SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menguatkan layanan dakwah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatulllah Kalimantan Timur (Kaltim) melalui amal usaha Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) dibawah Departemen Dakwah meluncurkan Sekolah Dai yang sempat tertunda karena pandemi.
Peluncuran Sekolah Dai ini dilakukan bersamaan dengan pembukaan kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) Guru Ngaji metode Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur`an (Grand MBA) bertempat di Aula Utama Kantor DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Jln Antasari, Gang Tujuh, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, yang dibuka pada hari Jum’at, 14 Muharram 1444 (12/8/2022).
Kepala Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Yanmat) DPP Hidayatullah Drs Nursyamsa Hadis yang meluncurkan Sekolah Dai ini mengatakan, tahun perdana Sekolah Dai ini ada 15 orang mahasantri yang akan dididik selama satu tahun.
“Selanjtnya setelah mengikuti pendidikan, mereka akan dikirim berdakwah ke berbagai daerah khususnya di Kaltim,” kata Nursyama yang didampingi Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Ust Shohibul Anwar dan Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Ust Iwan Abdullah.
Hadir pula instuktur nasional Grand MBA Pusat Ust Muhdi Muhammad.
Usai peluncuran Sekolah Dai, acara dilanjutkan Diklat Guru Ngaji metode Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur`an (Grand MBA) yang diikuti oleh 34 penanggung jawab RQH se-Kaltim.
Hadir juga peserta perwakilan dari Mahulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Samarinda, Bontang, Kutai Timur, Berau, Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, dan perwakilan dari organisasi pendukung tingkat wilayah Pemuda Hidayatullah Kaltim.
Selama 3 hari acara dibagi menjadi dua sesi. Dua hari pertama adalah pelatihan guru ngaji dan Daurah muallim Grand MBA Metode 8 jam mahir membaca Qur’an dan dilengkapi dengan paket tahsin.
Adapun satu hari berikutnya dilanjut kegiatan Training of Trainer (TOT) Bina Aqidah untuk wali murid Hidayatullah. TOT ini dilaksanakn sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan pembinaan wali murid yang selama ini.
Penyelenggraan kegiatan yang berlangsung intensif selama 3 hari ini melibatkan amal usaha Posdai dan Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Kaltim yang didukung oleh Baitulmaal Hidayatullah (BMH).*/Ain
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Danrem 091/ASN Brigjend TNI Dendi Suryadi menjadi narasumber Dialog Muharram 1444 Hijriah, di Masjid Al-Iman komplek Kampus Pesantren Hidayatullah, Jln Perjuangan 9 RT 01/22, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Ahad, 16 Muharram 1444 (14/8/2022).
Dialog Muharram 1444 Hijriah yang dilaksanakan di Masjid Al-Iman komplek Pesantren Hidayatullah mengambil tema “Hijrah Untuk Merdeka”.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta NKRI, agar kalangan pesantren tidak disusupi dengan faham radikal yang akan menghancurkan citra pesantren sebagai pencetak kaum intelektual yang religius.
Dalam dialognya Danrem 091/ASN menjelaskan pengertian hijrah yakni berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ketempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu. Sementara pengertian merdeka adalah kaya, sejahtera dan kuat atau dengan kata lain Merdeka adalah bebas, tidak bergantung/Independen.
“Yang harus diperjuangkan dalam Hijrah untuk merdeka itu kita harus bekerja keras bersama dalam memberantas kebodohan, kemiskinan dan kemalasan,” tegasnya.
Untuk itu dia mengajak semua komponen umat islam dan terutama para santri Pondok Pesantren Hidayatullah harus ikut menjaga dan melestarikan budaya bangsa Indonesia.
Salah satunya dengan mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, mengangkat kearifan lokal dan menumbuhkan sifat gotongroyong dalam kehidupan sehari hari.
Pada kesempatan tersebut, Danrem memotivasi para santri hendaknya selalu semangat menimba ilmu di pesantren, sabar dalam belajar dan berlatih, serta mentaati peraturan dan tata tertib yang ada agar terbangun disiplin sejak dini.
Dandrem pun membuka kesempatan kepada para santri untuk mendaftar menjadi TNI. Dia menawarkan, bagi para santri penghapal Qur’an minimal 5 Juz, diberikan jalur khusus untuk masuk menjadi anggota TNI dari Tamtama hingga Akmil.
Dialog Muharram 1444 Hijriah ini juga dihadiri narasumber Rektor Universitas Mulawarman (UNMUL), Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si, Kepala Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Yanmat) DPP Hidayatullah Drs Nursyamsa Hadis, mantan Anggota DPD RI dua periode Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, serta hadir pula Ketua dan dan pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda Ust Hisbullah AS yang sekaligus membuka acara tersebut.* (ybh/hio)
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatulllah Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Departemen Dakwah gelar kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) Guru Ngaji metode Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur`an (Grand MBA) bertempat di Aula Utama Kantor DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Jln Antasari, Gang Tujuh, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, yang dibuka pada hari Jum’at, 14 Muharram 1444 (12/8/2022).
Penyelenggaraan kegiatan yang berlangsung intensif selama 3 hari ini melibatkan amal usaha Posdai dan Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Kaltim yang didukung oleh Baitulmaal Hidayatullah (BMH).
“Ini adalah sebagai bentuk kepedulian Hidayatullah untuk terus menggairahkan pemberantasan buta aksara Al Quran dalam upaya agar semakin banyak kamu muslimin bisa menikmati belajar membaca Al-Qur’an lebih mudah,” kata Ketua Panitia Ust Charles Yusuf kepada Hidayatullah.or.id beberapa waktu lalu.
Charles menyebutkan, sebagai negara dengan 238,09 juta jiwa atau 86,93% penduduknya yang tercatat beragama Islam pada akhir 2021, maka sudah sepantasnya umat muslim di Indonesia belajar dan memahami kitab sucinya.
Namun, realitanya, umumnya kaum muslimin belum sepenuhnya mampu atau mau belajar membaca Al Quran.
“Fakta ini seharusnya membuat kita priharin dan risau untuk selanjutnya kita carikan solusi bagaimana bisa memperbaiki kondisi yang terjadi,” kata Charles.
Menurut Charles, kondisi ini tak mungkin diatasi secara parsial dan partikular semata sebab ia membutuhkan kebersamaan agar program ini dapat diangkat bersama sama sehingga dapat berdampak secara universal baik untuk kemajuan umat, agama, bangsa, dan negara.
“Pekerjaan ini tidak ringan, tapi harus dimulai dan dilakukan. Setidaknya ada upaya nyata dan berkesinambungan dalam rangka mengurangi jumlah umat Islam Indonesia yang belum mampu membaca Al-Qur’an,” katanya.
Ia pun menyampaikan rasa syukur mendalam dengan munculnya berbagai komunitas yang berupaya menyadarkan umat tentang betapa pentingnya belajar membaca Al-Qur’an. Namun, dia berharap, gerakan ini perlu dilakukan secara kolosal dan berkelanjutan.
“Kendala di lapangan ketika umat sudah mulai tumbuh kesadarannya untuk belajar Qu’an, terkadang dihadapkan dengan masalah yakni mereka kebingungan dimana harus belajar dan dengan siapa belajarnya karena sulitnya mencari guru ngaji,” kata Charles.
Kegiatan diklat guru ngaji ini dibuka langsung oleh Kepala Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Yanmat) DPP Hidayatullah Drs Nursyamsa Hadis.
Pelatihan menghadirkan pemateri dari DPP Hidayatullah yakni Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Ust Shohibul Anwar, Ketua Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota Ust Iwan Abdullah. Ada juga instuktur nasional Grand MBA Pusat Ust Muhdi Muhammad.
Acara ini diikuti oleh 34 penanggung jawab RQH se-Kaltim serta sejumlah perwakilan dari Mahulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Samarinda, Bontang, Kutai Timur, Berau, Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, dan perwakilan dari organisasi pendukung tingkat wilayah Pemuda Hidayatullah Kaltim.
Selama 3 hari acara dibagi menjadi dua sesi. Dua hari pertama adalah pelatihan guru ngaji dan Daurah muallim Grand MBA Metode 8 jam mahir membaca Qur’an dan dilengkapi dengan paket tahsin.
Adapun satu hari berikutnya dilanjut kegiatan Training of Trainer (TOT) Bina Aqidah untuk wali murid Hidayatullah. TOT ini dilaksanakn sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan pembinaan wali murid yang selama ini.
Dalam momen ini juga DPW Hidayatullah Kalimantan Timur meluncurkan program Sekolah DaI Hidayatullah Kaltim yang merupakan salah satu program yang tertunda karena pandemi.
“Tahun perdana ada 15 orang mahasantri yang akan dididik selama satu tahun untuk nanti setelah selesai belajar selama satu tahun akan di tugaskan terjun membina umat,” tandas Charles.*/Ainuddin
DIANTARA persoalan yang rawan memicu konflik adalah masalah khilafiyah furu’iyah (perbedaan pendapat dalam masalah-masalah cabang). Sebenarnya, khilafiyah furu’iyah sudah menjadi persoalan klasik dalam Islam.
Para ulama’ pun sudah sepakat bahwa perbedaan-perbedaan tersebut tidak akan mengeluarkan seseorang dari statusnya sebagai muslim. Artinya, seorang muslim tidak akan menjadi kafir hanya karena menganut pandangan furu’iyah yang berbeda dengan kita.
Konsekuensinya, hak-haknya sebagai muslim tetap harus dihormati dan dilindungi, tidak boleh dicemarkan apalagi dilanggar. Ia baru layak disebut kafir jika berbeda pandangan dalam masalah ushuliyah (pokok), seperti keesaan Allah dan status Rasulullah sebagai Nabi terakhir.
Oleh karenanya, dalam masalah-masalah khilafiyah furu’iyah, para ulama’ salaf sangat menekankan tata perilaku yang santun (adab), bukan semata-mata argumen (hujjah & dalil).
Dikisahkan dalam Siyaru A’lamin Nubala’ bahwa Isma’il Ibnu binti as-Suddi berkata: saya sedang berada di majelis Malik, lalu beliau ditanya tentang sesuatu faridhah (kewajiban agama), dan beliau menjawabnya dengan (merujuk) pendapat Zaid. Maka, saya pun bertanya, “Bagaimana pendapat ‘Ali dan Ibnu Mas’ud dalam masalah ini?” Beliau pun memberi isyarat kepada para pembantunya.
Tatkala mereka menuju ke arah saya, saya pun melarikan diri dan mereka tidak mampu mengejar saya. Mereka berkata, “Apa yang akan kita lakukan dengan buku-buku dan tempat tintanya?” Beliau menjawab, “Carilah dia dengan lemah-lembut.” Maka, mereka pun mendatangi saya, dan saya pergi bersama mereka.
Malik bertanya, “Darimana asalmu?” Saya menjawab, “Dari Kufah.” Beliau berkata, “Dimana engkau tinggalkan adab!?” Saya menjawab, “Saya bertanya hanya untuk mendapatkan keterangan.” Beliau berkata, “Sungguh keutamaan ‘Ali dan ‘Abdullah (bin Mas’ud) tidak bisa diingkari, namun penduduk negeri kami berpegang pada pendapat Zaid bin Tsabit. Jika engkau berada di tengah-tengah suatu kaum, maka jangan engkau mengawali untuk mereka dengan sesuatu yang tidak mereka kenal, sehingga mereka pun mengawali untukmu dengan sesuatu yang tidak engkau senangi.”
Di lain kesempatan, al-Ahnaf bin Qays berkata, “Barangsiapa yang buru-buru (mendatangkan) kepada orang lain sesuatu yang tidak mereka sukai, maka mereka pasti mengomentari dirinya dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui.”
Dewasa ini, betapa sering kata-kata yang benar dan bersumber dari ilmu justru menjadi cemar dan jahil ketika dilontarkan tanpa memperhatikan adab. Terkadang, karena adab-adab telah dikesampingkan, maka sebuah dialog berubah menjadi debat, dan kajian ilmiah pun bergeser menjadi arena ghibah (pergunjingan) dan penghujatan.
Tentu saja akibat dan buahnya sangat berbeda. Dialog akan melahirkan pencerahan dan keyakinan, sementara debat mewariskan kedengkian dan dendam. Kajian ilmiah akan menggali mata air hikmah yang menyegarkan, sementara ghibah dan hujatan pasti meretakkan bangunan ukhuwah.
Maka, kita bisa menemukan banyak literatur klasik yang membicarakan adab sekaligus merangkainya dengan ilmu. Di kawasan barat (Andalusia), al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr menyusun Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi; sementara di kawasan timur (Iraq), al-Khathib al-Baghdadi mengarang al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’.
Boleh dikata, seluruh karya sejenis yang ditulis setelahnya pasti “berhutang” kepada keduanya, dikarenakan sangat detilnya bab-bab yang dikemukakan.
Sebagian ulama’ salaf sangat ketat dalam memperhatikan penanaman adab ini, sebagaimana diceritakan oleh Sufyan ats-Tsauri, “Demi Allah, sungguh kami pernah mendapati sejumlah orang yang melatih muridnya selama bertahun-tahun dan tidak mengajarkan kepadanya ilmu apa pun, sampai tampak nyata di mata mereka kelayakan niat muridnya itu dalam (mengemban) ilmu.”
‘Abdurrahman bin al-Qasim berkata, “Saya berkhidmat kepada Imam Malik selama dua puluh tahun. Dua tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu, sedangkan delapan belas tahun lainnya untuk mempelajari adab. Duhai, andai saja saya habiskan seluruh masa itu untuk mempelajari adab!”
Ibnu Sirin berkata, “Dulu mereka (yakni, generasi salaf) mempelajari perilaku (hadyu) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”
Ketika kita menyadari bahwa khilafiyah merupakan sesuatu yang tidak mungkin dihapuskan, maka jalan untuk selamat adalah memantapkan kembali penanaman adab. Sebab, adab itulah yang merawat persatuan generasi salaf dan membimbing mereka meraih kejayaan. Dengan adab pula maka perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka benar-benar menjadi rahmat dan kelonggaran, bukan adzab, dan malapetaka.
Pahitnya perbedaan pendapat di zaman yang lebih akhir – termasuk di zaman kita – adalah akibat diterlantarkannya adab. Maka, benarlah apa yang dikatakan oleh Raja’ bin Haywah, berikut:
“Betapa indahnya Islam yang dihiasi oleh iman; betapa indahnya iman yang dihiasi oleh taqwa; betapa indahnya taqwa yang dihiasi oleh ilmu; betapa indahnya ilmu yang dihiasi oleh kesantunan; dan betapa indahnya kesantunan yang dihiasi oleh kelemahlembutan.”
Jika pernyataan tersebut dibalik, maka kita segera mengerti maksudnya. Lihatlah, bila kelemahlembutan lenyap, lenyap pula kesantunan; bila kesantunan lenyap, ilmu pun tidak lagi berguna; bila ilmu telah tiada,… demikian seterusnya.
Jika ditarik ke wilayah yang lebih luas, maka kaidah perihal perbedaan pendapat ini bisa mencakup perbedaan pendapat dalam segala hal. Singkatnya, selama kita mengedepankan adab, kita tidak perlu khawatir dan semua akan baik-baik saja, dengan izin Allah. Wallahu a’lam.
KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH kian memaksimalkan kebaikan umat pada Muharram 1444 H dengan berbagai program. Terbaru BMH hadirkan sumur bor untuk keperluan kebutuhan air bersih dan layak konsumsi bagi pesantren di Konawe Utara (12/8).
“Alhamdulillah atas dukungan dan kepercayaan umat, Laznas BMH hadir berikan sumur bor untuk solusikan air bersih bagi santri dan warga di lingkungan Pesantren Hidayatullah Konawe Utara,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara, Fatahillah.
Fatahillah menambahkan bahwa itu semua terwujud sebagai bentuk pengelolaan dari dana zakat dan sedekah yang ditunaikan donatur BMH Sultra.
“Alhamdulillah sampai saat ini BMH telah menghadirkan 6 titik sumur bor pesantren tahfidz di Sulawesi Tenggara, semoga menjadi berkah bagi para santri dan juga donatur,” imbunnya.
Atas kepedulian umat melalui BMH, pengurus Pesantren Hidayatullah Konawe Utara, Ust Yahya Ruddin mengaku sangat bersyukur.
“Alhamdulillah telah lama kami menanti adanya sumur bor di pesantren kami,” kata Ust Yahya Ruddin seraya menambahkan bahwa selama ini mereka mengambil air dari sungai untuk keperluan sehari hari.
Yahya Ruddin menyebutkan, jika turun hujan air sungai keruh dan kotor apalagi saat ini telah banyak warga yang bermukim disepanjang sungai mereka membuang limbah rumahtangganya langsung ke sungai.
“Terimakasih kepada para donatur BMH, semoga menjadi amal jariyah,” ungkapnya sumringah.*/Herim
LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) – Kabar duka menyelimuti warga Hidayatullah. Salah seorang dari lima Pendiri Hidayatullah, yaitu Ustadz Muhammad Nazir bin Hasan atau dikenal Nazir Hasan, berpulang ke Rahmatullah.
Sebagaimana informasi dihimpun hidayatullah.com, Ustadz Nazir wafat di Kota Bandara Lampung, Provinsi Lampung, pada Jumat, 14 Muharram 1444H (12/08/2022) pukul 08.00 WIB.
“Semoga ayahanda meninggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatimah,” ujar putra Almarhum Ustadz Nazir Hasan, Zulfikar, disambut “Aamiiin” para jamaah di sela-sela persiapan shalat jenazah Ustadz Nazir, sebagaimana rekaman video diterima hidayatullah.com.
“Innalillahi wainna ilaihi rojuin. Telah meninggal dunia Ustadz Muhammad Nazir bin Hasan dalam usia 80 tahun pada hari Jum’at, 12 Agustus 2022 pukul 08.00.
Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan ditempatkan di sisi Allah yang terbaik,” informasi yang disampaikan Ustadz Fathun Qorib, Putra Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said, kepada para pengurus YPPH Balikpapan, Jumat sekitar pukul 10.00 WITA.
Ustadz Fathun cukup intens menjalin komunikasi dengan Zulfikar terkait kabar duka tersebut.
Keluarga besar Hidayatullah di berbagai penjuru turut berbelasungkawa atas wafatnya Ustadz Nazir Hasan tersebut. Pada Jumat (13/08/2022) sore, ratusan ustadz, santri, warga, dan jamaah Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, menggelar shalat gaib atas wafatnya Ustadz Nazir Hasan.
Shalat gaib ini digelar di Masjid Ar-Riyadh, dipimpin oleh Pembina YPPH Balikpapan Ustadz Syamsu Rijal Palu.
Pendiri Hidayatullah yang Masih Hidup
Untuk diketahui, Ustadz Nazir Hasan merupakan satu dari lima orang Pendiri Hidayatullah. Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo, menyebutkan kelima Pendiri Hidayatullah tersebut.
“Pertama, Ustadz Abdullah Said; Kedua, Ustadz Usman Palese; Ketiga, Ustadz Hasyim HS; Keempat, Ustadz Hasan Ibrahim, Kelima, Ustadz Nasir Hasan,” sebutnya kepada hidayatullah.com, Senin (14/02/2022) lalu, beberapa saat setelah wafatnya Pendiri Hidayatullah lainnya, Ustadz Hasan Ibrahim di Jakarta, pada Ahad (13/02/2022).
Dari kelima Pendiri Hidayatullah tersebut, saat ini yang masih hidup tinggal Ustadz Hasyim HS yang menetap di Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.
Dalam suatu wawancara kepada Majalah Suara Hidayatullah–hidayatullah.com di Jakarta, semasa hidupnya Ustadz Hasan Ibrahim sempat menceritakan sekilas mengenai sosok Ustadz Nazir Hasan.
Ustadz Hasan menceritakan sejarah awal-awal perjumpaannya dengan KH Abdullah Said sebelum Hidayatullah berdiri.
Pada awal tahun 1970-an silam, Ustadz Hasan Ibrahim hijrah dari Yogyakarta, untuk ikut bersama KH Abdullah Said mengembangkan dakwah di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Saat itu Ustadz Hasan Ibrahim tak sendiri. Ia berangkat bersama 4 pemuda lainnya yang mempunyai semangat yang sama, yakni Usman Palese, Muhammad Hasyim HS, Nazir Hasan, dan Kisman Amin.
Sebelum memutuskan hijrah itu, Ustadz Hasan Ibrahim dan sejumlah kawannya termasuk Ustadz Nazir Hasan memang telah intens bertemu KH Abdullah Said di Yogyakarta.
“Berulang-ulang kami diskusi dengan Ustadz Abdullah Said tentang perlunya mengembangkan Islam di daerah-daerah tertinggal keislamannya, seperti di Balikpapan (saat itu). Serta, menyelamatkan anak-anak muda dari cengkeraman agama-agama lain yang terus bergerak,” tutur Ustadz Hasan Ibrahim.
Selain Ustadz Hasan, siapa saja yang intens dalam pembicaraan dengan KH Abdullah Said tersebut?
“Ada Usman Palese, Nazir Hasan, Kisman, dan Hasyim HS,” ujar Ustadz Hasan Ibrahim.*/
KAPUAS (Hidayatullah.or.id) — Ratu Suri Keraton Surya Negara Sanggau, Hj Sri Rahmawati, silaturrahim menyambangi Kampus Pondok Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis, 13 Muharram 1444 (11/8/2022).
Kedatangan istri Raja Sanggau Pangeran Ratu Surya Negara Drs H Gusti Arman itu dibersamai rombongan pengurus dan jamaah pengajian Masjid Sultan Ayyub kawasan Kantu’ Kota Sanggau.
Anjangsana ini dipimpin Ketua Masjid Sultan Ayyub Kota Sanggau H. Busrani Marka didampingi Ustadz H. Nasri Razali, dan Ketua pengajian ibu-ibu masjid bersejarah ini Hj. Galuh Talaha.
Pengurus Yayasang Kampus Pondok Pondok Pesantren Hidayatullah Ust Abdul Syukur yang menerima menyampaikan terimakasih atas kunjungan rombongan.
Abdul Syukur menyampaikan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada pengurus dan jamaah pengajian Masjid Sultan Ayyub serta Ratu Suri Keraton Surya Negara Sanggau, Hj Sri Rahmawati yang telah memberikan perhatian kepada lembaga tersebut.
“Semoga menjadi ladang pahala bagi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini,” ucapnya.
Momen tersebut, selain bersilaturahmi pengurus dan jamaah pengajian Masjid Sultan Ayyub serta Ratu Suri Keraton Surya Negara, Hj Sri Rahmawati menyampaikan sedekah.
Kegiatan menyambangi pondok pesantren ini, merupakan rangkaian memperingati bulan Muharram atau tahun baru Islam.
Ratu Suri Keraton Surya Negara Sanggau, Hj Sri Rahmawati, mengatakan pondok pesantren merupakan wadah untuk membangun dan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggulan umat Islam.
“Santri adalah bibit unggul untuk pemimpin masa depan Indonesia. Umat Islam harus bangkit menjadi pemimpin di semua bidang. Untuk itu, kita wajib mensupport agar pondok pesantren terus tumbuh dan berkembang,” ungkap ibu empat putri ini.
Dijelaskan sang Ratu, salah satu tujuan dilaksanakan silaturahmi ke pondok pesantren tersebut, merupakan wujud kepedulian pengurus dan jamaah pengajian Masjid Sultan Ayyub terhadap lembaga pendidikan Islam.
“Alhamdulillah pesantren Hidayatullah menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi. Tentunya tanpa mengurangi kemurnian niat berbagi, ini adalah cara kami untuk lebih dekat bersama bersama masyarakat,” ucapnya.
Menurut wanita yang akrab disapa Bu Ratu ini, Pesantren Hidayatullah selama didirikan hingga hari ini menjadi benteng moral anak bangsa. Diharapkan pihak-pihak yang memiliki kesamaan visi dan misi dapat meluangkan waktu walaupun hanya sekedar bersilaturahmi.
“Saya berharap ada pihak-pihak yang memiliki kesamaan visi dan misi dalam berlomba-lomba mencari kebaikan sedianya dapat bersilaturhami dengan generasi muslim yang mondok di Pesantren Hidayatullah Sanggau ini,” tandas Ratu Suri Keraton Surya Negara Sanggau.*/Mursalin
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Agama Islam amat sangat memperhatikan masalah kehalalan dan kebaikan produk yang menjadi kebutuhan sehari hari. Oleh sebab itu, Asesor Penilai Lembaga Pemeriksa Halal Luar Negeri, Ir. Dina Sudjana, mengatakan kaum muslimin harus memperhatikan betul kehalalan dan kebaikan produk yang digunakan sebagai bentuk kehatihatian bahkan pada hal hal yang barangkali tampak sepele seperti dalam pengemasan dan penyajian.
“Produk halal menurut syariat ialah halal bahannya, halal cara memperolehnya, halal cara memprosesnya, halal dalam pengemasannya, halal dalam penyimpanannya, halal dalam pengangkutannya, dan halal dalam penyajiannya,” katanya.
Hal itu disampaikan Dina Sudjana saat menjadi narasumber Seminar Halal bertajuk “Halal is My Life: Halal, Thayyib, dan Berkah” dalam rangkaian acara Daurah Murobbiyah Nasional II Muslimat Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta, pada 6-7 Muharram 1444 5-6 Agustus 2022.
Dina menjelaskan, gaya hidup merupakan cara seseorang menjalani hidupnya sehari-hari yang dipengaruhi standar, nilai, dan prinsip masing-masing. “Standar, nilai, dan prinsip masing-masing orang tentunya saling berbeda. Islam memiliki standar nilai yang menyelamatkan dan penuh keberkahan,” katanya.
Gaya hidup, terang Dina, juga bisa diartikan sebagai seni seseorang menjalani hidup, mulai dari prinsip, tingkah laku, kebiasaan, aktivitas, sampai dengan minat dan ketertarikannya.
“Gaya hidup halal diartikan sebagai seni hidup seseorang dalam menjamin kehidupan sehari hari tanpa melanggar hal yang sudah diatur oleh agama. Gaya hidup ini adalah sebuah seni yang menerapkan prinsip halal tapa meninggalkan situasi kekinian,” lanjutnya.
Ketua Harian Pusat Halal Salman ITB ini menegaskan bahwa umat Islam diwajibkan untuk memakan, menggunakan, memanfaatkan dan mengkonsumsi produk halal dan baik.
Jika kewajiban tersebut diabaikan, maka akan berdampak negatif pada tingkat keimanan dan keislamannya seperti amal ibadahnya tidak diterima Allah SWT, dan doanya tidak dikabulkan.
“Oleh karena itu produk halal harus tersedia, terjangkau, dan terjamin agar umat Islam merasa aman dan nyaman dalam mengkonsumsinya,” imbuhnya sambil mengutip Kitabullah surah Al-Baqarah ayat 168-169:
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.
Yang tak kalah menarik, di sela-sela materinya, Dina menceritakan pengalamannya selama hidup di Jepang tentang gaya hidup Islami, berdakwah, dan mengedukasi banyak orang tentang makanan yang halal dan thoyyib. Hal inilah yang membuat perempuan kelahiran Bandung ini direkrut oleh Pemerintah Jepang untuk membuat standar halal.
Dalam kesempatan ini, hadir juga narasumber lainnya Fahrur Rozi sebagai Kabid Umum Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah.
Dia menyampaikan bahwa LPH Hidayatullah berkomitmen mendukung visi Indonesia sebagai pusat industri produk halal dunia.
Hal serupa dikemukakan penguasaha produk konsumsi dan kesehatan halal, Muhammad Arif Sufia Gandadipura, yang menurutnya industri halal saat ini telah menjadi kebutuhan masyarakat tidak saja di Indonesia tapi dunia.
“Makanan tidak hanya harus halal, namun juga harus thoyyib dan berkah,” terang Arif.
Menurut Arif, thoyyib terdiri dari kandungan gizi yang lengkap, higienis, menyehatkan, bebas dari zat perusak, dan sesuai sunnah Rasulullah.
“Jika kita menerapkan sunnah, maka hidup menjadi berkah. Berkah ialah kebaikan yang bertambah,” papar praktisi halal dan thoyyib ini.
Dia menerangkan bahwa sunnah itu berpahala, maka memperbanyak melakukan sunnah akan mengundang keberkahan dan menambah pahala. Makan makanan yang disunnahkan adalah berpahala, dan insyaa Allah membuat tubuh menjadi sehat.
“Tubuh yang sehat itu membuat peluang untuk berbuat kebaikan seperti beribadah, berdakwah, banyak beramal shaleh,” tuturnya.
Ia lantas memaparkan perihal produk probiotik yang dipasarkannya dengan mengacu pada sabda Rasulullah: “Ya Allah, berkahilah cuka, karena ia adalah lauk para nabi sebelumku.” (HR. Ibnu Majah No.3318)
Arif menyebutkan, cuka adalah cairan hasil fermentasi, yang mana pada proses fermentasinya melibatkan makhluk berukuran mikro, yaitu bakteri atau mikroba atau disebut juga dengan istilah probiotik.
“Produk yang diproses melalui fermentasi dengan melibatkan ribuan jenis probiotik termasuk dalam kategori cuka yang disunnahkan oleh Rasulullah,” jelasnya.
Dengan mengonsumsi produk hasil fermentasi, selain tubuh akan menjadi sehat, juga mendapat pahala dan keberkahan karena mengikuti sunnah Rasulullah.
Acara yang diselenggarakan Departemen Ekonomi PP Muslimat Hidayatullah ini disiarkan melalui kanal YouTube Mushida Official, dihadiri oleh peserta offline dan online yaitu peserta Daurah Murobbiyah Wustha Nasional II, Pengurus PP, PW, PD, dan Umum.
Panitia Penyelenggara Ina Sriwahyuni mengatakan seminar ini diharapkan dapat menambah wawasan muslimah tentang gaya hidup halal, mengonsumsi produk yang thoyyib, sehingga membawa kebarkahan dalam hidupnya.
Kabid Pelayanan Umat PP Mushida sekaligus moderator seminar, Neny Setiawaty binti Maman Hidayat, menambahkan, melalui pemaparan ini, banyak peluang ekonomi yang dapat diambil oleh ummahat sekalian, mengingat dalam bidang kehalalan ini juga masih sangat sedikit.
“Semoga materi yang bermanfaat ini dapat menjadi bekal bagi ummahat untuk diterapkan di daerah masing-masing,” tandas Neny.*/Arsyis Musyahadah
BAGAIMANA rasanya menjadi manusia terjajah? Tentu yang akan muncul adalah perasaan terikat, tidak bebas, bahkan teraniaya. Manusia yang terjajah senantiasa terjebak dalam ikatan belenggu rantai yang sangat kuat, yang menghalanginya untuk melakukan apa yang menjadi keinginannya.
Jangankan untuk beraktivitas sesuai keinginannya, manusia yang terjajah akan sulit untuk mengelola waktu yang dimiliki sesuai dengan agenda kegiatan yang mereka inginkan. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dai yang juga penulis buku produktif bertema keislaman Ust Drs Ahmad Yani meluangkan waktu ditengah kesibukannya menyambangi Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I, No. 14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Selasa, 11 Muharram 1444 (9/8/2022).
Kehadiran Ust Ahmad Yani bukan tanpa alasan. Ia diundang menjadi narasumber dalam acara Kuliah Peradaban Syiar Muharram yang digelar secara hybrid. Ia didapuk membawakan materi “Dakwah bil Qalam & Kebangkitan Peradaban”. Bersama dia, hadir juga narasumber lainnya Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust Dr Tasyrif Amin, M.Pd, yang mengkaji tema “Iqra’ sebagai Basis Nilai Kebangkitan Peradaban”.
Dengan pembawaannya yang khas, Ahmad membawakan materi dengan tenang, cenderung datar namun sesekali menyentak mengawali uraiannya dengan sebuah kisah. Kisah yang lumayan aneh.
Jadi pernah suatu waktu, seorang dosen dari salah satu universitas islam negeri di Jakarta dengan pendidikan doktoral datang mendekat kepadanya. Keperluannya adalah bertanya, apa rahasia dalam menulis.
Ahmad Yani mengaku sempat kaget, apa benar ia bertanya, sedangkan dirinya belum pernah kuliah sampai doktor.
“Karena dia bertanya, ya, saya jawab,” katanya yang disambut tawa hadirin yang datang sebagai peserta offline.
“Kalau Anda tidak punya niat ke Bandung, kira kira nyampe nggak ke Bandung,” tanya Ahmad Yani ke sang dosen itu.
“Nggak!,” jawab dosen tersebut.
“Nah, itu rahasianya!,” timpal Ahmad Yani tersenyum.
Ia menjelaskan, rahasia menulis adalah niat. “Kalau Anda tidak niat menulis, ya tidak ada tulisan. Kalau saya niat (menulis), sehingga saya berusaha ada sesuatu yang saya tulis. Apa saja bisa ditulis,” katanya.
Jadi, rahasia dapat produktif menulis menurut Ahmad Yani adalah berangkat dari niat.
“Maka kalau Anda niat ke Bandung, kan nggak diam saja di rumah. Anda harus pergi ke terminal, cari bus jurusan Bandung. Berangkat. Nyampe ke Bandung. Beda ama calo, emang dia nggak niat ke Bandung,” selorohnya.
Dengan tamsil tersebut, Ahmad Yani menekankan bahwa menulis hendaklah didahului dengan niat kuat yang dengan itu ia melakukan upaya sungguh sungguh bergerak melangkah untuk sampai pada tujuan yang diniatkannya. Tanpa niat, maka tidak akan pernah ada upaya sungguh-sungguh.
Bagaimana seorang yang sejak belia telah aktif sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) mampu menulis sampai 57 judul buku?
Ternyata itu berangkat dari pengalaman Ahmad Yani yang sangat sederhana. “Saya selalu menulis setiap hari. Kemudian (dalam tempo tertentu) saya himpun dan jadilah buku.”
Buku pertama kali yang ia tulis pun judulnya singkat, “Catatan Ringan.” Karena merupakan kumpulan catatan yang ia lakukan setiap hari.
Karena terbiasa, akhirnya penulis teks khutbah itu pun menjadi sangat senang dengan kegiatan menulis. Sampai-sampai memiliki moto hidup yang menarik. Yaitu, “Tulislah apa yang akan diceramahkan. Dan, ceramahkanlah apa yang ditulis.”
Lebih lanjut, Ahmad Yani mengatakan perihal keuntungan dakwah dengan menulis.
Pertama, pesan bersifat langgeng. Karena tulisan memang akan abadi. Seperti Imam Ghazali dan Imam Nawawi, darimana kita mengenal mereka kalau bukan dari tulisan-tulisan mereka.
Kedua, dakwah dengan menulis pada era sekarang semakin mudah untuk siapapun menerima dan menyebarkan. Memang ada video, tapi menurut Ahmad menyebarkan tulisan jauh lebih mudah dan ringan daripada konten video.
Ketiga, menulis mendorong diri untuk terus belajar dan rajin membaca. Jadi, lakukanlah dakwah dengan menulis, karena ini adalah amal shaleh yang usianya melebihi usia hidup penulisnya sendiri. Inilah dakwah yang sangat panjang eksistensinya.
Dalam rangkaian menyambut dan memeriahkan bulan Muharram 1444 H yang juga bertepatan dengan momentum Dirgahayu HUT RI ke-77 Tahun, Pemuda Hidayatullah bersama Korps Muballig Hidayatullah (KMH) berkolaborasi laksanakan rangkaian acara bertajuk “Literasi dan Kebangkitan Peradaban”.
Acara Kuliah Peradaban yang digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan disiarkan secara live oleh kanal YouTube Hidayatullah ID ini dimoderatori pemimpin redaksi Hidayatullah.or.id Mahladi Murni.
Acara ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah, unsur badan dan amal usaha, organisasi pendukung (orpen), dan digelar atas kerjasama DPP Hidayatullah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) dan Pemuda Hidayatullah yang didukung BMH.*/Ainuddin/Imam