Beranda blog Halaman 308

Harapan kepada Milenial, KH Abdurrahman: “Generasi yang Dipermudah Teknologi”

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Besar nian harapan Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad kepada generasi milenial sebagai pelanjut rperjuangan dakwah menebarkan risalah Islam ke penjuru negeri.

Optimisme itu ia kemukakan pada acara Tabligh Akbar rangkaian kegiatan Halaqah Kubra Kader Hidayatullah Jawa Timur yang mengangkat tema “Menyongsong Usia Emas Hidayatullah” Kader Hidayatullah Jawa Timur, belum lama ini.

“Allah masih memberikan bagian juga sesuai dengan zamannya. Apalagi hari-hari ini yang disebut generasi milenial, generasi yang dipermudah oleh kemajuan teknologi sehingga tidak ada yang mustahil,” katanya seperti dilansir laman Ummul Qura Hidayatullah yang dinukil Hidayatullah.or.id, Kamis, 17 Sya’ban 1444 (9/3/2023).

Pemimpin Umum Hidayatullah mengapresiasi para generasi pelanjut yang selalu punya cita-cita tinggi. Apalagi dukungan kemajuan teknologi diyakini akan mempermudah percepatan dari harapan besar tersebut.

Menurut ustadz yang pernah tugas dakwah ke Irian Jaya hanya berbekal peti pakaian dari kayu ini, dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antara dua generasi berbeda. Yakni, para orangtua sebagai generasi awal yang merintis dakwah dengan generasi milenial yang akan melanjutkan cita-cita pendahulunya.

“Memang generasi Rasulullah dan Sahabatnya adalah generasi terbaik sebagaimana sesepuh Hidayatullah adalah generasi terbaik. Karena dia perintis, makanya dikatakan menyongsong generasi emas,” ucapnya.

Kenapa demikian? Karena generasi awal itu, sambungnya, adalah yang telah meletakkan sesuatu yang bernilai mahal. Mahalnya itu karena telah membuktikan keistiqamahan dalam kesabaran. Jadi punya nilai keemasan mahal.

Ustadz Abdurrahman lalu menceritakan satu kisah peperangan di masa sahabat Umar al-Faruq.

Diceritakan waktu itu, umat Islam membutuhkan tambahan personel hingga 8.000 pasukan. Namun khalifah Umar hanya mengirim sekitar separuh dari jumlah yang diminta.

“Karena di situ ada panglima yang nilainya bisa beratus kali lipat lebih dari orang biasa. Itu mahal, generasi perintis memang mahal,” jelasnya.

Menyongsong Usia Emas Hidayatullah

Tema “Menyongsong Usia Emas Hidayatullah” menjadi daya tarik tersendiri baginya jelang Silaturahim Nasional Hidayatullah tahun ini.

Di hadapan ribuan kader Hidayatullah yang memadati lapangan SMP-SMA Integral Luqman al-Hakim, Surabaya, Pemimpin Umum mengawali pencerahannya dengan bersyukur kepada Allah dan menceritakan perkembangan kondisi kesehatan yang dialaminya.

“Alhamdulillah Allah telah membimbing kita, memberikan semangat, kemauan dan teristimewa kesehatan untuk hadir di majelis silaturahim ini. Syukur kepada Allah atas doa jamaah Hidayatullah. Saya katakan ini doa-doa yang memberikan spirit,” ucapnya berbahagia.

Kaitan dengan tema “Menyongsong Usia Emas Hidayatullah” Pemimpin Umum mengingatkan soal percepatan dan obsesi besar dalam meraih capaian pada momentum istimewa tersebut.

“Ayat yang dibaca ‘infiru khifafan wa tsiqalan’ itu tadi berarti mobilitas tinggi,” jelasnya menerangkan ayat yang terdapat pada surah at-Taubah.

Mobilitas tinggi, jelas sahabat karib KH. Abdullah Said, Pendiri Hidayatullah itu, tidak hanya sekadar semangat berlomba dalam kebaikan (sabiqun bil khairat), tetapi juga dibutuhkan kemampuan visioner dan obsesi besar.

Soal cita-cita, menurutnya, hal itu bisa saja ditertawakan oleh manusia yang lain atau dianggap tidak masuk logika. Tapi itu disebutnya tak masalah, sepanjang orang itu meyakini cita-cita yang diperjuangkannya.*/Abu Jaulah/MCU

[Download Khutbah Jumat] Sambut Ramadhan dengan Mental Kemenangan

KITA mengenal sejak kecil bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Namun, kalau kita mau sedikit menundukkan kepala, merenung, benarkah keberkahan Ramadhan telah benar-benar kita raih selama ini?

Pertanyaan ini penting agar kita siap menyambut Ramadhan 1444 H dengan kesiapan, bahkan dengan mental siap menjadi pemenang. Pemenang dalam hal ini adalah kita mampu mengisi 24 jam pada hari-hari Ramadhan dengan produktivitas amal, ibadah, ilmu, dakwah, kepedulian, dan kemajuan umat Islam.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Imam Nawawi, S.Pd.I, M.Pd.I. Unduh sekarang:

Simpul Sinergi Bersama Warga Gembira Bersih bersih Masjid di Bangkalan Dayak

0

KOTABARU (Hidayatullah.or.id) — Tampak warga masyarakat antusias dan riang gembira membersihkan rumah agung yang terbuat dari kayu nan kokoh itu. Demikianlah aksi Bersih-bersih masjid (BBM) simpul sinergi Laznas BMH dan BSI Maslahat yang terlaksana dengan baik di Mushola Al-Jihad yang berada di Desa Bangkalan Dayak, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Lokasi masjid itu cukup jauh dari posisi kota. Untuk ke lokasi sasaran program, tim BMH harus menempuh jarak hingga 8 jam.

Untuk sampai ke titik lokasi tim harus menempuh perjalanan jauh dan ekstrim dengan menggunakan kendaraan motor melalui jalan darat dengan melalui 3 kabupaten/kota.

Kemudian harus masuk hutan belantara yang jaraknya hingga 10 kilo dari dalam raya.

“Untuk masuk ke lokasi kami sering hampir terjatuh,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Perwakilan Kalsel, Ahmad Rifandi, Ahad, 13 Sya’ban 1444 (5/3/2023).

Selain menggelar aksi BBM, Laznas BMH juga menyerahkan 1 gulung ambal, perlengkapan ibadah fardhu kifayah, mukena sholat, karpet, perlengkapan kebersihan, dan mushaf Al-Qur’an sekaligus melaksanakan pengecatan dan perbaikan MCK dan tempat wudhu.

Ustadz Harmoko selaku pembina muallaf di sana mengaku senang dan mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh BMH Perwakilan Kalsel ini.

“Kami atas nama warga dan bina muallaf di desa ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada BMH yang telah datang jauh untuk perbaikan mushola dan perbaikan sarana wudhu serta perlengkapan ibadah,” katanya.

“Semoga Allah memberikan keberkahan dan membalas dengan kebaikan yang sempurna kepada semua yang ikut berkontribusi program baik ini,” tutup Ustadz Harmoko.*/Herim

Keluarga Sakinah Bisa Dibentuk dari Perjodohan dan Lingkungan

AULA Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Syarif Kasim Pekanbaru, Riau, terasa riuh gembira saat ujian promosi doktor ke 283, yaitu Dr. Paryadi, S.Sos.I, M.S.I, berlangsung. Disertasinya menarik perhatian penguji dan para tamu yang hadir karena membahas perjodohan dalam pernikahan.

Ujian promosi doktor yang dilaksanakan hari Senin, 6 Maret 2023 tersebut berjudul “Model Perjodohan pada Pernikahan Mubarakah di Pesantren Hidayatullah Balikpapan dalam Tinjauan Maqashid Syariah”.

Dalam paparan awal, Paryadi menyampaikan latar belakang penelitiannya tentang kerisauan terhadap model perjodohan di masyarakat yang cenderung menyulitkan orang yang hendak menikah.

Misalnya perjodohan yang memakai standar harta atau materi, performance atau wajah, status sosial atau jabatan seseorang. Wajar banyak bujang ‘lapuk’ dan perawan tua karena kesulitan mendapatkan jodohnya, sebagian memilih tidak menikah dan tragisnya ada yang terjebak dalam LGBT.

Sisi lain, ada model perjodohan yang berkembang melalui biro jodoh offline dan online. Namun, keduanya memiliki risiko terjadi penipuan, pelecehan, dan pacaran yang parah. Model penjodohan biro jodoh kurang memberikan pendampingan secara intens, cenderung menyerahkan kepada pihak yang ingin serius menikah dengan tidak dibimbing hingga akad nikah.

Di saat itulah Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggagas model perjodohan dalam pernikahan mubarakah. Menikahkan para santri putra dengan santri putri yang dewasa dan memenuhi persyaratan administrasi pemerintah untuk menikah. Meski sebelumnya mereka tidak saling mengenal apalagi pacaran tapi pernikahan mereka bisa terbentuk keluarga sakinah.

Pernikahan mubarakah di Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, dilaksanakan 30 kali sejak tahun 1977 hingga 2022 dengan peserta 804 orang. Adapun angka perceraian hanya 33 kali atau 4,1%. Ini angka yang sangat rendah dibandingkan dengan perceraian di masyarakat.

Sementara perceraian di masyarakat setiap tahun meningkat tajam. Padahal penjodohannya dilakukan dengan cara memilih sendiri, mengenal luar dalam pasangan sebelum menikah atau melalui pacaran berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Setelah proses perjodohan dan pernikahan maka perlu ada lingkungan yang mendukung terbentuknya keluarga sakinah seperti fasilitas ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi yang terkait dengan penjagaan agama, jiwa, harta, akal dan keturunan.

Sidang promosi dipimpin oleh Prof. Dr. Ilyas Husti, didampingi oleh Prof Ahmad Rofiq sebagai penguji eksternal dari UIN Semarang, Prof. Zikri Darussamin sebagai promotor, Dr Khairunnas sebagai ketua Program Studi Hukum Keluarga, Dr. Sofia Hardani sebagai co-Promotor.

Penguji satu satu persatu memberikan pertanyaan kepada Paryadi. Kemudian dijawab dengan tegas dan tepat oleh promovendus. Setelah selesai sidang promosi dan memperhatikan hasil penelitian serta jawaban, maka promovendus dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dengan nilai 3.93. Spontan promovendus sujud syukur dan gemuruh suara dari para tamu yang hadir karena mendengar pencapaian nilai tersebut.

Dr. Paryadi, S.Sos.I, M.S.I yang biasa dipanggil Abdul Ghofar selama ini mendapatkan amanah sebagai wakil sekretaris jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. selain itu beliau juga sebagai dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah di Balikpapan.

Dalam sidang promosi tersebut ia didampingi oleh istrinya yaitu ustadzah Saryati, anak-anaknya yaitu Ahamd Yasin al-Faqih, Faiqah Putri an-Najah dan Ahmad Ad’iyyah Zamzam, teman-teman dari Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Riau, dan Pos Dai Hidayatullah Riau.

Beberapa rekomendasi penting dalam penelitian ini yaitu memberikan masukan kepada Kantor Urusan Agama (KUA) untuk lebih serius dalam pembekalan sebelum pernikahan dengan cara menambah waktu, pendalaman materi dan kesiapan materi dari calon pengantin.

Instansi pemerintah juga bisa berkolaborasi dengan ormas Islam, pesantren untuk membuat model penjodohan dalam pernikahan yang memudahkan perjaka dan gadis yang hendak menikah. Ini juga menghindari kumpul kebo dan menekan angka perceraian yang terjadi di masyarakat.*/Ibnu M Hawab – Tadabbur Republika

OJK Edukasi Literasi Keuangan Syariah di Ponpes Hidayatullah Makassar

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — OJK menggelar kegiatan edukasi keuangan syariah dalam rangka meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah melalui program Sakinah (Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah) di Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Jumat, 11 Sya’ban 1444 (3/3/2023).

Dalam sambutannya, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengingatkan para santri akan pentingnya mengelola keuangan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan keluarga dimasa depan.

Kegiatan edukasi keuangan bagi santri ini disambut baik oleh Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah (Pimpinan Pondok Pesantren) Suwito Fatah yang menyampaikan pentingnya literasi keuangan syariah bagi santri sebagai calon pemimpin.

Sementara itu Regional CSO BSI Irvan Satya menyampaikan pentingnya sinergi berbagai pemangku kepentingan dan pelaku jasa keuangan untuk bekerja sama mendukung perkembangan ekonomi syariah.

Inilah Harapan Ust Nashirul kepada PP Pemuda Hidayatullah 2023-2026

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah Periode 2023-2026 langsung take action, bergerak menjalankan amanah yang diembannya sejak usai dilantik. Salah satu upaya dalam memantapkan gerakan adalah menyerap inspirasi, saran, dan harapan dari para senior.

Menandai perlangkahannya ini, Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Periode 2023-2026 yang dipimpin Rasfiuddin Sabaruddin diterima Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, Selasa, 16 Sya’ban 1444 (7/3/2023).

Dalam audiensi tata muka ini ketum Rasfiuddin didampingi segenap pengurus harian PP Pemuda Hidayatullah yaitu Sekretaris Jenderal Bustanol Arifin, Bendahara Umum Kamilul Khuluq, Ketua Departemen Organisasi & Pengembangan Hanifuddin Chaniago, Ketua Departemen Dakwah & Pembinaan Anggota Imam Muhammad, Ketua Departemen Perkaderan Joshua H. Solin, Ketua Departemen Ristek Refra Elthanimbary, dan Ketua Departemen Ekonomi & Kewirausahaan M. Deden Sugianto.

Sementara Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat DPP Hidayatullah didampingi sejumlah jajaran yaitu Kabid Tarbiyah Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI, Kabid Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Asih Subagyo, Bendahara Umum Marwan Mujahidin, SE, M.Sust, Ketua Departemen Sumberdaya Insani Muhammad Arfan AU, dan Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Iwan Abdullah.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam sambutannya mengapresiasi sukses penyelenggaraan Munas VIII Pemuda Hidayatullah yang telah menghasilkan kepengurusan baru, lompatan terobosan untuk tata kelola Pemuda Hidayatullah yang lebih baik lagi sebagai organisasi pendukung Hidayatullah.

Pada kesempatan tersebut Nashirul Haq juga menaruh harapan kepengurusan Pemuda Hidayatullah Periode 2023-2026 semakin progresif beradab sebagaimana tagline-nya yang diantaranya ditandai dengan mengefektifkan berbagai forum pertemuan dan selanjutnya menderivasikan ke semua level pengurus dan dan anggota.

“Dapat mengadakan rapat yang lebih sering. Antum bisa lebih dari pada kami, kami 5 kali, antum bisa 7 kali lipat produktivitasnya, semangatnya, dan kreatifitasnya,” katanya.

Sebagai pemuda yang hari ini hidup di tengah kemajuan teknologi informasi, Pemuda Hidayatullah dapat setiap waktu berkoordinasi untuk menggulirkan berbagai kegiatan turunan dari program mainstream yang telah ditetapkan.

“Jangan menunggu rapat offline, bang Refra sudah tinggal di Batu, tinggi sinyal dan kuat di sana. Koordinasi dan komunikasi harus intens 24 jam,” harapnya seraya berpesan.

Di sisi lain, Nashirul juga mendorong sumber daya Pemuda Hidayatullah terlebih bagi yang duduk di level struktural agar menjalankan amanahnya dengan penuh kesungguhan seoptimal mungkin. “Harus menjiwai tupoksi pemuda, menjiwai tugas struktur,” katanya.

Dalam pada itu, sebagaimana yang ia cermati dalam program umum, ia menyarankan hendaknya membuat draf program kerja 3 tahunan dan di-breakdown tahunan secara terfokus dan berjenjang.

“Paling utama adalah kaderisasi, usahakan terukur dan target kuantitatifnya terkejar,” imbuhnya seraya menyakinkan bahwa Kabid Tarbiyah akan memberikan support system lewat halaqah.

Tak kalah penting, Nashirul menekankan, perlu adanya satu formulasi kekinian yang perlu dipikirkan Pemuda Hidayatullah sehingga para pemuda masa kini semakin tertarik kepada Islam dengan tawaran keasyikan yang ada di dalamnya.

“Perlu belajar strategi tarbiyah bagaimana menjaring anak anak muda. Munculkan konsep yang sifatnya implementatif. Anda harus lebih semangat, lebih progresif, lebih militan, lebih beradab,” tandasnya.*/Yacong B. Halike

Laznas BMH-BSI Maslahat Gelar Program Peduli Masjid di Ngasinan Jateng

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH, BSI dan BSI Maslahat berkolaborasi untuk syiar sambut Ramadhan dengan melakukan program bersama Peduli Masjid dan Mushola Pedalaman. Kali ini program digelar di Masjid Al Barokah, Dusun Ngasinan, Desa Timpik, Kec. Susukan, Kab. Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Selasa, 15 Sya’ban 1444 (7/3/2023)

Staf Amil BMH Perwakilan Jawa Tengah, Chandra, mengatakan program ini diinisiasi sebagai wujud mengembalikan syiar bahwa bulan Ramadhan harus disiapkan sejak dini.

“Program peduli masjid dan mushola pedalaman ini memberikan edukasi bagi warga bahwa bulan Ramadhan sebentar lagi akan segera tiba. Mari siapkan bekal untuk menyambut dan mengisinya,” katanya.

Program peduli masjid dan Mushola pedalaman ini merupakan program tepat sasaran kolaborasi antara BMH, BSI dan BSI Maslahat. Program ini dapat menjadi contoh untuk membantu masyarakat pedalaman untuk bersiap menyambut Ramadhan.

Doa dan harapan disampaikan Bapak Nur Sholeh selaku takmir Masjid Al Barokah. “Terimakasih kepada BMH, BSI dan BSI Maslahat yang sudah memberikan kelengkapan kebutuhan masjid”, katanya.

Pada kegiatan ini masjid mendapatkan bantuan karpet, mukena, alat kebersihan serta pemasangan daun pintu di masjid Al Barokah ini. “Sekali lagi terimakasih atas dukungan ini. Semoga Allah mudahkan seluruh pihak yang terlibat kelimpahan pahala disisi-Nya,” tandas Nur Sholeh.*/Yusran Yauma

Laznas BMH Perwakilan Kaltara Serahkan Annual Report kepada Baznas dan Kemenag

TANJUNG SELOR (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Laznas BMH Perwakilan Kalimantan Utara berkunjung ke Kantor Kementerian Agama dan Baznas di setiap Kabupaten/Kota dalam rangka penyerahan Annual Report Tahun 2022.

“Kunjungan pada hari ini adalah menyampaikan laporan kegiatan pengelolaan zakat, infak  dan sedekah oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) untuk wilayah Provinsi Kalimantan Utara di setiap Kabupaten/Kota seperti Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau dan Tana Tidung,” terang Kepala BMH Perwakilan Kaltara, Fathur Rahmansyah, Selasa, 15 Sya’ban 1444 (7/3/2023).

Fathur menambahkan laporan yang disajikan kepada setiap daerah Kabupaten/Kota adalah turunan dari laporan yang diberikan kepada Kemenag dan Baznas Provinsi beberapa waktu lalu. 

“Semua ini merupakan wujud pertanggung jawaban BMH atas amanah kebaikan kaum Muslimin yang memberikan kepercayaan pengelolaan dana zakat, infak dan sedekah, melalui BMH di setiap daerah,” imbuhnya.

“Insha Allah pada bulan Ramadhan ini  kami BMH akan memberikan edukasi dan layanan zakat kepada masyarakat di Kalimantan Utara di setiap daerah, guna memudahkan dalam penghimpunan dan pendistribusian,” tegas Fathur.*/Herim

Guru Besar IPB: Keluarga Berketahanan Penentu Pembangunan Manusia Beradab

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Euis Sunarti mengatakan ketahanan keluarga seperti sebuah bangunan rumah dan keluarga berketahanan merupakan penentu pembangunan manusia beradab.

“Keluarga berketahanan merupakan penentu pembangunan manusia beradab,” katanya saat menjadi narasumber pada Webinar Ketahanan Keluarga dengan tema “Mengokohkan Keluarga Indonesia dalam Mendidik Generasi untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri”, dinukil Hidayatullah.or.id dari laman Muslimat Hidayatullah, Selasa, 15 Sya’ban 1444 (7/3/2023).

Inisiator, pendiri, dan ketua Perkumpulan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia ini mengatakan kita memiliki tantangan yang besar dalam membangun generasi yang beradab. “Orang yang memiliki adab walaupun kurang berilmu, lebih mulia daripada yang berilmu tetapi kurang beradab,” ungkapnya.

Menurutnya, ilmu dan adab seharusnya bisa selaras. Dengan ilmu, maka seseorang bisa memperbaiki adabnya. Sistem pendidikan nasional bertujuan untuk melahirkan seseorang yang bertakwa dan berakhlak mulia.

Namun, mengapa kondisi manusia saat ini kurang beradab? Menurut cendekiawan perempuan yang aktif di berbagai forum akademik internasional ini adalah karena faktor penanaman adab.

“Kurang adab dan sifat buruk seseorang bukan berasal dari fitrah. Tetapi karena kurangnya penanaman adab sejak dini di lingkungan keluarga,” katanya.

Menurut Euis, efektivitas internalisasi adab di keluarga dapat diikhtiarkan melalui penguasaan lingkup pengasuhan, metode yang memadai dan konsistensi.

“Keluarga adalah miniatur peradaban. Untuk itu, diperlukan kiat agar keluarga memiliki ketahanan hingga menghasilkan keluarga yang berkualitas. Generasi yang berkualitas akan menentukan kualitas suatu negeri,” tandasnya.

Hadir pula 2 narasumber lainnya yaitu Ketua Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah, Ustz. Dr. Hj. Shabriati Aziz, M.Pd.I, dan tokoh ibu rumah tangga Dra. Wirianingsih, M.Si, yang berhasil mengantar 11 anak anaknya menjadi talenta profesional di bursa kerja dan penghafal Al Quran.

Webinar kali ini diikuti oleh Pengurus Muslimat Hidayatullah Tingkat Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, kader Muslimat Hidayatullah, dan tamu undangan dari Organisasi Wanita Islam seperti Wanita PUI, PB Wanita Al-Irsyad, Muslimat Al-Washliyah, BMIWI, Salimah, Muslimah Centre, AILA, Teras Quran Al-Quds dan lainnya.*/Yacong B. Halike

Kita Harus Wariskan Islam kepada Generasi Muda

DALAM surah Al-Baqarah ayat 133, Allah mengisahkan detik-detik terakhir menjelang wafatnya Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Dalam suasana kritis itu, beliau tidak gelisah memikirkan warisan harta untuk anak anaknya, namun warisan keyakinan yang kelak mereka pegang.

Al-Qur’an merekam peristiwa itu, sebagai berikut:

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut; ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Demikian pulalah semestinya kita sebagai orangtua. Masalah yang harus menjadi prioritas pertama – dalam kaitannya dengan anak – adalah keyakinan dan nilai-nilai kehidupan, bukan uang dan materi.

Sebab, terkait rezeki, pada dasarnya setiap orang telah dijamin oleh Allah sejak ruhnya pertamakali ditiupkan, ketika ia masih berupa janin dalam perut ibunya. Hal ini sudah dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang juga termaktub dalam kumpulan hadits Arba’in Nawawiyah nomer 4.

Akan tetapi, untuk masalah keyakinan dan iman, Allah tidak menjaminnya sama sekali. Tidak ada jaminan bahwa putra seorang ahli ibadah akan seshalih ayahnya, bahkan putra Nabi pun tidak.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disuruh untuk mulai berdakwah secara terang-terangan, setelah sebelumnya berdakwah secara sembunyi-sembunyi, maka beliau pun naik ke bukit Shofa dan berseru, “Wahai Bani Abdu Manaf, belilah diri kalian dari Allah! Wahai Bani ‘Abdul Mutthalib, belilah diri kalian dari Allah! Wahai ibunda Zubair bin ‘Awwam (yakni: Shafiyah), bibi Rasulullah; wahai Fathimah binti Muhammad, belilah diri kalian berdua dari Allah! Aku tidak punya (jaminan) apa-apa untuk kalian dari Allah! Tetapi kalian boleh meminta dari hartaku sekehendak kalian!” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Adapun yang dimaksud “belilah diri kalian dari Allah‘ adalah anjuran beriman dan beramal shalih; tidak mengandalkan dekatnya kekerabatan mereka dengan Rasulullah. Jika putri dan keluarga dekat beliau saja tidak dijamin masuk surga tanpa iman dan amal, apalagi kita!

Kisah Nabi Ya’qub di atas disitir oleh Al-Qur’an jelas bukan sekedar informasi, namun sebagai pelajaran (‘ibrah) dan suri tauladan (uswatun hasanah). Demikian pula kisah para Nabi terdahulu bersama umatnya (lihat Qs. Yusuf: 111 dan al-Mumtahanah: 4-6).

Masalah ini sangat penting dikemukakan karena gempuran ideologi dan budaya asing sangat masif menyerbu anak-anak kita. Jika sekarang kita masih mengenal Allah, bershalawat kepada Nabi, mengimani Islam, menegakkan shalat, dan pergi berhaji ke Baitullah, maka masih demikian pulakah kehidupan anak-cucu kita dalam rentang 30, 50, 70 tahun yang akan datang?

Jika semua orangtua yang kini hidup dalam generasi kita telah pergi, masihkah adzan berkumandang di negeri ini? Sebenarnyalah, tidak ada jaminan untuk masalah itu.

Andalusia adalah contoh spektakuler sekaligus pilu. Sejak tahun 97 H (711 M), negeri itu diwarnai oleh tauhid dan sempat melahirkan nama-nama besar seperti Imam al-Qurthubi penyusun Tafsir al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr penyusun at-Tamhid, Imam Ibnu Hazm pengusung Madzhab Zhahiriyah, Ibnu Khaldun pakar sejarah dan Bapak Sosiologi, dan masih sangat banyak lagi.

Namun, mulai tahun 1236 M, setelah 5 abad lebih menerangi Eropa dengan cahaya Islam, tiba-tiba kegemilangannya direnggut dan dipadamkan secara brutal. Kini di Andalusia kita hanya melihat istana, masjid raya, jalanan, taman, dan aneka warisan fisik yang secara gamblang bercerita bahwa Islam pernah eksis disana. Tetapi, dimana umatnya? Sayangnya, mereka telah lama terusir.

Maka, kita harus mewariskan Islam kepada generasi muda. Jangan sampai kita menjadi angkatan terakhir yang melafalkan syahadat di rumah kita, di kampung kita, di kota kita, di pulau kita, di negeri kita.

Sebab, jika itu terjadi, pasti akan sangat sulit mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Mengapa? Sebab, sejak lebih dari 1400 tahun silam agama ini diwariskan dari generasi ke generasi, mulai zaman Rasulullah hingga era kita.

Kini para pendahulu kita telah pergi menghadap Allah, dan menyerahkan tongkat estafet Risalah Islam kepada kita, untuk diteruskan kepada angkatan berikutnya.

Para Sahabat Nabi sangat getol memperhatikan masalah pewarisan agama dan nilai-nilai ini. Dan, bukti keseriusan mereka adalah sampainya Islam hingga ke zaman kita secara utuh.

Dikisahkan bahwa dulu, di dekat Ka’bah, pernah ada sebuah halaqah. Suatu saat, ‘Amr bin ‘Ash melewati mereka ketika beliau sedang berthawaf. Setelah menyelesaikan thawafnya, beliau datang ke halaqah tersebut dan berkata, “Mengapa aku melihat kalian menyingkirkan anak-anak itu dari majelis kalian? Jangan lakukan itu! Lapangkan untuk mereka, suruh mereka mendekat, dan fahamkanlah hadits kepada mereka. Sungguh, hari ini mereka adalah orang-orang termuda dari suatu kaum, dan sebentar lagi mereka akan menjadi orang-orang tertua dari kaum lainnya. Kami dulu pernah menjadi orang-orang termuda dari sebuah kaum, kemudian kami (sekarang) menjadi orang-orang tertua dari kaum lainnya.” (Riwayat al-Baihaqi dalam al-Madkhal).

Alhasil, kini amanah itu ada di pundak kita. Pertanyaannya adalah: “Bagaimana kita mengelola dan mewariskannya?” Bismillah, mari kita beramal! Wallahu a’lam.

KH. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang.