Beranda blog Halaman 310

Rakerda Hidayatullah Natuna, Sederhana di Bumi Semoga Mewah di Langit

0

NATUNA (Hidayatullah.or.id) — Meski sumber daya insani (SDI) dan fasilitas masih terbatas karena masih berstatus daerah perintisan, agenda organisasi seperti Rapat Kerja Daerah (rakerda) tetap digelar di Hidayatullah kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Sebuah pulau terluar Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah.

Lima orang atau lima ribu orang yang hadir semangatnya beda tipis saja. Karena sedapat mungkin percakapan menyentuh tataran substansi; tidak hanya asik berselancar di atas ayunan ombak tetapi menyelami makna kehadiran di lembaga perjuangan ini sesuai tupoksi sebagai hamba sekaligus khalifah.

Meski hanya segelintir orang, dan masalah datang silih berganti serupa tradisi berbalas pantun di tanah Melayu, optimisme tidak surut, karena kader-kader Hidayatullah sudah terbiasa menghadapi tantangan, dimulai dari nol kemudian berkembang.

Dalam sambutan saat rakerda, penulis mengutip surah Ibrahim ayat 37 yang berisi doa nabi Ibrahim agar manusia dicondongkan hatinya ke baitullah (tahwii ilaihim). Ini sebagai spirit dan penyemangat dalam berjuang.

Jika kelak, perjuangan ini telah riuh ramai maka jangan lupa perintah Allah Ta’ala dalam surah An Nasr sebagai spirit untuk tetap bersikap rendah hati dengan bertasbih memuji Allah Ta’ala serta tidak lupa memohon ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat.

Meski Ibnu Abbas mengatakan sebagaimana di dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1) Rasulullah Saw. bersabda: Ini adalah ucapan belasungkawa terhadapku. Karena sesungguhnya beliau Saw. wafat pada tahun itu juga.

Alhamdulillah, Hidayatullah Natuna yang dimotori ustadz Tah Huwandila telah melakukan lompatan signifikan dengan dukungan BMH Kepulauan Riau, Pondok Tahfidz dan Rumah Quran telah eksis dengan jumlah siswa total 100 lebih.

Allah Ta’ala juga telah mendatangkan seorang ‘Ansharullah’ melalui ketua DPW Hidayatullah, ustadz Darmansyah yaitu bapak Efendi yang menghibahkan tanah seluas 6 hektar, bakal kampus Hidayatullah Natuna.

Dalam kesempatan rakerda tadi malam, Ust. Abdul Aziz Elhaqqy juga memberi motivasi bahwa segala sesuatunya dimulai dari langkah-langkah kecil, dan yang terpenting adalah semangat dan konsistensi, terus bergerak mengundang pertolongan Allah Ta’ala untuk tegaknya peradaban Islam yang kita cita-citakan.

Ustadz Tah Huwandila menyampaikan permohonan maaf jika selama di Natuna termasuk pada rakerda pelayanan tidak maksimal, kami menimpali, “Semangat dan keistiqamahan para pengurus di Natuna dalam berjuang adalah pelayanan yang istimewa untuk kami, karena membuat kami juga ikut bersemangat dan optimis”. Wallahu a’lam bisshawab.*/Mujahid M. Salbu

Hati Kita Bersama Keluarga keluarga Kita di Turkiye dan Suriah

GAZIANTEP (Hidayatullah.or.id) — Gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Turki-Suriah pada Senin (6/2/2023) pagi sekitar pukul 04.17 (01 17) GMT. Gempa tersebut berpusat di Nurdagi, Provinsi Gaziantep, Turki. Gempa tersebut juga dirasakan oleh sejumlah wilayah selain Turki.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, menyampaikan duka cita yang mendalam atas gempa yang mengguncang sekitar 26 km sebelah timur Kota Nurdagi di Turki pada kedalaman sekitar 18 km di Patahan Anatolia Timur.

“Hati kita bersama keluarga keluarga kita di Turkiye dan Suriah dalam menghadapi akibat akibat serangkaian gempa besar,” kata Ust. Nashirul Haq dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 16 Rajab 1444 (6/2/2023).

Dampak gempa itu menyebar ke arah timur laut, membuat wilayah Turki tengah dan Suriah luluh lantak. Data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut gempa ini merupakan yang terbesar dalam 100 tahun terakhir. Nashirul menyeru untuk mengirimkan bantuan dan doa untuk keluarga keluarga kita di Turkiye dan Suriah.

“Kita mohon kepada Allah menguatkan iman mereka dan mencukupi kebutuhan kebutuhannya. Kami menyeru seluruh umat Islam untuk mengulurkan pertolongannya,” pungasnya.

Tak hanya warga Turki dan Suriah, warga Indonesia juga terdampak gempa yang mengguncang selatan dan tenggara negara tersebut. Kedutaan Besar RI untuk Turki di Ankara melaporkan sejauh ini ada lima warga negara Indonesia (WNI) yang hilang kontak sejak gempa itu terjadi.*/Yacong B. Halike

Sebentar Lagi Ramadhan, Begini Pesan Pemimpin Umum Hidayatullah

emimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menyempatkan diri membaca Al-Qur’an di sela-sela sebuah rapat di Kantor YPPH Balikpapan, Gunung Tembak (11/10/2021).* [Foto: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Ramadhan 1444H yang tinggal sekitar dua bulan lagi dan Silaturahim Nasional Hidayatullah 2023 di tahun yang sama, Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad mengimbau para pengurus mengurangi tidur.

“Sekarang ini semua serba cepat. Terlambat buka mata sudah ketinggalan, terlambat menerima komunikasi, ketinggalan juga. Jadi memang perlu ditingkatkan kurang tidurnya. Karena jati diri Hidayatullah memang harus kurang tidur, bukan hanya ketika kerja LPJ (laporan pertanggungjawaban, red),” ucap Ustadz Abdurrahman menyemangati.

Hal itu disampaikan dalam mengawali sambutan di acara Penutupan Rapat Pleno Laporan Akhir Tahun 2022 dan Program Kerja 2023 Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, awal tahun 2023 ini (19/01/2023).

“Tidak salah itu (kena) demam, Nabi ketika terima wahyu juga demam, demam berat. Tapi setelah itu Nabi katakan kepada Khadijah tidak ada lagi waktu untuk berbaring. Jadi, jangankan tidur, waktu berbaring saja sudah tidak ada lagi,” lanjut sahabat karib Pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said ini.

Ulama Besar Kurang Tidur

Lebih jauh, Pemimpin Umum Hidayatullah mengajak untuk meneladani para tokoh Islam dan pemimpin hebat dahulu. Dengan perjuangan yang luar biasa, mereka berhasil meraih prestasi monumental dan karya-karya spektakuler.

“Jadi mau apa saja, jadi ulama besar jadi pemikir besar itu tidurnya pasti kurang, kalau tidak kurang pasti tidak jadi. Mau jadi ulama besar banyak tidur, tidak mungkin jadi itu,” tegasnya di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan itu.

“Saya baca itu semua para imam dan mujtahid sedikit sekali tidurnya. Kalaupun tidur tidak baring. Pena di tangannya menulis hingga berhenti penanya kalau dia tertidur,” kisahnya seperti dilansir laman Ummulqura Hidayatullah.

Ustadz Abdurrahman bahkan mengaku pernah membaca kisah penggandaan kitab hadits yang ketika itu belum seperti percetakan modern sekarang. “Jadi semua harus ditulis tangan. Itu ada penulis yang sampai merendam kakinya di dalam baskom yang diisi air,” imbuhnya.

Ia lantas memberi ilustrasi ihwal naik gunung dan turun gunung. Mana yang lebih berat dikerjakan? Jawabnya begini, kalau naik gunung, perlu mujahadah besar dan stamina prima serta semangat tinggi. Tetapi kalau turun gunung maka dibutuhkan kehati-hatian ekstra. Turun gunung itu ada percepatan.

Perihal mujahadah dan percepatan ini dianggap penting dalam merespons perubahan zaman sekarang. Selain kemajuan teknologi yang begitu cepat, juga amanah dan tanggung jawab yang berat untuk dikerjakan.

Awal Ramadhan 1444H diperkirakan jatuh pada hari Rabu, 22 Maret 2023. Sedangkan Silatnas Hidayatullah insya Allah digelar pada tanggal 23-26 November 2023 di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.* (Abu Jaulah/MCU)

Inilah 2 Virus Berbahaya Ditularkan oleh Setan dan Iblis

0

Al-QUR’AN berulangkali menegaskan bahwa Setan dan Iblis adalah musuh manusia yang sangat nyata. Mereka tidak henti-hentinya mencari jalan untuk mencelakakan manusia. Ada sangat banyak ayat seperti ini, misalnya Qs. Al-Baqarah: 208:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Namun anehnya, banyak orang yang justru berteman akrab dengan Setan dan Iblis, dan dengan “sukarela” ditulari virus-virusnya. Diantara virus paling berbahaya yang mereka tularkan adalah keputusasaan dan menjauh dari kebenaran. Keduanya merupakan sumber penyakit kemanusiaan yang akut, induk setiap dosa dan kedurjanaan di muka bumi.

Sebenarnya, Iblis dan Setan adalah jin. Al-Qur’an berkata: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain Aku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50). Sedangkan Setan, menurut al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr, adalah sebutan bagi jin ketika telah menjadi jahat dan menentang.

Dalam bahasa Arab, istilah “iblis” sendiri berarti putus asa, tidak memiliki kebaikan, dan bingung; sedangkan “syaithan” bermakna jauh dari kebenaran, menentang, menyimpang, dan jahat. Jadi, Iblis dan Setan adalah gelar bagi sebagian jin yang jahat, kafir, menentang Allah, dan tidak ada kebaikan dalam dirinya. Sebab, ada pula jin yang beriman, sebagaimana diceritakan dalam surah Al-Jinn dan al-Ahqaf: 29-32.

Keputusasaan Iblis adalah sumber kejahatan dan kedurhakaan yang dilakukannya. Sifat Iblis yang putus asa dan bingung tampak jelas ketika ia dimurkai oleh Allah karena menentang perintah-Nya bersujud kepada Adam.

Reaksi Iblis terhadap kemurkaan Allah sungguh mengejutkan, yang sekaligus mencerminkan kesombongannya. Bukannya meminta ampun dan mengharap rahmat Allah, tetapi Iblis justru meminta dipanjangkan umur dan dibebaskan menyesatkan manusia. Dengan kata lain, ia merasa bahwa kesalahannya tidak mungkin diperbaiki, dan rahmat Allah tertutup atas dirinya.

Kebingungan dan kesalahan berpikir ini kemudian memicu aneka kontradiksi dan kejanggalan lain. Ia juga tidak mau menyadari kesalahannya, tetapi justru menyalahkan Adam dan bersumpah untuk membalas dendam kepadanya dan seluruh keturunannya.

Diantara keanehan Iblis adalah kegemarannya mengajak manusia untuk mengkufuri Allah dan mempersekutukan-Nya dengan yang lain, padahal ia tahu persis bahwa Allah benar-benar ada dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Iblis mengajak manusia berdoa dan memohon kepada selain Allah, padahal ia sendiri memohon kepada Allah dan tahu persis bahwa hanya Allah yang bisa mewujudkan permohonannya.

Al-Qur’an menceritakannya: “Iblis berkata: “Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS. Al-A’raf: 14-15).

Iblis rajin memprovokasi manusia agar takut kepada selain Allah, padahal ia sendiri takut kepada Allah, sebagaimana disitir Al-Qur’an: “Seperti syaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu!” Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-Hasyr: 16).

Oleh karenanya, Al-Qur’an menyebut Iblis dan Setan sebagai penipu ulung (lihat: Qs. Luqman: 33, Fathir: 5, dan al-Hadid: 14). Mereka gemar menampakkan yang tidak sebenarnya, sehingga manusia terkecoh dan jatuh dalam kebinasaan.

Virus lain yang mereka tularkan adalah menjauh dari kebenaran. Maka, mereka tidak suka orang yang rajin berjamaah dan rutin menegakkan shalat lima waktu. Sebaliknya, mereka sangat berkuasa atas orang-orang yang jauh dari shalat.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah tiga orang tinggal di sebuah desa atau padang pasir, dimana shalat tidak ditegakkan di tengah-tengah mereka, melainkan setan pasti menguasai mereka. Maka, hendaknya engkau berjamaah, karena sesungguhnya serigala itu hanya memangsa domba yang menyendiri dari kawanannya.” (Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i, dari Abu Dzarr. Hadits hasan).

Setan pun akan minggat dari rumah yang sering dipakai membaca Al-Qur’an, dan gemar bermarkas di rumah yang dipenuhi musik, nyanyian, dan kemaksiatan.

Rasulullah bersabda, “Jangan sampai aku mendapati kalian meletakkan salah satu kakinya diatas kakinya yang lain sambil bernyanyi dan tidak mau membaca surah al-Baqarah. Sungguh setan melarikan diri dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah al-Baqarah. Sungguh rumah yang paling kosong adalah yang bolong dan kosong dari (bacaan) Kitabullah.” (Riwayat an-Nasa’i dalam Amalul Yaum Wal-Laylah, dari Ibnu Mas’ud. Para perawinya tsiqah).

Maka, sangat tepat jika Allah meminta kita menjauhi Iblis dan Setan, menjadikannya sebagai musuh, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan mereka. Sebab, ketika seseorang telah tertular dua virus tersebut, hidupnya pasti sangat mengerikan. Ia akan dipenuhi kemaksiatan dan kemunkaran, karena ia tidak percaya kepada rahmat dan kasih sayang Allah, sehingga tidak mau bertaubat dan berhenti dari dosa. Ia juga menjauhi kebenaran sehingga semakin sulit baginya untuk insyaf, karena tidak ada nasihat dan peringatan yang pernah mampir ke telinganya. Na’udzu billah.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Wasekjen: Membaca untuk Tumbuhkan Keimanan dan Bangun Peradaban

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Bogor dikenal sebagai kota rekreasi dengan berbagai destinasi wisata yang ditawarkan dan semuanya padat peminatnya. Didukung oleh suasana dingin dan sejuk Kota Bogor semakin menjadi daya tarik masyarakat Bogor dan sekitarnya.

Hari Ahad, seolah semua orang keluar rumah, tumpah ruah menikmati destinasi wisata tersebut. Namun bagi para santri Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, akhir pekan itu adalah hari istimewa untuk kuliah tamu dari ustadz ustadz yang diundang dari luar Bogor. Mereka antusias dan semangat untuk mengikuti kuliah tamu.

Ahad 5 Februari 2023 ini, Sekolah Dai mengundang Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ust. Abdul Ghofar Hadi, untuk mengisi kuliah tamu. Ia membawakan materi penguatan manhaj Hidayatullah, yang diharapkan materi ini menjadi salah bekal penting bagi para santri Sekolah Dai dalam mengemban amanah dakwah di mana saja.

Pada kesempatan tersebut, Abdul Ghofar menyampaikan tentang pentingnya iqra’ atau membaca. “Ini adalah perintah pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad, tentu ada tujuan besar dari perintah tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, membaca adalah perintah yang spektakuler dan mendasar untuk menumbuhkan keimanan dan membangun peradaban. Kata dia, semua peradaban yang maju di dunia ini lahir karena dimulai dari kesadaran membaca. “Sebaliknya, keruntuhan dan keterbelakangan peradaban karena minimnya daya baca dari masyarakatnya,” ungkapnya.

Sebagai seorang dai, menurut Abdul Ghofar, membaca adalah wajib dan tidak bisa ditawar-tawar. Sebab apa yang akan didakwahkan atau disampaikan kepada masyarakat jika tidak ada yang dibaca. Semakin banyak yang dibaca oleh seorang dai maka semakin banyak yang akan dicerahkan kepada masyarakat.

“Kesadaran membaca memang tidak muncul dengan sendirinya. Harus ada stimulan dan kondisi yang mengantar untuk membaca. Jika tidak ada motivasi besar untuk membaca maka sangat berat pekerjaan membaca,” ujarnya.

Dia mengatakan, banyak orang bisa membaca tapi tidak semua orang mau membaca, apalagi jika sudah tidak bergelut di masa belajar sekolah atau kuliah. Padahal tujuan belajar membaca adalah untuk “membaca” dan perintah membaca tidak ada hubungannya dengan sekolah atau kuliah.

“Bagi santri Sekolah Dai Hidayatullah, membaca al Qur’an harus menjadi habit atau kebiasaan. Sebab al Qur’an adalah mukjizat dan sumber inspirasi bagi orang-orang beriman, seorang dai harus akrab dengan al Qur’an,” kata lulusan Pondok Pesantren Hidayatut Thullab (Pondok Tengah), Durenan, Kamulan, Trenggalek, ini yang merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia.

Saat ini, Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas sudah meluluskan 7 angkatan dan yang ada sekarang adalah angkatan ke-8 dengan 34 jumlah santri. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Papua, Bengkulu, Sulawesi dan Kalimantan. Sebagian utusan Hidayatullah dan sebagian dai umum.

Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas sudah bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Lukman Hakim (STAIL) Surabaya. Bahwa mereka terdaftar sebagai sekolah dai akan terdaftar juga mahasiswa STAIL dan jika melanjutkan ke STAIL langsung masuk semester 5.

Pengajar Sekolah Dai berasal dari berbagai perguruan tinggi seperti LIPIA, Mesir, Madinah, dan para juga para ustadz Hidayatullah. Kegiatan belajarnya sangat padat dari pagi hingga malam, selama sepekan. Setiap Ramadhan ada praktek dakwah lapangan dengan disebarkan ke masjid atau mushala untuk menjadi imam dan khatib.

Peserta program Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas tak dipungut biaya yang sepenuhnya ditanggung oleh Yayasan Sekolah Dai Posdai dengan dukungan dari para muhsinin yang mempercayakan sumbangsihnya untuk Posdai. “Semoga Allah memberikan balasan terbaik kepada para donator dan para santrinya menjadi dai-dai tangguh yang komitmen di jalan Allah,” tandas Abdul Ghofar Hadi mendoakan.*/Abu Yasin, Yacong B. Halike

Ketua Yayasan Menara Quran Hidayatullah Ungkap 3 Kunci Sukses Seorang Muslim

SURAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Yayasan Menara Qur’an Hidayatullah Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, Dr. Nur Islam, M.Pd, menyatakan bahwa ada 3 kunci kesuksesan seorang muslim yang harus dipegang dengan teguh.

“Pegang teguh tiga hal ini; Pertama, Ittaqullaah, taqwa kepada Allah. Kedua, Ishbiruu, selalu bersabar. Ketiga, Laa Tasta’jiluu, jangan tergesa gesa dalam menunggu hasil,” kata Nur Islam.

Tiga poin ini diungkapkan Nur Islam dihadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Murabbi (DM) Hidayatullah yang berlangsung sejak tanggal 9 hingga 12 Rajab 1444 H/ 31 Januari – 3 Februari 2023 di Kampus Menara Qur’an Hidayatullah Karanganyar.

Pria murah senyum ini mengurai kunci pertama. Bahwa, terang dia, takwa adalah kunci kehidupan, baik dunia maupun akhirat.

“Kesuksesan yang hakiki adalah yang berlandaskan ketakwaan. Bahagia di dunia serta selamat di akhirat hanya bisa didapatkan dengan takwa. Dan disinilah yang tidak disadari oleh banyak orang,” katanya.

Takwa, lanjutnya menjelaskan, membuat hidup menjadi lebih bermakna, pintu kesuksesan terbuka lebih lebar dan keberkahan akan turun dari Allah lebih deras.

Adapun uraian kunci sukses kedua yang terkait dengan kesabaran adalah bingkai segala perbuatan yang membuat amalan terasa nyaman dan menjadikan hati tetap lapang dengan hasil dari setiap perbuatan, baik sesuai dengan ekspektasi ataupun tidak.

“Dengan kesabaran, kita tidak merasa euforia bila berhasil dan tidak akan kecewa apatah lagi patah hati saat harapan tidak berjalan seiring dengan usaha,” terang ayah 5 anak ini.

Adapun kunci ketiga adalah jangan tergesa-gesa. Diterangkannya, seorang Muslim meyakini bahwa berusaha adalah kewajiban makhluk sedangkan hasilnya merupakan kewenangan atau hak prerogatif Allah Subhanahu Wata’ala.

“Seorang muslim yakin bahwa Allah tidak akan menunda hak seorang hamba jika telah tiba waktunya untuk diberi. Allah tidak berkepentingan untuk menunda hasil yang sudah seharusnya diterima oleh seorang hamba.” terang alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta ini.

Yayasan Menara Qur’an menjadi tuan rumah gelaran Rakornas DM Hidayatullah tahun 2023. Menara Qur’an Hidayatullah ini adalah salah satu amal usaha dibawah naungan organisasi Hidayatullah yang bergerak dibidang pendidikan dan dakwah dengan program fokus pendidikan dai muda yang setiap alumninya disebar ke berbagai daerah di Indonesia. */Naspi Arsyad

Menimbang Manfaat dan Bahaya Nyanyian

0

YAZID bin al-Walid an-Naqish berkata, “Wahai Bani Umayyah, jauhilah nyanyian, sebab ia bisa mengurangi rasa malu, mengobarkan syahwat, dan merusak muru’ah (kehormatan diri). Sungguh nyanyian itu tidak ada bedanya dengan khamer, dan menjadikan orang berbuat seperti perbuatan orang mabuk. Jika kalian memang tidak bisa menghindarinya, maka jauhkanlah nyanyian itu dari perempuan karena nyanyian itu selalu mengundang perzinaan.” (Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan adz-Dzahabi dalam Tarikh-nya).

Yazid bin al-Walid adalah khalifah Umawiyah ke-12 yang wafat tahun 127 H. Menurut Khayruddin Zirikly dalam al-A’lam, beliau adalah pribadi yang shalih, wara’, fasih lidahnya, dan berbadan kurus.

Seruan di atas diungkapkan khalifah kepada keluarga besarnya sendiri yang telah tenggelam dalam kemewahan dan pesta, termasuk di dalamnya nyanyian dan minuman keras. Menurut para ahli sejarah, tahun-tahun itu adalah zaman fitnah dan huru-hara politik di banyak wilayah kekhilafahan. Ketika itu mental dan gaya hidup para pejabat sudah sangat rusak, akibat kemewahan dan terjauh dari tuntunan agama.

Di sisi lain, tahun-tahun itu adalah permulaan Abad II Hijriyah. Secara umum zaman itu adalah Periode Shighar Tabi’in (kelompok terakhir dari generasi kedua kaum muslimin, setelah Sahabat) dan Kibar Atba’ Tabi’in (kelompok awal generasi ketiga).

Di masa itu terdapat Atha’ bin Abi Rabah (w. 115 H), ‘Amr bin Dinar (w. 120 H), Ibnu Syihab az-Zuhri (w. 125 H), Hisyam bin ‘Urwah (w. 145 H), Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit (w. 150 H), Malik bin Anas (w. 179 H), dll. Mereka adalah para ulama’ besar di masanya, dan diakui kepakarannya sepanjang zaman.

Sekilas, kedua fakta ini terkesan sangat kontras. Namun, mari mencermatinya lebih dekat lagi.

Lihatlah, di zaman ketika para ulama’ besar masih hidup dan aroma Era Kenabian pun belum sangat jauh dari ingatan masyarakat, pada kenyataannya sifat nyanyian tetaplah sama. Karakteristik nyanyain di zaman kita pun sama persis dengan apa yang dikatakan oleh khalifah Yazid bin al-Walid, lebih dari 1300 tahun silam. Bagaimana jika beliau hidup di zaman kita, dan menyaksikan apa yang terjadi dewasa ini?

Banyak kontroversi dalam bab ini. Ada fatwa yang membolehkan, membolehkan dengan catatan, menganggapnya makruh, dan juga mutlak mengharamkannya. Terlebih, ketika hampir seluruh handphone dan gadget yang kita beli di pasaran telah terpasang konten-konten berbau musik dan nyanyian. Hampir seluruh acara televisi dan radio pun tidak lepas darinya. Betapa sukarnya menyikapi masalah ini, dan betapa repotnya untuk menghindar.

Namun, ketika beragam fatwa dan komentar telah membuat orang awam seperti kita bingung; dan status hukum-hukum fiqh menjadikan kita sukar menentukan sikap; maka ada baiknya kita merenungi hakikat nyanyian itu sendiri, lalu menimbang-nimbang manfaat dan madharratnya. Dalam konteks ini, pernyataan khalifah Yazid bin al-Walid diatas kiranya sangat pantas dirujuk. Mari mengkaji bahaya dan keuntungannya.

Bahaya pertama nyanyian adalah mengurangi rasa malu. Padahal menurut Rasulullah, malu adalah bagian dari iman (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah). Dengan kata lain, nyanyian akan mengikis iman kita perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, tanpa terasa.

Bahaya kedua adalah mengobarkan syahwat. Ini tidak kalah besar ancamannya, sebab bergolaknya syahwat selalu beriringan dengan berkurangnya akal sehat. Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali mengutip pernyataan Fayyadh bin Najih, “Jika kemaluan seseorang telah terangsang, maka lenyaplah sepertiga akalnya – atau (dalam riwayat lain): sepertiga agamanya.”

Bahaya ketiga adalah merusak muru’ah, yakni kemuliaan pribadi yang membuat seseorang dihormati dan tidak dilecehkan. Sungguh, ketika seseorang telah kehilangan harga diri dan kehormatannya di mata orang lain, maka tidak ada lagi kebaikan padanya.

Bukan rahasia lagi, bahwa ketika bernyanyi banyak orang bertingkah tidak karuan, mirip pemabuk, larut dalam luapan emosi, dan menjadi lupa diri. Hakikat ini bukanlah omong kosong yang mengada-ada, namun fakta yang dengan mudah dapat kita saksikan dalam konser-konser musik di belahan dunia sebelah mana pun!

Lalu, bahaya terakhir yang sangat mengerikan adalah: perzinaan. Ini mudah dipahami, jika rangkaian tiga hal sebelumnya kita deretkan. Bila rasa malu telah lenyap, syahwat berkobar dahsyat, dan muru’ah sudah tidak diperdulikan, maka seseorang bisa melakukan apa saja tanpa perduli halal-haram.

Terlebih, realitas menunjukkan bahwa nyanyian-nyanyian yang beredar – dulu maupun sekarang – hampir tidak ada yang tidak mengeksploitasi kemolekan para wanita, entah dari segi suara, wajah, rambut, tubuh, dan segala hal yang berhubungan dengan mereka.

Sejauh ini, kita telah menyaksikan empat bahaya nyanyian yang mengancam kita. Mungkin ada yang bertanya, mengapa tidak disebutkan juga manfaatnya? Untuk ini, Allah telah mencontohkannya dalam kasus khamer, dengan berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: di dalam keduanya terdapat dosa besar dan manfaat-manfaat bagi manusia. Namun, dosanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. al-Baqarah: 219).

Jika sesuatu hal diketahui akan mengikis iman, mengobarkan syahwat, menghapus muru’ah, dan mendorong kepada perzinaan, maka apakah kita masih tega bertanya tentang manfaatnya? Astaghfirullah! Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Semarak Gotong Royong Keroyok Pembangunan Masjid Ar-Riyadh

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -– Sedari sebelum shalat shubuh didirikan, jamaah tampak telah siap siaga. Sejak semalam, memang telah diumumkan bahwa pagi itu akan dilakukan “serangan fajar”. Gundukan pasir dan batu bata telah disiapkan di posisinya. Sejumlah benda keras sebagai penunjang serangan juga terlihat mejeng di sana.

Usai shalat, jamaah masjid tampak serius menyimak arahan yang disampaikan dari atas mimbar. Sambil mendengar pengumuman, terlihat ada jamaah yang melakukan perenggangan otot. Kepala menggeleng keras, ke kakan ke kiri. Ada juga yang memberikan pijitan kecil di punggung rekannya yang sedang berkelahi melawan kantuk.

Pagi buta itu, sekira ribuan warga, ustadz, mahasiswa, santri, dan jamaah Hidayatullah mengeroyok proyek pembangunan Masjid Ar-Riyadh di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad, 15 Rajab 1444 (05/02/2023) pagi.

Menariknya pula, kerja bakti ini dimulai langsung bakda shalat subuh berjamaah di Masjid Ar-Riyadh.

Pantauan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah di lokasi, warga dan santri berbondong-bondong melaksanakan shalat subuh berjamaah di Masjid Ar-Riyadh.

Usai itu, Sekretaris Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Abdul Latif Usman, naik ke mimbar memberikan komando dan arahan singkat terkait kerja bakti.

Setelah arahan singkat tersebut, warga bergegas bersiap-siap untuk terjun ke lapangan.

Warga telah mempersiapkan diri dengan membawa baju kerja bakti serta alat masing-masing sejak sebelum subuh. Sehingga, tanpa harus pulang ke rumah dan sarapan terlebih dahulu, warga bisa memulai kerja bakti.

Adapun formasi kerjanya yaitu warga dan mahasiswa STIS Hidayatullah semua prodi mengangkut pasir dan tanah urukan. Sedangkan santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) dari MTs dan MA RM Putra memindahkan batu bata ke lantai 2 dan 3 masjid.

Pekerjaan dilakukan di bawah komando Ustadz Abdul Latif. Secara sistematis, warga dan santri diatur sedemikian rupa. Mereka berbaris panjang, mulai dari tumpukan pasir, tanah, dan batu di halaman masjid sampai ke lantai 2 dan 3.

Suasana kerja bakti Ahad ini berlangsung begitu meriah, semarak, dan penuh semangat. Mulai dari para ustadz pembimbing Hidayatullah, ustadz-ustadz sepuh, para pengurus yayasan, para dosen, guru, mahasiswa, hingga santri bahkan dari MI RM Putra, berjibaku di lokasi kerja.

Tetesan keringat yang membasahi tubuh mereka menjadi saksi bisu semangat tersebut. Butiran pasir dan debu dari batu bata ikut serta “menyaksikan” momentum istimewa ini.

Selain Ustadz Abdul Latif Usman, para pembimbing yang hadir antara lain Ustadz Muhammad Hasyim HS (Pendiri Hidayatullah), Ustadz Mannandring AG (Pembina), Ustadz Syamsu Rijal Palu (Pembina), Ustadz Ahmad Fitri (Pengawas), serta Ustadz Abdul Qodir Abdullah (Pengawas).

Turut serta para pengurus inti dan harian YPPH, mulai dari Ketua, Bendahara, Sekretaris, Ketua Bidang 1, hingga Ketua Bidang 3. Adapun Ketua Bidang 2 sedang bertugas di Pulau Jawa.

“Kita kerja bakti tadi mulai pukul 06.00 WITA setelah shalat subuh diumumkan disuruh ganti pakaian semua, lalu menuju ke tempat kerja bakti,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Hidayatullah 2023, Ustadz Arfan AU, kepada MCU, Ahad pagi ditemui di lokasi kerja.

Kerja bakti kali ini menargetkan pemindahan tiga bukit pasir dan tanah urukan dari halaman masjid ke lantai 2 dan lantai 3 masjid.

Kerja bakti ini dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1444H sekaligus persiapan Silaturahim Nasional Hidayatullah 2023.

Saksikan video kerja bakti ini di Youtube Ummulqura Hidayatullah, klik tautan di sini.* (MUAS/SKR/MCU)

DPP Hidayatullah Sampaikan Selamat Atas 1 Abad Usia NU

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, lewat ketua umumnya, Dr Nashirul Haq, menyampaikan ucapan selamat kepada Nahdlatul Ulama (NU) yang kini genap berusia satu abad. “Keluarga besar Hidayatullah menyampaikan selamat dan sukses atas hari lahir 1 abad NU,” jelas Nashirul dalam siaran persnya, Sabtu, 14 Rajab 1444 (4/2/2023).

Sebagaimana diketahui, NU dalam beberapa hari ini merayakan satu abad kelahirannya. Perayaan ini mencapai puncaknya pada 7 Februari 2023 mendatang dengan menggelar perayaan Harlah 1 Abad NU di Sidoarjo, Jawa Timur.

Lebih lanjut Nashirul mengungkapkan bahwa NU, sebagai ormas tua yang lahir pada 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 H, telah banyak berkiprah untuk kemajuan bangsa dan agama. “Hidayatullah mengapresiasi jasa dan konstribusi NU dalam perjuangan membangun umat dan bangsa selama ini,” jelas Nashirul.

Selain itu, NU telah tumbuh menjadi organisasi keagamaan yang memiliki warga sangat besar. Bahkan, boleh jadi terbesar di Indonesia saat ini. Karena itu, kata Nashirul, peran strategis NU dalam menjaga persatuan umat, khususnya antar ormas dan lembaga Islam, sangat diharapkan.

Di Indonesia, jelas Nashirul, terdapat banyak sekali organisasi massa Islam, baik yang tua maupun yang masih muda. Ada Muhammadiyyah, Persis, PUI, al-Washliyah, al-Irsyad, dan masih banyak ormas-ormas Islam lainnya. Hidayatullah sendiri, kata Nashirul, pada tahun ini genap berusia setengah abad (50 tahun).

Banyaknya ormas Islam ini seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun karakter bangsa yang berakhlak mulia, tidak cepat putus asa, profesional dalam bekerja, taat kepada perintah agama, dan memiliki kemauan kuat untuk memajukan bangsa dan negara. Bukan karakter masyarakat yang mudah dipecah-belah, gampang berkeluh kesah, dan malas dalam bekerja.

Karena itu, kata Nashirul, NU harus menjadi motor penggerak persatuan umat. “Kita harus membangun sinergi dan kolaborasi antar semua elemen umat dan bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan bermartabat,” jelas Nashirul.*

(Mahladi)

Konsisten dengan Al Qur’an sebagai Kunci Kemenangan

0

SURAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, mengungkap, jika merenungkan secara mendalam ayat ayat yang Allah Subhanahu Wata’ala turunkan pertama kali, maka akan didapati satu kunci prinsip untuk menang; yaitu dengan selalu konsisten dengan al Qur’an.

“Berqur’an adalah sebuah kekuatan karena al Qur’an adalah mukjizat bagi orang orang beriman,” katanya.

Hal itu diutarakan beliau saat mengisi tauhsiah dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Murabbi (DM) Hidayatullah yang digelar di Kampus Menara Al Qur’an, Hidayatullah Surakarta, Jawa Tengah, Jum’at, 10 Rajab 1444 (3/2/2023).

Olehnya itu, sambungnya, mereka yang tak suka akan berupaya mengganggu hubungan orang beriman dengan al Qur’an agar umat Islam selalu lemah karena jauh dari mukjizatnya.

“Maka orang beriman tidak boleh ‘tertidur’ dari al Qur’an sebab orang kafir selalu mengintai dan sangat pandai memanfaatkan ‘tidurnya’ orang beriman dari al Qur’an,” cetusnya.

Ia lantas menambahkan, disinilah nilai strategis sanad al Qur’an, baik sanad terkait ‘Tartib Mushafi’ (urutan surah dalam al Qur’an) maupun ‘Tartib Nuzuli’ (urutan turunnya surah al Qur’an kepada Nabi) dan juga sanad Qira’ah (Tajwid) karena akan menguatkan pengaruh al Qur’an dalam diri seorang mukmin untuk menjaga karakter ‘sujudnya’ kepada Allah.

Dalam pada itu, lanjut beliau, karakter ‘sujud’ sangat penting dalam mewujudkan akhlak yang menyenangkan semisal mudah tersenyum, selalu menggembirakan, tidak sombong, menjaga perkataan, serta selalu berdoa dan menyandarkan segala hal hanya kepada Allah SWT.

Lebih jauh, terang beliau, semua yang bersumber dari al Qur’an harus ‘di-Talaqqi-kan’, baik bacaannya seperti Nabi Muhammad ber-talaqqi kepada malaikat Jibril disetiap bulan Ramadhan, atau praktek kandungannya.

“Dan, men-talaqqi-kan al Qur’an, baik bacaan atau kandungannya, adalah konsekuensi iman,” imbuhnya seraya mengatakan bahwa orang beriman selalu berusaha memperbaiki bacaannya walau terbentur dengan berbagai kesulitan (yatha’thau) – apakah karena usia atau keilmuannya yang tidak memadai- dan juga selalu berusaha menselaraskan perilakunya dengan nilai-nilai al Qur’an.

“Kenikmatan saat beribadah kepada Allah dapat dirasakan ketika kita bisa ‘bertutur’ secara tepat, baik ‘bertutur’ ketika membaca Al-Qur’an (sesuai hukum tajwid) atau ‘bertutur’ melalui perilaku dan gerak tubuh yang selaras dengan kandungan al Qur’an. Dan inilah hasil dari ‘talaqqi’ tersebut,” katanya.

“Allah telah menyediakan segala apa yang menjadi kebutuhan manusia dalam menjalankan peran dan tugas tugasnya. Olehnya itu wajar jika kita selalu memuji Allah subhanahu wata’ala,” tandasnya.*/Naspi Arsyad