Beranda blog Halaman 401

Pendidik Ditantang Lahirkan Terbobosan Pembelajaran di Masa Pandemi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hingga saat ini kita masih dilanda pandemi yang belum jelas juntrungnya. Bertepatan dengan momentum peringatan setengah abad usia Hidayatullah, Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah Dewan Pengurus Pusat (Dikdasmen DPP) Hidayatullah menantang penyelenggara pendidikan melahirkan terobosan pembelajaran yang menarik untuk menyiasati memberlakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah (school from home) selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Dalam rangka menyemarakkan 50 tahun Hidayatullah dan sebagai medium untuk meningkatkan kompetensi guru, Dikdasmen DPP Hidayatullah menggelar kompetisi pembuatan karya inovatif bertajuk “Video Pembelajaran Daring Anti Boring” yang dapat diikuti oleh guru atau penyelenggara pendidikan.

“Semarak Milad Hidayatullah 50 Tahun: Menjadi Guru Profesional, Kreatif, Inovatif dan Asyik di Masa Pandemi,” demikian tagline lomba tersebut.

Lomba ini terbuka diikuti oleh semua guru atau pendidik Hidayatullah secara nasional dan mengirimkan karyanya dengan ketentuan tema yaitu “The Best Practice of Learning” dalam bentuk video pembelajaran atau berupa visual grafis, animasi, flash, atau slide presentasi dan formt lain sebagainya.

Adapun waktu pelaksanaan lomba sebagai berikut. Pendaftaran dan pengiriman karya paling lambat 1-7 Agustus 2021, kemudian masa penjurian 8-9 Agustus 2021 dan pengumuman pemenang pada tanggal 10 Agustus 2021 melalui kanal resmi Dikdasmen DPP Hidayatullah. Pemenang akan mendapatkan apresiasi menarik dari panitia penyelenggara dengan total hadiah Rp.10.000.000.

Tertarik mengikuti perlombaan ini? Kirimkan karya terbaik Anda melalui tautan berikut bit.ly/dikdasmen-milad50hidayatullah atau klik di sini. Informasi lebih lanjut hubungi Tim Dikdasmen Ust Farhan 08117714771 dan Ust Praguna 08116945155. (ybh/hio)

Semarak 50 Tahun Berkhidmat Bersama Umat Membangun Bangsa Bermartabat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah kini jelang memasuki usia ke-50 tahun pada 1 Muharram 1443 mendatang. Hidayatullah bermula kali pertama dalam bentuk sebuah pondok pesantren dengan menempati bekas pembakaran batu bata di bilangan Karang Bugis, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Abdul Ghaffar Hadi, menyebutkan Hidayatullah didirikan pertama kali oleh Ustadz Abdullah Said pada hari Senin, tanggal 1 Muharam 1393 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1973.

“Perjalanan sejarah Hidayatullah sudah 50 tahun sejak 1 Muharam 1393. Memperingati hari kelahiran atau milad organisasi Hidayatullah ke 50 tahun penting bagi organisasi dan generasi pelanjut organisasi untuk perjalanan ke depan,” kata Ghaffar kepada Hidayatullah.or.id, Ahad, 22 Zulhijjah 1442 H (1/8/2021).

Berkhidmat hingga usia yang ke-50 tahun tentu bukan waktu yang singkat. Rentang waktu masa ini sering disematkan juga sebagai usia emas dengan segala kesemarakan, pencapaian, kekurangan dan kelebihannya.

Memasuki usia hingga setengah abad perjalanan tidaklah sederhana dengan segala dinamika yang menyertainya. Dan, tentu tidak lantas berpuas diri. Justru Hidayatullah dituntut untuk terus mantapkan diri menjalani 50 tahun berikutnya.

Oleh karena itu, menurut Ghaffar, selain diperingati dengan penuh kesyukuran, milad 50 tahun Hidayatullah ini merupakan momentum melakukan evaluasi, introspeksi dan revitalisasi gerakan berkenaan dengan perjalanan yang sudah dilalui dan yang akan datang.

“Organisasi juga telah menetapkan kebijakan strategis tentang standarisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik untuk terlaksananya program mainstream organisasi, salah satunya dengan transformasi histori dan idiologi melalui kegiatan milad,” kata Ghaffar.

Dalam rangkaian tersebut, Hidayatullah di berbagai berbagai daerah pun menggelar berbagai kegiatan penguatan kelembagaan pada momen milad setengah abad ini berupa refleksi historis Hidayatullah dan lain sebagainya.

Jaringan di berbagai daerah juga mangagendakan gelaran webinar atau diskusi online, lomba-lomba antar santri atau warga atau halaqah di kampusnya, produksi video pendek DPW/kampus dan berbagai kegiatan lainnya. (ybh/hio)

Kuatkan Gerakan Literasi, Pemuda Hidayatullah Tegal Adakan Training Jurnalistik

TEGAL (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Tegal gelar pelatihan jurnalistik dengan tema “Melatih Skill Jurnalis, Menjadi Pemuda-Pemudi Muslim yang Cerdas dan Militan” di aula Pesantren Hidayatullah Tegal, Jawa Tengah, dengan sistem hybrid, Sabtu (31/7/2021).

Ketua Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Tegal, Agus Rivai, mengatakan training jurnalistik ini adalah bagian dari satu program utama bernama Sakotulis (Satu Kota/ Kabupaten Satu Penulis) yang diusung Pemuda Hidayatullah di seluruh Indonesia dan pada kesempatan ini, digelar di Tegal, Jawa Tengah.

“Maksud dari kegiatan ini untuk mendorong semangat belajar kaum muda ldalam hal literasi terutama menulis, sehingga mereka semakin sadar dan progresif di dalam dakwah keumatan melalui literasi,” terang Agus Rivai.

Hadir sebagai narasumber Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma yang mengisi materi secara offline. Dan, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi yang hadir secara online yang dihadiri oleh 25 peserta offline dan online.

Yusran Yauma dalma paparan sesi pertama mengatakan, bahwa menulis berita atau jenis tulisan jurnalistik adalah yang paling mudah dipelajari sekaligus diterapkan.

“Jurnalistik ini mudah, baik dalam mempelajari atau pun mengamalkannya. Hanya saja butuh konsistensi juga agar tulisan jurnalistik kita dapat bermanfaat luas bagi masyarakat,” ulasnya.

“Kuncinya sederhana, tulis dengan kemampuan yang kita miliki. Sejatinya, tulisan yang selesai walau pun satu, itu lebih berharga dan dapat dinilai dengan jujur, daripada 1000 tulisan yang tidak selesai dan menjadi tumpukan file di laptop,” ucapnya yang disambut tawa hadirin.

Sementara itu, Imam Nawawi lebih mendorong pada sisi kesadaran generasi muda Muslim akan tantangan umat Islam dimana yang gemar membaca dan menulis masih sangat sedikit.

“Penulis muda Muslim masih sangat sedikit. Ini bisa dilihat dari google dan beragam website yang mengabarkan tentang kegiatan dan pikiran kaum muda Muslim. Karena itu training ini menjawab kekosongan tersebut,” tegasnya.

“Tetapi, lebih jauh, kalau ingin menjadikan kegiatan menulis sebagai jalan kebaikan, jalan kemuliaan, maka hendaknya menulis ini dilandasi niat yang benar, niat yang tulus dan ikhlas karena Allah, sehingga kita akan terus menulis,” kata Imam.

Dan karena itu, dia mengingatkan, menulis harus didenyuti dengan rajin membaca dan diskusi, sehingga kita dapat memberi warna dalam kehidupan masyarakat, utamanya di era digital seperti sekarang.

“Boleh punya keinginan menulis setiap hari, misalnya 30 hari tanpa henti menulis. Tetapi jangan setelah 30 hari tidak berhenti, selanjutnya malah ternyata totoal tidak jalan lagi kegiatan menulisnya. Teladanilah para ulama kita dahulu yang terus menulis demi kemajuan umat,” urainya lebih lanjut.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta, di antaranya peserta bernama Ima.

“Senang di hari libur ada training menulis. Dulu pernah gabung di beberapa komunitas menulis tetapi terhenti karena terasa ide menulis mampet,” katanya.

“Alhamdulillah setelah ikut training ini saya jadi termotivasi bahwa menulis memang harus diniatkan ibadah juga di jalan Allah,” ucapnya menambahkan.

Pemuda Hidayatullah secara nasional memiliki program sakotulis yang merupakan akronim dari satu kabupaten atau kota, satu penulis.*

Bidik Potensi Ekosistem Digital, Muslimat Hidayatullah Gelar Pelatihan Marketing Online

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Ekonomi PP Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan acara Training Digital Marketing Pemberdayaan Ekonomi Ummahat Tingkat Nasional. Soft opening acara tersebut dilaksanakan secara virtual pada 31 Juli 2021/21 Dzulhijjah 1442 H, dan disiarkan melalui kanal YouTube Mushida Official.

Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM, yang membuka acara tersebut, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan teknologi terkini secara positif sebagai upaya membangun kemandirian ekomomi.

“Dalam rangka mewujudkan kemandirian jamaah, anggota dan kader, diperlukan berbagai inovasi dan mengambil bagian untuk bersama-sama mencapai satu tingkatan kemandirian pada bidang ekonomi,” kata Wahyu Rahman.

Agama Islam mendorong para umatnya untuk memiliki kesejahteraan finansial. Tentunya, kata dia, finansial tersebut dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan syari’at Islam.

Ia juga menuturkan pentingnya syariat Islam tentang zakat. “Begitu pentingnya perintah zakat hingga selalu disandingkan dengan perintah shalat dalam beberapa ayat Al-Qur’an,” imbuhnya.

Melalui pelatihan ini, diharapkan mampu beradaptasi dalam menggerakkan bisnis menyesuaikan dengan kondisi terkini. Ummahat saat ini diharapkan lebih lincah memanfaatkan platform digital, tambahnya menukaskan.

Sementara itu, narasumber CEO Elcorps-Elzatta Elidawati Ali Oemar, dalam materinya mengetengahkan bahwa telah menjadi fitrahnya muslimah menjalankan berbagai peran dalam kegiatan sehari-harinya.

Untuk itu, meski dalam kondisi pandemi seperti ini, harus tetap produktif dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana hadits Rasulullah,

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain,” kata Elidawati, menukil sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Bos perusahaan salah satu produsen hijab terbesar di Indonesia ini juga memberikan beberapa tips untuk tetap produktif di masa pandemi. Di antaranya, maknai aktivitas sebagai amal sholeh, bukan sebagai beban, sehingga kita bisa terhindar dari stress.

Dia menerangkan, produktivitas dimulai dengan rutinitas yang baik. Ia juga mendorong peningkatkan kompetensi dengan belajar dan berinovasi.

Muslimah juga, menurutnya, harus bisa berjualan untuk membantu menopang ekonomi keluarga serta menyampaikan pentingnya bersinergi dan berkolaborasi untuk menumbuhkan bisnis.

“Jangan terlalu banyak membuat perencanaan dan perhitungan. Buatlah sebuah tagline yg mempengaruhi pasar agar tertarik dengan produk yang dihadirkan,” terangnya.

Pada kesempatan ini, Bapak Arief Pradetya sebagai Tribe Leader Home LTE Telkomsel, memaparkan bagaimana perkembangan kondisi digital di dunia. Menurut data, pengguna internet di Indonesia mencapai 274.9 juta.

“Meningkatnya populasi ini akibat pandemi yang memaksa seseorang untuk melakukan aktvitas online, seperti e-learning, online shopping, e-healthy, dan gaya hidup digital,” ungkapnya.

Agar sukses berjualan pada platform digital, beliau mengimbau untuk mengetahui lebih jauh tentang jenis marketing dan mengikuti pelatihan digital seperti yang diadakan oleh Muslimat Hidayatullah ini.

Dengan menghadirkan narasumber praktisi dan ahli di bidangnya, kegiatan yang digelar ini menyajikan materi training seperti setting goal, medsos marketing, markatplace, copywriring, teknik closing, yang diselenggarakan sebanyak 12 kali pertemuan atau selama 3 bulan yang digelar intensif setiap Ahad melalui Zoom dan mentoring via WhatsApp grup.

Ketua Departemen Ekonomi PP Muslimat Hidayatullah (Mushida), Inna Sriwahyuni, mengatakan kegiatan yang digelar pihaknya ini tidak lepas dari ikhtiar Mushida untuk terus menumbuhkan ekosistem ekonomi komunitas berbasis digital yang mendukung setiap ummahat untuk bertumbuh dan memunculkan sisi terbaik dirinya dengan bekal pengetahuan dan skil praktis.

“Karena itu, kami selalu mendorong penguatan kolaborasi dengan berbagai individu, komunitas, organisasi, yayasan, institusi dan korporasi untuk menjembatani setiap ummahat untuk mengembangkan diri dan meluaskan kebermanfaatan,” kata Inna.*/Arsyis Musyahadah

Catatan Kecil Menyambut Milad 50 Tahun Hidayatullah

Oleh Mujahid M. Salbu*

SEKILAS hidup di bawah naungan Al Quran dan As Sunnah seolah terbelenggu dalam aturan yang mengekang kebebasan, namun, sejatinya adalah jalan lempang menuju ruang kebebasan yang sangat luas yang menyediakan kenikmatan duniawi (yang dihalalkan) sekaligus kenikmatan dan kelezatan ukhrawi.

Setengah abad perjalanan Hidayatullah, berawal dari sebuah lokasi kecil di samping pembakaran batu bata, kehangatan nilai-nilai Islam mulai dirasakan para pendiri dan kader awal.

Ruang kecil untuk mengelaborasi ayat-ayat al Quran menjadi sebuah konsepsi yang melandasi pergerakan, kehangatan yang awalnya hanya menyentuh aspek batiniah, hari-hari para perintis dilalui dengan kondisi sulit, menu makan diolah dari tumbuhan di hutan, tidur beralaskan tanah, atapnya pelepah daun yang disusun seadanya.

Kini, ruang-ruang kenikmatan dan kehangatan itu tidak lagi sebatas lingkaran kecil di atas gunung tetapi telah melingkupi nusantara.

Gelombang dakwah dan tarbiyah berayun dari kota metropolitan hingga ke pulau-pulau terpencil dan pedalaman, tak sebatas kenikmatan batiniah tetapi juga lahiriah.

Namun, segala fasilitas dan kemudahan tidak membuat kader terlena, semangat itu masih terjaga, dipicu percikan sejarah jejak perjuangan orang-orang tua terdahulu dalam mengarungi samudra dakwah dan tarbiyah, yang sudah merasakan nikmatnya beribadah dan berjuang.

Juga, percikan semangat asatidzah di tingkat pusat yang tak lelah turun ke daerah, melakukan konsolidasi organisasi dan tranformasi manhaj nabawi.

Kader tak hanya merawat tradisi tetapi juga melakukan perenungan dan elaborasi sehingga setiap langkah digerakkan oleh kesadaran historis dan ideologis.

Sebagaimana spirit para pendiri dan perintis serta kader awal, perjalanan mengemban amanah dakwah dan tarbiyah bukanlah rangkaian menyusun lembaran epik atau kisah kepahlawanan, namun untuk sebuah tupoksi kehambaan dan kekhalifahan.

Merajut amanah juga sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan hakikat diri, yang bisa saja ditemukan pada jabat tangan hangat sesama muslim atau di bibir muallaf yang tersenyum bahagia usai berwudhu, dalam lipatan ombak, di keyboard komputer saat merancang program kerja atau di jalan sunyi yang menjelma ekstase panjang.

Ekstase membesarkan Allah Ta’ala (wa Rabbaka fa kabbir-Al Mudatstsir ayat 3) dan mengecilkan diri sebagai hamba yang lemah.

Setiap kader dituntut untuk berpikir, bekerja dan beribadah keras. Sebab Hidayatullah hadir memadukan revolusi konsepsional dan revolusi operasional ditopang kekuatan spiritual. Karena, operasional tanpa konsepsi hanya mengulangi kesalahan yang lalu.

Ketika ada kader yang lalai tidak bangun malam untuk tahajjud, maka esoknya ia seperti tak berdaya, karena tidak siap menghadapi fakta-fakta di medan dakwah dan tarbiyah.

Sebab tahajjud adalah upaya meraih energi dari langit. Proses menempuh “jalan lurus” itulah yang kemudian melahirkan kehangatan dan kenikmatan.

Dan, jika Allah Ta’ala berkenan menganugerahkan nikmat maka itu bukan hanya untuk diri dan keluarga, bukan hanya untuk muallaf dan kaum muslimin di pulau-pulau, bukan hanya untuk mad’u tetapi juga nikmat untuk generasi berikut. Sebab, setiap derap langkah hari ini akan terekam dalam memori generasi muda pewaris perjuangan.

Fitrah atau sifat asal akan menuntun pikiran mereka untuk juga mengikuti jejak kebaikan yang hadir dalam kolase uswatun hasanah setengah abad perjalanan Hidayatullah.

Tanjung Pinang, 20 Dzulhijjah 1442 H

*) Mujahid M. Salbu, penulis adalah Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau

Membaca sebagai Syarat Mutlak untuk Bertuhan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Al Qur’an surah Al-‘Alaq ayat 1-5 adalah surah pertama yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana pendapat mayoritas ulama, dimana kondisi tatanan masyarakat Arab pada saat itu sangatlah rusak, mulai dari sisi aqidah, sosial, budaya, ekonomi dan politik.

Kadep Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Dudung A. Abdullah, lebih lanjut menjelaskan, bahwa Al-‘Alaq dengan demikian adalah kunci pembuka untuk merubah manusia menjadi beradab dan sebagai solusi ditengah masyarakat.

“Orang yang ingin bertuhan harus ber-iqra’ dan berilmu terlebih dahulu. Karena tanpa proses ber-iqra’ yang baik dan benar maka akan terjadi kesesatan,” katanya saat menyampaikan pengajian rutin pekanan mahasiswa di Kampus STIE Hidayatullah, Depok, Jawa Barat, Jum’at (30/7/2021).

Abah Dudung, demikian ia karib disapa, mengatakan pada dasarnya manusia itu mempunyai yang namanya sense of religion. Karena, dia menjelaskan, walau bagaimanapun fitrah manusia rindu terhadap agama, yang menjadi permasalahan adalah dia mau membaca atau tidak.

“Pertanyaannya, dia mau dibimbing wahyu atau tidak. Maka sejarah membuktikan ketika mereka rindu dengan agama tetapi tidak ada wahyu yang membimbing maka yang terjadi adalah ketersesatan,” kata Abah.

Abah menerangkan, surah Al-‘Alaq adalah sebagai metode berislam yang baik dan benar. Surah ini merupakan tarbiyah Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad yang kemudian disampaikan kepada ummatnya. Ia juga sebagai bantahan kepada filsuf yang menempatkan Tuhan dan Nabi sebagai objek kajian, bukan subjek yang berbicara kepada manusia.

“Al-‘Alaq ini juga berbicara konsep ketuhanan (Tauhid), proses penciptaan manusia yang terbuat ‘alaq (segumpal darah), berbicara tentang konsep penciptaan alam semesta dan juga berbicara tentang konsep wahyu, kenabiaan dan ilmu,” jelas Abah Dudung.

Perintah membca dalam surah Al ‘Alaq tidak ada objeknya, artinya apapun bisa dibaca. Tetapi, Abah mengingatkan, bahwa pembacaan yang dilakukan harus selalu dilandasi dengan atas nama Allah (bismirabbik) agar apa yang dibaca selalu dalam bimbingan wahyu dari sang pencipta.

“Adapun instrumen membaca itu bisa dengan indra, akal dan hati yang dibingkai oleh wahyu dari Allah sehingga hasil dari iqra’-nya adalah kebenaran yang hakiki,” katanya.

Lebih jauh Abah menerangkan, ber-iqra’ bismirabbik akan membawa perubahan mendasar pada pelaku dan lingkungan sekitarnya. Sebutlah misalnya terjadi pada masyarakat jahiliyah yang telah melakukan proses iqra’ dengan baik dan benar, maka mereka yang awalnya penuh kesyirikan, khurafat dan takhayul berubah menjadi mentauhidkan Allah Ta’ala.

Demikian pula mereka yang awalnya merendahkan kedudukan wanita, melakukan perbudakan dan penindasan, lantas kemudian mereka berubah menjadi amat menghormati wanita dan menghapus perbudakan.

Pun begitu masyarakat jahiliyah yang tercerahkan dengan Al ‘Alaq. Mereka yang awalnya mengumbar hawa nafsu (hedonisme), gemar zina dan minum minuman keras, mengambil hak orang, berjudi dan riba, akhirnya berubah menjadi pribadi yang berakhlak mulia, penyayang dan menegakkan kebenaran. Demikian halnya perang antar saudara dan antar suku, menjadi jalinan persaudaraan dalam iman dan perdamaian.

Abah Dudung juga menjelaskan tentang iqra’ dalam dimensi ilmu pengetahuan, dimana menurutnya iqra’ itu bisa berarti membaca yang kemudian bisa mengetahui.

Lebih dalam lagi iqra’ bisa bermakna menelaah, yang kemudian hasilnya adalah bisa membedakan. Dan lebih tinggi lagi, iqra’ bisa bermakna meneliiti yang kemudian hasilnya bisa mengembangkan.

Iqra’ juga bisa berdimensi masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang yang kemudian akan melahirkan manusia yang visioner,” imbuh Abah yang juga pernah mengetuai kampus STIE Hidayatullah ini.

Tidak kalah pentingnya ia juga menjelaskan urgensi dari iqra’ bismirabbik. Dimana dengan iqra’ menjadi pembeda antara manusia dan binatang. Iqra’ merupakan fitrah manusia, dengan ber-iqra’ berarti berproses untuk mengetahui, mengilmui, punya keyakinan dan bisa membedakan yang baik dan buruk

“Sejatinya target dari ber-iqra’ adalah iman bertambah, ilmu meningkat, menjadi manusia yang mulia dimana ilmu dan amal berjalan beriringan,” pungkasnya.*/Najibullah

Dikdasmen Wilayah Gelar Diklat Guru Hidayatullah se-Jateng

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah Dewan Pengurus Wilayah (Depdikdasmen DPW) Hidayatullah Jawa Tengah (Jateng), menggelar kegiatan Diklat Guru Baru Jaringan Pendidikan Integral Hidayatullah se-Jateng secara online selama 4 hari dari Rabu-Sabtu, 28-31 Juli 2021.

Ketua Panitia kegiatan diklat tersebut, Imam Suja’i, menyampaikan bahwa diklat online guru baru Hidayatullah Jawa Tengah ini merupakan media untuk membekali guru baru secara dini dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik dengan penuh komitmen, berkualitas dan amanah.

Sebanyak 53 peserta yang tergabung dalam sesi kontrak belajar mengikuti dengan tertib kegiatan diklat online sesuai ketentuan dan SOP yang ada.

“Sehingga bisa maksimal dalam mendapatkan bekal untuk mendukung tugasnya sebagai pendidik di lapangan,” kata Imam.

Usman Wakimin, M.Pd sebagai Ketua Depdikdasmen Hidayatullah Jawa Tengah menyampaikan seluruh peserta mengikuti diklat online secara penuh, dari awal hingga akhir sehingga demikian bisa tercapai target diklat online seperti: memahami visi dan misi Hidayatullah, memahami jatidiri lembaga Hidayatullah dan memahami konsep Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT).

Selain itu, peserta juga diharapkan memahami kode etik guru Hidayatullah, memahami dasar keterampilan mengajar, strategi komunikasi efektif, memahami metode Al-hidayah, mengenal Sako Hidayatullah, dan memahami kesehatan mental guru serta mendapatkan kiat hidup sehat bagi guru.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Jawa Tengah, Ust. Ali Subur, SE dalam sambutannya di acara pembukaan diklat online ini, menyampaikan apresiasi kepada Kadep Pendidikan DPW Hidayatullah Jateng, semua kepala sekolah se Jateng, dan tim Depdik Wilayah Hidayatullah yang tetap produktif meskipun dalam masa pandemi ini.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada 53 peserta acara hibryd ini baik yang hadir baik di studio sentral diklat online maupun secara virtual di sekolah masing-masing.

“Mari bersyukur atas nikmat iman dan nikmat sehat, di masa pandemi ini nikmat sehat terasa semakin mahal nilainya. Sebagai bagian dari kewajiban menjaga nikmat jiwa dan kehidupan, kita harus berikhtiar menjaga kesehatan secara maksimal,” katanya berpesan untuk tetap memperhatikan prokes covid 19.

Lebih lanjut Ali Subur mengucapkan selamat kepada para guru yang menurutnya merupakan pejuang peradaban, bukan guru sembarang guru.

“Tapi guru pejuang dan pejuang yang guru, memiliki tanggung jawab mencerahkan generasi dan kader pembawa estafeta perjuangan diinullah di masa depan,” imbuh Subur.

Pesan Ali Subur untuk semua peserta bahwa untuk menjadi sang pencerah, nanti akan diperdalam dengan pemahaman terkait dengan profil kelembagaan dan terkait dengan profil guru Hidayatullah.

Menurutnya, status baru sebagai guru pejuang harus disyukuri, karena peristiwa apapun yang membawa kepada kebaikan adalah karunia besar yang harus disyukuri.

“Perbaiki niat dan orientasi menjadi guru di Hidayatullah. Perlu ada pemahaman tentang konsep rejeki, bahwa rejeki adalah sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah sejak di lauhful mahfudz sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan apalagi sampai membuat cemas,” katanya.

Dia menambahkan, “cukuplah fokus pada totalitas melakukan kewajiban mengajar dengan sungguh-sungguh. Pekerjaan menjadi guru diniati untuk menolong Agama Allah, menolong orang lain, memberi manfaat pada ummat. Insya Allah kita akan ditolong oleh Allah,” pesannya.

Dia mengutarakan, keterlibatan sebagai guru adalah semata skenario terbaik dari Allah, maka olehnya janganlah kebaikan yang telah Allah tetapkan pada diri, kita selisihi dengan sikap khianat niat, khianat tujuan, khianat cara kerja, maupun khianat menjadi destroyer atau perusak system.

“Allah ingin menyaksikan sekaligus membersamai Anda semua menjadi pribadi baru yang lebih bernilai di hadapan Allah, baik sebagai Abdullah maupun Khalifatullah. Amanah sebagai guru adalah tugas penerus misi kenabian dan para ulama salafus shaleh,” ungkapnya.

Terakhir, Ali Subur menyampaikan bahwa acara diklat ini baru langkah paling awal untuk membuka sedikit pemahaman terkait profil kelembagaan Hidayatullah, profil guru Hidayatullah, dan sebagian lagi pembekalan teknis dan manajerial agar dapat menjadi guru yang professional, kreatif, inovatif skaligus inspiratif.

“Diklat yang sebenernya nanti justru dilakoni saat sudah menjalani amanah di lapangan. Dibutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan yang kuat agar bisa menjadi pengajar sekaligus pembelajar yang baik. Selamat menikmati sajian ilmu yang renyah dan barokah melalui acara diklat ini,” tambahnya memungkasi.*/Yusran Yauma

Cara Ibrahim Ajak Kaumnya Berpikir tentang Tuhan

ADA beragam cara mendakwahkan kebenaran kepada orang lain. Salah satunya, diperlihatkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS) kepada kaumnya, termasuk ayahnya sendiri, untuk berpikir jernih tentang penciptaan alam semesta dan ke-Mahakuasa-an Sang Pencipta.

Ibrahim AS yang cerdas berusaha menggelitik kesadaran kaumnya dengan hujjah yang sederhana, mudah dipahami, dan tak terbantahkan.

Kisah yang sangat masyur tentang ini diutarakan dalam al-Qur’an Surat al-An’am [6] ayat 76 hingga 79. Di dalam rangkaian ayat tersebut dikisahkan bagaimana Ibrahim AS mengajak secara halus kaumnya untuk berfikir dengan melihat benda-benda langit yang selama ini mereka ibadahi.

Benda langit pertama yang disaksikan Ibrahim AS ketika malam telah gelap adalah bintang. Ibrahim AS berkata, “Inilah Tuhanku.” Bintang itu kemudian tenggelam dan tidak lagi terlihat. Ibrahim AS berseru, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

Lalu Ibrahim AS melihat bulan muncul di langit yang hitam. Dia berkata lagi, “Inilah Tuhanku.”

Lama kelamaan bulan itu juga terbenam. Ibrahim AS kembali berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

Setelah itu terbitlah matahari. Kembali Ibrahim AS berkata, “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.”

Menjelang senja, matahari perlahan-lahan terbenam di ufuk barat. Melihat fenomena ini, Ibrahim AS menasehati kaumnya, “Wahai kaumku. Sungguh aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Begitulah kisah Ibrahim AS yang cerdas mengajak kaumnya untuk berfikir. Benda-benda langit yang selama ini mereka sembah ternyata tidaklah pantas untuk di-Tuhan-kan. Tak mungkin Tuhan berubah-ubah, kadang ada, kadang tiada. Kaumnya –bahkan ayahnya sendiri– jelas tak bisa membantah logika yang diungkapkan Nabi Ibrahim AS.

Dalam kesempatan yang lain, Ibrahim AS juga mengajukan pertanyaan kepada kaumnya tentang berhala-berhala yang mereka sembah.

قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ
اَوۡ یَنۡفَعُوۡنَکُمۡ اَوۡ یَضُرُّوۡنَ

“Apakah mereka mendengar kalian ketika kalian berdoa (kepada patung-patung itu)? Atau (dapatkah) mereka (patung-patung itu) memberi manfaat atau mencelakakan kalian?.” (Surat Asy-Syu’ara [26]: 72-73).

Namun, kebenaran logika yang disampaikan Ibrahim AS rupanya tak membuat hati kaumnya berubah. Meskipun Ibrahim AS mampu membungkam mulut mereka dengan hujjah, namun kaumnya tetap bersikukuh di atas kekafiran. Mereka tetap saja menyembah patung-patung buatan mereka sendiri.

Ibrahim AS sadar bahwa kaumnya tak cukup diberitahu lewat lisan yang baik. Mereka perlu juga disodorkan bukti. Karena itu, Ibrahim AS berencana untuk berbuat sesuatu. Sebuah tindakan berani yang mengandung risiko namun penting untuk tegaknya dakwah.

Tiba di Hari Raya, Ibrahim AS memulai rencananya. Penduduk Haran dari Babilonia pada waktu itu tengah bersiap-siap menghadiri perayaan besar di kota mereka. Ibrahim AS diajak oleh keluarganya untuk menghadiri perayaan tersebut, namun ia menolak. Ia mengatakan, “Sesungguhnya aku (sedang) sakit.” (Ash Shaffat [37]: 89).

Ibrahim AS sebenarnya berbohong. Menurut Dr Hamid Ahmad Ath Thahir dalam bukunya Kisah-kisah Dalam al-Qur’an, inilah kebohongan pertama yang dilakukan Ibrahim AS namun dimaklumi oleh Allah Ta’ala demi tegaknya dakwah. Semua orang berangkat ke perayaan itu kecuali Ibrahim AS. Dia malah pergi ke tempat penyembahan dengan sembunyi-sembunyi.

Sesampai di sana, Nabi Ibrahim AS menyuguhkan beberapa jenis makanan kepada tuhan-tuhan palsu tersebut. Tentu saja patung-patung itu tak bergerak.

Ibrahim AS berkata, “Mengapa kalian tidak (mau) makan?” (Ash-Shaffat [37]: 91)

Patung-patung itu tetap diam.

Lalu Ibrahim AS bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak menjawab?” (Ash-Shaffat [37]: 92)

Patung-patung itu masih saja diam. Akhirnya, Ibrahim AS mengambil kapak dan menghancurkan patung-patung itu satu per satu kecuali satu patung paling besar. Ibrahim AS menaruh kapak di tangan patung tersisa tersebut.

Tak lama kemudian orang-orang pulang dan mendapati berhala-berhala sesembahan mereka hancur berantakan. Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh dia termasuk orang yang zalim.” (al-Anbiya [21]: 59).

Sebagian di antara mereka memberi informasi, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini). Namanya Ibrahim.” (al-Anbiya [21]: 60).

Yang lain berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan.” (al-Anbiya [21]: 61).

Maka Ibrahim AS pun didatangkan ke tempat pemujaan di mana orang-orang masih berkumpul. Salah seorang dari mereka berkata, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” (al-Anbiya [21]: 62).

Ibrahim AS menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (al-Anbiya [21]: 63).

Orang-orang kebingungan mendengar jawaban Ibrahim AS. Begitu cepat para penyembah berhala ini dikalahkan dengan hujjah.

Meskipun mereka tahu Ibrahim AS berbohong –dan ini adalah kebohongan kedua Ibrahim AS yang dimaklumi oleh Allah Ta’ala– namun hati kecil mereka sadar bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Ibrahim AS benar adanya.

Mereka kemudian berkata, “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.” (Surat al-Anbiya [21]: 65).

Ibrahim AS menjawab, “(Lantas) mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) medatangkan mudarat kepada kalian? Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah! Tidakkah kalian mengerti?” (Surat al-Anbiya [21]: 66-67).

Demikianlah cara Ibrahim AS mengajak kaumnya berpikir tentang Tuhan. Hanya jiwa-jiwa yang sombong yang tetap mengingkari kebenaran yang disampaikan oleh Ibrahim AS, juga kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Wallahu a’lam.*/Mahladi

Hidayatullah Makassar Terpilih sebagai Pondok Pesantren Terbaik di KTI

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Makassar terpilih sebagai ponpes unggulan dan terbaik dari 2.198 ponpes se-Kawasan Indonesia Timur (KTI).

Ponpes yang dibina Yayasan Albayan tersebut mewakili ponpes se-Sulsel dan regional Sulawesi ditetapkan Bank Indonesia (BI) sebagai ponpes unggulan dan terbaik ketiga program Pemberdayaan Ekonomi Syariah pada Festival Ekonomi Syariah (FEsyar) KTI 2021.

Penetapan Ponpes Hidayatullah Makassar sebagai ponpes unggulan tersebut diumumkan di sela webinar ekonomi syariah oleh BI Perwakilan NTB sebagai rangkaian kegiatan FESyar KTI 2021, Rabu (28/7).

“Alhamdulillah pencapaian ini menjadi motivasi bagi seluruh pengurus Yayasan Albayan untuk semakin baik dan kebanggaan bagi kader dan pengurus Hidayatullah, bisa terpilih dan ditetapkan sebagai ponpes unggulan untuk program ekonomi dan usaha syariah,” ujar Ketua Badan Pengurus Yayasan Albayan Hidayatullah Makassar, Ustadz Suwito Fatah MM dalam rilisnya.

Predikat ponpes unggulan tersebut ditetapkan setelah melewati beberapa rangkaian penjurian dan penilaian dari kegiatan usaha dan rencana pengembangan ekonomi dan kemandirian pesantren.

Tiga pesantren terbaik se-KTI untuk program usaha syariahnya, selain Ponpes Albayan Hidayatullah Makassar, yakni Ponpes Trubus Iman Kalimantan Timur dan Ponpes Yaptofa Lombok NTB.

Ponpes Albayan Hidayatullah Makassar yang terletak di Jalan Poros Tamalanrea, BTP, Makassar itu berhasil menyita perhatian para dewan juri dan BI melalui pola dan rencana usaha yang dikembangkan seperti usaha Albayan Konveksi (konveksi pakaian), Albayan Agro (persawahan enam hektar), Albayan Mart (grosir dan mini market), Albayan Water (air kemasan dan isi ulang), Albayan Ternak (ayam potong) hingga Resto Cepat Saji Om Chick.

Atas pencapaian sebagai ponpes unggulan terbaik itu, tiga ponpes tersebut mendapatkan modal pembinaan usaha Rp 75 juta hingga Rp 125 juta dari Bank Indonesia.

“Tiga ponpes unggulan tersebut kita akan jadikan model pemberdayaan ekonomi syariah ponpes maupun non-ponpes, yakni mengembangkan ekonomi syariah melalui pengembangan UMKM. Dengan membangun sinergitas stakelholder,” jelas Kepala BI Perwakilan NTB, mewakili pihak BI, Heru Saptaji.

Ke depan guna pengembangan UMKM di ponpes, BI juga akan memfasilitasi UMKM syariah berupa kemudahan mengantongi sertifikasi halal hingga berbagai program peningkatan skala bisnis yang akan diberikan.

Di 18 provinsi KTI, urainya, data dari Kementerian Agama mengungkapkan ada 2.198 ponpes. “Kita harapkan ponpes unggulan yang terpilih menjadi role model bagi pengembangan UMKM di pesantren lainnya,” harapnya.

LTC II Pemuda Hidayatullah Kaltim Ikhtiar Kuatkan Tradisi Pemikiran Islam

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Berangkat dari amanat misi melahirkan kader-kader yang berkualitas dan berperan secara aktif dalam melaksanakan proses pembaharuan (tajdid) di bidang pemikiran Islam, Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar Leadership Training Center (LTC) Angkatan II yang dilaksanakan di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Kota Balikpapan, selama 2 hari pada tanggal 24-25 Juli 2021.

Ketua PW Pemuda Hidayatullah Kaltim, Shabirin Ibnu Hambali, mengatakan LTC adalah wadah bagi kader muda untuk lebih jauh memahami pergerakan kepemudaan, menggali potensi, memicu semangat beriqra’ dan mendorong aksi terutama dalam gagasan ideologi dalam ketahanan diri di setiap benturan pertarungan wacana di ruang publik.

Menurutnya, LTC tidak saja dalam rangka membangkitkan kesadaran intelektual yang dapat menjadi perisai dalam menghadapi arus zaman modern, ia juga diharapkan membangun kader yang memiliki kapabilitas untuk menata dan mengelola organisasi di masa mendatang.

“Kita sebagai kader muda harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang di sekeliling kita. Tidak hanya cukup untuk diri sendiri, tapi juga untuk rahmatan lil ‘alamin. Dan itu semua paling realistis bisa kita lakukan melalui organisasi Pemuda Hidayatullah,” imbuh Shabirin menegaskan di hadapan peserta.

Dalam penyampaiannya dalam pembukaan LTC yang digelar di Meeting Room Yayasan Hidayatullah Ummulqura Gunung Tembak ini, Shabirin berpesan bahwa kita semua akan menjalani fase usia emas.

“Usia emas itulah masa muda saat ini. Sehingga bagaimana para kader bisa produktif memanfaatkan masa muda itu. Jangan sampai menyesal ketika sudah lewat masanya baru mau mengerjakan hal-hal yang tidak bisa lagi dilakukan di masa tua,” kata Shabirin.

Senada dengan itu, melalui apa yang dikemukakan Fauzan Husain dalam materinya “Kepemimpinan dan Struktur Organisasi Pemuda Hidayatullah”, ia mengatakan bahwa pemimpin bukanlah yang suka meyalahkan anggotanya.

“Pemimpin adalah sosok yang ketika anggotanya tidak mampu mengerjakan sesuatu, dia membantu dengan segenap hatinya,” kata Fauzan yang mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Perkaderan PW Pemuda Hidayatullah Kaltim ini.

Kegiatan LTC yang digawangi PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan ini dalam keadaan masih diterapkannya PPKM oleh pemerintah sehingga penyelenggaraan pun dilakukan secara hybrid. Karenanya, instruktur yang tinggal di luar Kalimantan Timur menyampaikan materinya via online. Sedangkan yang dari lokal Balikpapan dan Kaltim dapat dilaksanakan secara tatap muka.

Meski dengan keterbatasan itu, tidak mengurangi antusias yang luar biasa dari para peserta. Salah seorang peserta, Mu’iinul Haq, mahasiswa PUZ STIS Hidayatullah, mengaku sangat senang dengan kegiatan LTC ini dan ia berharap hal ini harus terus dilanjutkan ke depannya.

“Semoga ini terus dilanjutkan ke depannya,” katanya.

Mu’iinul yang merupakan santri pertama di Gunung Tembak yang mendapatkan ijazah sanad Al Qur’an ini juga berharap ke depannya LTC ini menyuguhi materi yang sepaket dengan prakteknya secara langsung.

Selama LTC berlangsung, peserta didampingi oleh abangda Rizky Kurnia Sah dan abangda Muzhirul Haq selaku Kepala Departemen Perkaderan dan Kepala Departemen Dakwah Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah. Serta abangda Shabirin dan Abangda Fauzan Husain.

Dalam rangkaian LTC pertama di Balikpapan ini, sebanyak 40 peserta ditraining oleh instruktur nasional dan lokal. PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan sendiri menargetkan penyelenggaraan LTC sebanyak 5 kelas -yang masing-masing terdiri dari 20 peserta.*/Ahmad Mukahfi Husain