Beranda blog Halaman 322

Semua Kehilangan Bang Khalid Usman

RASA duka dan amat kehilangan dirasakan oleh warga kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat. Sore hari itu, Sabtu, 30 Jumadal Awal 1444 H atau 24 Desember 2022 sekira pukul 15:00 WIB lewat, lini masa percakapan di grup Whatsapp mengabarkan bahwa bang Khalid Usman meninggal dunia.

Sebelumnya, usai shalat dzuhur ia ditemukan terbaring di kediamannya dalam kondisi lemah karena dididuga penyakit jantung yang diidapnya kambuh. Sejurus kemudian dilakukan tindakan darurat dengan memasangkan selang oksigen untuk membantu pernafasan dan segera dilarikan ke RSUD Cibinong Bogor.

Namun, kehendak Allah SWT berkata lain. Pria murah senyum dan selalu riang ini kembali ke kharibaan Ilahi. Tak ada yang menduga secepat itu ia meninggalkan kita. Tak ayal, dari berbagai penjuru ucapan duka mengalir. Semua kehilangan bang Khalid Usman.

Satu catatan penting untuk bang Khalid yang kita kenal. Beliau adalah anak pertama yang lahir di Pesantren Hidayatullah yaitu tahun 1975 sekaligus anak pertama Almarhum Ustadz Usman Palese dan Ustadzah Nur Hudaya.

Bang Khalid memiliki skill dan kemampuan langka atau jarang dimiliki oleh santri Hidayatullah.

Selain ramah, pekerja keras terutama dalam pertamanan di kampus Gunung Tembak dan Depok menjadi sentuhan tangannya dan tetesan keringatnya.

Dalam pelayanan tamu, seperti sarjana perhotelan. Belum ada yang menyamai ketangkasan dan kepeduliannya. Kamar guest house disentuh dengan rapih, bersih dan makanan-minuman terjamin ada.

Semua pekerjaan tuntas jika dikasih amanah. Asal tidak ganggu dan diberikan otoritas maka selesai pekerjaan apapun.

Tidak absen terlibat dalam dekorasi acara-acara besar di Hidayatullah dengan bunga-,bunga dan aksesoris yang terlihat sangat cekatan. Tata letak panggung dan menghias meja kursi.

Fotografer juga bagus seperti layaknya profesional. Saat pegang kamera sangat mahir dan punya gaya ambil sudut gambar yang khas.

Puisinya senantiasa membahana dengan intonasi suara khas naik turun untuk memeriahkan event event besar di Hidayatullah. Puisi karyanya dari inspirasi diri sendiri.

Percaya dirinya sangat tinggi untuk menyambut tamu pejabat siapapun. Belum ada duanya menjadi guide menerangkan Hidayatullah kepada tamu.

Aktif dalam kegiatan apapun di Hidayatullah. Beliau punya banyak seragam, SAR, Pandu, Pramuka, dll

Kalau bertemu beliau, dijamin tidak bisa diam. Artinya ada saja bahan untuk ngobrol dari masalah internal, eksternal, politik, ekonomi dll. Daya ingatnya juga kuat terhadap moment tertentu

Ada satu yang menarik, beliau sangat peduli dengan anak anak di Pesantren Hidayatullah Depok. Selalu peduli, menyapa dengan senyum, bercanda dan ramah kepada anak anak. Mengajak anak-anak para ustadz di Depok shalat wajib berjamaah di masjid.

Sehingga tidak heran anak-anak merasa kehilangan dengan wafatnya Ustadz Khalid Usman. Mereka ikut antri bertakziyah, mereka ikut berduka, jika bisa berkata, mereka akan bercerita banyak hal tentang ustadz Khalid Usman. Jika bisa menangis, mereka ingin menangis kehilangan sosok yang selama ini menjadi guru mereka di lapangan.

Beliau sebagai manusia biasa, tentu ada salah, khilaf dan kekurangan.

Ya Allah Engkau Maha Pengampun, Ampunilah Seluruh dosa dan kesalahan Ustadz Khalid Usman.

Melayani Ramah Penuh Totalitas

Allah lebih menyayangi Bang Khalid dengan memanggilnya lebih dini. Wafat dengan senyum dan minta maaf kepada semua orang.

Bukan hanya keluarganya yang kehilangan tapi semua yang mengenalnya merasa kehilangan. Karena banyak orang merasa pernah dibantu atau dilayani Bang Khalid.

Entah saat bertamu di Hidayatullah Surabaya, Gunung Tembak ataupun di Depok. Jiwanya terpanggil melayani siapa saja.

Ketika datang Bapak Pemimpin Umum ke Pesantren Hidayatullah Depok, maka di masjid Ummul Qura bang Khalid langsung berinisiatif menyiapkan sajadah, air minum, tisu. Dikondisikan tempat steril, aman dan nyaman. Itu tanpa disuruh, sudah otomatis setiap BPU datang.

Tugasnya sebagai penjaga Guest house, jam berapapun ditelpon jika ada tamu maka bang Khalid datang menyambutnya. Menyiapkan kamar, melayani, menemani ngobrol hingga tamu istirahat.

Karakternya tidak bisa diam untuk kerja. Jiwanya terpanggil jika ada kegiatan untuk membantu. Meski sebenarnya ada riwayat sakit Jantung yang seharusnya beliau banyak istirahat.

Santri-santri Hidayatullah Depok dari anak-anak SD, Sekolah Pemimpin (SP) dan mahasiswa STIE dipastikan kenal dengan beliau. Bang Khalid juga mengenal namanya karena suka membantu dan berbagi.

Beliau menjadi penghubung santri SP yang mau belanja online, menghubungi keluarganya. Banyak dikenal dan akrab dengan banyak wali santri. Jiwanya memang mau membantu.

Tidak heran Bang Khalid mudah menyuruh dan mengerahkan para santri untuk kerja bakti atau kerja yang lain. Karena dekat dengan santri-santri.

Semua keponakannya diperlakukan seperti anaknya sendiri. Akrab dan care dengan anak anak kecil. Diajak main-main atau keliling kampus naik motor.

Sejak ada bang Khalid di Hidayatullah Depok, setiap hari raya maka mimbar dihias cantik seperti ada pengantin. Apalagi kalau ada acara aqiqah, walimah ursy maka otomatis hadir membantu. Beliau orang paling sibuk untuk ambil bagian.

Beberapa waktu lalu, pernah bercerita bahwa tidak lama lagi akan ada pernikahan putra almarhum ustadz Abdul Manan al Kindi. Bang Khalid sudah pikirkan dan rancang untuk suksesnya acara tersebut.

Ibu-ibu merasa kehilangan karena selama ini Bang Khalid banyak membantu acara-acara keluarga dan Mushida. Tidak menawar pekerjaan yang diberikan.

Sabtu pagi menjelang wafat, beliau masih menyiapkan meja dan tempat kajian peradaban di masjid Ummul Qura Depok yang diisi oleh Ustadz Khairil Baist. Setelah itu, pulang mensetrika seluruh baju anaknya dan masih sempat mengambil rapot anaknya di sekolah dan bertemu teman-teman wali santri

Sesaat sebelum meninggal, sempat dibawa ke rumah sakit saat dadanya terasa sakit untuk mendapatkan perawatan di UGD. Beliau minta maaf kepada semuanya, istri, anak, saudara-saudara dan titip maaf ke semuanya. Sambil terus ditalqin oleh adiknya yaitu saudara Fadhli Usman.

Alangkah indahnya kematian jika saat meninggal dunia yang diingat adalah jasa-jasa dan kebaikan-kebaikannya.

Insyaallah beliau Husnul Khotimah

Ust. Abdul Ghofar Hadi | Wasekjen DPP Hidayatullah

Semarak Pertemuan Kader Muslimat Hidayatullah Sulawesi Barat

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Agenda tahunan pengurus Muslimat Hidayatullah (Mushida) Provinsi Sulawesi Barat yakni Temu Kader atau Halaqah Kubro dengan mengangkat tema ‘Menjalin Silaturrahmi antar Kader Muslimat Hidayatullah, untuk Tegaknya Peradaban Islam” berlangsung selama 2 hari di Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, baru baru ini.

Dihadiri seluruh pengurus Hidayatullah se-Sulawesi Barat, mulai dari pengurus organisasi, Murabbiyah, kepala sekolah, guru serta seluruh anggota halaqah sekitar 80 peserta.

Juga menghadirkan Murabbiyah Muslimat Hidayatullah Ustadzah Miftah Assa’adah, selain itu hadir pula Ustadzah Hamriani Hambali, Ustadzah Aidah, Ketua MMW Ustadzah Hj. Muliati beserta anggota pada acara yang dikemas santai dan menarik.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Ustadz Drs. H. Mardhatillah yang juga dihadiri oleh para tamu undangan, wali murid TK, SD serta hadir pula pengurus organisasi Muslimat di daerah Mamuju.

Temu kader berlangsung di Masjid Al-Walidain Pesantren Hidayatullah Mamuju. Acara tersebut dirangkaikan dengan Seminar Parenting dengan tema ‘Menjadi Orang Tua Cerdas dalam Mengasuh Anak di Era Digital.’

“Dengan harapan Para peserta mendapat ilmu dan semangat baru dalam mendidik anak,” begitu postingan di akun Facebook Muslimat Hidayatullah Sulbar.

Selain itu lanjut postingan tersebut bahwa acara juga dikemas dengan beberapa perlombaan diantaranya presentasi materi kajian manhaj, dengan tujuan agar peserta semakin memahami makna dari materi itu untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari situ kami harapkan tumbuh bibit-bibit kader murabbiyah yang berpotensi,” sambungnya.

“Semua tokoh yang hadir menguatkan spirit dalam berjuang di lembaga Hidayatullah yang memiliki mainstream dakwah dan tarbiyah pada sesi problem solving,” ungkapnya

Ketua PW Muslimat Hidayatullah Sulawesi Barat Ustadzah Salbiana, S.Pd. menyampaikan bahwa kita harus mempunyai keinginan menuntut ilmu untuk memperbaiki diri sehingga memiliki kepercayaan diri dalam berdakwah.

“Berdakwah adalah tugas mulia karena mengajak manusia untuk mendekat pada Allah,” harapnya.

Kegiatan ditutup dengan tadabbur alam ke Pantai Malauwa, dengan beberapa permainan seru yang penuh makna akan arti perjuangan dan bekerjasama dalam berjamaah hingga pemberian hadiah kepada pemenang kegiatan lomba.

“Jazakumullah khairan katsiran kepada narasumber, para senior Mushida, seluruh peserta temu kader daerah, para donatur kegiatan ini, panitia pelaksana, serta semua yang telah terlibat dalam menyukseskan acara ini. Semoga acara ini diridhai dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT,” tutupnya.*/Bashori Massi

Ustadz Naspi Arsyad Tekankan Pentingnya Kekuatan Teamwork Amil

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pengawas Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Ust. H. Naspi Arsyad, Lc, menekankan pentingnya menjaga kekuatan teamwork bagi Amil.

“Kita harus bisa melihat bahwa kekuatan kita memang ada pada tim yang solid, itulah teamwork. Sebab dalam Alquran kita bisa melihat dengan terang bagaimana Allah meneladankan tentang teamwork dalam kehidupan dunia ini,” katanya.

Hal itu disampaikan dia dalam kegiatan pembinaan Amil secara rutin yang pada kesempatan bertempat di Aula Abdullah Said, Kampus STIE Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Kamis, 28 Jumadal Awal 1444 H (22/12/2022).

“Dan teamwork yang bekerja dengan baik itu seperti para malaikat, tunduk, patuh dan ikhlas dalam kepemimpinan yang kokoh dan adil,” terang pendiri gerakan Komunitas Keluarga Cerdas (KKC) ini.

Dalam kesempatan penuh kekeluargaan itu pria murah senyum tersebut menekankan bahwa sesungguhnya kunci teamwork yang kuat ada pada kepemimpinan.

“Kepemimpinan yang adil adalah kunci teamwork bekerja dengan baik,” tegasnya.

Dalam dimensi spiritual, Ust. Nasfi Arsyad mendorong agar para Amil dalam bekerja bisa menerapkan praktik saling mendoakan.

Dia menjelaskan, dalam tinjauan Islam tim yang kuat adalah yang satu sama lain saling mendoakan. Oleh sebab itu, tegas dia, jangan ragu untuk mendoakan saudara-saudara kita.

“Karena begitu kita mendoakan sahabat kita maka malaikat akan datang mengaminkan doa kita kemudian malaikat mendoakan diri ini agar Allah mengabulkan hajat kita,” urainya.

Lebih jauh dia memaparkan aspek sentuhan dari atas kepada yagn di bawa harus betul-betul dilakukan agar mereka yang bekerja secara teknis di lapangan betul-betul siap berjuang secara totalitas ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.*/Herim

[Khutbah Jumat] Menuju Megaproyek Pembangunan Iman

0

MEMBANGUN iman dalam perspektif Islam diletakkan dalam skala prioritas dalam perencanaan pembangunan, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Pembangunan dalam aspek keyakinan ini dilakukan dengan penuh keseriusan, bukan asal-asalan. Pembangunan iman juga dilakukan secara sistemik. Seluruh komponen ummat terlibat dalam menseriusi pekerjaan ini. Hal ini tercermin jelas pada perencanaan hingga alokasi sumber dana dan sumber daya.

Segala kegiatan yang kontra produktif bagi akselerasi pembangunan iman ditiadakan dari diskursus perencanaan pembangunan. Jangan sampai terjadi, dengan alasan pembangunan, maksiat dibuka lebar-lebar, demoralisasi dan dehumanisasi dibiarkan hanya karena perlindungan HAM.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Murid SMP Putri Hidayatullah Depok Siapkan Diri Berkarya dengan Kekuatan Literasi

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Santri Putri SMP Hidayatullah Depok menggelar kegiatan bincang literasi dalam program “Workshop Kepenulisan” bersama pegiat literasi beragam platform, Mas Imam Nawawi, di komplek Sekolah Al Quran dan Teknologi itu di bilangan Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor-Depok, Jawa Barat, Rabu, 28 Jumadal Awal 1444 H (21/12/2022).

“Kami hadirkan gelaran ini agar para santri bisa menyiapkan diri untuk berkarya dengan kekuatan literasi. Beberapa tulisan telah mereka lakukan dan akan segera disiapkan untuk terbit dalam bentuk buku,” terang Kepala Sekolah SMP Putri Hidayatulalh Depok, Sarah Zakiyah.

Dalam kesempatan itu, Imam Nawawi, memberikan uraian perihal bahwa literasi adalah bagian dari pilar tegaknya peradaban Islam.

“Islam adalah ajaran yang memandu manusia memahami jalan hidup yang indah dan mulia. Karena itu ayat yang pertama Allah turunka kepada Nabi Muhammad adalah Iqra’ bismirabbik, membaca dengan nama Tuhan,” ungkap Imam.

Penulis yang aktif berkarya di beragam media, seperti Republika, Majalah Suara Hidayatullah dan Majalah Mulia, ini menjelaskan pentingnya peran membangun peradaban lewat literasi.

Terbukti dalam perjalanan, para ulama menjadi pionir tegaknya budaya literasi. Seperti Ath-Thabari, Al-Qurthubi dan banyak lagi ulama lainnya.

“Ath-Thabari itu mampu menulis 40 halaman setiap hari sepanjang 40 tahun. Tidak kurang dari setengah juta lebih halaman yang telah beliau tuliskan. Tafsir Ath-Thabari saja itu sangat tebal,” imbuh Imam.

Lebih jauh Imam memberikan penjelasan keuntungan menekuni dunia literasi sejak remaja.

Imam mengatakan, orang yang bagus literasinya akan jadi manusia yang memiliki budaya yang positif dalam 24 jam kehidupannya. Punya kecerdasan dan kelapangan dada, sehingga tidak mudah galau, gelisah apalagi putus asa.

“Semakin literasi tinggi, semakin percaya diri meningkat dan tidak ada waktu luang melainkan akan ia gunakan sebagai sarana mencerdaskan diri,” urainya.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan praktik menulis secara spontan dari seluruh santri. Dan, ketika sampai pada sesi pengujian, ternyata karya tulis para santri putri cukup potensial dan bagus.

Kata Imam, “Tinggal latihan dan komitmen untuk terus berlatih dan mengasahnya. Tulisan santri sekarang cukup bagus, terus tajamkan”.*/Yacong B. Halike

Kapolres Puji Peran Ponpes Hidayatullah Kukar dalam Kamtibmas

0

KUKAR (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kabupaten Kuta Kartanegara (Kukar), Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hari Rosena mengapresiasi peran Pondok Pesantren Hidayatullah di Kutai Kartanegara, Kaltim, dalam membina dan membersamai masyarakat melalui berbagai programnya di bidang dakwah dan pendidikan yang turut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Polisi hampir sama dengan pesantren yaitu sama-sama memiliki tanggung jawab moral individu dan kolektif,” kata Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Hari Rosena saat menerima silaturahmi dan audiensi dari Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Jalan Wolter Mongisidi, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (29/11/2022).

Kapolres Hari menyampaikan, ia sangat bahagia dan berterima kasih karena dapat bertemu dengan pendidik dalam bidang agama.

Pada kesempatan itu, ia meminta agar pesantren dijaga sebaik baiknya karena merupakan entitas yang membuat kita terhormat dan baik itu perilaku dan tingkah laku kita sendiri.

Pada silaturrahmi tersebut, Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Kukar, Ust. M. Ali Akbar mengatakan, tujuan silaturahmi dengan Kapolres Kutai Kartanegara dan jajaran untuk mendapatkan bimbingan dan petunjuk terkait dengan jika ada permasalahan hukum yang terjadi di lingkungan pesantren.

“Pesantren tidak lepas dari berbagai dinamika, termasuk dalam hal problem kepengasuhan santri yang tidak sederhana,” kata Akbar.

Akbar mencontohkan, dalam penerapan hukum kepada santri, hal tersebut mesti diterapkan secara bijaksana dan proporsional. Pesantren juga tak lepas dari dinamika interaksi dengan peserta didik dan walinya.

“Misalnya jika ada perkelahian antar siswa yang sudah didamaikan namun orangtua tidak terima, ini salah satu yang kami minta pencerahannya,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Desa Loa Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara ini.

Setelah melakukan pertemuan auiensi dengan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Hari Rosena juga memberikan bantuan sumbangan kepada Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah.*/Maksum Darul

Jangan Sembarang Tafsirkan Al Qur’an

0

MENAFSIRKAN Al-Qur’an bukanlah urusan gampang. Menurut para ulama, agar memiliki otoritas menafsirkan Al-Qur’an, dibutuhkan tidak kurang dari 15 macam ilmu, seperti lughah (bahasa), ma’ani, fiqh, ushul fiqh, qira’at, nasikh-mansukh, dsb.

Kali ini, mari kita ambil kata “menghidupkan” sebagai contoh untuk menunjukkan betapa Al-Qur’an tidak bisa ditafsirkan sembarangan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Secara bahasa, menghidupkan (al-ihya’) adalah kebalikan dari mematikan (al-imatah). Inilah pengertian dasarnya. Namun, perbedaan konteks bisa mempengaruhi arah maknanya. Di dalam Al-Qur’an sendiri, kata ini muncul 51 kali. Alhamdulillah, kami menemukan ulasan terkait dalam artikel Dr. Muhammad Al-Ahmadi (berbahasa Arab).

Makna pertama dari “menghidupkan” adalah: memberi hidayah. Allah berfirman, “Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” (Qs. Al-An’am: 122).

Menurut Imam Ibnu Katsir, makna “Kami hidupkan” adalah Kami beri hidayah. Makna ini senada dengan ayat lainnya, yaitu: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu…” (Qs. Al-Anfal: 24). Seruan Rasulullah adalah hidayah kepada keimanan, dan dengan iman maka hati manusia menjadi hidup.

Makna kedua: menciptakan dan mengadakan. Allah berfirman, “Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Al Hadid: 2).

Menurut Syaikh Thahir bin ‘Asyur, “menghidupkan” disini berarti: membuat sesuatu yang semula tidak ada menjadi ada, kemudian memberinya kehidupan sehingga keberadaannya pun menjadi sempurna.

Makna ketiga: membangkitkan potensi indra, rasa, gerakan, dan pertumbuhan. Dalam pengertian ini, manusia dan binatang disebut hidup selama masih ada ruh dalam jasadnya. Allah mengisyaratkannya dalam Qs. Al-Baqarah: 243, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati. Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka….”

Sedangkan bumi bisa disebut hidup selama menyemaikan tetumbuhan, sebagaimana firman-Nya, “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian. Maka, darinya mereka makan.” (Qs. Yasin: 33).

Makna keempat: membangkitkan kembali sesudah kematian. Allah berfirman, “Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al-Baqarah: 56). Disini, istilah “kebangkitan” diperhadapkan dengan “kematian”, sedangkan kematian sendiri merupakan kebalikan dari kehidupan. Makna senada terdapat dalam Qs. al-Baqarah: 243 (telah disebutkan sebelum ini), juga dalam surah Yasin: 78-79, “…Ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa diantara makna “menghidupkan” adalah membangkitkan kembali sesudah kematian; sebagaimana disitir Imam al-Qurthubi, az-Zamakhsyari, Ibnu Katsir, dll.

Makna kelima: menyelamatkan dari kebinasaan. Perhatikan firman Allah ini: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang menghidupkan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menghidupkan manusia semuanya….” (Qs. Al-Ma’idah: 32).

Ayat di atas ini sesungguhnya menganjurkan untuk memelihara kehidupan, bukan sebaliknya. Jika maknanya diperluas, ia mendorong untuk menjaga segala sesuatu tetap baik sebagaimana Allah menciptakannya dan membenahi apa-apa yang telah dirusakkan, baik secara fisik maupun non-fisik. Penjelasan lebih luas dapat ditemukan dalam Tafsir ath-Thabari, ar-Razi, al-Alusi, al-Qasimi, dll.

Makna keenam: memakmurkan kembali. Maksudnya, menjadikan suatu negeri ramai setelah sebelumnya kosong dan ditinggalkan. Allah berfirman, “Atau, apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” (Qs. Al-Baqarah: 259).

Maksudnya: bagaimana cara Allah meramaikan kembali negeri ini setelah ia hancur dan ditinggalkan? Menurut para ulama’, ayat ini berkenaan dengan Nabi ‘Uzair ‘alaihis salam yang melewati Baitul Maqdis setelah hancur dan penghuninya diboyong sebagai tawanan di negeri asing. Allah lalu mematikannya selama 100 tahun, lalu menghidupkannya lagi. Dalam masa tersebut Bani Israil kembali ke Baitul Maqdis dan jadilah ia ramai seperti semula. Demikian seperti dijelaskan Imam Ibnu Katsir, ath-Thabari, dll.

Jadi, untuk satu kata ini saja – yaitu: “menghidupkan” – ada beberapa kemungkinan makna yang muncul. Padahal, menurut sebagian ulama’, Al-Qur’an memuat tidak kurang dari 77.934 kata (lihat: bab ke-19 dalam al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an karya Imam as-Suyuthi). Pasti diperlukan banyak sekali perangkat untuk memilih makna yang paling pas.

Maka, jika sekarang ada yang berani menafsirkan Al-Qur’an sedangkan ia buta terhadap 15 ilmu prasyaratnya, bukankah kewarasan akalnya sangat layak dipertanyakan? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

IMS Bersama Baznas Bazis DKI Jakarta Kembali Hadirkan Kegiatan Hapus Tato

JAKARTA (Hidyatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) digandeng BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta kembali meluncurkan Program Kegiatan Hapus Tato yang dikelola melalui BAZNAS (BAZIS) Kota Administrasi Jakarta Utara.

Kegiatan Hapus Tato yang diselenggarakan selama 2 hari pada Senin – Selasa, 19 – 20 Desember 2022 pada pukul 09.00 WIB yang berlokasi di Balai Yos Lantai 2 Komplek Kantor Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara.

Pada kegiatan Hapus Tato mendapatkan respon dari masyarakat terutama yang ingin berhijrah merasa sangat terbantu, mengingat harga dalam menghapus tato yang tidak murah.

Alhamdulillah kegiatan Hapus Tato dikelola hingga dipantau langsung oleh Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara, Kepala Markas PMI Jakarta Utara dan Koordinator Wilayah BAZNAS (BAZIS) Kota Administrasi Jakarta Utara.

Kegiatan Hapus Tato sudah menjadi kegiatan yang rutinitas dilaksanakan oleh BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta untuk membantu masyarakat.

Masyarakat Jakarta merasa sangat terbantu dengan Kegiatan Hapus Tato dan berterima kasih kepada pihak BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta yang sudah menyelenggarakan kegiatan tersebut.*/Alamsyah Jilpi

BMH Kepri Kembali Serahkan Sumur bor ke Warga Kampung Tanah Merah

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Bagi warga kampung Tanah Merah, Bintan, kehadiran sumur dan instalasi air bersih adalah penantian panjang yang akhirnya terwujud, karena itu warga sangat berbahagia ketika, pada Selasa, 20 Desember 2022, BMH Kepri meresmikan sumur bor dan instalasi air bersih kedua di kampung mereka.

Penggunaan fasilitas air bersih tersebut diserahkan secara resmi oleh General Manager BMH Perwakilan Kepri, Abdul Aziz kepada salah satu tokoh masyarakat, Bapak Idris disaksikan sejumlah warga. BMH Kepri akan menghadirkan lagi 3 sumur bor dan fasilitas air bersih untuk memenuhi kebutuhan sekira 500 KK.

“Alhamdulillah sumur bor dan fasilitas air bersih yang kedua telah kita serahkan secara resmi ke warga RT 03 kampung muslim Tanah Merah, semoga ini menjadi solusi atas problem kesulitan air bersih yang telah bertahun-tahun di alami warga,” terang Abdul Aziz.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Aziz menyampaikan juga rasa terima kasih kepada para muhsinin yang telah mensupport program air bersih ini dan semoga diterima oleh Allah Ta’ala sebagai amal jariyah.

BMH Kepri sangat berharap dukungan para muhsinin untuk membantu mewujudkan sumur bor dan fasilitas air bersih berikutnya karena warga kampung muslim yang terletak di pesisir itu adalah nelayan kecil dan petani dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.

“Kami menunjuk penanggungjawab untuk setiap sumur bor dan fasilitas air bersih, tugasnya merawa dan mengatur distribusi air ke warga,” ujar bapak Idris, tokoh masyarakat setempat.

Dengan hadirnya sumur bor dan fasilitas air bersih ini, warga di kampung muslim Tanah Merah tidak lagi kesulitan untuk melakukan berbagai akitivitas khususnya aktovitas ibadah seperti sholat lima waktu karena air wudhu selalu tersedia di masjid. Demikian juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk memasak, minum, mandi dan mencuci.*/Mujahid M. Salbu

Simpul Sinergi Kolaborasi Hadirkan Pipanisasi Air Bersih di Cianjur

CIANJUR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama beragam lembaga kemanusiaan, seperti Nurul Ashri dan Siaga Peduli dan beberapa pihak simpul sinergi lainnya kolaborasi hadirkan pipanisasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih para pengungsi di desa paling ujung dari Kecamatan Cugenang, yakni Kampung Pasir Gombong, Desa Sukamulya.

“Alhamdulillah usai melalui tahapan musyawarah mengenai hal urgen yang masyarakat butuhkan akhirnya program kedua bisa dilaksanakan, yakni pipanisasi air bersih,” terang Koordinator Program BMH di Kampung Pasir Gombong, Mahmudin, Senin, 25 Jumadal Awal 1444 H (19/12/2022).

Sebagai bentuk kebahagiaan, warga dan BMH bersama simpul sinergi lainnya pun melakukan tasyakuran, yang berlangsung di Masjid Darurat Ash-Shofa tepat usai sholat Ashar.

Tokoh masyarakat setempat, Haji Jajang sangat senang dengan hadirnya program ini.

“Usai masjid darurat, sekarang sudah pipanisasi air bersih, terimakasih BMH dan kawan-kawan lembaga lainnya yang telah membersamai kami semua di Pasir Gombong,” ungkap Haji Jajang.

Usai pipanisasi Laznas BMH dan beragam pihak menyiapkan program lanjutan berupa pembangunan hunian sementara (huntara) yang layak bagi para pengungsi.

Sementara itu semua disiapkan, rutinitas ibadah masyarakat tetap terjaga dengan hadirnya masjid darurat. Bahkan beberapa relawan ada yang ditugaskan khusus agar anak-anak bisa tetap belajar Alquran setiap bakda Ashar dan bakda Mahgrib.*/Herim