Beranda blog Halaman 372

TNI AL Latih Mahasiswa PUZ-STIS Hidayatullah Jaga Kedaulatan NKRI

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) melatih ratusan mahasiswa Hidayatullah di Kalimantan Timur baru-baru ini. Kegiatan ini bertujuan antara lain untuk menguatkan peran para mahasiswa dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apalagi, sebagaimana diketahui, pemerintah telah mencanangkan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari DKI Jakarta ke Kaltim.

Kegiatan pelatihan ini dilakukan oleh Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Balikpapan di Pantai Ambalat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kaltim, sebagai bentuk sinergi dengan program Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Kegiatan ini mengusung tema “Menguatkan Kedisiplinan dan Kemandirian Mahasantri demi Kedaulatan NKRI”. Sebanyak 120 mahasiswa PUZ-STIS Hidayatullah tersebut mengikutinya dengan penuh antusias.

Ini adalah Program Tazim (Latihan Kepemimpinan) Mahasiswa Semester VIII kelompok II PUZ-STIS, yaitu melakukan sinergi dengan instansi pemerintah dan unsur Muspida Balikpapan. Para mahasiswa diharapkan dapat membangun mental silaturahim serta menjalin komunikasi dan jaringan.

Pihak Lanal Balikpapan menyambut baik program sinergi tersebut. Lanal Balikpapan mengirimkan tiga orang pelatih yaitu Letda Wawan, Serda Plimon, Serda Rusdito.

“Materi di pantai, Pertama, materi kuliah umum: Mengenal Kesatuan TNI Angkatan Laut dan Tugas Pokok dan Fungsi TNI AL dalam Menjaga Kedaulatan NKRI; Kedua, peraturan baris berbaris (PBB) dan praktik standardisasi barisan; Ketiga, kaidah dasar berenang, menyelam, dan bertahan di air,” jelas Mudir PUZ Muhammad Dinul Haq di Balikpapan, Senin (31/01/2022).

Setelah acara di Pantai Ambalat pada Sabtu (22/01/2022) pagi itu, ketiga pelatih dari TNI AL tersebut berkunjung ke Kampus Induk Hidayatullah Ummulqura di Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, pada Sabtu siang.

Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak ini merupakan lokasi dimana kampus PUZ-STIS berada, letaknya beberapa kilometer dari Pantai Ambalat.

Dalam kunjungan ke Hidayatullah Gunung Tembak, rombongan Lanal diterima oleh pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, yaitu Kepala Biro Humas, Hidayat Jaya Miharja, ditemani Mudir PUZ.

Hidayat menyampaikan ungkapan terima kasih kepada pihak Lanal Balikpapan yang telah bersedia dalam bersinergi dengan pesantren itu, termasuk lewat kegiatan pelatihan bagi mahasiswa tersebut.

Hidayat pun menyampaikan agar pihak pemerintah terutama dari unsur TNI senantiasa memberikan arahan dan bimbingan kepada Hidayatullah khususnya dalam upaya bersama membangun Indonesia.

Terkhusus pula, kata Hidayat, kepada para mahasiswa tersebut, perlunya peningkatan wawasan dan pemahaman dalam menyikapi, menghadapi, dan menangkal berbagai paham-paham yang selama ini dinilai membahayakan NKRI. “Seperti ekstremisme, terorisme, dan radikalisme,” ujarnya di Kantor YPPH Balikpapan didampingi Dinul Haq.

Pada kesempatan itu, pihak Lanal Balikpapan saling berbagi cendermata dengan pihak YPPH dan PUZ.

“Kami sampaikan amanat Danlanal Balikpapan berupa salam dan plakat ini sebagai ucapan terima kasih atas undangan kegiatan lapangan bersama mahasiswa di sini. Sekaligus kami mohon maaf karena waktunya terbatas hanya beberapa jam saja. Semoga ke depan program ini bisa kita lanjutkan kembali,” kata Letda Wawan.

Letda Wawan juga menawarkan program camping di areka markas Lanal Balikpapan yang terletak dekat Pelabuhan Semayang, Balikpapan.

“Kalau mau out bound dan camping 3 malam atau 1 pekan bisa di Lanal Balikpapan. Kalau renang dan menyelam juga bisa di kantor kami di Semayang. Mancing juga bisa,” ujarnya menawarkan sebagaimana ditirukan Dinul Haq.

Pihak Lanal Balikpapan, tambah Dinul Haq, juga memberi informasi terkait dibukanya kesempatan mendaftar jadi anggota TNI jalur santri dan mahasantri.

“Bisa jadi kerohaniawan Islam. Sangat bermanfaat untuk membimbing prajurit Muslim dalam beribadah dan konsultasi agama,” lanjut Letda Wawan.

“Kalau sudah sarjana S1 bisa langsung berpangkat Perwira seperti Pak Wawan,” kata Serda Rusdito dalam bincang-bincang pada sesi ramah tamah.

Sebagai informasi, kegiatan di Pantai Ambalat tersebut bagian dari Praktik Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diperuntukkan bagi mahasiswa PUZ-STIS Hidayatullah angkatan kedua.

“Di antara pokok materi adalah membangun kerja tim dan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Pangkalan TNI AL Balikpapan yang dipilih oleh kelompok kedua,” jelas Dinul Haq.

LDK itu diadakan untuk mahasiswa angkatan kedua PUZ semester 8. Jumlah mereka 15 orang yang kemudian dipilih sebagai panitia, lalu dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang, diamanahkan membuat berbagai macam kegiatan bermuatan kepemimpinan selama 1 bulan.

Pada pekan pertama yaitu kegiatan musabaqah tsaqafiyah, pekan kedua acara out door (dengan pihak eksternal Hidayatullah), pekan ketiga membuat majalah dinding 3D, dan pekan keempat seminar dan atau kuliah umum dengan pemateri yang diundang.*

Sumber: ummulqurahidayatullah.id

Mewaspadai Benih Kesesatan

BEBERAPA bulan terakhir, kita dikejutkan kembali dengan munculnya kelompok sempalan yang ditengarai dan terbukti menyimpang dari ajaran Islam. Ada saja isu yang dibawakan, namun muaranya selalu sama: menggugurkan kewajiban syariat dan menciptakan kewajiban baru yang tidak ada dasarnya.

Mereka juga selalu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, dan justru menghalalkan apa yang diharamkan-Nya. Pelakunya pun beragam, dan seringkali orang-orang biasa seperti kita juga. Kadang kita sendiri tidak habis pikir, kok bisa?

Sebenarnya, penyimpangan dari ajaran Islam bukan hal baru. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri masih segar-bugar, seorang calon nabi palsu telah hadir.

Di penghujung masa hidup beliau, Musailamah al-kadzdzab (si pembohong) datang ke Madinah bersama kaumnya. Ia berkata, “Jika Muhammad menyerahkan kekuasaan (atas umat Islam) sepeninggalnya kepadaku, pasti aku akan mengikutinya”.

Rasulullah telah melihat tanda-tanda ketidakberesan dan ambisi menyimpang ini, sehingga menolak memberi keistimewaan apapun kepada Musailamah. Beliau bersabda dengan tegas, sambil menunjukkan pelepah kurma di tangannya, “Andaipun engkau meminta padaku pelepah ini, tidak akan aku berikan!” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Hibban).

Demikianlah, motif di balik penyimpangan itu selalu sama: ambisi berkuasa, dipuja dan ditokohkan. Ambisi inilah yang diam-diam mendorong pelakunya menghalalkan segala cara, termasuk berbohong dan mengkhayalkan peristiwa yang tidak pernah terjadi.

Ia rindu diistimewakan di setiap majlis, kata-katanya didengarkan, nasihatnya dituruti, dan kehadirannya ditunggu-tunggu. Sayang sekali, hatinya tidak bersih, akalnya melenceng, ilmunya tipis, dan nafsunya lebih dominan. Syetan pun bertepuk tangan dan membuai angan-angannya dengan sejuta keindahan!

Masalahnya, siapakah yang tidak senang dihormati dan dipuji? Jika begitu, bukankah setiap kita berpeluang untuk menabur benih ajaran sesat, besar atau kecil, sengaja atau tidak? Bagaimana kita bisa menghindar dari jebakan syetan ini? Sungguh, tidak akan ada yang selamat kecuali mereka yang dipelihara oleh Allah ta’ala!

Salah seorang sahabat agung, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Al-Qur’an akan dibukakan untuk semua orang, sehingga kaum wanita, anak-anak maupun lelaki sama-sama bisa membacanya. Kelak akan ada seseorang yang berkata: ‘aku telah bisa membaca al-Qur’an, namun aku belum diikuti oleh orang’. Lalu, dia mengamalkan Al-Qur’an di tengah-tengah manusia, namun belum juga ia diikuti. Ia berkata: ‘aku sudah bisa membaca al-Qur’an, namun belum juga diikuti orang; aku juga sudah mengamalkannya di tengah-tengah mereka namun aku belum juga diikuti; sungguh aku akan membuat masjid di kediamanku, semoga saja aku diikuti orang’. Lalu dia pun membuat masjid di kediamannya, akan tetapi tetap saja ia tidak diikuti orang. Ia pun berkata lagi: ‘aku sudah bisa membaca al-Qur’an, namun belum diikuti orang; aku juga sudah mengamalkannya di tengah-tengah mereka, namun belum diikuti juga; aku pun telah membuat masjid di kediamanku, namun tetap saja belum diikuti; demi Allah, sungguh akan aku datangkan kepada mereka suatu perkataan yang tidak akan mereka dapati dalam Kitabullah dan tidak pernah pula mereka dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga saja aku diikuti!’” Mu’adz kemudian berkata, “Berhati-hatilah kalian terhadap apa-apa yang disampaikannya itu, sebab yang dibawanya itu adalah kesesatan.” (Riwayat ad-Darimi. Sanadnya shahih).

Mu’adz bin Jabal tengah berbicara tentang orang-orang yang membaca, mengkaji, dan mengamalkan Al-Qur’an bukan untuk Allah, namun demi dunia dan yang semacamnya. Ambisi meraih kemasyhuran dan riya’ (pamer) dalam beramal inilah penyakit utamanya. Karena riya’ pula segala kebajikan batal dan sia-sia di hadapan Allah.

Seseorang bisa saja datang ke akhirat dengan membawa segala kebajikan, namun akhirnya bangkrut samasekali, karena hatinya kosong dari keikhlasan. Na’udzu billah.

Mu’adz juga menyinggung masjid-masjid yang didirikan bukan untuk mengagungkan Allah dan meneguhkan syari’at-Nya, namun demi popularitas dan agar menjadi buah bibir di kalangan manusia semata.

Di zaman sekarang, “masjid” yang beliau maksudkan bisa juga berbentuk sekolah, pesantren, jamaah pengajian, training, media massa, atau organisasi yang ditujukan untuk penyiaran sebuah ide dan gagasan. Bukankah sejak zaman Nabi masjid juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan Al-Qur’an, hadits dan ilmu-ilmu agama?

Lalu, apanya yang salah dengan masjid, sekolah, training, jamaah pengajian, media massa, atau organisasi itu? Tidak ada, selain kecenderungan untuk asal beda dari yang lain sebagai upaya menarik perhatian publik dan mencari pengikut, menipu, dan memperdaya kaum awam. Tidak ada niat yang lurus dan ilmu yang benar disana.

Sepertinya, Mu’adz hendak memperingatkan kita. Sebab jangan-jangan, kita membangun semua itu karena telah jenuh tidak laku dan “tidak dianggap siapa-siapa”, lalu diam-diam syetan berbisik, “Sungguh akan aku datangkan kepada mereka suatu perkataan yang tidak akan mereka dapati dalam Kitabullah dan tidak pernah pula mereka dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga saja aku diikuti orang!”.

Pada titik inilah setiap dari kita harus ekstra hati-hati, terutama para guru, trainer, penulis, khatib, juru dakwah, wartawan, dan pengelola lembaga pendidikan. Sungguh, betapa butuhnya kita kepada keikhlasan dalam setiap perkara.

Sebab, saat kita berada pada titik terendah keikhlasan, maka selangkah lagi adalah titik pertama penyimpangan. Ya Allah, lindungi kami dari keburukan jiwa kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Amin!

Ust. M. Alimin Mukhtar

Basarnas Bahas Pentingnya Kepemimpinan Kolaboratif dalam Operasi SAR

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Deputi Bidang Bina Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas Dr Abdul Haris Achadi, SH, DESS, mengatakan kolaborasi merupakan hal sangat penting dalam operasi pencarian dan pertolongan/ search and rescue (SAR) dalam musibah bencana. Dia menekankan, untuk tercapainya hal tersebut maka mutlak adanya kepemimpinan kolaboratif.

“Basarnas akan mengembangkan terus manajemen kepemimpinan kolaboratif ini karena memang tidak mudah yang juga berkenaan dengan interaksi antar organisasi dan potensi yang ada,” kata Haris ketika menjadi narasumber Bimtek Nasional SAR Hidayatullah bertajuk “Kepemimpinan Kolaboratif Dalam Manajemen Operasi Bencana” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta belum lama ini (28/1/2022).

Haris mengatakan, seringkali saat terjadi bencana orang mengalami keadaan gagap dan gugup. Diharap dengan implementasi kepemimpinan kolaboratif dalam operasi pencarian dan pertolongan pada bencana hal itu bisa dieliminir.

Haris pun tak menampik kadangkala muncul adanya ego sektoral dalam operasi, apalagi dengan jumlah potensi yang jumlahnya tidak sedikit. Dia menyebutkan, di dalam TNI, Polri, Kementerian, dan lembaga pemerintah lainnya memiliki potensi yang luar biasa banyak. Belum lagi potensi dari ormas dan entitas lainnya yang bisa ribuan.

Dalam aksi pencarian dan pertolongan bencana yang terjadi selalu banyak pihak yang terlibat. Ini disebut Haris sebagai konvergensi tim atau kemajemukan tim yang melibatkan banyak sekali potensi baik dari negara maupun dari swasta, ormas, dan masyarakat secara luas.

“Semua buka posko sendiri sendiri. Belum lagi potensi dari ormas bahkan sampai ribuan. Ini positif sebenarnya tapi perlu pengelolaan,” katanya.

Oleh sebab itu, kata Haris, jika potensi yang ada saling merasa paling hebat dan berada di atas dibanding yang lain, maka hal ini kontra produktif dan berpotensi menutup informasi terkait dengan kebencanaan karena menganggap potensinya paling bisa.

“Makanya dalam operasi SAR itu kadang kadang mengangkat satu jenazah saja bisa rebutan orang,” kata Haris.

Oleh karena itu, Haris menegaskan, kepemimpinan kolaboratif dalam operasi pencarian dan pertolongan adalah hal yang amat penting disadari untuk terwujudunya sistem pengelolaan operasi yang sinergis.

Menurut Haris, saking pentingnya kepemimpinan kolaboratif dan perencanaan dalam operasi pencarian dan pertolongan, maka penerapan manajemen kepemimpinan saat di lapangan ini tak boleh dilupakan.

Di sisi lain, Haris menilai, rencana aksi pencarian dan pertolongan (SAR Plan) banyak yang belum dipelajari. Oleh karenanya, Basarnas berkomitmen untuk terus memantapkan aspek ini agar menjadi pemahaman semua potensi.

“Manajamen bencana pada pencarian dan pertolongan ini banyak yang belum dipelajari, bahkan Basarnas sendiri boleh saya katakan 75 persen fokus pada hardskill, (yaitu) keahlian terkait dengan fisik, pencarian, dan pertolongan,” ujarnya.

Menurut Haris, bekal softskill sama pentingnya dengan hardskill yang berkaitan dengan mental dimana hal ini perlu terus dilatih karena terkait dengan kepekaan, kepemimpinan, dan manajemen.

Dalam pada itu, kolaborasi menjadi sesuatu yang prioritas dalam operasi pencarian dan pertolongan namun ketika di lapangan hal ini ternyata tidak semudah yang dikatakan.

Idealnya antar organisasi itu mestinya terjalin partner, tetapi yang terjadi adalah kompetitor. Hal ini bisa saja terjadi jika tiadanya kebesaran hati dan semangat kebersamaan dalam meneguhkan kepemimpinan kolaboratif.

“Kita taunya memimpin orang lain saja tapi lupa memimpin diri sendiri,” imbuh Haris seraya menunjuk hati sebagai penanda kebesaran jiwa.

Di akhir pemaparannya, Haris mengajak untuk selalu membangun dan menguatkan jaringan (network) baik pra maupun pasca bencana sebagai upaya merawat kolaborasi dan silaturrahim antar potensi yang ada.

Haris pun mengapresiasi militansi SAR Hidayatullah sebagai salah satu potensi mitra Basarnas yang secara aktif menjalin komunikasi serta aktif melaporkan berbagai kegiatan dan program yang mereka lakukan. “SAR Hidayatullah luar biasa militansinya,” tandasnya.

Dalam Bimtek Nasional SAR Hidayatullah ini juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka/Ketua Komisi Binamuda, Kak Supriyadi yang juga pembina SAR Hidayatullah, Deputi Bidang Dakwah DPP Hidayatullah Ust H. Hamim Thohari, Wakil Ketua Kwarnas/Ketua Komisi Organisasi dan Hukum (Orgakum) Kak Dr. Chairul Huda, S.H., M.H, dan dipandu langsung oleh Komandan Pusat SAR Hidayatullah Irwan Harun.*/Ain

Hidayatullah Terus Solidkan Langkah Bermartabat untuk Membangun Provinsi Bali

0

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Telah lebih dari 20 tahun hadir berkhidmat di Provinsi Bali, Hidayatullah semakin meneguhkan langkahnya dengan menguatkan soliditas gerakan yang bermartabat guna membangun Bali melalui gerakan utamanya di bidang dakwah dan tarbiyah (pendidikan).

“Dengan soliditas dan langkah yang bermartabat, semoga program rakerwil Hidayatullah tahun ini bisa semakin membangun kekuatan umat, agama dan bangsa Indonesia kedepan khususnya Bali,” kata Ketua DPW Hidayatullah Bali, Abdullah Salim, yang diwakili oleh Bendahara Wilayah, Didik Khoirudin Zuhri.

Ketua DPW Hidayatullah Bali berhalangan hadir pada pembukaan Rakerwil yang berlangsung selama 2 hari tersebut, Sabtu-Ahad, 26-27 Jumadil Akhir 1443 H (29 – 30 Nov 2021) karena berbarengan dengan wafatnya orangtuanya.

Meneruskan sambutan Ketua DPW Hidayatullah Bali, Didik mengatakan, dengan gerakan yang bermartabat yang mengedepankan akhlakul karimah, kejujuran, kebenaran, sikap amanah, cerdas, dan proporsional, maka diharapkan kiprah serta progresifitas Hidayatullah di Provinsi Bali terus meningkat.

Menurut Didik, Hidayatullah Bali tidak saja bergerak di bidang dakwah dalam melayani umat dengan beragam kegiatan seperti majelis taklim, rumah Quran, pembinaan muallaf dan lain sebagainya. Hidayatullah Bali, diterangkan Didik, juga berupaya meningkatkan kualitas program pendidikan yang diembannya.

“Hidayatullah Bali memiliki program pendidikan yang mana turut memberikan kontribusi besar dalam mencerdaskan anak anak bangsa,” kata Didik.

Oleh sebab itu, Didik berharap, dengan gerakan bermartabat dan dilandasi oleh niat luhur karena Allah SWT semata untuk berbuat yang terbaik untuk umat, Hidayatullah Bali terus tumbuh melayani dalam naungan keberkahan Allah SWT.

Di kesempatan yang sama membuka Rakerwil tersebut, Marwan Mujahidin dari DPP Hidayatullah menyampaikan arahan pentingnya konsistensi pembinaan, rekrutmen, dan kaderisasi, mengingat besarnya tanggung jawab amanah yang harus dipikul dalam memakmurkan bumi dengan spirit kaffatan linnas rahmatan lil ‘alaamiin.

“Pesan penting dari Bapak Ketum agar memfokuskan kepada perekrutan kader karena kader sangatlah penting untuk meneruskan gerakan perjuangan ini,” tandas Marwan.

Rakerwil Hidayatullah Bali Tahun 2022 ini diikuti 48 orang peserta dari unsur DPW, DPD se Bali, BMH, MMW, DMW, Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, dan kepala amal dan badan usaha induk.*/Pungki Hurmadani

Satu Agenda Seribu Makna, Catatan Rakerwil 2022 Hidayatullah Kepri

Oleh Mujahid M. Salbu*

KETIKA menggelar event pertemuan, maka yang pertama dibahas tempat kegiatan. Ada banyak pilihan sesuai kondisi suatu daerah, misalnya rakerwil atau rakerda. Pilihannya bisa di hotel, restoran, kantor, kampus pondok, bahkan yang ekstrim di alam terbuka. Masing-masing tempat memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kali ini penulis akan mengulas rakerwil Hidayatullah Kepri yang digelar di kampus Hidayatullah Bintan. Awalnya muncul kekhawatiran terkait fasilitas yang ada, mulai ruang rapat, akomodasi peserta, konsumsi, dll. Panitia rapat membahas persiapan lalu turun mengecek kondisi di lapangan.

Pembiayaan rakerwil dari BMH Kepri, namun, bantuan sukarela dari berbagai pihak juga mengalir menutupi beberapa kebutuhan seperti dari kecamatan yang membantu panggung, tenda, kursi, dan sound system, seorang jamaah pengusaha dekorasi membantu mempercantik panggung, ada yang juga yang membantu air minum dan kebutuhan lainnya.

Alhamdulillah tiba hari H rakerwil dan tabligh akbar, atas pertolongan Allah Ta’ala tidak ada kendala berarti, beberapa kendala bisa diatasi, memang masih ada kekurangan yang menjadi pembelajaran.

Yang menarik adalah proses menuju hari H. Jamaah dan masyarakat sekitar pondok ikut terlibat membenahi jalan masuk ke kampus yang bergelombang, para santri dan pengurus Hidayatullah Bintan dan Tanjung Pinang bahu membahu menyukseskan acara.

Saat rakerwil, ada gairah kultural di kampus, shalat berjamaah, tahajud di masjid, membaca al Qur’an, halaqah, wirid pagi dan sore, kemudian ada taujih bakda subuh, diskusi ringan bertukar pikiran dan pengalaman serta kegiatan lain yang mengeratkan kebersamaan.

Selain itu, misi syiar juga berjalan, tabligh akbar dihadiri sekira 400 warga dari Tanjung Pinang dan Bintan, para pejabat yang datang juga meihat langsung kegairahan di kampus Hidayatullah Bintan. Ditambah publikasi dari berbagai media yang datang untuk meliput.

Mengadakan rakerwil di kampus salah satunya sebagai upaya meruntuhkan dikotomi kultur organisasi dan kultur pesantren. Sebab, jangan sampai sistem yang terbangun di organisasi dengan segala aturan yang tertuang di PDO dan PO membentuk kultur yang kaku sehingga akan lebih mirip perusahaan, sesuai apa yang penulis tangkap saat berdialog dengan ketum DPP Hidayatullah beberapa saat lalu di Batam.

Membangun keseimbangan perlu terus dilakukan, agar akurasi mencapai target dari program yang dicanangkan berjalan seiring dengan keharmonisan (presisi) dan kesadaran berimamah jamaah. Itulah diantara beberapa spirit yang ingin diraih dari pelaksanaan rakerwil Hidayatullah Kepri yang diadakan di kampus Madya Hidayatullah Bintan. Wallahu a’lam.

*) Mujahid M. Salbu, penulis adalah Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga Dewan (HAL) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepri

IMS Gelar Hapus Tato di Lapas Perempuan Kelas II Semarang

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Memenuhi harapan masyarakat dalam menjejak langkah langkah kebajikan atas kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lembaga kesehatan nasional Islamic Medical Service (IMS) menggelar kegiatan hapus tato di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II Semarang, Jawa Tengah, Senin, 29 Jumadil Akhir 1443 (31/1/2022).

Kegiatan yang dirangkai dengan acara tabligh akbar ceramah agama ini digelar berkat sinergi dan kolaborasi dengan PT Hauri, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), YBM PLN, Majelis Telkomsel dan Dompet Dhuafa.

Direktur IMS Imran Faizin mengatakan kegiatan ini sebagai wujud perhatian serta dukungan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang terus meniti jalan kebaikan.

“Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini dan melihat keinginan para peserta untuk hijrah menuju pribadi yang lebih baik begitu besar, IMS akan menghadirkan mejalis Qur’an di lapas sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan ini,” kata Imran.

Insya Allah, terang Imran, pihaknya akan hadirkan sebuah program pendampingan berupa Majelis Qur’an dimana IMS akan menggandeng Muslimat Hidayatullah untuk melakukan program pembinaan dan pendampingan terhadap WBP wanita.

“IMS selaku mitra kerjasama dari Ditjen PAS akan berusaha maksimal untuk dapat melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap warga binaan pemasyarakatan dan insya Allah kegiatan ini akan berkelanjutan di lapas lapas yang ada di Indonesia,” tandas Imran.

Pada kegiatan kali ini, selain memberikan layanan hapus tato gratis, tak lupa juga memberikan motivasi dan siraman rohani kepada binaan dengan menghadirkan KH Ahmad Shonhaji selaku penceramah.

Selain itu, Warga Binaan Pemasyarakatan juga mendapatkan bingkisan dari Lembaga Pelayanan Masyarakat Dompet Dhuafa (LPM DD) berupa Al- Qur’an dan tasbih digital.

Untuk kegiatan hapus tato ini sendiri, diikuti sebanyak 37 peserta Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Meskipun tidak sedikit diantaranya yang kesakitan, mereka nampak senang karena rajah penanda masa lalu yang kurang baik mulai berkurang.

Dalam sambutannya, Kalapas Perempuan Kelas ll Semarang, Kristiana, merasa senang dan bersyukur atas dipilihnya LPP Semarang sebagai tempat yang dijadikan tempat pelayanan. Kristiana mengucapkan terima kasih kepada IMS dan DD sebagai pelopor berjalannya program ini.

“Kami ucapkan banyak terimkasih kepada IMS, di antara banyaknya lapas, LPP semarang terpilih sebagai tempat layanan hapus tato dan semoga kegiatan ini dapat membantu para napi untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Kristiana.*/Alamsyah Jilpi

Membangun Papua dengan Iman dan Pendidikan

BEBERAPA hari di tanah Papua, diajak keliling kota, perbatasan dengan Negara Papua Nugini dan singgah di DPD Keerom, kilo meter 9. Ternyata alam dan masyarakat Papua, kurang lebih sebagaimana wilayah Indonesia yang lain.

Tidak seperti berita-berita miring di media yang cenderung mendramatisir dengan suasana yang mencekam dan tidak kondusif keamanannya. Sehingga terbangun persepsi negatif di fikiran masyarakat.

Asumsinya Papua itu hutan belantara, susah cari makan halal, banyak koteka, perampokan dan lain sebagainya yang terkesan negatif. Ada sebagian official dan pemain yang tidak jadi berangkat karena khawatir terkait masalah keamanan.

Ada cerita menarik di gelaran PON beberapa bulan lalu di Papua sebagai tuan rumah. Hampir semua kontingen atlet dari semua propinsi membawa satu regu brimob dengan persenjataan lengkap dari wilayahnya masing-masing, intelijen, sniper khusus, bahan makanan seperti beras, telur, mie, makanan kaleng, dan lan sebagainya. Kemudian peralatan masak lengkap dengan piring, gelas dan lain-lain.

Ternyata selama kegiatan PON berjalan dengan aman dan nyaman. Mereka datang di bandara disambut oleh komunitas propinsinya masing-masing yang bekerja dan sudah menetap bertahun-tahun di Papua. Bahkan ada yang tidak sengaja ketemu saudara, teman, dan tetangganya. Suasana menjadi sangat cair, penuh persaudaraan dan akrab.

Ketika melihat bandaranya yang besar, mewah dan standart, kemudian perjalanan ke hotel. Mereka kaget dan heran, ternyata Papua sama saja dengan propinsi lain. Nyaris tidak ada bedanya.

Pemerintah Papua menyediakan dapur umum di mana-mana untuk melayani para atlet dengan gratis. Makanan melimpah, belum habis makanan pagi sudah datang makan siang.

Selanjutnya belum habis makanan siang, sudah datang makan malam. Subhanallah mereka terheran-heran. Sehingga bahan makanan dan alat masak nyaris tak terpakai, bahkan akhirnya diinfakan atau disumbangkan.

Dari sisi keamanan, anggota brimob yang dibawa masing-masing kontigen, juga kaget dan heran. Sebab suasana aman, sehingga persenjataan yang dibawa dititipkan ke Marko Brimob Papua. Pakaian mereka juga ganti dengan kostum bebas, bukan seragam dinas.

Mereka bebas menikmati keindahan Papua dengan aneka ragam tempat wisata yang natural. Sehingga peserta PON banyak rileks dan terhibur.

Banyak gereja, begitupun masjid juga banyak. Kegiatan keagamaaan Islam lebih dinamis dan semarak. Kajian taklim terbuka di mana-mana. Pergaulan dan pembauran masyarakat pendatang dan masyarakat Papua terutama yang berpendidikan berjalan dengan baik. Mereka juga sudah banyak yang terpelajar dan menempati pos-pos penting di pemerintah.

Berkah PON, banyak gedung olah raga dibangun, jalan diperbaiki dan fasilitas umum banyak terbangun. Sekolah, perguruan tinggi, mall, rumah sakit, bank, pasar, sudah banyak yang eksis dan berkembang.

Pendidikan dan Iman

Ada pendapat yang mengatakan bahwa solusi untuk permasalahan sosial di Papua adalah kesejahteraan. Sebenarnya tidak persis seperti itu dan isu pemerataan ekonomi ini hanya satu dari sekian variabel yang ada. Sebab masyarakat asli Papua sebagian sudah sejahtera, setiap bulan contohnya di Kabupaten Mimika satu KK mendapatkan santunan 3-5 juta. Kendaraan angkut di Terminal Merauke dan Nabire itu paling rendah inova, rata-rata Pajero, Fortuner, dan mobil-mobil elit.

Menurut Ustadz Syakir sebagai ketua Departemen Pendidikan Kampus Utama Timika, salah satu kunci untuk akselerasi pembangunan di Papua adalah program pendidikan. Menurutnya, selama ini masyarakat asli Papua tertinggal karena mereka belum mengerti dan paham tentang kehidupan, pekerjaan, dan tatanan masyarakat sosial. Sehingga cenderung inferior bahkan benci dengan pendatang dianggap sebagai penjajah.

“Mereka juga karena pendidikan rendah maka mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu,” kata Syakir.

Salah satu bukti masih rendahnya pendidikan sebagian masyarakat Papua adalah saat datang ke Bank Papua untuk mengambil uang santunan maka kebanyakan menggunakan cap jempol. Belum mengenal baca tulis, berhitung dan tanda tangan.

Kemudian menurut Ustadz Mualimin Amin Ketua DPW Hidayatullah Papua, penanaman iman harus menjadi prioritas untuk solusi permasalahan di Papua. Iman yang bisa melahirkan kesadaran orang untuk memiliki peradaban lebih maju.

“Iman menjadikan manusia bisa lebih beradab. Kalau solusi kesejahteraan hanya mendorong masyarakat Papua semakin konsumtif, tidak akan ada puasnya manusia dengan materi, ketika kesejahteraan itu ukurannya materi,” kata Muallimin.

Menurut penulis harus ada pendekatan yang komperhensif untuk membangun Papua. Pembangunan fasilitas umum di Papua sudah lumayan maju, menunggu untuk wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau transportasi.

Adapun skala prioritasnya adalah pendidikan dan iman. Selama ini ada dikotomi antara pendidikan dan iman, padahal esensi dari pendidikan adalah menumbuhkan iman dari peserta didik. Mengenalkan Allah sebagai Tuhan sebagai dzat yang wajib disembah, tempat munajat dan bergantung.

Pendidikan di sini bukan sekedar pengetahuan calistung (membaca, menulis dan menghitung) meski itu pendidikan dasar yang penting dimiliki oleh masyarakat Papua. Adapun yang terpenting adalah pendidikan untuk mengantar peserta didik bisa memiliki iman.

Iman salah satu jalan tumbuhnya adalah pendidikan. Transformasi ilmu dan nilai melalui dunia pendidikan sering kali kering dari nilai-nilai yang menumbuhkan iman. Pendidikan hanya transformasi ilmu untuk konsumsi otak, tidak menyentuh hati dengan nilai-nilai keimanan, maka akan melahirkan peserta didik yang tidak terarah.

Demikian juga iman bukan sekedar doktrin tapi penumbuhan kesadaran dan keyakinan dalam hati, teraktualisasi dalam lisan dan perbuatan. Sehingga penumbuhan iman itu bisa dilakukan secara bertahap dan terstruktur melalui sistem pendidikan.

Belajar dari sejarah Rasulullah membawa Islam dan menanamkan iman kepada masyarakat Arab yang jiwa keras dan jahiliyah tapi berhasil dilembutkan dan menjadi manusia hebat dengan kemajuan peradaban, keberaniaan, dan kekuatannya.

Sekeras apapun seseorang jika mendapatkan iman maka akan lembut dan keluar potensi positifnya untuk membangun peradaban yang lebih baik.

ABDUL GHAFFAR HADI

Gubernur Resmikan Rusun Santri ‘Ummu Atikah’ Hidayatullah Manokwari

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si, meresmikan rusun santri Ponpes Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Arfai II Kelurahan Anday Distrik Manokwari Selatan Kabupaten Manokwari Papua Barat, Sabtu, 27 Jumadil Akhir 1443 (29/1/2022).

Peresmian ini merupakan rangkaian dari acara pembukaan Rapat Kerja Wilayah DPW Hidayatullah Papua Barat Tahun 2022.

Dalam sambutannya, Gubernur Papua Barat berkomitmen untuk terus mendukung program program keumatan terutama dalam bidang pendidikan.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung program keumatan terutama pendidikan seperti Pondok Pesantren ini,” imbuhnya.

Dominggus menerangkan Rusun ini adalah bantuan dari PUPR pusat melalui pemerintah Provinsi Papua Barat. “Rusun ini bantuan dari dari PUPR pusat melalui Pemerintah Provinsi Papua Barat,” terangnya.

Harapannya, semoga Rusun ini menjadi penunjang pondok pesantren Hidayatullah dalam mengembangkan dan meningkatkan pendidikan dengan melahirkan generasi emas Papua Barat calon pemimpin bangsa ke depan.

“Saya berharap rusun ini jadi penunjang pondok pesantren Hidayatullah untuk semakin meningkatkan kualitas pendidikan dengan lahirnya generasi emas Papua Barat sebagai calon pemimpin bangsa kelak terutama Papua Barat,” harap Gubernur Dominggus.

Ketua Dewan Murobbi Wilayah Sultan, S.Pd.I sebagai moderator dalam acara peresmian ini menjelaskan rusun tersebut dinamai rusun “Ummu Atikah”. Dia menjelaskan, nama ini didedikasikan untuk istri dari pendiri Ponpes Hidayatullah Manokwari Ust Amin Bahrun almarhum.

“Kita berikan nama rusun ini dengan nama rusun ‘Ummu Atikah’ ini kami dedikasikan untuk ibu Atikah istri dari almarhum Ust Amin Bahrun,” kata Sultan.

Sultan menambahkan, sebelumnya Aula pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari kami namai “Aula Amin Bahrun”. Menurut dia, nama-nama ini merupakan hasil musyawarah para pengurus untuk mengenang jasa pendiri yang tidak bisa dibalas dengan apapun.

“Kami pengurus sudah sepakat untum memberikan nama-nama ini untuk mengenang kebaikan-kebaikan pendiri dan menjadi inspirasi bagi generasi muda,” ungkap Sultan.

Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan penotongan pita secara simbolis oleh Gubernur yang juga disaksikan Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI, tokoh agama dan masyarakat, peserta Rakerwil, undangan, dan warga setempat.*/Miftahuddin

Hidayatullah Siap Bersinergi dengan Pemerintah Daerah Wujudkan Visi Riau 2025

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Hidayatullah Riau diharapkan dapat bersinergi dengan Pemerintah Daerah untuk mewujudkan Visi Riau tahun 2025, yakni Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis, Sejahtera Lahir dan Batin di Asia Tenggara

Hal tersebut disampaikan Asisten I Setdaprov Riau, Masrul Kasmy, saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Riau di Aula Pustaka Wilayah (Puswil) Soeman HS, Sabtu, 27 Jumadil Akhir (29/1/2022).

Dalam menjalankan roda pemerintahan, tentu semua komponen masyarakat harus saling berkolaborasi. Untuk itulah, menurut Masrul, Hidayatullah Riau sebagai Ormas Islam di Riau memiliki peran penting dalam mewujudkan Visi Riau 2025, terutama ikut serta menciptakan lingkungan yang agamis, sejahtera lahir dan bathin.

“Melalui Rakerwil saya harap semoga dapat membantu pemerintah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, beriman dan berdaya saing,” harapnya seperti dinukil dari Media Center Humas Pemprov Riau.

Adapun tema yang diangkat dalam Rakerwil kali ini yakni: “Membangun Masyarakat Madani Menuju Riau Riau Bermartabat.”

Melalui tema tersebut, Masrul berharap terjadinya peningkatan kualitas manusia yang beriman, memiliki daya juang atau spirit untuk mewujudkan cita-cita besar dalam membangun Provinsi Riau kearah yang lebih baik.

“Dengan Rakerwil ini kami berharap akan ada kualitas manusia beriman, memiliki cita-cita besar dalam membangun Riau ke arah lebih baik, dan dapat menghaslilkan gagasan, semangat, program kerja untuk membangun masyarakat madani menuju Riau bermartabat,” ucap Masrul.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Riau, Suheri Abdullah, mengaku bahwa Hidayatullah Riau siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk bersama memajukan Riau dengan menyentuh daerah-daerah pedalaman. Apalagi Hidayatullah Riau bergerak dibidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi keumatan dan bidang kemanusiaan.

“Apabila melihat Riau yang luasnya kurang lebih 87 ribu km2, tentu ini merupakan tantangan bagi gubernur Riau, dan Hidayatullah siap berkolaborasi,” ucapnya.(ybh/hio)

Gubernur Apresiasi Hidayatullah Konsisten Berkontribusi untuk Papua Barat

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, MSi, apresiasi peran ormas Hidayatullah dalam membangun umat di Papua Barat. Ini disampaikan Gubernur saat membuka acara Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat, Sabtu, 27 Jumadil Akhir 1443 (29/1/2022).

“Hidayatullah salah satu ormas Islam yang telah menunjukan kontribusi secara konsisten manfaatnya bagi umat, bangsa dan negara terkhusus di Papua Barat,” kata Dominggus.

Gubernur menambahkan, Hidayatullah Papua Barat selama ini telah membantu peran pemerintah Papua Barat dalam membina generasi muda melalui pendidikan dan program keumatan melalui majelis taklim.

“Dalam usianya yang terbilang muda, DPW Hidayatullah Papua Barat telah berpartisipasi dalam program keagamaan melalui masjid dan pendidikan formal tentu ini mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Gubernur Dominggus.

Dominggus menyebutkan, kontribusi Hidayatullah telah terbukti dengan telah lahirnya pondok pesantren, madrasah, dan sekolah-sekolah formal dengan jumlah santri sebanyak 1.500 siswa belum ditambah dengan jamaah binaan majelis taklim.

Diakhir sambutannya, Dominggus berharap Hidayatullah terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam membangun SDM yang handal dan unggul di Papua Barat.

Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Ust Hasdar Ambal dalam kesempatan yang sama di hadapan Gubernur mengatakan Rakerwil ini akan berlangsung selama 2 hari yang membahas program kerja tahun 2022 serta evaluasi terhadap program tahun kerja sebelumnya.

Hasdar mengatakan, peserta yang hadir pada rapat kerja ini dari 9 Kabupaten/ Kota yang ada di Papua Barat.

Hasdar menuturkan, dalam Rakerwil ke 2 ini, pihaknya akan membahas program-program kerja yang akan diangkat terutama program utama Hidayatullah yaitu program tarbiyah dan dakwah.

“Dalam Rakerwil ini kita akan membahas apa apa yang harus dimaksimalkan lagi dari program kerja tahun sebelumnya, terutama program tarbiyah da dakwah,” ucapnya.

Rakerwil DPW Hidayatullah Papua Barat digelar di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Arfai II Kel. Anday Distrik Manokwari Selatan Kab Manokwari Papua Barat.

Di akhir penutupan pembukaan Rakerwil, Gubernur Dominggus Mandacan yang didampingi Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI, meresmikan rusun santri Ponpes Hidayatullah Manokwari.*/Miftahuddin