Beranda blog Halaman 29

Transformasi atau Tertinggal, Membaca “Kuda Mati” dalam Tubuh Organisasi

0
Ilustrasi kuda mati (Foto: Ai Dream Lab/ Hidayatullah.o.id)

SAMBIL menyeruput kopi yang tidak lagi hangat di pagi basah, pikiran justru mulai panas memikirkan satu fenomena klasik yang terus berulang dalam sejarah organisasi: kuda mati (dead horse).

Sejak zaman sepeda onthel menjadi simbol kemajuan hingga era mobil listrik berteknologi AI racikan Tesla-nya Om Elon Musk, kisah jatuh-bangun organisasi mengalir seperti musik latar kehidupan. Kadang melankolis penuh ratapan, kadang menghentak riang, namun ujungnya sering sama: sebagian jatuh karena gagal membaca perubahan.

Pertanyaan yang sederhana namun menggelitik: mengapa organisasi besar, apalagi yang kecil, bisa terjungkal tragis justru saat berada di puncak kejayaan?

Disinilah metafora Dead Horse Theory hadir seperti tausiyah satir yang menampar halus. Petuah Suku Dakota tersebut berbunyi lugas: “If you realize you are riding a dead horse, the best strategy is to dismount.” Jika sadar sedang menunggang kuda mati, strategi terbaik adalah turun. Titik. Anak PAUD pun paham.

Masalahnya, organisasi sering jauh lebih kreatif daripada anak PAUD dalam menyangkal realitas. Alih-alih turun, mereka justru sibuk mengganti pelana, menyisir bulu-bulunya, mengadakan seminar “Kiat Memacu Kuda Mati di Era 5.0”, bahkan studi banding ke kandang tetangga. Satu hal yang tidak dilakukan: mengakui bahwa kudanya sudah wafat dengan khidmat.

Di balik semua itu sebenarnya ada ketakutan: takut kehilangan simbol, takut dituduh tidak loyal, takut dianggap mengkhianati sejarah. Padahal tradisi lahir untuk menjawab tantangan zamannya.

Ketika tantangan berubah, mempertahankan bentuk lama tanpa pembaruan justru mengubur ruh tradisi itu sendiri. Setia itu mulia, tetapi setia pada sistem yang mati adalah cara paling elegan untuk bunuh diri perlahan.

Al-Qur’an menegaskan hukum perubahan secara tegas, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). 

Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar di masa turbulensi bukan perubahan itu sendiri, melainkan bertindak dengan logika kemarin.

John P. Kotter bahkan dengan lantang menunjukkan bahwa banyak transformasi gagal bukan karena kekurangan ide, tetapi karena mentalitas lama masih bercokol.

Sementara itu Clayton Christensen dengan tajam menambahkan, kenyamanan terhadap model lama sering membutakan organisasi terhadap perubahan disruptif.

Kesibukan dan Ilusi Kemajuan

Di dunia korporasi, sindrom kuda mati tampil telanjang dan brutal. Kodak yang telah mengembangkan kamera digital sejak 1970-an, tetapi menahan inovasi tersebut hanya karena dihantui ketakutan menggerus produk lamanya (kamera analog) yang banyak menyumbang laba, akhirnya harus gigit jari meratapi kejatuhannya.

Ada pula Nokia, yang dikenal sebagai brand sejuta umat karena menguasai lebih dari sepertiga pasar ponsel dunia, akhirnya harus terkapar karena terlambat membaca pergeseran ekosistem aplikasi.

Berikutnya BlackBerry juga harus bertekuk lutut di bawah deru roda kompetisi karena terlalu lama percaya pada keunggulan abadi keyboard fisik. Dan Yahoo yang kehilangan fokus karena terjebak diversifikasi tanpa arah strategi yang jelas akhirnya meratap di pojok ruang sejarah dengan penuh penyesalan.

Mereka semua bukan bodoh. Mereka hanya terlalu cinta pada model dan metode lama yang pernah berjaya.

Riset global tentang transformasi organisasi menunjukkan bahwa lebih dari separuh inisiatif perubahan gagal bukan karena kekurangan dana atau teknologi, melainkan karena resistensi budaya dan keterlambatan mengubah cara berpikir.

Rasulullah ﷺ memberi prinsip efisiensi yang sangat relevan, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).

Dalam bahasa organisasi kira-kira berbunyi: berani menghentikan aktivitas yang tidak lagi berdampak adalah tanda kedewasaan, bukan tanda kurang loyal.

Wujud Kuda Mati dalam Organisasi

Pertanyaan strategisnya adalah, dalam bentuk apa kuda mati mewujud di sebuah organisasi? Pertanyaan ini penting karena dead horse dalam organisasi jarang tampil sebagai satu kesalahan kecil yang mudah dikenali. Ia lebih sering bersembunyi di jantung sistem, menyamar sebagai kebiasaan lama yang terasa wajar, bahkan dianggap suci karena sudah bertahun-tahun dilakukan.

Setidaknya ada 5 bentuk “kuda mati” dalam organisasi yang perlu diwaspadai bila mulai tampak gejalanya.

Kuda mati pertama biasanya hidup di kepala para pengambil keputusan. Cara berpikir yang pernah berhasil di masa lalu dipertahankan sedemikian rupa seperti kitab yang tidak boleh disentuh tafsirnya. Kritik dianggap pembangkangan, ide baru dicurigai sebagai ancaman stabilitas, dan data sering kalah pamor dari ‘apa kata’ senior. Akibatnya, organisasi seperti mengemudi sambil menatap kaca spion: terlalu fokus pada kejayaan masa lampau sampai lupa membaca tikungan di depan.

Kuda mati kedua menjelma dalam struktur dan tata Kelola organisasi yang kaku. Rantai keputusan bagitu panjang seperti antrean sembako zaman krisis tahun 1998, birokrasi gemuk, koordinasi antar unit penuh gesekan ego, dan energi habis untuk administrasi. Organisasi tampak sibuk dan rapi di permukaan, tetapi lamban merespons realitas di lapangan. Kapal terlihat gagah di pelabuhan, namun goyah ketika ombak datang.

Kuda mati ketiga sering tersembunyi dalam cara organisasi mengelola manusianya. Loyalitas buta dipuja, tetapi kapasitas sering diabaikan. Regenerasi berjalan alami tanpa desain, berharap talenta hebat lahir seperti hujan turun dari langit. Talenta muda tidak diberi ruang tumbuh, sementara yang senior nyaman di kursi lama. Intinya organisasi tidak memiliki human capital framework yang jelas, sehingga tidak memiliki konsep pengelolaan SDI yang utuh dan terintegrasi, mulai dari tahap recruitment, development hingga retirement. Akibatnya, organisasi rajin bekerja, tetapi miskin pembaruan.

Kuda mati keempat bersemayam dalam model layanan dan program. Banyak kegiatan terus dijalankan bukan karena masih relevan, melainkan karena “sudah dari dulu begitu”. Organisasi sibuk memproduksi aktivitas, bukan menciptakan perubahan. Kadang yang dilayani justru ego internal, bukan kebutuhan umat atau masyarakat (stakeholder). Ini seperti restoran yang bangga pada resep lama, padahal pelanggan sudah berubah selera dan pelayanannya tertinggal zaman.

Kuda mati kelima terletak pada fondasi ekonomi dan pembiayaan. Ketergantungan pada satu sumber dana, tata kelola keuangan yang kurang transparan, minim inovasi usaha, dan ketidakmampuan membaca peluang ekonomi membuat organisasi berjalan di atas es tipis. Program tampak gagah bertebaran di tabel hasil rapat kerja, tetapi napas keuangannya pendek. Idealisme tinggi, daya tahannya terancam rendah. Dalam jangka panjang bila darah organisasi mengalami krisis, semangat bisa habis sebelum misi organisasi tercapai.

Mengambil Langkah Transformasi

Transformasi bukan soal jargon atau kemampuan membuat tagline, bukan pula mengubah hal-hal yang bersifat asesoris (accessoriesable) dalam organisasi, melainkan keberanian mengganti cara hidup organisasi. Setidaknya ada lima langkah kunci yang perlu dijalani dengan disiplin.

Pertama, membangun kesadaran kolektif berbasis fakta, bukan perasaan. Kotter menempatkan rasa urgensi (sense of crisis) sebagai pintu awal perubahan. Organisasi perlu berani membuka data kinerja, kualitas dampak, tren partisipasi kader, dan suara masyarakat secara jujur. Banyak perusahaan besar memulai transformasi ketika berani menampilkan angka yang mungkin tidak nyaman di ruang rapat.

Kedua, memperkuat kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan adaptif. Drucker menegaskan bahwa strategi sangat tergantung dari kekuatan manusianya. Investasi pada kepemimpinan kolaboratif, melek literasi digital, mampu membaca kompleksitas jaman, dan berani mengambil keputusan berbasis data harus menjadi agenda inti organisasi.

Ketiga, menyelaraskan tata kelola dan proses internal agar tidak membunuh energi perubahan. Struktur yang gemuk, birokrasi berlapis, dan alur keputusan yang lambat adalah pembunuh senyap transformasi. Transparansi, akuntabilitas, pemanfaatan teknologi, inovasi dan kejelasan peran personal harus menjadi nafas kerja harian, bukan menjadi rutinitas mekanistik yang mematikan.

Keempat, memperkuat kualitas layanan dan nilai bagi seluruh stakeholder. Christensen mengingatkan bahwa organisasi sering kalah karena terlalu fokus pada kenyamanan internal dan lupa pada kebutuhan pengguna atau stakeholder. Dalam organisasi dakwah, jamaah, santri, walisantri, simpatisan dan donatur harus merasakan manfaat dan dampak yang nyata dari semua aktivitas yang dilakukan organisasi.

Kelima, memperkokoh daya dukung finansial dan keberlanjutan. Transformasi tanpa fondasi ekonomi ibarat membangun menara di atas pasir. Diversifikasi sumber pendanaan, tata kelola usaha yang profesional, transparansi keuangan, dan inovasi ekonomi umat harus diperlakukan sebagai bagian integrasi misi organisasi.

Lima langkah ini bukan pekerjaan satu malam, tapi perjalanan panjang yang menuntut disiplin, menjadi pembelajar sejati, berani mengoreksi diri, dan konsistensi eksekusi.

Di warung kopi, kita boleh terus bercanda. Tapi dalam ruang strategi, kita perlu mode serius: mungkin selama ini kita terlalu rajin merawat ‘kuda mati’. Tidak apa-apa. Itu tanda kita setia.

Tapi, kalau kita terus sibuk merawat kuda mati tanpa berani turun, kita bukan sedang bergerak maju tapi hanya menunda ketertinggalan dengan penuh percaya diri.

Meninggalkan kuda mati tidak berarti meninggalkan nilai. Nilai itu kompas, bukan kendaraan. Kompas boleh sama sejak dulu karena masuk perkara yang tsawabit, tetapi kendaraan wajib diganti kalau bannya botak dan mesinnya batuk-batuk karena masuk urusan mutaghayyirat.

Sejarah tidak pernah memberi penghargaan kepada mereka yang paling rajin merawat kuda mati, tetapi kepada mereka yang berani turun dari pelananya karena mampu membaca perubahan zaman. Allahu a’lam.

*) Akhmad Ali Subur, penulis Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah

Rihlah Ilmiah Pendidikan Menyatukan Akademisi dan Ormas dalam Ikhtiar Islamisasi Ilmu

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Atmosfer intelektual terasa begitu hidup selama tiga hari terakhir. Sebuah agenda besar bertajuk Rihlah Ilmiah Pendidikan mendalami konsep islamisasi ilmu berhasil menghimpun para pemikir, akademisi, dan praktisi pendidikan dari berbagai penjuru nusantara untuk menggali kembali akar peradaban Islam.

Agenda yang berlangsung selama tiga hari, Jum’at-Ahad, 27-29 Rajab 1447 (16-18/1/2025) di Kota Depok tersebut mempertemukan pemikir, akademisi, serta praktisi pendidikan dari berbagai latar belakang untuk mendalami gagasan Islamisasi Ilmu sebagai bagian dari upaya meneguhkan kembali akar peradaban Islam.

Rihlah Ilmiah Pendidikan ini menghadirkan dua tokoh pemikiran Islam kontemporer, yakni Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud dan Dr. Adian Husaini. Keduanya mengulas secara mendalam konsep Islamisasi Ilmu yang diperkenalkan oleh filosof Muslim terkemuka, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Pembahasan diarahkan pada kerangka pemikiran, tujuan, serta implikasi konsep tersebut dalam praktik pendidikan.

Forum ini diikuti oleh peserta dengan latar belakang yang beragam. Sejumlah profesor dari perguruan tinggi negeri ternama seperti Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Indonesia tercatat hadir. Selain itu, akademisi dari berbagai Perguruan Tinggi Swasta, termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah, turut berpartisipasi.

Kehadiran praktisi pendidikan juga terlihat melalui keterlibatan jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, perwakilan organisasi masyarakat Islam seperti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Hidayatullah, dan Persatuan Islam, serta jaringan pesantren Al-Qur’an seperti Wadi Mubarak dan Pondok Pesantren Al-Qur’an Permata. Komunitas pendidikan Jalanin yang berfokus pada pengembangan guru dan pelajar juga ambil bagian dalam diskusi dan perumusan langkah implementatif.

Peluncuan Buku Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud

Salah satu rangkaian penting dalam rihlah ini adalah peluncuran buku kumpulan syair terbaru karya Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud berjudul Pohon Kebaikan: Peradaban Fadilah.

Karya tersebut diperkenalkan sebagai kumpulan syair yang memuat pesan-pesan peradaban. Dalam sesi pembedahan buku, Dr. Khalif Muammar, yang merupakan murid Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyampaikan pandangannya terhadap karya tersebut.

“Prof. Wan Daud sering menyebut bahwa Muslim Indonesia itu seperti singa yang sedang tertidur. Puisi-puisi ini ditulis untuk membangkitkan singa tersebut agar tidak lagi menegasikan semangat membangun masyarakat berperadaban,” ujar Dr. Khalif.

Pandangan serupa disampaikan oleh ulama yang juga sastrawan Habiburrahman el Shirazy. Ia menyebut bahwa Prof. Wan tidak hanya berperan sebagai pemikir, tetapi juga sebagai penyair yang menyampaikan pesan pergerakan peradaban.

Buku keempat Prof. Wan tersebut, menurutnya, mengajak pembaca memahami hakikat peradaban Islam sekaligus mengenal ruh para tokoh besar sejak masa Rasulullah SAW, dengan penekanan pada nilai kesetiaan, kejujuran, kesungguhan, ketabahan, dan keberanian.

Rihlah Ilmiah Pendidikan ini dipandu oleh Dr. Nirwan dan Dr. Ardiansyah. Dalam berbagai sesi, peserta diajak mengeksplorasi konsep Dewesternisasi sebagai tahap awal sebelum Islamisasi Ilmu.

Dewesternisasi dijelaskan sebagai proses pembersihan ilmu dari elemen pandangan hidup Barat yang bersifat sekuler. Konsep adab ditempatkan sebagai pilar utama. Merujuk pemikiran Prof. al-Attas, krisis umat dijelaskan berakar dari hilangnya adab atau loss of adab, yang berdampak pada kekacauan ilmu dan problem kepemimpinan.

Dalam pemaparannya, Prof. Wan menyampaikan bahwa Islamisasi Ilmu merupakan langkah fundamental untuk mengembalikan ilmu kepada tujuan Ilahi serta mencegah penyimpangan akibat ilmu yang terlepas dari adab.

Ia juga menyebut bahwa gagasan tersebut telah diterapkan secara praktis di Indonesia melalui lembaga pendidikan At-Taqwa Depok yang didirikan oleh Dr. Adian Husaini. Lembaga tersebut diperkenalkan sebagai model penerapan Islamisasi Ilmu dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dengan adab sebagai fondasi utama di atas disiplin ilmu lainnya.

Rencana Aksi Bersama

Menjelang penutupan acara, para peserta menyepakati pentingnya menindaklanjuti khazanah ilmu yang diperoleh. Kesepakatan tersebut diwujudkan dalam rencana aksi bersama untuk melakukan pembenahan sistem pendidikan secara mendasar.

Rencana tersebut mencakup komitmen implementasi mandiri di masing-masing institusi, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Selain itu, peserta juga merumuskan rencana pengembangan paradigma bersama di kalangan pendidik melalui pendekatan Islamic Worldview. Langkah ini diperkuat dengan rencana integrasi kurikulum melalui penyusunan materi ajar berbasis konsep adab.

Sebagai bagian dari langkah strategis, para tokoh yang hadir menyatakan komitmen untuk melakukan advokasi kebijakan dengan memberikan masukan kepada pemerintah guna mendukung terwujudnya sistem pendidikan nasional yang berorientasi pada pembentukan manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Pemuda, Kaderisasi, dan Masa Depan Peradaban

0

PEMUDA selalu menempati posisi sentral dalam sejarah perubahan sosial dan kebangkitan peradaban. Dalam lintasan sejarah Islam maupun peradaban dunia, hampir seluruh proyek besar transformasi masyarakat digerakkan oleh generasi muda yang memiliki energi, idealisme, dan keberanian melampaui konteks zamannya.

Namun, kita juga harus menyadari bawah potensi tersebut tidak pernah tumbuh dengan sendirinya. Ia hanya bermakna ketika dipertemukan dengan sistem pembinaan, pendampingan, takwin, dan arah perjuangan yang jelas.

Relasi antara generasi muda dan generasi senior dalam sebuah gerakan atau organisasi selalu menyimpan dinamika khas. Pemuda hadir dengan kesegaran gagasan, kecepatan bergerak, dan keberanian bereksperimen, sementara generasi senior membawa kedalaman pengalaman, kearifan strategis, dan memori sejarah.

Tantangan utamanya kemudian bukan memilih salah satu, melainkan bagaimana mengintegrasikan keduanya secara produktif. Ketika relasi ini gagal dikelola, perbedaan mudah berubah menjadi jarak, bahkan konflik laten. Sebaliknya, ketika disinergikan, ia menjadi kekuatan peradaban.

Dalam konteks kaderisasi, persoalan pemuda tidak dapat dibaca semata dari sisi kuantitas. Jumlah yang terbatas sering kali menjadi alarm bagi perlunya evaluasi serius atas sistem pembinaan, daya tarik gerakan, dan relevansi pendekatan terhadap generasi baru.

Namun, kuantitas tidak pernah berdiri sendiri. Yang lebih menentukan adalah kualitas kader, terutama keberadaan inti kader yang memiliki militansi, kapasitas intelektual, dan kesiapan memikul amanah jangka panjang. Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar sering kali digerakkan oleh kelompok kecil yang terdidik dan terorganisasi dengan baik.

Pemuda, dalam perspektif organisasi dan peradaban, sejatinya adalah ruang inkubator kepemimpinan. Pada fase ini, kesalahan adalah bagian dari proses, kegagalan adalah ruang belajar, dan pendampingan menjadi kebutuhan utama. Menempatkan pemuda semata sebagai pelaksana teknis tanpa sistem pembinaan yang memadai berisiko melahirkan generasi yang cekatan bekerja tetapi miskin visi. Kepemimpinan strategis tidak lahir dari kelelahan lapangan semata, melainkan dari proses pematangan ide, karakter, dan tanggung jawab.

Keterlibatan pemuda dalam ranah politik juga merupakan keniscayaan historis. Politik, dalam makna luas, adalah ruang distribusi kekuasaan, kebijakan publik, dan sumber daya. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa politik bukan medan yang bisa dimasuki secara spontan dan emosional. Ia memerlukan perencanaan jangka panjang, seleksi kader yang ketat, integritas moral, kapasitas membaca situasi, serta dukungan struktural yang memadai.

Karena itu, tidak semua pemuda diarahkan ke politik praktis, melainkan disiapkan melalui pembentukan kelompok kader strategis yang matang secara intelektual dan etis.

Selain politik, advokasi sosial merupakan medan pembelajaran kepemimpinan yang tak kalah penting. Keterlibatan pemuda dalam pembelaan terhadap kelompok tertindas, korban ketidakadilan, dan masyarakat yang termarjinalkan adalah madrasah empati yang membentuk kepekaan sosial dan keberanian moral.

Di ruang inilah pemuda belajar memahami realitas umat secara langsung, bukan melalui wacana abstrak. Kepemimpinan yang lahir dari pengalaman advokasi semacam ini cenderung memiliki sensitivitas yang lebih dalam terhadap keadilan dan kemanusiaan.

Isu kemandirian juga perlu dibaca secara jernih. Kemandirian adalah tujuan pendidikan kader, tetapi tidak boleh dijadikan dalih untuk melepas tanggung jawab pendampingan. Dalam proses pembinaan, terdapat perbedaan tipis antara melatih kemandirian dan membiarkan kader berjalan sendiri tanpa dukungan.

Organisasi induk memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk menopang pemuda, termasuk dalam aspek dasar kehidupan, agar energi terbaik mereka tidak habis pada perjuangan survival individual, melainkan tercurahkan bagi misi kolektif.

Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah siapa yang mendampingi pemuda agar siap menjadi pemimpin peradaban di zamannya. Sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh besar tidak lahir secara kebetulan. Mereka dibentuk oleh sistem pendidikan, pembinaan ruhani, latihan intelektual, dan pendampingan guru-guru strategis.

Pemuda hari ini pun membutuhkan ekosistem serupa: mentor ideologis yang menanamkan visi peradaban, pendamping strategis yang membimbing langkah organisasi dan sosial, pelatih keterampilan hidup, serta lingkungan amanah yang tidak membiarkan mereka berjalan sendiri atas nama kemandirian.

Pada akhirnya, pemuda bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan penentu masa depan gerakan dan peradaban. Sinergi antara kearifan generasi senior dan semangat generasi muda adalah prasyarat mutlak keberlanjutan. Jika potensi telah disiapkan oleh sejarah dan zaman, maka manusialah yang bertanggung jawab menyiapkan jalan.

Kaderisasi tanpa pendampingan adalah ilusi, dan kemandirian tanpa dukungan berisiko menjadi penelantaran. Pemimpin tidak hadir sebagai pemberian instan, tetapi sebagai hasil dari proses panjang yang konsisten dan bertanggung jawab.[]

*) Ahmad Suyanto Barokah, penulis Pengurus Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah Surabaya Jawa Timur

Musyawarah, Mujahadah, dan Munajat Jadi Fondasi Kepemimpinan Muslimat Hidayatullah

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah, mujahadah, dan munajat menjadi tiga kata kunci yang mengemuka dalam Musyawarah Wilayah ke-III Muslimat Hidayatullah (Mushida) Banten. Konsep yang disingkat sebagai “3M” tersebut disampaikan sebagai penegasan arah kepemimpinan dan kerja organisasi ke depan, sekaligus menjadi refleksi atas tanggung jawab kolektif muslimah dalam mengelola amanah dakwah dan keluarga.

Penekanan tersebut mengemuka dalam forum musyawarah yang berlangsung selama dua hari dan dihadiri unsur pengurus wilayah serta peserta undangan.

Musyawarah Wilayah ke-III Mushida Banten diselenggarakan di Salsabila Tahfidz Boarding School, Serang, Banten, pada 28–29 Rajab 1447 H atau bertepatan dengan 17–18 Januari 2026, dengan mengangkat tema “Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas”. Forum ini menjadi wadah evaluasi sekaligus penetapan arah kebijakan organisasi muslimah di tingkat wilayah.

Sebagai forum tertinggi di tingkat wilayah, Musyawarah Wilayah memiliki posisi strategis dalam siklus organisasi. Agenda utamanya meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban Pengurus Wilayah kepada Pengurus Pusat, pemilihan serta penetapan kepengurusan baru, dan perumusan sejumlah keputusan organisasi yang akan menjadi acuan kerja lima tahun mendatang. Musyawarah Wilayah diselenggarakan secara periodik setiap lima tahun sebagai bagian dari mekanisme organisasi yang berjenjang.

Dalam forum tersebut, ditetapkan Dra. Muthmainnah, M.Pd., sebagai Ketua Majelis Murabbiyah Wilayah Mushida Banten untuk periode 2025–2030. Selain itu, Mar’atuss Sa’adah ditetapkan sebagai Ketua Pengurus Wilayah Mushida Banten pada periode yang sama. Penetapan ini menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan yang berlangsung melalui mekanisme musyawarah.

Ketua Pengurus Wilayah Mushida Banten terpilih, Mar’atus Sa’adah, dalam sambutannya menekankan pentingnya menghidupkan semangat 3M dalam kepengurusan. Menurutnya, musyawarah merupakan syariat Islam yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berfungsi memperkuat sistem organisasi melalui kebijakan yang terarah, terstandar, dan terintegrasi. Ia menyampaikan harapan agar prinsip ini terus dijaga dan dikembangkan dalam kerja-kerja organisasi ke depan.

Ia juga menyoroti mujahadah sebagai unsur kedua dalam 3M. Mujahadah dimaknai dia sebagai kesungguhan dalam menjalankan peran, khususnya peran muslimah yang seringkali tampak sederhana, namun memiliki dampak luas dalam pembentukan individu dan keluarga. Kesungguhan tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam membangun peradaban Islam dari lingkup paling dasar.

Adapun munajat ditempatkan sebagai unsur penutup dalam rangkaian ikhtiar. Setelah upaya dan kerja dilakukan secara maksimal, hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Pendekatan ini dipandang sebagai bentuk kesadaran spiritual dalam mengemban amanah organisasi. Ia menyampaikan keyakinan bahwa pertolongan akan datang ketika prinsip-prinsip tersebut dijalankan secara konsisten.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Banten, Ust. Dr. Ahmad Sudjaib, menyampaikan taushiyah yang menyoroti dinamika antara idealisme dan realitas dalam pelaksanaan program. Ia menyebut bahwa pragmatisme kerap muncul sebagai respons atas berbagai hambatan yang dihadapi organisasi.

Menurutnya, agar idealisme dan realitas tidak saling berbenturan, diperlukan kemampuan menurunkan ekspektasi dan mengelola ego. Ia juga mengingatkan agar muslimah tidak mudah terbawa perasaan dalam menjalankan amanah, karena hal tersebut dapat memengaruhi keikhlasan.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan memiliki dimensi amar ma’ruf nahi munkar dan merupakan bagian dari tugas kenabian. Oleh karena itu, kepemimpinan tidak diposisikan sebagai jabatan yang dikejar atau dibanggakan.

Ust. Dr. Ahmad Sudjaib lantas mengutip Surah Al-Hajj ayat 41 yang menegaskan karakter kepemimpinan yang berorientasi pada ibadah, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral, dengan kesadaran bahwa seluruh urusan akan kembali kepada Allah.

Hidayatullah Tegaskan Dakwah yang Hidup dan Keberlanjutan Pembinaan Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Perkaderan Nasional Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pada Sabtu, 28 Rajab 1447 (17/1/2025). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh jajaran pengelola perkaderan dari berbagai wilayah.

Rakornas digelar sebagai tindak lanjut dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah, sekaligus menjadi forum penguatan arah dan konsolidasi program perkaderan di tingkat nasional.

Rakornas dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan, Ust. H. Dr. Abdul Ghofar Hadi. Dalam pengantarnya, ia menegaskan pentingnya kesiapan struktural dan konseptual seluruh jajaran perkaderan wilayah dalam mengemban amanah organisasi. Menurutnya, perkaderan menempati posisi strategis karena menyangkut keberlanjutan dakwah dan pembinaan umat secara sistematis.

Ghofar menjelaskan bahwa Rakornas bertujuan memperjelas desain dan teknis pelaksanaan program perkaderan yang telah disusun oleh DPP. Dengan kejelasan tersebut, para kepala departemen perkaderan di tingkat wilayah diharapkan dapat mengimplementasikan program secara lebih terarah, terukur, dan selaras dengan kebijakan nasional organisasi.

“Kita ingin menegaskan kepada seluruh kepala departemen perkaderan wilayah agar mudah dalam menerapkan program yang telah disiapkan oleh DPP,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Ghofar menekankan bahwa perkaderan tidak dapat dipahami sebatas agenda administratif atau teknis organisasi belaka. Lebih dari itu, perkaderan menurutnya merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan kesungguhan, perencanaan yang matang, serta orientasi jangka panjang. Karena itu, seluruh prosesnya perlu dilandasi kesadaran dakwah dan tanggung jawab keumatan.

Tiga Tugas Pokok Perkaderan

Lebih lanjut, Ghofar menguraikan tiga tugas pokok perkaderan yang harus dipahami dan dijalankan oleh seluruh wilayah, yakni rekrutmen, pembinaan anggota, dan kaderisasi.

Ketiga aspek tersebut dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun kekuatan gerakan. Rekrutmen diarahkan untuk menjangkau individu-individu yang memiliki keinginan untuk berubah dan bertumbuh ke arah yang lebih baik. Pembinaan berfungsi menguatkan pemahaman, sikap, dan praktik keislaman anggota, sementara kaderisasi memastikan keberlanjutan kepemimpinan dan visi perjuangan organisasi.

Dalam konteks dakwah nasional, Ghofar menyoroti masih luasnya medan pengabdian umat Islam di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa masih banyak masyarakat Muslim yang belum memiliki kemampuan dasar membaca Al-Qur’an.

Ia menyebutkan angka sekitar 150 juta Muslim di Indonesia yang memerlukan pendampingan agar dapat merasakan ajaran Islam secara lebih dekat dan substantif. “Mereka perlu kita ajak agar dapat merasakan nikmat Islam secara langsung,” katanya.

Dalam keterangannya, ia juga menukil temuan Kementerian Agama Republik Indonesia yang merilis hasil Asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2025.

Berdasarkan asesmen tersebut, sebanyak 58,26 persen guru Pendidikan Agama Islam tingkat SD di Indonesia dinyatakan belum fasih membaca Al-Qur’an dan masih berada pada kategori dasar. Data ini diperoleh dari asesmen terhadap 160.143 guru PAI SD dan SDLB di seluruh Indonesia melalui aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi Guru Agama (SIAGA) Kementerian Agama.

Menurut Ghofar, temuan tersebut menunjukkan tantangan pembinaan umat yang masih besar. Jika pada level pendidik agama masih ditemukan keterbatasan dalam kemampuan membaca Al-Qur’an, maka kondisi masyarakat secara umum memerlukan perhatian yang lebih serius.

Oleh karena itu, Ghofar menegaskan pentingnya memperkuat kerja-kerja pembinaan umat dengan pendekatan yang mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan pedoman hidup.

Lebih lanjut, Ghofar menekankan bahwa mengajak dan membimbing masyarakat merupakan tugas mulia yang melekat pada kerja perkaderan. Perkaderan tidak boleh berhenti pada pemenuhan struktur organisasi semata, melainkan harus melahirkan semangat dakwah yang hidup.

Ia menjelaskan, perkaderan sebagai pekerjaan strategis untuk menghadirkan Islam secara nyata, sehingga masyarakat dapat merasakan keindahan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. “Kita punya tugas mengajak orang lain, agar mereka juga bisa merasakan keindahan nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Dia berharap Rakornas Bidang Perkaderan Nasional ini menjadi peneguh komitmen bersama seluruh jajaran untuk menjalankan amanah perkaderan secara konsisten. Melalui forum ini, diharapkan terbangun kesiapan kolektif dalam menggerakkan program pembinaan yang berakar pada nilai keislaman dan selaras dengan semangat keindonesiaan, sehingga dakwah dapat terus tumbuh dan memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Relawan Kemanusiaan Tembus Air Tinggi Demi Sepiring Harapan bagi Warga Mintobasuki

0

PATI (Hidayatullah.or.id) — Perjuangan tim kemanusiaan menembus Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi gambaran nyata beratnya kondisi banjir yang masih melanda kawasan tersebut. Debit air yang belum surut membuat akses darat tidak memungkinkan untuk dilalui. Dalam situasi itu, relawan terpaksa menggunakan perahu guna menjangkau rumah-rumah warga. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang menahan lapar di tengah bencana yang sedang berlangsung.

Upaya tersebut dilakukan oleh relawan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah bersama SAR Hidayatullah dalam kegiatan penyaluran bantuan makan siang gratis bagi warga terdampak banjir, Jumat, 27 Rajab 1447 (16/01/26). Dengan perahu bermesin, relawan menyusuri genangan air yang mencapai ketinggian dada orang dewasa. Deru mesin perahu terdengar di antara rumah-rumah yang sebagian besar masih dikepung air.

Aksi kemanusiaan ini merupakan bagian dari respon BMH terhadap bencana banjir yang melanda wilayah Pantai Utara Jawa. Dokumentasi singkat yang beredar memperlihatkan situasi lapangan saat bantuan diserahkan langsung kepada warga. Ekspresi syukur dan senyum penerima bantuan terekam jelas ketika makanan diterima di depan rumah masing-masing.

Koordinator Unit Layanan Zakat Kabupaten Kudus, Eko Kusniyanto, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan dilakukan secara serentak di beberapa lokasi terdampak. Menurutnya, tim bergerak sejak pagi dengan membagi wilayah kerja agar distribusi dapat menjangkau lebih banyak warga.

“Alhamdulillah, hari ini kami menyalurkan 1.000 bungkus makan siang gratis,” ujar Eko saat ditemui di lokasi kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa sebelum menuju Kabupaten Pati, tim terlebih dahulu menyisir wilayah terdampak banjir di Kabupaten Kudus. Desa Temulus dan Desa Bulung Kulon di Kecamatan Mejobo menjadi titik awal distribusi, sebelum relawan bergerak ke wilayah lain yang juga mengalami genangan cukup parah.

Sementara itu, kondisi di Kabupaten Pati disebut lebih menantang. Koordinator ULZ Pati, Mochammad Bahri, menjelaskan bahwa Desa Mintobasuki merupakan salah satu wilayah dengan akses paling sulit akibat tingginya permukaan air. Penggunaan perahu menjadi satu-satunya pilihan agar bantuan tetap dapat disalurkan langsung ke warga.

Bahri menegaskan bahwa prioritas utama tim adalah memastikan kebutuhan makan warga tetap terpenuhi. Setiap rumah yang dapat dijangkau didatangi satu per satu, dengan mempertimbangkan keselamatan relawan dan efektivitas distribusi.

Kehadiran relawan disambut haru oleh warga. Salah satunya Khoirul Umam, warga Desa Mintobasuki, yang mengaku tersentuh melihat para relawan datang di tengah kondisi banjir. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang diberikan.

“Terima kasih atas kepedulian BMH dan SAR Hidayatullah. Kami hanya bisa berdoa semoga BMH terus maju dan selalu peduli kepada kami,” ucap Khoirul.

Program penyaluran makanan ini menjadi bagian dari pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dari masyarakat. BMH menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan bantuan langsung bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau.

Eko Kusniyanto menambahkan bahwa bantuan sederhana seperti satu kotak nasi memiliki makna besar bagi warga yang tengah berada dalam situasi darurat. Menurutnya, dukungan publik menjadi elemen penting agar program kemanusiaan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih luas.

Menuju Tata Kelola Terpadu, Rakornas PTH 2026 Satukan Arah Perguruan Tinggi Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) memasuki fase konsolidasi nasional melalui pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional Pimpinan Perguruan Tinggi Hidayatullah (Rakornas PTH) Tahun 2026 yang digelar di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok.

Kegiatan ini resmi dibuka pada Kamis, 26 Rajab 1447 (15/1/2026) dan menjadi forum koordinasi nasional pertama yang secara khusus mempertemukan para pimpinan PTH dalam satu meja strategis.

Rakornas PTH 2026 diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Dikti Litbang) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Forum ini disebut sebagai ruang konsolidasi tata kelola, penguatan mutu akademik, pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta penyelarasan program kerja Dikti Litbang dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing kampus.

Ketua Departemen Dikti Litbang DPP Hidayatullah, Muhammad Saddam, M.Ak., menjelaskan bahwa Rakornas ini menjadi titik awal penting dalam membangun peta bersama pengembangan PTH secara nasional.

Dikti Litbang DPP Hidayatullah menerangkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan konsolidasi dan sinkronisasi kebijakan pendidikan tinggi di lingkungan Hidayatullah serta untuk memperkuat arah kebijakan mutu, standardisasi, dan akselerasi program kerja Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan.

Rakornas ini mengusung tema “Konsolidasi PTH dan Akselerasi Mutu: Laporan Kinerja, Standardisasi Sistem, dan Kolaborasi Global”. Tema tersebut mencerminkan fokus utama kegiatan, yakni penyusunan baseline capaian, tantangan, dan kebutuhan penguatan dari sembilan PTH yang berada di bawah naungan Hidayatullah.

Seluruh pimpinan kampus memaparkan laporan kinerja lima tahunan, mencakup data program studi, mahasiswa, dosen, akreditasi, sistem penjaminan mutu internal, implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education, serta capaian penelitian.

Dikti Litbang juga menekankan bahwa Rakornas PTH 2026 memiliki beberapa tujuan strategis. Di antaranya adalah memperoleh arahan langsung dari Ketua DPP Bidang Pendidikan, memvalidasi laporan kinerja PTH sebagai dasar perencanaan bersama, serta menyelaraskan program kerja Dikti Litbang Tahun 2026 dengan kebutuhan riil kampus. Forum ini juga diarahkan untuk merumuskan rekomendasi dan rencana aksi bersama yang akan menjadi pedoman implementasi selama tahun berjalan.

Agenda Rakornas

Agenda Rakornas berlangsung secara terstruktur. Hari pertama diisi dengan pembukaan resmi, arahan pimpinan pusat, serta presentasi laporan perkembangan seluruh PTH, mulai dari STAI Luqman Al Hakim Surabaya, STIS Hidayatullah Balikpapan, STIE Hidayatullah Depok, STT STIKMA Internasional, Institut Hidayatullah Batam, Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIA), STIT Mumtaz Karimun, STIT Samarinda, STIQ Ash Shiddiq Medan, hingga STIT Al Bayan Makassar.

Pada sesi-sesi berikutnya, Ketua Departemen Dikti Litbang DPP Hidayatullah memimpin pembahasan program kerja Dikti Litbang, konsolidasi strategi penerimaan mahasiswa baru 2026, hibah penelitian, serta rekomendasi pedoman organisasi terkait pengelolaan pendidikan tinggi.

Forum Rakornas juga menjadi wadah penguatan jejaring internasional melalui kunjungan kerja ke Kedutaan Besar Turki dan Malaysia. Agenda ini bertujuan menjajaki peluang kolaborasi global di bidang akademik, riset, dan pengembangan kelembagaan. Hasil kunjungan tersebut direncanakan akan dirangkum dalam bentuk peluang kerja sama, penunjukan penanggung jawab tindak lanjut, serta rencana implementasi konkret.

Melalui Rakornas PTH 2026, DPP Hidayatullah menargetkan lahirnya beberapa output penting, antara lain laporan kinerja PTH 2020–2025, matriks rencana aksi PTH 2026 per kampus, mekanisme koordinasi dan monitoring nasional, serta Komunike Rakornas PTH 2026 yang memuat keputusan dan rekomendasi strategis.

Ketua Institut Agama Islam Hidayatullah (IAIH) Batam Muhammad Siddik, M.Pd., memandang penting forum ini dalam menguatkan tata kelola lembaga dalam menghadapi tantangan dunia akademik masa depan. “Semoga Rakornas ini menjadi wasilah kebaikan dalam rangka meningkatkan mutu perguruan tinggi Hidayatullah,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Rizky Kurnia Sah, S.HI., M.E., menyebut forum ini sangat bermanfaat dalam memantapkan arah jejaring perguruan tinggi Hidayatullah.

“Gagasan dan ide ide dari forum ini harus diimplementasikan dalam dalam program kerja yang akan dilakukan, apalagi ini juga bagian dari rekomendasi arah straregis Hidayatullah,” katanya.

Rizki pun mengapresiasi STIE Hidayatullah sebagai tuan rumah dengan perkembangan pesatnya kini yang mencerminkan mutu dari kampus yang maju dan unggul serta sedang bertransformasi menjadi Universitas Hidayatullah Internasional (UHI).

Forum Rakornas ini juga menjadi ajang sinergi antara beberapa Departemen DPP Hidayatullah dengan para PTH diantaranya sinergi Departemen SDI, Departemen Rekrutmen, Departemen Pembinaan Anggota, dan Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah dalam rangka sinkronisasi agenda pengkaderan dan pengelolaan SDI Hidayatullah yang lebih koordinatif, sistematis, dan terstruktur.

SAR Hidayatullah Paparkan Tujuh Program Strategis dalam Rakernas 2026

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Alfarobi Nurkarim Enta, memaparkan arah dan kerangka program kerja SAR Hidayatullah dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026. Paparan bertajuk Program SAR Hidayatullah Sinergi dengan Induk tersebut disampaikan di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Rabu, 19 Rajab 1447 (14 /1/2026).

Dalam pemaparannya, Alfarobi menegaskan bahwa SAR Hidayatullah merupakan unsur relawan kebencanaan di bawah naungan organisasi Hidayatullah yang berfokus pada penguatan kapasitas mitigasi, respon darurat, serta pemulihan pascabencana.

Selama ini, SAR Hidayatullah aktif terlibat dalam operasi kemanusiaan, evakuasi korban bencana, distribusi logistik, serta pendampingan psikososial di berbagai wilayah Indonesia yang terdampak bencana alam.

Alfarobi menjelaskan bahwa sinergi dengan struktur induk organisasi menjadi kunci penguatan peran SAR Hidayatullah ke depan. Ia memaparkan tujuh program strategis yang akan menjadi pilar kerja nasional.

Program pertama adalah SIGAB atau Sekolah Tanggap, Tangguh, dan Aman Bencana yang berfokus pada edukasi mitigasi bencana seperti banjir, kebakaran, gempa, dan tsunami. Kedua, RAI atau Rangrang Adventure Indonesia sebagai lembaga pelatihan motivasi berbasis kegiatan indoor dan outdoor. Ketiga, Medical First Responder Sarhid Team yang difokuskan pada pelatihan pertolongan pertama bagi relawan.

Program keempat adalah Training Center 40, yakni pembinaan mahasiswa baru dan mahasiswa sebelum penugasan di Perguruan Tinggi Hidayatullah. Kelima, SARHIP atau SAR Hidayatullah Putri sebagai wadah pelatihan kebencanaan bagi pelajar putri dan mahasiswi, dengan fokus trauma healing, posko lansia dan anak, serta dapur umum.

Keenam, SAR Goes to School melalui pengembangan SAR Kids dan SAKA SAR sebagai sarana pengenalan kebencanaan sejak dini. Ketujuh, pembentukan Search and Rescue Unit di setiap daerah melalui komunitas dan relawan lokal yang dibina secara berkala melalui Halaqah Hidayatullah Rescue.

“Kerja SAR tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan visi dakwah dan pengabdian sosial Hidayatullah agar manfaatnya dirasakan lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Alfarobi.

Pria yang biasa disapa Bang Alfa ini menambahkan bahwa penguatan kader, disiplin pelatihan, dan jejaring daerah menjadi fondasi utama membangun SAR Hidayatullah yang profesional sekaligus berkarakter serta menegaskan komitmen untuk terus bertransformasi sebagai kekuatan relawan kebencanaan yang tangguh, terlatih, dan siap bersinergi dalam menjawab tantangan kebencanaan nasional.

Dari Baca Tulis hingga Multimodal Literasi sebagai Nafas Kaderisasi

0

LITERASI memiliki banyak definisi. Akan tetapi unsur-unsur utamanya jelas, antara lain baca, tulis, media, dan penangkapan makna. Unsur-unsur tersebut berpadu dalam proses yang kompleks.

Dalam perkembangan mutakhir, literasi tidak hanya tertuju pada teks dan visual. Sejumlah media lain dianggap sebagai sasaran literasi. Misalkan video dan audio book. Sebuah istilah dikenalkan untuk mewakili media-media non-teks tersebut, yakni teks multimodal.

Para ahli memperluas cakupan teks dan aktivitas literasi dikarenakan divergensi media yang cepat. Penggunaan media-media tersebut untuk menyampaikan pesan juga meningkat. Dengan memasukkan berbagai media dalam cakupan teks, semoga pengkajian ilmiah atas aktivitas literasi semakin intensif. Hasilnya masyarakat dapat menggunakan berbagai media untuk bertukar pesan secara efektif.

Kesungguhan para ahli terkait literasi menunjukkan pentingnya literasi dalam kehidupan manusia. Semakin baik literasi suatu komunitas, hampir dapat dipastikan kualitas kehidupan mereka juga semakin baik. Sebaliknya, literasi yang buruk menjadi pertanda buruknya kualitas kehidupan.

Hampir semua kegiatan manusia menggunakan literasi. Salah satunya kegiatan kaderisasi yang dapat dimaknai sebagai “serangkaian upaya untuk mengantarkan seseorang atau sekumpulan orang agar siap mengemban tugas tertentu”.

Kaderisasi tidak dapat dipisahkan dari organisasi, formal ataupun nonformal. Karena dalam kaderisasi, minimal tiga unsur: Pengkader, kader, dan sistem.

Ketiga unsur tersebut perlu berliterasi. Pengkader berliterasi dengan menelaah berbagai bahan kaderisasi serta menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam berbagai bentuk media. Gagasan-gagasan tersebut mencakup sistem dan materi kaderisasi.

Sementara kader berliterasi dengan menelaah pesan-pesan yang dikirimkan lewat berbagai media. Pesan-pesan tersebut utamanya dari pengkader. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan antarkader saling menulis dan menelaah pesan.

Kader juga berliterasi saat merefleksikan hasil belajarnya. Sebelum media elektronik maju, refleksi belajar lebih banyak berbentuk fisik. Sementara saat ini semakin beragam, salah satunya lewat media sosial.

Oleh karena itu hendaklah setiap organisasi memiliki ikhtiar meningkatkan kualitas literasi kadernya. Semoga dengan peningkatan kualitas literasi kader, peningkatan kapasitas berpikir dan bertindak kader mengalami kemajuan. Organisasi terimbas, semakin laju dan progresif.

Aktivitas literasi kader, terutama organisasi Islam, dilegitimasi oleh Al-Qur’an. Bahkan serangkaian ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun memiliki kaitan jelas dengan literasi, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah, yang mengajari dengan pena, yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (Terjemah Q.S. Al-‘Alaq: 1-5)

Dapat dipahami dari serangkaian ayat tersebut bahwa baca dan tulis tidak dapat dipisahkan. Sifatnya saling menguatkan. Ujungnya adalah manusia mengetahui perkara-perkara yang tadinya tidak diketahuinya.

Dalam hal ini dua aktivitas pokok tersebut perlu menjadi sentral aktivitas literasi kader. Kader yang membaca saja tapi tidak menulis, bagaikan makan tapi tidak beraktivitas sehingga lemak menumpuk. Maknanya akal kader mungkin terisi dan terasah, namun bisa kemudian segera tumpul kembali.

Hal ini dikarenakan menulis bisa mengantarkan insan (termasuk kader) menstrukturisasi pemikirannya. Pikirannya relatif lebih rapi setelah menulis. Selain itu menulis mengantarkan insan untuk membuat koneksi antar konsep dan gagasan. Koneksi tersebut, jika terus dilakukan dan dikuatkan, membuka peluang besar lahirnya kreativitas serta inovasi.

Satu perkara penting dalam baca-tulis adalah bismirabbik, menyebut nama Tuhan. Maknanya baca-tulis diarahkan pada pembangunan keyakinan bertuhan, mengenal dan taat kepada Allah ta’ala. Karena keyakinan ini fondasi bagi kehidupan berkualitas manusia.

Perkara penting berikutnya adalah memperluas objek bacaan dengan tetap mempertahankan integrasi yang didasarkan pada keimanan. Sehingga hasil aktivitas literasi memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Pengkader diharapkan menjadi contoh terkait literasi yang luas dan integratif, lalu mengarahkan kader-kadernya untuk melakukan hal yang sama.

Wujud konkritnya adalah pengkader menugaskan kader-kader membaca aneka teks multimodal dengan satu tema. Setelah itu diskusi dilakukan. Pelurusan dapat dilakukan pengkader dalam diskusi, jika diperlukan.

Wujud konkrit lainnya kader mendapatkan tugas menelaah satu dalil dengan sejumlah perspektif, lalu menjelaskan hasil telaahnya di forum diskusi. Berbagai masukan didapatkannya. Kematangan berpikir komunal semoga terbentuk.

Wujud konkrit yang tidak kalah penting adalah bahasa internasional. Minimal kader menguasai bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Arab diperlukan untuk menelaah sumber-sumber keagamaan yang bersifat primer. Sedangkan bahasa Inggris penting untuk memperluas cakupan sosialisasi.

Sebagai penutup, satu orientasi utama dalam kader berliterasi adalah kekokohan sekaligus kemandirian berpikir. Kader memiliki struktur berpikir yang sistemik dan sistematis. Sehingga perihal makro dan mikro, serta korelasi keduanya dapat dijelaskan kader secara gamblang.

Dengan demikian harapan lahir pengkader baru semakin terbuka. Bahkan tidak mustahil ideolog baru tumbuh. Apalagi basisnya adalah iqro’ bismirabbik.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Kekuatan Kolaborasi Warnai Semarak Diklat Water Rescue SAR Hidayatullah di Raja Ampat

0

​RAJA AMPAT (Hidayatullah.or.id) – Debur ombak Pantai Saleo 2, Raja Ampat, Papua Barat, menjadi saksi bisu lahirnya para pejuang kemanusiaan baru di tanah Papua Barat. Setelah digembleng selama 5 hari penuh sejak 10 Januari lalu, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Water Rescue SAR Hidayatullah Papua Barat resmi berakhir pada Rabu, 25 Rajab 1447 (14/01/2026).

​Berbeda dengan upacara pada umumnya, prosesi penutupan dilakukan langsung di laut. Para peserta yang berasal dari berbagai elemen organisasi berdiri tegap meski dihantam riak gelombang, melambangkan kesiapan mereka menghadapi tantangan bencana di masa depan.

​Kadiv Diklat PP SAR Hidayatullah, Khusnul Aqibah, yang hadir langsung untuk menutup kegiatan, menyampaikan rasa bangganya atas daya juang para peserta.

Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keberhasilan seorang relawan tidak hanya diukur dari kekuatan fisik, tetapi dari kecepatan nurani dalam merespons musibah.

​Senada dengan itu, Rohman, perwakilan instruktur dari Pos Basarnas Raja Ampat, menitipkan pesan mendalam bagi para peserta.

​”Kalian adalah perpanjangan tangan kami di lapangan. Di laut yang luas ini, ketenangan dan teknik yang tepat adalah kunci keselamatan, baik bagi korban maupun bagi diri kalian sendiri,” ujar Rohman saat menyampaikan kesan dan pesannya.

​Keberhasilan diklat ini merupakan buah dari keberagaman. Hal ini terlihat saat penyerahan merchandise kepada perwakilan peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari Garda Bangsa, Pemuda Hidayatullah, hingga semangat muda dari Mahasiswa UNIMUDA dan IAIN Sorong.

Tak ketinggalan, dedikasi dari rekan-rekan RAPI Wilayah 01 Sorong, Tagana, serta komunitas unik Pecinta Kopi Hitam (PKH) turut mewarnai kolaborasi ini.

​Puncak haru terjadi saat pengumuman Peserta Teladan dan Peserta Terbaik. Penghargaan ini bukan sekadar gelar, melainkan simbol dedikasi tertinggi selama mengikuti materi yang menguras fisik dan mental di perairan Raja Ampat.

Sinergi untuk Negeri

Dibalik suksesnya acara yang melibatkan banyak personel ini, terdapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Fadhlurrahman Anshari, selaku Koordinator Penyelenggara, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pemanfaatan bantuan hibah yang tepat sasaran.

​”Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat. Tanpa dukungan hibah tersebut, peningkatan kapasitas relawan ini sulit terwujud seoptimal ini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan masyarakat Papua Barat,” tegas Fadhlurrahman.

​Saat matahari mulai bergeser di ufuk Pantai Saleo, para peserta pulang membawa ilmu dan semangat baru.

Kini, Papua Barat memiliki tambahan barisan penyelamat yang siap sedia saat panggilan kemanusiaan memanggil dari tengah lautan.