besar di antara mereka, termasuk para pendiri seperti KH Abdullah Said, KH Hasan Ibrahim, KH Usman Palese, dan KH Nazir Hasan, telah dipanggil oleh Allah Ta’ala.

Satu-satunya pendiri Hidayatullah yang masih ada saat buku ini ditulis adalah KH Hasyim HS. Saat berceramah di depan para kader muda Hidayatullah di Palu, Sulawesi Tengah, pada Agustus 2022, beliau berkata, “Saya sekarang seperti berhadapan dengan orang-orang yang ilmunya lebih hebat dari saya. Kelebihan saya sekarang hanya satu, yakni umur. Tidak ada yang melebihi umur saya sekarang ini.”

Pernyataan rendah hati KH Hasyim ini langsung disambut tawa para dai muda Hidayatullah. KH Hasyim melanjutkan ceritanya. “Dulu, saat merintis Hidayatullah, para pendiri dan perintis tidak tahu apa-apa. Mengaji saja kami belum lancar. Tahsinnya masih belepotan. Ayat Qur’an banyak yang belum hafal. Tapi kami berani tampil. Sebab, kata Allahuyarham Ust Abdullah Said, maju saja! Kalau niatmu baik, maju saja! Nanti Allah yang akan bantu.”

Begitulah militansi dakwah para pendahulu Hidayatullah. Lantas apakah semangat tersebut telah terwariskan kepada generasi penerus mereka?

Redaksi

Jati Diri sebagai Basis Budaya Organisasi

0

ORGANISASI yang unggul dan sustain (berkelanjutan) adalah yang melekat pada dirinya sebuah jati diri, yang menjadi ciri khas dari setiap organisasi. Sehingga, jati diri atau identitas unik, memainkan peran krusial dalam membentuk budaya organisasi, terutama dalam konteks organisasi Islam.

Jati diri sebagai basis budaya organisasi menciptakan fondasi yang kokoh untuk pencapaian visi dan misi yang telah dirumuskan, ditetapkan, dan diimplementasikan secara bersama-sama, setidaknya dalam lingkup organisasi itu sendiri. 

Dalam perspektif organisasi Islam, eksistensi sebuah jati diri tidak hanya mencakup aspek fisik atau logo, semata, melainkan juga merangkum nilai-nilai Islam yang mendalam, prinsip moral, dan etika yang menjadi panduan bagi setiap tindakan dan keputusan, yang menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan organisasi tersebut.

Dengan demikian maka, budaya organisasi yang berakar pada jati diri dalam organisasi Islam mempromosikan kesatuan, kolaborasi, dan kohesi di antara anggota.

Dengan menyadari identitas Islam sebagai inti dari jati diri, organisasi mampu menciptakan lingkungan kerja yang penuh toleransi, saling pengertian, dan keadilan. Penerapan nilai-nilai Islam dalam budaya organisasi menciptakan atmosfer yang memotivasi anggota untuk bekerja bersama-sama menuju tujuan yang lebih tinggi, sejalan dengan ajaran-ajaran Islam.

Selain itu, jati diri sebagai basis budaya organisasi Islam membentuk landasan untuk kepemimpinan yang adil dan transparan. Pemimpin dalam organisasi ini diharapkan untuk menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Islam, seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, jati diri menjadi perekat yang mempersatukan anggota organisasi, baik dalam situasi sukses maupun tantangan.

Transformasi organisasi Islam yang berpusat pada jati diri juga mencakup pengintegrasian nilai-nilai keagamaan dalam setiap aspek kehidupan organisasi, termasuk pengelolaan sumber daya, pengambilan keputusan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Dalam budaya organisasi yang berlandaskan jati diri Islam, inovasi dan adaptasi terhadap perubahan dapat dilakukan tanpa kehilangan akar-nilai keislaman yang mendasarinya.

Dengan demikian, jati diri sebagai basis budaya organisasi dalam perspektif organisasi Islam bukan hanya sekadar identitas, melainkan fondasi yang hidup, berkembang, dan memberdayakan organisasi untuk meraih kesuksesan dengan tetap setia pada nilai-nilai ajaran Islam. Ini menciptakan sebuah komunitas yang memiliki kekuatan kolektif yang tak tergoyahkan, menggambarkan kemajuan dan keunggulan dalam setiap langkahnya, sejalan dengan prinsip-prinsip moral dan etika Islam.

Implementasi Budaya Organisasi Islam

Budaya organisasi Islam tidak hanya sebatas teori, tetapi harus diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan organisasi. Berikut adalah beberapa contoh penerapannya:

Pertama, Visi dan Misi: Visi dan misi organisasi harus berlandaskan nilai-nilai Islam. Contohnya, visi organisasi Islam dapat dirumuskan sebagai “Menjadi organisasi Islam yang terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban yang Islami.”

Kedua, Struktur Organisasi: Struktur organisasi harus mendukung tercapainya tujuan dan nilai-nilai Islam. Contohnya, struktur organisasi Islam dapat dirancang dengan menyertakan dewan syariah yang bertugas mengawasi dan memastikan bahwa seluruh kegiatan organisasi sesuai dengan syariat Islam.

Ketiga, Kegiatan dan Program: Kegiatan dan program organisasi harus mencerminkan nilai-nilai Islam. Contohnya, organisasi Islam dapat menyelenggarakan kegiatan dakwah, pendidikan agama, dan bakti sosial.

Keempat, Peraturan dan Tata Tertib: Peraturan dan tata tertib organisasi harus berlandaskan nilai-nilai Islam. Contohnya, organisasi Islam dapat menerapkan peraturan tentang dress code yang Islami dan larangan terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Kelima, Pengembangan SDM: Pengembangan SDM harus fokus pada peningkatan iman, taqwa, dan akhlak mulia anggota. Contohnya, organisasi Islam dapat menyelenggarakan pelatihan dan seminar tentang kepemimpinan Islam, pengembangan diri, dan akhlak mulia.

Keenam, Keteladanan: Pimpinan dan anggota organisasi harus menjadi contoh dalam berperilaku sesuai nilai-nilai Islam. Keteladanan ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan mendorong anggota untuk mengikuti jejak para pemimpinnya.

Kekuatan dalam implementasi budaya organisasi menunjukkan bahwa jati diri sebagai basisnya, sangat berpengaruh terhadap eksistensi organisasi agar terus relevan dengan tuntutan dan tantangan jaman, sekaligus mememangkannya.


Urgensi Budaya Organisasi Islam

Banyak organisasi yang abai terhadap budaya organisasinya, bahkan tidak faham bahwa budaya organisasi itu menjadi faktor penting dalam pencapaian visi dan misi organisasi, yang mengantarkan seluruh elemen dan stakeholder organisasi menjadi memiliki  arah dan tujuan yang jelas.

Dalam persperktif budaya organisasi Islam yang kuat dan positif, memiliki banyak manfaat bagi organisasi dan anggotanya. Berikut adalah beberapa manfaatnya:

Pertama, Membentuk Karakter dan Moral Islami, Budaya organisasi yang Islami membantu anggotanya untuk mengembangkan karakter dan moral yang baik, seperti: jujur, adil, amanah, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, bersikap sopan dan santun, menjauhi perbuatan tercela

Kedua, Meningkatkan Motivasi dan Semangat Kerja, Budaya organisasi yang positif dan kondusif akan meningkatkan motivasi dan semangat anggota untuk bekerja sama dan mencapai tujuan bersama. Hal ini karena: anggota merasa dihargai dan dihormati, terdapat rasa saling percaya dan kerjasama, memiliki tujuan bersama yang jelas, pekerjaan dianggap sebagai ibadah

Ketiga, Menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) dan Memperkuat Ukhuwah Islamiyah, Budaya organisasi yang Islami membangun rasa memiliki yang kuat sehingga melahirkan persaudaraan, saling dukung dan saling membantu di antara anggota. Hal ini mendorong terciptanya: lingkungan kerja dalam organisasi yang lebih harmonis, saling mendukung dan menguatkan, peduli terhadap kebutuhan dan kesulitan sesama anggota

Keempat, Meningkatkan Kinerja Organisasi, Budaya organisasi yang kuat dan positif dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan, karena: anggota lebih termotivasi dan produktif, terjadi sinergi dan kerjasama yang baik, keputusan diambil berdasarkan musyawarah dan mufakat, organisasi lebih adaptif dan tangguh dalam menghadapi tantangan

Kelima, Meningkatkan Citra dan Reputasi Organisasi, Budaya organisasi yang Islami yang baik akan meningkatkan citra dan reputasi organisasi di mata publik. Hal ini karena: organisasi dilihat sebagai organisasi yang terpercaya dan berintegritas, memiliki nilai-nilai yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, menjadi contoh bagi organisasi lain

Keenam, Memperkuat Dakwah Islam, Dalam perspektif Organisasi Islam dengan budaya yang kuat dapat menjadi agen dakwah yang efektif. Hal ini karena: memiliki anggota yang mempunyai pemahaman Islam yang baik, memiliki sumber daya dan jaringan yang luas,  mampu menyebarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang tepat dan efektif, yang dimulai dari keteladanan dari aktifitas kehidupan seluruh elemen organisasi.

Sehingga eksistensi budaya orgaisasi yang sedemikian penting itu, akan mengkristal menjadi energi yang kuat serta senantiasa bergairah dan menggerakkan, baik dalam kerangka di internal organisasi, ataupun memberikan pengaruh positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Menjadikan Jati Diri sebagai Basis Budaya Organisasi

Jati diri merupakan pondasi yang kokoh bagi budaya sebuah organisasi. Dalam perspektif Islam, jati diri organisasi mencerminkan karakteristik, identitas, dan ciri khas yang dibangun berdasarkan ajaran-ajaran agama yang suci.

Sebagai inti dari budaya organisasi, jati diri menjadi pendorong utama dalam membentuk nilai-nilai, norma, dan sikap yang dianut oleh setiap anggota. Jati diri yang terintegrasi dalam ajaran Islam bukan sekadar menjadi slogan atau narasi yang indah, tetapi menjadi sumber energi dan kekuatan yang memberikan semangat dan motivasi bagi seluruh elemen organisasi untuk bergerak maju menuju visi dan misi yang telah ditetapkan.

Keberadaan jati diri organisasi yang berakar pada nilai-nilai Islam yang dipedomani dalam organisasi, akan memengaruhi setiap aspek kehidupan organisasi, mulai dari pengambilan keputusan hingga tindakan sehari-hari.

Budaya organisasi yang didasarkan pada nilai-nilai agama akan menciptakan lingkungan kerja yang saling menghormati, peduli, dan bertanggung jawab, serta mendorong segenap anggota untuk memberikan kontribusi terbaik mereka.

Jati diri yang kuat juga akan menjadi perekat yang mengikat anggota organisasi, menciptakan solidaritas dan kebersamaan yang kuat dalam mencapai tujuan bersama.

Sehingga, dengan jati diri sebagai panduan utama, budaya organisasi tidak hanya menjadi indah dalam susunan kata-kata, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata yang dijalankan oleh setiap individu dalam organisasi.

Oleh karenanya, dalam perjalanan mencapai tujuan dan visi yang telah ditetapkan, jati diri organisasi menjadi kompas yang menuntun langkah organisasi dalam menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Kesadaran akan jati diri ini mengikat setiap anggota dalam kesatuan yang kokoh, memperkuat solidaritas dan kerjasama dalam mencapai cita-cita bersama.

Dengan demikian, jati diri organisasi tidak hanya menjadi aspek yang penting dalam membangun budaya organisasi yang kuat, tetapi juga menjadi faktor terkuat yang memastikan keberlangsungan dan keberhasilan organisasi dalam mencapai misinya.

Penutup

Dalam perspektif organisasi Islam, urgensi menjadikan jati diri sebagai basis budaya organisasi semakin terasa, mengingat peran penting nilai-nilai agama dalam mengarahkan setiap langkah organisasi.

Dengan memperkuat jati diri yang berakar pada ajaran Islam, organisasi dapat memberikan kontribusi yang lebih berarti dalam memajukan kesejahteraan umat dan membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Hal ini tidak hanya menciptakan budaya organisasi yang kokoh dan berintegritas, tetapi juga mengilhami anggota organisasi untuk bergerak menuju tujuan yang lebih mulia dan berorientasi pada kebaikan bersama.

Sebagai penutup, menjadikan jati diri sebagai basis budaya organisasi dalam perspektif Islam adalah suatu keharusan yang tak terbantahkan dalam menghadapi dinamika zaman. Dengan memperkuat fondasi moral dan spiritual, organisasi Islam akan mampu menjadi agen perubahan yang berdampak positif dalam masyarakat, sambil tetap teguh mempertahankan identitas dan integritasnya sebagai bagian tak terpisahkan dari umat Islam yang berkomitmen untuk mengabdi kepada Allah SWT dan sesama manusia, dalam rangka menegakkan peradaban Islam. Wallahu a’lam.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

FGD Mushida Perkuat Pola Pembinaan Ditengah Dinamika dan Tantangan Zaman

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ayat suci Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 104 mengingatkan umat tentang pentingnya menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.

Seruan kitabullah agar melakukan amal makruf nahi munkar ini sejalan dengan salah satu Arah Kebijakan dan GBHO (Garis Besar Haluan Organisasi) Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang fokus pada rekrutmen anggota dan pembinaan umat.

Karenanya, dalam rangka gerakan rekrutmen organisasi, Mushida dituntut untuk menjalankan tugas dakwah, baik secara individu maupun jama’i, terutama dengan memanfaatkan teknologi digital ditengah dinamika dan tantangan zaman yang ada.

Untuk itu, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Reaktualisasi Pola Rekrutmen Mushida, Relevansi, Tantangn dan Peluangnya” di Kantor PP Mushida, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Selasa, 13 Dzulqaidah 1445 (21/5/2024).

Acara ini dihadiri oleh Majelis Penasihat, Majelis Murabbiyah Pusat, dan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah.

Rekrutmen anggota dan kader merupakan langkah strategis bagi Muslimat Hidayatullah untuk mencapai visinya dalam membangun peradaban Islam.

Hal itu sesuai dengan Arah Kebijakan Strategis Hidayatullah (Munas 2020 Bidang Dakwah) dan tercantum pada PDO (Pedoman Organisasi) Bab VI Pasal 8.

Menurut Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah Iwan Abdullah, M.Si., dalam pengantarnya dalam FGD ini, rekrutmen anggota harus dilakukan karena beberapa alasan:

Pertama, kata dia, dilakukan sesuai dengan visi Hidayatullah yaitu dalam rangka Membangun peradaban Islam. Kedua, mesti sejalan dengan Arah Kebijakan Strategis Hidayatullah, sepenarian dengan Pedoman Organisasi (PO) dan setarikan dengan Program Dakwah Muslimat Hidayatullah.

Di antara program dakwah Muslimat Hidayatullah yaitu Muslimat Hidayatullah go to Campus, Pembentukan Tim Janaiz Putri, Daurah Lansia, Pembinaan Wali Murid, Dakwah Digital, Silaturahmi Tokoh Muslimah, Dakwah di Lapas, Training Bina Aqidah, Rumah Qur’an/Majelis Qur’an, Sedekah Jum’at, dan lain sebagainya.

Iwan Abdullah juga menekankan pentingnya pembinaan wali murid Hidayatullah. Dengan jumlah mencapai 100.000 orang di seluruh Indonesia, wali murid menjadi prioritas utama untuk mendapatkan pembinaan dari organisasi Hidayatullah.

“Wali murid merupakan prioritas utama untuk mendapatkan pembinaan dari organisasi Hidayatullah. Karenanya agar dakwah Hidayatullah terarah sesuai kebijakan strategis perlu dikuatkannya standarisarisasi pembinaan wali murid Hidayatullah,” kata Iwan.

Pembinaan wali murid ini diharapkan dapat membantu mereka dalam memahami Islam dengan lebih baik, menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan membesarkan anak-anak mereka menjadi generasi Islam yang tangguh.

Dalam FGD tersebut, dibahas pula tentang perlunya merealisasikan pola rekrutmen Muslimat Hidayatullah yang lebih relevan dengan era digital diantaranya berupa penguatan sinergi.

Adpaun beberapa sinergi yang dapat dilakukan diantaranya membuat konsep pembinaan sesuai arah kebijakan organisasi, melaksanakan pembinaan muslimah, melibatkan kader Muslimah dalam pelaksanaan pembinaan, dan pembentukan Muharrikah Mushida Putri (MMi)

Salah satu program Keputrian PP Mushida yang disosialisasikan dalam FGD ini adalah pembentukan Muharrikah Mushida Putri (MMi). MMi dibentuk di 15 PW (Provinsi Wilayah) di antaranya Kaltim, Jatim, Sulsel, Jabar, DIY, Sumut, Papua, Banten, Kaltara, Jateng, Sulteng, Kepri, Lampung, Bali, DKI.

Program MMi ini diharapkan dapat membentuk jaringan komunitas Mushida di lingkungan kampus, meningkatkan citra dan keterkenalan Mushida di lingkungan kampus, dan terlaksananya aksi kepedulian dan kemanusiaan mahasiswa.

Ketua Umum PP Mushida Hani Akbar yang memberikan konklusi dalam FGD ini berharap reaktualisasi pola rekrutmen Muslimat Hidayatullah merupakan langkah penting untuk memperkuat organisasi dan mencapai visinya dalam membangun peradaban Islam.

“Dengan memanfaatkan berbagai pendekatan yang relevan termasuk melalui teknologi digital dan melibatkan berbagai pihak, diharapkan Muslimat Hidayatullah dapat menjangkau lebih banyak orang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Sinergi BMH dan GMB Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Mahakam Ulu

0

MAHAKAM ULU (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur bersama Gerakan Mukena Bersih (GMB) bergerak cepat untuk membantu korban banjir yang melanda 5 kecamatan di Mahakam Ulu. Banjir setinggi 2 meter telah melumpuhkan aktivitas dan infrastruktur, dan ribuan warga menjadi korban.

Pada Minggu-Senin (19-20 Mei 2024), BMH mendistribusikan bantuan sembako kepada 30 KK di Kampung Long Melaham dan Ujoh Bilang. Bantuan ini merupakan tahap awal dari BMH untuk membantu para korban banjir di Mahakam Ulu.

“Jazakumullah kepada donatur dan GMB atas keterlibatannya dalam membantu korban banjir ini. Alhamdulillah, kami juga dibantu oleh Ustadz Taufiq, Dai Tangguh BMH di Mahakam Ulu, dalam pendataan dan distribusi logistik,” ujar Achmad Rifai dari BMH Kaltim dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 15 Dzulqa’dah 1445 (23/5/2024).

Rifai menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan logistik dibeli di Mahakam Ulu, meskipun harga di sana cukup mahal dan tidak banyak toko yang buka akibat banjir.

Bantuan yang diberikan berupa beras 150 kg, minyak 30 liter, gula 30 kg, telur 30 rak, dan mie instan 10 kotak.

“Semoga bantuan tahap awal ini dapat bermanfaat bagi para korban banjir. Selanjutnya, kami akan terus mendata kebutuhan lainnya seperti obat-obatan, pakaian, air bersih, dan kebutuhan bayi/anak,” imbuh Rifai.*/Herim

Bantuan beri Semangat Baru untuk Perkuat Pembinaan Mualaf di Desa Pura Sajau

0

BULUNGAN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama Muslimat Hidayatullah Bulungan melakukan kunjungan ke Majelis Taklim Al-Amanah Desa Pura Sajau, Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Rabu, 14 Dzulqaidah 1445 (22/5/2024).

Kunjungan ini bertujuan untuk menjalin silaturahim dan memperkuat pembinaan mualaf di desa tersebut.

BMH dan Muslimat Hidayatullah membawa pakaian layak pakai yang nantinya akan dibagikan kepada mualaf dan warga di Desa Pura Sajau. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban mereka yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, perjalanan dari pusat kota Tanjung Selor ke sini cukup jauh, sekitar hampir 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Kegiatan ini adalah ajang silaturahim dan saling menguatkan dalam pembinaan mualaf,” ujar Amin Umar, Koordinator BMH Gerai Bulungan.

Kunjungan BMH dan Muslimat Hidayatullah disambut gembira oleh ibu-ibu mualaf yang tergabung dalam Majelis Taklim Al-Amanah Desa Pura Sajau. Mereka sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan.

“Kami bersyukur telah dikunjungi bapak dan ibu dari BMH dan Muslimat Hidayatullah. Apa yang telah diberikan ini sangat berguna bagi kami. Semoga kita semua selalu dalam keistiqomahan dalam agamaNya,” ungkap Ibu Buncek Dilo, salah satu mualaf.

M. Noer Komara, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, mengatakan bahwa kegiatan ini tampak sederhana namun memiliki dampak positif yang besar bagi mereka yang membutuhkan, terutama mualaf yang membutuhkan perhatian dari semua pihak.

“Kegiatan yang dilakukan tampak sederhana namun dampak positifnya sangat besar bagi mereka yang membutuhkan terlebih mualaf yang membutuhkan perhatian dari kita semua,” kata Komara.

BMH dan Muslimat Hidayatullah berharap bantuan ini dapat membantu mualaf di Desa Pura Sajau untuk lebih mantap dalam memeluk agama Islam. Mereka juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu mualaf yang membutuhkan.*/Herim

Perkuat Sinergi dan Memastikan Kepatuhan Syariah, Kemenag Kunjungi BMH Jawa Timur

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya melakukan kunjungan ke Kantor Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Jawa Timur pada hari Rabu, 14 Dzulqaidah 1445 (22/5/2024).

Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan memastikan bahwa program-program yang dilaksanakan oleh BMH Jatim sesuai dengan amanah Kemenag Nasional, yakni aman secara syar’i, aman regulasi, dan aman NKRI.

Muhammad Yahya, selaku Kepala Seksi Zakat dan Wakaf (Kasi Zawa) Kemenag Surabaya, menyampaikan pentingnya kunjungan ini.

“Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara Kemenag dan BMH Jatim serta memastikan bahwa setiap program yang dijalankan sesuai dengan ketentuan syariah, regulasi, dan kepentingan nasional,” katanya.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan,” kata Muhammad Yahya menambahkan.

Indokhul Makmun, selaku Sekretaris Kelembagaan BMH Jatim, menyambut baik kunjungan ini dan menjelaskan bagaimana BMH Jatim memastikan semua programnya sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Kemenag.

“Kami sangat senang dengan kunjungan ini dan berterima kasih atas perhatian Kemenag. BMH Jatim selalu berusaha menjalankan program-programnya sesuai dengan ketentuan syariah, regulasi yang berlaku, dan mendukung kepentingan nasional,” imbuhnya.

Kata dia, kunjungan Kemenag Surabaya ke BMH Jatim diharapkan dapat memperkuat kerjasama antara kedua pihak dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, kunjungan ini juga diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas BMH Jatim dalam menjalankan program-programnya

Dengan adanya kunjungan ini, lanjut Makmun, pihaknya juga berharap dapat terus meningkatkan kualitas program dan pelayanan lembaga.

Kunjungan ini diawali dengan pemaparan profil BMH Jatim, termasuk visi, misi, dan program-program yang dijalankan. Kemudian, tim Kemenag Surabaya melakukan peninjauan langsung ke kantor BMH Jatim untuk melihat proses administrasi dan penyaluran bantuan.

Kunjungan ini diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab antara tim Kemenag Surabaya dan BMH Jatim. Dalam diskusi tersebut, dibahas berbagai hal terkait dengan program-program BMH Jatim, termasuk tantangan dan solusi dalam pelaksanaannya.*/Herim

Biro Humas DPP Hidayatullah Bekali Staf Keterampilan Jurnalistik Menulis Berita Singkat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah tuntutan dan dinamika yang kompleks, khususnya dalam dunia organisasi, sumber daya manusia yang cakap, handal, dan terampil di berbagai bidang menjadi kebutuhan krusial.

Menyadari hal tersebut, Biro Humas dan Sekretariat Kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bekerjasama dengan platform penerbitan digital Hidayatullah.or.id menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Generasi Muda untuk membekali staf dengan berbagai keterampilan, termasuk kemampuan menulis berita singkat.

Sebelumnya, Biro Humas DPP Hidayatullah telah menyelenggarakan lomba pembuatan video cinematik yang dimenangkan oleh Qarib Rifai. Kali ini, lomba pembuatan berita singkat diadakan dengan tujuan meningkatkan literasi dan wawasan keilmuan yang diperoleh selama pelatihan selama dua minggu sebelumnya.

Menurut Kepala Kantor DPP Hidayatullah, Muhammad Saihul Islam, lomba pembuatan berita singkat untuk para staf ini menjadi bekal bagi seluruh staf untuk menuangkan wawasan dan memberikan wadah bagi mereka untuk mengekspresikan ide-ide penulisan mereka.

“Kemampuan membuat berita cepat, akurat, menarik, dan informatif bagi pembaca merupakan tantangan tersendiri bagi para seorang reporter dan jurnalis,” kata Saihul di Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 15 Dzulqa’dah 1445 (23/5/2024).

Untuk itu, pelatihan dan lomba ini dapat menjadi batu loncatan dan bekal bagi para staf di masa depan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara optimal.

Redaktur pelaksana Hidayatullah.or.id, Ainuddin Chalik, yang menjadi juri dalam lomba ini memberikan penilaian terhadap para pemenang.

Ainuddin menyebutkan setidaknya ada tiga kriteria utama yang menjadi indikator penilaian, yaitu kecepatan penulisan berita, nilai eksklusifitas berita seperti melakukan peliputan langsung, dan kemampuan menyajikan informasi lanjutan yang lebih dalam berupa progress news untuk meningkatkan kualitas reportase.

Apresiasi Wasekjend

Dalam sambutannya pada seremoni penyerahan hadiah pemenang lomba, Ust. Iwan Ruswanda selaku Wakil Sekretaris Jenderal II memberikan apresiasi kepada para peserta pemenang lomba pembuatan berita.

“Jangan merasa cepat puas dengan apa yang telah didapat. Teruslah mengasah kemampuan dan keterampilan dalam menulis. Ini baru langkah awal menuju kesuksesan di masa depan,” pesannya, usia menyerahkan bingkisan hadiah kepada Muhammad Zuhri Fadhlullah, sebagai pemenang lomba penulisan berita pada Edisi Pekan ke-II Bulan Mei 2024.

Ia berharap dari perlombaan dapat semakin mengembangkan potensi dan skill para staf, sekaligus memetakan sumber daya potensial yang nantinya akan dibimbing untuk memperkuat kinerja kesekretariatan yang lebih berkualitas.

Redaksi

Almarhum KH Hasyim HS dalam Kenangan Ustadz Latief Usman: Teladan dalam Ibadah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Pembina Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ust. H. Latief Usman, mengenang satu dari lima tokoh pendiri Hidayatullah, almarhum KH. Muhammad Hasyim Harjo Suprapto atau Hasyim HS, sebagai seorang teladan dalam banyak hal khususnya dalam kedisiplinan ibadah.

“Semangat beliau dalam ibadah itu luar biasa. Ini yang harus menjadi teladan bagi kita dan semua generasi pelanjut,” kata Ust. H. Latief Usman saat menghadiri undangan Diskusi Kamisan Seri-36 bertajuk “In Memoriam KH. Hasyim HS” gelaran DPW – DMW Hidayatullah DKI Jakarta, Kamis, 15 Dzulqa’dah 1445 (23/5/2024).

Menurut Ust. H. Latief Usman, sosok, kiprah, karya, dan warisan pikiran almarhum KH. Hasyim HS mengajarkan banyak hal tentang betapa mendasarnya kemantapan keyakinan akan kekuasaan Allah SWT sebagai tujuan hidup.

KH. Hasyim HS yang juga Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah ini meninggal dunia di kediamannya Villa Mubarak, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 13 Dzulqaidah 1445 H (21/5/2024).

“Beliau mengajarkan untuk selalu memiliki kekuatan mental dan kesabaran yang tinggi agar kita hanya menggantungkan segala tujuan hanya kepada Allah,” katanya.

Ust. H. Latief Usman lantas mengutip salah satu zikir rutin dalam lembar At Tawajjuhat yang sudah menjadi kultur di Hidayatullah. Zikir ini, ditegaskan beliau, hendaknya menjadi satu nilai yang terejawantah dalam diri setiap kader.

“Jangan sampai ada satupun urusan kita yang lepas dari pengharapan akan bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun sekejap mata,” katanya seraya melafaskan zikir tuntunan Nabi tersebut sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnus Sunniy dan dishahihkan al-Hakim tersebut:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

(Yaa hayyu yaa qayyuum bi rahmatika astaghiitsu ashlih liy sya’niy kullahu wa laa takilniy ilaa nafsiy tharfata ‘ain)

“Wahai Tuhan yang Maha Hidup; wahai Tuhan yang Maha Mengurusi segala sesuatu; aku mohon pertolongan kepada-Mu, dengan kasih sayang-Mu. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata pun”

Menurut Ust. H. Latief Usman, berbagai pencapaian yang kini telah berhasil diraih oleh Hidayatullah dalam berbagai bidang adalah merupakan buah dari bantuan, pertolongan, dan keberkahan dari Allah SWT. Terutama lewat doa dan keteladanan yang telah diwariskan para pendiri.

“Jangan satupun urusan kita lepas dari permohonan bantuan kepada Allah, walaupun sekejap mata. Tharfata ‘ain!.” tegasnya menandaskan.

Sosok Murabbi dan Ilmuan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Asih Subagyo juga didapuk memberikan pengantar.

Kondisi kesehatannya yang berat tak memungkinkan dia hadir secara langsung pada pemakaman almarhum di Balikpapan. Kendati demikian, Asih Subagyo yang mengikuti rangkaian prosesi tersebut melalui siaran live streaming tak bisa menyembunyikan rasa kehilanggannya terhadap sosok kharismatik tersebut.

Bagi Asih, almarhum KH. Hasyim HS adalah sosok teladan yang dalam dirinya mengkombinasikan figur yang memiliki ilmu yang tinggi dan guru yang penyabar sekaligus.

“Orangnya pendiam tapi ilmunya luar biasa. Orang yang deket dengan beliau pasti bisa merasakan kedalaman ilmunya,” kata Asih.

Meskipun tak memiliki interaksi yang intensif sebagaimana kader kader dari Gunung Tembak, Asih mengatakan kedekatan langsung ia rasakan dikala ia bertemu kali pertama dengan almarhum di tahun 1994 di Yogyakarta.

“Saat itu saya masih mahasiswa. Beliau datang ke Yogyakarta mendampingi Ustadz Abdullah Said,” kata Asih, mengenang pertemuan kali pertama di asrama mahasiswa yang ia tempati kala itu di bilangan Sagan, Sleman.

Saat diamanahi menjadi pengurus DPP Hidayatullah, pertemuan Asih dengan almarhum sudah semakin sering terjalin, terutama pada momen gelaran acara musyawarah organisasi atau pada pertemuan kultural tingkat nasional.

Ada pesan almarhum KH. Hasyim HS yang diingat betul Asih Subagyo. Tepatnya dua tahun lalu ketika KH. Hasyim HS membesuk dia di kediamannya di Depok.

Asih menceritakan, saat itu KH. Hasyim HS berpesan kepadanya: “Pak Bagyo, jaga kesehatan, karena perjuangan ini masih panjang”.

Di kesempatan lain, giliran Asih yang melakukan kunjungan balasan dan menjenguk KH. Hasyim HS di Balikpapan.

Saat itu kondisi kesehatan KH. Hasyim HS sudah agak menurun dan sudah harus menggunakan kursi roda dan sesekali harus dipapah menggunakan alat bantu tongkat.

Ketika membesuk balik itu, Ibu Rosmala, istri tercinta almarhum, dengan setengah berbisik menyampaikan ke Asih agar tidak bercerita masa lalu sebab KH. Hasyim HS selalu menangis jika memori perjuangan tak terlupakan itu terlintas.

Asih pun membuka obrolan dengan materi materi ringan yang ditimpali dengan senyum khas KH. Hasyim HS yang duduk di kursi roda sambil memegang tongkat.

KH. Hasyim HS pun tertawa lebar dikala Asih yang berguyon bertanya bagaimana sih ceritanya Ustadz Hasyim mau dengan Ibu Rosmala.

Bagi Asih, almarhum KH. Hasyim HS adalah sosok pendidik yang telah berhasil menancapkan basis utama gerakan dan menorehkan karya monumental.

“Beliau murabbi sejati yang luar biasa yang telah melahirkan banyak pribadi murid murid yang luar biasa,” imbuh Asih.

Maka tantangan berikutnya adalah milik generasi pelanjut yang akan melanjutkan estafeta perjuangan ini. Menurut Asih, kita harus menunjukkan kematian seorang pendiri bukan berarti juga kematian bagi apa yang telah dimulainya. Justru sebaliknya, ia menjadi titik awal bagi keberlanjutan perjalanan organisasi.

“Hal ini juga berlaku bagi Hidayatullah, sebuah organisasi dan gerakan Islam yang lahir dari semangat dan visi para pendirinya,” kata Asih.

Asih menegaskan, meskipun kepergian para pendiri merupakan kehilangan yang besar, namun itu bukanlah akhir dari perjuangan yang telah dimulai. Sebaliknya, hal itu menjadi bagian dari proses transisi dan transformasi organisasi.

Beruntungnya, kata Asih, karena proses transformasi ini sudah berjalan di Hidayatullah di saat diantara para pendirinya masih hidup terutama dalam hal transformasi nilai-nilai (value), berupa manhaj dan dan jati diri.

“Akhirnya, tugas bagi generasi pelanjut yang masih ada adalah agar senantiasa meluruskan nawaitu, mengambil ibrah dan pelajaran dari para pendiri dan perintis, untuk terus berbuat dan berkarya lebih baik lagi sesuai dengan kompetensinya,” tandasnya.

Diskusi Kamisan Seri-36 daring yang dipandu oleh Sekretaris DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi Sukiman, ini dihadiri tidak saja oleh peserta dari DKI Jakarta tetapi juga kader kader Hidayatullah dari berbagai daerah.

Pada sesi diskusi, beberapa orang lainnya tampil menyajikan telaah dan kesan kesan terhadap profil almarhum KH. Hasyim HS yang telah meninggalkan kita semua.

Diantara mereka ada Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Kaltim Ust. Dr. Muhammad Tang, Ketua DPW Hidayatullah Lampung Ust. Rusdi Hidayat dan hadir pula Dai Kondang Nasional asal Nusa Tenggara Timur (NT) KH. Dr. Ahmad Bukhori Muslim, MA. (ybh/hidayatullah.or.id)

[KHUTBAH JUM’AT] Kuatkan Takwa Raih Hidup Bahagia Penuh Berkah

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Saat kita duduk dengan khusyuk mendengar khutbah Jumat setiap pekan dan sepanjang hidup, apakah ada getaran yang terasa, hingga menggugah hati dan kesadaran untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala?

Pertanyaan itu mungkin biasa, tapi akan mudah kita memahami, menyadari, dan mengubah diri, jika hal itu kita korelasikan dengan fakta dan fenomena-fenomena di sekitar kita.

Sebagai catatan, hingga April 2024 ada ratusan bencana alam telah terjadi di Indonesia dengan banjir menjadi bencana alam paling banyak melanda. Yakni sejumlah 355 kejadian banjir, 122 cuaca ekstrem, 42 tanah longsor dan 29 kebakaran hutan.

Banjir bandang dan lahar di Sumatera Barat telah menyebabkan 3.396 jiwa harus mengungsi. Dan, tragisnya, mereka tidak berhenti menghadapi ujian itu.

Tiga gelombang penyakit juga mengintai seluruh pengungsi yang ada. Mulai dari stress, depresi, hingga penyakit fisik yang menular seperti diare dan penyakit kulit.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Itu baru secuil data yang terjadi di Indonesia, sekarang, saat kita bisa bernafas sembari sarapan dengan tenang.

Akan tetapi, semua fakta itu hendaknya menarik akal dan nalar kita untuk sampai pada satu kesadaran, mengapa bencana terus melanda, mengapa sebagian saudara kita harus menderita. Apakah itu karena salah mereka? Atau kita juga bisa berkontribusi memperbaikinya, yakni dengan terus meningkatkan iman dan taqwa.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Perhatikan, bagaimana berkah akan Allah Subhanahu wa ta’ala limpahkan kepada penduduk negeri dengan syarat iman dan takwa. Ini semestinya mendorong kita semua memandang urusan iman dan takwa sebagai hal yang paling utama.

Saat kita berbisnis, adakah iman dan takwa kita perhatikan. Ketika kita bekerja di kantor, di pasar, di jalan, di manapun juga, adakah iman dan takwa jadi perhatian kita?

Lebih-lebih para pemimpin, pejabat, penguasa, adakah mereka memperhatikan aspek iman dan takwa dalam menelurkan kebijakan? Jika dasarnya bukan iman dan takwa, lalu bagaimana mungkin kita berharap limpahan berkah dari langit dan bumi?

Bahkan dalam hal mencari nafkah, menghidupi keluarga, mendidik anak dan istri, apakah kita juga memperhatikan aspek iman dan takwa sebagai perkara utama?

Sebagian besar banjir terjadi memang karena ulah manusia, mulai dari menebang pohon secara serakah di hutan-hutan, membuang sampah ke sungai, hingga ketidakpedulian kita kepada lingkungan secara luas. Dan, sikap-sikap seperti itu muncul, menguat dan menjadi perilaku, apakah karena mereka beriman dan bertakwa?

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

عن أبي ذر قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

“Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya hal itu dapat menghapusnya. Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik’,” (HR At-Tirmidzi)

Mari perhatikan dengan seksama pesan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut. Takwa itu ada di dalam hati dan kita implementasikan kapan dan dimana saja.

Jika diri terjebak, tidak sengaja atau malah dengan sadar melakukan hal-hal buruk, maka solusinya adalah dengan segera melakukan hal-hal baik. Itulah jalan keluar untuk kita bisa menghapus salah dan dosa.

Kemudian, bergaullah dengan sesama dengan akhlak yang baik. Artinya, takwa itu bisa kita terapkan kapan saja dan kala dengan siapa saja. Kuncinya takwa itu melahirkan akhlak.

Jika kita rajin ibadah, dzikir, tetapi buruk sikap kepada sesama, termasuk kepada lingkungan, maka itu artinya takwa belum hadir nyata dan menyala di dalam dada.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Insan yang bertakwa bukan saja ahli dalam ibadah, berakhlak baik, tetapi juga mengambil peran dalam pintu-pintu kebaikan, di antaranya dengan memperbanyak sedekah.

اتقوا النار ولو بشقة تمرة فمن لم يجد شقة تمرة فبكلمة طيبة

“Takutlah kepada api meski hanya dengan (sedekah) sobekan kurma. Siapa saja yang tidak menemukan sobekan kurma, maka bisa dengan kalimat yang baik,’” (HR Bukhari)

Hadirin sekalian, kita bisa merenungkan dengan mendalam, apa yang menjadi pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk kita memanifestasikan takwa dalam kehidupan kita. Yakni bersedekah. Siapa saja bisa bersedekah, karena itu teksnya menyebut, “meski hanya dengan sobekan kurma.”

Sekarang sedekah seperti itu bisa dilakukan siapapun. Saat kita membuka media sosial, ada ajakan donasi, sedekah untuk penyintas (korban) bencana alam, dan kita tidak punya yang bisa disumbangkan, maka bagikan konten itu sembari berniat mudah-mudahan saya bisa sedekah untuk membantu saudara kita.

Bahkan kalau memang seseorang tidak punya uang dan harta sedikitpun, ia tetap bisa bertakwa dengan melatih diri mengucapkan kalimat-kalimat yang baik.

Insha Allah jika hal ini kita sadari dengan baik, kemudian takwa menular kepada istri, anak, tetangga dan masyarakat luas, maka cepat atau lambat, Indonesia akan menjadi negeri yang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dibukakan pintu-pintu berkah, baik dari langit maupun dari bumi.

Karena itu, khatib mengajak kepada pribadi dan kita semua untuk terus berupaya membangun ketekunan ibadah, giat bekerja, dan gemar membantu dengan apa yang kita miliki. Dan, kita menyadari itu sebagai upaya nyata kita menjadi hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yang bertakwa.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو