SORONG (Hidayatullah.or.id) — Dengan cinta hidup menjadi indah, dengan dakwah dan tarbiyah dunia akhirat bahagia selamanya. Karena itulah cinta menjadi energi untuk membangun Sorong Raya yang maju, harmoni, bermartabat, dan sejahtera.
Demikianlah ditekankan Ketua Departemen Pendidikan Wilayah Hidayatullah Papua Barat, Muhammad Rusdan, dalam sambutannya sekaligus membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Hidayatullah se Sorong Raya beberapa waktu lalu yang berlangsung pada 10-11 Rajab 1443/ 11-12 Februari 2022 di Kota Sorong, Papua Barat.
“Karena itu, kita harus serius dalam menyusun program- program kerja,” kata Rusdan dalam sambutannya. Dia menjelaskan, segala hal yang dijalani di dunia tanpa landasan cinta maka ia menjadi tak nikmat.
Dinul Islam pun demikian, jika kita telah paham dan penuh cinta meyakininya, maka kegembiraan dan kenikmatan adalah keniscayaan yang akan dirasakan oleh pelakonnya. Rusdan pun menekankan bahwa bentuk cinta diantaranya adalah adanya kesungguhan dalam menyusun program kerja.
“Karena pogram ini menjadi acuan dalam melangkah satu tahun kedepan terutama dalam menyusun APBO, ini harus tuntas pembahasannya,” kata Rusdan berpesan.
Salah seorang peserta Rakerda, Ust Ali Lingge, S.HI, ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Sorong Selatan mengaku amat bahagia mengikut acara ini dan mengapresiasi kegiatan rakerda.
“Ini Rakerda yang paling serius yang pernah saya ikuti, sehingga walaupun jarak 170 kilo meter dan jarak tempuh 4-5 jam dengan medan yang sangat menantang tidak menyurutkan semangat kami mengikuti rakerda,” kata Lingge yang merupakan alumni STIS Hidauatullah Balikpapan ini.
Lingge berharap rakerda ini semakin menguatkan tekad dan memotivasi para pengurus untuk serius menyusun program program dakwah demi terwujudnya kemajuan bagi semua khususnya di Sorong Raya yang dikenal juga sebagai kawasan berlimpah minyak ini.
Rakerda Se Sorong Raya yang diikuti unsur pengurus DPD Hidayatullah dari Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat ini dilaksanakan di Kampus Peradaban Hidayatullah Sorong Barat, Jalan Danau Tempe, Kelurahan Klawasi, Distrik Sorong Barat, Kota Sorong.
Hadir juga dalam kegiatan tersebut yaitu unsur Dewan Pengurus wilayah, unsur organisasi pendukung tingkat daerah, dan unsur amal- amal usaha tingkat daerah.
Kota Sorong dipilih menjadi tuan rumah rakerda se-Sorong Raya karena disamping letaknya sangat strategis juga merupakan hasil kesepakatan dalam Rakerwil 2 Hidayatullah Papua Barat yang dilaksanakan pada tanggal 29-30 Januari 2022 lalu di Manokwari.
Ust. Suwadi selaku ketua DPD Hidayatullah Kota Sorong dan juga pernah berada di kepengurusan wilayah yaitu departemen pendidikan selama 2 priode mengapresiasi seluruh peserta yang hadir.
“Alhamdulillah seratus persen pengurus DPD dan ortom hadir begitu juga tiga pendamping dari unsur pengurus wilayah,” kata Suwadi semringah.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kampus Hidayatullah Kota Sorong Ust Heri Subianto selaku shahibul bait menyampaikan permohonan maaf kepada para peserta karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki saat ini. Saat ini kampus yang dipimpinnya tersebut masih terus dalam proses pembangunan.
“Insya Allah tahun ini program kita akan membangun asrama dua lantai dan sebuah aula sehingga harapan kita kedepan jika ada kegiatan berskala wilayah dapat kami layani dengan baik,” kata Heri yang juga salah satu senior di Papua Barat.
Heri yang pernah merasakan langsung didikan dari pendiri Hidayatullah Allahuyarham Ust Abdullah Said di Kampus Peradaban Gunung Tembak ini merasa bangga dan terhormat dapat menjadi tuan rumah kegiatan rapat kerja gabungan tersebut.
Rakerda ditutup oleh Ketua Departemen Aset Hidayatullah Papua Barat Ust. Zainuddin Namudat yang juga merupakan dai Hidayatullah putra asli Papua asal Kabupaten Fakfak.*/Miftahuddin
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Prof Haedar Nashir mewakili Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah seorang Pendiri Hidayatullah, Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim, pada Ahad, 12 Rajab 1443 (13/02/2022).
Ustadz Hasan yang juga Ketua Majelis Penasihat Hidayatullah meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta kemarin sekitar pukul 16.41 WIB.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar mengatakan, almarhum Ustadz Hasan adalah pemuka agama sekaligus sosok guru yang sangat gigih dalam berdakwah Islam.
Selain sebagai pendidik yang dekat dengan umat, almarhum Ustadz Hasan dikenal pula sebagai sosok bersahaja dan dapat menjalin ukhuwah berbagai kalangan.
“Umat kehilangan Ustadz Hasan Ibrahim. Semuanya berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala dan kembali kepada-Nya pula,” ujar Prof Haedar dikutip dari website resmi Muhammadiyah pada Senin (14/02/2022).
Ketum PP Muhammadiyah mendoakan Ustadz Hasan Ibrahim semoga semua amal ibadahnya diterima Allah Subhanahu Wata’ala.
“Semoga almarhum husnul khatimah dan diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Keluarga yang ditinggalkan agar diberi kesabaran dan keikhlasan,” kata Haedar.
Sebagai informasi, Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim merupakan satu dari lima orang Pendiri Hidayatullah. Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo, menyebutkan kelima Pendiri Hidayatullah tersebut.
“Pertama, Ustadz Abdullah Said; Kedua, Ustadz Usman Palese; Ketiga, Ustadz Hasyim HS; Keempat, Ustadz Hasan Ibrahim, Kelima, Ustadz Nasir Hasan,” sebutnya kepada hidayatullah.com, Senin (14/02/2022).
Ustadz Hasyim dan Ustadz Hasan sama-sama lulusan Akademi Tarjih Muhammadiyah sekitar tahun 70-an silam.
“Beliau (Ustadz Hasyim) itu kakak kelas saya di Akademi Tarjih Muhammadiyah, jadi cukup akrab,” ujar Ustadz Hasan saat diwawancarai Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu di Jakarta.
Dalam catatan hidayatullah.com, Ustadz Hasan Ibrahim wafat pada usia 72 tahun (lahir di Pekalongan, 20 Januari 1950). Sedangkan Ustadz Usman Palese wafat pada usia 70 tahun di RSUD Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/10/2015) sekitar pukul 01.45 WIB. Adapun KH Abdullah Said yang juga pimpinan pertama Hidayatullah wafat pada tahun 1998 silam di Jakarta.
Sebelum mendirikan Hidayatullah, KH Abdullah Said pernah menjadi Ketua Biro Da’wah dan Publikasi Muhammadiyah Sulawesi Selatan Tenggara (Sulselra). Muhsin Kahar –namanya saat itu– sudah bersemangat untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Hingga saat ini, tersisa dua orang Pendiri Hidayatullah yang masih hidup, yaitu Ustadz Hasyim HS (alias Muhammad Hasyim) dan Ustadz Nasir Hasan.
Sementara itu, sejumlah karangan bunga ucapan belasungkawa dikirimkan ke kantor DPP HIdayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl Cipinang Cempedak 1/14, Polonia, Jakarta Timur. Berdasarkan pantauan pada Senin (14/02/2022), karangan bunga kedukaan itu antara lain atas nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Presiden PKS Ahmad Syaikhu.*
INNA LILLAAHI wa inna ilaihi rojiun, Allah telah memanggil hamba yang insyaallah dicintai-Nya yaitu Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim. Beliau lahir 17 Januari 1950 dan wafat di hari Ahad 13 Februari 2022, Pukul 16.50 sore, di usia beliau 72 tahun.
Beliau adalah salah satu pendiri Hidayatullah. Ada Allahuyaham Ustasz Abdullah Said, Ustadz Hasyim HS, Allahuyarham Ustadz Usman Palese dan Ustadz Nadzir Hasan.
Beliau ustadz Hasan Ibrahim dikenal sosok yang senantiasa optimis. Sebagai salah satu pendiri Hidayatullah, dari awal, bagaimanapun kondisinya tetap optimis dan selalu memberikan semangat kepada para ustadz dan santri.
Termasuk terkait sakitnya beberapa tahun terakhir ini, beliau tidak pernah mengeluhkan atau mengungkapkan rasa sakitnya. Kepada istri dan anak anak juga tidak pernah menyampaikan rasa sakitnya.
Wajah yang senantiasa senyum manis kepada siapa saja dan optimis sehingga usia 70 tahun masih terlihat awet muda.
Penampilannya selalu necis, perlente dan rapih, persis seperti pejabat. Rambut, baju, celana dan sepatunya rapih.
Kepada siapa saja senantiasa husnudzan. Tidak pernah bersangka buruk dengan orang lain.
Beliau juga akrab dengan semua kalangan, baik kepada para ustadz senior dan santri muda. Sehingga merasa dekat dengan beliau.
Semangatnya mengalahkan rasa sakitnya. Sehingga jika badan enak sedikit maka beliau setiap selasa hadir ke DPP Hidayatullah untuk datang menyapa dan ngobrol dengan para pengurus.
Amanah terakhir beliau menjadi Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah. Berbagai tugas sudah beliau jalani, menjadi bendahara, pengembangan ekonomi di Hidayatullah dari awal hingga tingkat pusat.
Beliau telah wafat meninggal dunia, meninggalkan karya dan jasa perjuangan Islam lewat Hidayatullah. Beliau juga mewariskan keteladanan bagi generasi pelanjut Hidayatullah.
Kita sebagai generasi pelanjut berkewajiban untuk meneruskan perjuangan Islam lewat Hidayatullah ini. Semoga Allah memberikan ampunan dan pahala kebaikan serta ditempatkan di surga Allah, Aamiin.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) —Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kabar duka kembali menyelimuti keluarga besar Hidayatullah. Salah seorang Pendiri Hidayatullah, Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim, wafat pada Ahad (13/02/2022). Almarhum juga merupakan Ketua Majelis Penasihat Hidayatullah.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Ustadz (Hasan Ibrahim, ayah kami) telah meninggal,” ujar salah seorang putra Ustadz Hasan, Ahad (13/02/2022) sekitar pukul 16.51 WIB.
Sebelum wafat, kondisi kesehatan Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim dalam keadaan kritis. Ia pun dilarikan ke salah satu rumah sakit di Jakarta pada Kamis (10/02/2022).
“Kondisi beliau kritis, saat ini dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto (Jakarta),” ujar salah seorang putra Ustadz Hasan, Bang Saifullah, kepada hidayatullah.com pada Kamis (10/02/2022) sekitar pukul 14.45 WITA yang tiba-tiba menghubungi via WhatsApp.
Karena kondisi Ustadz Hasan yang kritis tersebut, Saiful mengatakan bahwa sang ayah sampai dipakaikan alat bantu pernapasan (ventilator). “Mohon doa jamaah semua,” ujarnya.
Pada Kamis (10/02/2022) pagi, Saiful sempat menginformasikan bahwa sang ayah dirawat di rumah saja dengan mendatangkan dokter dari Islamic Medical Service (IMS).
“Kondisi beliau enggak sadar. Saturasi (oksigennya) sempat di angka 60, setelah dikasih oksigen (saturasinya) mulai naik di angka 90. Mohon doanya yang terbaik,” ujar Saiful pada sekitar pukul 06.47 WITA.
Sudah beberapa tahun ini kondisi kesehatan Ustadz Hasan menurun. Sekitar empat bulan belakangan, kesehatannya semakin tidak membaik.
Penghujung tahun lalu, pada Sabtu (25/12/2021), pihak keluarga membawa Ustadz Hasan ke Rumah Sakit Medistra Jakarta untuk menjalani perawatan secara intensif.
“Masih blum ada perkembangan ke arah baik,” ujar Saifullah saat dikonfirmasi pada Senin (27/12/2021) sekitar pukul 04.40 WITA.Jamaah Hidayatullah di seluruh dunia diminta untuk mendoakan Ustadz Hasan agar lekas diberi kesembuhan dan kesehatannya pulih sediakala.
Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad bersama Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq dan Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ustadz Hamim Thohari sempat menjenguk Ustadz Hasan.
Dalam kesempatan tersebut, ketiga tokoh Hidayatullah itu mendoakan Ustadz Hasan. Dalam foto yang dikirimkan Saifullah, tampak Ustadz Hasan juga turut mengangkat kedua tangannya saat berdoa sembari tetap berbaring.
Saat dikunjungi itu, raut wajah Ustadz Hasan memperlihatkan kegembiraannya.
“Belum ada perkembangan (kesehatan beliau), tetapi begitu dijenguk (ketiga ustadz Hidayatullah tadi) beliau wajahnya senang banget,” ujar Saiful kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, Kamis (23/12/2021).
TERNATE – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah nampak tak ada lelahnya bergerak, tidak saja penanganan atau pendampingan masalah hukum tetapi juga dalam melakukan pendidikan wawasan hukum kepada masyarakat.
Di akhir pekan kali ini LBH Hidayatullah yang bekerjasama dengan DPW Hidayatullah Maluku Utara, BMH, dan Kampus Hidayatullah Ternate, kembali melakukan pelatihan hukum yang diikuti oleh sedikitnya 50 peserta utusan dari berbagai daerah dan kampus di provinsi berjuluk Moloku Kie Raha itu.
Pelatihan ini menghadirkan langsung Direktur LBH Hidayatullah, Dr Dudung A. Abdullah, MH, yang selama 2 hari ini menyampaikan materi masalah hukum dasar, sistem hukum di Indonesia, UU ITE, dai dan potensi ancaman kriminaliasi, dasar-dasar paralegal, hak asasi manusia, strategi advokasi, dan kiat berhadapan dengan hukum.
Dudung menilai bahwa dai dan guru merupakan diantara pihak yang rentan terhadap masalah hukum sebab dalam setiap kegiatannya ia dituntut berinteraksi dengan masyarakat secara luas.
Kerentanan itu misalnya, jelas Dudung, ketika dai atau guru menyampaikan materi yang boleh jadi maksudnya baik namun dianggap agitatif atau provokatif sehingga menjadi perkara hukum.
Oleh karena itu, seorang dai atau guru harus menyampaikan materi dakwahnya dengan baik. “Karena Islam adalah agama kedamaian maka pesannya pun harus disampaikan dengan cara yang damai, dengan cara yang baik, sehingga hasilpun baik,” kata Dudung.
Pendiri Kantor Hukum DRDR ini berharap dengan kegiatan ini para dai dan guru khususnya yang ada di Maluku Utara bisa memahami konstitusi yang ada sehingga bisa leluasa berdakwah dengan tetap memperhatikan hukum atau undang undang yang berlaku.
Dudung menambahkan, dari beragam materi hukum yang disampaikan pelatihan ini dapat membekali peserta tentang pengetahuan dasar hukum agar dapat melindunginya dan mampu membuat solusi atau strategi dalam penyelesaian kasus-kasus yang berhadapan dengan hukum.
Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Ust Nur Kholis, dalam sambutannya membuka acara tersebut mengatakan pelatihan dai ini digelar dalam rangka memantapkan peran dai dan guru agar cakap hukum sehingga dalam kiprahnya tak tersangkut perkara yang kontra produktif.
“Dengan pelatihan ini, harapannya menambah pengetahuan dai dan guru serta memiliki wawasan hukum sehingga proporsional dalam bertindak dan bersikap,” kata Nur Kholis.
Nur Kholis menambahkan, pelatihan ini diharapkan memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada dai dan guru terkait dengan praktik hukum yang ada di sekitar mereka.
Dia juga berharap dari kegiatan ini menjadi cikal bakal berdirinya LBH Hidayatullah Maluku Utara dan dapat menjalankan fungsi paralegal dalam memberikan advokasi atau pendampingan hukum bagi masyarakat di kawasan itu.*/Ainuddin
LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Kehadiran Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Faisal di pulau Kojong yang dihuni para muallaf merupakan bagian dari bentuk kepedulian BMH Kepri terhadap pembinaan di pulau-pulau terpencil. Hal itu disampaikan oleh Abdul Aziz, GM BMH Kepri, saat meresmikan RQH Faisal yang dari Batam ditempuh sekita 6 jam.
Abdul Aziz juga menyampaikan harapan agar kelak dari pulau ini akan muncul generasi yang unggul yang akan membina pulau-pulau sekitar yang masih membutuhkan bimbingan.
Peresmian yang berlangsung kemarin, Kamis (10/2) 2022, dihadiri juga oleh ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah, ketua DPD Hidayatullah Lingga, ketua yayasan Hidayatullah Lingga, Ust Awwalin, Ust Hamka Kedang, ketua MUI kab Lingga Ust Badiu Hasani, unsur dari pemerintah kabupaten Lingga, Kasubag Kesra Hamka Hazni, dan sejumlah dai tangguh BMH Kepri.
Dalam sambutannya, ketua RW Pulau Kojong, Yusuf, yang mewakili masyarakat muallaf pulau Kojong menyampaikan terima kasih yang sebesar-sebesarnya atas perhatian dari BMH Kepri.
Dengan rasa haru Yusuf, menuturkan bahwa muslim muallaf sangat mengharapkan bimbingan khususnya untuk anak-anak sebagai generasi yang akan melanjutkan syiar Islam di tengah suku Laut di pulau-pulau sekitar Lingga.
BMH Kepri tidak hanya menghadirkan sejumlah fasilitas di pulau Kojong, seperti pengadaan sumur bor dan fasilitas air bersih yang selama puluhan tahun menjadi impian warga serta sarana belajar mengaji dan pengetahuan keagamaan tetapi juga menempatkan da’i tangguh yang akan membimbing warga. Bahkan, sebuah pompong yang berukuran sedang juga tertambat di pantai untuk kelancaran mobilisasi da’i.
Pemerintah kabupaten Lingga turut memberikan apresiasi atas program yang dijalankan BMH Kepri.
“Saya mewakili pemerintah kabupaten Lingga menyampaikan terima kasih atas sinergi BMH Kepri dan pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada warga, khususnya muallaf di pulau terpencil seperti di pulau Kojong ini, kami siap mengawal setiap jengkal tanah yang menjadi titik dakwah dan pembinaan dari Hidayatullah melalui BMH Kepri,” tutur Hamka Hazni, dari unsur Pemkab Lingga.
Saat ini, BMH Kepri telah menjalankan pelayanan dan pembinaan di sejumlah pulau baik mindland (pulau utama) ataupun di hinterland (pulau penyangga) di antaranya adalah pulau yang dihuni para muallaf seperti di pulau Caros, pulau Kojong dan selat Kongki. BMH Kepri akan terus melebarkan sayap kebaikan ke pulau-pulau lain yang masih sangat membutuhkan perhatian.*/Mujahid M. Salbu
MINAHASA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bertempat di Tasik Resort Minahasa pada 27-28 Jumadil Akhir 1443/ 29-30 Januari 2022.
Rakerwil yang bertema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik” ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir. Candra Kurnianto sebagai pendamping acara.
Selain itu, Rakerwil dihadiri oleh 8 DPD dari 9 DPD yang ada, pengurus DPW, DMW, organisasi pendukung seperti Mushida, Pos Da’i, Pemuda Hidayatullah dan amal usaha.
Pada kesempatan tersebut di-launching program “Tebar 10.000 al-Qur’an se-Sulawesi Utara”. Program ini merupakan sinergi dan kolaborasi DPW Hidayatullah Sulut dengan Yayasan Wakaf al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).
“Alhamdulillah, kami bisa bersinergi dan berkolaborasi program dengan Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah dan BMH,” ujar Sekretaris DPW Hidayatullah Sulut, Ustadz Muhammad Taufikurrahman, S.Pd.I.
“Masih banyak TPA, majelis taklim, masjid dan pesantren di pelosok Sulawesi Utara ini yang sangat membutuhkan al-Qur’an dan buku Iqra’,” katanya.
Alhamdulillah, beberapa hari kemudian usai acara tersebut, para da’i langsung menyebar ke beberapa tempat untuk menyerahkan al-Qur’an.
Ada beberapa pesantren, TPA/TPQ, majelis taklim, masjid, dan mushala yang menerima manfaat program Tebar 10.000 Al-Qur’an se-Sulawesi Utara ini. Diantaranya, Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Adow, Griya Tahfidz Al-Qur’an di Kecamatan Lolak, kampus Tahfidz International di Kelurahan Biniha, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, TPQ dan Majelis Taklim Muallaf Babussalam di Kampung Ambon, Kecamatan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara.
“Alhamdulillah, saya sampaikan rasa terima kasih kepada Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah atas pemberian al-Qur’annya. Semoga pahala jariyahnya terus mengalir kepada pewakaf, pengelola yayasan, dan para ustadz,” ujar Ratna M Lubis, Ketua TPQ dan MT Muallaf Babussalam.
Menurut Ratna, TPQ dan majelis taklim ini menjadi solusi bagi anak-anak dan muallaf untuk belajar agama. “Saat ini santri TPQ sekitar 40 orang, dan muallaf ada 30 orang,” imbuh Ratna.
Senada dengan Ratna, imam Masjid Babussalam juga menyampaikan ungkapan syukurnya. “Alhamdulillah, kami bersyukur mendapatkan al-Qur’an. Insya Allah al-Qur’an ini sangat bermanfaat bagi kami,” ujar Haji Bakri Basoa.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh santri tahfidz Pondok Pesantren Hidayatullah Palaes dan Majelis Taklim Al-Qana’ah, Desa Palaes, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara.
Mereka senang mendapatkan al-Qur’an yang baru. Sehingga menambah semangat dalam mendalami al-Qur’an.
Selain itu, penerima manfaat wakaf al-Qur’an ini adalah masyarakat korban bencana banjir dan longsor di Kepulauan Sangihe.
“Untuk wilayah Minahasa Utara dan Sangihe, mayoritas penduduknya Nasrani,” ujar Taufikurrahman.
Menurutnya, para penerima manfaat wakaf al-Qur’an ini banyak berada di daerah yang masih kategori pelosok, dimana jarak dengan Ibukota kabupaten bisa memakan waktu 1 hingga 2 jam dengan kendaraan pribadi. Sebab, masih terbatas kendaraan umum.
Oleh karena itu, mari bantu mereka dengan berwakaf al-Qur’an,” pungkas Taufikurrahman.*/Dadang Kusmayadi
“KEMUDIAN Allah menurunkan kepada kalian ketentraman – setelah ketakutan yang sangat – yang berupa rasa kantuk yang menimpa sekelompok dari kalian (yang beriman). Dan sekelompok lain (yang munafiq) sungguh-sungguh tercekam oleh kekhawatiran terhadap dirinya sendiri, mereka berprasangka kepada Allah dengan tidak benar, yakni prasangka jahiliyyah. Mereka berkata, ‘Adakah kita masih punya peran sedikit saja dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya semua urusan itu ada di (tangan) Allah.’ Mereka menyembunyikan di dalam diri mereka apa-apa yang tidak mereka tampakkan kepadamu. Mereka berkata, ‘Kalau sekiranya kita masih punya peran sedikit saja dalam urusan ini niscaya kita tidak akan terbunuh disini.’ Katakanlah, ‘Seandainya kalian berdiam di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah diputuskan untuk mati itu akan ke luar ke tempat mereka terbunuh.’ Allah hendak menguji apa yang ada di dalam dada kalian dan agar Dia membersihkan apa yang ada di dalam hati kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di dalam dada.” (QS Ali Imran : 154)
Asbabun Nuzul Ayat di atas berbicara tentang suasana panik dan pesimis yang meliputi sebagian pengikut Rasulullah dalam Perang Uhud. Orang-orang munafiq menebar provokasi yang memperlemah semangat jihad barisan mujahidin pimpinan Rasulullah SAW.
Sebelumnya, Rasulullah mengajak para Sahabat untuk berperang. Ketika beliau menyetujui pendapat kelompok yang ingin keluar menyongsong musuh, meninggalkan pendapat kelompok yang ingin bertempur di dalam kota, bibit-bibit nifaq pun mulai terlihat. Di perjalanan, sepertiga pasukan Rasulullah mengundurkan diri dengan berbagai alasan.
Ketika hasil akhir pertempuran terlihat mengecewakan pihak kaum muslimin, semakin kuatlah penyakit nifaq menancap di hati sebagian mereka. Ayat diatas merekam dialog-dialog tersembunyi kaum munafik. Ada semacam gerutuan yang diulang-ulang, yang disebut oleh al-Qur’an sebagai “prasangka jahiliyyah” (zhannul jahiliyyah).
Prasangka Jahiliyyah
Menurut Ibnu Katsir, gerutuan semacam itu adalah cermin orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan keraguan dan kebimbangan. Kebimbangan terutama terhadap janji Rasul-Nya, sebagaimana disebutkan oleh Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat.Zhann (prasangka) adalah ungkapan untuk kepercayan yang setengah-setengah, setengah yakin sekaligus setengah ragu, walau masih ada kecenderungan untuk yakin.
Dewasa ini, prasangka jahiliyyah bisa mencakup kata-kata, keyakinan, pemikiran, atau wacana yang pada intinya meragukan kebenaran Islam. Prasangka semacam ini keluar bukan dari kalangan di luar Islam, namun dari dalam barisan kaum muslimin sendiri, yakni dari kelompok yang imannya cacat dan fikrah-nya menyimpang.
Ayat ini memberi kaidah umum, bahwa sampai kapan pun iman yang cacat akan melahirkan pemikiran yang menyimpang pula, yakni prasangka jahiliyyah, atau zhann yang dilandasi ke-jahiliyyah-an terhadap syari’ah yang benar.
Sayangnya, kejahiliyahan macam ini sedang gencar dikampanyekan oleh kalangan tertentu yang mengaku bukan musuh kaum kafir, namun tak mau disatukan dengan mereka. Anehnya, mereka pun enggan didekatkan dengan kaum muslimin, tapi menolak dikeluarkan dari jamaah mereka.
Bagian Kemunafikan
Ayat yang memuat istilah “prasangka jahiliyyah” di atas membahas sikap kaum munafik. Di banyak tempat, karakter mereka secara rinci dipotret oleh al-Qur’an, dari sudut pandang kehidupan sehari-hari pelakunya.
Sebab tentunya sebuah pemikiran tidak akan muncul begitu saja tanpa dilandasi suasana dan perilaku tertentu yang menyemai, merawat dan menumbuh-kembangkannya. Dengan memahami situasi tersebut, semoga kita bisa lebih berhati-hati dan segera menghindarinya. Diantara kelompok ayat yang memberikan uraian paling komprehensif adalah QS al-Baqarah (02) : 8-20 dan QS an-Nisaa’ (04) : 137-147.
Dalam al-Baqarah, mereka dilukiskan secara detail sebagai orang-orang yang berusaha menipu Allah dan kaum mukminin (02:9). Tepatnya, berusaha menampakkan keimanan dan segala atribut kemegahan seorang mukmin, padahal itu palsu (02:8). Mereka juga disifati sebagai orang-orang yang licin dan keras kepala, dimana jika perilaku merusaknya ditegur akan balik menyerang dan menyatakan diri sebagai kelompok yang paling lurus (02:11).
Mereka tidak pernah bisa menyadari kerusakan yang diperbuatnya (02:12). Rasulullah pernah mengkhawatirkan kelompok seperti ini, yakni kaum munafik yang sangat pandai bersilat lidah (HR Ahmad dan at-Thabrani).
Di dalam hati mereka sudah ada penyakit mental (02:10), “maradh”, yang menurut Raghib al-Ashfahani bermakna ‘tidak berada dalam kondisi stabil dan normal yang menjadi ciri khas manusia pada umumnya’. Bagian ini menjelaskan mengapa demikian banyak sikap-sikap kalangan ini yang tidak konsisten, penuh gagasan gila, menganut pemikiran yang nyeleneh, dan lain sebagainya.
Kelompok ini juga disebut-sebut sebagai sok intelek atau mengidap kesombongan intelektual yang kronis, dan menganggap orang-orang yang tidak beriman atau berpikir seperti mereka sebagai tidak cerdas (sufahaa’) (02:13).
Rasulullah SAW sendiri pernah menyitir bahwa mayoritas kaum munafik berasal dari kalangan Qurra’ (HR Bukhari), yakni para pengkaji al-Qur’an. Dalam an-Nisa’, sikap ini diperjelas sebagai kegemaran duduk-duduk bersama orang-orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai bahan ejekan. Mereka dengan kompak mengamini pendapat rekannya yang menyepelekan al-Qur’an (04:140).
Fenomena pemikiran liberal sekarang mengkonfirmasi ramalan hadits di atas dengan sangat tepat, yakni pemikiran yang berbasis otak-atik al-Qur’an. Dengan kata lain, kelompok ini bukan komunitas tak terpelajar atau awam.
Justru, mereka yang paling terpelajarlah yang pertama-tama menghadapi fitnah nifaq dalam kehidupan beragamanya. Sungguh mengherankan, kalangan ini rela menghabiskan seluruh masa keemasan dalam karir intelektualnya untuk membeo gagasan kaum kafir demi membatalkan al-Qur’an.
Namun, menurut al-Qur’an, mereka sekaligus licik dan pengecut. Di tengah-tengah komunitas kaum beriman, mereka mengaku mu’min. Namun, jika kembali ke habitat aslinya, mereka akan berkata bahwa itu hanya basa-basi (02:14). Dalam an-Nisa’, diperlihatkan potret komunitas mereka, yang lebih memilih menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dan penolong, meninggalkan orang-orang mu’min (04:139).
Dari mereka, mudah terdengar kritik sangat nyinyir terhadap tokoh-tokoh kaum muslimin sendiri, tapi banyak kutipan mereka yang tanpa komentar sedikitpun terhadap gagasan dan kehidupan para tokoh kafir. Kelompok ini pun sangat enggan terlibat dengan aktifitas nyata demi kemaslahatan kaum muslimin. Mereka cuma menunggu dan menjadi pengamat.
Anehnya, jika kaum muslimin mendapat kemenangan, mereka segera berteriak mengungkit jasa. Sebaliknya, jika orang kafir yang berjaya, mereka akan ‘menjilat’ kepada kaum kuffar, “Bukankah kami turut memenangkanmu dan membelamu dari orang-orang mu’min?” (04:141). Demikianlah, karena hati mereka pun tidak pernah tenang dengan imannya (02:17-20). Mereka tidak ‘kesana’ tidak juga ‘kesini’. Alias, tidak tenang disebut mukmin namun menolak disebut kafir (04:143).
Dalam an-Nisaa’, akar kesesatannya diungkap jelas, bahwa mereka adalah sekelompok orang yang telah beriman, lalu kafir, lalu beriman lagi, lalu kembali menjadi kafir dan semakin bertambah kekufurannya (04:137). Mungkin, kita bisa menyebutnya sebagai kekufuran yang disengaja dan disadari, misalnya dengan bangga melanggar larangan Allah atau meninggalkan perintah-Nya.
Kalangan ini akan sangat sulit diingatkan, dan Allah menyebutnya sebagai telah terkunci hatinya. Pun, sudah jamak dikenal, bahwa banyak diantara mereka yang terang-terangan tidak mengerjakan shalat fardhu atau puasa Ramadhan.
Wajar saja, sebab dalam hal ibadah, mereka sangat malas mengerjakan shalat. Kalaupun shalat maka ada tendensi pamer (riya’) di dalamnya, kebanyakan karena sungkan kepada orang lain. Itupun tak disertai kesadaran sedikitpun dalam hatinya tentang shalat itu, karena mereka amat sedikit mengingat Allah (04:142).
Demikianlah, prasangka jahiliyyah adalah pemikiran dan gagasan kaum munafik terhadap agamanya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang imannya cacat dan karakternya dirusak oleh ketidakpastian dalam melangkah mengikuti bimbingan Islam. Semoga Allah melindungi kita darinya. Wallahu a’lam bis-showab.
TOBADAK (Hidayatullah.or.id) — Berada di kecamatan Tobadak kabupaten Mamuju Tengah, desa Sejati sebelumnya Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Tobadak VIII ini didiami suku Jawa, Bugis, Mandar dan eksodus Timur Leste.
Sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan seluruhnya muslim. Jumlah penduduk desa ini tahun 2020 berjumlah 1.236 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 662 jiwa dan perempuan sebanyak 574 jiwa. Desa ini terbagi menjadi 5 dusun, 5 Rukun Warga (RW) dan 12 Rukun Tetangga (RT).
Batas timur desa Sejati adalah hutan lindung yang berbatasan dengan hutan lindung Sulawesi Selatan sehingga akses dari desa lain termudah adalah desa Saluadak dengan kondisi jalan yang menantang andrenalin anda sampai saat ini.
Sedangkan bagi dai dai Hidayatullah rute itu wajib dilaui setiap bulannya untuk mengisi pengajian rutin oleh seluruh warga apapun cuaca dan kondisinya.
Setiap hari Ahad akhir bulan Ustadz Muhajirin Bukhari dai mengabdi yang berdomisili di Taranggi, Kabupaten Pasangkayu itu harus hadir memberikan materi pengajian.
Di musim hujan ia harus menyiasati perjalanan biasanya menginap di Hidayatullah Saluada dan kalau sudah diguyur hujan akses bawah yang menghubungkan ke dua desa tersebut kondisinya lebih layak disebut sungai.
Kendati demikian ada beberapa ruang jalan yang lumayan bagus dan menghibur pengendara yang melaluinya.
Masih lumayan jika ‘hanya’ becek dan berlumpur setidaknya jalan akan licin dan akibat paling ringannya adalah tersungkur dengan sepeda motor dan barang bawaannya.
Belum lagi alasan lain jika harus membonceng istri tercintanya karena jamaahnya kebanyakan ibu ibu, tentu tingkat ribetnya berbeda bisa empat level di atas istilah rempong.
“Cukup melelahkan tentunya tapi sangat indah jika dinikmati,” katanya kepada Bashori, kontributor Hidayatullah.or.id di Sulbar.
Rangkaian tantangan yang disuguhkan oleh Yang Maha Kuasa untuk orang orang bernyali di atas rata rata saja, bahkan bagi warga Sejati membawa hasil panen mereka ke pasar terdekat adalah sebuah tantangan tersendiri.
Begitu juga tentang pemenuhan kebutuhan mereka, hanya mereka yang punya kebutuhan penting saja yang ‘keluar’, karena dibayang bayangi kondisi jalan.
“Kondisi jalan memang masih menjadi salah satu kendala utama di sini,” terangn Muhajirin.
Untuk Muhajirin dan dai lainnya yang mendapat giliran tentu sudah lumrah mulai persiapan, perjalanan berangkat dan pulang dari majelis taklim Sejati. Seperti itu berjalan secara terus menerus hingga hari ini sebagaimana yang ia tuturkan beberapa hari lalu.
Materi ajar juga tidak ada bedanya dengan desa desa binaan lain di Sulawesi Barat umumnya, mulai perbaikan bacaan al Quran atau tahsin, tajwid dan tafsirnya. Sesekali membahas tatacara penyelenggaraan jenazah.
Desa Sejati didominasi eksodus Timor Leste paska Referendum Timur Leste tahun 1999 silam, hal itu membuat mereka harus punya passport jika akan silaturahmi dengan keluarganya di negara asal mereka Timor Leste.
Para dai Hidayatullah pun dalam setiap materi taklim selalu menyelipkan tentang wawasan Islam (ummah), wawasan kebangsaan (wasbang), dan cinta tanah air dan menjaganya, selain hal tersebut juga bagian dari ajaran Islam itu sendiri.
Muhajirin pun dengan rendah hati mengatakan dirinya bukanlah seorang ustadz apalagi kyai atau ulama yang pandai serta menguasai beragam jenis kitab. Ia mengaku hanya sebagai pembelajar yang berdakwah membahasakan nikmatnya berislam sebagaimana apa yang ia rasakan.
“Kami lakukan (pembinaan) ini bukan karena keilmuan kami sudah banyak, hanya mengajak belajar mengaji bersama, belajar menjalankan agama ini dengan baik dan sama sama mau selamat dunia dan akhirat,” tandas Mujahirin.
Pembinaan warga desa Sejati oleh Hidayatullah sendiri sudah berjalan sejak awal dibukanya UPT Tobadak 1996 dan berjalan hingga hari ini.
Nur Salam, warga dan tokoh masyarakat asal Timor Leste itu menyatakan rasa syukurnya atas pendampingan Hidayatullah di desanya.
Kendati jauh dari infrastruktur atau fasilitas kehidupan modern seperti ketersediaan penerangan dari PLN, sinyal internet, dan berbagai hal lainnya, mereka mengaku bersyukur karena tetap dapat belajar agama dengan baik.
“Kami di desa Sejati ini memang jauh dari sinyal dan keramaian, tapi dai dai Hidayatullah sejak awal membekali banyak tentang ilmu-ilmu agama sehingga selalu mendapatkan bekal ruhani,” kata Nur Salam.
Menurutnya, desa Sejati, meski jauh dari hingar bingar kota dan mengalami kelangkaan jaringan internet bukan berarti masyarakatnya aman dari dampak negatif budaya global dan butuh pembinaan untuk menjaga kehidupan beragamanya.*/Bashori
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatulllah Jawa Timur melaksanakan kegiatan sosialisasi Peraturan Organisasi (PO) Keuangan yang digelar secara virtual dan menghadirkan narasumber Bendahara Umum (Bendum) DPP Hidayatullah, Ust Marwan Mujahidin, Kamis, 9 Rajab 1443 (10/2/2022).
Kegiatan sosialisasi ini merupakan rangkaian dari program pra Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Jatim tahun 2022 yang rencananya akan dilaksanakan pada 11-13 Februari 2022.
Dalam pengantarnya Marwan menyampaikan pentingnya penyamaan persepsi sebagai proses awal membangun kesepahaman diantara pengurus dan pihak terkait lainnya tentang pengelolaan keuangan sebagaimana dalam PO.
“Persepsi pengurus tentang Peraturan Organisasi harus dalam bingkai iman,” kata Marwan.
Marwan mengatakan, iman meniscayakan syura atau musyawarah. Oleh sebab itu di Hidayatullah, terang dia, semua regulasi baik Peraturan Dasar Organisasi (PDO), Peraturan Organisasi (PO), dan Standar Operasional Prosedur dan Kebijakan (SOP) diputuskan melalui mekanisme musyawarah di forum yang disebut Majelis Musyawarah Syuro (MMS).
“Sehingga, apapun yang diputuskan oleh musyawarah, sebagai kader harus menerima dengan sikap sami’na wa atha’na,” kata Marwan
Dalam rangka mensukseskan hal tersebut, pilar-pilar organisasi harus diperkuat. Marwan lantas mengungkapkan tiga pilar organisasi yang amat penting selalu dikuatkan dan diinternalisasi. Ketiga pilar itu adalah Sistem atau regulasi, Kepemimpinan dan Keteladanan.
Dia menerangkan, regulasi tidak akan bisa dijalankan dengan baik jika tidak ada kepemimpinan yang baik. Sementara tanpa uswah yang baik maka regulasi dan kepemimpinan tidak akan berjalan dengan maksimal.
“Karenanya tiga pilar itu harus betul-betul diperkuat. Regulasi yang telah disusun oleh organisasi harus dijalankan dengan kepemimpinan yang kuat dan dikawal dengan keteladanan,” tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Bendahara DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ust H. Muhammad Ali dalam sambutannya mengharapkan sosialisasi PO Keuangan ini menjadi bekal pengurus DPD dalam menyusun program kerja dan anggaran pendapatan atau belanja organisasi sehingga penting untuk diketahui oleh pengurus organisasi.
Lebih jauh Ali mengemukakan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari melaksanakan konsolidasi organisasi. Sebagai bagian penting dari organisasi, jelas Ali, wawasan tentang peraturan organisasi akan membantu kita dalam melaksanakan fungsi organisasi.
“Sehingga dengan peningkatan wawasan tersebut dapat menyamakan persepsi kita tentang keuangan,” sambut Ali.
Dalam sosialisasi ini dibahas beberapa hal berkenaan dengan PO Keuangan diantaranya Peraturan Dividen BUMO, Sharing Lembaga Amil Zakat, Kontribusi Amal Usaha, Infaq Pembangunan, Infaq Halaqah, Infaq GNH dan Infaq Siswa.
Setiap pembahasan dilengkapi dengan simulasi agar memudahkan memahami aturan keuangan organisasi tersebut. Para pengurus antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Setiap sesi pembahasan dilanjutkan dengan tanya jawab.
“Apa yang disampaikan oleh Bendahara Umum dalam sosialisasi ini adalah berita gembira untuk kita yang menjadi ujung tombak organisasi di daerah-daerah,” kata Ust. Ridho Suripto, Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Kediri.
Tindaklanjut dari pada program ini adalah realisasi PO Organisasi dalam APBO dan memasukkannya ke dalam bagian program kerja tahun 2022.*/Muhammad Idris