Beranda blog Halaman 338

Teladan Ketekunan untuk Hidupkan Warisan Kenabian

RASULULLAH pernah bersabda, “Barangsiapa menghidup-hidupkan satu diantara sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh orang lain, maka ia mendapatkan pahala sepadan dengan pahala orang-orang yang mengamalkannya, tanpa dikurangkan sedikitpun dari pahala mereka. Dan, barangsiapa menciptakan suatu bid’ah, kemudian diamalkan oleh orang lain, maka ia mendapatkan dosa (sepadan) dengan dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa dikurangkan sedikitpun dari dosa mereka.” (Riwayat Tirmidzi, hadits shahih li-ghairihi).

Alkisah, pada suatu hari Abu Hurairah berjalan melewati pasar Madinah. Beliau kemudian berhenti dan berkata, “Hai orang-orang di pasar, betapa malangnya kalian ini!” Mereka bertanya, “Mengapa demikian, wahai Abu Hurairah?”

Abu Hurairah menjawab, “Itu warisan Rasulullah sedang dibagi-bagikan, sementara kalian tetap disini. Mengapa kalian tidak pergi kesana dan mengambil bagian kalian?” Mereka bertanya, “Dimana?” Beliau menjawab, “Di masjid.”

Maka, mereka pun bergegas-gegas keluar menuju masjid. Abu Hurairah sendiri diam di tempatnya, sampai akhirnya mereka kembali lagi. Beliau bertanya, “Mengapa (kalian kembali)?” Mereka menjawab, “Hai Abu Hurairah, kami telah mendatangi masjid dan masuk ke dalamnya. Tapi, kami tidak melihat apapun yang sedang dibagikan.”

Lantas Abu Hurairah bertanya, “Apa kalian tidak melihat seorang pun disana?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Kami melihat sekelompok orang sedang mengerjakan shalat, sekelompok yang lain sedang membaca Al-Qur’an, dan sekelompok lagi sedang mempelajari halal-haram.” Abu Hurairah berkata, “Celaka kalian ini! Itulah warisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam!” (Riwayat Thabrani dalam al-Awsath, dengan isnad hasan).

Benar, para Nabi tidak mewariskan emas, tanah, rumah, atau barang-barang duniawi untuk dibagi, dilelang dan diperebutkan. Mereka mewariskan ilmu, keyakinan, dan bimbingan.

Oleh karenanya, Rasulullah bersabda, “Sungguh, ulama’ adalah pewaris para Nabi. Sungguh, para Nabi tidaklah mewariskan dinar (emas) maupun dirham (perak), namun mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda’. Hadits shahih).

Keinginan kuat untuk mendapatkan bagian dari “warisan kenabian” inilah yang mendorong para pelajar di masa silam mengembara ke seluruh penjuru untuk memburu hadits.

Dalam kondisi sarana-prasarana Abad Pertengahan yang masih serba manual, mereka menempuh jarak ribuan kilometer untuk menemui para guru yang – kadang – hanya menyimpan satu dua teks hadits saja. Mereka tidak perduli, sebab “warisan kenabian” itu tidak boleh terlewatkan satu pun. Dengan tangannya pula mereka mencatat sendiri ratusan ribu – bahkan, nyaris mencapai sejuta – teks hadits yang berlain-lainan.

Ahmad bin Mani’ bercerita: Ahmad bin Hanbal berjumpa dengan kami di jalan, dan beliau baru datang dari Kufah sementara di tangannya ada sejumlah kertas yang berisi salinan kitab-kitab. Saya pun meraih tangannya dan berkata, “Sekali waktu ke Kufah, lalu di lain waktu ke Bashrah, sampai kapan? Bila seseorang telah mencatat 30.000 hadits, apa tidak cukup?” Beliau diam. “Apakah 60.000 tidak cukup?” Beliau tetap diam. “Apakah 100.000 tidak cukup?” Beliau menjawab, “Saat itulah dia baru mengerti ‘sesuatu’!” (Dari: al-Madkhal ila Madzhabi al-Imam Ahmad bin Hanbal, karya Ibnu Badran ad-Dimasyqi).

Apakah Anda dapat membayangkan kesungguhan dan tekad macam apa yang berkobar di balik kata-kata: “mencatat seratus ribu hadits dengan tangan sendiri”? Kita mungkin bisa menyepelekan hal itu di masa sekarang, sebab pengetikan dengan komputer sudah sangat nyaman dilakukan. Bahkan, sebagian orang diketahui meng-copy paste karya orang lain, mengganti judulnya, lalu mengatasnamakannya untuk diri sendiri.

Namun, di zaman Imam Ahmad semua harus ditulis tangan. ‘Amru bin ‘Ashim al-Kilabi berkata, “Saya mencatat belasan ribu hadits dari Hammad bin Salamah.” ‘Abbas ad-Dury berkata, “Saya mencatat 35.000 hadits dari Musa bin Isma’il at-Tabudzaki.” Abu Dawud berkata, “Saya mencatat 50.000 hadits dari Bundar Muhammad bin Basysyar.”

Abu Zur’ah berkata, “Saya telah mencatat 100.000 hadits dari Ibrahim bin Musa ar-Razy.” Abul ‘Abbas asy-Syirazi berkata, “Saya telah mencatat 300.000 hadits dari ath-Thabrani.” Pengakuan semacam ini sangat banyak, dan itu baru dari satu orang guru saja.

Bayangkan, bagaimana jika mereka telah mencatat dari ratusan hingga ribuan guru? Ya’qub al-Fasawi dan Abu Dawud berkata, “Saya telah mencatat dari 1.000 orang guru.” Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Saya telah mencatat dari 1.100 orang guru…”

Mereka pun memburu “warisan kenabian” dalam rentang yang panjang, hingga belasan tahun. Ahmad bin Salamah, teman karib Imam Muslim, mengaku, “Saya mencatat hadits bersama Muslim – dalam rangka menyusun kitab Shahih-nya – sebanyak 12.000 hadits selama limabelas tahun.” Dalam hal ini, Imam Muslim sendiri berkata, “Saya menyusun kitab Shahih saya ini dari (penyaringan terhadap) 300.000 hadits yang seluruhnya saya dengar langsung (dari guru-guru saya).”

Generasi muslim pendahulu kita tahu benar nilai “warisan kenabian” itu, dan rela membelanjakan seluruh sumberdaya miliknya untuk mendapatkannya. Wajar jika mereka mendapat kejayaan dan amal jariyahnya abadi sepanjang zaman.

Nama sebagian ahli hadits pernah disebut-sebut di majlis khalifah Harun ar-Rasyid, maka beliau berkata, “Mereka adalah kaum yang abadi, nama mereka akan disebut beriringan dengan nama Rasulullah; sementara kami – para raja – adalah orang-orang yang akan musnah kenangannya.”

Lantas, bagaimana dengan kita di zaman ini?

Ust. M. Alimin Mukhtar

Raker LPIH Hidayatullah Bangka Tengah Kuatkan Profesionalisme

BANGKA TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Hidayatullah Bangka Tengah digela dalam rangka memantapkan pencapaian visi dan menguatkan profesionalisme. Demikian diutarakan Ketua Departemen Pendidikan Hidayatullah Bangka Tengah Ust. Ismail Zalukhu, S.H.I.

“Sumber daya insani (SDI) yang berkompeten adalah SDI yang merujuk pada kompetensi yang dimiliki dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam,” kata Ismail ketika sambutan dalam pembukaan acara itu di Kampus Pondok Tahfidzh Hidayatullah Bangka Tengah, Jum’at, 23 Dzulhijjah 1443 (22/7/2022).

Ismail yang merupakan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan menekankan bahwa rapat kerja ini dalam rangka untuk memantapkan kompetensi penyelenggara pendidikan integral yang nantinya memikul amanah melahirkan peserta didik sebagimana diharapkan.

“Dan salah satu indikasi berkompeten adalah profesional dan memberi ketauladanan,” kata Ismail seraya menekankan bahwa ketauladanan adalah ruh pendidikan.

Dia menjelaskan, jika ketauladanan tidak ada pada suatu sistem pendidikan, maka dapat dipastikan proses pendidikan yang berjalan adalah pendidikan yang utopis, minim nilai, dan kehilangan jatidiri serta kering hakikat dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Putra asli Nias ini menambahkan, tema raker “Membangun Etos Kerja, Profetik dan Profesional” yang diangkat merupakan follow up dari mainstream Hidayatullah yaitu Tarbiyah dan Dakwah.

“Kedua mainstream ini tidak bisa berjalan secara maksimal jika tidak ditopang oleh sumber daya insani yang berkompeten,” tandasnya.

Penyampaian Ismail dikuatkan oleh Ketua Yayasan Hidayatullah Bangka Tengah Ust Irwan Sambasong, S.Pd.I yang sekaligus membuka acara yang berlangsung selama 2 hari itu, Jumat-Sabtu, 23-24 Dzulhijjah 1443 H/ 22-23/7/2022.

Sambasong menekankan, pendidikan adalah media formal untuk melahirkan sosok yang berilmu dan berkarakter.

“Ilmu lebih utama dari shalat sunnah. Dan, menuntut ilmu adalah merupakan kewajiban umat Islam yang tertinggi setelah shalat fardhu,” terang pria ramah asal Majene dengan 5 putra putri ini yang menukil perkataan Al Imam Asy Syafi’i.

Alumni Madrasah Aliyah Radhiyatan Mardhiyah (Marama) Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, ini mengingatkan hendaknya setiap muslim menjadikan ilmu sebagai buruan untuk menciptakan kebaikan.

“Ilmu adalah kata kunci untuk mewujudkan kebaikan dunia dan akhirat. Mengapa Ilmu menjadi kunci bahagia dunia dan akhirat, karena Ilmu yang benar akan melahirkan peserta didik yang takut kepada Allah,” imbunya.

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Wahdah Islamiyyah Makassar Sulsel ini sekali menekankan bahwa ilmu memiliki keutamaan dari sekedar harta benda.

“Ilmu adalah jalan emas untuk mendapatkan derajat mulia disisi Allah dan kehormatan dihadapan manusia,” tandas Sambasong.

Rapat Kerja Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Bangka Tengah ini diikuti para stakeholder LPIH, jajaran guru dan pengurus Yayasan Pesantren Hidayatullah Bangka Tengah. (ybh/hio)

Guru Harus Berada di Garda Terdepan dalam Pedidikan Ketauladanan

BANGKA TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Ketua Badan Pembina Hidayatullah Bangka Tengah KH Naspi Arsyad, Lc, mengatakan guru harus berada di garda terdepan dalam ketauladanan sebab hal itu lebih bernilai ketimbang kemampuan mengajar.

“Para guru dan stakeholder harus berada pada garda terdepan ketauladanan, memberikan uswatun hasanah karena spirit seorang guru jauh lebih bernilai dibanding segala kemampuan mengajar yang dimilikinya,” kata Ust Naspi Arsyad.

Hal itu disampaikan dia saat memberikan arahan dalam pembukaan Rapat Kerja (Raker) Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) Hidayatullah Bangka Tengah di Kampus Pondok Tahfidzh Hidayatullah Bangka Tengah, Jum’at, 23 Dzulhijjah 1443 (22/7/2022).

Dalam arahannya, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah ini menegaskan bahwa tema prophetic (profetik) atau kenabian dalam raker ini adalah tema yang multi dimensi.

Sosok yang akrab disapa UNA ini mengurai bahwa Nabi telah mencontohkan semua hal yang terkait dengan profesionalisme. Kata dia, kedisiplinan, etos kerja, dan tanggung jawab adalah diantara karakter mutlak bagi tenaga pendidik yang diajarkan oleh Rasulullah.

“Lintasan sejarah menorehkan bahwa Nabi adalah sosok pekerja keras. Masa istirahat beliau cenderung minim. Dan komitmen ini lahir dari tanggung jawab yang sangat besar,” tegas ayah 3 anak dan 1 cucu ini.

Naspi juga berkata bahwa indikasi profesionalisme lembaga pendidikan integral adalah terejawantahnya nilai nilai Islam sebagaimana termaktub dalam 6 jatidiri Hidayatullah yang muaranya semata untuk tegaknya dakwah dan tarbiyah.

“Walau kurikulumnya hebat, guru-gurunya keren, gedung sekolahnya mewah, tapi kalau daya dukungnya terhadap mainstream Hidayatullah lemah maka nilai semua kehebatan itu menjadi jatuh bahkan dikhawatirkan seakan tidak berarti,” tegasnya.

Alumni Islamic University of Madinah ini menambahkan, salah satu wujud profesionalisme dunia pendidikan adalah kemampuan para guru untuk memberikan ketauladan kepada para siswanya, terutama ketauladanan dalam 2 bidang utama yakni Tauhid dan Ibadah.

Diakhir arahannya, kordinator Komunitas Keluarga Cerdas (KKC) ini menitip harapan agar hendaknya segenap guru dan stakeholder pendidikan selalu menjaga intensitas komunikasinya dengan Allah sebagai Dzat tempat mengadu dan meminta.

“Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, senantiasa mengingatkan bahwa modal dan sumber kekuatan seorang guru adalah pada kemampuannya dalam menjaga komunikasinya dengan Sang Pemberi inspirasi, Allah Subhanahu Wata’ala,” ujarnya.

“Kalau malamnya dia shalat lail lalu paginya ditambah sholat dhuha, yakinlah bahwa aktifitasnya hari itu akan diberkahi oleh Allah,” pungkasnya.

Gerakan dakwah dan pendidikan Hidayatullah di Bangka terus bergeliat, terutama di Kampus Pondok Tahfidzh Hidayatullah Bangka Tengah. Pesantren Hidayatullah Bangka Tengah mulai dirintis pada tahun 2014 oleh Ust Irwan Sambasong bersama beberapa tenaga kiriman alumni STIE Hidayatullah Depok.

Saat ini Kampus Hidayatullah Bangka Tengah mengelola pendidikan jenjang SMP dan SMA, putra dan putri dengan program khusus Tahfizh Al Qur’an. (ybh/hio)

Istiqamah Dibawah Kepemimpinan Iman

KECERDASAN dan kehebatan otak pikiran manusia tidak boleh menepikan iman sebagai bekal utama dalam meniti kehidupan. Ilmu, iman, dan amal tiga sisi yang saling melengkapi. Oleh sebab itu, iman harus menjadi pemimpin dan memandu setiap jengkal langkah kita.

Demikian benang merah dari taushiah yang disampaikan oleh kader senior Hidayatullah, Ust H Abdul Latif Usman selepas shalat shubuh di Masjid Baitul Karim, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, belum lama ini, Jumat, 23 Dzulhijjah 1443 (22 Juli 2022).

“Iman harus menjadi pemimpin dalam diri kita, bukan menuhankan dan membesarkan kemampuan pikiran,” katanya.

Dia menerangkan, Hidayatullah dengan 6 jatidirinya pun telah berupaya memanifestasi nilai nilai Islam yang luhur itu agar senantiasa berada di bawah kepemimpinan iman.

“Selama orang Hidayatullah bersenyawa dengan jatidirinya, maka ia akan tetap pada rel yang benar dibawah kepemimpinan spiritual,” tegasnya.

Menurutnya, kalau dalam perlangkahan kita berada dibawah dominasi kepemimpinan pikiran yang mengandalkan otak dan kekuatan manusiawia belaka, tanpa spritual, maka kita hanya melakukan penggemukan bukan pengembangan.

“Kalau spiritual yang memimpin, maka Hidayatullah akan terus berkembang. Tetapi, kalau keangkuhan pikiran yang menuntun, maka kita hanya melakukan penggemukan. Gemuk tapi rapuh,” katanya.

Ust Latif mengatakan, sebagai umat Islam sekaligus kader Hidayatullah sudah semestinya kita senantiasa selalu meningkatkan kualitas ilmu dan iman. Menurutnya, setiap muslim penting memahami dan merenungi alam dalam konteks universal dan alam yang melekat terpatri dalam diri manusia.

Ia mengajak merenung akan kebesaran Sang Maha Pencipta. Ust Latif pun lantas menyampaikan sebuah studi ilmiah astronom dari California Institute of Technology (Caltech) yang mengemukakan bahwa air yang ada di atas langit (di luar angkasa) sebanding dengan 140 triliun kali lipat air di bumi.

“Kalau dihitung, bobot air di sana 100.000 kali lebih berat daripada matahari. Disitulah hanya sebagian kecil dari pijakan Arsy Allah,” katanya seraya menambahkan seyogyanya sebagai mahluk kita dianjurkan untuk memikirkan ciptaannya dan menghindari berfikir tentang dzat Allah yang tak terbatas.

Lebih jauh lagi beliau menyampaikan penting bagi kita sebagai mahkluk untuk terus menggugah iktibar dari perenungan tentang hakikat dan keberadaan alam dengan kompleksitas yang ada di dalam diri manusia yang sering di sebut sebagai alam mikroskopis.

“Boleh jadi sedikit diantara kita yang memikirkan bahwa bagaimana Allah menciptakan semuanya dengan begitu tertata dan memiliki ketepatan pencitaan yang sempurna,” katanya.

Ust Latif lantas mencontohkan bagaimana kompleksitas penciptaan manusia. Mengutip dari Live Science, ia menyebutkan ada tiga jenis pembuluh darah manusia yaitu arteri, vena, dan kapiler yang masing-masing memainkan peran yang sangat spesifik dalam proses sirkulasi.

Ust Latif menukil, jika semua jenis pembuluh tersebut diletakkan dalam satu baris dari ujung ke ujung, mereka akan membentang sekitar 60.000 mil atau 100.000 kilometer.

Sebagai perbandingan, keliling bumi menempuh jarak sekitar 25.000 mil atau 40.000 kilometer. Artinya, pembuluh darah seseorang bisa mengelilingi planet ini sekitar 2,5 kali.

“Maka kita bisa bayangkan banyak hal yang belum kita tahu maksud dari semua yang Allah ciptakan terutama dalam diri kita,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Ust Latif mengajak para santri untuk selalu menghidupkan kultur spiritual Hidayatullah. Sebagai sosok yang memiliki kontak batin dan emosional dengan para pendiri Hidayatullah, ia begitu semangat penuh spirit perjuangan mengantarkan pendengar untuk akhirnya kemudian bisa menyentuh titik kesadaran paripurna.

Ada beberapa poin mendasar di samping penuturan terkait bayangan nostalgia perjuangan di awal awal perintisan Hidayatullah termasuk kisah unik penuh haru kala ia mendampingi sahabatnya, KH Abdurrahman Muhammad, melakukan safari dakwah ke Timur Tengah.

Di kesempatan tersebut, Ust Latif juga kembali mengenang awal ia masuk ke Cilodong tahun 1983 yang kala itu membersamai pendiri Hidayatullah Abdullah Said dan pewakaf tanah kampus Hidayatullah Depok almarhum Bapak Agus Sutomo. Abdullah Said dan Agus Sutomo adalah sahabat dekat.

Ia juga minta didoakan agar kelak ketika wafat dalam keadaan husnul khotimah berdakwah di jalan Allah. Ust Latif lantas menyebut 3 nama sahabat seangkatannya nikah massal yang merintis Hidayatullah Depok yang kini sudah lebih dulu dipanggil oleh Allah Ta’ala yaitu Budi Setiawan, Syamsu Rijal Aswin, dan Mujahid Zubair.

“Ada 5 orang seangkatan saya nikah massal. Tiga orang sudah meninggal, sekarang tinggal saya dan Pemimpin Umum. Saya nggak tau, siapa nanti yang duluan dipanggil Allah,” katanya.

Ia menyampaikan harapan tumbuh kembang pesatnya pembangunan pusat peradaban mesti disertai semangat dakwah menggelora di masa depan.

Dengan keyakinan harapan yang mengkristal, ia mengatakan bahwa suatu saat dalam kurun periode 4 dasawarsa atau 40 tahun kedua mendatang akan berdiri pencakar langit beserta fasilitas pesawat sebagai penunjang dakwah antar pulau bahkan antar benua.

“Maka dengan semua indikator dan pencapaian hingga hari ini, bukan tidak mungkin sebagai lembaga yang memiliki kader militan dan dibawah kepemimpinan iman yang bersenyawa dengan jati diri Hidayatullah, insya Allah semua cita cita besar akan terwujud,” tuturnya.

Sebagai penutup ia berpesan agar semua kader harus memiliki modal keberanian yang hebat, ketaatan yang kuat, dan merawat negeri ini dengan sebaik baiknya.

“Kita sudah merebut kemerdekaan, sekarang kita mengisi kemerdekaan dengan hal hal produktif, kita akan terus mempertahankan kemerdekaan ini. Dan ingat, jangan sampai kita menjual kemerdekaan,” tandasnya.*/Asep Rohim, Ainuddin

Ketum DPP Hidayatullah Pesan Tanamkan Kesadaran Sarjana yang Kader Leader

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, LC, MA mengatakan bahwa Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) dibangun untuk mencetak dan melahirkan sarjana yang kader dan leader.

Hal itu disampaikan dalam taujihnya pada acara Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan Kedua STIT Hidayatullah Batam yang dirangkai dengan Penugasan alumni, Rabu, 21 Dzulhijjah 1443 H (20/7/2022).

“Kita ingin melahirkan sarjana kader dan leader. Karena kalau sekadar sarjana, perguruan tinggi umum sudah cukup,” katanya.

Ia menjelaskan kader lader tersebut. Kata dia, kader untuk mengabdikan dirinya sebagai dai dan guru. Kemudian leader, yaitu tidak hanya berdakwah, tetapi bagaimana dia tampil untuk menjadi pemimpin umat.

Kita bersyukur, lanjut Nashirul, karena berada di perguruan tinggi yang mewadahi kita. Tidak saja mewadahi untuk mengkuti proses pendidikan dan pengajaran, proses tarbiyah, tapi juga memfasilitasi kita untuk berkiprah lebih lanjut.

“Dan secara umum seperti inilah PTH, alumninya langsung ditugaskan untuk mengelola lembaga-lembaga pendidikan Hidayatullah di seluruh Indonesia,” imbuhnya pada acara yang digelar di Hallroom Masjid Al-Amin, Tembesi, Batu Aji, Kota Batam, Kepulauan Riau itu.

Saya ingat Ustadz Abdullah Said rahimahullah, pendiri Hidayatullah, kata Ust Nashirul lagi, dalam ceramahnya selalu menyampaikan ada beberapa wilayah yang sulit ditembus yaitu Wamena, Palangkaraya, dan Banjarmasin.

“Tanpa berpikir panjang saya pilih ketiga-tiganya karena ada semangat, keyakinan. Jadi mental yang harus disiapkan,” terang beliau yang menyebut bagaimana doktrin Pendiri Hidayatullah.

Makanya, sebutnya lagi, Allah SWT berfirman:

اِنْفِرُوۡا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوۡا بِاَمۡوَالِكُمۡ وَاَنۡفُسِكُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ خَيۡرٌ لَّـكُمۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS at Taubah: 41)

Jadi, terangnya lagi, orang-orang yang ditugaskan berdakwah lalu kemudian dia mikir-mikir lalu kemudian takalluf, diterangkan secara detil kisahnya dalam al-Qur’an, mereka adalah munafik.

Ia lantas menukil firman Allah SWT:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. (QS. At-Taubah : 81)

“Kalau ada yang masih ragu-ragu hendaknya saling memotifasi. Karena katanya, dua orang penakut sesungguhnya dua orang pemberani. Jadi kalau ada yang gelisah, ragu-ragu, datang kepadanya beri motifasi,” tegas menantu Ustadz Abdullah Said ini memberi semangat.

Selanjutnya, Beliau menyampaikan bahwa kita bersyukur kepada Allah bahwa kita dihadirkan dalam sebuah wadah yang mewarisi perjuangan dan misi Rasullullah Saw.

“Kita ini adalah pewaris Rasulullah Saw, untuk turut dalam mendakwahkan Islam. Islam ini bisa menyebar ke seluruh dunia adalah karena jasa-jasa para sahabat yang dikirim untuk berdakwah, ada yang ke Yaman, Mesir, Najran, China, bahkan ke Indonesia,” imbuhnya.

Menurut Nashirul Haq lagi, bahwa wadah pendidikan untuk melahirkan kader dan leader di atas harus dijalankan secara profetik dan profesional.

“Profetik adalah konsepnya islami, mewarisi nilai-nilai kenabian, berisi semangat dan spirit para nabi dan rasul, serta didukung oleh profesionalitas,” ujar Alumnus International Islamic University Malaysia ini.

Profesionalitas ini terdiri tiga point, sebutnya, yaitu knowledge, skill dan attitude. “Ini harus ada di PTH Batam. Knowledge itu sudah pasti, karena sudah ada di pendidikan kita, tapi harus kompeten di bidangnya, punya skill, keterampilan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekarang ini popular Kampus Merdeka, untuk memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa untuk mengembangkan skillnya. Sebab inilah pembeda baginya, karena memiliki pengalaman dan kecakapan. Disinilah pentingnya pendidikan leadhership di PTH.

Nashirul juga menekankan pentingnta nilai attitude, karakter, behavior. Justru inilah sesungguhnya, kata dia, yang menjadi nilai tambah PTH, termasuk di Dikdasmen.

“Yang namanya attitude ini, tidak bisa didapatkan kecuali ada sentuhan langsung dari dosen, guru, sebagai murabbi, coach, mentor,” imbuhnya.

Akhirnya, kata Nashirul Haq, kita bersyukur Allah menganugerahkan kepada kita wadah pendidikan sekaligus mewadahi berkiprah untuk agama, umat, bangsa dan negara yang tercinta.

“Semoga STIT Hidayatullah Batam semakin maju, jaya, dan berkembang, dalam melahirkan sarjana-sarjana yang berkualitas dari sisi spiritual, intelektual, dan profesionalitas, semoga Allah meridhai semua juhud dan kerja keras kita,” tutupnya.

Acara Sidang Senat Terbuka Sarjana S1 angkatan kedua ini juga dirangkai dengan penugasan 41 sarjana kader STIT Hidayatullah Batam. Para kader sarjana tersebut akan ditugaskan untuk berkhidmat pada agama dan bangsa yang dikirim ke seluruh pelosok Nusantara.

Pada acara ini, hadir Rektor UIN Suska Riau, Prof Dr Khairunnas Rajab, M.Ag untuk orasi ilmiah, didampingi sekretaris Kopertais Wilayah XII Riau Kepri, Dr. Ahmad Masy’ari, M.H, Staf Ahli Walikota Batam Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Bapak Demi Haspinul Nasution.

Ada juga Ketua Badan Pembina Kampus Batam, Ustadz Jamaluddin Nur yang juga ketua dewan senat, Ketua Pengurus Yayasan, Ustadz Khoirul Amri, pengurus DPW Kepri, Muslimat Hidayatullah, para tamu pendamping, serta undangan lainnya.*/Azhari Tammase

Rektor UIN Suska Riau Orasi Ilmiah Sidang Senat Terbuka STIT Hidayatullah Batam

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) angkatan kedua yang digelar di Hallroom Masjid al-Amin, Tembesi, Batu Aji, Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 21 Dzulhijjah 1443 H (20/7/2022).

Hadir memberi orasi ilmiah Prof. Dr. Khairunnas Rajab, M.Ag, Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Riau sekaligus Ketua Kopertais Wilayah XII Riau-Kepulauan Riau. Orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Psikologi Islam ini mengangkat tema “Karakter Nubuwwah”.

Prof Khairunnas, demikian ia disapa, menyebut bahwa karakter harus terukur agar kita semua mempersiapkan diri menatap masa depan yang cemerlang dan gemilang. Maka ada hal-hal yang wajib kita miliki yaitu karakter kenabian.

“Karena ini adalah sifat rasul, yang amanah, yang fathanah, tabligh, dan sidik. Makanya hendaknya kita harus terlebih dahulu amanah. كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ,” papar alumnus doktor University of Malaya, Malaysia ini.

Kita ini pemimpin bagi diri pribadi, lanjut Prof Khairunnas, yaitu bagaimana menjadi amanah, bagaimana menjadi sidik, bertabligh, dan fathanah (cerdas). Kita mulai dari diri sendiri.

“Saya ingin sampaikan, dalam psikologi, apa yang disebut psikologi wellbeing. Bagaimana kita memperoleh kesejahteraan kejiwaan. Bahwa jiwa ini harus sejahtera. Tentu tidak dengan simbol-simbol banyak makan, banyak rumah dan lain-lain,” imbuh Dewan Pakar Asiosasi Psikologi Islam ini.

Psikologi wellbeing bisa terwujud, sebutnya lebih lanjut, jika kita memiliki self regulation. Bagaimana kita mampu melakukan regulasi diri. bahwa kita memahami orang lain, tidak memaksakan orang lain memahami kita. Dalam bahasa lain disebut juga sebagai self adjustment, adaptasi.

“Kita harus mampu beradaptasi sehingga kita tidak memaksakan orang untuk memahami diri kita sendiri, tapi kita harus mampu memahami orang lain. Kita tidak mampu mengunci mulut-mulut orang lain. Tapi mampu mengunci mulut kita untuk tidak menyakiti orang lain,” tegas Prof Khairunnas.

Harus bisa mengakumulasi hinaan, cobaan, terpaan yang kita lalui, paparnya lagi. Bahwa kita baik-baik saja. Itu yang dikatakan sebagai sense of crisis. Orang yang memiliki sense of cricis ia cenderung bisa mendewasakan diri. Bisa memahami teks dan konteks dengan baik.

Kedua, lanjut Prof Khairunnas menjelaskan, bagaimana kita memiliki self concept, konsep diri. Self concept, yang kita maksud adalah kita berkomitmen, loyal, istikamah dalam amanah dan tugas tadi.

“Kita ingin istikamah. Loyal kepada kebenaran. Sehingga pemimpin itu harus berlaku amanah, bisa istikamah.
اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ ࣖ
Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu (QS.2:147),” imbuh Prof Khairunnas sambil mengutip ayat al-Qur’an.

Kemudian, katanya lagi, yaitu memiliki asertif, bermakna peduli dengan orang, atau sense beloming, memiliki rasa sayang kepada orang. Rasa peduli, care dengan orang lain. Bahwa kita saling membutuhkan. Sehingga kekurangan kita ditutupi oleh orang lain demikian juga sebaliknya.

“Agar kita semua memang benar benar memiliki psikologi wellbeing, kesejahteraan kejiwaan,” tukas penulis buku Psikoterapi Islam (2019) ini.

Prof Khairunnas menjelaskan agar mudah kita berkreasi, melakukan sesuatu secara mandiri, berkarya, karena pikiran kita sehat, hati bersih, dan bening untuk melakukan yang terbaik. Sehingga ada kesehatan jasmani dan ruhani. Sehat ini ditandai dengan sehat psikologi wellbeing. Maka, akan mudah mendapatkan kehidupan yang layak di tengah-tengah masyarakat.

“Rasa cinta dan sayang dari khalayak akan muncul. Inilah karakter kepemimpinan nubuwwah. Akhirnya bisa beraktualisasi diri. Kelak tumbuh dan berkemang secara terorganisir. Bahwa kita punya tanggung jawab yang besar terhadap diri pribadi, keluarga, masyarakat, dan agama, akhirnya menjadi sosok yang ideal,” imbuhnya memungkasi orasi ilmiah.

Prof Khairunnas mengatakan generasi muda, para sarjana harus bisa menjadi orang yang terdepan memiliki daya cipta, daya saing yang tinggi agar Batam ke depan menjadi bermartabat dan berakhlakul karimah secara integratif. Karena itu keilmuan kita tidak boleh berhenti pada ilmu agama saja, tapi harus interconnecting dengan ilmu umum atau sains, seni dan budaya.

“Kalian anak bangsa yang ditunggu-tunggu kiprah dan daya kreasi untuk menjadi jatidiri unggul bagi masyarakat Indonesia. Mudah mudahan pertemuan ini memberikan berkah yang luar biasa untuk kita semua,” tutup Prof Khairunnas Rajab yang kedatangannya didampingi sekretaris Kopertais Dr. Ahmad Masy’ari, M.H

Acara wisuda angkatan kedua ini mengukuhkan dan menetapkan 96 wisudawan-wisudawati strata satu (S1) pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Acara sakral nan khidmat ini dihadiri Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, LC,MA, Staf Ahli Walikota Batam Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Bapak Demi Haspinul Nasution. Ketua Badan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur yang juga ketua dewan senat, Ketua Pengurus Yayasan, Ustadz Khoirul Amri, dewan dosen, unsur organisasi DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, unsur Muslimat Hidayatullah, para tamu pendamping, serta undangan lainnya.

Acara Sidang Senat Terbuka Sarjana S1 angkatan kedua ini juga dirangkai dengan penugasan sarjana kader STIT Hidayatullah Batam. Para kader sarjana tersebut akan ditugaskan untuk berkhidmat pada agama dan bangsa yang dikirim ke seluruh pelosok nusantara.*/Azhari Tammase

Awal Mula Hilangnya Iman

BAGI seorang muslim, iman adalah segalanya. Iman adalah aset paling berharga dan menjadi kriteria pertama diterima atau tidaknya amal di hadapan Allah. Akan tetapi, sebagaimana lazimnya setiap aset berharga di dunia ini, ia selalu terancam bahaya.

Banyak pihak yang mengintai dan ingin mencurinya. Maka, tidak sedikit orang yang imannya lenyap, lalu mati dalam keadaan tidak memilikinya lagi. Tentu kita tidak ingin mengalaminya. Tetapi, bagaimana menjaga iman supaya tidak hilang?

Dalam Al-Qur’an, ketiadaan iman disebut juga dengan ketersesatan (dholal). Dan, pada dasarnya tidak ada manusia yang disesatkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang fasiq. Dengan kata lain, bila manusia telah menjadi fasiq, ia pasti akan tersesat.

Allah berfirman, “…dan, tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali orang-orang yang fasiq. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. al-Baqarah: 26-27).

Menurut Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, ayat di atas menunjukkan bahwa tidak ada yang disesatkan kecuali orang-orang yang meninggalkan ketaatan kepada Allah, tidak mau menuruti perintah maupun larangan-Nya, dan melanggar perjanjian yang telah Allah buat dengan mereka.

Dalam tafsir Zadul Masir dinyatakan, bahwa diantara sifat orang fasiq adalah menyalahi isi Al-Qur’an, memutuskan hubungan silaturrahim, dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.

Jelas bahwa kefasikan adalah kondisi ketika seseorang menelantarkan imannya, memperturutkan hawa nafsu, dan tidak memperdulikan hukum-hukum Allah. Ketika itulah imannya menjadi rapuh, lalu syetan merampasnya.

Maka, dalam al-Fiqh al-Akbar, Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak boleh kita katakan bahwa syetan merampas iman dari hati seorang hamba yang mukmin secara paksa dan sewenang-wenang. Namun, kita katakan bahwa seorang hamba itu meninggalkan imannya sehingga pada saat itulah syetan merampasnya.”

Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali menunjukkan bahwa keimanan sangat mudah goyah pada awal mula pertumbuhannya, apalagi di kalangan anak kecil dan kaum awam. Oleh karenanya, iman harus selalu diperkokoh.

Selanjutnya beliau berkata:

“Jalan untuk menguatkan dan meneguhkan iman bukanlah dengan mempelajari kemahiran berdebat dan teologi (ilmu kalam), akan tetapi dengan (1) menyibukkan diri membaca al-Qur’an berikut tafsirnya, (2) membaca hadits disertai maknanya, dan (3) menyibukkan diri dengan menunaikan berbagai tugas ibadah.

Dengan demikian kepercayaannya senantiasa bertambah kokoh oleh dalil dan hujjah al-Qur’an yang mengetuk pendengarannya, juga oleh dukungan hadits-hadits beserta faidahnya yang ia temukan, kemudian oleh pendar cahaya ibadah dan tugas-tugasnya.

Hal itu juga diiringi dengan (4) menyaksikan kehidupan orang-orang shalih, bergaul dengan mereka, memperhatikan tindak-tanduk mereka, mendengar petuah-petuah mereka, juga melihat perilaku mereka dalam ketundukannya kepada Allah, rasa takut mereka kepada-Nya, serta kemantapan mereka kepada-Nya.”

Imam al-Ghazali kemudian mengibaratkan awal mula keimanan dengan menabur benih, sementara seluruh amal tersebut di atas merupakan upaya menyiram dan merawatnya, sehingga akhirnya ia tumbuh berkembang, menjadi kuat dan meninggi sebagai pohon yang baik dan kokoh, akarnya teguh sedangkan cabang-cabangnya menjulang ke angkasa. Kelak, buahnya pasti lebat dan menguntungkan, dengan seizin Allah.

Pernyataan di atas dapat kita pahami pula dari sisi sebaliknya. Bahwa, ketika seseorang mulai menjauh dari Al-Qur’an, tidak mengenal hadits Nabi, kocar-kacir ibadahnya, dan memiliki lingkungan maupun teman bergaul yang rusak, berarti ia tengah menelantarkan imannya. Maka sangat boleh jadi, seperti kata Imam Abu Hanifah, syetan pun akan merampasnya. Na’udzu billah!

Bila seseorang menjauhi Al-Qur’an dan hadits, maka akar-akar iman di hatinya pun mulai goyah. Rasulullah bersabda, “Sungguh telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian – selama kalian selalu berpegang teguh kepadanya – maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Riwayat al-Hakim, dari Ibnu ‘Abbas. Hadits shahih).

Bila tugas-tugas ibadahnya berantakan dan ia lalaikan, maka Allah pun akan mengacaukan hati dan kehidupannya, hingga terasa sempit dan menggelisahkan.

Allah berfirman, “Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Qs. Thaha: 124).

Bila hanya ada orang-orang jahat di sekitarnya, maka masing-masing cuma perduli pada urusan perut dan syahwat, lalu satu sama lain akan menghalangi dari akhirat.

Dikisahkan oleh al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab al-Ikhwan, bahwa ‘Atha’ al-Khurasani pernah bertanya kepada Muhammad bin Wasi’, “Amal apakah yang paling utama di dunia ini?” Dijawab, “Menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara, apabila mereka saling bersahabat diatas kebajikan dan taqwa.”

Beliau melanjutkan, “Ketika itulah Allah akan menghadirkan kemanisan diantara mereka, sehingga mereka terhubung dan saling menyambungkan hubungan. Tiada kebaikan dalam menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara jika mereka menjadi budak dari perutnya masing-masing, sebab jika mereka seperti ini maka satu sama lain akan saling menghalangi dari akhirat.”

Oleh karenanya, Allah mengajari kita sebuah doa, agar iman dan hidayah senantiasa tertanam di hati dan tidak dilenyapkan-Nya.

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡكَ رَحۡمَةً ‌ ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ الۡوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menjadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” (Qs. Ali ‘Imran: 8).

Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Silaturahim Kapolsek dengan Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Balikpapan Timur, Komisaris Polisi (Kompol) Imam Syafi’i, mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan di Gunung Tembak, Balikpapan Timur. Kunjungan itu dilakukan Kapolsek pada Rabu, 21 Dzulhijjah 1443 (20/07/2022) siang.

Pantauan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah Gunung Tembak, Kompol Imam datang pada sekitar pukul 14.12 WITA.

Setibanya di Kantor Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Kapolsek disambut langsung oleh Kepala Humas YPPH Ustadz Hidayat Jaya Miharja.

Kehadiran Kapolsek juga diterima oleh Ketua YPPH Ustadz Hamzah Akbar dan Bendahara Ustadz Sujaib Saud.

“Assalamu’alaikum,” ucap Kapolsek kepada sejumlah pimpinan Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak lantas berjabat tangan.

Pertemuan antara Kapolsek dengan Pimpinan Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak berlangsung cair dan penuh keakraban.

Kompol Imam hadir mengenakan seragam korps baju coklat lengkap dengan peci hitam. Ia tampak semringah saat berkunjung langsung ke ponpes yang berada di wilayah hukum Polsek Balikpapan Timur tersebut.

Kehadiran perwira menengah tingkat satu ini dalam rangka bersilaturahim dengan pengurus pesantren sekaligus berdiskusi.

“(Beliau) bersilaturahim dan diskusi, juga minta didoakan,” ujar Ketua YPPH Ustadz Hamzah Akbar kepada MCU.

Tak lama kemudian, usai kegiatan itu, Kapolsek berfoto bareng dengan sejumlah pengurus YPPH Balikpapan.

Kahumas YPPH turut menyambut baik kehadiran pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia di pesantren yang berusia 50-an tahun ini.

Kapolsek pun meninggalkan Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak itu pada sekitar pukul 15.07 WITA.* (SKR/MCU)

Pembekalan Dai Sarjana di Batam Bahas Komunikasi Profetik

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said adalah komunikator yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam membentuk karakter para aktivis dakwah di Nusantara.

Demikian kata Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Ust Muhammad Sholeh Utsman dalam pemarannya tentang Komunikasi Profetik (prophetic ) pada acara Pembekalan Da’i Sarjana Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) Batam, Selasa, 20 Dzulhijjah 1443 (19/7/2022).

“Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku komunikan,” imbuh Sholeh, mengutip pendapat pakar komunikasi Profesor Hafied Cangara.

Dalam konteks inilah Ust Abdullah Said, lanjutnya, sebagai seorang komunikator ulung. Sebab mampu menghipnotis banyak orang saat itu dan membuatnya berubah.

“Coba bayangkan, ketika usianya masih belasan tahun ia sudah aktif dalam komunikasi publik melalui khutbah Jum’at dan majelis taklim di wilayah Makassar, Sulsel Sulteng dan sekitarnya. Beliau sudah orator,” sebut Sholeh.

Tentu ada kekuatan spirit yang dimiliki lewat ibadah, lanjutnya lagi, juga wawasan luas yang didapatkan lewat bacaan, dan secara lengkap menyatu dalam etos kerja dan semangat juang yang tinggi.

“Beliau itu tak kenal lelah, malam hari qiyamullail dan sangat lama. Itu yang dalam teori tadi disebut membangun komunikasi vertikal transendental kepada Allah SWT untuk memohon petuntuk,” tegasnya.

Di siang hari, kata Sholeh lagi, dioptimalkan untuk melakukan komunikasi secara horizontal mengajak manusia untuk terlibat dalam mewujudkan cita-cita besar ini.

Dalam pandangan Ust Abdullah Said, lanjut Sholeh menegaskan, bahwa membangun peradaban Islam tidak semudah membalik telapak tangan. Cita-cita agung ini ternyata membutuhkan pengorbanan yang tinggi baik secara lahir maupun batin.

“Bahwa idealisme yang dimilikinya sangat sulit untuk diwujudkan dalam realitas kehidupan tanpa melibatkan khalayak, terutama dukungan para tokoh, dan yang lebih utama lagi adalah dukungan pemerintah,” imbuhnya yang kini konsentrasi meneliti tentang Komunikasi Profhetic berbasis Manhaj Nubuwwah pada program doktoral.

Kata Sholeh, sebagai sosok komunikator yang handal, beliau selalu menjadikan komunikasi vertikal transendental kepada Allah SWT sebagai basis kekuatan spiritual, yang pada gilirannya menjadi washilah untuk menemukan solusi terhadap kompleksitas persoalan yang dihadapi.

Hal ini diantaranya didasari oleh hadits Rasulullah SAW berkenaan dengan wasiat beliau kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Apabila engkau meminta (hajat), maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

“Jadi, diantara komunikasi berbasis manhaj nubuwwah benar-benar menjadikan Allah Ta’ala sebagai tempat bergantung segala urusan, tempat bersandar dalam segala situasi,” imbuh Sholeh.

Menurut temuan Sholeh dalam penelitiannya, bahwa komunikasi berbasis wahyu tadi adalah struktur bangunan komunikasi vertikal transendental dalam surah al ‘Alaq, al Qalam, al Muzzammil, adalah sumber kekuatan. Selanjutnya surah al Muddatsir dan al Fatihah sebagai landasan filosofis untuk membangun koneksi dengan khalayak.

“Prinsip lima surah pertama turun tersebut merupakan konsep dasar beliau yang diyakini sebagai pola nubuwah, yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai pola komunikasi profetik,” simpul Sholeh.

Oleh karena itu, dalam beberapa momem Ust Abdullah Said sangat tegas menyatakan bahwa jangan pernah melakukan dakwah, ceramah, kalau anda tidak shalat tahajjud.

Dalam perspektif komunikasi, terang Sholeh, pernyataan itu berarti bahwa jangan anda melakukan komunikasi secara horizontal dengan khalayak, sebelum anda membagun komunikasi secara vertikal transendental kepada Allah Ta’ala.

Maka para kader perlu selalu diarahkan untuk cerdas dalam menata komunikasi kepada semua pihak. Baik dengan pemerintah maupun masyarakat secara umum.

“Kesemuanya itu dilakukan dengan penataan komunikasi vertikal transendental melaui munajat dan doa, yang kemudian akan melahirkan kecerdasan dalam komunikasi secara horizontal kepada semua khalayak,” imbuhnya memungkasi.

Untuk diketahui bahwa Kampus Utama Hidayatullah Batam menyelenggarakan Pembekalan Dai Sarjana untuk calon alumni di Perguruan Tinggi Hidayatullah Batam, yang terdiri dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah dan Institut Agama Islam Abdullah Said, selama tiga hari.

Acara dibuka oleh Pembina Kampus Utama Batam Ust Jamaluddin Nur. Dihadiri sejumlah pengurus inti DPP Hidayatullah yang menjadi pemateri seperti Kabid Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Ust Asih Subagio, Kadep SDI Ust Arfan, Kadep Organisasi Ust Samsudin, dan Pengurus Inti Yayasan dan DPW Kepri.

Pembekalan ini dimaksudkan untuk memberi penguatan dan wawasan tentang manhaj, jatidiri, program mainstream, dinamika organisasi, sejarah dan visi misi lembaga serta manajemen dengan pendekatan manhaj nubuwwah kepada 70-an peserta calon alumni kader. */Azhari Tammase

Pemimpin Umum Hidayatullah Kunjungi Wadi Barakah Maros

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurahman Muhammad menyempatkan berkunjung menikmati keindahan kawasan Wadi Barakah Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu, Pucak, Maros, Selasa sore, 20 Dzulhijjah 1443 (19/7/2022).

“Setiap rencana seberapa pun besarnya, Allah selalu lebih besar dan mahakuasa menentukan. Maka terus bersemangat, bersungguh-sungguh dan istiqamalah mendawamkan amalan yang menjadi strategi sukses sejak Rasulullah,” katanya.

Nasihatnya tersebut disampaikan di sela peninjauan dan mendengarkan pemaparan rencana pengembangan kawasan Wadi Barakah dan Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu oleh Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM.

Ia menagatakn, amalan yang menjadi rahasia kesuksesan para mujahid Islam yang diteladankan Rasulullah, menurut sosok penyuka sayur bening itu, semua sama yakni ketakwaan, menunaikan shalat malam, dekat dengan al Quran, wirid pagi petang, sedekah hingga berpuasa sunnah.

Pasukan terbaik dengan pemimpin terbaik Muhammad Al Fatih Penakluk Konstantinopel adalah pendawam amalan-amalan tersebut sejak belia, tambahnya di kesempatan terpisah pada tausiyahnya kepada santri tahfizh Hidayatullah Tompobulu.

Kunjungan tersebut diterima Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sulsel yang juga Dewan Pembinan Yayasan Al Bayan Ust Ir H Abd Majid MA dan jajaran pengurus Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar, badan pengelola Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu dan manajemen Wadi Barakah.

Ia mengaku terkesan dengan keindahan dan bentangan alam kawasan Wadi Barakah serta mendoakan kesuksesan dari sejumlah rencana pengembangan kawasan tersebut.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Ust Dr H Abd Qahhar Mudzakkar telah menetapkan kawasan Wadi Barakah Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu sebagai kawasan terintegrasi untuk pendidikan (pesantren pelatihan), pemukiman (kapling rumah kebun), wisata (outbond, villa, camping), komersil area (restoran, rest area), agro (perkebunan, peternakan, perikanan) hingga pekuburan dengan nuansa Islamiah, alamiah dan ilmiah.

Ajang internasional

Pada kesempatan terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu, Dirut Wadi Barakah Ir Muaz Yahya memaparkan konsep pengembangan kawasan Wadi Barakah di ajang internasional Arch.Id 2022, Indonesian Arcitectur Converention and Exebition, yang dihadiri wakil arsitek seluruh dunia.

Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) menetapkan desain pengembangan Wadi Barakah salah satu yang dipresentasikan mewakili konsep arsitektur dari Indonesia.

Muaz Yahya memaparkan kepada para arsitektur dan disiarkan secara live dari paviliun Indonesia timur ke seluruh dunia konsep dengan judul Wadi Barakah Hidayatullah Design Aproach with Sistimatika Wahyu.

Peserta talkshow series terpesona dengan deskripsi konsep Wadi Barakah memadukan unsur lokalitas Bugis Makassar perspektif Panrita Bola/Balla dengan Manhaj Nubuwah Islam. Direncanakan hanya 1 jam dipresentasikan namun menjadi 4 jam diskusinya.

Panrita adalah ahli atau cendikia atau orang yang ahli dalam bidangnya melalui kecerdasan dan kebijaksanaan. Panrita merancang secara kosmologi, sedang Arsitek merancang secara fungsi dan estetika, urai Sekretaris IAI periode sebelumnya tersebut.

Sedangkan Sistematika Wahyu merupakan manhaj gerakan Hidayatullah yang mengacu pada urutan turunnya wahyu, dijadikan sebagai pendekatan dan spirit dalam perancangan dan pemanfaatan kawasan Wadi Barakah seluas 35 ha itu.

Original Source