YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) bekerjasama dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) – Jawa bagian Selatan (Jateng Bagsel) dan PW Muslimat Hidayatullah menggelar Pelatihan Dai & Guru Ngaji Yogyakarta dengan tema Mencetak Mu’allim dan Muallimat GRAND MBA yang memiliki Kompetensi Dalam Bidang Al-Quran.
Acara berlangsung selama 3 hari yang turut didukung Laznas BMH ini digelar di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta yang dibuka oleh Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I pada Jum’at,11 Sya’ban 1444 (3/3/2023).
Dalam sambutannya membuka kegiatan, Ust. Drs. Shohibul Anwar menyampaikan urgensi Hidayatullah menghadirkan Gerakan Dakwah Nasional Mengajar dan Belajar Al Quran (Grand MBA) sebagai metode pengajaran memberantas buta aksara Al Qur’an.
Shohibul menekankan Grand MBA hendaknya terus dikembangkan dan dikuatkan agar semakin banyak dari masyarakat yang mendapatkan kemudahan dalam pembelajaran Al Quran. Bukan hanya dipelajari melainkan juga menjadi nilai utama yang selalu dijaga dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari.
“Kita sudah membuktikan bahwa Grand MBA melalui majelis majelis dan rumah Quran adalah gerakan yang sangat efektif dalam mensukseskan dakwah di tengah masyarakat,” kata Shohibul Anwar.
Dia berpesan bahwa inti dari Grand MBA adalah sebagaimana kepanjangannya yakni belajar dan mengajar Al Quran dengan mendirikan rumah Quran dan membentuk majelis majelis Quran sebagai wadah pembinaan.
“Tujuannya adalah untuk mengantarkan umat berislam dengan baik,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Jateng bagsel Ust. Abdullah Munir dalam sambutannya mengatakan target dari acara ini adalah menyiapkan dan meningkatkan kapasitas muallim muallimat seiring dengan semakin bertambahnya layanan Rumah Quran yang dihadirkan di DIY – Jateng bagsel.
“Pengelolaan Rumah Quran harus dikelola dengan baik dan serius, seriusnya seperti mengelolah sekolah formal. Sehingga dengan demikian maka kita akan menghasilkan RQH yang profesional, maju, dan kompeten,” katanya.
Munir menambahkan, segmentasi yang bagus untuk RQ adalah kelas dewasa dengan sistem pembinaan sebagaimana selama ini telah dikembangkan oleh Grand MBA.
Disamping itu, Munir juga mendorong pendirian RQH di kawasan yang potensial terutama kawasan yang memiliki kerentanan buta aksara Al Quran yang tinggi seraya berharap RQH terus memantapkan standarnya.
“Harapan kami selepas pelatihan ini muncul RQH baru yang standar,” tandasnya.
Pembukaan acara ini juga dihadiri oleh narasumber yaitu Sekretaris Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah Ust. Ahzami dan Ketua Posdai DIY Ust. Mansur Abu Ghaza.*/Yacong B. Halike
ISLAM memandang ketergantungan kepada orang lain dengan cara jalan meminta-minta termasuk perkara yang tidak terpuji, bahkan pelakunya cenderung dipandang rendah dan hina. Islam justru mendorong pemeluknya agar memiliki kemuliaan yang tinggi dan menjaga kehormatan dirinya.
Itulah sebabnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendidik sahabatnya agar menghindari kebiasaan meminta meskipun dalam kesulitan. Beliau juga mengajarkan ummatnya agar selalu merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.
Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. H. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA. Unduh sekarang:
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, mengatakan Hidayatullah adalah sebagai wadah berhimpun di dalam ikatan Tauhid dan wadah berjamaah dalam ikatan iman.
Hal itu disampaikan saat memberi Orientasi Umum menandai dibuka dan dimulainya kegiatan Daurah Marhalah Ula (DMU) serentak 4 hari secara nasional yang pembukaannya digelar secara hibryd berpusat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Kota Batam, Kepulauran Riau, Rabu, 9 Sya’ban 1444 (1/3/2023).
Ia menegaskan, Hidayatullah hadir sebagai wadah untuk melanjutkan misi kerasulan Rasulullah Muammad SAW untuk menebarkan cahaya Islam sebagaimana tertuang dalam Pedoman Dasar Organisasi (PDO) Hidayatullah.
“Itulah sebabnya di logo Hidayatullah ditengahnya ada gambar Ka’bah karena kita ingin bersatu dalam aqidah Islam. Hidup berjamaah adalah kebutuhan dan syariat bagi seluruh kaum muslimin,” katanya.
Selain itu, lanjut dia, Hidayatullah adalah wadah tarbiyah. Yakni, wadah pendidikan untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan menyemai lahirnya generasi Rabbani.
“Pesantren dan sekolah Hidayatullah adalah salah satu wadah untuk mewujudkan misi ini,” imbuhnya dalam pidatonya dari Kota Depok.
Lebih jauh, Nashirul mengatakan, Hidayatullah juga sebagai wadah dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke seluruh umat manusia dan menjadi rahmat bagi semesta.
“Dengan peran itu, Hidayatullah adalah wadah pelayanan dan pemberdayaan umat dengan berbagai program-programnya di masyarakat,” tukasnya.
Tak kalah penting, ia menerangkan bahwa Hidayatullah adalah wadah pemersatu dan penyalur memperjuangkan aspirasi umat Islam. Kesemua itu berorientasi untuk mewujudkan peradaban Islam yaitu terbangunnya sebuah kehidupan yang berlandaskan nilai iman nilai nilai Islam.
Maka, jelasnya melanjutkan, untuk tujuan itulah Hidayatullah menghadirkan lembaga-lembaga pendidikan agar melahirkan pejuang-pejuang peradaban yang berkualitas.
“Berkualitas ilmunya, berkualitas imannya, berkualitas amalnya, dan ini harus menyatu sehingga lahir generasi Rabbani yang ditunggu dan diharapkan oleh dunia,” pesannya memotivasi.
Diriingi pula oleh semangat tersebut, UNH menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Hidayatullah adalah pendidikan holistik atau integral yang memadukan aspek spiritual, aspek intelektual, aspek jasmani, aspek sosial, dan aspek kepemimpinan.
“Ini dalam rangka melahirkan generasi yang siap untuk menghadapi tantangan zaman yang begitu berat menantang,” katanya.
Dia menegaskan, aspek spiritual dan moral harus menjadi prioritas utama dan pertama dalam pendidikan. Aqidah, akhlak, dan ibadah itulah yang harus menjadi perhatian yang sungguh-sungguh dari kita semua termasuk adik-adik sekalian, terangnya.
Itulah sebabnya, sambungnya, dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah sesungguhnya telah menetapkan tujuan pendidikan yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
“Dan yang bisa menjawab dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional itu insya Allah adalah lembaga pendidikan Hidayatullah yang menempatkan aspek spiritual ruhiyah di urutan paling utama dan pertama,” katanya.
Barulah setelah itu ada aspek intelektual, aqliyah tsaqofiyah, yang membekali generasi dengan ilmu dan wawasan yang luas. Oleh sebab itu setiap santri harus tampil percaya diri dan tekun berlatih sehingga cakap dalam berbagai bidang dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Tak lupa ia juga mengingatkan kesehatan jasmani. Menurutnya, kesehatan jasmani seringkali diabaikan padahal ia sangat prinsip. Menukil Imam Hasan al-bashri, UNH mengatakan bahwa anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hambaNya setelah keimanan kepada Allah adalah kesehatan.
“Iman ilmu akan bisa bermanfaat dengan baik manakala kita sehat kita kuat,” tandasnya seraya membaca sebait pantun untuk memotivasi santri agar bisa melampaui kehebatan yang lain dari berbagai bidang.*/Yacong B. Halike
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Orientasi Umum yang disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, menandai dimulainya kegiatan Daurah Marhalah Ula (DMU) serentak 4 hari secara nasional yang pembukaannya digelar secara hibryd berpusat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Kota Batam, Kepulauran Riau, Rabu, 9 Sya’ban 1444 (1/3/2023).
Pembukaan juga dihadiri oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah lainnya seperti Ketua Bidang Tarbiyah Ir. Abu A’la Abdullah, Ketua Departemen Kepesantrenan KH. Muhammad Syakir Syafii serta turut dibersamai secara online oleh Pemimpin Umum KH. Abdurrahman Muhammad.
Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ir. Abu A’la Abdullah dalam sambutannya menyampaikan DMU merupakan episode yang sangat penting dalam proses perkaderan di Hidayatullah terutama bagi santri yang duduk di bangku kelas sebelas.
Menurutnya, DMU memuat materi topik keislaman dan kelembagaan yang diharapkan kian mengantar para peserta didik tumbuh dalam kesadaran berislam yang dengan itu mereka kelak akan berkiprah di berbagai sektor kehidupan di masyarakat.
Dalam pada itu, terang Abu A’la, DMU diharapkan membekali peserta didik yang akan lulus dari bangku SLTA yang kemudian memasuki jenjang perguruan tinggi agar semakin dewasa yang berbekal kematangan paradigma dengan pemahaman Islam yang luhur.
“Kehidupan ini adalah suatu pertarungan paradigma, pertarungan cara pandang, sehiggga dengan DMU ini akan menata paradigma untuk sebuah kepentingan sangat penting,” katanya seraya berpesan agar kelak setelah menuntaskan pendidikannya di SLTA Hidayatullah para santri tetap terbina dalam halaqah di tempat masing masing.
Abu A’la mengimbuhkan, DMU sejatinya merupakan ikhtiar regenerasi untuk memantapkan ketersediaan sumber daya insani yang nantinya siap melanjutkan kerja kerja dakwah Islam yang kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamin. Usia kita manusia sangat terbatas sehingga harus menyiapkan generasi pelanjut.
“Umur kita paling lama itu 60 sampai 70 tahun, maka kita memaksimalkan usia yang ada dengan maksimal mengabdi untuk Islam dan kebaikan. Semoga smeua mendapatkan balasan pahala di sisi Allah,” katanya.
Kepada sedikitnya 2.838 peserta DMU yang mengikuti pembukaan ini, Abu A’la menyampaikan doa dan harapannya semoga menjadi generasi yang cerdas, disiplin, dan militan sebagaimana tema kegiatan yang digelar dalam 2 gelombang ini.
“Cerdas artinya cerdas hati dan pikiran, selalu disiplin waktu dan amal, dan militan yang senantiasa selalu bersemangat dalam melakukan kebaikan sebagai bagian dari membangun peradaban Islam,” katanya.
Dengan ketiga bekal tersebut, diharapkan para santri Hidayatullah dapat terus membangun komitmen berkarya dan berkiprah di berbagai sisi kehidupan. “Jadi pengusaha, mungkin ada yang jadi politikus, ada yang jadi budayawan, menjadi pejuang di tingkat keamanan. Bisa jadi jenderal dan lain lain,” imbuhnya.
Dia menambahkan, Hidayatullah pun terbuka menerima lulusan SLTA yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti STIS di Balikpapan, STAIL di Surabaya, STIKMA di Malang, IAIAS Batam, STIE di Depok, STIT Mumtaz di Karimun, dan STIT Albayan di Makassar.
“Dan yang mandiri didorong diharapkan untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi yang strategis jurusannya untuk menyokong sumber daya insani dalam rangka merambah karya secara luas bahkan hingga ke level internasional,” tandasnya.*/Yacong B. Halike
SETIAP muslim pasti meyakini bahwa ia lebih unggul, mulia, luhur derajatnya daripada kafir. Sehingga realitas kehidupan diliputi keamanan, kejayaan, kesucian, keberkahan.
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran (3) : 139)
Allah memberi rahmat, maghfirah, pertolongan di dunia kepada muslim dan memasukkannya ke dalam surga-Nya sebagai wujud perhatian dan kecintaan-Nya kepadanya.
Sedangkan Allah tidak merahmati, tidak mengampuni, dan tidak mencintai orang kafir dan memasukkannya ke dalam neraka-Nya secara permanen.
Yang diperlu diberi garis tebal di sini, mengapa demikian mulia posisi muslim dan demikian rendah/hina kedudukan kafir disisi Allah ? Sedangkan sama-sama hamba-Nya, sama-sama manusia, sama-sama keturunan Nabi Adam, sama-sama menikmati wasilatul hayah (sarana kehidupan) secara gratis, sama-sama mengkonsumsi karunia-Nya, sama-sama penghuni bumi dan langit-Nya.
Mereka juga sama-sama dilahirkan oleh ibu dalam keadaan lemah dan sama-sama meninggal dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa, dan sama-sama dikubur di alam barzakh-Nya!
Kalau tidak ada perbedaan atribut lahiriyahnya muslim dengan kafir, mengapa demikian menganga perbedaan kedua makhluk-Nya tersebut ?
Apakah karena muslim bernama Ahmad, Sumayya, Shabiyya dan kafir bernama Robert, Kristiani, Kristianto? Apakah karena muslim berkhitan, tidak makan daging babi, yang menjadi standar perbedaan kedudukan keduanya? Bukankah Allah sudah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya untuk memperlakukan seluruh makhluk-Nya di muka bumi ini?
Perbedaan
Sesungguhnya Islam tidak membedakan seseorang dengan lainnya karena faktor keturunan, status sosial, jabatan, asesoris lahiriyah, tetapi yang paling mulia disisi-Nya adalah yang paling berkulitas ketakwaannya (QS. Al Hujurat : 13).
Dengan demikian, perbedaan muslim dan kafir adalah diukur dari seberapa jauh sikap ridha Allah sebagai Rabbul Alamin, Islam sebagai din, Rasulullah sebagai utusan-Nya. Jadi, turunnya rahmat, maghfirah, pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan keterikatannya yang kokoh (iltizam) dengan Rabb, Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Oleh karena itu diantara zikir yang matsur, dapat menjamin seseorang masuk surga, jika zikir berikut ia panjatkan dengan hati yang tulus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda :
من قال رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولا وجبت له الجنة
“Barang siapa yang mengucapkan ‘Radhiitu billahi rabbaa wa bil islaami diinaa wa bi muhammadin shallaa allahu ‘alaihi sa sallama rasuulaa’ (Aku rela Allah Swt sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Saw sebagai Rasul) Maka surga merupakan suatu kepastian baginya” (HR. Abu Dawud & dishahihkan Albani).
Ibnu Qayyim dalam kitab Madarij al-Salikin, menjelaskan bahwa hadits ini mengandung inti dari pada rukun iman. Ridha Allah sebagai Rabb mengandung makna bahwa ia rela hanya akan menyembah dan mentauhidkan-Nya semata, sadar bahwa hanya Dia tempat bergantung dan meminta pertolongan. Ridha dengan Nabi Muhammad sebagai rasulnya berarti ia rela dan tulus dan total mengikuti ajarannya. Ridha dengan Islam sebagai agamanya berarti ia rela dan ikhlas menjadikan islam sebagai jalan hidupnya (manhajul hayah).
Setelah hadits di atas, Imam Nawawi mengaitkan sabda Rasul tersebut dengan hadits lainnya. Beliau menyebut riwayat yang terdapat di dalam kitab Imam Tirmidzi, yang berasal dari sahabat Abdullah Ibnu Busr Ra, berkata,
أن رَجُلاً قال : يا رسول الله إن شرائِع الإسلام قد كثُرت عليه فأخبرني بشيئ أتشبَّث به، فقال : لا يزال لِسانك رَطبًا مِن ذكر الله تعالى
Seorang lelaki mengatakan, “Wahai Rasulullah sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak atas diriku, maka beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang akan kupegang erat-erat.” Nabi Saw menjawab, “Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir menyebut Allah Swt.” (HR. Tirmidzi)
Imam Tirmidzi mengatakan, kualitas hadis ini hasan. Lafaz atasyabbatsu mengandung makna atamassaku (berpegang teguh), yakni (zikir) yang bisa aku jadikan sebagai pegangan dan amalan andalanku. Yaitu zikir yang mudah dipanjatkan kapanpun agar bisa menambal kekurangan ibadah-ibadah wajib yang hilang yang karenanya pahala amalan wajib menjadi tidak sempurna.
Dalam hadits terakhir, Rasul tidak menyebutkan apa zikir yang bisa dijadikan pegangan oleh sahabat tersebut. Beliau hanya menekankan agar ia selalu berzikir hingga bibirnya selalu basah karena menyebut nama Allah dan itu bisa dengan melafalkan zikir apapun.
Jika berharap zikir yang menjamin masuk surga, maka bisa mengamalkan zikir yang diajarkan Rasulullah dalam hadis pertama. Namun jika ingin membuat timbangan amalnya berat, maka bisa dengan melantunkan zikir yang lain.
ومعناه اي قنعت بان الله تعالى هو الخالق والسيد والمالك والمصلح والمربي لخلقه والمدبر امورهم ولستُ بمكره على ذلك بل انا راضٍ به ، وكذلك رضيت ان ادين بدين الاسلام عما سواه من الاديان ، وكذلك رضيت بحمّد صلى الله عليه وسلم رسولا من الله مخالفا من عائدٍ وكفر به ، اي : ان من يقول هذا الدعاء كان حقّا على الله ان يدخله الجنة
Makna hadits di atas, aku puas bahwa Allah sebagai Al Kholiq, Tuan, Raja, Mushlih dan Murabbi kepada seluruh makhluk-Nya, dan Pengatur segala urusannya, dan aku tidak benci dengan itu semua, bahkan aku ridha dengannya, demikian pula aku ridha untuk memeluk dinul Islam yang unggul diatas seluruh agama.
Disamping itu aku ridha Muhammad sebagai Rasulullah, menyelisihi dengan para pengingkar dan penentangnya. Sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut, merupakan kewajiban Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.
Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana jika seorang muslim yang tidak ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai manhajul hayah, dan Rasulullah sebagai figur sentralnya ?
Apakah perlu dibedakan jika ucapan dan perilaku muslim beririsan (tasyabbuh) dengan orang kafir? Bahkan secara lahiriyah negara kafir lebih bersih, jujur, disiplin, manajemen lebih rapi, sumber daya manusianya lebih berkelas.
Realitas kehidupan kaum muslimin menjadi bukti, paradok dengan isi kitab sucinya. Al Islamu mahjubun bilmuslimin. Umat islam lebih culas, tidak disiplin, konsumtif, kurang bersih dan kurang disiplin dan mutu sumber daya mukmin yang dibawah standar umum.
Jika muslim tidak melakukan cabang keimanan yang prinsip, mentauhidkan Rabb, mencintai Islam, memuliakan Rasulullah, karena faktor kebodohan, maka urusannya terserah Allah diampuni ataupun disiksa dengan azab-Nya.
Berbeda status hukumnya jika muslim sengaja secara struktur dan masif untuk menentang Rabb, menyudutkan dinul Islam, merendahkan derajat Rasulullah, secara otomatis bisa menggugurkan keislamannya.
Langkah kongkritnya adalah meyakinkan diri dan orang lain agar lebih mengenal Rabb, memahami dan mengamalkan Islam, meneladani Rasulullah, agar kaum muslimin lebih berkualitas dalam berbagai dimensi kehidupannya..
Justru ketetapan Allah membedakan yang berbeda dan menyamakan yang sama adalah sikap adil. Alangkah zalimnya jika manusia yang shalih di dunia dengan kafir yang kerjanya berbuat kerusakan, ujung kehidupannya disamakan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ
“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. Al-Qalam 68: 35)
مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ
“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam 68: 36)
Jika mereka beriman seperti keimanan para pendahulunya yang shalih mereka akan terbimbing, sebaliknya jika mereka berpaling maka kehidupan mereka akan berantakan.
“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 137)
Ust. Sholih Hasyim,penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus
YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dasar (SD) Integral Hidayatullah Yogyakarta gelar kegiatan Munaqosyah Al Qur’an Metode Ummi ke VII. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari di Aula SD Integral Hidayatullah Yogyakarta pada 6-7 Sya’ban 1444 (25-26/02/23).
Munaqosyah kali ini mengalami peningkatan jumlah dari tahun lalu, yakni diikuti oleh 353 murid kelas I hingga VI dengan total 504 Kategori/Materi ujian (Turjuman, Tartil dan Tahfizh juz 30, 29, 28 1, 2,3,4,5, dan 26).
Ummi Daerah (Umda) Yogyakarta menugaskan sebayak 17 trainer di hari pertama dan 12 trainer di hari Ahad untuk menguji 353 murid. Sebanyak 3 di antaranya adalah guru Al Qur’an SD IT yang juga termasuk trainer Umda.
Munaqosyah tahun ini adalah pelaksanaan ke VII, sejak dilaksanakan pertama kali pada tahun 2017.
Kepala Sekolah SD IT Hidayatullah, Muhammad Rifki Saputra S.Pd.I berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam proses serta output pembalajaran Al Qur’an, selain sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah yang pada 7 Desember 2021 dipilih oleh Ummi Yogyakarta sebagai salah satu sekolah model pembelajaran al Qur’an Metode Ummi di Yogyakarta khususnya.
“Munaqosyah adalah tolak ukur dan keberhasilan siswa dan lembaga dalam pembelajaran Al Qur’an Metode Ummi. Tentu kita sebagai umat muslim harus menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk,” ujar Rifki.
Munaqosyah adalah agenda rutin setiap tahun sebagai control eksternal oleh Ummi Foundation yang bertujuan untuk mengevaluasi ketercapaian pembelajaran Al Qur’an di SD IT Hidayatullah Yogyakarta.
Kegiatan ini merupakan program penilaian kemampuan siswa atau santri yang telah menuntaskan pembelajaran dengan Metode Ummi untuk menentukan kelulusan. Kegiatan Munaqosyah dilakukan sebagai Aplikasi dan Implementasi dari system yang berbasis mutu.
Adapun bahan yang diujikan pada Munaqosyah kali ini meliputi: Pertama, Fashohah dan Tartil Al Qur’an, membaca Al Qur’an dengan tartil dan sesuai kaidah tajwid. Kedua, Membaca Gharib dan komentarnya. Ketiga, Teori ilmu tajwid dan menguraikan hukum-hukum bacaan.
Keempat, Materi Turjuman yaitu menulis arab (Imla’), 3 skill (Hafal materi dengan tartil, terjemah perkata, dan terjemah perkalimat) serta, hafal intisari materi (dasar, keutamaan dan tata cara). Kelima, Tahfizh juz 30, 29, 28 1, 2,3,4,5, dan 26.
Dimulai sejak jam 06.30 pada Sabtu dan Ahad, proses Munaqosyah selesai dilaksanakan tepat pada jam 14.00 siang.*/Ainul Laili Mufidah
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur (Jatim) menyelenggarakan Halaqoh Kubro selama 2 hari di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayataullah (PPH), Surabaya, Jatim, 5-6 Sya’ban 1444 (25-26/02/2023).
Ribuan kader, da’i dan, aktivis Hidayatullah Jatim hadir untuk memeriahkan acara yang mengangkat tema besar; Menyongsong Usia Emas Hidayatullah.
Pada sesi pertama yang berlangsung pada Sabtu malam, setelah Isya diisi oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, M.A, anggota Dewan Petimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mazakkar, dan Ust. H. Drs. Hamim Thohari selaku Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah.
Pada kesempatan itu, para pemateri lebih menekankan tentang jati diri Hidayatullah, yang harus dijiwai dan dilaksanakan oleh para kader.
“Sistematika wahyu dan imamah jamaah merupakan ciri khas dari gerakan Hidayatullah, yang mana keduanya merupakan orisinil pemikiran dari Allahu yarham Ustadz Abdullah Said,” papar Aziz dalam penyampaian materinya.
Sebelumnya, Nashirul meggungkapkan, pentingnya para kader berpegang pada prinsip jati diri yang menjadi kekhasan dari Hidayatullah. Selain menjadi kunci kesuksesan dakwah, beliau mempertegas, bahwa eksistensi Hidayatullah itu tergantung dua item tersebut.
“Tanpa sistematika wahyu dan imamah jamaah, maka Hidayatullah sudah tidak ada,” tegas Nashirul.
Selesai sesi pertama pada pukul 22.30, para peserta rehat di tempat yang telah ditentukan panitia. Selanjutnya, pada pukul 02.30 dini hari, semua melaksanaka shalat tahajjud secara jamaah di lapangan utama pesantren.
Selepas shalat shubuh di tempat yang sama, sesi kedua yang menjadi puncak dari acara Halaqoh Kubro, diisi pencerahan oleh KH. Drs. ec. Abdurrahman, Anggota Pertimbangan Hidayatullah, dan KH. Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah.
Acara diakhiri dengan ramah tamah antar jamaah sambil menikmati hidangan sarapan yang telah disediakan oleh panitia.*/Robinsah
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam baru saja menggelar perhelatan akbar Hidayatullah Exhibition, ajang lomba untuk seluruh sekolah yang ada di Kota Batam, Kepulauan Riau, Kamis (23/2/2023).
Ajang lomba dengan nama Hidayatullah Exhibition ini mengangkat tema besar: “Melahirkan Generasi Bertauhid, Unggul dan Kompetitif, yang berlangsung selama empat hari, Senin- Kamis, 27 Rajab-2 Sya’ban 1444 H (20-23/2/2023).
Semua ajang lomba dilaksanakan terpusat di Kampus Hidayatullah 02 Putri, Tanjung Uncang, dengan peserta seluruh unit sekolah, dari Usia 4-5 tahun, jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK sederajat se-Kota Batam.
Adapun rincian perlombaannya menyesuaikan jenjangnya masing-masing. Usia 4-5 tahun: Lomba menggambar dan mewarnai bersama orangtua, TK: lomba mewarnai tanpa orangtua dan tahfiz. SD: Lomba Story Telling, Tahfiz dan Cerdas cermat. SMP: Lomba Pidato Bahasa Indonesia dan Master Chef Junior. SMA: Lomba Syarhil Qur’an, Karya Tulis Ilmiah, dan Fotografi.
Menurut Mahdi Muntadzor, Ketua Panitia Pelaksana Hidayatullah Exhibition, bahwa ajang akbar ini dihelat sebagai syiar dan untuk menarik sebanyak-banyaknya calon siswa/santri tahun ajaran ini untuk sekolah di Pondok Pesantren Hidayatullah Batam.
“Ini kerja besar di Hidayatullah Exhibition untuk merekrut sebanyak mungkin calon santri untuk sekolah di Hidayatullah, sekaligus juga promosi sekolah,” imbuh Mahdi.
Hal yang sama juga dikuatkan terus oleh Ketua Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Khoirul Amri, bahwa hendaknya semua panitia tidak pernah berhenti berpikir bagaimana calon murid bisa mendaftar sebanyak banyaknya.
Di akhir acara, Hidayatullah Exhibition yang diikuti 400an peserta untuk semua jenjang pendidikan ditutup dengan acara spesial: Seminar Parenting bersama Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, Pakar Islamic Parenting, di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Hidayatullah Putri, yamg Dihadiri 1500 audiens, dari peserta, santri, wali murid dan tamu undangan.
“Alhamdulillah, acara berjalan lancar, sukses dan sesuai dengan harapan,” ujar Ustadzah Farah Syoyara, S.Pd, salah satu tim dewan juri.
“Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh panitia Exhibition dan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang telah menyelenggarakan event besar ini dan sukses dalam penyelenggaraannya,” pungkas seorang Wali Murid/Pendamping Lomba usai acara seminar dan penutupan.
Panitia Hidayatullah Exhibition juga mengucapkan terima kasih dan semoga barokah atas dukungan dari sponsor Kampus Utama Hidayatullah Batam, Pemerintah Kota Batam, Kementerian Agama Kota Batam, Pendidikan Integral Hidayatullah Batam, Bank Mualamat Cabang Batam, CV. Hikmah Usaha Mandiri, Pop Ice, Teh Prendjak, Ravel, Tralis Al-Barokah Utama, dan Bank Syariah Indonesia Cabang Batam.
Tak ketinggalan sponsor lainnya ada Yadaba, Teh Pucuk, Lee Minerale, CV. Jasa Jaya Mandiri, TK IT Yaa Bunayya 01, 02 & 03 Batam, Konveksi Hidayatullah Batam, Galang Media, Panitia Speech Talent Contest Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, IAI Abdullah Said Batam, STIT Hidayatullah Batam, STIT Mumtaz Karimun, Bank Negara Indonseia KCP SP Plaza, Sinar Mart Hidayatullah dan Cafe Santri Hidayatullah serta seluruh mitra dan sponsor lainnya.*/Azhari Tammase
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ahad, 6 Sya’ban 1444 (26/2/2023) menjadi hari yang berbahagia bagi para santri-santri Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Ciomas. Karena hari ini, mereka melaksanakan ujian terbuka.
Ada 34 santri SDH ini telah melewati pembelajaran kurang lebih satu tahun. Ditempa dengan berbagai kegiatan dan pembelajaran sebagai bekal mereka di daerah menjadi dai muda.
Penanggung jawab ujian terbuka ini, Ust. Ahmad Zainuddin, menyampaikan di awal acara bahwa ujian terbuka ini bagian dari rangkaian akhir mereka belajar di SDH. “Ini dilakukan setiap tahun hingga angkatan delapan ini,” kata Zainuddin.
Zainuddin mengatakan, tujuan ujian terbuka adalah untuk evaluasi hasil pencapaian belajar santri. “Ini menjadi motivasi bagi santri-santri berikutnya, serta syiar Islam bagi dunia dakwah,” imbuhnya.
Satu persatu, santri SDH dipanggil untuk diuji dan dipersaksikan oleh teman-temannya. Menjadi tantangan yang menarik dan memotivasi.
Ujian terbuka di SDH dilakukan oleh 4 penguji. Pertama, ada Ust. Samani Harjo yang menguji kemampuan tahsin dengan hukum-hukum tajwid.
Penguji kedua, Ust. Saefuddin Abdullah, Lc, yang juga sebagai direktur SDH menguji Bahasa Arab. Kemudian, penguji ketiga yaitu Ust. Abdul Ghofar Hadi selaku Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah yang diundang untuk menguji bidang tahfidz.
Ada juga penguji keempat yaitu Ust. Muhdi Muhammad yang menguji kemampuan terjemah al Quran atau MBA. Mereka yang diuji rata-rata siap dan memiliki kemampuan yang mumpuni.
Dalam acara penutupan ujian terbuka ini, Ust. Abdul Ghofar memberikan apresiasi terhadap kemampuan para santri SDH. Menurutnya, pencapaian yang luar biasa dimana mereka belajar dalam kurun waktu relatif singkat tapi bisa menguasai beberapa disiplin ilmu.
Namun, Abdul Ghofar berpesan agar tidak puas dengan pencapaian ini. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari dan dikuasai.
“Harus senantiasa dinyalakan semangat belajarnya untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya sehingga bisa memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.
Ust. Muhdi juga memberikan pesan agar pengalaman belajar di SDH menjadi modal untuk belajar lebih tekun lagi. “Belajar tidak mengenal umur dan waktu,” pesannya.
Tak lupa, Ust. Saefuddin mengingatkan bahwa ujian terbuka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan ujian di akhirat oleh malaikat. “Tidak ada revisi dan perbaikan. Tentu lebih dahsyat pertanyaan dan resikonya karena terkait surga atau neraka,” katanya mengingatkan.
Sesi terakhir kegiatan ujian ini adalah pemberian hadiah kepada dua santri terbaik dalam ujian terbuka ini. Yaitu diraih oleh juara 1 Abdul Hafidz dan juara 2 saudara Muhammad Yusmin.*/(agh/par)
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah (PPH) Surabaya menjadi tuan rumah gelaran Musyawarah Khusus Yayasan Kampus Induk dan Utama Hidayatullah yang diikuti oleh unsur organisasi, pembina, dan pengurus pada Kamis-Ahad, 3-5 Sya’ban 1444 H/ 23-26 Februari 2023.
Tema yang diangkat dalam Musyawarah Khusus ini adalah “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik Kampus Induk dan Utama.”
Kampus induk merupakan kampus pioner Hidayatulah yang berada di Balikpapan. Adapun kampus utama adalah kampus yang menjadi basis penyebaran Hidayatullah di berbagai wilayah di Indonesia dengan ketentuan syarat tertentu, mulai dari jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki, jumlah santri, dan seterusnya. Kampus ini berjumlah tujuh, yaitu; kampus Hidayatullah Surabaya, Medan, Depok, Makassar, Medan, Batam, timika.
Dalam Musyawarah Khusus ini, pengurus membahas berbagai hal terkait dengan konsolidasi jati diri organisasi, serta wawasan menuju standarisasi, sentralisasi, dan integrasi sistemik kampus induk dan utama.
Pada sambutannya dalam pembukaan musyawarah, Ketua Pelaksana, Ust. Muhammad Syakir, mengatakan bahwa konsolidasi jati diri organisasi menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan agar Yayasan Hidayatullah dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat.
“Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan yang diberikan oleh lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Hidayatullah,” tegasnya.
Selama tiga hari berlangsung, Musyawarah Khusus ini diisi dengan presentasi, diskusi, dan pertukaran gagasan antar pengurus dari berbagai lembaga pendidikan.
Beberapa topik yang dibahas dalam Musyawarah Khusus ini antara lain tentang standardisasi kurikulum, integrasi sistem informasi, pengembangan sumber daya manusia, dan peningkatan kualitas pelayanan.*/Robinsah