Beranda blog Halaman 373

Pemerintah Provinsi Kepri Harap Hidayatullah untuk Terus Jalin Sinergi

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berharap sinergi antara pemerintah provinsi dan Hidayatullah yang sekian lama telah terjalin dapat terus berjalan. Harapan itu tertuang dalam sambutan Gubernur Kepri, H Ansar Ahmad, yang dibacakan Staf Ahli Bidang Sosial, Kesejahteraan Rakyat dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Mahadi Rahman SQ M.Pd.I, mewakili gubernur Kepri.

“Saya sudah lama mengenal Hidayatulllah sehingga sangat paham keuletan dan ketangguhan kader-kader Hidayatullah,” katanya saat membuka acara Rakerwil Hidayatullah Kepri yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Bintan, Sabtu, 27 Jumadil Akhir 1443 (29/1/2022).

Mahadi berharap, jalinan sinergi Hidayatullah dengan pemerintah terus dieratkan terutama dalam menjalankan agenda keumatan di bidang dakwah dan pendidikan yang segaris dengan visi misi Kepri menjadi kawasan yang sejahtera, berakhlak mulia, agamis, demokratis, dan berkeadilan.

“Harapannya, sinergi antara pemerintah provinsi dan Hidayatullah yang sekian lama telah terjalin dapat terus berjalan,” tukasnya.

Rakerwil Kepri kali ini selain dihadiri oleh 100 persen Dewan Pimpinan Daerah (DPD) se Kepri, juga dihadiri amal usaha, organisasi pendukung dan badan usaha Hidayatullah.

Sejumlah pejabat yang hadir diantaranya anggota DPRD Provinsi Kepri, unsur anggota DPRD Kabupaten Bintan, pejabat yang mewakili bupati Bintan, Kemenag, dan Kecamatan.

Setelah pembukaan dilanjutkan acara tabligh akbar yang menghadirkan pembicara dari Jakarta, Ust Akib Junaid Qahar (anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah).

Sekira 400 hadirin antusias menyimak paparan Ust Akib Junaid Qahar yang mengangkat tema seputar keluarga muslim yang diselingi kisah-kisah penuh hikmah disertai joke yang kerap mengundang tawa hadirin.

Selama dua hari para peserta rapat maraton melakukan evaluasi dan membahas program kerja tahun 2022.

Rakerwil Hidayatullah Kepri resmi ditutup oleh Ketua Departemen Dikti DPP Hidayatullah, Miftahuddin, pada Ahad kemarin. Dalam sambutannya, Miftah berpesan agar para kader terus bergerak dan melahirkan karya-karya dalam bingkai manhaj dan gerakan mainstream Hidayatullah yaitu tarbiyah dan dakwah.

Senada dengannya, Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah, menegaskan agar para kader memaksimalkan potensi agar dapat menjalankan program-program organisasi dan tidak melupakan jati diri Hidayatullah.

“Di tahun kedua ini, banyak target organisasi yang dicanangkan semoga dapat terealisir dengan bantuan dan pertolongan Allah Subhana wa ta’ala,” tutur tokoh milenial Kepri ini berapi-berapi seraya meminta agar sinergi dengan berbagai pihak senantiasa dijaga.

Terselenggaranya rakerwil Hidayatullah Kepri tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak khususnya BMH Kepri yang dipimpin Abdul Aziz, juga dukungan dari pihak pemerintah maupun swasta.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu sehingga rangkaian rakerwil dan tabligh akbar dapat berjalan lancar,” tutup Humeydi, ketua panitia sekaligus tuan rumah rakerwil dan tabligh akbar.*/Mujahid M. Salbu

Tutup Rakerwil Papua, Wasekjen: Selaraskan Kerja dengan Program Kerja

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Hidayatullah, Ust Abdul Ghaffar Hadi, S.Sos.I., M.S.I menutup secara resmi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua di Kampus Madya Hidayatullah Holtekamp Muara Tami Kota Jayapura, Sabtu malam, 27 Jumadil Akhir 1443 (29/1/2022).

Dalam sambutannya Ia menyampaikan bahwa DPW dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) harus menyelaraskan apa saja yang mau dikerjakan dengan program kerja yang sudah dirapatkan, baik dalam Rakerwil dan Rakerda yang nanti akan dilaksanakan di masing-masing daerah.

Untuk itu, kata Abdul Ghaffar, semua perencanaan dan komitmen yang dibuat harus dicatat agar dapat diingat sebagai kontrol dan evaluasi program-program yang akan dan telah dikerjakan.

“Perencanaan dan komitmen harus dicatat agar mudah diingat, sebagai evaluasi nantinya. Selain itu perencanaan yang terukur dan berbasis data akan mudah mengontrol apa telah dikerjakan kontrol,” jelasnya.

Kemudian, Ia menambahkan, bahwa program yang menantang juga menjadi motivasi nantinya untuk berekspansi di bidang pendidikan dan dakwah, disamping mengadakan MoU dengan Perguruan Tinggi -perguruan Perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia, baik yang ada Hidayatullah (PTH) maupun dari luar.

Di Hidayatullah Papua harus menyiapkan mesin produksi kader sendiri. Banyak potensi yang bisa dikembangkan di sini. Sekolah dai dan Pesmadai adalah salah satu program yang bisa diangkat. Potensi anak-anak Papua ini luar biasa.

Dengan adanya ekspansi yang menantang tersebut, diharapkan Sekolah dari semua tingkatan Pendidikan yang ada di Hidayatullah Papua tersebut dapat berkembang dan dapat dipetakkan dan dilihat mana sekolah yang unggulan ataupun yang mulai berkembang.

“Dengan ada pemetaan sekolah-sekolah unggulan, kita tidak perlu lagi menyekolahkan santri-santri kita keluar Papua, cukup kita sebar anak-anak didik kita bersekolah disekolah unggulan Hidayatullah yang ada di Papua dan tidak perlu ke Jawa dan Sulawesi untuk sekolah anak-anak Papua,” jelasnya.

Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah Papua, Ust Muallimin Amin, S.Sos.I, dalam sambutannya menyampaikan bahwa inti dari semua kegiatan Hidayatullah ada pada pada Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH).

Menurut Muallimin, apabila kita semua kerjakan sesuai kultur yang sudah terbentuk sejak dulu, maka kita akan melaksanakan program yang telah kita rencanakan dengan baik.

“GNH adalah bagaikan charge bagi seorang kader, kita harus menjadi contoh bagi santri-santri kita, apabila GNH kita baik maka insyaAllah apa yang kita kerja akan terlaksana dengan baik juga,” jelasnya.

Ustadz Sudirman Ambal sebagai Ketua DMW juga menguatkan spirit dari para pengurus Hidayatullah Papua. Semangat dari para pendahulu atau generasi awal Hidayatullah harus menjadi teladan. “Umur boleh tua tapi semangat harus tetap menggelora seperti anak muda,” katanya.

Dalam Rakerwil DPW Papua tersebut dirumuskan beberapa program yang akan dilakukan DPD-DPD Hidayatullah dalam satu tahun ke depan, mengangkat program untuk kantor bersama dengan pembiayaan lelang dari peserta Rakerwil untuk uang mukanya dan menetapkan Kabupaten Nabire yang akan menjadi tuan rumah pada Rakerwil DPW Hidayatullah Papua di Tahun 2023.*/(ybh/hio)

Hidayatullah Riau Gelar Rakerwil dan Seminar Peradaban Islam

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Hidayatullah Provinsi Riau di Pekanbaru yang berlangsung tanggal 29-30 Januari 2022 dibuka secara resmi oleh Gubernur Riau yang diwakili asisten satu bidang pemerintahan Drs. H. Masrul Kasmy MS.i.

Dalam sambutannya Gubernur Riau mengapresiasi kiprah Hidayatullah di bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain, baik secara nasional maupun di provinsi Riau.

“Kita harapkan peran Hidayatullah sebagai ormas Islam dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Provinsi Riau,” ungkapnya.

Acara pembukaan Rakerwil ini dihadiri juga oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenag, Kabag Humas Polda Riau, Ketua FKUB Riau, Ketua MUI Riau, pengurus DPW Hidayatullah Riau, pengurus Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Riau, seluruh pengurus DPD Hidayatullah se Provinsi Riau, serta sejumlah tamu undangan.

Usai acara pembukaan Rakerwil, dilanjutkan dengan Seminar Peradaban Islam dengan tema: Membangun Masyarakat Madani Menuju Riau Bermartabat. Dr. H. Saidul Amin. MA, (Rektor Universitas Muhammadiyah Riau) sebagai pembicara pertama dalam memaparkan kunci keberhasilan Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam.

“Ada tiga hal penting yang dilakukan Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam, yaitu pertama: memahami nas (ma’rifatun nushus), kedua: memahami realitas (ma’rifatul waqi’), dan ketiga: penerapan nas dalam realitas (tanzilun nushus),” paparnya.

Selain itu, menurut Saidul Amin, Hidayatullah konsisten dengan manhaj gerakannya yang menjadikan akidah tauhid sebagai landasan utama. Beliau juga berharap Hidayatullah semakin maju dan berkembang menjadi ormas besar ketiga setelah NU dan Muhammadiyah.

Narasumber kedua, Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA (Ketua Umum DPP Hidayatullah) memaparkan makna dan hakikat peradaban Islam serta manhaj dan kerangka dasar membangun peradaban agung yang pernah diwujudkan oleh Rasulullah saw 14 abad silam.

“Karenanya Hidayatullah mengusung visi Membangun Peradaban Islam yang berarti manifetasi iman dalam seluruh aspek kehidupan,” ujarnya di awal pemaparan.

“Puncak kejayaan Peradaban Islam terwujud di masa Rasulullah saw karena pada saat itulah nilai-nilai iman termanifestasi dalam seluruh aspek kehidupan secara totalitas (kaffah). Maka untuk mewujudkannya di zaman ini haruslah merujuk ke manhaj nabawi, yaitu metode yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw,” tegas Nashirul.

Nashirul juga menjelaskan bahwa peradaban Islam terbangun melalui gerakan dakwah sebagai misi kerasulan Muhammad saw. Itulah sebabnya Hidayatullah menjadikannya sebagai mainstream atau arus utama gerakan Hidayatullah.

Selanjut Nashirul menguraikan 5 surah pertama berdasarkan tartib nuzul sebagai kerangka dasar membangun peradaban Islam. Lima surah yang dimaksud yaitu al Alaq (landasan tauhid), al Qalam (fikrah dan akhlak Qur’ani), al Muzzammil (aspek ibadah dan pembinaan spiritual), al Muddatsir (tanggung jawab dakwah dan transformasi sosial) dan al Fatihah (Ajaran Islam yang sempurna sebagai sistem kehidupan atau manhajul hayat).

Di akhir pemaparannya, Ketua Umum DPP itu menegaskan; “Kunci sukses Nabi saw dalam mengemban misi dakwah ada dua yaitu, pertama: berlandaskan bashirah yang berarti hujjah, ilmu dan keyakinan. Inilah yang disebut manhaj. Kedua, kepemimpinan, artinya dakwah harus dilakukan secara kolektif dan terorganisir”.*/Abu Dhani

Romantika Dakwah di Papua

Oleh Ust Abdul Ghaffar Hadi

MENDENGAR cerita-cerita dakwah di Irian Jaya (nama sebelum Papua) senantiasa menarik, baik saat pertama mengawali hingga sekarang sebagai era perkembangan. Menariknya bukan karena dimensi materialistiknya berupa fasilitas dan hal-hal yang biasa menyenangkan.

Ada magnet atau daya tarik tersendiri dakwah di tanah Papua, seperti ada mutiara dakwah yang terpendam. Para kader Hidayatullah seolah menemukan dunianya di tanah Papua. Ibarat ikan ketemu air, semut ketemu gula, anak-anak ketemu bola atau bapak-bapak dapat kopi.

Malaria sebagai penyakit berat yang mengancam jiwa, sudah akrab hinggap di badannya berkali-kali. Tidak membuatnya takut, lari atau mundur dari dakwah. Padahal menggigil badan karena panas tinggi berhari-hari.

Belum lagi dengan ancaman dari gerakan-gerakan separatis seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menghantui aparat setiap saat.

Generasi pertama Hidayatullah yang bertugas di Papua adalah Ustadz Suwardani Sukarno di Jayapura sekitar tahun 1989. Beliau bertugas membuka jalan dan mencari titik-titik lokasi tanah yang bisa disemai untuk mendirikan cabang Hidayatullah. Tanpa ada alamat yang dituju dan orang yang dikenal.

Ini bukan jalan-jalan di kota tapi dari hutan ke hutan. Saat itu lebih sering jalan kaki dari naik kendaraan karena belum banyak jalan aspal, masih berlumpur, setapak dan jarang ada kendaraan angkot.

Perjalanan antar kota naik perahu atau kapal, belum ada pesawat saat itu. Dengan gelombang dan ombak tinggi mengiringi perjalanan kapal yang membuat penumpang mabuk.

Waktunya bukan sehari atau sepekan tapi berbulan-bulan. Bekalnya bukan uang jutaan rupiah tapi majalah-majalah suara Hidayatullah itupun bekas.

Subhanallah bahkan terkadang harus menjual sebagian pakaian untuk bisa membeli beberapa liter beras. Seperti istri Ust Amin Bahrun dan istri Ust Sarbini. Allahu Akbar

Ustadz Suwardani ditemani oleh santri-santri bujang yaitu Dzulkhair dan Dadang putra Bapak Ali Kalan. Amir muda, Zulfikar, Dzulkhair, Mahdi K. Coleng. Mereka adalah tenaga handal dan kuat dalam menancapkan pondasi dakwah di Irian Jaya

Setelah beberapa bulan, Ust Suwardani Sukarno kembali ke Gunung Tembak untuk melaporkan tugasnya kepada Ust Abdullah Said. Entah apa informasi yang disampaikan, setelah itu keluar SK untuk menugaskan puluhan kader senior dan yunior bersama keluarganya untuk bertugas ke tanah Papua.

Entah apa yang disampaikan Ust Abdullah Said saat itu. Kok mereka para kader semangat dan bahagia, tidak ada satupun yang menolak. Semua Sami’na wa atho’na.

Ada Ust Amin Bahrun di Manokwari bersama istri dan anak anaknya (Haris, Nur Fatahudin, Syarif Bastian dan adik-adiknya) disusul Ust Robiin.

Ust Majid Aziz yang ditemani pak Baharuddin dan Pak Ismael Kalosi, Ust Sarbini Naser bersama istri dan anaknya yang baru lahir.

Ust Sudiono ke Jayapura, Ust Yusuf Suraji di Serui, Ust Hasan Suraji di Manokwari. Ust Sulthan, Ust Ardiansyah, Ust Iskandar, Ust Sudirman Ambal, Ust Asdar Ambal.

Lalu ada Ust Eronsyah, Ust Jamaluddin Jafar, Ust Ali Imron Sholeh, Ust Sabar. Disusul beberapa ustadz muda lagi seperti Ust Ahmad Marzuki, Ust Al Djufri Muhammad, Ust Mualimin, Ust Nur Mawardi, Ustadz Ilham, dan Ust Afan Gaffar. Dan masih beberapa nama ustadz yang lain (mohon maaf jika tak tercatat di atas).

Ada juga Ustadz Karim Bonggo pernah tugas di Papua tapi untuk survei. Mencari lokasi dan koneksi dengan berbagai pihak tokoh masyarakat, pemerintah, maupun pengusaha. Setelah itu kembali ke Gunung Tembak melaporkan kepada ustadz Abdullah Said.

Ust Abdurrahman Muhammad (Pemimpin Umum sekarang) juga pernah bertugas beberapa tahun di tanah Papua tepatnya di Jayapura.

Saat di Jayapura Ust Abdurrahman Muhammad pernah menumpang beberapa hari rumah Haji Wade dan Hajjah Rahmi pegawai Pertamina yang membangun masjid di tengah hutan karena sebelumnya melihat kubah emas (tulisan catatan perjalanan sebelumnya tentang kubah emas).

Pengakuan dari Hajjah Rahmi, “satu-satunya orang yang singgah di rumahnya beberapa hari dan tidak pernah dimarahi adalah dai Hidayatullah yang badannya kurus (maksudnya ustasz Abdurrahman Muhammad). Karena kharisma, kesantunannya, rajin kerja dan tekun ibadah, membaca al-Qur’an”.

Beberapa tahun berikutnya, Hajjah Rahmi kaget ternyata ustadz yang beliau bilang kurus itu menjadi Pemimpin Umum Hidayatullah. Tempaan tanah Papua menjadikan kader dan dai Hidayatullah semakin kuat nyalinya.

Terbayang dakwah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat di tanah Arab dan Afrika yang secara alam dan kultur masyarakat jahiliyah. Bahkan ada perlawanan, penentangan, dan serangan. Namun itu semua bisa ditundukkan dengan dakwah Islam yang ikhlas.

Dakwah di Papua penuh dengan romantika yang menarik. Jejak kaki dan tangan para dai menjadi catatan sejarah dakwah Islam di Papua. Kontribusi, kiprah, dan peran para dai Hidayatullah senantiasa bermitra dengan pemerintah setempat. Sehingga sangat membantu pembangunan jiwa dan raga di Papua.

Semoga para dai dan kader Hidayatullah istiqamah menjalankan amanah dakwah di manapun berada dengan segala romantika yang dihadapinya.

ABDUL GHAFFAR HADI (Wasekjen DPP Hidayatullah)

Kisah Kubah Emas Dalam Hutan dan Pesantren Hidayatullah Jayapura

Penulis (baju t-shirt) berfoto dengan salah satu kader awal berdirinya Pesantren Hidayatullah Jayapura, Ust Kasim Rumaf, di pinggir lapangan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp, Jayapura.

BERAWAL dari pasangan suami istri pegawai Pertamina lewat jalan dan istrinya melihat ada kubah emas di tengah hutan dengan mata kepalanya sendiri.

“Sebenarnya kami tidak percaya sambil mengusap-usap mata tapi kubah emas itu tetap nampak sangat jelas. Kami dalam kondisi sadar di atas mobil dan bukan mimpi,” kata bapak-ibu itu seperti diceritakan pengurus Hidayatullah Jayapura pada penulis.

Tumbuh keyakinan dalam benak keduanya bahwa itu isyarat dari Allah untuk membangun masjid di situ. Sehingga sang istri meminta suaminya untuk membangun masjid di tengah hutan itu lewat program Badan Dakwah Islam (BDI) Pertamina.

Meski tidak ada muslim di sekitar itu bahkan manusia saja tidak ada. Agak aneh membangun masjid di tengah hutan tanpa ada masyarakat di sekitarnya. Jalanpun masih berlumpur satu meter, hanya mobil-mobil khusus perusahaan kayu yang bisa lewat.

Nama suami istri itu, Haji Wedi Pratikyo dan Hajah Rahmi. Sehingga tidak lama setelah itu, beliau mempekerjakan orang untuk membangun masjid itu tapi tanpa ada pengawasan sehingga agak terbengkalai pekerjaan tersebut dan hasilnya kurang maksimal.

Di saat yang hampir bersamaan, petugas Hidayatullah membeli tanah di dekat lokasi itu seluas dua hektar. Pembelian itu berasal dari hasil penjualan sapi dan tanah Pesantren Hidayatullah yang di Sentani, karena tanah itu di pinggir sungai yang rawan banjir.

Ada seorang ibu yang menyarankan bahwa tanah itu tidak cocok untuk pesantren dan beliau membelinya dengan beberapa ekor sapi. Dari hasil penjualan sapi itulah yang dibuat membeli tanah di Holtekamp Jayapura.

Tanah lokasi Pesantren Hidayatullah itu tidak ada hubungannya dengan masjid yang dibangun oleh BDI Pertamina. Tapi karena berdekatan sehingga santri lihat-lihat proses pembangunan masjid tersebut. Santri shalat lima waktunya di mushola kecil yang dibangun di areal pesantren sendiri.

Saat akan ada peresmian masjid tersebut, Haji Wedi dan istrinya meminta Pengurus Hidayatullah untuk mengelolanya. Tapi pengurus Hidayatullah saat itu tidak bersedia jika tidak dihibahkan dengan berbagai argumentasi, akhirnya mereka berdua sepakat hibah.

“Ibu, kami tidak bisa memakmurkan masjid itu, harus ada kelas untuk lokal belajar para santri karena tidak ada masyarakat atau manusia di sekitar masjid ini,” kata seorang pengurus saat itu.

“Jadi maunya bagaimana,” tanya Ibu Rahmi.

“Semoga ibu bersedia membebaskan tanah sekitar masjid dan dibangunkan lokal kelas untuk belajar santri,” jawab pengurus.

“Bismillah, Insya Allah,” jawab ibu Rahmi.

Alhamdulillah mereka bersedia untuk menghibahkan masjid dan tanah sekitar 2 hektar. Kemudian membangun kelengkapan bangunan kelas untuk belajar para santri yang cukup representatif meski terbuat dari kayu. Kalau asrama santri sudah terbangun di lokasi pesantren sendiri.

Setelah itu para pengurus dan santri Hidayatullah Jayapura menebangi kayu-kayu besar di sekitar masjid itu. Barulah kelihatan masjid dari jalanan dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat. Mereka heran, tiba-tiba ada masjid besar berdiri di tengah hutan. Apalagi ini daerah yang rawan adanya gerakan separatisme.

Tidak lama setelah itu ada peresmian masjid dan lokal kelas serta serah terima ke Pesanten Hidayatullah Jayapura. Setelah itu, pengurus membeli tanah Haji Wedi yang ada disamping tanah yang sudah dihibahkan. Tapi setelah sekian lama, surat tanah belum diserahkan oleh Ibu Hajah Rahmi.

Awalnya saat ditanyakan, tidak ada jawaban. Namun beberapa kali ditanyakan oleh Ustadz Ahmad Marzuki saat itu. Ibu Hajah Rahmi menjawab, “tak usah khawatir ustadz, saya ini orang muslim. Insya Allah akan kami serahkan suratnya”.

Ternyata, suami istri itu menunggu dan melihat keseriusan Pesantren Hidayatullah melaksanakan programnya. Setelah yakin, Subhanallah Allahu Akbar mereka menyerahkan tanah di dekat lokasi itu sebesar 12 hektar. Jadi tanah pesantren bertambah 14 hektar.

Keduanya, Haji Wedi dan Hajah Rahmi kini sudah wafat. Semoga Allah menerima amal jariyah beliau berdua dan menempatkan di tempat yang mulia yaitu surga, Aaamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Petugas yang mengawali Hidayatullah Jayapura adalah Ust Suwardani Sukarno dibantu oleh saudara Ahmad Syakir Muflih pada tahun 1994. Datang juga santri-santri bujang dari Gunung Tembak yaitu Muqim bin Amin Mahmud, Hamzah bin Amin Bahrun, Zulkhair, Zulfikar, Amir Bastian, dan Kasim Rumaf.

Cerita dari Ustadz Kasim yang sekarang menjadi Ketua DPD Hidayatullah Timika, mereka dulu kalau tidur harus tertutup semua dari kaki hingga kepala. Obat nyamuk tidak mempan meski empat obat nyamuk diletakkan sekitarnya.

“Luar biasa banyaknya nyamuk saat itu tapi kita menikmatinya sebagai sebuah ketaatan menjalankan tugas,” kata Kasim mengisahkan.

Selanjutnya, ada Ust Hasan Suraji yang sempat beberapa tahun memimpin di Jayapura. Dilanjutkan Ust Ahmad Marzuki sekitar dua tahun, kemudian diteruskan oleh Ust Al Djufri Muhammad hingga 11 tahun. Seterusnya bergantian ditempatkan kader Hidayatullah di Jayapura. Hampir semua kader di Papua pernah bertugas atau menjadi santri di Hidayatullah Jayapura.

Inilah rekayasa Allah memberikan kemudahan jalan dakwah Hidayatullah melalui penglihatan kubah emas oleh Haji Wade dan Hajah Rahmi. Baru terjawab isyarat itu, mengapa harus membangun masjid di tengah hutan? Karena akan berdiri Pesantren Hidayatullah di dekat situ. Ini tentu pertolongan Allah melalui doa para jamaah dan mujahadah dai-dai Hidayatullah.

Kubah emas yang dilihat oleh ibu Hajah Rahmi, mulai terlihat dengan ramainya para santri shalat berjamaah di masjid di tengah hutan dengan pakaian putihnya. Setiap shalat lima waktu dan shalat lail, warga dan santri shalat berjamaah di masjid.

ABDUL GHAFFAR HADI

Wagub Kepri Dorong Lahirnya Generasi Qurani untuk Membangun Negeri

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Wakil Gubernur Kepri Marlin Agustina mendorong lahirnya generasi Qurani yang nantinya berkontribusi dalam membangun negeri. Demikian disampaikan dia saat membuka Daurah Marhalan Ula dan Wusyha Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau di Aula Ponpes Hidayatullah, Kota Batam, Jumat (28/01/2022).

“Dari sini nanti bisa lahir generasi yang hebat yang bisa membawa negeri ini semakin baik lagi, termasuk dalam pembangunan sumber daya manusia di daerah ini,” ujarnya.

Acara ini mengusung tema Mencetak dan Meningkatkan Kualitas Kader Muslimat Hidayatullah Menuju Keluarga Qurani.

Wagub Marlin menyampaikan terima kasih karena dengan kegiatan ini bisa ikut berperan menciptakan generasi yang Qurani sebagai salah satu modal membangun negeri.

Marlin yang juga Ketua TP PKK Kota Batam yakin Muslimat Hidayatullah mampu terus menyebarkan dakwah dan nilai-nilai Islam dalam segala sendi kehidupan.

“Karena mereka adaah insan yang beriman, yang akan terus memperjuangkan kebenaran di jalan Allah,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu Marlin yang juga sebagai Bunda PAUD Kota Batam berkisah tentang besarnya peran guru dalam melahirkan generasi dengan akhlak dan karakter yang kuat.

“Ini menyampaikan bahwa tugas guru cukup berat. Namun mereka bisa dan bekerja menciptakan generasi-generasi terbaik untuk bangsa,” tegasnya.

“Mereka memang pahlawan tanpa tanda jasa. Saya seperti ini berkat guru saya. Mereka melahirkan anak-anak yang berakhlak dan berkarakter kuat yang siap menjadi generasi penerus yang luar biasa untuk negeri ini,” tukasnya.

Ia juga mengingatkan, di era teknologi ini, gempuran informasi sangat banyak, untuk itu Marlin menyampaikan di antara gempuran itu ada banyak hal positif yang bisa dimanfaatkan.

“Baik untuk kepentingan diri pribadi, kepentingan dakwah, maupun kepentingan ummat karena segala ucapan baik lisan maupun tulisan kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta,” pungkasnya.

Kegiatan ini juga dihadiri, Ketua Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah Tasyrif Amin, Ketua Badan Pembina Hidayatullah Batam Ustaz Jamaluddin Nur, Ketua Badan Pengawas Yayasan Hidayatullah Batam Ustaz Sarno Dzikrillah, Ketua Badan Pengurus Yayasan Hidayatullah Batam Ustaz Khoirul Amri.

Hadir juga Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Ustazah Hani Akbar, Ketua Departemen Pengkaderan Pengurus Muslimat Hidayatullah Ustazah Zahratun Nahdah, Ketua Majelis Murobiyah Wilayah Muslimat Hidayatullah Kepri Ustazah Ummu Kalsumdan Ketua Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Kepri Ustazah Syarifah.(ybh/hio)

Obsesi Elie Aiboy Jadikan SSB Hidayatullah sebagai Akademi Profesional

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Mantan pemain andalan Timnas sepak bola Indonesia, Elie Aiboy, dipercaya menukangi Sekolah Sepak Bola (SSB) Hidayatullah Jayapura yang diresmikan di Kampus Madya Hidayatullah Holtelamp, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Jum’at, 26 Jumadil Akhir 1443 (28/1/2022).

Sebagai mantan pemain profesional, nama Elie Aiboy sudah tak asing lagi. Ia menjadi salah satu legenda hidup sepak bola Tanah Air. Pria kelahiran Jayapura 42 tahun silam ini merupakan pesepak bola yang sukses berkarir di dalam dan luar negeri.

Aiboy pernah memperkuat PSB Bogor, Persipura Jayapura, Semen Padang, Persija Jakarta, Arema Malang, Persidafon Dafonsoro, PSMS Medan, Persih Tembilahan, dan Persip Pekalongan. Ia juga pernah bermain bagi Selangor FA di Malaysia.

Bersama rekannya, Oktovianus Maniani, Elie Aiboy kini melanjutkan kiprahnya dengan menukangi SSB Hidayatullah Jayapura sebagai pelatih kepala. Bukan saja sebagai pelatih, bahkan dia pula menginisiasi hadirnya SSB ini.

Aiboy bercerita, pada suatu hari ketika baru pulang dari Jawa, dia melihat ada lapangan yang representatif dan sangat indah di daerah Kampus Madya Hidayatullah Holtekamp Kota Jayapura.

Aiboy pun berdiskusi dengan salah satu ustadz bernama Habib Mussa’ad, dan selanjutnya bersepakat untuk membuka bersama-sama SSB Hidayatullah.

“Alhamdulillah disambut positif dan akhirnya dibukalah SSB Hidayatullah ini,” kata Coach Aiboy yang muallaf sejak beberapa tahun lalu dan kini sedang proses selesaikan khatam membaca Al Quran.

Legenda Timnas Indonesia, Elie Aiboy (Foto: © Alchetron/ Indosport)

Aiboy memiliki obsesi yang tidak biasa terhadap keberadaan SSB Hidayatullah. Dia berharap, SSB ini kelak menjadi akademi sepak bola unggulan yang ketika klub profesional hendak kontrak pemain maka sepuluh persen keuntungan untuk yayasan.

Salah satu pemain sayap terbaik yang pernah dimiliki timnas ini menambahkan, akademi sepak bola ini nantinya bukan hanya berlatih tapi akan diikutkan kompetisi reguler liga 3 atau tournament.

“Kami yakin, akan lahir pemain profesional dari santri-santri ini yang sudah berbakat dan disiplin, tinggal memoles sedikit teknik dan skillnya,” tandas Aiboy yang juga mantan kapten Timnas ini.

Rekan sejawatnya, Oktovianus Maniani, akan mendampingi Aiboy dalam menukangi SSB Hidayatullah Jayapura ini. Okto, panggilan akrabnya, merupakan winger berbadan mungil namun amat disegani pemain lawan.

Okto pernah cukup lama membela Timnas. Ia juga tercatat pernah memperkuat sejumlah klub papan atas seperti Persiba Balikpapan, Barito Putera, Sriwijaya FC, dan lainnya.

“Hati saya tergerak ketika melihat lapangan yang sangat bagus serta pasti keinginan adik-adik kedepannya berniat akan menjadi pemain bola yang bisa bersaing di tingkat Timnas Indonesia,” kata Okjto.

Kampus Hidayatullah Jayapura memang memiliki lapangan sepak bola yang cukup standar baik ukuran maupun rumputnya. Letaknya pun sangat strategis yaitu di pinggir jalan raya. Okto Maniani termasuk yang penasaran dan tertarik dengan lapangan sepakbola pesantren ini.

Yustinus Pae adalah salah satu pemain profesional yang sejak kecil rutin berlatih di lapangan Kampus Hidayatullah Holtekamp ini. Yustinus pernah juga membela timnas, bermain di Bali United, dan saat ini membela di Persipura Jayapura.*/Ain

Semerbak Kiprah Pengabdian Alumni PTH di Tanah Papua

0
Penulis yang juga Wasekjen DPP Hidayatullah Ust Abdul Ghaffar Hadi (batik corak hitam) berfoto dengan sejumlah alumni PTH usai mengisi salah satu sesi Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Provinsi Papua, Sabtu (29/1/2022)

SEBAGAIMANA penulis sampaikan sebelumnya bahwa dakwah itu bertahap dan bergenerasi. Setiap tahapan berbeda tantangannya dan Allah menyiapkan generasi berikutnya untuk menjawab tantangan baru sesuai dengan kapasitasnya.

Ukuran keberhasilan bukan banyaknya masyarakat yang terekrut secara kuantitatif. Bukan berapa yang telah mendapatkan hidayah karena hidayah hak prerogatif Allah tapi eksistensi gerakan dakwah dan perkaderan yang berkesinambungan. Sehingga sangat penting program perkaderan untuk melahirkan generasi pelanjut.

Papua memang menurut pemerintah adalah wilayah otonomi khusus (Otsus). Kekhususannya karena kondisi alam, sosial, dan politik. Sehingga para tenaga yang ditugaskan ke Tanah Papua juga mesti memiliki kekhususan terkait spritual, mental, dan intelektual. Harus siap bertugas dengan tantangan yang tidak ringan.

Beberapa generasi awal yang bertugas di Papua telah berhasil membuka lembaran dakwah dengan mencari lahan baik melalui pembebasan dibeli, wakaf, atau hibah.

Mereka bukan hanya berhasil mendapatkan lahan tapi juga berhasil menghadirkan bangunan masjid, kantor, rumah, dan sekolah. Membangun relasi kepada pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat untuk memulai program dakwah dan tarbiyah.

Selanjutnya untuk pengembangan program diperlukan sumber daya insani yang memiliki kompetensi keilmuan dan kesarjanaan yang menjadi syarat formal di pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Disinilah Allah menghadirkan alumni Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) dan jebolan alumni perguruan tinggi lain ke Tanah Papua.

Putra-putri para ustadz dan banyak santri putra-putri dari Papua yang ditugaskan belajar ke PTH sebagai perguruan tinggi yang berkonsentrasi untuk melahirkan kader-kader muda Hidayatullah. Beberapa tahun tahun terakhir ini, mereka sudah kembali dan berkiprah di tanah Papua.

Ada beberapa alumni PTH yang berkiprah dakwah di Tanah Papua. Ada alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok.

Di antara mereka memang ditugaskan dari SK DPP Hidayatullah yang dibacakan saat wisuda PTH masing-masing. Ada juga yang berasal dari wilayah Papua lalu ditugaskan belajar ke PTH dan setelah lulus dikembalikan ke Papua lagi.

Sebagian mereka berhasil lulus hingga sarjana dan sebagian “lolos”. Lolos, artinya tidak selesai karena beberapa hal. Karena sudah pernah tercelup dengan perkaderan di PTH maka saat tugas di medan dakwah, tetap bisa berkiprah, berkarya, dan eksis.

Berikut ini ada beberapa daftar alumni STAIL Surabaya yang berkiprah di Tanah Papua yang berjumlah 21 kader. Beberapa kader yang mendapatkan amanah di organisasi tingkat DPW. Ada Maryudi sekretaris DPW, Mugiarto bendahara DPW.

Lalu ada Nur Imam Ketua Depdik DPW, Khaironji Ketua Departemen Dakwah DPW, Suparman Cilili Ketua Departemen Sosial DPW, Arifin Ketua Departemen Perkaderan DPW, dan Muhammad Habibullah Musa’ad Kepala Kantor DPW.

Di kampus Timika ada Ahmad Syakir Kadepdik, Akbar Ridhoi sekretaris, Jam’ul Hidayat Waka Kurikulum, Muhammad Ramli Kepala SMP, Idham Khalid Kepala SMA, Abdul Hamid Kepala Diniyah, Sarman Pengasuh.

Di Merauke ada Yusuf Qhardawi Ketua DPD Merauke, Supriadi DPD Merauke, Ramli BMH Merauke, Fahmi Hanifullah Kepala MI Merauke, dan Bambang Buana Ketua DPC Buful Merauke.

Lainnya ada Hirwan Efendi Kepala Diniyah kampus Madya Jayapura, Mahfudz Fauzi Sekretaris DPD Serui dan Slamet Setyo Budi Sekretaris DPD Boven Digoel.

Adapun alumni STIS Hidayatullah yang berkiprah di Papua ada 10 kader yaitu Achid Prasetyo Ketua DPD Keerom, Efendi Ketua DPD Sermi, Azwar Anas Bendahara DPD Kabupaten Jayapura, Abdurahman Ketua PW Pemuda Hidayatullah Papua, Abdul Hamid Ketua DPC Sermayam Merauke, Hasyim al Bahar BMH, dan Guntur Kepala Sekolah Mts.

Tadi itu STIS putra. Berikut ini alumni STIS Hidayatullah Putri yang jumlahnya 20 yang mengabdi di Papua: Halima di Jayapura, Haryanti di Jayapura, Nurul Qomariyah di Sarmi, Irka Sutarti di Nabire, Fatimah Azzahra di Nabire, Umi Istianah di Nabire, Fatma Senan di Nabire.

Ada Maimunah di Timika, Sa’diyah Timika, Hanani Qurota’yun di Jayapura, Salwiyah di Boven Digoel, Asmita di Merauke, Suci di Merauke, Widy Astuti di Merauke, Fatimah di Timika, Lisa di Timika, Hasriyana di Merauke, Uci di Timika, Esih di Merauke, dan Nur Sri Hardiyanti di Timika.

Kemudian alumni STIE Hidayatullah Depok ada 4 yaitu Asdar Ketua Gerai BMH Nabire, Susanto BMH Merauke, Shobrun Jamil Ketua DPD Serui, dan Fahmi El Ghifari di Waisai Raja Ampat.

Itu kader PTH yang masih bertahan berkiprah di Papua hingga 2022. Bisa jadi, masih ada nama nama lainnya yang terluput dari catatan ini.

Secara demografi, alumni PTH saat ini adalah generasi milineal yang lahir di atas tahun 1981 hingga 1996. Beberapa kelebihan dari kader milineal adalah kreatif, inovatif, lebih terbuka dan memiliki multitasking atau banyak skill ketrampilan.

Secara geografi, Papua terdiri dari 29 Kabupaten Kota, 560 Kecamatan dan 5.521 Kelurahan/Desa. Sementara ini baru ada 12 DPD Hidayatullah dan 5 DPC Hidayatullah.

Tanah Papua masih memerlukan banyak kader untuk menerangi dengan cahaya dakwah. Saat ini para kader mendapatkan double atau merangkap amanah. Semua pengurus DPW dan DPD merangkap tugasnya.

Apalagi akan ada perencanaan pemekaran propinsi di Papua menjadi 4 propinsi yaitu Papua, Papua Barat, Papua Selatan dan Papua Tengah. Jika itu disahkan oleh pemerintah pusat maka diperlukan dua DPW lagi dengan jajaran pengurusnya.

Selanjutnya 10-20 tahun ke depan, kebutuhan SDI di Papua juga akan meningkat kualitas tenaganya. Seperti SDI yang memiliki kapasitas ulama dengan hafal 30 juz dan bisa menjadi imam rawatib, bisa membaca kitab untuk kajian kitab di masjid-masjid bukan hanya ceramah saja. Ini karena perkembangan masyarakat dan tuntutan kondisi.

Ditunggu para kader untuk mengharumkan Papua. Ada banyak peluang dan tantangan yang menarik bagi kader untuk mengembangkan dakwah dan tabiyah di tanah Papua.

ABDUL GHAFFAR HADI

Elie Aiboy dan Oktovianus Maniani Tukangi SSB Hidayatullah Jayapura

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura meluncurkan secara resmi Sekolah Sepak Bola (SSB) untuk mewadahi santri dan umumnya talenta muda di Papua dalam mengembangkan bakat mereka di bidang olahraga sepak bola.

Peresmian bertempat di Kampus Madya Hidayatullah Holtelamp, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Jum’at, 26 Jumadil Akhir 1443 (28/1/2022) ini dilakukan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Hidayatulah, Abdul Ghaffar Hadi, sekaligus mendapuk mantan punggawa Timnas Indonesia yaitu Elie Aiboy sebagai pelatih kepala dan Oktovianus Maniani sebagai asisten pelatih.

Keduanya tidak asing lagi dalam kancah persepkbolaan nasional. Selain pernah menjadi andalan timnas Indonesia, Elie Aiboy juga pernah memperkuat PSB Bogor, Persipura Jayapura, Semen Padang, Persija Jakarta, Arema Malang, Persidafon Dafonsoro, PSMS Medan, Persih Tembilahan, dan Persip Pekalongan. Ia juga pernah bermain bagi Selangor FA di Malaysia.

Begitupun dengan Oktovianus Maniani. Okto, panggilan akrabnya, merupakan winger berbadan mungil namun amat disegani pemain lawan. Okto pernah cukup lama membela Timnas. Ia juga tercatat pernah memperkuat sejumlah klub papan atas seperti Persiba Balikpapan, Barito Putera, Sriwijaya FC, dan lainnya.

Dipercaya menukangi SSB Hidayatullah Jayapura, Elie Aiboy pun mengutarakan rasa terima kasih karena telah diberi kepercayaan membuka SSB ini dan membina anak anak muda terutama santri Hidayatullah dalam mengembangkan bakatnya mengolah si kulit bundar.

Aiboy pun menceritakan asal mulanya tertarik untuk melatih dan membuat SSB di Hidayatullah Holtekamp Kota Jayapura.

Ia bercerita, pada suatu hari ketika baru pulang dari Jawa, dia melihat ada lapangan yang representatif dan sangat indah di daerah Kampus Madya Hidayatullah Holtekamp Kota Jayapura.

Aiboy pun berdiskusi dengan salah satu ustadz bernama Habib Mussa’ad, dan selanjutnya bersepakat untuk membuka bersama-sama SSB Hidayatullah.

“Alhamdulillah disambut positif dan akhirnya dibukalah SSB Hidayatullah ini,” kata Aiboy yang muallaf sejak beberapa tahun lalu dan kini sedang selesaikan khatam membaca Al Quran.

Aiboy memiliki obsesi SSB Hidayatullah kelak menjadi akademi yang ketika klub profesional hendak kontrak pemain maka sepuluh persen keuntungan untuk yayasan.

Dia menambahkan, SSB atau akademi sepakbola ini nantinya bukan hanya berlatih tapi akan diikutkan kompetisi reguler liga 3 atau tournament.

“Kami yakin, akan lahir pemain profesional dari santri-santri ini yang sudah berbakat dan disiplin, tinggal memoles sedikit teknik dan skillnya,” tandas Aiboy semringah.

Disisi lain, Oktovianus Maniani mengatakan bahwa keinginannya untuk bergabung adalah untuk mencari bakat-bakat muda untuk bisa dilatih dan diasah kemampuannya dalam bermain secara tim maupun individu.

“Hati saya tergerak ketika melihat lapangan yang sangat bagus serta pasti keinginan adik-adik kedepannya berniat akan menjadi pemain bola yang bisa bersaing di tingkat Timnas Indonesia,” tuturnya.

Kampus Hidayatullah Jayapura memang memiliki lapangan sepak bola yang cukup standar baik ukuran maupun rumputnya. Letaknya pun sangat strategis yaitu di pinggir jalan raya. Okto Maniani termasuk yang penasaran dan tertarik dengan lapangan sepakbola pesantren ini.

Bahkan, ada pemain Persipura yang dari kecil berlatih di lapangan sepak bola Hidayatullah Jayapura yaitu Yustinus Pae. Yustinus pernah juga membela timnas, Bali United, dan saat ini bermain di Persipura sebagai bek.

Acara peluncuran diakhiri dengan pemberian baju seragam SSB Hidayatullah secara simbolis kepada Ketua DPW Hidayatullah Papua Ust Muallimin Amin, Ketua DMP Papua Ust Sudirman Ambal dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp Kota Jayapura, Ust Muhammad Haeranzi.*/Ain, Absir

Wasekjen DPP Hidayatullah Resmikan SSB Hidayatullah Jayapura

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Memiliki kepedulian terhadap perkembangan olahraga Tanah Air dan mempersiapkan talenta berbakat dalam sepak bola sejak usia dini, Kampus Madya Hidayatullah Holtelamp Kota Jayapura wujudkan ikhtiar tersebut dengan mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Hidayatullah.

SSB Hidayatullah Jayapura ini diresmikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Hidayatulah, Abdul Ghaffar Hadi, bertempat di Kampus Madya Hidayatullah Holtelamp, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Jum’at, 26 Jumadil Akhir 1443 (28/1/2022).

Peluncuran SSB Hidayatullah Jayapura ini dilakukan disela-sela Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua.

Dalam sambutannya, Abdul Ghaffar memuji terobosan yang dilakukan Hidayatullah Jayapura dalam rangka mewadahi santri dan umumnya telenta muda di Papua dalam mengembangkan bakat mereka di bidang olahraga sepak bola.

“Saya rasa ini gagasan dan ide yang sangat baik dan mungkin yang pertama di Hidayatullah. Semoga kedepannya dapat melahirkan santri-santri yang mahir dalam mengolah si kulit bundar dan bisa tampil di kancah nasional dan internasional,” harapnya.

Ghaffar menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah berusaha sehingga SSB Hidayatullah Jayapura dapat menjadi wadah bagi santri-santri dalam mengembangkan bakat dan mengolah skill dalam bermain bola.

“Semoga SSB Hidayatullah Jayapura ini bisa menjadi lahan dakwah. Bukan hanya klub nasional yang kontrak tapi klub luar negeri. Bisa menjadi ajang bukti bahwa santri bisa berprestasi dalam semua bidang termasuk sepak bola,” tandas Ghaffar.

Menariknya, karena SSB Hidayatullah Jayapura ini langsung dilatih oleh ahlinya yang merupakan mantan punggawa Timnas yaitu Elie Aiboy sebagai pelatih kepala dan Oktovianus Maniani sebagai asisten pelatih.

Hidayatullah sendiri khususnya di Kampus Induk Gunung Tembak dan sejumlah cabang Hidayatullah di Kaltim seperti Bontang di tahun 90-an hingga 2000, pernah memiliki santri dengan talenta luar biasa di bidang sepak bola.

Bahkan beberapa santri diantaranya pernah mendapat panggilan menjalani masa uji training di sejumlah klub seperti Persiba Balikpapan dan PS PKT Bontang saat keduanya berkompetisi di Divisi Utama Liga Indonesia 1996–1997.

Mantan manajer PKT Bontang, almarhum Arief Budi Santoso, termasuk yang amat getol bertandang ke Pesantren Hidayatullah Bontang untuk meminta santri yang berbakat untuk dilatih di SSB PKT Bontang.*/Ain, Absir