Beranda blog Halaman 322

Deklarasi Tim Pemenangan Dr M Tasmin Latif Menuju DPD RI Dapil Sultra Periode 2024-2029

0
Penulis paling kanan berkopiah hitam di kantor KPU Sultra

DALAM mengawali pemaparan orasi politiknya, Ustadz Dr M Tasmin Latif M Pd, pada event deklarasi Tim Pemenangan, Bakal Calon DPD RI Dapil Sultra ini mengatakan, “bobot forum ini menjadi kuat, karena dihadiri oleh Ketua Pokja Politik Hidayatullah, Bapak Ustadz Ir. H. Candra Kurnianto”.

Bersamaan kehadiran Bapak Ustadz Ir Candra Kurnianto ke Sulawesi Tenggara, mewakili Ketua Umum DPP Hidayatullah dalam event Rakerwil Hidayatullah DPW Sulawesi Tenggara yang diselenggarakan di Hotel Zahra Syariah Kendari. Pada Senin-Selasa 7-8 Januari 2024.

Berkaitan dengan segala sesuatu menyangkut persoalan politik, menjadi ranah diskusi Pokja Politik Hidayatullah.

Salah satu produk yang dihasilkan dari Pokja Politik Hidayatullah ini yang digawangi oleh Ustadz Candra (sapaan akrabnya), adalah Keputusan Penetapan Ustadz Dr. M Tasmin Latif M Pd untuk menjadi DPD RI Dapil Sultra pada periode mendatang ini.

Ketua Dewan Murabbi Pusat ini, dalam orasinya juga memaparkan kronologi penetapan keputusan tersebut.

Berawal dari taujih politik Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdul Rahman Muhammad, menyampaikan bahwa mekanismenya harus dari bawah.

Mulai dari calon yang diusung dan disepakati pada tingkat DPW selanjutnya mengajukan ke Pokja Politik untuk digodok, hasil tersebut menjadi dasar keputusan MMS (Majelis Musyawarah Syuroh) yang diketuai oleh Bapak Pemimpin Umum dalam keputusan penetapan.

Pada era ini Hidayatullah semakin menunjukkan sebagai organisasi inklusif (terbuka). “Model inklusivitas Hidayatullah dalam da’wah dan politik”, in syaa Allah akan dideklarasikan pada acara Silatnas Hidayatullah 2023 mendatang di Kampus Ummul Quro Gunung Tembak. Papar Ustadz Tasrif Amin (sapaan akrab) Bapak Dr. M Tasmin Latif M Pd.

“Salah satu program yang akan dicanangkan adalah Pelatihan Muballigh di beberapa titik di Sulawesi Tenggara ini”, kata Dr. M Tasmin Latif M Pd. pada akhir orasinya.

Sementara dalam sambutannya Ketua Pokja Politik Hidayatullah, Bapak Ustadz H. Ir Candra Kurnianto mengatakan bahwa, “nanti akan disampaikan ke Pengurus Harian DPP, agar Tim Pemenangan yang telah dikukuhkan ini mendapatkan SK dari DPP sebagai penguatan.”

Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah ini juga menyampaikan, bahwa, “Saya sudah arahkan saat acara Rakernas, Sulawesi Tenggara mendapatkan tugas dan amanah untuk mengusung DPD RI, namun harus dibantu oleh DPW Sulawesi Selatan dan DPW Sulawesi Barat, karena selain jaraknya relatif dekat juga ketua DPWnya mempunyai hubungan emosional dengan Sulawesi Tenggara, masing-masing pernah bertugas di Bumi Anoa ini.”

“Kita perlu merumuskan strategi-strategi pemenangan, diantaranya memberdayakan orang-orang potensial yang ada di Sulawesi Tenggara untuk memberikan dukungan dalam berbagai hal”

Saya teringat, praktisi politik, “Dedi Mulyadi” seorang yang meminta kepadanya ingin mencalonkan diri menjadi caleg, kemudian ditanya, “apa potensimu,” orang ini menjawab, “menyanyi”.

Maka disettinglah, setiap ada hajatan masyarakat, caleg tersebut menyanyi, suaranya memang bagus, iya tidak dibayar namun setiap tampil mengkampanyekan dirinya sebagai caleg.

Dengan cara seperti itu orang ini sukses dan berhasil menjadi Caleg.

“Apalagi orang yang akan kita usung ini seorang ustadz, muballigh, Doktor, tentu jaulah levelnya”, Ustadz Tasrif Amin panggilan kecil kandidat DPD RI menyela, “tapi saya tidak bisa nyanyi”, justru yang bisa menyanyi orang yang duduk di sebelahnya, Ustadz Khairil Baits, hadirin ketawa lepas.

Selanjutnya Ustadz Candra menjelaskan bagaimana kita mampu membangun narasi menguatkan peran situs² sejarah yang pernah ada di Sulawesi Tenggara ini.

Ustadz Candra memberikan contoh kasus, ketika Ustadz Nursyamsa Hadis menjabat sebagai anggota DPD RI, Beliau ikut terlibat memperjuangkan pemekaran Provinsi Kalimantan Utara.

Mendapatkan orang yang memahami geopolitik Sulawesi Tenggara, apa issue-issue yang menarik, misalnya sumber daya alam Sulawesi Tenggara, kita bisa memainkan peran terkait dengan issue yang berkembang.

Ada ghost writernya (penulisnya), kemudian memanfaatkan koran-koran daerah untuk mengsosialisasikan calon yang kita usung, lalu disebar di media-media sosial, Kata Ustadz Candra memaparkan strategi pemenangan yang bisa dilakukan.

Pada acara ini hadir juga Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ustadz H. Ir Khairil Baits.

Dalam sambutannya Beliau menyampaikan, “pengalaman sebelumnya sudah bisa menjadi pelajaran, pasca pencoblosan kita sudah balik masing-masing ke rumah istirahat, tidak lagi mengawal dan mengawasi keberadaan kotak-kotak suara, sehingga pada periode ini perlu menyusun strategi pemenangan yang lebih baik lagi.”

Momen acara ini, dilakukan pembacaan ikrar bersama yang dipandu oleh Ketua Pokja Politik Hidayatullah Bapak Ustadz H. Ir. Candra Kurnianto, membangun komitmen untuk pemenangan Dr. M Tasmin Latif M.Pd sebagai DPD RI Dapil Sulawesi Tenggara Periode 2024-2029.

Pada rangkaian acara Rakerwil Hidayatullah DPW Sulawesi Tenggara ini, acara pembukaan dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Kendari H. Subhan, ST, Ketua DPW PKS Provinsi Sulawesi Tenggara Yaudusalam Ajo S.i dan Ketua DPD PKS Kota Kendari Andi Mansyur, SS.*/

Ust Ahmad MS, pengurus DMW Hidayatullah Sulawesi Tenggara

Rakerwil Lampung, Wasekjen DPP Hidayatullah Ajak Rawat Semangat Dakwah

LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abdul Ghofar Hadi, mengatakan Hidayatullah memiliki kultur khas yang sangat melekat yaitu menghidupkan dakwah dengan dikirimnya para kader untuk mengemban tugas kekhalifahan tersebut ke seantero bumi.

Karenanya, mahasiswa S3 Program Studi Keluarga Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) ini mengajak kader untuk senantiasa merawat semangat dakwah dengan terus menumbuhkan kegelisahan terhadap kondisi umat yang belum tersentuh dakwah Islam.

“Dengan kegelisahan itu akan tumbuh idealisme dan semangat untuk berjuang,” kata Ust. Abdul Ghofar Hadi.

Hal itu disampaikan Ust. Abdul Ghofar Hadi saat sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Lampung yang digelar di Kota Bandar Lampung dibuka Sabtu, 14 Jumadal Akhirah 1444 H (7/1/2023).

Selain membacakan amanat Rakerwil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust. H. Nashirul Haq, Lc, MA, pada kesempatan tersebut Abdul Ghofar Hadi mengajak peserta melakukan terobosan dan berbagai kreasi yang memungkinkan terus merawat semangat perjuangan untuk menguatkan dakwah di kawasan ini.

Menurutnya, amat penting menumbuhkan kegelisahan yang lahir karena kesadaran akan pentingnya melakukan pencerahan kepada umat. Sebab, ketika dakwah tidak jalan, maka dikhawatirkan kita sudah berada di zona nyaman.

“Semoga tidak terjebak dalam zona aman, menikmati kondisi yang ada padahal masih banyak peluang untuk berkarya,” imbuhnya memungkasi seraya mengajak menguatkan persaudaraan, terus mantapkan kekompakan, menjaga soliditas, serta menyikapi berbagai dinamika yang ada dengan kebesaran jiwa dan mengintensifkan komunikasi.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Lampung Ust. Rusdi Hidayat menekankan perlunya penguatan program pada aspek pengembangan dan optimalisasi peran amal usaha dalam menunjang gerakan.

“Pada tahun ketiga ini, kita harus lebih semangat dan ekspansif untuk dakwah dan program-program amal usaha strategis dengan dakwah digital,” kata Rusdi.

Kegiatan tahunan ini diikuti oleh seluruh pengurus DPW, pengurus DMW, pengurus DPD, pengurus Kampus Madya, utusan dari PW Pemuda Hidayatullah dan PW Muslimat Hidayatullah serta unsur amal amal usaha.

Dalam pada itu, Ust. Munawir dalam sambutannya mewakili Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Lampung mengingatkan untuk lebih dewasa dalam berorganisasi. Dia menekankan hendaknya perkuat niat dan ukhwah sebagai kunci dalam berjamaah.

Rapat kerja wilayah Lampung kali ini terasa hidup dengan banyak usulan, tanggapan, dan masukan dari peserta Rakerwil. Semua departemen mendapatkan masukan program. Termasuk program DMW tentang halaqah, dauroh dan lailaltul ijtima.*/Yacong B. Halike

Tempaan Tugas Menguatkan Keyakinan Ustadz Nawir di Jalan Dakwah

0
Penulis bersama Ust. Muhammad Nawir / Foto. dok. Hidayatullah.or.id

“KETIKA Nafsu Berkuasa”, itulah judul majalah Suara Hidayatullah yang menyentakkan pikiran dan hati Muhammad Nawir. Saat itu anak muda ini sedang berada di Bontang, Kaltim, untuk mencari saudaranya dan melamar pekerjaan di PT LNG Badak. Majalah itu dia baca saat silaturahim ke rumah saudaranya yang berlangganan majalah tersebut.

Ketika silaturahim ke Kampus Hidayatullah Bontang, bertambah tertarik lagi dia melihat langsung pribadi para ustadz di sana. Terutama saat melihat dan berjumpa dengan pimpinannya, yang (mohon maaf) kurus, berwibawa, santun, dan tidak banyak makannya. Orang yang dilihatnya tersebut adalah Ust. Abdurrahman Muhammad. Sekarang, Pemimpin Umum Hidayatullah.

Akhirnya Nawir memutuskan untuk bergabung ke Hidayatullah Gunung Tembak. Meskipun satu tahun setelah itu ada jawaban bahwa lamaran kerjanya di PT LNG Badak diterima.

Namun, dia sudah tidak tertarik lagi memenuhi panggilan kerja di perusahaan pengelolaan minyak bumi yang namanya sangat beken itu. Padahal, lumayan besar gaji dan berbagai jaminan yang akan dia dapatkan.

Tugas di Dapur

Muhammad Nawir sebagai lulusan SMEA untuk ukuran tahun 90-an itu keren, ijazahnya bisa untuk melamar jadi pegawai negeri atau karyawan perusahaan bonafid. Namun, Nawir tidak terlalu tertarik dengan itu semua. Ia malah penasaran dengan Hidayatullah.

Sebagaimana santri baru yang lain, setelah selesai menjalani Training Center (TC) semua santri mendapatkan tugas masing-masing. Nawir ditempatkan di dapur untuk tugas memasak.

Sebenarnya tidak nyambung dengan pendidikan dan kemampuannya. Tapi itulah ujian pertama yang harus ia jalani. Saat itu belum ada gas elpiji. Dia pun memasak dengan mengumpulkan kayu-kayu kering dari hutan untuk bahan bakar masak.

Tentu ia merasakan letih menjalankan aktifitas rutin itu. Dia harus masak tiga kali sehari untuk banyak santri, hampir tidak ada waktu istirahatnya. Apalagi jika musim hujan, kesulitan mencari kayu bakar yang kering menjadi tantangan tersendiri. Tak jarang, sudah datang para santri mau makan, tetapi nasi dan lauk belum selesai dimasak.

Berkecimpung di dapur ini, Nawir belajar ikhlas melayani para santri dan kerja keras untuk memasak dengan tiga kali sehari. Berlatih juga disiplin dan sabar jika turun hujan.

Tugas Takmir dan Pusat Informasi

Setelah satu tahun tugas di dapur, Nawir muda kemudian ditugaskan menjadi takmir Masjid Ar Riyadh. Suara beliau yang bagus dan meliuk-liuk saat mengumandangkan adzan sangat disenangi oleh jamaah.

Tugas sebagai takmir bukan hanya adzan. Nawir juga bertanggung jawab membersihkan lantai masjid, minimal 3 kali dalam sehari karena shalat berjamaah 5 kali sehari ditambah shalat lail berjamaah. Bukan hanya disapu tapi juga harus dipel dengan alat yang masih manual.

Nawir juga bertugas menjaga waktu shalat dengan mengumumkan waktu shalat persepuluh menit dari mulai 30 menit sebelum adzan. Jika terlambat maka dipastikan akan mendapat teguran dari jamaah.

Selain itu, Nawir juga bertugas sebagai pusat informasi mengumumkan segala kegiatan yang dilaksanakan di pesantren. Saat itu belum ada telpon apalagi handphone. Hanya ada handy talky (HT).

Setiap ada pemesanan barang, tamu akan datang, informasi laporan dari daerah itu melalui HT yang diletakkan di takmir. Ini yang membuat sulit tidur karena nyaris tidak berhenti HT berbunyi dan harus diumumkan ke mic masjid jika harus memanggil orang atau informasi yang harus disampaikan.

Tugas di takmir yang paling terkesan bagi Nawir adalah menemani Allahuyarham Ust. Abdullah Said shalat lail. Jika shalat lail berjamaah, terutama malam Senin dan malam Kamis, ibadah tahajjud itu dilaksanakan tepat pukul 00.00. Maka, pada pukul 23.30 sudah harus diumumkan panggilan, “shalah… shalah… shalah!”.

Yang juga tak terlupakan bagi Nawir muda saat itu, dia terkadang tertidur karena kecapekan dan dibangunkan langsung oleh Ust. Abdullah Said di ruang takmir.

Nawir merasakan langsung shalat lail 4 jam dan anehnya jika shalatnya pas dibelakang Allahuyarham Ust. Abdullah Said, dipastikan tidak mengantuk. Tapi posisi di baris depan itu harus rebutan duluan dengan jamaah dan ustadz yang lain.

Saat tertentu, Nawir diminta menemani shalat lail Allahuyarham berdua saja. Rata-rata 4 jam lamanya. Nawir menyaksikan sendiri, tempat sujud Ust. Abdullah Said ada darahnya karena saking lamanya sujud. Beliau harus ganti kain tempat sujud tersebut hingga tiga kali dalam semalam.

“Tugas di takmir ini berat tapi nikmat, karena banyak kesempatan bisa bicara dan dekat dengan Ust. Abdullah Said. Tapi, di Hidayatullah, perkaderan itu dengan rolling tugas. Tidak ada yang tugas abadi atau lama-lama di satu tempat,” ungkap Ust. Nawir saat mengisahkan kembali perjalanan tersebut kepada penulis beberapa waktu.

Tugas Penjaga Wartel

Tugas Nawir muda berikutnya menjadi salah satu penjaga warung telekom (wartel) milik pesantren yang berlokasi di kota. Bisa dibilang ini tugas yang bertolak belakang dengan takmir.

Jika di takmir fokus ibadah dan tidak pernah lihat perempuan, di wartel hampir setiap saat lihat perempuan dan melayaninya untuk memakai wartel. Sebenarnya tugas ini sangat menyiksa batinnya tapi tetap jalani dengan ketaatan dan banyak istighfar saja.

Tugas Biro Haji

Usia menjalani tugas debut mengelola wartel, selanjutnya Nawir dipindahkan tugas lagi menjadi tenagaa biro haji bersama Ust. Rahmat Rahman. Ini tugas yang berbeda karena harus banyak melayani orang-orang kaya yang hendak berangkat haji.

Bagi Nawir yang masih muda kala itu, tugas baru ini menantang dan menarik. Ada pengalaman baru yang didapatkan sambil terbesit harapan untuk bisa haji juga.

Saat menikmati tugas di Biro Haji ini, tiba-tiba ada tawaran untuk ikut menikah mubarakah. Sebenarnya belum siap dan tidak mau, tapi karena terus didesak maka akhirnya ikut pernikahan mubaraah 100 pasang tahun 1997.

Ini ternyata tugas terakhir di Gunung Tembak. Beberapa hari setelah menikah, untuk pertama kali tugas keluar Balikpapan yaitu langsung ke Pulau Sumatera yaitu Lampung. Sebelumnya diminta pulang silaturahim ke rumah orang tua dan mertua.

Tugas Lampung

Nawir mengaku awalnya was was ketika mau berangkat tugas ke Lampung karena baru pertama kali tugas jauh. Namun ia pantang surut ke belakang. Ia pun naik kapal hingga ke Tanjung Priok Jakarta. Alhamdulillah, ada paman yang menjemput meskipun belum pernah ketemu sebelumnya.

Setelah menginap di rumah sang paman selama 2 hari, Nawir lalu dibelikan tiket bus ke Lampung turun di Manggala pukul 02.00 dini hari. Ust. Abdul Majid Aziz sebagai pimpinan cabang Hidayatullah Lampung, girang bukan main dengan kedatangan Nawir. Karena ada tenaga baru yang memperkuat barisan.

Nawir mengaku tidak pernah terbayang tugas di Lampung yang terkenal sebagai kota dengan angka kriminalitas tinggi. Banyak kader dikirim ke Lampung tapi sebagian tidak betah. Ada sekitar 20 tenaga dikirim tapi terpental.

“Disinilah mahalnya ketaatan dan pentingnya garis komando,” kata Ust. Nawir yang kini didapuk menjadi Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Lampung.

Selama tugas di Lampung, sudah 4 kali ia kehilangan motor. Bukan hanya dia, beberapa orang yang ia kenal juga pernah kehilangan motor. Ini sebagai gambaran rawannya keamanan di Lampung. Ia mengakui beratnya dakwah di Lampung, hingga ada petugas dai yang dikirim ke sini berseloroh, “mungkin Lampung sudah dikutuk”.

Ungkapan itu mungkin sebagai gambaran perasaan tidak mudahnya mengemban tugas dakwah di kawasan ini. Namun, Ust. Nawir tetap berusaha bertahan dan berbuat apapun yang diampu demi tegaknya dakwah. Baginya, semakin berat tantangan dakwah maka semakin nikmat ibadah dan perjuangan itu. “Syarat tentu harus ada keyakinan, mujahadah dan kesabaran,” imbuhhnya.

Merintis Hidayatullah Yukum Jaya

Tahun 2003, Ust. Nawir ditugaskan dari Manggala untuk merintis di Kabupaten Yukum Jaya di Lampung Tengah. Selama 7 tahun belum mendapatkan tanah sehingga ia pun numpang dan kontrak rumah secara bergantian. Kegiatannya berdakwah dari masjid ke masjid, mengajar TPA, silaturahim ke orang-orang yang dikenal sambil mencari tanah.

Ada salah satu tempat pengajian tampak terbengkalai yang lokasinya dimiliki oleh Pak Haji Mahmud. Sang pemilik tanah mempercayakan pengunaan lokasi ini ke Pak Haji Amin. Lalu Ustadz Nawir mengajukan diri agar tanah tersebut diserahkan ke Hidayatullah.

Sang pemilik tanah pun setuju diserahkan ke Hidayatullah saja agar lebih maksimal tanah wakafnya. Lalu ustadz Ust. Nawir minta bantuan ke Ust. Amin Mahmud untuk menfasilitasi berkomunikasi dengan Haji Amin sebagai pengelola. Alhamdulillah, interaksi terjalin sangat baik dan penuh kehangatan hingga kemudian mulailah dilakukan peralihan.

Jadi, kisah tiga orang yang memiliki kemiripan nama menjadi kisah tersendiri dalam proses tanah Hidayatullah Yukum Jaya. Yaitu pemilik tanah bernama Haji Mahmud, pengelola bernama Haji Amin dan diserahkan ke Hidayatullah melalui Haji Amin Mahmud.

Tanah itu memang yang selama tiga tahun diinginkan dan senantiasa didoakan oleh Ust. Nawir. Ada keyakinan bahwa tanah tersebut yang pas untuk membangun pesantren.

Alhamdulillah, setelah mendapatkan tanah 7000 meter persegi itu, lalu satu persatu santri datang untuk belajar dan perlahan tapi pasti bangunan asrama, madrasah, dan mushola mulai berdiri. Sekarang sudah ada pendidikan SD dan SMP putri, rencana tahun ini akan mendirikan SMA putri .

Tempaan tugas selama di Bontan dan Gunung Tembak Balikpapan menjadi modal berharga bagi Ust. Nawir dan santri-santri Hidayatullah untuk mengemban amanah di tempat sesulit apapun. Ada keyakinan dengan usaha maksimal yang diiringi ibadah dan doa maka semua ada solusinya.

Masalah hasil hanya masalah waktu dan kesabaran untuk menunggu. Allah Maha Tahu, Allah tidak buta dan tuli dengan usaha yang dilakukan dan doa yang dipanjatkan para hamba-hamba.*/Abdul Ghofar Hadi

Tutup Rakerwil, DPW Hidayatullah Jatim Umrahkan 15 Kader Dai

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Di penghujung acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur (Jatim) yang berlansung selama 3 hari di Kampus II Hidayatullah Bojonegoro, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Jatim memberi surprise.

Tentu saja, kejutan tersebut betul betul bikin peserta penasaran. Pasalnya, akan diumumkan pada acara penutupan itu 15 kader-dai yang ada diumrahkan secara gratis.

Rinciannya; 10 dipilih dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Jatim terbaik, dan 5 dai terkategori tangguh.

“DPW telah menentukan poin-poin penilaiannya. Skor sudah dikalkulasi, maka terpilihlah 10 DPD terbaik yang mendapat hadiah umroh,” jelas Gani Irwansyah, Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPW Hidayatullah Jawa Timur.

Adapun titik tekan penilaian dai tangguh, lanjutnya, ada pada ketangguhan para dai dalam mengemban dakwah di daerah. Termasuk juga, lamanya mengabdikan diri di medan dakwah.

Suasana penuh mendebaran terjadi, ketika Gani Irwansyah, membacakan nama-nama yang mendapat hadiah umrah.

Diantara ketua DPD yang mendapatkan hadiah umrah tersebut adalah DPD Hidayatullah Surabaya, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Situbondo, Madiun, Ngawi, Malang, dan Trenggalek.

Adapun 5 dai tangguh yang mendapatkan kesempatan umrah jatuh pada; Ust. Agus (Ponorogo), Ust. Agus Very (Banyuwangi),
Ust. Aziz (Madiun, Caruban), Ust. Mualimin (Lumajang), dan Ust. Katon (Surabaya).

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur Ust. Amun Rowi, dalam sambutannya, menyampaikan permintaan maaf, dikarenakan pengurus baru bisa memberangkat 15 dai-kader untuk umrah.

“Sebagai pengurus, kami sejatinya ingin sekali memberangkatkan semua pengurus DPD se-Jatim. Tapi, mau dikata, kemampuan masih sekian,” ujar Amun.

Meski demikian, lanjut dia, patut harus disyukuri terhadap rizki yang Allah berikan saat ini, dengan diberi kemampuannya pengurus memberangkatkan 15 kader dan dai.

“Mudah-mudahan kedepannya akan lebih banyak lagi,” doa Amun yang langsung diamini oleh para peserta Rakerwil.

Secara terpisah, Kartam, ketua DPD Madiun, menyatakan kesyukuran dan terima kasihnya atas hadiah umrah yang diterimanya.

“Mudah-mudahan keberangkatannya nanti akan dipermudah, dan ibadah umrahnya diterima oleh Allah,” ujar ustadz lulusan STAIL Surabaya ini.

Adapun terlaksananya ibadah umrah ini berkat kerjasama antara DPW Hidayatullah, Jawa Timur, Sakinah, komunitas Pajero, Ferrari, Fortuner, dan lain lain.*/Khairul Hibri

Di Forum Rakerwil Jatim, Sofyan Amarta Dilantik Jadi Ketua DPD Sampang Madura

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang digelar selama 3 hari di Kampus II Hidayatullah Bojonegoro yang dibuka pada Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).

Pada kesempatan tersebut sekaligus dilakukan pelantikan pengurus baru Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Sampang yang diamanahkan kepada putra daerah yakni Ust. Jules Amarta Sofyan.

Amanah baru diemban Sofyan Amarta ini, ketika pembacaan pelantikkan dirinya yang dibacakan langsung oleh Ust. H. Amun Rowi, ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur.

“Apakah ustadz sekalian siap untuk dilantik sebagai pengurus DPD Sampang?,” ujar Ust. Amun, panggilan akrabnya, sebelum memulai prosesi pelantikan, yang diselenggarakan di pra acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur.

“Siap..!” pekik Sofyan.

Merespon amanah baru yang diberikan, bantan Ketua BMH Perwakilan Bengkulu dan Lampung ini mengaku siap mengukir jalan dakwah di Sampang.

Bertepatan juga, ujar ustadz muda asli asal pulau garam ini, saat ini belum ada cabang Hidayatullah di Sampang.

“Jadi, ini benar-benar perintisan. Bismillah, kita siap mengukir jalan dakwah di Kabupaten Sampang,” ujarnya optimistis.

Sebelum mendapat amanah baru sebagai ketua DPD Sampang, alumni STAIL Surabaya ini telah melalang buana menjalankan amanah dakwah, mulai dari Jakarta, Batam, Bengkulu, dan Lampung.

Pengalaman ketika terjun di berbagai daerah ini, aku Sofyan, akan dijadikannya bekal untuk merintis dakwah di daerah pulau kelahirannya itu.

“Mudah-mudahan Allah akan mempermudah dalam menjalankan amanah, dan tentunya diterima sebagai nilai ibadah,” doanya. Selamat, ustadz. Semoga Allah lancarkan menjalankan amanahnya. Aamiin.*/Rudi Trianto

Rakerwil Sulbar, Arsal Aras: Hidayatullah Ormas yang Kolaboratif

TOPOYO (Hidayatullah.or.id) – Tokoh Sulawesi Barat yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Mamuju Tengah Dr. H. Arsal Aras Tammauni, SE. M.Si menyebutkan hubungan Hidayatullah dengan masyarakat sangat baik bahkan ketika harus menjelaskan khilafiyah (perbedaan) di tengah kelompok yang berselisih sekalipun.

Hidayatullah, menurutnya, adalah ormas yang tidak asing lagi dalam keluarga Aras Tammauni.

“Bahkan para dainya biasa bermalam di kediaman saya saat akan masuk ke wilayah Saluadak untuk berdakwah” kenangnya.

Hal itu diceritakan Arsal Aras Tammauni saat menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar), Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).

Kedekatannya dengan ormas yang baru berumur 50 tahun itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, sikap dan cara berdakwah sangat moderat. Hal tersebut, moderasi atau washatiyah, juga merupakan salah satu poin dalam jati diri Hidayatullah.

Masih menurutnya tentang Hidayatullah, adalah ormas yang Kolaboratif dan dikenal moderat, ia meminta agar dapat bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah dalam menjalankan tugasnya.

Saat ini terdapat beberapa kerjasama dalam bidang ekonomi dari institusi yang ia pimpin, salah satunya adalah ternak sapi sekitar 50 ekor sejak beberapa tahun lalu.

Arsal mengisahkan, suatu saat didatangi salah satu ormas memaparkan program bakti sosialnya bahkan meminta foto bersama. Belakangan diketahui ormas tersebut kategori terlarang meski sempat mencatut nama besarnya dan fotonya sebagai legitimasi keberadaannya.

“Dalah hal (pemahaman aqidah yang lurus) inilah kita sering tertipu lantaran terlihat ‘baiknya’ program mereka” tegas ketua DPRD Mamuju Tengah yang gemar mendengar murottal ini.

Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Barat dibuka secara resmi oleh ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah H. Samsudin, SE. MM. Di dalam Rakerwil membahas agenda program kerja dan RAPBO tahun anggaran 2023.

Peserta Rakerwil yang terdiri dari unsur DPP, pengurus pleno DPW, DMW, pengurus DPD Hidayatullah se Sulawesi Barat, organisasi pendukung; PW Mushida dan PW Pemuda Hidayatullah.

Selain amal usaha tingkat wilayah, juga hadir dalam seremonial pembukaan tersebut ketua Kantor Kemenag, ketua MUI, ketua BAZNAS, Kapolres, Perwira Penghubung, pimpinan Ormas dan tokoh tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya Samsudin menyatakan kebahagiaannya bisa hadir di tengah masyarakat Mamuju Tengah.

Sembari menyinggung di manapun Provinsi terbentuk di Indonesia ini maka Hidayatullah akan disegerakan hadir, “Bahkan dari 402 kabupaten kota saat ini, keberadaan Hidayatullah sudah dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, sebagaimana potensi pemekaran beberapa provinsi di dataran Papua” ujarnya.

Pada Rakerwil yang bertema Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik tersebut juga ditegaskan tentang kriteria pemimpin yang memerhatikan musyawarah dan bahkan pada urusan kecil sekalipun.

Pemimpin yang mampu bekerja keras, cerdas, ihlas dan tuntas serta memprioritaskan munajat kepada Allah.

Kebahagiaan juga dirasakan oleh ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. H. Mardhatillah. Dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat yang telah menyukseskan Rakerwil tahun ini.

Dalam rencana, Bupati Mamuju Tengah akan menghadiri Rakerwil tersebut, namun faktor kesehatan akhirnya mewakilkan kepada H. Bahri Hamzah, S.IP, MM selaku Asisten I Pemkab Mamuju Tengah.

Dikatakan Bahri Hamzah, dengan dipusatkannya Rakerwil di Mamuju Tengah adalah apresiasi tersendiri bagi pemerintah dan pihaknya sangat menyadari hal itu.

“Kami sadar dengan dipilihnya Mamuju Tengah sebagai tuan rumah adalah apresiasi tersendiri bagi kami.” katanya.

Bahri Hamzah berharap agar Hidayatullah bisa membantu pemerintah di Mamuju Tengah untuk mengedukasi masyarakat yang mungkin saja belum paham tentang toleransi dan kehidupan yang berperadaban yang baik.

Menurut Bahri Hamzah, tidak bisa dipisah Hidayatullah dengan pemerintah Mamuju Tengah, bahkan salah satu pertimbangan dipilihnya Mamuju Tengah sebagai tuan rumah adalah menjaga hubungan sebagai anak kepada orang tuanya.

Menambahkan hal itu, Mardhatillah menyebutkan fungsi Hidayatullah di masyarakat adalah menjaga perilaku negatif, menjaga agar masyarakat terhindar dari ajaran yang menyimpang, serta mampu bermitra dengan pemerintah lewat program Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), Majelis Majelis taklim dan program main stream organisasi.

Sebagaimana dimaklumi, kata dia, umat saat ini sering diperhadapkan dengan ujian aqidah yang serius. Dan diharapkan dengan hadirnya lembaga lembaga dakwah dapat menjaga masyarakat dari ajaran ajaran yang tidak masuk akal, tapi ada saja masyarakat yang ikut.*/Bashori, Massiara

Bupati Luwu Timur Buka Rakerwil Hidayatullah Sulsel di Towuti

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Bupati Luwu Timur, Drs H Budiman MPd membuka rapat kerja wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Selatan di Ponpes Hidayatullah Towuti, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).

H Budiman mengaku bangga bisa hadir dalam acara Rakerwil Hidayatullah Sulsel, apalagi mendapat kehormatan membuka acara yang dihadiri oleh pengurus DPD dan Kampus Madya se-Sulsel.

“Sebagai pelayan ummat, tentu bertatap muka dengan pengurus Hidayatullah yang datang dari berbagai daerah di Sulsel ini membuat bangga dan terhormat apalagi diberikan kesempatan membuka acara besar ini,” katanya.

Lebih jauh ia menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah di tengah-tengah masyarakat benar-benar telah memberikan kontribusi yang baik terutama dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusi (SDM)

“Banyak kebaikan yang kita dapat dengan hadirnya Hidayatullah di Luwu Timur ini, kami bersyukur hadirnya Hidayatullah cukup membantu dalam pengembangan SDM,” terang H Budiman.

Ia berjanji akan membantu Hidayatullah untuk kepentingan ummat terutama yang sejalan dengan program pemerintah daerah.

“InsyaAllah Pemerintah Daerah akan senantiasa siap membantu Hidayatullah dan kami senang bisa bekerjasama. yang penting program yang dibutuhkan sejalan dengan pemerintah dan tentu bantuan itu harus mengikuti prosedur yang ada,” terangnya.

Ia berharap semoga dalam Rakerwil yang akan berlangsung selama tiga hari ini, dapat melahirkan langka-langka strategis termasuk kolaborasi antara pemerintah dan Hidayatullah dalam meningkatkan nilai-nilai agama di Luwu Timur khususnya dan Sulsel.

“Kita semua berharap, semoga kegiatan Rakerwil ini dapat menjadi sebuah langkah strategis bagi pemerintah dan para toko agama untuk merumuskan berbagai hal dan gagasan-gagasan dalam rangka meningkatkan nilai-nilai agama di Luwu Timur yang kita cintai ini,” harapnya.*/Ridwan Gagah

Rakerwil Gorontalo, Bupati Harap Hidayatullah Jadi Pelopor Pendidikan Islam di Bumi Panua

POHUWATO (Hidayatullah.or.id) – Bupati Pohuwato Saipul Mbuinga, mengharapkan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Marisa, bisa menjadi pelopor dalam perkembangan pendidikan agama islam di daerah dengan julukan Bumi Panua itu.

Hal itu, disampaikan Saipul, saat membukan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Hidayatullah Provinsi Gorontalo yang berlangsung di Yayasan Ponpes Hidayatullah Marisa, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (06/01/2023).

Sebelumnya, Saipul memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut di Kabupaten Pohuwato, tepatnya dilaksanakan di Popes Hidayatullah Marisa.

Dimana menurut Saipul, bahwa Hidayatullah Marisa memiliki peranan penting dalam perjalanan pendidikan pengetahuan agama Islam di Kabupaten Pohuwato.

“Dengan adanya kegiatan ini saya berharap dapat mejadi salah satu sumber pencerahan rohani yang akan berdampak pada hadirnya angin segar untuk masyarakat pohuwato demi pembangunan daerah kita tercinta,”ungkapnya

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Gorontalo Ustad Safaruddin menjelaskan, pihaknya juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkb) Pohuwato yang cukup antusias dalam kesuksesan kegiatan Rekerwil tersebut.

Ditambahkannya, Rakerwil tersebut dihadiri oleh 100 da’i muda yang teridiri dari perwakilan 6 DPD kabupaten kota, 3 Kampus Madya dan 20 Rumah Qur’an kabupaten kota Se Provinsi Gorontalo.

“Saat ini kami telah dalam pelaksanaan program pelatihan da’i muda, dan hingga saat ini mereka sudah ada sebagian yang siap untuk diterjunkan sebagai pendakwah ditengah masyarakat, harapan kami juga kedepan para da’i Hidayatullah dapat dilibatkan aktif dalam membantu masyarakat utamanya dalam hal pengetahuan agama Islam,” pungkasnya.*/Marwan Husain

Hidayatullah Berbagi Pengalaman Kelola Wakaf di Forum BWI Kuala Lumpur

KUALA LUMPUR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo berbagi pengalaman dalam pengelolaan wakaf pada forum bertajuk Bankwaqf Internatioal Dinner ’23 digelar BankWaqf International (BWI) Group di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis malam, 12 Jumadal Akhirah 1444 H (5/1/2023).

Asih yang juga bembina Baitul Wakaf Hidayatullah ini diberi mandat untuk berbagi pengalaman Hidayatullah, sebagai salah satu organisasi Islam di Indonesia dalam mengelola wakaf dalam berbagai model penerapan.

“Wakaf itu merupakan bagian penting dari peradaban Islam,” kata Asih dalam forum diskusi yang digelar di venue Ikhwan Delight Restaurant, Sungai Penchala, Kuala Lumpur itu.

Disamping memaparkan berbagai pegalaman Hidayatullah dalam pengelolaan wakaf, Asih juga menyampaikan bahwa salah satu tantangan umat Islam saat ini dalah minimnya pemahaman dan literasi wakaf di kalangan umat Islam.

Sehingga, menurutnya, perlu terus dilakukan edukasi, agar wakaf menjadi model dalam pengembangan ekonomi ummat.

Selain Asih, forum ini juga menghadirkan pembicara lainnya yaitu Prof. Dr. Ramzan Aliti (STEM Labs – Nort Macedonia), Sultan Salahudeen (Pengusaha India) dan Bambang Kuswijayanto (Deputi Director Bank Waqf International).

Acara yang dihadiri sekitar 50 orang utusan dari berbagai negara ini berlangsung cukup hangat dan menarik dengan antusiasme forum menemukan formulasi guna menguatkan eksistensi wakaf untuk kesejahteraan umat.

Dalam paparannya, Prof. Ramzan Aliti, menyampaikan bahwa sebagai negara yang dalam sejarahnya merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmani, saat ini di Macedonia, penduduk muslimnya sekitar 50% muslim.

Macedonia kata dia sempat dikuasai oleh komunisme, dan sejak berakhirnya rezim komunis tahun 1990-an, maka kini berbenah.

“Dan umat muslim Macedonia berusaha mengelola kembali aset-aset wakaf yang berada di tempat-tempat yang strategis,” kata pembicara asal Macedonia ini.

Disisi lain, Prof Ramdan juga menekankan umat Islam harus menguasai STEM (Science Technology, Engineering and Mathematic), untuk menguasai duia kembali.

Sebagai pembicara ketiga, Sultan Salahudeen, sekaligus kapasitasnya sebagai pengusaha, ia menekankan pentingnya pengusaha menanamkan (embedeed) wakaf dalam aktifitas bisnisnya. Sehingga disetiap bisnis yang dilakukan labanya bisa disisihkan untuk kepentingan wakaf.

Pemilik perusahaan gas dan kimia ini, operasinya di Malaysia, India dan Canada, ini juga menekankan bahwa wakaf ini mesti di prioritaskan untuk empat hal yaitu ketahanan pengan, pendidikan, kesehatan dan perumahan.

Kemudian, Bambang Kuswijayanto sebagai pembicara terakhir, sebagai mantan bankers yang lebih dari 20 tahun bekerja ia menyampaikan bahwa prinsip perbankan itu pasti tidak bisa lepas dari riba, meskipun bisa jadi istilahnya diperhalus. Bank Wakaf Internasional ini, sambung dia, meluruskan pemahaman itu.

“Bahwa sesungguhnya ekonomi Islam dan dengan menggunakan instrument wakaf ini, dapat mensejahterakan umat, tanpa terkait dengan riba,” tegas dia.

Islam sebagai Solusi Krisis Ekonomi

Sebagai Keynote Speaker, Dr. Dato’ Abu Ubaidah selaku Presiden BWI, menjelaskan bahwa ekonomi yang berbasis kapitasisme dan sosialisme sedang menuju kehancuran. Karena mereka berbasis pada interest (bunga/riba) dan pajak.

Sedangkan Islam dengan berbagai instrumen ekonomi yang dimilikinya, tegas Abu Ubaidah, sudah saatnya menjadi solusi itu.

“Wakaf sebagai salah satu instrumen keuangan Islam, mesti dipahamkan secara benar kepada umat, sehingga kedepan Islam menjadi kekuatan yang eksis di dunia,” kata Abu Ubaidah yang juga seorang pengusaha ini.

Abu Ubaidah yang juga sebagai pengusaha dengan perusahaannya yang tersebar di berbagai negara itu, mengaku juga menerapkan prisnsip setiap bisnisnya 10% dari keuntungannya diwakafkan yang dikelola secara profesioanal.

Oleh karenannya, ia juga menekankan pentingnya profesionalisme nadzir, untuk mengelola wakaf hingga berkembang dan membesar. Dan, dari pengalaman dan alasan itulah, Abu Ubaidah mendirikan Bank Wakaf Internasional.

Acara ini dihadiri juga oleh akademisi dari Malaysia seperti Prof. Betania Kartika, MA (International Institute for Halal Research and Training (INHART) – IIUM, Prof. Dr. Awal Adam Saad (Islamic Finance – IIUM), Prof. Dr. Ir. Sholehudin Shuib (UiTM), Dr. Mazlan, Rasfiudin PhD (cand) (STIE Hidayatullah Depiok) dan sejumlah tokoh lainnya.

Selain itu juga dihadiri oleh pengusaha, aktivis Islam di Malaysia. Di bagian penutup, Prof Awal Saad yang asli Nigeria itu, menyampaikan kajian ringkas tentang Wakaf.*/Yacong B. Halike

Pesan Rakerwil Ketua Umum DPP Hidayatullah

INILAH sambutan Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA yang disampaikan di Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).

Berikut kutipan lengkapnya:

Alhamdulillah, segala bentuk pujian kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas restu dan ridha-Nya, sehingga pada hari ini dapat diselenggarakan acara Pembukaan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulsel tahun 2023 di
tempat yang berbahagia ini.

Semoga selama penyelenggaraan Rakerwil ini dapat berjalan sukses. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Nabiyullah Muhammad Saw, seorang teladan ummat manusia yang berhasil membangun Peradaban Islam di persada bumi ini.

Semoga spirit perjuangan beliau dapat kita warisi sebagai modal untuk melanjutkan risalah perjuangan beliau di abad ini.

Rapat kerja wilayah merupakan agenda tahunan Dewan Pengurus Wilayah yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Murabbi Wilayah, unsur Dewan Pengurus Daerah, unsur Organisasi Pendukung tingkat wilayah (Pemuda dan Mushida) serta unsur amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah seperti Kampus Madya, BMH Perwakilan, serta unsur Dewan Pengurus Pusat.

Keberadaan unsur DPD, Organisasi Pendukung, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah dalam rapat kerja wilayah adalah mutlak diperlukan dalam rangka terbangunnya kerjasama secara kolektif, sinkronisasi dan koordinasi serta dukungan berupa kontribusi dari DPD, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah untuk terlaksananya program kerja DPW yang disepakati.

Sedangkan keberadaan unsur Dewan Pengurus Pusat adalah untuk memastikan bahwa seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil dalam rapat kerja wilayah ini berada dalam rangkaian keputusan dan kebijakan yang sama dan semakin menguatkan dan membumikan kebijakan dan keputusan yang telah diambil dalam Sidang Pleno, Musyawarah Majelis Syura serta kesepakatan-kesepakatan Rapat Kerja Nasional yang telah dilaksanakan akhir tahun 2022.

Setelah pelaksanaan Rapat kerja Wilayah ini juga diharapkan agar DPD, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah dapat menuangkannya lebih lanjut dalam program kerja yang lebih terperinci lagi, terukur dan dapat dilihat dan dinilai secara lebih kuantitatif lagi di lembaganya masing-masing.

Program kerja 2023 ini merupakan turunan dari program umum lima tahunan 2020-2025 yang mengacu kepada arah kebijakan strategis yang telah ditetapkan dalam Munas V pada akhir bulan Oktober 2020 yang lalu.

Kita juga harus meyakini bahwa segala bentuk karya yang dihasilkan pada periode sebelumnya, kinerja yang dicapai, prestasi yang diraih semuanya akan dinilai dan diberi ganjaran oleh Allah SWT, bahkan disaksikan oleh Rasulullah SAW dan orang-orang beriman kelak di Akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:


وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah : 105)

Rapat kerja wilayah tahun ini cukup istimewa karena pemetaan DPW Hidayatullah seluruh Indonesia melalui kegiatan asesmen (penilaian) secara offline telah selesai dilakukan dan didapatkan gambaran keberadaan 34 DPW Hidayatullah serta telah diklasifikasikan ke dalam DPW maju, berkembang dan perintisan.

Kegiatan Asesmen ini sangat penting sebagai bahan evaluasi dan muhasabah kita bersama sekaligus acuan untuk perencanaan organisasi ke depan termasuk perencanaan DPW tahun 2023 yang diwujudkan dalam pembuatan program kerja dan APBO DPW yang reasonable (wajar) dan rasional.

DPW dapat menyusun program kerja sesuai dengan skala prioritas, mulai dari program kerja yang memang wajib dilakukan hingga program yang menantang bagi DPW yang bersangkutan sebagai wujud mujahadah dan spirit untuk tidak berhenti berfastabiqul khairat.

Di tahun 2022 juga telah dimulai pelaksanaan asesmen Kampus Madya sebagai amal usaha milik DPW dan diharapkan dapat diselesaikan dalam tahun 2023 ini. Kegiatan asesmen Kampus Madya selain merupakan bagian dari upaya kita untuk terus melakukan standardisasi, sentralisasi dan integrasi juga merupakan upaya merajut keutuhan, kesatuan dan konsolidasi antara Organisasi dengan amal usahanya sehingga terbangun kesepahaman dan terbangun sistem yang membuktikan bahwa Hidayatullah adalah sebuah Al Harakah Al Islamiyah.

Sebagai sebuah Harakah, bagi Hidayatullah, kegiatan-kegiatan kultural yang menguatkan spirit perjuangan, menggerakkan tarbiyah dan menyemarkkan dakwah adalah hal yang tidak kalah penting dari merumuskan program-program kerja setiap tahun.

Oleh karena itu, anggota dan kader Hidayatullah menanti dengan penuh harap agar bisa hadir dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan pada bulan November 2023.

Untuk suksesnya acara tersebut maka diharapkan dalam Rakerwil ini dilakukan penguatan untuk semua kader dan anggota agar bisa mengambil peran dengan mempersiapkan bekal untuk bisa datang ke Balikpapan, menyemarakan dengan acara-acara pra Silatnas di wilayahnya masing-masing, memberikan kontribusi dana untuk persiapan Silatnas.

Silatnas adalah hajatan lima tahunan untuk bisa menjalin silaturahim seluruh dai Hidayatullah secara nasional, menguatkan jatidiri Hidayatullah dan mainstream tarbiyah dan dakwah Hidayatullah.

Rapat Kerja Nasional III di Jakarta awal Desember 2022 lalu kembali menegaskan bahwa fokus kebijakan organisasi saat ini adalah Konsolidasi Jati diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik. Karena ini sangat penting untuk diwujudkan dari tingkat pusat hingga daerah.

Oleh karena itu dalam rapat kerja wilayah kali ini, Tri Konsolidasi dan Kebijakan Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik, Arah Kebijakan Strategis, Program Umum dan Kesepakatan Rakernas harus dipahami dengan baik oleh peserta rakerwil khususnya oleh pengurus DPW yang bertanggungjawab terhadap terlaksananya program tersebut.

Konsolidasi Jatidiri yaitu internalisasi jatidiri Hidayatullah secara fikriyah dan amaliyah, secara konsep maupun kultur kepada seluruh kader Hidayatullah.

Enam jatidiri harus menjadi doktrin, paradigma berfikir dan spirit gerakan yang menjiwai seluruh kebijakan dan program organisasi. Setiap momen baik formal maupun informal hendaknya dijadikan sebagai sarana transformasi jatidiri secara massif.

Konsolidasi Organisasi adalah upaya membangun soliditas pengurus, kader dan anggota, serta menyatukan kekuatan dan potensi yang dimiliki dalam rangka mewujudkan visi organisasi.

Kebijakan standardisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik terus disosialisasikan dan diimplementasikan dalam berbagai bidang.

Konsolidasi Wawasan dilakukan sebagai upaya peningkatan wawasan keilmuan setiap kader yang meliputi wawasan keislaman, keindonesiaan, wawasan kelembagaan, wawasan global, wawasan regional dan lokal.

Tujuannya agar pengurus dan memiliki pemahaman yang cukup dan komprehensif sebagai pijakan dalam mengambil kebijakan dan menentukan sikap dalam menghadapi berbagai persoalan dan permasalahan keummatan dan kebangsaan.

Alhamdulillah, kita semua juga sudah semakin mempunyai pemahaman yang sama tentang pentingnya menata organisasi ini lebih terstandar, tersentralisasi dan terintegrasi.

Sentralisasi kebijakan secara nasional dilakukan melalui Peraturan-Peraturan Organisasi, sentralisasi program yang merujuk kepada kebijakan strategis yang diturunkan menjadi program tahunan dalam Musyawarah Majelis Syura dan disosialisasikan melalui Rakernas.

Kebijakan standardisasi di berbagai bidang terus dilakukan, antara lain standardisasi institusi pendidikan sebagai upaya peningkatan kualitas Pendidikan Integral Hidayatullah.

Demikian pula standardisasi halaqah terus ditingkatkan agar kualitas para kader terus meningkat dari waktu ke waktu, baik kualitas intelektual maupun kualitas spritualnya.

Standardisasi ini dilakukan dengan tujuan menjaga kualitas pribadi kader dan institusi melalui sistem yang komprehensif.

Selanjutnya seluruh program-program yang telah dicanangkan akan berjalan dengan baik dengan hasil yang maksimal jika terjadi integrasi, sinergi, dan sinkronisasi serta kerja sama yang baik di antara semua departemen dan institusi yang terkait.

Selain materi penting di atas, ada beberapa agenda penting dalam Rapat Kerja Wilayah kali ini antara lain sebagai berikut:

  1. Penyusunan Program kerja dan APBO Tahun 2023 yang mengacu kepada hasil Musyawarah Majelis Syura Nomor 05 tahun 2022 tentang Pengesahan Program Kerja Organisasi tahun 2023 serta rekomendasi Rapat kerja Nasional tahun 2022. Ada panduan Rakerwil dan program skala prioritas untuk memudahkan dalam penyusunan program kerja DPW.
  2. Kesepakatan-kesepakatan dalam Rakernas 2023 yang menjadi komitmen setiap DPW diantaranya adalah:

a. Menyukseskan Silatnas 2023 dengan senantiasa mencantumkan logo silatnas di setiap event dan kontribusi anggota/kader setiap bulan 10.000

b. Salah satu syarat utama untuk terselenggaranya Silatnas adalah selesainya pembangunan Masjid Agung Ar Riyadh, ini juga mengajak seluruh anggota dan kader Hidayatullah untuk jihad harta dengan infak.

c. Komitmen menambah anggota melalui berbagai model kegiatan tarbiyah dan dakwah, terutama wali santri yang jumlahnya puluhan ribu orang untuk bisa menjadi anggota Hidayatullah dan terbina dengan baik

d. Komitmen untuk menambah kader melalui kegiatan training Daurah Marhalah Ula dan Daurah Marhalah Wustha baik untuk para santri tingkat SMA maupun melalui rekruitmen anggota-anggota dari masyarakat umum.

e. Komitmen menyukseskan Sinergi Program Mainstream yang dijalankan di kampus-kampus pesantren.

f. Memastikan terselenggaranya Halaqah Ta’lim (Pembinaan anggota), Halaqah Ula santri SMA/MA/SMK, Mhs/wi PTH dan Umum dengan manajemen yang baik dan standar.

g. Memastikan amal usaha dan badan usaha di tingkat wilayah/daerah memenuhi kewajiban kontribusi kepada Organisasi sesuai dengan PO Keuangan yang telah disahkan Menjadi bagian dari upaya membangun close loop economic dengan memastikan Kampus madya/Pratama membeli kebutuhan buku, seragam dan kebutuhan sekolah lainnya dari badan usaha yang telah ditetapkan organisasi untuk menyediakannya termasuk memastikan Majalah Suara Hidayatullah dimiliki oleh setiap kader dan wali santri/wali murid sekolah-sekolah Hidayatullah.

i. Mempersiapkan Kampus Madya yang belum asesmen untuk memenuhi proses standardisasi yang ditetapkan oleh Departemen kepesantrenan

j. Salah satu upaya dukungan DPW/DPD terhadap perkaderan di tingkat perguruan tinggi Hidayatullah adalah dengan cara pengkondisian santri-santri SMA/MA agar tertarik menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Hidayatullah

k. Pendataan secara integrasi untuk database organisasi, kader dan anggota melalui SISTAHID

l. Komitmen menjalankan Gerakan Talaqqi Nasional melalui BKPTQ (Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an) yang dimulai dari pengurus structural, amal usaha dan selanjutnya diikuti oleh seluruh kader.

m. Mengembangkan amal usaha kesehatan dan amal usaha sosial sebagai bentuk pelaksanaan misi Hidayatullah

n. Memastikan setiap kader menjadi penggerak dakwah fardiyah serta memastikan masjid-masjid di Kampus Madya/Pratama aktif melakukan pembinaan jamaah

o. Memastikan administrasi DPW/DPD memenuhi standard yang ditetapkan oleh Organisasi. Kami mengharapkan agar seluruh pengurus struktural terus berkomitmen untuk aktif mengikuti pembinaan melalui halaqah kader, halaqah diniyah dan halaqah taklim.

Dari halaqah kader tersebut setiap kader diberi tugas untuk menjalankan dakwah fardiyah dalam rangka rekruitmen anggota baru. Kita harapkan agar kebijakan ini menjadi kultur (budaya) sehingga setiap kader Hidayatullah aktif berhalaqah untuk meningkatkan kualitas diri secara ruhiyah dan keilmuan serta aktif berdakwah mengajak ummat untuk berislam lebih baik lagi.

Insya Allah seluruh aktifitas yang kita lakukan di lembaga perjuangan ini dengan niat karena Allah dan untuk mencari ridha-Nya akan bernilai ibadah, amal shaleh dan jihad fi sabilillah.

Dalam rangka mencapai tujuan dan target yang diharapkan, kita harus membangun 3 kekuatan, yaitu:

Pertama, quwwah ruhiyah (kekuatan ruhiyah), ini meliputi kekuatan moral dan spiritual. Maka kekuatan ini ditempatkan pada urutan pertama dan utama, sehingga Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) harus menjadi karakter dasar bagi setiap kader, pengurus dan anggota Hidayatullah.

Kemudian menjaga integritas moral dalam menjalankan amanah. Dalam hal ini, semua kader harus dipastikan berhalaqah, ketua halaqah menggerakkannya dan murabbi mengevaluasi mutarabbinya

Kedua, quwwah aqliyah (kekuatan akal). Setelah ruhiyah terus dikuatkan berikutnya adalah akal. Sehingga diharapkan setiap kali kita mengeluarkan gagasan atau ide, itu tidak ada yang keluar dari bimbingan wahyu. Agar pemikiran akal kita terbingkai oleh wahyu.Penting gerakan membaca dan menulis buku, diskusi untuk memperkaya pengetahuan dan menajamkan pemahaman kader.

Ketiga, quwwah maddiyah (kekuatan material). Kekuatan ini harus dikendalikan oleh jiwa dan pikiran yang suci. Sebagaimana Ibnu Mubarok, yang memilih jalan menjadi pebisnis namun itu dilakukan untuk menjaga izzah ulama bukan sekedar bisnis untuk menumpuk kekayaan.

Keempat, quwwah idariyah (kekuatan manajerial). Setelah kekuatan material diperoleh maka selanjutnya perlu dihadirkan kekuatan manajerial, karena berbagai nikmat harta dan fasilitas akan melenakan jika tidak diatur dengan sebaik-baiknya.