Beranda blog Halaman 307

Mahasantri Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas Jalani Ujian Terbuka

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ahad, 6 Sya’ban 1444 (26/2/2023) menjadi hari yang berbahagia bagi para santri-santri Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Ciomas. Karena hari ini, mereka melaksanakan ujian terbuka.

Ada 34 santri SDH ini telah melewati pembelajaran kurang lebih satu tahun. Ditempa dengan berbagai kegiatan dan pembelajaran sebagai bekal mereka di daerah menjadi dai muda.

Penanggung jawab ujian terbuka ini, Ust. Ahmad Zainuddin, menyampaikan di awal acara bahwa ujian terbuka ini bagian dari rangkaian akhir mereka belajar di SDH. “Ini dilakukan setiap tahun hingga angkatan delapan ini,” kata Zainuddin.

Zainuddin mengatakan, tujuan ujian terbuka adalah untuk evaluasi hasil pencapaian belajar santri. “Ini menjadi motivasi bagi santri-santri berikutnya, serta syiar Islam bagi dunia dakwah,” imbuhnya.

Satu persatu, santri SDH dipanggil untuk diuji dan dipersaksikan oleh teman-temannya. Menjadi tantangan yang menarik dan memotivasi.

Ujian terbuka di SDH dilakukan oleh 4 penguji. Pertama, ada Ust. Samani Harjo yang menguji kemampuan tahsin dengan hukum-hukum tajwid.

Penguji kedua, Ust. Saefuddin Abdullah, Lc, yang juga sebagai direktur SDH menguji Bahasa Arab. Kemudian, penguji ketiga yaitu Ust. Abdul Ghofar Hadi selaku Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah yang diundang untuk menguji bidang tahfidz.

Ada juga penguji keempat yaitu Ust. Muhdi Muhammad yang menguji kemampuan terjemah al Quran atau MBA. Mereka yang diuji rata-rata siap dan memiliki kemampuan yang mumpuni.

Dalam acara penutupan ujian terbuka ini, Ust. Abdul Ghofar memberikan apresiasi terhadap kemampuan para santri SDH. Menurutnya, pencapaian yang luar biasa dimana mereka belajar dalam kurun waktu relatif singkat tapi bisa menguasai beberapa disiplin ilmu.

Namun, Abdul Ghofar berpesan agar tidak puas dengan pencapaian ini. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari dan dikuasai.

“Harus senantiasa dinyalakan semangat belajarnya untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya sehingga bisa memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.

Ust. Muhdi juga memberikan pesan agar pengalaman belajar di SDH menjadi modal untuk belajar lebih tekun lagi. “Belajar tidak mengenal umur dan waktu,” pesannya.

Tak lupa, Ust. Saefuddin mengingatkan bahwa ujian terbuka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan ujian di akhirat oleh malaikat. “Tidak ada revisi dan perbaikan. Tentu lebih dahsyat pertanyaan dan resikonya karena terkait surga atau neraka,” katanya mengingatkan.

Sesi terakhir kegiatan ujian ini adalah pemberian hadiah kepada dua santri terbaik dalam ujian terbuka ini. Yaitu diraih oleh juara 1 Abdul Hafidz dan juara 2 saudara Muhammad Yusmin.*/(agh/par)

Surabaya Tuan Rumah Musyawarah Kampus Induk dan Utama

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah (PPH) Surabaya menjadi tuan rumah gelaran Musyawarah Khusus Yayasan Kampus Induk dan Utama Hidayatullah yang diikuti oleh unsur organisasi, pembina, dan pengurus pada Kamis-Ahad, 3-5 Sya’ban 1444 H/ 23-26 Februari 2023.

Tema yang diangkat dalam Musyawarah Khusus ini adalah “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik Kampus Induk dan Utama.”

Kampus induk merupakan kampus pioner Hidayatulah yang berada di Balikpapan. Adapun kampus utama adalah kampus yang menjadi basis penyebaran Hidayatullah di berbagai wilayah di Indonesia dengan ketentuan syarat tertentu, mulai dari jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki, jumlah santri, dan seterusnya. Kampus ini berjumlah tujuh, yaitu; kampus Hidayatullah Surabaya, Medan, Depok, Makassar, Medan, Batam, timika.

Dalam Musyawarah Khusus ini, pengurus membahas berbagai hal terkait dengan konsolidasi jati diri organisasi, serta wawasan menuju standarisasi, sentralisasi, dan integrasi sistemik kampus induk dan utama.

Pada sambutannya dalam pembukaan musyawarah, Ketua Pelaksana, Ust. Muhammad Syakir, mengatakan bahwa konsolidasi jati diri organisasi menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan agar Yayasan Hidayatullah dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat.

“Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan yang diberikan oleh lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Hidayatullah,” tegasnya.

Selama tiga hari berlangsung, Musyawarah Khusus ini diisi dengan presentasi, diskusi, dan pertukaran gagasan antar pengurus dari berbagai lembaga pendidikan.

Beberapa topik yang dibahas dalam Musyawarah Khusus ini antara lain tentang standardisasi kurikulum, integrasi sistem informasi, pengembangan sumber daya manusia, dan peningkatan kualitas pelayanan.*/Robinsah

Visi sebagai Modal Besar Dai dalam Berdakwah Ditengah Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan seorang dai ditengah umat akan dirasakan manakala ia memiliki visi Lillahi Ta’ala sebagai modal besar dalam menjalankan perannya sebagai juru dakwah yang menyampaikan pencerahan di tengah umat.

“Disinilah pentingnya para dai untuk memiliki visi yang jelas dalam menjalankan tugas sebagai pencerah di tengah umat,” kata Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Drs. H. Nursyamsa Hadist di Jakarta.

Hal ini menjadi poin penting yang disampaikan oleh Nursyamsa Hadist dalam agenda Sarasehan Dakwah dan Upgrading Dai di Coworking Space, Lt. 4, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 2 Sya’ban 1444 (23/2/2023).

Pada kesempatan tersebut, Nursyamsa memberi penguatan kepada seluruh puluhan perwakilan dai muda yang hadir dalam agenda sarasehan dengan mengutip kitabullah surah Ali Imran ayat 110.

“Jalan dakwah adalah jalan terbaik, sehingga jangan ada keraguan sedikitpun dalam menjalankan tugas sebagai seorang dai. Allah dan Rasul-Nya yang memberi jaminan sebagai umat terbaik disebabkan tugas menjadi penyeru kepada yang ma’ruf serta mencegah yang mungkar,” katanya.

Di kesempatan yang sama, narasumber lainnya yaitu Anggota Dewan Murabbi (DM) Hidayatullah KH. Zainuddin Musaddad atau yang lebih akrab dengan sapaan Abah Zain berkesempatan menyampaikan materi Jatidiri Hidayatullah.

Abah Zain menekankan kepada seluruh kader dai yang hadir dalam agenda sarasehan agar keenam poin Jatidiri Hidayatullah hendaklah mampu ditampilkan menjadi kepribadian seorang dai. Enam Jatidiri Hidayatullah itu adalah: 1. Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, 2. Ahlus Sunnah wal Jamaa, 3. Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, 4. Imamah dan Jamaah, 5. Jama’atun minal muslimin, dan 6. Wasathiyah.

“Tugas kita ini menampilkan jati diri Hidayatullah dalam diri kita, bukan diminta untuk mengurai keenam poin itu lalu kemudian disampaikan ke orang lain. Kalau ini bisa ditampilkan, diperagakan, bahkan sekedar senyum saja, orang sudah tertarik untuk ikut dalam barisan Hidayatullah,” imbuhnya.

Dia menegaskan, betapa pentingnya jati diri itu melekat dalam diri seorang dai sehingga tidak boleh hanya terdengar suara. Enam nilai utama itu juga harus tertancap dalam jiwa sehingga terwujud dalam sikap dan tingkah laku seorang pejuang.

“Dengannya akan dibukakan jalan kemudahan, dipertemukan dengan orang-orang shaleh, Allah yang akan mengurus urusan kita serta memberikan ilmu yang belum kita pahami,” tambah Abah Zain.

Selanjutnya yang menjadi pemateri ketiga adalah Anggota Dewan Muzakarah Hidayatullah Ust. Akib Junaid. Dalam kesempatan sarasehan dakwah tersebut, pembina Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) ini berbagi kiat-kiat dalam menjawab peluang serta tantangan dakwah khususnya di Ibu kota DKI Jakarta.

Akib menyampaikan bahwa peluang dakwah khususnya di DKI Jakarta sangat besar dibandingkan dengan daerah lain. Dia menyebutkan, dengan jumlah populasi yang begitu besar serta kemudahan fasilitas yang lengkap memungkinkan untuk membangun kerjasama (kolaborasi) dengan berbagai pihak, utamanya para pengurus masjid (DKM), baik masjid yang terletak di tengah pemukiman warga maupun yang ada di instansi pemerintahan dan perkantoran.

“Salah satu cara menemukan lahan dakwah adalah dengan bergerilya, gencar silaturahim dalam rangka membangun jaringan dan persaudaraan. Bagaimana mungkin kita bisa memanfaatkan peluang dakwah yang ada kalau kemudian kita tidak mau bergerak,” tantang Akib.

Sekaligus yang menjadi tantangan dakwah di DKI Jakarta adalah tingkat keseriusan kita dalam memanfaatkan peluang. Menurutnya, kesiapan dalam menyergap serta memaksimalkan peluang dakwah menjadi satu tantangan tersendiri dikalangan para dai.

“Disinilah pentingnya kita berada dalam dakwah berjamaah seperti KMH. Sebab dakwah ini adalah pekerjaan besar dan tidak ringan, sehingga harus dilakukan secara bersama”, tambahnya.

Selanjutnya, terang Akib lebih jauh, agenda dakwah juga perlu menentukan target. Pendek, menengah, dan target jangka panjang. Karena besarnya target yang ingin dicapai, maka besar pula SDM yang perlu disiapkan. Sehingga dia menyarankan KMH sebagai wadah para mubaligh/dai perlu secara serius dalam mencetak, mengupgrade serta merekrut dai.

“Ini perlu dipersiapkan secara serius agar tidak terkesan asal-asalan, sehingga target sukses dakwah di DKI Jakarta dapat terwujud,” tandasnya.*/Adam Marzuki Attinigi

Sambut Ramadhan KMH Gelar Sarasehan Dakwah dan Upgrading Dai

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyambut bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari, lembaga yang secara khusus mengkoordinasi dan mendelegasi sumber daya dai Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) gelar Sarasehan Dakwah dan Upgrading Dai di Coworking Space, Lt. 4, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 2 Sya’ban 1444 (23/2/2023).

Kegiatan ini dihadiri oleh 50 peserta perwakilan dai muda dari Jakarta, Banten, dan sejumlah perwakilan daerah dari daerah Jawa Barat. Kegiatan yang digelar intensif sehari ini menghadirkan sejumlah narasumber.

Hadir sebagai narasumber yaitu Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang juga Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah Ust. Drs. H. Ahmad Yani.

Penulis 58 buku ini menyampaikan materi dengan tema “Mempersiapkan Materi Dakwah yang Singkat, Menarik dan Berbobot”.

Selain itu, hadir pula narasumber lainnya dalam Sesi Sarasehan Dakwah yaitu pembina Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Ust. H. Akib Junaid Al Hafidz, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Drs. H. Nursyamsa Hadis, anggota Dewan Murabbi (DM) Hidayatullah KH. Zainuddin Musaddad dan dipandu oleh Ketua Posdai DKI Jakarta Ust. Abdul Maliki.

Direktur KMH Ust. Iwan Abdullah mengatakan program seperti ini penting bagi para muballigh untuk meluruskan motivasi, meluaskan wawasan, dan meningkatkan kemampuan dakwah.

Ia menyampaikan ucapan terima kasih serta memberikan semangat kepada para dai yang selama ini tetap istiqamah dalam barisan KMH dalam menyampaikan pencerahan ditengah umat. Dia mengungkapkan bahwa tujuan dari Sarasehan Dakwah adalah konsolidasi dan koordinasi serta pembekalan keilmuan dan peningkatan wawasan para dai dalam menyampaikan materi dakwah.

Iwan menjelaskan, KMH sebagai lembaga dakwah yang dibentuk oleh Hidayatullah bertujuan mewadahi para dai atau muballigh dalam hal peningkatan wawasan serta kemampuan dalam menyampaikan materi dakwah yang menarik.

“Upgrading ini juga sebagai ikhtiar meningkatkan kapasitas muballigh agar memiliki daya dorong dalam peningkatakan pemahaman serta perubahan dalam beribadah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah. Ini sebagai bentuk komitmen KMH dalam menyiapkan dai yang memiliki kapabilitas dalam mencerahkan umat,” kata Iwan.

Agenda KMH tersebut dilangsungkan agenda Sarasehan Dakwah yang mengusung dua kegaiatan sekaligus, yaitu upgrading Dai Ramadhan dan Sarasehan Dai KMH yang dihadiri oleh para Mubaligh dari wilayah Jabodetabek yang sudah tergabung dalam KMH.

Dijelaskan Iwan, agenda Sarasehan Dakwah bertujuan untuk menambah kemampuan para dai dalam menyampaikan materi dakwah yang singkat tetapi memuat pesan mendalam dan juga memperkuat jati diri seorang dai sebagai pengemban amanah kenabian yang menghendaki perubahan dalam hal keilmuan, ibadah, serta sikap dan tingkahlaku pada umat.

“Bulan suci Ramadhan menjadi salah satu momentum dalam menyampaikan dakwah ditengah umat. Sebab diwaktu-waktu inilah jamaah banyak mendatangi masjid atau musalla untuk melaksankan shalat wajib maupun sunnah secara berjama’ah. Sehingga dibutuhkan kesiapan para dai dalam penguasaan materi, terlebih lagi, membangun kecakapan menyampaikan materi dakwah dalam durasi ceramah yang proporsional,” kata Iwan.

Dalam sesi Upgrading Dai Ramadhan, Ust. Drs. Ahmad Yani, salah satu dai kondang yang sudah malang melintang di dunia dakwah baik melalui lisan maupun pentingnya dai menguasai materi dan mampu berkomunikasi efektif dan efesien.

“Jangan menjadi ustadz yang bingung. Kuasai banyak materi, sehingga dalam situasi apapun, antum selalu siap menyampaikan ceramah. Kemampaun ceramah itu ibarat pistol, materi itu peluru, sedangkan kemampuan menarik pelatuk adalah kemampuan seorang dai dalam menyampaikan materi,” katanya.

Ustadz Ahmad Yani juga menyampaikan agar para dai dalam menyampaikan ceramahnya cukup dengan pointer (inti materi), sehingga tidak mengambil durasi waktu yang lama yang justru membuat jamaah tidak fokus menyimak.

“Baha satu ayat Al Quran atau satu hadits, lalu cukup diuraikan secara singkat pesan dari ayat atau hadits yang disampaikan,” katanya berbagi kiat.

Ia menyampaikan agar para dai memperbanyak jam terbang. Dengan semakin sering tampil hal itu akan menjadi media pembelaran dan menambah jam pengalaman lapangan. “Sehingga akan lebih terbiasa dan menguasai,” katanya menandaskan.*/Adam Marzuki Attinigi

[Download Khutbah Jumat] Agar Lebih Siap Menyambut Ramadhan

KITA sering mendengar istilah “gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.” Nampaknya hal itu bukan sekedar candaan, sebab pada kenyataannya, semua hal baik, tidak ada yang bisa dicapai tanpa perencanaan yang baik.

Ungkapan tersebut bisa kita maknai bahwa sekalipun Ramadhan akan menyapa kehidupan kita, jika tidak ada upaya mengorganisir diri dengan sebaik-baiknya, maka kesia-siaan bukan tidak mungkin akan banyak mewarnai puasa kita sebulan penuh. Alasannya jelas, memang tidak ada perencanaan. Jadi, bagaimana mungkin bisa meraih kemenangan?

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Iwan Abdullah. unduh sekarang:

SAR Hidayatullah Gelar Rapat Pimpinan Nasional 2023

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan pencarian dan penyelematan pada bencana Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) dibuka hari ini di Aula Orny Loebis, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Rabu, 2 Sya’ban 1444 (22/2/2023).

Rapimnas SAR Hidayatullah ini dibuka oleh Direktur Bina Potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI Drs. Mochamad Hernanto. Hadir juga pada kesempatan tersebut sejumlah pengurus DPP Hidayatullah yaitu Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Abdul Ghofar Hadi dan Kabid Dakwah dan Pelayanan Umat Nursyamsa Hadis.

Hadir pula Ketua Departemen Perkaderan Muhammad Shaleh Utsman, Ketua Departemen Hukum Dudung A. Abdullah, Ketua Departemen Ekonomi Keumatan Ruhyadi, serta pembina SAR Hidayatullah Muhammad Musyafir, Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun dan jajarannya.

Rapimnas yang digelar selama 3 hari mengangkat tema “Cepat Tanggap Selamatkan Jiwa” ini membahas beragam program dan isu kebencanaan, termasuk di dalamnya agenda diklat relawan yang akan digelar tahun ini.*/Yacong B. Halike

Bina Muallaf Program Utama Hidayatullah Mamasa

0

MAMASA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), Ust. Idil, menyebutkan pelatihan guru mengaji dan pembinaan muallaf sebagai program utama atau unggulan pada masa kerja periode ini.

Hal itu disampaikan dia pada momen pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Hidayatullah Mamasa di Masjid Al-Amin kelurahan Tabone, kecamatan Sumarorong, kabupaten Mamasa pada tanggal 15 Februari 2023.

Rakerda itu mengusung tema Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik.

Idil yang juga pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten Mamasa itu, menyinggung, bahwa dakwah di wilayah Mamasa butuh sinergi yang solid dan mengaplikasikan program kerja yang ditetapkan pada rakerda saat ini.

“Dakwah di wilayah Mamasa butuh sinergi yang solid,” kata Idil yang juga penyuluh agama di Kementrian Agama Kabupaten Mamasa dengan wilayah tugas kecamatan Sumarorong.

Dengan profesi tersebut, kian memudahkan pihaknya untuk menjalankan program unggulannya, memroses mualaf, membinanya secara rutin sinegi dengan BMH dan hingga fokus melakukan pelatihan guru mengaji.

Menurutnya, dalam menjalankan program kerjanya, butuh sinergi yang baik. Selama ini pendampingan DPW dan dukungan penuh pengurus Hidayatullah Polman sudah cukup memberikan spirit tersendiri, termasuk dengan didefinitifkannya Marzuki Hidayat sebagai bendahara DPD Hidayatullah Mamasa.

Ikhtiar Idil mendapat penekanan dari ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. H. Mardhatillah. Ia mendorong agar memaksimalkan capaian target penting dan mendesak yakni terwujudnya kantor yang menjadi pusat kegiatan dakwah di daerah dengan penduduk minoritas muslim tersebut.

“Islam di Mamasa ini harus disyiarkan dengan baik, memiliki kantor sebagai pusat kegiatan organisasi dan target jangka panjangnya memiliki lokasi untuk membangun pesantren,” kata Mardhatillah.

Diharapkan dia, pengurus memiliki etos kerja tinggi, kualitas ibadah yang baik serta kuat menjalin silaturahmi dengan ormas lain dan masyarakat.

“Bikin sejarah, antum (Anda -red.) tidak sendirian di Mamasa ini karena ada tenaga baru, pendamping dari DPW, DMW dan dukungan dari pengurus Hidayatullah Polman,” tegas Mardhatillah.

Belum lagi, imbuh dia menambahkan, semua program unggulan seperti pelatihan guru mengaji dan pembinaan muallaf adalah konsentrasi program yang bisa diainergikan dengan BMH Perwakilan Sulbar. */Bashori

Mengapa Ada yang Dipaksa Masuk Surga Sampai Diseret?

0

RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wasallam menjamin bahwa semua umat beliau pasti masuk surga. Beliau bersabda, “Setiap umatku pasti masuk surga, kecuali yang tidak mau”.

Para Sahabat bertanya, “Siapa yang tidak mau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku pasti masuk surga, dan siapa yang durhaka kepadaku pasti dia tidak mau.” (Riwayat Bukhari dan Ahmad, dari Abu Hurairah).

Hanya saja, dalam kesempatan lain, beliau juga menceritakan bahwa kelak ada orang-orang yang sebenarnya tidak mau masuk surga tetapi dipaksa dengan segala cara, bahkan sampai harus dirantai dan diseret!

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Allah merasa takjub kepada orang-orang yang masuk surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.” Dalam riwayat Abu Dawud dan Ahmad dinyatakan, “Tuhan kita merasa takjub terhadap kaum yang digiring ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.”

Menurut riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir yang bersumber dari Abu Umamah, diceritakan bahwa suatu kali Rasulullah tertawa, lalu ditanyakan, “Apa yang membuat Anda tertawa?” Beliau menjawab, “Saya merasa takjub kepada kaum yang digiring (masuk) ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai, padahal sebenarnya mereka sangat tidak mau.”

Dalam riwayat ath-Thabrani lainnya yang bersumber dari Abu ath-Thufail ditambahkan keterangan: “Mereka adalah orang-orang non-Arab yang ditawan oleh kaum Muhajirin (dalam peperangan), lalu masuk Islam secara terpaksa.”

Sungguh, betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka berjumpa dengan manusia-manusia muslim yang penuh kasih, yang karena sedemikian besar rasa kasihnya sehingga berdaya upaya sekuat tenaga untuk menyelamatkan siapa saja di sekelilingnya.

Kaum muslimin generasi awal bahkan bersedia menyabung nyawa untuk memastikan kebaikan, kebenaran, dan jalan surga itu tersebar ke seluruh dunia. Mereka tidak mau menikmatinya sendirian, namun membagikannya kepada sebanyak mungkin manusia.

Perjuangan mereka menjadi cermin misi Nabi junjungannya, yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin (lihat Qs. al-Anbiya’: 107). Bila perlu, sedikit dipaksa pun tidak masalah, yang penting manusia mendapat peluang untuk mengenal kebaikan Islam terlebih dahulu.

Terkadang, akibat propaganda yang menyesatkan, bisikan setan, kerasnya hati, kelamnya kemusyrikan dan maksiat, atau gabungan dari semuanya maka keindahan Islam terlihat menjijikkan, dan terangnya hidayah dinilai sebagai gelapnya kesesatan. Di titik inilah jihad menjadi piranti efektif untuk merobohkan semua penghalang itu. Sebab, di dunia ini selalu ada manusia-manusia angkuh yang tidak bisa memahami bahasa selain kekerasan, pertarungan, dan adu kekuatan.

Jika seluruh jalan dialog dan seruan telah buntu bahkan dimusuhi, maka adakalanya paksaan dan kekuatan senjata menjadi alternatif terbaik untuk membuka mata mereka. Di masa lalu, kepongahan Kekaisaran Romawi dan Persia adalah contoh nyata, dua penghalang utama tersebarnya Risalah Islam kepada dunia, sehingga keduanya terpaksa harus ditekuk dengan besi.

Sungguh, betapa indah nasib orang-orang itu. Mereka tidak berjumpa dengan manusia-manusia berhati lemah dan berakal pendek di zaman ini, yang berlindung di balik dalih Hak Asasi Manusia (HAM) sehingga membiarkan masyarakatnya terjerembab ke neraka.

Orang-orang ini tega melegalkan seribu satu macam kemaksiatan, bahkan dengan senang hati memungut cukai dan pajaknya, baik secara resmi maupun melalui pungutan liar yang dikorupsi ke kantongnya sendiri. Apa yang kelak mereka katakan jika ditanya oleh Allah: tentang pembiaran mereka terhadap prostitusi, peredaran miras, hiburan malam, homoseks, perjudian, dsb? Adakah dalil-dalil HAM buatan kaum kafir itu akan diterima di hadapan-Nya?

Betapa ironis nasib manusia di zaman ini. Mereka dibiarkan masuk neraka secara sukarela, bahkan dengan perjuangan berat, persaingan ketat, biaya besar, dan resiko ganda. Mereka dibiarkan bahkan difasilitasi untuk mengumbar auratnya melalui aneka kontes dan mode-mode pakaian ketat, menyalurkan nafsunya dengan berpacaran di area-area publik, berpesta setiap malam di karaoke dan pub, mengakses materi pornografi lewat internet, dan entah apa lagi.

Mengapa masyarakat ini diizinkan terjerumus ke jurang neraka, hanya demi meraih simpati dan kerelaan mereka? Mengapa takut melihat cibiran dan makian mereka, walau pun sejatinya mereka sedang dibawa ke surga? Dimana nurani dan kasih sayang para pemimpin masyarakat, ketika menyaksikan antrean panjang rakyat dan anak-anaknya menuju Jahanam?

Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda seperti berikut:

“Sesungguhnya perumpamaanku dengan umat manusia adalah seperti seseorang yang menyalakan api. Ketika api itu telah menerangi sekitarnya, mulailah laron dan hewan-hewan merayap – yang biasa terjatuh ke dalam api – berjatuhan ke dalamnya. Maka, orang itu pun berusaha untuk menahan dan mencegah mereka, namun mereka justru mengalahkannya, sehingga mereka pun mencampakkan dirinya sendiri ke dalam api. Aku memegang erat-erat tali pinggang kalian (agar tidak terjerembab ke dalam api), sedangkan kalian justru berusaha keras untuk menceburkan diri ke dalamnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Maka, sebagai orangtua, guru, ulama’, dan pemimpin kita harus bersikap tegas kepada orang-orang yang berada di bawah kuasa kita. Pilihkanlah untuk mereka jalan-jalan terbaik yang menjamin masa depannya dunia-akhirat, lalu jaga alurnya agar tidak terbelokkan.

Jangan gentar oleh ocehan dan cibiran, sepanjang kita yakin bahwa pilihan tersebut bukan kemaksiatan, bahkan justru merupakan kebajikan. Jauh lebih baik bagi mereka untuk masuk surga secara terpaksa, daripada terjungkal ke neraka dengan sukarela. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Dibuka Wagub, Kampus Hidayatullah Tuan Rumah Helatan STQH Batuaji

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Wakil Gubernur Kepulauan Riau Hj Marlin Agustina, membuka Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) Tingkat Kecamatan Batuaji, Tahun 2023 di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kelurahan Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, Jum’at, 26 Rajab 1444 (17/2/2023) malam.

Sempena acara ini, Merlin yang juga Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kepri ini, membuka bazar yang diikuti masing-masing kelurahan di Batuaji.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Belia Farras Fikri Raihan dan dilanjutkan dengan penampilan tiga grup rebana.

Selanjutnya ada pawai dengan berbagai aneka ragam busana berciri budaya Melayu dan Islam. Tak hanya pegawai kecamatan, anak sekolah, paguyuban, ormas hingga RT dan RW juga ikut tampil.

“Kita lihat malam ini antusias masyarakat yang datang dan juga peserta datang dengan semangat. Ini menandakan nilai-nilai Alquran membumi di Batuaji,” ujar Wagub Marlin yang juga istri, Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR) ini.(ski/emr)

Bersiap Sambut Ramadhan, Shalat Lail di Masjid Ar-Riyadh 1 Juz 1 Malam

Hidayatullah.or.id (Hidayatullah.or.id) – Pemanasan sebelum Ramadhan 1444H sudah terasa di berbagai tempat dan daerah, termasuk di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.Pada salah satu masjid di Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, misalnya, semarak beribadah semakin terasa.

Adalah Masjid Ar-Riyadh di kawasan Gunung Tembak, Teritip, yang sudah menggelar shalat lail berjamaah dengan pembacaan Al-Qur’an sebanyak 1 juz setiap malam oleh imam.

Pantauan hidayatullah.com pada Selasa, 1 Sya’ban 1444 (21/02/2023) pagi dinihari, ratusan jamaah menghadiri shalat berjamaah yang dimulai sekitar pukul 03.00 WITA.

Tampak seorang mahasiswa semester dua sebuah perguruan tinggi di Teritip berdiri menjadi imam.

Kholili Muhammad, sang imam muda itu, mengatakan, ia membacakan Al-Qur’an dimulai dari Surat Al-Fatihah lalu lanjut Surat Al-Baqarah. “Mulai dari ayat 1 sampai akhir juz,” tutur mahasiswa STIS Hidayatullah semester 2 Prodi Hukum Keluarga ini, saat ditemui hidayatullah.com di Masjid Ar-Riyadh.

Meskipun masjid tersebut saat ini masih dalam pembangunan -yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya dan belum selesai, namun tak menyurutkan semangat jamaahnya menyambut Ramadhan 1444H.

Ketua Panitia Ramadhan 1444H di masjid itu, salah seorang ustadz Irwan Budiana sebelumnya telah mensosialisasikan program-program Ramadhan 1444H yang mereka usung.

“Mulai malam ini (tadi malam, red) sudah resmi di-launching program Ramadhan,” ujarnya pada Senin (20/02/2023) malam di Teritip.

Pada tahun 1444 H ini, Panitia Ramadhan di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak tersebut mengangkat tema “Talaqqi Al-Qur’an, Tebar Kebaikan”.* (SKR/Media Center Ummulqura)