Beranda blog Halaman 309

[Download Khutbah Jumat] Bangun Cara Pandang Islami untuk Kebahagian Hidup di Dunia dan Akhirat

0

JAGAT raya dan kehidupan di dunia ini adalah ujian dari Allah SWT untuk manusia. Allah menguji manusia dengan kehidupan dan kematian untuk melihat hamba-Nya yang terbaik amalnya.

Layaknya proses belajar di lembaga pendidikan, dalam menyikapi ujian kehidupan di dunia ini, ada berbagai sikap, antara lain sebagai berikut.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. H. Ir. Abu Ala Abdullah, M.Pd. unduh sekarang:

Kenang Ustadz Jamaluddin, Walikota sebut Kehilangan Adik dan Pejuang Dakwah

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Suasana duka mengiringi kepergian Ustaz Jamaluddin Nur, pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Batam di Batu Aji, Kota Batam, Jumat, 19 Rajab 1444 (10/2/2023).

Sebelum wafat, Ustaz kelahiran 1972 itu, sempat dirawat di rumah sakit sejak Minggu (5/2/2023), karena penyakit gula yang diderita almarhum.

Sosok yang dianggap sebagai tokoh pendidikan agama Islam itu, wafat karena sakit saat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam.

Almarhum wafat Hari Jumat pukul 13.05 WIB di RSUD. Jenazah almarhum sempat dibawa ke rumah duka di perumahan Genta, kelurahan Buliang, Batuaji sebelum dimakamkan di lingkungan kampus Hidayatullah, Batuaji.

Banyak pelayat mengantarkan kepergiaan Ustaz Jamaluddin Nur. Salah seorang dari ratusan peziarah itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Rudi sempat menangis, terisak. Rudi sempat mengenang pertemanan lama antara umara dan ulama tersebut. “Almarhum saya anggap sebagai adik saya sendiri. Begitu besar perjuangan almarhum dalam mensiarkan agama Islam,” ungkap Rudi.

Suasana haru pun menyelimuti rumah duka saat Rudi menyampaikan kata pengantarnya. Rudi pun mengajak masyarakat Batam mendoakan almarhum.

“Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah dan wafat dalam keadaan Husnul Khotimah,” doa Rudi.

Rudi juga mengenal Ustaz Jamaluddin Nur sebagai tokoh pendidikan Islam. Bagi Rudi, kepergian Ustaz kelahiran 1972 ini menyisakan rasa duka mendalam.(kpc/hio)

‘Bashiroh’ Pemimpin Umum tentang Sosok Ustadz Jamaluddin Jadi Kenyataan

Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menyampaikan takziyah di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, atas wafatnya Ustadz Jamaluddin Nur di Batam, Jumat (10/2/2023).* [Foto: Muhammad Abdus Syakur/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kepergian Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah, Ustadz H. Jamaluddin Nur, menyisakan banyak kisah dan kenangan inspiratif. Di antaranya seperti yang dituturkan oleh Wakil Sekjen DPP Hidayatullah, Ustadz Abdul Ghofar Hadi.

Ustadz Ghofar menuturkan, Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, pernah menyampaikan “bashiroh” terkait sosok Ustadz Jamal.

“Nur pada nama Ustadz Jamaluddin Nur bermakna cahaya. Karena itu Ustadz Jamal harus menjadi cahaya bagi Batam dan Alhamdulillah beliau menjadi salah satu cahaya dakwah di Batam,” kata Ustadz Ghofar menirukan perkataan KH Abdurrahman Muhammad, sebagaimana dirilis media online nasional Hidayatullah.com, Jumat (10/02/2023).

Kini, perkataan Pemimpin Umum Hidayatullah tersebut telah menjadi nyata.

Pesantren Hidayatullah Batam sudah berkembang pesat, menempati dua lokasi strategis, yakni di pertigaan kawasan Mukakuning, Batuaji, dan di Tanjung Uncang. Ribuan peserta didik sudah dibina di lembaga-lembaga pendidikan milik Hidayatullah Batam yang didirikan Ustadz Jamal.

Pada Desember 2021, Ustadz Jamal dikukuhkan sebagai tokoh pengelola Pendidikan Agama Islam terbaik di Kota Batam, Kepulauan Riau, oleh Dewan Pendidikan Kota Batam (DPKB).

“Hidayatullah sangat kehilangan dengan berpulangnya Ustadz Jamal. Namun, kita harus mengikhlaskan beliau. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, mengampuni segala kesalahan beliau, dan menempatkan beliau di Jannah tertinggi. Aamiin,” kata Ustadz Ghofar.

Diberitakan sebelumnya, Keluarga besar Hidayatullah berduka mendalam atas wafatnya Ustadz Jamaluddin Nur, Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Jumat (10/02/2023) pukul 13.05 WITA.

Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam ini wafat di RSUD Embung Fatimah Batam setelah menjalani perawatan karena sakitnya.

“انا لله وانا اليه راجعون، اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه

Telah berpulang ke rahmatullah, Al Ustadz KH. Jamaludin Nur (Ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam) siang ini Jumat, 10 Februari 2023 pukul 13.05 WIB di RSUD Embung Fatimah Batam. Mohon doa dari seluruh jamaah. Semoga beliau husnul khatimah dan Keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Aamiin Yaa Rabbal Alamin,” ujar Sekretaris Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ustadz Muhammad Maulana kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah melalui pesan tertulisnya, Jumat siang.* (Mahladi/Hidayatullah.com/MCU)

Ustadz Jamaluddin Nur, Sang Inspirator yang Heroik

0

DALAM kurun waktu dua tahun (1990-1992), saya sebagai Ketua Dewan Santri di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, menyaksikan kedatangan santri baru di Kuliah Muballigh Muballighat (KMM) dengan penampilan seperti Jamaluddi Nur dan mampu bertahan, adalah pemandangan yg benar-benar langka. Tidak berlebihan jika dikatakan, jumlahnya dapat dihitung dengan jari satu tangan.

Latar belakang pendidikan dan keluarga, makin menambah keunikan sosok Jamal di kalangan santri di era itu. SMA 2 Makasar sungguh merupakan jaminan mutu, lulusannya menjadi garansi yang sangat diperhitungkan oleh Perguruan Tinggi untuk diterima sebagai mahasiswa.

Lulusan SMA 2 Makasar yang bergabung di Hidayatullah hingga saat ini, yang saya tau hanya ada dua orang, satunya adalah Ustadzah Hani Akbar (Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah saat ini) dan satunya lagi Ustadz Jamaluddin Nur.

Anggota TNI di era Soeharto yang dikenal dengan dwi fungsi ABRI adalah status yang sangat menonjol. Jabatan Ketua DPRD Kabupaten Kota dan Provinsi, Bupati, Walikota, dan Gubernur, sampai deretan para Menteri, benar-benar didominasi oleh anggota TNI aktif maupun purnawirawan. Dan, Jamal adalah anak dari seorang anggota TNI.

Status santri KMM yang belum genap dua tahun, kemudian diberi amanah menjadi pendamping di daerah dengan “medan” yang boleh dikata ngeri-ngeri sedap ketika itu, belum lagi jarak yang lumayan jauh, saat pesawat masih merupakan alat transportasi yang hanya ada dalam angan-angan kader Hidayatullah masa itu, makin melengkapi proses perjalanan kekaderan sang inspirator.

Penekanan mampu bertahan pada alinea pertama di atas, bukanlah hal yang mengada-ada, sungguh merupakan hal yang sangat berat ketika itu, mulai dari asrama dan perlengkapannya, apa lagi jika sudah berbicara soal makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Belum lagi aktivitas rutin sebagai santri, ditambah dengan model penghuni asrama yang sangat heterogen, sempurnalah dengan sekian banyak santri yang keluar, baik pulang kampung maupun ke tempat lain untuk mengadu nasib yang lebih menjanjikan.

Pilihan bergabung ke Hidayatullah, dan kemampuan bertahan, kesiapan menerima amanah dan puncaknya sebagai perintis cabang dari nol dengan status pengantin baru yang menjadi cikal bakal deretan prestasi demi prestasi yang spektakuler, dan membuat kita tidak punya pilihan selain decak kagum atas besarnya karunia yang Allah berikan kepada sosok unik, heroik, dan terus menginspirasi ini.

Sekali lagi, selamat jalan sahabat, semoga kami semua diberi kemampuan untuk menapak tilasi sekian banyak kebaikan yg engkau torehkan.

*) Akib Junaid Qahar, anggota Dewan Mudzakarah Hudayatullah dan sahabat almarhum Ust. H. Jamaluddin Nur

Muruah dan Meneguhkan 4 Pilarnya

0

ADA banyak sekali akhlak mulia yang dianjurkan oleh Islam. Sedemikian kental warna akhlak mulia ini dalam Islam sampai-sampai Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang baik – dalam riwayat lain: yang mulia.” (Hadits shahih, riwayat Ahmad dan al-Hakim, dari Abu Hurairah).

Karena macam akhlak mulia yang sangat banyak, maka simpul dan pengikat pun menjadi sangat penting, agar tidak lepas dan tercecer. Salah satu simpul pengikatnya disebut dengan Muru’ah. Apakah itu?

Menurut Mausu’ah Fiqh al-Qulub, Muru’ah adalah: “Mengerjakan segenap akhlak baik dan menjauhi segenap akhlak buruk; menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodainya.”

Definisi ini mengisyaratkan bahwa semua akhlak mulia bisa tertampung di dalamnya, sehingga cakupan Muru’ah pun menjadi sangat luas. Sebagai ilustrasi, Imam Abu Bakr al-Khara’ithiy (w. 327 H) telah menyusun karya berjudul Makarimul Akhlaq (akhlak-akhlak mulia), yang terdiri dari 3 juz dan memuat 1.041 riwayat. Untuk tema sebaliknya, beliau menyusun kitab berjudul Masawi’ul Akhlaq (akhlak-akhlak buruk) setebal 5 juz kecil dan mengandung 872 riwayat.

Sebenarnya, ada beragam pandangan dalam masalah Muru’ah ini. Para pakar hadits, fiqh, bahasa, dan sastrawan memiliki uraian tersendiri menurut sudut pandang masing-masing. Meskipun demikian, umumnya mereka bersepakat bahwa inti Muru’ah adalah akhlak mulia.

Hanya saja, karena luasnya cakupan, sebagian ulama’ kemudian meneliti akhlak mana saja yang menjadi pilar tegaknya Muru’ah ini. Bagaimana hasilnya? Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata: saya mendengar Imam asy-Syafi’i berkata, “Muru’ah itu mempunyai empat pilar, yaitu berakhlak baik, dermawan, rendah hati, dan tekun beribadah.” (Sunan al-Baihaqi, no. 21333).

Bila kita renungkan, ternyata keempat pilar tersebut menopang banyak sekali akhlak-akhlak mulia yang lain, sekaligus menyingkirkan akhlak-akhlak buruk.

Pertama-tama, jelas kunci Muru’ah adalah memiliki tindak-tanduk dan kebiasaan yang baik. Tanpanya seseorang tidak pantas menyandang sifat Muru’ah, sebab seluruh bagian yang lain akan kehilangan induk. Sebab, kebaikan dan keburukan itu selalu menarik akhlak sejenisnya untuk datang, sebagaimana dikatakan ‘Urwah bin az-Zubair (ulama’ Tabi’in, w. 94 H),

“Bila engkau melihat seseorang melakukan kebaikan, ketahuilah bahwa kebaikan itu memiliki saudara-saudara pada diri orang tersebut. Bila engkau melihat seseorang melakukan keburukan, ketahuilah bahwa keburukan itu mempunyai saudara-saudara pada diri orang tersebut. Karena sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan saudaranya, dan demikian pula keburukan itu menunjukkan saudaranya.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah).

Pilar kedua, yaitu kedermawanan, sesungguhnya merupakan refleksi dari itsar (mengutamakan orang lain), futuwwah (murah hati), tidak cinta dunia, saling menolong dalam kebajikan dan takwa, mendatangkan kegembiraan kepada sesama, dsb. Menurut Al-Qur’an, manusia sebenarnya cenderung enggan melepaskan haknya kepada orang lain, pelit, dan lebih senang jika diberi. Allah berfirman, “Dan manusia itu menurut tabiatnya adalah kikir.” (QS. An-Nisa’: 128).

Maka, kedermawanan adalah tindakan melawan nafsu-nafsu serakah, egois, cinta dunia, dsb. Allah menyanjung orang-orang yang bisa melawan kecenderungan negatif tersebut dalam Qs. Al-Hasyr: 9, ketika mengisahkan kedermawanan kaum Anshar kepada kaum Muhajirin. Senada dengan ini Allah berfirman pula dalam QS. at-Taghabun: 16:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk (kemanfaatan) dirimu (di dunia dan akhirat). Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Untuk pilar Muru’ah yang ketiga, yaitu rendah hati (tawadhu’), kita bisa memahami betapa hebatnya akhlak ini dengan merenungkan kisah Adam, Malaikat, dan Iblis sebagaimana disitir Al-Qur’an. Sungguh, kesombonganlah yang membuat Iblis menolak bersujud kepada Adam. Ia merasa lebih baik dan lebih mulia, sehingga tidak mau menghormati Adam. Allah pun murka kepada Iblis, melaknatnya, dan mengusirnya dari surga.

Sebaliknya, dengan rendah hati para malaikat serta-merta bersujud. Qatadah berkata, “Iblis iri kepada Adam atas kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Dia berkata: ‘Aku tercipta dari api, sedangkan dia ini dari tanah.’ Maka, awal mula dosa-dosa adalah kesombongan. Musuh Allah itu merasa dirinya lebih hebat sehingga tidak mau bersujud kepada Adam.” (Riwayat as-Suyuthi dalam Tafsir ad-Durrul Mantsur, pada Qs. al-Baqarah: 34).

Dengan kata lain, ketawadhu’an akan menyemai amal-amal shalih, sebagaimana kesombongan pasti membuahkan aneka dosa dan maksiat. Di balik ketawadhu’an seseorang, ketika sikapnya ini benar-benar tulus dan bukan topeng palsu, sebenarnya bersemayam banyak akhlak dan adab yang lain, seperti muhasabah (introspeksi diri), gemar berlomba dalam kebaikan, tidak mencari-cari aib orang lain, menghormati orang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dsb.

Pilar terakhir Muru’ah adalah tekun beribadah. Bagian ini menyiratkan dua hal sekaligus. Pertama, tidak ada keshalihan hakiki yang tidak disertai dengan kedekatan kepada Allah, apalagi yang tanpa iman. Walaupun seseorang telah menyempurnakan 3 pilar Muru’ah yang lain, jika dia malas beribadah, maka kebaikan-kebaikannya rawan tercemari oleh motif-motif yang salah, sehingga sia-sia. Dengan ibadahlah maka hati seseorang akan lebih terjaga.

Kedua, ibadah akan mewariskan keteguhan hati dan kesabaran, sehingga mendatangkan istiqamah. Dengan istiqamah diatas kebaikan, maka kehormatan seseorang terjaga, dan inilah puncak Muru’ah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Melepas Ustadz Jamaluddin Nur Pulang ke Allah

0

“PAK KABID, kapan ke Batam, saya kangen. Jangan janji-janji terus,” begitu Ustadz Jamaluddin Nur, yang selalu memanggil saya Pak Kabid, saat menelepon japri ataupun saat rapat daring.

Dan, saya selalu menjawab, ”In Syaa Allah, Daeng, sabar sedikitlah, saya pasti kesana pada saatnya”. Lalu kemudian saya larut dalam aktifitas rutin berikutnya. Saat saya datang ke Riau, beberapa bulan lalu, juga memaksa untuk mampir ke Batam dulu, namun belum jadi juga.

Beliau beberapa tahun belakangan ini, memang mengalami sakit komplikasi, akan tetapi seolah sakitnya tidak pernah beliau rasakan. Dan, sudah beberapa bulan beliau belum sanggup untuk pergi jauh, apalagi naik pesawat. Sehingga rapat koordinasi selalu kami lakukan melalui daring.

Kendatipun demikian hari-harinya terus diisi dengan amal shalih dan karya, dan senantiasa di-share baik melalui japri maupun dengan media sosial lainnya. Dan, karya-karya itulah yang menjadi legacy beliau, sebagai pemberat timbangan kebaikan kelak di yaumil hisab.

Sejak akhir Januari 2023, kami sudah merencanakan untuk koordinasi luring. Awalnya disepakati tanggal 3-5 Februari bertempat di Batam. Lalu karena ada jawal bentrok, diundur tanggal 9-11 Februari.

Saya selalu menekankan kepada team untuk meluangkan waktu itu. Bahkan, ada yang schedule-nya ke Turkiye, pada tanggal itu, bisa diundur. Demikian juga ada yang harus menghadap promotor untuk persetujuan desertasinya, yang biasanya susah, seakan dipermudah. Dan saya selalu strike untuk terus mengingatkan agar cepat-cepat beli tiket.

Kami mendapat informasi, bahwa hari Sabtu malam, 4 Februari, beliau masuk RS, karena ada infeksi di tangan dan pada saat yang sama gula darah naik. Sehingga kami semakin ingin untuk segera ke Batam. Selain untuk koordinasi, sekaligus menjenguk beliau.

Qodarullah, tanggal 9 Februari sore, kami berenam bisa datang hampir bersamaan, dengan naik pesawat dari dua maskapai yang berbeda, meski sama-sama delayed.

Awalnya mau langsung ke RSUD Embung Fatimah tempat beliau dirawat, akan tetapi karena sudah relatif malam, maka kami tunda untuk esok hari. Karena saat kami dijemput, diberi informasi bahwa kondisi beliau sudah normal dan stabil, sehingga tanggal 10 (esoknya) akan diopersi lengan yang infeksi.

Kami diskusi dulu di guest house pesantren hingga sekitar jam 23 malam. Tetapi saya tidak bisa langsung tidur karena harus merampungkan menulis naskah khutbah Jum’at, hingga terkirim jam 00.22 WIB.

Skuad lengkap bidang PPO DPP Hidayatullah, tampak almarhum Ust. Jamaluddin Nur berbatik corak merah di arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2023 yang digelar selama 3 hari di Komplek Gedung dan Wisma Pusat Hidayatullah, Jln. Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Sabtu, 16 Jumadil Awal 1444 (10/12/2022)./ Foto: dok. Hidayatullah

Paginya, setelah shalat subuh, diminta memberi pengarahan dihadapan santri, dilanjutkan rapat koordinasi. Untuk saling merekatkan diri sesama kami di Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) DPP Hidayatullah. Hingga jam 7.30, lalu siap-siap ke RS Embung Fatimah, untuk membesuk beliau.

Sekitar jam 8.15 kami tiba di ruang rawat inap Teratai. Seperti biasa tidak ada nampak wajah murung. Ceria. Saat saya bisikkan, saya memenuhi permintaan Daeng tiba di Batam, secara spontan beliau menangis. Istri beliau bilang, bahwa gula darah dan tensi agak naik, padahal jam 09.00 jadwal operasi. Akan tetapi nanti akan observasi dulu.

Selanjutnya, seperti biasa, kita masih bersenda gurau, bercerita, dan bercengkerama tentang banyak hal. Mendekati jam 09.00 petugas datang dan memberitahu kepada kami bahwa akan ada pergantian shift. Dan jam 09.00 lewat Ustadz Jamal akan dibawa ke ruang observasi untuk persiapan operasi.

Lalu sebagai orang memiliki riwayat penyakit yang sama dan pernah operasi, saya juga banyak membisikkan berbagai hal, salah satunya adalah sabar terhadap proses.

Sebelum keluar, Babeh Dzikru memimpin do’a yang sangat menyentuh. Ustadz Jamal menangis, saya pegang kepalanya, dan meminta beliau jangan menangis. Akan tetapi, sayapun tidak kuasa menahan air mata, dan kemudian larut dalam tangis.

Saat mau keluar ruangan, saya sampaikan ke Bu Ummu, istri beliau, bahwa nanti istri saya akan menelepon untuk berbagi pengalaman saat merawat saya habis operasi.

Kemudian kami kembali ke pesantren dan melanjutkan rapat hingga menjelang shalat Jum’at. Selesai shalat Jum’at, baru saja menjama’ shalat ashar, kami dapat info, beliau kritis, sedang dalam bantuan pernafasan.

Maka, saya minta kawan-kawan segera gantri baju, kita akan ke rumah sakit. Waktunya sangat singkat. Saya baru selesai ganti baju, dan mau pake sepatu, tiba-tiba telepon berdering dari Ust. Khairul Amri, menginformasikan singkat bahwa Ust. Jamal telah dipanggil Allah. Saya setengah memekik Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, sambil menangis dan hampir pingsan.

Kemudian kami bergegas ke RS yang jaraknya kurang dari 10 menit dari pesantren. Kami dapati beliau sudah tidak bernyawa, terbaring di tempat tidur rumah sakit. Terlihat tersenyum di bibirnya, seolah ikhlas dan mengaminkan do’a kami bersama tadi, untuk mendapatkan yang terbaik dari Allah ta’ala.

Kami menginginkanmu sehat kembali seperti sedia kala, dan bisa bekerjasama kembali. Tetapi Allah ta’ala lebih mencintai antum, dan demikian juga antum nampak dan siap menghadap sang Khaliq.

Saya menjadi saksi dan haqqul yakin, bahwa saudaraku Jamaluddin Nur adalah orang baik, dan in Syaa Allah berhimpun dengan para shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Selamat jalan saudaraku, jannatun naim telah menantimu. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa antum, menerima seluruh amal antum, mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan sabar dan ikhlas menghadapi semua ujian ini.

Dan ternyata, inilah koordinasi dan penghormatan terakhir untuk Antum. Semoga kekompakan kita selama menjadi teamwork di dunia selama ini, akan tetap demikian adanya di kelak kemudian hari, sehingga Kita dipertemukan kembali di Surga-Nya.

*) Asih Subagyo, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Ustadz Jamaluddin Nur Meninggal, Hidayatullah Berduka

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Datang kabar duka dari Batam, Kepulauan Riau. Ustadz Jamaluddin Nur, Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah telah dipanggil oleh Allah Ta’ala pada Jumat, 19 Rajab 1444 (10/2/2023) siang. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

“Beliau sebenarnya sudah lama sakit. Namun, beliau tetap saja beraktivitas menunaikan amanah-amanah beliau,” jelas Wakil Sekjen DPP Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, sesaat setelah menerima kabar duka tersebut.

Lalu sekitar sepekan sebelum meninggal, jelas Ghofar lagi, kesehatan beliau kembali drop. Beliau masuk rumah sakit, hingga Allah Ta’ala memanggil beliau di hari terbaik, Jumat.

Ustadz Jamal, panggilan akrab Jamaluddin Nur, selain mendapat amanah sebagai pengurus DPP Hidayatullah, juga sebagai Ketua Badan Pembina di kampus utama Pondok Pesantren Hidayatullah Batam.

Ust Jamal pertama kali ditugaskan mengelola Pesantren Hidayatullah, Batam, pada akhir 1997. Saat itu beliau baru saja mengikuti nikah barokah (nikah massal) 100 pasang di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Ghofar menjelaskan bahwa Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, pernah berkata tentang Ust Jamal, “Nur pada nama Ust Jamaluddin Nur bermakna cahaya. Karena itu Ust Jamal harus menjadi cahaya bagi Batam dan Alhamdulillah beliau menjadi salah satu cahaya dakwah di Batam,” kata Ghofar menirukan perkataan KH Abdurrahman Muhammad.

Kini, perkataan Pemimpin Umum Hidayatullah tersebut telah menjadi nyata. Pesantren Hidayatullah Batam sudah berkembang pesat, menempati dua lokasi strategis, yakni di pertigaan kawasan Mukakuning, Batuaji, dan di Tanjung Uncang. Ribuan peserta didik sudah dibina di lembaga-lembaga pendidikan milik Hidayatullah Batam yang didirikan Ust Jamal.

Pada Desember 2021, Ust Jamal dikukuhkan sebagai tokoh pengelola Pendidikan Agama Islam terbaik di Kota Batam, Kepulauan Riau, oleh Dewan Pendidikan Kota Batam (DPKB).

“Hidayatullah sangat kehilangan dengan berpulangnya Ust Jamal. Namun, kita harus mengikhlaskan beliau. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, mengampuni segala kesalahan beliau, dan menempatkan beliau di Jannah tertinggi. Aamiin,” kata Ghofar.*/ Mahladi

Pemuda Hidayatullah Akan Gelar Munas VIII di Jakarta

0
Ketua Panitia Munas VIII Pemuda Hidayatullah, Haniffudin A. Chaniago (baju putih) dalam sebuah audiensi di Jakarta/ Foto: dok hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Oganisasi Pemuda Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-VIII bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, pada 17-19 Februari 2023 mendatang.

Ketua Panitia Munas VIII Pemuda Hidayatullah, Haniffudin A. Chaniago, mengatakan agenda nasional 3 tahunan kali ini mengangkat tema “Kokohkan Karakter Pemuda Progresif-Beradab untuk Indonesia Bermartabat 2045”.

“Tahun 2045 adalah masa dimana Indonesia telah menjadi negara maju dan berpengaruh, oleh sebab itu Pemuda Hidayatullah harus menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” kata Haniffudin dalam keterangannya di Jakarta, Jum’at, 19 Rajab 1444 (10/2/2023).

Haniffudin mengatakan, peta jalan visi 2045 menuju Indonesia Emas sejatinya adalah tantangan generasi muda hari ini. Pada usia satu abad tersebut, bangsa ini menargetkan telah menjadi negara maju yang sejajar dengan negara adidaya.

“Masa seperempat abad menuju ke sana bukanlah waktu singkat, namun, di sisi lain, kesempatan yang panjang ini bisa menjadi petaka apabila tak benar benar dimanfaatkan. Oleh sebab itu, menyadari akan hal tersebut, Pemuda Hidayatullah
menyingsingkan lengan dengan tandang ke gelanggang melalui peran moralnya,” katanya.

Di sisi lain, momentum itu menuntut peran pemuda dalam menguatkan upaya komunikasi yang lebih mendalam antar elemen umat dan bangsa dengan semangat persatuan dan keindahan akhlak sebagai upaya mencari titik temu yang jelas dan dapat dipergunakan bersama sebagai isu utama perjuangan (kalimatun sawaa’) antar elemen umat yang berbeda pandangan.

“Karenanya, Munas kali ini Pemuda Hidayatullah selain sebagai forum musyawarah tertinggi dalam organisasi untuk menetapkan AD/ART dan Ketua Umum, kita juga ingin menguatkan aspek aspek tujuan itu jangka menengah dan jangka panjang tersebut,” imbuh Haniffudin.

Munas VIII Pemuda Hidayatullah akan dirangkai dengan berbagai acara seperti pelatihan dai muda, dialog tokoh, seminar enterpreneurship, kajian peradaban, peluncuran buku 2045 Memimpin Indonesia, dan lain lain.

Kepada peserta delegasi dari 34 provinsi pengurus harian tingkat wilayah, pengurus harian tingkat daerah, kesatuan mandiri, dan para penggembira diimbau untuk tetap menjaga protokol cegah pandemi dan memastikan setiap diri dalam kondisi kesehatan stabil.*/Yacong B. Halike

Dr Syamsuddin Arif Bicara Moderasi Beragama di Kampus Induk

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Cendikiawan muslim yang juga peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Syamsuddin Arif, menyambangi Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak di Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, baru-baru ini.

INSISTS merupakan lembaga kajian pemikiran dan peradaban Islam di Indonesia, beranggotakan kaum intelektual muda Muslim.

Dalam kunjungannya itu, Dr Syamsuddin Arif bersilaturahim dengan para santri, mahasiswa, guru, dosen, ustadz, warga, serta pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan.

Pada Senin (30/01/2023) malam, alumnus Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, ini didaulat bertaaruf sekaligus memberikan nasihat di Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak.

Di antara ceramahnya, Dr Syamsuddin Arif mengingatkan jamaah tentang pentingnya berpegang teguh pada kebenaran.

Ia juga mengingatkan para santri dan mahasiswa Hidayatullah agar tetap konsisten menjalankan tugasnya masing-masing di pesantren.

“Di pesantren ini yang Antum (kalian) kerjakan tugas. Tugas belajar, tugas shalat lail, tugas berhalaqah, bersihkan lingkungan, itu adalah cara untuk mengangkat Islam sebagaimana dahulu,” ujarnya di depan ratusan warga, santri SMH, mahasiswa, para ustadz, dan jamaah lainnya.

Kemudian, esoknya, Selasa (31/01/2023), Dr Syamsuddin Arif mengisi kuliah umum yang digelar STIS Hidayatullah di aula bawah kubah Masjid Ar-Riyadh.

Kuliah umum bertema “Islam Moderat, Moderasi Beragama, Konsep, Problema dan Agenda” ini diikuti ratusan mahasiswa prodi Hukum Keluarga (HK) dan mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah (HES).

Menurut alumnus Universitas Islam Antar Bangsa (UIA) Malaysia ini, toleransi adalah hal yang harus ada dalam kehidupan bermasyarakat. Namun memiliki batas dan tidak berlebih-lebihan.

“Toleransi yang berlebihan tanpa sadar menyesatkan umat Islam yang lain,” ujar pria Betawi ini yang menyelesaikan hafalan Al Qur’an 30 Juz di Majlis Qurra’ wa-l Huffazh, Tuju-tuju Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan.

Lantas Dr Syamsuddin Arif berpesan kepada para mahasiswa agar lebih memperdalam ilmu agama agar tidak terpengaruh dan tersesat oleh fitnah di masa kini.

Di akhir penyampaiannya, Dr Syamsuddin Arif menyarankan kepada mahasiswa untuk fokus dalam belajar dan menjaga diri dengan berada lingkungan yang kondusif.

Hal ini katanya untuk membentengi diri dari berbagai ajaran yang menyimpang di tengah-tengah masyarakat.

“Harus memiliki lingkungan yang kondusif agar tidak terpengaruh dengan ajaran yang merusak dan menyesatkan,” ucap Dr Syamsuddin Arif.* (Muhammad Fuad/STIS/SKR/MCU)

[Download Khutbah Jumat] Urgensi Manajemen Waktu

0

SEBAGAI agama yang sempurna, Islam selalu relevan disetiap zaman dan keadaan. Bahkan, semua ajaran Islam sesungguhnya merupakan jawaban dari solusi problematika keummatan itu sendiri. Salah satu hal, yang selalu menjadi pertanyaan dari Kita adalah, bagaimana mengatur waktu?.

Karena sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan modal waktu setiap hari sama setiap makhluk hidup yakni, 24 jam sehari, 169 jam seminggu, 672 jam sebulan dan seterusnya. Akan tetapi, mengapa ada yang bisa mememanfaatkan dengan baik dan optimal, sehingga produktif dan menghasilkan amal sholeh disetiap saat, akan tetapi tidak sedikit yang kemudian waktunya terbuang sia-sia.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Asih Subagyo, M.Kom. unduh sekarang: