Beranda blog Halaman 388

Menjadi Santri Kampung

MOMENTUM peringatan hari santri tahun ini bertepatan dengan kami silaturahim ke kampung halaman. Tidak ada kesengajaan tapi tiba-tiba teringat masa saat menjadi santri di kampung.

Silaturahim kepada guru ngaji yang dulu mengajari ngaji di kampung kelahiran. Bernostalgia mengingat masa belajar, berkegiatan dan tidur di mushola

Kemudian mengumpulkan beberapa santri di kampung. Untuk transformasi pengalaman 25 tahun lalu. Liku-liku keasyikan santri dulu dan memberikan motivasi untuk bangga menjadi santri.

Tidak mudah menjadi santri di kampung karena hanya santri kalong. Waktunya terbatas sore dan malam. Karena pagi sekolah di tempat masing-masing.

Banyaknya tugas sekolah, padatnya kegiatan dan pergaulan teman sekolah. Itu diantara tantangannya untuk bisa istiqomah mengaji menjadi santri kampung.

Kemudian tidak ada ikatan administrasi yang mengikat. Tidak ada aturan masuk keluarnya santri, semua berjalan alamiah.

Kurikulum pembelajaran juga tidak terstruktur dengan baik. Bahkan terkadang berulang-ulang. Gurunya terbatas jumlah dan kesempatannya untuk mengajar.

Guru ngaji di kampung tidak digaji oleh siapapun. Sehingga harus berjuang menghidupi ekonomi keluarganya sendiri.

Meski demikian, beruntung menjadi santri kampung. Diantaranya pertama, terhindar dari berbagai pengaruh pergaulan yang cenderung negatif. Namanya remaja biasanya mau bebas dan bersenang -senang.

Setiap zaman selalu ada tantangan tren kenakalan remaja yang berbeda. Dengan kecanggihan tekhnologi media sosial.
Tapi intinya sama yaitu pelalaian terhadap identitas diri karena hawa nafsu.

Saat itulah nasehat dan pengawasan guru ngaji sangat penting. Menjadi orang tua kedua yang memperhatikan sisi ibadah dan adab santri kampung.

Kedua, menjadi santri kampung memiliki modal dasar dalam berislam. Beberapa pelajaran penting seperti fikih wudhu dan sholat, tauhid, membaca al Qur’an sudah diajarkan.

Dasar-dasar ilmu itu memberikan kesadaran untuk bisa berislam lebih baik. Ini juga modal dasar yang sangat berharta untuk belajar lebih luas dan mendalam.

Ketiga, menjadi santri kampung juga memiliki kedudukan sedikit berbeda dengan yang lain. Sehingga dalam berbagai kegiatan keagamaan di kampung pasti melibatkan santri kampung. Seperti peringatan hari besar Islam, pernikahan, kematian, tasyakuran dll.

Keempat, keberkahan santri kampung yang senantiasa kegiatannya terpusat di masjid. Sebagai tempat mulia dan dimuliakan Allah sehingga santri mendapatkan keberkahan dari masjid.

Hari santri juga menjadi milik santri-santri kampung. Mereka yang berjuang mempertahankan jati diri dan eksistensi kampung terjaga dari pengaruh zaman yang luar biasa.

Abdul Ghofar Hadi

Wakil Wali Kota Ajak Santri Ikut Berkontribusi Bangun Depok

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono mengajak para santri asal Kota Depok untuk ikut berkontribusi membangun daerah asalnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Pesan ini disampaikannya bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober.

Imam Budi Hartono mengatakan, pemahaman santri tentang Islam harus secara menyeluruh. Tidak dalam konteks Islam dari satu sudut pandang saja.

“Islam itu mengajarkan semuanya, ekonomi, peraturan kenegaraan, dan lain sebagainya. Untuk itu, para santri harus mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya saat menghadiri peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Jumat, 15 Rabiul Awal 1443 (22/10/21).

Menurut Imam Budi Hartono, masa depan para santri akan cerah apabila menanamkan iman dalam diri. Filosofinya adalah iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan, dan diamalkan dalam perbuatan.

“Kata Rasulullah, iman itu baik dan buruk. Dimanapun berada harus dalam koridor yang diajarkan Islam,” katanya.

Imam Budi Hartono menuturkan, para santri harus memahami tiga filosofi dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu filosofi ketuhanan, kebangsaan, dan habblum minannas (menjaga hubungan baik dengan sesama manusia).

“Santri harus menjadi contoh dan panutan untuk lingkungan sekitar dan banyak orang,” pungkasnya. (rls/hio)

Kucurkan Beasiswa 476 Juta Rupiah untuk Kader Bangsa

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Santri merupakan bagian penting dari sejarah kemerdekaan Indonesia, sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan santri dan ulama maka setiap tahun diperingati Hari Santri Nasional.

BMH Kepri turut menyambut hari Santri Nasional tidak hanya dalam bentuk seremonial tetapi berupa partisipasi aktif dengan menyerahkan beasiswa Kader Bangsa kepada para santri dan mahasiswa di Batam pada Jum’at, 15 Rabiul Awal 1443 (22/10/2021).

Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau Abdul Aziz mengatakan BMH sangat peduli terhadap pengembangan sumber daya manusia sebagai pilar kebangkitan bangsa.

“Karena itu kami menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi, salah satunya dengan Institut Agama Islam Abdullah Said di Batam,” terangnya.

Abdul Aziz menambahkan bahwa program ini sangat penting dan strategis karena dapat mengangkat harkat dan martabat kehidupan bangsa Indonesia melalui ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mumpuni.

Lebih jauh, Aziz menerangkan, keberpihakan BMH pada pembangunan manusia sebagai akselerasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk).

Bentuk keberpihakan itu diwujudkan dengan penyerahan beasiswa Kader Bangsa sebesar 476,000,000 untuk tahun ajaran 2021/2022 yang diterima oleh Ketua IAI Abdullah Said Batam, Muhammad Siddiq, M.Pd.I,.

“Kepedulian BMH terhadap dunia pendidikan sangat membantu upaya kami dalam melahirkan kader bangsa, sehingga kami berharap kerjasama ini dapat terus berlanjut,” ungkap Siddiq.

Salah satu penerima beasiswa mengungkapkan kegembiraannya atas kepedulian BMH Kepri kepada para penuntut ilmu.

“Beasiswa ini semakin menambah semangat dan motivasi kami dalam menempuh pendidikan di IAI Abdullah Said, terima kasih kepada BMH dan para donatur atas sumbangsihnya pada dunia pendidikan,” ucap Deka selaku peserta penerima beasiswa.

Kegembiraan tidak hanya dirasakan para mahasiswa tetapi juga para pengelola perguruan tinggi IAI Abdullah Said sebagaimana dituturkan Waka Kemahasiswaan, Kardi S.E, M.si.

“Alhamdulillah, beasiswa kader bangsa dari BMH Kepri ini sangat membantu kegiatan belajar para mahasiswa, kami berharap para mahasiswa semakin termotivasi dan lebih giat lagi dalam belajar,” ungkapnya penuh semangat.*/Mujahid M. Salbu

Hidayatullah Sampaikan Terimakasih atas Pengurusan Jenazah Laendra Rahmat

0
Almarhum Ust Laendra Rahmat Kartolo

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah turut membantu dalam pengurusan dan pemulangan ke Indonesia jenazah almarhum Laendra Rahmat Kartolo (51 tahun).

Hidayatullah diantaranya menyampaikan terimakasih kepada Dubes RI untuk Uni Emirat Arab – Bapak Hasan Bugis, beserta seluruh Staff KBRI, Bapak Fadli Zon (Anggota DPR RI), Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia Abu Dhabi (KMMI), Departement of Health – UEA Abu Dhabi, dan Pasir Putih Wisata.

Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Ethihad Airways – Abu Dhabi dan Jakarta, Satgas Covid-19 Bandara Soekarno-Hatta, tim SAR Hidayatullah, Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK), Tim Islamic Medical Service (IMS), Baitulmaal Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, dan dan semua pihak yang telah turut terlibat yang tak dapat disebut satu persatu.

Dilaporkan sebelumnya, pemulangan jenazah Allahuyarhan Laendra Rahmat Kartolo tiba di Jakarta hari Jumat (22/10) sekitar pukul 13.10. Jenazah diterbangkan dengan pesawat Etihad bernomor EY474. Ikut dalam kepulangan tersebut, Rita Sahara, istri Allahuyarhan Laendra Rahmat, dan Pengatur Perjalanan Tim Departemen Pendidikan Dasar Menengah DPP Hidayatullah ke Turki Suci Oktaviani.

Jenazah diterima oleh Ketua Bidang Organisasi Hidayatullah, Asih Subagyo, dan akan langsung dibawa ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk dimakamkan di sana malam ini. Ikut juga dalam penjemputan tersebut seorang putra Allahuyarham Laendra Rahmat serta beberapa pengurus Muslimat Hidayatullah.

Allahuyarham Laendra Rahmat adalah Ketua Departemen Organisasi DPW Hidayatullah Jawa Tengah. Ia meninggal di dalam pesawat dalam perjalanan menuju Turki dan transit di Abu Dhabi pada Senin (18/10/2021) dini hari.

Laendra rencananya hendak mengunjungi beberapa lembaga pendidikan dan tempat-tempat bersejarah di Turki bersama rombongan dalam program Safari Pendidikan Hidayatullah. Allahuyarham meninggal setelah terkena serangan jantung di dalam pesawat.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi, Aamiiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (ybh/hio)

Spirit Takbiratul Ihram

0

DI DALAM diri manusia ada potensi untuk menjadi Fir’aun, tetapi ada juga potensi menjadi Musa. Itulah mungkin salah satu hikmah, mengapa dalam setiap shalat dimulai dengan takbiratul ihram. Sebelum bertakbir, hati, jiwa dan pikiran benar-benar dikondisikan berada pada zona zero.

Bahwa diri ini adalah seorang hamba yang lemah dan hina yang ingin menghadap-Mu, memohon pertolongan agar tetap menjadi Musa yang selalu tunduk pada ketetapan-Mu, selalu berada di jalan yang lurus. Dengan sikap ini, maka shalat akan lebih bertenaga.

Filosofi takbir itulah yang kemudian mewarnai seluruh gerak ibadah dan muamalah. Setiap memulai suatu pekerjaan, hendaknya melakukan ‘takbiratul ihram’. Ketika akan mengajar, seorang guru melangkah ke dalam kelas dengan sikap zero atau minus dan hanya berharap pertolongan Allah agar dimudahkan dalam mengajar.

Demikian juga aktivitas lain termasuk misalnya ketika memancing, saat melempar kail didahului dengan ‘takbiratul ihram’. Sebab, Allah yang bisa menggerakkan ikan-ikan di lautan untuk bisa melahap umpan, bukan faktor alat pancing yang mahal atau spot yang bagus, itu hanyalah bentuk ikhtiar, yang menentukan berapa banyak ikan yang didapat adalah Allah Ta’ala.

Manusia kerap kali terkecoh oleh perasaan bahwa ia memiliki kemampuan dan keahlian sehingga itu yang mendominasi pikiran dan sikapnya. Dan ternyata seorang yang paling ahli pun sering gagal dalam sebuah proyek yang dikerjakannya. Ada demikian banyak bentuk kesombongan yang berakhir dengan kehinaan.

Untuk menumbuhkan sikap ‘takbiratul ihram’ perlu riyadah atau latihan yang istimrar (berkelanjutan) sampai ia menjadi sikap mental. Saat masih nyantri, penulis punya pengalaman bagaimana riyadah itu dilakukan, saat masih aktif bermain bola dan mengikuti kompetisi, setiap kali usai mencetak gol segera mengucapkan hamdalah lalu beristighfar, memohon ampun atas kebanggaan yang berpotensi menjadi kesombongan di dalam hati.

Inilah yang dikatakan oleh seorang ulama bahwa semakin besar Sang Khalik dirasakan maka semakin kecil selain-Nya di dalam diri (A’dham al-Khaliq fi anfusihim fa shagara ma dunahu fi a’yunihim). Spirit takbiratul ihram penting untuk dialirkan dalam setiap denyut aktivitas ibadah dan muamalah.

Tujuannya untuk membatalkan atau mengharamkan segala potensi yang dapat menciderai tauhid atau pengakuan atas kebesaran Allah Ta’ala. Setiap menjalani aktivitas, ia khusyuk menjadikan Allah Ta’ala sebagai kiblat hati dan pikirannya. Dengan demikian ia tetap melangkah di muka bumi sebagai ‘musa’ bukan sebagai ‘fir’aun’ dengan segala kesombongannya. Wallahu a’lam bisshawab.

Mujahid M. Salbu
Tanjung Pinang, 15 Rabiul Awal 1443 H

Jenazah Laendra Rahmat Tiba Hari Ini

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — “Saat ini kami sudah di boarding gate.” Demikian pesan singkat Suci Oktaviani, Pengatur Perjalanan Tim Departemen Pendidikan Dasar Menengah DPP Hidayatullah ke Turki yang diterima Kamis malam (21/10) WIB.

Pesan ini sekaligus memastikan pemulangan jenazah Allahuyarhan Laendra Rahmat Kartolo (51) yang sempat tertunda satu hari. Dengan demikian, jenazah akan tiba di Jakarta hari Jumat (22/10) sekitar pulu 13.10. Jenazah diterbangkan dengan pesawat Etihad bernomor EY474. Ikut dalam kepulangan tersebut, Rita Sahara, istri Allahuyarhan Laendra Rahmat, dan Suci.

Allahuyarham Laendra Rahmat adalah Ketua Departemen Organisasi DPW Hidayatullah Jawa Tengah. Ia meninggal di dalam pesawat dalam perjalanan menuju Turki dan transit di Abu Dhabi pada Senin (18/10) dini hari.

Laendra rencananya hendak mengunjungi beberapa lembaga pendidikan dan tempat-tempat bersejarah di Turki bersama rombongan dalam program Safari Pendidikan Hidayatullah. Allahuyarham meninggal setelah terkena serangan jantung di dalam pesawat.

Suci juga menjelaskan bahwa sesuai protokol otoritas di Abu Dhabi, setiap orang yang wafat di negara itu harus melalui serangkaian pemeriksaan fisum dan forensik. Jenazah juga harus disimpan dalam mortuary pusat kamar jenazah sebelum diterbangkan ke negara asalnya.

Saat diambil, jenazah sudah dimandikan, dikafani, dan dishalatkan oleh petugas mortuary. Rita, istri Allahuyarham Laendra Rahmat, menurut Suci, telah diizinkan melihat jenazah sebelum dikafani.

Sementara itu di Jakarta telah disiapkan penyambutan jenazah. Rencananya, jenazah akan diterima oleh Ketua Bidang Organisasi Hidayatullah, Asih Subagyo, dan akan langsung dibawa ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk dimakamkan di sana. Ikut juga dalam penjemputan tersebut seorang putra Allahuyarham Laendra Rahmat serta beberapa pengurus Muslimat Hidayatullah.

Menurut Penanggungjawab Penjemputan, Muhammad Akbar, dari tim Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, jenazah akan dibawa ke Sukabumi dengan diiringi dua mobil ambulan BMH dan beberapa mobil penjemput. Setibanya di Sukabumi, jenazah akan disholatkan di Masjid Nurul Iman, kemudian dilakukan penguburan. (Mahladi)

Rencana Pemulangan Jenazah Laendra Rahmat Hari ini Tertunda

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Informasi terbaru diperoleh dari Pengatur Perjalanan Tim Departemen Pendidikan Dasar Menengah DPP Hidayatullah ke Turki, Suci Oktaviani bahwa rencana pemulangan jenazah Allahuyarhan Laendra Rahmat Kartolo (51) yang sedianya akan tiba siang ini (Kamis, 21/10) ternyata tertunda.

Penundaan ini, kata Suci dalam penjelasan yang dikirim tadi pagi, disebabkan proses embalming (pengambilan jenazah) yang belum selesai. Saat ini pihaknya masih menunggu arahan dari petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk UEA di Abu Dhabi.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, jenazah Allahuyarham Laendra Rahmat semula akan diberangkatkan ke Jakarta dari Abu Dhabi pada Kamis siang (21/10) pukul 2.40 dini hari waktu Abu Dhabi dengan pesawat Etihad EY474. Tim penjemput di Jakarta, yang dipimpin Muhammad Akbar dari Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, sudah melakukan persiapan dengan mengerahkan dua ambulan dan satu mobil tim SAR Hidayatullah.

“Kami masih menunggu informasi kepastian pemulangan dari pihak KBRI,” jelas Asih Subagyo, Kepala Bidang Organisasi, DPP Hidayatullah, yang rencananya hari ini akan ikut menjemput jenazah. “Mudah-mudahan tak ada halangan berarti dan semua pihak bisa membantu proses pemulangan ini,” ungkapnya lagi.

Allahuyarham Laendra Rahmat adalah Ketua Departemen Organisasi DPW Hidayatullah Jawa Tengah. Ia meninggal di dalam pesawat dalam perjalanan menuju Turki dan transit di Abu Dhabi pada Senin (18/10) dini hari. Laendra rencananya hendak mengunjungi beberapa lembaga pendidikan dan tempat-tempat bersejarah di Turki bersama rombongan dalam program Safari Pendidikan Hidayatullah. Allahuyarham meninggal setelah terkena serangan jantung di dalam pesawat. (Mahladi)

Menparekraf Kunjungi Dayah Al Ikhlas Hidayatullah Aceh Besar

0

ACEH BESAR (Hidayatullah.or.id) — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno berkunjung ke Dayah Yayasan Al Ikhlas Hidayatullah Aceh Besar dan menyempatkan waktu menyapa santri sekaligus shalat magrib berjamaah di lokasi yang berlamat di Desa Nusa, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (19/10/2021).

Sandiaga diterima langsung di kantor yayasan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh Muhammad Chofadz, pimpinan Dayah Yayasan Al Ikhlas Hidayatullah Aceh Ahmad Syakir beserta jajaran dan turut juga Geuchik (kepala desa) Gampong (kampung) Nusa Muhammad Yasin.

Dalam kesempatan berdialog dengan santri, Sandiaga berharap santri untuk terus turut menjadi bagian dari program Santri Digital Preneur dan mendorong beradptasi sesuai perkembangan zaman khususnya digital.

“Sangat bisa dan ditunggu pada pendaftaran berikutnya, mudah mudahan dari Yayasan Al Ikhlas Hidayatullah Aceh Besar bisa berpartisipasi ikut programnya dan ikut terbang ke Jakarta,” kata Sandiaga dalam dialog bersama santri yang menanyakan mengenai kepesertaan Santri Digital Preneur.

Program terobosan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sendiri ini ditujukan bagi peningkatan kapasitas santri dalam menghadapi tantangan industri dunia kreatif.

Sandiaga juga memotivasi santri untuk selalu semangat dan disiplin. Ia membagikan kiat suksesnya sebagai pengusaha dengan puluhan ribu karyawan. Ia memberikan tips yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.

“Priotitas utama adalah ibadah,” imbuhnya.

Sementara itu, pimpinan Dayah Yayasan Al Ikhlas Hidayatullah Aceh Besar Ust Ahmad Syakir meyampaikan terimakash kepada Sandiaga telah meluangkan waktunya datang disela kunjungan dinasnya ke Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Syakir menyebutkan, pondok ini telah berdiri sejak tahun 1998 dan ketika terjadi mega tsunami 2004 pesantren ini menjadi kamp pengungsian warga terdampak tsunami. Kini pondok mengasuh 105 santri penghafal Al Qur’an.

“Tidak saja didik dari Aliyah, namun juga dipersiapkan menempuh studi lebih lanjut dan setelah mereka selesai kembali untuk membangun kampung halamannya,” katanya.(ybh/hio)

Perbanyak Waktu Mengurus Santri, Dahulukan Adab sebelum Ilmu

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Nashirul Haq menyerukan kepada pengurus pondok pesantren, khususnya para pengasuh (murabbi asrama) agar meningkatkan intensitasnya dalam mengurus para santri (anak didik).

“Perbanyak waktu ngurus santri,” pesan Ustadz Nashirul, demikian dikenal, pada acara Daurah Nasional Murabbi Asrama di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Gunung Tembak, Kalimantan Timur, yang berlangsung hingga Selasa, 12 Rabiul Awal 1443 (19/10/2021) malam.

Agar waktu mengurus santri lebih banyak, Alumnus Universitas Islam Madinah dan International Islamic University Malaysia ini berpesan kepada para pengasuh agar tidak malah habis waktunya dengan mengurus yang lain, misalnya administrasi.

“Jangan terlalu banyak waktu urus administrasi itu,” tegasnya mengingatkan.

Daurah bertema “Menyiapkan Murabbi Asrama yang Profetik dan Profesional” ini digelar Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah selama sepekan, 6 -12 Rabiul Awwal 1443 H (13-19/10/2021).

Daurah ini diikuti ratusan peserta terbatas dari berbagai Pondok Pesantren Hidayatullah se-Indonesia ini. Secara resmi dibuka oleh Ustadz Nashirul Haq di Aula Prasmanan Hidayatullah UmmulQura, Gunung Tembak.

Dalam tausiyahnya pada acara pembukaan itu, Nashirul antara lain menekankan pentingnya seorang murabbi asrama atau pengasuh menanamkan keutamaan adab bagi para santri atau anak asuhnya.

Oleh karena itu, para murabbi asrama atau pengasuh harus lebih banyak berinteraksi dengan santri dan hidup bersama-sama dengan mereka.

Terkait itu, Nashirul mengingatkan bahwa salah satu makna “tarbiyah” adalah ta’dib, penanaman adab.

“(Mestinya) ini dapat porsi yang lebih banyak,” tegasnya. Bahkan, sebelum mentransformasikan ilmu, yang lebih diutamakan adalah mentransformasikan adab kepada para generasi muda Islam saat ini.

Nashirul juga menekankan pentingnya murabbi asrama atau pengasuh memberikan teladan yang baik bagi para santri atau anak asuhnya. Di antara keteladanan itu adalah karakter selalu rapi dan berdisiplin.

Karakter lainnya yang juga patut diteladankan dan ditanamkan kepada generasi muda adalah sikap tidak materialis.

Oleh karena itu, upaya membersihkan jiwa dan pola pikir anak asuh atau anak didik adalah hal yang mutlak dilakukan.

Adapun asrama, tambahnya, merupakan wadah untuk membentuk karakter para santri.

Ia pun meyakini bahwa sejatinya para murabbi asrama atau pengasuh di Ponpes-ponpes Hidayatullah saat ini, khususnya peserta daurah itu, telah melalui penempaan untuk menjadi seorang murabbi asrama/pengasuh.

“(Proses) melahirkan murabbi sejatinya anda telah melewatinya sejak menjadi santri,” ujar Nashirul kepada para peserta daurah.*/Abdul Syakur

Setelah Berilmu, Lengkapi dengan Akhlak

0

ADAB dan akhlak adalah salah satu keutamaan dalam Islam, Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim”. Ilmu tak dapat diukur dengan adanya tumpukan gelar atau selembar ijazah. Tapi bagaimana seseorang berinteraksi dengan pengetahuan yang telah diperolehnya apakah itu bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Karenanya, ilmu bisa membuat seseorang semakin jauh dari rahmat Allah SWT karena kurangnya adab terhadap ilmu dan pemberi ilmu itu sendiri. Seorang mahasiswa dan santri yang berilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak yang mulia.

Ia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan nilai-nilai moral baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, termasuk guru dan kawan seperjuangan. Diantara adab yang perlu diperhatikan dalam proses mencari ilmu adalah niat yang ikhlas.

Seseorang tidak akan mendapatkan berkah ilmu dan manfaatnya jika tidak ikhlas hanya karena Allah saja.

Dalam Al-Quran Allah SWT berfiman:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS: Al Bayyinah: 5).

Orang yang mencari ilmu bukan karena Allah termasuk orang yang tidak akan bisa mencium bau Surga. Rasulullah ﷺ bersabda

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah).

Dalam hadits lain disebutkan;

مَنْ تَعَلَّمَ اْلعِلْـمَ لِيُبَـاهِي بِهِ اْلـعُلَمَاءَ وَيُجَـارِيْ بِهِ السُّفَهَـاءَ وَيَصْرِفُ بِهِ وُجُـوْهُ النَّـاسَ إِلَيْـهِ أَدْخَلَـهُ اللـهُ جَهَنَّـمَ

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, mempermainkan diri orang-orang bodoh dan dengan itu wajah orang-orang berpaling kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam. “ (HR. Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah)

Selain itu, rajin berdoa kepada Allah SWT untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Setiap menuntut ilmu hendaknya selalu mengamalkan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, mencari pertolongan dalam mencari ilmu dan berharap kepada hidayah Allah SWT.

Rasulullah ﷺ menasehati kita untuk selalu mencari ilmu yang bermanfaat dari Allah SWT dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Di masa yang penuh tantangan ini, ada segelintir umat Islam yang suka belajar dan mengamalkan ilmu yang tidak berguna seperti sihir, ilmu hitam dan berbagai ideologi Barat yang menyimpang seperti liberalisme dan hedonisme.

Selain itu, ilmu juga perlu dipelajari dengan tekun dan selalu haus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا

“Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR: Al Hakim).

Terakhir, santri, pelajar dan para pencari ilmu juga harus menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. dengan bertakwa kepada Allah SWT. Syarat penuntut ilmu yang ingin sukses adalah menjauhi kemaksiatan.

Syarat ini hanya dimiliki oleh agama Islam. Ibn al-Qayyim al-Jauziyah rahimahullah misalnya berkata maksiat dapat merusak hati dan badan baik di dunia maupun di akhirat.

Di antara bahaya dari maksiat antara terhalangnya mendapatkan ilmu, karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya yang telah Allah berikan di dalam hati, dan maksiat itu memadamkannya (cahaya itu).

Pengaruh kemaksiatan terhadap terhalangnya ilmu pernah menimpa Imam Syafi’i. Suatu saat beliau mengadu kepada salah seorang gurunya, Imam Waki’.

Dalam syairnya Imam Syafi’i berkata;

شَكَوْتُ إِلَىْ وَكِيْـعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ
فَأَرْشَـدَ نِيْ إِلَىْ تَـرْكِ اْلمَعَـاصِيْ
وقَالَ: اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُـــــوْرٌ
وَفَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَـاصِ

“Aku mengadu kepada guruku bernama Waqi’, tentang jeleknya hafalanku, maka ia memberikan petunjuk kepadaku agar meninggalkan kemaksiatan. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”

Imam Malik berkata;

إِنِيْ أرى اللهَ قَـدْ جَعَلَ فِيْ قَلْـبِكَ نُوْراً فَلاَ تُطْـفِئْهُ بِظُلْـمَةِ مَعْصِيَةٍ

“Sesungguhnya aku melihat pada hatimu pancaran cahaya, maka jangan engkau redupkan cahaya itu dengan gelapnya kemaksiatan.”*/Source: Hidcom