Beranda blog Halaman 404

Pola Makan, Masalah Obesitas dan Kiat Islam Mengatasinya

KETIKA menelusuri kehidupan para ulama terdahulu dan mendengarkan nasihat-nasihat mereka, kami mendapati anjuran yang berulang-ulang untuk mempersedikit makan dan minum.

Mereka pun mencontohkannya secara nyata. Bahkan, banyak di antara mereka yang seakan-akan berpuasa sepanjang hayat. Kisah semacam ini sangat mudah ditemukan dalam karya-karya klasik dan bertebaran dalam biografi banyak ulama termasyhur.

Akan tetapi, tatkala membaca artikel-artikel modern, kami mendapati hal sebaliknya. Yang mudah ditemukan justru anjuran minum sekian liter air dalam sehari, mengkonsumsi makanan yang mengandung sekian kilo kalori (kkal) dan cukup serat, kriteria berat badan ideal, dll.

Hampir tidak ditemukan anjuran berpuasa. Bahkan, bagi orang-orang yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas) sekali pun, anjurannya tetaplah makan dan minum dalam kadar tertentu, bukannya memperbanyak puasa.

Belakangan, kami baru menyadari bahwa perbedaan pijakan dan sudut pandanglah yang melatarbelakangi kedua kecenderungan tersebut. Peradaban Islam dibangun di atas pemeliharaan ruh, sementara materi mengikuti dan menjadi pelayannya. Akan tetapi, peradaban modern (Barat) ditegakkan di atas pondasi materialisme yang menafikan peran jiwa.

Kedua cara berpikir itu kemudian mengembangkan pola-pola budaya dan peradaban yang seringkali saling berseberangan secara diametral.

Kita mendapati Abu Sulaiman ad-Darani (seorang zahid, w. 215 H) berkata, “Barangsiapa yang kekenyangan, maka ada enam bencana yang masuk kepadanya, yaitu (1) kehilangan manisnya bermunajat kepada Allah, (2) sulit menghafalkan hikmah, (3) tidak bisa berempati kepada sesama makhluk sebab bila kekenyangan ia akan menyangka semua orang juga kenyang sepertinya, (4) berat menunaikan ibadah, (5) bertambahnya syahwat, dan (6) bahwa segenap kaum muslimin berkerumun di sekitar masjid-masjid sementara orang-orang yang kekenyangan akan berkerumun di sekitar tempat-tempat pembuangan kotoran.” (Ihya’ Ulumiddin, III/87).

Beliau juga berkata, “Setiap hal memiliki penanda. Penanda keterlantaran (jiwa) adalah tidak mau menangis. Setiap hal juga memiliki karat, dan karat hati adalah terlalu kenyang. Pondasi semua kebaikan adalah merasa takut terhadap dunia, dan kunci dunia adalah kekenyangan sedangkan kunci akhirat adalah lapar.” (Siyaru A’lamin Nubala’, X/183-184).

Di sisi lain, media massa kita justru dipadati konten yang mengedepankan pemanjaan fisik, termasuk bagaimana makan dan minum yang paling nikmat.

Wisata kuliner dan kompetisi Superchef hanyalah contoh kecil dari fenomena ini, sebab jaringan pemikiran yang mendasarinya tidaklah sesederhana itu. Bahkan, sekarang kita juga mendengar adanya pakar meracik kopi, ahli cicip makanan, master kue, dan entah apa lagi. Semua ini sebetulnya merefleksikan suatu budaya tertentu.

Pernyataan Abu Sulaiman ad-Darani di atas memiliki pijakan yang kuat. Al-Qur’an sendiri pernah menggambarkan salah seorang musuh Rasulullah sebagai ‘Utullin (lihat Qs. Al-Qalam: 13).

Menurut Abu Darda’, sebutan al-‘utull menunjuk kepada semua orang yang gemar menuruti syahwat mulut dan kemaluan, berperangai keras, banyak makan-minum, dan gemar menumpuk kekayaan tetapi pelit bukan main (lihat: Tafsir fi Zhilalil Qur’an, VI/3663).

Dengan kata lain, terlalu banyak makan-minum merupakan salah satu sifat negatif yang dibenci Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan agar tidak berlebihan dalam makan-minum.

Beliau bersabda,

“Tidaklah seorang manusia memenuhi suatu wadah yang lebih buruk dibanding perutnya. Cukuplah bagi seorang anak Adam beberapa kali makan yang akan menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa menghindar lagi, maka sepertiga (perut) untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (Riwayat Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’di Karib. Hadits hasan-shahih).

Di bulan Ramadhan, terkadang fenomena berlebihan dalam makan-minum justru menggejala. Sungguh ironis, sebab puasa sebetulnya ditujukan untuk mengendalikan kerakusan.

Ada sebagian orang yang porsi makan sahurnya wajar-wajar saja, tetapi kita akan terkejut melihat seberapa banyak yang dilahapnya pada saat berbuka; belum lagi aneka camilan dan jus yang disantapnya seusai shalat tarawih.

Padahal, Rasulullah menggambarkan seorang mukmin sebagai pribadi yang sedikit makannya, sementara orang kafir adalah sosok yang rakus.

Nafi’ menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar tidak akan makan kecuali dicarikan seorang miskin untuk menemaninya. Suatu kali, didatangkanlah seseorang sebagaimana biasa, namun ia makan banyak sekali.

Ibnu ‘Umar kemudian berkata, “Hai Nafi’, jangan kaubawa lagi orang ini masuk kepadaku. Aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Seorang mukmin makan dalam (porsi) satu usus, sedang seorang kafir makan dalam (porsi) tujuh usus.’” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Sepertinya, kerakusan pada makanan-minuman ini pula yang menghalangi kita dari karunia-karunia agung di bulan Ramadhan. Kita tidak bisa merasakan kenikmatan apa-apa di dalamnya selain payahnya menahan lapar, haus, dan melek di malam hari.

Sebagaimana pernyataan Abu Sulaiman ad-Darani di muka, kekenyangan telah menjauhkan kita dari nikmatnya bermunajat kepada Allah. Kita pun sukar merenungi hikmah-hikmah kenabian dan tidak dapat berempati kepada penderitaan orang lain. Semangat beribadah kita tidak kunjung menguat, bahkan semakin merosot justru ketika Lailatul Qadar semakin mendekat.

Nafsu syahwat pun tidak meredup, sebaliknya makin berkobar seiring mendekatnya Idul Fitri. Masjid-masjid tidak bertambah ramai, namun pasar dan pusat perbelanjaan sampai menambah jam buka maupun stok barang karena meluapnya animo pembeli dan membludaknya pengunjung.

Sekarang, mari meneliti diri sendiri: “berapa kali dan berapa banyak kita makan dalam sehari?” Sungguh, di bulan Ramadhan Allah menyuruh kita berpuasa, bukan memindah jam makan! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar. Senin, 18 Sya’ban 1435 H.

Denyuti Negeri dengan Terus Bergulirnya Sekolah Dai

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Sekolah Dai Hidayatullah kembali bergulir. Penyelenggaraan program Sekolah Dai untuk angakatan ke-7 ini ditandai dengan Kuliah Perdana (studium generale) yang digelar hari ini di Komplek Sekolah Dai, Jln Pasir Peundey, RT/RW 04/01, Desa Sukharja, Kampung Cibinong, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Senin (12/7/2021).

Kuliah perdana Sekolah Dai Ciomas Bogor ini menghadirkan Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I, yang diikuti oleh 30 peserta didik yang merupakan utusan dari dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Program Sekolah Dai Ciomas Bogor, Ust Saefuddin Abdullah, Lc, dalam keterangannya, mengatakan, Sekolah Dai menyelenggarakan pendidikan 1 tahun dengan full beasiswa bagi peserta didik yang dinyatakan lulus seleksi.

Selain full beasiswa, Sekolah Dai juga memiliki 3 program takhassus yaitu Takhasus Al-Qur’an, Takhasus Bahasa Arab dan Takhasus Pengkaderan Dai.

Sekolah Dai membidik pemuda yang siap dididik dan dibina untuk menjadi kader muallim dan setelah menyelesaikan pendidikannya siap menjadi dai mengabdi di masyarakat.

Sekolah Dai Jakarta membatasi kuota penerimaan dengan hanya menerima 20 mahasantri dan Sekolah Dai Ciomas Bogor 50 batas maksimal peserta.

Walaupun saat ini kondisi negeri dalam keadaan kurang baik ditengah gempuran pandemi yang mempengaruhi semua aspek terutama sektor ekonomi, Sekolah Dai tetap berupaya hadir dan bergulir dengan segala keterbatasan yang ada.

“Posdai melalui program Sekolah Dai terus istiqamah dalam mencetak kader yang siap berdakwah ke berbagai penjuru negeri,” Ketua Posdai Pusat Ust Samani Harjo.

Dakwah adalah gerakan membangun negeri. Oleh sebab itu, Samani melanjutkan, Sekolah Dai yang mendenyuti dakwah harus terus berjalan terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan sumber daya dai yang siap mengabdi di berbagai penjuru nusantara.

Dia berharap, melalui peran yang telah dilakukan Posdai melalui alumni Sekolah Dai yang dikirim berdakwah ke berbagai titik termasuk ke daerah terdepan, terluar, tertinggal, dan minortas, akan turut mendenyuti bumi Indonesia dengan kalimat thayyibah.

“Dalam diri para dai mengalir darah Merah Putih yang dalam setiap kiprahnya memancarkan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Itulah mengapa Posdai memiliki jargon Bersama Dai Membangun Negeri,” kata Ust Samani.

Setiap tahunnya, Sekolah Dai melakukan wisuda dan penugasan dai bagi peserta didik yang telah dinyatakan lulus dari program ini. Penugasan dai terakhir digelar pada bulan Mei lalu yang bertepatan hari ke 27 Ramadhan 1442 H.

Pada penugasan angkatan ke-6 Sekolah Dai itu melepas 29 dai bertugas mengabdi ke berbagai titik di Indonesia yang turut dilepas Direktur Yayasan Baitul Maal Umat Islam Bank Negara Indonesia (Bamuis BNI) Sudirman dan Deputi Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Ust Hamim Thohari. (ybh/hio)

Selamat Jalan, ‘Malaikat’ Manis Kami

Oleh Irawati Istadi

KEMAMPUANNYA yang menonjol di antara santri putri lain di Hidayatullah Surabaya saat itu, membuat saya memilihnya untuk menjadi pengajar utama di KB-TK Yaa Bunayya. Keramahan dan kepandaiannya bercengkrama dengan anak-anak menjadikannya sebagai guru idola. Ratusan anak telah lahir dari didikan tangan lembutnya kala itu.

Ketika ia harus hijrah ke Jakarta, mengikuti tugas suami, tugasnya pun menjadi semakin berat. Namun, dengan tegar wanita tangguh ini mampu melewatinya, satu demi satu.

Kebanggaan kami terhadap kualitas kekaderannya telah sampai pada puncaknya, dia seakan tiada cela. Saya minta kepada siapapun, bahkan kepada anak-anak saya, untuk senantiasa menjadikannya sebagai inspirasi.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al Baqarah [2]: 154)

Ketika memandikan jenazah sahabat yang amat kucintai ini, kulihat wajahnya yang manis hanya seperti sedang tertidur. Saya pun teringat ayat tersebut, dan meyakini bahwa sahabatku ini syahid, dan ia tidaklah mati, namun tetap hidup dalam lindungan Allah Ta’ala, dalam jannahNya.

Wajah yang sangat murah senyum itu, bahkan terus tersenyum sampai akhir hayatnya. Senyum khas yang senantiasa menghibur jika di antara kami, teman-teman seperjuangannya di jajaran pengurus pusat Mushida, sedang ada yang kesusahan, sedang menghadapi musibah atau masalah. Dia yang selalu terdepan dalam memberikan empati kepada orang lain, dan menjadi teman curhat terasyik bagi siapa pun yang butuh tempat berkeluh kesah.

Kehadirannya bagai malaikat, memberi solusi bagi orang lain, padahal kami faham kisah perjalanan hidup beliau bahkan lebih berat dan lebih perih daripada yang kami alami. Namun hebatnya, ketegarannya membuatnya selalu mampu tersenyum paling tulus, justru di saat dirinya menghadapi ujian. Sehingga ia nampak seperti orang yang paling bahagia di antara kami. Semoga, Allah benar-benar memberikan kebahagiaan yang sempurna itu kini, di sisi-Nya.

Hingga akhir hayatnya, ia tak mau menyusahkan orang lain. Hingga di tengah malam saat oksigen yang tersedia sudah menipis, diantar suaminya yang menyupir sendiri ambulance pinjaman, berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain, sebanyak 9 rumah sakit, namun tak satupun yang bisa menerima karena full semua. Akhirnya terpaksa pulang dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di pintu masuk rumahnya, pukul 23.30 WIB.

Allah Ta’ala memanggilnya, di saat ia menjadi salah satu orang yang paling baik di antara kami, dan yang paling kami butuhkan dalam perjuangan ini. Ibarat burung, sayap kami kini seakan telah patah, entah kapan kami bisa terbang kembali.

Hanya kepada Allah kami bisa berharap, berilah sahabat kami tempat terindah, pertemukan ruhnya dengan NabiMu, dengan ruh orang-orang shaleh yang dicintai dan mencintainya.

Selamat jalan, sahabatku tercinta, Leny Syahnidar Djamil. Semoga Allah pertemukan kita nanti di jannahNya. *

(IRAWATI ISTADI, penulis adalah Anggota Majelis Penasehat Mushida, sahabat almarhumah Leny Syahnidar Djamil)

Selamat Jalan Ibu Lenny Syahnidar Djamil, Persaksian Indah Mujahidah

[10/7 13:30] A.ghofar Hadi: Alhamdulillah bagaimana Pak Bowo dan ibu?
[10/7 14:08] Mushida Sekretaris: Saturasi saya naik turun..oksigen tebutan di pasaran

Itu chat terakhir kami kemarin dengan beliau. Terkaget bakda Subuh mendengar beliau dipanggil Allah. Inna lilahi wa inna ilaihi rojiun.

Setelah itu ikut rombongan pengurus DPP Hidayatullah menuju ke rumah beliau. Dengan cancel beberapa agenda.

Suasana sendu, sedih di perumahan. Karena di komplek tersebut sedang banyak terkena wabah. Semua menjaga diri dan berhati-hati.

Meski begitu, Allah mudahkan urusan melalui pengurus RT, kelurahan dan jamaah masjid setempat. Sehingga proses fardhu kifayah lancar.

Itu bagian dari keberkahan dari keistiqomahan beliau menapaki jalan perjuangan di Hidayatullah. Sebagaimana persaksian ustadz Syaikhu, Ustadz Hamin dan ustadzah yang lain.

Sejak remaja, mahasiswi atau santri di Surabaya adalah aktifis Islam.

Berbagai amanah pernah diemban. Amanah terakhir sebagai sekretaris jenderal Muslimat Hidayatullah 2021-2025 sebagai bukti pengakuan loyalitas, komitmen dan kompetensi beliau dalam perjuangan ini.

Sejak remaja hingga wafat, umurnya dihabiskan untuk mengurus agama Allah dan umat Islam.

Kelembutan, ketenangan, perhatian, kesabaran, kecerdasan, fast respon saat ditanya, murah senyum dan humoris menyatu dalam karakternya sebagai mujahidah.

Merinding, haru mempersaksian kepergian beliau. Linangan air mata dan lantunan doa mengiringi perpisahan dengan beliau menghadap kepada Rabb yang menyayanginya.

Persaksian yang indah dan kepergian yang indah bagi seorang mujahidah Hidayatullah.

Bukan hanya suami, anak dan keluarga yang kehilangan. Namun tetangga, teman-temannya, Hidayatullah terutama Mushida sangat kehilangan dengan kepergian beliau.

Ini menjadi motivasi para kader, mujahid dan mujahidah untuk istiqomah. Warisan amanah, keteladanan dari beliau untuk tanggung jawab kita yang ditinggalkannya.

Selamat jalan Ustadzah Lenny Syahnidar Djamil, Sekjend Mushida, Sang Mujahidah.

Semoga Allah memberikan ampunan dan pahala kebaikan, ditempatkan pada tempat yang paling indah yaitu surga.

Keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kesabaran dan hikmah yang besar. Aamiin ya Rabbal Alamin.

UST ABDUL GHOFAR HADI, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah

Dukung Dakwah Dai Pedalaman dengan Bantuan Modal pada Program Dai Berdaya

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Zakat dan sedekah kadang terasa sederhana. Namun, kala dikelola dengan manajemen yang baik, dana amanah itu dapat menjadi solusi bijak atas berbagai problem keummatan yang terjadi.

Di antaranya mampu mendorong sektor pengembangan bidang ekonomi, yang sejauh ini menjadi problem serius di tengah pandemi yang melanda dunia.

Dalam hal ini Baitul Maal Hidayatullah Perwakilan Sumatera Utara wujudkan dengan pemberdayaan dai melalui program dai berdaya.

“Bantuan tersebut diwujudkan dengan pemberian bantuan modal usaha pada bidang pertanian,” terang Kepala BMH Perwakilan Sumatera Utara, Lukman, Ahad (11/7/2021).

Kali ini bantuan modal usaha tersebut diberikan kepada Ustadz Muhammad Halimun (36).

Bersama istri, Ustadz Halimun sapaan akrabnya bahu membahu membina santri dan warga Muallaf di Dusun Lau Gedang, lokasi yang cukup jauh dari Kota Medan.

Ustadz Halimun telah 2 tahun lamanya berkiprah di Lau Gedang. Ayah dari tiga anak ini, istiqomah membina Muallaf sembari melakukan kegiatan bertani.

“Bertani ini menjadi pilihan, di samping potensi pertanian di sini sangat bagus juga demi menjaga Izzah martabat sebagai muslim, agar mampu berdaya, berdiri di atas kaki sendiri,” jelas Ustadz Halimun.

“Sehingga bantuan modal ini sangat kami syukuri, karena secara tidak langsung, ini menguatkan dakwah pembinaan di desa ini, juga keteladanan bahwa sebagai insan beriman kita harus memiliki kemandirian ekonomi,” tambahnya lagi.

Dijelaskannya lagi, modal tersebut akan digunakan untuk menanam jagung.

“Bantuan modal ini bisa mencakup luasan 7 rante atau kurang lebih 1 Ha. Dengan masa tanam 5 bulan, insya Allah sudah bisa dipanen,” tuturnya di sela sela kebun Tomat miliknya sesaat setelah menerima bantuan.

Dai Berdaya merupakan program untuk mendukung dan menguatkan kiprah dai dalam bertugas, terutama dai yang bertugas di daerah pedalaman dan minoritas.

Melalui program ini, BMH menjadikan zakat dan sedekah sebagai unsur penting dalam meretas problem sosial ekonomi keumatan, di antaranya dengan mendorong dai mampu berdaya dan mandiri.

“Dampak perubahan yang bisa dicapai dari program ini, baik secara langsung maupun tidak langsung juga memberi daya dukung terhadap pembinaan warga di pedalaman dan minoritas,” tutup Lukman.*/Herim

Inilah Pesan UNH Mengenai Sikap Terbaik Hadapi Wabah Pandemi Covid-19

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Dr Nashirul Haq (UNH) memberi pesan mengenai sikap terbaik dalam menghadapi wabah, terlebih pada saat sekarang ini kita tengah menghadapi pandemi coronvirus deases (Covid-19).

Beliau menuturkan bahwa harus disadari akan ada ujian dari Allah. Wabah Covid-19 adalah satu di antara bentuk ujian Allah.

“Dampak dari wabah ini semua menjadi terbatas, banyak orang sakit, kehilangan pekerjaan hingga kehilangan nyawa,” kata UNH saat menjadi khatib Jum’at di Masjid Ummul Quro, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat (9/7/2021).

Oleh karena itu, beliau berpesan, sikap kita adalah pertama menerima semua ini sebagai ujian. Lalu, kedua, berusaha untuk terhindar dari terpapar virus Covid-19 itu sendiri.

“Ketiga, sekiranya terkena juga, maka berprasangka baiklah kepada Allah. Karena tidaklah Allah memberikan ujian seorang hamba melainkan Allah akan balas kebaikan dan berikan ampunan atas dosa yang dilakukan,” katanya.

Beliau lalu menukil sebuah kisah perikehidupan Rasulullah Muhammad SAW. Suatu saat pernah ada seorang wanita menjumpai Nabi dan mengatakan perihal dirinya.

“Ya Rasulullah, saya menderita penyakit ayan. Apabila kambuh maka aurat saya terbuka. Kiranya engkau mendoakan saya agar Allah berikan kesembuhan”.

Mendengar itu, Rasulullah menjawab, “Jika kamu bersabar bagimu surga. Jika engkau mau aku mendoakanmu, maka Allah akan menyembuhkanmu”

Wanita itu pun menjawab, “Ya, Rasulullah aku menginginkan surga, dan biarlah ini menjadi bagian dalam hidupku.”

“Jadi, betapa Allah akan memberikan balasan terbaik bagi orang-orang yang dikenakan ujian,” kata UNH kemudian.

Sikap terbaik yang keempat, menurut UNH, adalah berprasangka baik kepada Allah. Beliau kembali menyitir kisah.

Bahwa ada seorang Badui yang mengalami demam. Maka Rasulullah mendoakan, “La ba’tsa thahurun insha Allah.”

Badui itu menimpali, “Tidak ya, Rasulullah. Demamku ini bukan demam yang ringan. Ini adalah demam yang mengantarkan ke kuburan.”

Mendengar itu Rasulullah menjawab, “Baiklah kalau demikian.” Tidak lama kemudian Badui itu Allah takdirkan meninggal dunia.

Sekalipun berita beredar begitu intens dan massif soal Covid-19 masih ada kelompok yang tidak “mengakui” eksistensi virus tersebut. Disaat yang sama mereka yang pernah terpapar mengatakan bahwa Covid-19 ini nyata.

Lantas bagaimana sikap terbaik kita dalam menyikapi Covid-19? Pertama harus dikenali tingkatan orang yang terkena Covid-19, ada yang ringan hingga sedang dan berat.

Gejala ringan ditandai dengan demam namun tidak disertai batuk dan sesak nafas. Terhadap kelompok ini cukup melakukan penyembuhan dengan isolasi mandiri.

Kedua, penting melihat realitas wabah Covid-19 ini dengan kacamata spiritual, dimana memang Allah memberikan ujian kepada kehidupan umat manusia.

Mulai ujian berupa rasa takut, lapar, kehilangan jiwa, hingga berkurangnya ketersediaan makanan (buah-buahan). Namun, Allah menjamin bahwa ada kemenangan, kabar gembira dan keberhasilan bagi orang yang sabar.

Dengan demikian sikap terbaik kita dalam menghadapi Covid-19 ini adalah sadar bahwa ini ujian. Kemudian sabar dalam menghadapinya. Selanjutnya tetap berprasangka baik kepada Allah.*/Imam Nawawi

Ma’had Aly Kampus Pesantren Hidayatullah Medan Lakukan Penugasan Dai Pedalaman

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ma’had Aly Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Medan resmi menugaskan 10 mahasantri ke berbagai titik di pedalaman Sumatera Utara, Jum’at (9/7/2021).

Direktur Ma’had Aly Ust Fachri Fathullah dalam sambutannya mengatakan Ma’had Aly Hidayatullah Medan merupakan satuan pendidikan tingkat tinggi keagamaan Islam yang diselenggarakan oleh dan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan untuk menghasilkan ahli ilmu agama Islam.

Setelah menjalani masa karantina pendidikan selama kurang lebih 3 tahun, sebanyak 10 orang mahasantri disebar ke pedalaman.

“Agar apa, agar eksistensi Islam ini tidak melulu di perkotaan atau di pinggiran tapi juga di pedalaman yang banyak minoritasnya,” kata Fachri.

Kepada para wisudawan dai yang ditugaskan ini, Fachri berpesan agar betul betul memantapkan hati dengan hanya mengharapkan ridha dari Allah SWT karena tugas dakwah yang akan dijalani tentu tidaklah ringan.

“Harapannya agar kesepuluh mahasantri kita ini tidak merasa puas dan cukup dengan ilmu yang ia miliki, maka dalam penugasan inilah ilmu ilmu itu diuji, apakah ilmu itu mampu direalisasi atau hanya teoritis belaka,” kata Fachri.

Lebih jauh ia mengungkapkan, Ma’had Aly Hidayatullah Medan dengan visinya yakni melahirkan guru Qur’an, terus berusaha tepat sasaran dalam menempatkan amanah bagi kesepuluh alumninya mulai dari guru tahfiz, guru mengaji sampai pengasuh rumah tahfiz.

Sementara itu, Sekretaris DPW Hidayatullah Sumatera Utara Ust Isa Abdul Barri yang sekaligus mewakili ketua DPW yang berhalangan hadir, dalam sambutannya para dai terutama daiyah memiliki peran penting dalam membangun peradaban Islam yang agung.

“Jadilah kalian seperti Khadijah, yang membantu Rasulullah memperjuangkan Islam hingga akhir hayatnya,” wejangan Ust Isa Abdul Barri.

Isa mengehaskan, bahwa dari dukungan dan sokongan wanita jugalah Islam ini terus dan selalu eksis. “Jadi kita tidak perlu minder atau merasa kecil hati saat tantangan juang itu di depan mata,” imbuhnya.

Salah satu wisudawan Ma’had Aly Hidayatullah Medan, Simanjuntak, merasa terharu dengan adanya penugasan ini dan ia memohon agar selalu ada arahan dan bimbingan dari seluruh asatidz. “Agar kontribusi dakwah kita kedepannya bagi lembaga Hidayatullah ini khususnya di Sumatra Utara tidak salah arah apalagi tujuan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, penugasan bagi mereka adalah gerbang utama menjajaki kesungguhan dan totalitas dalam memegang amanah. “Mudah mudahan Allah selalu membantu kami agar terhindar dari sifat malas dan putus asa,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama hadir pula dari unsur Yayasan Kampus Utama Hidayatulla Medan, Ust Ali Ibrahim Akbar, yang, dalam sambutannya, menekankan kesungguhan dalam berjuang berdakwah di manapun berada. Kesungguhan dalam ketaatan kepada Allah SWT dalam berdakwa pasti akan dituai pula kebaikan.

“Jangan setengah-setengah berjuang di jalan dakwah karena mati adalah hal yang pasti, karena berjuang (dalam Islam) balasannya adalah syahid,” pesan Ali Ibrahim yang juga Ketua Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Medan ini.(ybh/hio)

Ulama Kharismatik Almarhum KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i Habiskan Umur untuk Islam

Almarhum KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i (Dok. HIdayatullah.or.id/ Ain)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Umat Islam kembali berduka karena kehilangan ulama kharismatik yang istiqamah berjuang untuk agama dan bangsa. Dialah Tokoh dan ulama kharismatik Betawi, KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i, meninggal dunia sekitar pukul 17.38 WIB pada Sabtu, 30 Zulqa’dah 1442 H (10/7/2021) di Jakarta.

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Candra Kurnianto, mewakili keluarga besar Hidayatullah, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya sosok pengasuh Perguruan As-Syafi’iyah Jakarta ini.

Ust Candra yang hampir 10 tahun membersamai KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i dalam banyak kesempatan aktifitas dan pergerakan dakwah, melihat sosok almarhum sebagai ulama kharismatik yang menghabiskan umurnya berjuang untuk Islam.

“Beliau selalu menjadi bagian penting dan sentral dalam setiap pergerakan aktivis Islam baik terhadap isu isu yang terkait ummat di Indonesia maupun dunia,” kata Candra kepada media ini, Ahad (11/7/2021).

Kepeduliaan KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i terhadap isu umat Islam dalam dan luar negeri memang tidak diragukan. Ia selalu hadir terdepan bahkan hingga usianya yang ringkih. Tercatat, ia pernah menjadi anggota Dewan Pembina Dewan Dakwah Indonesia (DDII) dan juga mantan Ketua Komite Indoensia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) pada awal berdirinya dan belakangan kembali dipercaya memimpin KISDI.

Bersama Ahmad Sumargono atau Bang Gogon dan tokoh lainnya di KISDI, KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i lantang menyuarakan kepentingan dan pembela perjuangan umat Islam tidak saja di Indonesia, melainkan juga di berbagai belahan dunia mulai dari perjuangan Intifadhah di Palestina, Bosnia, Kashmir, Chechnya, Rohingya dan sebagainya.

“Terakhir kami bersama sama menggerakkan kepedulian terhadap bangsa Palestina. Beliau bukan hanya ceramah dan berorasi, beliau juga mengumpulkan dana untuk disumbangkan bahkan di usia senjanya itu beliau masih terlibat aksi turun ke jalan,” kata Candra.

Sebagai anak dari tokoh besar ulama yang berjuluk “Macan Betawi Kharismatik”, kebersahajaan ayahnya yang juga Ketua Umum Majelis Ulama DKI Jakarta pada periode pertama dan kedua, menurun kepadanya. KH Abdurrasyid pun hidup sederhana dan tak canggung melakukan hal apapun untuk kepentingan umat.

Ust Candra pun lantas mengisahkan keteladanan yang ditunjukkan almarhum KH Abdurrasyid saat mempersiapkan kantor untuk markas kegiatan keummatan. Almarhum turun langsung menyapu dan membersihkan.

“Beliau tanpa sungkan terlibat langsung dengan ikut menyapu, mengepel lantai dan merapikan ruangan. Kemudian kami makan siang dengan nasi bungkus sambil lesehan,” tutur Candra mengisahkan kenangan bersama almarhum yang tak terlupakan itu.

KH Abdurrasyid Abdullah Syafii juga merupakan adik dari almarhum Ustazah Hj Tuty Alawiyah, yang merupakan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 1998 hingga tahun 1999 pada Kabinet Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan.

Diketahui, KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i, merupakan anak dari KH Abdullah Syafi’i atau lebih dikenal sebagai Kiai Dulloh. KH Abdullah Syafi’i, merupakan pendiri dan pengasuh pertama dari Perguruan As-Syafi’iyah di Jakarta.

“Semoga kita yang lebih muda ini diberi bimbingan oleh Allah SWT untuk istiqomah melanjutkan perjuangan orang orang tua kita, termasuk beliau-beliau belum lama meninggalkan kita, Ustadz Abdul Mannan, Ustadz Muhammad Siddiq dan KH Abdulrasyid Abdullah Syafii. Amiin ya Rabbal alamin,” pungkas Candra.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi, Aaamiiin yaa Robbal ‘Aalamiin. (ybh/hio)

Upaya Kampus Hidayatullah Batam Berantas Buta Aksara Al Qur’an

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Batam menggelar Upgrading Guru Al Qur’an Metode Ummi se kota Batam dibuka di Aula Hidayatullah Batam dengan sekira 50 peserta, Kamis (8/7/2021)

Menurut ketua Badan Pelaksana Yayasan Hidayatullah Batam, Ust Khairul Amri, kegiatan ini bagian dari upaya kampus utama Batam melahirkan tenaga guru (muallim) Al Quran dalam rangka memberantas buta aksara Arab dan Al Qur’an serta melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dari sisi akademik tetapi juga unggul dari sisi ruhiyah dengan sentuhan al Qur’an.

Selain menyeiringkan dengan metode Al Hidayah dan Grand MBA yang dicetuskan Hidayatullah, metode Ummi ditetapkan sebagai metode pengajaran di lingkungan Hidayatullah Batam.

“Untuk meningkatkan kualitas para da’i dan da’iyah yang akan menjadi tenaga pengajar karena itu perlu dilakukan pembekalan secara berkala,” kata Khairul Amri.

General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, mengungkapkan dukungan besar BMH Kepri terhadap kegiatan ini. Dia mengatakan BMH sangat mendukung program upgrading ini dan menjadikan sebagai program prioritas, sebab terkait peningkatan kualitas da’i dan da’iyah se kota Batam.

“Dengan demikian diharapkan para da’i dan da’iyah akan lebih mahir dalam proses belajar mengajar al Qur’an dengan metode Ummi, sehingga dapat menghasilkan generasi Qur’ani yang unggul,” kata Aziz.

Aziz menambahkan, BMH selalu hadir untuk memberikan dukungan pada setiap kegiatan dakwah dan tarbiyah termasuk yang digelar Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Batam.

Saat ini sekira 2000 siswa sedang menempuh pendidikan di Hidayatullah Batam. Sehingga perlu metode yang tepat agar memudahkan santri dalam mempelajari al Qur’an termasuk membaca dan menghafal al Qur’an dengan baik.

Selain itu, para guru atau da’i dan da’iyah kuga dipersiapkan untuk menjadi tenaga pengajar di Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) di pulau-pulau sekitar Batam, termasuk melakukan training untuk para guru di pulau-pulau.

Kepala Bidang Dakwah dan Kordinator UMMI Hidayatullah Batam, Ust Rahmat Ilahi Hadits, mengatakan target upgrading ini agar pembelajaran al-Qur’an yang menjadi program unggulan dapat lebih sistematis, terarah dan melahirkan siswa atau generasi yang tidak saja mampu menghafal al Qur’an tetapi di sisi lain bacaannya juga benar.

“Dengan demikian diharapkan akan lahir generasi yang berkarakter intelektual ideologis,” kata Rahmat.

Gelaran upgrading da’iyah ini berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan pemateri dari Batam yang telah terverifikasi kompetensinya.

“Setelah upgrading, para peserta diharapkan meningkat kemampuan pengajarannya melalui metode Ummi yang telah terbukti sangat membantu para murid dalam membaca dan menulis serta memahami al Qur’an.” pungkasnya.*/Mujahid M. Salbu

Pesantren Darul Hijrah Gelar Wisuda ke-VII dan Penugasan Santri

PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Pesantren Tahfidz Darul Hijrah menggelar wisuda ke-VII & Penugasan Kader Santri Tahfidz yang berlangsung di Aula Pesantren Darul Hijrah 2 Tamandayu, Pandaan, Pasuruan, Selasa (06/7/2021).

Pelaksanaan kegiatan wisuda ini dilakukan sesuai protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 yang sangat ketat. Mengingat penyebaran Covid-19 makin merebak luas.

Sebelum memasuki aula gedung dan melaksanakan prosesi wisuda, para wisudawan/santri tahfidz diwajibkan menggunakan masker, mencuci tangan, melakukan cek suhu terlebih dahulu, dan tetap menjaga jarak.

Ketua panitia pelaksana wisuda, Ustadz Abdillah mengungkapkan bahwa, dalam wisuda ke-VII ini meluluskan 95 lulusan yang terdiri dari jenjang SMP cabang 1 sebanyak 20 santri, cabang 2 sebanyak 18 santri, cabang 3 sebanyak 17 santri, cabang 4 sebanyak 14 santri serta jenjang SMA 26 santri.

Adapun penugasan tersebar hingga ke luar pulau seperti Lampung, Padang, serta di beberapa kota seperti, Tuban, Gresik, Lamongan, Pamekasan, Bangkalan, Probolinggo, Malang.

Dalam acara wisuda tersebut, juga diadakan simbolis penyerahan bantuan pendidikan yakni Beasiswa Super Prestasi & Tahfidzul Qur’an senilai Rp 3.129.032.500 dari Lembaga Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH). 

Bantuan itu merupakan salah satu bentuk kepedulian Laznas BMH untuk para santri tahfidz Al-Qur’an yang berasal dari donatur BMH. 

Kepala Program dan Pendayagunaan BMH Perwakilan Jawa Timur, Imam Muslim mengungkapkan bahwa, “Bantuan pendidikan ini, bentuk dukungan Laznas BMH untuk mewujudkan generasi terbaik masa depan penghafal Al Qur’an,” ujarnya.*/Teddy