BINTUNI (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan 1443 H dengan Program Berbagi Kebaikan dengan Zakat, Laznas BMH langsung tancap gas menyalurkan kebaikan zakat ke titik pedalaman. Tidak tanggung-tanggung kebaikan zakat itu langsung mengarah ke lokasi pedalaman Muslim Papua yang berada di Kampung Kalitami I dan Kampung Kenara di Distrik Kamundan, Teluk Bintuni, Papua Barat. Kegiatan itu digelar 7-10 April 2022.
“BMH ingin mengabarkan kepada masyarakat Muslim Tanah Air bahwa betapa banyak saudara pedalaman yang membutuhkan kepedulian dan uluran tangan bersama melalui zakat, infak dan sedekah,” terang Direktur Program dan Pemberdayaan BMH, Zainal Abidin dalam keteranganya, Ahad, 9 Ramadan 1443 (10/4/2022).
Contohnya keberadaan kaum Muslim Papua di Kamundan. Mereka memang telah menjadi Muslim sejak leluhur mereka, yang kata seorang tokoh setempat, Bapak Walik Nabi, leluhur mereka telah Muslim sebelum Indonesia dijajah oleh Belanda.
Namun demikian, seperti diungkapkan oleh Wardi Nabi (25), dai asal Kamundan yang kini mengajar Alquran di Pesantren Hidayatullah Manokwari, ke-Islam-an orang Kamundan harus terus dikuatkan.
“Betul, di Kampung Kalitami I ini semua Muslim. Tapi kalau dakwah kendor, tidak ada yang peduli kepada saudara-saudara di sini, siapa yang jamin mereka akan terus menjadi Muslim. Oleh karena itu kami senang dengan program BMH yang terus mengirim dai secara berkala ke kampung kami. Dakwah harus terus bergerak agar iman umat Islam di sini semakin kuat,” ungkapnya bersemangat.
Wardi menyatakan bahwa Kampung Kalitami selalu butuh akan kedatangan dai yang mengajarkan Alquran, mengenalkan masyarakat hidup bersih, disiplin, senang menuntut ilmu dan mau memakmurkan masjid.
Menurut penuturan tokoh masyarakat, Walik Nabi (39) dakwah memang sangat dibutuhkan. “Seperti masyarakat kami mengenakan hijab, itu baru ramai pada tahun 2006 setelah seorang dai dengan sabar berdakwah di Kamundan selama empat tahun. Sekarang, Alhamdulillah, sudah biasa ibu-ibu dan remaja putri di sini berjilbab,” tuturnya.
Butuh mushala
Dan, kebutuhan akan dakwah itu semakin terasa manakala melihat kondisi masyarakat Kampung Kalitami I, Kalitami II, Kampung Kenara, Kampung Bibiram dan Kampung Maroro yang dari semua kampung itu baru ada satu masjid.
“Alhamdulillah BMH bisa mengerti kebutuhan masyarakat di sini, terkhusus di Kampung Kenara yang sangat membutuhkan mushala. Jadi, kami mengajak mari ikut bersama membangun mushala di Kampung Kenara ini,” ungkap Kepala Suku Kampung Kenara, Supriadi Braweri.
Lebih jauh ia berharap BMH tidak saja mendirikan mushala di Kampung Kenara tetapi juga di empat kampung lainnya.
Sementara itu, dai tangguh BMH di Teluk Bintuni, Ustadz Fahrurrozy mengatakan bahwa pihaknya akan menjadi mitra BMH untuk program dakwah berkelanjutan.
“Mushala ini adalah gerbang program dakwah berkelanjutan bagi BMH dan kami semua. Setelah mushala selesai, kita akan siapkan dai yang bisa mengaji, mengajarkan Alquran dan membimbing masyarakat di Kampung Kenara dan kampung terdekat lainnya,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, prosesi peletakan batu pertama pembangunan mushala di Kampung Kenara langsung diresmikan oleh Kepala Suku, Supriadi Braweri.
“Bismillah, semoga mushala ini dapat segera terwujud dan pembinaan Muslim Kampung Kenara dan lainnya dapat segera kita lakukan,” ungkapnya sembari menancapkan sebuah balok kayu tanda peresmian pembangunan mushala itu.
Pada bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai tempat belajar mengaji dan mushala anak-anak, BMH juga menyerahkan bantuan Alquran dan Iqra’ untuk anak-anak Kampung Kenara belajar Alquran.
Menuju Kampung Kalitami I, Distrik Kamundan, Kabupaten Teluk Bintuni tim BMH harus menempuh perjalanan panjang dari Manokwari ke Teluk Bintuni, kemudian Teluk Bintuni ke Distrik Kamundan dengan perahu yang melintasi sungai dan laut lalu sungai dengan waktu tempuh lima jam.
“Jadi tampak sekali warga dan anak-anak sangat antusias menerima kedatangan tim BMH. Mereka sangat gembira, karena setiap BMH datang selalu ada program dakwah yang dikuatkan. Karena ada dai tangguh juga bisa hadir pada kesempatan ini, malam Tarawih pun jadi penuh. Karena, masyarakat sangat haus akan ilmu dan informasi untuk lebih semangat dalam hidup dan ibadah,” tutup Kepala BMH Perwakilan Papua Barat, Wasmanto. (ybh/hio)
BULAN Maret 2022 lalu, Pusat Kajian Strategis Zakat (PUSKAZ) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), menerbitkan laporan tentang Indeks Zakat Nasional dan Kaji Dampak Zakat 34 Propinsi 2021.
Setiap tahun, sejak tahun 2016, BAZNAS selalu menerbitkan IZN ini, untuk mengetahui bagaimana pengelolaan zakat dan juga dampak zakat yang dirasakan oleh mustahik.
Dalam IZN, diukur berbagai macam aspek yang mendukung pengelolaan zakat mulai dari dukungan pemerintah, kelembagaan, hingga bagaimana dampak zakat terhadap para mustahik.
Sehingga, untuk mengetahui lebih lanjut terkait perubahan dampak dari zakat yang diberikan, maka pengukuran seberapa banyak jumlah mustahik yang terentaskan dari kemiskinan menjadi salah satu indikator yang diukur oleh BAZNAS.
Dalam kajian tersebut, jumlah lembaga BAZNAS yang dapat diukur nilai IZN-nya di tahun 2021 ini sebanyak 290 lembaga yang terdiri dari 27 BAZNAS Provinsi dan 263 BAZNAS kabupaten/kota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Simpulan dari kajian tersebut dapat digambarkan secara garis besar, bahwa nilai IZN nasional mengalami peningkatan menjadi 0,59 (Cukup Baik) dibandingkan dengan tahun 2020 yang sebesar 0.50 (Cukup Baik). Sebanyak 1 provinsi masuk kedalam kategori Tidak Baik, 15 provinsi ke dalam kategori Cukup Baik, dan 18 provinsi masuk kedalam kategori Baik. Dengan kata lain, mayoritas provinsi di Indonesia mendapatkan nilai IZN yang telah masuk ke dalam kategori Baik.
Selanjutnya, nilai dimensi makro juga mengalami peningkatan yaitu dari 0,64 (Baik) di tahun 2020 menjadi 0,67 (Baik) di tahun 2021. Sebanyak 1 provinsi masuk ke dalam kategori Kurang Baik, 6 provinsi ke dalam kategori Cukup Baik, 25 provinsi masuk ke dalam kategori Baik, dan 2 provinsi masuk ke dalam kategori Baik. Dengan kata lain, mayoritas provinsi di Indonesia mendapatkan nilai dimensi makro yang telah masuk ke dalam kategori Baik.
Sama halnya dengan dimensi makro, dimensi mikro juga mengalami peningkatan dari 0,47 (Cukup Baik) di tahun 2020 menjadi 0,56 (Cukup Baik) di tahun 2021. Terdapat 3 provinsi masuk ke dalam kategori Kurang Baik, 19 provinsi ke dalam kategori Cukup Baik, dan 12 provinsi masuk ke dalam kategori Baik. Berbeda dengan dimensi makro, di dimensi mikro mayoritas provinsi di Indonesia mendapatkan nilai di kategori Cukup Baik.
Adapun untuk Kaji Dampak Zakat (KDZ) nasional, berdasarkan standar garis kemiskinan nilai yang didapatkan masuk ke dalam kategori Baik (0,62), standar had kifayah kategori Cukup Baik (0,45) dan standar nisab zakat masuk ke dalam kategori Kurang Baik (0,24).
Hal ini juga dapat digambarkan dengan jumlah penduduk miskin, juga mengalami penurunan sesudah mendapatkan bantuan zakat pada seluruh standar penghitungan garis kemiskinan (48%), had kifayah (41%), dan nisab zakat (12%). Penurunan kesenjangan pendapatan tertinggi terjadi pada penghitungan I dengan standar nisab zakat yaitu sebesar 21%.
Angka-angka tersebut di atas sangat mengembirakan. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan melalui indikator yang terukur, bahwa terjadi peningkatan literasi zakat secara nasional, baik indikator makro maupun mikro. Sehingga memberi dampak terhadap perbaikan kehidupan mustahik, dalam hal ini terutama berkenaan dengan pengentasan kemiskinan.
Literasi Digital LAZ
Beriringan dengan naiknya tingkat literasi zakat ini, seharusnya juga diikuti pula dengan bagaimana lembaga zakat mengikuti perkembangan zaman, terutama terkait dengan era industri 4.0. Dimana digitalisasi menjadi kunci utamanya.
Ternyata hal ini juga sudah diantisipasi dan direspon dengan cukup memadai oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ). Melalui Forum Zakat (FOZ), pada tahun 2020 telah melakuan survei berkenaan dengan kesiapan LAZ dalam menghadapi era digital dimaksud. Dimana secara umum mendapatkan hasil bahwa LAZ sudah siap dalam memasuki era digital ini.
Kesiapan tersebut dapat dilihat dari 5 (lima) aspek atau indikator yang diukur, yakini: kesiapan lembaga (enterprise readiness segment), kesiapan SDM (human resource segment), kesiapan informasi (information readiness segment), kesiapan infrastruktur TIK (ICT readiness segment) dan kesiapan lingkungan eksternal (external environment readiness).
Sebagaimana dikutip Kontan, dari segi kesiapan lembaga, hasil riset menunjukkan sebagian besar pengelola LAZ (78%) mengaku siap menghadapi era digital. Kesiapan Lembaga tercermin dari persepsi positif para pemimpin LAZ yang melihat penggunaan TIK sangat penting ((84%) dan mendukung (88%) pengelolaan zakat.
Keseriusan LAZ dalam menghadapi era digital juga terlihat dari kepemilikan kanal media digital berbayar oleh 86% LAZ. Kesiapan juga tergambar dari jumlah LAZ yang mengembangkan program peningkatan kompetensi amil digital (69%) dan mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan SDM (86%).
Terkait kesiapan SDM, hasil riset menunjukkan bahwa amil yang bekerja di LAZ memiliki kapasitas yang baik dalam penggunaan perangkat dan platform digital. Hasil riset mengungkap 97% amil LAZ mampu menggunakan gawai dan kanal media digital. Hal itu bisa dimaklumi karena Sebagian besar LAZ (77%) menggunakan media digital saat rekrutmen staf/amil.
Kesiapan SDM LAZ juga dilihat dari eksistensi divisi IT yang ada di Sebagian besar LAZ (63%). Bahkan, 54% dari LAZ yang jadi responden secara khusus memiliki divisi digital marketing.
Untuk aspek kesiapan informasi dalam penelitian ini dikaji melalui ketersediaan SOP lembaga dan hambatan dalam mengakses internet. Hasil riset menunjukkan mayoritas LAZ sudah memiliki SOP, dengan rincian 86% atau 89 lembaga memiliki SOP penghimpunan ZIS, 91% atau 95 lembaga memiliki SOP penyaluran dan 83% atau 87 lembaga memiliki SOP administratif. Dalam SOP tersebut tentu juga diatur soal pengunaan platform digital dalam pengelolaan ZIS.
Sementara terkait hambatan dalam mengakses internet, 34% lembaga mengaku masih menghadapi kendala dalam mengakses internet, 63% Lembaga mengaku tidak menghadapi kendala dan 3% sisanya tidak menjawab. Kendala dalam mengakses internet ini umumnya dihadapi oleh LAZ yang berlokasi di daerah luar Jawa.
Sedangkan yang terkait dengan kesiapan infrastruktur TIK, ada 2 indikator yang dikaji dalam riset ini, yakni kepemilikan kanal media digital dan akses internet di kantor LAZ. Hasil kajian menunjukkan bahwa hampir semua Lembaga yang dikaji (97%) memiliki kanal media digital. Sementara akses internet di kantor merupakan kebutuhan utama yang yang harus dipenuhi oleh LAZ yang ingin beroperasi di era digital.
Sedangkan mayoritas (96%) LAZ memiliki akses internet di kantor dengan beragam cara yang digunakan para amil atau staf dalam mengakses internet di kantor, mulai dari menggunakan WLAN atau WIFI, hotspot pribadi, modem, dan tethering melalui gadget/ smartphone.
Disisi lain, penggunaan internet diyakini telah merubah pola interaksi dan transaksi masyarakat, termasuk dalam pembayaran zakat. Hal ini juga mendorong 98% LAZ yang menjadi responden untuk mengembangkan berbagai inovasi digital.
Inovasi dilakukan dalam bentuk pengembangan web (93%) dan pemanfaatan kanal sosial media (99%) untuk pengelolaan zakat. Selain melalui website dan kanal digital, pengembangan inovasi tersebut juga dilakukan melalui platform crowdfunding yang dimiliki oleh pihak ketiga (17,3%). Selain itu, berkembangnya internet juga merubah pola LAZ dalam berpromosi atau mengiklankan program-program dan layanannya.
Selain menggunakan media promosi konvensional (spanduk, iklan media cetak, dll), LAZ juga berpromosi melalui kanal digital (80%), mengontrak atau bermitra dengan influencer (29%) dan membayar ads/iklan digital (78%).
Untuk penyaluran dan pendayagunaan ZIS, platform digital secara umum berdampak positif dalam mempermudah, mempercepat, memperluas cakupan program dan layanan LAZ.
Kendatipun demikian, dari laporan penghimpunan dana ZISWAF oleh LAZ dari tahun 2016-2018, baru 6,74% yang menggunakan platform digital. Dimana Rp, 2,15 triliun melalui cara konvensional dan Rp. 155 milyar degan cara digital.
Belum optimalnya penggunaan platform digital dalam aspek pengumpulan ini diperkirakan karena rendahnya kapasitas muzakki dalam menggunakan media digital dan belum terbiasanya masyarakat menyalurkan zakat secara digital. Akan tetapi hingga saat ini prosentasenya terus berkembang mendekati 50 persen.
Hasil riset tersebut juga menunjukkan beberapa tantangan yang dihadapi LAZ dalam memasuki era digital, yakni kualitas jaringan internet yang buruk (khususnya bagi LAZ di daerah), pemadaman listrik, serta biaya internet yang relatif mahal.
Selain itu, adanya tantangan maraknya kejahatan siber yang makin meningkat setiap tahun yang juga perlu diwaspadai dan diantisipasi oleh LAZ, seperti manipulasi data, gangguan sistem, peretasan sistem elektronik, pencurian data, akses ilegal, penipuan online, dan sebagainya.
Tantangan lainnya yaitu mengintegrasikan program-programnya dengan inisiatif atau program yang dikembangkan Lembaga-lembaga lain, sehingga upaya untuk mengatasi masalah tidak lagi dilakukan secara parsial, tapi lebih integratif dan komprehensif.
Tantangan ke depan
Menurut keterangan BAZNAS bahwa potensi zakat Indonesia pada tahun 2022 adalah sebesar Rp. 327 triliun. Sedangkan dari potensi tersebut, yang dapat dihimpun pada tahun 2021 oleh BAZNAS dan LAZ adalah sebesar Rp. 17 triliun. Pada 2022, Zakat Infak Sedekah (ZIS) dan Dana Sosial Keagamaan Lain (DSKL) membidik pengumpulan zakat bisa menembus Rp 26 triliun. Sebuah angka yang realistis.
Apalagi, dengan membaca dan menganalisa data di atas, maka tidak ada kata lain bagi BAZNAS dan LAZ untuk tidak selalu optimis dengan target tersebut di atas, apalagi pandemi COVID-19 berangsur mulai membaik, artinya pertumbuhan ekonomi juga membaik.
Kata kuncinya adalah sinergi antar lembaga, menjaga profesionalisme amil dan lembaga, transparansi, akuntabilitas, dengan tetap meningkatkan literasii zakat dan juga melakukan digitasisasi sesuai dengan tuntutan jaman.
Sehingga, akan lebih banyak lagi mustahik yang diberdayakan dan dientaskan dari kemiskinan. Dus artinya pendistribusian zakat harus tepat sasaran kepada mustahik, setidaknya terkait dengan segmen ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Wallahu a’lam
Asih Subagyo │Pengawas LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah
SALAH satu amalan utama di bulan Ramadhan adalah sedekah. Ada beberapa hadist yang mempertegas tentang keutamaan sedekah di bulan Ramadhan. Rasulullah melakukannya sendiri sebagai teladan dan memberikan kabar keutamaan dari sedekah di bulan Ramadhan, meski hanya sebiji kurma, segelas air.
Dari Ibnu Abbas yang berkata, “Rasulullah Saw adalah orang yang paling dermawan dan saat beliau paling dermawan adalah di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau. Malaikat Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan untuk saling mempelajari Al-Qur’an. Pada saat itu Rasulullah lebih dermawan dalam melakukan amal kebajikan melebihi (cepat dan luasnya) hembusan angin.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bulan Ramadhan membawa suasana kepada orang-orang beriman untuk berbagi. Semua merasa rugi jika tidak turut berbagi di bulan Ramadhan ini, terutama saat menjelang buka puasa. Salah satu yang semarak dan menjadi tradisi yang baik sejak dulu adalah di Haramain masjidil Haram dan masjid Nabawi.
Di dua masjid itu, luar biasa orang berlomba untuk berbagi. Orang yang kaya menyiapkan makanan dan minuman yang banyak dengan mengkapling tempat di masjid. Ada orang yang diutus khusus untuk mengajak jamaah bisa ikut makan di tempat yang disediakan. Utusan itu terkadang harus berebut dan “berkelahi” dengan yang lain. Luar biasa berkelahi untuk memberi kebaikan.
Bagi orang yang tidak mampu, mereka juga ikut berbagi meski dengan beberapa lembar tisu, air minum mineral, beberapa biji kurma dan hal-hal yang sederhana. Intinya mereka ingin berbagi.
Di masjid-masjid Indonesia juga melimpah makanan dan minuman. Meski tidak seperti di Haramain. Terkadang harus dijadwal dan dibatasi orang yang membawa makanan karena khawatir mubadzir.
Momentum berbuka puasa menjadi saat yang tepat untuk berbagai dan bersedekah. Salah satu motivasinya adalah hadist Rasulullah
Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dari orang yang berpuasa itu sedikitpun. (HR. Al-Tirmidzi).
Inilah yang menjadi motivasi iman yaitu sedekah di bulan Ramadhan sangat utama karena sedekah di bulan tersebut membantu orang lain untuk melaksanakan ibadah puasa. Bahkan orang yang memberikan makan orang yang berpuasa akan diberikan ganjaran sebagaimana orang yang berpuasa tersebut.
Ironisnya ada sebagian orang yang menikmati Ramadhan sebagai bulan orang banyak memberi, berbagi dan sedekah. Menikmati dengan hanya menjadi penerima atau penikmat dari pemberian orang lain. Padahal sebagian mereka ada kemampuan untuk berbagi.
Seharusnya penerima sedekah adalah orang-orang faqir miskin, anak-anak yatim dan tidak mampu yang menikmati Ramadhan penuh berkah dengan banyak pemberian dari para dermawan dan muhsinin.
Salah satu rangkaian Safari Ramadhan, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs Nasri Bohari didampingi Ketua Yayasan Al Jihad Pesantren Hidayatullah Belopa, Ustadz Hamzah Sultan serta sejumlah pengurus Pesantren Hidayatullah Belopa mengadakan kunjungan silaturahim ke kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu, Kamis (7/4/2022).
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan mengadakan safari Ramadhan di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, mulai Rabu, 5 Ramadan 1443 (6/4/2022).
“Dalam kegiatan tersebut, seluruh pengurus DPW dan DMW dibagi dalam 4 tim. Setiap tim mengunjungi 6 kabupaten/kota,” jelas Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Reskyaman SW MPd .
Beberapa kegiatan dalam safari Ramadhan tersebut di antaranya mulai dari dakwah mimbar, berupa ceramah Ramadhan, kultum shubuh, khutbah Jum’at, penguatan keorganisasian/manhaj bagi para warga dan jama’ah Hidayatullah.
Kegiatan lainnya berupa dakwah fardiyah, dikhususkan kepada para pejabat kab/kota, tokoh masyarakat, tokoh agama serta rektor-rektor perguruan tinggi. Serta dakwah digital.
Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Nasri Bohari, MPd, menjelaskan safari dakwah merupakan upaya penguatan dan perluasan jaringan Hidayatullah di masjid-masjid raya dan masjid-masjid besar di Sulawesi Selatan.
“Sehingga diharapkan Hidayatullah semakin bersinergi dengan pemerintah daerah setempat serta tokoh-tokoh dengan menggencarkan silaturrahim dan penguatan program,” jelasnya.
Safari dakwah tersebut juga sebagai kunjungan kerja serta evaluasi DPD di setiap daerah terkait pelaksanaan program kerja dan pengembangan amal usaha khususnya di bidang pendidikan.*/Albayan Media Center
BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan 1443 H kali ini dimaksimalkan oleh DPW Hidayatullah Kepri bersama BMH dan Pemuda Hidayatullah (Pemhida) untuk melakukan safari Ramadhan di kawasan Kepulauan Riau. Di hari ke-lima Ramadhan, Kamis, (7/4/2022), tim sinergi melaksanakan serangkaian kegiatan dakwah dan sosial di kabupaten Bintan.
Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah menjelaskan bahwa safari Ramadhan kali ini dimaksimalkan membangun soliditas di intenal Hidayatullah dan penguatan tarbiyah untuk kalangan eksternal melalui safari dakwah ke masjid-masjid.
Di awali penyerahan bantuan bahan pokok berupa beras, telur dan minyak goreng kepada pengelola Pondok Tahfidz Al Qur’an Hidayatullah di Toapaya kemudian dilanjutkan buka bersama dengan para pengurus serta santri penghafal Al Qur’an.
Di sela ramah tamah usai shalat magrib, Kepala Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz mengungkapkan bahwa substansi dari kunjungan kali ini adalah upaya membangun sinergitas untuk menguatkan kebersamaan dan keharmonisan di kalangan kader.
“Dengan ukhuwah yang kuat maka organisasi akan produktif,” tegasnya.
Pada kesempatan kali ini, DPW bersama Pemhida melakukan safari dakwah ke beberapa masjid di Bintan dan Tanjung Pinang yang difasiltasi oleh BMH Kepri, di antaranya, Ust Muhammad Hasan di masjid Jami’ Al Hidayah, Bintan, Ust Darmansyah di masjid Nurul Hikmah, Bintan, Ust Humeydi di masjid Al Amal, Bintan, Ust Rahmat Ilahi Hadis di masjid Al Mujahadah, Bintan dan Ust Rizky Fauzan Simbolon di masjid Al Muhajirin di Tanjung Pinang.
Ustadz Humeydi sebagai tuan rumah sangat berbahagia dengan silaturrahim pada safari Ramadhan kali ini, karena menurutnya para kader perlu terus memantapkan diri baik dari sisi pemikiran maupun aplikasi dan sebagaimana pernah disampaikan Ust Abdullah Said Rahimahullah bahwa Ramadhan adalah momentum penguatan spirit untuk mengembalikan semangat yang mulai kendur.
“Para kader di daerah sangat membutuhkan support seperti silaturrahim dari DPW dan BMH serta Pemhida sebagai penyemangat,” kata Humeydi.
Sebab, Humeydi menambahkan, kader kerap kali menghadapi dinamika yang tak terduga dan harus selalu siap merespon persoalan yang terjadi di tengah-tengah ummat.
Sebagaimana kejadian di tengah tamah tamah malam itu, tiba-tiba dua orang jamaah datang ke kediaman ustadz Humeydi meminta tolong untuk menangani anaknya yang tiba-tiba mengalami stres; tidak mau makan dan tidur serta berperilaku aneh. Ustadz Humeydi pun merespon akan segera menangani selepas tarawih dan ceramah.*/Mujahid M. Salbu
Foto ilustrasi berpikir dan bekerja (Mohamed Hassan/ Pixabay)
SERINGKALI kita menghadapi diskusi atau bahkan pertengkaran yang hebat. Bahkan menjadi perdebatan seperti chicken and egg, duluan mana antara telur atau ayam. Sehingga terjadi debat kusir berkepanjangan. Sebab ada juga yang menilai bahwa, berfikir itu bukan kerja. Dan hanya yang menggunakan fisik alias otot dan berkeringat itulah yang bekerja. Atau dengan bahasa lain lihatlah hasilnya yang dapat dilihat, dan biasanya diasosiasikan dalam bentuk material yang kasat mata.
Meskipun hal tersebut sudah berlangsung lama, berulang-lang dan berjilid-jilid jika dibukukan. Tetapi saya yakin hal itu akan masih terus terjadi perdebatan hingga kini. Problemnya adalah tidak ada yang mendudukkan persoalan pada tempatnya. Semua berargumen, bahwa pendapatnya yang paling benar. Lalu jika semua menganggap paling benar, lalu pendapat mana yang paling benar dari yang paling benar itu. Tambah pusing jadinya.
Mari kita urai, dengan kepala dingin. Gambar di atas menunjukkan sebuah diagram yang mudah untuk dibaca. Dan ini lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa sebenarnya, siapapun yang ingin melakukan sesuatu (bekerja), pasti berfikir dulu.
Dalam grafik itu ditunjukkan sekitar 90% waktu yang digunakan untuk berfikir sebelum mengerjakan sesuatu. Dan sekitar 10% waktu yang digunakan untuk mengeksekusi dan merealisasikan apa yang dipikirkan itu. Jadi yang paling benar berarti berfikir dulu, bukan bekerja dulu?
Tunggu dulu, ada kaidah yang terkenal di dunia manajemen, namanya hukum Pareto, yang bersumber dari penelitiannya di Italia awal tahun 1900an. Intinya Hukum Pareto atau The Pareto Principle atau sering disebut prinsip 80/20, menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, 80 persen dari efeknya itu disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya.
Sehingga, dalam konteks kepemimpinan sering kali diterapkan kaidah bahwa manejemen puncak menggunakan 80% sumberdaya yang dimikinya untuk berfikir secara strategis, dan 20% sumberdayanya digunakan untuk mengerjakan hal teknis. Demikian juga sebaliknya, staff (anggota) biasanya menggunakan 80% sumberdayanya untuk mengerjakan hal teknis (fisik) dan 20% digunakan untuk berfikir.
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan yang berada di middle management? Disini dipelukan azas proporsional, disesuaikan dengan beban dan tanggungjawabnya masing-masing. Biasa 70/30, 60/40, 50/50 dan seterusnya.
Saya teringat sebuah tulisan dari Prof. Amien Rais, saat memberikan testimoni pada buku Mencetak Kader, mengenai sosok AllahuyarhamUstadz Abdullah Said pendiri Hidayatullah. Dimana Pak Amien menyampaikan bahwa beliau merupakan gabungan dari Man Of Idea dan Man Of Action.
Artinya Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, berhasil memadukan dan mengintegrasikan antara berpikir dan bekerja dengan fisik secara proporsional. Sehingga menghasilkan karya nyata pada zamannya, berupa manhaj gerakan dan terus berkembang hingga sekarang, serta jaringan Hidayutullah yang terus tumbuh di seantero Bumi.
Kendatipun jika ditelisik lebih dalam lagi, kemampuan beliau tersebut sesungguhnya merupakan buah dari riyadhoh, yang bersumber dari kuatnya literasi beliau dan yang lebih utama lagi adalah kuatnya ibadah beliau, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.
Dengan demikian maka tidak perlu lagi ada perdebatan lagi antara berpikir dan bekerja. Keduanya sesungguhnya sangat bisa dikombinasikan secara proporsional, sesuai dengan kapasitas, beban, dan tanggung jawab masing-masing, tanpa harus merasa yang paling sendiri.
Kita banyak menjumpai dalil urgensi berpikir dan bekerja dalam Al-Qur’an dan al-Hadits. Pun demikian Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam, dengan sangat indah mempraktikkannya, diberbagi kesempatan. Salah satunya sebagaimana dijelaskan oleh As-Sa’di dalam Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, ketika menafsirkan surat Ash-Shof ayat 4:
“…. Ketika Rasulullah menghadiri peperangan, beliau menata para sahabat dalam beberapa barisan serta mengatur mereka dalam berbagai posisi, agar masing-masing tidak mengandalkan pada yang lain, tapi masing-masing kelompok berkonsentrasi di posisinya dan menunaikan tugasnya. Dengan cara seperti ini, pekerjaan bisa tuntas dan kesempurnaan bisa di dapatkan”.
Wallahu a’lam
Asih Subagyo –Senior Researcher pada Hidayatullah Institute Research Center
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) bekerjasama dengan dari BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta mengadakan sejumlah acara di Lapas Perempuan kelas IIA Jakarta Timur, Rabu, 4 Ramadhan 1443 H (6/4/2022).
Acara dimulai dengan pemeriksaan kesehatan, penghapusan tato, pemberian bingkisan, tausiah dan buka puasa bersama.
Pada kesempatan kali ini hadir memberikan tausiah Ustadzah Sulmiati Saleh dari muslimat Hidayatullah (mushida).
Acara yang digelar di Mushola Lapas Perempuan Pondok Bambu Jakarta Timur ini dihadiri sekitar 50 warga binaan pemasyarakatan.
Ustadzah Sulmiati dalam lawatannya ke lapas perempuan ini memberikan materi tentang meraih ampunan di bulan Ramadhan.
Dalam kuliah singkat ini beliau mengajak semua yang hadir untuk memaksimalkan 1 bulan pada ramadhan kali ini untuk muhasabah diri, bertaubat, memperbanyak istighfar, bermunajat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selain warga binaan, hadir juga pihak Kalapas beserta beberapa stafnya untuk membersamai para warga binaan lapas perempuan kelas II A Jakarta Timur.
Rangkaian agenda pada hari ini ditutup dengan buka puasa bersama. Namun buka puasa dilakukan di kamarnya masing-masing. Para petugas dibantu oleh warga binaan tamping mendistribusikan menu takjil dan makan malam ke seluruh kamar warga binaan.
Sebanyak 400 paket menu takjil dan makan malam kiriman dari BAZNAS (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta.
Program mulia ini dapat berlangsung dengan baik dan lancar berkat sinergi dari berbagai pihak, diantaranya adalah BAZNAS (BAZIS) DKI, Lapas Kelas II A Pondok Bambu, Islamic Medical Service (IMS) dan Muslimat Hidayatullah (Mushida).*/Alamsjah Jilpi
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan 1443 H, Islamic Medical Service (IMS) bersama Baznas (Bazis) DKI sinergi berikan layanan hapus tato keliling. Terbaru untuk warga binaan pemasyarakatan perempuan Kelas II A Jakarta Timur, Rabu, 4 Ramadhan 1443 H (6/4/2022).
Dalam sesi pembukaan hadir para pejabat teras BAZNAS (BAZIS) DKI seperti Ahmad H. Abu Bakar, Nasir Tajang, Ahmad Sholeh dan Ibu Rini.
Dalam kesempatan itu IMS menerjunkan seorang dokter, dua perawat, tiga operator dan dua orang paramedis.
Hadirnya program ini disambut baik oleh Plt Kalapas Ibu Aan Aeni.
“Terima kasih kepada BAZNAS (BAZIS) DKI dan IMS yang berkenan datang dengan layanan hapus tato. Mungkin bisa berlangsung secara rutin, ya,” ungkapnya.
Sementara itu Direktur IMS, Imron Faizin menyampaikan terima kasih atas kepercayaan BAZNAS (BAZIS) DKI dan penyambutan yang sangat baik dari Kalapas beserta jajarannya.
“Alhamdulillah, teirma kasih, IMS kembali dapat kepercayaan dari mitra kerja, BAZNAS (BAZIS) DKI dan Lapas di sini, insha Allah kebaikan dan kemaslahatan semakin mudah kita wujudkan dengan kolaborasi seperti ini, utamanya dalam membantu mereka yang hijrah lebih baik lagi,” jelasnya.
Layanan hapus tato IMS ini mendapat sambutan positif dari warga binaan.
“Program ini lama saya tunggu. Jadi senang sekali akhirnya datang hari ini IMS. Saya insha Allah kalau sudah bebas akan bersih dari keburukan dan juga tato ini,” ungkap Intan (35).
Senada dengan itu Santi (32) juga menyampaikan perasaan bahagianya.
“Terima kasih IMS. Saya sudah punya niat hapus tato ini sebelum masuk penjara. Namun, ternyata biaya hapus sangat mahal. Jadi saya sangat bersyukur justru dalam penjara saya bisa hapus tato gratis dari IMS,” tuturnya penuh haru.
Selain layanan hapus tato, BAZNAS (BAZIS) DKI juga membagikan bingkisan Ramadhan berupa seperangkat alat sholat berupa mukena.
Sesi paling akhir acara dipuncaki dengan buka puasa bersama dengan total 400 paket takjil dan 400 paket makanan semua untuk warga binaan binaan di lapas itu.*/Alamsjah Jilpi
IMAN adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan (dan amal) hati. Ada tiga kompenen penting yang harus terpenuhi dan ada pada seseorang yang mengaku dirinya beriman. Tiga komponen tersebut tidak terpisahkan satu dengan yang lain dan saling menguatkan.
Iman harus diucapkan dengan pernyataan syahadat dan dipersaksikan oleh banyak orang bahwa dirinya orang beriman. Namun tidak cukup hanya sebuah pernyataan, status, omongan saja tapi harus teralisasi dalam kehidupan sehari-hari dengan amal anggota badan berupa ibadah dan akhlaq. Ketiganya diyakini dalam hati sehingga ucapan dan perbuatan itu memiliki makna yang mendalam dan ikhlas sebagai sebuah keyakinan.
Iman juga tidak cukup dalam hati, tapi harus terucap dengan lesan dan teraktualisasikan dalam perbuatan. Jika berbeda keyakinan dengan ucapan maka bisa terjebak dalam kemunafikan. Jika tidak ada keyakinan dan perbuatan yang benar maka masuk dalam jerat kesesatan.
Ramadhan sebagai bulan mulia yang diperuntukkan khusus untuk orang-orang beriman, sebagai madrasah keimanan yang terkondisikan orang-orang beriman mudah untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. Semua umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambut Ramadhan dengan suka cita.
Secara lesan dhahir nampak syiar yang semarak menampakkan keimanannya, secara perbuatan juga terkondisikan semua berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan buka puasa bersama, sahalat tarawih, shalat lail, tadarus dan infak-infak amal sholeh. Secara hati semakin tumbuh keyakinan di bulan Ramadhan tentang janji-janji Allah.
Ramadhan adalah momentum untuk upgrading iman, secara eksternal Allah sudah mengkondisikan alam ini dengan angin surga yang orang mudah untuk melaksanakan ketaatan. Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, syetan dibelenggu. Banyak nasehat, tausyiah dari para ustadz, tulisan, flyer, spanduk, video pendek yang semua mengajak kepada kebaikan di bulan Ramadhan.
Secara internal, ada keinginan dan cita-cita dalam diri orang beriman untuk meraih keberkahan dan kemuliaan Ramadhan. Dalam hati mendalam, meskipun mungkin kecil tapi secara naluri semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan dunia akherat.
Ramadhan terbuka lebar dengan tangga yang sangat mudah dan jelas untuk meningkatkan kualitas keimanan kita. Semua tergantung mujahadah kesungguhan dan pengorbanan kita dalam memanfaatkan momentum Ramadhan ini.
Salah satu cara paling mudah dalam upgrading iman yaitu dengan melaksanakan ketaatan melalui berbagai ibadah wajib dan sunnah. Semakin serius melaksanakan ketaatan maka semakin menikmati dan meningkat keimanan seseorang.
Banyak peluang dan kesempatan untuk naik tingkat keimanan kita, ada banyak jalan dan cara untuk upgrading iman kita di bulan Ramadhan ini.
MAKASSSAR (Hidayatullah.or.id) — Hari Kebudayaan Kota Makassar yang diperingati setiap 1 April kembali dilaksanakan secara serentak di lembaga-lembaga pemerintah dan juga seluruh sekolah di Kota Makassar belum lama ini.
SD Integral Al Bayan Hidayatullah sebagai salah satu sekolah dibawa naungan Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar juga turut memeriahkan hari Kebudayaan tersebut yang diikuti oleh semua siswa dan dewan guru.
Juga dimeriahkan para orangtua yang mengantar dan melihat anak-anaknya memakai baju adat Makassar. Tagline Hari Kebudayaan Kota Makassar kali ini “Warna Warni Budaya Kota Makassar”.
Rangkaian kegiatan Hari Kebudayaan Kota Makassar di SD Integral Al Bayan dipusatkan di Lapangan Pesantren Hidayatullah Makassar dengan apel kebudayaan dipimpin oleh Kepala Sekolah Ruslan SPd MPd. Membacakan Pengarahan Hari Kebudayaan Wali Kota Makassar.
Kegiatan dimulai jam 08:00-10:00 memberikan semangat kepada siswa dalam suasana merawat budaya. “Semoga kegiatan ini bisa menumbuhkan kesadaran merawat dan menjaga budaya untuk generasi muda, generasi masa depan Makassar,” ujar Ruslan.*/Hidayatullah Makassar