Beranda blog Halaman 354

DPP Hidayatullah Menuntut Pemerintah India Berhenti Memusuhi Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyusul serangkaian tuduhan, tindakan provokatif dan brutal yang dilancarkan kepada Muslim oleh sekelompok masyarakat di India selama enam bulan terakhir, dunia kembali dikejutkan dengan rendahnya kualitas pemerintah India.

Baru-baru ini, seorang juru bicara partai nasionalis Hindu India, yang juga pembantu Perdana Menteri Narendra Modi, Nukur Sharma telah menghina Rasulullah ﷺ dan istri beliau, Sayyidah Aisyah.

Hidayatullah sebagai bagian dari bangsa Indonesia menuntut pemerintah India dan para pemimpin masyarakatnya mengambil langkah serius untuk menghentikan negara dari jurang kekacauan nasional.

“Perbaiki perilaku permusuhan individu atau kelompok India terhadap Muslim dan Islam sebelum terlambat,” demikian pernyataan resmi DPP Hidayatullah hari Selasa, 8 Dzulqaidah 1443 (7/6/2022).

Dalam pernyataan yang ditandatangani Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Nashirul Haq dan Sekjen Hidayatullah Candra Kurnianto, organisasi mengatakan, Muslim Indonesia sebagai mayoritas di negara ini telah menjaga kehidupan damai dengan tetangga dan ‘saudara-saudara Hindu mereka’.

Di dunia di mana negara-negara mencari perdamaian dan resolusi damai untuk setiap konflik, orang bertanya-tanya apa tujuan yang diharapkan pemerintah dan negarawan India sebagai hasil dari perkembangan terbaru di negara mereka.

“Hidayatullah sebagai bagian dari bangsa Indonesia menuntut pemerintah India dan para pemimpin masyarakat India untuk mengambil tindakan serius untuk menghentikan negara itu dari jurang kekacauan nasional,” tulis pernyataan itu.

“Perbaiki perilaku bermusuhan individu atau kelompok India terhadap Muslim dan Islam sebelum terlambat,” tambahnya.

Hidayatullah mengatakan, pemerintah India dan negarawan India tidak boleh menunda untuk segera menghentikan perkembangan negatif ini. “Kami percaya Anda bisa,” demikian tulis pernyataan tersebut.*/Sumber: Press release DPP Hidayatullah

[Teks Khutbah Jum’at] Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah

Oleh Asih Subagyo, M.Kom

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat Rahimakumullah…

Alhamdulillah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, penguasa jagad raya, dan penggenggam seluruh hati manusia, atas segala nikmat yang diberikan kepada kita, yaitu nikmat keimanan, kesehatan dan ketenangan hati atas agama Islam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada pembawa risalah Islam, penerima wahyu -Al-Quran suci kalam Ilahi- Nabi Muhammad SAW.

Diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah sebagai khatimul anbiya (penutup para Nabi) sekaligus penyempurna atas semua rislah yang telah Allah ta’ala perintahkan atas Nabi dan Rasul sebelumnya. Oleh karenanya Rasulullah SAW, juga merupakan teladan yang dalam setiap perkataannya, akhlaknya dan aktifitas kesehariannya.

Dari Al Mustafa ini, dapat kita teladani bahwa Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah, menunaikan amanat, menasehati ummat, dan berjihad di jalan Allah ta’ala hingga sampai batas waktu yang Allah ta’ala tentukan. Sehingga seluruh manusia tercerahkan dengan risalah Islam ini. Yang keluar dari kegelapan dunia, yang bersatu hati setelah sebelumnya tercerai berai. Maka cahayapun datang menyinari jagad raya.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…

Kita menyadari bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai suku dan bahasa dari Aceh sampai Papua. Menurut data dari Biro Pusat Statistik, ada 652 bahasa dan lebih dari 1.340 suku bangsa di Indonesia. Demikian juga jika kita lihat dalam peta dunia, tentu lebih banyak lagi suku, bangsa dan bahasa yang beraneka ragam.

Sebagai orang beriman, selayaknya kita menyadari bahwa ketika Allah ta’ala menciptakan manusia di dunia dengan keadaan berbeda suku, bangsa, ras, bahasa, warna kulit tersebut adalah supaya saling mengenal. Tidak untuk saling menjatuhkan dengan berbagai bentuk intimidasi dan diskriminasi kepada salah satu kelompok tapi supaya saling ta’aruf (mengenal satu dengan lainnya).

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Subhanallahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat (49) ayat 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Dalam Tafsir As Sa’di di jelaskan bahwa keberadaan kelompok/suku baik besar maupun kecil itu agar masing-masing orang tidak menyendiri. Sebab jika demikian, maka tentu tidak akan tercapai tujuan saling mengenal satu sama lain yang bisa menimbulkan saling tolong menolong, bahu-membahu, saling mewarisi satu sama lain serta menunaikan hak-hak kerabat.

Adanya manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bertujuan agar berbagai hal positif tersebut bisa terwujud yang bergantung pada proses saling mengenal satu sama lain serta pemaduan nasab. Namun ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa.

Orang yang paling mulia di antara sesama adalah yang paling bertakwa kepada Allah, paling banyak melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan, bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang keturunannya paling terpandang (karena level sosial).

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…

Sampai saat ini isu-isu negatif tentang Islam bahkan kebencian terhadap islam atau lebih dikenal dengan sebutan islamofobia, masih sangat gencar dimuat oleh banyak media. Baik media elektronik, media sosial, atau media massa lainnya. Isu yang dibangun adalah bahwa umat Islam tidak toleran dengan umat lain, umat Islam tidak Pancasilais, umat Islam tidak cinta NKRI dan narasi sejenis lainnya. Akibatnya, banyak individu atau kelompok yang mengaku paling toleran, paling pancasila, paling cinta NKRI.

Sehingga dalam memandang fenomena yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, kita merasakan adanya upaya untuk melakukan pembelahan sesama anak bangsa. Seolah hilang rasa persaudaraan diantara kita, hanya karena hal-hal yang sepele dan tidak terverifikasi dengan baik, tidak ada tabayun tidak berbasis data dan fakta, sehingga cenderung hoax (kebohongan). Padahal dulu kita selalu hidup damai dan saling berdampingan, tidak membedakan suku, agama, ras dan seterusnya.

Oleh karenanya, sebagai orang beriman, tidak pantas individu atau satu kelompok orang yang mengaku beriman untuk berbuat buruk tersebut. Apalagi kepada sesama saudara muslim, tidak seharusnya saling membenci. Karena Islam sudah mengajarkan bahwa orang-orang beriman adalah saudara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Berdasarkan ayat tersebut dikatakan bahwa hanya orang-orang yang beriman saja yang bersaudara. Artinya, dengan keimanan dalam dada mereka, mereka saling terpaut dan saling berpegang teguh pada tali agama Allah, tidak untuk bercerai berai.

Syaih Prof Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al Wajiz menjelaskan bahwa,” Sesungguhnya orang-orang mukmin itu saling bersaudara dalam agama dan akidah. Berdamailah dengan saudara kalian saat terjadi perselisihan dan pertentangan. Bertakwalah kepada Allah saat terjadi perselisihan tentang hukum-hukumNya dan berlakulah sebagai penengah, supaya kalian dirahmati dan ditolongNya dalam menciptakan perdamaian, sebagai hasil dari ketakwaan kalian.”

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Memang jika kita melihat berbagai perbedaan yang ada tersebut, dapat menyimpan potensi konflik yang cukup besar. Jika tidak dikelola dengan baik, tentu saja hal tersebut akan mengkristal dan menimbulkan peristiwa yang kontraproduktif. Karenanya, kita perlu menekankan satu titik temu di antara berbagai perbedaan yang ada, mulai dari bangsa, suku, agama, hingga bahasanya, yaitu kita adalah manusia.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita saling bersinergi, menjaga, menghormati, dan memuliakan satu sama lain agar dapat menjalani hidup dengan penuh damai. Dalam hal ini maka, menjaga ukhuwah Islamiyah adalah kuncinya.

Jangan mau kita diadu domba, dipecah belah, diintervensi dan lain sebagainya, hanya karena urusan remeh temeh, oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan persatuan. Sehingga tidak ada kata lain, sebagai seorang beriman, maka kita harus senantiasa menjaga dan meningkan ukhuwah islamiyah ini kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun juga.

Hal ini dipertegas dengan sebuah hadits berikut.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ … أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah…..

Pada khutbah kedua ini, khatib mengajak seluruh jama’ah untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selalu menjaga dan menguatkan ukhuwah Islamiyah semampu kita.

Semoga kita diberi kekuatan untuk menjauhi segala hal yang bisa merusak ukhuwah Islamiyah. Mari kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari yang diberkahi ini:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

—-ooo000()000ooo—

Sarjana Hidayatullah Harus Jadi Role Mode Kebaikan di Tengah Masyarakat

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV M. Samsuri, berpesan kepada sarjana wisudawan STIE Hidayatullah hendaknya menjadi role mode atau teladan kebaikan dimana kelak ia terjun mengabdi ke tengah tengah masyarakat.

“Ballighu ‘Anni Walaw Ayah, jadi memang harus menyampaikan dan menyebarkan kebaikan. Tentu, ketika akan menyampaikan dan menyebarkan kebaikan maka kita sendiri harus membekali diri kita supaya bisa menjadi role model,” kata Samsuri.

Hal itu disampaikan Samsuri ketika menyampaikan sambutan sekaligus arahan dalam acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah di Gedung Aula Sekolah Pemimpin Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 8 Dzulqaidah 1443 (7/6/2022).

Samsuri mengatakan bahwa ketika nantinya sarjana diterjunkan ke tengah tengah masyarakat, maka ia adalah pemimpin di tengah tengah masyarakat. Sementara seorang pemimpin masyarakat harus menjadi teladan dari aspek apapun.

Lebih jauh, sosok pendidik ini menyampaikan bahwa dakwah yang terbaik bukan hanya dari sisi ucapan semata tapi perbuatan dengan memberikan contoh di tengah tengah masyarakat.

“Keteladanan akan jauh lebih dimengerti dan jauh dipatuhi oleh masyarakat. Oleh sebab itu, supaya Saudara bisa berkontribusi lebih banyak di tengah tengah masyarakat, maka Anda harus menjadi role model terutama di dalam akhlak dan juga di dalam karakter,” pesannya.

Dalam pada itu, Samsuri mengimbuhkan, ketika kita berada di tengah tengah masyarakat tidak boleh hanya mau didengar. Namun, harus banyak mendengarkan.

“Artinya, sikap rendah hati itu menjadi sangat penting,” ujarnya menekankan sambil menukil perkataan psikolog Barat, Alfred Adler, bahwa orang jenius akan dikagumi, orang kaya dicemburui, orang berkuasa atau punya kedudukan cenderung ditakuti, tetapi hanya orang orang berkarakter yang dipercaya di masyarakat.

“Jadilah orang yang bisa dipercaya, menjadi katalisator yang memberikan pelayanan yang terbaik. Bukan menjadi penghambat. Ketika di masyarakat, harus menjadi katalisator bagi masyarakat,” pesannya.

Dia mengutarakan, selain kemampuan agama, lulusan STIE Hidayatullah tentu juga memiliki kemampuan di bidang manajemen dan kemampuan di bidang ekonomi dimana ini bisa menjadi bekal untuk bermasyarakat.

“Sebagai dai sarjana yang hadir di tengah masyarakat, ini saya kira merupakan tugas yang sangat mulia,” kata dia seraya menekankan bahwa ukuran kesuksesan adalah apabila hidup kita memberikan manfaat yang sebesar besarnya untuk sesama.

“Semua pasti sepakat yang namanya keberhasilan dan kesuksesan sejati tidak diukur dengan tingginya jabatan, timbangan harta, atau karena banyaknya istri,” katanya diselingi guyonan.

Samsuri menambahkan, sukses yang sejati adalah ketika memberikan manfaat yang sebesar besarnya untuk sesama. Maka, terangnya, hidup kita harus memberikan kontribusi dimanapun kita berada dan apapun tugas kita.

“Kaya boleh, cerdas harus, memiliki kekuasaan tidak dilarang. Tetapi, semua itu harus dilatarbelakangi dengan karakter hebat agar semuanya dimanfaatkan semata untuk pelayanan yang terbaik. Kalau punya harta, digunakan untuk kemaslahatan. Kalau punya kecerdasan diamalkan. Saya yakin Anda memilliki kecerdasan itu maka saatnyalah untuk diamalkan,” tandasnya.

Acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah ini juga dihadiri Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Hendri Tanjung, pembina dan pengawas Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul.

Hadir juga Ketua Senat STIE Hidayatullah Depok Dudung A. Abdullah, Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam dan jajarannya, mantan Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah yang juga mantan Ketua STIE Hidayatullah Abdul Muhaimin serta unsur orpen, amal, dan badan usaha Hidayatullah beserta tamu undangan, tokoh agam dan masyarakat.

Tampak pula pengurus DPP Hidayatullah Drs Wahyu Rahman dibersamai Muhammad Arfan AU yang sekaligus membacakan SK Penugasan Dai ini.*/Anchal

Islamic Medical Service Lakukan Kunjungan ke Lapas Kelas IIB Brebes

BREBES (Hidayatullah.or.id) — Lembaga layanan sosial kesehatan masyarakat Hidayatullah, Islamic medical service (IMS) selaku mitra kerja Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kembali melakukan kunjungan sekaligus silaturahmi ke Lapas Kelas IIB Brebes, Jawa Tengah, Rabu, 8 Dzulqaidah 1443 (07/06/2022).

“Dalam Islam tradisi silaturrahim adalah salah satu amalan mulia yang dianjurkan dan hari ini Alhamdulillah kami melakukan silaturrahim ke lembaga Pemasyarakatan kelas llB Brebes,” kata Direktur IMS Imron Faizin sepert dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 9 Dzulqaidah 1443 (08/06/2022).

Imron menjelaskan, tujuan kunjungannya bersama dengan jajarannya ke Lapas kelas ll Brebes selain silaturahmi kegiatan ini juga bertujuan membangun program pembinaan di Lapas.

“Program pembinaan yang akan dilakukan diantaranya kegiatan hapus tato dan kegiatan-kegiatan lainya yang tentunya dapat di-support oleh IMS,” kata Imron.

Sementara itu, Kepala lapas (Kalapas) IIB Brebes, Isnawan, mengatakan sangat menyambut baik kedatangan IMS beserta penjajakan kerjasama yang dapat dilakukan.

“Alhamdulillah, sejak penantian yang panjang akhirnya tim IMS dapat berkunjung ke Lapas Brebes,” sambut Isnawan.

Isnawan menyambut baik beragam program yang ditawarkan untuk disinergikan, apalagi menurutnya IMS selama ini telah melakukan berbagai terobosan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat termasuk bidang sosial kesehatan.

“IMS selain dikenal dengan program hapus tato tentunya dikenal juga dengan program sosialnya,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Isnawan juga berharap agar kemitraan dan jalinan silaturrahim ini senantiasa berjalan dengan baik terutama dalam penguatan pembinaan untuk lapas.

“Semoga dengan kedatangan IMS di Lapas Brebes dapat menghadirkan program kemaslahatan untuk para binaan lembaga,” tandasnya.*/Alamsyah Jilpi

Syahadat Teguhkan Ketaatan

KETIKA mempersaksikan bahwa Allah adalah Tuhan yang berhak dan satu satunya yang patut disembah, maka bukan hanya menyembah tapi harus tunduk, patuh, pasrah, dan mentaati. Apalah arti persaksian jika tidak diiringi ketaatan atas segala perintah-Nya. Menjauhi hal-hal yang dilarang.

Ketika mempersaksikan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Persaksian itu ada nilainya ketika ada usaha menteladani Sunnah Sunnahnya dan mentaati perintahnya. Persaksian kepada Nabi Muhammad sebagai Rasulullah bukan sekedar melisankan atau mengagumi tapi berusaha mengikuti jejak langkahnya dalam beriman dan berislam.

Kisah sekitar peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah menjadi salah satu contoh ketaatan yang luar biasa dari seorang sahabat kepada perintah Rasulullah. Yaitu Ali bin Abi Thalib yang disuruh tidur di pembaringan Rasulullah, meski dengan risiko yang sangat berat.

Padahal jelas-jelas saat itu malam yang menegangkan dan Rasulullah diancam dibunuh oleh pemuda pilihan dari semua suku. Mereka sepakat dan siap dengan konspirasi mengepung rumah Rasulullah dan membunuhnya.

Ali bin Abi Thalib ringan saja menerima perintah. Tak ada tawar atau ragu. Juga tak bimbang. Padahal itu perintah tidak ringan atau taruhannya mati. Bisa saja mereka langsung menghabisi orang yang berbaring di kamar itu. Entah itu Muhammad atau orang lain.

Dalam konteks Hidayatullah, ketaatan ini diwujudkan dengan kepatuhan kepada pemimpin dan regulasi yang telah disepakati organisasi yaitu maklumat, Peraturan Dasar Organisasi, Peraturan Organisasi. Representasi kepemimpinan adalah regulasi yang telah disepakati melalui musyawarah organisasi kepemimpinan.

Pemimpin jamaah yang bervisi memperjuangkan Islam dan muslimin. Perintahnya juga tidak menyelisihi syariat. Kepemimpinan yang dipilih karena integritas dan kompetensi yang telah dimilikinya.

Seperti perintah untuk tugas daerah, membuka cabang baru Hidayatullah. SK bagi santri Hidayatullah adalah kehormatan dan dirindukan karena itu adalah bukti pengakuan dirinya sebagai kader. Sekaligus ajang pembuktian kekaderan.

Banyak kisah-kisah mutiara yang berserakan di hampir seluruh proses perintisan cabang baru Hidayatullah. Kisah yang heroik, sarat dengan pengalaman spritual, menggugah, inspiratif, dan sepertinya tidak masuk akal tapi itulah yang terjadi.

Salah satunya kisah Ustadz Iman Syahid. Itu nama hijrahnya. Aslinya, Tukiman. Beliau secara akademis hanya tamatan SMP, kemampuan pas-pasan, penampilan pun biasa saja.

Ketika mendapatkan SK untuk merintis Hidayatullah di Kudus, Jawa Tengah, maka hanya kalimat sami’na wa taho’na yang terucap dan diyakini dalam hatinya dengan mempersiapkan beberapa lembar baju untuk melangkah berangkat ke Kudus.

Kudus adalah salah satu kota Wali Songo. Banyak sekali pesantren kecil maupun besar, orang orangnya mahir baca kitab, ceramah dan bahasa Arab santrinya. Tapi itu tidak membuat keder, minder, dan mundur beliau untuk melaksanakan amanah merintis cabang Hidayatullah.

Apa yang dilakukan Iman Syahid yang saat ini ditemani satu santri SMP dari Hidayatullah Surabaya?

Tiba di Kudus, alamat yang dituju tidak ada. Tak ada yang dikenal satupun. Tapi ada masjid yang menjadi alamat berkumpulnya orang-orang baik. Di masjid banyak saudara seiman dan bisa dipastikan kemungkinan besar orang-orang shaleh di dalamnya.

Dia singgah di sebuah masjid dan izin sementara tinggal di masjid beberapa saat. Sambil membersihkan kamar mandi, WC, lingkungan masjid dan tentu dalam masjid dibersihkan dan dirapihkan. Sesekali membantu mengajar ngaji anak-anak di masjid.

Tidak lama mengundang perhatian jamaah terutama pak Haji.

” Eh, kamu ini siapa dan dari mana?” tanya pak Haji.
” Saya Iman Syahid, petugas dari Pesantren Hidayatullah Surabaya”
” Tugas apa ke sini?”
” Tugas mendirikan pesantren pak Haji”.

Tentu pak Haji kaget, kok ada orang model begitu mau mendirikan pesantren.

“Apa modalmu, sudah menguasai kitab apa?” tanya pak Haji
” Belum ada”
” Terus apa modalnya?”
” Taat saja pak Haji, sami’na wa atho’na

Tambah heran lagi pak Haji. Keheranannya bercampur penasaran. ” Kok mendirikan pesantren dengan modal taat”

Akhirnya Pak Haji itu pergi ke Hidayatullah Surabaya menanyakan kebenaran. Apakah betul, mengutus orang yang bernama Iman Syahid dan satu santri untuk mendirikan pesantren Hidayatullah di Kudus.

Setelah bertemu Ustadz Abdurrahman Surabaya, ternyata betul. Dan betul modalnya memang hanya ketaatan. Beliau tambah heran tapi mulai percaya dan yakin.

Akhirnya dibantu kontrak rumah untuk mengawali pesantren. Ini yang aneh lagi, tidak ada cerita pesantren di Kudus itu kontrak. Pasti mereka sudah punya lahan yang lengkap dengan masjid, asrama, dapur dan ruang belajar. Plus kyainya.

Dengan modal silaturahim, taat, sabar, dan semangat akhirnya terbangun pesantren hingga saat ini eksis dan maju pesat. Mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Kudus terutama pak Haji. Hingga hari ini Pak Haji masih setia dan terus mensupport pembangunan dan pengembangan Hidayatullah Kudus.

Berkah Ketaatan

Sekali lagi, banyak kisah-kisah serupa yang lebih heroik di Hidayatullah tentang ketaatan para santri awal maupun santri-santri hari ini. Saat ini juga banyak kader-kader muda yang mengawali atau merintis Pesantren Hidayatullah di daerah-daerah terpencil, pelosok, dan minoritas. Alhamdulillah ada transformasi nilai dari para senior yang terwariskan kepada generasi muda sehingga mereka bisa eksis dan ekspansi seperti santri-santri awal.

Ada rasa penasaran dan iri rasanya mendengar kisah-kisah seperti itu. Bukan sekedar kagum atau senang, tapi bagaimana bisa mengikuti perjuangannya, meniru sepak terjangnya. Meski tidak mudah untuk bisa seperti orang-orang yang sudah memiliki syahadat.

Ketaatan itu berat bagi orang yang belum bersyahadat dengan baik. Bagi yang belum paham hakekat persaksian kepada Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah. Banyak halangan yang berlapis-lapis dan alasa-alasan logis yang menghalangi seseorang untuk bisa taat.

Sebagaimana pernah diceritakan oleh Allahuyarham Abdullah Said dan diceritakan ulang oleh Allahuyarham Mansur Salbu di podium Masjid Ar Riyadh, Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Ketika ada santri mau ditugaskan, menyampaikan belum siap karena belum menikah. Akhirnya santri itu didaftarkan untuk ikut pernikahan karena kebetulan sudah umur yang layak untuk menikah.

Ketika sudah menikah dan akan ditugaskan, katanya masih menunggu bulan madu dulu, silaturahim keluarga istri dan lain sebagainya. Akhirnya tertunda lagi penugasannya.

Setelah beberapa saat kurang lebih hampir dua bulan yaitu waktu yang cukup untuk bulan madu dan silaturahim. Ia belum juga siap ditugaskan karena istri sedang hamil muda, ngidam, mula-mual sehingga kasihan dalam perjalanan dan tempat tugas baru. Tunggu kelahiran anak dulu.

Ketika anak sudah lahir beberapa bulan. Ada lagi alasan, kasihan anak masih menyusui, perlu suplemen yang cukup dan kasih sayang dari orang tua terutama ibunya. Tunggu anak agak besar sedikit katanya

Setelah anak sudah besar, masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ketika hendak ditugaskan kasihan jika anak pindah-pindah sekolah. Dan terus berlanjut hingga punya cucu tetap ada alasan baru untuk tidak berangkat tugas.

Penugasan jika mengikuti alasan maka tidak akan pernah berangkat tugas. Menugaskan jika mempertimbangkan perasaan maka tidak berat menugaskan santri itu.

Padahal semua alasan di atas, dalam kondisi apapun, seorang kader bisa berangkat tugas. Banyak kader yang ditugaskan saat bujang, baru akad nikah sehingga bulan madu di kapal atau numpang di takmir masjid.

Ada yang tugas saat istri hamil, ada juga yang baru melahirkan bahkan melahirkan di perjalanan tugas. Kader ada yang mengasuh anak di perjalanan, dari anak merangkak hingga bisa berjalan karena naik kapal berhari-hari.

Syahadat itu tidak mengenal alasan dalam menunaikan ketaatan dalam perintah. Entah ringan ataupun berat. Sebagaimana Allah berfirman:

“Infiru khifafan wa tsiqalan! …Berjuanglah kamu, sama ada senang maupun susah atau berat… (Surah At-Taubah, ayat 41)”

Setelah menyadari urgensi syahadat maka harus taat dengan dalam kepemimpinan dan tugas adalah harga yang harus dibayar.
Ringan atau berat, cocok atau tidak cocok, senang atau tidak senang, siap atau tidak siap. Artinya tidak ada pilihan dalam bersyahadat itu selain taat kepada Allah, Rasulullah dan pemimpin.

Seringkali tugas itu lebih berat dari kemampuan yang dimilikinya. Namun disitulah nikmatnya tugas, dengan ketaatan Insyaallah Allah memberikan banyak hikmah, keberkahan dan solusi yang tak terduga.

Dengan berat dan banyaknya tugas, memaksa untuk bisa Taqarub melalui ibadah dan munajat. Karena tidak ada tempat bergantung untuk membantu selain Allah SWT.

Kata salah seorang pendiri Hidayatullah, Ust Hasyim HS, “Ketaatan tugas itu tidak menunggu pintar baca kitab atau bahasa Arab dulu, siap dulu mentalnya, berpengalaman dulu, sarjana dulu. Kalau menunggu itu semua ya tidak tugas-tugas”.

Subhanallah. Sekali lagi, taat itu berat, meskipun dalam tugas yang sederhana. Seperti sekedar berhalaqah, kerja bakti, piket malam, aktif ikut pembelajaran taklim, rajin shalat berjamaah. Padahal perintah perintah tersebut, kebaikannya kembali pada diri masing-masing. Tapi banyak yang menghindari kebaikan tersebut dengan tidak taat.

Contoh ketaatan yang berat seperti pindah tugas, menjabat posisi tertentu yang baru atau merintis daerah baru. Padahal selama ini sudah di zona aman, sudah mapan, sudah eksis, sudah menjabat lama, sudah mahir di bidang sebelumnya.

Apalagi merasa sudah bergelar, berilmu, profesional, berpengalaman, berjasa, berpengaruh dan lain sebagainya. Tentu tambah berat kalau menimbangnya dengan perasaan manusia biasa. Tapi Insya Allah ringan bagi yang menimbang standar syahadatnya yang telah mengkristal dalam dirinya.

Harus ada keberanian menyingkirkan kepentingan egoisme, interested pribadi dan keangkuhan terselubung. Kemudian menyakini bahwa ketaatan adalah konsekwensi bersyahadat.

Insya Allah, roda rotasi, mutasi, promosi tugas tidak pernah berhenti di Hidayatullah. Berputar menguji ketaatan jamaah dan pemimpinnya. Itulah asyiknya dinamisasi gerakan Hidayatullah sehingga bisa eksis dan terus ekspansi.

Semoga Allah memberikan kesiapan hati, jiwa, perasaan dan fikiran untuk senantiasa taat kepada Allah, Rasul-Nya dan pemimpin.Amin ya rabbal Alamin.

Ust Abdul Ghafar Hadi

Sarjana Dai Hidayatullah Didorong Jadi Pelopor Pembangunan Ekonomi Umat

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Pakar ekonomi Islam yang juga Wakil Dekan Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor Hendri Tanjung mengingatkan sarjana dai STIE Hidayatullah menjadi pelopor dalam membangun kemandirian ekonomi umat sebab sektor ini masih tertinggal kendati mulai bergeliat.

Namun, untuk terus menumbuhkannya menjadi sebuah gerakan kolosal dalam rangka menguatkan ketahanan ekonomi umat, maka dibutuhkan sumberdaya manusia yang tidak sedikit dan memiliki mentalitas berkompetisi sekaligus.

“Untuk melakukan dakwah dengan baik khususnya dakwah di bidang ekonomi, maka kita harus siapkan sumberdaya manusia dengan bekal skil yang memadai,” kata Hendri dalam arahannya di acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah di Gedung Aula Sekolah Pemimpin Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 8 Dzulqaidah 1443 (7/6/2022).

Menurut Hendri, umat Islam mestinya punya mentalitas yang kuat ditopang dengan daya dukung berupa kemampuan berkompetisi sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran surah Al Isra’ ayat 84.

Dia menjelaskan, kata “syakilah” pada ayat Al Quran tersebut berarti skill atau kemampuan dan setiap orang sejatinya memiliki keunikan dan kelebihannya masing masing.

“Setiap orang diberikan oleh Allah karunia skil yang berbeda beda. Kita semua di ruangan ini punya skil yang berbeda beda. Maka kita lihat orang dengan skilnya, dan kalau kita bekerja yang sesuai dengan skil kita, kita happy. Bahagia. Kita enak,” katanya.

Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Badan Wakaf Indonesia (LSP BWI) menegaskan, untuk tampil terdepan dan menjadi pelopor maka kita harus memilih mau menjadi pemain atau sekedar penonton. Memilih menjadi pemain memang berisiko. Bisa ditekel, bisa patah tulang. Seperti pemain bola.

“Memang lebih enak jadi penonton. Tapi ingat, tidak pernah ada penonton terbaik, yang ada adalah pemain terbaik. Untuk itu, dibutuhkan mental yang kuat. Dengan begitu, kita berdakwah dengan rapi, berdakwah dengan cara yang terorganisir,” tukasnya.

Peran dai sarjana menurut Hendri amat dibutuhkan apalagi dai yang menjalankan tugas mengajak orang berbuat baik dimana hasilnya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Hendri juga berpesan kepada wisudawan sarjana STIE Hidayatullah ke-VII ini agar terus mengasah diri dengan banyak membaca, belajar, berlatih, dan terjun secara langsung untuk memahami problem yang dihadapi masyarakat dan berusaha hadirkan solusi.

“Jangan bosan untuk belajar. Belajarlah, karena kita perlu. Tapi ilmu yang didapatkan juga harus diamalkan, sebab akan sia sia jika hanya menjadi pengetahuan belaka,” katanya menadaskan.

Acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah ini juga dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV M. Samsuri, pembina dan pengawas Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul.

Hadir juga Ketua Senat STIE Hidayatullah Depok Dudung A. Abdullah, Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam dan jajarannya, mantan Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah yang juga mantan Ketua STIE Hidayatullah Abdul Muhaimin serta unsur orpen, amal, dan badan usaha Hidayatullah beserta tamu undangan, tokoh agam dan masyarakat.

Tampak pula pengurus DPP Hidayatullah Drs Wahyu Rahman dibersamai Muhammad Arfan AU yang sekaligus membacakan SK Penugasan Dai ini.*/Anchal

Inilah Wejangan Kepala LLDIKTI IV dalam Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV M. Samsuri, berpesan kepada mahasiswa yang telah wisuda dan telah menyandang gelar sarjana agar tak lekas berpuas diri, justru harus belajar dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Anda harus terdepan dalam bekerja keras. Manjadda wajada, siapa yang bersungguh sungguh akan mendapatkan hasilnya. Kerja keras itu harus konsisten. Sampai kapan, sampai akhir hayat kita. Maka jadilah pembelajar sepanjang hayat,” kata Samsuri.

Hal itu disampaikan Samsuri ketika menyampaikan sambutan sekaligus arahan dalam acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah di Gedung Aula Sekolah Pemimpin Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 8 Dzulqaidah 1443 (7/6/2022). (7/6/2022).

Samsuri mengatakan, ketika kita berada di tengah masyarakat hendaknya jangan merasa paling pintar. Seorang sarjana, menurutnya, harus lebih banyak menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras.

“Saya titip pesan sekali. Ketika di tengah tengah masyarakat sebagai role model, tunjukkan bahwa saudara saudara adalah pribadi pribadi pekerja keras. Tentu dari aspek ibadah harus nomor satu, tetapi aspek menggali perekonomian di tengah tengah masyarakat harus juga dilakukan,” katanya.

Samsuri mengaku sangat berbahagia karena pada kesempatan itu ia dapat bersilaturrahim dengan para ustadz dan kader Hidayatullah yang akan mengemban misi keagamaan sekaligus misi ekonomi masyarakat yang menjadi misi karakter bangsa.

“Saya terharu datang ke sini. Sehingga hari ini saya tidak salah memilih satu jadwal yang penting dari beberapa jadwal yang lain,” ujarnya.

Dia mengutarakan, selain kemampuan agama, lulusan STIE Hidayatullah tentu juga memiliki kemampuan di bidang manajemen dan kemampuan di bidang ekonomi dimana ini bisa menjadi bekal untuk bermasyarakat.

“Sebagai dai sarjana yang hadir di tengah masyarakat, ini saya kira merupakan tugas yang sangat mulia,” kata dia seraya menekankan bahwa ukuran kesuksesan adalah apabila hidup kita memberikan manfaat yang sebesar besarnya untuk sesama.

“Semua pasti sepakat yang namanya keberhasilan dan kesuksesan sejati tidak diukur dengan tingginya jabatan, timbangan harta, atau karena banyaknya istri,” katanya diselingi guyonan.

Samsuri menambahkan, sukses yang sejati adalah ketika memberikan manfaat yang sebesar besarnya untuk sesama. Maka, terangnya, hidup kita harus memberikan kontribusi dimanapun kita berada dan apapun tugas kita.

“Ballighu ‘Anni Walaw Ayah, jadi memang harus menyampaikan dan menyebarkan kebaikan. Tentu, ketika akan menyampaikan dan menyebarkan kebaikan maka kita sendiri harus membekali diri kita supaya bisa menjadi role model,” ungkapnya.

Samsuri mengatakan bahwa ketika nantinya sarjana diterjunkan ke tengah tengah masyarakat, maka ia adalah pemimpin di tengah tengah masyarakat. Sementara seorang pemimpin masyarakat harus menjadi contoh/ teladan atau role model dari aspek apapun.

Keteladanan

Lebih jauh, sosok pendidik ini menyampaikan bahwa dakwah yang terbaik bukan hanya dari sisi ucapan semata tapi perbuatan dengan memberikan contoh di tengah tengah masyarakat.

“Keteladanan akan jauh lebih dimengerti dan jauh dipatuhi oleh masyarakat. Oleh sebab itu, supaya Saudara bisa berkontribusi lebih banyak di tengah tengah masyarakat, maka Anda harus menjadi role model terutama di dalam akhlak dan juga di dalam karakter,” pesannya.

Dalam pada itu, Samsuri mengimbuhkan, ketika kita berada di tengah tengah masyarakat tidak boleh hanya mau didengar. Namun, harus banyak mendengarkan.

“Artinya, sikap rendah hati itu menjadi sangat penting,” ujarnya menekankan sambil menukil perkataan psikolog Barat, Alfred Adler, bahwa orang jenius akan dikagumi, orang kaya dicemburui, orang berkuasa atau punya kedudukan cenderung ditakuti, tetapi hanya orang orang berkarakter yang dipercaya di masyarakat.

“Jadilah orang yang bisa dipercaya, menjadi katalisator yang memberikan pelayanan yang terbaik. Bukan menjadi penghambat. Ketika di masyarakat, harus menjadi katalisator bagi masyarakat,” pesannya.

Mantan Kepala Biro Perencanaan Kemendikbudristek ini menekankan bahwa pangkat, jabatan, materi, dan sebagainya yang melekat dalam diri kita sejatinya adalah titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaiknya baiknya bagi kemaslahatan sesama.

“Kaya boleh, cerdas harus, memiliki kekuasaan tidak dilarang. Tetapi, semua itu harus dilatarbelakangi dengan karakter hebat agar semuanya dimanfaatkan semata untuk pelayanan yang terbaik. Kalau punya harta, digunakan untuk kemaslahatan. Kalau punya kecerdasan diamalkan. Saya yakin Anda memilliki kecerdasan itu maka saatnyalah untuk diamalkan,” tandasnya.

Acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah ini juga dihadiri Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Hendri Tanjung, pembina dan pengawas Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul.

Hadir juga Ketua Senat STIE Hidayatullah Depok Dudung A. Abdullah, Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam dan jajarannya, mantan Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah yang juga mantan Ketua STIE Hidayatullah Abdul Muhaimin serta unsur orpen, amal, dan badan usaha Hidayatullah beserta tamu undangan, tokoh agam dan masyarakat.

Tampak pula pengurus DPP Hidayatullah Drs Wahyu Rahman dibersamai Muhammad Arfan AU yang sekaligus membacakan SK Penugasan Dai ini.*/Anchal

Kepala LLDIKTI IV dan LSP BWI Hadiri Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV M. Samsuri dan Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Badan Wakaf Indonesia (LSP BWI) Hendri Tanjung menghadiri acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah di Gedung Aula Sekolah Pemimpin Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 8 Dzulqaidah 1443 (7/6/2022).

Keduanya didapuk memberikan sambutan sekaligus arahan kepada sarjana wisudawan STIE Hidayatullah ke-VIII ini.

Dalam kesempatannya, Samsuri berpesan kepada mahasiswa yang telah wisuda dan telah menyandang gelar sarjana ini agar tak lekas berpuas diri, justru harus belajar dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Anda harus terdepan dalam bekerja keras. Manjadda wajada, siapa yang bersungguh sungguh akan mendapatkan hasilnya. Kerja keras itu harus konsisten. Sampai kapan, sampai akhir hayat kita. Maka jadilah pembelajar sepanjang hayat,” kata Samsuri.

Samsuri mengatakan, ketika kita berada di tengah masyarakat hendaknya jangan merasa paling pintar. Seorang sarjana, menurutnya, harus lebih banyak menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras.

“Saya titip pesan sekali. Ketika di tengah tengah masyarakat sebagai role model, tunjukkan bahwa saudara saudara adalah pribadi pribadi pekerja keras. Tentu dari aspek ibadah harus nomor satu, tetapi aspek menggali perekonomian di tengah tengah masyarakat harus juga dilakukan,” katanya.

Samsuri mengaku sangat berbahagia karena pada kesempatan itu ia dapat bersilaturrahim dengan para ustadz dan kader Hidayatullah yang akan mengemban misi keagamaan sekaligus misi ekonomi masyarakat yang menjadi misi karakter bangsa.

“Saya terharu datang ke sini. Sehingga hari ini saya tidak salah memilih satu jadwal yang penting dari beberapa jadwal yang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Hendri Tanjung mengingatkan pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat sebab sektor ini masih tertinggal kendati mulai bergeliat.

Namun, untuk terus menumbuhkannya menjadi sebuah gerakan kolosal dalam rangka menguatkan ketahanan ekonomi umat, maka dibutuhkan sumberdaya manusia yang tidak sedikit dan memiliki mentalitas berkompetisi sekaligus.

“Untuk melakukan dakwah dengan baik khususnya dakwah di bidang ekonomi, maka kita harus siapkan sumberdaya manusia dengan bekal skil yang memadai,” kata Hendri

Menurut Hendri, umat Islam mestinya punya mentalitas yang kuat ditopang dengan daya dukung berupa kemampuan berkompetisi sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran surah Al Isra’ ayat 84.

Dia menjelaskan, kata “syakilah” pada ayat Al Quran tersebut berarti skill atau kemampuan dan setiap orang sejatinya memiliki keunikan dan kelebihannya masing masing.

“Setiap orang diberikan oleh Allah karunia skil yang berbeda beda. Kita semua di ruangan ini punya skil yang berbeda beda. Maka kita lihat orang dengan skilnya, dan kalau kita bekerja yang sesuai dengan skil kita, kita happy. Bahagia. Kita enak,” katanya.

Hendri menegaskan, untuk tampil terdepan dan menjadi pelopor maka kita harus memilih mau menjadi pemain atau sekedar penonton. Memilih menjadi pemain memang berisiko. Bisa ditekel, bisa patah tulang. Seperti pemain bola.

Acara Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah ini juga dihadiri Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Hendri Tanjung, pembina dan pengawas Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul.

Hadir juga Ketua Senat STIE Hidayatullah Depok Dudung A. Abdullah, Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam dan jajarannya, mantan Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah yang juga mantan Ketua STIE Hidayatullah Abdul Muhaimin serta unsur orpen, amal, dan badan usaha Hidayatullah beserta tamu undangan, tokoh agam dan masyarakat.

Tampak pula pengurus DPP Hidayatullah Drs Wahyu Rahman dibersamai Muhammad Arfan AU yang sekaligus membacakan SK Penugasan Dai ini.*/Anchal

STIE Hidayatullah Gelar Penugasan Dai Sarjana ke Penjuru Negeri

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sebagai bagian dari rangkaian Sidang Senat Terbuka Sarjana Strata Satu (S1) Jurusan Manajemen dan Akuntansi ke-VIII tahun 2022, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menggelar acara Penugasan Dai Sarjana di Aula Gedung Sekolah Pemimpin Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 8 Dzulqaidah 1443 (7/6/2022).

Acara Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah ini juga dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV (Jawa Barat dan Banten), M. Samsuri, Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Hendri Tanjung, pembina dan pengawas Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Lalu Mabrul.

Hadir juga Ketua Senat STIE Hidayatullah Depok Dudung A. Abdullah, Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam dan jajarannya, mantan Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah yang juga mantan Ketua STIE Hidayatullah Abdul Muhaimin serta unsur orpen, amal, dan badan usaha Hidayatullah beserta tamu undangan, tokoh agam dan masyarakat.

Tampak pula pengurus DPP Hidayatullah Drs Wahyu Rahman dibersamai Muhammad Arfan AU yang sekaligus membacakan SK Penugasan Dai ini.

Sebelumnya, STIE Hidayatullah menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) Manajemen dan Akuntansi Angkatan VIII Tahun 2022 di Aula Gedung Sekolah Pemimpin, Jl Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu, 5 Dzulqaidah 1443 (04/06/2022).

Direktur dan Kaprodi Pasca Sarjana Universitas Pamulang, Dr. Ir. H. Sarwani MT. MM, yang didapuk menyampaikan pidato ilmiah bertajuk “Membangun Paradigma Manajemen Digital di Era Society 5.0”, memberikan ucapan selamat dan sukses kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah diwisuda.

Sarwani mengatakan, kelulusan yang ditandai dengan sidang senat terbuka ini adalah awal dari perjalanan karir selanjutnya sebagai sarjana.

“Semoga karir yang Saudara tekuni nanti dapat memenuhi cita-cita orang tua Saudara dan dapat mensejahterakan, keluarga, masyarakat dan rakyat Indonesia pada umumnya, melalui karya dan pekerjaan Saudara sekalian,” kata Sarwani.

Sebanyak 32 wisudawan dan wisudawati STIE Hidayatullah ini sebelumnya menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama kurang lebih 6 bulan dan pembekalan (mentoring) intensif selama 3 hari sebelum diwisuda.* (Ainuddin Chalik)

Mahasiswa STIS Hidayatullah Menjalani Tugas Pengabdian Masyarakat ke 13 Kota

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam program Praktik Kuliah Dakwah (PKD) sebagai bagian dari pengabdian masyarakat sebagaimana amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diadakan setiap tahunnya, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan menugaskan sebanyak 90 mahasiswa dan mahasiswi di 4 provinsi dan 13 kabupaten/kota.

“Alhamdulillah di tahun ini kita bisa menyebarkan sebanyak 90-an mahasiswa dan mahasiswi yang terdiri dari Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES) dan Hukum Keluarga (HK),” kata Ketua STIS Hidayatulah Muhammad Zaim Azhar Hasyim, Lc, M.H, dalam wawancara kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah (02/06/2022).

Zaim mengatakan, kegiatan PKD ini sangat penting bagi para mahasiswa dan mahasiswi. Selain untuk mengaktualisasikan ilmu yang telah mereka dapatkan di kelas, juga sebagai wadah mereka untuk lebih dekat dengan masyarakat.

“Ini merupakan suatu kegiatan yang sangat positif, karena ini juga merupakan salah satu bentuk kaderisasi STIS Hidayatullah Balikpapan,” katanya.

Dia menerangkan, PKD Ini juga sebagai wadah bagi mereka agar mereka bisa mengaktualisasi ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari dan juga menjadi tempat mereka belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat di mana tempat mereka melakukan PKD.

Selain di Kaltim, penugasan PKD mahasiswa STIS Hidayatullah ke berbagai titik di 4 provinsi dan 13 kabupaten/kota. Hal itu bertujuan agar setiap mahasiswa mampu mempelajari kultur dan kebiasaan setiap daerah.

Dalam PKD itu, setelah mahasiwa disebar ke pesantren-pesantren Hidayatullah, kemudian mereka disebar lagi ke beberapa masjid.

“Jadi, ketika sudah di daerah, mahasiswa kita itu dibagi lagi, tinggalnya di masjid-masjid. Jadi setiap masjid yang belum mereka ketahui, itu hanya 2-3 orang saja mahasiswa, biar mereka lebih maksimal berinteraksi dengan masyarakat, tidak saling bergantung satu dengan yang lainnya,” terangnya.

Sebelumnya, akhir bulan lalu, Senin (23/05/2022), pihak STIS melakukan monitoring ke beberapa daerah tempat mahasiswa PKD. Dari kunjungannya Ketua STIS dan jajarannya itu, terungkap bahwa masyarakat begitu membutuhkan kehadiran mahasiswa-mahasiswi tersebut.

“Alhamdulillah respons warga sekitar itu bagus ya, sampai ada masyarakat setempat minta beberapa mahasiswa itu mau ditambah lagi waktu PKD-nya,” ucap Zaim.

Hal ini juga diungkapkan oleh aparat desa tempat dimana mahasiswa melakukan PKD. Kepala Desa Santan Hilir, Abdul Rosyid, misalnya, mengungkapkan, kehadiran mahasiswa yang bertugas di Masjid At-Takwa desa tersebut sangat membantu.

“Alhamdulillah, mahasiswa di sini sangat membantu sekali ya, apalagi dalam masalah ibadah ya. Ya bapak-bapak tahu semualah kita di sini kan kalau pagi sampai siang itu kan (warga) kerja semuanya. Jadi masjid itu di waktu shalat dzuhur dan ashar sepi, bahkan ndak ada yang adzan,” tuturnya.

“Semenjak ada mereka ini (mahasiswa STIS Hidayatullah), adzan di masjid itu lebih sering terdengar, bahkan kita juga jadi lebih enak ke masjid karena ada yang adzan,” lanjutnya dengan wajah gembira.

Kehadiran mahasiswa itupun, ungkapnya, bisa membantu masyarakat desa untuk lebih dekat dan lebih mudah belajar al-Qur’an.

“Mahasiswa ini jadi imam juga, jadi khatib juga. Saya di sini jadi imam ya, tapi saya tahu kalau saya salah-salah bacaan al-Qur’annya. Makanya semenjak adek-adek ini datang, saya suruh mereka imam. Kadang juga kami itu belajar al-Qur’an sama mereka,” ucap Pak Kades kepada Ketua STIS Hidayatullah.

Hal senada juga dirasakan warga lain di Bontang, Deddy Supardi. Ia mengakui kehadiran mahasiswa STIS di Rumah Qur’an al-’Ala Bontang, Kaltim, sangat membantu terutama bagi anak-anak yang belajar al-Qur’an.

Sementara itu, tidak kalah dengan mahasiswa, mahasiswi STIS juga ditugaskan sejak bulan Ramadhan 1443H lalu di berbagai sebelah daerah. Mahasiswi turut aktif melakukan kegiatan pembinaan terhadap masyarakat. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua 4 STIS Hidayatullah Ummi Salami.

“Alhamdulillah, meski tidak berbekalkan HP (handphone), mahasiswi kita turut aktif melakukan kegiatan-kegiatan di daerah. Ada yang mengajar santri MI, santri TK, santi SMP,” kata Ummi Salami.

Selain itu, ada juga yang melakukan kegiatan Madrasah Ramadhan pada Ramadhan lalu, Daurah al-Qur’an, dan Tahfidz. Bahkan, kata Ummi, ada juga yang mengajar ibu-ibu binaan Muslimat Hidayatullah (Mushida) wilayah setempat. (MUAS/MCU)