Beranda blog Halaman 396

DPW Hidayatullah Jateng Gelar Workshop Digital Marketing

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Era 4.0 ini semua aktivitas sudah beralih ke digital baik dalam hal pemasaran produk, jasa, pendidikan, bahkan dalam hal dakwah. Tak pelak, pemasaran secara digital akhirnya menjadi sebuah kebutuhan dan tuntutan yang sukar untuk ditinggalkan.

Oleh karena itu, Departemen Ekonomi Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah bersinergi dengan BMH menyelenggarakan kegiatan workshop digital marketing dengan tema “Growth up Your Mindset with Digital Marketing” untuk para pegiat dan pengusaha kalangan Hidayatullah di Jawa Tengah, yang digelar selama 2 hari, Sabtu-Ahad, 19-20 Muharram 1443 (28-29/8/2021).

Ketua Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Hamdan, dalam sambutannya mengatakan acara ini dalam rangka untuk menguatkan ekosistem digital Hidayatullah yang saat ini mulai terpola.

Menurutnya, ekosistem digital terutama yang sedang dilakoni oleh komunitas Hidayatullah di Jawa Tengah perlu untuk terus dikuatkan dengan membekali pelaku usaha yang akan atau sudah terjun ke sektor ini.

Hamdan mengatakan, acara digital marketing ini tidak saja diajarkan bagaimana para pengusaha upload konten, tapi juga diantar mengetahui sasaran yang dituju dengan tepat serta bagaimana menyajikan materi digital yang menarik minat audience.

Menurutnya, sudah banyak orang yang berhasil meluaskan kebermanfaatan lewat online baik melalui platform media sosial seperti, Facebook, Instagram, YouTube, Twitter maupun lewat website. Menurut Hamdan, pengusaha, terutama yang pemula, perlu untuk mendalami corak pada industri ini.

“Dua hari memang masih terasa sangat kurang. Kedepan akan kita buat secara berjenjang agar ilmu yang didapatkan benar-benar sempurna,” pungkas Hamdan.

Turut memberikan penguatan dalam workshop yang digelar intensif selama dua hari ini, Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Drs Wahyu Rahman, MM.

Melalui sambungan perangkat virtual dari Jakarta, Wahyu Rahman mendorong dikuatkanya etos usaha di komunitas ini. Baginya, dalam berusaha tentu tidak lepas dari berbagai risiko termasuk risiko untung rugi.

Oleh sebab itu, dia mengingatkan, dalam berwirausaha tidak saja dibutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan tetapi juga diperlukan bekal kemampuan membaca pasar termasuk dalam meningkatkan profit.

“Dalam berusaha jangan terlalu banyak hitung-hitungan. Jalankan saja dulu. Bismillah, jalankan!,” katanya memberi motivasi seraya dengan itu pengusaha sekaligus memperhatikan SOP setelah bisnis yang dibangun mulai terpola dengan baik.

Acara yang berlangsung di Semarang selama dua hari ini di buka langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ali Subur.

Dalam sambutan singkatnya, Subur sangat mengapresiasi kegiatan yang diadakan departemen ekonomi wilayah Jawa Tengah ini. Dia berharap workshop ini dapat dilakukan berkelanjutan sehingga menelurkan lebih banyak lagi pegiat di industri digital.

“Saya sangat berharap workshop ini mampu membawa kawan-kawan lebih terbuka mindset bisnisnya dan juga jadikan ini sebagai sarana untuk mengembangkan diri sebagai kader di Jawa Tengah khususnya di bidang digital marketing,” harap beliau.

Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Saraswati ini diikuti oleh 28 pengusaha Hidayatullah dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Hadir sebagai narasumber Mas R. Iman Saepul, principle Sekolah Preneur Solo dan expert di bidang HRD dan mindset bisnis. Lalu hadir juga narasumber Mas Hasyim yang expert di digital marketing dan Bachtiar yang kerap dijuluki sebagai pakar “marketing langit”.*/Yusran Yauma

Beratnya Tanggung jawab yang Harus Dipikul Seorang Hakim

0

IBNU KHAIRAN merupakan ulama madzhab As Syafi’i yang menolak mati-matian untuk dijadikan qadhi (hakim) karena besarnya tanggung jawab yang dipikul siapa yang yang menjabatnya.

Keputusan Ibnu Khairan menolak jabatan hakim menyebabkan Abu Hasan Ali bin Isa, salah satu menteri Khalifah Al Muqtadir memutuskan untuk menyerahkan rumahnya kepada Ibnu Khairan agar ia bersedia menjabat sebagai hakim, namun Ibnu Khairan tetap menolak.

Hingga akhirnya ada yang bertanya kepada sang menteri mengenai keputusan itu. Maka sang menteri pun menjawab,”Sesungguhnya tujuanku menyerahkan rumah itu agar kelak ada yang menyampaikan bahwa di zaman kita ada orang yang menyerahkan rumah agar Ibnu Khairan menerima jabatan hakim, namun ia menolaknya”.

Abu Bakr bin Al Haddad As Syafi’i ketika melakukan perjalanan ke Baghdad tahun 310 H menyaksikan bahwa pintu Ibnu Khairan dipaku hingga tidak bisa dibuka, karena yang bersangkutan menolak untuk menjabat hakim dan memilih untuk tetap tinggal di rumah.

Dan orang-orang pun mendatangi rumahnya dengan mengajak anak-anaknya. Mereka pun berseru,”Saksikanlah ini, supaya kalian bisa menceritakan hal ini”. (Siyar A’lam An Nibala, 15/59).*/Thoriq

DPW Hidayatullah Jawa Barat Gelar Upgrading Dai

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat (Jabar) menggelar acara Upgrading Dai se-Jawa Barat bertema “Dengan Semangat Hijrah Kita Satukan Tekad Menuju Hidayatullah Jabar Jaya dan Berkibar” bertempat di Pondok Qur’an Hidayaturrahman Ciawi, Bogor, dibuka pada Sabtu (28/8/21).

Acara yang dihadiri oleh pengurus DMW, DPW, DPD, dan amal usaha Hidayatullah se-Jawa Barat ini menghadirkan narasumber Kabid Organisasi DPP Hidayatullah, Ust Asih Subagyo, S.Kom dan Kadep Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat Ustadz Taufik Wahyudiono, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya acara tersebut.

“Upgrading dai ini penting, tujuannya untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan serta keterampilan dakwah bagi seluruh dai Hidayatullah, menumbuhkan motivasi para dai agar sabar dan istikamah dalam dakwah,” kata Taufik.

Selain itu, “Juga untuk meningkatkan para dai dalam mengembangkan metode dakwah,” imbuhnya.

Lebih jauh Taufik mengatakan bahwa berjuang itu berat tetapi nikmat. Karena itu, para dai harus satu frekuensi dan seirama sehingga perjuangan ini bisa dirasakan bersama-sama.

“Kita bisa bersama-sama memperjuangkan dienul Islam ini, kita harus satu frekuensi, harus rapi seperti sebuah shaf yang kuat,” ujarnya.

Menurutnya, berdakwah di Jabar ini menjadi tantangan tersendiri mengingat wilayahnya sangat luas dan jumlah penduduknya paling besar di Indonesia. “Ini menjadi tantangan untuk para dai dalam melakukan percepatan tugasnya,” katanya.

Sementara itu, Asih Subagyo menyampaikan berkaitan reorientasi. Menurutnya, salah satu ukuran ketaatan yang nyata adalah kegiatan halaqah. “Kita punya komitmen melaksanakan GNH dalam berorganisasi, di antaranya halaqah Quran,” ujarnya.

Asih juga mengingatkan kepada para dai bahwa yang menjadi ikatan di Hidayatullah adalah ikatan tauhid. “Bukan ikatan kepentingan pribadi atau kelompok, bukan ikatan jabatan, atau ikatan lainnya,” Asih menegaskan.

“Jika hal itu terjadi, maka organisasi Hidayatullah akan pecah,” tambahnya.

Sedangkan Shaleh Usman menyampaikan bahwa para dai harus pandai berkomunikasi.

Menurutnya, komunikasi itu berhasil manakala pesan itu diterima oleh mad’u.

“Pesan yang kita sampaikan itu akan diterima dengan baik sepenuh hati jika kita turut bagian dalam pesan itu.

“Kita harus mencontoh Nabi Muhammad SAW, beliau orang yang sukses dalam berkomunikasi,” katanya.

Kemudian Muhammad Shaleh Utsman memberi rahasia bagaimana Rasulullah SAW sukses dalam komunikasi.

“Sebelum melakukan komunikasi horisontal (dengan umat) ternyata beliau menjalankan komunikasi vertikal, transendental dengan Allah SWT, dan ini banyak sekali dalilnya,” ungkapnya.

“Salah satu bentuk komunikasi vertikal dan transendental yaitu pada saat kita melaksanakan ibadah shalat, saat itu kita berkomunikasi dengan Allah SWT,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu juga ditandatangani MoU antara Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dengan mitra zakat dan pembagian Al Qur’an secara simbolik untuk Rumah Qur’an dari (BMH). Selain itu, juga dilakukan pelantikan pengurus DPD Hidayatullah Majalengka.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini (28-29/8) diikuti sekitar 125 orang dan berlangsung lancar dan penuh semangat dari seluruh peserta.*/Dadang Kusmayadi

Pemuda Hidayatullah Harus Terus Berkarya dan Berpikir

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah dimanapun berada harus selalu berupaya menempatkan dirinya sebagai figur teladan baik dalam menghasilkan karya maupun dalam tradisi membangun cakrawala berfikir. Dengan demikian pemuda selalu dibutuhkan peran dan senantiasa diharapkan keberadaannya.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi dalam kesempatan kunjungan bersilaturrahim menjumpai Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Jawa Barat, belum lama ini.

“Teruslah bergerak dan melahirkan karya, sekecil apapun itu. Olehnya itu sebagai pemuda kita dituntut untuk selalu produktif dalam menggunakan waktu,” katanya seraya mengimbuhkan bahwa gerakan pembinaan Pemuda Hidayatullah adalah dalam rangka menguatkan komitmen ikut serta menerangi negeri.

Dalam pada itu, Imam mengatakan tradisi berpikir harus selalu dibangun untuk bisa menerangi negeri. Untuk menerangi negeri, maka, katanya, kita harus memiliki cahaya.

“Dan Islam dengan Al-Quran dan hadis adalah cahaya itu sendiri. Karena itu satu perintah yang sangat ditekankan oleh Al Quran adalah berpikir. Berpikir artinya menggunakan akal untuk melihat segala hal dengan kaidah keimanan, logika dan maslahat,” katanya.

Sayangnya, lanjut Imam, perkara berpikir ini belum banyak dipahami termasuk oleh sebagian besar kaum muda. Maka dalam kesempatan tersebut Imam memberikan penguatan tentang tingkatan berpikir yang setidaknya ada lima level.

Pertama, berpikir teknis. Imam menjelaskan, tingkatan level berfikir ini adalah satu aktivitas akal yang berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan biasa dalam keseharian. Misalnya, dia mencontohkan, seseorang baru selesai mencuci baju. Maka dia akan menjemur pakaian itu.

Begitu awan mendung dan hujan turun, orang ini segera mengamankan jemurannya. Itu adalah contoh berpikir teknis.

Kedua, berpikir akademik. Dijelaskan Imam, tingkatan berfikir ini adalah kemampuan manusia menggunakan akal untuk melihat hubungan sebab dan akibat.

“Ringkasnya kita bisa lihat hal ini pada riset yang dilakukan oleh mahasiswa, baik ketika menyusun skripsi, tesis hingga disertasi,” kata Imam menyebutkan contoh berfikir akademik.

Ketiga, berpikir distantif. Level berfikir ini sama dengan berpikir out of the box. Yakni dengan cara mengambil jarak dari realitas bahkan teori yang berkembang untuk menemukan satu model pendekatan yang lebih tepat dan applicable dalam kehidupan.

Keempat, berpikir reflektif. Level berfikir ini menurut Imam adalah menggunakan akal untuk menemukan hal mendasar sekaligus fungsional dari segala sisi kehidupan yang mengitari kehidupan manusia.

Dan, Kelima, berfikir abstraktif. Level berfikir terakhir ini adalah menggunakan akal dalam menjelaskan dan memahami sesuatu dengan bahasa yang memungkinkan semua orang terdorong untuk berpikir lebih jauh dan mendalam.

Dari pemaparan tersebut, diketahui pengalaman perdana hampir dari semua peserta mengaku baru mengetahui akan tingkatan berpikir ini. Hal ini mendorong mereka untuk lebih antusias lagi di dalam membangun budaya belajar.

“Kita ketahui bahwa bangsa kita adalah bangsa yang belum seutuhnya dan sepenuhnya mengajarkan generasi mudanya tentang perlunya berpikir. Sempat suatu waktu Rocky Gerung mengatakan bahwa ijazah yang diperoleh dari sekolah ataupun kuliah hanyalah bukti seseorang pernah belajar atau pernah sekolah, bukan berarti ia pernah berpikir,” kata Imam.

Lebih jauh Imam menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki setiap umat Islam aktif membaca, gemar memperhatikan, dan antusias mencermati segala sesuatu. Dengan cara itu zikir yang dilakukan dapat dipadukan dengan kekuatan akal sehingga dia dapat menemukan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kehidupan.

“Manusia yang seperti itu disebut sebagai ulul albab. Dan kaum muda yang memiliki karakter ulil albab inilah yang nantinya dapat menjadi lentera kehidupan dan mampu terangi negeri dengan ilmu, iman dan amal,” pungkasnya.

Dalam kunjungannya menghadiri undangan PW Pemuda Hidayatullah Jawa Barat ini, Imam Nawawi dibersamai sejumlah sejawatnya yaitu Tri Winarno, Bustanul Arifin, dan Ainuddin Chalik serta turut dihadiri Haniffudin Chaniago ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta. (ybh/hio)

Dosen Senior STIE Hidayatullah Prof Suryanto Meninggal Dunia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dosen senior Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Depok yang juga Guru Besar Universitas Borobudur Jakarta, Prof. Dr. H. Suryanto, SE, MM, meninggal dunia.

Salah seorang perintis STIE Hidayatullah ini menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 11:30 WIB pada hari Jum’at, 18 Muharam 1443/ 27 Agustus 2021 di Jakarta.

Wafatnya pendidik yang dikenal amat disiplin waktu ini meninggalkan duka mendalam bukan saja bagi keluarga yang ditinggalkan, melainkan juga kepada segenap keluarga besar dan civitas akademika STIE Hidayatullah Depok.

“Saya bersaksi bahwa beliau adalah orang baik,” kata Dr Dudung Amadung Abdullah, dosen yang juga pernah memimpin STIE Hidayatullah.

Dudung memiliki kenangan tersendiri terhadap Direktur Akademi Keuangan & Perbankan Universitas Borobudur ini. Ditengah kesibukannya sebagai PNS, almarhum tetap meluangkan waktunya mengajar di STIE Hidayatullah.

Termasuk, dalam hal ini, beliau dikenal sebagai dosen yang tidak pernah terlambat dan tak pernah absen, kecuali ada halangan amat mendesak yang sukar ditinggalkan.

Dr Dudung yang sejak tahun 2004 telah bersama almarhum menjadi pengajar di kampus STIE Hidayatullah, mengaku banyak menyerap energi dari almarhum bersama dengan sahabatnya, Dr Abdul Mannan, yang juga telah meninggal dunia mendahului kita.

“Alhamdulillah saya diberi kesempatan mendampingi dan menyerap energi perjuangan dari beliau berdua sejak tahun 2004 saat bersama-sama merintis STIE Hidayatullah di Depok,” kata Dudung.

Bukan saja terhadap rekan sesama dosen, mahasiswa yang pernah diajar almarhum juga merasakan kehilangan dengan sosok disiplin yang perhatian dengan mahasiswanya ini. Saking disiplinnya, almarhum bahkan seringkali lebih awal tiba di ruang kuliah ketimbang mahasiswa.

“Masih di masjid ya, atau tidur,” demikian celetuknya seraya bertanya yang sering almarhum ucapkan sambil tersenyum jika mendapati ruangan kuliah masih sepi.

Almarhum tampaknya mengerti dengan kondisi mahasiswa STIE Hidayatullah berasrama yang harus mengikuti jadwal kegiatan di masjid setelah subuh. Sementara, jadwal mengajar beliau memang tepat pukul 06:00 WIB dimana aktifitas di masjid biasanya belum sepenuhnya usai.

“Beliau sangat disiplin waktu dan sabar menghadapi kami mahasiswa yang kadang terlambat dan tidur di kelas,” demikian aku Zulkifli, salah satu mahasiswa STIE Hidayatullah asal Bontang yang duduk di semester akhir ini.

Mengenai kebiasaan berdisiplin dalam segala hal, almarhum dalam banyak kesempatan perkuliahan selalu menekankan keutamaan membangun peradaban Islam dimulai dari diri sendiri.

“Bukan hanya ngambil uang yang bukan haknya, terlambat atau tidak tepat waktu itu juga korupsi. Tidak tepat waktu bukan peradaban Islam,” katanya yang masih lekat dalam ingatan penulis.

Demikian pula dirasakan Mohammad Irwan. Baginya, almarhum bukan semata pendidik, tapi juga sosok ayah yang telaten dan penuh kesabaran memberikan pengajaran berkenaan dengan materi kuliah yang disampaikan.

Dikala awal almarhum mengajar di kampus STIE Hidayatullah Depok, ia selalu menggunakan alat jadul Over Head Projector (OHP) atau proyektor film yang dijalankan secara manual.

Alat ini selalu dibawanya setiap mengajar yang beratnya cukup lumayan. Dengan OHP ini, almarhum menghadirkan suasana pembelajaran yang interaktif. Termasuk dengan perangkat ini beliau dapat mengulangi kembali materinya terutama kepada mahasiswa yang telat masuk.

“Beliau bukan hanya dosen buat saya, beliau juga sebagi orangtua saya karena beliau mengajari kami penuh dengan rasa kasih sayang,” ungkap Irwan, angkatan tahun 2013 ini.

Berpesan untuk mahasiswa

Dalam salah satu kesempatan pidato pada Sidang Senat Terbuka STIE Hidayatullah dalam rangka prosesi wisuda sarjana mahasiwa angkatan ke-VI di kampus tersebut di Gedung Aula STIE Hidayatullah di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (15/09/2012), almarhum tidak mampu menyembunyikan keharuannya di hadapan dai sarjana berjumlah 39 wisudawan yang akan ditugaskan itu.

Di awal penyampaiannya profesor Suryanto sempat menitikkan air mata menyaksikan wajah wisudawan yang telah dididiknya. Sontak ruangan pun henyak, sejumlah hadirin, termasuk undangan yang hadir, ikut terharu.

“Saya sangat terharu, para wisudawan ini adalah anak didik yang telah saya didik dengan sungguh-sungguh. Saya juga bangga karena Anda (wisudawan, red) mampu menyelesaikan tugas dengan baik dan sekarang Anda bisa duduk di sini,” katanya.

Dalam orasi ilmiahnya itu, almarhum menyampaikan pesan kepada wisudawan untuk senantiasa menjaga tradisi keilmuan yang selama ini telah terbangun dengan baik.

Di hadadapan ratusan hadirin, beliau mengatakan sarjana lulusan STIE Hidayatullah memang berbeda dengan sarjana pada umumnya. Karena, lanjut dia, kehadiran STIE Hidayatullah untuk mencetak sarjana dai kader dakwah dalam rangka mengemban tugas kenabian yakni menyebarkan rahmat dan manfaat untuk seluruh alam.

“Dai adalah pelaku pasar. Maka sudah seharusnya seorang dai sarjana adalah orang yang pertama terjun ke pasar untuk membangun kemandirian dan mencerahkan umat,” katanya.

“Dan, saya tidak rela kalian melakukan hal-hal tercela di pasar. Saya tidak mau ilmu yang saya berikan digunakan untuk hal-hal yang tercela,” lanjutnya berpesan.

Kendatipun beliau menyandang gelar sebagai Guru Besar Universitas Borobudur, pembawaan almarhum tetap sederhana termasuk selalu bersedia menerima mahasiswanya dimana saja untuk sekadar berkonsultasi. Bahkan, tak jarang, di lain kesempatan ia meminta mahasiswa datang ke rumahnya dan menjamu layaknya kedatangan tamu agung.

“Dengan kebesaran jiwanya tampil sangat sederhana di depan mahasiswanya. Tetapi semangat dan dedikasinya untuk menebar kebaikan dan manfaat dari keluasan ilmu yang beliau miliki selalu menjadi kemegahan dalam setiap langkahnya menuju ruangan kuliah,” kata Mazlis B. Mustafa, alumni STIE Hidayatullah lainnya.

Masih segar betul dalam ingatan Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah ini tentang sosok tinggi besar ini. Kata Mazlis, jadwal kuliah yang dimulai jam 6 pagi tidak satupun ia lewatkan dengan datang terlambat, padahal beliau jauh- jauh datang dari Jakarta ke Depok dan setelah itu akan kembali ke Jakarta untuk kembali melanjutkan tugas mulia beliau di kampus lainnya.

“Cukuplah konsistensi beliau dalam menghadiri kelas menjadi pelajaran besar bagi anak didiknya. Kedisiplinan yang tidak pernah beliau jelaskan dengan kata-kata, tetapi terlukis indah di pelupuk mata muridnya,” imbuh Mazlis.

Menurut Mazlis, ikhlas dalam kacamata almarhum adalah memberi manfaat secara profesional tanpa melihat besar kecilnya materi yang menjadi imbalannya. “Sulit membahasakan kebaikan beliau yang panjangnya tak terperi,” imbuh Mazlis memungkasi.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi, Aamiin. (ybh/hio)

Imam Hasan Al Bashri dan Sang Pembantu

0

SUATU siang, ketika al-Hasan al-Bashri tengah berada di rumah bersama dengan seorang pelayannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Mendengar ketukan itu, si pembantu bersegera menuju pintu dan membukanya untuk mengetahui sosok yang berkunjung.

“Siapa yang mengetuk pintu,” tanya sang ulama dari dalam rumah, ingin segera mengetahui tamunya. “Seorang pengemis, tuan,” jawab sang pembantu.

Mengetahui yang datang adalah sosok yang membutuhkan pertolongan, Al-Hasan meminta kepada pembantunya untuk memenuhi hajat sang pengemis, “Berilah ia makanan yang kita punya”, sahutnya.

Bertepatan di rumah saat itu ada sepuluh butir telur. Kepada pengemis, si pembantu menyerahkan sembilan butir dan menyisakan satu yang lain. Sengaja ia lakukan untuk jaga-jaga kalau kelaparan, maka telur yang tersisa itulah yang akan dijadikan pengganjal.

Tidak lama dari beranjaknya si pengemis dari rumah Al-Hasan, kembali terdengar suara ketukan untuk yang kedua kalinya. Kembali sang pembantu membukakan pintu.

“Siapa yang datang?,” Tanya al-Hasan. “Tamu, Wahai Imam,” jawab si pembantu. “Persilahkan masuk, dan lihat apa yang sedang ia bawa,” lanjut sang Imam.

Setelah memastikan barang bawaan si tamu yang diperuntukkan sang imam, ia pun menjawab, “Beliau membawa sembilan puluh telur tuan,” jawab sang pembantu.

Mendapat jawaban dari pembantunya, sambil menggeleng-gelengkan kepala , al-Hasan berkata, “Kamu telah menahan sepuluh butir telur untuk kita, apa kamu tidak tahu bahwa Allah telah berfirman;

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa yang membawa amal baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS: al-An’am: 160).*/Khairul Hibri

Sumber

Pemuda Hidayatullah Palopo Gelar Webinar Refleksi HUT RI

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Kota Palopo menggelar webinar memperingati Dirgahayu Republik Indonesia atau HUT RI ke-76 tahun dengan mengusung tema “76 Tahun Kemerdekaan: Islam dalam Pergulatan Sejarah Peradaban Bangsa Indonesia, yang digelar seacara daring melalui platform Zoom Video Meeting disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Nasionalnews – NNTV, Sabtu malam, 12 Muharam 1443 (21/8/2021).

Saifullah Ahmad selaku ketua PD Pemuda Hidayatullah Palopo pelaksana webinar ini mengatakan kegiatan ini bermaksud untuk kembali merefleksikan peran Islam dalam proses perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Saifullah mengatakan, tujuan pengambilan tema yang diangkat dalam acara ini adalah untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai sejarah dan posisi Islam dalam perjalanan bangsa.

“Seperti yang dikemukakan oleh Bung Karno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Hari ini banyak dari masyarakat kita terutama golongan muda yang sudah tidak memahami dan mengerti bagaimana akar kesejarahan Islam dalam dinamika kebangsaan kita,” kata Saifullah.

Sehingga, lanjut dia, pihaknya merasa perlu adanya inisiatif untuk kembali merefleksikan bagaimana peradaban Islam itu tumbuh dalam catatan historis perjalanan bangsa ini berdiri.

Saifullah juga menambahkan bahwa digelarnya acara webinar ini juga sebagai upaya memperkenalkan eksistensi Pemuda Hidayatullah Palopo dan diharapkan melalui kegiatan berseri ini menjadi media pengenalan kepada masyarakat umum sebagai penegasan kedudukan Pemuda Hidayatullah di kota Palopo.

“Besar harapan kami agar semua peserta dapat mendapatkan manfaat dari webinar ini dan mudah-mudahan kedepannya kita bisa kembali melaksanakan diskusi-diskusi yang serupa namun dengan tema yang berbeda tentunya,” ucap Saifullah.

Saifullah berharap agar kedepan Pemuda Hidayatullah Palopo bisa berkontribusi lebih terhadap perjuangan dakwah dan kemajuan bangsa dalam mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya.

“Tidak hanya terfokus pada wacana internal namun mulai melakukan ekspansi dengan wacana-wacana eksternal demi terbentuknya kader intelektual muslim sebagai pemegang estafet kepemimpinan dimasa yang akan datang,” pungkas Saifullah.

Peserta dalam acara ini tidak hanya diikuti oleh pemuda da mahasiswa, tetapi terbuka untuk umum. Acara berjalan lancar dan mendapat antusiasme dari peserta.

Hadir sebagai narasumber senator/anggota DPD RI perwakilan Sulawesi Selatan 3 periode, yakni periode 2004-2009, 2009–2014 dan 2014–2019 Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si dan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi serta dipandu oleh Sekretaris PD Pemuda Hidayatullah Palopo Mufaddal. (ybh/hio)

BP2P Papua 2 Tanam Pohon di Ponpes Hidayatullah Manokwari

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Balai Penyedian Perumahan (BP2P) Wilayah Papua 2 melaksanakan kegiatan penanaman pohon dalam rangka memperingati Hari Perumahan Nasional (Harpernas) Tahun 2021 dengan tema “Padat Karya Perumahan Pulihkan Ekonomi rakyat”, Sabtu, 12 Muharam 1443 (21/8/2021). 

Kegiatan yang dilaksanakan di Rusunawa Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Manokwari ini menerapkan protokol kesehatan guna memutus rantai penyebaran Covid-19.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat lebih dalam rangka penghijauan di lingkungan sekitar Rusunawa, sekaligus mewujudkan sinergitas dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari.

“Semoga penanaman pohon ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami ucapkan terimaksih atas kerjasama dan dari yayasan pondok pesantren Hidayatullah manokwari,” ujar Kepala Balai Penyediaan Perumahan (BP2P) Papua 2, Yance Pabisa dalam sambutannya.

“Wajib rasanya penanaman pohon oleh kami. Pentingnya penanaman pohon ini, agar iklim di sekitar kita sehat, dan rusun di sekitar kita berwawasan kehijauan,” lanjut Yance dalam sambutannya.

Sementara itu, anggota pembina Yayasan Pondok pesantren Hidayatullah Manokwari, Ust Sultan, S.Pd.I dalam sambutannya, mengucapkan terimakasih atas sinergitas yang tiada henti oleh BP2P Papua 2 yang memberikan sumbangsih dan perhatian terhadap keasrian lingkungan pondok.

“Kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Kepala Balai dan jajaran. Semoga dengan penanaman pohon pada Harpenas ini menjadi amal jariyah bagi kita,” tutur Sultan dalam sambutannya.

Sementara itu, acara ini dihadiri oleh Kasatker BP2P Papua 2, Kabagtu, Paguyuban BP2P, staff BP2P Papua 2 dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari.

Kegiatan penanaman pohon pada Hari Perumahan Nasional ini merupakan sinergi dalam rangka aksi konkret dan upaya nyata dalam penghijauan sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk lebih aktif menjaga dan mencintai lingkungan.*/Refra

Allah Sang Pemberi Rezeki

BILA Anda pergi ke Taman Safari atau Kebun Binatang, di sana terdapat beraneka ragam hewan. Masing-masing hidup dalam kerangkeng atau area tertentu yang membatasi gerak dan aktivitasnya.

Oleh karena itu, wajar jika mereka sangat bergantung kepada manusia untuk kelangsungan hidupnya. Jutaan rupiah dibelanjakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan, dan perkembangbiakan mereka.

Di sisi lain, film-film dokumenter buatan –misalnya – BBC Channel atau National Geographic menyuguhkan pemandangan berbeda.

Di padang-padang stepa dan sabana Afrika terdapat kawanan jerapah, antelop, badak, gajah, aneka jenis burung, dan beragam satwa lain yang masing-masing beranggotakan ratusan sampai jutaan individu.

Mereka hidup dan berkembang di alam bebas tanpa seorang manusia pun yang bertanggung jawab mengurusnya.

Pernahkah terpikir, bahwa untuk menghidupi beberapa ekor gajah di Kebun Binatang diperlukan sekian juta rupiah per bulan, lalu senilai berapa trilyun yang Allah belanjakan untuk merawat ribuan ekor gajah di Afrika? Ini baru satu spesies, bagaimana dengan ribuan spesies lain yang juga hidup di sana?

Bila Anda memiliki kolam atau akuarium, berapa biaya yang Anda anggarkan untuk merawatnya? Semakin besar ukuran akuarium atau kolam jelas semakin besar pula duit yang mesti disiapkan.

Belum lagi jika ia berisi ikan-ikan langka dan perlu perawatan khusus. Di saat bersamaan Allah memiliki laut-laut yang menggenangi duapertiga permukaan bumi, lalu masih ditambah jutaan sungai, rawa, dan danau yang tersebar di seantero dunia.

Jika seluruh perairan itu kosong tak berpenghuni, pasti simpel. Namun, faktanya tidak demikian. Entah berapa juta spesies flora-fauna yang Allah letakkan di sana, sebab dari tahun ke tahun selalu ada penemuan spesies baru, sementara masih banyak bagian samudera dan rimba yang belum terjelajahi sekaligus menyisakan misteri-misteri tak terungkap.

Jelas bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Karunia-Nya melimpahi segenap makhluk, bahkan sebelum mereka meminta dan tanpa mereka sadari. Maka, celakalah manusia yang meminta kepada Tuhan-tuhan selain Allah, sebab permohonan mereka pasti sia-sia belaka.

Tersesatlah mereka yang mempersembahkan sesajian kepada “penguasa” Laut Selatan atau penunggu tempat keramat ini dan itu. Dalam hal ini, sangat wajar bila Allah berulang-ulang mempertanyakan logika kaum musyrikin itu, bagaimana mereka bisa meminta rezeki kepada yang lain padahal hanya Allah-lah sumber rezeki yang sesungguhnya!?

Allah berfirman:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang?! Berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun mereka itu tidak dapat memberi pertolongan. Jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (yakni, berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah mereka dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau pun kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar! Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu bagi Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku. Maka, (jika kamu bisa melakukannya) jangan memberi tangguh kepadaku!” (QS. Al-A’raf: 191-195)

Maka wajar bila Rasulullah pun pernah mendorong kita untuk mencintai Allah karena Dia telah menganugerahi makanan dan minuman.

Beliau bersabda,

“Cintailah Allah karena Dia telah memberi makan kalian dari nikmat-nikmat-Nya! Cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah! Dan, cintailah Ahli Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku!” (Riwayat at-Tirmidzi, al-Hakim, dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab. Dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi).

Coba pikirkan, andai Allah menjadikan seluruh ibadah kita sebagai harga untuk sebagian dari nikmat-Nya, pasti tidak cukup.

Lalu, bagaimana orang-orang kafir dan musyrik akan membayarnya? Mustahil! Mestinya, jika ibadah dan iman adalah faktor di balik rezeki, tentunya hanya kaum beriman yang dilimpahi anugerah-Nya. Tetapi, tidak demikian faktanya.

Semua makhluk di alam raya ini Allah tanggung rezekinya, tanpa memandang keimanan maupun kekafirannya, bahkan tidak peduli apakah dia manusia, jin, hewan, maupun tetumbuhan!

Keliru pula anggapan sebagian orang bahwa keimanan seorang muslim sia-sia hanya karena mereka melihat sebagian besar kaum muslimin hidup miskin dan serba kekurangan. Hewan yang tidak mengenal syariat pun diberi rezeki, sehingga rezeki adalah manifestasi sifat kasih-Nya teramat luas, tidak berhubungan langsung dengan iman maupun kekufuran.

Semua manusia – siapa pun dia – telah dituliskan bagian rezekinya masing-masing, sejak ia masih dalam perut ibunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa ketika malaikat diutus untuk meniupkan ruh ke dalam janin, ia sekaligus ditugasi menuliskan empat hal bagi sang calon manusia itu, yakni: amalnya, rezekinya, ajalnya, dan celaka atau bahagia. (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud).

Jadi, Allah-lah Sang Pemberi Rezeki. Mintalah kepada-Nya! Dia telah menanggung penghidupan seluruh makhluk tanpa sedikit pun menelantarkan mereka. Maka, samasekali tidak sulit bagi-Nya untuk memenuhi permintaan Anda seorang! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar

SAR Hidayatullah Peringati HUT RI ke-76 di Pesisir Pantai

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Upacara peringatan HUT RI ke-76 di tanah lapang tentu sudah biasa. Namun bagaimana jika upacara tersebut dilangsungkan di pesisir pantai? Tentunya menjadi sesuatu yang unik.

Hal itulah yang dilakukan instruktur dan puluhan peserta Diklat Dasar SAR Hidayatullah Kaltim di Muara Longkeng, Pesisir Utara Pantai Amborawang Laut, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada momentum peringatan 17 Agustus 2021 beberapa waktu lalu.

Karena berlangsung di tengah pantai, peserta pun memanfaatkan satu batang bambu sebagai tiang bendera. Lalu seutas tali dikaitkan di salah satu cabang pohon jati yang berfungsi sebagai pengerek bendera.

Pelaksanaan upacara di pantai ini bermula dari aktifitas lanjutan dari rangkaian Diklat Dasar yang dilaksanakan SAR Hidayatullah Kalimantan Timur selama 10 hari sejak 12 hingga 22 Agustus 2021.

Berhubung Diklat ini digelar bertepatan dengan 17 Agustus, maka mereka pun tidak mau melewatkan kesempatan ini untuk memperingati heroisme dan patriotisme para santri, umara, ulama, dan rakyat dalam perjuangan melawan penjajah tersebut.

Sama seperti pelaksanaan upacara peringatan HUT RI pada umumnya, dalam kondisi yang serba terbatas, upacara kemerdekaan ini diawali dengan pengibaran sang Saka Merah putih diIringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kemudian ada prosesi mengheningkan cipta, pembacaan UUD 1945 dan Pancasila, serta diakhiri dengan amanat inspektur upacara dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.

Ketua panitia penyelenggara acara, Yuli Nugroho, mengatakan bahwa kegiatan peringatan HUT ini sudah menjadi bagian dsri schedulle rangkaian diklat.

“Jadi jauh hari ketika merancang agenda diklat, waktu peringatan beserta tempat pelaksanaan upacara sudah menjadi bagian dari agenda utama. Jadi ini buka respon atau mengikuti tren saja,” katanya.

Yuli juga bersyukur acara berjalan sesuai dengan agenda, meski pelaksanaan upacara dilakukan dalam keadaan hujan dan peserta basah kuyup.

Inspektur upacara, M. Rizky Kurnia Sah, dalam amanatnya menekankan pentingnya menyerap spirit kemerdekaan Indonesia ke dalam setiap sanubari anak anak bangsa.

Menurut Rizky, perjuangan para pahlawan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia harus dijadikan sebagai bekal bagi generasi muda untuk terus merawat bangsa ini dengan semangat kerelawanan, keswadayaan, dakwah dan cinta.

“Selain meningkatkan skill serta kesadaran sebagai seorang rescuer yang siap membantu siapapun dan kapanpun, hal terpenting yang perlu dituai adalah bahwa diklat ini adalah simulasi dari perjuangan sesungguhnya bertahan dan berjuang menjalani kehidupan,” kata Rizky.

Rizky yang juga Kadiv Infokom PP SAR Hidayatullah ini menambahkan, bahwa tekanan intelektual, emosi, dan fisik serta penempaan spiritual yang konsisten diterima selama 24 jam 10 hari dalam diklat ini, diharapkan akan mengikis keegoisan dan jiwa individualistik untuk kemudian menjadi manusia baru yang sensitif dan memiliki jiwa empati dalam bermasyarakat.

“Kemerdekaan RI dapat diraih dengan adanya kepekaan akan rasa keadilan, serta dengan adanya kesabaran dan kesyukuran yang terus dibangun dan ditransformasikan oleh para ulama kepada santri dan rakyat,” kata Rizky yang juga pengurus PP Pemuda Hidayatullah ini.

Di sisi lain, lanjut Rizky, penjajah pun perlahan lahan tetapi frontal terus menanamkan benih benih penuh permusuhan dan keputusasaan kepada rakyat Indonesia yang dikenal dengan istilah politik becah belah (devide et impera) sehingga sesama kita terus saling bermusuhan.

Namun, seiring dengan tumbuhnya kesadaran akan kemanusiaan dan kehambaan, rakyat Indonesia terutama dari kalangan ulama dan santri, terus melakukan gerilya perlawanan demi untuk kemerdekaan Indonesia.

“Jadi 17 Agustus 1945 bukanlah simbol angka dan tanggal formalitas semata yang kemudian rutin dirayakan setiap tahun. Tetapi ia juga menjadi simbol kemenangan ghazwul fikr dan ghazwul jism. Alumni diklat harus dapat mewarisi mentalitas seperti itu,” pungkasnya. (ybh/hio)