SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur resmi dibuka bertempat di Aula Ruhui Rahayu lantai dasar Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, pada Kamis, 10 Sya’ban 1447 (29/1/2026).
Acara pembukaan Rakerwil dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan dan mitra strategis Hidayatullah. Hadir Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc., unsur Majelis Pembimbing Hidayatullah Ummul Qura Balikpapan, para Ketua ketua Dewan Pengurus Daerah serta Ketua Yayasan Kampus Madya se-Kalimantan Timur.
Selain itu, turut hadir organisasi pendukung tingkat wilayah seperti Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah Kalimantan Timur, BMH Perwakilan Kalimantan Timur, serta perwakilan dari Pengurus Wilayah Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur.
Dari unsur Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Rudy Mas’ud, S.E., M.E. berhalangan hadir dan diwakili oleh drh. Arief Murdiyatno, Staf Ahli Gubernur Bidang Sumber Daya Alam.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur, KH. Hizbullah AS, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur atas fasilitasi Aula Ruhui Rahayu sebagai lokasi pelaksanaan Rakerwil.
Menurutnya, dukungan tersebut memiliki makna simbolik yang merefleksikan hubungan baik dan kepercayaan antara Hidayatullah dan pemerintah daerah sebagaimana telah berjalan selama ini.
Hizbullah menyebut penyelenggaraan kegiatan ini sebagai momentum strategis bagi Hidayatullah Kalimantan Timur untuk melakukan konsolidasi organisasi sekaligus mempertegas peran dan kontribusinya dalam pembangunan daerah.
“Rakerwil ini menjadi forum evaluasi dan perumusan arah kebijakan organisasi yang selaras dengan dinamika sosial serta kebutuhan masyarakat Kalimantan Timur,” katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Hizbullah menilai bahwa penggunaan fasilitas pemerintah daerah untuk kegiatan Rakerwil menjadi penanda kesiapan Hidayatullah untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam kerja-kerja nyata pembangunan.
“Kolaborasi ini relevan dengan visi pembangunan Kalimantan Timur menuju Indonesia Emas, yang menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis dakwah dan pendidikan,” tekannya.
Ia menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah daerah merupakan peluang strategis bagi Hidayatullah untuk memperluas kontribusi sosialnya. Hizbullah menegaskan, Hidayatullah memiliki posisi yang memungkinkan untuk berperan sebagai mitra strategis pemerintah, khususnya dalam pembangunan manusia dan penguatan nilai-nilai keumatan.
“Peran peran yang kita lakukan hendaknya dapat dijalankan secara terukur dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas,” imbuhnya.
Dalam kerangka kerja organisasi ke depan, KH. Hizbullah juga menegaskan adanya tiga program utama yang menjadi fokus DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, yakni dakwah dan layanan umat, pendidikan, serta pemberdayaan umat.
Dia menegaskan, ketiga program ini sebagai pilar utama yang saling berkaitan dalam membangun kapasitas spiritual, intelektual, dan sosial-ekonomi masyarakat.
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur menjadi forum konsolidasi organisasi sekaligus ruang dialog strategis antara Hidayatullah dan pemerintah daerah dalam merumuskan kontribusi nyata bagi pembangunan Kalimantan Timur.
Acara yang berlangsung 2 hari ini dibuka secara resmi di Aula Ruhui Rahayu lantai dasar Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, pada Kamis, 10 Sya’ban 1447 (29/1/2026).
Dalam sambutannya, Staf Ahli Gubernur Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian Daerah, dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Timur, drh. Arief Murdiyatno, menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki sikap terbuka dan siap bersinergi dengan Hidayatullah.
Ia secara khusus menekankan bahwa bidang pemberdayaan umat merupakan salah satu ruang kolaborasi yang dinilai strategis dan relevan dengan agenda pembangunan daerah yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Arief menyampaikan bahwa Gubernur Kalimantan Timur saat ini tengah berupaya membangun konektivitas antarwilayah sebagai fondasi utama pemerataan pembangunan.
Menurutnya, penguatan infrastruktur dan keterhubungan antar daerah menjadi prasyarat penting agar program-program sosial dan ekonomi dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara lebih merata dan efektif.
Ia menjelaskan bahwa konektivitas yang baik akan memberikan dampak langsung terhadap efektivitas pemberdayaan umat.
“Jika konektivitas antar wilayah sudah terbangun dengan baik, maka pemberdayaan umat akan semakin mudah dan efektif,” katanya yang mewakili Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Rudy Mas’ud, S.E., M.E. berhalangan hadir.
Sejalan dengan hal tersebut, Arief menyatakan bahwa pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Timur. Dukungan ini tidak hanya dimaknai sebagai bentuk fasilitasi kegiatan, tetapi juga sebagai harapan agar forum tersebut mampu melahirkan gagasan-gagasan strategis yang berkontribusi nyata terhadap kemajuan daerah.
Menurut Arief, peran organisasi keumatan seperti Hidayatullah memiliki signifikansi penting dalam mendukung agenda pembangunan yang berkelanjutan. Ia menilai bahwa penguatan kapasitas organisasi masyarakat akan berdampak langsung pada kualitas pembangunan sosial, terutama dalam aspek pembinaan nilai, pendidikan, dan kemandirian masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Arief menegaskan adanya keterkaitan antara kemajuan organisasi dan kemajuan daerah secara keseluruhan. “Jika Hidayatullah Kaltim maju, maka Kalimantan Timur juga akan maju,” tegasnya, seraya menegaskan pembangunan tidak hanya bertumpu pada peran negara, tetapi juga membutuhkan kontribusi aktif dari elemen masyarakat sipil.
Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Timur ini diharapkan dia menjadi titik tolak lahirnya program-program strategis yang berorientasi pada dakwah transformatif, pendidikan yang mencerahkan, serta pemberdayaan umat yang berkelanjutan serta berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang religius, mandiri, dan memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan pembangunan ke depan.
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,
Sudah kita pahami bersama bahwa Ramadhan menawarkan begitu banyak keutamaan dan kemuliaan. Tetapi ada peringatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang hendaknya kita renungkan baik-baik.
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga” (HR Ath-Thabrani).
Sudah berapa kali dalam hidup kita melewati Ramadhan demi Ramadhan dan apa yang kita dapatkan selama ini. Kalau usia kita 40 tahun berarti kita sudah menjalani puasa sebulan penuh kira-kira 25 kali dalam 25 tahun terakhir sejak kita baligh.
Lantas, perubahan apa yang telah kita dapatkan?
Ramadhan menawarkan momentum perubahan yang fundamental bagi pribadi seorang mukmin maupun kehidupan umat Islam secara keseluruhan. Peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat Islam terjadi di bulan Ramadhan.
Perang Badar, pembebasan Mekkah (Fatkhul Makkah), sebagian peristiwa pada Perang Tabuk, pembebasan Andalusia (Spanyol) oleh Thariq bin Ziyad, dan sebagainya, termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi di bulan Ramadhan.
Di bulan Ramadhan ini orang beriman diharuskan meninggalkan makan, minum, melakukan hubungan seksual, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Diperintahkan kepada kita untuk menjaga mata, telinga, lisan, tangan, kaki, pikiran dan hati kita dari segala kemaksiatan.
Diperintahkan kepada kita untuk memperbanyak ibadah sunnah di samping tetap memperbaiki ibadah-ibadah wajib. Kalau itu semua kita lakukan dengan benar tentu akan ada perubahan besar dalam hidup kita.
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,
Untuk itu mari kita renungkan kembali apa sesungguhnya esensi Ramadhan itu bagi kehidupan kita.
Pertama;Ramadhan Bulan Tarbiyah (Pendidikan)
Setiap manusia sesungguhnya dilahirkan dalam keadaan fithrah. Inilah kondisi ideal bagi manusia karena ia telah bertauhid semurni-murninya sejak di dalam kandungan sampai ia dilahirkan.
Jiwa yang bertauhid inilah yang menjadikan manusia selalu merindukan kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang sempurna yang hanya bisa ia dapatkan ketika ia mendekat kembali kepada Penciptanya.
Setelah dilahirkan ke dunia, manusia yang dalam dirinya melekat hawa nafsu, berinteraksi dengan lingkungannya dan dipengaruhi godaan setan. Kondisi ini bisa merusak fithrahnya. Karena itu pendidikan yang sesungguhnya adalah mendidik diri agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan memiliki imunitas (kekebalan) dari berbagai godaan.
Sesungguhnya nafsu adalah anugerah Allah bagi manusia agar memiliki gairah dan semangat untuk keberlangsungan hidupnya. Tidak ada nafsu tidak ada kehidupan. Nafsu yang terkendali, seperti kuda tunggangan, akan mengantarkan manusia mencapai tujuannya.
Jika tidak terkendali, maka ia akan menyeret kita tak tentu arah dan tujuan. Ketika nafsu terkendali manusia akan kembali kepada keadaan fithrahnya. Karena itu puasa bukan sekedar lapar dan dahaga, tetapi pengendalian diri secara total dan pembebasan diri dari segala dominasi hawa nafsu.
Bukan sekedar tidak makan dan tidak minum tetapi juga tidak memakan yang bukan hak kita. Bukan sekedar puasa jasmani tetapi juga mempuasakan mata, telinga, lisan, kaki, tangan, hati, pikiran, dan perasaan kita dari segala kemaksiatan.
“Puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (HR Bukhori)
Kedua;Ramadhan Bulan Ibadah
Ibadah sesungguhnya memiliki dimensi yang sangat luas mencakup segala perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, yang nampak (dzahir) ataupun yang tidak nampak (bathin).
Tetapi, di bulan Ramadhan kita diperintahkan mengkhususkan diri taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan meningkatkan ibadah kita; sholat lima waktu berjamaah di masjid ditambah dengan sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah, bangun di tengah malam untuk tahajjud, doa, dzikir, tadarrus Al-Qur’an, dan beri’tikaf di masjid terutama pada sepuluh hari terakhir.
Sebelas bulan kemarin kita dibelit oleh kesibukan duniawi. Pada Ramadhan saatnya kita rihlah, mentamasyakan jiwa kita yang selama ini terlantar. Bebaskan diri kita dari segala kesempitan dunia dan mendekatlah kepada Allah yang maha luas rahmat-Nya. Mari kita sambut undangan Allah sebagaimana sabda Nabi:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Di bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan-setan dipenjara. Di bulan Ramadhan, ada satu malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. Orang yang terhalang dari kebaikannya, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikannya itu” (H.R. Ahmad dan An Nasa’i).
Ketiga; Ramadhan Bulan Muhasabah (Instropeksi Diri)
Kesibukan hidup seringkali membuat kita kehilangan kejernihan. Berbagai persoalan bertumpuk-tumpuk dan tidak menemukan jalan keluarnya. Banyak orang yang mencari alternatif ke arena-arena hiburan. Apa yang mereka dapatkan? Ketenangan, kejernihan berpikir, atau ketajaman wawasan?
Justru arena-arena hiburan itu akan menambah permasalahan, membebani otak, dan menumpuk berbagai permasalahan baru. Di sana kerakusan nafsu dan keberingansan hewani akan terpupuk.
Di bulan Ramadhan nafsu ditundukkan, jiwa akan menjadi lebih tenang. Dalam kondisi ini kita akan lebih jelas melihat persoalan hidup. Sebelas bulan kita cenderung lalai, kini saatnya bermuhasabah untuk menata kembali orientasi hidup kita. Pesan Nabi:
“Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keempat; Ramadhan Bulan Taubat
Setiap manusia pasti mempunyai dosa dan kesalahan. Dan sebaik-baik hamba yang berdosa adalah yang bertaubat kepada-Nya. Tetapi ketika dosa sudah bertumpuk-tumpuk, berurat dan berakar, bukan perkara mudah untuk bertaubat.
Ibarat tanaman yang baru tumbuh, mudah bagi kita untuk mencabutnya. Tetapi ketika ia sudah menjadi besar, tidak mudah kita mencabutnya apalagi ketika tenaga kita semakin melemah. Dibutuhkan energi ruhani yang luar biasa untuk berhenti dari setiap kemaksiatan.
Di bulan Ramadhan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan nafsu dikendalikan. Situasi ini sangat kondusif bagi kita untuk mengakhiri semua pelanggaran. Tentu saja ukuran kebenaran taubat kita adalah ketika kita nanti tidak mengulanginya lagi selepas Ramadhan.
Allah menawarkan ampunan bagi setiap hamba yang berdosa untuk kembali kepada-Nya. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa yang berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibu.” (HR: Ahmad, Ibnu Majah)
Kelima;Ramadhan Bulan Jihad
Turunnya perintah puasa di bulan Ramadhan beriringan dengan perintah jihad dalam Perang Badar pada tahun kedua hijriah. Kaum muslimin berperang dengan orang-orang kafir di bulan itu dengan tetap berpuasa. Puasa dan jihad sesungguhnya memiliki esensi yang sama yaitu berperang, terutama memerangi hawa nafsu.
Tidak mungkin orang akan berangkat berperang melawan musuh Allah kalau ia tidak bisa memerangi nafsunya sendiri. Demikian juga tidak mungkin orang bisa berpuasa dengan benar kalau dia tidak memerangi hawa nafsunya.
Karena itu sangat disayangkan di bulan Ramadhan ini sebagian umat Islam justru memupuk nafsu bermalasan dan memperbanyak tidur.
Menjadi pemandangan yang lumrah tetapi memprihatinkan, sebagian kaum muslimin melakukan hal yang sia-sia, bahkan maksiat; menunggu buka puasa dengan panggung hiburan musik, kebut-kebutan liar, main petasan, bahkan di beberapa tempat ada tradisi berjudi; malam hari di isi dengan begadang, mengobrol dan senda gurau; dan tradisi-tradisi lain, baik yang lama (dari nenek moyang) maupun tradisi baru, yang tidak ada hubungannya dengan ibadah Ramadhan.
Karena itu, mari kita menempa diri di bulan ini dengan bersungguh-sungguh berperang untuk menundukkan hawa nafsu kita dan bersungguh-sungguh meraih setiap keutamaan di bulan ini.
Keenam;Ramadhan Bulan Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:
“Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil),” (QS. Al-Baqarah: 185).
Al-Quran adalah pedoman hidup yang tidak boleh lepas dari kehidupan seseorang. Tanpa Al-Qur’an manusia seperti berjalan di tengah malam gelap gulita tanpa cahaya. Mari kita jadikan diri kita pribadi qur’ani. Keluarga kita keluarga qur’ani. Anak-anak kita generasi qur’ani. Dan masyarakat kita masyarakat qur’ani.
Mari kita bebaskan diri dari buta huruf dan buta makna Al-Quran dengan membacanya, memperbaiki bacaan, menterjemah, mempelajari tafsirnya, dan mentadabburinya (mengambil hikmah darinya).
Ketujuh;Ramadhan Bulan Ukhuwwah
Di bulan Ramadhan kaum muslimin banyak bertemu dan berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dalam ibadah ritual maupun ibadah sosial. Bahkan sabda Nabi berikut ini mengisyaratkan kepada kita agar membangun kebersamaan dan persatuan umat Islam.
“Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam) berpuasa, hari raya adalah pada saat kalian berhari raya” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Karena itu mari kita hindari perdebatan dan pertengkaran dalam hal-hal yang bersifat khilafiyah – furu’iyah. Para da’i, khatib, ustadz hendaknya menyampaikan pesan-pesan ukhuwwah, bukan malah memperuncing perbedaan yang memang tidak mungkin disamakan.
Perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyah – furu’iyah pasti akan terus terjadi, tetapi menjaga ukhuwwah adalah kewajiban kita. Mari kita memperbanyak silaturrahim, saling memaafkan dan memperbaiki hubungan, saling memberikan hadiah, saling menasehati, saling mendoakan.
Kedelapan;Ramadhan Bulan Sedekah
Puasa mengingatkan kita tentang orang-orang yang kelaparan karena kemiskinan dan kefakiran, yang kadang-kadang tak diketahui oleh orang-orang kaya. Allah hendak memberi kabar kepada mereka bahwa di sana ada saudara-saudara mereka yang tidur beralaskan tanah dan berselimut langit, tanpa secuil makanan.
Kalau kita lapar selama sebulan, ketahuilah orang lain telah merasa lapar selama berbulan-bulan. Mari kita jadikan puasa sebagai momentum untuk meningkatkan kedermawan dan solidaritas sosial. Hindari segala sikap berlebih-lebihan, berfoya-foya, pemborosan yang bisa menumpulkan jiwa sosial kita.
Siapkan harta untuk menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, dan memberi makan orang-orang yang berpuasa. Ibnu Abbas meriwayatkan:
“Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika ditemui Jibril. Jibril biasa menemui beliau di setiap malam bulan Ramadan, lalu beliau saling mempelajari Al-Qur`an dengannya. Sungguh Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam kebaikan dibanding angin yang berhembus” (HR Muttafaq ‘alaih)
Kesembilan;Ramadhan Bulan Dakwah
Dakwah adalah mempertautkan hati manusia dengan hidayah Allah dan merubah jiwa manusia kepada kondisi yang lebih baik dan diridhoi Allah. Hati manusia senantiasa berbolak-balik. Kadang menerima, kadang menolak. Kadang terbuka, kadang tertutup. Kadang semangat, kadang mengendor.
Kita diperintahkan berdakwah kepada manusia dengan cara yang baik. Allah Subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,” (QS An-Nahl: 125).
Pada bulan Ramadhan jiwa-jiwa manusia lebih terbuka sehingga lebih mudah menangkap hidayah Allah. Karena itu mari kita gencarkan syiar Islam dan semarakkan dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dan sebagainya. Semoga dengan demikian semakin banyak umat Islam ini yang tercerahkan.
Demikianlah berbagai hal yang menjadi esensi Ramadhan. Semoga puasa kita tidak sia-sia. Tidak sekedar lapar dan dahaga.
Semoga kita bisa menjalani Ramadhan pada tahun ini sebaik-baiknya dan berhasil meraih berbagai kemuliaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.
KARANGANYAR (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Suwito Abdul Fattah, S.Pd., S.E., M.M., mendorong agar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Bagian Selatan (Bagsel) memberikan perhatian lebih pada pengembangan sektor ekonomi organisasi. Dalam kesempatan yang sama, ia menyebut wilayah tersebut dikenal memiliki atmosfer kaderisasi yang kuat.
“Saya senang sekali hadir di sini. Karena DIY–Jateng Bagian Selatan, terutama Jogja dan Solo, dikenal sebagai dua daerah Hidayatullah yang memiliki atmosfer kaderisasi yang kuat,” ujar Suwito Abdul Fattah saat membuka Rapat Kerja Wilayah.
Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan mengusung tema Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi sebagai forum perencanaan dan penguatan arah kebijakan organisasi di tingkat wilayah ini diselenggarakan selama dua hari, 8-9 Syaban 1447 (27–28/1/2026).
Kegiatan tersebut bertempat di Kampus I Ma’had Aly Menara Al-Qur’an, Hidayatullah Karanganyar. Rakerwil secara resmi dibuka oleh Suwito Abdul Fattah. Peserta berasal dari berbagai unsur organisasi, meliputi pengurus Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, organisasi pendukung, serta unit amal dan badan usaha yang berada di bawah koordinasi wilayah DIY–Jateng Bagian Selatan.
Suwito Abdul Fattah menyampaikan bahwa penguatan ekonomi organisasi perlu menjadi perhatian ke depan. Ia menyampaikan harapan agar pengembangan ekonomi dapat berjalan seiring dengan penguatan kaderisasi yang telah dikenal di wilayah tersebut.
“Ke depan semoga Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan lebih memberikan perhatian juga kepada ekspansi ekonomi, agar kemandirian organisasi tercapai dan pengaruh positifnya semakin luas,” kata Suwito Abdul Fattah.
Suwito sebagai perwakilan dari DPP Hidayatulla sebagai pendamping forum menyampaikan harapan Rapat Kerja Wilayah ini menjadi ruang konsolidasi bagi seluruh unsur organisasi di wilayah DIY–Jateng Bagian Selatan.
Melalui Rakerwil, imbuhnya, terbangun keselarasan antara pengurus wilayah, daerah, dan unit-unit pendukung dalam menjalankan program organisasi. Pembahasan diarahkan pada penyusunan langkah-langkah kerja yang terkoordinasi dan berkesinambungan sesuai dengan tema yang diusung.
Dalam forum tersebut, para peserta membahas berbagai aspek penguatan organisasi, termasuk konsolidasi jati diri, transformasi kelembagaan, serta penyesuaian program kerja dengan dinamika yang berkembang.
Merespon Tantangan Masa Kini dan Masa Depan
Sebelumnya, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan, Abdullah Munir, S.Ag., dalam laporannya menyinggung tantangan yang dihadapi organisasi pada masa kini dan masa mendatang. “Semoga organisatoris dan kader Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan bersiap,” ujar Abdullah Munir dalam sambutannya.
Abdullah menyampaikan bahwa Rapat Kerja Wilayah merupakan forum penting untuk merespons tantangan tersebut. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan Rakerwil dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menyusun perencanaan organisasi. Menurutnya, perumusan program yang strategis dan efektif diperlukan agar arah gerak organisasi dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yang dihadapi.
Ia juga menyampaikan harapan agar Rakerwil dapat menghasilkan program-program kerja yang terukur dan relevan dengan target jangka menengah organisasi. “Oleh karena itu, Rakerwil ini hendaknya digunakan sebaik-baiknya untuk menyusun berbagai program yang strategis dan efektif,” ujar Abdullah Munir.
Ia menambahkan bahwa perencanaan tersebut diharapkan dapat mengantarkan organisasi pada capaian kemandirian dan pengaruh yang lebih kuat serta semakin menghadirkan maslahat lebih luas bagi umat dan kehidupan bangsa pada tahun 2030.
Sebagai informasi tambahan, profil organisasi serta aktivitas Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan dapat diakses melalui laman resmi dpwhidayatullahdiyjatengbagsel.org. Situs tersebut memuat informasi mengenai struktur organisasi, kegiatan, serta program yang dijalankan di wilayah DIY–Jateng Bagian Selatan.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Setiap Kamis pagi, sebuah ruang ibadah di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Balikpapan menjadi titik pertemuan antara nilai-nilai keislaman dan proses pembinaan warga negara.
Di ruang utama Masjid At-Taubah itu, ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan dan ditadaburi bersama para warga binaan, dalam sebuah kegiatan pendampingan rohani yang berlangsung rutin di tengah pengawasan dan aturan pemasyarakatan. Aktivitas ini menggambarkan bagaimana pembinaan spiritual dijalankan sebagai bagian dari upaya pembentukan kembali kesadaran keagamaan di lingkungan terbatas.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari program Dai Tangguh yang dilaksanakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerjasama dengan DPD Hidayatullah Balikpapan. Melalui program ini, simpul sinergi ini secara konsisten mengirimkan dai untuk melakukan pembinaan keagamaan secara intensif di Lapas.
Program tersebut dilandaskan pada komitmen agar akses terhadap dakwah dan ilmu agama dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan yang sedang menjalani masa pidana. Dalam konteks keindonesiaan, pendekatan ini sejalan dengan fungsi pembinaan pemasyarakatan yang menempatkan manusia sebagai subjek pembinaan.
Salah satu dai yang terlibat langsung dalam kegiatan ini adalah Ustadz Yasin Adnan. Dalam pendampingannya, ia menerapkan pendekatan tadabur Al-Qur’an yang disesuaikan dengan kondisi psikologis dan sosial warga binaan. Pembinaan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca teks suci, tetapi juga pada pemahaman makna dan relevansinya dengan kehidupan yang sedang dijalani para peserta pembinaan.
Ustadz Yasin Adnan menjelaskan bahwa aktivitas dakwah di dalam Lapas diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan mendorong perubahan sikap.
“Kami berupaya menumbuhkan kesadaran spiritual dan membangkitkan semangat untuk berubah. Di sini, kita tidak menghakimi masa lalu, tapi kita fokus menata masa depan melalui tuntunan ayat-ayat Allah,” ujarnya dalam keterangan yang diterima media ini, Rabu, 9 Syaban 1447 (28/1/2026).
Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan menunjukkan hasil yang teramati dalam keseharian warga binaan. Berdasarkan pelaksanaan program, terjadi peningkatan pemahaman keagamaan, konsistensi dalam menjalankan ibadah, serta tumbuhnya optimisme untuk menjalani kehidupan yang lebih terarah setelah masa pembinaan berakhir. Aspek-aspek tersebut menjadi indikator perubahan yang diharapkan dari pembinaan spiritual di lingkungan pemasyarakatan.
Program Dai Tangguh juga ditempatkan sebagai kontribusi BMH dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan. Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kalimantan Timur, Achmad Rifai, menyampaikan bahwa pembinaan mental dan spiritual memiliki peran penting dalam proses tersebut.
“Dengan mental dan spiritual yang terjaga, warga binaan diharapkan dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih religius, santun, dan produktif,” ungkapnya.
Dia mengatakan, pelaksanaan dakwah di wilayah khusus seperti Lapas memerlukan komitmen dan dukungan sumber daya yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, peran para donatur menjadi faktor penopang utama. Dana zakat dan infak yang disalurkan melalui BMH memungkinkan keberlangsungan program pendampingan dan memastikan para dai dapat menjalankan tugasnya secara konsisten di ruang-ruang pembinaan khusus.
“Pendampingan rohani di Lapas Balikpapan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga martabat manusia, membangun kesadaran beragama, dan mendukung proses pembinaan warga negara menuju kehidupan sosial yang lebih baik,” tandasnya.
MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Upaya penguatan peran dakwah dan kontribusi sosial Hidayatullah di daerah terus dilakukan melalui konsolidasi organisasi yang terarah. Demikianlah diantara mufakat dari penyelenggaraan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Barat yang mengangkat tema Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi di Pondok Pesantren Hidayatullah Kepulauan Mentawai dibuka pada Selasa, 8 Syaban 1447 (27/1/2026).
Konsolidasi tersebut dibersamai oleh unsur Dewan Pengurus Pusat sebagai pendamping, diikuti jajaran DPW Hidayatullah Sumatera Barat, serta Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Kehadiran lintas struktur ini upaya menyeluruh dalam memperkuat soliditas organisasi, sekaligus memastikan kesinambungan gerak dakwah, pendidikan, dan sosial berjalan dalam satu kerangka yang sama.
Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Nanang Noerpatria, dalam arahannya mengingatkan bahwa forum musyawarah menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah sebagai bagian dari kaum muslimin (jama’atun minal Muslimin) dalam menjaga identitas keislaman sekaligus berkontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kegiatan ini salah satu ikhtiar bagi kita untuk berperan aktif dalam pembangunan masyarakat hingga wilayah terluar,” katanya.
Nanang yang menyampaikan sambutan melalui Zoom Meeting menegaskan bahwa penguatan jati diri organisasi merupakan prasyarat utama dalam proses transformasi.
Menurutnya, identitas kelembagaan yang kokoh akan menjadi fondasi bagi terwujudnya organisasi yang mandiri dan memiliki pengaruh luas dalam melayani umat. Arahan tersebut menempatkan nilai-nilai keislaman sebagai dasar penggerak perubahan organisasi.
Dia kembali menekankan bahwa forum intelektual semacam ini hendaknya menjadi ruang pertemuan strategis untuk menyatukan visi, struktur, dan langkah dakwah termasuk di wilayah Sumatera Barat yang merupakan kawasan kepulauan yang memiliki tantangan geografis tersendiri.
Tiga Pilar Ranah Pengabdian
Pada kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Barat, Nurdin Ismail, melaporkan bahwa bahwa fokus kerja Hidayatullah di Ranah Minang ke depan diarahkan pada tiga sektor utama, yakni dakwah, pendidikan, dan sosial, yang selama ini menjadi pilar pengabdian HIdayatullah kepada umat dan bangsa.
Menurut Nurdin Ismail, Rakerwil menjadi momentum strategis untuk menyusun program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah pelosok dan kepulauan. Ia menyampaikan harapan agar keberadaan Hidayatullah di Sumatera Barat semakin dirasakan manfaatnya melalui program-program yang berkelanjutan.
“Peningkatan kualitas dakwah dan pendidikan menjadi perhatian utama dalam perencanaan program kita di Sumbar. Upaya ini dilakukan diantaranya dengan memperkuat kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam,” katanya. .
Selain itu, peningkatan kontribusi sosial juga menjadi target, khususnya pada sektor kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi, yang ia pandang sebagai instrumen penting dalam mendorong kemandirian lembaga dan masyarakat.
Dalam rangka memperluas jangkauan dakwah dan sosial, Nurdin Ismail menekankan pentingnya kerja sama dengan berbagai pihak. Kolaborasi dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan unsur masyarakat lainnya dinilai perlu untuk memastikan program yang dijalankan dapat memberikan dampak nyata.
“Interaksi dan kolaborasi dengan berbagai elemen umat ini tentu menjadi langkah strategi agar peran kita semakin terasa dalam kehidupan sosial kebangsaan,” katanya.
Nurdin juga menegaskan pentingnya penguatan penguatan sumber daya manusia. Ia menyampaikan bahwa peningkatan kualitas kader di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial merupakan kunci penguatan kinerja organisasi. Dia berharap, pengembangan SDM tersebut diharapkan mendukung terwujudnya organisasi yang mandiri dan mampu menjalankan amanah umat secara berkelanjutan.
MERAUKE (Hidayatullah.or.id) — Deru kendaraan memecah sunyi jalur darat yang membelah hutan dan kawasan rawa di Papua Selatan pada akhir pekan lalu. Rombongan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Selatan melakukan perjalanan bertajuk Turun ke Daerah (Turda) menuju Distrik Bupul dan Muting, dua wilayah di Kabupaten Merauke yang berada di kawasan perbatasan negara.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari agenda organisasi untuk memastikan kesinambungan program dakwah, pendidikan, dan pengabdian sosial di wilayah terluar Indonesia. Turda dilaksanakan sebagai langkah monitoring dan penguatan langsung terhadap struktur Dewan Pengurus Cabang (DPC) di daerah.
Ketua DPW Hidayatullah Papua Selatan, Zainal Abidin, mengatakan kegiatan untuk meninjau kondisi riil kader dai yang mengabdi di distrik setempat, lembaga pendidikan, serta pelaksanaan program yang selama ini dijalankan di tengah keterbatasan geografis dan akses.
Wilayah perbatasan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan bangsa, sementara dalam perspektif keislaman, dakwah di daerah tersebut adalah sebagai amanah yang harus dijaga keberlanjutannya.
Salah satu agenda utama rombongan adalah peninjauan unit pendidikan yang beroperasi di Muting, yakni RA Yaa Bunayya dan MI Integral Luqman Al-Hakim. Kedua lembaga tersebut menjadi rujukan masyarakat setempat dalam menyediakan pendidikan dasar berbasis nilai-nilai tauhid. Di tengah keterbatasan sarana dan jarak dari pusat kota, sekolah-sekolah ini menjalankan fungsi pendidikan sekaligus pembinaan karakter bagi anak-anak Papua.
“Kita ingin memastikan anak-anak di Bupul dan Muting mendapatkan kualitas pendidikan yang sama baik dengan mereka yang di kota,” ujarnya saat kegiatan berlangsung, Rabu (22/1/2026). Evaluasi meliputi proses pembelajaran, manajemen sekolah, serta kesiapan sumber daya manusia yang mengelola lembaga pendidikan tersebut.
Turda juga melibatkan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Papua Selatan. Rudi, selaku amil BMH, turut bergabung dalam rombongan sebagai bagian dari koordinasi program sosial dan pendampingan kader. Kehadiran BMH difokuskan pada penguatan dukungan logistik, pemberdayaan ekonomi lokal, serta pengamanan administrasi aset organisasi, termasuk tanah wakaf yang digunakan untuk kepentingan dakwah dan pendidikan.
Rudi menjelaskan bahwa keterlibatan BMH merupakan bagian dari tanggung jawab kepada para donatur. Dukungan yang disalurkan diarahkan agar para kader di wilayah perbatasan tetap mendapatkan pendampingan menyeluruh. Program tersebut mencakup keberlanjutan aktivitas sosial dan kepastian legalitas aset yang menjadi penopang dakwah jangka panjang di daerah.
Peningkatan Kapasitas SDM
Selain agenda monitoring dan pemeriksaan administrasi, kegiatan Turda diisi dengan sesi peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Para kader di Bupul dan Muting mengikuti pertemuan internal untuk menyampaikan kondisi lapangan, tantangan dakwah, serta menerima penguatan agar tetap konsisten menjalankan amanah. Forum ini menjadi ruang silaturahmi internal sekaligus konsolidasi organisasi.
Rombongan juga melakukan kunjungan silaturahmi dengan masyarakat setempat. Interaksi ini dilakukan untuk mempererat hubungan sosial dan memastikan keberadaan lembaga dakwah dan pendidikan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh warga sekitar sebagai bagian dari upaya membangun harmoni antara nilai keislaman dan kehidupan masyarakat lokal di wilayah perbatasan.
PALU (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan peduli lingkungan perlu dibiasakan dan dilakukan secara berkelanjutan karena menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Yayasan Hidayatullah Palu, Ustadz Firdaus, saat pelaksanaan Aksi Peduli Lingkungan Pesisir Pantai di Kelurahan Tondo, Kota Palu.
Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah aktivitas ibadah sepanjang hayat karena merupakan bagian dari tanggung jawab kolektif yang harus dijalankan secara konsisten oleh berbagai unsur masyarakat.
Aksi peduli lingkungan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 8 Syaban 1447 (27/1/2026), dan melibatkan ustadz serta santri Hidayatullah Palu bersama Pemerintah Kelurahan Tondo, Komando Distrik Militer (Kodim) 1306/Kota Palu, serta masyarakat setempat.
Kegiatan berlangsung di kawasan pesisir pantai yang berada di belakang Pondok Pesantren Hidayatullah Tondo. Lokasi tersebut dipilih sebagai ruang bersama yang memiliki fungsi ekologis penting sekaligus berdekatan dengan aktivitas masyarakat.
Firdaus mengatakan pelaksanaan aksi bersih pantai ini sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan pesisir. Kawasan pantai adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat pesisir, baik dari sisi sosial maupun ekologis. Oleh karena itu, upaya menjaga kebersihannya melibatkan berbagai pihak agar tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
Firdaus menyebutkan bahwa kerja sama antara pemerintah, unsur TNI, dan masyarakat, termasuk lembaga pendidikan keagamaan, menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bersama.
“Kerja sama ini merupakan bentuk kepedulian bersama sekaligus upaya memperkuat ikatan emosional antara pemerintah, TNI, dan Hidayatullah Palu. Sinergi seperti ini sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan aksi peduli lingkungan difokuskan pada pembersihan area pantai dari berbagai jenis sampah. Para peserta secara bersama-sama menyisir kawasan pesisir untuk mengumpulkan sampah yang berpotensi mencemari lingkungan. Aktivitas ini dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat setempat, sehingga proses pembersihan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak.
Selain kegiatan pembersihan, aksi ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan bagi warga. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya menjaga kebersihan pesisir sebagai bagian dari pelestarian alam.
“Edukasi tersebut disampaikan melalui praktik langsung, dengan menekankan bahwa kebersihan lingkungan berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat di sekitarnya,” katanya.
Kegiatan ini memperoleh respons positif dari masyarakat Kelurahan Tondo. Melalui pelaksanaan aksi peduli lingkungan ini, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan merupakan investasi jangka panjang.
PEMALANG (Hidayatullah.or.id) — Tim Siaga Bencana Laznas Baitulmaal Hidayatullah (BMH) dan SAR Hidayatullah melakukan aksi tanggap darurat penanganan darurat banjir bandang yang melanda Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Pemalang, Jawa Tengah, pada akhir Januari 2026, saat hujan masih turun sepanjang hari dan kondisi lapangan dinilai memerlukan penanganan cepat.
Hengky, Koordinator Lapangan aksi tanggap darurat BMH, menyatakan bahwa pihaknya tidak hanya mengirimkan logistik, tetapi juga terjun langsung bersama tim relawan gabungan lainnya membersihkan puing-puing bangunan yang terdampak serta mendistribusikan makanan siap saji untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi di tengah suhu dingin yang menusuk.
Banjir bandang tersebut menyebabkan situasi darurat di sejumlah wilayah Desa Penakir dan sekitarnya. Air bah yang datang secara tiba-tiba mengakibatkan kerusakan pada rumah warga serta memaksa penduduk meninggalkan tempat tinggal mereka.
Hingga Senin, 26 Januari 2026, suasana di lokasi masih dilaporkan mencekam karena curah hujan yang belum mereda dan adanya potensi banjir susulan.
BMH bersama SAR Hidayatullah bergerak ke lokasi bencana untuk melakukan aksi tanggap darurat. Kegiatan yang dilakukan mencakup proses evakuasi warga dari area rawan, penyaluran bantuan logistik, serta dukungan langsung di titik-titik pengungsian. Kehadiran relawan difokuskan untuk membantu warga yang terdampak langsung dan memastikan distribusi bantuan dapat menjangkau pengungsi secara merata.
Data lapangan menunjukkan bahwa lebih dari 1.900 jiwa terpaksa mengungsi akibat kerusakan rumah atau ancaman lanjutan dari banjir. Pengungsi tersebar di beberapa lokasi di Kecamatan Pulosari. Sebagian besar warga mengungsi di wilayah kecamatan dengan jumlah mendekati seribu jiwa, sementara ratusan lainnya bertahan di Masjid Desa Penakir dan di gedung SD Penakir yang difungsikan sebagai tempat pengungsian sementara.
Prioritas Keselamatan Warga
Dalam keterangannya, Hengky menyampaikan bahwa kondisi lapangan masih memerlukan perhatian intensif. Ia menyebutkan bahwa hujan yang turun sepanjang hari meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga.
“Kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan karena hujan turun sepanjang hari. Kami fokus pada evakuasi dan memastikan warga mendapatkan makanan layak,” ujarnya saat ditemui di lokasi pengungsian.
Selain distribusi logistik, relawan BMH terlibat langsung dalam pembersihan puing-puing bangunan yang rusak akibat terjangan banjir bandang. Kegiatan ini dilakukan untuk membuka akses lingkungan serta mengurangi risiko lanjutan bagi warga yang berada di sekitar lokasi terdampak.
Pada saat yang sama, makanan siap saji dibagikan kepada pengungsi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian, terutama di tengah kondisi cuaca yang dingin.
Respons atas kehadiran relawan disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat. Kepala Dusun Wanasari, Darno, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan BMH dan relawan di lapangan. Ia menyatakan bahwa bantuan yang diberikan sangat membantu warga dalam situasi darurat, terutama ketika banyak akses terhambat akibat genangan air dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh warga terdampak. Bapak Miskan, salah satu pengungsi yang saat ini bertahan di lokasi pengungsian, menyatakan bahwa bantuan evakuasi dan makanan yang diberikan sangat berarti bagi dirinya dan warga lain.
“Terima kasih kepada BMH dan para donatur. Bantuan makanan dan evakuasi ini sangat berarti bagi kami di saat akses sulit dan air masih mengancam,” ujarnya.
Hingga saat ini, ancaman banjir susulan masih menjadi perhatian utama di wilayah terdampak. Para pengungsi masih memerlukan dukungan untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
Kebutuhan tersebut meliputi makanan siap saji dan bahan pangan pokok, selimut serta perlengkapan bayi dan lansia, ketersediaan air bersih dan alat kebersihan, serta peralatan pompa air untuk membantu proses pembersihan lingkungan pascabanjir. Kondisi ini menjadi bagian dari situasi darurat yang masih berlangsung di Desa Penakir dan Kecamatan Pulosari.
GAMBARLAH sebuah garis, katakanlah 10 cm. Lalu tebalkan garis itu selebar 10 cm juga. Apa yang nampak? Apakah masih seperti garis?
Jawabannya garis itu telah tiada. Kini yang ada adalah sebuah bangun dua dimensi dengan keempat sisi berukuran sama. Di persekolahan, bangun ini dikenal dengan nama persegi, sementara di kehidupan sehari-hari dikenal dengan sebutan kotak.
Sekarang bagaimana jika garis 10 cm itu ditebalkan 3 cm saja, apa yang nampak? Apakah masih seperti garis?
Jawabannya kurang lebih, iya, garis itu masih nampak meskipun sudah mirip dengan persegi panjang. Akan tetapi karakteristik garis masih terlihat, yakni panjang garis dengan lebarnya memiliki perbandingan yang signifikan. Secara visual, dimungkinkan orang-orang masih menerima jika itu dinamakan garis.
Satu pelajaran yang bisa didapatkan dari kesemua uraian tersebut adalah urgensi karakteristik khas, dalam contoh ini berkaitan dengan visual. Bahwa sesuatu diberi nama tertentu karena memiliki satu atau lebih karakteristik khas. Karakteristik ini tidak berdiri sendiri, tapi hasil hubungan atau perbandingan satu komponen dengan lainnya. Sebagaimana pada contoh, panjang dengan lebar dibandingkan. Pada perbandingan tertentu, ditetapkanlah sesuatu itu sebagai persegi panjang, persegi, atau ‘sekedar’ garis.
Padahal proses yang dilalui garis menjadi persegi dan persegi panjang sama saja: Penebalan garis. Akan tetapi karena suatu tindakan berbasis perbandingan ukuran dilakukan, maka hasil akhirnya tidaklah sama. Alhasil penamaannya juga berbeda.
Demikian dalam kehidupan nyata. Suatu proses yang dilakukan dua orang atau kelompok mungkin sama. Akan tetapi karena ada perbedaan tindakan khas, maka sangat dimungkinkan hasilnya akan berbeda. Satu pihak menghasilkan A, sementara lainnya B.
Inilah dasar terhadap apa yang disebut transformasi. Sesuatu tidak dikenai tindakan acak, tapi khas. Ada prinsip-prinsip yang senantiasa dijaga dalam prosesnya. Alhasil semoga hasil yang diharapkan benar-benar tergapai.
Demikian halnya dengan transformasi organisasi. Tidak serta merta organisasi digerakkan tetapi ada sederetan prinsip yang memandu. Misalkan bentuk akhirnya seperti apa, sisi mana yang perlu digerakkan terlebih dahulu, serta siapa yang menjadi penggerak utama di berbagai jenjang.
Penguasaan organisatoris terhadap prinsip-prinsip transformasi organisasi diharapkan menjadi jaminan agar organisasi berubah ke bentuk yang benar-benar diharapkan. Jika tidak, organisasi mungkin akan berubah tetapi tidak sesuai ekspektasi. Meminjam kembali permisalan awal, rancangan organisasi awalnya persegi, namun hasil akhirnya menjadi persegi panjang.
Ada tiga hal dasar yang melahirkan prinsip-prinsip transformasi organisasi. Pertama, hasil akhir yang ingin dicapai, biasa diistilahkan dengan visi atau orientasi. Kedua, kapasitas kepemimpinan yang efektif, agar berkemampuan menggerakkan dan memberdayakan orang-orang di organisasi ke hasil akhir yang diharapkan. Sementara ketiga, keterampilan manajerial, mencakup seluruh aktivitas menata berbagai sumber daya untuk mendukung pergerakan orang-orang ke arah yang telah ditetapkan pemimpin.
Terkait visi atau orientasi, semua pihak di organisasi perlu memahaminya. Perihal ini sesuatu yang pokok agar energi individual, sosial, dan organisasional bergerak ke arah yang sama. Dengan demikian gerakan menjadi efektif.
Adapun kapasitas kepemimpinan dan keterampilan manajerial, keduanya dapat dibagi. Walaupun memiliki kesamaan, keduanya memiliki distingsi yang signifikan. Sehingga person-person yang perlu menguasai salah satu dari keduanya lebih mudah diidentifikasi.
Para pimpinan puncak merupakan pihak yang diharapkan memiliki kapasitas kepemimpinan tinggi. Sementara pimpinan di bawahnya atau bahkan staf perlu memiliki keterampilan manajerial yang mampu menyokong para pimpinan puncak. Keduanya menggerakkan organisasi ke arah yang diinginkan.
Lebih jauh, ketiga hal dasar yang melahirkan prinsip-prinsip transformasi organisasi tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya terikat oleh nilai-nilai yang diyakini organisasi. Semakin kokoh keyakinan atas nilai-nilai tersebut, semakin terikat ketiga hal dasar tersebut. Secara simultan, ketiganya lebih mudah saling menguatkan. Sehingga prinsip-prinsip transformasi organisasi lebih mudah dirumuskan serta dipahami orang-orang di organisasi.
Terakhir, organisasi disilakan memilih satu pendekatan atau pola transformasi organisasi. Para ahli telah mengenalkan aneka ragamnya. Pendalaman akademis perlu dilakukan organisasi jika ingin transformasinya berjalan lebih mulus. Wallah a’lam.[]
*) Fu’ad Fahrudin,penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah