DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kemajuan teknologi dan informasi, juga bisa menjadi ancaman terjadinya perpecahan antar warga negara Indonesia. Misalnya saja sebuah berita hoax, yang kemudian menjadi sebuah potensi menimbulkan perpecahan bagi kesatuan NKRI.
Itulah yang ditekankan Anggota Komisi IX DPR RI Dapil Kota Depok dan Kota Bekasi DRA. Hj Wenny Haryanto, SH saat melakukan sosialisasi 4 pilar MPR RI yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI dan juga Bhinneka Tunggal Ika.
Pada kesempatan itu, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Jln Kalimulya, Kebon Duren, Cilodong, Depok, menjadi tuan rumah gelaran acara tersebut, Senin, 7 Dzulqaidah 1443 (6/6/2022).
Guna mengantisipasi terjadinya perpecahan misalnya dari berita hoax dan lain sebagainya ini, menurut Wenny, tentunya haruslah terus ditanamkan tentang wawasan kebangsaan, tak terkecuali bagi para pengajar dan guru madrasah.
Peserta dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Aula Utama Gedung Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok ini adalah para pengajar Madrasah mulai dari guru dan kepala Madrasah.
Sosialisasi dilakukan dengan turut menghadirkan Kepala Kemenang Kota Depok H. Asnawi, Kepala Yayasan Pesantren Hidayatullah Ust. Lalu Mabrul dan diisi dengan diskusi serta tanya jawab.
Kepada awak media, DRA. Hj Wenny Haryanto, SH menerangkan bahwa kegiatan sosialisasi 4 Pilar MPR RI ini sangatlah penting.
Wenny mengatakan, pedoman hidup yang menjadi dasar wawasan kebangsaan adalah Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
“Hal ini harus jadi pedoman yang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agar tidak terjadi perpecahan meskipun berbeda pendapat, budaya dan sebagainya,” kata Wenny.
Anggota DPR RI ini pun menambahkan tantangan yang juga muncul terkait dengan kesatuan hidup berbangsa dan bernegara saat ini, adalah munculnya berita hoax.
Untuk itulah, kegiatan sosialisasi ini lanjutnya menyasar para pengajar Madrasah yang ada di Kota Depok.
Wenny menambahkan, sering ada muncul berita-berita hoax bahkan mengadu domba semua orang. Makanya kata dia perlu juga menyaring berita-berita yang beredar, dan hal-hal yang tidak baik.
“Dan melalui sosialisasi ini, kita berharap para pengajar madrasah bisa ikut menyosialisasikan kepada anak didiknya dan selanjutnya dapat menjalankan empat pilar di kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Following serial insinuations, provocative and brutal actions carried out towards Muslims by groups of people in India for the past six months, yesterday the world watched the lower quality of India. A spokeperson of the Indian ruling party, an aid of the Indian Prime Minister, insulted The Messenger of Allah Nabi Muhammad ﷺ.
In the world where nations seek for peace and peaceful resolution for every conflict, ones wonder what are the goals that the Indian government and statesmen expect as the results of the latest development in their country.
Hidayatullah as part of Indonesian nation demands Indian government and the Indian society leaders to take serious actions to stop the country from the brink of national chaos. Correct the hostile behavior of Indian individuals or groups towards Muslims and Islam before it is too late.
Indonesian Muslims as the majority in this country have been maintaining peaceful life with their Hindu neighbors and friends. Tensions occurred but we realize that respecting each other is for the benefit of every member of the nation. Those who express religious hatred are being corrected by its own people and hostile actions are subject to legal punishment.
Indian government and Indian statesmen must not delay to stop these negative developments in your country. We believe you can.
UMAR bin Khattab pernah berkhutbah dalam suatu kesempatan di musim haji. Beliau berkata, “Wahai manusia, ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa meminta perlindungan dari lima perkara. (Beliau berdoa): ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan kelemahan hati. Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang buruk. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah isi hati. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (Riwayat Ibnu Hibban. Hadits shahih, ‘ala syarthi muslim).
Hadits di atas sebenarnya juga diriwayatkan oleh banyak imam yang lain, seperti Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad, dengan derajat berbeda-beda sehingga saling menguatkan satu sama lain.
Oleh karenanya, sangatlah menarik untuk dipahami apa hakikat di baliknya. Dalam hadits ini, beliau mengajari kita bagaimana caranya memohon perlindungan kepada Allah, juga merinci lima persoalan penting yang harus kita perhatikan.
Pertanyaannya, mengapa Rasulullah sampai secara khusus memohon kepada Allah agar dijauhkan darinya, padahal masih banyak hal-hal lain yang juga tidak kalah buruknya?
Imam al-Manawi menjelaskan makna hadits di atas dalam Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir.
Pertama, yang dimaksud dengan “kebakhilan” adalah ketidaksediaan seseorang untuk membagi kelebihan yang dimilikinya kepada orang lain, terlebih-lebih lagi kepada orang yang membutuhkan. Ia lebih suka untuk menumpuk dan menimbunnya sendiri.
Sungguh benar. Kebakhilan adalah penyakit yang sangat membahayakan masyarakat. Dewasa ini, kapitalisme menguasai dunia, dan secara terbuka mengajarkan penumpukan harta, egoisme, serta keengganan untuk berbagi.
Seringkali, yang diajarkan adalah: “Jika bisa saya ambil semua, maka buat apa saya sisakan untuk orang lain?” Inilah yang melatari nafsu-nafsu monopoli, korupsi, suap, konglomerasi, dan kemewahan.
Karena kebakhilan segelintir orang, maka kemiskinan dan ketidakadilan merajalela. Sungguh, fenomena kemiskinan telah ada sejak masyarakat manusia terbentuk, namun tidak akan menjadi sepedih sekarang ini jika kaum kaya bersikap pemurah dan penguasa berbuat adil.
Kedua, yang dimaksud “kelemahan hati” adalah sifat pengecut, yakni ketidakberanian untuk melaksanakan apa yang seharusnya. Bentuk paling kritisnya ada di medan jihad, ketika seseorang melarikan diri dan mencari keamanan bagi dirinya sendiri.
Namun, ada banyak bentuk lebih rendah dari kepengecutan ini. Ketika seseorang membatalkan niat berjilbab semata-mata karena tidak berani menanggung komentar teman-temannya, maka inilah kepengecutan.
Ketika sepasang muda-mudi lebih asyik berpacaran, semata-mata didorong oleh nafsu dan aneka ilusi ketakutan untuk menjalani pernikahan, maka inilah kepengecutan. Ketika pemimpin memutuskan kebijakan yang sebenarnya merugikan rakyat, semata-mata karena tekanan atau takut kehilangan kekuasaan, maka inilah kepengecutan.
Dewasa ini, sikap-sikap hati yang lemah telah mendorong banyak orang untuk sekedar mengikuti tren, bukan mencari jalan yang paling baik dan benar di mata Allah. Inilah pragmatisme, yakni menimbang sesuatu menurut keuntungan jangka pendek yang bisa diraih, dan tidak perlu memikirkan akibat-akibatnya.
Menurut Al-Qur’an, kelemahan ini pasti bermula dari ketiadaan iman kepada Hari Akhir. Al-Qur’an menyitir perilaku orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat yang selalu bertindak berdasar prasangka, tanpa ilmu, dan hanya mengekor nafsu duniawi.
Memang, bisa jadi banyak orang yang secara lisan mengakui adanya akhirat, namun tindak-tanduknya samasekali tidak mencerminkan hal itu. Allah mengecam kalangan ini dalam firman-Nya,
“Dan diantara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir’, padahal sebenarnya mereka tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan kaum beriman, padahal mereka tidak menipu melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah semakin memperparah penyakitnya. Bagi mereka siksa yang pedih disebabkan kebohongan mereka.” (Qs. al-Baqarah: 8-10).
Ketiga, yang dimaksud “usia yang buruk” adalah ketiadaan berkah. Tepatnya, usia yang sepi dari kebajikan dan justru diramaikan oleh penelantaran kewajiban. Istilah “usia” disini berarti tempo dan kesempatan yang diberikan Allah kepada masing-masing dari kita di dunia ini.
Betapa banyak orang yang usianya sia-sia. Masa kecilnya dipenuhi permainan, masa remajanya pun dipakai main-main. Lalu, saat dewasa tidak dijalani dengan kehati-hatian dan kesungguhan. Banyak orang yang sanggup bermain Play Station sehari penuh, namun gagal untuk duduk tenang menegakkan shalat dan berdzikir.
Tidak sedikit orang yang rela menabung untuk pergi rekreasi berkali-kali, namun samasekli tidak terpikir untuk naik haji. Terlalu banyak hal-hal melalaikan di dunia modern sekarang, dimana tidak ada seorang pun yang selamat darinya, kecuali yang dirahmati oleh Allah ta’ala.
Keempat, yang dimaksud “fitnah isi hati” adalah perasaan dan lintasan pikiran yang tidak terpuji, seperti dengki, dendam, dan akidah yang menyimpang. Rasulullah menegaskan bahwa kebaikan seluruh diri kita tergantung kebaikan hati.
Maka, memohon agar Allah selalu memperbaiki isi hati kita adalah permintaan yang tidak main-main. Berbagai hal – entah yang disadari atau tidak – pada dasarnya adalah cermin dari isi hati kita itu.
Kelima, beliau meminta perlindungan dari “siksa kubur”, entah yang manapun macamnya sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits. Menurut Imam al-Manawi, siksaan ini biasanya bermula dari kecerobohan dan kesembronoan dalam melaksanakan perintah Allah maupun menjauhi larangan-Nya. Wallahu a’lam.
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) Manajemen dan Akuntansi Angkatan VIII Tahun 2022 di Aula Gedung Sekolah Pemimpin, Jalan Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu, 5 Dzulqaidah 1443 (04/06/2023).
Dalam kesempatan tersebut, hadir pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Depok KH. Abu A’la Abdullah, M.HI dan jajaran, Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul, Ketua Senat STIE Hidayatullah Depok Dr. Dudung Amadung Abdullah, Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam, SE., M.Ak dan jajarannya, para wisudawan dan wisudawati, dan undangan, tokoh agama dan masyarakat.
Direktur dan Kaprodi Pasca Sarjana Universitas Pamulang, Dr. Ir. H. Sarwani MT. MM, yang didapuk menyampaikan pidato ilmiah bertajuk “Membangun Paradigma Manajemen Digital di Era Society 5.0”, memberikan ucapan selamat dan sukses kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah diwisuda.
Sarwani mengatakan, kelulusan yang ditandai dengan sidang senat terbuka ini adalah awal dari perjalanan karir selanjutnya sebagai sarjana.
“Semoga karir yang Saudara tekuni nanti dapat memenuhi cita-cita orang tua Saudara dan dapat mensejahterakan, keluarga, masyarakat dan rakyat Indonesia pada umumnya, melalui karya dan pekerjaan Saudara sekalian,” kata Sarwani.
Dia mengimbuhkan, manusia dewasa ini nampak tidak bisa hidup tanpa teknologi dimana ia telah sudah masuk dalam dataran budaya manusia secara substansial. Namun, menjadi ironi, tatkala manusia menciptakan teknologi dengan kemajuan yang sangat pesat etapi disaat yang sama humanisme mulai tereduksi.
Disadari bahwa teknologi telah menciptakan konstruksi sosial, konstruksi ekonomi dan konstruksi pendidikan, maka menurut Sarwani, diperlukan penanganan atau manajemen digital secara tepat, terarah dan terukur, sehingga pada gilirannya kita tidak di-drive oleh teknologi namun kitalah sebagai pencipta teknologi yang akan mengendalikan teknologi.
“Kecerdasan itu, bukan berarti mengetahui banyak hal. Karena kecerdasan itu bukan hanya bertumpu pada banyaknya informasi. Namun juga bertumpu pada penilaian, yaitu sebuah sikap bagaimana seluruh informasi seharusnya dikumpulkan dan digunakan. Dengan demikian manajemen digital adalah sebuah kemestian bagi perkembangan sosial, ekonomi dan pendidikan dalam sebuah ekosistem,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIE Hidayatullah Dr. H. Nurjaya, MM yang menyampaikan orasi ilmiah kedua dengan topik Percepatan Mahasiswa Menuju Human Capital dalam Pemulihan dan Penguatan Ekonomi Pasca Covid, menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Nurjaya, mahasiswa harus dibekali dengan pengetahuan sekaligus praktik atau keterampilan dan tindakan kerja yang menghasilkan pengalaman melalui materi entrepreneurship.
“Metode pengajaran di perguruan tinggi yang selalu diselipi nilai-nilai kemandirian dan praktiknya pada setiap mata kuliah akan memproses mahasiswa memiliki jiwa mandiri, mental berusaha, dan jiwa entrepreneur,” katanya.
Kuliah itu, lanjut Nurjaya, hanya menjadikan mahasiswa berpikir kritis, runtut, sistematis, luas wawasan, ketrampilan, pengalaman dan sebagainya. Sedangkan paska kuliah akan bekerja sebagai apa dan dimana itu sangat berkolerasi dengan kompetensinya.
“Sekali lagi digarisbawahi, pendidikan dan pengajaran kompetensi sudah urgent sifatnya,” ujar dia.
Nurjaya menambahkan, setelah kepemilikan kompetensi sumber daya manusia secara komprehensif maka saatnya mewujudkannya sebagai humat capital, yaitu sumber daya manusia yang memiliki produktivitas. Oleh karena itu, tegasnya, kreativitas dan inovasi menjadi kemestian.
Menurut Nurjaya, kondisi dewasa ini menuntut pola pendidikan yang berbeda dimana mahasiswa sebagai human liability dipenuhi dengan beragam kewajiban rutin seperti membuat tugas UTS, UAS, makalah, paper, skripsi, presentasi dan lain-lain yang akhirnya membelenggu pada stagnansi intellectual quotient saja.
Padahal, terang dia, kompetensi sumber daya manusia selain kompetensi di bidang pengetahuan juga ada skill competence, experience competence dan attitude competence.
“Sedangkan dilihat dari aspek kecerdasannya, mahasiswa tidak boleh hanya berhenti pada intellectual quotient saja, namun juga spiritual quotient,emosional quotient dan sebagainya,” imbuhnya.
Oleh sebab itu, Nurjaya menekankan perlunya mahasiswa sebagai human liability juga didorong ke arah terbentuknya human asset, yaitu kepemilikan kekayaan (baca: kompetensi) baik itu berwujud atau tidak berwujud (tangible/ intangible), yang memiliki nilai yang akan bermanfaat bagi umat, kampus, keluarga, masyarakat, agama, nusa, dan bangsa.
“Pada gilirannya itu semua akan menstimulan terjadinya pemulihan dan penguatan ekonomi baik skala mikro mahasiswa dan lingkungannya dan secara makro nasional karena digerakkan secara massif pada semua mahasiswa perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidatullah Depok,” tandasnya.
Sebanyak 32 wisudawan dan wisudawati Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) Manajemen dan Akuntansi Angkatan VIII Tahun 2022 STIE Hidayatullah ini sebelumnya menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama kurang lebih 6 bulan dan pembekalan (mentoring) intensif selama 3 hari sebelum diwisuda.
Dengan program beasiswa ikatan dinas yang digulirkannya, STIE Hidayatullah Depok menjadi diantara pelopor penyelenggara pendidikan perguruan tinggi yang lulusannya langsung diserap bursa kerja pasca wisuda.
Salah seorang wisudawan, Alamsyah Jilpi, S.M, mengutarakan ucapan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada segenap civitas akademika STIE Hidayatullah terutama para dosen yang telah membimbingnya hingga dapat sampai pada tahapan ini.
“Alhamdulillah kami ucapkan banyak terimakasih kepada para guru kami, tentunya kami tidak akan sampai ke tahap ini jikalau bukan bimbingan dari guru, keluarga, dan orang-orang tercinta,” kata Alamsyah.
Sarjana yang aktif bergiat dalam kegiatan sosial kesehatan dan literasi semasa kuliah ini menaruh harapan semoga apa yang telah didapatkan selama ini dapat diimplementasikan dalam alam realita.
“Selanjutnya kami akan berlabuh ke universitas selanjutnya, yaitu universitas penugasan yang disana kami akan menemui universitas perjuangan yang sesungguhnya,” tandasnya. .*/Ain
BANYUASIN (Hidayatullah.or.id) — Rombongan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten melakukan lawatan ke Kampus Madya Hidayatullah Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu, 5 Dzulqaidah 1443 (04/06/2023).
Rombongan tamu terdiri dari Ketua DPW Hidayatullah Banten Ust Maghfur A. Gunawan, Sekretaris Ust Dadan Abdul Fattah, Ketua Departemen Organisasi Ust Mujahid, Ketua Departemen Pendidikan Ust Ilham, dan Ketua Departemen Dakwah Ust Samhani Albantani.
Dalam kunjungan yang bertajuk Silaturahim, Sinergi, dan Kolaborasi, ini rombongan DPW Hidayatullah Banten bertukar pikiran dan pengalaman dan berdiskusi dengan DPW Hidayatullah Sumsel sebagai tuan rumah terkait pengembangan jaringan organisasi dan Rumah Quran, kondisi lapangan, dan tidak terlewatkan terkait fundrising.
Ketua DPW Hidayatullah Banten, Ust. Maghfur, berharap semoga dengan dengan silaturahim ke DPW Hidayatullah Sumsel ini bisa bersinergi, saling menguatkan, dan mendoakan agar sukses dalam berdakwah.
Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Sumsel, Ust. Lukman Hakim mengatakan, kemajuan Hidayatullah di suatu daerah atau wilayah akan menemukan momentumnya, entah tahun ini atau kapan, lanjutnya.
“Yang penting kita terus berikhtiar dan bekerja sesuai program kerja yang telah dicanangkan. Semoga Allah memberikan bantuan kepada kita,” kara Lukman.
DPW Hidayatullah Sumsel sendiri merupakan “tetangga” dari DPW Hidayatullah Banten meskipun beda pulau. Berjarak sekira 440 km dengan waktu tempuh 4 jam-an dari Bakauheni, Lampung. Jarak dan waktu tempuh yang sama dengan jarak dari Serang (Banten) ke Pekalongan (Jawa Tengah).*/Kosim Abu Aziyz
SUATU hari ketika Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasalllam pulang sehabis berdakwah. Khadijah menyambut berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak menyambut, Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, tetaplah engkau di tempatmu.”
Khadijah pada waktu itu sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Setelah beberapa saat, Rasulullah kemudian berbaring di atas pangkuan Khadijah.
Karena saking lelahnya Rasulullah berdakwah, dengan menghadapi berbagai caci maki dan fitnah manusia kala itu, akhirnya beliau pun tertidur.
Ketika itulah, Khadijah dengan lembut membelai kepala suaminya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tak terasa air mata Khadijah menetes ke pipi Rasulullah, yang membuat beliau terjaga.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Khadijah, kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku Muhammad?”
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tapi hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauh darimu. Seluruh harta kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal Wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?”
Khadijah pun menjawab,
“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah! Bukan itu yang aku tangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku punya kebangsawanan, aku serahkan kebangsawanan itu untuk Allah dan Rasul-Nya.
Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh harta kekayaan itu pun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi.
Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya aku telah mati, sedangkan perjuanganmu ini belum selesai. Sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan.
Sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah sungai, dan engkau tidak menjumpai jembatan ataupun rakit, maka galilah kuburku, engkau ambil tulang belulangku, jadikanlah rakit untuk menyeberangi sungai itu agar engkau dapat bertemu dengan manusia.
Ingatkan mereka tentang dosa dan Allah. Ingatkan mereka kepada yang haq. Ajaklah mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.
Subhanallah, bayangkan sejenak, seorang Nabi yang agung, seorang istri yang juga mulia, mereka berdua berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini. Islam dan kaum muslimin.
Begitu besar perjuangan Khadijah, dia korbankan segalanya untuk membantu perjuangan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tercinta. Berkorban untuk umat manusia bisa kenal Allah, dan untuk bagaimana hari ini umat di manapun hingga akhir zaman bisa kenal Islam.
Subhanallah, dua per tiga kekayaan kota Makkah adalah milik Khadijah. Tapi di akhir hidupnya tidak ada kain kafan yang menutupi jasad Khadijah.
Bahkan dikatakan pakaian yang ia gunakan adalah pakaian yang sangat kumuh, dengan dua puluh tiga tambalan, diantaranya menggunakan kulit kayu. Karena seluruh harta yang ia miliki, telah ia korbankan untuk memperjuangkan agama ini.
Bukan hanya Khadijah, semua sahabat juga setelah bersyahadat langsung tumbuh jiwa berkorban. Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya, Umar bin Khattab setengah hartanya.
Karena ada keyakinan dan kesadaran yang mendalam bahwa wujud dari persaksian itu harus siap berkurban. Hakekat pengorbanan juga akan kembali kepada dirinya, bukan untuk orang lain.
Kebahagiaan yang nikmat dalam beriman adalah saat bisa memberi, berkontribusi dalam perjuangan Islam. Sehingga wajar para nabi, sahabat dan orang-orang beriman berlomba-lomba untuk berkorban sebagai konsekuensi syahadat.
Konsekuensi Syahadat
Pada di awal Islam belum ada perintah infak. Tapi jiwa berkurban sudah muncul secara otomatis dari syahadatnya. Menjadi hal yang wajar dan logis, saat seseorang yakin dengan Allah maka apapun akan dilakukan untuk perjuangan menegakkan agama Allah.
Di akhir hayatnya, mereka para sahabat, sebagian besar tidak mewariskan apa-apa. Memang tidak memiliki apa-apa, meskipun mereka berhak menerima apa saja sebagai nabi ataupun sahabat yang telah banyak berkorban untuk Islam.
Mereka berkorban dengan ridha dan ikhlas. Tidak mengharap imbalan, tunjangan struktural atau fungsional, insentif, jaminan hari tua, pensiunan, pujian dari manusia. Mereka hanya berharap ridho Allah dengan syahadatnya.
Maka dalam Islam ada banyak bentuk perintah pengorbanan. Seperti jihad, zakat, infak, shadaqah, hibah, wakaf, dan perintah korban di hari idul Adha. Itu aplikasi bentuk berkurban. Sebenarnya tanpa ada nama-nama dari perintah di atas, orang-orang beriman akan otomatis berkurban untuk sesuatu yang diyakini dan dicintai yaitu Islam.
Jika masih lebih senang banyak menerima dari pada memberi, lebih sering menuntut hak daripada melaksanakan kewajiban, masih jengkel jika tak dapat pembagian rata. Maka masih jauh karakter syahadat yang dimilikinya.
Syahadat dan pengorbanan adalah konsekuensi logis. Tidak mungkin bisa bersyahadat sempurna jika tidak senang berkorban. Apa yang dipersaksikan jika tanpa pengorbanan? Persaksian apa terhadap Allah dan Rasulullah jika masih ada rasa berat dalam berkorban.
Di Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan Islam, sejak awal dikondisikan santri, ustadz, dan warga untuk berkontribusi apa saja yang dimiliki. Para guru dan pengurus digaji selama ini masih di bawah UMR.
Apa kata Allahuyarham Abdullah Said: “Sebenarnya gaji bapak-bapak ini banyak. Tapi sedikit yang diterimakan, yang banyak ditabungkan untuk di akhirat nanti”.
Ini bukan sekedar jawaban hiburan tapi menguatkan keyakinan tentang adanya pahala, surga, dan akherat. Meski sepertinya ghaib, tidak kelihatan tapi bagi orang beriman itu semua adalah haq atau kebenaran.
“Sebab kalau yang dicari hak materi, banyak tunjangan, berbagai fasilitas dan lain lain maka bukan di Hidayatullah tempatnya tapi di perusahaan,” kata salah satu ustadz.
Di Hidayatullah banyak ruang dan memang disiapkan untuk orang-orang yang siap berkorban. Bahkan sebagian besar adalah sebagai aplikasi pengorbanan. Demi Islam, muslimin, dan terlahirnya generasi muslim yang lebih baik.
Pendidikan dan dakwah di Hidayatullah adalah bagian dari jihad untuk melahirkan generasi muslim masa depan. Jihad Itu identik dengan berkorban. Bukan jihad jika untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari segi bendawi.
Semua sulit tercapai jika tidak ada jiwa jiwa yang siap berkorban. Korban dalam bentuk tenaga, waktu, perasaan, materi, privasi dll. Belum sampai berkorban nyawa untuk syahid di jalan Allah sebagai pengorbanan tertinggi dalam Islam dan mendapatkan kemuliaan yang paling tinggi di sisi Allah. Wallahu a’lam bis shawwab.
PASER (Hidayatullah.or.id) – Tentara Nasional Indonesia Komando Rayon Militer (TNI Koramil) beserta Bintara Pembina Desa/Samudera/Angkasa (Babinsa) 0904-06/Batu Sopang memberikan pembinaan kepada para santri Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Kajang, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Kamis, 3 Dzulqaidah 1443 (2/6/2022).
Setidaknya terdapat puluhan santri mengikuti kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kapten Czi Suparman selaku Danramil 0904-06/Batu Sopang.
Kegiatan pembinaan yang terdiri dari Pelatihan baris berbaris, pemberian materi wawasan kebangsaan dan penguatan fisik ini dilakukan di halaman Koramil 06/Batu Sopang.
‘Kami tanamkan rasa Bela Negara kepada para pemuda pemudi yang berada di Batu Kajang khususnya bagi para santri yang berada di Pesantren Hidayatullah,” ujar Danramil.
Danramil mengatakan, selain bekal ilmu keagamaan yang didapatkan di pondok pesantren, sejak dini santri juga dibekali dengan wawasan kebangsaan dan keindonesiaan sebagai wujud cinta Tanah Air dan terus menjaganya.
Pembinaan ini juga disambut positif oleh pengurus Pesantren Hidayatullah Paser dan para santri yang mengikuti kegiatan ini. Diharapkan pembinaan dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun untuk bangsa dan negara.*/Dim 0904/Psr
Sebuah rumah di Kota Gaza, Palestina, yang dibom oleh pesawat tempur Israel pada bulan Mei tahun 2021 lalu (Foto: Samar Abu Elouf/ The New York Times)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Selama bertahun tahun Gaza Palestina diblokade oleh Israel yang mengakibatkan negeri itu mengalami krisis. Bahkan blokade ketat itu telah mengakibatkan sumber air penduduk Palestina tercemar. PBB mencatat, 97% air yang tersedia di kawasan tersebut sudah tidak layak untuk dikonsumsi.
Kendatipun demikian, blokade itu tak menyurutkan langkah perjuangan bagi kemerdekaan Palestina dan Masjidil Aqsha. Diantara upaya menembus blokade tersebut adalah konvoi kapal Gaza Freedom Flotilla Mavi Marmara yang sedang mengantarkan barang bantuan untuk rakyat Palestina.
Namun, ketika dalam perjalanan, konvoi kapal kemanusiaan itu diserang oleh gerombolan tentara zionis Israel pada tanggal 31 Mei 2010 Subuh sekitar 4.30 waktu Laut Mediterania. Serangan brutal itu menewaskan 9 aktifiis kemanusiaan dan sedikitnya 60 korban terluka.
Hingga kini blokade masih terjadi dan sepanjang itu pula berbagai upaya untuk menembus blokade tersebut akan terus dilakukan sebagaimana Mavi Marmara.
“Mavi Marmara bukan perjuangan yang sia sia dalam proses perjalanannya itu,” kata pendiri Sahabat Al Aqsha, Dzikrullah W. Pramudya, kepada wartawan dalam acara Peringatan 12 Tahun Mavi Marmara: Arwah Syuhada Ilhami Para Pemuda di Gedung Pusat Dakwah Hdayatullah Jakarta, Selasa (31/5/2022).
Menurut aktifis kemanusian dan wartawan senior yang biasa disapa Babeh Dzikru ini usaha pembebasan Palestina dan Masjidil Aqsha tidak boleh berhenti. Ia pun mengumpamakan kondisi Palestina yang dijajah seperti sahabat Bilal bin Rabah.
“Kalau saya boleh mengibaratkan, Gaza itu kondisinya seperti Bilal bin Rabah yang ditindis batu oleh penjajahnya. Sekarang kita sedang menunggu Abu Bakar untuk menebus membebaskan Gaza Palestina,” Babeh Dzikru.
Dia menjelaskan, sosok Abu Bakar masa kini itu adalah umat Islam dan semua bangsa bangsa yang peduli dengan kemerdekaan. “Karena yang dipedulilan oleh Abu Bakar adalah kemerdekaan yang ditebus dengan harga berapapun,” imbuhnya.
Babeh yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah ini mengatakan peringatan 12 tahun Mavi Marmara ini bukan untuk nostalgia, namun untuk merawat api perjuangan, semangat membangun keadilan dan menghapuskan penjajahan.
“Itulah yang ingin tetap hidupkan semangatnya bahwa rakyat Palestina sedang dalam keadaan ditindas dan dizalimi. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan meskipun cuma sedikit karena suatu saat nanti Palestina akan merdeka. Kita pengen sesedikit apapun peran kita, nama kita tercatat, kita punya saham, untuk membebaskan Palsetina,” tandasnya.
Sekedar mengingatkan, konvoi kapal Freedom Flotilla Mavi Marmara diikuti oleh 600 orang lebih relawan dari sebanyak 32 negara negara asal relawan. Ada 9 orang syahid ditembak serdadu penjajah Zionis Israel, 1 orang syahid setelah koma 3,5 tahun, dan 50an luka parah dan ringan.
Adapun 9 orang syahid itu adalah Ibrahim Bilgen (61 tahun), Ali Haydar Bengi (39 tahun), Cevdet Kiliçlar (38 tahun), Çetin Topçuoglu, (54 tahun), Necdet Yildirim (32 tahun), Fahri Yaldiz (43 tahun), Cengiz Songür (47 tahun), Cengiz Akyüz (41 tahun), dan Furkan Dogan (19 tahun).
Ada sebanyak 12 Warga Negara Indonesia (WNI) yang ikut dalam kafilah kemanusiaan itu yaitu dari Sahabat Al Aqsha bekerja sama dengan Hidayatullah ada Dzikrullah W. Pramudya, Surya Fahrizal dan Santi Soekanto.
Dari relawan MER-C ada Nur Fitri Moeslim Taher, dr Arief Rachman, Abdillah Onim, Nur Ikhwan Abadi, dan Muhammad Yasin (Jurnalis TV One). Kemudoan dari Kispa ada Ust H Ferry Nur (Ketua Kispa), Muhendri Muchtar, Okvianto Baharudin, dan Hardjito Warno.
Acara Peringatan 12 Tahun Mavi Marmara ini juga dihadiri tokoh lainnya diantaranya Ketua Mavi Marmara Foundation Ismail Songur, Peneliti Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) Santi Soekanto, Duta Besar Zainulbahar Noor, Dubes Palestina Zuhair Al-Shun, anggota DPR RI Fadli Zon, Ketum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, Ketua Wantim Hidayatullah, KH Hamim Thohari, wartawan dan korban serangan ‘Israel’ Surya Fachrizal, budayawan Neno Warisman dan Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi.*/Ain
Alhamdulillah. Bersyukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat-Nya yang dianugerahkan kepada kita semua. Nikmat kesehatan. Nikmat persahabatan. Nikmat persaudaraan. Nikmat ketenangan. Nikmat makan dan minum. Nikmat kecukupan.
Nikmat kehidupan dan amat banyak lagi nikmat lainnya yang tak mungkin dapat kita hitung dengan kalkulator jenis apapun. Dan terlebih lebih, yang paling utama, adalah nikmat iman dan Islam sehingga kita benar benar dilingkupi kebahagiaan tiada bandingan.
Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita bermunajat, semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan mulia Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.
Beliau penunjuk pada jalan kebenaran, jalan keselamatan, jalan kegembiraan. Jalan yang penuh cinta dan pengorbanan. Beliau berkorban untuk kita dengan jiwa dan raganya. Beliau teladan kita dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Sosok yang selalu kita rindukan dan amat mencintai kita sebagai umatnya di akhir zaman ini.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pernakah kita – atau, orang-orang di sekitar kita – berangan-angan, andai saja bisa terlahir di zaman Rasulullah, lalu hidup dan berjuang bersama beliau? Kita melihat beliau shalat, dan menirunya sepersis mungkin. Beliau berdoa, dan kita mengaminkannya.
Bila kita berselisih pendapat, Rasulullah hadir dan wahyu turun menyelesaikannya. Saat musuh datang, beliau membariskan kita dan memimpin pertempuran. Lalu, para malaikat turun, dan kemenangan teraih.
Ketika sebagian kita syahid dan Rasulullah mempersaksikan kita telah masuk surga atau dijemput bidadari, lalu sebagian yang lain pulang dengan membawa ghanimah. Bukankah semua ini terasa begitu menggairahkan dan penuh semangat?
Jamaah Jum’ah yang berbahagia
Sepertinya begitu. Tetapi, bila angan-angan itu kita kemukakan kepada salah seorang Sahabat Rasulullah yang sesungguhnya, belum tentu mereka akan senang. Salah satunya adalah al-Miqdad bin al-Aswad, pemilik julukan si Penunggang Kuda (faaris) andalan Rasulullah.
Jubair bin Nufair bercerita, bahwa pada suatu hari ada seseorang yang berkata kepada al-Miqdad, “Sungguh beruntung kedua mata Anda ini, yang telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, sungguh kami berharap andai bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan menyaksikan apa yang telah Anda saksikan.”
Namun, beliau (al-Miqdad) terlihat tidak senang. Jubair berkata, “Saya merasa heran. Bukankah orang itu hanya mengatakan sesuatu yang baik?”
Lalu, al-Miqdad menghadap orang itu dan berkata, “Apa sebenarnya yang mendorong seseorang untuk mengangankan suatu momen yang telah Allah jauhkan darinya, padahal ia tidak pernah tahu – andaikan ia benar-benar menyaksikannya – bagaimana sikapnya di saat itu?
al-Miqdad melanjutkan perkataannya: “Demi Allah, sungguh telah banyak orang yang berjumpa langsung dengan Rasulullah, namun Allah menjungkalkan mereka ke dalam neraka Jahannam karena mereka tidak menjawab seruan beliau dan tidak pula membenarkannya. Mengapa kalian tidak memuji Allah, sebab Dia telah membuat kalian terlahir dalam keadaan tidak mengenal selain Tuhan kalian dan membenarkan apa yang diajarkan oleh Nabi kalian?
“Sungguh, Dia telah mencukupkan malapetaka besar itu pada generasi selain kalian. Demi Allah, sungguh Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu kondisi yang paling berat bagi kebangkitan seorang Nabi, yaitu pada zaman kekosongan dari kenabian (fatrah) dan kejahiliyahan, dimana saat itu manusia tidak melihat ada agama yang lebih baik dibanding penyembahan berhala”
“Lalu, beliau datang membawa furqan yang memilah antara hak dan batil, serta memisahkan antara seorang ayah dengan anaknya; sampai seseorang bisa melihat (dengan jelas) bahwa ayah, anak atau saudaranya adalah kafir. Allah telah membuka segel hatinya sehingga ia beriman, dan ia tahu persis bahwa jika ia mati (dalam keadaan seperti mereka) pastilah ia masuk neraka.
“Maka, ia tidak akan senang sebab ia tahu bahwa orang-orang yang dicintainya itu justru masuk neraka. Inilah makna firman Allah, “Orang-orang yang berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, anugerahilah kami istri-istri dan anak-anak yang menyenangkan pandangan mata kami.” (Qs. al-Furqan: 74). [Hadits riwayat Ahmad. Isnad-nya shahih].
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Jadi, angan-angan seperti itu ternyata tidak layak dan belum tentu baik. Mari kita renungkan faktanya. Dalam peristiwa Hijrah, kaum muslimin hanya berjumlah ratusan dari ribuan penduduk Makkah. Di Perang Badar, 313 kaum muslimin harus berhadapan dengan kaum kafir yang tiga kali lipat jumlahnya.
Peristiwa serupa kembali terulang di medan Uhud, Khandaq, Tabuk, dan lain lain. Lalu, ada ratusan ribu manusia dari Syam dan Mesir yang berbaris menghadang Islam, dikomandoi Kaisar Byzantium. Kishra Persia juga tidak tinggal diam dan mengirim pembunuh bayarannya ke Madinah, untuk menghabisi Rasulullah.
Di seantero Semenanjung Arabia pun tersebar banyak kabilah yang mayoritas tidak memihak Islam. Belum lagi makar kaum Yahudi dan munafik di Madinah, Tayma’ atau Khaibar.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Bila kita benar-benar terlahir dan hidup di zaman Rasulullah itu, berapa persen peluang kita untuk berpihak kepada Rasulullah? Atau sebaliknya, kita justru menjadi orang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengekor keyakinan dan kecenderungan mayoritas orang di sekitar kita?
Lihatlah, jutaan manusia di zaman itu justru berdiri di barisan kaum kafir, entah pasif maupun aktif, dan banyak diantaranya dijungkalkan oleh Allah ke jurang Jahannam. Rasa-rasanya kita pun akan sama saja dengan mereka. Astaghfirullah!
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Maka, daripada mengharapkan sesuatu yang belum tentu baik, alangkah tepat jika kita mensyukuri iman karunia Allah ini. Bukankah ia sebuah keberuntungan dan berkah? Bukankah Allah telah menghadiahi kita keimanan tanpa harus bersimbah-darah menghadapi seluruh dunia seperti para Sahabat?
Tidakkah cukup bagi kita pujian Rasulullah kepada orang-orang yang beriman kepada beliau, meskipun tidak sempat berjumpa secara langsung?
Diceritakan oleh Abu Jumu’ah – seorang Sahabat – bahwa pada suatu hari para Sahabat makan bersama Rasulullah, dan diantara mereka terdapat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah. Abu ‘Ubaidah bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami? Kami masuk Islam dan berjihad bersama Anda.”
Rasulullah lantas menjawab, “Ya, ada. Mereka adalah kaum yang hidup sesudah kalian, yang beriman kepadaku walaupun tidak melihatku. Hadits ini diriwayatkan Darimi, Ahmad, dan al-Hakim. Sanad-nya shahih.
Akhirnya, sudah sepatutnya kita bersyukur atas limpahan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Daripada mengharapkan sesuatu yang belum tentu baik, alangkah tepat jika kita mensyukuri iman karunia Allah ini karena ini adalah sebuah keberuntungan dan berkah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghadiahi kita keimanan tanpa harus bersimbah-darah menghadapi seluruh dunia seperti para Sahabat? Wallahu a’lam.
CIPAYUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta Ust Muhammad Isnaini meminta doa restu dan dukungan dari kaum muslimin dan muhsinin atas dimulainya pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Global Jayakarta yang berlokasi di Jl. Assyafi’iyah 101-89, RT.3/RW.5, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta.
Pencanangan dimulainya pembangunan dilakukan bertepatan dengan hari Jum’at di bulan Syawal, tepatnya tanggal 26 Syawal 1443 H (27 Mei 2022).
“Bismillah! kita mulai proses pembangunan pesantren ini pada hari raya umat Islam, yaitu pada hari Jum’at di bulan Syawal ini,” kata Isnaeni dalam sambutannya di acara yang dikemas dengan sangat sederhana itu.
Isnaini mengimbuhkan, sebuah tuntunan sunnah bagi setiap umat Islam yang akan memulai sesuatu kebaikan yaitu dengan berdoa, minimal dengan mengucapkan “bismillah”.
“Hal tersebut menandakan bahwa segala aktivitas yang kita rencanakan dan kerjakan diyakini adalah tak terlepas dari campur tangan Allah sang Pencipta sekaligus Yang Maha Mengatur dan Menentukan,” jelasnya.
Isnaini menambahkan, ada azzam atau tekad kuat tertancap yang ditandai dengan diadakannya event peletakan batu pertama yang dibingkai dalam acara tarhib Ramadhan 1443 H pada bulan April lalu.
Pada event doa bersama permulaan pembangunan ini dihadiri pula oleh anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta Gurutta Ust Asdar Majhari dan jajaran pengurus DPW Hidayatullah DKI Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Asdar memimpin do’a yang diamini oleh seluruh peserta yang hadir.
“Ya Allah, himpunlah orang-orang baik bersama kami dan himpun kami dalam kebaikan di dunia dan di akhirat,” demikian diantara penggalan doa yang dibacakan oleh Ustadz Asdar Majhari.
Semoga dari kebaikan para muhsinin yang mensupport program pembangunan Ponpes Tahfidz Quran Global untuk yatim dan dhuafa ini akan lebih mempercepat proses konstruksi hingga selesai dan dapat digunakan untuk proses belajar para santri penghafal Qur’an.
Diharapkan kelak komplek terpadu ini menjadi wadah yang integral dalam menimba ilmu untuk bekal dakwah kelak di kemudian hari. Sungguh jariyah yang insya Allah akan terus mengalirkan kebaikannya untuk para muhsinin sekalian. Aamiin.*/Ade Syariful Alam