Beranda blog Halaman 397

Kampus Hidayatullah Timika Tanamkan Semangat Juang Pahlawan Sejak Dini

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Memperingati Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November, SD Integral Al Amiin Kampus Pesantren Hidayatullah Timika, Provinsi Papua, mengadakan lomba parade busana pahlawan yang diperuntukkan kepada siswa-siswi dan guru-guru.

Kegiatan tersebut bermaksud untuk mengenang jasa-jasa perjuangan pahlawan. Kegiatan ini berlangsung secara meriah dilapangan pondok pesantren Hidayatullah timika, Papua, 5 Rabiul Akhir 1443 (10/112021).

Antusiasme dan semangat anak-anak terlihat dalam peragaan kostum yang menyerupai tokoh-tokoh pahlawan serta yel-yel yang dinyanyikan dengan penuh kekompakan.

Setiap anak diharuskan menuliskan biografi singkat para pahlawan sebagai bentuk menambah pengetahuan dan sejarah singkat perjuangan agar termotivasi dalam menghargai jasa-jasa perjuangannya.

Dalam sambutannya, ketua Komite SD Integral Al Amiin Hidayatullah Timika, Dian Ardiana, menyampaikan rasa bangga sekaligus haru atas kerjasama yang solid dari guru-guru beserta wali murid untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

“Bagi saya, pahlawan itu bukan hanya yang berperang pada masa penjajahan saja melainkan kita semua adalah pahlawan. Pahlawanku adalah guru-guruku, anak-anak dan kita para orangtua,” ungkap Dian Ardiana.

Ia juga berpesan semoga semangat yang berkobar tumbuh pada jiwa anak-anak kita menjadi jalan untuk tetap istiqamah di jalan Allah.

Sementara kepala sekolah SD integral Hidayatullah Timika, Abdul Sakir. S.Pd.I, menambahkan bahwa, kita harus memaknai perjuangan dan meneruskan hasil jerih payah para pahlawan yang telah diwariskan kepada pemuda-pemudi bangsa salah satunya dengan belajar yang giat.

“Kita adalah penerus masa depan. Kita adalah generasi emas Indonesia, maka, sudah menjadi tugas untuk mempertahankan negeri ini,” jelas Syakir saat memotivasi murid muridnya.

Di akhir penyampaiannya, Ust Syakir yang juga Sekretaris MUI Kabupaten Mimika, ini mengungkapkan rasa terima kasih kepada ketua dan pengurus komite serta seluruh wali murid yang telah ikut mensukseskan dan mensupport kegiatan ini.*/Ochen

Yanmat Dakwah dan Posdai Gelar Daurah Muallim Grand MBA se-DKI, Jabar dan Banten

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bersama Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menggelar kegiatan daurah atau pelatihan muallim Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) yang digelar selama 3 hari di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta,

Acara yang dibuka pada Rabu, 5 Rabiul Akhir 1443 (10/112021) oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, ini dipesertai oleh perwakilan muallim al Qur’an dari berbagai daerah di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Provinsi Banten.

Lihat video selengkapnya, klik di sini.

Banyak Bicara, Satu dari Tiga Sifat yang Dibenci Allah

MENGAPA orang bijak sering digambarkan sebagai seorang yang lebih sedikit bicara dan kalaupun berbicara, dia tidak nampak terlalu mengumbar kata sehingga terkesan bertele-tele dan berputar-putar disitu. Ya mungkin karena sejak kecil kita sudah terbiasa dikesankan bahwa pembual atau pembohong itu identik dengan yang banyak omong, atau malah disamakan dengan penjual obat.

Memang demikianlah nyatanya, orang bijak atau yang terasah kecerdasan serta emosinya, lebih memilih untuk banyak mendengar daripada bicara. Bukan tidak suka atau tidak mau bicara, tetapi bicara jika memang harus dan perlu dan tidak bicara jika tidak benar-benar memahami masalahnya.

Seakan memang begitulah alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar lebih banyak kata yang kita serap daripada yang disuarakan.

Keselamatan seseorang terletak pada kemampuannya dalam menjaga lidahnya, akalnya diletakkan di depan lidahnya, bukan di belakang, maknanya dia selalu berpikir sebelum menyatakan sesuatu. Apalagi dijaman teknologi digital sekarang ini, semua semakin tidak berjarak lagi.

Apa yang kita sampaikan saat ini dalam hitungan menit sudah merebak dimana-mana. Fatalnya karena merasa ingin menjadi yang pertama, orang sering tak merasa harus mendengar tuntas dan memahami sepenuhnya isi lalu membagikan kesahalan pada khalayak luas.

Dahulu, kita sering terperangah ketika mendengar seseorang bicara. Dia yang selama ini banyak diam dan kita anggap biasa-biasa saja, tetiba kita baru menyadari ternyata dia seorang yang bijak dan dalam ilmunya.

Mengapa sekarang yang terjadi malah sebaliknya, seseorang justru karena ingin dianggap ada atau diakui sebagai berilmu atau faham tentang sesuatu, maka dia berani bicara di depan forum tentang sesuatu yang bukan saja diluar kompetensinya? Bahkan dia tidak faham sama sekali apa yang disampaikannya.

Ya.. Orang jadi gandrung ingin dianggap tahu dengan bicara, bukan bicara karena tahu. Ini tingkat kebodohan yang paling tinggi, karena justru dengan banyak bicara, orang justru makin tau kadar keilmuannya, atau dengan kata lain, dia tengah membuka auratnya sendiri.

Bahkan yang paling menjijikkan seorang ‘akademisi’ yang notabene terbiasa berpikir berdasar ilmu, berani menyatakan atau menafsirkan sesuatu tanpa dasar pengetahuan, bahkan menyangkut agama yang diyakininya.

Lebih baik dia membaca dan menelaah hadits Rasulullah ﷺ di bawah ini:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ

Diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang, di akhir hadits disebutkan, beliau ﷺ bersabda, “Maukah Engkau aku kabarkan dengan sesuatu yang menjadi kunci itu semua?” Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.” Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda, “Tahanlah (lidah)-mu ini.” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, (apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?” Beliau menjawab, “(Celakalah kamu), ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz! [1] Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka, melainkan karena hasil ucapan lisan mereka.” (HR: Tirmidzi no. 2616)

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda

لمسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ

“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah.” (HR: Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Ulama pewaris Nabi?

Ulama adalah pewaris Nabi tidak semata karena ilmunya, yang terpenting adalah kehati-hatiannya, justru inilah yang membedakannya dengan orang jahil atau bodoh.

Dien adalah wilayah Allah dan Rasul-Nya, seseorang tidak bebas membuat tafsiran yang disandarkan pada akalnya, sedalam apapun ilmunya.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan bahwa Dien ini belum sempurna? Lalu apakah ‘kesempurnaan’ itu menjadi kewenangan tiap orang?

Kesesatan di atas kesesatan!

Banyak bicara adalah satu di antara tiga sifat yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala, selain dari menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya, demikian hadits Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Malik.

Rasulullah bersabda diriwayatkan dari Abdullah bin Umar;

من كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه كثرت ذنوبه ومن كثرت ذنوبه كانت النار أولى به

“Barangsiapa yang banyak bicaranya niscaya akan banyak salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya maka akan banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka lebih pantas masuk Neraka.” (Diriwayatkan Al-Uqaili dalam Adh Dhu’afa (336), Ath Thabrani dalam Al Ausath (502))

Jika yang ingin dicapai adalah penguatan akidah umat, maka ada banyak hal yang bisa diungkapkan. Akidah ini yang lebih akan menyelamatkan umat, yaitu menjauhkan umat dari menyekutukan Allah dengan apapun, juga membentengi umat dari serbuan pemurtadan yang makin masif dilakukan non-muslim.

Tetapi memang ada orang-orang dari internal Muslimin sendiri yang ada penyakit di hatinya, mereka lebih suka membuat kebingungan, kebimbangan dikalangan umat Islam sendiri. Mereka tak berani tegas menyatakan membenci Islam, tetapi mengarahkan umat untuk membenci Arab.

Mereka menolak apapun yang berbau Arab dengan alasan itu budaya asing, tetapi keseharian mereka bergelut dengan budaya Barat. Setiap hari mereka terus bicara dan menulis, dan semakin jelas buat kita, betapa mereka penuh dengan kebencian dan tipu muslihat.

Mereka tidak mengutip ayat Al-Quran, kecuali untuk lalu diputarbalikkan arti dan tafsirnya. Mereka lebih suka pada ayat-ayat yang tersamar, bukan ayat yang jelas dan tegas.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS: Ali Imran, ayat 7).

Kita semua berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas Negeri ini dari rencana jahat para pembuat kerusakan, yaitu merusak akhlak dan akidah umat. Jika mereka tidak segera sadar dan bertobat, semoga Allah mengadzab mereka di dunia dan akherat.. aamiin.*/

(Oleh Hamid Abud Attamimi, artikel ini disadur dari laman berita www.hidayatullah.com)

Muslimat Hidayatullah Minta Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 Dicabut

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida) menyesalkan keluarnya Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Permendikbud Ristek RI) Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Mushida meminta, Permendikbud tersebut agar titinjau ulang bahkan dicabut, karena dinilai sama sekali tidak memasukkan landasan norma agama di dalam prinsip pencegahan kekerasan seksual di pasal 3.

“Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa adalah dasar negara yang setiap silanya dijabarkan oleh Badan Pembinaan Ideologi (BPIP) merupakan cara manusia Indonesia bersikap dan mengambil keputusan,” ungkap Ketua Umum Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, dalam keterangan persnya belum lama ini dikutip media ini dari laman Mushida, Rabu, 5 Rabiul Akhir 1443 (10/11/2021).

Muslimat Hidayatullah berpandangan Permendikbud Nomor 30 tahun 2021ini menafikan UUD 1945 pasal 31 (3) tentang tujuan Pendidikan Nasional.

Hani menjelaskan, tujuan pendidikan yang diatur dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi untuk mengembangkan potensi mahasiswa yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.

“Muslimat Hidayatullah menilai, Permendikbud ini merupakan duplikasi dari RUU PKS yang lama. Sedangkan, pasal dalam RUU PKS tersebut, bertentangan dengan ajaran agama Islam yang banyak dianut oleh masyarakat Indonesia,” kata Hani.

Lebih jauh Hani menerangkan, Permendikbud Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi sangat menekankan masalah “tanpa persetujuan korban” sebagai salah satu indikator kejahatan seksual, seperti beberapa contoh pada pasal 5.

Hal itu dinilai Hani menunjukkan bahwa semua bentuk kejahatan seksual, baik perzinahan atau yang menjurus pada perzinahan, jika dilakukan dengan persetujuan atau suka sama suka, tidak dimasukkan dalam kategori “kekerasan seksual”.

Karenanya, Muslimat Hidayatullah mengimbau Mendikbud dalam melaksanakan tugas agar berpegang teguh pada UUD NRI 1945 dan UU turunannya yang terkait dengan Pendidikan, sebagai panduan dalam melaksanakan tugas sebagai Menteri.

“Muslimat Hidayullah juga mengajak organisasi massa dan semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menolak Permen 30/2021 ini, karena berpotensi pada legalisasi aktivitas perzinahan di lingkungan Perguruan Tinggi,” tandasnya.

Batalyon Pelopor Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bone

0

BONE (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke 76 Korps Brimob Polri, Batalyon C Pelopor menggelar anjangsana ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bone, Senin, 3 Rabiul Akhir 1443 (08/11/2021).

Selain beranjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah Bone yang beralamat Jalan Poros Pallatte, Kelurahan Waetuo, Kacamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan itu, rombongan Korps Brimob Polri, Batalyon C Pelopor juga mengunjungi purnawirawan dan warakawuri Brimob.

Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Sat Brimob Polda Sulsel Kompol Nur Ichsan, menuturkan bahwa tujuan kegiatan anjangsana ini adalah untuk menunjukkan penghormatan sekaligus menjalin silaturahmi dengan keluarga besar Brimob serta berbagi kasih dengan anak yatim di moment ulang tahun Korps Brimob ini.

“Para Purnawirawan dan Warakawuri ini adalah bagian dari keluarga besar Brimob, olehnya itu silaturahmi dan ikatan batin dengan personel yang masih aktif harus tetap terpelihara dengan baik,” lanjutnya.

Kompol Nur Ichsan pun menambahkan bahwa hal yang tidak kalah pentingnya, kita tidak boleh melupakan dedikasi dan pengabdian para Purnawirawan Brimob selama berdinas sehingga Brimob dapat bertumbuh kembang seperti saat sekarang ini.

Pada kesempatan ini sebanyak 3 Purnawirawan dan 1 Warakawuri yang dikunjungi oleh personel Batalyon C Pelopor yakni Kompol (Purn) Muh. Yunus Umar, Kompol (Purn) Ramli Tahir, Ipda (Purn) Abd. Azis Nasir dan Ny. Manti Beddu Warakawuri AKP Beddu.

Ungkapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya di lontarkan oleh Kompol (Purn) Muh. Yunus Umar disaat menerima kunjungan dari personel Brimob ini.

“Saya sangat berterima kasih kepada Brimob khususnya Batalyon C Pelopor yang tidak melupakan kami yang sudah Purna Bhakti ini. Sudah 8 (delapan) tahun kami pensiun namun setiap ada kegiatan hari besar Brimob, kami pasti diundang termasuk kegiatan Anjangsana yang rutin dilaksanakan setiap tahun seperti pada saat ini,” kata Yunus Umar.

Dalam kegiatan anjangsana yang dipimpin Danki 3 Iptu Mustari, Batalyon C Pelopor juga menyerahkan tali asih sebagai wujud penghargaan dan berbagi kebahagiaan dengan Purnawirawan dan Warakawuri serta anak yatim di Pesantren Hidayatullah.

Turut hadir dalam kegiatan anjangsana ini Ketua Bhayangkari Ranting Batalyon C Pelopor Ny. St. Sufriyati Ichsan, Pasi Min Iptu Saharuddin serta perwakilan anggota dan Bhayangkari Ranting Batalyon C Pelopor. (Source: Chibernews)

Karakteristik Setan

0

KITA semua tahu bahwa kitab suci Al-Quran membagi watak dan karakteristik setan dalam kategori jin dan manusia. Jadi, ada setan jin dan setan manusia. Kalau setan jin tentu tak bisa disentuh dan diraba secara kasatmata.

Tapi kalau setan manusia, ya memang berwujud manusia, memiliki segala panca indera dan organ-organ tubuh layaknya manusia. Bisa disentuh dan diraba secara kasatmata, namun karakteristiknya tak beda jauh dengan setan dalam bentuk jin.

Karakteristik yang paling menonjol adalah sifat dusta pada dirinya. Bukan sekadar berbohong karena suatu keterpaksaan, tetapi kebohongan itu telah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya.

Orang yang sesekali berbohong tak bisa dikatakan pendusta, apalagi bohongnya itu adalah bohong putih demi kemaslahatan. Misalnya, mengatakan bahwa hasil masakan sang istri cukup nikmat dan lezat, padahal kurang manis atau terlalu asin dan seterusnya.

Tetapi, bohong yang sudah menjadi kebutuhan adalah pekerjaan orang lihai dan cerdik. Di mana-mana ia berdusta untuk memenuhi hasrat amarah maupun hawa nafsunya. Bohong ini bersifat politis untuk memenuhi nafsu-nafsu keduniaan yang dikejarnya, bisa dalam bentuk keserakahan pada harta, wanita, maupun pada kedudukan dan popularitas semata.

Tersebutlah dalam kitab Tanbihul Ghafilin, Abu Laits As-Samarkandi menceritakan kembali pengalaman Abu Hurairah, pernah mendapatkan seorang pencuri yang mengambil simpanan di Baitul Maal yang dikumpulkan dari zakat orang-orang mampu di bulan Ramadlan. Si pencuri terpergok oleh Abu Hurairah, lalu dinyatakan bahwa orang itu mau dilaporkan ke Rasulullahﷺ, tapi kemudian ia berkata:

“Abu Hurairah, maafkan saya, baru kali ini saya mencuri karena saya sangat membutuhkan bahan pangan untuk kebutuhan anak-anak saya. Maafkan saya, dan jangan hadapkan saya ke Rasulullah.”

Abu Hurairah memaafkan lelaki itu. Namun, keesokan harinya ia ditanya oleh Rasul mengenai adanya lelaki yang masuk ke gudang Baitul Mal, “Siapakah orang itu, wahai Abu Hurairah?”

Karena Rasul sudah tahu perihal lelaki itu, maka Abu Hurairah pun akhirnya menjelaskan, “Saya kasihan melihat dia, ya Rasul. Katanya, dia mengambil gandum itu untuk kebutuhan anak-anaknya, karena itu saya biarkan saja dia.”

“Kemungkinan orang itu akan datang lagi nanti,” kata Rasulullah ﷺ.

Benar saja, lelaki itu datang lagi dan mengambil sekarung gandum lagi di gudang Baitul Maal. “Anak-anak saya banyak, Hurairah. Jadi saya mengambil ini untuk kebutuhan mereka. Tolonglah, jangan laporkan saya ke Rasulullah…”

Beberapa hari kemudian, Rasulullah bertanya pada Abu Hurairah, “Bagaimana? Apakah lelaki yang pernah mencuri itu datang lagi?”

Tak mungkin bagi Abu Hurairah untuk membohongi Rasul. Maka, ia pun mengatakan sejujurnya bahwa orang itu telah datang dan mengambil sekarung gandum lagi. Kemudian, Rasul pun menyatakan bahwa orang itu, boleh jadi akan datang dan mengambil lagi.

Tak berapa lama, Abu Hurairah pun mendapatkan lelaki itu masuk ke gudang Baitul Maal, dan mengambil sekarung lagi. Lalu, dengan tegas Abu Hurairah memegang tangannya, “Kali ini sudah tiga kali saya memergokimu mengambil barang milik para fakir miskin. Saya sudah tak mungkin memaafkan lagi, dan Anda harus dibawa menghadap Rasulullah.”

“Hurairah, ini yang terakhir kalinya, sumpah saya tak akan mengambil lagi karena kebutuhan anak-anak kami sudah cukup. Tapi tolonglah jangan hadapkan saya ke hadapan Rasulullah… tolonglah, Abu Hurairah….”

Lelaki itu menjelaskan mengenai keahlian dirinya, bahwa ia punya kemampuan untuk menyembuhkan orang dari gangguan jin, dan ia punya rahasia agar membuat orang bisa tidur dengan nyaman dan tenteram.

“Rahasia apa itu?” tanya Abu Hurairah.

“Bacalah ini sebelum Anda tidur, maka Anda akan dapat tidur dengan tenang dan damai. Percayalah pada saya, wahai Abu Hurairah….”

Lelaki itu menyodorkan suatu tulisan yang berisi ayat Kursi secara lengkap, dan bunyinya sebagai berikut: “Allahu la ilaha illa hual hayyul qayyum, la ta’khudzuhu sinnatun wala naum, dan seterusnya….

Keesokan harinya ia pun berkata pada Rasulullah perihal amalan yang diberikan lelaki pencuri itu untuk ketenteraman dan kedamaian hidupnya.

“Lalu, dengan memberi amalan itu, lantas kamu bebaskan dia?”

“Benar ya Rasulullah,” jawab Abu Hurairah, “bukankah amalan itu sesuatu yang baik?”

“Iya benar, amalan itu baik adanya, dan kali ini apa yang dia nyatakan ada kebenarannya, tapi selama ini tak ada lain yang dia katakan hanyalah bohong dan dusta belaka.”

“Kok bisa begitu, ya Rasulullah?”

“Perlu saya beritahu kepadamu, Wahai Abu Hurairah, bahwa lelaki yang selama ini berjumpa denganmu itu adalah Syetan.”


Jadi, dusta dan tipudaya setan itu tidak bersifat hitam-putih. Ada abu-abunya juga rupanya. Sesekali dia bicara benar, walaupun dusta dan kebohongan adalah sifat aslinya.

Sedangkan, orang-orang baik dan jujur, kalaupun ia terpaksa berbohong, namun kebohongan itu demi kemaslahatan, bukan untuk kepentingan diri dan anak-istrinya semata. Di sini ada karakteristik seetan yang memang lihai beradaptasi dengan manusia yang ditipu dan diperdaya olehnya.

Ketika dia menggoda orang sekelas Abu Hurairah, tentu ia berpenampilan cerdas, menarik dan meyakinkan, bukan setan sekelas ecek-ecek yang dungu dan bodoh belaka.

Kenapa orang itu tak mau dihadapkan kepada Rasulullah? Ia takut karakteristiknya terbuka dan terbongkar habis di hadapan Rasul. Ia paham Rasulullah itu seorang ahli jiwa yang pandai membaca watak dan karakteristik, bahkan melampaui kemampuan para psikolog manapun.

Padahal, kalau ia manusia normal, mestinya ia senang dihadapkan kepada Rasulullah yang merupakan sumber ilmu dan hikmah. Orang yang berbuat salah tetapi menyadari kesalahannya, dan ingin membenahi sifat buruknya, tentu dia akan senang hati dihadapkan kepada Rasulullah.

Adapun orang yang tak punya hati, dan tak punya itikad baik sama sekali, ia enggan untuk menyadari kekhilafannya. Dengan demikian, ia enggan pula untuk bertobat atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukannya. Karena itu, para koruptor yang terbiasa mencuri dan merampok uang rakyat, tentu akan konek dengan orang pintar sekelas dukun atau kiai yang minim ilmu dan hikmahnya.

Tetapi, kiai yang berilmu, zuhud dan wara’, tentu figur-figur yang mendatangi dirinya adalah orang-orang yang butuh ilmu dan hikmah bagi perbaikan moral dan kemaslahatan dirinya dan orang banyak. Wassalam.

(Dikutip dari portal berita Hidayatullah.com)

Kuliah Umum tentang Peran Milenial Bangun Peradaban Bangsa

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan Tinggi Hidayatullah Batam terus berupaya agar civitas akademika (masyarakat akademik) di Pendidikan Tinggi Hidayatullah (PTH) mendapat wawasan keagamaan Islam dan kebangsaan Indonesia. Demikian dilakukan STIT Hidayatullah Batam, Salah satu PTH, mengundang Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Riau, Pror. Dr. Khairunnas Rajab, M.Ag, Sabtu, 1 Rabiul Akhir 1442 H (6/11/2021).

Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) XII Wilayah Riau-Kepri tersebut menjadi pemateri tunggal dalam acara yang mengambil tema: “Peran Generasi Millenial dalam Membangun Peradaban Bangsa”.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Badan Pembina Yayasan, Ust Jamal Nur, Ketua Badan Pengurus Yayasan, Ust Khoirul Amri, Rektor IAI, Ust M. Sidik, Ketua STIT HiBa dan STIT Mumtaz Karimun, Ust Ramli, Ust Sumarno, dewan asatidzah, dan 250 mahasiswa yang hadir.

Pak Prof Nas, demikian beliau disapa, mengawali dengan fenomena budaya bangsa yang luhur, tentang perkawinan, khususnya Melayu. Ia menyebut hal itu saat melakukan riset di sebuah wilayah.

Tapi kemudian berubah dengan tingginya nikah terpaksa (married by accident) disebabkan aturan uang jujuran/duit pengantar yang memberatkan. Akhirnya budaya bangsa yang luhur tersebut tergerus dan tidak sakral lagi.

Selanjutnya, Guru Besar Ilmu Psikologi ini juga mengulas tentang pentingnya legalitas keilmuan atau keterampilan seseorang agar terakui dengan baik.

“Karena hari ini, kualitas SDM itu mesti ada pengakuan legalitasnya. Bisa berupa sertifikat, ijazah, dan bukti otentik lainnya,” sebut Prof Khairunnas Rajab.

Tapi perlu ditegaskan, lanjut Prof Khairunnas, legalitas ijazah atau sertifikat itu tidak cukup. Ijazah pun harus sesuai dan seimbang. Jangan hanya butuh sertifikat.

“Sehingga SDM bangsa dan negara ini tidak menentu. Hendaknya kalian mengisi gelar sarjana dengan ilmu daripada hanya fokus dapat sertifikat ijazah itu,” tegasnya.

Selanjutnya Prof Khairunnas memberi gambaran dan kiat bagaimana meningkatkan kualitas SDM khususnya generasi milenial hari ini.

Yaitu, selain ada faktor kecerdasan intelektual (Intelegens Quotiens) yang beragam, juga mesti mengasah dan meningkatkan yang namanya Emotional Quotiens (kecerdasan emosional).

“EQ itu, apa yang disebut dengan kemampuan seseorang untuk mengenali, mengendalikan, dan menata emosi dan perasaan, baik diri sendiri maupun orang lain,” imbuhnya memberi penjelasan

“Banyak orang sukses yang dulunya bukan karena orang yang pintar,” lanjutnya lagi.

Selanjutnya meningkatkan kualitas spiritual quotiens (kecerdasan spiritual). Banyak ibadah, dzikir, puasa Senin-Kamis, puasa daud, berdoa.

“Ketika mampu mengelola emosional kita, tidak angkuh sombong dan menjaga spiritual kita, yaitu ibadah kepada Allah. Kita ibadah, doa, dll, maka dengan sendirinya anda akan semakin cerdas dan menjadi generasi milenial yang unggul,” imbuhnya.

“Paradigma ini yang harus dimiliki setiap mahasiswa, sebagai agen perubahan. Inilah generasi milenial, yaitu mampu berimprovisasi dan menjadi bagian masyarakat yang berperadaban,” pungkas Prof Khairunnas.

Kuliah umum dilaksanakan di Hallroom Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya, Kampus 2 Putri Tanjung Uncang, Hidayatullah Batam. */Azhari

Daurah Murabbi Wustha Mujahadah Mencetak Kader Berkualitas

0

BATU AJI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I, mengatakan bahwa acara Dauroh Murabbi Wustha adalah mujahadah untuk mencetak kader-kader yang berkualitas.

Hal tersebut disampaikan oleh beliau saat menutup acara Dauroh Murabbi Wustha yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau, Sabtu malam, 1 Rabiul Akhir 1442 H (6/11/2021).

“Acara ini adalah mujahadah untuk mencetak kader-kader berkualitas. Bahwa halaqah wustha adalah wadah pembinaan kader yang dinyatakan lulus daurah marhalah wustha,” Kata Ust Tasyrif pada acara yang diadakan di Hallroom, Kampus 1 Batu Aji, Hidayatullah Batam itu.

Oleh karena itu, lanjutnya, maka mesti ada murabbi di halaqah tingkatan ini yang bertujuan mengayomi, membimbing dan mengarahkan kader wustha pada peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan Jatidiri Hidayatullah.

“Juga untuk menguatkan spiritual kader dengan disiplin Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH), mendorong Gerakan Dakwah Hidayatullah melalui dakwah halaqah, menghidupkan kultur kelembagaan warisan para pendiri – perintis Hidayatullah,” imbuhnya.

Kegiatan yang digelar berjasama degan pogram Dai Tangguh BMH Kepri ini mengangkat tema, “Menjadi Murabbi yang Berkompeten dan Berintegritas dalam Membangun Peradaban Islam”.

Adapun murabbi ini, lanjut Tasyrif, kelak memimpin satu halaqah yang berfungsi sebagai sarana tarbiyah dan taklim. Melalui halaqah ini
diharapkan terjadi proses transformasi jatidiri dan kultur keislaman bagi segenap mutarabbi halaqah wustha.

“Dengan proses ini para kader dai secara bertahap terhantar memiliki sikap loyal pengabdian pada Islam. Juga ada ta’akhu (persaudaraan), serta sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah,” imbuhnya lagi.

Ustadz Tasyrif menekankan bahwa murabbi di semua tingkatan halaqah berperan mengemban amanah ideologisasi, penguatan spirit dan kultur keislaman.

Ketika semua murabbi mengemban amanah dengan sungguh-sungguh, tegas Ustadz Tasyrif, mengayomi dan membimbing mutarabbi, berarti proses ideologisasi, spiritualisasi dan pewarisan kultur berjalan dengan baik.

“Dengan proses ini, kita optimis akan lahir kader dai yang berintegritas, kompeten dan loyal, dalam mewujudkan visi membangun peradaban Islam,” pungkas Ustadz Tasyrif dalam acara yang telah berlangsung dua hari tersebut dan dihadiri seluruh anggota DMP dana peserta dari seluruh kader di Kepulauan Riau.*/Azhari

Sahabat Kita Siapa?

Siapa sahabat kita hari ini?
Siapa sahabat istri kita?
Siapa sahabat anak kita?

Ini pertanyaan penting untuk dijawab. Sebab sahabat adalah warna dari kehidupan kita. Yang mewarnai lika-liku perjalanan hidup.

Sahabat itu menjadi penentu agama kita. Sebagaimana Rasulullah bersabda, ” Seseorang tergantung agama sahabatnya”

Sahabat sangat berpengaruh dan mempengaruhi. Jika dia baik maka kebaikannya akan menular. Sebaliknya jika sahabat yang berperilaku buruk.

Narkoba sebenarnya tidak enak tapi sahabat yang mempengaruhi menjadi enak. Demikian juga rokok bukan masalah nikmatnya tapi sahabat yang menjadikan nikmat.

Siapa sahabat kita?

Allah memberikan isyarat untuk bersahabat dengan orang-orang yang senantiasa menyeru kebaikan pagi dan sore. Sebagaimana dalam al Quran surat al kahfi ayat 28.

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”.

Allah mewanti-wanti Nabi untuk terus bersama mereka meski bukan orang-orang kaya, namun mereka itu rajin beribadah pada Allah pagi dan sore.

Meskipun mereka bukan pejabat tapi menjaga ketaatan kepada Allah.

Nabi dilarang oleh Allah mengabaikan mereka, dan mengejar duniawi semata sebagaimana orang-orang musyrik. Mereka itu hanya mementingkan kepentingan yang zahir saja, tanpa mengutamakan kebersihan jiwa.

Sahabat yang baik senantiasa mengingatkan dalam kebaikan. Senantiasa beribadah pagi dan malam.

Sahabat adalah cermin bagi sahabat yang lain. Cermin itu akan memantulkan apa adanya, cermin tidak pernah berbohong.

Sehingga penting memiliki sahabat yang baik. Karena mereka akan menjadi cermin kita. Sahabat adalah orang yang senantiasa mengingatkan saat kita salah dan memotivasi dalam kebaikan.

Imam syafii mengingatkan kita bahwa jika mendapatkan sahabat yang baik maka peganglah erat-erat. Sebab sahabat yang baik itu sulit didapatkan.

Demikian juga sahabat istri dan anak menjaga sangat penting untuk kebaikan keluarga. Karena sahabat sangat berpengaruh membentuk karakter dan kepribadian istri dan anak.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Albayan Agro Hidayatullah Makassar Mulai Penanaman

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Dr Abd Aziz Qahhar Mudzakkar MSi secara resmi memulai tahap penanaman berbagai buah produktif di kawasan terintegrasi Albayan Agro Pesantren Hidayatullah Tompobulu, Maros, Sulsel, Rabu, 27 Rabiul Awal 1443 (3/11/2021).

Kegiatan tersebut ditandai dengan penanaman tahap pertama berupa buah Lengkeng jenis New Crystal yang merupakan variatas unggulan yang dikembangkan pakar pertanian Prof Dr Deden MSi.

“Kawasan terintegrasi Albayan Agro Pesantren Tahfizh Hidayatullah Tompobulu sengaja kita desain dengan mengadopsi konsepsi manhaj sistimatika wahyu Hidayatullah yakni terdiri dari kawasan pesantren, pemukiman, agrowisata maupun kawasan komersil untuk restoran dan lainnya. Insyallah menjadi kebaikan bersama bagi terwujudnya peradaban Islam,” urainya.

Sistimatika Wahyu merupakan manhaj atau metodologi berdasarkan urutan turunnya surah Al Quran yang diterapkan Hidayatullah dalam perjuangan dakwah dan tarbiyahnya mewujudkan peradaban Islam sejak didirikan 50 tahun lalu oleh KH Abdullah Said.

Penanaman perdana tersebut dihadiri pula Prof Deden yang memperkenalkan pula pupuk organik B-Grow yang menjamin tanaman buah yang dibudidayakan sukses berbuah.

Turut pula melakukan penanaman simbolis untuk ribuan pohon dari berbagai jenis buah pada lahan 16 hektar itu Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Ir Abdul Majid MA, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Buhari MPd, anggota Dewan Pembina Yayasan Albayan Hidayatullah Ust Drs Sumadiana MA.

Juga Kepala Perwakilan BMH Ust Kadir, Ketua DPD Hidayatullah Maros Ust Drs Muh Kaisar.

“Pengembangan kawasan Pesantren Tahfizh Hidayatullah Tompobulu ini juga sebagai dukungan kami terhadap kebijakan Pemprov Sulsel dan Pemkab Maros yang telah menetapkan Tompobulu sebagai kawasan agrowisata,, kami mengambil bagian dengan konsep wisata halal/religiusnya,” jelas Ketua Yayasan Albayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fattah.

Berbagai jenis buah khas Indonesia, Sulsel dan buah yang disebut dalam quran/hadits akan menjadi atraksi wisata keluarga selain outbound dan food court maupun fasilitas diklat di Albayan Agrowisata.

Pohon buah yang ditanam merupakan hasil donasi para donatur BMH Sulsel. “Insyallah akan menjadi amal jariyah bagi para donatur BMH. Setiap buah yang dimakan santri dan setiap mili oksigen yang dihasilkan menjadi pahala kebaikan,” tambah Ust Kadir.

“Penataan lahan terus dilakukan dalam sebulan ini menggunakan alat berat untuk memudahkan pengembangan block plan yang telah direncanakan,” jelas konsultan desain kawasan Hidayatullah Muaz Yahya dari Panrita Sembilan.*/Firmansyah/ Hidayatullahmakassar.id