DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kabid Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI mengatakan perubahan (penyegaran) dan pemantapan kualitas personalia akan mempercepat laju gerakan roda organisasi.
“Dengan susunan personalia yang baru, diharapkan dapat mempercepat roda organisasi. Sehingga, teman-teman siap menempati tugas dan peran yang ada yaitu peran fungsional, kultural, professional. Jadi, suatu saat bisa diperankan jika bertugas di daerah lain,” kata Abu A’la Abdullah.
Hal itu disampaikan Abu A’la Abdullah dalam acara upgrading meningkatkan pelayanan kualitas mutu pendidikan dan dakwah kepada masyarakat Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok (YPPH Depok) disela rangkaian Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) Hidayatullah (YPPH) Depok tahun anggaran 2023, belum lama ini (17-18/12/2022).
Ketua Pembina YPPH Depok menerangkan, peralihan tugas merupakan sebagai upaya perkaderan, penyegaran, dan percepatan dalam mempersiapkan kepemimpinan dan kepengurusan di masa yang akan datang.
Peralihan tugas ini juga, kata Abu ‘Ala, diharapkan dapat memperkuat di berbagai aspek, salah satunya adalah bidang tarbiyah dan dakwah sebagai inti dari Hidayatullah.
Ia mengungkapkan, perlunya menguatkan Departemen Tarbiyyah, Departemen Dakwah dan Perkaderan dalam sebuah sinergi terprogram sebagai core business pesantren.
“Sehingga pencapaian murid dapat mencapai target dan income bertambah. Guru dan pegawai semakin sejahtera, dihormati, dan dihargai sebaik-baiknya,” paparnya.
Lebih lanjut, Abu ‘Ala menyampaikan bahwa perubahan struktural merupakan tambahan energi dan semuanya dapat bersinergi dengan pendekatan sistemik, sistematis, dan suistainable (berkelanjutan).
“Perubahan struktural di unit merupakan tambahan energi, semuanya berbenah dan maju bersama baik secara profetik (menjalani konsep-konsep, kultur manhaj dan jati diri Hidayatullah), dan profesional (sesuai sistem standar ISO, assesmen internal dan eksternal),” tuturnya.
Di akhir arahannya, Abu ‘Ala berpesan agar setiap kader dapat mendalami dan merenungi manhaj sistematika wahyu sebagai kerangka berpikir dalam berlembaga di Hidayatullah.
“Kita harus membangun konsolidasi pemikiran dengan membangun paradigma sistematika wahyu, harus terus didalami dan direnungkan oleh setiap kader di halaqah dan diskusi-diskusi, serta selalu menjalankan GNH sebagai upaya konsolidasi ruhiyah,” pungkasnya.
Kegiatan selama 2 hari itu bertempat di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, dan diikuti oleh seluruh struktur inti dari unit pendidikan, amal usaha, pengawas, dan pembina YPPH Depok.
Rakeryas tahun ini, YPPH Depok mengangkat tema “Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik untuk Peningkatan Mutu Pendidikan dan Dakwah YPPH Depok Tahap II”.
Pada kesempatan tersebut, dibacakan surat keputusan (SK) Tour of Duty (peralihan tugas), baik di tingkat pengurus maupun unit pendidikan. SK itu dibacakan oleh Anggota Pembina YPPH Depok, Ustadz Drs. Wahyu Rahman, M.M.*/Mahfudz, Dadang Kusmayadi
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kemuliaan satu generasi ditentukan oleh keberhasilan mereka dalam memanfaatkan waktu. Baik buruknya zaman bukan karena faktor zamannya, tetapi tergantung bagaimana memaksimalkan zaman itu untuk kebaikan.
Demikian nasihat Ust. Ahmad Rifai, Ketua Majelis Muzakarah Hidayatullah Balikpapan. Di hadapan pengurus dan fungsionaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Gunung Tembak, ia diminta untuk memberi taushiah awal tahun 2023 di meeting room WKP, Balikpapan Kalimantan Timur, Senin, 9 Jumadal Akhirah 1444 H (02/01/2023).
Dalam taujihnya, Ustadz Rifai menyampaikan bahwa masa-masa sekarang ini setiap orang disebut punya perasaan yang sama. Yaitu sama-sama merasa waktu berlalu begitu cepat.
Bahkan seolah tanpa terasa. Eh, ternyata sudah lewat lagi masa satu tahun, dan berganti kepada tahun berikutnya.
“La taqumu as-sa’atu hatta taqaraba az-zaman,” ucapnya menirukan bunyi hadits Nabi Muhammad tentang cepatnya perjalanan waktu. Tidaklah Hari Kiamat itu tiba hingga zaman terasa berdekatan.
“Satu tahun terasa satu bulan, satu bulan terasa satu Jumat, Jumat terasa satu hari,” jelasnya panjang lebar.
Masih kaitan dengan waktu, menurut dosen senior Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah itu, Nabi Nuh Alaihi as-Salam (As) termasuk sosok panutan dalam memanfaatkan waktu secara optimal. Ia disebut al-Qur’an sebagai orang yang mengisi waktu dengan amal kebaikan.
“Inniy da’autu qaumiy lailan wa naharan, siang dan malam semua untuk berdakwah dan kebaikan,” jelasnya menceritakan sosok teladan Nabi Nuh.
Selanjutnya, kepada puluhan pengurus, dai, dan guru serta dosen yang berkumpul, Ustadz Ahmad Rifai mengingatkan tentang makna waktu yang terkadang terasa pendek tersebut.
“Bisa jadi itu disebabkan hilangnya barakah pada waktu. Banyak waktu yang dimiliki tapi tersalurkan pada hal yang tidak bermanfaat,” lanjutnya.
Seperti diketahui, seluruh warga dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan sedang bersiap sebagai tuan rumah perhelatan Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah pada November 2023 mendatang.
Diperkirakan, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan akan kebanjiran tamu dan pengunjung hingga mencapai dua puluh ribu orang.
Untuk itu, sejak beberapa bulan belakangan, berbagai giat persiapan telah digalakkan.
Meski masih berjarak satu tahun kurang, namun banyaknya pekerjaan dan persiapan membuat para warga dan santri diimbau benar-benar bisa memanfaatkan waktu dengan baik untuk suksesnya acara Silatnas nanti.
“Kita semua adalah panitia dan kita semua akan bekerja keras menyambut dai-dai pejuang dakwah dari seluruh penjuru daerah,” ucap Ustadz Arfan, Ketua Panitia Pelaksana Silatnas, dalam kesempatan terpisah.*/ Abu Jaulah/MCU
HINGGA detik ini karunia Allah SWT menyelimuti kita. Hingga sekarang menjadi penganten. Jangan lupa pengorbanan orangtua kita. Pendahulu itu lebih afdhal sekalipun pelanjut membuat program yang lebih baik. Seperti ungkapan pendahulu kita :
الفَضل لِلْمُبتَدي وَلَوْاَحْسَنَ المُقْتَدِي
“Perintis itu lebih utama sekalipun pelanjut itu lebih baik”
Merintis keluarga itu identik dengan merintih. Dari sinilah proyek ishlahul ummah disempurnakan. Negara yang baik dimulai dari keluarga yang baik (home). Tidak sekedar alamat resmi (house). Dan rintihan itu terus dilakukan hingga kini. Berbeda dengan menduduki jabatan, ada masa pensiunnya, pendidikan ada masa kelulusannya. Berkeluarga terus diperlukan update dan upgrade sepanjang masa.
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pendahulu kita dalam proses merintis keluarga itu tidak semata-mata menguasai ilmu manajemen konflik, tetapi dengan mengokohkan mujahadah (manajemen kalbu).
Memproses keluarga samarabas (sakinah, mawaddah wa rahmah wa sa’adah) itu dengan hati. Karena pusat orbit samarabas berada dihati.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”. (QS. Ar-Rum (30) : 21)
Sekalipun kita menduduki jabatan formal yang tinggi, menjadi sosok populer, tidak menjamin dapat sukses memelihara keharmonisan berkeluarga. Dunia keluarga perlu ditata dengan hati dan perasaan. Mengoptimalkan otak kanan. Kebetulan pasangan kita lebih menonjolkan perasaannya, karena disiapkan untuk mendidik generasi pelanjut. Mendidik itu identik dengan mengukir. Mengukir memerlukan kesabaran, ketekunan, ketrampilan dan konsentrasi khusus. Dan fokus pada kualitas hasil
Berbagai kasus dan problem berkeluarga pada era sekarang karena kurangnya ketrampilan menata hati. Mengelola perasaan. Menjadi imam yang adil juga dengan hati. Dan ini tidak mudah dan tidak sederhana. Misalnya kita memiliki 12 anak, kita sudah berusaha secara optimal untuk berlaku adil, dimata anak keadilan kita belum tentu dipersepsikan adil oleh anak-anak seperti yang dialami dalam episode kehidupan Nabi Yakub.
“Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata,”. (QS. Yusuf (12) : 8)..
Menjadi Imam Yang Adil
Itulah sebabnya Rasulullah SAW pada khutbatul wada’ berpesan kepada para pemimpin keluarga.
“Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan para wanita, karena kalian telah mengambil mereka (sebagai istri) dengan perjanjian Allah dan menghalalkan hubungan suami istri dengan kalimat Allah.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]..
Pertama: Dalam hadits yang mulia ini terdapat pelajaran tentang pentingnya memperhatikan hak para wanita, memberi nasihat dan mempergauli dengan baik. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
“Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk memperhatikan hak para wanita, berwasiat kepada mereka dan mempergauli mereka dengan baik.” [Syarhu Muslim, 8/183]
Kedua: Berlaku baik kepada istri adalah pemuliaan terhadap syari’at Allah ta’ala. Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah berkata,
أي : لأنكم تزوجتم بهن بشرع الله، وهن أمانات عندكم، فعليكم أن تقوموا برعاية هذه الأمانة، وعدم الإضرار بهن، وعدم الإساءة إليهن، وإنما تحسنون إليهن، وتعاشرونهن بالمعروف، وتعاملونهن بالمعروف
“Maknanya: Karena kalian wahai para suami telah menikahi istri-istri kalian dengan syari’at Allah, maka mereka adalah amanah-amanah di pundak kalian, hendaklah kalian berusaha menjaga amanah ini, tidak boleh menyakiti istri-istri kalian, tidak boleh berlaku jelek kepada mereka, tapi hendaklah kalian berbuat baik kepada mereka, mempergauli dengan cara yang ma’ruf dan berinteraksi dengan cara yang ma’ruf.” [Syarhu Sunan Abi Daud, 10/112, Asy-Syaamilah]
Ketiga: Kewajiban suami untuk menunaikan hak agama dan duniawi bagi istri; hak agama adalah kebutuhan terhadap pendidikan agama dan penjagaan dari perbuatan-perbuatan syirik, bid’ah maupun maksiat. Adapun hak duniawi adalah kebutuhan fisik. Al-Imam Az-Zarqoni rahimahullah berkata,
أي بأن الله ائتمنكم عليهن فيجب حفظ الأمانة وصيانتها بمراعاة حقوقها والقيام بمصالحها الدينية والدنيوية
“Maknanya: Allah telah memberi amanah kepada kalian wahai suami atas istri-istri kalian, maka wajib menjaga amanah dan memeliharanya dengan memperhatikan hak-haknya dan kemaslahatan-kemalahatannya secara agama maupun dunia.” [Mir’aatul Mafaatih Syarhu Misykah, 9/24]
Keempat: Kewajiban istri untuk selalu tunduk dan patuh kepada suami selama bukan dalam perkara maksiat. Al-Imam Al-Mubaarakfuri rahimahullah berkata,
أن في قوله ( أخذتموهن ) دلالة على أنها كالأسيرة المحبوسة عند زوجها ، وله التصرف فيها والسلطنة عليها حسبما بينه الشرع ، ويوافقه قوله في رواية أخرى ( فإنهن عوان عندكم ) جمع عانية وهي الأسيرة ، لكنها ليست أسيرة خائفة كغيرها من الأسراء بل هي أسيرة آمنة
“Bahwa dalam sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Kalian (wahai para suami) telah mengambil mereka (sebagai istri)”, adalah dalil yang menunjukkan bahwa istri bagaikan tawanan yang terpenjara di rumah suaminya, dan seorang suami memiliki hak dan kekuasaan untuk mengaturnya sesuai ketentuan yang dijelaskan syari’at, dan ini sesuai dengan sabda beliau yang lain, “Karena sesungguhnya istri-istri kalian adalah ‘awaanun ‘tawanan-tawanan’ kalian”, kata “‘awaanun” adalah jama’nya “‘aaniyah” yang berarti tawanan, akan tetapi ia bukan tawanan yang sedang ketakutan sebagaimana para tawanan yang lain, tetapi ia adalah tawanan yang aman.” [Mir’aatul Mafaatih Syarhu Misykah, 9/24]
Kelima: Menikah adalah pengamalan terhadap syari’at Allah ta’ala dan penghalal terhadap hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, adapun hubungan-hubungan antara lawan jenis yang tidak dibangun di atas dasar pernikahan seperti berpacaran maka hukumnya haram dan akan mengantarkan kepada keharaman yang lebih besar seperti perzinahan, perselingkuhan, perceraian, keretakan keluarga dan kerusakan masyarakat. Allah tabaraka wa ta’ala telah mengingatkan,
“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan mengenainya tidak mungkin tidak, maka kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah meraba, kaki zinanya adalah melangkah, hati bernafsu dan berkeinginan, dan yang membenarkan serta mendustakan semua itu adalah kemaluan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]..
Menjadi makmum yang taat juga tidak semudah kita bayangkan. Ini menyangkut pekerjaan hati. Sekalipun pemimpinnya manusia pilihan, Nabi Nuh dan Nabi Luth, jika istrinya tidak mampu sam’an wa tha’atan tidak bisa menyelamatkan keduanya dari jilatan api neraka. Mendingan, Ibunda Ashiyah, sekalipun suaminya manusia paling bejat didunia, tetapi beliau konsisten dalam ketaatan.
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh, dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).””. (QS. At-Tahrim (66) : 10)
Kisah-kisah dalam Al-Quran harus kita jadikan rujukan. Kisahnya bukan cerita pengantar untuk tidur. Kusahnya agar kita jadikan ibrah. Ada yang suami dan istri sama-sama mukmin seperti Rasulullah SAW, Ibrahim as. Ada yang sama-sama kafir seperti pasangan Abu Lahab dan Ummu Jamil. Ada yang suami beriman dan istrinya kafir seperti Nabi Luth dan Nabi Nuh. Ada yang istrinya beriman suaminya kafir seperti pasangan Ashiyah dan Firaun. Profil keluarga di dalam Al-Quran sudah demikian lengkap diceritakan. Kita tinggal memilih dan meneladaninya.
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,””. (QS. At-Tahrim (66) : 11)
Betapa Tinggi Kedudukan Suami di Sisi Istri
Kalau kita merenungkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapati bagaimanakah tingginya kedudukan suami di sisi sang istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi no. 1159, dinilai hasan shahih oleh Al-Albani)
Dalam riwayat Al-baihaqi terdapat tambahan,
لِمَا عَظَّمَ اللهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا
“Karena Allah telah mengagungkan hak suami yang wajib ditunaikan istri.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 7: 475, dengan sanad yang shahih)
Perlu diketahui, ada dua macam sujud, yaitu (1) sujud ibadah dan (2) sujud tahiyyah (sujud karena penghormatan). Sujud ibadah ini hanya boleh ditujukan untuk Allah Ta’ala, sehingga haram ditujukan kepada selain Allah Ta’ala dalam semua syariat para Nabi dan Rasul. Adapun contoh sujud tahiyyah adalah sujud malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihi salaam, dan juga sujud anak-anak Nabi Ya’qub kepada ayah dan ibunya, sebagaimana yang terdapat di surat Yusuf.
Sujud tahiyyah tersebut diperbolehkan di sebagian syariat terdahulu, namun diharamkan di syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa seandainya sujud tahiyyah itu diperbolehkan dalam syariat Muhammad, niscaya dia akan perintahkan istri untuk sujud kepada sang suami.
Tingginya kedudukan suami, juga digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, beliau meengatakan,
“Seseorang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disertai anak perempuannya. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya anakku ini, dia enggan untuk menikah.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada perempuan tersebut, “Patuhilah bapakmu.”
Perempuan itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebanaran, aku tidak mau menikah sampai Engkau mengabarkan kepadaku apa hak suami yang wajib ditunaikan istri.” Dia terus mengulang-ulang permintaan tersebut.
Rasulullah bersabda, “Hak suami yang wajib ditunaikan istri itu bagaikan jika suami memiliki luka, lalu sang istri menjilati luka tersebut, atau jika dari kedua lubang hidung suami keluar nanah atau darah, kemudian sang istri menjilatinya, belumlah dinilai memenuhi hak suami.”
Perempuan itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebanaran, aku tidak akan menikah selamanya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sang ayah, “Janganlah Engkau menikahkannya, kecuali dengan seijinnya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 4: 303; Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7: 291; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, 3: 383)
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan tingginya kedudukan suami. Sampai-sampai jika suami terluka dan berdarah, lalu sang istri menjilati darah tersebut, hal itu dinilai belum menunaikan hak suami. Karena itulah, anak perempuan tersebut tidak mau menikah, dan hal ini disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dapat diambil faidah dari hadits ini bahwa seorang perempuan boleh untuk memilih tidak menikah. Dan juga dalil tidak bolehnya nikah paksa dalam ajaran Islam.
Kedudukan Mulia Seorang Istri yang Taat Suami
Para istri yang taat kepada suami inilah yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wanita terbaik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang siapakah wanita yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yaitu para wanita yang membuat senang ketika dipandang, taat jika diperintah sang suami, tidak menyelisihi suami dalam perkara-perkara yang dibenci suami, baik berkaitan dengan dirinya (istri) atau hartanya (suami).” (HR. Ahmad 2: 251, dengan sanad yang shahih)
“Berkaitan dengan diri istri”, misalnya suami mengatakan, “Aku tidak suka parfummu yang ini, karena aku tidak suka baunya.” Maka istri yang baik, dia akan taat dan tidak memakai parfum yang tidak disukai istri.
“Berkaitan dengan harta suami”, misalnya suami mengatakan, “Jika Engkau ingin sedekah (dengan harta suami) lebih dari sekian, ngomong dulu sama saya.” Maka istri yang baik, dia akan menaati perintah suaminya.
Seorang istri, bisa jadi sangat ringan untuk shalat, puasa, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya. Akan tetapi, dia sangat berat untuk taat kepada suami dalam perkara-perkara yang ma’ruf. Dan inilah salah satu ujian untuk para istri di kehidupan rumah tangannya bersama sang suami.
Kepemimpinan yang mengedepankan keadilan dan disupport oleh makmum yang sam’an wa tho’atan, keduanya merupakan modal penting untuk merangkai keluarga samarabas. Fiddini wad dunya wal akhirah.
Selamat berlabuh, semoga Allah SWT selalu membersamai kita saat bahtera rumah tangga menghadapi gelombang yang menghantam dinding-dindingnya.
*) Ust. Sholih Hasyim, penulis adalah anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah. Saat ini pembina Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah
GROBOGAN (Hidayatullah.or.id) – Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Depdikdasmen) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah mewajibkan semua guru baru tahun 2022 di lingkup kerjanya untuk menjadi murid selama beberapa hari dimulai sejak Senin-Rabu, 26 -28 Desember 2022 dalam rangkaian kegiatan Diklat Guru Profesional.
Usman Wakimin, M.Pd selaku Ketua Depdikdasmen Hidayatullah Jawa Tengah dalam sambutanya menyampaikan dan berdoa semoga peserta pelatihan guru profesional agar mendapatkan tambahan ilmu yang bermanfaat.
“Konten atau materi pelatihan didesain dan disetting untuk suksesnya peradaban di masa yang akan datang dengan fokus materi Adab dan Alqur’an,” katanya seperti dilansir laman Hidayatullah Jateng.
Peserta sebanyak 31 guru pada diklat ini diposisikan sebagai murid. Selama menjadi murid, sejak SD sampai dengan perguruan tinggi, sangat dimungkinkan pada masa-masa belajar tersebut belum mendapatkan materi atau tema tentang adab dan Al-Qur’an.
“Persoalan bangsa berupa kerusakan moral dan jauhnya dari nilai-nilai Islam menjadi dasar utama untuk difokuskanya konten atau materi pelatihan dengan Adab dan Alqur’an,” kata Wakimin.
Seirama dan sejalan dengan visi organisasi induk Hidayatullah yaitu membangun peradaban, maka guru harus memiliki nilai-nilai peradaban dalam memposisikan diri sebagai pendidik ataupun sebagai penuntut ilmu, ungkap Usman Wakimin dalam mengakhiri sambutanya.
Untuk menguatkan sinergi dalam sistem organisasi, Akhmad Ali Subur, S.E sebagai Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah menghimbau dan menekankan kepada semua pelaku pendidikan di lingkup Hidayatullah Jawa Tengah untuk memposisikan diri sebagai pelaku dan pemeran peradaban.
Lebih lanjut disampaikan Subur, sejak Islam tidak memegang peradaban, yang dirugikan ternyata tidak hanya umat Islam saja, tapi selain Islam justru blank, karena Islam sebagai rahmatan lil ’Alamin.
“Unsur peradaban ibarat sungai, ada yang jadi air yang bergejolak dan ada air di tepian yang menyelamatkan air bah,” kata Subur memberi tamsil perihal peradaban.
Saryo, M.Pd. selaku Bagian SDI mengkonsep dan mendesain konten pelatihan dengan dominasi materi Adab dan Alqur’an karena merupakan prioritas unggulan yang diusung di Pendidikan Integral Berbasis Tauhid di Jawa Tengah.
Pelatihan yang digelar sebanyak 12 sesi dengan konten utama Adab dan Alqur’an ini, sebagai bekal dasar bagi guru baru dalam memerankan dan memposisikan diri sebagai pelaku peradaban, menjadi hal yang prinsip, sehingga semua proses, alur dan kegiatan yang ada dari awal pembukaan hingga sesi penutup dikondisikan dengan kontrak belajar yang mendukung untuk merealisasikan nilai-nilai peradaban.
Konten pelengkap sebagai bekal Guru baru di Pendidikan Integral Berbasis Tauhid di Hidayatullah ada materi untuk memberikan pemahaman baik secara filosofis dan mendalam terkait dengan keberadaan organisasi Hidayatullah, serta konsep pendidikan yang dikelola di Hidayatullah.
Pemahaman dan pengenalan keorganisasian dan pola pendidikan yang dikembangkan di Hidayatullah dapat diperoleh dengan berbagai jalur. “Pengenalan kelembagaan melalui jalur profesional, kegiatan ilmiah berupa Daurah, training dan lain-lain,” imbuh Ali Subur dalam sesi materi pengenalan Hidayatullah.
Saat awal-awal Hidayatullah berdiri, dominasi pengalaman empiris menjadi media untuk pengenalan hidayatullah. Pengenalan visi Hidayatullah yaitu membangun peradaban Islam, di mana peradaban Islam didapat tidak serta merta.
Pola perjuangan masa awal-awal menjadi model pengkaderan dengan nilai-nilai sami’na wa atho’na dalam menerima instruksi dan menerima amanah perjuangan.
Tidak cukup pada pembekalan guru baru saja, dalam rangka efektifitas penerapan atau realisasi peradan Islam, pemangku kebijakan di Pendidikan Integral Hidayatullah Jawa Tengah juga memberikan pembekalan untuk kepala sekolah dan wakil kurikulum dengan ToT Pembelajaran adab yang digelar pada tanggal 28 Desember 2023 di tempat yang sama yaitu di Kampus SMP Integral Hidayatullah Purwodadi.
Harapanya masing-masing level dari guru, pengelola memiliki bekal dan keilmuan dalam memerankan diri sebagai pelaku peradaban Islam.
Kegiatan pelatihan guru baru dan ToT pembelajaran adab untuk pengelola sekolah juga melibatkan Ketua DMW (Dewan Murabbi Wilayah) dan juga anggotanya yang memiliki peran dan tanggung jawab dalam pembinaan kader Hidayatullah pada setiap level.*/ Imam Suja’i
CIANJUR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menutup tahun 2022 dengan event Milad dan Doa Akhir Tahun yang dipusatkan di tenda pengungsian warga terdampak gempa Cianjur di Kampung Pasir Gombong, Desa Sukamulya, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu, 7 Jumadal Akhir 1444 H (31/12/2022).
Kegiatan ini mengangat tema “Doa Akhir Tahun Kokohkan Bukti Nyata Kebaikan.”
Tema itu adalah filosofi sekaligus raihan Laznas BMH dalam 21 tahun berkiprah membawa perubahan dengan zakat, infak dan sedekah bagi kaum dhuafa. Mulai dari pendidikan, dakwah, ekonomi, hingga sosialpreneur.
Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, mengatakan, harapannya even ini menjadi penutuh kebaikan Laznas BMH bersama donatur dan para muzakki untuk tahun 2022. Kemudian menyiapkan semangat peduli dan berbagi pada tahun 2023 untuk lebih semangat dalam kiprah nyata kebaikan secara sinergi dan kolaboratif.
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa kegiatan dipusatkan di tenda pengungsian?
Imam menjelaskan, Pertama, kegiatan sebagai wujud empati kepada warga terdampak gempa Cianjur. Kedua, memberikan dukungan kepada warga Pasir Gombong, mengingat masih banyak hal yang perlu dituntaskan, seperti pembangunan kembali masjid permanen, pembangunan madrasah darurat, termasuk shelter alias huntara bagi para pengungsi.
“Ketiga, pendidikan dan pendampingan warga melalui dakwah masih sangat diperlukan bahkan harus terus menerus,” tandasnya.
Tokoh masyarakat setempat H. Jajang bahkan menyampaikan harapan bahwa apabila memungkinkan dibangun pesantren di desanya, ia mengatakan siap mendukung. Karena pasca musibah kesadaran yang harus berdiri tegak adalah tentang bagaimana semakin tekun dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Even akhir tahun ini akan dimeriahkan dengan dongeng untuk anak-anak pengungsi bersama Kak Danang dan Odi, kemudian taushiyah bersama dai tangguh Laznas BMH, Ustadz Drs. Zainuddin Musaddad, MA.
Kemudian juga hadir secara virtual Pimpinan Baznas RI, KH. Drs. Achmad Sudrajat Lc,MA dan Direktur Utama Laznas BMH, Supendi.
Sepanjan satu bulan 21 November 2022 – 21 Desember 2022 Laznas BMH telah melakukan banyak realisasi program. Seperti pembangunan masjid darurat, pipanisasi air bersih, pendirian Sekolah Ceria, dan pendampingan penjualan hasil tani masyarakat ke Jakarta dan Depok.
Saat ini Laznas BMH sedang membangun shelter untuk warga dengan luas 6X18 meter yang akan menjadi tempat bernang 10 KK. Total penduduk di Kampung Pasir Gombong adalah 180 KK dengan total 527 jiwa.*/Azim Arrasyid Sofyan
HIDAYATULLAH telah menegaskan bahwa seluruh program kelembagaan harus dilakukan secara profetik dan profesional, dua pendekatan ini akan menjadi pembeda, dari dua pola ini akan lahir karakter yang unggul.
Seluruh jajaran manajemen dan kader amil harus lebih maksimal dalam menjalankan tugas di BMH Kepri ini, namun juga tidak mengesampingkan pendidikan, khususnya yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi Hidayatullah, karena merupakan bekal penting, tradisi akademik harus terus dijaga, jangan melemah karena rutinitas tugas sebagai amil BMH.
Karena itulah hikmah perintah Allah Ta’ala dalam ayat pertama pada surah Al Alaq yang pertama turun. Ketika Rasulullah menerima wahyu, perintah pertama bukan beribadah, bekerja atau berperang tetapi membaca terlebih dahulu.
Tujuannya agar memahami apa yang akan dikerjakan dan memahami hakikat keberadaan manusia. Kalau ada kader yang tidak memahami jati diri Hidayatullah lalu terjun ke medan tugas, maka dikhawatirkan mentalnya seperti pada umumnya pekerja di perusahaan yang hanya berorientasi gaji setiap bulan.
Profetik didasarkan pada jati diri Hidayatullah dan profesional mengacu pada manajemen moderen yang petunjuk teknisnya tertuang dalam regulasi organisasi. Memahami saja tidak cukup mesti menjiwai dan menjadi karakter. Untuk sampai pada tingkat menjiwai dan menjadi karakter dibutuhkan mujahadah dan tahapan yang panjang.
Ada enam jati diri yang harus menjadi paradigma; sistematika wahyu, harakah jihadiyah, imamah jamaah,ahlussunnah wal jamaah dan washatiyah (pertengahan) serta jama’ah minal muslimin. Keenam instrumen ini harus menjadi paradigma, worldview (wawasan) dan tashawwur (konsepsi) yang tercermin pada pola pikir dan pola gerak para kader.
Istilah harakah jihadiyah di sini memiliki makna yang luas, amal shaleh dan dakwah yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk kemajuan Islam dan ummat termasuk dalam kategori jihad. Seluruh aktivitas amal sholeh dan dakwah misalnya, harus berangkat dari kesadaran tauhid.
Karena segala bentuk pergerakan itu lahir dari pikiran dan keyakinan, karena itu ayat pertama yang turun “iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq” outputnya adalah lahirnya kesadaran bertauhid yang menjadi landasan gerak. Mulai dari akhlak, ibadah dan gerakan dakwah semua mencerminkan kesadaran tauhid.
SDI yang Berkarakter Profetik dan Profesional
Konsep sistematika wahyu merupakan metodologi tarbiyah dan dakwah dan juga sebagai landasan human resources development (pengembangan sumber daya insani). Marhalah di semua jenjang dan halaqah adalah wadah untuk memahami jatidiri Hidayatullah, dari wadah inilah akan tumbuh karakter profetik.
Perusahaan-perusahaan sekarang mulai menyadari bahwa aspek ruhiyah itu sangat mempengaruhi kinerja perusahaan. Sekira tiga bulan terakhir ini saya aktif mengikuti speech atau pidato para kongkomerat dunia seperti Jack Ma, Warren Buffet, atau kalau di Indonesia ada Jusuf Hamka, pengusaha yang salah satunya bergerak di bisnis jalan tol yang sangat peduli pada isu-isu sosial.
Sebagian mereka non muslim tetapi nilai-nilai spritual dikedepankan. Salah salah alasannya, karena teknologi seperti robot telah banyak mengambil alih pekerjaan manusia dan lebih akurat serta valid, dampaknya terjadi banyak pengangguran. Para sarjana hanya dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja memenuhi kebutuhan industri.
Pengembangan teknologi melalui kecerdasan buatan telah mengambil alih hampir seluruh kebutuhan industri, sehingga hanya segelintir manusia yang dibutuhkan yaitu yang memiliki kecerdasan, inovatif serta kualitas ruhiyah yang tinggi.
Kita sebagai kader bisa menyerap kualifikasi tersebut melalui jati diri Hidayatullah, keyakinan atau believe itu dibangun di dalam surah Al Alaq, pembentukan karakter pada surah Al Qalam, aspek spiritual melalui surah Al Muzammil dan militansi kerja di surah Al Mudatstsir, adapun manajemen kepemimpinan terdapat di dalam surah Al Fatihah.
Kalau para kader amil di BMH ini bekerja dengan paradigma ini, maka akan merasa nyaman karena semua yang dilakukan bernilai ibadah, amal sholeh dan perjuangan sehingga mengasyikkan. Tidak ada rasa lelah dan kecewa, ada reward (penghargaan) atau tidak tetap semangat karena telah ditanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam surah al Mudatstsir.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ
“Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddassir 74: Ayat 6)
Inilah nilai yang mahal dan penting di Hidayatullah, organisasi ini telah membuktikan mampu melahirkan kader yang “Sam’an wa tho’atan” (mendengar dan mentaati tanpa tapi dan tanpa nanti.
Ketika banyak dai lebih memilih dakwah di perkotaan atau siap ditugaskan ke pelosok dengan tunjangan yang lumayan tinggi, para kader Hidayatullah tetap siap dikirim ke pelosok hanya bermodalkan sepotong ayat, “intansurullah yansurukum wayutsabbit aqdamakum” jika kamu menolong agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
*) Taujih Ketua Umum DPP Hudayatullah KH. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, ini disampaikan dalam acara Halaqah Arahan Manajemen dan Amil BMH Kepri di kantor BMH Perwakilan Kepri, Kota Batam, Senin (26//12/2022). Artikel ini ditranskrip oleh Markom BMH Kepri Jihos Andy.
PENAJAM (Hidayatullah.or.id) – Jambore Wilayah (Jamwil) Sako Pramuka Hidayatullah Kalimantan Timur menguatkan spirit keindonesiaan. Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad berpesan agar para pemimpin Hidayatullah melebur dalam Keindonesiaan. “Sebab sila-sila dalam Pancasila merefleksikan nilai-nilai luhur warisan dari para pendiri bangsa,” katanya seperti dilansir laman Hidayatullahkaltim.com.
Jamwil ini diikuti oleh 1.200 peserta dan 300 lebih bina damping. Jamwil Sako Pramuka Hidayatullah Kaltim ini berlangsung selama 3 hari, Senin – Rabu (26 – 28/12/2022).
Acara tersebut menjadi lebih istimewa karena mendapat spirit pencerahan dari Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad.
KH. Abdurrahman Muhammad juga mengingatkan agar warga Hidayatullah khususnya di kepramukaan untuk menghidupkan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH).
Jamwil ini secara resmi dibuka oleh Ketua Pinsakonas Pramuka Hidayatullah, Kak Syarif Daryono, di Kampus Madya Hidayatullah Penajam Paser Utara (PPU), IKN, Kalimantan Timur, Senin (26/12/2022).
Ketua DPW Hidayatullah Kaltim, Ustadz Uswandi, dalam sambutannya berharap Sako Hidayatullah melahirkan generasi emas pemimpin, masa depan agama dan bangsa.
Ia mengajak para peserta untuk mengambil pelajaran dari keberanian Saifuddin Quts menghadapi dan menaklukkan penjajah Mongol. Sebagaimana katanya leluhur bangsa Indonesia juga pernah menaklukkan pasukan Mongol yang datang untuk menjajah.
“Siapkah kalian membela NKRI !!?” Tanya Ustadz Uswandi kepada para peserta. “Siaaap!!!” Jawab mereka serempak.
Ketua Pinsakonas Pramuka Hidayatullah, Syarif Daryono, mengatakan bahwa tujuan Jambore ini sebagai ajang silaturahim, ajang berkompetisi, dan rihlah yang positif.
Di samping itu, ia mengingatkan agar para peserta bersiap menyambut Jambore Internasional yang katanya akan digelar di tahun 2024.
Turut hadir dalam acara ini perwakilan dari Dandim PPU, Kapolres PPU, Kwarcab Kabupaten PPU, perwakilan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ketua dan Sekretaris DPW Hidayatullah Kaltim.*/ Muzayyin
GOOOL..!! Untuk kali kedua, Ust. Afif Nur Azizi harus kembali memungut bola yang bersarang di gawangnya.
Berbagai upaya penyelamatan sudah dilakukan. Jatuh bangun dia. Namun, serangan yang datang bertubi tubi membuatnya kewalahan.
Duet maut striker Wasekjen I DPP Hidayatullah Ust. Abdul Ghofar Hadi dan Wasekjen II Ust. Iwan Ruswanda pagi itu memang bermain penuh energi dan sangat licin.
Beberapa kali keduanya memainkan umpan umpan pendek yang cukup terukur dan berhasil dikonversi menjadi gol.
Di laga ini Ust. Abdul Ghofar Hadi berhasil merobek gawang Afif dengan 2 gol cantik yang tercipta usai kemelut yang terjadi di kotak pertahanan.
Abdul Malik yang sering berkreasi di sektor kanan kian menambah daya gedor permainan.
Gelandang serang asal Bima ini kerapkali merepotkan lawan dengan skil individunya yang menawan. Kendati tak mencetak gol, beberapa assist-nya yang sukar dibaca berhasil mempecundangi lawan.
“Pertandingan luar biasa,” seloroh Abdul Malik yang pada laga kali ini membawa sekaligus 2 pemain muda besutannya.
Afif dkk sebenarnya mampu mengimbangi permainan, apalagi ada nama nama pemain kawakan di sana seperti Haqqul Yaqin di tengah, Ust. Saihul Islam di depan dan bomber muda Fathun Qorib.
Berkali kali sepakan tajam dilesakkan, operan pendek dilakukan, sayangnya belum membuahkan hasil.
Hingga menit menit akhir permainan usai, gelak tawa tetap menjadi yang paling menonjol mewarnai laga penutup akhir tahun tersebut.
Cukup melelahkan penuh canda tawa kendati tak ada satupun tim yang membawa pulang piala. Semua pulang dengan riang gembira.
Rihlah Staf DPP Hidayatullah
Laga futsal di Vila Sri Indawati Cilember, Sabtu (31/12/2022) tersebut merupakan salah satu rangkaian acara Silaturrahim dan Rihlah Keluarga Staf DPP Hidayatullah.
Kegiatan ini merupakan yang kali pertama digelar sebagai salah satu program kerja Kepala Kantor DPP Hidayatullah 2022.
Kegiatan dimulai sejak Kamis malam, 29 Desember 2022 dengan semua staf bersama keluarga menginap di Wisma Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta.
Malam hari tersebut selepas Isya, agendanya adalah pembinaan keluarga bersama Ust. Abdul Ghofar Hadi. Mahasiswa S3 Program Studi Keluarga Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) ini menyampaikan ibrah shirah perjalanan Nabi Muhammad dalam berkeluarga.
“Teladan yang sempurna untuk keluarga hanyalah keluarga Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam“, katanya.
Ia berpesan bahwa sesibuk apapun kita sebagai orangtua di luar rumah, jangan sampai menepikan kebutuhan utama anak yaitu perhatian dan kasih sayang serta merawat hubungan harmoni dengan pasangan.
“Sesibuk sibuknya kita, pasti pulang ke rumah. Pasti pulang ke keluarga. Jangan sampai kita punya anak tapi anaknya yatim karena kesibukan orangtuanya,” katanya.
Ia menekankan pentingya menjaga lisan terutama ketika menyikapi sikap pasangan, begitupun terhadap anak.
“Sejengkel jengkelnya sama anak, jangan sampai terucapkan sesuatu yang negatif. Terutama seorang ibu. Begitupula seorang ayah juga tak boleh terburu buru,” imbuhnya di hadapan para staf.
Pada kesempatan tersebut Ust. Ghofar sempat menguraikan perihal hikmah pembinaan dan bangunan keluarga dalam perspektif Sistematika Wahyu (SW).
Diantaranya, dia mengemukakan, fase bergua Hira’ Rasulullah sejatinya memuat pesan esensial tentang kematangan spiritual pasangan suami istri.
Maknanya, jelas dia, adalah setiap pasangan suami istri harus saling mendukung dalam melakukan apa yang disebutnya sebagai “pendakian spiritual”. Upaya tersebut, misalnya, saling mengingatkan dalam menegakkan ibadah shalat, baik wajib maupun sunnah.
“Tidak penting siapa yang membangunkan atau dibangunkan untuk shalat, tapi masalah besar jika tak ada lagi saling mendukung dalam pendakian spiritual. Ini akan sangat berefek pada hubungan suami dan istri,” tegasnya.
“Kenapa kita harus ‘bertahannuts’ dengan dukungan pasangan sebagaimana Khadijah mengantarkan makanan untuk Nabi. Ini sangat erat hubungan dengan suami istri untuk saling menguatkan,” terangnya seraya membagikan kiat menjaga harmoni suami istri yaitu dengan azimat Al Wadud dalam Asmaul Husna.
“Jangan sampai tidak pernah mendoakan istri. Istri harus selalu kita doakan. Baca wirid azimat Al Wadud sambil bayangkan wajah istri,” pungkasnya.
Esoknya, selepas shalat Subuh, Ust. H. Zainuddin Musaddad mengisi tentang pentingnya ‘senyum’ dengan pasangan. Dari senyum banyak menyelesaikan masalah keluarga.
Abah Zain, sapaan akrabnya, mengartikulasi ‘senyum’ dengan sikap yang baik. Dengan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, pengertian, kasih, dan cinta, ini akan merawat harmoni bahkan sampai akhirat nanti.
Nikmati Kebersamaan
Kemudian, pada pukul 07.00 berangkat dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta dengan menggunakan 1 unit bus milik Kemenhan dan beberapa keluarga lainnya naik mobil Innova.
Tiba Cilember, Bogor, pukul sekira pukul 09.00. Peserta langsung menikmati hiburan di Taman Wisata Matahari dengan berbagai permainan bagi anak-anak, orang tua, dan staff bujang. Rombongan kemudian bergeser ke masjid terdekat untuk menunaikan shalat Jum’at.
Wisata di kawasan ini hingga menjelang Ashar. Selanjutnya menginap di Vila Sri Indawati Cilember. Di sini ada kolam renang bagi anak-anak dan lapangan futsal bagi staff.
Sore hingga petang sempat turun hujan. Gerimis bertahan hingga malam. Kendati demikian, agenda tetap lanjut tanpa hambatan berarti.
Malam itu kita makan malam dengan bakar bakar ikan rame-rame yang didahului halaqah singkat.
Ikan segar sudah disiapkan jauh hari yang dibeli langsung dari nelayan di pelabuhan Tanjung Priok. Ibu-ibu bertugas memasak. Sudah disiapkan alat masak, beras, telor, mie dan bumbu-bumbunya. Selain penghematan juga ada keasyikan untuk ibu-ibu.
Besoknya setelah shalat Subuh, tausyiah lagi bersama Ust. Abdul Ghofar. Sebelum sarapan ada penguatan tugas bersama Ust. Iwan Ruswanda. Banyak hal yang beliau jelaskan tentang SOP dan jobdesk masing-masing staf.
Alhamdulillah acara berjalan dengan baik. Semua menikmati dan berbahagia meski fasilitas menginap dan makan sederhana.
Kepala Kantor DPP Hidayatullah, Ust. Saihul Islam, mengatakan bahwa acara yang khusus staff dan bersama anak istri ini adalah program pertama kali dilakukan.
“Semoga semakin menguatkan silaturrahim dan soliditas terutama bagi staf berkeluarga yang belum saling mengenal. Selain rehat dengan rekreasi juga untuk perkenalan para istri dan anak staff, lebih mengakrabkan serta saling memahami,” tandasnya.*/Yacong B. Halike
WAKTU terus bergulir. Kini kita berada di penghujung tahun 2022. Sebuah momentum baik untuk melakukan muhasabah. Secara bahasa muhasabah bermakna introspeksi diri. Muhasabah bertujuan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah (habluminallah), hubungan kepada sesama manusia (habluminannas), dan hubungan dengan diri sendiri (habluminannafsi).
Pentingnya introspeksi diri dapat dicermati dari firman Allah dalam Surat Al-Hasyr ayat 18. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Nabi Muhammad SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Syadad bin Aus, “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT. Umar bin Khattab mengatakan, “Hasibu anfusakum qobla antuhasabu.“ (Evaluasilah (hisablah) dirimu sendiri sebelum kalian dihisab (di hadapan Allah kelak)”.
Ibnul Qayyim rahimahullah sebagaimana tulisan Abdul Aziz dkk dalam buku “Jalan Menggapai Ridho Ilahi” membagi muhasabah menjadi dua macam yaitu sebelum dan sesudah melakukan amalan atau perbuatan.
Pertama, sebelum melakukan amalan hendaknya berpikir sejenak. Jangan langsung mengerjakan sampai nyata baginya akan adanya kemaslahatan. Al-Hasan berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berdiam sejenak ketika terbetik dalam pikirannya suatu hal, jika itu adalah amalan ketaatan pada Allah, maka ia melakukannya, sebaliknya jika bukan, maka ia tinggalkan.
Kedua, sesudah melakukan amalan, yaitu dengan introspeksi atau mawas diri atas perbuatan yang telah dilakukan. Introspeksi atas; tingkat ketaan kepada Allah, relasi dengan sesama dan kemampuan kendali.
Pada penghujung tahun ini bahan muhasabah yang perlu kita pertajam adalah nasehat Nabi sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,
“Manfaatkanlah (jagalah) lima perkara sebelum lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)
Perenungan mendalam atas nasehat Nabi tadi semoga mengantarkan kian mengokohkan pilihan hidup kita untuk menjadi mujahid dakwah membangun peradaban Islam. Pilihan hidup, pilihan kerja, pilihan bisnis yang tidak mengenal kata rugi.
*) Nursyamsa Hadis,pegiat dakwah bersama Hidayatullah
HARI demi hari berlalu, pekan telah berganti menjadi bulan dan bulan berganti menjadi tahun. Tahun 2022 akan meninggalkan kita, dan akan masuk lembaran baru tahun 2023. Setahun terasa begitu singkat, tidak terasa (sebentar sekali). Mari sejenak ! kita merenung akan hari hari yang telah kita lewati.
Muhasabah adalah aktivitas sangat penting dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Meskipun pada hakikatnya melakukan muhasabah atau intropeksi diri, harus dilakukan setiap saat, namun melakukan muhasabah di momentum pergantian tahun rasanya cukup penting. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang: