LOMBOK (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) bersinergi dengan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) menggelar Pelatihan Dai dan Guru Ngaji di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) bertajuk “Bersama Dai Merangkai Pulau pulau Terluar untuk Kedaulatan dan Kejayaan Negeri” yang dibuka pada Rabu, 4 Jumadal Akhir 1444 H (28/12/2022).
Helatan yang digelar intensif selama 3 hari di Ponpes Pesantren Nidaul Wahyain, Kampus Hidayatullah Gunung Sasak, Desa Tempos, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, ini menghadirkan narasumber dari NTB dan juga Jakarta.
Adapun narasumber dari Jakarta yaitu Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah Ust. Drs. Shohibul Anwar dan unsur dari Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah.
Selain itu, ada juga Ketua Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah yang juga Direktur Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) Ust. Iwan Abdullah,S.Sos.I serta instruktur nasional Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) Ust. Muhdi Muhammad.
Ketua Panitia Ust. Jumardi, S.Pd.I mengatakan kegiatan Pelatihan Dai dan Guru Ngaji ini merupakan salah satu program mainstream Posdai yang digulirkan untuk melakukan standardisasi guru guru Al-Qur’an di bawah naungan Majelis Qur’an Hidayatullah (MQH) dan Rumah Quran Hidayatullah (RQH).
“Ini juga dalam rangka berupaya menghidupkan kembali kegiatan belajar mengajar mengaji di mushalla atau masjid dan di rumah rumah Qur’an, utamanya di pulau pulau terluar,” kata Jumardi.
Jumardi berharap, dengan pelatihan yang diikuti 25 orang perwakilan dai mengabdi yang berasal dari Kota Bima, Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat dan Mataram, ini kian menguatkan kapasitas mereka dalam mengabdi di masyarakat guna meneguhkan ikhtiar pemberantasan buka aksara Al Qur’an dan mendekatkan padanya.
Sementara itu, Manager Program Posdai Pusat Ust. Abdul Muin menambahkan kegiatan Pelatihan Dai dan Guru Ngaji di Lombok ini terselenggara atas sinergi antara Posdai dan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT).
“Semoga sinergi ini bisa berkelanjutan untuk tahun-tahun selanjutnya, mengingat amanah dakwah ini masih sangat diperlukan agar bisa terus merambah ke seluruh penjuru tanah air. Bersama dai membangun negeri. Bersama MTT, terus bersinergi,” kata Muin.*/Yacong B. Halike
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sebagai salah satu entitas yang berhimpun di dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hidayatullah memuji tajuk yang dipilih dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kali ini mengangkat topik “Menuju World Class Ukhuwah Islamiyah” di Hotel Acacia Jakarta Pusat, Selasa, 27-28 Desember 2022.
Ketua Departemen Hukum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Dudung A. Abdullah, M.H, yang hadir dalam kesempatan tersebut menyambut antusias harapan Indonesia menjadi teladan dalam ukhuwah Islamiyah bagi dunia.
Dudung memuji dan menyambut antusias tajuk Rakornas Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia tersebut. Menurutnya, hal ini diharapkan kian meneguhkan ukhuwah Islamiyah kaum muslimin di negeri ini.
“Dengan semangat tersebut, umat Islam menjalin kerjasama yang proporsional dengan setiap elemen lintas bangsa sehingga tercermin Islam Rahmatan Lil alamin,” kata Dudung yang ditemui di lokasi acara.
Dengan keragamannya yang khas, jelas Dudung, umat Islam di Indonesia telah menjalankan praktik ukhuwah Islamiyah dengan apik. Oleh sebab itu, puluhan ormas Islam yang terhimpun di Majelis Ulama Indonesia diharapkan terus merawat nilai mulai tersebut seraya menyambut antusias semangat menuju ukhuwah Islamiyah yang berkelas dan menjadi teladan bagi dunia (world class).
Seperti diwarta sebelumnya, Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI Pusat KH Cholil Nafis dalam sambutannya membuka acara tersebut mengatakan ukhuwah Islamiyah yang dipraktikkan oleh umat Islam memilki pesona yang menjadi ciri khas tersendiri bagi Indonesia di mata dunia.
Oleh sebab itu, inilah diantara yang melatari diangkatnya tema “Menuju World Class Ukhuwah Islamiyah” dalam Rakornas Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia kali ini.
Menurut KH Cholil Nafis, berbagai elemen umat Islam perlu untuk duduk bersama disamping untuk terus merekatkan persaudaraan, juga dalam rangka merumuskan visi misi serta menyamakan persepsi dan langkah antar harakah yang ada.
“Kita perlu bersama-sama menelaah setiap hal-hal yang berkembang di tengah masyarakat,” kata KH Cholil Nafis.
Di sisi lain, KH Cholil Nafis mendorong ormas Islam terus mengambil peran dalam mencerdaskan umat melalui beragam saluran termasuk melalui teknologi informasi.
Dia menjelaskan, dalam melakukan upaya dakwah tersebut, hendaknya diekspresikan untuk tujuan pada 3 hal yaitu mendamaikan, mengajak kepada kebaikan, dan apa yang disebarkan ada maslahah di dalamnya.
“Kita harus terus-menerus melakukan politik keadaban, bukan transaksional. Dan ini bisa disuarakan oleh ormas ormas Islam. Jadi, yang dibutuhkan tidak hanya shaleh tapi juga mushlih,” ujarnya.
Lebih jauh, KH Cholil Nafis pun berpesan agar umat menghindari pertikaian dan menepikan potensi keterbelahan seiring memasuki tahun politik 2024. Dia pun mengajak semua pihak membangun politik yang berkadaban dengan identitas yang senafas dengan arah bangsa.
“Politik ke depan kita harus menjadi orang yang mengarahkan memberi nilai pada arah bangsa kita. Semua punya identitas politik, nggak mungkin partai nggak punya identitas politik. Identitas politik kita harus senafas dengan arah bangsa,” tandasnya.
KH Cholil Nafis lantas menutup sambutannya yang jenaka dan penuh kehangatan itu dengan melafazkan ucapan penutup khas dari setiap ormas Islam.*/Yacong B. Halike
MISI Rasulullah adalah memberi kabar gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali (Qs. Saba’: 28). Oleh karenanya, kita menemukan sangat banyak hadits yang berisi kabar gembira seperti jaminan kemenangan Islam dan keindahan surga; atau berisi peringatan seperti pasti hancurnya kebatilan dan kengerian neraka. Sebagian hadits beliau bahkan memberikan rincian cukup detil, sehingga semakin mudah diamalkan.
Diantara rincian detil yang pernah beliau ungkapkan adalah ciri-ciri calon penghuni neraka. Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’ie, diantaranya beliau menyebutkan sifat lima golongan yang kelak akan menjadi penghuni neraka. Mari kita teliti satu per satu, semoga kita bisa mengintrospeksi diri dan menghindarinya.
Pertama, orang lemah yang tidak berakal. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud adalah orang yang tidak memiliki akal yang bisa mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak pantas.
Dalam Mirqatul Mafatih, Mulla ‘Ali Al-Qari menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak punya keinginan selain memenuhi isi perutnya dengan segala cara, tidak perduli halal maupun haram. Keinginan terbesar mereka tidak pernah beranjak naik dari tingkatan hewani ini, baik dalam urusan agama maupun duniawinya. Perkara ini senada dengan firman Allah:
“Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Qs. an-Najm: 30).
Kedua, pengkhianat. Teks haditsnya menjelaskan bahwa orang ini memang tidak tampak nyata sifat khianatnya, namun dia punya keinginan ke arah sana. Jika ada kesempatan, meskipun sangat kecil, niscaya dia akan berkhianat juga. Na’udzu billah.
Oleh karenanya, Rasulullah pernah menyatakan bahwa satu diantara tiga tanda orang munafik adalah suka berkhianat. Allah juga pernah menyinggung sifat orang semacam ini dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bisa bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, dan Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Qs. An-Nisa’: 107-108).
Ketiga, penipu. Dalam hadits itu disebutkan: “seseorang yang tidak memasuki waktu pagi maupun sore melainkan ia pasti menipumu, baik dalam urusan hartamu maupun keluargamu.” Tidak salah lagi, orang ini pasti penipu tulen, tembus dari permukaan kulit sampai tulang sungsumnya! Bayangkan, tidak pagi tidak sore, pekerjaannya melulu hanya menipu, menipu, dan menipu, dalam segala hal. Adakah kebaikan yang bisa diharapkan darinya? Apakah Allah bersedia mengasihi dan menghindarkan orang semacam ini dari neraka?
Keempat, pembohong atau orang pelit. Sebagian riwayat menyebut “pembohong”, sedangkan riwayat lainnya menyitir “orang pelit”. Mana pun dari keduanya yang tepat, sama saja buruknya. Dikatakan dalam sebuah hadits: “Ada tiga hal yang membuat (seseorang) binasa, yaitu sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan ketakjubannya pada diri sendiri.” (Riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan li-ghairihi).
Adapun tentang berbohong, kita sudah diberitahu bahwa ia adalah satu diantara tiga ciri kemunafikan. Padahal, Allah telah menyatakan bahwa orang munafik kelak akan berada di kerak neraka, yakni yang paling dahsyat siksaannya (Qs. an-Nisa’: 145). Na’udzu billah.
Kelima, orang yang berakhlak buruk dan banyak berkata/berbuat keji. Tidak sedikit ayat atau hadits yang menganjurkan akhlak terpuji, dan sebaliknya melarang dari akhlak tercela. Bentuknya bisa bermacam-macam, karena memang variasinya pun sangat luas.
Maka, ketika menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka berkata/berbuat kotor, dan bukan pula orang yang suka melaknat.” (Riwayat Bukhari).
Diceritakan pula bahwa ada seseorang yang mencela Usamah bin Zaid dengan celaan yang sangat buruk. Ketika itulah Usamah berkata, “Sungguh engkau telah menyakitiku. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasannya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji. Dan sungguh, engkau ini orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits hasan).
Bila logikanya kita balik, kelima sifat di atas bisa diperjelas oleh hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga? Beliau menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik.” (Riwayat al-Hakim. Menurut adz-Dzahabi: hadits shahih).
Maksudnya, kelima sifat di atas seluruhnya merupakan kebalikan dari ketakwaan dan akhlak mulia, yaitu: tidak berpegang pada nilai-nilai kebajikan, suka menipu, gemar berkhianat, pembohong, pelit, dan banyak berbuat keji; sehingga buahnya pun berkebalikan dari surga, yaitu neraka. Semoga Allah membimbing kita semua untuk menjauhinya. Amin. Wallahu a’lam.
MALANG (Hidayatullah.or.id) – Gedung baru klinik Hidayatullah Malang yang berlokasi di perum Savira Sumbersekar Dau resmi dibuka untuk melayani pasien umum bagi warga Sumbersekar dan sengkaling sekitarnya.
Gedung klinik tiga lantai yang diresmikan hari Ahad (25/12/2022) lalu itu ditandai dengan penandatanganan plakat prasasti oleh Ustadz Fahmi Ahmad selaku Ketua DPD Hidayatullah Kota Malang dan Lukman Khakim selaku Ketua BMH Malang didampingi tokoh masyarakat.
Hadir pada peresmian tersebut Muspika Kecamatan Dau, tokoh masyarakat desa setempat, warga masyarakat juga tampak ketua MUI Kecamatan Dau Abdul Malik.
Fahmi Ahmad dalam siaran yang diterima media ini menyampaikan klinik ini adalah cikal bakal adanya fasilitas yang lebih besar lagi yang dinantikan warga yaitu adanya rumah sakit Hidayatullah. “Jika sudah waktunya nanti akan kita bangun fasilitas kesehatan tersebut,” tambahnya.
Gedung berlantai tiga di Jalan Sumbersekar tersebut saat ini menjadi rujukan warga sekitar untuk berobat medis, khususnya santri dan jajaran pondok Pesantren Hidayatullah yang saat ini ada ribuan santri bermukim di sana yang tentunya butuh layanan kesehatan cepat dan mumpuni.
Saat ini di Klinik Hidayatullah ini selain melayani pemeriksaan dokter umum juga ada fasilitas lain klinik bersalin, layanan anak, pengobatan umum serta ada layanan hapus tato.
Acara peresmian yang ditandai dengan program sosial BMH lain yaitu berupa santunan 50 warga sekitar klinik hari ini juga melaksanakan khitan gratis bagi 21 anak dan juga layanan berobat umum gratis.*/Cakrud
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagai salah satu rangkaian dari gelaran Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis ulama Indonesia (MUI) menggelar acara “Halaqah Ukhuwah” yang dihadiri unsur perwakilan pimpinan pusat ormas Islam yang terhimpun di MUI, termasuk Hidayatullah beserta 2 elemen dibawahnya yaitu Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah (Mushida).
Halaqah yang digelar di di Hotel Acacia Jakarta Pusat yang mengusung tema “Menuju World Class Ukhuwah Islamiyah” itu merupakan bagian dari rangkaian Rakornas Komisi Ukhuwah MUI yang berlangsung pada Selasa, 27-28 Desember 2022.
Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI Pusat KH Cholil Nafis dalam sambutannya membuka acara tersebut menekankan perlunya duduk bersama disamping untuk terus merekatkan persaudaraan, juga dalam rangka merumuskan visi misi serta menyamakan persepsi dan langkah antar harakah yang ada.
“Kita perlu bersama-sama menelaah setiap hal-hal yang berkembang di tengah masyarakat,” kata KH Cholil Nafis.
Ada beragam problem tengah dihadapi umat yang memerlukan pencerahan, diantaranya masalah pergaulan bebas termasuk di dalamnya kampanye LGBT dan nikah beda agama.
Dia mengatakan, MUI sebagai rumah berhimpun ormas Islam telah bersepakat bahwa tidak ada yang memperbolehkan LGBT dan nikah beda agama. Oleh sebab itu, elemen umat perlu terus mencerahkan masyarakat perihal tersebut.
Selain Rakornas, helatan tersebut juga menelaah dan menyikapi ihwal KUHP yang baru disahkan. Oleh sebab itu, KH Cholil Nafis menilai amat penting kita berjuang secara bersama sama di ranah konstitusi atau ranah perundang-undangan. “Banyak hal yang bisa kita ubah dengan kelompok bersatunya umat Islam,” katanya.
Di sisi lain, KH Cholil Nafis mendorong ormas Islam terus mengambil peran dalam mencerdaskan umat melalui beragam saluran termasuk melalui teknologi informasi. Dia menjelaskan, dalam melakukan upaya dakwah tersebut, hendaknya diekspresikan untuk tujuan pada 3 hal yaitu mendamaikan, mengajak kepada kebaikan, dan apa yang disebarkan ada maslahah di dalamnya.
“Kita harus terus-menerus melakukan politik keadaban, bukan transaksional. Dan ini bisa disuarakan oleh ormas ormas Islam. Jadi, yang dibutuhkan tidak hanya shaleh tapi juga mushlih,” ujarnya.
Lebih jauh, KH Cholil Nafis pun berpesan agar umat menghindari pertikaian dan menepikan potensi keterbelahan seiring memasuki tahun politik 2024. Dia pun mengajak semua pihak membangun politik yang berkadaban dengan identitas yang senafas dengan arah bangsa.
“Politik ke depan kita harus menjadi orang yang mengarahkan memberi nilai pada arah bangsa kita. Semua punya identitas politik, nggak mungkin partai nggak punya identitas politik. Identitas politik kita harus senafas dengan arah bangsa,” tandasnya.
KH Cholil Nafis lantas menutup sambutannya yang jenaka dan penuh kehangatan itu dengan melafazkan ucapan penutup khas dari setiap ormas Islam.
Sementara itu, Ketua Departemen Hukum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Dudung A. Abdullah, M.H, yang hadir dalam kesempatan tersebut menyambut antusias harapan Indonesia menjadi teladan dalam ukhuwah Islamiyah bagi dunia.
Ia juga menyambut baik adanya halaqah ini yang membahas topik berkenaan dengan pandangan ormas Islam terhadap Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (UU KUHP) yang baru disahkan ditengah polemik yang terjadi.
“Pembahasan UU KUHP ini sangat bermanfaat bagi para dai dan aktifis keagamaan terutama dalam pengetahuan tentang KUHP baru, bisa lebih jelas langsung dari ahlinya,” kata Dudung terkait pemaparan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Hamdan Zulfa, pada kesempatan halaqah tersebut.
Dia menyebutkan, KUHP yang berlaku di Indonesia selama ini merupakan warisan hukum kolonial Belanda, sehingga kajian dan analisis yang mendalam tentangnya perlu dilakukan agar benar benar memuat keadilan dan kepastian hukum.
Meski ada beberapa hukum yang diakomodir dari perbaikan di situ seperti tentang perzinahan dan perlindungan agama, namun demikian, lanjut Dudung, kajian ulang mesti penting dilakukan kaitannya beberapa hal yang dinilai pasal karet sehingga dianggap bisa abuse of power dan penghinaan terhadap pengadilan (contempt of court).
Rakornas Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis ulama Indonesia yang digelar 2 hari ini dihadiri oleh sekitar 60 ormas Islam yang terhimpun di MUI. Kegiatan mengangkat tema “Menuju World Class Ukhuwah Islamiyah” juga ada halaqah arsitektur dan tata kelola Islamic Center.
Ketua Panitia, KH Sirajuddin, mengatakan tema Rakornas “Menuju World Class Ukhuwah Islamiyah” sebagai upaya Majelis Ulama Indonesia menjadi jembatan dalam menginternasionalisasi praktik ukhuwah Islamiyah di negeri ini sehingga diharapkan menjadi contoh bagi dunia Islam.
“Kami berharap MUI kedepan menjadi leading sektor dalam menuju ukhuwah islamiah dan ukhuwah wathaniyah,” pungkas Sirajuddin.*/Yacong B. Halike
DONGENG ini tentang tiga ekor lembu yang berteman baik di hutan. Karena ketiganya selalu rukun, singa tak pernah berhasil memangsa salah satu dari mereka. Maka singa memutuskan untuk berdamai dan kumpul bersama. Sebagai suatu komunitas keluarga yang akrab, dekat, erat. Selang beberapa waktu, berhembus fitnah pada satu dari ketiga lembu itu sampai timbul perpecahan.
Lembu itu dikucilkan oleh kedua temannya, hingga akhirnya singa leluasa memangsa lembu tersebut. Anehnya kedua temannya tidak keberatan dengan perbuatan singa. Sehingga ia tetap diterima kumpul bersama mereka.
Seiring bergulir hari, pekan dan bulan, berhembus lagi fitnah sampai saling menjelekkan dan mencari-cari kesalahan antara kedua lembu. Akibatnya mereka berpisah dan hidup masing-masing. Tentu saja singa mengambil kesempatan ini untuk memangsa kerbau kedua.
Kini yang tersisa hanya lembu terakhir. Sadarlah ia, rupanya fitnah-fitnah itu adalah rekayasa singa untuk memecah belah mereka. Tapi semua sudah terlambat. Tiba giliran ia yang akan dihabisi oleh singa, dengan penuh penyesalan ia berkata,
“Sejatinya aku sudah menjadi mangsamu, sejak engkau menerkam temanku yang pertama”
Saudaraku, dongeng ini diadaptasi dari hikayat terkenal di negeri Arab. Begitu populernya, sampai kalimat terakhir lembu itu menjadi peribahasa orang Arab hingga kini.
أُكِلْتُ يَوْمَ أُكِلَ الثَّوْرُ الْأَبْيَضُ
“Sejatinya aku sudah dimangsa pada hari ketika lembu putih (sahabatku) dimangsa. Tinggal menunggu giliran..”
Yang maknanya; Sebuah penyesalan yang terlambat, karena sudah termakan oleh fitnah dan saling mencaci kepada saudara kita sendiri.
Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim tidak perlu saling bully, saling nyinyir, dan saling menjatuhkan. Sebab ketika umat Islam ini terpecah belah, maka singa si pembuat rekayasa dengan mudah menerkam kita.
مثل المؤمنين في توادِّهم وتراحمهِم وتعاطفِهم مثل الجسد اذا اشْتكي منه عَضْوٌ تداعَى له سائر الجَسد بالسَّهر والحُمى (رواهُ مسلم)
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling berkasih sayang adalah seperti satu tubuh yang ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka seluruh tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga tidak bias tidur dan merasa panas. (HR. Muslim).
Waspada Adu domba
Refleksi diri dari gambar ini seharusnya menjadi pembelajaran/ibrah buat kita khususnya umat islam. Ular piton mati karena gigitan berbisa milik ular kobra. Sedangkan ular cobra mati karena cengkraman/lilitan kuat milik ular piton.
Ular piton dan ular cobra tidak ada yang menang maupun kalah. Pertarungan sengit keduanya berakhir dengan mengenaskan. Keduanya sama-sama mati. Lalu siapa yg akan mengambil keuntungannya yaitu para anjing anjing kelaparan yang akan memakan bangkai kedua ular ini.
Waspada, ini mirip seperti umat Islam saat ini. Kelompok A diadu domba dengan kelompok B. Bila kedua-duanya sudah hancur, musuh-musuh Islam-lah yang akan mengambil keuntungannya. Misi mereka berhasil menghancurkan Islam dari dalam.
Mereka seperti orang Yahudi Yatsrib yang melestarikan konflik antara Aus dan Khazraj untuk meraih keuntungan sesaat. Islam jangan mau diadu domba, mari memelihara ukhuwah Islamiyyah.
Kalah jadi Abu, Menang Jadi Arang
Arti dari peribahasa kalah jadi abu, menang jadi arang, adalah baik yang menang maupun kalah pada suatu pertengkaran/ pertarungan sama-sama tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.
Peribahasa kalah jadi abu, menang jadi arang, dapat Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan sebagai suatu perumpamaan yang mempunyai arti baik yang menang maupun kalah pada suatu pertengkaran sama-sama tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Murid yang juga anggota Satuan Komunitas Praja Muda Karana (Sako Pramuka) Hidayatullah SMP Integral Putri Hidayatullah Depok dengan senang hati penuh keceriaan menunda liburan mereka untuk membantu guru-guru menyelenggarakan kegiatan Qur’an Camp selama 2 hari, 25-26 Desember 2022 di lingkungan SMP Integral Putri Hidayatullah Depok, Jalan Teuran Dephan, Kelurahan Pondok Rajeg Cibinong, Depok, Jawa Barat.
Peserta pun membludak memenuhi komplek SMP Integral Putri Hidayatullah Depok, sebuah tempat yang asri dan kondusif untuk belajar. Check in dibuka pada mulai pukul 07.30 pada hari Ahad dan check out pukul 16.00 WIB pada hari Senin ini.
Pengurus SMP Integral Putri Hidayatullah Depok, Ustadzah Yuli Nugraheny, mengatakan Qur’an Camp adalah kegiatan untuk mengenalkan kehidupan pesantren kepada murid-murid putri kelas V dan VI dari SD-SD daerah Depok dan sekitarnya.
“Kegiatan ini direncanakan akan dijadikan sebagai kegiatan tahunan,” kata Ustadzah Yuli dalam keterangannya kepada media, Senin, 2 Jumadal Akhir 1444 H (26/12/2022).
Yuli mengatakan animo murid kelas V dan VI untuk mengikuti Qur’an Camp di SMP Integral Putri Hidayatullah Depokluar biasa besar. Panitia terpaksa menolak beberapa pendaftar karena kapasitas yang tidak mencukupi.
“Pendaftar mencapai sekitar 80-an, sementara kapasitas yang disediakan hanya 50 peserta, sesuai kapasitas kamar,” kata Yuli.
Kegiatan dikemas dalam acara menarik dengan berbagai game, kuis, dan materi-materi dalam Qur’an Camp, mulai pengenalan sirah, halaqah Qur’an, sampai wawasan keindonesiaan sehingga tidak membosankan bagi peserta.
Kegiatan di lapangan tidak kalah mengesankan, diantaranya adalah berbagai game, senam, memanah hingga Outbond Jejak Rasul. Adapun kegiatan ibadah seperti shalat fardhu dan shalat tahajjud dilaksanakan secara berjamaah di musholla.
Alhamdulillah kegiatan hari pertama berjalan lancar sesuai rencana dan ditutup pukul 22.30.
“Sementara kegiatan hari kedua karena hujan turun, maka sebagian kegiatan di lapangan dialihkan ke ruang-ruang kelas dan koridor,” jelas Yuli.
Walaupun demikian, tidak mengurangi kegembiraan dan hikmah yang didapat peserta Qur’an Camp, karena kakak-kakak pembina luar biasa sigap dalam mengalihkan arena kegiatan OJR.
“Luar biasa pengorbanan penundaan liburan pengurus Sako Pramuka SMP Integral Putri Hidayatullah Depok untuk suksesnya acara Super Camp,” kata Yuli.
Dia menambahkan, terdapat pembelajaran besar bagi murid-murid kelas VIII dan segenap panitia bahwa ikhtiar kebaikan yang dilakukan untuk melahirkan kebaikan berkesinambungan berikutnya membutuhkan pengorbanan besar. “Semoga Allah melimpahkan keberkahan ilmu, Aamiin,” tandasnya mendoakan.*/Azim Arrasyid Sofyan
YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Baituttamwil Hidayatullah (BTH) Tahun 2023 yang digelar selama 3 hari, Rabu-Jum’at, 21-23 Desember 2022, memantapkan rumusan kebijakan dan program kerja menuju BTH yang kuat dan berkembang.
“Rumusan kebijakan strategis dalam perencanaan dan pengembangan BTH kedepan, agar memiliki peta arah yang jelas dan terukur dengan tetap memenuhi kepatuhan regulasi yang ada,” kata Ketua BTH Pusat Saiful Anwar kepada media ini, Senin, 2 Jumadal Akhir 1444 H (26/12/2022).
Mengakhiri tahun 2022 dengan penuh dinamika perlu dilakukan evaluasi seberapa besar tingkat kemampuan mencapai dan melampaui target yang ditetapkan. Sekaligus diperlukan perumusan strategi bisnis tahun berikutnya, 2023.
Dia menjelaskan seiring degan ditutupnya Rakernas, BTH kian meneguhkan potensi dalam rangka menyebarkan rahmat pada sekalian alam, mengkonsolidasikan, mengorganisir, dan membangun peradaban untuk kemaslahan dan mendukung seluruh potensi kaum Muslimin.
Sejalan dengan itu, BTH diharapkan terus bertumbuh dan berkembang serta semakin dirasakan manfaatnya oleh para anggota yang merupakan organisasi dan kader Hidayatullah di seluruh Indonesia. Karena itu, terang Saiful, BTH harus terus menata sistem operasional dan internal bisnis proses yang memadai untuk menjadi lembaga keuangan syariah yang utama.
“BTH juga terus terpacu dengan regulasi perkoperasian ditingkat nasional yang dikembangkan kearah standarisasi perbankan, dengan rencana peralihan pengampu kepentingan koperasi dari kementerian koperasi kepada OJK melalu RUU P2SK yang akan disahkan oleh DPR dalam waktu dekat,” kata Saiful yang juga Ketua Departemen Keuangan DPP Hidayatullah ini.
Menurut dia, regulasi baru tersebut menjadi tantangan bagi BTH untuk bersiap menghadapi pemberlakukan UU tersebut, disaat sistem dan manajemen BTH terus dilakukan upaya standarisasi secara memadai dan peningkatakan kualifikasi kompetensi sumberdaya BTH sebagiaman mestinya.
“Hal itulah diantara yang dibahas dalam Rakernas tahun 2022 ini, dengan harapan agar BTH yang ada semakin siap dalam satu gerakan yang sama dalam integrasi manajemen yang terpusat,” imbuhnya.
Selain itu, Rakernas juga merumuskan program kerja tahunan BTH dengan tata kelola organisasi yang sinambung dan sistematis mulai program jangka panjang, program jangka pendek, program tahunan, program nasional dan program turunan di BTH.
“Semoga dari Rakernas ini dan dengan mengharapkan pertolongan Allah SWT, semakin neneguhkan standardisasi, sentralisasi dan integrasi dalam penguatan dan pengembangan BTH,” tandasnya.
Pada kesempatan disela Rakernas ini dilakukan penandatanganan kerjasama antara Baituttamwil Hidayatullah dengan Janisari.
Rakernas yang digelar di Gedung PPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta ini dibuka oleh Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah Ust. Drs. H. Wahyu Rahman, ME, dan dihadiri unsur Pengurus BTH Pusat, Pengawas, Dewan Pengawas Syariah, Manajemen BTH Cabang, Pengurus dan Manajer Cabang.
Adapun Manajer Cabang yang hadir yaitu Depok, Semarang, Kudus, Sakinah Surabaya, Wahida Surabaya, Balikpapan, Bojonegoro, Ngawi, Malang, Yogyakarta, Makassar, Bone, Kendari, Batam, dan perwakilan kampus utama Batam dan Medan.*/Yacong B. Halike
SIKAP rendah hati adalah fitrah iman. Sebaliknya, kesombongan pasti menyertai kekafiran. Iman dan kesombongan adalah dua hal yang mustahil bersatu, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat sebutir biji sawi.”
Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh ada seseorang yang ingin berbaju bagus dan bersandal bagus.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah. Dia menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (Riwayat Muslim).
Tidak aneh jika Al-Qur’an pun sangat sering menggambarkan sikap kedua golongan ini (mukmin dan kafir) secara bertentangan. Tabiat mereka tampak sangat berbeda terutama ketika berhadapan dengan petunjuk-petunjuk Allah.
Golongan pertama akan tunduk, khusyu’, dan memohon agar diberi taufik untuk mengikutinya, sementara golongan kedua justru angkuh, ingkar, dan menantang agar didatangkan azab. Mari kita telusuri penggambaran Al-Qur’an ini, agar menjadi nasehat bagi kita bersama.
Ketika sebagian Ahli Kitab (yang mukmin) mendengar bacaan Al-Qur’an pada masa-masa awal dakwah Islam di Makkah, beginilah sikap mereka: “…Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Qs. Al-Isra’: 107-109).
Begitulah seorang mukmin. Hatinya sangat lembut dan peka terhadap tanda-tanda kebenaran yang diisyaratkan Tuhannya. Cermin nuraninya yang bening spontan dapat mengenali cahaya Allah, dan segera memantulkannya. Maka, seketika jiwanya menjadi terang dan lapang, sebagaimana ruangan gelap yang terasa lega dan nyaman begitu lampu dinyalakan di dalamnya.
Dalam menapaki kehidupan ini, mereka senantiasa memanjatkan doa dengan penuh ketawadhu’an, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha Pemberi.” (Qs. Ali ‘Imran: 8).
Sebaliknya adalah tabiat kaum kafir. Ketika menghadapi kebenaran, serta-merta hatinya tertutup. Bahkan, secara sengaja mereka menutupnya sendiri. Permusuhan mereka terhadap kebenaran adalah kebencian sejati yang sangat mengerikan. Dengarkanlah apa kata Al-Qur’an tentangnya: “Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi kami dari) apa yang kamu serukan, dan pada telinga kami ada sumbatan. Antara kami dan kamu ada dinding. Maka, bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja (pula).” (Qs. Fusshilat: 5).
Apakah iman bisa masuk ke dalam hati seperti ini? Sungguh mustahil, karena pemiliknya telah menguncinya dari dalam. Ibaratnya: jauh lebih mudah membangunkan orang tidur sungguhan dibanding menyadarkan orang yang pura-pura tidur. Membimbing orang bodoh yang mau belajar pasti lebih gampang dibanding mengajari seseorang yang keras kepala dan sok tahu. Ini sangat menjengkelkan.
Tidak hanya sampai di situ, Al-Qur’an bahkan menceritakan tabiat kekafiran yang jauh lebih parah. Dalam surah al-Anfal: 32, Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini adalah yang benar dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”
Sungguh ganjil permohonan mereka ini, dan betapa mendalamnya kebencian mereka terhadap kebenaran. Bukankah seharusnya mereka memohon agar dibimbing mengikuti Al-Qur’an jika ia terbukti sebagai kebenaran dari Allah? Akan tetapi, mengapa mereka justru minta dihujani batu dari langit atau ditimpa siksa yang sangat pedih? Tidak ada istilah yang lebih tepat untuk sikap-sikap aneh begini selain “gila kuadrat”!
Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyimpulkan fitrah keimanan dan tabiat kekafiran dalam sabdanya: “Maukah kalian aku beritahu siapa penghuni surga itu? Dialah setiap orang yang lemah, lembut, dan rendah hati; seandainya ia bersumpah memohon kemurahan Allah, pasti akan dipenuhi-Nya. Maukah kalian aku beritahu siapa penghuni neraka itu? Dialah setiap orang yang keras lagi kasar, suka meneriakkan kata-kata kotor, angkuh gaya berjalannya, lagi sombong (sok hebat).” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Segenap ayat dan hadits di atas sebenarnya merupakan diagnosa atas gejala-gejala keimanan dan kekafiran dalam hati manusia. Sebagaimana dimaklumi, iman dan kufur adalah hakikat ruhiyah yang tidak bisa ditangkap panca indra, dan hanya bisa dikenali dari tanda-tandanya.
Setelah mendiagnosa, Allah kemudian memberikan terapi, yaitu syariat-Nya yang terangkum dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi. Allah sendiri telah menyifati Al-Qur’an sebagai obat dari segala penyakit hati, petunjuk, dan rahmat bagi kaum beriman (Qs. Yunus: 57 dan al-Isra’: 82).
Dengan kata lain, kita diajari untuk melakukan self-diagnostic, memeriksa sendiri tanda-tanda mana yang bersemayam dalam jiwa kita. Jika didominasi gejala iman, mari berdoa agar senantiasa diteguhkan. Iringi pula dengan amal shalih. Jika didapati gejala kufur, Allah pun telah menuliskan resep-resep manjur untuk mengatasinya.
Langkah langkah diagnosa ini dapat pula dipergunakan untuk kepentingan lain, misalnya memilih guru, calon pasangan hidup, teman bergaul, rekan berbisnis, karyawan, atau pembantu rumah tangga. Semoga saja kita selalu diberkahi dan terselamatkan. Amin. Wallahu a’lam.
MIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Tokoh Islam di Mimika, Timika, Provinsi Papua, Ustadz Kasim Rumaf, meninggal dunia pada Ahad pagi sekira pukul 05.40 WIT, 25 Desember 2022. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah Mimika sekaligus Anggota Dewan Pengawas Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Timika ini meninggalkan istri dan 4 orang anak.
Kader dai senior Hidayatullah ini menghembuskan nafas terakhirnya saat dalam perjalanan menuju RSUD Mimika.
Dari informasi yang didapat fajarpapua.com di WhatsApp Grup Kami Orang Timika menyebutkan, Ustadz Kasim sebelumnya diketahui dalam keadaan sehat.
Bahkan yang bersangkutan juga sempat melaksanakan kewajibannya sebagai pimpinan pondok yaitu berjaga malam.
Selain itu, Ustadz Kasim Rumaf juga diketahui sempat mengendarai sepeda motor saat menuju masjid untuk melaksanakan shalat.
Sepulangnya dari masjid, yang bersangkutan mengeluh batuk yang tidak kunjung berhenti dan kemudian pingsan.
Melihat hal itu, Ustadz Kasim Rumaf kemudian dilarikan ke RSUD Mimika, namun setibanya di rumah sakit yang bersangkutan dinyatakan telah meninggal dunia.
Informasi meninggalnya Ustadz Kasim Rumaf ini juga diunggah di media sosial Ustadz Absir Budi Hamzah sekira pukul 08.00 WIT.
Dalam unggahannya, Ustadz Absir Budi Hamzah menulis kenangan dirinya dengan Ustadz Kasim Rumaf saat melakukan sejumlah perjalanan dakwah.
“Innalillahi WA Innalillahi Roji’un Husnul Khotimah. Kenangan Yang Tak Terlupakan bersama Ustad Kasim Rumaf Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Mimika Dalam Kegiatan Waqaf Alquran. Selamat Jalan Ustad. Sangat Indah Perjalanan Dakwahmu. Dan Allah menjemputmu dengan Indah. Semoga Allah menempatkanmu ditempat terbaikNya Allah Bersama para Syuhada di SyurgaNya Allah SWT,” tulisnya.*/Yacong B. Halike