Program Dai Hinterland Diharap Cegah Degradasi Akhlak Masyarakat Pesisir
BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menggagas sebuah program penyebaran dai di kawasan pesisir yang bermukim di daerah terluar Kepri. Program ini dinamakan Dai Hinterland, dengan harapan sebagai program yang mumpuni untuk mencegah degradasi akhlak dan upaya penanaman ilmu agama.
Adalah Odirman Harefa, mahasiswa STIT Hidayatullah Batam salah satu dai yang ditempatkan di kawasan hinterland Provinsi Kepulauan Riau. Sudah lima bulan pemuda 25 tahun asal Pulau Nias, Sumatera Utara, ini menjalankan tugas sebagai mubaligh di Desa Pengikik, desa yang berjarak tempuh sekitar sembilan jam perjalanan laut dari pusat Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Tambelan sendiri adalah sebuah kecamatan terjauh dari sepuluh kecamatan yang ada di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Secara geografis kecamatan ini berdekatan dengan Pontianak Kalimantan Barat. Tambelan berjarak tempuh minimal 8-10 jam perjalanan laut dari Tanjungpinang.
Odirman Harefa menyatakan, jauhnya jarak tempat ia ditugaskan tidak menghalangi niat menjalankan tugasnya sebagai dai.
“Ini tidak lain karena warga di sana (Desa Pengikik) sangat membutuhkan keberadaan kita,” kata Odirman ditemui Selasa, 6 Dzulhijjah 1443 (5/7/2022).
Sudah tiga tahun Desa Pengikik tidak memiliki orang yang mengajarkan pendidikan agama.
“Mereka khawatir anak-anak mereka tidak tersentuh dengan pendidikan agama,” kata Odirman, yang merupakan kader STIT Hidayatullah Batam.
Warga berharap program Mubaligh Hinterland tidak hanya berlangsung hanya satu tahun, namun berkesinambungan.
Mayoritas penduduk Desa Pengikik Tambelan yang bermata pencarian sebagai nelayan mengakibatkan anak-anak yang ada di desa itu cenderung turut mengenyampingkan pendidikan, khususnya pendidikan agama.
Anak-anak desa di pulau terpencil itu cenderung mengikuti kebiasaan orang tuanya. Disibukkan dengan mencari ikan di laut, sehingga memunculkan kekhawatiran baru.
“Mereka (para orang tua) makin khawatir. Waktu mereka untuk keluarga sangat terbatas. Mereka khawatir karena tidak cukup waktu memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya,” papar Odirman.
Ibarat hujan, kehadiran mubaligh di Desa Pengikik adalah apa yang diharapkan oleh warga setempat. Salah seorang warga Pengikik, Suhardi (36) menyatakan kebahagiaannya. Ia berharap program Gubernur Ansar Ahmad ini dapat terus berlanjut.
Ia mengharap anak-anak di Desa Pengikik mendapat pendidikan agama, sama halnya dengan anak-anak di daerah lain yang mudah dijangkau.
“Kami menginginkan anak-anak kami setara dengan anak-anak di tempat lain,” ujarnya.
Selama lima bulan bertugas, Odirman Harefa menyebut telah cukup banyak aktivitas yang telah dilakukan. Di desa itu, dia bersosialisasi dengan masyarakat setempat, memberikan pemahaman pentingnya pendidikan agama bagi setiap keluarga.
Di sana ia juga mengajarkan anak-anak mengaji, serta ilmu fiqih, salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang menjadi pedoman menjalankan aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah.
Dalam kunjungannya ke Tambelan belum lama ini, Gubernur Kepulauan Riau, H Ansar Ahmad kembali menekankan pentingnya menempatkan dai di kawasan pelosok (hinterland).
Upaya ini ditegaskan Ansar untuk menjaga akidah masyarakat di antaranya diakibatkan minimnya pengetahuan agama serta permasalahan ekonomi yang tidak jarang mengakibatkan warga depresi dan putus asa.
“Cukup banyak kita mendapati berita mengenai peristiwa yang sangat miris belakangan ini diakibatkan minimnya dasar agama dan terpuruknya ekonomi,” kata Bupati Bintan dua periode itu yang mendasari dirinya menggagas program ini.
Tahun ini, sebanyak 50 dai/mubaligh ditempatkan di daerah perbatasan dan pulau-pulau terpencil di Provinsi Kepri. Para mubaligh ini diikat dengan kontrak untuk menjaga akidah masyarakat di wilayah terpencil.
“Kita mendorong iman masyarakat di kawasan terpencil agar tidak goyah dalam situasi seperti ini,” ujar Ansar.
Selain bertugas memperkuat keimanan dan mental masyarakat, da’i yang ditempatkan di kawasan terpencil ini juga ditugaskan mendata masjid atau mushala yang kondisinya dianggap kurang layak.
“Kita juga fokus pada pembenahan masjid di pulau-pulau terpencil supaya masyarakat bisa beribadah dengan baik dan nyaman,” ungkap Gubernur.
Menurutnya, program Mubaligh Hinterland ini bukanlah “barang baru”. Program serupa telah dijalankan ketika dirinya masih menjabat sebagai Bupati Bintan.
“Kita perlu menjaga akidah masyarakat kita,” pungkas Ansar.*/Azhari Tammase
Tingkatkan Kapasitas Lawyer LBH Hidayatullah Menggelar English Camp
CIANJUR (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan kapasitas serta memberikan pemahaman dan wawasan kebahasaan bagi lawyer dan paralegal sebagai bekal menjalankan peran dan fungsinya sebagai pendamping hukum di era 4.0, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah mengadakan English Camp.
Program yang bertajuk English Camp for Advocate and Paralegal LBH Hidayatullah ini digelar dimulai pada tanggal 26 Juni hingga 04 Juli 2022 di Ciloto, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, yang diikuti sebanyak 15 orang peserta advokat dan paralegal dari perwakilan LBH Hidayatullah di seluruh Indonesia.
Direktur LBH Hidayatullah Dr. Dudung Amadung Abdullah mengatakan program ini merupakan salah satu dari sekian program LBH Hidayatullah disamping ada program legislasi, edukasi, advokasi, dan rehabilitasi.
“English ini Camp ini bertujuan meng-upgrade kemampuan advokat dan paralegal LBH Hidayatullah dalam berbahasa Inggris” kata Dudung dalam keterangannya, Selasa, 6 Dzulhijjah 1443 (05/7/2022).
Ia menambahkan, kegiatan ini dilakukan sebagai respon atas kepercayaan dari beberapa lembaga internasional terhadap LBH Hidayatullah untuk mendampingi imigran internasional yang sedang berhadapan dengan hukum di Indonesia.
“Kegiatan ini akan berguna untuk negara kita dan saudara muslim kita di seluruh dunia,” tandasnya.
Hersona Bangun, salah seorang peserta camp program intensif bahasa Inggris, mengatakan program ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas lawyer seperti dirinya yang tak jarang harus mendampingi mereka yang membutuhkan bantuan hukum.
“Program ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendampingan hukum terhadap masyarakat khusnya untuk imigran-imigran yang berada di Indonesia,” kata Bangun, peserta camp dari DI Yogyakarta.
LBH Hidayatullah sendiri berkomitmen akan terus menggulirkan kegiatan pemantapan mutu dan kualitas secara sinambung terutama yang berkenaan dengan skil praktis yang dibutuhkan lawyer dan paralegal di era 4.0 saat ini.
“Doakan kedepannya juga ada kelas mentoring khusus bahasa Arab bagi lawyer,” kata Darwiwing, panitia pelaksana. Acara ini disponsori oleh Laznas BMH serta didukung Hidayatullah Institute, STIE Hidayatullah, dan sejumlah pihak lainnya.*/Ainuddin
[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Adha 1443 Hijriyah
BERIKUT naskah khutbah Idul Adha 1443 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.
Kegigihan Seorang Ayah untuk Kebaikan Agama Anaknya

“NANTI kalau ke Tulungagung, bisa ketemu dengan teman alumni angkatan kita di Pesantren Hidayatut Thulab Trenggalek,” kata seorang teman.
“Insyaallah, coba minta nomor HP dan lihat foto profilnya”
“Ini,” sambil teman menyodorkan HP-nya.
“Eh, serius. Ini teman kita alumni pesantren. Kok rambutnya pirang dan tampilannya begini,” kata saya heran dan setengah tak percaya.
“Iya betul, teman kita itu”
Beberapa saat kemudian, kami berangkat silaturahim dan kebetulan tempat kerjanya itu berdekatan dengan alamat yang kami tuju. Sebenarnya agak ragu, apakah ini betul teman tersebut, dan masih kenalkah dia dengan saya.
Tapi saya tetap melangkah ke tempat kerjanya. Ketuk pintu kantor dan nengucapkan salam. Karyawan menjawab dan membuka pintunya.
Setelah menunggu beberapa menit, datanglah bosnya, yaitu teman yang saya cari. Setelah masuk, saya sapa duluan.
“Assalamualaikum, sampean Agus Yaman?”
“Waalaikumussalam, iya betul. Sampean angkatan harmoni juga?,” tanyanya balik.
“Iya betul,” jawab saya sambil teringat nama dan buku album angkatan yang dikasih judul Harmoni.
“Coba, mana foto sampean?,” tiba tiba dia menyodorkan buku album Harmoni warna coklat tidak asing yang saya juga simpan di lemari rumah.
Langsung saya ambil dan buka, serta tunjukkan foto saya ada di dalam album harmoni. Meski wajah sudah berubah. Pertemuan itu pun berlangsung cair dan hangat.
Buku album Harmoni senantiasa dia bawa ke mana-mana seperti buku pusaka. Sebagai kenangan, juga untuk mengingat teman-teman.
“Putranya sekolah di mana,” tanya saya.
“Anak pertama di SMA, kedua di pesantren, dan yang ketiga masih SD di rumah. Saya sempat stress rasanya ketika anak pertama saya ajak keliling ke 5 pesantren. Tapi ternyata dia tidak tertarik masuk pesantren,” cerita dia sambil mengenang kejadian dulu.
Memang kadang keinginan anak berbeda dengan keinginan orangtua. Saya salut, meski sang ayah berambut pirang dan kebetulan kerjanya usaha salon. Tapi keinginannya sangat gigih agar anaknya masuk pesantren dengan harapan jadi anak shaleh.
“Akhirnya saya ikuti keinginannya sekolah di SMP Negeri dan lanjut SMA. Tapi dengan satu syarat yang tidak boleh ditawar, kalau tidak maka harus masuk pesantren,” kata Agus melanjutkan dengan nada semangat
“Apa satu syarat itu,” tanya saya penasaran.
“Shalat!. Ketika datang waktu shalat harus segera shalat tanpa disuruh suruh lagi hingga mati nanti,” jawabnya tegas.
Subhanallah luar biasa teman ini. Penampilan memang seperti preman tapi punya prinsip kuat tentang shalat dan pendidikan anak. Alhamdulillah, hingga sekarang anaknya berprestasi dan taat dengan pesan orangtuanya.
Agus Yaman ini selain membawa buku album Harmoni juga membawa kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al Ghazali di tempat kerjanya. Artinya, kemampuan baca kitabnya tidak hilang.
Orang mungkin hanya memperhatikan penampilannya dan sedikit orang tahu bahwa dia alumni pesantren. Ia pandai baca kitab gundul dan berceramah. Punya prinsip kuat tentang kewajibannya kepada Allah seperti shalat.
Kadang kita sering terjebak dengan penampilan. Terburu buru menilai, menjustifikasi, bahkan ada yang menjauhi dan memusuhi hanya karena sebuah penampilan.
Ada orang yang tampilannya berjubah tapi ternyata shalatnya amburadul. Ada yang tampilannya kaos, celana jins, tapi shalatnya terjaga. Idealnya sesuai penampilan dan hatinya.
Seperti kata pepatah “jangan menilai buku dari sampulnya”. Semoga kita tidak terjebak dengan penampilan lalu terburu buru memberi penilaian. Semoga Allah SWT senantiasa memperbagus hati dan akhlak kita.
ABDUL GHOFAR HADI
Seminar Internasional Mahasiswa PUZ Terima Sanad Hadits dari Ulama Mesir

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah Balikpapan mengadakan seminar internasional di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur belum lama ini.
Ulama asal Mesir, Syeikh Prof Dr Washfiy ‘Asyur Abu Zayd sebagai pembicara pada seminar itu menjelaskan secara gamblang terkait maqashid syariah.
Seminar yang berdurasi kurang lebih tiga jam itu diikuti oleh puluhan mahasiswa STIS Hidayatullah putra. Dengan semangat, pakar bidang usul fiqh dan maqashid syariah ini menjelaskan kepada seluruh peserta yang hadir pada seminar itu menggunakan Bahasa Arab.
Pengajar PUZ, Ustadz Huwaydi, merasa senang atas kehadiran Syeikh Washfiy. Ia mengaku apa yang disampaikan oleh Syeikh Washfiy adalah ilmu yang sangat luar biasa yang harus diseriusi, terutama oleh mahasiswa STIS Hidayatullah yang belajar ilmu syariah.
“Jadi beliau tadi itu menjelskan secara gamblang apa itu maqashid syariah, beliau mengungkapkan bahwa maqashid dan syariah itu dua hal yang tidak bisa terpisahkan,” jelasnya saat diwawancara Media Center Ummulqura (MCU) – STIS Hidayatullah.
“Tentu kita yang di jurusan syariah ini ya sangat erat hubungannya dengan apa yang beliau sampaikan tadi ya. Itu sangat penting dan beliau juga menyampaikan juga kepada kita cara mempelajari ilmu itu ada sepuluh. Itu harus selalu kita ikuti karena itu penting,” lanjutnya, Jumat (24/06/2022).
Dalam seminar yang dihadiri oleh Ketua STIS Hidayatullah, Ustadz Zaim Azhar itu, Syeikh Washfiy menjelaskan bahwa maqashid syariah merupakan hal yang penting dipelajari oleh kaum Muslimin, terutama bagi para penuntut ilmu. Sebab, jelasnya, dengan maqashid syariah ini akan mudah dalam memecahkan permasalahan yang ada di tengah umat.
Ahmad Syauqi, mahasiswa STIS yang tengah mengerjakan proposal skripsinya, juga merasa senang atas kehadiran Syeikh Washfiy dalam seminar.
“Alhamdulillah senang karena bisa bertemu orang berilmu seperti beliau dan banyak sekali ilmu yang kita dapati sebenarnya jika kita paham terhadap apa-apa yang beliau sampaikan,” ucapnya usai seminar di Meeting Room Kantor YPPH Balikpapan itu.
Di akhir acara, seluruh peserta yang hadir di ruangan diberikan sanad hadits yang mulia oleh Syeikh Washfiy.
“Jadi ada hadits yang beliau (Syeikh Washfiy, red) sampaikan. Dalam penggalan hadits itu Rasulullah menyebutkan, ‘Ana uhibbuka’, jadi seolah-olah sanad hadits itu Rasulullah menyampakannya ke kita. Hadits itu sampai kepada Muadz lalu sampai kepada Prof Dr Washfiy ‘Asyur Abu Zayd kemudian beliau menyampaikannya ‘ana uhibbukum’, dan kami menjawabnya sebagaimana Rasulullah menyuruh Muadz menjawab. Lalu kami mengucapkannya secara serentak, dan Alhamdulillah sanad itu sampai kepada kami dan seluruh peserta yang ada di ruangan,” tutup Ustadz Huwaydi.
Sebagaimana diberitakan MCU sebelumnya, Salah seorang ulama asal Mesir, Syeikh Dr Washfiy ‘Asyur Abu Zayd, mengunjungi Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dalam kunjungan selama dua hari, Kamis malam sampai Jumat siang (23-24/06/2022) itu, Syeikh Washfiy bersilaturahim dengan segenap warga, santri, dan jamaah Hidayatullah Gunung Tembak.
Kehadiran Syeikh Washfiy disambut langsung oleh pengurus dan dosen PUZ-STIS Hidayatullah Balikpapan, antara lain Mudir PUZ Ustadz Muhammad Dinul Haq dan Dosen PUZ Ustadz Muzhirul Haq.
Washfiy saat ini merupakan dosen di sejumlah perguruan tinggi luar negeri, antara lain Universitas Alamiyah littajdid Istanbul (Turki) dan Universitas Tarables Libanon.
Syeikh Washfiy juga merupakan gurunya Ustadz Muzhir semasa kuliah di salah satu universitas di Istanbul beberapa tahun lalu. Kedatangan Dr Washfiy bisa dibilang sebagai ajang reuni kedua guru-murid tersebut.* (MUAS/MCU)
Geliat Layanan Dakwah dan Pendidikan Hidayatullah Tulungagung

TULUNGAGUNG (Hidayatullah.or.id) — Selain dikenal dengan kulinernya yang memiliki julukan istimewa sebagai Kota Seribu Warung Kopi, Kabupaten Tulungagung juga dikenal dengan masyarakatnya yang guyub dan luwes. Hidayatullah pun telah hadir kota ini dengan sambutan yang baik.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Tulungagung, Ust Muhammad Arifin, mengatakan saat ini Hidayatullah terus memantapkan gerakannya terutama dalam dedikasinya dalam pelayanan umat di bidang dakwah dan pendidikan yang menjadi mainstream gerakan Hidayatullah.
“Masih banyak program kerja yang menjadi PR kami di DPD Hidayatullah Tulungagung ini, semoga bertahap terselesaikan,” kata Arifin yang ditemui di Komplek Yayasan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Nurul Iman, Jln Sultan Agung, Gang V Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Ahad, 4 Dzulhijjah 1443 (3/7/2022).
Sebagaimana lainnya, dinamika dakwah Islam melalui Hidayatullah di setiap daerah-daerah memang berbeda-beda tantangannya. Semua memiliki karakteristik dan kultur masyarakat yang berbeda. Sehingga memerlukan pendekatan dan metode yang berbeda untuk melaksanakan program tarbiyah, dakwah, termasuk gerakan sosial dan ekonomi.
Selain bergerak di bidang dakwah dalam pembinaan umat, sosial, dan pemberdayaan, Hidayatullah Tulungagung kini mengelola sejumlah amal usaha di bidang pendidikan.
Arifin menjelaskan, Hidayatullah Tulungagung memiliki tiga amal usaha yayasan pendidikan. Ketiganya memiliki sejarah yang berbeda dan fokus kerja yang berbeda juga.
Dalam perjalanannya, kata dia, sebenarnya Hidayatullah Tulungagung pernah mengalami kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan. Tapi ada permasalahan yang membuat jatuh bangun lagi. Sehingga kerja keras untuk meraih kesuksesan kembali.
Adapun amal usaha pendidikan tersebut, yaitu, Pertama, Yayasan An Nasrh, yang terletak di bilangan Cuwiri, Sidorejo, Kecamatan Kauman. An Nashr memiliki amal usaha TPA, KBTK, dan Sekolah Dasar Integral (SDI).
“Muridnya sudah seratus lebih, terus melakukan perluasan lahan dan pembangunan sarana,” kata Arifin.
Letak lokasi Yayasan An Nasrh cukup strategis untuk terus dikembangkan. Kepercayaan masyarakat juga mulai terbangun dengan animo pendaftaran santri baru yang selalu meningkat.
Kedua, ada Yayasan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Nurul Iman di Ketanon Kedungwaru. Amal usaha ini dikhususkan untuk kegiatan sosial atau menfasilitasi anak yatim piatu dan tidak mampu untuk tetap bisa belajar.
“Santrinya usia SMP putra tapi jumlahnya belum banyak. Tidak dipungut biaya,” terang Ketua Yayasan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Nurul Iman, Ust Giyarno.
Giyarno yang merangkap ketua BMH Tulungagung mengaku sedang juga bergairah untuk memajukan pendidikan di Nurul Iman ini. Di pondok ini ada pembelajaran tahfidz al Qur’an, hadist, bahasa Arab, dan diniyyah. Ada skill memanah juga dilatihkan kepada para santrinya.
Di lokasi Nurul Iman, ada fasilitas mushala An-Nadhifah yang dibangunkan oleh keluarga ibu Nadzifah. Ada pula asrama, kelas sekolah dan kantor. Meski ada di tengah lokasi perkampungan tapi kondusif.
Kemudian amal usaha yang Ketiga, ada Surya Melati Hidayatullah yang biasa disingkat SMH. Sekarang ini SMH dikerjasamakan dengan Ar Rahmah Putri Malang untuk pengembangannya.
“Terutama kerjasama pembangunan fasilitas kelas dan asrama, manajemen, dan kurikulum untuk pendidikan SMP,” jelas pengurus Surya Melati Hidayatullah Tulungagung Ust Umar Tauhid.
Selain itu, di SMH Tulungagung juga sudah ada pendidikan TK dan SD. Lokasi cukup luas dan terus diperluas dengan pembebasan areal sekitar pondok. Ada 9 rumah tangga yang tinggal di kampus SMH.
Umar Tauhid yang diamanatkan di SMH Tulungagung memiliki banyak pengalaman namun masih tetap perlu tim kuat. Sebelumnya ia mengawal SMH ini bersama almarhum Ust Basori.
Kendala kurangnya Sumber Daya Insani (SDI) menjadi PR tersendiri bagi Hidayatullah Tulungagung. Banyak amal usaha dan peluang besar untuk mengembangkan lebih bagus lagi. Itu tantangan menarik untuk membangun soliditas tim, melakukan rekrutmen, merawat dan pembinaan anggota.*/Abdul Ghofar Hadi
Amil Tugas Mulia, Teguhkan dengan Ibadah dan Akhlak Islam

TULUNGAGUNG (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pengawas Syariah Laznas BMH Ust Abdul Ghofar Hadi menegaskan bahwa amil zakat merupakan tugas mulia yang mesti diteguhkan dengan kekuatan ibadah dan akhlak islam.
“Menjadi amil zakat adalah tugas mulia, karena ia jihad untuk menegakkan salah satu rukun islam yaitu zakat. Sehingga harus semangat, berani dan kreatif,” kata Ghofar.
Hal itu disampaikannya dalam acara Kajian Rutin Penguatan dan Pencerahan Pekanan BMH Tulungagung yang diikuti seluruh amil kantor lembaga tersebut di Jln. MT Haryono Gg. IV No.6, Kedungwaru, Bago, Kabupaten Tulungagung, Jawa, Senin, 5 Dzulhijjah 1443 (4/7/2022).
Menjadi amil juga berarti menegakkan ajaran Islam seperti harus amanah, bertanggung jawab, dan senantiasa mengedepankan nilai dan akhlak Islam dalam setiap kesehariannya sebab demikianlah sejatinya kepribadian setiap muslim.
“Tugas menjadi amil itu tidak mudah. Selain skill komunikasi yang bagus dan sopan, juga harus memiliki pengetahuan seputar zakat, punya mental yang kuat dan kesabaran,” kata Ust Ghofar menambahkan.
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (Wasekjen DPP) Hidayatullah ini juga menyampaikan sejarah berdirinya Hidayatullah dari awal hingga fase sekarang. Ia menceritakan secara singkat mengapa dan bagaimana Hidayatullah bisa berdiri dan hadir di seluruh propinsi dan kabupaten.
“Memahami sejarah itu penting agar ada kearifan dan mendapatkan motivasi, inspirasi,” katanya.
Ia juga menghubungkan dengan sejarah Muhammad sebelum dan sesudah diangkat menjadi nabi serta Bbagaimana resiko dan konsekwensi membawa risalah kenabian beliau yang harus siap diintimidasi, dibully, diusir, diboikot bahkan diancam dibunuh.
“Menjadi amil zakat di BMH, terkadang juga berhadapan dengan permasalahan yang tidak mengenakkan. Masalah itulah yang mengkondisikan untuk lebih bermujahadah dan bermunajat atau berdoa,” katanya.
Ust Ghofar mengimbuhkan, ujian yang paling berat adalah ujiannya para nabi dan rasul. Padahal mereka orang terpilih, mulia, dan dijamin masuk surga. Ujian itulah yang mengantar untuk senantiasa dekat kepada Allah.
“Sehingga menjadi amil zakat, harus rajin beribadah. Rajin berinfaq. Shalat lail, shalat dhuha, dan shalat berjamaah lima waktu harus diprioritaskan. Ketika adzan berkumandan Allahu Akbar, Allah Maha Besar, maka kita harus spontan untuk membesarkan Allah dengan bersegera ke masjid,” pesannya.
Terakhir, Ust Ghofar juga menyampaikan tentang pentingnya membina keluarga yaitu anak istri. Dia menegaskan, jika keluarga bermasalah maka berat bagi suami untuk konsentrasi dan sukses bekerja.
“Bagi amil yang belum menikah, harus mencari istri yang benar dan bagus bagi agama, serta kebahagiaan dunia akherat,” katanya sembari tersenyum.
BMH Tulungagung sendiri saat ini sedang fokus dalam program Qurban. Dalam pengantarnya, Kepala Perwakilan Kantor BMH Tulungagung Giyarno mengatakan timnya terus bekerja baik dalam memastikan raihan pencapaian dan sasaran distribusi hewan qurban.
“Alhamdulillah sudah 30 ekor, semoga masih ada waktu satu pekan ini bisa melampaui tahun lalu yang dapat 35 ekor,” kata Giyarno.
Ada optimisme, komitmen, dan kerja keras yang menjadi salah satu karakter amil BMH secara nasional. Giyarno sendiri merupakan alumni SMA Lukman Hakim Surabaya dan belum lama ini telah menuntaskan studi S1 di STAIL Surabaya.
Pengalamannya di BMH, Giyarno pernah 5 tahun merintis BMH di Nganjuk, lalu dimutasi ke BMH Kediri beberapa tahun. Dan kini, telah 5 tahun berjalan ini di BMH Tulungagung yang merintis sedari awal. (ybh/hio)
Perbedaan Idul Adha: Hari Arafah dan Shalat Id Ikut Siapa?

HARI ini umat dihadapkan perbedaan pendapat penentuaan Idul Adha, akibatperbedaan keputusan awal Dzulhijjah yang otomatis berbeda juga hari Arafah antara Pemerintah Saudi Arabia dan pemerintah kita. Peristiwa ini mengingatkan kita para Idul Adha tahun 1439 H atau 2018 M, dimana saat itu terjadi perbedaan keputusan antara Saudi dengan Indonesia.
Saat itu, Arab Saudi menetapkan Idul Adha 21 Agustus, dan Indonesia tanggal 22 Agustus. Sementara wukuf di Arafah berlangsung pada 20 Agustus 2018.
Tahun ini, sesuai hasil sidang isbat awal Dzulhijah yang digelar Kemenag pada 29 Dzulkaidah 1443 H atau hari Rabu (29/6/2022), pemerintah memutuskan pelaksanaan Idul Adha pada Ahad 10 Juli 2022. Sedangkan PP Muhammadiyah menetapkan 1 Dzulhijah 1443 hijriah jatuh pada hari Kamis, 30 Juni 2022, dan Hari Arafah 9 Zulhijah 1443 hijriah jatuh pada hari Jumat, 8 Juli 2022.
Karena itu, PP Muhammadiyah menetapkan Idul Adha 10 Dzulhijah 1443 hijryiah jatuh pada Sabtu, 9 Juli 2022.
Kaum musliminin biasanya akan berbeda pendapat dalam sikap sebagai berikut:
Ada yang ikut pemerintah dalam Arafah dan idhul adha secara mutlak.
Ada yang ikut Saudi Arabia dalam Arafah dan idhul adha secara mutlak.
Ada yang ikut Saudi Arabia dalam Arafah saja, sedangkan idhul adha tetap ikut pemerintah.
Masalah ini masalah yang diperselisihkan ulama. Adapun pendapat yang kuat menurut kami adalah tetap ikut negara masing-masing dengan beberapa argumen kuat sebagai berikut:
Pertama, hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah ﷺ:
الصَّوْمُ يَوْمَ يَصُوْمُ النَّاسُ وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ والأضحى يوم يضحي الناس
Puasa itu hari manusia berpuasa dan hari raya Idul Fitri itu hari manusia berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha itu hari manusia berhari raya Idhul Adha.
Perhatikanlah, Nabi tidak membedakan antara Idul Fitri dan Idhul Adha. Abul Hasan as-Sindi berkata dalam Hasyiyah Ibnu Majah: “Dhohir hadits ini bahwa masalah-masalah ini (puasa, Idul Fitri dan Idhul Adha) bukan urusan pribadi, tetapi dikembalikan kepada imam dan jama’ah. Dan wajib bagi personil untuk mengikuti imam dan jama’ah. Oleh karenanya, apabila seorang melihat hilal lalu imam menolak persaksiannya, hendaknya dia tidak mengikuti pendapatnya tetapi dia harus mengikuti jama’ah dalam hal itu.”
Kedua, hal ini sesuai dengan kaidah-kaidah Islam:
حُكْمُ الْحَاكِمِ يَرْفَعُ الْخِلاَفَ
“Keputusan hakim menyelesaikan perselisihan.”
Oleh karenanya, para fuqaha’ menegaskan bahwa hukum/keputusan pemerintah dalam masalah ini menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat, karena hal ini akan membawa kemaslahatan persatuan kaum muslimin yang juga merupakan kaidah agung dalam Islam. (Lihat Al-Istidzkar Ibnu Abdil Barr 10/29 dan Rosail Ibnu Abidin 1/253).
Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syaukani tatkala mengatakan: “Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah”. (dalam Al-Fathur Robbani 6/2847-2848).
Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhu Masyakhina Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, beliau berkata: “Demikian juga hari Arafah, ikutilah negara kalian masing-masing.” Kata beliau juga: “Hukumnya satu, sama saja (baik dalam Idul Fitri maupun Idhul Adha)”.(dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 19/41, 43).
Jawaban terhadap pendapat yang tidak mengikuti pemerintah
Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Arafah ikut Saudi karena Arafah itu berkaitan dengan tempat, sedangkan Arafah hanya ada di Saudi Arabia, maka pendapat ini perlu ditinjau ulang kembali, karena beberapa hal:
Pertama: Akar perbedaan ulama dalam masalah ini bukan karena Arafah itu berkaitan dengan tempat atau tidak, tetapi kembali kepada masalah ru’yah hilal Dzulhijjah, apakah bila terlihat di suatu negara maka wajib bagi negara lainnya untuk mengikutinya ataukah tidak? Dengan demikian, maka patokan Arafah adalah tanggal sembilan Dzulhijjah, adapun istilah “Arafah” hanya sekedar mim bab Taghlib (kebanyakan saja).
Marilah kita cermati hadits berikut:
فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ
“Apabila hilal Dzulhijjah telah terlihat, dan salah seorang diantara kalian hendak berkurban, maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih kurbannya.” (HR: Muslim)
Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa patokannya adalah terlihatnya hilal Dzilhijjah.
Kedua: Kalau akar permasalahannya adalah karena tempat, hal itu berarti semua kaum muslimin harus mengikuti ru’yah Dzulhijjah Saudi Arabia. Sedangkan hal ini tidak mungkin kalau tidak kita katakan mustahil, karena para ulama falak -seperti dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- telah bersepakat bahwa mathla’ hilal itu berbeda-beda.
Dengan demikian maka mustahil bila semua kaum muslimin di semua negara ikut ru’yah Saudi Arabia, karena dimaklumi bersama bahwa antara jarak antara negara bagian barat dan timur sangat jauh sehingga menyebabkan perbedaan tajam tentang waktu terbit dan tenggelamnya matahari, mungkin matahari baru terbit di suatu tempat sedangkan dalam waktu yang bersamaan matahari di tempat yang lain akan terbenam?! Lantas, bagaimana mungkin semua kaum muslimin sedunia bisa berpuasa dan hari raya dalam satu waktu? (Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah, Muhammad Burhanuddin hlm. 98-99. Lihat pula Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 19/47).
Ketiga: Kalau semua kaum muslim sedunia harus mengikuti ru’yah Saudi dalam Arafah, kita berfikir jernih dan bertanya-tanya: Kalau begitu, bagaimana dengan orang-orang dulu yang tidak memiliki HP atau telpon seperti pada zaman sekarang?! Apakah mereka menunggu khabar dari saudara mereka yang berada di Arafah saat itu?! Apakah perbedaan seperti ini hanya ada pada zaman kita saja?! Bukankah perbedaan seperti sudah ada sejak dahulu?!
Al-Hafizh Ibnu Rojab menceritakan bahwa pada tahun 784 H terjadi perselisihan di Negerinya tentang hilal Dzul Qo’dah yang secara otomatis terjadi perbedaan tentang hari Arafah dan idhul adha-nya. (Risalah fi Ru’yati Dzil Hijjah (2/599 –Majmu Rosail Ibnu Rojab-).
Karenanya, di zaman Ibnu Hajar terjadi perbedaan antara penduduk mekah dan penduduk Mesir dalam menentukan hari Arafah dan hari raya Idul Adha. Demikian juga Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, beliau berkata: “Tatkala itu wuquf (padang Arafah) di Makkah hari Jum’at -setelah terjadi perselisihan-, sementara hari raya Idhul Adha di Qahirah (Mesir) adalah hari Jum’at”. (Inbaa’ Al-Ghomr bi Abnaa’ al-Umr fi At-Taariikh 2/425).
Seandainya para ulama dulu ikut ru’yah Saudi Arabia, lantas kenapa masih ada perselisihan semacam ini?
Keempat : Jika memang yang ditujukkan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya para jama’ah haji di Padang Arafah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Sorong (Papua), yang perbedaan waktu antara Makkah dan Sorong adalah 6 jam? Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Makkah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam.
Dan tatkala penduduk Makkah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Makkah-, maka di Sorong sudah jam 6 Maghrib? Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf?
Kelima: Jika seandainya terjadi malapetaka atau problem besar atau bencana atau peperangan, sehingga pada suatu tahun ternyata jama’ah haji tidak bisa wukuf di padang Arafah, atau tidak bisa dilaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, maka apakah puasa Arafah juga tidak bisa dikerjakan karena tidak ada jama’ah yang wukuf di padang Arafah?
Jawabannya tentu tetap boleh dilaksanakan puasa Arafah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arafah. Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah yang dimaksudkan adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Keenam: berhari raya dengan hasil rukyah negara masing-masing adalah amalan Sahabat dan Tabi’in, dan salah satu pendapat yang kuat dalam Madzhab Syafi’i. Bahkan Syeikh Utsaimin, ulama Arab Saudi yang banyak dirujuk Salafi juga menfatwakan hal yang sama.
Imam Muslim meriwayatkan dari Kuraib– bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam. Kuraib meceritakan: “Ketika itu masuk tanggal 1 Ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah.”
Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas ra. bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib. Ibnu Abbas menjelaskan:
لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ
Artinya: “Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”
Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?” Ibnu Abbas ra menjawab:
لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
“Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR: Muslim no. 1087).
Maka Ibnu Abbas yang berada di Madinah berpuasa dengan rukyah Madinah, tidak dengan hasil rukyah Negeri Syam (Khalifah Muawiyah). Padahal beliau sudah diberitahu hasil rukyah Negeri Syam. Dan tidak main-main Ibnu Abbas memberikan jaminan dan menyatakan: “Begitu Rasulullah ﷺ mengajarkan.”
Imam An Nawawi ra. menyatakan tentang hadits Kuraib ini, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.” (Syarah Nawawi).
Ketujuh: Puasa Arafah adalah puasa pada tanggal 9 Zulhijah. Bukan puasa ketika orang wukuf di Arafah. Sebab, syariat Idul Adha dan puasa 9 Zulhijjah lebih dahulu dari pada syariat kewajiban haji.
Idul Adha sudah disyariatkan pada tahun ke 2 Hijriah. Sedangkan Ibadah haji baru disyariatkan pada tahun ke 6 Hijriah. Dan Rasulullah ﷺ baru berhaji pada tahun ke 10 H.
Jadi, Rasulullah sudah beridul Adha dan puasa 9 Dzulhijah jauh sebelum wajibnya ibadah haji, jauh sebelum adanya wukuf di Arafah.
Dan kalau puasa Arafah itu puasanya harus bersamaan dengan saat orang wukuf di Arafah, maka kaum muslimin yang berada di negara yang berbeda 10 jam atau lebih dari Arab Saudi, tidak akan pernah bisa melaksanakan puasa Arafah. Karena, saat mereka berpuasa, wukuf sudah selesai, dan Arafah sudah kosong.
Ala kulli hal (bagaimanapun juga), kami sangat menyadari bahwa masalah ini adalah masalah khilafiyyah mu’tabar, namun sebagai usaha persatuan kaum muslimin, kami menghimbau agar kaum muslimin tidak menyelisihi pemerintah mereka masing-masing karena hal itu berdampak negatif yang tidak sedikit, apalagi ini merupakan himbaun Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kemenag yang dalam hal ini mewakili pemerintahan Indonesia. (Lihat Himpunan Fatwa Majlis Ulama Indonesia hlm. 42).
Sebagaimana juga kami menghimbau kepada para dai dan mubaligh serta para ustadz untuk menanamkan kepada masyarakat agar cerdas dalam menyikapi perbedaan dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan seperti ini.
Bila ada yang berkata: “Pendapat ini berarti menjadikan pemerintah sebagai Tuhan selain Allah”. Maka kami katakan: Ini meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, ucapan ini kalau memang pemerintah merubah ketentuan syari’at lalu kita mengikutinya, adapun masalah kita sekarang adalah masalah ijtihadiyyah dan khilafiyyah yang mu’tabar, maka sangat tidak tepat sekali ucapan di atas diletakkan dalam masalah ini. Wallahu A’lam. (lihat Risalah fi Hilal Dzil Hijjah karya Ibnu Rojab 2/608).* (Artikel oleh Hidayatullah.com yang diambil dari Buku Kumpulan Fatwa Majelis Syuro Hidayatullah)
Ke Terminal Sambil dengar Curhatan Tukang Ojek Terjerat Judi Online

SEBENARNYA sejak kemarin ingin berangkat ke Tulungagung, untuk menghadiri pernikahan salah satu staff DPP Hidayatullah. Namun qadarullah, tidak dapat tiket kereta.
Akhirnya dapat tiket bus hari ini, meski mepet waktunya. Sesaat sebelum berangkat, sempat ada keraguan ketika ada tawaran untuk ikut rombongan mobil bersama teman-teman staff. Kebetulan ada satu kursi kosong. Mungkin lebih santai dan nyaman.
Namun sudah terlanjur pesan tiket bus, meski belum bayar. Sudah pesan Grab motor juga untuk ke terminal Pulo Gebang. Keduanya bisa saja dibatalkan. Keraguan itu sekitar dua menit.
Bismillahirrahmanirrahim, putuskan untuk tetap naik bus dan grab ke terminal. Ketika naik Grab motor, driver langsung bertanya
“Bapak seorang ustadz?”
“Iya begitulah,” jawab saya sekenanya sambil memperbaiki helm dan menduga mungkin driver mendengar percakapan sesaat sebelumnya yang semua staf memanggil saya dengan sebutan ustadz.
“Begini pak ustadz, saya terkena judi online. Saya mau taubat tapi belum bisa sepenuhnya. Terkadang masih terikut,” kata anak muda ini dengan semangat bercerita dan bertanya.
Subhanallah, mungkin doa anak muda driver Grab ini sehingga saya harus bertemu dengannya dan naik bus.
“Mas, selama ini shalatnya gimana,” tanya saya sederhana
“Ee…ee, kalau di rumah mertua rajin pak ustadz. Tapi kalau lagi jalan begini terkadang buntu atau bolong. Alias tidak shalat,” katanya agak ragu awalnya tapi polos menjawabnya.
“Begini Mas, kalau kita menjaga kewajiban kepada Allah maka Allah akan menjaga kita dari hal-hal yang tidak baik, termasuk seperti judi online. Dalam shalat ada doa, harapan dan keyakinan,” jawab saya agak normatif.
“Oh begitu pak ustasz”
“Mas, jam berapa bangun tidurnya”
“Jam 02.00, kadang jam 03.00”
“Apa yang dikerja, kalau bangun tidur jam segitu”
“Mandi, masak untuk sarapan, menyiapkan perlengkapan kerja dan menunggu waktu shalat subuh,” jawabnya runtut
“Alhamdulillah, mulai malam ini ditingkatkan. Setelah mandi, wudhu dan berdiri shalat hajat dua rakaat. Sampaikan hajat mas kepada Allah kalau perlu menangis dalam sujud karena lemah dan ingin banget lepas dari judi online”
“Insyaallah ustasz”
“Bagaimana cerita awal bisa kena judi online”
“Dari teman ustadz. Dia cerita-cerita, sebenarnya tidak langsung tertarik. Beberapa pekan baru mulai coba-coba dan akhirnya kecanduan,” jawabnya dengan nada sedih dan menyesal.
“Kenapa mau berhenti judi, memang tak pernah menang,” tanya saya dengan sedikit canda.
“Pernah menang tapi sering kalah. Uang jutaan habis dan motor sempat terjual, kerja menjadi malas”.












